Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Paru-paru adalah organ yang terletak di bawah tulang rusuk di dalam

dada yang terdiri dari banyak kantung kecil berisi udara yang

disebut alveoli. Fungsi utama dari paru-paru adalah membawa oksigen

masuk ke dalam darah dan karbondioksida keluar dari darah. Pertukaran

oksigen dan karbon ini terjadi dalam alveoli. Tulang Rusuk membantu

melindungi paru-paru ketika paru mengembang dan mengempis saat

bernapas.

Trauma thoraks mencakup 10% kasus trauma dan dapat berhubungan

dengan luka pasa organ-organ yang lain. Angka mortalitas pada trauma

thoraks mencapai 10%, sedangkan kematian akibat trauma toraks merupakan

1/4 jumlah kematian total akibat kasus trauma. Salah satu trauma thorak ialah

hemototorax.

Hematothoraks adalah perdarahan ke dalam rongga dada antara paru

dan dinding dada internal (rongga pleura). Hematothoraks dapat disebabkan

oleh trauma tumpul atau tembus pada dada. Hemotoraks juga mungkin

berhubungan dengan paru-paru kolaps (pneumotoraks). Pada pasien

hemotorax, dapat terjadi penurunan kesadaran yang disebabkan oleh

terganggunya fungsi pernapasan dan selanjutnya juga dapat disebabkan

karena disfungsi cardiak.


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angka penderita

hematothorax selama 10 tahun terakhir ini mengalami peningkatan, dari

177 juta penduduk dunia yang menderita Hematothorak, sekitar 76%

diantaranya berada di negara berkembang, dan 62 % disebabkan karena

trauma. Pada tahun 2006 penduduk Amerika Serikat yang menderita

hematothorax sebanyak 7,8 juta orang. Di Asia, prevalensi penduduk Cina,

angka penderita hematothorax sebanyak 1,5%, di hongkong 4,3% dan

untuk Cina Singapura sebanyak 6,2%.

Pada tahun 2000 penderita hematothorax di Indonesia mencapai

1,6 juta adapun prevalensi kejadian hematothorax ini tersebar diberbagai

kota di Indonesia. Data yang diperoleh dari rekam medik Rumah Sakit

Soeradji Tirtonegoro Klaten, diperoleh data prevalensi penderita

hematothorax pada Januari-November 2011 sebanyak 37 orang.

Sedangkan penyebab dari Hematothorax tersebut untuk masing-masing

pasien berbeda. Dalam hal ini terdapat beberapa pasien harus menjalani

perawatan di Instalasi Rawat Intensive (IRI).

Hemathotorak mengacu pada koleksi darah dalam rongga pleura .

Walaupun beberapa penulis menyatakan bahwa nilai hematokrit setidaknya

50 % diperlukan untuk mendefinisikanhemothorax ( dibandingkan dengan

berdarah efusi pleura ) . Sebagian besar tidak setuju pada perbedaan tertentu .

Meskipun etiologi paling umum adalah hemothorax tumpul atau

traumatembus , itu juga dapat hasil dari sejumlah nontraumatic menyebabkan

atau dapat terjadi secaraspontan .Pentingnya evakuasi awal darah melalui


luka dada yang ada dan pada saat yang sama ,menyatakan bahwa jika

perdarahan dari dada tetap , luka harus ditutup dengan harapan

bahwadengan adanya tekanan intrathoracic akan menghentikan

perdarahan. Jika efek yang diinginkan tercapai ,menyarankan agar luka

dibuka kembali beberapa hari kemudian untuk evakuasi tetap beku darah atau

cairan serosa .

Mengukur frekuansi hemothorax dalam populasi umum sulit .

Hemothorax yang sangat kecil dapat dikaitkan dengan satu patah tulang rusuk

dan mungkin tak terdeteksi atau tidak memerlukan pengobatan . Karena

sebagian besar terkait dengan hematothorax trauma , perkiraan kasar

terjadinya mereka dapat dikumpulkan dari trauma statistik .

