Anda di halaman 1dari 15

91

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yang hanya

mencari hubungan antara variabel faktor fisik (umur ibu, pekerjaan atau

aktivitas sehari-hari dan kehamilan tidak diinginkan), faktor psikologis

(dukungan keluarga dan suami), fasilitas kesehatan dan ekonomi dengan

variabel komplikasi kehamilan. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi

square untuk mengidentifikasi hubungan umur ibu, pekerjaan atau aktivitas

sehari-hari, kehamilan tidak diinginkan, dukungan keluarga dan suami,

fasilitas kesehatan, dan ekonomi dengan kejadian komplikasi kehamilan.

Instrumen pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara melalui

kuesioner.

Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan

tehnik purposive sampling. Sampel yang didapat selama penelitian berjumlah

53 responden yaitu Ibu hamil yang mengalami komplikasi dan ibu yang telah

melahirkan baik seksio sesarea maupun persalinan normal di Instalasi Rawat

Inap Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang Tahun 2012 dan memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini

dilaksanakan pada tanggal 17 Januari sampai dengan 25 Januari 2012.

Pembahasan penelitian ini adalah analisis bivariat yaitu sebagai berikut:


92

a. Hubungan antara Usia dengan Kejadian Komplikasi Kehamilan

Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mencari hubungan antara

usia dengan kejadian komplikasi kehamilan, dari 53 responden diperoleh

sebagian responden berada pada rentang usia yang tidak berisiko yaitu 20-

35 tahun (61%) yang terjadi komplikasi kehamilan, sedangkan usia berisiko

58,3% yang terjadi komplikasi kehamilan. Sebagian besar usia tidak berisiko

(antara 20-35 tahun) yang dirawat di IRNA Kebidanan dan Penyakit

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012

mengalami kejadian komplikasi kehamilan. Hasil uji statistik diperoleh nilai

p Value = 1,000 (p Value ≤ 0,05), sehingga Ho gagal ditolak berarti tidak ada

hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian komplikasi

kehamilan.

Usia rawan untuk hamil adalah usia yang kurang atau lebih dari

rentang usia reproduksi sehat. Usia reproduksi sehat adalah usia antara 20-

35 tahun (Soelaeman, 2006). Untuk perempuan dengan usia dibawah 20

tahun berisiko terhadap kehamilannya karena alat-alat atau organ

reproduksinya belum siap untuk menerima kehamilannya, sedangkan untuk

perempuan dewasa berusia 35 tahun keatas kondisi organ-organ

reproduksinya berbanding terbalik dengan perempuan yang berusia dibawah

umur 20 tahun. Pada usia ini perempuan mulai mengalami proses penuaan,

sehingga organ reproduksinyapun mulai kendor dan kaku (Antonio, 2007

dikutip Supriatiningsih, 2009).


93

Dari hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori menurut Elvi (2002)

yang menyatakan bahwa umur yang ideal untuk melahirkan (usia reproduksi

sehat) adalah umur 20-35 tahun, dengan resiko yang makin meningkat bila

umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun untuk terjadinya

komplikasi kehamilan seperti eklamsi, plasenta previa, perdarahan dan

gangguan pada janin. Komplikasi ini bila berkelanjutan dan tidak tertolong

akan dapat menyebabkan kematian ibu. Secara fisik alat reproduksi dibawah 20

tahun belum terbentuk sempurna dan pertumbuhan tulang panggul belum

terbentuk lebar. Pada usia diatas 35 tahun, biasanya seorang perempuan sudah

mulai dihinggapi penyakit seperti ca cervik, kencing manis, darah tinggi dan

jantung. Pada umur ini keadaan jalan lahir sudah mulai kurang elastis

dibandingkan sebelumnya sehingga mengakibatkan persalinan menjadi sulit

dan lama. Hal ini ditambah dengan menurunnya kesehatan ibu untuk

melahirkan bayi karena faktor umur maupun penyakit yang dideritanya.

