Anda di halaman 1dari 4

Hubungan budaya dengan pemberian Asi Ekslusif pada bayi di desa Santan

Kabupaten Aceh Besar

BAB I

A. Latar Belakang

Budaya memang merupakan salah satu jiwa dari nilai nilai yang ada di dalam
masyarakat. Pengertian kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah untuk bertindak dan
berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani atau rohani.1

Keutungan memberikan ASI Eklusif adalah ASI Merupakan Makanan bayi paling
sempurna, murah dan didapat, ASI saja dapat mencukupi kebutuahan gizi bayi untuk tumbuh
kembang dengan normal sampai bayi berumur 6 bulan. ASI yang pertama keluar disebut
Kolostrum bewarna kekuningan dan mengandung zat kekebalan untuk mencegah penyakit,
oleh karna itu harus diberikan kepada bayi dan tidak boleh dibuang, keluarga tidak perlu
mengeluarkan biaya untuk makanan bayi usia 0-6 bulan, ASI mengandung antibodi yang
dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh kuman dan virus (Afraiani, 2014).2

Kerugian bila tidak memberikan ASI Eklusif adalah jika seorang bayi tidak diberikan
ASI dan diganti dengan susu formula, maka bayi tidak akan mendapatkan kekebalan, serta
akan kekurangan gizi. Dengan tidak adanya zat anti bodi, maka bayi akan mudah terkena
berbagai penyakit dan meningkatkan angka kematian bayi (Astutik, 2014). Bila bayi berumur
0-6 bulan diberi makanan selain ASI, dapat terjadi gangguan pencernaan, ketahanan tubuh
bayi yang rendah untuk mencegah penyakit, bila bayi diberikan susu botol sering terjadi
mencret. Kemungkinan bayi tidak cocok dengan susu formula atau cara membuatnya tidak
bersih , pengeluaran biaya rumah tangga akan lebih banyak, dapat merugikan ikatan cinta
kasih ibu dan anaknya (Afriani, 2014).2

kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relative


rendah. Padahal kandungan ASI kaya akan karotenoid dan selenium, sehingga ASI berperan
dalam system pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. Setiap tetes ASI
juga mengandung mineral dan enzim untuk pencegahan penyakit dan antibody yang lebih
efektif dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam susu formula.3

Masalah utama masih rendahnya penggunaan ASI di Indonesia adalah factor social
budaya, kurangnya pengetahuan ibu hamil, keluarga dan masyarakat akan pentingnya ASI,
serta jajaran kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung Peningkatan Pemberian ASI (PP-
ASI). Masalah ini diperparah dengan gencarnya promosi susu formula dan kurangnya
dukungan dari masyarakat, termasuk institusi yang memperkerjakan perempuan yang belum
memberikan tempat dan kesempatan bagi ibu menyusui di tempat kerja (seperti ruang ASI).
Keberhasilan ibu menyusui untuk terus menyusui bayinya sangat ditentukan oleh dukungan
dari suami, keluarga, petugaskesehatan, masyarakat serta lingkungan kerja. 3

Pemberian ASI eksklusif pada tahun 2010 sebesar 80%. Sehingga berbagai kebijakan
dibuat pemerintah untuk mencapai kesehatan yang optimal yaitu UndangUndang RI No. 36
tahun 2009 pasal 128 ayat 1 “setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif
sejak dilahirkan selama 6 bulan kecuali atas indikasi Medis” (Wiji, 2013).4

Dinegara berkembang, sekitar 10 juta bayi mengalami kematian dan 60% dari
kematian tersebut seharusnya dapat ditekan dengan menyusui. ASI sudah terbukti dapat
meningkatkan bayi sehingga 1,3 juta bayi dapat diselamatkan. Untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian anak, United Nation Children (UNICEF) dan World Healt
Organization (WHO) merekomendasikan agar bayi sebaiknya disusui secara Eksklusif
selama 6 bulan. Makanan padat seharusnya diberikan sesudah anak berumur 6 bulan, dan
pemberian ASI seharusnya dilanjutkan sampai umur dua tahun (Afriani, 2014).2

Berdasarkan latar belakang tersebut, mengingat pentingnya pemberian ASI esklusif dan
pengetahuan ibu yang biasa menggantikan ASI dengan susu formula. Maka penulis tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai hubungan Hubungan budaya dengan pemberian Asi
Ekslusif pada bayi di desa Santan Kabupaten Aceh Besar

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas diduga sekitar 10 juta bayi mengalami kematian
dan 60% dari kematian tersebut seharusnya dapat ditekan dengan menyusui, hal tersebut
berkaitan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya pemberian ASI Eklusif
yang biasa menggantikan ASI dengan susu formula. Dari latar belakang tersebut, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sejauh mana Hubungan budaya dengan
pemberian Asi Ekslusif pada bayi di desa Santan Kabupaten Aceh Besar.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan budaya dengan pemberian Asi Ekslusif pada bayi di
desa Santan Kabupaten Aceh Besar.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu terhadap asi eksklusif
b. Untuk mengetahui pola kebiasaan ibu yang menggantikan asi dengan susu
formula
c. Untuk mengetahui hambatan ibu yang bekerja dalam memberikan asi.

D. Manfaat Penelitian
1
Ilmu Sosial Budaya Dasar (di Perguruan Tinggi) / oleh Sarinah..Ed 1, Cet ,1. – yogyakarta

:publish februari 2016.


2
Afriani, Reni ( 2014 ) “Faktor-faktor yang berhubungan Dengan pemberian ASI Eklusif

pada Bayi Usi 0-6 Bulan di wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Pekanbaru”.

STIKes Tuanku Tambusai Riau.

3
Kemenkes RI. 2014. Banyak sekali manfaat ASI bagi Bayi dan Ibu, www.depkes.go.id

diakses tanggal 17 Mei 2014

4
Wiji, Rizki Natia (2013) ASI Panduan Ibu Menyusui. Yogyakarta : Nuha Medika.