Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Keperawatan Gerontik


1. Pengertian Keperawatan Gerontik
Keperawatan Gerontik adalah Praktek perawatan yang berkaitan
dengan penyakit pada proses menua (Kozier, 2011). Menurut Lueckerotte
(2013) keperawatan gerontik adalah ilmu yang mempelajari tentang
perawatan pada lansia yang berfokus pada pengkajian kesehatan dan
status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi.

2. Fungsi Perawat Gerontik


Menurut Eliopoulous tahun 2005, fungsi perawat gerontologi adalah:
a) Guide Persons of all ages toward a healthy aging process
(Membimbing orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang
sehat).
b) Eliminate ageism (Menghilangkan perasaan takut tua).
c) Respect the tight of older adults and ensure other do the same
(Menghormati hak orang dewasa yang lebih tua dan memastikan
yang lain melakukan hal yang sama).
d) Overse and promote the quality of service delivery (Memantau dan
mendorong kualitas pelayanan).
e) Notice and reduce risks to health and well being (Memerhatikan
serta mengurangi risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan).
f) Teach and support caregives (Mendidik dan mendorong pemberi
pelayanan kesehatan).
g) Open channels for continued growth ( Membuka kesempatan untuk
pertumbuhan selanjutnya).
h) Listern and support (Mendengarkan dan memberi dukungan).
i) Offer optimism, encourgement and hope (Memberikan semangat,
dukungan dan harapan).
j) Generate, support, use and participate in research (Menghasilkan,
mendukung, menggunakan, dan berpatisipasi dalam penelitian).
k) Implement restorative and rehabilititative measures (Melakukan
perawatan restoratif dan rehabilitatif).
l) Coordinate and managed care (Mengoordinasi dan mengatur
perawatan).
m) Asses, plan, implement and evaluate care in an individualized,
holistic maner (Mengkaji, merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi perawatan individu dan perawatan secara
menyeluruh).
n) Link services with needs (Memberikan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan).
o) Nurtuere futue gerontological nurses for advancement of the
speciality (Membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi
ahli dibidangnya).
p) Understand the unique physical, emotical, social, spritual aspect of
each other (Saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi,
sosial dan spritual).
q) Recognize and encourge the appropriate management of ethical
concern (Mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai
dengan tempatnya bekerja).
r) Support and comfort through the dying process (Memberikan
dukungan dan kenyamanan dalam menghapi proses kematian).
s) Educate to promote self care and optimal independence
(Mengajarkan untuk meningkatkan perawatan mandiri dan
kebebasan yang optimal).

3. Lingkup Keperawatan Gerontik


Lingkup asuhan keperawatan gerontik adalah pencegahan
ketidakmampuan sebagai akibat proses penuaan, perawatan untuk
pemenuhan kebutuhan lansia dan pemulihan untuk mengatas keterbatasan
lansia. Sifat nya adalah independen (mandiri), interdependen (kolaborasi),
humanistik dan holistik.
B. Konsep Lansia (Lanjut Usia)
1. Pengertian Lansia
Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu
proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Usia
lanjut merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh
setiap individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang
tidak dapat dihindari (Notoatmodjo, 2007).
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang
yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok
umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase
kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu
proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan.

2. Klasifikasi Lanjut Usia


Menurut Maryam (2008), lima klasifikasi pada lansia antara lain:
a. Pra lansia
Seseorang yang berusia 45-59 tahun
b. Lansia
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/ seseorang yang
berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan
d. Lansia potensial
Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau
kegiatan yang masih dapat menghasilkan barang/ jasa
e. Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya
bergantung pada bantuan orang lain

3. Batasan Lanjut Usia


Depkes RI membagi Lansia sebagai berikut:
a. Kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa Virilitas
b. Kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa Presenium
c. Kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa Senium
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Nugroho
(2000), lanjut usia meliputi:
a. Usia pertengahan (middle age) yaitu kelompok usia 45-59 tahun
b. Usia lanjut (eldery) antara 60-74 tahun
c. Usia lanjut tua (old) antara 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

4. Tipologi Lansia
Tipe lansia yang paling menonjol Menurut Maryam (2008):
a. Tipe arif dan bijaksana: lansia yang kaya akan hikmah pengalaman
b. Tipe mandiri: lansia akan mengganti kegiatan yang hilang dengan
kegiatan yang baru
c. Tipe tidak puas: lansia menentang terjadinya proses penuaan
d. Tipe pasrah: selalu menerima dan menunggu nasib baik
e. Tipe bingung: lansia akan mengalami kehilangan kepribadian dan
akan mengasingkan diri

5. Masalah Fisik yang sering ditemukan pada lansia


Menurut Azizah (2011), masalah fisik yang sering ditemukan pada
lansia adalah:
a. Mudah Jatuh
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi
mata yang melihat kejadian yang mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring/terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan
atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka
b. Mudah Lelah
Disebabkan oleh:
1) Faktor psikologis (perasaan bosan, keletihan atau perasaan
depresi)
2) Gangguan organis
3) Pengaruh obat-obat
c. Berat Badan Menurun
Disebabkan oleh:
1) Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang gairah
hidup atau kelesuan
2) Adanya penyakit kronis
3) Gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan
makanan terganggu Faktor-faktor sosioekonomis (pensiun)
d. Sukar Menahan Buang Air Besar
Disebabkan oleh:
1) Obat-obat pencahar perut b) Keadaan diare
2) Kelainan pada usus besar
3) Kelainan pada ujung saluran pencernaan (pada rektum usus)
e. Gangguan pada Ketajaman Penglihatan
Disebabkan oleh:
1) Presbiop
2) Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata kurang)
3) Kekeruhan pada lensa (katarak)
4) Tekanan dalam mata yang meninggi (glaukoma)

6. Faktor yang mempengaruhi proses menua


Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan:
a. Hereditas atau ketuaan genetic
b. Nutrisi atau makanan
c. Status kesehatan
d. Pengalaman hidup
e. Lingkungan
f. Stres

7. Perubahan yang terjadi pada lansia


Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah:
a. Perubahan Mikro
1) Berkurangnya cairan dalam sel
2) Berkurangnya besarnya sel
3) Berkurangnya jumlah sel
b. Perubahan Makro
1) Mengecilnya mandibula
2) Menipisnya discus intervertebralis
3) Erosi permukaan sendi-sendi
4) Osteoporosis
5) Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi
oleh lemak tetapi kemampuannya menurun)
6) Emphysema Pulmonum
7) Presbyopi
8) Arterosklerosis
9) Manopause pada wanita
10) Demintia senilis
11) Kulit tidak elastic
12) Rambut memutih

8. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia


Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan
pada dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan
dari kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua,
yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap
jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan
pada dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan
dari kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua,
yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap
jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia
berbeda dari orang dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering
disebut dengan istilah 14 I, yaitu immobility (kurang bergerak), instability
(berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser
buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment
(gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi), impairment of vision
and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity
(gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit), impaction
(sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang gizi),
impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat
obat-obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan
tubuh yang menurun), impotence (impotensi).
Masalah kesehatan utama tersebut di atas yang sering terjadi pada
lansia perlu dikenal dan dimengerti oleh siapa saja yang banyak
berhubungan dengan perawatan lansia agar dapat memberikan perawatan
untuk mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.

