Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An “A” DENGAN GANGGUAN SISTEM:

PERSARAFAN KEJANG DEMAM SEDERHANA DI INSTALASI RAWAT INAP


ANAK RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Oleh:

DWI NOVI UTARI S.Kep 21216020


EDO SAPUTRA, S.Kep 21216021
FITRIANI, S.Kep 21216024
HEGI ILHAM, S.Kep 21216027

Pembimbing Akademik : Agus Suryaman, S.Kep.,Ns


Pembimbing Klinik : Halimatus Sholihah, S.Kep.,Ns

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2017
KATA PENGANTAR
Assalamuallaikum Wr.Wb
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga Kamidapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan Pada An “A”
Dengan Gangguan Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat
Inap Anak Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta”. Shalawat beserta salam
tetap tercurahkan kepada junjungann kita Nabi Muhammad SAW.
Penyusunan Makalah ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa bantuan,
bimbingan serta saran dari beberapa pihak. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis
mengucapkan Terima Kasih yang tidak terhingga kepada:
1. Ibu Sri Yulia,S.Kp.,M.kep Selaku Ketua STIKesMuhammadiyah Palembang.
2. Ibu Anita Apriyani S.Kep.,Ns Selaku ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
STIKes Muhammadiyah Palembang.
3. Kepala ruangan dan seluruh staf di Instalasi Rawat Inap Anak dan Bayi RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta yang telah membimbing mahasiswa kelompok dalam
melakukan praktik klinik diruangan.
4. Para pegawai dan seluruh Staf RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
5. Dan semua pihak yang telah membantu sehingga Askep ini dapat diselesaikan
Semoga Allah SWT membalas dan melimpahkan rahmat serta hidayah Nya dan
menjadikannya sebagaian aljariyah. Akhirnya semoga Laporan kasus ini dapat
bermanfaat bagi ilmu pendidikan dan kesehatan serta bagi semua yang membacanya,
Amin.
Wassalamuallaikum Wr.Wb
Yogyakarta, 04 Desember 2017

