Anda di halaman 1dari 8

Underground Power Transmission and Gas

Insulated Transmission Lines

Kelompok 5

Disusun Oleh :

Moch. Andry Nahari 2216105014

Ikhsan Anwar Fuadi 2216105028

Maulana Riza Hasbulah 2216105042

Bayu Fatchur Rohman 2216105050

PROGRAM STUDI TEKNIK SISTEM TENAGA

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

2016
BAB 1

1.1 Pendahuluan
Di Amerika Serikat saat perang dunia II telah selesai pada tahun 1950 – 1970,
sebagian besar transmisi dibangun dengan konstruksi yang sangat sederhana.
Sehingga peralatan yang dipasang saat itu dampai sekarang kira-kira kurang
lebih telah berumur 30-50 tahun. Bahkan transmisi di Amerika Serikat dalam
20 tahun terakhir ini dalam keadaan yang membahayakan. Hal ini disebabkan
karena permintaan listrik yang sangat tinggi. Dengan kapasitas transmisi yang
belum mencukupi, ditambah dengan beban yang besar maka beban pada
saluran transmisi menjadi semakin meningkat.
Dewasa ini banyak industri listrikbanyak membangun jalur transmisi baru.
Pada saat ini 10% area metropolitan di Amerika didominasi oleh gedung-
gedung tinggi dan pemukiman penduduk yang sangat padat. Sehingga untuk
menambah jalur transmisi melalui udara (overhead transmission)
kemungkinannya sangat kecil.
Sebagai solusinya adalah menggunakan transmisi bawah tanah (underground
transmission). Jenis transmisi ini mempunyai keuntungan diantaranya dari
segi estetika. Kabel-kabel transmisi jenis ini tidak menghalangi pemandangan
karena terletak di bawah tanah. Saluran transmisi ini mempunyai batas umur
pemakaian 2 kali lipat dari saluran udara dan tidak terpegaruh oleh cuaca
yang buruk. Serta pada transmisi ini tidak memiliki korona dan rugi dayanya
sangat kecil.
Selain mempunyai keuntungan tentunya jenis transmisi ini juga memiliki
kerugian. Kerugian yang pertama adalah biaya pembangunan transmisi ini
memerlukan dana yang cukup besar. Penyebab transmisi ini mahal
dikarenakan yang pertama adalah pengembangan, misalnya pengerjaan
transmsi terhalang oleh trotoar dan saluran air. Kedua adalah kondisi tanah,
dimana kondisi tanah ini ada yang keras sehingga dana untuk pembangunan
transmisi ini lebih mahal. Ketiga, perkotaan dan pedesaan. Ketika di perkotaan
pembangunan transmisi ini terhalang oleh bangunan beton atau gedung.
Ketika di pedesaan, saluran yang diperlukan menjadi lebih panjang. Akibat
dari penyebab yang telah disebutkan sebelumnya adalah, proses pembangunan
transmisi ini memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu saluran transmisi
ini tidak fleksibel ketika terjadi perubahan /penambahan jaringan. Serta sulit
mencari titik gangguan.
Pada saat ini terdapat 4 metode teknis dalam perancangan pembangunan
transmisi bawah tanah. Pertama adalah dengan menggunakan kabel bawah
tanah dengan isolasi solid. Pada umumnya kabel jenis ini dipasang di
perkotaan atau dimana saluran udara tidak memungkinkan untuk di bangun.
Perlu diketahui, penggunaan kabel ini terbatas pada panjang dan rating
arusnya. Kedua, menggunakan kabel dengan isolasi gas. Metode ini telah
banyak digunakan di seluruh dunia. Kabel jenis ini memiliki kemampuan
transmisi daya yang baik menyerupai jalur transmisi udara dan memiliki
panjang yang tak terbatas. Ketiga adalah menggunakan kabel jenis
superkonduktor. Dan yang terakhir adalah kabel cryogenic. Konduktor dari
kabel cryogennic mempunyai konduktivits yang tinggi namun memiliki
temperatur yang rendah. Biasanya terbuat dengan konstruksi kabel yang
fleksibel dengan dilapisi cairan nitrogen yang didinginkan.
BAB II

