Anda di halaman 1dari 3

Analisis Puisi ‘Air Selokan’ Karya Sapardi Djoko Damono

AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu
kau berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung -- ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur
darah dan amis baunya.
Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
*
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan
menuding sesuatu: "Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!" Tetapi kau tak
mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang
sekali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
 Analisis Unsur Intrinsik

a. Diksi
b. Majas
c. Citraan
d. Tema
e. Amanat
f. Jenis Puisi

Dalam Tragedi Winka & Sihka hanya dapat ditemui empat suku kata: ka, win, sih, dan Ku. Dengan
keempat suku kata tersebut, dengan cara unik Sutardji, terbentuklah delapan kata: kawin, winka, sihka,
ka, win, sih, dan Ku yang beberapa di antaranya merupakan kata-kata baru hasil pembebasan kata oleh
Sutardji yang dalam hal ini adalah dengan membiarkan kata membolak-balikkan dirinya dan alhasil tentu
saja tidak akan kita temukan kata tersebut jika kita mencarinya di kamus dan kata baru tersebut pun
memiliki makna tersendiri. Dan logika pemaknaannya dimungkinkan sebagai berikut: ketika sebuah kata
utuh, sempurna seperti aslinya, maka arti dan maknanya pun sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka
maknanya pun terbalik, berlawanan dengan arti kata aslinya. Contohnya, kata Tuhan kalau dibalik
menjadi hantu, artinya berlawanan. Tuhan itu sesembahan manusia, hantu itu musuh manusia. Tuhan itu
Maha Pengasih, hantu itu jahat. Dalam kata “kawin” terkandung konotasi kebahagiaan, sedangkan
“winka” itu mengandung makna kesengsaraan. “Kawin” adalah persatuan, sebaliknya “winka” adalah
perceraian. “Kasih” itu berarti cinta, sedangkan “sihka” kebencian. Bila “kawin” dan “kasih” menjadi “winka”
dan “sihka” itu adalah tragedi kehidupan. Targedi mulai terjadi ketika “kawin” dan “kasih” yang karena
suatu ujian hidup dsb. tidak bisa dipertahankan lagi hingga berubah menjadi winka dan sihka (perceraian
dan kebencian) dan terpecah menjadi sih – sih, kata tak bermakna, yang menunjukkan hidup menjadi
sia-sia belaka. Cobaan itu kembali datang yang benar-benar memisahkan antara ka dan sih. Keduanya
benar-benar hidup sendiri yang akhirnya perkawinan tersebut berujung pada sebuah kematian.
2) Pengimajian

Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan indera penglihatan, pendengaran,
dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan
imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat,
mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

3) Kata Konkret

Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus diperkonkret. Maksudnya
ialah bahwa kata-kata itu dapat menuju pada arti yang menyeluruh. Kata yang diperkonkret erat
hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang (Waluyo, 1995: 81). Hal ini biasanya terbentuk
menjadi suatu narasi.

Pada puisi ini, pengulangan kata “kawin” dari baris pertama hingga kelima lalu dilanjutkan baris
selanjutnya masing-masing ka, win, ka, win dan seterusnya kiranya menunjukkan pada kita akan sebuah
perjalanan kehidupan yang berawal dari sebuah perkawinan.

4) Bahasa figuratif
I.A Richard menyatakan (dalam waluyo, 1995: 83-86) bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan
penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan secara tidak langsung
mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.

Namun dalam puisi Tragedi Winka dan Sihka ini tampaknya tidaklah mengandung bahasa figuratif.
Sebaliknya, untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, pengarang membolak-balikkan
kata sehingga tersiratlah suatu makna tersendiri sesuai dengan yang diungkapkan oleh pengarang
sendiri bahwa ia ingin “membebaskan kata”. Menurutnya, kata-kata dapat menciptakan, menemukan
kemauan, dan bermain dengan dirinya sendiri dan terciptalah suatu kreativitas, salah satu caranya ya
dengan membalik suatu kata.

5) Versifikasi

Menurut Waluyo versifikasi terbagi menjadi rima, ritma, dan metrum.

a) Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima terdiri dari
aliterasi, asonansi, rima berangkai, berselang, berpeluk, dan sebagainya (1995: 90).

Namun tampaknya pada puisi karya Sutardji ini tidaklah mengandung rima, baik itu rima aliterasi,
asonansi, maupun disonansi karena setiap baris dalam puisi ini hanya terdiri dari satu kata saja.
b) Menurut Waluyo ritma sangat berhubungan dengan bunyi irama dan juga berhubungan dengan
pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat (1995: 90-94).

Jika dihubungkan dengan pengertian di atas, maka puisi Tragedi Winka dan Sihka ini banyak
mengandung ritma dan irama, yaitu pengulangan kata “kawin” lima kali berturut-turut masing-masing
pada baris pertama hingga baris kelima, “sih” pada baris ke-31 hingga 36, dan “winka” pada baris ke-15
hingga 17, kata “sihka” pada baris ke-18 hingga 20, serta irama “ka” di setiap akhir baris ke-15 hingga 20.

c) Metrum yaitu berupa pengulangan tekanan yang tetap.

6) Tipografi

Menurut Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (2002:…), tipografi merupakan aspek bentuk visual puisi yang
berkaitan dengan tata hubungan dan tata baris. Halaman tidak dipenuhi kata-kata hingga baris puisi yang
tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat
menentukan pemaknaan terhadap puisi.

Tipografi puisi Tragedi Winka dan Sihka ini adalah bentuk zig-zag. Bentuk zig-zag tersebut
merupakan tanda ikonik yang menggambarkan jalan yang berlika-liku. Dalam puisi ini juga terlihat
adanya gelombang sangat tajam, tidak melengkung tapi langsung turun miring kekanan dan kekiri
dengan begitu tajamnya. Maka, dengan tipografi demikian tersebut, puisi ini memiliki makna perjalanan
sebuah perkawinan yang tidak mulus, tetapi penuh dengan liku-liku dan marabahaya. Kehidupan dalam
puisi ini sangat tragis dan jika jatuh dalam sebuah masalah maka akan sangat jatuh dengan begitu
tajamnya. Jika dilihat dari tingkatan kemiringannya, sangat terlihat bahwa masalah yang dialami tokoh
semakin lama semakin sulit. Bentuk gelombang tajam ini menunjukkan pasang surutnya kehidupan.