0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
353 tayangan95 halaman

Pengertian Uang

1. Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, sejarah, jenis, dan fungsi uang. Uang didefinisikan sebagai alat tukar yang dapat diterima secara umum. 2. Sejarah uang dimulai dari sistem barter hingga penggunaan logam mulia seperti emas dan perak sebagai alat tukar. 3. Ada tiga jenis uang yaitu uang kartal, uang logam, dan uang kertas.

Diunggah oleh

eet bastian
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
353 tayangan95 halaman

Pengertian Uang

1. Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, sejarah, jenis, dan fungsi uang. Uang didefinisikan sebagai alat tukar yang dapat diterima secara umum. 2. Sejarah uang dimulai dari sistem barter hingga penggunaan logam mulia seperti emas dan perak sebagai alat tukar. 3. Ada tiga jenis uang yaitu uang kartal, uang logam, dan uang kertas.

Diunggah oleh

eet bastian
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGERTIAN UANG

Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang didefinisikan sebagai alat tukar yang
dapat diterima secara umum. Alat tukar dapat berupa benda apa saja yang
dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran
barang dan jasa. Sebelum uang diciptakan, masyarakat pada zaman dahulu
melakukan perdagangan dengan cara barter. Barter merupakan pertukaran
barang dengan barang.

1. Sejarah Uang
Pada lingkungan masyarakat yang masih sederhana pemenuhan kebutuhan
hidup dilakukan dengan jalan tukar-menukar barang yang diinginkan dengan
barang lain yang disebut barter atau dikenal dengan istilah innatura.
Pertukaran innatura ini bisa terjadi apabila terdapat dua orang saling
membutuhkan barang yang dipertukarkan dan memiliki kebutuhan yang
harus bersifat timbal balik. Namun, sesuai dengan makin berkembangnya
kebudayaan manusia, sistem barter ini mengalami kesulitan yaitu sebagai
berikut :

 Kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang


dingginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya
 Kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu
sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir
sama nilainya.
 Kesulitan karena barang yang akan dipertukarkan tidak bisa dibagi-
bagi

Bahan yang memnuhi syarat-syarat uang adalah emas dan perak.


Uang terbuat dari emas dan perak disebut dengan uang logam (metalic
money). Uang logam emas dan perak juga disebut full bodied money,
artinya nilai intrinsik (nilai bahan uang) sama dengan nilai nominalnya (nilai
yang tercantum pada mata uang tersebut). Uang yang terbuat dari logam
mulia seperti emas dan perak karena dijamin penuh dengan body-nya
disebut juga uang standar. Pada saat itu, setiap orang menempa, melebur.
Menjual dan memakainya dan setiap orang mempunyai hak tidak terbatas
dalam penyimpanan uang logam.
Uang adalah suatu benda yang diterima secara umum sebagai alat perantara
untuk mempermudah tukar menukar dalam kehidupan ekonomi
masyaratkat.
Berdasarkan definisi tersebut, maka uang harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:

 Disenangi dan dapat diterima secara umum


 Tahan lama dan tidak mudah rusak
 Nilainya tetap dalam jangka waktu yang lama
 Mudah disimpan dan mudah dipindahkan atau di bawa kemana-mana
tanpa kesulitan
 Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai
 Memiliki satu kualitas saja
 Jumlahnya terbatas dan tidak mudah dipalsukan

FUNGSI UANG

Uang memiliki empat fungsi utama dalam suatu perekonomian yaitu :

1. Sebagai Satuan Hitung


Uang dapat menetapkan suatu nilai harga pada suatu produk barang
maupun jasa dalam suatu ukuran umum. Jika suatu produk bernama
permen dihargai Rp. 100 maka untuk membeli 4 buah permen
membutuhkan uang Rp. 400. Jika harga combro adalah Rp. 300 dan harga
misro adalah Rp. 200, jika seseorang punya duit Rp. 700 maka untuk
membeli keduanya dibutuhkan uang sebesar Rp. 500 dan ia akan memiliki
sisa uang Rp. 200 untuk dibelanjakan produk atau jasa lainnya.

2. Sebagai Alat Transaksi


Uang dapat berfungsi sebagai alat tukar untuk mendapatkan suatu produk
barang atau jasa dengan catatan harus diterima dengan tulus ikhlas dan
dijamin oleh pemerintah serta dijaga keamanannya dari tindak pemalsuan
uang. Pembeli akan menyerahkan sejumlah uang kepada penjual atas
produk yang ia terima, sedangkan penjual akan menerima sejumlah uang
dari pembeli produk yang dijualnya sesuai dengan kesepakatan yang telah
dibuat sebelumnya.

3. Sebagai Penyimpan Nilai


Jika seseorang memiliki kelebihan uang yang tidak ingin dibelanjakan atau
dihabiskan pada saat itu maka ia dapat menyimpannya di bank. Walaupun
orang itu tidak memegang uang tadi tetapi ia nilai uang tersebut tetap ia
miliki sampai saatnya ia ambil untuk dibelanjakan.

4. Standard Pembayaran Masa Depan


Suatu transaksi tidak harus dibayar dengan alat pembayaran di saat itu
juga, tetapi balas jasa tersebut dapat dibayarkan di masa depan dengan
diukur dengan daya beli. Contohnya seperti pegawai yang mendapat gaji
sebulan sekali setelah satu bulan penuh bekerja. Selain itu seseorang yang
meminjam uang harus membayarkan hutangnya di masa depan.
Secara umum yang memiliki fungsi sebagai pernatara untuk pertukaran
barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan cara barter.
Pada dasarnya fungsi uang mencakup tiga fungsi, yaitu sebagai berikut :

a. Alat tukar
1. Tahan lama
2. Diterima tanpa keraguan
3. Ringan dan mudah dibawa
4. Nominalnya harus dapat dipecah-pecah
5. Tidak mudah dipalsukan

b.Satuan hitung
Sebagai satuan hitung untuk mempermudah masyarakat untuk menghitung
nilai satu barang dalam mata uang. Tanpa adanya fungsi satuan hitung, kita
akan sulit membandingkan harga barang satu dengan yang lainnya. Dengan
skala yang lebih luaws, tanpa adanya uang sebagai satuan hitung, orang
akan kesulian membandingkan harga satu rumah dengan rumah yang lain,
dan lain sebagainya.

c.Alat penimbun kekayaan


Uang juga merupakan penimbun kekayaan. Banyak orang yang menyimpan
sebagian kekayaannya dalam bentuk uang yang disimpan di rumah untuk
atau dibank dalam bentuk tabungan tau deposito

JENIS UANG

Uang Kartal
Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat
bayar yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat dalam melakukan
transaksi jual beli sehari-hari.

Menurut Undang-undang Bank Sentral No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1,


Bank Indonesia mempunyai hak tunggal untuk mengeluarkan uang logam
dan kertas. Hak tunggal untuk mengeluarkan uang yang dimiliki Bank
Indonesia tersebut disebut hak oktroi.
Jenis Uang Kartal Menurut Lembaga Yang Mengeluarkannya
Menurut Undang-Undang Pokok Bank Indonesia No. 11/1953, terdapat dua
jenis uang kartal, yaitu uang negara dan uang bank.
Uang negara adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, terbuat dari
kertas yang memiliki ciri-ciri :
• Dikeluarkan oleh pemerintah
• Dijamin oleh undang undang
• Bertuliskan nama negara yang mengeluarkannya
• Ditanda tangani oleh mentri keuangan
Namun, sejak berlakunya Undang-undang No. 13/1968, uang negara
dihentikan peredarannya dan diganti dengan Uang Bank.

Uang Bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang
logam dan uang kertas, Ciri-cirinya sebagai berikut.
• Dikeluarkan oleh Bank Sentral
• Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan di bank sentral
• Bertuliskan nama bank sentral negara yang bersangkutan (di Indonesia :
Bank Indonesia)
• Ditandatangani oleh gubernur bank sentral.
Jenis Uang Kartal Menurut Bahan Pembuatnya

A. Uang logam
Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak
memenuhi syarat-syarat uang yang efesien. Karena harga emas dan perak
yang cenderung tinggi dan stabil, emas dan perak mudah dikenali dan
diterima orang. Di samping itu, emas dan perak tidak mudah musnah. Emas
dan perak juga mudah dibagi-bagi menjadi unit yang lebih kecil. Di zaman
sekarang, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai
nominalnya. Nilai nominal itu merupakan pernyataan bahwa sejumlah emas
dengan berat tertentu terkandung di dalamnya.

Uang logam memiliki tiga macam nilai.


Nilai Intrinsik yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa
nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang. Menurut sejarah,
uang emas dan perak pernah dipakai sebagai uang. Ada beberapa alasan
mengapa emas dan perak dijadikan sebagai bahan uang antara lain :

• Tahan lama dan tidak mudah rusak (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah
(Rp. 500,00).
Nilai Tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan
dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya
dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat
ditukarkan dengan semangkuk bakso).

Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap
tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU
No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang
kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas
atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).
Uang kertas mempunyai nilai karena nominalnya. Oleh karena itu, uang
kertas hanya memiliki dua macam nilai, yaitu nilai nominal dan nilai tukar.
Ada 2(dua) macam uang kertas :

 Uang Kertas Negara (sudah tidak diedarkan lagi), yaitu uang kertas
yang dikeluarkan oleh pemerintah dan alat pembayaran yang sah
dengan jumlah yang terbatas dan ditandatangani mentri keuangan.
 Uang Kertas Bank, yaitu uang yang dikeluarkan oleh bank sentral,
 Beberapa keuntungan penggunaan alat tukar (uang) dari kertas di
antaranya :
 Penghematan terhadap pemakaian logam mulia
 Ongkos pembuatan relatif murah dibandingkan dengan ongkos
pembuatan uang logam.
 Peredaran uang kertas bersifat elastis (karena mudah dicetak dan
diperbanyak) sehingga mudah diseusaikan dengan kebutuhan akan
uang
 Mempermudah pengiriman dalam jumlah besar

Uang Giral
Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat
akan adanya sebuah alat tukar yang lebih mudah, praktis dan aman. Di
Indonesia, bank yang berhak menciptakan uang giral adalah bank umum
selain Bank Indonesia. Menurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992,
definisi uang giral adalah tagihan yang ada di bank umum, yang dapat
digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Bentuk uang giral
dapat berupa cek, giro, atau telegrafic transfer.
Uang giral bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Artinya,
masyarakat boleh menolak dibayar dengan uang giral.

Terjadinya uang giral


Uang giral dapat terjadi dengan cara berikut.
• Penyetoran uang tunai kepada bank dan dicatat dalam rekening koran atas
nama penyetor, penyetor menerima buku cek dan buku biro gilyet. Uang
tersebut sewaktu-waktu dapat diambil atau penyetor menerima pembayaran
utang dari debitur melalui bank. Penerimaan piutang itu oleh bank
dibukukan dalam rekening koran orang yang bersangkutan. Cara di atas
disebut primary deposit.
• Karena transaksi surat berharga. Uang giral dapat diciptakan dengan cara
menjual surat berharga ke bank, lalu bank membukukan hasil penjualan
surat berharga tersebut sebagai deposit dari yang menjual. Cara ini disebut
derivative deposit
• Mendapat kredit dari bank yang dicatat dalam rekening koran dan dapat
diambil sewaktu-waktu. Cara ini disebut dengan loan deposit.
Keuntungan menggunakan uang giral
Keuntungan menggunakan uang giral sebagai berikut.
• Memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang
• Alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas,
nilainya sesuai dengan yang dibutuhkan (yang ditulis oleh pemilik cek/bilyet
giro)
• Lebih aman karena risiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bisa segera
dilapokan ke bank yang mengeluarkan cek/bilyet giro dengan cara
pemblokiran.

PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG

PERMINTAAN UANG
Permintaan uang diartikan sebagai kebutuhan masyarakat akan uang tunai.
Menurut John Maynard Keynes ada 3 motif yang mempengaruhi permintaan
uang tunai oleh masyarakat. Ketiga motif tersebut yaitu:
1. Motif Transaksi (Transaction motive)
2. Motif Berjaga-jaga (Precautionary motive)
3. Motif Spekulasi (Specualtive motive)
Untuk dapat memahami secara lebih mudah tentang ketiga motif tersebut
berikut ini akan diuraikan satu persatu.

1. Permintaan uang untuk transaksi (transaction demand)


Terkait dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita menggunakan uang
untuk membeli barang dan jasa atau untuk membayar tagihan. Permintaan
uang untuk transaksi memiliki hubungan positif dengan pendapatan. Jika
pendapatan naik, maka permintaan uang untuk keperluan bertransaksi juga
meningkat.

2. Permintaan uang untuk berjaga-jaga (precautionary demand)


Permintaan terhadap uang bisa saja karena orang ingin berjaga-jaga
terhadap suatu peristiwa yang tidak dikehendaki seperti sakit, kecelakaan,
kebanjiran dan kebakaran. Permintaan uang untuk berjaga-jaga juga
memiliki hubungan positif dengan pendapatan.

3. Permintaan uang untuk spekulasi (speculative demand)


Spekulasi berarti melakukan sesuatu tindakan atas dasar ramalan
perubahan nilai harta di masa depan. Jika seorang spekulan meramalkan
bahwa harga rumah, nilai saham, atau harga emas akan meningkat dimasa
depan, mereka akan membeli rumah, saham, atau emas, dan bukan
menyimpan uang. Jadi, dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akan
mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga rumah, saham, atau emas
di masa depan. Ini tentu dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang adalah sebagai berikut.
1. Besar-kecilnya pembelanjaan negara yang berkaitan dengan pendapatan
nasional.
2. Cepat atau lambatnya laju peredaran uang. Kecepatan peredaran uang
dipengaruhi oleh faktor berikut.

 kebiasaan pembayaran konsumen, apakah tunai atau angsuran, sebab


ini akan berpengaruh terhadap jumlah uang yang diminta pada saat ini
atausaat mendatang.
 Frekuensi pembayaran pendapatan
 Praktik-praktik bank, hal ini berkaitan dengan keluar masuknya uang
melalui bank.
 Keadaan psikologi masyarakat dalam menggunakan uangnya.

3. Motif-motif masyarakat dalam memiliki uang.

PENAWARAN UANG

Penaran uang lebih populer dinyatakan dengan istilah jumlah uang yang
beredar. Dalam laporan data statistik, jumlah uang beredar biasanya
dilambangkan dengan huruf M. Dissini ada beberapa definisi yang berbeda
mengenai jumlah uang yang beredar tergantung dari tingkat likuiditasnya.
Pada umumnya uang beredar didefinisikan sebagai berikut.

1. M1 adalah uang kertas dan logam (kartal) ditambah simpanan dalam


bentuk rekening koran (uang giral/ demand deposit)
2. M2 adalah M1 + tabungan + deposito berjangka (time deposit) pada
bank-bank umum.
3. M3 adalah M2 + tabungan + deposito berjangka pada lembaga-
lembaga keuangan bukan bank.

Secara sederhana penawaran uang atau jumlah uang yang beredar terdiri
atas uang logam, uang kertas, simpanan giro, deposito berjangka, berbagai
macam tabungan, dan rekening valuta asing milik swasta domestik.
Penawaran uang dipengaruhi oleh pemerintah dengan berbagai kebijakan
yang ditetapkan. Lembaga yang biasanya bertanggungjawab mengatur dan
menjalankan kebijakan khususnya kebijakan moneter adalah bank sentral.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran uang adalah sebagai berikut.


1. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin sedikit jumlah uang yang
beredar. Semakin rendah tingkat bunga, semakin banyak jumlah uang
yang beredar.
2. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, semakin banyak uang yang
beredar karena semakin sering melakukan transaksi.
3. Semakin banyak (padat) jumlah penduduk, semakin banyak dan
semakin cepat uang beredar.
4. Keadaan geografis di perkotaan lebih cepat dan lebih banyak jumlah
uang yang beredar dibanding di pedesaan.
5. Struktur ekonomi, negara agraris berbeda dengan negara industri,
negara industri peredaran uang lebih cepat dan lebih banyak.
6. Penguasaan IPTEK penduduk. Iptek negara yang lebih maju lebih
banyak dan lebih cepat uang beredar dibandingkan dengan negara
yang menerapkan teknologi yang sederhana.
7. Globalisasi industri di lingkungan dunia usaha. Semakin global dan
arus modal ekonomi antarnegara yang semakin meningkat, uang yang
beredar juga dipengaruhi oleh transaksi-transaksi internasional dalam
hal ini kurs uang mempengaruhi peredaran.

http://www.pusatmakalah.com/2015/02/makalah-uang-pengertian-fungsi-jenis.html pukul 09:44


28,09,2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap ide-ide yang cemerlang dan kreatif yang tercipta dari seseorang atau sekelompok
orang sebagai bentuk dari kemampuan intelektual manusia yang berguna dan memberi dampak
baik dari berbagai aspek perlu di akui dan perlu dilindungi, agar ide-ide cemerlang dan kreatif
yang telah diciptakan tidak diklaim atau di bajak oleh pihak lain. Untuk itu diperlukan wadah
yang dapat membantu dan menaungi ide-ide cemerlang dan kreatif tersebut. Untuk tingkat
internasional organisasi yang mewadahi bidang HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) adalah
WIPO (World Intellectual Property Organization).
Di Indonesia sendiri untuk mendorong dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil
kebudayaan di bidang karya ilmu pengetahuan, seni, dan sastra serta mempercepat pertumbuhan
kecerdasan kehidupan bangsa, maka dirasakan perlunya perlindungan hukum terhadap hak cipta.
Perlindungan hukum tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih
baik untuk tumbuh dan berkembangnya gairah mencipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan
sastra di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Di Indonesia, Undang-undang yang melindungi karya cipta adalah Undang-undang nomor 6
tahun 1982 tentang hak cipta, dan telah melalui beberapa perubahan dan telah diundangkan
Undang-Undang yang terbaru yaitu Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang
mulai berlaku 12 (dua belas) bulan sejak diundangkan. Tidak hanya karya cipta, invensi di
bidang teknologi (hak paten) dan kreasi tentang penggabungan antara unsur bentuk, warna, garis
(desain produk industri) serta tanda yang digunakan untuk kegiatan perdagangan dan jasa
(merek) juga perlu diakui dan dilindungi dibawah perlindungan hukum. Dengan kata lain Hak
atas Kekayaan Intelektual (HaKI) perlu didokumentasikan agar kemungkinan dihasilkannya
teknologi atau karya lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka secara umum rumusan masalah pada
makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Apa yang dimaksud dengan HaKI?
2) Apa saja ruang lingkup HaKI?
3) Apa pengertian dan landasan hukum dari hak cipta, hak paten, desain industri dan merek?
4) Bagaimana sifat dan dasar hukum HaKI?
5) Mengapa HaKI itu penting?
6) Bagaimana sejarah perkembangan perlindungan HaKI di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam pembahasan makalah ini, yang berjudul “HAK ATAS KEKAYAAN
INTELEKTUAL” berdasarkan rumusan masalah di atas, adalah untuk membahas hal-hal yang
sesuai dengan permasalahan yang diajukan antara lain:
1) Untuk mengetahui pengertian HaKI.
2) Untuk mengetahui ruang lingkup HaKI.
3) Untuk mengetahui pengertian dan landasan hukum hak cipta, hak paten, desain industri dan
merek.
4) Untuk mengetahui sifat dan dasar hukum HaKI.
5) Untuk mengetahui pentingnya HaKI.
6) Untuk mengetahui sejarah perkembangan perlindungan HaKI di Indonesia.

