Anda di halaman 1dari 6

Manuver KPK dan PDIP

Bareskrim Polri menangkap Bambang Widjoyanto, Pimpinan KPK pagi ini


(23/01/2014). Implikasi hukum dan politiknya tentu sangat dahsyat, yakni
(1) memengaruhi kinerja KPK dan (2) Presiden Jokowi. Namun muaranya
sama, yakni pemberantasan korupsi terganggu dan kemenangan koruptor
di depan mata. Rangkaian peristiwa politik dan hukum, yakni perlawanan
DPR dan para koruptor yang kuat dan mengakar sangat kasat mata. Mari
kita telaah kronologi terciptanya kasus Cicak dan Buaya Jilid II dan
dampaknya bagi Presiden Jokowi ini dengan hati riang gembira bahagia
selamanya.

Latar belakang dan rentetan peristiwa lahirnya Cicak dan Buaya jilid II ini
dimulai dengan kenyataan terkait tiga hal atau kepentingan politik, yakni
Polri, KPK, dan Presiden Jokowi.

Pertama, tentang Budi Gunawan dan Polri.

Gus Dur berkata: “Hanya ada tiga polisi jujur. Polisi tidur, polisi patung, dan
Hoegeng.” Itu seharusnya yang harus dijadikan pegangan oleh KPK,
Presiden dan publik terkait dengan rekening gendut - dalam hal ini
termasuk Budi Gunawan.

Namun, senyatanya Presiden Jokowi pun yang selama ini memiliki


komitmen pemberantasan korupsi rupanya terbelit lingkaran kepentingan
politik dan ekonomi - termasuk lingkaran koruptor di koalisi Jokowi dan juga
koalisi Prabowo.

(Maka, kejelian jebakan untuk menetapkan Budi Gunawan sebagai calon


kapolri pun dengan antusias disambut oleh DPR - sebagai lembaga yang
paling banyak menyumbang para koruptor di seluruh Indonesia.
Pencalonan Budi Gunawan dijadikan oleh DPR sebagai jebakan untuk
langsung menyerang KPK dan Presiden Jokowi sekaligus.

Dalam hal KPK, KPK dianggap musuh besar DPR. Pernyataan terkait
penetapan Budi Gunawan menjadi tersangka dari para politikus DPR jelas
menunjukkan ketidaksenangan DPR pada KPK. Fadli Zon menyatakan
‘Hanya Tuhan yang bisa mengaudit KPK,”. Benny K Harman menyerang
dengan menyatakan bahwa “Abraham Samad melakukan korupsi
terbesar.” Belum lagi Aziz Syamsuddin yang dengan garang menyerang
KPK dengan berbagai pernyataannya baik terhadap Presiden Jokowi
maupun KPK. Bahkan ancaman terhadap Presiden Jokowi berupa
pemaksaan dalam satu minggu Presiden Jokowi harus melantik Budi
Gunawan sebagai kapolri.
Gerakan politik di DPR pun menemukan momentumnya dan merasa
didukung oleh Polri. Saling mendukung antara Polri dan DPR itu terwujud
dalam sikap Polri yang tidak mau mundur selangkah pun dan melakukan
unjuk kekuatan: menuntut dan mempraperadilkan KPK lewat jalur hukum
pengadilan terkait penetapan status Budi Gunawan. Ini kali pertama KPK
digugat secara hukum terkait penetapan sebagai tersangka.

DPR pun mendapatkan momentum untuk menyerang KPK, dan niatan


membubarkan KPK mendapatkan sinyal dukungan oleh Polri - yang
memiliki kepentingan untuk menyelamatkan institusinya.)

Pencalonan Budi Gunawan sungguh mengungkap banyak kepentingan


antara lain dianggap sebagai sikap dan pilihan PDIP yang merasa
berhutang budi kepada Budi Gunawan - sekaligus serangan terhadap
Presiden Jokowi dan Mega. Pencalonan Budi Gunawan oleh Presiden
Jokowi yang tidak melibatkan PPATK dan KPK dianggap oleh publik - yang
menempatkan KPK sebagai lembaga paling kredibel dan didukung oleh
rakyat.