9. Penyakit yang sering terjadi pada lansia


Selain gangguan-gangguan tersebut, ada tujuh penyakit kronik
degeratif yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu:
a. Osteo Artritis (OA)
OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa
mekanik dan biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi,
tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA merupakan penyebab
utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya
karena trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas.
b. Osteoporosis
Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang
dimana masa atau kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis
osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan tulang selama
dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II adalah
hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya produksi
vitamin D.
c. Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik
sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih
tinggi dari 90mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri
pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu
terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis),
serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal
d. Diabetes Mellitus
Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa
dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa.
Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus, dimana kadar
gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl dan kadar
glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola makan
yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko
DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun
menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar,
banyak berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatal-
gatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh.
e. Dimensia
Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan
fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga
mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari. Alzheimer merupakan
jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Adanya
riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah
(hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan
faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga kerap terjadi pada
wanita dan individu dengan pendidikan rendah.
f. Penyakit jantung koroner
Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah
menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri
dada, sesak napas, pingsan, hingga kebingungan.
g. Kanker
Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi
sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel
lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini mengalami mutasi
karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi
normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan,
mulai dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan awal
(kanker). Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah
penyakit jantung. Faktor resiko yang paling utama adalah usia. Dua
pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun
resiko untuk timbul kanker meningkat.

C. Konsep Penyakit Hipertensi


1. Definisi
Hipertensi adalah suatu kondisi di mana pembuluh darah terus-
menerus mengalami peningkatan tekanan. Darah dibawa dari jantung ke
seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah. Setiap kali jantung berdetak
maka akan memompa darah ke dalam pembuluh darah. Tekanan darah
dibuat oleh kekuatan darah yang mendorong terhadap dinding pembuluh
darah (arteri). Semakin tinggi tekanan semakin keras jantung harus
memompa (WHO, 2013).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat
melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan
usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun
sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi
esensial). Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan
denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah dari
tepi dan peningkatan volume aliran darah (Pradana, 2012).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik dan
tekanan darah diastolik lebih dari 140/90 mmHg, dimana sudah
dilakukan pengukuran tekanan darah minimal dua kali untuk
memastikan keadaan tersebut dan hipertensi dapat menimbulkan resiko
terhadap penyakit stroke, gagal jantung, serangan jantung, dan kerusakan
ginjal (Mahardani, 2010).

2. Etiologi
Penyebab hipertensi menurut ganong (2014) sebagai berikut:
a. Usia
b. Jenis kelamin, laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita
hipertensi lebih awal.
c. Riwayat keluarga
d. Bahaya merokok, zat yang terdapat dalam rokok dapat merusak
lapisan dinding arteri berupa plak.
e. Aktivitas, pada orang yang kuat aktivitas akan cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga
otot jantung akan bekerja lebih keras pada tiap kontraksi akibatnya
makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri
f. Stress, hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui
aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan takanan darah
secara intermiten (tidak menentu).

3. Anatomi dan Fisiologi


a. Anatomi Jantung
Jantung adalah salah satu organ penting dalam tubuh kita.
Bentuk jantung menyerupai jantung pisang, besarnya kurang lebih
sebesar kepalan tangan pemiliknya.Bagian atasnya tumpul (pangkal
jantung) dan disebut juga basis kordis.Di sebelah bawah agak runcing
yang disebut apeks kordis.
Gambar. Anatomi Jantung
Jantung terletak di belakang tulang sternum, tepatnya di ruang
mediastinum diantara kedua paru-paru dan bersentuhan dengan
diafragma. Bagian atas jantung terletak dibagian bawah sternal notch,
1/3 dari jantung berada disebelah kanan dari midline sternum, 2/3 nya
disebelah kiri dari midline sternum. Sedangkan bagian apek jantung di
interkostal ke-5 atau tepatnya di bawah papilla mamae (puting susu)
sebelah kiri.

