Anda di halaman 1dari 2

Global Taxation vs Schedular Taxation

Ada 2 model teorikal dalam struktur penghitungan Pajak Penghasilan Orang Pribadi yaitu
Schedular dan Global Taxation -->

Schedular Taxation adalah sistem perlakuan pajak dimana pajak dibeda-bedakan berdasarkan
sumber atau jenis penghasilan.Artinya suatu jenis penghasilan mempunyai perlakuan pajak yang
berbeda dengan penghasilan yang lainnya.Dalam sistem schedular taxation dalam menghitung
penghasilan kena pajak, dasar pebgenaannya adalah gross income atau deemed profit/ deemed
taxable income, karena itu tidak ada tax relief.Tingkat tarif pajak yang berlaku untuk setiap kategori
pendapatan diterapkan pada jumlah penghasilan kena pajak.Tarif pajak mungkin berbeda-beda dari
satu kategori ke kategori lainnya.Prosedur yang berbeda dapat diterapkan pada setiap kategori
penghasilan untuk memungut, menyetor, dan melapor pajak. Pada umumnya digunakan sistem
witholding tax, dimana pajak yang sudah dipotong oleh pihak ketiga tidak bisa dijadikan sebagai kredit
pajak.

Pada umumnya penghasilan yang dipungut berdasarkan schedular taxation bersifat final.Bila
suatu penghasilan telah dipotong PPh final maka penghasilan tersebut tidak perlu lagi digabungkan
dalam penghasilan lainnya dalam Surat Pemberitahuan (SPT tahunan) dan biaya-biaya untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara (biaya 3 M) penghasilan tersebut tidak bisa menjadi
deductible expenses, sedangkan PPh yang sudah dipotong oleh pihak ketiga tidak boleh dijadikan
sebagai kredit pajak oleh wajib pajak yang menerima penghasilan.Contohnya : Jika seorang WP
mempunyai penghasilan Dari bunga deposito yang meruoakan objek PPh Final maka PPh yang telah
dipotong oleh Bank sebesar 20% tidak boleh dijadikan sebgai kredit pajak.

Sedangkan Global taxation menganut prinsip equals treatment for the equals dimana semua
penghasilan digabungkan dengan tidak membeda-bedakan asal dan sumber/ jenis penghasilan.Dalam
sistem global taxation hanya ada satu tarif yang diperlakukan terhadap total penghasilan tersebut (di
Indonesia menggunakan tarif PPh pasal 17).Dalam menghitung penghasilan kena pajak dasar
pengenaannya adalah net income karena itu global gross income dikurangkan terlebih dahulu dengan
tax reliefs.Dalam sistem Global Taxation pada umumnya digunakan sistem Self Assesment System atau
kombinasi antara self assesment system dan witholding tax.Pajak yang sudah dipotong oleh pihak
ketiga (witholding), dapat dijadikan sebagai kredit pajak.

Banyak teori kebijakan pajak mempertimbangkan kalau global tax lebih unggul dibandingkan
dengan schedular sistem. Karena terdapat kekurangan dari sistem perpajakan schedular, yaitu :

1. pemisahan penghasilan individu lebih dari satu rezim pajak bisa membuat sulit atau tidak
mungkin untuk memberlakukan pajak progresif dan memberikan keringanan pajak pribadi (bentuk
deduction/pengurangan, potongan harga, dsb). Pajak progresif merupakan cara efektif mengenakan
pajak berdasarkan basis ability to pay (kemampuan untuk membayar) dan untuk memperluas ability
to pay yang ditunjukkan oleh peningkatan kapasitas ekonomi, maka pajak harus dikenakan pada total
penghasilan penanggung pajak.

Sedangkan kalau sistem schedular, struktur tingkat marjinal progresif mungkin hanya diterapkan pada
beberapa kategori pendapatan saja, jadi bisa menimbulkan ketidakadilan bagi pembayar pajak yang
memiliki penghasilan dari berbagai jenis.