Akibat dukungan DPR, Polri pun menunjukkan kekuatannya. Maka upaya


menggempur KPK pun dilaksanakan dengan dua mata pisau. Satu
menyerang Abraham Samad dan satu menyerang Bambang Widjojanto.
Dua orang pimpinan KPK inilah yang memiliki keberanian ekstra dan paling
vokal. Tak pelak, untuk melumpuhkan KPK dan menghalangi pemeriksaan
saksi-saksi maka KPK dilemahkan dengan menangkap Bambang
Widjojanto.

Kedua, tentang KPK.

KPK, terlebih sejak zaman Presiden Jokowi, bekerja sama dengan banyak
lembaga. Korupsi besar-besaran bermula di lautan. Maka penetapan
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, sungguh tepat karena
membongkar mafia migas, illegal fishing, illegal logging, dan bahkan
narkoba. Ketegasan KPK termasuk mencokok KH Fuad Amin Imron -
politisi Gerindra - yang merupakan pintu masuk kasus korupsi besar di
Jawa Timur membuat para koruptor meradang. Korupsi Fuad Amin adalah
pintu emas yang akan menyeret banyak pejabat dan para anggota
DPR/DPRD yang saling terkait.

Dahsyatnya kasus Fuad Amin itu telah menyebabkan perlawanan para


koruptor. Pegiat antikorupsi Bangkalan Mahtur Kusairi yang bergiat
membongkar kasus Fuad pun ditembak dan kini dalam kondisi kritis. Itulah
perlawanan langsung betapa Fuad Amin memiliki nilai strategis dalam
upaya pemberantasan korupsi di Jawa Timur terutama dalam sektor migas
dan energi listrik dan batubara, selain berbagai macam konsesi dan
proyek-proyek raksasa yang dikuasai oleh segelintir orang termasuk salah
satu pentolannya Fuad Amin.

KPK pun menyimpan kasus Century, Hambalang, Wisma Atlet, BLBI, mafia
migas, mafia kehutanan, dan mafia haji yang dipastikan akan menyeret
banyak anggota DPR dan pejabat tinggi. (Oleh sebab itu maka SBY
mengantisipasi dengan menjalankan politik berkaki dua antara mendukung
Jokowi dan mengatur ritme dukungan. SBY pun sangat galau dengan
langkah Presiden Jokowi dalam pemberantasan korupsi. Itulah sebabnya,
dalam kegalauan itu SBY mengumpulkan para mantan menterinya untuk
melakukan konsolidasi dan perapatan barisan.

Kasus Jero Wacik dan Suryadharma Ali jelas akan membuka pintu bagi
diseretnya banyak orang. Apalagi eselon 1 dan para dirjen yang diangkat
oleh SBY telah banyak diganti dengan orang-orang Jokowi. Jelas itu
menimbulkan terbukanya kotak Pandora. Kondisi ini mengkhawatirkan SBY
- dan juga banyak anggota DPR.

KPK yang memiliki keberanian itu telah meresahkan para koroptor yang
merajalela. Perlawanan para koruptor yang terusik itu tentu akan sangat
massif.

(Dan momentum untuk melawan itu muncul dengan dukungan DPR dan
Polri yang sedang berhadapan dengan KPK. Maka, apa pun yang
dilakukan oleh KPK akan menjadi sorotan dan alasan perlawanan dari para
koruptor baik di DPR maupun lembaga lain. Intinya, KPK harus
dilemahkan.)

Ketiga, tentang Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi yang memiliki kepedulian tinggi dan sangat mendukung


pemberantasan korupsi terjebak pada idealisme. Presiden Jokowi
sebenarnya menyadari bahwa perlawanan para koruptor terjadi baik dari
dalam PDIP maupun dari luar PDIP serta koalisi Jokowi dan koalisi
Prabowo. Para koruptor bercokol di semua lembaga - dan publik
memandang hanya KPK yang memiliki kredibilitas tinggi sebagai satu-
satunya yang dianggap bersih.

