Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KEPEMIMPINAN

Disusun Oleh :

1. Cahya Tri Utami P.1337420615011


2. Aprilia Aldila Enggardini P.13374206150
3. Yosiana Muftianingrum P.13374206150
4. Fayruz Zahrotin Niswah P.13374206150
5. Elvera Dwi Andini P.1337420615034

PRODI S1 TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang
Dalammelakukan monitoring
kinerjaperawat,perluadaseorangkoordinatoruntukperawat.Dengandemikian
diharapkankinerjaperawatdapatdipertanggungjawabkandansegeradiketahui
bilaterjadipenyimpangan,
namunkeputusanharusdibuatberdasarkaninformasi yanglengkap.Hasil
monitoring
iniharusdilaporkandanbilaterdapatpenyimpangansegeraditindaklanjutitetap
isebaliknyabilaterdapatpeningkatankinerjaperludiberikanpenghargaan.
Monitoring merupakanbagiandarievaluasi yang
dilakukandalamproseskegiatan/evaluasiformatif.Sedangkanevaluasiselainb
erisi monitoring jugamelihatkembalikegiatan yang
dilakukansecarakeseluruhan/evaluasisumatif.
Perubahan yang begitucepatdalampelayanankesehatan,
peningkatankebutuhanmasyarakatakanpelayanandanketerbatasansumberda
ya, telahmendorongkearahtersedianyapelayanan yang
berkualitasdenganmelaksanakansesuatu yang benarpadasaat yang
tepatdenganupaya yang sesuai.
Prinsipiniperluditerapkansehinggadiperlukanadanya jaminanmutu,
standar, indikatorkinerja,uraiantugassertasistem monitoring danevaluasi
yang berdasarkanstandardankebutuhanpelayanan.
Monitoring
kinerjaklinisbagiperawatmerupakansalahsatuupayadalammeningkatkanmut
ukinerjaitusendiridanmeningkatkanmutupelayanankesehatanpadaumumny
a.Untukmengukurkinerjaharusadasuatu indikatorkinerjadanmelalui
monitoring, kinerjaseseorangdapatdilihatdandinilai.
Kinerjamengandung
komponenkompetensiprofesionaldanproduktifitasdalamkaitannyadenganpe
layanankeperawatan,
makakompetensiperawatdalampelaksanaantugaspelayanandidasarkanatasst
andarprofesimasing-masing.
Monitoring danEvaluasimerupakanbagianpentingdariadministrasi
yang efektifdalamsuatuorganisasi. Hal
inisuatuprosesbantuankepadastafuntukmencapaitujuanorganisasi. Hasil
yang diharapkandikaitkandenganstandar yang digunakan
dalampelayanankesehatanakanbermaknaapabilatujuandapatdicapaidengan
hasil yang baik. Hasiltersebutsangattergantungpadakualitaskinerja yang
ditampilkanolehklinisi, termasukperawat.Olehsebabitusalahsatubagian
yang pentingdalamproses manajemenadalahmelakukan monitoring.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Monitoring dan Evaluasi

Monitoring adalah suatu proses pengumpulan dan menganalisis


informasi dari penerapan suatu program termasuk mengecek secara
regular untuk melihat apakah kegiatan/program itu berjalan sesuai
rencana sehingga masalah yang dilihat /ditemui dapat diatasi(WHO).

World Health Organization (WHO) merumuskan evaluasi sebagai


suatu proses dari pengumpulan dan analisis informasi mengenai
efektivitas dan dampak suatu program dalam tahap tertentu sebagai
bagian atau keseluruhan dan juga mengkaji pencapaian program. Definisi
lain dikemukakan oleh Swansburg (1996) yang menyatakan bahwa
evaluasi kinerja adalah suatu proses pengendalian dimana kinerja
pegawai dievaluasi berdasarkan standar.

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama program


atau kegiatan berlangsung dan ini dikaitkan dengan proses
monitoring.Informasi yang diperoleh dari monitoring memungkinkan
untuk dapat membuat dan menetapkan tentang bagaimana program
tersebut dapat berjalan atau bagaimana sebaiknya proses untuk mencapai
tujuan; contoh monitoring dari suatu pencapaian artinya bahwa anda
dapat terus menerus mengkaji ulang kemajuan dan mengidentifikasi
sesuatu untuk menyakinkan bahwa hal itu realistik dan dapat dicapai dan
dimodifikasi atau bila perlu memperbaikinya sementara program masih
berjalan.