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk membuat makalah

dengan judul asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pernafasan

dengan hemothotoraks.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem

pernafasan dengan hemothotoraks.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui definisi, anatomi, etiologi, manifestasi klinik

hemathotorak
b. Untuk mengetahui patofisiologi, penatalaksanaan, pemeriksaan

penunjang hemathotorak

c. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan teoritis hemathotorak

C. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam konsep asuhan

keperawatan pada pasien gangguan sistem pernafasan dengan

hemathotorak

2. Bagi Institusi Pendidikan

Bisa dipelajari atau dipahami dan sebagai acuan refrensi untuk

membuat konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem

pernafasan dengan hemathotorak

3. Bagi Penulis

Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang konsep

asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pernafasan dengan

hemathotorak
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Hematothorax adalah adanya darah dalam rongga pleura.Sumber

mungkin darah dinding dada,parenkim paru – paru, jantung atau pembuluh

darah besar.kondisi diasanya merupakan konsekuensi dari trauma tumpul atau

tajam.Ini juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit.(

Puponegoro , 2010 ) .

Hematothorax adalah pengumpulan darah dalam rongga pleura. Hal ini

diklasifikasikan menurut jumlah darah yaitu 350 ml atau kurang dianggap

minim,350-1500 ml moderat, dan lebih dari 1500 ml dianggap besar.

B. Anatomi dan fisiologi

1. Anatomi

Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang

ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada

diafragma. Paru terbagi menjadi dua yaitu, paru kanan dan paru kiri.

Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri

mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas.

Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa subbagian menjadi sekitar

sepuluh unit terkecil yang disebut bronchopulmonary segments. Paru-paru


kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut mediastinum (Sherwood,

2001).

Gambar. Struktur Paru-Paru

Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi

menjadi pleura viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput

yang langsung membungkus paru, sedangkan pleura parietal yaitu selaput

yang menempel pada rongga dada. Diantara kedua pleura terdapat rongga

yang disebut kavum pleura (Guyton, 2007). Paru manusia terbentuk setelah

embrio mempunyai panjang 3 mm. Pembentukan paru di mulai dari

sebuah Groove yang berasal dari Foregut. Pada Groove terbentuk dua

kantung yang dilapisi oleh suatu jaringan yang disebut Primary Lung

Bud.

Bagian proksimal foregut membagi diri menjadi 2 yaitu esophagus

dan trakea. Pada perkembangan selanjutnya trakea akan bergabung dengan

primary lung bud. Primary lung bud merupakan cikal bakal bronchi dan

cabang-cabangnya. Bronchial-tree terbentuk setelah embrio berumur 16


minggu, sedangkan alveoli baru berkembang setelah bayi lahir dan

jumlahnya terus meningkat hingga anak berumur 8 tahun. Alveoli

bertambah besar sesuai dengan perkembangan dinding toraks. Jadi,

pertumbuhan dan perkembangan paru berjalan terus menerus tanpa terputus

sampai pertumbuhan somatic berhenti (Evelyn, 2009).

Pergerakan dari dalam ke luar paru terdiri dari dua proses, yaitu

inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan dari atmosfer ke

dalam paru, sedangkan ekspirasi adalah pergerakan dari dalam paru ke

atmosfer. Agar proses ventilasi dapat berjalan lancar dibutuhkan fungsi

yang baik pada otot pernafasan dan elastisitas jaringan paru. Otot-otot

pernafasan dibagi menjadi dua yaitu,

- Otot inspirasi yang terdiri atas, otot interkostalis eksterna,

sternokleidomastoideus, skalenus dan diafragma.

- Otot-otot ekspirasi adalah rektus abdominis dan interkostalis internus

( Alsagaff dkk., 2005).

Gambar. Otot pernafasan


2. Fisiologi Paru

Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam

keadaan normal terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan dinding

dada sehingga paru-paru dengan mudah bergeser pada dinding dada.

Tekanan pada ruangan antara paru-paru dan dinding dada berada di bawah

tekanan atmosfer (Guyton, 2007).

Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah

dan atmosfer. Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan

oksigen bagi jaringan dan mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan

oksigen dan karbon dioksida terus berubah sesuai dengan tingkat

aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi pernafasan harus tetap dapat

memelihara kandungan oksigen dan karbon dioksida tersebut (West,

2004).

Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang

menyempit (bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah

paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir di gelembung-

gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir

dimana oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana

darah mengalir. Ada lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru

manusia bersifat elastis. Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan

terbuka oleh bahan kimia surfaktan yang dapat menetralkan

kecenderungan alveoli untuk mengempis (McArdle, 2006).


Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pernafasan dapat dibagi

menjadi empat mekanisme dasar, yaitu:

- Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara

alveoli dan atmosfer

- Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah

- Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan

cairan tubuh ke dan dari sel

- Pada waktu menarik nafas dalam, maka otot berkontraksi,

tetapi pengeluaran pernafasan dalam proses yang pasif. Ketika

diafragma menutup dalam, penarikan nafas melalui isi rongga

dada kembali memperbesar paru-paru dan dinding badan

bergerak hingga diafragma dan tulang dada menutup ke posisi

semula. Aktivitas bernafas merupakan dasar yang meliputi

gerak tulang rusuk sewaktu bernafas dalam dan volume udara

bertambah (Syaifuddin, 2001).

C. Klasifikasi Hematothoraks

1. Hemothorak Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 %

pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX.

2. Hemothorak Sedang : 15 – 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen,

perkusi pekak sampai iga VI.. Hemothorak Besar : lebih 35 % pada foto

rontgen, perkusi pekak sampai cranial, iga IV.


D. Etiologi

Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang

akan menyebabkan ruda paksa tumpul pada rongga thorak (Hemothorak) dan

rongga Abdomen. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tikaman dan

tembakan. Penyebab laindari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi

dari pembuluh darah intercostal atau arteri mammaria internal yang

disebabkan oleh cedera tajam atau cedera tumpul. Dislokasi fraktur dari

vertebrata torakal juga dapat menyebabkan hemotoraks. Biasanya perdarahan

berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Dapat juga terjadi

pada pasien yang memiliki: Sebuah cacat pembekuan darah, Trauma tumpul

dada

E. Manifestasi klinik

- Takipnea

- Dispnea

- Sianosis

- Nyeri pada tempat trauma,bertambah pada saat inspirasi.Penurunan atau

tidak ada suara napas pada sisi yang terkena

- Takikardia

- Hipotensi

- Pucat, dingin pada kulit dan lengket

- Mungkin subkutan emfisema

- Mempersempit tekanan pernapasan


- Tekanan darah menurun.

- Gelisah dan agitasi

- Kemungkinan batuk mengeluarkan sputum bercak darah.

- Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.

F. Patofisiologi

Pada trauma tumpul dada, tulang rusuk dapat menyayat jaringan paru-

paru atau arteri, menyebabkan darah berkumpul di ruang pleura. Benda tajam

seperti pisau atau peluru menembus paru-paru. mengakibatkan pecahnya

membran serosa yang melapisi atau menutupi thorax dan paru-paru. Pecahnya

membran ini memungkinkan masuknya darah ke dalam rongga pleura. Setiap

sisi toraks dapat menahan 30-40% dari volume darah seseorang.

Perdarahan jaringan interstitium, Pecahnya usus sehingga perdarahan

Intra Alveoler, kolaps terjadi pendarahan. arteri dan kapiler, kapiler kecil ,

sehingga takanan perifer pembuluh darah paru naik, aliran darah menurun. Vs

:T ,S , N. Hb menurun, anemia, syok hipovalemik, sesak napas,

tahipnea,sianosis, tahikardia. Gejala / tanda klinis

Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah

didinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan

nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan

gejala yang pertama muncul.


Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi,

sianosis, tahipnea berat, tahikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di

ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung.

G. Patoflow

H. Penatalaksanaan

1. Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi) dan

tidak memerlukan tindakan khusus.

2. Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi. Dipungsi

sedapat mungkin dikeluarkan semua cairan. Jika ternyata kambuh

dipasang penyalir sekat air.

3. Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga dan

transfusi.

Tujuan pengobatan adalah untuk menstabilkan pasien, menghentikan

pendarahan, dan menghilangkan darah dan udara dalam rongga

pleura. Penanganan pada hemotoraks adalah:

- Resusitasi cairan.

Terapi awal hemotoraks adalah dengan penggantian volume darah yang

dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai

dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan

kemudian pemberian darah dengan golongan spesifik secepatnya.

Darah dari rongga pleura dapat dikumpulkan dalam penampungan yang


cocok untuk autotranfusi.bersamaan dengan pemberian infus dipasang

pula chest tube ( selang dada ).

- Pemasangan chest tube ( WSD ).