b. Fisiologi Jantung
Fungsi jantung secara umum adalah bekerja sebagai
pompa.Fungsi pompa ini adalah kaitannya dengan sistem peredaran
tubuh sehingga ketika jantung bekerja untuk dan dalam rangka
memompakan darah ke seluruh jaringan tubuh kita. Jantung adalah
sebuah pompa yang memiliki empat bilik.Dua bilik yang terletak di
atas disebut Atrium (serambi), dan dua yang di bawah disebut
Ventrikel (bilik). Jantung juga dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
bagian kanan yang bertugas memompa darah ke paru-paru, dan bagian
kiri yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh manusia.
c. Siklus Jantung
Sebelum mempelajari siklus jantung secara detail, terlebih
dahulu kita melihat tentang sirkulasi jantung. Empat ruang jantung
ini tidak bisa terpisahkan antara satu dengan yang lainnya karena ke
empat ruangan ini membentuk hubungan tertutup atau bejana
berhubungan yang satu sama lain berhubungan (sirkulasi sistemik,
sirkulasi pulmonal dan jantung sendiri). Di mana jantung yang
berfungsi memompakan darah ke seluruh tubuh melalui cabang-
cabangnya untuk keperluan metabolisme demi kelangsungan hidup.
Atrium kanan menerima kotor atau vena atau darah yang miskin
oksigen dari: Superior Vena Kava, Inferior Vena Kava dan Sinus
Coronarius. Dari atrium kanan, darah akan dipompakan ke ventrikel
kanan melewati katup trikuspid. Dari ventrikel kanan, darah
dipompakan ke paru-paru untuk mendapatkan oksigen melewati :
Katup pulmonal, Pulmonal Trunk dan empat (4) arteri pulmonalis, 2
ke paru-paru kanan dan 2 ke paru-paru kiri. Darah yang kaya akan
oksigen dari paru-paru akan di alirkan kembali ke jantung melalui 4
vena pulmonalis (2 dari paru-paru kanan dan 2 dari paru-paru
kiri)menuju atrium kiri. Dari atrium kiri darah akan dipompakan ke
ventrikel kiri melewati katup biskupid atau katup mitral. Dari
ventrikel kiri darah akan di pompakan ke seluruh tubuh termasuk
jantung (melalui sinus valsava) sendiri melewati katup aorta. Dari
seluruh tubuh,darah balik lagi ke jantung melewati vena kava
superior,vena kava inferior dan sinus koronarius menuju atrium
kanan.
Gambar. Fisiologi Jantung
Secara umum, siklus jantung dibagi menjadi 2 bagian besar,
yaitu:
1) Sistole atau kontraksi jantung
2) Diastole atau relaksasi atau ekspansi jantung
Secara spesific, siklus jantung dibagi menjadi 5 fase yaitu :
1) Fase Ventrikel Filling
2) Fase Atrial Contraction
3) Fase Isovolumetric Contraction
4) Fase Ejection
5) Fase Isovolumetric Relaxation
Perlu anda ingat bahwa siklus jantung berjalan secara bersamaan
antara jantung kanan dan jantung kiri, dimana satu siklus jantung = 1
denyut jantung = 1 beat EKG (P,q,R,s,T) hanya membutuhkan waktu
kurang dari 0.5 detik.
Total volume darah yang terisi setelah fase pengisian ventrikel
secara pasip maupun aktif ( fase ventrikel filling dan fase atrial
contraction) disebut dengan End Diastolic Volume (EDV). Total EDV
di ventrikel kiri sekitar 120ml. Total sisa volume darah di ventrikel
kiri setelah kontraksi/sistolic disebut End SystolicVolume (ESV)
sekitar 50 ml. Perbedaan volume darah di ventrikel kiri antara EDV
dengan ESV adalah 70 ml atau yang dikenal dengan stroke volume.
(EDV-ESV= Stroke volume) (120-50= 70)
4. Manifestasi Klinis
Menurut Rokhaeni (2011) manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu: mengeluh sakit kepala, pusing lemas,
kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran
menurun. Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah:
a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg.
b. Sakit kepala
c. Pusing / migraine
d. Pandangan gelap
e. Rasa berat ditengkuk
f. Penyempitan pembuluh darah
g. Sukar tidur
h. Lemah dan lelah
i. Nokturia
j. Azotemia
k. Sulit bernafas saat beraktivitas

5. Klasifikasi
The joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and treatment of High Bloodpressure (JNC VII) pada tahun 2004
menjelaskan mengenai klasifikas terbaru hipertensi dimana :

Kategori Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik


Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi 130 – 139 mmHg 85 – 89 mmHg
Stadium I
140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
(hipertensi ringan)
Stadium II
160 – 179 mmHg 100 – 109 mmHg
(hipertensi sedang)
Stadium III
180 – 209 mmHg 110 – 119 mmHg
(hipertensi berat)
Stadium 4
210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih
(hipertensi maligna)

Khususnya pada lansia, JNC VII menjelaskan bahwa pada lansia


dengan usia 50 tahun ataupun lebih, memiliki resiko mengalami
komplikasi penyakit jantung, stroke maupun penyakit kardiovaskular
lainnya. Setiap kenaikan tekanan darah 20/10 dari nilai normal, lansia
beresiko dua kali mengalami komplikasi penyakit kardiovaskuler. Selain
itu JNC VII juga menjelaskan bahwa lansia dengan usia 55 tahun keatas
beresiko mengalami hipertensi sepanjang hidupnya jika tidak menjaga
pola hidup dengan baik.

6. Patofisiologi
Otak mempunyai suatu mekanisme otoregulasi terhadap kenaikan
ataupun penurunan tekanan darah. Batas perubahan pada orang normal
adalah sekitar 60-160 mmHg. Apabila tekanan darah melampaui tonus
pembuluh darah sehingga tidak mampu lagi menahan kenaikan tekanan
darah maka akan terjadi udem otak. Tekanan diastolik yang sangat tinggi
memungkinkan pecahnya pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan
kerusakan otak yang irreversible.
Apabila menuju ke otak maka akan terjadi peningkatan TIK yang
menyebabkan pembuluh darah serebral sehingga O2 di otak menurun dan
trombosis perdarahan serebri yang mengakibatkan obstruksi aliran darah
ke otak sehingga suplai darah menuru dan terjadi iskemik yang
menyebabkan gangguan perfusi tonus dan berakibat kelemahan anggota
gerak sehingga terjadi gangguan mobilitas fisik, sedangkan akibat dari
penurunan O2 di otak akan terjadi gangguan perfusi jaringan. Dan bila
di pembuluh darah koroner (jantung) menyebabkan miokardium miskin
O2 sehingga penurunan O2 miokardium dan terjadi penurunan
kontraktilitas yang berakibat penurunan COP.
Paru-paru juga akan terjadi peningkatan volum darah paru yang
menyababkan penurunan ekspansi paru sehingga terjadi dipsnea dan
penurunan oksigenasi yang menyebabkan kelemahan. Pada mata akan
terjadi peningkatan tekanan vaskuler retina sehingga terjadi diplopia bisa
menyebabkan injury.
Pada jantung kenaikan tekanan darah yang cepat dan tinggi akan
menyebabkan kenaikan afterload, sehingga terjadi payah jantung.
Sedangkan pada hipertensi kronis hal ini akan terjadi lebih lambat karena
ada mekanisme adaptasi. Penderita feokromositoma dengan krisis
hipertensi akan terjadi pengeluaran norefinefrin yang menetap atau
berkala.
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui
beberapa cara:
a. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi sehingga
mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya.
b. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga
mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah
melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung
dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan
menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut,
dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena
arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat
pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk
sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di
dalam darah.
c. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal
sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam
tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah
juga meningkat.Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang,
arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi
maka tekanan darah akan menurun. (Price and Wilson, 2006)
7. Pathway