D. Manfaat Penulisan
Selain tujuan daripada penulisan makalah, perlu pula diketahui bersama bahwa manfaat
yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah dapat menambah khazanah
keilmuan terutama di bidang hukum terutama hukum Bisnis dan semoga keberadaan hukum ini
dapat memberi masukan bagi semua pihak.

E. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi pustaka yang berorientasi
pada buku-buku Hukum Bisnis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI)


Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disebut HaKI) atau Hak Milik Intelektual adalah
padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR) atau Geistiges
Eigentum, dalam bahasa Jermannya. Istilah atau terminologi Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1790. Adalah Fichte yang pada tahun 1793
mengatakan tentang hak milik dari si pencipta ada pada bukunya. Yang dimaksud dengan hak
milik disini bukan buku sebagai benda, tetapi buku dalam pengertian isinya. HKI terdiri dari tiga
kata kunci, yaitu Hak, Kekayaan, dan Intelektual.
Kalau dilihat secara historis, undang-undang mengenai HaKI pertama kali ada di Venice,
Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo dan Guttenberg terctat
sebagai penemu-penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut, dan mempunyai hak
monopoli atas penemuan mereka.
Hukum-hukum tentang paten tersebut kemudian di adopsi oleh kerajaan Inggris di jaman
TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu
Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun
1791. Upaya harmonisasi dalam bidang HaKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya
Paris Convention untuk masalah paten, merek dagang dan desain. Kemudian Berne Convention
1886 untuk masalah copyright atau hak cipta. Tujuan dari konvensi-konvensi tersebut antara lain
standarisasi, pembahasan masalah baru, tukar menukar informasi, perlindungan minimum dan
prosedur mendapatkan hak. Kedua konvensi itu kemudian membentuk biro administratif
bernama the United International Bureau for the Protection of Intellectual Property yang
kemudian di kenal dengan nama World Intellectual Property Organization (WIPO). WIPO
kemudian menjadi bahan administratif khusus di bawah PBB yang menangani masalah HaKI
anggota PBB. Sebagai tambahan pada tahun 2001 WIPO telah menetapkan tanggal 26 April
sebagai Hari Hak Kekayaan Intelektual Sedunia.
Kekayaan merupakan abstraksi yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijual.
Adapun kekayaan intelektual merupakan kekayaan atas segala hasil produksi kecerdasan daya
pikir seperti teknologi, pengetahuan, seni, sastra, gubahan lagu, karya tulis, karikatur, dan lain-
lain yang berguna untuk manusia. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa HaKI atau HKI
adalah hak yang berasal dari hasil kegiatan kretif suatu kemampuan daya berpikir manusia yang
mengepresikan kepada khalayak umum dalam berbagai bentuk, yang memiliki manfaat serta
berguna dalam menunjang khidupan manusia, juga mempunyai nilai ekonomis yang melindungi
karya-karya intelektual manusia tersebut.
Sistem HaKI merupakan hak privat (private rights). Seseorang bebas untuk mengajukan
permohonan atau mendaftarkan karya intelektualnya atau tidak. Hak eklusif yang diberikan
negara kepada individu pelaku HaKI (inventor, pencipta, pendesain dan sebagainya) tiada lain
dimaksudkan sebagai penghargaan atas hasil karya (kreativitas) dan agar orang lain terangsang
untuk dapat lebih lanjut mengembangkannya lagi, sehingga dengan sistem HKI tersebut
kepentingan masyarakat ditentukan melalui mekanisme pasar.
Disamping itu sistem HKI menunjang diadakannya sistem dokumentasi yang baik atas
segala bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya teknologi atau karya
lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah. Dengan dukungan dokumentasi yang baik
tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk keperluan
hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi
lagi.

B. Ruang Lingkup Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI)


Pada prinsipnya HaKI dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Hak Cipta (Copyrights)
a) Sejarah Hak Cipta
Pada jaman dahulu tahun 600 SM, seseorang dari Yunani bernama Peh Riad menemukan 2
tanda baca yaitu titik (.) dan koma (,). Anaknya bernama Apullus menjadi pewarisnya dan
pindah ke Romawi. Pemerintah Romawi memberikan Pengakuan, Perlindungan dan Jaminan
terhadap karya cipta ayahnya itu. Untuk setiap penggunaan, penggandaan dan pengumuman atas
penemuan Peh Riad itu, Apullus memperoleh penghargaan dan jaminan sebagai pencerminan
pengakuan hak tersebut. Apullus ternyata orang yang bijaksana, dia tidak menggunakan seluruh
honorarium yang diterimany. Honor titik (.) digunakan untuk keperluan sendiri sebagai ahli
waris, sedangkan honor koma (,) dikembalikan ke pemerintah Romawi sebagai tanda terima
kasih atas penghargaan dan pengakuan terhadap hak cipta tersebut.
b) Pengertian Hak Cipta
 Pengertian hak cipta menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002: Hak cipta adalah "hak
eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya
atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).
 Pengertian hak cipta menurut Pasal 2 UUHC: Hak cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun
penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi ijin untuk
iti dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya
lahir suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau
keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.
Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau
penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet, atau
melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat di baca, didengar atau dilihat orang
lain.
Perbanyakan adalah penambahan jumlah suatu ciptaan baik secara keseluruhan maupun
bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak
sama, termasuk pengalihwujudan secara permanen atau temporer.

c) Kedudukan Hak Cipta


Mengenai kedudukan hak cipta, sudah pula ditetapkan oleh UUHC, bahwa hak cipta dianggap
sebagai benda bergerak (Pasal 3 ayat 1). Sebagai benda Bergerak, hak cipta dapat beralih atau
dialihkn baik seluruhnya maupun sebagian karena:
 Pewarisan
 Hibah
 Wasiat
 Dijadikan milik negara
 Perjanjian
Khusus mengenai perjanjian, Pasal 3 ayat 2 menyaratkan harus dilakukan dengan akta,
dengan ketentuan bahwa perjanjian itu hanya mengenai wewenang yang disebut di dalam akta
tersebut. Pentingnya akta perjanjian itu adalah tidak lain dimaksudkan untuk memudahkan
pembuktian peralihan hak cipta apabila terjadi persengketaan di kemudian hari.

d) Ciptaan yang dilindungi


UUHC menganut sistem terbatas dalam melindungi karya cipta seseorang. Perlindungan
ciptaan hanya diberikan dalam bidang ilmu pengetahun, seni dan sastra. Untuk itu Pasal 11 ayat
1 merinci ketiga bidang tersebut meliputi:
 Buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lainnya.
 Ceramah, kuliah, pidato, dan sebagainya.
 Pertunjukan seperti musik, karawitan, drama, tari, pewayangn, pantomim dan karya siaran antara
lain untuk media radio, televisi dan film serta karya rekaman radio.
 Ciptaan tari (koreografi), ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, dan karya rekaman
suara atau bunyi.
 Segala bentuk seni rupa seperti seni lukis, seni pahat, seni patung, dan kaligrafi yang
perlindungnnya diatur dalam Pasal 10 ayat 2.
 Seni batik, arsitektur, peta, sinematografi, dan fotografi.
 Program komputer, terjemahan, tafsir, saduran, dan penyusunan bunga rampai.
Selain itu UUHC juga melindungi karya melindungi karya seseorang yang berupa
pengolahan lebih lanjut daripada ciptaan aslinya, sebab bentuk pengolahan ini dipandang
merupakan suatu ciptan baru dan tersendiri, yang sudah lain dari ciptaan aslinya. Tidak ada hak
cipta untuk karya sebagai berikut:
 Hasil rapat terbuka lembaga-lembaga negara.
 Peraturan perundang-undangan.
 Putusan pengadilan dan penetapan hakim.
 Pidato kenegaraan pidato pejabat pemerintah.
 Keputusan badan Arbitrase (lembaga seperti pengadilan tetapi khususnya di dalam bidang
perdagangan)

e) Masa Berlakunya Hak Cipta


Dalam mengtur jangka waktu berlakunya hak cipta, UUHC tidak menyaratkan melainkan
membeda-bedakan. Perbedaan itu dikelompokkan sebagai berikut:
a. Kelompok I (Bersifat Orisinal)
Untuk karya cipta yang sifatnya asli atau orisinal, perlindungan hukumnya berlaku selama hidup
pencipta dan terus berlanjut sampai dengan 50 tahun setelah pencipta meninggal. Mengenai
alasan penetapan jangka waktu berlakunya hak cipta orisinal yang demikian lama itu, undang-
undang tidak memberikan penjelasan. Karya cipta ini meliputi:
 Buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lainnya.
 Ciptaan tari (koreografi).
 Segala bentuk seni rupa seperti seni lukis, seni pahat, seni patung dan seni batik.
 Ciptan lagu atau musik dengan atau tanpa teks.
b. Kelompok II (Bersifat Derivatip)
Perlindungan hukum atas karya cipta yang bersifat tiruan (derivatip) berlaku selama 50 tahun,
yang meliputi hak cipta sebgai berikut:
 Karya pertunjukan seperti musik, karawitan, drama, tari, pewayangan, pantomim dan karya
siaran antara lain untuk media radio, televisi dan film serta karya rekaman radio.
 Ceramah, kuliah, pidato, dan sebagainya.
 Peta
 Karya sinematografi, karya rekaman suara atau bunyi, terjemahan dan tafsir.
c. Kelompok III (Pengaruh Waktu)
Terhadap karya cipta yang aktulitasnya tidak begitu tahan, perlindungan hukumnya berlaku
selama 25 tahun meliputi hak cipta atas ciptaan:
 Karya fotografi.
 Program komputer atau komputer program.
 Saduran dan penyusunan bunga rampai.

f) Pendaftaran Hak Cipta


Ciptaan tidak kalah pentingnya dengan benda-benda lain seperti tanah, kendaraan
bermotor, kapal, merek yang memerlukan pendaftaran. Perlindungan suatu ciptaan timbul secara
otomatis sejak ciptaan itu diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Maksud dari pendaftaran itu
sendiri adalah hanya semata-mata mengejar kebenaran prosedur formal saja, tetapi juga
mempunyai tujuan untuk mendapatkan pengukuhan hak cipta dan sebagai alat bukti awal di
pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan tersebut. Pendaftaran hak
cipta yaitu di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia.
Sifat pendaftaran ciptaan adalah bersifat kebolehan (fakultatip). Artinya orang boleh
juga tidak mendaftarkan. Apabila tidak mendaftarkan, tidak ada sanksi hukumnya. Dengan sifat
demikian, memang UUHC memberikan kebebasan masyarakat untuk melakukan pendaftaran.

g) Hak dan Wewenang Menuntut


Penyerahan Hak Cipta atas seluruh ciptaan ke pihak lain tidak mengurangi hak
pencipta atau ahli waris untuk menuntut seseorang yang tanpa persetujuannya:
 Meniadakan nama pencipta yang tercantum pada ciptaan itu.
 Mencantumkan nama pencipta pada ciptaannya.
 Mengganti atau mengubah judul ciptaan.
 Mengubah isi ciptaan.

2. Hak Kekayaan Industri (Industrial Property Rights)


Hak kekayaan industri meliputi:
a. Paten (Patent)
Paten merupakan hak khusus yang diberikan negara kepada penemu atas hasil
penemuannya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri
penemuannya tersebut atau memberikan pesetujuannya kepada orang lain untuk
melaksanakannya.
b. Merk (Trademark)
Merk adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,
susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersbut yang memiliki daya pembeda dan
dipergunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.

c. Rancangan (Industrial Design)


Rancangan dapat berupa rancangan produk industri, rancangan industri. Rancangan
industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi, garis atau warna, atau
gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi yang mengandung nilai estetika dan dapat
diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan
suatu produk, barang atau komoditi industri dan kerajinan tangan.
d. Rahasia Dagang (Trade Secret)
Informasi rahasia dagang adalah informasi di bidang teknologi atau bisnis yang tidak
diketahui oleh umum, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha dan
dijaga kerahasiannya oleh pemiliknya.
e. Indikasi Geografi (Geographical Indications)
Indikasi geografi adalah tanda yang menunjukkan asal suatu barang yang karena
faktor geografis (faktor alam atau faktor manusia dan kombinasi dari keduanya telah
memberikan ciri dari kualitas tertentu dari barang yang dihasilkan).
f. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Layout Design of Integrated Circuit)
Denah rangkaian yaitu peta (plan) yang memperlihatkan letak dan interkoneksi dari rangkaian
komponen terpadu (integrated circuit), unsur yang berkemampuan mengolah masukan arus
listrik menjadi khas dalam arti arus, tegangan, frekuensi, serta prameter fisik lainnya.
g. Perlindungan Varietas Tanaman (Plant Variety Protection)
Perlindungan varietas tanaman adalah hak khusus yang diberikan negara kepada
pemulia tanaman dan atau pemegang PVT atas varietas tanaman yang dihasilkannya untuk
selama kurun waktu tertentu menggunakan sendiri varietas tersebut atau memberikan persetujuan
kepada orang atau badan hukum lain untuk menggunakannya.

C. Pengertian dan Dasar Hukum dari Hak Cipta, Paten (Patent), Desain Industri (Industrial
Design) dan Merek (Trademark)
1. Hak Cipta
Hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengatur penggunaan hasil penaungan
gagasan atau informasi tertentu. Dalam undang-undang hak cipta adalah hak eksklusif pencipta
atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan- pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku. (Pasal 1 butir 1)
Dasar hukum Hak Cipta: Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
2. Hak Paten
Hak eksklusif yang diberikan oleh Negara atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang
untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri untuk ivensinya tersebut atau memberikan
persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Dasar hukum Hak Paten: Undang-Undang No 14 tahun 2001 tentang Hak Paten.
3. Desain Industri
Suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis atau warna, atau gabungan dari
padanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan
suatu barang komoditas atau kerajinan tangan.
Dasar hukum: Undang-Undang No 13 tahun 2000 tentang Desain Industri.
4. Hak Merek
Hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik merek terdaftar dalam daftar
umum merek dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau
memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya.
Dasar hukum hak merek: Undang-Undang No 15 tahun 2001 tentang Merek.

D. Sifat dan Dasar Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI)


Hukum yang mengatur HaKI bersifat teritorial, pendaftaran ataupun penegakan HaKI harus
dilakukan secara terpisah di masing-masing yurisdiksi bersangkutan. HaKI yang dilindungi di
Indonesia adalah HaKI yang sudah didaftarkan di Indonesia.
Dasar Hukum HaKI antara lain:
1) Perjanjian Internasional
a. Berne Convention 1883 – Hak Cipta
b. Paris Convention 1886 – Paten, Merek, Desain Industri
c. Perjanjian TRIPs (agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) – WTO
1994
d. Dan Konvensi lainnya yang berkaitan dengan Teknis antara lain: WCT, WPPT, Madrid
Protokol, PCT.
2) Undang-Undang Nasional
a. UU No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
b. UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri
c. UU No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
d. UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten
e. UU No. 15 tahun 2001 tentang Merek
f. UU no. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta

E. Pentingnya Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI)


Memperbincangkan masalah HaKI bukanlah masalah perlindungan hukum semata. HaKI juga
erat dengan alih teknologi, pembangunan ekonomi, dan martabat bangsa. Secara umum
disepakati bahwa Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disebut HaKI) memegang peranan
penting dalam pertumbuhan ekonomi saat ini. Dalam hasil kajian World Intellectual Property
Organization (WIPO) dinyatakan pula bahwa HaKI memperkaya kehidupan seseorang, masa
depan suatu bangsa secara material, budaya, dan sosial.
Secara umum ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari sistem HaKI yang baik, yaitu
meningkatkan posisi perdagangan dan investasi, mengembangkan teknologi, mendorong
perusahaan untuk bersaing secara internasional, dapat membantu komersialisasi dari suatu
invensi (temuan), dapat mengembangkan sosial budaya, dan dapat menjaga reputasi
internasional untuk kepentingan ekspor. Oleh karena itu, pengembangan sistem HaKI nasional
sebaiknya tidak hanya melalui pendekatan hukum (legal approach) tetapi juga teknologi dan
bisnis (business and technological approach) dan sistem perlindungan yang baik terhadap HaKI
dapat menunjang pembangunan ekonomi masyarakat yang menerapkan sistem tersebut.