Presiden Jokowi yang sangat pro-KPK - namun terjebak dalam permainan


DPR dan Polri yang dimanfaatkan oleh pegiat para koruptor yang anti-KPK
- menjadi presiden dengan dukungan minoritas DPR. Namun demikian
komitmen Presiden Jokowi terhadap pemberantasan korupsi membuat
jengah dan gerah para mantan pejabat tinggi dan lagi-lagi para anggota
DPR.
Penguatan sinergi Kejaksaan Agung, KPK dan Polri yang dirancang oleh
Presiden Jokowi berantakan karena kasus Budi Gunawan. Budi Gunawan
dijadikan alat untuk penguatan DPR - sekaligus pelemahan Presiden
Jokowi dan KPK sekaligus.

Pada mulanya strategi melawan koalisi Prabowo telah tepat dengan 5


strategi dasar, termasuk salah satunya politik de vide et impera terhadap
para koruptor. Namun, ketika upaya percepatan pemberantasan korupsi
akan dilakukan - dengan menunjuk Budi Gunawan, maka pada saat itu
pulalah kesempatan untuk merusak bangunan pemberantasan korupsi
Presiden Jokowi mendapat momentumnya.

(Dalam kondisi posisi politik Presiden Jokowi yang terjepit dan melemah itu
- menurut perhitungan DPR dan Polri, maka saatnya DPR dan Polri
melakukan serangan terhadap KPK dan sekaligus Presiden Jokowi
sebagai target lanjutan. Strategi menjepit Presiden Jokowi dengan langkah
hukum di DPR, Pansus Polri, Pansus KPK, Pansus Kapolri, akan mewarnai
langkah-langkah pertarungan politik terhadap Presiden Jokowi dengan
target pemakzulan pada akhirnya.)

Maka, bola liar perlawanan Polri terhadap KPK pun telah dilakukan dengan
menangkap Pimpinan KPK Bambang Widjojanto. Maka lahirlah Cicak dan
Buaya jilid II. Kini Presiden Jokowi akan mengalami kesulitan politik yang
luar biasa antara membela KPK - dengan demikian berhadapan dengan
Polri yang tengah unjuk kekuatan karena didukung oleh DPR dan
berhadapan dengan DPR yang berupaya melemahkan baik KPK maupun
Presiden Jokowi.

Yang tidak dihitung oleh Polri dan DPR sekarang adalah: dukungan rakyat
dan media terhadap KPK masih sangat besar. Dan DPR serta Polri tetap
dianggap sebagai instutusi yang tidak bersih, sementara Presiden Jokowi
masih dianggap sebagai pendobrak untuk perbaikan negara. Jokowi akan
bereaksi tegas ketika dibutuhkan. Itu pasti karena dalam kondisi terjepit,
dengan dukungan TNI yang tetap loyal, Presiden masih memiliki kekuatan
mengeluarkan dekrit presiden -dengan dukungan TNI dan rakyat. Itu
skenario terburuk perebutan kekuasaan di Indonesia yang DPR dan Polri
belum menghitung.

ANALISA: POLISI SEBAGAI APARAT PENEGAK HUKUM, KP JUGA MERUPAKAN APARAT PENEGAK
HUKUM. SEHARUSNYA, MEREKA SALING BEKERJA SAMA DAN TIDAK SALING MENYALAHKAN. DAN
SEHARUSNYA KPK DAN POLRI INI MENJADI ORANG YANG NETRAL, JANGAN MUDAH DIPENGARUH
OLEH PIHAK PIHAK YANG SUKA BERMAIN POLTIK SEPERTI KOALISI PDIP DAN DPR.
Harga BBM naik turun

Konfrontasi-Ekonom senior Rizal Ramli menilai rencana pemerintahan Jokowi-JK yang hendak
memperbaiki Anggaran Perbelanjaan Negara (APBN) dengan cara menaikkan harga bahan bakar
minyak (BBM) sebagai solusi yang kurang cerdas. Pasalnya, dampak dari langkah tersebut terhadap
deficit current account relatif kecil.