2.1 Kabel Bawah Tanah (Underground Cable)


Kabel bawah tanah (underground cable) pada umumnya memiliki inti satu
atau lebih yang terbuat dari tembaga atau alumunium. Kabel alumunium
memiliki kelemahan yaitu untuk menghantarkan arus yang sama memerlukan
luas penampang yang lebih besar dibandingkan dengan tembaga. Namun
kabel dengan bahan daasar alumunium lebih ringan daripada tembaga. Setiap
inti memiliki isolator sendiri. Dimana isolator ini berguna untuk menghindari
pengaruh-pengaruh kimia lain yang berada di dalam tanah. Isolasi ini
biasanya terbuat dari karet atau senyawa yang menyerupai karet. Isolasi juga
bisa juga terbuat dari senyawa pernis dan kertas yang telah di resapi minyak
khusus.
Isolasi karet biasanya diguunakan pada kabel dengan range tegangan 600V-
35kV. Kemudian senyawa yang menyerupai karet seperti PE (polyethylene),
PP (propylene), dan PVC (polyvinyl chloride) biasanya digunakan pada range
tegangan 600V-138kV. Selanjutnya adalah kabel dengan isolasi pernis, kabel
ini digunakan pada range tegangan 600V – 28 kV. Yang terakhir adalah
isolasi kertas yang diresapi minyak (kabel impregnasi) pada kabel solid. Kabel
jenis ini biasanya digunakan pada tegangan 69kV. Untuk kabel impregnasi
bertekanan pada umumnya digunakan pada tegangan 345kV. Kabel
impregnasi digunakan pada transmisi tegangan tinggi karena memiliki losses
dielektrik rendah dan murah.
Perlu diketahui, berdasarkan lokasi pemasangannya kabel dibagi menjadi 3
yaitu kabel bawah laut, kabel bawah tanah dan kabel udara (biasanya untuk
overhead transmission).
Kemudian klasifikasi kabel berdasarkan isolasinya dibagi menjadi 3
diantaranya adalah kabel dengan isolasi solid (karet atau menyerupai karet),
kabel dengan isolasi pernis dan kabel dengan isolasi kertas yang diresapi
minyak khusus.
Klasifikasi kabel selanjutnya adalah berdasarkan jumlah konduktor dalam
kabel. Menurut klasifikasi ini terdapat 4 jenis kabel. Yang pertama adalah
single core, kemudian double core, triple core dan yang terakhir adalah kabel
berinti banyak.

Gambar 2.1 Konduktor single core dengan isolasi kertas yang siserapi minyak

Gambar 2.2 Konduktor triple core dengan pelindung (karet) dan kertas yang
diresapi minyak
Sedangkan klasifikasi yang terakhir adalah berdasarkan pada tidaknya
pelindung metal pada isolasi (misalnya pada kabel tipe H atau Hochstadter
dan kabel non-shielded). Pelindung kabel biasanya dapat berupa padat,
minyak dan gas. Perlindungan ini berfungsi untuk membatasi medan listrik
yang ditimbulkan oleh arus yang melalui kabel, megurangi gangguan dari
medan elektromagnetis dan elektrostatis, dan mengurangi shock hazard
(ketika ditanahkan).
Terdapat hal hal yang perlu diperhatikan pada kabel yang berselubung non
metal dan bekerja pada tegangan diatas 2 kV :
a. Mempehatikan insulation shield kabel saat transisi dari kanal penyaluran
ke kanala non penyaluran.
b. Memperhatikan insulation shield kabel saat transisi dari tanah yang
lembab ke tanah yang kering
c. Mempehatikan insulation shield kabel di tanah yang kering
d. Mempehatikan insulation shield kabel di kanal yang basah
e. Mempehatikan insulation shield kabel saat di hubungkan ke saluran udara

Pada umumnya instalasi kabel bawah tanah di letakkan dalam pipa bawah
tanah. Jika ingin mengubur langsung kabel bawah tanah maka kabel perlu
diberi pelindung (armor ) yang terbuat dari 2 isolasi baja yang saling tumpang
tindih.

Gambar 2.3 Pelindung luar pada kabel yang langsung di kubur dalam tanah

2.1.1 Teknik pemasangan kabel bawah tanah


2.1.2 Manhole
2.2 Sifat kelistrikan kabel bawah tanah (Underground Cable)
2.2.1 Kapasitansi kabel konduktor tunggal
2.2.2 Konstanta dielektrik kabel isolasi
2.2.3 Charging Current
2.2.4 Penentuan hambatan isolasi dari kabel Konduktor tunggal
2.2.5 Ukuran kabel (dimension of cable)
2.2.6 Faktor geometri (Geometric Factor )
2.2.7 Resistansi Efektif Konduktor
2.2.8 Resistansi arus DC
2.2.9 Skin effect
2.2.10 Proximity Effect
2.3 GIL (Gas Insulated Lines)
2.3.1 Lokasi Kesalahan kable Bawah Tanah
2.3.2 Kesalahan lokasi oleh Murray Test
2.3.3 Kesalahan lokasi oleh Varley loop Test
2.3.4 Pengecekan Kabel Diistribusi
BAB III

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
3.1.
1. Jkaa\