WSD Ukuran besar digunakan agar darah pada toraks tersebut dapat

cepat keluar sehingga tidak membeku didalam pleura. Chest tube

tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga pleura mengurangi

resiko terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat

dipakai dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya. Evakuasi darah

/ cairan juga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap

kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik. WSD adalah suatu

sistem drainase yang menggunakan air. Fungsi WSD sendiri adalah

untuk mempertahankan tekanan negatif intrapleural / cavum pleura.

Macam WSD adalah : WSD aktif : continous suction, gelembung

berasal dari udara sistem, WSD pasif : gelembung udara berasal dari

cavum toraks pasien.

- Thoracotomy

Torakotomi dilakukan bila dalam keadaan :

1. Jika pada awal hematotoraks sudah keluar 1500ml, kemungkinan

besar penderita tersebut membutuhkan torakotomi segera.

2. Pada beberapa penderita pada awalnya darah yang keluar <

1500ml, tetapi perdarahan tetap berlangsung terus.

3. Bila didapatkan kehilangan darah terus menerus sebanyak 200cc /

jam dalam waktu 2 – 4 jam.


4. Luka tembus toraks di daerah anterior, medial dari garis puting

susu atau luka di daerah posterior, medial dari scapula harus

dipertimbangkan kemungkinan diperlukannya torakotomi, oleh

karena kemungkinan melukai pembuluh darah besar, struktur hilus

atau jantung yang potensial menjadi tamponade jantung.

Tranfusi darah diperlukan selam ada indikasi untuk torakotomi.

Selama penderita dilakukan resusitasi, volume darah awal yang

dikeluarkan dengan chest tube dan kehilangan darah selanjutnya harus

ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan diberikan. Warna

darah ( artery / vena ) bukan merupakan indikator yang baik untuk di

pakai sebagai dasar dilakukannya torakotomi.

I. Pemeriksaan Diganostik

1. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat

menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung)

2. GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi,

gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2

kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi

oksigen biasanya menurun.

3. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorax).

4. Hb : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.


J. Komplikasi

1. Adhesi pecah,

2. Bula paru pecah.

3. Kehilangan darah.

4. Kegagalan pernafasan

5. Kematian

6. Fibrosis atau parut dari membran pleura

K. Asuhan Keperawatan Teoritis

1. Pengkajian

a) Identitas

Biodata pasien yang meliputi : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Agama,

Status perkawinan, Pendidikan, Pekerjaan, Tanggal Masuk, No.

Register, Diagnosa medis

b) Riwayat Kesehatan

- Riwayat penyakit sekarang.

- Riwayat penyakit dahulu.

- Riwayat penyakit keluarga

c) Pemeriksaan Fisik

- Sistem Pernapasan

Sesak napas , Nyeri , batuk-batuk , terdapat retraksi , klavikula /

dada , pengambangan paru tidak simetris, fremitus menurun

dibandingkan dengan sisi yang lain , pada perkusi ditemukan adanya


suara sonor / hipersonor / timpani , hematotrax ( redup ) pada

asukultasi suara nafas , menurun , bising napas yang berkurang /

menghilang Pekak dengan batas seperti , garis miring / tidak jelas.

Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak

sama waktu bernapas.

- Sistem Kardiovaskuler

Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.

Takhikardia , lemah , Pucat , Hbturun / normal .Hipotensi.

- Sistem Persyarafan

Tidak ada kelainan

- Sistem Perkemihan.

Tidak ada kelainan.

- Sistem Pencernaan

Tidak ada kelainan.

- Sistem Muskuloskeletal – Integumen.

Kemampuan sendi terbatas . Ada luka bekas tusukan benda tajam.

Terdapat kelemahan.Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya

kripitasi sub kutan.

- Sistem Endokrine

Terjadi peningkatan metabolisme. Kelemahan.


2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ekpansi paru

yang tidak maksimal karena akumulasi cairan.

b. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme

otot sekunder.

c. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan

peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat

nyeri dan keletihan.

d. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya

organisme sekunder terhadap trauma.