Emosi, alcohol, Peningkatan Peningkatan


kopi, tembakau, aktivitas S.S asetikolin Faktor
obat, dll simpatis genetik

Penurunan Status
HIPERTENSI Peningkatan
Kesehatan
norepinefrin
mm
Paparan Informasi Defisiensi
Kurang Vasokontriksi
Pengetahuan
pembuluh darah

Penurunan aliran Penurunan aliran Peningkatan


darah ke ginjal darah koroner TPR

Pelepasan renin Penurunan suplai O2 Peningkatan Peningkatan


ke otot miokard kerja jantung tekanan arteri
Angiotensin I
Iskemia miokard Peningkatan Pada otak Pada ginjal
afterload
Angiotensi II
Metabolisme anerob Peningkatan
Peningkatan TIK Kerusakan
Sekresi aldesteron afterload lama
Penimbunan asam kapiler
laktat Penurunan gramerulus
Hipertropi perfusi serebral
Transudasi cairan pentrikel kiri
Penurunan PH Darah ke unit
Ketidakefek fungsional ginjal
Peningkatan
Edema tifan perfusi
Menstimulasi kebutuhan O2
jaringan
reseptor nyeri Gangguan
serebral
Kelebihan (bradikin in / khemoreseptor fungsi nefron
volume cairan prostaglandin
Medula oblongata Rupture utama
afferen pembuluh darah otak

Peningkatan
Medulla spinalis Infark serebral (strok)
ventilasi

Kortek serebri Thalamus dispnea Resti penurunan


curah jantung
Nyeri akut Ketidakefektifan
pola nafas
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan (
viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.
b. BUN
Memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi
(diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi)
c. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
d. Kalsium serum
Peingkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
e. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya
pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler).
f. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
g. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab)
h. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
i. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
j. Steroid urin
Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
k. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi
9. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi
ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat.
Terapi tanpa obat ini meliputi :
1) Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
b) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c) Penurunan berat badan
d) Penurunan asupan etanol
e) Menghentikan merokok
2) Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang
mempunyai empat prinsip yaitu:
a) Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain.
b) Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas
aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut
zona latihan.
c) Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam
zona latihan
d) Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu
3) Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
a) Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan
tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
b) Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang
bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan,
dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat
otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
c) Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan
hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
b. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan
darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi
umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli
Hipertensi (Joint National Committee On Detection, Evaluation And
Treatment Of High Blood Pressure, Usa, 1988) menyimpulkan bahwa
obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan
keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
1) Step 1: Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca
antagonis, ACE inhibitor
2) Step 2: Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama
dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama. Ditambah
obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika, beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator.
3) Step 3: Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah
obat ke-3 jenis lain.
4) Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4
Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan
terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang
baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat, dokter) dengan
cara pemberian pendidikan kesehatan.

10. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang dapat timbul pada penderita hipertensi
yaitu : organ yang paling sering menjadi target kerusakan akibat hipertensi
adalah pada mata, ginjal, jantung dan otak.
a. Mata
Komplikasi pada mata dapat menyebabkan retinopati hipertensi
yaitu kelainan pembuluh darah retina yang hanya bisa diketahui
melalui pemeriksaan oftalmaskop / funsduskopi, dapat juga
menyebabkan gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan.
Retinopati hipertensi ditentukan derajat tinggi dan lamanya tekanan
darah dan keadaan arteriol.
b. Ginjal
Pada ginjal dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik dan gagal
ginjal terminal. Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi
hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi
maligna yaitu hipertensi yang sangat parah, yang apabila tidak diobati
akan menimbulkan kematian dalam 3 – 6 tahun, hipertensi ini jarang
terjadi, hanya 1 dari 200 orang yang menderita hipertensi.
c. Jantung
Pada jantung dapat menyebabkan penyakit jantung koroner
(PJK) dan gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan
pada hipertensi berat disamping kelainan koroner dan miokard.
Hipertensi memegang peranan penting dalam potiogenesa penyakit
jantung koroner (PJK). Hipertensi merupakan gangguan mekanisme
pengaturan tekanan darah, membawa efek merugikan organ tubuh
terutama jantung. Kelainannya bisa berupa angina pectoris, infark
miokard, payah jantung dan kematian mendadak. Data dari
framinghan dan polling project research group menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
d. Pada otak dapat menyebabkan stroke
Hipertensi dapat terjadi perubahan patologik pada pembuluh
darah otak sehingga menggangu perfusi darah ke otak dan berakibat
kelainan pada jaringan otak. Manifestasi kelainan ini dikenal dengan
cerebrovascular desease (CVD) atau stroke.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke, mencapai
angka 50%. Penderita hipertensi berisiko 6 kelipatan terkena stroke,
baik hipertensi sistolik maupun diastolik. Hipertensi dan stroke
merupakan dua kondisi klinis yang bisa timbul saling berkaitan dan
timbl balik. Hipertensi bisa merupakan faktor risiko stroke.
Sebaliknya stroke dapat menyebabkan tekanan darah meningkat yang
umumnya terjadi pada fase akut stroke. Keadaan ini disebut reaktif
atau sekunder.

D. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas Demografi
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat,
pendidikan, agama, bangsa, penanggung jawab, alamat, pendidikan,
hubungan dengan pasien, riwayat kesehatan, identitas keluarga atau
orang terdekat klien.
b. Pola pemeliharaan kesehatan
Persepsi kesehatan
1) Status kesehatan umum: klien mengalami sering nyeri kepala
dantengkuk terasa berat, nyeri sering timbul di pagi, siang, dan
malam hari, nyeri yang dirasakan seperti tertimpa benda berat.
2) Riwayat kesehatan dahulu: klien mengatakan ada riwayat hipertensi
3) Riwayat kesehatan keluarga:disertai genogram
4) Aktivitas pencegahan penyakit
5) Usaha yang dilakukan untuk mencegah mengurangi penyakit.
6) Obat/vitamin yang dikonsumsi
7) Mengonsumsi obat-obatan maupun vitamin
8) Alergi makanan/ obat/ lainnya
9) Alergi makanan maupun obat.
10) Persepsi tentang penyakit yang diderita
11) Perasaan tentang penyakit yang diderita
12) Riwayat penggunaan alkohol/ tembakau/ obat
13) Penggunaan rokok, alkohiol, maupun obat-obatan
14) Pengobatan saat ini
15) Keluhan lain
c. Pola Nutrisi
1) Tipe intake (makanan dan minum) sehari-hari
2) Tipe intake (makan dan minum) terakhir
3) Tipe dan kualitas (makanan dan minum)
4) Jumlah intake (makanan dan minum)
5) Frekuensi makanan
6) Gigi
7) Perubahan yang berhubungan dengan status nutrisi
8) Perubahan BB selama 6 bulan terakhir
d. Pola Eliminasi/ Pertukaran
BAK
1) Frekuensi dan waktu
2) Kebiasaan BAK malam hari
3) Penggunaan deuretik
4) Keluhan yang berhubungan dengan BAK
BAB
1) Frekuensi dan waktu
2) Konsistensi
3) Penggunaan laksative
4) Faktor yang mempengaruhi konstipasi (diet, penurunan intake
makanan, stres, kecemasan, penurunan aktivitas, anestesi)
5) Riwayat vesica urinaria
6) Riwayat pendarahan, konstipasi, hemorroid
7) Pengkajian kulit: (integritas, hidrasi, turgor, warna, perubahan
distribusi lemak).
8) Penampilan kulit: (warna, lesi, area tekan, kelembapan, area terbuka,
ekimosis, diaporesis, rash, dan lainnya).
9) Komplikasi kulit, ulkus, luka
10) Hasil lab
e. Pola aktivitas/ Istirahat
1) Tipe dan keteraturan latihan
2) Aktivitas yang dilakukan : (aktifvitas rekreasional, waktu luang)
3) Perasaan/ persepsi terhadap aktivitas: (pusing, lemah, lemas)
4) Riwayat masalah sendi/ tulang belakang/ kelemahan
5) Lama tidur malam hari
6) Lama tidur siang hari
7) Kesuitan tidur
8) Penggunaan obat tidur
9) Keluhan lainnya
KATZ Indeks: termasuk katagori manakah klien?
A Mandiri dalam makan, konstinensia (BAB/BAK), berpindah, menggunakan
pakaian, pergi ke toilet, mandi.
B Mandiri semuanya, kecuali salah satu saja dari fungsi diatas.
C Mandiri kecuali ,mandi dan salah satu lagi fungsi lainnya
D Mandiri kecuali mandi, berpakian, ke toilet, dan salah satu lagi fungsi lainnya
E Mandiri kecuali mandi, berpakian, ke toilet, dan salah satu lagi fungsi yang lain.
F Mandiri kecuali mandi, berpakian, ke toilet, berpindah, dan salah satu lagi dan
fungsi lainnya
G Ketergantungan semua fungsi diatas
H Lain-lain

Keterangan:
Mandiri berarti tanpa pengawasan, pengarahan atau bantuan aktif dari orang lain.
Seseorang yang menolak untuk melakukan suatu fungsi dianggap tidak
melakukan fungsi, meskipun dianggap mampu.

f. Pola Persepsi/Kognitif
1) Status pendengaran
2) Status penglihatan
3) Status perabaan
4) Status pengecapan
5) Status penciuman
6) Kaji orientasi terhadap waktu, orang, tempat dan daya ingat
komunikasi (bahasa, baca tulis)
7) Riwayat pingsan, nyeri, kejang atau sakit kepala
8) Keluhan lainnya

Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan SPMSQ (Short


Portable Mental Status Quesioner)?
No Pertanyaan Benar Salah
1 Tanggal berapa hari ini?
2 Hari apa sekarang ini?
3 Apa nama tempat ini?
4 Dimana alamat ibu/bapak?
5 Kapan ibu/bapak lahir? (minimal tahun lahir).
6 Siapa presiden indonesia sekarang?
7 Siapa persiden indonesia sebelumnya?
8 Siapa nama ibumu?
9 Kurang 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3
dari setiap angka baru, semua secara menurun
JUMLAH

Interpretasi Hasil:
 Salah 0-3 : fungsi intelektual tubuh
 Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
 Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
 Salah 9-10 : kerusakan intelektual sedang

Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE (Mini
Mental Status Exam) kerusakan intelektual dengan menggunakan SPMSQ (Short
Portable Mental Status Quesioner

ASPEK NILAI NILAI


NO CRITERIA
KOGNITIF MAKSIMAL KLIEN
1 Orientasi Menyebutkan dengan benar
 Tahun
 Musim
5
 Tanggal
 Hari
 Bulan
Orientasi Dimana kita sekarang berada ?
 Negara Indonesia
 Provinsi Sumatera Selatan
5
 Kabupaten
 Panti
 Wisma
2 Registrasi Sebutkan 3 nama objek (sebut oleh
pemeriksa), 1 detik untuk mengatakan
masing-mnasing objek. Kemudian
tanyakan kepada klien ketiga objek tadi
3
(untuk disebutkan oleh klien)
 objek
 objek
 objek
3 Perhatian dan Minta klien untuk memulai dari angka 100
kalkulasi kemudian dikurangi 7 sampai 5
5 kali/tingkat
 93
 86
 79
 72
 65
4 Mengingat Minta klien untuk mengulangi ketiga objek
3 pada no.2 (registrasi) tadi, bila benar 1
point untuk masing-masing objek
5 Bahasa Tunjukkan kepada klien suatu benda dan
tanyakan namanya pada klien :
 (misal: jam tangan)
 (misal: cangkir)

Minta klien untuk mengulangi kata berikut


:
“tak ada jika, dan, atau, tetapi”. Bila
benar, nilai satu point.
 Pernyataan benar 2 buah : tak ada,
tetapi.

Minta klien untuk mengikuti perintah


berikut yang terdiri dari 3 langkah :
“ambil kertas ditangan anda, lipat dua,
9
taruh dilantai”
 Ambil kertas ditangan anda
 Lipat dua
 Taruh dilantai

Perintahkan pada klien untuk hal berikut


(bila aktivitas sesuai perintah nilai satu
point)
 Tutup mata anda

Perintahkan pada klien untuk menulis satu


kalimat dan menyalin gambar
 Menulis satu kalimat
 Menyalin gambar

Total

Jumlah nilai klien dan masukkan kedalam kategori berikut ini :