Penelitian ini juga tidak sesuai dengan hasil penelitian Rustam

Sunaryo dikutip Kamaliah (2003) yang menyatakan bahwa risiko terjadinya

komplikasi kehamilan akan meningkat pada umur ibu kurang dari 20 tahun dan

lebih dari 35 tahun. Hal ini juga tidak sesuai dengan pendapat Mc Cathy dan

Maine, yang menyatakan bahwa ibu pada umur kurang dari 20 tahun dan lebih

dari 35 tahun, resiko untuk terjadinya komplikasi kehamilan seperti eklamsi dan

perdarahan akan meningkat. Pada usia kurang dari 20 tahun ibu masih dalam

masa pertumbuhan, alat reproduksi belum terbentuk sempurna misalnya

panggul dan rahim sehingga dapat menyebabkan terjadinya komplikasi


94

persalinan. Sedangkan usia 35 tahun ke atas kondisi fisik dan kesehatan

seorang perempuan sudah mulai menurun.

Hasil penelitian ini juga tidak sesuai dengan hasil penelitian

Supriatiningsih (2009) yakni mengenai “Faktor-faktor yang berhubungan

dengan komplikasi kehamilan pada ibu hamil di kota Metro tahun 2009”.

Hasil uji statistik di peroleh nila p-Value = 0,039 dimana nilai p<α (0,05),

maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia

dengan komplikasi kehamilan. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai

OR=2,295, artinya usia tidak produktif mempunyai peluang 2,295 kali untuk

terjadi komplikasi dibandingkan usia produktif.

Berdasarkan hasil penelitian di IRNA Kebidanan dan Penyakit

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012

didapatkan responden yang usianya tidak berisiko lebih banyak terjadi

komplikasi kehamilan. Ini dikarenakan RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang merupakan rumah sakit rujukan yang lebih banyak responden

dengan komplikasi daripada tidak komplikasi.

b. Hubungan antara Pekerjaan dengan Kejadian Komplikasi Kehamilan

Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mencari hubungan antara

pekerjaan dengan kejadian komplikasi kehamilan, dari 53 responden

diperoleh sebanyak 16 responden (48,5%) pekerjaan atau aktivitas berat

yang terjadi komplikasi kehamilan, sedangkan pekerjaan atau aktivitas

ringan sebanyak 16 responden (80%) yang terjadi komplikasi kehamilan.


95

Hampir sama antara pekerjaan atau aktivitas sehari-hari berat dengan

pekerjaan atau aktivitas ringan yang dirawat di IRNA Kebidanan dan

Penyakit Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012

mengalami kejadian komplikasi kehamilan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value = 0,047 (p Value ≤ 0,05),

sehingga Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan

atau aktivitas sehari-hari dengan kejadian komplikasi kehamilan.

Berdasarkan hasil analisis, didapatkan juga nilai OR = 0,235 (95% CI =

0,065-0,856) artinya responden dengan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari

berat mempunyai resiko 0,235 kali mengalami kejadian komplikasi

kehamilan dibandingkan dengan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari ringan.

Menurut analisis profesional bahwa maksud pekerjaan atau aktivitas

bagi ibu hamil bukan hanya pekerjaan keluar rumah atau institusi tertentu,

tetapi juga pekerjaan atau aktivitas sebagai ibu rumah tangga didalam

rumah, termasuk pekerjaan sehari-hari dirumah dan mengasuh anak. Sering

ada rekomendasi untuk mengurangi aktivitas pada ibu hamil dengan riwayat

melahirkan BBLR, namun hal ini tidak terbukti efektif, dalam asuhan

kehamilan dimana ibu hamil sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas

pekerjaan rumah ataupun bekerja di luar rumah, yang penting diperhatikan

adalah keseimbangan dan toleran dalam pekerjaan, karena pada

kenyataannya pekerjaan selain berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan

juga berhubungan dengan penghasilan keluarga dan kesejahteraan. Hal-hal


96

yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan atau aktivitas bagi ibu hamil adalah

apakah aktivitasnya beresiko bagi kehamilan (Kusmiyati dkk, 2009).