2.2. Tujuan Monitoring dan Evaluasi


SecaraumumSistemManajemenKinerjaKlinismemberikerangkake
rjapengembangan program melalui; kinerja yang disadari (performance
awareness),pengukurankinerja (performance measurement)
danpeningkatankinerja (performance improvement).
Tujuan Monitoring dan Evaluasi :
1. Memperoleh informasi terutama tentang kegiatan apakah telah
dilaksanakan sesuai dengan rencana dan memberikan umpan balik
2. Mempertanggung jawabkan tugas/kegiatan yang telah dilakukan
3. Sebagai bahan untuk mengambil keputusan dalam mengembangkan
program/kegiatan dan tindak lanjut dari aktifitas monitoring.
4. Menentukan kompetensi pekerjaan dan meningkatkan kinerja dengan
menilai dan mendorong hubungan yang baik diantara pegawai.
5. Menghargai pengembangan staf dan memotivasi perawat kearah
pencapaian kualitas yang tinggi.
6. Menggiatkan konseling dan bimbingan dari manajer
7. Memilih perawat yang berkualitas untuk pengembangan dan
peningkatan gaji.
8. Mengidentifikasi ketidak puasan perawat.
2.3.Manfaat Monitoring dan Evaluasi :
1. Mengidentifikasi masalah keperawatan/kebidanan.
2. Mengambil langkah korektif untuk perbaikan secepatnya.
3. Mengukur pencapaian sasaran/target.
4. Mengkaji kecenderungan status kesehatan pasien/masyarakat yang
mendapat pelayanan.
2.4.Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi:
 Libatkan staf dalam perencanaan dan implementasi.
 Pilih seorang atau dua orang sebagai tim kecil yang bertanggung
jawab, membatasi data dan analisis, tetapi tidak membuat
rekomendasi.
 Pastikan ada konsensus rencana evaluasi
 Sediakan kepada tim evaluasi sumber–sumber pengambilan data dan
analisis yang melibatkan pendapat dari ahli
 Mendorong evaluator untuk melaporkan kemajuan walaupun mereka
tidak pada posisi untuk melapor
 Gunakan temuan – temuan untuk merefleksikan program dibawah
pengawasannya, tentukan apa yang akan dirubah, dibuat dan untuk
apa. Contoh apakah proses implementasi harus dimodifikasi sehingga
tujuan dapat dicapai
2.5.Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Monitoring :
1. Monitoring kinerja klinis perawat dan bidan berdasarkan indikator
kinerja klinis
2. Indikator kinerja berdasarkan standar dan uraian tugas.
3. Indikator kinerja klinis dipilih dijadikan indikator kunci
4. Indikator harus bersifat ; dapat diukur atau dinilai, dapat dicapai, dan
bersifat spesifik
5. Dalam waktu tertentu dapat dilakukan perubahan
6. Monitoring harus ditentukan bagaimana caranya, kapan dimana, dan
siapa yang akan memonitor serta harus didokumentasikan.
2.6.Langkah-Langkah Dalam Monitoring:
1. Perencanaan
a. Merancang sistem monitoring yang spesifik: apa yang akan
dimonitor, tujuan apakah untuk memperoleh infomasi rutin atau
jangka waktu pendek? mengapa dan untuk siapa (user).
b. Menentukan scope monitoring: luasnya area (RS, puskesmas non
TT)? apakah bersifat klinis atau service? Siapa yang terlibat,
bidan, perawat, dokter? Berapa lama monitoring akan dilakukan?
c. Memilih dan menentukan indikator tentukan batasan sasaran
kelompok misalnya kelompok anak dibawah 2th, 5 th atau antara
12-60 bln ? Terminologi: kasus diare, mungkin kultur masyarakat
dari satu tempat akan berbeda dgn tempat lainnya, maka
penyusunan indikator merujuk pada budaya setempat dan terakhir
tentukan "performance standard" atau target pencapaian (%) serta
frekuensinya (harian/mingguan/bulanan) tergantung kebutuhan
user.
d. Menentukan sumber-sumber informasi, memilih metoda
pengumpulan data, seperti metoda observasi, interview petugas,
perawat/bidan, pasien atau rapid survey untuk cakupan atau
pengobatan di rumah (home treatment).
2. Implementasi
a. Mengumpulkan data penggunaan format pengumpulan data,
termasuk memilih menentukan proses supervisi dan
prosessingnya (kemana akan dikirim)
b. Tabulasi data dan analisa data: membandingkan temuan atau
pencapaian aktual dengan perencanaan
c. Temuan dalam monitoring: apakah ada penyimpangan, bila ada
perlu diidentifikasi masalah penyebabnya. Hasil temuan di
"feedback" kan kepada semua staf yang terlibat.
d. Menggali penyebab dan mengambil tindakan perbaikan: menggali
penyebab terjadinya masalah, bisa jadi masalah timbul dalam hal
yang sudah familiar bagi perawat dan bidan, misalnya immunisasi
cakupan turun. Bila penyebab telah diketahui, check list
immunisasi dipakai lagi. Rencana monitoring perlu disusun
jangka pendek untuk menjamin bahwa tindakan/prosedure
dilaksanakan sesuai standar (rencana) serta memberi efek sesuai
dengan harapan