Interpertasi hasil :
 24 – 30 : tidak ada gangguan kognitif
 13-23 : gangguan kognitif sedang
 0-17 : gangguan kognitif berat

g. Pola persepsi diri


1) Kecemasan/ ketakutan yang dirasa: (alasan depresi, cemas, takut)
2) Berduka (potensial/ aktual)
3) Ide melakukan perilaku kekerasan: (pada diri sendiri maupun orang
lain)
4) Perasaan diri yang sering dirasakan sepanjang hari
5) Dapatkah lansia menceritakan tentang dirinya
6) Keluhan lainnya

h. Pola peran dan hubungan


1) Bentuk struktur keluarga
2) Cara hidup (sendirian, keluarga, teman sekamar, dan lainnya)
3) Peran dalam keluarga (ayah, ibu, penghasil keuangan)
4) Persepsi diri tentang peran (berhubungan dengan masalah kesehatan)
5) Masalah/ kesulitan dalam menjaga peran
6) Keadaan ekonomi (penghasilan cukup atau tidak)
7) Dukungan keluarga dalam memenuhi kebutuhan
8) Keluhan lainnya

i. Pola seksualitas
1) Kecemasan terhadap seksualitas
2) Orientasi seksual
3) Hubungan seksual (bila ada derajat kepuasan)
4) Fase reproduksi wanita (waktu mempunyai anak, menstruasi,
menopause)
5) Pemeriksaan payudara/ testis
6) Pemeriksaan PAP smear
7) Riwayat reproduksi (Gravidae, partus, abortus)
8) Riwayat proses persalinan (normal, SC, vacum, kesulitan dalam
melahirkan, kembar, kalinan kongenital)
9) KB
10) Riwayat PMS (Aada/ tidak, pencegahan PMS)

j. Pola koping/ toleransi stres


1) Masalah saat ini (yang menyebabkan stres)
2) Krisis kesehatan saat ini (sakit,hospitalisasi)
3) Psikososial (kemampuan klien pada saat sekarang, sikap klien pada
orang lain, harapan-harapan klien dalam melakukan sosialisasi,
kepuasan klien dalam sosialisasi)
4) Indentifikasi emosional
Pertanyaan tahap I:

1) Apakah klien mengalami susah tidur?


2) Apakah klien sering merasa gelisah?
3) Apakah klien sering merasa murung atau mengangis sendiri?
4) Apakah klien sering was-was atau khawatir
Pertanyaan tahap II:
1) Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam 1 bulan?
2) Ada masalah atau banyak pikiran?
3) Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain?
4) Menggunakan obat tidur/ penenang atas anjuran dokter?
5) Cendrung mengurung diri?
k. Prinsip hidup
1) Spiritual
2) Kegiatan keagamaan
3) Konsep/ keyakinan klien tentang kematian
4) Harapan-harapan klien
5) Derajat dari tujuan pencapaian hidup
6) Persepsi kepuasan hidup
7) Kemampuan memecahkan masalah

l. Keamanan/ proteksi
1) Infeksi
2) Suhu tubuh
3) Gangguan termoregulasi
4) Penyakit autoimenne (cedera otak, komplikasi usia, kekerasan,
hazards)
5) Resiko terhadap (komplikasi immobilisasi, jatuh, aspirasi, hipertensi,
perdarahan, hipoglikemia, dan lainnya)
6) Keluhan lainnya

m. Kenyamanan
1) Nausea
2) Nyeri (skala indikator)
3) Kecemasan, menangis, gangguan pola tidur, ketakutan
4) Perubahan tekanan darah, diaporesis
5) Keluhan lainnya

Pengkajian fisik
a. Data Klinik :
1) TTV : hasil tekanan darah diatas normal
2) Kepala : Simetris (Normal)
3) Leher : Normal (Tidak ada pembesaran kelenjar thiroid)
4) Thorax
a) Paru-paru (IPPA) :
I : Simetris, tidak ada jejas, tidak ada hiperpigmentasi
P: Pengembangan dada normal (tidak ada yang tertinggal), Tidak
ada krepitasi), Fremitus Taktil Normal
P : Sonor
A : Vesikuler
b) Jantung (IPPA) :
I : Tampak terlihat pembesaran jantung, iktus cordis
P : Tidak ada Hepatomegal
P : Redup
A : Suara Jantung Normal
c) Abdomen (IPPA) :
I : Simetris, tidak ada jejas, tidak ada hiperpigmentasi
P : Timpani
P : Tidak ada nyeri tekan, Tidak teraba mass
A : BU : 15 kali/ menit

5) Inguinal (Sistem reproduksi) : normal


6) Ekstremitas
Sistem Muskuloskeletal
Range of motion :  Penuh

 Keseimbangan jalan : Normal


 Kemampuan menggengam :  Normal
 Otot Ekstremitas :  Lemah
5 5

5 5

2. Diagnosa Keperawatan:
a. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan nyeri
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
c. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai
dengan kurang pengetahuan
d. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan faktor resiko
perubahan frekuensi jantung
3. Nursing Care Planning Teoritis
(Nursing Dignosis) (Nursing Intervention) Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan NOC (Tujuan) NIC (Intervensi keperawatan)
1 Ketidakefektifan pola nafas NOC : Respiratory Status : Airway Patency NIC :Respiratory Monitoring

Definition : inspirasi atau ekspirasi yang Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan
tidak memberi ventilasi adekuat. 3x24 jam diharapkan pasien menunjukkan jalan usaha untuk inspirasi
Batasan Karakteristik : nafas patent, dengan kriteria hasil : 2. Monitor pola bernafas, bradypnea,
- Perubahan kedalaman pernafasan tachypnea, dyspnea
- Perubahan ekskursi dada No Kriteria Awal Tujuan 3. Monitor terjadinya dyspne, dan peristiwa
- Mengambil posisi tiga titik 1 Kecepatan pernafasan 5 yang dapat memperburuk keadaan
- Bradipnea 2 Irama pernafasan 5 4. Perhatikan lokasi trakea
- Penurunan tekanan ekspirasi 3 Kedalaman inspirasi 5 5. Buka jalan nafas dengan tekhnik chinlift
- Penurunan tekanan inspirasi 4 Cemas / kegelisahan 5 6. Membaca mekanisme ventilator
- Penurunan ventilasi semenit 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam
5 Terengah – engah 5
- Penurunan kapasitas vital pemberian nebulizer
- Dispnea 8. Kolaborasi dengan tim medis dalam
Indikator :
- Peningkatan diameter anterior – pemberian terapi farmakologi
1. Gangguan ekstrem
posterior
2. Berat
- Pernafasan cuping hidung
3. Sedang
- Ortopnea
4. Ringan
- Fase ekspirasi memanjang
5. Tidak ada gangguan
- Pernafasan bibir
- Takipnea
- Penggunaan otot aksesorius untuk
bernafas
Faktor yang berhubungan
- Ansietas
- Posisi tubuh
- Deformitas tulang
- Deformitas dinding dada
- Keletihan
- Hiperventilasi
- Sindrom hipoventilasi
- Gangguan muskuloskeletal
- Kerusakan neurologis
- Disfungsi neuromuskular
- Obesitas
- Nyeri
- Keletihan otot pernafsan
- Cedera medula spinalis
2. Nyeri akut NOC : Pain Level NIC : Pain Management