F. Sejarah Perkembangan Perlindungan HaKI di Indonesia


Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia telah ada sejak
tahun 1840. Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan undang-undang pertama mengenai
perlindungan HaKI pada tahun 1844. Selanjutnya, pemerintah Belanda mengundangkan Undang-
Undang Merek tahun 1885, Undang-Undang Paten tahun 1910, dan Undang-Undang Hak Cipta
tahun 1912. Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Netherlands East-Indies telah
menjadi angota Paris Convention for the Protection of Industrial Property sejak tahun 1888,
anggota Madrid Convention dari tahun 1893 sampai dengan 1936, dan anggota Berne
Convention for the Protection of Literaty and Artistic Works sejak tahun 1914. Pada zaman
pendudukan Jepang yaitu tahun 1942 sampai dengan 1945, semua peraturan perundang-
undangan di bidang HaKI tersebut tetap berlaku. Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa
Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan
peralihan UUD 1945, seluruh peraturan perundang-undangan peninggalan kolonial Belanda tetap
berlaku selama tidak bertentangan dengan UUD 1945. UU Hak Cipta dan UU Merek tetap
berlaku, namun tidak demikian halnya dengan UU Paten yang dianggap bertentangan dengan
pemerintah Indonesia. Sebagaimana ditetapkan dalam UU Paten peninggalan Belanda,
permohonan Paten dapat diajukan di Kantor Paten yang berada di Batavia (sekarang Jakarta),
namun pemeriksaan atas permohonan Paten tersebut harus dilakukan di Octrooiraad yang berada
di Belanda
 Pada tahun 1953 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang merupakan
perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang Paten, yaitu Pengumuman Menteri
Kehakiman No. J.S 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan sementara permintaan Paten dalam
negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.G 1/2/17 yang mengatur tentang pengajuan
sementara permintaan paten luar negeri.
 Pada tanggal 11 Oktober 1961 Pemerintah RI mengundangkan UU No. 21 tahun 1961 tentang
Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan untuk mengganti UU Merek Kolonial Belanda. UU
No. 21 Tahun 1961 mulai berlaku tanggal 11 November 1961. Penetapan UU Merek ini untuk
melindungi masyarakat dari barang-barang tiruan atau bajakan.
 10 Mei 1979 Indonesia meratifikasi Konvensi Paris Paris Convention for the Protection of
Industrial Property (Stockholm Revision 1967) berdasarkan keputusan Presiden No. 24 tahun
1979. Partisipasi Indonesia dalam Konvensi Paris saat itu belum penuh karena Indonesia
membuat pengecualian (reservasi) terhadap sejumlah ketentuan, yaitu Pasal 1 sampai dengan 12
dan Pasal 28 ayat 1.
 Pada tanggal 12 April 1982 pemerintah mengesahkan UU No. 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta
untuk menggantikan UU Hak Cipta peninggalan Belanda. Pengesahan UU Hak Cipta tahun 1982
dimaksudkan untuk mendorong dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil kebudayaan di
bidang karya ilmu, seni, dan sastra serta mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan
bangsa.
 Tahun 1986 dapat disebut sebagai awal era moderen sistem HaKI di tanah air. Pada tanggal 23
Juli 1986 Presiden RI membentuk sebuah tim khusus di bidang HaKI melalui keputusan No. 34
tahun 1986 (Tim ini dikenal dengan tim Keppres 34). Tugas utama Tim Keppres adalah
mencakup penyusunan kebijakan nasional di bidang HaKI, perancangan peraturan perundang-
undangan di bidang HaKI dan sosialisasi sistem HaKI di kalangan intansi pemerintah terkait,
aparat penegak hukum dan masyarakat luas.
 Pada tanggal 19 September 1987 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 7 Tahun 1987 sebagai
perubahan atas UU No. 12 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.
 Tahun 1988 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 32 ditetapkan pembentukan Direktorat
Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek (DJHCPM) untuk mengambil alih fungsi dan tugas
Direktorat Paten dan Hak Cipta yang merupakan salah satu unit eselon II di lingkungan
Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen Kehakiman.
 Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU tentang Paten yang
selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 Tahun 1989 oleh Presiden RI pada tanggal 1 November
1989. UU Paten 1989 mulai berlaku tanggal 1 Agustus 1991.
 Pada tanggal 28 Agustus 1992 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 19 Tahun 1992 tentang
Merek, yang mulai berlaku 1 April 1993. UU ini menggantikan UU Merek tahun 1961.
 Pada tanggal 15 April 1994 Pemerintah RI menandatangani Final Act Embodying the Result of
the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup Agreement on Trade
Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPS).
 Tahun 1997 Pemerintah RI merevisi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang HaKI,
yaitu UU Hak Cipta 1987 jo. UU No. 6 tahun 1982, UU Paten 1989 dan UU Merek 1992.
 Akhir tahun 2000, disahkan tiga UU baru dibidang HaKI yaitu : (1) UU No. 30 tahun 2000
tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, dan UU No. 32 tahun
2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
 Untuk menyelaraskan dengan Persetujuan TRIPS (Agreement on Trade Related Aspects of
Intellectual Property Rights) pemerintah Indonesia mengesahkan UU No. 14 Tahun 2001 tentang
Paten, UU No. 15 tahun 2001 tentang Merek, Kedua UU ini menggantikan UU yang lama di
bidang terkait. Pada pertengahan tahun 2002, disahkan UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
yang menggantikan UU yang lama dan berlaku efektif satu tahun sejak di undangkannya.
 Pada tahun 2000 pula disahkan UU No. 29 tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman
dan mulai berlaku efektif sejak tahun 2004.
Dengan demikian, perangkat peraturan perundang-undangan di bidang HaKI di Indonesia
sampai saat ini sudah lengkap. Namun, hal tersebut masih belum banyak diketahui oleh
masyarakat. Hal ini dihadapkan pula pada masih rendahnya tingkat pengetahuan
dan pemahaman masyarakat tentang HaKI. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan
dan pemahaman masyarakat tentang HaKI perlu terus menerus ditingkatkan melalui berbagai
kegiatan sosialisasi kepada masyarakat. Adanya pemahaman maka terhadap HaKI maka para
warga masyarakat akan menghargai karya-karya yang dilindungi oleh hukum hak kekayaan
intelektual. Selain itu, anggota masyarakat berkreasi untuk menghasilkan karya yang dapat
dilindungi oleh hak kekayaan intelektual.

G. Analisis Kasus
Dikaitkan dengan kasus yang ada suatu merek tidak dapat didaftar atas dasar permohonan
yang diajukan pemohon yang beritikat tidak baik dan pemohon ada niat dan sengaja untuk
meniru, membonceng atau menjiplak ketenaran merek lain demi kepentingan usahanya yang
mengakibatkan menimbulkan kerugian pihak lain atau menyesatkan konsumen. Pemohon adalah
pihak yang mengajukan permohonan. Permohonan yaitu permintaan pendaftaran merek yang
diajukan secara tertulis kepada Direktorat Jenderal. Direktorat Jenderal adalah Direktorat
Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang berada di bawah departemen yang dipimpin oleh
Menteri.
Pendaftaran suatu merek berfungsi sebagai berikut:
a) Untuk barang bukti bagi pemilik yang berhak atas merek yang terdaftar,
b) Dasar penolakan terhadap merek yang sama keseluruhannya atau sama pada pokoknya yang
dimohonkan oleh permohonan lain untuk barang atau jasa sejenis,
c) Dan untuk mencegah orang lain memakai merek yang sama keseluruhan atau sama pada
pokoknya dalam peredaran untuk barang atau jasa sejenis.
Syarat dan Tata cara Permohonan Pendaftaran Merek menurut Undang-Undang No. 15 Tahun
2001 tentang Merek terdapat pada pasal 7 yaitu:
1. Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Direktorat Jenderal dengan
mencantumkan:
o Tanggal, bulan, dan tahun;
o Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon;
o Nama lengkap dan alamat Kuasa apabila Permohonan diajukan melalui Kuasa;
o Warna-warna apabila merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur-unsur warna;
o Nama negara dan tanggal permintaan Merek yang pertama kali dalam hal Permohonan diajukan
dengan Hak Prioritas.
2. Permohonan ditandatangani Pemohon atau Kuasanya.
3. Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu orang atau beberapa orang
secara bersama, atau badan hukum.
4. Permohonan dilampiri dengan bukti pembayaran biaya.
5. Dalam hal Permohonan diajukan oleh lebih dari satu Pemohon yang secara bersama-sama
berhak atas Merek tersebut, semua nama Pemohon dicantumkan dengan memilih salah satu
alamat sebagai alamat mereka.
6. Dalam hal Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Permohonan tersebut
ditandatangani oleh salah satu dari Pemohon yang berhak atas Merek tersebut dengan
melampirkan persetujuan tertulis dari para Pemohon yang mewakilkan.
7. Dalam hal Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diajukan melalui Kuasanya, surat
kuasa untuk itu ditandatangani oleh semua pihak yang berhak atas Merek tersebut.
8. Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (7) adalah Konsultan Hak Kekayaan Intelektual.
9. Ketentuan mengenai syarat-syarat untuk dapat diangkat sebagai Konsultan Hak kekayaan
Intelektual diatur dengan Peraturan Pemerintah, sedangkan tata cara pengangkatannya diatur
dengan Keputusan Presiden.
Di dalam kasus “LOTTO” ini, “LOTTO” Singapura memiliki bukti. Memiliki nomor
pendaftaran merek dari Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman dengan
pendaftaran No. 137430, yang diajukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Terdapat
kelalaian yang dilakukan oleh Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman dengan
memberikan nomor pendaftaran juga kepada “LOTTO” Indonesia.
Setelah pengajuan perkara “LOTTO” Singapura ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
dengan alasan bukti kasus tersebut tidak kuat, akhirnya “LOTTO” Singapura mengajukan
permohonan kasus kepada Mahkamah Agung. Tidak hanya menuntut “LOTTO” milik Hadi
Darsono (Tergugat I), mereka juga menuntut Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman bagian merek (Tergugat II) karena telah lalai memberikan nomor pendaftaran merek
kepada perusahaan yang namanya sama tetapi berbeda usaha barangnya setelah perusahaan
pertama mendaftarkan mereknya kepada Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman.
Terdaftarnya suatu merek dagang pada Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman dapat dibatalkan oleh Hakim bilamana merek ini mempunyai persamaan baik dalam
tulisan ucapan kata, maupun suara dengan merek dagang yang lain yang sudah terlebih dulu
dipakai dan didaftarkan, walaupun kedua barang tersebut tergolong tidak sejenis terutama bila
hal tersebut berkaitan dengan merek dagang yang sudah terkenal didunia internasional.
Dalam kasus ini Mahkamah Agung konsisten pada putusannya dalam perkara merek terkenal
Seven Up – LANVIN – DUNHILL: MA-RI No. 689 K/SIP/1983 dan MA-RI No. 370
K/SIP/1983, yang isinya sebagai berikut: Suatu pendaftaran merek dapat dibatalkan karena
mempunyai persamaan dalam keseluruhan dengan suatu merek yang terdahulu dipakai atau
didaftarkan, walaupun untuk barang yang tidak sejenis, terutama jika menyangkut merek dagang
terkenal. Pengadilan tidak seharusnya melindungi itikad buruk Tergugat I. Tindakan Tergugat I,
tidak saja melanggar hak Penggugat tetapi juga melanggar ketertiban umum di bidang
perdagangan serta kepentingan khalayak ramai.
Setelah memeriksa perkara ini Mahkamah Agung dalam putusannya berpendirian bahwa
judex facti salah menerapkan hukum, Pengadilan Negeri mengesampingkan kenyataan bahwa
Penggugat adalah pemakai pertama dari merek LOTTO di Indonesia. Ini merupakan syarat
mutlak untuk mendapatkan perlindungan hukum menurut UU Merek No. 21 tahun 1961.
Sementara itu, Tergugat I tidak dapat mengajukan bukti-bukti yang sah dengan tidak dapat
membuktikan keaslian bukti-bukti yang diajukannya.
Sehingga putusannya harus dibatalkan selanjutnya, Mahkamah Agung akan mengadili sendiri
perkara ini. Pendirian Mahkamah Agung tersebut di dasari oleh alasan juridis yang intinya
sebagai berikut :
 Newk Plus Four Far East Ltd, Singapore telah mendaftarkan merek LOTTO di Direktorat Paten
& Merek Departemen Kehakiman RI tanggal 29/6/1976 dan 4-3-1985.
 Merek “LOTTO” secara umum telah terkenal di kalangan masyarakat sebagai merek dagang
dari luar negeri. Merek tersebut mempunyai ciri umum untuk melengkapi seseorang yang
berpakaian biasa atau berkaitan olah raga beserta perlengkapannya.
 Merek “LOTTO”, yang didaftarkan Tergugat I adalah jenis barang handuk dan saputangan, pada
6 Oktober 1984.
 Mahkamah Agung berpendapat, walaupun barang yang didaftarkan Tergugat I berbeda dengan
yang didaftarkan Penggugat, tetapi jenis barang yang didaftarkan Tergugat I tergolong
perlengkapan berpakaian seseorang. Dengan mendaftarkan dua barang yang termasuk dalam
kelompok barang sejenis kelengkapan berpakaian seseorang dengan merek yang sama, dengan
kelompok barang yang telah didaftarkan lebih dahulu, Mahkamah Agung menyimpulkan
Tergugat I ingin dengan mudah mendapatkan keuntungan dengan cara menumpang keterkenalan
satu merek yang telah ada dan beredar di masyarakat. Hal ini berarti Tergugat I dalam prilaku
perdagangannya yaitu menggunakan merek perniagaan yang telah ada merupakan perbuatan
yang bersifat tidak jujur, tidak patut atau tidak mempunyai itikad baik.

Dengan pertimbangan tersebut di atas, akhirnya Mahkamah Agung memberikan putusan yang
amarnya sebagai berikut:
a. Mengadili:
b. Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
c. Mengadili Sendiri :
o Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
o Menyatakan Penggugat sebagai pemakai pertama di Indonesia atas merek dagang “LOTTO” dan
oleh karena itu, mempunyai hak tunggal/khusus untuk memakai merek tersebut di Indonesia.
o Menyatakan bahwa merek “LOTTO” milik Tergugat I yaitu yang didaftarkan pada Tergugat II
dengan nomor registrasi 87824 adalah sama dengan merek Penggugat baik dalam tulisan, ucapan
kata, maupun suara, dan oleh karena itu dapat membingungkan, meragukan serta memperdaya
khalayak ramai tentang asal-usul dan kualitas barang.
o Menyatakan pendaftaran merek dengan registrasi 187824 dalam daftar umum atas nama Tergugat
I batal, dengan segala akibat hukumnya.
o Memerintahkan Tergugat II untuk mentaati putusan ini dengan membatalkan pendaftaran merek
dengan nomor registrasi 197824 dalam daftar umum.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap karya-karya yang lahir dari buah pikir yang cemerlang yang berguna bagi manusia
perlu di akui dan dilindungi. Untuk itu sistem HaKI diperlukan sebagai bentuk penghargaan atas
hasil karya. Disamping itu sistem HaKI menunjang diadakannya sistem dokumentasi yang baik
atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya teknologi atau karya
lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah. Dengan dukungan dokumentasi yang baik
tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk keperluan
hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi
lagi.

B. Saran
Ditinjau dari sudut perangkat perundang-undangan, Indonesia sudah mempunyai perangkat
yang cukup di bidang HaKI. Namun pengetahuan tentang HaKI dan perangkat perundang-
undangan dimasyarakat dirasakan masih kurang dan perlu ditingkatkan, sehingga perlindungan
HaKI betul-betul dapat ditegakkan.

http://dinnirwanrusti20.blogspot.co.id/2014/09/makalah-hak-atas-kekayaan-intelektual.html
pukul 09;50 28,09,2017
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Penulis menggunakan uang sebagai judul makalah ini karena mengingat kita tidak pernah

terlepas atau jauh dari yang namanya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup s e h a r i -

hari,bisa dikatakan uang mempanyai peran yang penting dalam


m e m e n u h i kebutuhan hidup,dan mengingat bahwa kebutuhan manisia yang tidak terbatas namun

alat pemenuhan kebutuhan anusia itu terbatas. Penulis juga mengharapkan kepada

pembacauntuk bisa mengenal uang lebih jauh lagi,bukan hanya sekedar mengetahui

kegunaanyanamun kita juga harus mengetahui sejarah terbentuknya uang dan syarat-

syaratnya.D a l a m p e m b a h a s a n m a k a l a h i n i p e n u l i s m e n g h a r a p k a n s e m o g a

k i t a d a p a t mengambil manfaat dan hikmahnya,dan bisa m engenal uang lebih jauh

lagi,supaya kitatidak hanya bisa memakai saja.

Uang merupakan alat pembayaran yang berlaku sekarang untuk semua transaksi jual-beli baik

secara langsung maupun tidak secara langsung. Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang

lebih mudah dari pada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam

sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk

melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan

menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang

kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran

I.2 Rumusan Masalah

A. Pengertian Uang

B. Sejarah

C. Fungsi

D. Syarat-syarat

E. Jenis

F. Teori Nilai Uang


G. Penawaran dan Permintaan Uang

I.3 Tujuan Penulisan

1.Agar kita mengetahui apa arti dari uang

2.Untuk mengetahui sejarah terbentuknya uang

3.Agar kita mengetahiu fungsi uang

4.Untuk mengetahui jenis-jenis uang

I.4 Manfaat Penulisan

Maksud dari penulisan makalah ini, agar dapat memberi manfaat kepada semua pihak.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Uang

Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang didefinisikan sebagai alat tukar yang dapat diterimasecara

umum. Alat tukar dapat berupa benda apa saja yang dapat diterima oleh setiap orang dimasyarakat

dalam proses pertukaran barang dan jasa. Sebelum uang diciptakan, masyarakatpada zaman dahulu

melakukan perdagangan dengan cara barter. Barter merupakan pertukaranbarang dengan barang.
B. Sejarah

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada

mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi

kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari

bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang

diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya

mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup

untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat

dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang

lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem'barter'yaitu barang yang ditukar dengan

barang. Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di

antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga

mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat

dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.

Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk

digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-

benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar

diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan

primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun

sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang:

orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu

antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga
penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit

dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga

mudah hancur atau tidak tahan lama. Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam.

Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama

dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam

yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam

emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan)

uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu,

setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak

terbatas dalam menyimpan uang logam. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu

anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam

bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam

juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas Mula-mula

uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara

untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang

yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-

waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak

lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka

menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar.

C. Fungsi
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan

barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi

uang dibedakan menjadi dua yaitu fungsi asli dan fungsi turunan.

1) Fungsi Asli

Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai

penyimpan nilai.

 Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah

pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang,

tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan

cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

 Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk

menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya

kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan

harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk

memperlancar pertukaran.

 Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk

mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini

menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia

dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa

mendatang.

2) Fungsi Turunan
Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi

turunan. Fungsi turunan itu antara lain:

 Uang sebagai alat pembayaran yang sah

Kebutuhan manusia akan barang dan jasa yang semakin bertambah dan beragam tidak dapat

dipenuhi melalui cara tukar-menukar atau barter. Guna mempermudah dalam mendapatkan

barang dan jasa yang diperlukan, manusia memerlukan alat pembayaran yang dapat diterima

semua orang, yaitu uang.

 Uang sebagai alat pembayaran utang

Uang dapat digunakan untuk mengukur pembayaran pada masa yang akan datang.

 Uang sebagai alat penimbun kekayaan

Sebagian orang biasanya tidak menghabiskan semua uang yang dimilikinya untuk keperluan

konsumsi. Ada sebagian uang yang disisihkan dan ditabung untuk keperluan di masa datang.

 Uang sebagai alat pemindah kekayaan

Seseorang yang hendak pindah dari suatu tempat ke tempat lain dapat memindahkan

kekayaannya yang berupa tanah dan bangunan rumah ke dalam bentuk uang dengan cara

menjualnya. Di tempat yang baru dia dapat membeli rumah yang baru dengan menggunakan

uang hasil penjualan rumah yang lama.

 Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi

Apabila nilai uang stabil orang lebih bergairah dalam melakukan investasi. Dengan adanya

kegiatan investasi, kegiatan ekonomi akan semakin meningkat.


D. Syarat-syarat

Suatu benda dapat dijadikan sebagai "uang" jika benda tersebut telah memenuhi syarat-

syarat tertentu. Pertama, benda itu harus diterima secara umum (acceptability). Agar dapat

diakui sebagai alat tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau —setidaknya—

dijamin keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. Bahan yang dijadikan uang juga harus

tahan lama (durability), kualitasnya cenderung sama (uniformity), jumlahnya dapat memenuhi

kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity). Uang juga harus mudah

dibawa, portable, dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility), serta

memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).

E. Jenis

Uang yang beredar dalam masyarakat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang

kartal (sering pula disebut sebagai common money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat

bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli

sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang

dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan.

Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk

menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk

menarik uang giral, orang menggunakan cek.


Uang Kartal

Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat bayar yangsah dan wajib

diterima oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli sehari-hari.

Jenis Uang Kartal Menurut Lembaga Yang Mengeluarkannya

Menurut Undang-Undang Pokok Bank Indonesia No. 11/1953, terdapat dua jenis uang kartal,yaitu uang

negara dan uang bank.

Uang negara adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, terbuat dari kertas yangmemiliki ciri-ciri :

 Dikeluarkan oleh pemerintah

 Dijamin oleh undang undang

 Bertuliskan nama negara yang mengeluarkannya

 Ditanda tangani oleh mentri keuangan

Namun, sejak berlakunya Undang-undang No. 13/1968, uang negara dihentikan peredarannya dan

diganti dengan Uang Bank.Uang Bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang logam

dan uang kertas, Ciri-cirinya sebagai berikut.

 Dikeluarkan oleh Bank Sentral

 Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan dibank sentral

 Bertuliskan nama bank sentral negara yang bersangkutan (di Indonesia : Bank Indonesia)

 Ditandatangani oleh gubernur bank sentral.


Jenis Uang Kartal Menurut Bahan Pembuatnya

A. Uang logam

Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak memenuhi syarat-syarat uang yang

efesien. Karena harga emas dan perak yang cenderung tinggidan stabil, emas dan perak mudah dikenali dan

diterima orang. Di samping itu, emasdan perak tidak mudah musnah. Emas dan perak juga mudah

dibagi-bagi menjadi unityang lebih kecil. Di zaman sekarang, uang logam tidak dinilai dari berat

emasnya,namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal itu merupakan pernyataan bahwasejumlah emas

dengan berat tertentu terkandung di dalamnya.