3. Menentukan kelanjutan monitoring


Kegiatan monitoring dirancang untuk memperoleh hasil kinerja
sekarang (rutin) atau jangka pendek bagi manajer atau user lainnya.
Ketika program atau kegiatan rutin telah memberikan perubahan
signifikan, maka kelangsungan program kinerja memerlukan
perhatian. Review secara periodik tetap diperlukan. Sistem informasi
manajemen akan membantu manajer untuk mempertimbangkan kapan
indikator dan frekuensi monitoring dikurangi dan pada bagian mana
perlu direncanakan lagi dan dilanjutkan.
2.7.Tipe Monitoring
a. Monitoring Rutin :
Kegiatan mengkompilasi informasi secara reguler berdasarkan
sejumlah indikator kunci. Jumlah indikator dalam batas minimum
namun tetap dapat memberikan informasi yang cukup bagi manajer
untuk mengawasi kemajuan/perkembangan. Monitoring rutin dapat
dipergunakan untuk mengidentifikasi penerapan program dengan atau
tanpa perencanaan
b. Monitoring jangka Pendek :
Dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan biasanya
diperuntukkan bagi aktifitas yang spesifik. Seringkali bila aktifitas
atau proses-proses baru diterapkan, manajer ingin mengetahui, apakah
sudah diterapkan sesuai rencana dan apakah sesuai dengan keluaran
yang diinginkan. Pada umumnya manajer memanfaatkan informasi ini
untuk membuat penyesuaian dalam tindakan yang baru. Sekali
penerapan telah berjalan baik maka indikator kunci dimasukkan
kedalam monitoring rutin. Monitoring jangka pendek diperlukan bila
manajer menemukan suatu masalah yang muncul berhubungan dengan
input atau pelayanan.

Untuk merancang sistem monitoring rutin atau jangka pendek, beberapa


hal perlu dipertimbangkan:

1) Memilih indikator kunci yang akan dipergunakan manajer;


2) Hindari mengumpulkan data yang berlebihan agar tidak menjadi
beban staf.
3) Berikan feedback pada waktu tertentu;
4) Gunakan format laporan yang dapat dengan mudah untuk
menginterpretasikan data dan tindakan.
2.8.Metode Evaluasi Kinerja

Dalam tatanan klinik dapat digunakan metoda evaluasi yang


bervariasi. Manajer atau supervisor harus mempertimbangkan tujuan dari
evaluasi kinerja klinis, kemampuan bekerja yang akan dievaluasi. Ini
berarti harus jelas deskripsi pekerjaan dan kegiatan yang didasarkan pada
standar setiap posisi klinis
Menegakkan indikator evaluasi harus mencerminkan deskripsi
pekerjaan yang harus mereka lakukan dan harus sederhana, khusus dan
jelas. Penilaian kinerja klinis dapat menggunakan tehnik kualitatif untuk
mengukur kompetensi pekerjaan di bagian khusus. Susunan indikator
harus dikembangkan berdasarkan kekhususan fungsi dan tugas dan itu
juga digunakan untuk mengukur proses dari outcomes kilnis. Metoda
evaluasi kinerja bervariasi seperti:

a. Catatan Anecdotal
Catatan Anecdotal adalah catatan individu berdasarkan
peristiwa, kegiatan klinik dan hasil serta masalah yang terjadi pada
pegawai yang bersangkutan. Setiap pegawai mempunyai catatan/buku
anecdotal. Isu yang dicatat akan dibahas antara manajer atau
supervisor dengan pegawai/staf yang bersangkutan dan
ditandatangani oleh pegawai dan supervisor. Dokumen anecdotal
disimpan oleh manajer, dan menulis laporan rekapitulasi serta
mengirim laporan anecdotal kepada seksi keperawatan dan kebidanan
di rumah sakit / koordinator di Puskesmas.
b. Penilaian Diri Sendiri
Penilaian diri sendiri adalah metoda lain untuk evaluasi
kinerja dan sedikit digunakan dilapangan. Masalah penilaian diri
sendiri bagi pelaksana sama dengan penilaian supervisor dimana
membutuhkan suatu pelatihan dalam menilai diri sendiri. Mereka
menjadi terbiasa untuk setiap posisi klinik.
Pertanyaan yang akan memfasilitasi penilaian diri sendiri adalah:
 Pikirkan siapa yang lebih efektif untuk menilai?
 Perilaku dan hasil apa yang dapat mendukung pilihan?
 Pikirkan perilaku dan hasil yang membuat anda bicara dengan
diri anda sendiri “Akankah menjadi lebih baik bila setiap orang
mengerjakannya ?”
 Kebiasaan apakah dari pekerjaan yang berkaitan dengan tugas
untuk dinilai?
 Bagaimana perbedaan dari orang berpenampilan rata-rata
dengan orang yang sempurna?
c. Check List
Check List dapat mengkaji kategori kehadiran atau absen,
atau karakteristik yang diharapkan atau perilaku. Check list harus
digunakan untuk variabel nyata seperti inventaris perlengkapan.
Metoda ini dapat pula digunakan untuk evaluasi ketrampilan
keperawatan klinis dan disarankan untuk mencatat perilaku esensial
dalam keberhasilan kinerja.
d. Peer Review
Peer Review adalah proses evaluasi diantara teman sekerja
dan seprofesi dengan kemampuan yang sama praktek. Mereka secara
kritis mereview praktek sejawatnya dengan menggunakan standar
kinerja yang baku. Ini adalah self-regulation dan mendukung prinsip
autonomi. Peer review terdiri dari sejawat yang memeriksa tujuan
asuhan langsung dari sejawatnya dengan standar yang khusus,
indicator kritis dari asuhan yang ditulis oleh sejawat. Tujuan peer
review adalh untuk mengukur akontabilitas, evaluasi dan
meningkatkan pemberian asuhan, identifikasi kekuatan dan
kelemahan, mengembangkan policy yang baru atau diubah.

Umumnya sistem manajemen kinerja klinis adalah untuk memberi


kerangka kerja pengembangan program melalui kinerja yang disadari (
performance awareness),pengukuran kinerja( performance measurement)
dan peningkatan kinerja (performance improvement). Pengembangan
kinerja klinis keperawatan tidak dapat dipisahkan dari upaya
pengembangan sumber daya manusianya yaitu perawat itu sendiri.
Pengembangan diri secara terus menerus dapat dilakukan dengan
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, melalui pelatihan
(training) dan dapat juga dilakukan melalui refleksi diskusi kasus (RDK).
RDK dapat dikategorikan sebagai suatu “in-service training” untuk selalu
mengembangkan kemampuan dan dapat dipakai sebagai salah satu
indikator pengembangan staf.

2.9.Outcomes Evaluasi

Ada 3 komponen outcomes evaluasi dalam organisasi, yaitu :

1. Clinical outcomes
Clinical outcomes berfokus pada penilaian proses asuhan
sebagai perkembangan pasen melalui suatu sistem yang luas dan
spesifik. Umumnya penilaian harus memenuhi outcomes yang
mungkin dapat diterapkan dalam pelayanan. Contoh indikator
clinical outcomes adalah :
a. Angka infeksi. Outcome yang diharapkan harus bermakna
seperti penurunan infeksi nasokomial menjadi nol.
b. Pasien jatuh/kecelakaan. Outcome yang diharapkan nol, berarti
pasen harus sering diobservasi terutama pada pasen yang siap
ambulansi.