Khusus soal subsidi BBM, misalnya, ada sejumlah langkah cerdas yang bisa ditempuh untuk
menyelematkan APBN tanpa harus menaikkan harga BBM yang pasti menambah berat beban rakyat.

“Pemerintah baru harus berani mengambil kebijakan terobosan. Jangan terlalu sibuk dengan hal-hal
hilir. Soal upah buruh, subsidi listrik, dan BBM, misalnya, bisa diselesaikan dengan membenahi di sisi
hulunya,” ujar Rizal Ramli.

[Baca: Ini Solusi Rizal Ramli Atasi Persoalan APBN Tanpa Perlu Naikkan Harga BBM]

Menurut Rizal Ramli, ada sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh Presiden Joko
Widodo dan tim ekonomi di Kabinet Kerja sebelum memutuskan kenaikan harga BBM.

Misalnya, mengapa di saat harga minyak mentah dunia turun dari 110 dolar AS per barel menjadi 80
dolar AS per barrel, pemerintah mau menaikkan BBM dalam negeri?

Juga, apakah adil menaikkan BBM tetapi tidak berani memberantas mafia migas yang merugikan
negara puluhan trilliun rupiah? Padahal, di masa kampanye lalu, Jokowo kerap mengatakan dirinya
akan memberantas segala macam mafia, termsuk mafia migas.

“Apakah adil menaikkan harga BBM tapi tidak berani dan tidak bisa menekan biaya cost recovery
yang merugikan negara lebih dari Rp 60 trilliun? Apakah adil menaikkan harga BBM, sementara
negara membayar subsidi bunga obligasi BLBI Rp 60 trilliun per tahun kepada pemilik bank kaya
sampai 20 tahun yang akan datang?” tanya Rizal Ramli lewat akun Twitternya, @ramlirizal.

Mantan Menko Perekonomian yang sekarang bertugas sebagai Panel Ahli PBB itu juga bertanya,
apakah adil menaikkan harga BBM, sementara pemerintah tidak melakukan langkah konkret
membangun fasilitas pengolahan yang dapat mengurangi biaya produksi BBM sebesar 50 persen,
plus menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat.

Rizal Ramli menyimpulkan, kalau memang ingin melakukan revolusi mental, maka seharusnya
pemerintah mengubah cara memandang persoalan BBM. Bukan sekadar melihat persoalan di hilir
berupa harga BBM yang dinilai masih dapat dinaikkan.

Tetapi, juga melihat ke persoalan hulu yang berkaitan dengan penyebab krisis BBM di dalam negeri.
Empat persoalan utama di sektor minyak dan gas, sebutnya lagi, pertama mafia migas yang
berpraktik dengan bebas, diikuti KKN di kalangan pengusaha yang mendapatkan hak khusus dengan
anasir di dalam tubuh pemerintahan yang memiliki bentukan kepentingan dengan kebijakan umum di
sektor migas. Penyebab keempat, sambungnya adalah cost recovery BBM.
Diberitakan, Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dipastikan akan naik sebelum Januari 2015.
Penegasan itu disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil usai
mengikuti rapat terbatas dengan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) di Kantor Wapres.

"Ya sebelum Januari 2015. Bisa besok, bisa sebelum Januari 2015 (naiknya harga BBM)," papar
Sofyan, di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2014).

Kendati demikian, dirinya tidak menjelaskan secara rinci berapa besaran kenaikan harga BBM
tersebut. Saat ini harga BBM subsidi jenis Premium dibanderol Rp6.500 per liter dan Solar subsidi
Rp5.500 per liter.

"Besarannya belum kita bicarakan dan belum kita rapatkan," singkatnya.

ANALISA: HARGA BBM NAIK TURUN, MUNGKIN PADA AWALNYA PRESIDEN MENILAI JIKA
MENAIKKAN BBM AKAN MENUTUP DEVISIT INDESIA TAPI SETELAH DIKAJI ULANG KENAIKAN
BBM MENEKAN EKONOMI MASYARAKAT DAN DIBALIK ITU ADANYA MAFIA MAFIA MIGAS
YANG BERMAIN BELAKANG.