Sama halnya kalau di schedular taxation, keringanan pajak harus diterapkan pada satu kategori
pendapatan. Misalnya kayak pendapatan pegawai (dimana keringanan tsb gak terlalu efektif) atau
terbagi atas berbagai kategori pendapatan yang akan meningkatkan kompleksitas
2. Sistem schedular taxation itu berpotensi lebih susah untuk dikelola. sumber daya administrasi yang
langka mungkin terbuang pada masalah klasifikasi pada batasan antara beragam schedule. contohnya
kalau penghasilan dari pegawai dan penghasilan dari bisnis dipajaki atas schedule yang berbeda, maka
akan menjadi penting untuk mengkategorikan aktivitas memperoleh penghasilan sebagai seorang
pegawai atau bisnis (wirausaha/self-employment). Batas antara pekerja dan pemberi kerja, serta
hubungan antara klien dengan konsultan akan sulit untuk ditarik

3. Setiap perbedaan dalam beban pajak final yang dikenakan berdasarkan sistem schedular taxation
atas penghasilan dari kategori yang berbeda akan dimanfaatkan oleh pembayar pajak yang terlibat
dalam perencanaan pajak untuk memastikan bahwa pendapatan mereka sesuai dengan kategori yang
paling menguntungkan. Aktivitas perencanaan pajak ini akan menyebabkan inefisiensi ekonomi yang
serius karena wajib pajak memilih kegiatan yang menghasilkan pendapatan yang mungkin gak efisien
tapi tarif pajaknya lebih ringan

Ketika global income tax mungkin lebih baik menurut perpektif konseptual, yaa memang
idealnya teoritis kayak gitu. Pada praktiknya, semua bentuk global income tax mengandung beberapa
unsur schedular tax dan sistem perpajakannya juga berada pada “spektrum” sistem global dan
schedular. Sementara ada beberapa negara dengan global income tax menentukan pendapatan tanpa
di break down dulu kedalam kategori, ada pula negara yang memiliki strukur schedular untuk
mengidentifikasi jumlah kena pajak menurut kategori pendapatan. Struktur definisi tersebut punya 2
implikasi : 1) jika suatu item tidak termasuk dalam kategori, maka itu gak termasuk juga sebagai
pendapatan. Beberapa negara mungkin punya kategori residual, tapi seringkali kategori itu sifatnya
gak terbuka. 2) akan sering membuat perbedaan karena masing-masing kategori memiliki peraturan
tersendiri. Bahkan di yurisdiksi yang tidak didefinisikan pendapatan dengan mengacu pada kategori,
doktrin peradilandapat mengklasifikasikan pendapatan ke dalam jenis yang berbeda. Apalagi, apapun
definisi dasar dari pendapatan, perbedaan biasanya dibuat dalam bentuk undang-undang untuk
berbagai alasan kebijakan dan teknis. Contohnya, jika capital gain atau keuntungan modal dimasukkan
kedalam dasar pengenaan pajak, hal itu diperlakukan berbeda dengan jenis pendapatan lain. Demikian
pula, peraturan yang berbeda mungkin berlaku untuk biaya atau expense yang dikeluarkan dalam
rangka memperoleh berbagai jenis pendapatan.

Akhirnya, sistem global taxation di banyak negara menjadi sebagiannya schedule dengan
menggunakan final withholding tax atas jenis pendapatan tertentu, terutama dividen dan bunga, dan
tarif pajak yang lebih rendah untuk pendapatan modal/capital income. Telah disarankan bahwa dalam
yurisdiksi ini sebagian sistem schedular dapat meningkatkan porgresivitas dari pajak penghasilan
dengan menghilangkan kesempatan bagi pembayar pajak untuk mengeksploitasi perbedaan waktu
dan perlakuan istimewa lainnya yang mungkin berlaku untuk jenis pendapatan dan biaya yang
berbeda-beda