Definition : pengalaman sensori dan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam, 1. Mengkaji lokasi, karakteristik, durasi,
emosional yang tidak menyenangkan yang klien menunjukkan perbaikan level nyeri dengan frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor
muncul akibat kerusakan jaringan yang kriteria hasil : pencetus nyeri secara komfrehensif
aktual atau potensial atau digambarkan 2. Kontrol lingkungan yang dapat
dalam hal kerusakan sedemikian rupa ( No Indikator Awal Tujuan mempengaruhi nyeri
international Association for study of pain ) 1 Melaporkan nyeri 3. Ajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam
5
: awitan yang tiba-tiba atau lambat dari berkurang 4. Ajarkan prinsip dari manajemen nyeri
intensitas ringan hingga berat dengan akhir 2 Ekspresi wajah saat 5. Monitor TTV
5
yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan nyeri 6. Gunakan cara mengontrol nyeri sebelum
berlangsung < 6 bulan 3 Gelisah 5 nyeri menjadi berat
4 Mengerang / 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam
5
Batasan karakteristik : merintih pemberian obat golongan analgetik
- Perubahan selera makan 5 TTV 5
- Perubahan tekanan darah
- Perubahan frekuensi jantung Indikator
- Perubahan frekuensi pernafasan 1. Gangguan ekstrem
- Laporan isyarat 2. Berat
- Diaforesis 3. Sedang
- Mengekspresikan perilaku ( mis : 4. Ringan
gelisah, merengek, menangis, waspada, 5. Tidak ada gangguan
iritabilitas, mendesah )
- Masker wajah ( mis : mata kurang
bercahaya, tampak kacau, gerakan mata
berpencar atau tetap pada satu fokus,
meringis )
- Sikap melindungi area nyeri
- Fokus menyempit ( miss : gangguan
persepsi nyeri, hambatan proses
berfikir, penurunan interaksi dengan
orang dan lingkungan )
- Indikasi nyeri yang dapat diamati
- Perubahan posisi untuk menghindari
nyeri
- Melaporkan nyeri secara verbal
- Fokus pada diri sendiri
- Gangguan tidur
Faktor yang berhubungan :
Agens cedera ( mis : biologis, zat kimia,
fisik, psikologis ).
3 Defisiensi Pengetahuan NOC: NIC : Teaching : disease Process
Definisi : Knowledge: disease process
1. Berikan penilaian tentang tingkat
Tidak adanya atau kurangnya informasi Knowledge: health behavior
pengetahuan pasien tentang proses
kognitif sehubungan dengan topic spesifik. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan penyakit yang spesifik
klien menunjukkan mempertahankan status 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
Batasan karakteristik : memverbalisasikan neurologi dengan kriteria hasil: bagaimana hal ini berhubungan dengan
adanya masalah, ketidakakuratan mengikuti No Indikator A T anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
instruksi, perilaku tidak sesuai 1. Pemahaman 5 tepat.
2. Mampu 5 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
Faktor yang berhubungan : keterbatasan menjelakan muncul pada penyakit, dengan cara yang
kognitif, interpretasi terhadap informasi kembali tepat
yang salah, kurangnya keinginan untuk 3. Mampu 5 4. Gambarkan proses penyakit, dengan
mencari informasi, tidak mengetahui melaksanakan cara yang tepat
sumber-sumber informasi. 5. Identifikasi kemungkinan penyebab,
dengna cara yang tepat
6. Sediakan informasi pada pasien tentang
kondisi, dengan cara yang tepat
7. Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang
dan atau proses pengontrolan penyakit
8. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
4 Resiko Penurunan Curah Jantung NOC : NIC :
 Cardiac Pump effectiveness
Cardiac Care
Definisi : ketidakadekuatan darah yang  Circulation Status
1. Evaluasi adanya nyeri dada
dipompa oleh jantung untuk memenuhi  Vital Sign Status
(intensitas,lokasi, durasi)
kebutuhan metabolic Kriteria Hasil:
2. Catat adanya disritmia jantung
Kriteria hasil Sebelum Sesudah Target
Batasan karakteristik : Tanda Vital dalam 5 5 3. Catat adanya tanda dan gejala
rentang normal penurunan cardiac putput
Perubahan frekuensi/irama jantung (Tekanan darah, Nadi,
respirasi) 4. Monitor status kardiovaskuler
- Bradikardia
Dapat mentoleransi 5 5 5. Monitor status pernafasan yang
- Palpatasi jantung aktivitas, tidak ada
menandakan gagal jantung
- Perubahan EKG kelelahan
Tidak ada edema paru, 5 5 6. Monitor abdomen sebagai indicator
- Takikardia perifer, dan tidak ada
penurunan perfusi
Perubahan preload asites
Tidak ada penurunan 5 5 7. Atur periode latihan dan istirahat untuk
- Distensi vena jugular kesadaran
menghindari kelelahan
- Edema
8. Monitor toleransi aktivitas pasien
- Keletihan Indikator :
9. Monitor adanya dyspneu, fatigue,
- Murmur jantung 1 : Parah
tekipneu dan ortopneu
- Peningkatan berat badan 2 : Besar
10. Anjurkan untuk menurunkan stress
- Peningkatan CVP 3 : Moderat
- Peningkatan PAWP 4 : Ringan
- Penurunan pulmonary artery 5 : Tak Satupun
wedge preasuere (PAWP)
- Penurunan tekanan vena Central Vital Sign Monitoring
CVP 1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Perubahan afterload 2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Dispnea 3. Monitor VS saat pasien berbaring,
- Kulit lembap duduk, atau berdiri
- Oliguria 4. Auskultasi TD pada kedua lengan dan
- Pengisian kapiler memanjang bandingkan
- Peningkatan PVR 5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
- Peningkatan SVR dan setelah aktivitas
- Penurunan nadi perifer 6. Monitor kualitas dari nadi
- Penurunan resistansi vaskuler paru 7. Monitor adanya pulsus paradoksus
- Penurunan resistansi vaskuler 8. Monitor adanya pulsus alterans
sistemik 9. Monitor jumlah dan irama jantung
- Perubahan tekanan darah 10. Monitor bunyi jantung
- Perubahan warna kulit 11. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
- Batuk 12. Monitor suara paru
- Bunyi napas tambahan 13. Monitor pola pernapasan abnormal
- Bunyi S3 14. Monitor suhu, warna, dan kelembaban
- Bunyi S4 kulit
- Ortopnea 15. Monitor sianosis perifer
- Penurunan fraksi ejeksi 16. Monitor adanya cushing triad (tekanan
- Penurunan indeks jantung nadi yang melebar, bradikardi,
Perilaku/ emosi peningkatan sistolik)
- Ansietas 17. Identifikasi penyebab dari perubahan
- Gelisah vital sign

Faktor yang berhubungan:


- Perubahan afterload
- Perubahan frekuensi jantung
- Perubahan irama jantung
- Perubahan kontraktilitas
- Perubahan preload
- Perubahan volume sekun cup
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2,
Jakarta, EGC,

Doengoes, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran, EGC,

Goonasekera CDA, Dillon MJ. (2003). The child with hypertension. In: Webb
NJA, Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd
edition. Oxford: Oxford University Press

Hypertension in Elderly. (2014). Japan: Japanese Society of Hypertension

Imam, S Dkk. (2005). Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang

Johnson, M., et all. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Kuswardhani, Tuti. (2006). Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lanjut Usia.


Denpasar: FK-Univerasitas Udayana Div. Geriatri

Lionakins, Nicolas et all. (2012). Hypertension in Elderly. New York: World


Journal of Cardiologi.

M.Alhawarasi, Tharieq. (2015). Hypertension in Older Persons: A Systematic


Review of National and International Treatment Guidelines Australia.

Mc Closkey, C.J., et all. (1996). Nursing Interventions Classification (NIC)


Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Santosa, Budi. (2007). Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.


Jakarta: Prima Medika

Seventh Report of Prevention. (2004) Detection, Evaluation and Treatment of


High Blood Pressure. JNC

Smeljer,s.c Bare, B.G. (2002). Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,

Smet, Bart. (1994). Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta

Bulechek GM dkk. 2016. Nursing Interventions Classifications


(NIC).
Indonesia:CV Monomedia
Bulechek GM dkk. 2016. Nursing Outcomes Classifications
(NOC).
Indonesia:CV Monomedia
Choabarian.(2014). di akses pada tanggal 6 juni
2017
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdan/i
nfodati n/infodatin-hipertensi.pdf.
Damayanti.(2013). di akses pada tanggal 6 juni
2017
http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=download&sub=
Downl
oadFile&act=view&typ=html&id=71323&ftyp=potongan&poto
ngan=S
2-2014-336422-chapter1.pdf.

Elsanti, Salma (2013). Panduan Hidup Sehat : Bebas Kolesterol,


Stroke, Hipertensi, & Serangan Jantung. Yogyakarta. Araska

Fatmah. 2013. Gizi Usia Lanjut. Jakarta : Erlangga.

Ganong, William F (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

Guyton.(2007). Buku Ajar Fisiologi KedokteranEdisi 11..

Jakarta: EGC
Medical Publisher.

Hani, Sharon EF.(2013). Colgan R.Hypertensive Urgencies and


Emergencies.
Prim Care Clin Office Pract 2010;33:613-23.

Karyadi, Elvina. (2012). Hidup Bersama Penyakit Hipertensi, Asam


Urat, Penyakit Jantung Koroner. Jakarta: Intisari

Maulana M. (2013). Penyakit Jantung: Pengertian, Penanganan,


dan
Pengobatan. Jogjakarta: Kata Hati

Maryam, Siti dkk, (2010). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.


Jakarta: Salemba Medika.

Mohani. (2014). scholar.unand.ac.id/3724/2/BAB%201%20upload.pdf


di akses pada tanggal 6 juni 2017.

Maryam. (2008). Diakses pada tanggal 7 juni


2017 http://digilib.unila.ac.id/6613/15/BAB%20II.pdf
NANDA,. (2014). Diagnosis Keperwatan dan klasifikasi ( 2015-2017).
Jakarta: ECG
Notoatmodjo,Soekidjo. (2007). Diakses pada tanggal 7 juni
2017
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/39919/C
hapter
%20II.pdf;jsessionid=AFB181ED1D80A88E36CC2CAA0C7652
97?se
quence=4

Notoatmodjo, Soekidjo. (2013). Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan.


Jakarta: Rineka

Rahajeng. (2009). Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di


Indonesia.
Jakarta: EGC

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). (2013). Jakarta: Badan


Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik
Indonesia

Sidharta, P. dan Mardjono, M. (2014). Neurologi Klinis Dasar.


Jakarta: DianRakyat.

Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis


Proses- proses Penyakit. Jakarta: EGC.

Wexler. (2013). Hipertensi. Diakses pada tanggal 6 juni


2017.website http;//www.findarticles.com/p/article/mi.

World Health Organization (WHO). (2015). Diakses pada tanggal 7


juni 2013;
http://www.who.int/cardiovascular_diseases/en/cvd_atlas_14_de
athH.p df.
World Health Organization (WHO). (2008). Diakses pada tanggal 8 juni
2013;
www.unicef.org/nutrition/index_24826.html.

Soeparman dkk (2007). Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit


Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan
dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made

Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.

Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan

Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.

Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI

Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit:


pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter
Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart.
Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran
Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

Maryam, siti dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba
Medika

_______(2009) Konsep Keperawatan Gerontik,


http://www.scribd.com/doc/54276751/2/Pengertian-Lansia

_______(2010) Keperawatan Gerontik


http://duniakreasinyanova.blogspot.com/2009/03/keperawatan-
gerontik.html?zx=6d31635b4755f3ea
Rona, 2012, Perubahan Psikologis Lansia http://koran-
jakarta.com/index.php/detail/view01/86097

Setiabudhi, Tony. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek Menjaga
Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama

Nugroho, Wahjudi SKM. 1995. Perawatan Lanjut Usia. Jakarta : EGC

Sahar juniati (2001) keperawatan gerontik, coordinator keperawatan komunitas, fakultas


ilmu keperawatan UI, Jakarta

Darmojo, Boedhi,et al.2000.Beberapa masalah penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI

Pirma Siburian Sp PD (2009), empat belas masalah kesehatan yang sering terjadi pada
lansia,
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=381
2:empat-belas-masalah-kesehatan-utama-pada-
lansia&catid=28:kesehatan&Itemid=48