2. Administrative outcomes

Outcomes ini khusus berkaitan dengan organisasi sebagai


keseluruhan dan mempengaruhi sistem kepegawaian, staf, dokter
dan alur bawah organisasi. Dasar pengukuran indikator dalam
sistem pelayanan kesehatan adalah implikasi dari organisasi
seperti:

a. Kepuasan pegawai. Ini merupakan indikator kritis dari outcome


untuk keberhasilan program dan asuhan pasen. Sistem ini harus
meningkatkan kualitas lingkungan kerja pegawai meskipun
membutuhkan waktu. Sistem yang lebih efektif dan efisien
didasarkan pada filosofi kerja kelompok dan asuhan yang berfokus
pada pasien. Mengukur kepuasan pegawai harus dikaji atas
peratuaran yang mendasar.

b. Analisis budaya dan suasana organisasi. Suatu perencanaan yang


baik dan efektif dirancang dengan proses keseinambungan. Patokan
kasus umum memberi implikasi positif baik terhadap budaya
maupun suasana organisasi. Budaya membangun “spirit kelompok”
dengan berfokus pada pasen dan proses. Ini adalah nilai nyata
adanya pendidikan dimana belajar menghargai diantara sesama
staf, dokter dan manajemen. Transformasi suasana ke dalam
lingkungan ini menumbuhkan autonomi staf, mendorong,
menghargai kreativitas dan inovasi, mendukung kemampuan
manajerial dan suatu kebersamaan diantara anggota kelompok.

3. Service/delivery outcomes

Ada satu komponen tetap dari indikator pelayanan dasar yang


dapat dievaluasi dan langsung menilai outcomes. Indikator
outcomes pelayanan sedikit dan lebih sederhana, antara lain :

a. Kepuasan pasien.
Banyak metoda dan alat yang cocok untuk menilai
kepuasan pasen yang akurat sebagai indikator kritis. Kegagalan
mendengar dan menanggapi persepsi pasen dalam sistem
pemberian asuhan akan mengakibatkan ancaman kegagalan
dari organisasi. Data yang berkaitan dengan kepuasan pasen
harus disampaikan kepada semua staf secara regular, hanya
outcomes terbaik memberikan “inovasi” lebih jauh untuk
meningkatkan kinerja . Penilaian yang kurang akan memberi
dampak kepada organisasi.
b. Lamanya menunggu (Respone Time).
Adalah indikator pelayanan yang sempurna untuk menilai
efektivitas sistem. Suatu birokrasi yang kompleks, lamban,
aturan sistem menghasilkan keterlambatan pemasaran. Pasen
sensitif terhadap keterlambatan dan keterbelakangan yang
menimbulkan kesan negatif terhadap organisasi berdasarkan
pengalaman dalam proses sewaktu masuk ke rumah sakit.
2.10. Penyimpangan Evaluasi Kinerja
Evaluasi data penyimpangan kinerja adalah satu bagian penting
dalam peningkatan kinerja. Ada dua jenis penyimpangan :
1. Penyebab umum terjadinya penyimpangan yang erat kaitannya
dengan penyimpangan minor yang terjadi dalam satu organisasi
pelayanan kesehatan, tanpa memperdulikan sistem yang telah
mapan. Penyebab umum terjadi penyimpangan mungkin juga
termasuk penyimpangan minor dalam penampilan kinerja staf,
dimana prosedur yang tidak jelas dan keterbatasan peralatan.
Oleh karena itu, keterbatasan sumber untuk mendeteksi
penyebab setiap penyimpangan minor dapat ditoleransi.
2. Penyebab khusus terjadinya penyimpangan, mungkin termasuk
kesalahan pegawai, kurangnya pengetahuan dalam menjabarkan
peralatan. Target indikator adalah menggunakan deviasi standar
untuk mengidentifikasi penyebab penyimpangan tertentu yang
dapat mentoleransi fluktuasi penyebab umum. Penyebab khusus
terjadinya penyimpangan biasanya mudah dikoreksi dari pada
penyebab umum terjadinya penyimpangan. .