Tim penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian kejang demam merupakan suatu hal sangat mengkhawatirkan bagi
orang tua. Kekhawatiran orang tua dapat bertambah jika anak mengalami kejang
demam berulang. Kemungkinan kejang demam berulang perlu diwaspadai pada
anak yang memiliki usia kurang dari 18 bulan, suhu tubuh kurang dari 40˚C,
memiliki riwayat kejang demam dalam keluarga, dan durasi demam kurang dari 1
jam. Dengan mengetahui gambaran deskriptif kejang demam sederhana seperti
usia, jenis kelamin, suhu tubuh, penyebab demam, dan riwayat kejang demam
dalam keluarga, diharapkan dapat diketahui perkiraan kemungkinan terjadinya
kejang demam berulang sehingga orang tua pasien dapat diedukasi untuk
meningkatkan kewaspadaan (Fida&Maya, 2012)
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena adanya
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38°C) akibat suatu proses ekstrakranium
tanpa adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain (UKK Neurologi IDAI, 2009).
Kejang demam sederhana adalah perubahan aktifitas motorik atau behavior
yang berisfat proksimal dan dalam waktu terbatas akibat dari adanya aktifitas listrik
abnormal di otak yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (Widagdo, 2012)
Kejang Demam adalah kejang pada anak sekitar usia 6 bulan sampai 6 tahun
yang terjadi saat demam yang tidak terkait dengan kelainan intrakranial, gangguan
metabolik, atau riwayat kejang tanpa demam (American Academy of Pediatrics,
2008). Penyebab demam pada pasien kejang demam biasanya adalah gastroenteritis
(38,1%), infeksi saluran nafas atas (20%), dan infeksi saluran kencing (16,2%)
(Aliabad, et al., 2013). Sementara menurut Chung & Wong(2007), infeksi saluran
nafas (79,5%), gastroenteritis (5,5%), roseola (2,9%), infeksi saluran kencing
(1,1%) dan bakteriemia (0,9%) merupakan penyebab demam pada pasien kejang
demam.
Menurut The International Leag ue Against yang dikutip oleh Veisani, et
al . 2014, kejadian kejang demam pada bayi atau anak – anak pasti disertai suhu
lebih dari 38°C tanpa bukti adanya ketidakseimbangan elektrolit akut dan infeksi
Central Nervous System (CNS). Kejang demam mempengaruhi 2-5% anak – anak
di dunia. Anak – anak jarang mendapatkan kejang demam pertamanya sebelum
umur 6 bulan atau setelah 3 tahun. Insidensi kejang demam di beberapa negara
berbeda - beda. India 5 - 10%, Jepang 8,8%, Guam 14% dan di Indonesia pada
tahun 2005 - 2006 mencapai 2-4% dari 573 kejadian setiap tahun. Data yang
didapatkan dari beberapa negara sangat terbatas, kemungkinan dikarenakan
sulitnya membedakan kejang demam sederhana dengan kejang yang diakibatkan
oleh infeksi akut (Waruiru, 2014 ; Fadila, 2014). Kejadian kejang demam di RS
PKU Muhammadiyah gamping dari tanggal 19 Desember 2016 – 2 Januari 2017
hanya terjadi 1 kali.
Menurut Arief (2015) hal-hal yang harus diperhatikan pada saat kejang
demam adalah melonggarkan pakaian yang ketat terutama dibagian leher. Bila tidak
sadar, posisikan anak telentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau
lendir di mulut atau hidung. Walaupun lidah mungkin tergigit jangan masukkan
sesuatu ke dalam mulut. Ukur suhu, observasi, catat lama dan bentuk kejang. Tetap
bersama klien selama kejang. Berikan diazepam rektal, jangan diberikan jika kejang
telah berhenti. Kejang demam dapat berdampak serius seperti defisit neurologis,
epilepsi, retardasi mental, atau perubahan perilaku. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui tingkat pengetahuan perawat anak tentang kejang demam.
Angka kejadian kejang demam di Indonesia sendiri mencapai 2-4% dari
sekitar tahun 2008 dengan 80% disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan. Angka
kejadian di wilayah Jawa Tengah sekitar 2-5% pada anak usia 6 bulan-5 tahun
disetiap tahunnya. 25-50% kejang demam akan mengalami bangkitan kejang
demam berulang (Gunawan, 2008).Di Indonesia dilaporkan angka kejadian kejang
demam 3-4% dari anak yang berusia 6 bulan–5 pada tahun 2012-2013. Di provinsi
Jawa Tengah mencapai 2-3% dari anak yang berusia 6 bulan–5 tahun pada tahun
2012-2013. (Depkes Jateng,2013)
Data kejang demam diruang anak RS PKU Muhammadiyah Gamping,
mulai tanggal 19 desember sampai 02 januari didapatkan 1 kejadian kejang demam
sederhana pada anak.
Kejang demam dapat menyebabkan banyak gangguan seperti gangguan
tingkah laku, penurunan intelegensi dan peningkatan metabolisme tubuh. Berbagai
gangguan ini jika terjadi terus menerus dan berlangsung dalam waktu yang lama
dapat mengakibatkan kekurangan glukosa, oksigen dan berkurangnya aliran darah
ke otak. Akibatnya kerja sel akan terganggu dan dapat menyebabkan kerusakan
neuron serta retardasi mental (Pasaribu, 2013).
Berdasarkan data diatas dengan banyaknya kejadian KEJANG DEMAM
pada anak khususnya umur 6 bulan sampai 5 tahun maka penulis tertarik untuk
mengambil masalah tentang asuhan keperawatan dengan kasus kejang demam pada
anak.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada An “A” Dengan
Gangguan Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat Inap
Anak Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016 menggunakan
pendekatan proses keperawatan.
2 Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian Pada An “A” Dengan Gangguan Sistem:
Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat Inap Anak Rumah
Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.
b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan Pada An “A” Dengan
Gangguan Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat
Inap Anak Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.
c. Mampu menentukan intervensi keperawatan Pada An “A” Dengan
Gangguan Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat
Inap Anak Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.
d. Mampu melakukan implementasi Pada An “A” Dengan Gangguan
Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat Inap Anak
Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016
e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi Pada An “A” Dengan Gangguan
Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat Inap Anak
Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.
f. Melaksanakan pendokumentasian proses keperawatan Pada An “A”
Dengan Gangguan Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di
Instalasi Rawat Inap Anak Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta
Tahun 2016.

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


1. Waktu
pengolahan kasus dilakukan mulai dari pengkajian sampai implementasi
dilakukan mulai dari tanggal 23-26 Desember 2016
2. Tempat
Pengambilan data dan pengkajian Asuhan Keperawatan Pada An “A”
Dengan Gangguan Sistem: Persarafan Kejang Demam Sederhana Di Instalasi
Rawat Inap Anak Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.

D. Ruang lingkup
Asuhan keperawatan ini termasuk dalam keperawatan anak. pengambilan
kasus dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Bayi Dan Anak di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.

E. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Dapat memberikan informasi dan sumbangan pikiran dalam pelaksanaan
Asuhan Keperawatan Anak Pada An “A” Dengan Gangguan Sistem: Persarafan
Kejang Demam Sederhana Di Instalasi Rawat Inap Anak Rumah Sakit Pku
Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2016.

2. Bagi Institusi Pendidikan


Laporan seminar kasus ini diharapkan menjadi referensi tambahan yang
bermanfaat khususnya bagi mahasiswa keperawatan serta dapat dijadikan sumber
rujukan bagi penulis yang akan datang tentang asuhan keperawatan terhadap
pasien dengan KDS (kejang demam sederhana).
3. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan keterampilan mahasiswa tentang pelaksanaan asuhan
keerawatan terhadap pasien dengan kasus sistem Persarafan, serta menjadikan
suatu kesempatan yang berharga bagi mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan
ilmu-ilmu yang telah diperoeh selama masa kuliah.

F. Sistematika
Secara umum makalah ini terbagi tiga bagian diantaranya
BAB 1 Berisi tentang pendahuluan KDS
BAB II Berisi tinjauan teori mengenai KDS
BAB III Berisi tentang tinjauan kasus dan askep KDS
BAB IV Berisi tentang pembahasan hasil pengkajian dari KDS
BAB V Penutup, kesimpulan dan saran