Aktivitas dan pekerjaan sehari-hari akan menimbulkan kelelahan

pada ibu hamil. Efek kelelahan yang berlebihan tentu akan sangat berbahaya

bagi ibu hamil, terutama kelelahan yang timbul akibat kegiatan yang terlalu

padat. Hal ini disebabkan karena terlalu banyak aktivitas khususnya aktivitas

yang banyak menghabiskan energi dan konsentrasi dapat menyebabkan

kontraksi pada rahim. Jika kondisi ini terus terjadi, dikhawatirkan dapat

menyebabkan keguguran atau kelahiran premature (Shanti, 2010).

Berdasarkan hasil penelitian di IRNA Kebidanan dan Ilmu

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 responden

yang melakukan aktivitas berat lebih banyak terjadi komplikasi kehamilan.

Ini dikarenakan aktivitas berat yang dilakukan oleh responden menimbulkan

kelelahan yang berlebihan sehingga akan menurunkan nafsu makan. Jika

nafsu makan menurun, maka pasokan nutrisi bagi janin dapat terganggu. Hal

ini akan sangat berbahaya dan bisa membawa dampak yang cukup fatal bagi

bayi. Perkembangan dan pertumbuhan bayi yang ada dalam kandungan bisa

terganggu dan tidak bisa berkembang sempurna.

c. Hubungan antara Kehamilan tidak diinginkan dengan Kejadian

Komplikasi Kehamilan

Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mencari hubungan antara

kehamilan tidak diinginkan dengan kejadian komplikasi kehamilan, dari 53


97

responden diperoleh sebanyak 22 responden (78,6%) dengan kehamilan

tidak diinginkan yang terjadi komplikasi kehamilan, sedangkan kehamilan

diinginkan sebanyak 10 responden (40%) yang terjadi komplikasi

kehamilan. Sebagian besar kehamilan tidak diinginkan yang dirawat di

IRNA Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang tahun 2012 mengalami kejadian komplikasi kehamilan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value = 0,010 (p Value ≤ 0,05),

sehingga Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara kehamilan

tidak diinginkan dengan kejadian komplikasi kehamilan. Berdasarkan hasil

analisis, didapatkan juga nilai OR = 5,500 (95% CI = 1,646-18,376) artinya

responden dengan kehamilan tidak diinginkan mempunyai resiko 5,500 kali

mengalami kejadian komplikasi kehamilan dibandingkan dengan responden

dengan kehamilan yang diinginkan.

Kehamilan tidak diinginkan biasanya dialami oleh para remaja yang

dikarenakan seks pranikah atau seks bebas. Meskipun tidak menutup

kemungkinan bahwa kehamilan tidak diinginkan juga dapat terjadi pada ibu

dengan status marital atau pasangan suami istri yag sudah menikah yang

sedang tidak merencanakan kehamilan, hal itu biasanya dikarenakan

kegagalan alat kontrasepsi (Pantiawati & Saryono, 2010).

Kehamilan tidak diinginkan dapat terjadi karena dua alasan utama

yaitu pasangan tidak menggunakan kontrasepsi atau metode kontrasepsi

yang digunakan gagal. Banyak alasan mengapa banyak orang tidak

menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan tidak diinginkan,


98

termasuk kurangnya akses informasi dan pelayanan KB. Sama halnya

dengan mereka yag menggunakan metode kontrasepsi, meskipun metode

tersebut paling efektif, kemungkinan gagal dapat terjadi karena berbagai

alasan yang berhubungan dengan teknologi dan cara mereka

menggunakannya (WHO, 1998 dikutip Muzdalifah,2008).

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh Family Planning

Perspective, 50% dari kehamilan di Amerika Serikat merupakan kehamilan

yang tidak diinginkan, termasuk kehamilan yang berakhir dengan aborsi,

keguguran, atau yang lahir hidup. Sebagian perempuan yang mengalami

kehamilan tidak diinginkan ini ternyata memakai kontrasepsi sebelum

mereka hamil. Kontrasepsi diperlukan untuk merencanakan kelahiran anak

dalam suatu keluarga. Tanpa menggunakan kontrasepsi, maka 60% dari

perempuan akan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan

yang tidak diinginkan ini mengakibatkan tingginya angka pengguguran

kandungan. Lebih dari 90% diantaranya justru dilakukan pasangan yang

sudah menikah atau suami istri (Trierweiler, 2000 dikutip Muzdalifah,

2008).

Berdasarkan hasil penelitian di IRNA Kebidanan dan Ilmu

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 responden

yang tidak menginginkan kehamilan lebih banyak terjadi komplikasi

kehamilan. Ini dikarenakan adanya kegagalan dalam alat kontrasepsi,

ketidakdisiplinan memakai alat KB. Sebagian responden menggunakan alat

kontrasepsi oral dan suntik. Mereka sering tidak disiplin dalam meminum
99

obat KB dan sering terlambat dari tanggal yang sudah ditentukan untuk

mendapatkan suntik KB sehingga mereka mengalami kehamilan.

Kehamilan tidak diinginkan merupakan salah satu faktor sosial yang akan

menimbulkan dampak kehamilan risiko tinggi (High Risk Pregnancy) dan

dapat berakhir dengan kematian ibu (Maternal Mortality) yang tentunya

akan menambah Angka Kematian Ibu (AKI).

d. Hubungan antara Dukungan keluarga dan suami dengan Kejadian

Komplikasi Kehamilan

Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mencari hubungan antara

dukungan keluarga dan suami dengan kejadian komplikasi kehamilan, dari

53 responden diperoleh sebanyak 17 responden (48,6%) tidak mendapat

dukungan dari keluarga dan suami yang terjadi komplikasi kehamilan,

sedangkan mendapat dukungan keluarga dan suami sebanyak 15 responden

(83,3%) yang terjadi komplikasi kehamilan. Sebagian besar responden yang

tidak mendapat dukungan keluarga dan suami yang dirawat di IRNA

Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang tahun 2012 mengalami kejadian komplikasi kehamilan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value = 0,031 (p Value ≤ 0,05),

sehingga Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara dukungan

keluarga dengan kejadian komplikasi kehamilan. Berdasarkan hasil analisis,

didapatkan juga nilai OR = 0,189 (95% CI = 0,046-0,770) artinya responden

yang tidak mendapat dukungan keluarga dan suami mempunyai resiko 0,189
100

kali mengalami kejadian komplikasi kehamilan dibandingkan responden

yang mendapat dukungan keluarga dan suami.

Kehamilan merupakan krisis bagi kehidupan keluarga yang dapat

diikuti dengan stres dan kecemasan. Perubahan dan adaptasi selama

kehamilan, tidak hanya dirasakan oleh ibu tetapi seluruh anggota keluarga.

Oleh karena itu, selama kehamilan seluruh anggota keluarga harus terlibat

terutama suami. Dukungan dan kasih sayang dari anggota keluarga dapat

memberikan perasaan nyaman dan aman ketika ibu merasa takut dan

khawatir dengan kehamilannya (Lusa, 2011).

Ada empat jenis dukungan yang dapat diberikan suami sebagai calon

ayah bagi anaknya dan keluarga antara lain: dukungan emosi yaitu suami

dan keluarga sepenuhnya memberi dukungan secara psikologis kepada ibu

hamil dengan menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada kehamilannya

serta peka terhadap kebutuhan dan perubahan emosi ibu hamil; dukungan

instrumental yaitu dukungan suami dan keluarga yang diberikan untuk

memenuhi kebutuhan fisik ibu hamil dengan bantuan keluarga lainnya;

dukungan informasi yaitu dukungan suami dan keluarga dalam memberikan

informasi yang diperolehnya mengenai kehamilan; dukungan penilaian yaitu

memberikan keputusan yang tepat untuk perawatan kehamilannya (Shanti,

2010).

Berdasarkan hasil penelitian di IRNA Kebidanan dan Penyakit

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 responden

yang tidak mendapat dukungan lebih banyak terjadi komplikasi kehamilan.


101

Ini dikarenakan masih kurangnya dukungan baik dari keluarga dan suami.

Hal ini dapat terlihat dari kurangnya kepedulian dan perhatian terhadap

kehamilan responden, keluarga dan suami tidak mengerti dan memahami

perubahan emosi responden, masih kurangnya informasi yang benar

mengenai kehamilan, keputusan yang diambil terkadang kurang tepat,

bantuan yang diberikan keluarga dan suami kurang cepat, dan masih belum

disediakannya tabungan untuk persiapan kehamilan dan persalinan.

e. Hubungan antara Fasilitas Kesehatan dengan Kejadian Komplikasi

Kehamilan

Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mencari hubungan antara

fasilitas kesehatan dengan kejadian komplikasi kehamilan, dari 53

responden diperoleh sebanyak 20 responden (83,3%) fasilitas kesehatan

tidak lancar yang terjadi komplikasi kehamilan, sedangkan fasilitas

kesehatan lancar sebanyak 12 responden (41,4%) yang terjadi komplikasi

kehamilan. Sebagian besar responden dengan fasilitas kesehatan tidak lancar

yang dirawat di IRNA Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Dr.

Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 mengalami kejadian komplikasi

kehamilan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value = 0,005 (p Value ≤ 0,05),

sehingga Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara fasilitas

kesehatan dengan kejadian komplikasi kehamilan. Berdasarkan hasil

analisis, didapatkan juga nilai OR = 7,083 (95% CI = 1,924-26,076) artinya


102

responden dengan fasilitas kesehatan tidak lancar mempunyai resiko 7,083

kali mengalami kejadian komplikasi kehamilan dibandingkan dengan

responden dengan fasilitas kesehatan lancar.

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003), menyatakan bahwa

ketersediaan sumber daya kesehatan, keterjangkauan sumber kesehatan,

fasiltas, maupun sarana-sarana kesehatan merupakan salah satu faktor

pendukung yang dapat berperan dalam perilaku ibu untuk memeriksakan

kehamilannya agar tidak mengalami komplikasi, sejauh mana ibu hamil

memanfaatkan fasilitas dan sarana-sarana pelayanan kesehatan, seperti

puskesmas, posyandu, bidan praktek swasta, polindes atau dokter.

Keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan puskesmas bisa dilihat dari

frekuensi ibu hamil berkunjung, jarak dari rumah ke puskesmas, atau

transportasi yang digunakan.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian

Supriatiningsih (2009) mengenai “Faktor-faktor yang berhubungan dengan

komplikasi kehamilan pada ibu hamil di kota Metro tahun 2009”. Hasil uji

statistik di peroleh nila p-Value = 1,000 dimana nilai p-Value > α (0,05),

maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara

fasilitas kesehatan dengan komplikasi kehamilan.

Berdasarkan hasil penelitian di IRNA Kebidanan dan Ilmu

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 responden

dengan fasilitas kesehatan tidak lancar lebih banyak terjadi komplikasi

kehamilan. Ini dikarenakan masih rendahnya frekuensi berkunjung ibu ke


103

pelayanan kesehatan, jarak antara fasilitas kesehatan dengan rumah

responden cukup jauh (perjalanan jauh membutuhkan energi ekstra,

sehingga dilarang bagi mereka yang sedang masa kehamilan trimester

pertama karena dikhawatirkan bisa mengakibatkan keguguran) dan masih

rendahnya kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya. Hal ini akan

berpengaruh terhadap kehamilan ibu hamil.

f. Hubungan antara Ekonomi dengan Kejadian Komplikasi Kehamilan

Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mencari hubungan antara

ekonomi dengan kejadian komplikasi kehamilan, dari 53 responden

diperoleh sebanyak 24 responden (77,4%) ekonomi rendah yang terjadi

komplikasi kehamilan, sedangkan ekonomi tinggi sebanyak 8 responden

(36,4%) yang terjadi komplikasi kehamilan. Sebagian besar responden

dengan ekonomi rendah yang dirawat di IRNA Kebidanan dan Penyakit

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012

mengalami kejadian komplikasi kehamilan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value = 0,006 (p Value ≤ 0,05),

sehingga Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara ekonomi

dengan kejadian komplikasi kehamilan. Berdasarkan hasil analisis,

didapatkan juga nilai OR = 6,000 (95% CI = 1,790-20,115) artinya

responden dengan ekonomi rendah mempunyai resiko 6,000 kali mengalami

kejadian komplikasi kehamilan dibandingkan dengan responden ekonomi

tinggi.
104

Ekonomi selalu menjadi faktor penentu dalam proses kehamilan

yang sehat. Keluarga dengan ekonomi yang cukup dapat memeriksakan

kehamilannya secara rutin, merencanakan persalinan di tenaga kesehatan

dan melakukan persiapan lainnya dengan baik, dengan adanya perencanaan

yang baik sejak awal, membuat tabungan bersalin, maka kehamilan dan

proses persalinan dapat berjalan dengan baik.

Tingkat sosial ekonomi terbukti sangat berpengaruh terhadap kondisi

kesehatan fisik dan psikologis ibu hamil. Pada ibu hamil dengan tingkat

sosial ekonomi yang baik, otomatis akan mendapatkan kesejahteraan fisik

dan psikologis yang baik pula. Status gizipun akan meningkat karena nutrisi

yang didapatkan berkualitas, selain itu ibu tidak akan terbebani secara

psikologis mengenai biaya persalinan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari

setelah lahir. Ibu akan lebih fokus untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya

sebagai seorang ibu. Sementara pada ibu hamil dengan kondisi ekonomi

yang lemah maka ia akan mendapatkan banyak kesulitan, terutama masalah

pemenuhan kebutuhan primer (Sulistyawati, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian di IRNA Kebidanan dan Ilmu

Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2012 responden

dengan ekonomi rendah lebih banyak terjadi komplikasi kehamilan. Ini

dikarenakan masih rendahnya penghasilan yang diperoleh. Pada umumnya

keterbatasan ekonomi menjadi faktor dominan yang mempengaruhi

komplikasi kehamilan. Keterbatasan ekonomi dapat mendorong ibu hamil

untuk tidak melakukan pemeriksaan rutin karena faktor biaya dan rendahnya
105

status gizi ibu hamil. Kualitas makanan yang rendah akan mengakibatkan ibu

hamil jarang mengkonsumsi protein, zat besi, yodium, kalsium atau zat gizi

yang lain yang diperlukan tubuh selama hamil. Padahal gizi yang baik selama

kehamilan sangat dibutuhkan untuk perkembangan janin dan kesehatan ibu.

Janin yang sedang berkembang membutuhkan gizi, dimana gizi diambil dari

tubuh ibu. Akibatnya gizi ibu hamil menurun dan akan terjadi malnutrisi pada

kehamilan.

Akibat malnutisi pada kehamilan yaitu berat otak dan bagian-bagian

otak serta jumlah sel otak kurang dari normal setelah lahir akan menjadi

intelegensia (IQ) dibawah rata-rata. Adanya malnutrisi pada ibu hamil,

volume darah menjadi berkurang, aliran darah uterus dan plasenta

berkurang, ukuran plasenta berkurang dan transfer nutrisi melalui plasenta

menjadi berkurang sehingga janin tumbuh lambat atau terganggu (IUGR).

Ibu hamil dengan kekurangan gizi cenderung melahirkan prematur atau

BBLR. Rata-rata kenaikan berat badan selama hamil adalah 10-20 kg atau

20% dari berat badan ideal sebelum hamil (Kusmiyati dkk, 2008).