Uang logam memiliki tiga macam nilai.

Nilai Intrinsikyaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilaiemas dan perak yang

digunakan untuk mata uang. Menurut sejarah, uang emas danperak pernah dipakai sebagai uang. Ada

beberapa alasan mengapa emas dan perak dijadikan sebagai bahan uang antara lain :

 Tahan lama dan tidak mudah rusak (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp.500,00).

Nilai Tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengansuatu barang (daya beli

uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkandengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat

ditukarkan dengansemangkuk bakso).Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan

cap tertentu danmerupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun

1999tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalambentuk lembaran yang terbuat

dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupaikertas).


Uang kertas mempunyai nilai karena nominalnya. Oleh karena itu, uang kertas hanyamemiliki dua

macam nilai, yaitu nilai nominal dan nilai tukar. Ada 2(dua) macamuang kertas :

 Uang Kertas Negara (sudah tidak diedarkan lagi), yaitu uang kertas yangdikeluarkan oleh pemerintah dan

alat pembayaran yang sah dengan jumlahyang terbatas dan ditandatangani mentri keuangan.

 Uang Kertas Bank , yaitu uang yang dikeluarkan oleh bank sentral,

Beberapa keuntungan penggunaan alat tukar (uang) dari kertas di antaranya :

 Penghematan terhadap pemakaian logam mulia

 Ongkos pembuatan relatif murah dibandingkan dengan ongkos pembuatanuang logam.

 Peredaran uang kertas bersifat elastis (karena mudah dicetak dan diperbanyak)sehingga mudah diseusaikan

dengan kebutuhan akan uang

 Mempermudah pengiriman dalam jumlah besar

Uang Giral

Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan adanya sebuahalat tukar yang

lebih mudah, praktis dan aman. Di Indonesia,bank yang berhak menciptakanuang giral adalah bank

umum selain Bank Indonesia.Menurut UU No. 7 tentangPerbankan tahun 1992, definisi uang giral

adalah tagihan yang ada di bank umum,yangdapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran.

Bentuk uang giral dapat berupacek, giro, atau telegrafic transfer.


Uang giral bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Artinya, masyarakat boleh menolak dibayar

dengan uang giral.

Uang giral terdiri dari:

 Giro, Permintaan seseorang yg mempunyai rekening di bank supaya bank membayar dg cara

memindahkan sebagian/ seluruh rekeningnya kepada rekening pihak yg dibayar

 Cek, Surat perintah dari seseorang yg mempunyai rekening di bank agar bank membayarkan sejumlah

uang kepada orang yang disebut dalam cek tsb.

 Perintah membayar, Orang yang mempunyai rekening di bank, memerintahkan secara langsung untuk

membayar kepada seseorang dg tunai

 Telegraphic transfer, Orang yang mempunyai rekening di bank, memerin tahkan bank agar memba

yarkan sejumlah uangnya kepada seseorang dg cara memindahkan/ mentransfer rek.melalui telegram

Terjadinya uang giral

Uang giral dapat terjadi dengan cara berikut.

 Penyetoran uang tunai kepadabank dan dicatat dalamrekening koranatas nama penyetor, penyetor

menerima buku cek dan buku biro gilyet. Uang tersebut sewaktu-waktu dapat diambil atau penyetor

menerima pembayaran utang dari debitur melalui bank. Penerimaan piutang itu oleh bank dibukukan

dalam rekening koran orang yangbersangkutan. Cara di atas disebut primary deposit.
 Karena transaksi surat berharga. Uang giral dapat diciptakan dengan cara menjualsurat berharga ke

bank, lalu bank membukukan hasil penjualan surat berharga tersebutsebagai deposit dari yang menjual.

Cara ini disebut derivative deposit.

 Mendapat kredit dari bank yang dicatat dalam rekening koran dan dapat diambil sewaktu-waktu. Cara ini

disebut dengan loan deposit.

Keuntungan menggunakan uang giral

Keuntungan menggunakan uang giral sebagai berikut.

 Memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang

 Alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, nilainyasesuai dengan yang

dibutuhkan (yang ditulis oleh pemilik cek /bilyet giro)

 Lebih aman karena risiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bisa segeradilapokan ke bank yang

mengeluarkan cek /bilyet giro dengan cara pemblokiran.

Menurut nilainya
Menurut nilainya, uang dibedakan menjadi uang penuh (full bodied money) dan uang

tanda (token money)

 Uang Penuh (full bodied money)

Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut

sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum

sama dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari

emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.

 Uang Tanda (token money)

Sedangkan yang dimaksud dengan uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas

uang lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain

nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang

Rp1.000,00 pemerintah mengeluarkan biaya Rp750,00.

F. Teori Nilai Uang

Teori nilai uang membahas masalah-masalah keuangan yang berkaitan dengan nilai

uang. Nilai uang menjadi perhatian para ekonom, karena tinggi atau rendahnya nilai uang

sangat berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi. Hal ini terbukti dengan banyaknya teori uang

yang disampaikan oleh beberapa ahli. Teori uang terdiri atas dua teori, yaitu teori uang statis

dan teori uang dinamis.

Teori uang statis

Teori Uang Statis atau disebut juga "teori kualitatif statis" bertujuan untuk menjawab

pertanyaan: apakah sebenarnya uang? Dan mengapa uang itu ada harganya? Mengapa uang
itu sampai beredar? Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai yang

diakibatkan oleh perkembangan ekonomi. Yang termasuk teori uang statis adalah:

 Teori Metalisme (Intrinsik) oleh KMAPP

Uang bersifat seperti barang, nilainya tidak dibuat-buat, melainkan sama dengan nilai logam

yang dijadikan uang itu. Contoh: uang emas dan uang perak.

 Teori Konvensi (Perjanjian) oleh Devanzati dan Montanari

Teori ini menyatakan bahwa uang dibentuk atas dasar pemufakatan masyarakat untuk

mempermudah pertukaran.

 Teori Nominalisme

Uang diterima berdasarkan nilai daya belinya.

 Teori Negara

Asal mula uang karena negara, apabila negara menetapkan apa yang menjadi alat tukar dan

alat bayar maka timbullah uang. Jadi uang bernilai karena adanya kepastian dari negara berupa

undang-undang pembayaran yang disahkan.

Teori uang dinamis

Teori ini mempersoalkan sebab terjadinya perubahan dalam nilai uang. Teori dinamis

antara lain:

 Teori Kuantitas dari David Ricardo

Teori ini menyatakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah

uang yang beredar. Apabila jumlah uang berubah menjadi dua kali lipat, maka nilai uang akan

menurun menjadi setengah dari semula, dan juga sebaliknya.


 Teori Kuantitas dari Irving Fisher

Teori yang telah dikemukakan David Ricardo disempurnakan lagi oleh Irving Fisher dengan

memasukan unsur kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang

memengaruhi nilai uang.

 Teori Persediaan Kas

Teori ini dilihat dari jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.

 Teori Ongkos Produksi

Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat

dipandang sebagai barang.

G. Permintaan dan Penawaran Uang

PERMINTAAN UANG

Permintaan uang diartikan sebagai kebutuhan masyarakat akan uang tunai. Menurut JohnMaynard

Keynes ada 3 motif yang mempengaruhi permintaan uang tunai oleh masyarakat.Ketiga motif tersebut

yaitu:

1.Motif Transaksi (Transaction motive)

2.Motif Berjaga-jaga (

Precautionary motive)

3.Motif Spekulasi (Specualtive motive)


Untuk dapat memahami secara lebih mudah tentang ketiga motif tersebut berikut ini

akandiuraikan satu persatu.

1. Permintaan uang untuk transaksi ( transaction demand )

Terkait dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita menggunakan uang untuk membeli

barangdan jasa atau untuk membayar tagihan. Permintaan uang untuk transaksi memiliki

hubunganpositif dengan pendapatan. Jika pendapatan naik, maka permintaan uang untuk

keperluanbertransaksi juga meningkat.

2. Permintaan uang untuk berjaga-jaga (precautionary demand )

Permintaan terhadap uang bisa saja karena orang ingin berjaga-jaga terhadap suatu

peristiwayang tidak dikehendaki seperti sakit, kecelakaan, kebanjiran dan kebakaran. Permintaan

uanguntuk berjaga-jaga juga memiliki hubungan positif dengan pendapatan.

3. Permintaan uang untuk spekulasi ( speculative demand )

Spekulasi berarti melakukan sesuatu tindakan atas dasar ramalan perubahan nilai harta dimasa

depan. Jika seorang spekulan meramalkan bahwa harga rumah, nilai saham, atau hargaemas akan

meningkat dimasa depan, mereka akan membeli rumah, saham, atau emas, danbukan menyimpan uang.

Jadi, dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akanmendapatkan keuntungan dari peningkatan harga

rumah, saham, atau emas di masa depan. Initentu dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang adalah sebagai berikut.

1.Besar-kecilnya pembelanjaan negara yang berkaitan dengan pendapatan nasional.

2.Cepat atau lambatnya laju peredaran uang. Kecepatan peredaran uang dipengaruhioleh faktor berikut.

a) kebiasaan pembayaran konsumen, apakah tunai atau angsuran, sebab ini akanberpengaruh terhadap

jumlah uang yang diminta pada saat ini atausaat mendatang.

b) Frekuensi pembayaran pendapatan

c) Praktik-praktik bank, hal ini berkaitan dengan keluar masuknya uang melalui bank.

d) Keadaan psikologi masyarakat dalam menggunakan uangnya.

3. Motif-motif masyarakat dalam memiliki uang.

PENAWARAN UANG

Penawaran uang lebih populer dinyatakan dengan istilah jumlah uang yang beredar.

Dalamlaporan data statistik, jumlah uang beredar biasanya dilambangkan dengan huruf M. Dissiniada

beberapa definisi yang berbeda mengenai jumlah uang yang beredar tergantung daritingkat

likuiditasnya. Pada umumnya uang beredar didefinisikan sebagai berikut.

 M1 adalah uang kertas dan logam (kartal) ditambah simpanan dalam bentuk rekeningkoran (uang

giral/ demand deposit)

 M2 adalah M1 + tabungan + deposito berjangka (time deposit) pada bankbank umum.

 M3 adalah M2 + tabungan + deposito berjangka pada lembaga-lembaga keuanganbukan bank.


Secara sederhana penawaran uang atau jumlah uang yang beredar terdiri atas uang logam,uang

kertas, simpanan giro, deposito berjangka, berbagai macam tabungan, dan rekeningvaluta asing milik

swasta domestik. Penawaran uang dipengaruhi oleh pemerintah denganberbagai kebijakan yang ditetapkan.

Lembaga yang biasanya bertanggungjawab mengaturdan menjalankan kebijakan khususnya kebijakan moneter

adalah bank sentral.Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran uang adalah sebagai berikut.

1. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin sedikit jumlah uang yang beredar. Semakinrendah tingkat bunga,

semakin banyak jumlah uang yang beredar.

2. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, semakin banyak uang yang beredar karenasemakin sering melakukan

transaksi.

3. Semakin banyak (padat) jumlah penduduk, semakin banyak dan semakin cepat uangberedar.

4. Keadaan geografis di perkotaan lebih cepat dan lebih banyak jumlah uang yangberedar dibanding di

pedesaan.

5. Struktur ekonomi, negara agraris berbeda dengan negara industri, negara industriperedaran uang lebih

cepat dan lebih banyak.

6 .Penguasaan IPTEK penduduk. Iptek negara yang lebih maju lebih banyak dan lebihcepat uang beredar dibandingkan dengan

negara yang menerapkan teknologi yangsederhana.

7. Globalisasi industri di lingkungan dunia usaha. Semakin global dan arus modalekonomi antarnegara yang

semakin meningkat, uang yang beredar juga dipengaruhioleh transaksi-transaksi internasional dalam hal

ini kurs uang mempengaruhiperedaran.


ini.

Permasalahan HAKI di Indonesia memang tergolong kompleks yang tidak dapat diselesaikan
hanya dengan membalikan telapak tangan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk
menyekesaikan sistem HAKI agar sejalan dengan ketentuan internasional yang telah disepakati. Perlahan
tapi pasti perubahan menuju keadaan yang lebih baik yang menghargai karya intelektual orang lain akan
berusaha untuk dicapai.
Cukup banyak prestasi yang telah dicapai oleh pemerintah Indonesia dalam rangka
“membumikan” HAKI di Indonesia yang masih terkenal sebagai sarang pembajak. Hal ini memang bukan
hal yang mudah. Kegiatankegiatan sosialisasi HAKI masih tetap perlu dilakukan. Begitu pula usaha untuk
melengkapi semua produk hukum dibidang HAKI sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang
yang telah ada. Lengkapnya aturan main disertai dengan upaya penegakan hukumnya diharapkan dapat
menjadikan Indonesia sebagai tempat yang kondusif bagi investasi asing dan memperbaiki citra
Indonesia di dunia internasional.

3.4 HUKUM HAKI DI INDONESIA


Undang-undang merek pertama Indonesia lahir pada tahun 1961 yaitu Undang-Undang Nomor
21 Tahun 1961 tentang Merek Dagang dan Merek Perniagaan, yang diundangkan pada tanggal 11
Oktober 1961 dan mulai berlaku pada tanggal 11 November 1961. Pada tahun 1992 terjadi pembaruan
hukum merek di Indonesia, untuk mengantisipasi arus globalisasi, dengan lahirnya Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 1992 tentang merek yang mencabut dan menggantikan Undang-Undang Nomor 21
Tahun 1961 tentang Merek. Pada tahun 1997 terjadi penyempurnaan terhadap Undang-Undang Nomor
19 Tahun 1992 tentang Merek yaitu dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1997yang disahkan oleh
Presiden pada tanggal 7 Mei 1997. Penyempurnaan ini dilakukan terutama untuk menyesuaikan
ketentuan-ketentuan dalam TRIPs (Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights)
yang merupakan bagian dari persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia atau Agreement
Estabilishing World Trade Organization yang telah diratifikasi Indonesia dengan Undang-Undang Nomor
7 Tahun 1994. Perubahan terakhir mengenai undang-undang merek terjadi pada tahun 2001 yaitu
dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Undang-undang paten pertama Indonesia
adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2001.

Sama halnya dengan undang-undang tentang merek maupun paten, undang-undang tentang
hak cipta juga telah beberapa kali mengalami perubahan, yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982
yang telah diubah pada tahun 1987 (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987), tahun 1997 (Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 1997), dan terakhir pada tahun 2002.

Reformasi Hukum HAKI di Indonesia

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Hak Atas Kekayaan Intelektual atau juga yang dikenal dengan HAKI merupakan terjemahan atas
istilah Intellectual Property Right. Istilah tersebut terdiri dari tiga kata kunci, yaitu Hak, Kekayaan, dan
Intelektual. Kekayaan merupakan abstraksi yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijual. Adapun
Kekayaan Intelektual merupakan kekayaan ata segala hasil produksi kecerdasan daya pikir seperti
teknologi, pengetahuan, seni, sastra, gubahan lagu, karya tulis, karikatur, dan seterusnya. Terakhir HAKI
merupakan hak-hak (wewenang atau kekuasaan) untuk berbuat seseuatu atas kekayaan intelektual
tersebut, yang diatur oleh norma-norma atau hukum-hukum yang berlaku.

Hak Atas Kekayaan Intelektual sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru di Indonesia. Sejak
zaman pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia telah mempunyai undang-undang tentang hak atas
kekayaan intelektual yang sebenarnya merupakan pemberlakuan peraturan perundang-undangan
pemerintahan Hindia Belanda yang berlaku di negara Belanda itu sendiri, dan diberlakukan di Indonesia
sebagai negara jajahan Belanda berdasarkan prinsip konkordansi.

Sejak tahun 1961 sampai dengan tahun 1999, yang berarti selama 54 tahun sejak Indonesia
merdeka, bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual yang telah mendapat perlindungan dan pengaturan
dalam tata hukum Indonesia baru tiga bidang, yaitu merek, hak cipta dan hak paten. Adapun empat
bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual lainnya varietas tanaman, rahasia dagang, desain industri, serta
desain tata letak sirkuit terpadu, baru mendapat pengatuan dalam hukum positif Indonesia pada tahun
2000, dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Varietas Tanamandan
mulai berlaku efektif sejak tahun 2004, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang,
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
4.2 SARAN
Ditinjau dari sudut perangkat perundang-undangan, Indonesia sudah mempunyai perangkat yang
cukup di bidang HAKI. Namun pengetahuan tentang HaKI dan perangkat perundang-undangan
dimasyarakat dirasakan masih kurang dan perlu ditingkatkan, sehingga perlindungan HAKI betul-betul
dapat ditegakkan. Perlu adanya sosialisi terhadap masyarakat agar masyarakat lebih mengetahui apa itu
HAKI dan pentingnya HAKI bagi karya-karya yang sudah dihasilkan oleh masyarakat. Akan tidak
berharga jika karya yang sudah diciptakan malah sudah terdaftar atas nama orang lain. Perlunya
pendaftaran HAKI atas karya yang sudah diciptakan agar hal seperti ini tidak terjadi. Pemerintah juga
hendaknya perlu mengupayakan perbaikan-perbaikan di bidang perlindungan dan penegakan hukum
HAKI agar tidak lagi masuk dalam kategori Priority Watch Listdan akan mendapat sanksi ekonomi yang
dapat berupa ekspor, pengurangan kuota perdagangan bahkan sampai dengan embargo ekonomi. Keadaan
tersebut dapat menghambat masuknya investasi ke Indonesia, apabila pemerintah tidak secepatnya
memperbaiki sistem HAKI ini, dan reputasi Indonesia di mata dunia internasional akan benar-benar
terancam.

Sekarang ini banyak kasus-kasus pelanggaran HAKI yang belum bisa pemerintah selesaikan.
Untuk itu, maka pemerintah seharusnya dapat segera mengambil tindakan tegas untuk menuntaskan
kasus-kasus pelanggaran HAKI yang ada, karena penuntasan kasus tersebut sangatlah penting untuk
mengembalikan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sutedi, Adrian, S.H., M.H. 2009. Hak Atas Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika
2. Kansil, CST, Prof. Drs. S.H., &Kansil, Christine ST, S.H. 2001. Hukum Perusahaan Indonesia (Aspek
Hukum Dalam Ekonomi). Jakarta: PT Pradnya Paramita
3. Fuady, Munir, S.H., M.H., LL.M. 2002. Pengantar Hukum Bisnis. Bandung: PT Citra
Aditya.
4. Djaja, Ermansjah, Dr., S.H., M.Si. 2009. Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika
5. UUD Perlindungan HAKI. Bandung: PT Citra Umbara

http://ummiadliyah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-hak-atas-kekayaan-intelektual.html
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat

dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas ini. Maksud dari penulisan tugas ini

adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Bisnis program S-I pada fakultas Ekonomi Jurusan

Administrasi Perkantoran.

Untuk menyelesaikan makalah ini penyusun berusaha sepenuhnya demi tersusunnya

makalah ini sebaik-baiknya. walaupun sebenarnya makalah ini masih belum sempurna dan masih

banyak kesalahan di sana sini. Oleh karena itu penyusun berharap pembaca dapat memberi kritik

dan saran yang membangun agar makalah ini lebih baik lagi.

Akhir kata penyusun berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat sebagai

sumber informasi seputar Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan bernegara terdapat berbagai norma yang mengatur kehidupan agar
terjadi keseimbangan dan keteraturan hidup. Ketika salah satu norma tersebut tak dijalankan
dengan benar maka akan berpotensi terjadi hal yang tak diinginkan, dan roda kehidupan akan
tersendat.
Ada beberapa norma yang tertulis maupun tidak tertulis. Norma yang tertulis salah satunya
adalah norma hukum. Meskipun hukum sebagi aturan yang baku dan harus dikuti, namun tetap saja
banyak pihak yang memandang hukum sebagi sesuatu yang bisa dbeli dngan uang dan kekuasaan.
Termasuk didalamnya hukum tentang pengaturan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang saat ini
semakin diperhatikan oleh khalayak. Karena banyaknya klaim dan semakin sulitnya proses peradilan
untuk menindaklanjuti klaim tersebut jika tak memiliki hukum yang kuat.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan HAKI ?
b. Apa saja yang termasuk HAKI ini?
c. Bagaimana Sejarah perkembangan HAKI di Indonesia?
C. TUJUAN
a. Untuk mengetahui pengertian HAKI atau H.KI
b. Untuk mengetahui ruang Lingkup HaKI atau HKI
c. Untuk mengetahui pengertian dan landasan hukum dari Hak cipta, Paten (Patent), dan Merek
(Trademark)
d. Untuk mengetahui sifat hukum HAKI atau HKI
e. Untuk mengetahui pentingnya HAKI atau HKI
f. Untuk mengetahui Sejarah perkembangan Perlindungan HAKI atau HKI di Indonesia
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HAKI
Hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau biasa disingkat HKI(Hak Kekayaan Intelektual)
adalah hak eklusif yang diberikan oleh hukum yang berkaitan dengan usaha manusia, didasarkan
kepada kemampuan intelektual yang memiliki nilai ekonomi.

B. CABANG-CABANG HAKI
1. Hak cipta (copy right)
Hak cipta adalah hak eklusif hak (hak yang semata-mata diperuntukan bagi pemegangnya
sehingga tidak ada pilihan lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya)
bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya atau
memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan-
peraturan yang berlaku. Di Indonesia, pengaturan hak cipta diatur dalam UU No. 19 tahun 2002
tentang hak cipta (UUHC).

Sifat kebendaan hak cipta yaitu benda bergerak tidak berwujud. Hak cipta ini bisa beralih dari
satu orang ke orang lain tapi tidak bisa secara lisan harus dengan bukti otentik secara tertulis baik
tanpa atau dengan akta notaris.

Ciptaan yang dilindungi berdasarkan UUHC pasal 12 ayat 1 yaitu ciptaan dalam bidang ilmu
pengetahuan, seni, dan sastra yang mencakup:

1. Buku, program computer, pamflet, perwajahan (layout), karya tulis yang diterbitkan
2. Ceramah, kuliah, pidato
3. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan
4. Lagu dan music dengan atau tanpa teks
5. Drama atau drama musical, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomin.
6. Seni rupa dalam segala bentuk, seperti seni lukis, gambar seni ukir, kaligrafi, seni pahat, seni patung,
kolase, dan seni terapan.
7. Arsitektur
8. Peta
9. Seni batik, fotografi
10. Sinamatografi
11. Terjemahan, tafsir saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dalam hal pengalihwujudan.

Sebuah ciptaan untuk mendapat perlindungan hukum Negara harus memiliki dua syarat,
yaitu:

1. Material form : suatu ide atau pemikiran yang telah dituangkan dalam bentuk nyata. Jadi yang
dilindungi bukan merupakan suatu ide atu pemikiran.
2. Originality : suatu ciptaan itu benar-benar berasal dari orang yang mengaku sebagai penciptanya,
bukan merupakan tiruan atau perbanyakan dari suatu ciptaan yang telah ada.

Pembatasan hak cipta

1. Tidak dianggap pelanggaran hak cipta apabila berupa Perbuatan yang tidak dapat dituntut sebagai
perbuatan melanggar hak cipta, antara lain:
a. Mengumumkan dan atau memperbanyak lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifat
aslinya
b. Mengumumkan dan atau memperbanyak segala sesuatu yang diumumkan dan atau diperbanyak
oleh pemerintah, kecuali apabila hak cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan pernyataan ciptaan
itu sendiri ataupun ketika ciptaan itu diumumkan dan diperbanyak.
2. Tidak dianggap pelanggaran hak cipta dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan dan
diumumkan, antara lain:
a. Penggunaan ciptaan hak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah,
penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan
kepentingan yang wajar dari pencipta
b. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian guna keperluan pembelaan di
dalam atau diluar pengadilan
c. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya ataupun sebagian guna keperluan:
1. Ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan
2. Pertunjukan dan pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan
kepentingan yang wajar dari pencipta
d. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, sastra dalam huruf braile guna keperluan
para tuna netra, terkecuali jika perbanyakan itu bersifat komersial
e. Perbanyakan suatu ciptaan selain program computer secara terbatas dengan cara atau alat apapun
atau proses serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan
pusat dokumentasi yang non komersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya.
f. Perubahan dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan pemilik program computer yanag
semata-mata dilakukan untuk digunakan sendiri.

Pencipta adalah orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan pada Direktorat
Jendral HKI atau orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan sebagai pencipta pada
suatu ciptaan. Hak pencipta dibagi 2, yaitu:

1. Hak ekonomi (economi right) adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi bagi penciptanya
atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat atas ciptaan serta produk hak terkait.
2. Hak moral ( moral right) adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat
dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apapun walaupun hak ekonomi pada hak cipta atau hak
terkait telah dialihkan, kecuali dengan persetujuan pencipta dengan persetujuan ahli warisnya dalam
pencipta telah meninggal dunia, sehingga pada intinya hak moral mempunyai dua macam hak, yaitu:
a. The raight to protect the integrity of work, yaitu hak pencipta bahwa ciptaannya diumumkan atau
diperbanyak harus ditampilkan secara utuh tanpa distorsi, mutilasi dan bentuk pemutar balikan
lainnya, pemotongan, perusakan, penggantian yang berhubungan dengan karya cipta yang pada
akhirnya akan merusak apresiasi dan reputasi pencipta
b. Attributation atau authorship right, yaitu hak pencipta bahwa setiap ciptaannya digunakan secara
umum, harus dicantumkan nama atau nama samarannya meskipun hak ekonomimya telah dialihkan

Masa berlaku hak cipta

1. Hak cipta atas ciptaan yang berupa


a. Buku, pamflet dan semua hasil karya tulis lain
b. Drama atau drama musical, tari koreografi
c. Segala bentuk seni rupa
d. Seni batik
e. Lagu dan music dengan atau tanpa teks
f. Arsitektur
g. Ceramah, kuliah, pidato,
h. Alat peraga
i. Peta
j. Terjemahan, tafsir, saduran, dan bunga rampai berlaku selama hidup penciptanyan dan 50 tahun
setelah meninggal dunia
2. Hak cipta atas ciptaan
a. Program computer
b. Sinematografi
c. Fotografi
d. Database
e. Karya hasil pengalih wujudan
f. Perwajahan karya tulis yang diterbitkan, berlaku selama lima puluh tahun sejak pertama kali
diumumkan.

Pendaftaran hak cipta bukan merupakan suatu kewajiban bagi pencipta karena sejak adanya
ciptaan itu dengan atau tanpa didaftarkan telah dilindungi. Namun demikian, Direktorat jendral HKI
Departemen Hukum dan HAM RI menyelenggarakan pendaftaran ciptaan dan dicatat dalam daftar
umum ciptaan.

Sanksi pidana

1. Barang siapa memperbanyak atau mengumumkan suatu ciptaan tanpa izin pencipta atau pemegang
hak ciptanya dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat satu bulan dan denda
paling sedikit Rp 1.000.000,00 dan pidana penjara paling lama 7 tahun dengan denda paling banyak
Rp 5.000.000.000,00
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum
suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00
3. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan
komersial suatu program computer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda
paling banyak Rp 500.000.000,00

7 Prinsip utama hak cipta:

1. Hak cipta melindungi perwujudan ide bukan ide itu sendiri


2. Hak cipta tidak memerlukan pendaftaran untuk memeroleh perlindungan hukum
3. Hak cipta bersifat asli (original) dan pribadi
4. Ada pemisahan antara kepemilikan fisik dengan hak yang terkandung dalam suatu benda
5. Jangka waktu perlindungan hak cipta bersifat terbatas
6. Pasal-pasal pidana dalam UUHC bersifat delik biasa
7. Perlindungan hak cipta berlaku pada warga Negara asing yang terlibat dalam perjanjian yang sama

2. Hak paten (patent)


Hak paten adalah hak eklusif yang diberikan oleh Negara kepada investor atau hasil invensi
dalam bidang teknologi, selama jangka waktu tertentu melakukan invensinya atau memberikan
persetujuan pada pihak lain untuk melaksanaknnya. Dasar hukumunya yaitu UU No. 24 tahun 2001
tentang paten.

Invensi yang dapat diberikan paten mengandung unsur:

1. Kebaruan (novelty)
2. Langkah-langkah inventif (inventive steps)
3. Dapat diterapkan dalam industry (industrial aplicable)

Invensi yang tidak dapat diberikan paten

1. Proses atau produk yang bertentangan dengan undang-undang


2. Metode kedokteran
3. Teori dan metode dalam bidang ilmu pengetahuan dan matematika atau semua makhluk hidup dan
jasad renik
4. Proses biologis

Jangka waktu paten selama 20 tahun sejak tanggal penerimaan dan tak bisa diperpanjang
sementara paten sederhana 10 tahun.

Subjek paten adalan investor atau yang menerima lebih lanjut hak inventor yang
bersangkutan.

Hak pemegang paten:

1. Memiliki hak eksklusif


2. Larangan terhadap pihak lain yang tanpa persetujuannya untuk mengimpor
3. Dikecualikan untuk kepentingan pendidikan, penilitian, percobaan, dan analisis yang tidak merugikan
Pemegang paten wajib membuat produk atau menggunakan proses yang diberikan paten di
Indonesia, kecuali apabila pembuatan produk atau penggunaan proses tersebut hanya layak
dilakukan secara regional

Paten dapat beralih atau dialihkan baik sebagian ataupun seluruhnya, karena: pewarisan,
hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab lain yang dibenarkan dalam undang-undang .

Sanksi pidana:

1. Barangsiapa dengan tanpa sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00
2. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten sederhana dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,00

8 prinsip dalam UU paten Indonesia:


1. Paten hanya terkait dengan invensi dalam bidang teknologi yang berisikan pemecahan masalah
2. Perlindungan hukum terhadap invensi dalam bidang teknologi didasarkan atas permohonan
3. Pendaftaran paten bersifat teritorial
4. Sistem pendaftaran paten yaitu system pendaftar pertama (first to file)
5. Paten dapat dialihkan kepemilikannya
6. Untuk melindungi kepentingan masyarakat, UU paten mengatur bahwa bolar provision dan impor
paralel bukan merupakan pelanggaran
7. Pengadilan niaga mempunyai wewenang menyelesaikan perkara pelanggaran paten dalam bidang
perdata
8. Tindak pidana yang diatur dalam UU paten adalah delik aduan

3. Hak merek (trademark)


Pasal 1 ayat 1 UU Merek merumuskan bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar,
nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut
yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Tanda
yang dapat diklasifikasikan merek yaitu, kata, huruf, angka, gambar, warna, dan gabungan unsur-
unsur tersebut, seperti satu warna (single colour), tanda-tanda 3 dimensi baik berbentuk sebuah
produk atau kemasan, tanda-tanda yang dapat didengar, tanda-tanda yang dapat dicium, tanda-
tanda bergerak.
Merek terdiri dari merek jasa, dagang dan kolektif. Ketentuan dalam pendaftaran merek
mencakup hal sebagai berikut:

1. Sebuah merek bisa didaftarkan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:


a. Adanya daya pembeda
b. Keaslian (originality)
2. Sebuah merek tidak dapat didaftarkan apabila terjadi hal-hal berikut:
a. Permohonan dilakukan oleh pemohon yang beritikad tidak baik
b. Merek tersebut mengandung salah satu unsur dibawah ini:
1. Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
2. Tidak memiliki daya pembeda
3. Telah menjadi milik umum
4. Merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa ynag dimohonkan pendaftarannya
c. Sebuah merek harus ditoalak permohonan pendaftarannya apabila merk tersebut:
1. memiliki persamaan dengan pihak lain
2. memiliki persamaan geografis
3. merupakan atau menyerupai nama orang terkenal, foto dan nama badan hukum
4. merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambang atau symbol atau
emblem Negara atau lembaga nasional dan internasional kecuali izin tertulis
5. merupakan tiruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yanag digunakan oleh Negara
atau lembaga pemerintah kecuali persetujuan tertulis
Indikasi geografis adalah indikasi atau identitas dari suatu barang yang berasal dari suatu
tempat, daerah atau wilayah tertentu yanag menunjukan adanya kualitas, reputasi, dan
karakteristik, termasuk factor alam dan factor manusia yang dijadikan atribut dari barang tersebut.
Indikasi geografis mendapat perlindungan setelah terdaftar atas dasar permohonan yang diajukan
oleh:

1. Lembaga yang mewakili masyarakat didaerah yang memproduksi barang yang bersangkutan
2. Lembaga yang memberikan kewenangan untuk itu
3. Kelompok konsumen barang
Merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 tahun sejak tanggal
penerimaan pendaftaran dan jangka waktu itu bisa diperpanjang.

Hak atas merek terdaftar dapat beralih atau dialihkan karena, pewarisan, wasiat, hibah,
perjanjian, sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan
Sanksi pidana

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya
dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan atau jasa sejenis diproduksi dan atau
diperdagangkan dipidana dengan pidana penjara pling lama 5 tahun dan atau denda paing banyak
Rp 1.000.000.000,00
2. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada pokoknya dengan
merek terdaftar milik pihak lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau
diperdagangkan dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak
Rp 800.000.000,00
10 prinsip penting UU Merek Indonesia:

1. Merek merupakan sebuah tanda yang membedakan sebuah produk barang atau jasa dengan produk
barang atau jasa lain yang sejenis
2. Perlindungan merek diberikan dengan pendaftaran
3. Pihak yang mengajukan permohonan dibatasi
4. Jangka waktu perlindungan merek dapat diperpanjang

5. UU merek menyediakan pengecualian khusus terhadap perlindungan indikasi asal yang tak harus
didaftarkan
6. Menganut asas pendaftar pertama.
7. Menggunakan prinsip permohonan merek yang beritikad baik
8. Penghapusan merek oleh Direktorat Jendral HKI terjadi karena 4 kemungkinan, yaitu atas prakarsa
Direktorat Jendral HKI, atas permohonan dari pemegang merek, keputusn pengadilan, tidak
diperpanjangnya jangka waktu perlindungan merek
9. Putusan pengadilan niaga hanya data diajukan kasasi
10. Menyadarkan proses tuntutan pidana berdasarkan delik aduan

C. SEJARAH PERKEMBANGAN HAKI DI INDONESIA


1. Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia telah ada sejak tahun
1840. Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan undang-undang pertama mengenai
perlindungan HKI pada tahun 1844. Selanjutnya, Pemerintah Belanda mengundangkan UU Merek
tahun 1885, Undang-undang Paten tahun 1910, dan UU Hak Cipta tahun 1912. Indonesia yang pada
waktu itu masih bernama Netherlands East-Indies telah menjadi angGota Paris Convention for the
Protection of Industrial Property sejak tahun 1888, anggota Madrid Convention dari tahun 1893
sampai dengan 1936, dan anggota Berne Convention for the Protection of L teraty and Artistic Works
sejak tahun 1914. Pada zaman pendudukan Jepang yaitu tahun 1942 sampai dengan 1945, semua
peraturan perundang-undangan di bidang HKI tersebut tetap berlaku. Pada tanggal 17 Agustus 1945
bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan
peralihan UUD 1945, seluruh peraturan perundang-undangan peninggalan Kolonial Belanda tetap
berlaku selama tidak bertentangan dengan UUD 1945. UU Hak Cipta dan UU Merek tetap berlaku,
namun tidak demikian halnya dengan UU Paten yang dianggap bertentangan dengan pemerintah
Indonesia. Sebagaimana ditetapkan dalam UU Paten peninggalan Belanda, permohonan Paten dapat
diajukan di Kantor Paten yang berada di Batavia (sekarang Jakarta), namun pemeriksaan atas
permohonan Paten tersebut harus dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda

2. Pada tahun 1953 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang merupakan


perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang Paten, yaitu Pengumuman
Menteri Kehakiman no. J.S 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan sementara
permintaan Paten dalam negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.G 1/2/17 yang
mengatur tentang pengajuan sementara permintaan paten luar negeri.
3. Pada tanggal 11 Oktober 1961 Pemerintah RI mengundangkan UU No.21 tahun 1961 tentang
Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan untuk mengganti UU Merek Kolonial Belanda. UU
No 21 Tahun 1961 mulai berlaku tanggal 11 November 1961. Penetapan UU Merek ini untuk
melindungi masyarakat dari barang-barang tiruan/bajakan.
4. 10 Mei 1979 Indonesia meratifikasi Konvensi Paris Paris Convention for the Protection of
Industrial Property (Stockholm Revision 1967) berdasarkan keputusan Presiden No. 24 tahun
1979. Partisipasi Indonesia dalam Konvensi Paris saat itu belum penuh karena Indonesia
membuat pengecualian (reservasi) terhadap sejumlah ketentuan, yaitu Pasal 1 sampai
dengan 12 dan Pasal 28 ayat 1.
5. Pada tanggal 12 April 1982 Pemerintah mengesahkan UU No.6 tahun 1982 tentang Hak Cipta
untuk menggantikan UU Hak Cipta peninggalan Belanda. Pengesahan UU Hak Cipta tahun
1982 dimaksudkan untuk mendorong dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil
kebudayaan di bidang karya ilmu, seni, dan sastra serta mempercepat pertumbuhan
kecerdasan kehidupan bangsa.
6. Tahun 1986 dapat disebut sebagai awal era moderen sistem HKI di tanah air. Pada tanggal
23 Juli 1986 Presiden RI membentuk sebuah tim khusus di bidang HKI melalui keputusan
No.34/1986 (Tim ini dikenal dengan tim Keppres 34) Tugas utama Tim Keppres adalah
mencakup penyusunan kebijakan nasional di bidang HKI, perancangan peraturan perundang-
undangan di bidang HKI dan sosialisasi sistem HKI di kalangan instansi pemerintah terkait,
aparat penegak hukum dan masyarakat luas.
7. 19 September 1987 Pemerintah RI mengesahkan UU No.7 Tahun 1987 sebagai perubahan
atas UU No. 12 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.
8. Tahun 1988 berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 ditetapkan pembentukan Direktorat
Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek (DJHCPM) untuk mengambil alih fungsi dan tugas
Direktorat paten dan Hak Cipta yang merupakan salah satu unit eselon II di lingkungan
Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen Kehakiman.
9. Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU tentang Paten
yang selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 Tahun 1989 oleh Presiden RI pada tanggal 1
November 1989. UU Paten 1989 mulai berlaku tanggal 1 Agustus 1991.
10. 28 Agustus 1992 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 19 Tahun 1992 tentang Merek, yang
mulai berlaku 1 April 1993. UU ini menggantikan UU Merek tahun 1961.
11. Pada tanggal 15 April 1994 Pemerintah RI menandatangani Final Act Embodying the Result of
the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup Agreement on Trade
Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPS).
12. Tahun 1997 Pemerintah RI merevisi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang
HKI, yaitu UU Hak Cipta 1987 jo. UU No. 6 tahun 1982, UU Paten 1989 dan UU Merek 1992.
13. Akhir tahun 2000, disahkan tiga UU baru dibidang HKI yaitu : (1) UU No. 30 tahun 2000
tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, dan UU No. 32
tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
14. Untuk menyelaraskan dengan Persetujuan TRIPS (Agreement on Trade Related Aspects of
Intellectual Property Rights) pemerintah Indonesia mengesahkan UU No 14 Tahun 2001
tentang Paten, UU No 15 tahun 2001 tentang Merek, Kedua UU ini menggantikan UU yang
lama di bidang terkait. Pada pertengahan tahun 2002, disahkan UU No.19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta yang menggantikan UU yang lama dan berlaku efektif satu tahun sejak di
undangkannya.
15. Pada tahun 2000 pula disahkan UU No 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas
Tanaman dan mulai berlaku efektif sejak tahun 2004.

Seperti telah disinggung di atas, Indonesia telah memiliki perangkat hukum yang memadai di
bidang perlindungan hak kekayaan intelektual. Indonesia telah meratifikasi konvensi-konvensi
internasional di bidang hak kekayaan intelektual seperti Paris Convention, Berne Convention,
maupun Trade Related Aspects of Intellectuals Property Rights (TRIPs). Perangkat hokum di bidang
hak keyaan intelektual yang dipunyai Indonesia diantaranya adalah:
a. UU No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman
b. UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
c. UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
d. UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
e. UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten
f. UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek
g. UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
h. UU No. 7 Tahun 1994 Tentang Ratifikasi Trade Related Aspects of Intellectuals Property Rights (TRIPs)
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setiap karya-karya yang lahir dari buah pikir yang cemerlang yang berguna bagi manusia

perlu di akui dan dilindungi. Untuk itu system HaKI atau HKI diperlukan sebagai bentuk penghargaan

atas hasil karya (kreativitas) nya. Disamping itu sistem HKI menunjang diadakannya sistem

dokumentasi yang baik atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya

teknologi atau karya lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah. Dengan dukungan dokumentasi

yang baik tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk

keperluan hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih

tinggi lagi.

B. SARAN
Pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai hak
kekayaan intelektual sehingga masyarakat dapat mengerti hukum yang berlaku di Indonesia
sekaligus memahami pentingnya hak kekayaan intelektual setiap individu maupun organisasi. Selain
itu pelaksanaan dan pemberian ganjaran dilakukan dengan lebih tegas sehingga para pelaku bisnis
tidak melakukan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Selain itu pemerintah dapat juga
membentuk sebuah badan hukum independen yang secara khusus bertugas mengatur dan
mengawasi seluruh bisnis yang terdapat di Indonesia.
Masyarakat disarankan lebih peduli akan tindakan pelanggaran HKI, baik dari pengawasan
akan adanya usaha yang melanggar HKI juga mempraktikkan tindakan menghargai HKI dengan
membeli produk yang asli.
Bagi para pelaku bisnis sebaiknya mendaftarkan bisnisnya sehingga bisnis yang dimiliki
terlindung oleh hukum serta mengurangi adanya pelanggaran hak kekayaan intelektual yang
dilakukan oleh pihak lain. Selain itu pelaku bisnis diharapkan memiliki rasa yang kreatif dan inovatif
sehingga menciptakan ide-ide bisnis yang baru tanpa melakukan peniruan dari bisnis yang telah ada
mengingat kerugian-kerugian yang didapatkan apabila praktik pelanggaran HKI tetap dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA

http://azzaqun.blogspot.com/2012/04/makalah-haki.html

http://alqomaluphindonesia.files.wordpress.com/2010/12/makalah-alqoma.pdf

http://aftinaarda.blogspot.com/2011/11/makalah-tik.html

http://fidyanifitri.wordpress.com/2012/04/10/hak-kekayaan-intelektual/

http://kaaeka.wordpress.com/2011/11/15/contoh-kasus-pelanggaran-etika-dalam-dunia maya-dan-

teknologi-informasi/
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Memang harus diakui, kecenderungan orang semakin mengesampingkan pentingnya
penggunaan bahasa, terutama dalam tata cara pemilihan kata atau diksi.
Terkadang kita pun tidak mengetahui pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang
baik dan yang benar, sehingga ketika kita berbahasa, baik lisan maupun tulisan, sering
mengalami kesalahan dalam penggunaan kata, frasa, paragraf, dan wacana.
Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman yang baik
ihwal penggunaan diksi atau pemilihan kata dirasakan sangat penting, bahkan mungkin vital,
terutama untuk menghindari kesalapahaman dalam berkomunikasi.
Diksi atau pilihan kata dalam praktik berbahasa sesungguhnya mempersoalkan
kesanggupan sebuah kata dapat juga frasa atau kelompok kata untuk menimbulkan gagasan
yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengarnya.
Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai
dengan bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga
penggunaan bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas suatu
masyarakat tersebut. Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa terlepas dari berkomunikasi
dengan sesama dalam setiap aktivitas. Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai
ketika seseorang berkomunikasi dengan pihak lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan
menangkap informasi dikarenakan pemilihan kata yang kurang tepat ataupun dikarenakan
salah paham.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan
dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan
lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin
disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga
digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis pilihan kata (diksi)
mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari baik dalam segi makna dan relasi, gaya bahasa, ungkapan, kata
kajian, kata popular, kata sapaan dan kata serapan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan dalam
makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan diksi
b. Bagaimana persyaratan diksi
c. Bagaimana yang dimaksud kata ilmiah , kata populer, kata jargon dan slang
d. Bagaimana pilihan kata dan penggunaan diksi

1.3. Tujuan
Tujuan dan manfaat penulisan makalah ini adalah:
a. Megetahui pengertian dari diksi
b. Mengetahui syarat-syarat yang dibutuhkan dalam penggunaan diksi
c. Memahami penjelasan tentang kata ilmiah, kata populer, kata jargon dan slang
d. Memahami penjelasan pilihan kata dan penggunaan diksi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengetian Diksi


Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat dan selaras untuk
menyatakan atau mengungkapkan gagasan sehingga memperoleh efek tertentu. Pilihan kata
merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam
dunia tutur setiap hari. Ada beberapa pengertian diksi di antaranya adalah membuat pembaca
atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan
oleh pembicara atau penulis, untuk mencapai target komunikasi yang efektif, melambangkan
gagasan yang diekspresikan secara verbal, membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat
(sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
Diksi, dalam arti pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis
atau pembicara. Arti kedua, arti “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan kata – seni
berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan
ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada
pemilihan kata dan gaya. Harimurti (1984) dalam kamus linguistic, menyatakan bahwa diksi
adalah pilhan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di
dalam karang mengarang.
Dalam KBBI (2002: 264) diksi diartikan sebagai pilihan kata yanng tepat dan selaras
dalam penggunaanya untuk menggungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu
seperti yang diharapkan. Jadi, diksi berhubungan dengan pengertian teknis dalam hal karang-
mengarang, hal tulis-menulis, serta tutur sapa.

2.2. Persyaratan Diksi


Ada dua persyaratan yang harus dipenuhi dalam memilih kata-kata, yaitu persyaratan
ketetapan dan kesesuaian. Tepat, artinya kata-kata yang dipilih itu dapat mengungkapkan
dengan tepat apa yang ingin diungkapkan. Di samping itu, ungkapan itu juga harus dipahami
pembaca dengan tepat, artinya tafsiran pembaca sama dengan apa yang dimaksud dengan
penulis. Untuk memenuhi persyaratan ketetapan dan kesesuaian dalam pemilihan kata, perlu
diperhatikan :
a. Kaidah kelompok kata/ frase
b. Kaidah makna kata
c. Kaidah lingkungan sosial
d. Kaidah karang-mengarang

Hal ini di jelaskan satu persatu, sebagai berikut :


a. Pilihan kata sesuai dengan kaidah kelompok kata /frase
Pilihan kata/ diksi yang sesuai dengan kaidah kelompok kata/frase, seharusnya pilihan
kata/diksi yang tepat,seksama, lazim,dan benar.
 Tepat
Contohnya :
Makna kata lihat dengan kata pandang biasanya bersinonim, tetapi kelompok kata pandangan
mata tidak dapat digantikan dengan lihatan mata.
 Seksama
Contohnya :
Kata besar, agung, akbar, raya, dan tinggi termasuk kata-kata yang bersinonim. Kita
biasanya mengatakan hari raya serta hari besar, tetapi kita tidak pernah mengatakan hari
agung, hari akbar ataupun hari tinggi. Begitu pula dengan kata jaksa agung tidak dapat
digantikan dengan jaksa besar ataupun jaksa raya, atau pun jaksa tinggi karena kata tersebut
tidak seksama.
 Lazim
Lazim adalah kata itu sudah menjadi milik bahasa Indonesia. Kata yang tidak lazim dalam
bahasa Indonesia apabila dipergunakan sangatlah akan membingungkan pengertian saja.
Contohnya :
Kata makan dan santap bersinonim. Akan tetapi tidak dapat mengatakan Anjing
bersantap sebagai sinonim anjing makan. Kemudian kata santapan rohani tidak dapat pula
digantikan dengan makanan rohani. Kedua kata ini mungkin tepat pengelompokannya, tetapi
tidak seksama serta tidak lazim dari sudut makna dan pemakain-nya.
b. Pilihan kata sesuai dengan kaidah makna kata.
 Jenis Makna
 Berdasarkan bentuk maknanya, makna dibedakan atas dua macam yaitu:
1. Makna Leksikal adalah makna kamus atau makna yang terdapat di dalam kamus. Makna ini
dimiliki oleh kata dasar. Contoh : makan, tidur, ibu, adik, buku
2. Makna Gramatikal adalah makna yang dimiliki kata setelah mengalami proses gramatikal,
seperti proses afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan), dan komposisi
(pemajemukan).
Contoh :
- Proses afiksasi awalan me- pada kata dasar kotor ; Adik mengotori lantai itu.
- Proses reduplikasi pada kata kacang ; Kacang-kacangan merupakan salah satu sumber
protein nabati.
- Proses komposisi pada kata rumah sakit bersalin ; Ia bekerja di rumah sakit bersalin
 Berdasarkan sifatnya, makna dibedakan atas dua macam:
1. Makna Denotasi adalah makna kata yang sesuai dengan hasil observasi panca indra dan tidak
menimbulkan penafsiran lain. Makna denotasi disebut juga sebagai makna sebenarnya.
Contoh :
- Kepala : organ tubuh yang letaknya paling atas
- Besi : logam yang sangat keras
2. Makna konotasi adalah makna kata yang tidak sesuai dengan hasil observasi pancaindra dan
menimbulkan penafsiran lain. Makna konotasi disebut juga sebagai makna kias atau makna
kontekstual.
Contoh :
- Ibu kota : pusat pemerintahan
- Ibu jari : jari yang paling besar atau jempol
- Jamban : kamar kecil
 Berdasarkan wujudnya, makna dibedakan atas :
1. Makna referensial adalah makna kata yang mempunyai rujukan yang konkret.
Contoh :
- meja, baju, membaca, menulis
2. Makna inferensial adalah makna kata yang tidak mempunyai rujukan yang konkret.
Contoh :
- baik, indah, sedih, gembira
 Perubahan Makna
 Berdasarkan cakupan maknanya, perubahan makna dibedakan atas.
1. Meluas, cakupan makna sekarang lebih luas daripada sebelumnya.
Misalnya:
Kata Dulu sekarang
Berlayar Mengarungi laut dengan memakai Mengarungi lautan dengan
kapal layar alat apa saja
Putera-puteri Dipakai untuk sebutan anak-anak Sebutan untuk semua anak
raja laki-laki dan perempuan
2. Menyempit, cakupan makna sekarang lebih sempit dari pada makna dahulu
Kata Dulu Sekarang
Sebutan untuk semua orang Gelar untuk orang yang
Sekarang
cendikiawan sudah lulus dari perguruan
tinggi
Sekolah yang mempelajari
Madrasah Sekolah
ilmu agama Islam
 Berdasarkan nilai rasanya, perubahan makna dibedakan atas :
1. Ameliorasi adalah perubahan makna ke tingkat yang lebih tinggi. Artinya baru dirasakan
lebih baik dari arti sebelumnya.
Contoh:
- Kata wanita dirasakan lebih baik nilainya daripada perempuan
- Kata istri atau nyonya dirasakan lebih baik daripada kata bini.
2. Peyorasi adalah perubahan makna ke tingkat yang lebih rendah. Arti baru dirasakan lebih
rendh nilainya dari arti sebelumnya.
Contoh:
- Kata perempuan sekarang dirasakan lebih rendah artinya
- Kata bini sekarang dirasakan kasar
 Pergeseran Makna
Pergeseran makna dibedakan atas 2 macam:
1. Asosiasi adalah pergeseran makna yang terjadi karena adanya persamaan sifat.
Contoh:
- Tasya menyikat giginya sampai bersih
- Pencuri itu menyikat habis barang-barang berhatga dirumah itu
2. Sinestesia adalah perubahan makna akibat adanya pertukaran tanggapan antara dua indra
yang berbeda.
Contoh:
- Sayur itu rasanya pedas sekali
- Kata-katanya sangat pedas didengar.
 Relasi Makna
1. Homonim adalah dua buah kata yang mempunyai persamaan tulisan dan pengucapan.
Contoh :
- Bisa berarti ;
o Dapat, sanggup
o racun
- Buku berarti ;
o Kitab
o antara ruas dengan ruas
2. Homograf adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai persamaan tulisan tetapi
berlainan pengucapan dan arti.
Contoh:
- Teras(inti) dengan teras(halaman rumah)
- Sedan(isak) dengan sedan(sejenis mobil)
- Tahu(paham) dengan tahu(sejenis makanan)
3. Homofon adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai persamaan pengucapan tetapi
berlainan tulisan dan arti
Contoh:
- Bang dengan bank
- Masa dengan massa
4. Sinonim adalah dua buah kata yang berbeda tulisan dan pengucapanya tetapi mempunyai arti
yang sama.
Contoh:
- Pintar dengan pandai
- Bunga dengan kembang
Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Oleh sebab itu, di
dalam sebuah karang mengarang sebaiknya dipergunakan sinomin kata supaya ada variasinya
dan ada pergantiannya yang membuat lukisan di dalam karangan itu menjadi hidup. Sinonim
dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal berikut ini :
 Pengaruh bahasa daerah
Contoh :
- Kata harimau yang diberi sinonim dengan macan .
- Kata auditorium bersinonim dengan kata pendopo.
- Kata rindu bersinonim dengan kata kangen
 Perbedaan dialek regional
Contoh :
- Handuk bersinonim tuala ,
- selop bersinonim seliper
 Pengaruh bahasa asing
Contoh :
- kolosal bersinonim besar,
- aula bersinonim ruangan,
- realita bersinonim kenyataan .
 Perbedaan dialek sosial
Contohnya :
- suami bersinonim laki,
- istri bersinonim bini,
- mati bersinonim wafat.
 Perbedaan ragam bahasa
Contohnya :
- membuat bersinonim menggubah,
- assisten bersinonim pembantu,
- tengah bersinonim madya.
 Perbedaan dialek temporal
Contohnya :
- hulubalang bersinonim komandan,
- kempa bersinonim stempel,
- peri bersinonim hantu .
5. Antonim adalah kata-kata yang berlawanan artinya.
Contoh:
- Tua- muda
- Besar – kecil
- Luas – sempit
6. Polisemi berasal adalah kata poly dan sema, yang masing-masing berarti’banyak’ dan
‘tanda’. Jadi polisemi berarti suatu kata yang memiliki banyak makna.
Contoh:
- Kata kepala yang mempunyai arti bahagian atas tubuh manusia tetapi dapat juga berarti
orang yang menjadi pimpinan pada sebuah kantor dan sebagainya.
- Kata kaki yang dipergunakan untuk menahan tubuh manusia tetapi dapat juga kaki meja
yang menahan meja.
c. Pilihan kata sesuai dengan Kaidah Lingkungan Sosial Kata
Diksi harus selalu diperhatikan lingkungan pemakian kata-kata. Dengan membedakan
lingkungan itu, pilihan kata yang kita lakukan akan lebih tepat dan mengena. Lingkungan itu
dapat kita lihat berdasarkan :
1. Tingkat sosial yang mengakibatkan terjadinya sosiolek
Contoh:
Kata- kata mati, meninggal dunia, wafat, tewas, mampus, mangkat kita bedakan
penggunaanya di dalam bahasa Indonesia berdasarkan rasa bahasa bukanlah melihat tingkat
sosialnya
2. Daerah/geografi yang mengakibatkan dialek
Contoh:
Kata-kata bis,kereta, dan motor kita bedakan penggunaanya berdasarkan geografinya
3. Formal/nonformal yang mengakibatkan bahasa baku/ tidak baku
Contoh:
Kata tersangka, terdakwa, dan tertuduh kita bedakan berdasarkan maknanya.
4. Umum dan khusus yang mengakibatkan terjadinya bahasa umum dan khusus.
 Makna Umum( hipernim) adalah makna yang cakupannya luas.
Contoh:
bunga, bulan, hewan, kendaraan
 Makna khusus( hiponim) adalah makna yang cakupannya sempit atau terbatas.
Contoh:
Hipernim Hiponim
Melihat Menengok,menatap, melirik,menjenguk,melotot
Bunga Melati, Anggrek, Sedap Malam
Bulan Januari,Februari, Maret
Hewan Ayam, Burung, kambing

d. Pilihan kata sesuai dengan kaidah mengarang.


Pilihan kata akan memberikan imformasi sesuai dengan apa yang dikehendaki. Pilihan
kata dengan kaidah mengarang memiliki kelompok kata yang berpasangan tetap, pilihan kata
langsung dan pilihan kata yang dekat dengar pembaca.
Contoh :
- Terdiri dari, terdiri dalam, terdiri atas
- Ditemani oleh, ditemani dari, ditemani dengan
- Ia menelpon kekasihnya (pilihan kata langsung), Ia memanggil kekasihnya melalui telepon
(pilihan kata yang panjang dan berbelit-belit)
- Tidak semua pendengar/pembaca mengerti singkatan balita, KISS, dan kelompencir.
2.3. Kata Ilmiah, Kata Populer, Kata Jargon dan Slang
a. Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia.
b. Kata popular adalah kata yang biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat
umum.
Berikut adalah contoh dari kata ilmiah dan kata populer tersebut.
Kata Ilmiah Kata Popular
Analogi kiasan
Frustasi rasa kecewa
Final akhir
Diskriminasi perbedaan perlakuan
Prediksi ramalan
Kontradiksi pertentangan
Format ukuran
Anarki kekacauan
Biodata biografi singkat
Bibliografi daftar pustaka
c. Jargon adalah kata-kata yang mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang
dianggap aneh kata ini juga merupakan kata sandi/kode rahasia untuk kalangan terterntu
(dokter,militer,perkumpulan rahasia,ilmuwan dsb).
Contohnya :
populasi, volume, abses, H2O,dan sebagainya.
d. Kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang berupa pengrusakan
sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Kata-kata ini bersifat
sementara,kalau sudah teras usang hilang atau menjadi kata-kata biasa.
Contohnya :
asoy, manatahan dan sesuatu ya .

2.4. Pilihan Kata dan Penggunaanya


1. Kata dari dan daripada
Contoh :
- Kertas itu terbuat dari kayu jati (keterangan asal)
- Peristiwa itu timbul dari peristiwa seminggu yang lalu (keterangan sebab)
- Buku itu ditulis dari pengalamanya selama di Jerman (menyatakan alasan)
2. Kata pada dan kepada
Contoh :
- Buku catatan saya ada pada Astuti (pengantar keterangan)
- Saya ketemu dengan dia pada suatu sore hari. (keterangan waktu)
3. Kata di dan ke
Contoh :
- Atik sedang berada di luar kota (fungsi kata depan di)
- Di saat usianya suadah lanjut, orang itu semakin malas belajar (keterangan waktu)
4. Kata dan dan dengan
Contoh :
- Ayah dan Ibu pergi ke Jakarta kemarin
- Ibu memotong kue dengan pisau
5. Kata antar dan antara
Contoh :
- Kabar ibu belum pasti,antara benar dan tidak (menyataan pemilihan)
- Dia akan tiba antara jam 04.00 sampai jam 06.00 (jangka waktu)
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kreativitas dalam memilih kata merupakan kunci utama pengarang dalam menulis
gagasan atau ungkapan. Penguasaan dalam pengolahan kata juga merupakan kunci utama
dalam menghasilkan tulisan yang indah, dapat dibaca serta ide yang ingin disampaikan
penulis dapat dipahami dengan baik.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang
ingin disampaikannya baik secara lisan maupun dengan tulisan. Pemilihan kata juga harus
sesuai dengan situasi kondisi dan tempat penggunaan kata–kata itu. Pembentukan kata atau
istilah adalah kata yang mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas
dalam bidang tertentu.

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa diksi mempunyai


persamaan yaitu sama-sama penulis ingin menyampaikan sesuatu di hasil karya tulisannya
dengan maksud agar pembaca dapat memahami maksud dan tujuan penulis.
3.2. Saran
Penulis mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam pembuatan makalah
ini mengenai pengetahuan diksi (pilihan kata). Penulis menyarankan kepada semua pembaca
untuk mempelajari pengolahan kata dalam membuat kalimat. Dengan mempelajari diksi
diharapkan mahasiswa dan mahasiswi memiliki ketetapan dalam menyampaikan dan
menyusun suatu gagasan agar yang disampaikan mudah dipahami dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Moeliono, Anton, 1991. Santun bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sugono, Dendy, 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa,Jakarta.

Amran, Tasai. 2010 Cermat Berbahasa Indonesia. (Jakarta :CV Akademika Pressindo.

Adi, Tri. 2007 Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, CV Andi Offset, Yogyakarta.

Rahaedi, Kunjana. 2003. Bahasa Indonesia perguruan tinggi. Erlangga. Jakarta

http://tugaskuliah15.blogspot.co.id/2015/10/makalah-bahasa-indonesia-diksi-atau.html

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada
mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi
kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri
dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya,
apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.
Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang
diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk
memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang
mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya.
Akibatnya muncullah sistem’barter’yaitu barang yang ditukar dengan barang.

Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di
antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang
diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk
memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran
yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-
pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar,
sehingga pada akhirnya manusia menemukan Alat Tukar yang disebut Uang.
Uang adalah alat pembayaran transaksiekonomi yang digunakan di suatu
negara.UntukIndonesia, mata uang adalah rupiah.Uang sendiri di dunia sudah seperti hal
yang sangat pokok, dimana semua manusia membutuhkannya.Di setiap Negara mempunyai
mata uang berbeda dengan nilai yang berbeda pula.

Uang merupakan alat pembayaran yang berlaku sekarang untuk semua transaksi jual-beli
baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Keberadaan uang menyediakan alternatif
transaksi yang lebih mudah dari pada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang
cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki
keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai.
Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong
perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas
dan kemakmuran

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Uang ?

2. Bagaimana Kriteria Uang ?

3. Apa Fungsi Uang ?

4. Apa Saja Jenis-jenis Uang ?

5. Bagaimana Sejarah Jenis-jenis Uang di Indonesia ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Pengertian Uang

2. Untuk mengetahui Kriteria Uang

3. Untuk mengetahui Fungsi Uang

4. Untuk mengetahui Jenis-jenis Uang

5. Untuk mengetahui Sejarah Jenis-jenis Uang di Indonesia

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Uang

Pengertian Secara Umum, Secara umum uang merupakan alat tukar yang diterima serta
mempermudah proses tukar menukar.
Pengertian Berdasarkan Fungsi, Berdasarkan fungsinya uang merupakan benda yang
berfungsi sebagai alat pembayaran.

Pengertian Berdasarkan Hukum, Berdasarkan hukum uang adalah benda yang telah
ditetapkan oleh undang-undang sebagai alat pembayaran yang sah.

Pengertian Berdasarkan Nilai, Pengertian uang berdasarkan nilai memiliki pengertian bahwa
uang adalah satuan hitung yang dapat digunakan untuk menyatakan nilai.

Beberapa ahli ekonomi yang mengemukakan tentang pengertian uang, di antaranya adalah
sebagai berikut:

 Roberson dalam bukunya Money

menyatakan uang adalah segala sesuatu yang umum diterima dalam pembayaran barang-
barang.

 R.S. Sayers

Dalam bukunya Modern Banking menyatakan uang adalah segala sesuatu yang umum
diterima sebagai pembayaran utang.

 A.C. Pigou

Dalam bukunya the Veil of Money menyatakan bahwa uang adalah segala sesuatu yang
umum dipergunakan sebagai alat penukar.

 Rolling G. Thomas

Dalam bukunya Our Modern Banking and Monetary System mendefinisikan uang adalah
segala sesuatu yang siap sedia dan pada umumnya diterima dalam pembayaran pembelian
barang-barang, jasa-jasa dan untuk membayar utang.

 Tri Kuna Wangsih dan Anto Pracoyo

Uang merupakan alat tukar yang diterima pleh masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah
atas kesatuan hitungnya.

 Rimski K Judisseno

Uang adalah suatu media yang diterima dan digunakan oleh para pelaku ekonomi untuk
memudahkan dalam bertransaksi

 Ima Rahmawati

Uang adalah benda yang disetujui oleh masyarakat umum sebagai alat perantara tukar
menukar dalam perdagangan

 A.C. Pigou
Uang adalah segala sesuatu yang umum dipergunakan sebagai alat tukar

 Walker

Uang adalah semua hal yang dapat dilakukan oleh uang itu. Dengan kata lain uang adalah
uang karena fungsinya sebagai uang dan bukan karena fungsi-fungsi yang lain

Dengan demikian, uang didefinisikan sebagai segala sesuatu (benda) yang diterima oleh
masyarakat sebagai alat perantara dalam melakukan tukar-menukar atau perdagangan.

2.2 Kriteria Uang / Syarat-syarat Uang

1. Acceptability dan Cognizability

Persyaratan utama dari sesuatu menjadi uang adalah diterima secara umum (acceptability)
dan diketahui secara umum (cognizability). Apabila sesuatu dapat diterima dan diketahui
secara luas kegunaannya sebagai alat tukar, penimbun kekayaan, dan standar cicilan hutang
maka sesuatu itu memenuhi syarat pertama sebagai uang.

2. Stability of Value

Sesuatu yang dapat berperan sebagai uang akan besar manfaatnya apabila nilainya relatif
stabil. Hal ini mengingat bahwa salah satu fungsi dari uang adalah sebagai alat penimbun
kekayaan. Orang akan lebih senang menyimpan kekayaan dalam bentuk sesuatu yang relatif
stabil nilainya. Dengan memilih sesuatu tersebut akan menjamin bahwa daya belinya tidak
akan berkurang terlalu banyak apabila ia menunda untuk membelanjakan kekayaannya.

3. Portability

Sesuatu yang berperan sebagai uang harus mudah dibawa untuk urusan setiap hari. Bahkan
transaksi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan uang dalam jumlah (fisik) yang kecil
jika nilai nominalnya besar. Kemudahan untuk dibawa-bawa memudahkan penggunaan uang
untuk transaksi.

4. Durability

Dalam transaksi, uang akan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Dengan adanya
pemindahaan ini mengharuskan uang tersebut tetap utuh (awet) dan terjaga nilainya secara
fisik. Kalau tidak, rusak atau pun robek akan menyebabkan penurunan nilainya dan
merusakkan kegunaan moneter dari uang tersebut. Ini berarti uang harus merupakan sesuatu
yang tidak mudah rusak yang menyebabkan penurunan nilai.

5. Divisibility

Uang digunakan untuk menetapkan transaksi dari berbagai jumlah, sehingga uang dari
berbagai nominal (satuan/unit) harus dicetak untuk mencukupi/melancarkan transaksi jual-
beli. Untuk itu harus tersedia uang dalam berbagai nilai. Untuk menjamin dapat
ditukarkannya uang satu dengan yang lainnya, semua jenis uang harus dijaga agar tetap
nilainya. Dengan demikian orang akan mudah melakukan transaksi, baik yang kecilnya
nilainya maupun yang besar.
6. Elasticity of supply

Jumlah uang yang beredar harus mencukupi kebutuhan dunia usaha (perekonomian).
Ketidakmampuan penyedian uang untuk mengimbangi kegiatan usaha akan mengakibatkan
perdagangan macet dan pertukaran dilakukannya seperti pada perekonomian barter, yaitu
barang ditukar dengan barang yang lain secara langsung. Mungkin bisa terjadi nilai uang
menjadi semakin mahal menyimpang dari nilai nominalnya karena uang menjadi langka.

Ciri keenam dari uang ini merupakan salah satu tugas pokok Bank Sentral. Bank
Sentral sebagai satu-satunya pencetak uang harus mampu melihat perkembangan
perekonomian yang selanjutnya harus mampu menyediakan uang yang cukup bagi
perkembangan perekonomian tersebut. Sebaliknya Bank Sentral harus bertindak dengan cepat
seandainya dirasa uang yang beredar terlalu banyak dibandingkan dengan kegiatan
perekonomian, dalam hal ini Bank Sentral harus mengurangi jumlah uang yang beredar.
Kemampuan Bank Sentral dan lembaga-lembaga keuangan yang lain dalam hal penyedian
uang yang harus dijamin tetap baik (bersifat elastis).

2.3 Fungsi Uang

Dalam sistem ekonomi global saat ini fungsi uang menjadi lebih besar dan meluas, tetapi
secara garis besar, Fungsi uang dibagi menjadi dua macam, yaitu fungsi asli dan fungsi
turunan.

1. Fungsi Asli/Fungsi Primer

Fungsi asli uang menunjukkan fungsi yang mula-mula melekat pada uang atau fungsi yang
mengacu pada tujuan awal diciptakannya uang yaitu :

a. Sebagai alat tukar umum (medium of exchange), yaitu uang berfungsi sebagai alat untuk
pertukaran dan mengatasi kesulitan dalam pertukaran secara natura (barter).

b. Sebagai satuan hitung (unit of account), yaitu uang berfungsi untuk menentukan nilai dari
suatu barang atau jasa, serta untuk menentukan besarnya harga.

2. Fungsi Turunan/Fungsi Sekunder

a. Sebagai alat pembayaran (means of payment), uang berfungsi untuk melakukan


pembayaran berbagai transaksi, misal pembayaran pajak, iuran, dan sebagainya.

b. Sebagai pembayaran utang (standard of deferred payment), uang berfungsi untuk


melakukan dan menentukan pembayaran kewajiban atau digunakan untuk standar
pembayaran utang.

c. Penimbun kekayaan artinya uang dapat disimpan telebih dahulu, yang nantinya akan
mempermudah dalam pertukaran di masa mendatang.

d. Sebagai alat pembentukan modal dan pemindahan modal (transfer of value), yaitu uang
berfungsi untuk menambah atau memperbesar modal usaha, baik dipergunakan sendiri
maupun dipinjamkan kepada orang lain yang membutuhkan modal tersebut.
e. Sebagai ukuran harga atau pengukur nilai (standard of value), yaitu uang berfungsi sebagai
alat untuk menentukan harga barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.

2.4 Jenis-Jenis Uang

1. Berdasarkan Bahan

Uang jika dilihat dari bahan untuk membuatnya terdiri atas dua macam sebagai berikut.

a. Uang Logam

Uang logam merupakan uang dalam bentuk koin yang terbuat dari logam. Bahan pembuat
uang logam antara lain aluminium, kupronikel, broze, emas, perak, atau perunggu. Biasanya
uang yang terbuat dari logam mempunyai nominal yang kecil. Di Indonesia uang logam
terdiri atas pecahan Rp25,00; Rp50,00; Rp100,00; Rp200,00; Rp500,00; dan Rp1.000,00.

b. Uang Kertas

Uang kertas merupakan uang yang bahannya terbuat dari kertas atau bahan lain. Uang kertas
harus dibuat dengan bahan berkualitas tinggi yang tahan air, tidak mudah robek, dan tidak
luntur. Uang kertas biasanya dibuat dalam nominal yang lebih besar sehingga mudah dibawa
dan digunakan dalam transaksi sehari-hari. Pecahan uang kertas di Indonesia mulai dari
Rp100,00; Rp500,00; Rp1.000,00; Rp5.000,00; Rp10.000,00; Rp20.000,00; Rp50.000,00;
dan Rp100.000,00.

2. Berdasarkan Nilai

Jenis uang dapat dilihat dari nilai yang terkandung pada uang tersebut. Nilai uang terdiri atas
nilai intrinsik, yaitu nilai bahan untuk membuat uang dan nilai nominal yaitu nilai yang
tertera dalam uang tersebut. Jenis uang berdasarkan nilainya terdiri atas dua jenis berikut.

a. Bernilai Penuh (Full Bodied Money)

Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut sama
nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum sama
dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari emas,
maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya

b. Bernilai Tidak Penuh (Representatif Full Bodied Money)

uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas uang lebih tinggi dari nilai bahan yang
digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai
intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang Rp1.000,00 pemerintah
mengeluarkan biaya Rp750,00.

3. Berdasarkan Lembaga yang Menerbitkan

Berdasarkan lembaga yang menerbitkan, uang dapat dibedakan sebagai berikut.

a. Uang Kartal
Uang kartal adalah alat pembayaran sah yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara
melalui bank sentral yang berupa uang logam dan uang kertas. Uang kartal di Indonesia
dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan dicetak oleh Perusahaan Umum Per-cetakan Uang
Republik Indonesia (Perum Peruri). Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang kertas.

 Uang logam

Uang logam adalah uang yang terbuat dari logam; biasanya dari emas atau perak karena
kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil, bentuknya mudah dikenali,
sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih
kecil tanpa mengurangi nilai.

 Uang kertas

Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan
merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang
Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran
yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).

b. Uang Giral

Uang giral adalah alat pembayaran berupa bilyet giro, cek, dan pemindahan telegrafis yang
dikeluarkan oleh bank kepada seseorang atau badan karena mempunyai simpanan rekening di
bank yang bersangkutan. Uang giral diterbitkan oleh bank umum atau bank komersial, Uang
Giral Terbagi yakni :

 Bilyet giro

Adalah memindahbukukan sejumlah uang dari rekening nasabah yang bersangkutan pada
rekening nasabah lain yang ditunjuk, Bilyet giro tidak dapat ditukar surat.

 Cek

Merupakan Surat Perintah dari nasabah yang memiliki rekening giro pada sebuah bank agar
bank tersebut membayar sejumlah uang secara tunai kepada pihak yang namanya tercantum
dalam cek.

 Pemindahan telegrafis (Telegraphic Transfer)

Merupakan pembayaran yang dilakukan dengan pemindahan antar rekening pada suatu bank
tertentu melalui telegram. Cara ini dipilih apabila jarak orang yang melakukan transaksi
berjauhan.

4. Berdasarkan Kawasan

Jenis uang ternyata juga dapat dilihat dari daerah atau wilayah berlakunya uang tersebut.

a. Uang Lokal
Uang lokal adalah uang yang dipergunakan dalam satu negara tertentu. Misalnya rupiah yang
digunakan di Indonesia, ringgit digunakan di Malaysia, dan rupee digunakan di India.

b. Uang Regional

Uang regional digunakan oleh beberapa negara dalam satu kawasan tertentu. Penggunaan
uang regional masih terbatas pada euro yang digunakan di kawasan Eropa. Akan tetapi,
bukan tidak mungkin dengan pesatnya perdagangan bebas uang regional semakin banyak
digunakan di beberapa kawasan perdagangan yang lain.

c. Uang Internasional

Uang internasional merupakan uang yang berlaku antarnegara hampir di seluruh dunia dan
menjadi standar pembayaran internasional. Contohnya US dolar yang sampai saat ini
digunakan sebagai standar pembayaran internasional.

2.5 Permintaan Dan Penawaran Uang

A. Permintaan Uang

Permintaan uang adalah sejumlah uang tertentu yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk
melakukan transaksi dalam perdagangan atau tujuan tertentu. Permintaan uang datang dari
empat pihak, yaitu:

1. Pihak perseorangan/konsumen,

2. Pihak pengusaha/produsen,

3. Pihak investor/penanam modal,

4. Pihak pemerintah (dapat bertindak sebagai produsen, konsumen, dan pengatur).

Dalam analisis John Maynard Keynes, masyarakat melakukan permintaan uang untuk
memenuhi tiga keinginan, yaitu sebagai berikut.

 Permintaan uang untuk tujuan transaksi, artinya uang dibutuhkan untuk membayar
pembelian-pembelian yang akan mereka lakukan. Memegang uang untuk tujuan transaksi
merupakan tujuan yang mendasar, karena dengan pemilikan uang dapat dengan mudah
melakukan pembelian barang-barang yang diinginkan. Permintaan uang untuk tujuan
transaksi meningkat jika antara penerimaan dan pengeluaran tidak seimbang. Permintaan
untuk motif ini dianggap tergantung pada tingkat pendapatan, artinya semakin tinggi
pendapatan, semakin banyak uang yang diperlukan oleh perusahaan atau perseorangan
untuk tujuan transaksi.
 Permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga, artinya uang sebagai alat untuk menghadapi
kesusahan yang mungkin timbul di masa yang akan datang, karena setiap orang tidak dapat
menduga kejadian-kejadian di hari esok. Permintaan uang untuk tujuan ini dipengaruhi oleh
tingkat pendapatan masyarakat atau pendapatan nasional.
 Permintaan uang untuk tujuan spekulasi, artinya uang digunakan untuk kegiatan spekulasi
(untung-untungan). dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akanmendapatkan
keuntungan dari peningkatan harga rumah, saham, atau emas di masa depan. Ini tentu
dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.

Faktor-faktor yang memengaruhi permintaan uang di antaranya sebagai berikut.

1. Adanya keinginan untuk memegang uang atau motif memegang uang.


2. Tingkat pendapatan riil, yaitu tingkat pendapatan yang benar-benar diterima oleh
masyarakat dan telah memperhitungkan unsur inflasi.
3. Tinggi rendahnya tingkat bunga.
4. Adanya investasi atau pengembangan usaha sehingga membutuhkan dana/uang.
5. Tingkat harga yang berlaku di pasar.

B. Penawaran Uang

Penawaran uang adalah sejumlah uang tertentu yang disediakan oleh pemerintah atau bank
untuk dapat dimiliki oleh masyarakat. Penawaran uang dapat memengaruhi tingkat harga,
tingkat bunga, dan tingkat kegiatan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, kenaikan
penawaran uang dalam perekonomian perlu dikendalikan. Tugas tersebut dipegang oleh bank
sentral.

Faktor-faktor yang memengaruhi penawaran uang di antaranya sebagai berikut.

1. Kebutuhan pemerintah, untuk memenuhi anggaran, untuk menekan tingkat inflasi (kenaikan
harga) dan untuk menambah jumlah uang yang beredar.
2. Keadaan internasional yang tidak stabil.
3. Perkembangan perdagangan luar negeri (kegiatan ekspor dan impor).
4. Sistem perbankan yang berlaku.
5. Penciptaan uang yang baru untuk menambah jumlah uang yang beredar.

2.6 Teori Uang

A. Teori Uang Statis

Teori Uang Statis atau disebut juga “teori kualitatif statis” bertujuan untuk menjawab
pertanyaan: apakah sebenarnya uang ? Dan mengapa uang itu ada harganya ? Mengapa uang
itu sampai beredar ? Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai
yang diakibatkan oleh perkembangan ekonomi. Yang termasuk teori uang statis adalah:

 Teori Metalisme (Intrinsik) oleh KMAPP

Uang bersifat seperti barang, nilainya tidak dibuat-buat, melainkan sama dengan nilai logam
yang dijadikan uang itu. Contoh: uang emas dan uang perak.

 Teori Konvensi (Perjanjian) oleh Devanzati dan Montanari

Teori ini menyatakan bahwa uang dibentuk atas dasar pemufakatan masyarakat untuk
mempermudah pertukaran.

 Teori Nominalisme
Uang diterima berdasarkan nilai daya belinya.

 Teori Negara

Asal mula uang karenanegara, apabila negara menetapkan apa yang menjadi alat tukar dan
alat bayar maka timbullah uang. Jadi uang bernilai karena adanya kepastian dari negara
berupa undang-undang pembayaran yang disahkan.

B. Teori uang dinamis

Teori ini mempersoalkan sebab terjadinya perubahan dalam nilai uang. Teori dinamis antara
lain:

 Teori Kuantitas dari David Ricardo

Teori ini menyatakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah
uang yang beredar. Apabila jumlah uang berubah menjadi dua kali lipat, maka nilai uang
akan menurun menjadi setengah dari semula, dan juga sebaliknya.

 Teori Kuantitas dari Irving Fisher

Teori yang telah dikemukakan David Ricardo disempurnakan lagi oleh Irving Fisher dengan
memasukan unsur kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang
memengaruhi nilai uang.

 Teori Persediaan Kas

Teori ini dilihat dari jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.

 Teori Ongkos Produksi

Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat
dipandang sebagai barang.

2.7 Sejarah Jenis-jenis Uang di Indonesia

Perkembangan jenis mata uang yang beredar di Indonesia setelah kemerdekaan 1945
beragam. Hal ini tentu tidak terlepas dari kondisi dan situasi yang penuh gejolak
pascakemerdekaan tersebut. Namun, setelah tahun 1951 dengan berlakunya Hukum Darurat
No. 20 Tahun 27 September 1951, di tetapkan alat pembayaran yang sah, kecuali Irian Barat,
adalah rupiah. Kemudian diperkuat lagi dengan keluarnya Undang-Undang Pokok Perbankan
Nomor 13 Tahun 1968 yang menetapkan satuan hitung uang Indonesia adalah Rupiah dan
disingkat Rp.

Adapun jenis-jenis mata uang sebelum keluarnya kedua peraturan dan undang-undang di atas
adalah sebagai berikut.

1. ORI
ORI atau Uang Republik Indonesia yang berlaku hanya di pulau jawa saja, di samping ada
mata uang lainnya.

2. URIDAB

URIDAB, yaitu Uang Republik Indonesia hanya di Daerah Banten

3. URIPS

URIPS, yaitu Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera yang berlaku di sebagian pulau
Sumatera. Hal ini disebabkan ada beberapa mata uang yang berlaku di Sumatera

4. URITA

URITA, yaitu Uang Republik Indonesia Tapanuli yang berlaku di daerah Tapanuli saja

5. URIPSU

URIPSU, yaitu Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera Utara yang berlaku di provinsi
Sumatera Utara

6. URIBA

URIBA, yaitu Uang Republik Indonesia baru Aceh yang berlaku di daerah Aceh

7. UDMP

UDMP, yaitu Dewan Mandat Pertahanan daerah Palembang yang berlaku di Palembang.

2.8 Arti Penting Uang Dalam Perekonomian

1. Arti Penting Uang dalam Produksi

Produsen memproduksi dan menjual barang an jaanya sehingga memperoleh keuntungan


dalam bentuk uang pada investasi kapitalnya. Bila keuntungan yang diperoleh ditanamkan
kembali untuk menambah pabrik atau peralatan baru, maka investasi ini akan menguntungkan
bagi masyarakat karena bertambahnya aliran barang dan jasa yang dapat dikonsumsi
olehmasyarakat.

2. Arti Penting Uang dalam Pertukaran dan Konsumsi

Melalui keberadaan uang yang diterima secara umum sebagai alat pertukaran barang/jasa,
maka aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen semakn lancar. Kelancaran pada
sistim pertukaran uang ini meningkatkan standar hidup masyarakat.

3. Arti Penting Uang pada Masyarakat

Masyarakat pada umumnya menggunakan uang untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa,
dimana ini menjamin kesediaan masyarakat dalam menukarkan uangnya dengan barang-
barang dan jasa-jasa. Sehingga setiap orang puas pada pekerjaannya yang sudah sesuai untuk
mendapatkan penghasilan dalam bentuk uang. Pembagian tugas (spesialisasi) merupakan ciri
kas dari masyarakat modern yang akan meningkatkan produsksi, pertukaran dan kesejaheraan
masyarakat.

akalah Bahasa Indonesia Diksi (Pilihan Kata)


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai dengan
bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga penggunaan
bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas suatu masyarakat tersebut. Sebagai
makhluk sosial kita tidak bisa terlepas dari berkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas.
Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai ketika seseorang berkomunikasi dengan pihak
lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan menangkap informasi dikarenakan pemilihan kata yang
kurang tepat ataupun dikarenakan salah paham.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam
berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih
mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan.
Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa
tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak
dengan kata-kata yang kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari baik dalam segi makna dan relasi, gaya bahasa, ungkapan, jargon, kata slang, kata kajian,
kata popular, kata sapaan dan kata serapan.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana penjelasan mengenai diksi?
C. Batasan Masalah
1. Apa pengertian dari diksi?
2. Apa saja syarat ketepatan diksi?
3. Makna kata dan relasi kata
4. Perubahan makna
5. Gaya bahasa
6. Apa saja syarat-syarat diksi?
7. Kata sapaan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Diksi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras
(dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti
yang diharapkan)”. Sedangkan menurut Wikipedia pengertian diksi adalah sebagai berikut:
1. Diksi merupakan pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara.
2. Diksi merupakan seni berbicara yang jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami.
Pengertian ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi dapat pula diartikan pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam
berbicara di depan umum atau dalam karang mengarang (Kridalaksana, 1982: 35). Diksi bukan hanya
berarti pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau
menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan
sebagainya.
Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu
gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-
ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata
yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau
perbendaharaan kata bahasa itu.

B. Syarat Ketepatan Diksi


Syarat Ketepatan Diksi yaitu kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata
merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur
setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak
dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata.
Dalam hal ini, makna kata yang tepat lah yang diperlukan.
Berikut merupakan syarat-syarat ketepatan diksi:
1) Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi
2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim
3) Membedakan kata-kata dalam ejaannya
4) Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri
5) Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing
6) Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis.
C. Kesesuaian Diksi
1. Syarat-syarat kesesuaian diksi
Adapun Syarat-syaratnya adalah:
· Hindari sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi formal.
· Gunakan kata ilmiah hanyadalam situasi khusus saja
· Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum
· Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari kata-kata slang
· Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.
· Hindarilah ungkapan-ungkapan usang
· Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial
2. Kata ilmiah dan kata popular
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum pelajar dalam berkomunikasi maupun
dalam tulisan-tulisan ilmiah seperti karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis, desertasi. Selain
itu digunakan pada acara-acara resmi.
Kata popular adalah kata yang biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat
umum. Misalnya : Dalam kata ilmiah kontradiksi sedangkan dalam kata popular pertentangan.

3. Jargon
Jargon adalah kata kata yang mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap
kurang sopan atau aneh. Contohnya: Udah ujan, becek, gak ada ojek.
4. Kata slang
Kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang berupa pengrusakan sebuah kata
biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Contoh Slang : asoy, manatahan.

D. Makna Kata dan Relasi Kata


Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah
makna dan relasi makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yg tidak selalu
berdiri sendiri.
Adapun makna kata terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
1. Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna yang lugas yang menyampaikan sesuatu secara faktual. Makna
denotative tidak akan mengalami perubahan makna. Makna konotatif adalah makna yang bukan
sebenarnya, yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami
penambahan.
Makna konotatif selalu berubah dari zaman ke zaman. Contoh: Kata kurus pd contoh di atas
bermakna konotatif netral, artinya tdk memiliki nilai rasa yg mengenakkan, tetapi kata ramping
bersinonim dg kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yg mengenakkan. Orang akan senang
bila dikatakan ramping.
2. Makna Umum dan Makna Khusus
Kata umum adalah kata yang cakupannya lebih luas. Kata khusus adalah kata yang memiliki
cakupan yang lebih sempit atau khusus. Misalnya bunga termasuk kata umum, sedangkan kata
khusus dari bunga adalah mawar, melati , anggrek.
3. Makna Leksikal dan makna Gramatikal
Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna
yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan.
Contoh: Kata nyamuk, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit.
Makna Gramatikal adalah untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan
pengulangan kata, seperti kata: meja yg bermakna “sebuah buku,” menjadi meja-meja yang bermakna
“‘ banyak meja.”
4. Makna Peribahasa
Makna pribahasa adalah makna yang bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka
lazim juga disebut dengan nama perumpamaan.
Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dl peribahasa.
5. Makna Kias dan Lugas
Makna kias adalah kataataupun kalimat yg tidak mengandung arti yang sebenarnya. Contoh: raja
siang, bermakna mathari.
6. Kata Konkrit dan Kata Abstrak
Kata konkrit adalah kata yang dapat diserap oleh panca indra. Misalnya meja, air, dan suara.
Sedangkan kata abstrak adalah kata yang sulit diserap oleh panca indra. Misalnya kemerdekaan,
kebebasan.

Adapun relasi makna terbagi atas beberapa kelompok yaitu :


a. Kesamaan Makna (Sinonim)
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang sama, tapi bentuknya berlainan.
Contoh: mati dan wafat.
b. Kebalikan Makna (Antonim)
Antonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang berbeda atau dianggap
kebalikan dari makna. Contoh: kata luas berantonim dengan kata sempit.
c. Ketercakupan Makna (Hiponim)
Hiponim adalah sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap
merupakan bagian dari makna suatu ungkapan.
Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.
d. Kelebihan Makna (Redundansi)
Redundansi dapat diartikan sebagai kalimat yang berlebih-lebihan yang sebenarnya tidak perlu
dicantumkan.Contoh : Buku dibawa Clara, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan buku dibawa
oleh Clara. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai suatu yang redundansi, yang
berlebih- lebihan, dan sebenarnya tidak perlu.

E. Perubahan Makna
Macam-macam perubahan makna:
1. Perluasan arti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata
yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi
sebuah kelas makna yang lebih umum.
2. Penyempitan arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang
lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.
3. Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau
lebih baik nilainya dari arti yang lama.
4. Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makna sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti
yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.
F. Gaya Bahasa
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu
untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara
khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Ø Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodic.
Ø Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur.
Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari
yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif
karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak
lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu.
Ø Antithesis
adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan
mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
Ø Repetisi
Adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi
tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Ø Erotesis atau pertanyaan retoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk
mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki
adanya suatu jawaban.
Ø Sinekdoke
Adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang berarti menerima
bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figurative, yang mempergunakan sebagian dari
sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk
menyatakan sebagian (totum pro parte).
Ø Eufimisme
Eufimisme adalah ungkapan yang halus untuk menggantikan kata-kata yang dirasakan menghina
ataupun menyinggung perasaan.
Anak Anda memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. (=bodoh)
Ø Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan
membesar-besarkan suatu hal.
Hatiku tercabik-cabik, ketika kau mengakhiri hubungan kita.

Ø Metafora
Gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal secara implicit. Contohnya Banyak
mahasiswa yang mencoba memperebutkan mawar fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu. Pada
kalimat di atas, kata mawar digunakan untuk menyebut gadis. Ini berarti, keduanya diperbandingkan.
Komponen makna penyama: cantik/indah, segar, harum, berduri, cepat layu. Komponen makna
pembeda: untuk “gadis” adalah manusia, berjenis wanita, untuk “mawar” adalah bagian dari tanaman.
Ø Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang menampilkan binatang, tanaman, atau benda sebagai manusia. Contoh:
melambai-lambai nyiur di pantai.
Ø Sarkasme
Sindiran langsung dan kasar.kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan
kasar.
Ø Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Ø Litotes
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Contohnya
Rumah yang buruk inilah yang merupakanhasilusaha kami bertahun-tahun lamanya.
Ø Pleonasme
Disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan yang jika dihilangkan, artinya tetap utuh. Contohnya
Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri. Ungkapan di atas adalah pleonasme karena
semua kata tersebut memiliki makna yang sama, walaupun dihilangkan kata-kata: dengan telinga
saya,

G. Kata Sapaan
Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara
(orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga.
Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan:
1. Nama diri seperti Toto, Nur.
2. Kata yag tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi.
3. Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, professor, dokter.
4. Kata nama, seprti tuan, nyonya, sayang.
5. Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, atau hadirin.
6. Kata ganti persona kedua Anda.
Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat istiadat setempat, adat kesantunan serta
situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat
kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun yang
perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata
sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dipaparka didepan, maka kami mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Diksi adalah pilihan kata yang tepat untuk mengemukakan gagasan sehingga diperoleh efek yang
diharapkan. Diksi merupakan faktor yang penting dalam berkomunikasi, yang digunakan agar tidak
terjadi kesulitan dalam memahami informasi.
Diksi tidak hanya digunakan dalam bahasa lisan saja namun juga digunakan dalam bahasa tulis
(jurnalistik), Adapun penggunaaan dari diksi digunakan dalam makna kata dan relasi makna, gaya
bahasa, jargon dan kata slang, juga kata sapaan.
B. Saran
Harapan kami agar masyarakat dapat memahami dan menerapkan diksi (pilihan kata) dalam
aktivitasnya.

DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia, Jakarta, 1985.
Adi, Tri, Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, CV Andi Offset, Yogyakarta, 2007.
Sugono, Dendy, Buku Praktis Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa,Jakarta, 2003.
Moeliono, Anton, Santun bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1991.
www.wikipedia.com
http://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&q=pilihan+kata+dalam+
bahasa+indonesia&star=10
http://duniapuspits.blogspot.co.id/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_5191.html
Sugono, Dendy, Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar, Gramedia, Jakarta, 2009.

Common questions

Didukung oleh AI

Uang Kartal adalah uang dalam bentuk fisik seperti logam dan kertas yang sah dan wajib diterima untuk transaksi sehari-hari. Dikeluarkan oleh bank sentral, uang kartal memiliki nilai nominal tetap dan bersifat kurang elastis dibandingkan uang giral. Sebaliknya, Uang Giral merupakan uang dalam bentuk simpanan di bank, digunakan melalui instrumen seperti cek dan giro, dan tidak diwajibkan diterima dalam transaksi sehari-hari. Sifat elastisitasnya lebih tinggi karena dapat dengan mudah digunakan dalam transaksi non-tunai .

Suatu benda harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar dapat diakui sebagai "uang". Pertama, benda tersebut harus diterima secara umum (acceptability). Selain itu, bahan yang dijadikan uang harus tahan lama (durability), memiliki kualitas yang seragam (uniformity), jumlahnya harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik, dan tidak mudah dipalsukan (scarcity). Uang juga harus mudah dibawa (portable), mudah dibagi tanpa mengurangi nilainya (divisibility), dan memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).

Perlindungan hukum terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) penting karena menciptakan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya kreativitas di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Perlindungan HaKI mendorong penciptaan dan penyebaran hasil kebudayaan, yang secara langsung mempercepat pertumbuhan kecerdasan dan meningkatkan edukasi. Dengan adanya perlindungan HaKI, karya-karya dapat berkembang tanpa risiko replika yang tidak diinginkan, menjaga integritas dan kualitas budaya .

Fungsi turunan dari uang selain fungsi utamanya adalah: 1) Uang sebagai alat pembayaran yang sah, 2) Uang sebagai alat pembayaran utang, 3) Uang sebagai alat penimbun kekayaan, 4) Uang sebagai alat pemindah kekayaan, dan 5) Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi .

Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena kedua logam ini memenuhi syarat-syarat efisiensi uang. Emas dan perak memiliki harga yang cenderung tinggi dan stabil, mudah dikenali dan diterima oleh orang, serta tidak mudah musnah. Selain itu, emas dan perak mudah dibagi-bagi menjadi unit yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai .

Menurut kajian WIPO, sistem HaKI yang baik memberikan berbagai manfaat, antara lain meningkatkan posisi perdagangan dan investasi, mengembangkan teknologi, mendorong perusahaan untuk bersaing secara internasional, membantu komersialisasi suatu invensi, mengembangkan sosial budaya, dan menjaga reputasi internasional untuk kepentingan ekspor. Dengan demikian, HaKI memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan pengayaan budaya .

Uang giral tidak dianggap sebagai alat pembayaran yang sah karena penggunaannya bukan mengikat; masyarakat dapat menolak membayar atau menerima pembayaran dengan uang giral. Uang giral disimpan dalam bentuk simpanan di bank dan digunakan untuk transaksi melalui instrumen seperti cek, giro, atau transfer telegrafis. Fungsi uang giral lebih praktis dan aman, tetapi tidak memiliki status legal yang mengharuskan penerimaan oleh siapa pun, berbeda dari uang kartal yang merupakan alat bayar sah dan wajib diterima .

Dasar hukum untuk Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) di Indonesia mencakup beberapa undang-undang nasional antara lain: UU No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, UU No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten, UU No. 15 tahun 2001 tentang Merek, dan UU No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta .

Sejarah perundang-undangan HaKI di Indonesia dimulai sejak tahun 1840 ketika pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan peraturan tersebut. Selama masa kolonial, Belanda mengundangkan beberapa undang-undang terkait HaKI, termasuk Undang-Undang Merek pada tahun 1885, Undang-Undang Paten pada tahun 1910, dan Undang-Undang Hak Cipta pada tahun 1912. Setelah kemerdekaan, Indonesia telah memperkenalkan undang-undang yang lebih komprehensif untuk melindungi berbagai aspek Hak Kekayaan Intelektual seperti merek, hak cipta, dan hak paten .

Uang logam memiliki tiga macam nilai: 1) Nilai Intrinsik, yaitu nilai bahan pembuatannya seperti emas dan perak, 2) Nilai Nominal, yaitu nilai yang ditunjukkan di atasnya yang menunjukkan jumlah emas atau perak yang diimplikasikan, dan 3) Nilai Tukar, yaitu daya beli uang tersebut dalam mendapatkan barang atau jasa .

Anda mungkin juga menyukai