3. Intervensi Keperawatan

Rencana Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan
Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi

1 Ketidakefektifan pola nafas NOC : NIC:


 Respiratory status : Airway Management
berhubungan dengan ekpansi
Ventilation 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
paru yang tidak maksimal
 Respiratory status : Airway ventilasi
karena akumulasi cairan. patency 2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Vital sign Status 3. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Kriteria Hasil : jika ada
4. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
 Mendemonstrasikan batuk
tambahan
efektif dan suara nafas yang
5. Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
bersih, tidak ada sianosis
Lembab
dan dyspneu (mampu
6. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
mengeluarkan sputum,
keseimbangan.
mampu bernafas dengan 7. Monitor respirasi dan status O2
mudah, tidak ada pursed
lips)
Terapi Oksigen
 Menunjukkan jalan nafas
yang paten (klien tidak 1. Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
merasa tercekik, irama 2. Pertahankan jalan nafas yang paten
nafas, frekuensi pernafasan 3. Atur peralatan oksigenasi
dalam rentang normal, tidak 4. Monitor aliran oksigen
ada suara nafas abnormal) 5. Pertahankan posisi pasien
 Tanda Tanda vital dalam 6. Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
rentang normal (tekanan
darah, nadi, pernafasan) Vital sign Monitoring

1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR


2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
4. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
5. Monitor pola pernapasan abnormal
6. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
7. Monitor sianosis perifer
8. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
9. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

2 Ketidakefektifan bersihan NOC : NIC :

jalan napas berhubungan  Respiratory status : Airway suction

dengan peningkatan sekresi Ventilation  Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning


 Respiratory status : Airway  Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
sekret dan penurunan batuk
patency suctioning.
sekunder akibat nyeri dan  Vital sign Status  Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk

keletihan. Kriteria Hasil : memfasilitasi suksion nasotrakeal


 Monitor status oksigen pasien
 Menunjukkan jalan nafas
 Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila
yang paten (klien tidak
pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan
merasa tercekik, irama
saturasi O2, dll.
nafas, frekuensi pernafasan
dalam rentang normal, tidak
ada suara nafas abnormal) Airway Management
 Tanda Tanda vital dalam  Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
rentang normal (tekanan  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
darah, nadi, pernafasan  Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
 Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
 Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
Lembab
 Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2
3 Resiko infeksi berhubungan NOC : NIC :

dengan insersi pemasangan  Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)

WSD  Knowledge : Infection


 Batasi pengunjung bila perlu
control
 Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci
 Risk control
tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
Kriteria Hasil :
meninggalkan pasien
 Klien bebas dari tanda dan  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
gejala infeksi  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
 Mendeskripsikan proses keperawtan
penularan penyakit, factor  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
yang mempengaruhi pelindung
penularan serta  Pertahankan lingkungan aseptik selama
penatalaksanaannya, pemasangan alat
 Menunjukkan kemampuan  Tingktkan intake nutrisi
untuk mencegah
 Berikan terapi antibiotik bila perlu
timbulnya infeksi
 Jumlah leukosit dalam
batas normal
 Menunjukkan perilaku Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
hidup sehat
 Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
lokal
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai
resep
 Ajarkan cara menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif
BAB III

PEMBAHASAN JURNAL TERKAIT


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam

konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pernafasan

pneumothoraks

2. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan bisa dipelajari atau dipahami dan sebagai acuan refrensi

untuk membuat konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem

pernafasan pneumothoraks

3. Bagi Penulis

Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang konsep

asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pernafasan

pneumothoraks
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth.2005. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC

Daek. 2014. Laporan pendahuluan peneumothoraks. (online) http://daek-


chin.blogspot.co.id/2014/11/laporan-pendahuluan-pneumothorax.html
diakses pada tanggal 02 november 2015

Doenges,M.E.2000. Rencanan Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3.


Jakarta :EGC

Muntaqqin, Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Pernapasan.Jakarta : Salemba Medika

Muttaqin, Arif.2008. AsuhanKeperawatan pada klien dangan gangguan system


pernapasan. Jakarta:Salemba Medika

Prince,Sylvia.2006. Ptofisiologi ; Komsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6.


Ptofisiologi ; Komsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6.Jakarta : EGC.

Rosyerman, 2015, laporan pendauluan peneumothoraks. (online).


http://rosyerma94.blogspot.co.id/2015/01/laporan-pendahuluan-
pneumothoraks.html diakses pada tanggal 02 November 2015
Saferi,Andra Wijaya dan Yessie Mariza Putri.2013. KMB Keperawatan
Dewasa.Jakarta : Numed

Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II Ed. IV. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia