Pengertian Uang
Pengertian Uang
Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang didefinisikan sebagai alat tukar yang
dapat diterima secara umum. Alat tukar dapat berupa benda apa saja yang
dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran
barang dan jasa. Sebelum uang diciptakan, masyarakat pada zaman dahulu
melakukan perdagangan dengan cara barter. Barter merupakan pertukaran
barang dengan barang.
1. Sejarah Uang
Pada lingkungan masyarakat yang masih sederhana pemenuhan kebutuhan
hidup dilakukan dengan jalan tukar-menukar barang yang diinginkan dengan
barang lain yang disebut barter atau dikenal dengan istilah innatura.
Pertukaran innatura ini bisa terjadi apabila terdapat dua orang saling
membutuhkan barang yang dipertukarkan dan memiliki kebutuhan yang
harus bersifat timbal balik. Namun, sesuai dengan makin berkembangnya
kebudayaan manusia, sistem barter ini mengalami kesulitan yaitu sebagai
berikut :
FUNGSI UANG
a. Alat tukar
1. Tahan lama
2. Diterima tanpa keraguan
3. Ringan dan mudah dibawa
4. Nominalnya harus dapat dipecah-pecah
5. Tidak mudah dipalsukan
b.Satuan hitung
Sebagai satuan hitung untuk mempermudah masyarakat untuk menghitung
nilai satu barang dalam mata uang. Tanpa adanya fungsi satuan hitung, kita
akan sulit membandingkan harga barang satu dengan yang lainnya. Dengan
skala yang lebih luaws, tanpa adanya uang sebagai satuan hitung, orang
akan kesulian membandingkan harga satu rumah dengan rumah yang lain,
dan lain sebagainya.
JENIS UANG
Uang Kartal
Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat
bayar yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat dalam melakukan
transaksi jual beli sehari-hari.
Uang Bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang
logam dan uang kertas, Ciri-cirinya sebagai berikut.
• Dikeluarkan oleh Bank Sentral
• Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan di bank sentral
• Bertuliskan nama bank sentral negara yang bersangkutan (di Indonesia :
Bank Indonesia)
• Ditandatangani oleh gubernur bank sentral.
Jenis Uang Kartal Menurut Bahan Pembuatnya
A. Uang logam
Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak
memenuhi syarat-syarat uang yang efesien. Karena harga emas dan perak
yang cenderung tinggi dan stabil, emas dan perak mudah dikenali dan
diterima orang. Di samping itu, emas dan perak tidak mudah musnah. Emas
dan perak juga mudah dibagi-bagi menjadi unit yang lebih kecil. Di zaman
sekarang, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai
nominalnya. Nilai nominal itu merupakan pernyataan bahwa sejumlah emas
dengan berat tertentu terkandung di dalamnya.
• Tahan lama dan tidak mudah rusak (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah
(Rp. 500,00).
Nilai Tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan
dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya
dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat
ditukarkan dengan semangkuk bakso).
Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap
tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU
No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang
kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas
atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).
Uang kertas mempunyai nilai karena nominalnya. Oleh karena itu, uang
kertas hanya memiliki dua macam nilai, yaitu nilai nominal dan nilai tukar.
Ada 2(dua) macam uang kertas :
Uang Kertas Negara (sudah tidak diedarkan lagi), yaitu uang kertas
yang dikeluarkan oleh pemerintah dan alat pembayaran yang sah
dengan jumlah yang terbatas dan ditandatangani mentri keuangan.
Uang Kertas Bank, yaitu uang yang dikeluarkan oleh bank sentral,
Beberapa keuntungan penggunaan alat tukar (uang) dari kertas di
antaranya :
Penghematan terhadap pemakaian logam mulia
Ongkos pembuatan relatif murah dibandingkan dengan ongkos
pembuatan uang logam.
Peredaran uang kertas bersifat elastis (karena mudah dicetak dan
diperbanyak) sehingga mudah diseusaikan dengan kebutuhan akan
uang
Mempermudah pengiriman dalam jumlah besar
Uang Giral
Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat
akan adanya sebuah alat tukar yang lebih mudah, praktis dan aman. Di
Indonesia, bank yang berhak menciptakan uang giral adalah bank umum
selain Bank Indonesia. Menurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992,
definisi uang giral adalah tagihan yang ada di bank umum, yang dapat
digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Bentuk uang giral
dapat berupa cek, giro, atau telegrafic transfer.
Uang giral bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Artinya,
masyarakat boleh menolak dibayar dengan uang giral.
PERMINTAAN UANG
Permintaan uang diartikan sebagai kebutuhan masyarakat akan uang tunai.
Menurut John Maynard Keynes ada 3 motif yang mempengaruhi permintaan
uang tunai oleh masyarakat. Ketiga motif tersebut yaitu:
1. Motif Transaksi (Transaction motive)
2. Motif Berjaga-jaga (Precautionary motive)
3. Motif Spekulasi (Specualtive motive)
Untuk dapat memahami secara lebih mudah tentang ketiga motif tersebut
berikut ini akan diuraikan satu persatu.
PENAWARAN UANG
Penaran uang lebih populer dinyatakan dengan istilah jumlah uang yang
beredar. Dalam laporan data statistik, jumlah uang beredar biasanya
dilambangkan dengan huruf M. Dissini ada beberapa definisi yang berbeda
mengenai jumlah uang yang beredar tergantung dari tingkat likuiditasnya.
Pada umumnya uang beredar didefinisikan sebagai berikut.
Secara sederhana penawaran uang atau jumlah uang yang beredar terdiri
atas uang logam, uang kertas, simpanan giro, deposito berjangka, berbagai
macam tabungan, dan rekening valuta asing milik swasta domestik.
Penawaran uang dipengaruhi oleh pemerintah dengan berbagai kebijakan
yang ditetapkan. Lembaga yang biasanya bertanggungjawab mengatur dan
menjalankan kebijakan khususnya kebijakan moneter adalah bank sentral.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap ide-ide yang cemerlang dan kreatif yang tercipta dari seseorang atau sekelompok
orang sebagai bentuk dari kemampuan intelektual manusia yang berguna dan memberi dampak
baik dari berbagai aspek perlu di akui dan perlu dilindungi, agar ide-ide cemerlang dan kreatif
yang telah diciptakan tidak diklaim atau di bajak oleh pihak lain. Untuk itu diperlukan wadah
yang dapat membantu dan menaungi ide-ide cemerlang dan kreatif tersebut. Untuk tingkat
internasional organisasi yang mewadahi bidang HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) adalah
WIPO (World Intellectual Property Organization).
Di Indonesia sendiri untuk mendorong dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil
kebudayaan di bidang karya ilmu pengetahuan, seni, dan sastra serta mempercepat pertumbuhan
kecerdasan kehidupan bangsa, maka dirasakan perlunya perlindungan hukum terhadap hak cipta.
Perlindungan hukum tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih
baik untuk tumbuh dan berkembangnya gairah mencipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan
sastra di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Di Indonesia, Undang-undang yang melindungi karya cipta adalah Undang-undang nomor 6
tahun 1982 tentang hak cipta, dan telah melalui beberapa perubahan dan telah diundangkan
Undang-Undang yang terbaru yaitu Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang
mulai berlaku 12 (dua belas) bulan sejak diundangkan. Tidak hanya karya cipta, invensi di
bidang teknologi (hak paten) dan kreasi tentang penggabungan antara unsur bentuk, warna, garis
(desain produk industri) serta tanda yang digunakan untuk kegiatan perdagangan dan jasa
(merek) juga perlu diakui dan dilindungi dibawah perlindungan hukum. Dengan kata lain Hak
atas Kekayaan Intelektual (HaKI) perlu didokumentasikan agar kemungkinan dihasilkannya
teknologi atau karya lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka secara umum rumusan masalah pada
makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Apa yang dimaksud dengan HaKI?
2) Apa saja ruang lingkup HaKI?
3) Apa pengertian dan landasan hukum dari hak cipta, hak paten, desain industri dan merek?
4) Bagaimana sifat dan dasar hukum HaKI?
5) Mengapa HaKI itu penting?
6) Bagaimana sejarah perkembangan perlindungan HaKI di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam pembahasan makalah ini, yang berjudul “HAK ATAS KEKAYAAN
INTELEKTUAL” berdasarkan rumusan masalah di atas, adalah untuk membahas hal-hal yang
sesuai dengan permasalahan yang diajukan antara lain:
1) Untuk mengetahui pengertian HaKI.
2) Untuk mengetahui ruang lingkup HaKI.
3) Untuk mengetahui pengertian dan landasan hukum hak cipta, hak paten, desain industri dan
merek.
4) Untuk mengetahui sifat dan dasar hukum HaKI.
5) Untuk mengetahui pentingnya HaKI.
6) Untuk mengetahui sejarah perkembangan perlindungan HaKI di Indonesia.
D. Manfaat Penulisan
Selain tujuan daripada penulisan makalah, perlu pula diketahui bersama bahwa manfaat
yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah dapat menambah khazanah
keilmuan terutama di bidang hukum terutama hukum Bisnis dan semoga keberadaan hukum ini
dapat memberi masukan bagi semua pihak.
E. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi pustaka yang berorientasi
pada buku-buku Hukum Bisnis
BAB II
PEMBAHASAN
C. Pengertian dan Dasar Hukum dari Hak Cipta, Paten (Patent), Desain Industri (Industrial
Design) dan Merek (Trademark)
1. Hak Cipta
Hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengatur penggunaan hasil penaungan
gagasan atau informasi tertentu. Dalam undang-undang hak cipta adalah hak eksklusif pencipta
atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan- pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku. (Pasal 1 butir 1)
Dasar hukum Hak Cipta: Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
2. Hak Paten
Hak eksklusif yang diberikan oleh Negara atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang
untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri untuk ivensinya tersebut atau memberikan
persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Dasar hukum Hak Paten: Undang-Undang No 14 tahun 2001 tentang Hak Paten.
3. Desain Industri
Suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis atau warna, atau gabungan dari
padanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan
suatu barang komoditas atau kerajinan tangan.
Dasar hukum: Undang-Undang No 13 tahun 2000 tentang Desain Industri.
4. Hak Merek
Hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik merek terdaftar dalam daftar
umum merek dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau
memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya.
Dasar hukum hak merek: Undang-Undang No 15 tahun 2001 tentang Merek.
G. Analisis Kasus
Dikaitkan dengan kasus yang ada suatu merek tidak dapat didaftar atas dasar permohonan
yang diajukan pemohon yang beritikat tidak baik dan pemohon ada niat dan sengaja untuk
meniru, membonceng atau menjiplak ketenaran merek lain demi kepentingan usahanya yang
mengakibatkan menimbulkan kerugian pihak lain atau menyesatkan konsumen. Pemohon adalah
pihak yang mengajukan permohonan. Permohonan yaitu permintaan pendaftaran merek yang
diajukan secara tertulis kepada Direktorat Jenderal. Direktorat Jenderal adalah Direktorat
Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang berada di bawah departemen yang dipimpin oleh
Menteri.
Pendaftaran suatu merek berfungsi sebagai berikut:
a) Untuk barang bukti bagi pemilik yang berhak atas merek yang terdaftar,
b) Dasar penolakan terhadap merek yang sama keseluruhannya atau sama pada pokoknya yang
dimohonkan oleh permohonan lain untuk barang atau jasa sejenis,
c) Dan untuk mencegah orang lain memakai merek yang sama keseluruhan atau sama pada
pokoknya dalam peredaran untuk barang atau jasa sejenis.
Syarat dan Tata cara Permohonan Pendaftaran Merek menurut Undang-Undang No. 15 Tahun
2001 tentang Merek terdapat pada pasal 7 yaitu:
1. Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Direktorat Jenderal dengan
mencantumkan:
o Tanggal, bulan, dan tahun;
o Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon;
o Nama lengkap dan alamat Kuasa apabila Permohonan diajukan melalui Kuasa;
o Warna-warna apabila merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur-unsur warna;
o Nama negara dan tanggal permintaan Merek yang pertama kali dalam hal Permohonan diajukan
dengan Hak Prioritas.
2. Permohonan ditandatangani Pemohon atau Kuasanya.
3. Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu orang atau beberapa orang
secara bersama, atau badan hukum.
4. Permohonan dilampiri dengan bukti pembayaran biaya.
5. Dalam hal Permohonan diajukan oleh lebih dari satu Pemohon yang secara bersama-sama
berhak atas Merek tersebut, semua nama Pemohon dicantumkan dengan memilih salah satu
alamat sebagai alamat mereka.
6. Dalam hal Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Permohonan tersebut
ditandatangani oleh salah satu dari Pemohon yang berhak atas Merek tersebut dengan
melampirkan persetujuan tertulis dari para Pemohon yang mewakilkan.
7. Dalam hal Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diajukan melalui Kuasanya, surat
kuasa untuk itu ditandatangani oleh semua pihak yang berhak atas Merek tersebut.
8. Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (7) adalah Konsultan Hak Kekayaan Intelektual.
9. Ketentuan mengenai syarat-syarat untuk dapat diangkat sebagai Konsultan Hak kekayaan
Intelektual diatur dengan Peraturan Pemerintah, sedangkan tata cara pengangkatannya diatur
dengan Keputusan Presiden.
Di dalam kasus “LOTTO” ini, “LOTTO” Singapura memiliki bukti. Memiliki nomor
pendaftaran merek dari Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman dengan
pendaftaran No. 137430, yang diajukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Terdapat
kelalaian yang dilakukan oleh Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman dengan
memberikan nomor pendaftaran juga kepada “LOTTO” Indonesia.
Setelah pengajuan perkara “LOTTO” Singapura ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
dengan alasan bukti kasus tersebut tidak kuat, akhirnya “LOTTO” Singapura mengajukan
permohonan kasus kepada Mahkamah Agung. Tidak hanya menuntut “LOTTO” milik Hadi
Darsono (Tergugat I), mereka juga menuntut Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman bagian merek (Tergugat II) karena telah lalai memberikan nomor pendaftaran merek
kepada perusahaan yang namanya sama tetapi berbeda usaha barangnya setelah perusahaan
pertama mendaftarkan mereknya kepada Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman.
Terdaftarnya suatu merek dagang pada Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman dapat dibatalkan oleh Hakim bilamana merek ini mempunyai persamaan baik dalam
tulisan ucapan kata, maupun suara dengan merek dagang yang lain yang sudah terlebih dulu
dipakai dan didaftarkan, walaupun kedua barang tersebut tergolong tidak sejenis terutama bila
hal tersebut berkaitan dengan merek dagang yang sudah terkenal didunia internasional.
Dalam kasus ini Mahkamah Agung konsisten pada putusannya dalam perkara merek terkenal
Seven Up – LANVIN – DUNHILL: MA-RI No. 689 K/SIP/1983 dan MA-RI No. 370
K/SIP/1983, yang isinya sebagai berikut: Suatu pendaftaran merek dapat dibatalkan karena
mempunyai persamaan dalam keseluruhan dengan suatu merek yang terdahulu dipakai atau
didaftarkan, walaupun untuk barang yang tidak sejenis, terutama jika menyangkut merek dagang
terkenal. Pengadilan tidak seharusnya melindungi itikad buruk Tergugat I. Tindakan Tergugat I,
tidak saja melanggar hak Penggugat tetapi juga melanggar ketertiban umum di bidang
perdagangan serta kepentingan khalayak ramai.
Setelah memeriksa perkara ini Mahkamah Agung dalam putusannya berpendirian bahwa
judex facti salah menerapkan hukum, Pengadilan Negeri mengesampingkan kenyataan bahwa
Penggugat adalah pemakai pertama dari merek LOTTO di Indonesia. Ini merupakan syarat
mutlak untuk mendapatkan perlindungan hukum menurut UU Merek No. 21 tahun 1961.
Sementara itu, Tergugat I tidak dapat mengajukan bukti-bukti yang sah dengan tidak dapat
membuktikan keaslian bukti-bukti yang diajukannya.
Sehingga putusannya harus dibatalkan selanjutnya, Mahkamah Agung akan mengadili sendiri
perkara ini. Pendirian Mahkamah Agung tersebut di dasari oleh alasan juridis yang intinya
sebagai berikut :
Newk Plus Four Far East Ltd, Singapore telah mendaftarkan merek LOTTO di Direktorat Paten
& Merek Departemen Kehakiman RI tanggal 29/6/1976 dan 4-3-1985.
Merek “LOTTO” secara umum telah terkenal di kalangan masyarakat sebagai merek dagang
dari luar negeri. Merek tersebut mempunyai ciri umum untuk melengkapi seseorang yang
berpakaian biasa atau berkaitan olah raga beserta perlengkapannya.
Merek “LOTTO”, yang didaftarkan Tergugat I adalah jenis barang handuk dan saputangan, pada
6 Oktober 1984.
Mahkamah Agung berpendapat, walaupun barang yang didaftarkan Tergugat I berbeda dengan
yang didaftarkan Penggugat, tetapi jenis barang yang didaftarkan Tergugat I tergolong
perlengkapan berpakaian seseorang. Dengan mendaftarkan dua barang yang termasuk dalam
kelompok barang sejenis kelengkapan berpakaian seseorang dengan merek yang sama, dengan
kelompok barang yang telah didaftarkan lebih dahulu, Mahkamah Agung menyimpulkan
Tergugat I ingin dengan mudah mendapatkan keuntungan dengan cara menumpang keterkenalan
satu merek yang telah ada dan beredar di masyarakat. Hal ini berarti Tergugat I dalam prilaku
perdagangannya yaitu menggunakan merek perniagaan yang telah ada merupakan perbuatan
yang bersifat tidak jujur, tidak patut atau tidak mempunyai itikad baik.
Dengan pertimbangan tersebut di atas, akhirnya Mahkamah Agung memberikan putusan yang
amarnya sebagai berikut:
a. Mengadili:
b. Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
c. Mengadili Sendiri :
o Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
o Menyatakan Penggugat sebagai pemakai pertama di Indonesia atas merek dagang “LOTTO” dan
oleh karena itu, mempunyai hak tunggal/khusus untuk memakai merek tersebut di Indonesia.
o Menyatakan bahwa merek “LOTTO” milik Tergugat I yaitu yang didaftarkan pada Tergugat II
dengan nomor registrasi 87824 adalah sama dengan merek Penggugat baik dalam tulisan, ucapan
kata, maupun suara, dan oleh karena itu dapat membingungkan, meragukan serta memperdaya
khalayak ramai tentang asal-usul dan kualitas barang.
o Menyatakan pendaftaran merek dengan registrasi 187824 dalam daftar umum atas nama Tergugat
I batal, dengan segala akibat hukumnya.
o Memerintahkan Tergugat II untuk mentaati putusan ini dengan membatalkan pendaftaran merek
dengan nomor registrasi 197824 dalam daftar umum.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setiap karya-karya yang lahir dari buah pikir yang cemerlang yang berguna bagi manusia
perlu di akui dan dilindungi. Untuk itu sistem HaKI diperlukan sebagai bentuk penghargaan atas
hasil karya. Disamping itu sistem HaKI menunjang diadakannya sistem dokumentasi yang baik
atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya teknologi atau karya
lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah. Dengan dukungan dokumentasi yang baik
tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk keperluan
hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi
lagi.
B. Saran
Ditinjau dari sudut perangkat perundang-undangan, Indonesia sudah mempunyai perangkat
yang cukup di bidang HaKI. Namun pengetahuan tentang HaKI dan perangkat perundang-
undangan dimasyarakat dirasakan masih kurang dan perlu ditingkatkan, sehingga perlindungan
HaKI betul-betul dapat ditegakkan.
http://dinnirwanrusti20.blogspot.co.id/2014/09/makalah-hak-atas-kekayaan-intelektual.html
pukul 09;50 28,09,2017
BAB I
PENDAHULUAN
Penulis menggunakan uang sebagai judul makalah ini karena mengingat kita tidak pernah
terlepas atau jauh dari yang namanya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup s e h a r i -
alat pemenuhan kebutuhan anusia itu terbatas. Penulis juga mengharapkan kepada
pembacauntuk bisa mengenal uang lebih jauh lagi,bukan hanya sekedar mengetahui
kegunaanyanamun kita juga harus mengetahui sejarah terbentuknya uang dan syarat-
syaratnya.D a l a m p e m b a h a s a n m a k a l a h i n i p e n u l i s m e n g h a r a p k a n s e m o g a
Uang merupakan alat pembayaran yang berlaku sekarang untuk semua transaksi jual-beli baik
secara langsung maupun tidak secara langsung. Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang
lebih mudah dari pada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam
sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk
melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan
menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang
A. Pengertian Uang
B. Sejarah
C. Fungsi
D. Syarat-syarat
E. Jenis
Maksud dari penulisan makalah ini, agar dapat memberi manfaat kepada semua pihak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Uang
Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang didefinisikan sebagai alat tukar yang dapat diterimasecara
umum. Alat tukar dapat berupa benda apa saja yang dapat diterima oleh setiap orang dimasyarakat
dalam proses pertukaran barang dan jasa. Sebelum uang diciptakan, masyarakatpada zaman dahulu
melakukan perdagangan dengan cara barter. Barter merupakan pertukaranbarang dengan barang.
B. Sejarah
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada
mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi
kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari
bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang
mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup
untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat
dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang
lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem'barter'yaitu barang yang ditukar dengan
barang. Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di
antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga
mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat
dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.
Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk
digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-
benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar
diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan
primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun
sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang:
orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.
Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu
antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga
penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit
dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga
mudah hancur atau tidak tahan lama. Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam.
Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama
dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam
yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam
emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan)
uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu,
setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak
terbatas dalam menyimpan uang logam. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu
anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam
bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam
juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas Mula-mula
uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara
untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang
yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-
waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak
lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka
C. Fungsi
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan
barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi
uang dibedakan menjadi dua yaitu fungsi asli dan fungsi turunan.
1) Fungsi Asli
Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai
penyimpan nilai.
Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah
pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang,
tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan
Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk
kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan
harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk
memperlancar pertukaran.
Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk
mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini
menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia
dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa
mendatang.
2) Fungsi Turunan
Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi
Kebutuhan manusia akan barang dan jasa yang semakin bertambah dan beragam tidak dapat
dipenuhi melalui cara tukar-menukar atau barter. Guna mempermudah dalam mendapatkan
barang dan jasa yang diperlukan, manusia memerlukan alat pembayaran yang dapat diterima
Uang dapat digunakan untuk mengukur pembayaran pada masa yang akan datang.
Sebagian orang biasanya tidak menghabiskan semua uang yang dimilikinya untuk keperluan
konsumsi. Ada sebagian uang yang disisihkan dan ditabung untuk keperluan di masa datang.
Seseorang yang hendak pindah dari suatu tempat ke tempat lain dapat memindahkan
kekayaannya yang berupa tanah dan bangunan rumah ke dalam bentuk uang dengan cara
menjualnya. Di tempat yang baru dia dapat membeli rumah yang baru dengan menggunakan
Apabila nilai uang stabil orang lebih bergairah dalam melakukan investasi. Dengan adanya
Suatu benda dapat dijadikan sebagai "uang" jika benda tersebut telah memenuhi syarat-
syarat tertentu. Pertama, benda itu harus diterima secara umum (acceptability). Agar dapat
diakui sebagai alat tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau —setidaknya—
dijamin keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. Bahan yang dijadikan uang juga harus
tahan lama (durability), kualitasnya cenderung sama (uniformity), jumlahnya dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity). Uang juga harus mudah
dibawa, portable, dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility), serta
memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).
E. Jenis
Uang yang beredar dalam masyarakat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang
kartal (sering pula disebut sebagai common money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat
bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli
sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang
dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan.
Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk
menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk
Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat bayar yangsah dan wajib
Menurut Undang-Undang Pokok Bank Indonesia No. 11/1953, terdapat dua jenis uang kartal,yaitu uang
Uang negara adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, terbuat dari kertas yangmemiliki ciri-ciri :
Namun, sejak berlakunya Undang-undang No. 13/1968, uang negara dihentikan peredarannya dan
diganti dengan Uang Bank.Uang Bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang logam
Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan dibank sentral
Bertuliskan nama bank sentral negara yang bersangkutan (di Indonesia : Bank Indonesia)
A. Uang logam
Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak memenuhi syarat-syarat uang yang
efesien. Karena harga emas dan perak yang cenderung tinggidan stabil, emas dan perak mudah dikenali dan
diterima orang. Di samping itu, emasdan perak tidak mudah musnah. Emas dan perak juga mudah
dibagi-bagi menjadi unityang lebih kecil. Di zaman sekarang, uang logam tidak dinilai dari berat
emasnya,namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal itu merupakan pernyataan bahwasejumlah emas
Nilai Intrinsikyaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilaiemas dan perak yang
digunakan untuk mata uang. Menurut sejarah, uang emas danperak pernah dipakai sebagai uang. Ada
beberapa alasan mengapa emas dan perak dijadikan sebagai bahan uang antara lain :
Tahan lama dan tidak mudah rusak (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp.500,00).
Nilai Tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengansuatu barang (daya beli
uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkandengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat
ditukarkan dengansemangkuk bakso).Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan
cap tertentu danmerupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun
1999tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalambentuk lembaran yang terbuat
macam nilai, yaitu nilai nominal dan nilai tukar. Ada 2(dua) macamuang kertas :
Uang Kertas Negara (sudah tidak diedarkan lagi), yaitu uang kertas yangdikeluarkan oleh pemerintah dan
alat pembayaran yang sah dengan jumlahyang terbatas dan ditandatangani mentri keuangan.
Uang Kertas Bank , yaitu uang yang dikeluarkan oleh bank sentral,
Peredaran uang kertas bersifat elastis (karena mudah dicetak dan diperbanyak)sehingga mudah diseusaikan
Uang Giral
Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan adanya sebuahalat tukar yang
lebih mudah, praktis dan aman. Di Indonesia,bank yang berhak menciptakanuang giral adalah bank
umum selain Bank Indonesia.Menurut UU No. 7 tentangPerbankan tahun 1992, definisi uang giral
adalah tagihan yang ada di bank umum,yangdapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran.
Giro, Permintaan seseorang yg mempunyai rekening di bank supaya bank membayar dg cara
Cek, Surat perintah dari seseorang yg mempunyai rekening di bank agar bank membayarkan sejumlah
Perintah membayar, Orang yang mempunyai rekening di bank, memerintahkan secara langsung untuk
Telegraphic transfer, Orang yang mempunyai rekening di bank, memerin tahkan bank agar memba
yarkan sejumlah uangnya kepada seseorang dg cara memindahkan/ mentransfer rek.melalui telegram
Penyetoran uang tunai kepadabank dan dicatat dalamrekening koranatas nama penyetor, penyetor
menerima buku cek dan buku biro gilyet. Uang tersebut sewaktu-waktu dapat diambil atau penyetor
menerima pembayaran utang dari debitur melalui bank. Penerimaan piutang itu oleh bank dibukukan
dalam rekening koran orang yangbersangkutan. Cara di atas disebut primary deposit.
Karena transaksi surat berharga. Uang giral dapat diciptakan dengan cara menjualsurat berharga ke
bank, lalu bank membukukan hasil penjualan surat berharga tersebutsebagai deposit dari yang menjual.
Mendapat kredit dari bank yang dicatat dalam rekening koran dan dapat diambil sewaktu-waktu. Cara ini
Alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, nilainyasesuai dengan yang
Lebih aman karena risiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bisa segeradilapokan ke bank yang
Menurut nilainya
Menurut nilainya, uang dibedakan menjadi uang penuh (full bodied money) dan uang
Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut
sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum
sama dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari
emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas
uang lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain
nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang
Teori nilai uang membahas masalah-masalah keuangan yang berkaitan dengan nilai
uang. Nilai uang menjadi perhatian para ekonom, karena tinggi atau rendahnya nilai uang
sangat berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi. Hal ini terbukti dengan banyaknya teori uang
yang disampaikan oleh beberapa ahli. Teori uang terdiri atas dua teori, yaitu teori uang statis
Teori Uang Statis atau disebut juga "teori kualitatif statis" bertujuan untuk menjawab
pertanyaan: apakah sebenarnya uang? Dan mengapa uang itu ada harganya? Mengapa uang
itu sampai beredar? Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai yang
diakibatkan oleh perkembangan ekonomi. Yang termasuk teori uang statis adalah:
Uang bersifat seperti barang, nilainya tidak dibuat-buat, melainkan sama dengan nilai logam
yang dijadikan uang itu. Contoh: uang emas dan uang perak.
Teori ini menyatakan bahwa uang dibentuk atas dasar pemufakatan masyarakat untuk
mempermudah pertukaran.
Teori Nominalisme
Teori Negara
Asal mula uang karena negara, apabila negara menetapkan apa yang menjadi alat tukar dan
alat bayar maka timbullah uang. Jadi uang bernilai karena adanya kepastian dari negara berupa
Teori ini mempersoalkan sebab terjadinya perubahan dalam nilai uang. Teori dinamis
antara lain:
Teori ini menyatakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah
uang yang beredar. Apabila jumlah uang berubah menjadi dua kali lipat, maka nilai uang akan
Teori yang telah dikemukakan David Ricardo disempurnakan lagi oleh Irving Fisher dengan
memasukan unsur kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang
Teori ini dilihat dari jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.
Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat
PERMINTAAN UANG
Permintaan uang diartikan sebagai kebutuhan masyarakat akan uang tunai. Menurut JohnMaynard
Keynes ada 3 motif yang mempengaruhi permintaan uang tunai oleh masyarakat.Ketiga motif tersebut
yaitu:
2.Motif Berjaga-jaga (
Precautionary motive)
Terkait dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita menggunakan uang untuk membeli
barangdan jasa atau untuk membayar tagihan. Permintaan uang untuk transaksi memiliki
hubunganpositif dengan pendapatan. Jika pendapatan naik, maka permintaan uang untuk
Permintaan terhadap uang bisa saja karena orang ingin berjaga-jaga terhadap suatu
peristiwayang tidak dikehendaki seperti sakit, kecelakaan, kebanjiran dan kebakaran. Permintaan
Spekulasi berarti melakukan sesuatu tindakan atas dasar ramalan perubahan nilai harta dimasa
depan. Jika seorang spekulan meramalkan bahwa harga rumah, nilai saham, atau hargaemas akan
meningkat dimasa depan, mereka akan membeli rumah, saham, atau emas, danbukan menyimpan uang.
Jadi, dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akanmendapatkan keuntungan dari peningkatan harga
rumah, saham, atau emas di masa depan. Initentu dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang adalah sebagai berikut.
2.Cepat atau lambatnya laju peredaran uang. Kecepatan peredaran uang dipengaruhioleh faktor berikut.
a) kebiasaan pembayaran konsumen, apakah tunai atau angsuran, sebab ini akanberpengaruh terhadap
c) Praktik-praktik bank, hal ini berkaitan dengan keluar masuknya uang melalui bank.
PENAWARAN UANG
Penawaran uang lebih populer dinyatakan dengan istilah jumlah uang yang beredar.
Dalamlaporan data statistik, jumlah uang beredar biasanya dilambangkan dengan huruf M. Dissiniada
beberapa definisi yang berbeda mengenai jumlah uang yang beredar tergantung daritingkat
M1 adalah uang kertas dan logam (kartal) ditambah simpanan dalam bentuk rekeningkoran (uang
kertas, simpanan giro, deposito berjangka, berbagai macam tabungan, dan rekeningvaluta asing milik
swasta domestik. Penawaran uang dipengaruhi oleh pemerintah denganberbagai kebijakan yang ditetapkan.
Lembaga yang biasanya bertanggungjawab mengaturdan menjalankan kebijakan khususnya kebijakan moneter
adalah bank sentral.Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran uang adalah sebagai berikut.
1. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin sedikit jumlah uang yang beredar. Semakinrendah tingkat bunga,
2. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, semakin banyak uang yang beredar karenasemakin sering melakukan
transaksi.
3. Semakin banyak (padat) jumlah penduduk, semakin banyak dan semakin cepat uangberedar.
4. Keadaan geografis di perkotaan lebih cepat dan lebih banyak jumlah uang yangberedar dibanding di
pedesaan.
5. Struktur ekonomi, negara agraris berbeda dengan negara industri, negara industriperedaran uang lebih
6 .Penguasaan IPTEK penduduk. Iptek negara yang lebih maju lebih banyak dan lebihcepat uang beredar dibandingkan dengan
7. Globalisasi industri di lingkungan dunia usaha. Semakin global dan arus modalekonomi antarnegara yang
semakin meningkat, uang yang beredar juga dipengaruhioleh transaksi-transaksi internasional dalam hal
Permasalahan HAKI di Indonesia memang tergolong kompleks yang tidak dapat diselesaikan
hanya dengan membalikan telapak tangan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk
menyekesaikan sistem HAKI agar sejalan dengan ketentuan internasional yang telah disepakati. Perlahan
tapi pasti perubahan menuju keadaan yang lebih baik yang menghargai karya intelektual orang lain akan
berusaha untuk dicapai.
Cukup banyak prestasi yang telah dicapai oleh pemerintah Indonesia dalam rangka
“membumikan” HAKI di Indonesia yang masih terkenal sebagai sarang pembajak. Hal ini memang bukan
hal yang mudah. Kegiatankegiatan sosialisasi HAKI masih tetap perlu dilakukan. Begitu pula usaha untuk
melengkapi semua produk hukum dibidang HAKI sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang
yang telah ada. Lengkapnya aturan main disertai dengan upaya penegakan hukumnya diharapkan dapat
menjadikan Indonesia sebagai tempat yang kondusif bagi investasi asing dan memperbaiki citra
Indonesia di dunia internasional.
Sama halnya dengan undang-undang tentang merek maupun paten, undang-undang tentang
hak cipta juga telah beberapa kali mengalami perubahan, yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982
yang telah diubah pada tahun 1987 (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987), tahun 1997 (Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 1997), dan terakhir pada tahun 2002.
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Hak Atas Kekayaan Intelektual atau juga yang dikenal dengan HAKI merupakan terjemahan atas
istilah Intellectual Property Right. Istilah tersebut terdiri dari tiga kata kunci, yaitu Hak, Kekayaan, dan
Intelektual. Kekayaan merupakan abstraksi yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijual. Adapun
Kekayaan Intelektual merupakan kekayaan ata segala hasil produksi kecerdasan daya pikir seperti
teknologi, pengetahuan, seni, sastra, gubahan lagu, karya tulis, karikatur, dan seterusnya. Terakhir HAKI
merupakan hak-hak (wewenang atau kekuasaan) untuk berbuat seseuatu atas kekayaan intelektual
tersebut, yang diatur oleh norma-norma atau hukum-hukum yang berlaku.
Hak Atas Kekayaan Intelektual sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru di Indonesia. Sejak
zaman pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia telah mempunyai undang-undang tentang hak atas
kekayaan intelektual yang sebenarnya merupakan pemberlakuan peraturan perundang-undangan
pemerintahan Hindia Belanda yang berlaku di negara Belanda itu sendiri, dan diberlakukan di Indonesia
sebagai negara jajahan Belanda berdasarkan prinsip konkordansi.
Sejak tahun 1961 sampai dengan tahun 1999, yang berarti selama 54 tahun sejak Indonesia
merdeka, bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual yang telah mendapat perlindungan dan pengaturan
dalam tata hukum Indonesia baru tiga bidang, yaitu merek, hak cipta dan hak paten. Adapun empat
bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual lainnya varietas tanaman, rahasia dagang, desain industri, serta
desain tata letak sirkuit terpadu, baru mendapat pengatuan dalam hukum positif Indonesia pada tahun
2000, dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Varietas Tanamandan
mulai berlaku efektif sejak tahun 2004, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang,
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
4.2 SARAN
Ditinjau dari sudut perangkat perundang-undangan, Indonesia sudah mempunyai perangkat yang
cukup di bidang HAKI. Namun pengetahuan tentang HaKI dan perangkat perundang-undangan
dimasyarakat dirasakan masih kurang dan perlu ditingkatkan, sehingga perlindungan HAKI betul-betul
dapat ditegakkan. Perlu adanya sosialisi terhadap masyarakat agar masyarakat lebih mengetahui apa itu
HAKI dan pentingnya HAKI bagi karya-karya yang sudah dihasilkan oleh masyarakat. Akan tidak
berharga jika karya yang sudah diciptakan malah sudah terdaftar atas nama orang lain. Perlunya
pendaftaran HAKI atas karya yang sudah diciptakan agar hal seperti ini tidak terjadi. Pemerintah juga
hendaknya perlu mengupayakan perbaikan-perbaikan di bidang perlindungan dan penegakan hukum
HAKI agar tidak lagi masuk dalam kategori Priority Watch Listdan akan mendapat sanksi ekonomi yang
dapat berupa ekspor, pengurangan kuota perdagangan bahkan sampai dengan embargo ekonomi. Keadaan
tersebut dapat menghambat masuknya investasi ke Indonesia, apabila pemerintah tidak secepatnya
memperbaiki sistem HAKI ini, dan reputasi Indonesia di mata dunia internasional akan benar-benar
terancam.
Sekarang ini banyak kasus-kasus pelanggaran HAKI yang belum bisa pemerintah selesaikan.
Untuk itu, maka pemerintah seharusnya dapat segera mengambil tindakan tegas untuk menuntaskan
kasus-kasus pelanggaran HAKI yang ada, karena penuntasan kasus tersebut sangatlah penting untuk
mengembalikan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sutedi, Adrian, S.H., M.H. 2009. Hak Atas Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika
2. Kansil, CST, Prof. Drs. S.H., &Kansil, Christine ST, S.H. 2001. Hukum Perusahaan Indonesia (Aspek
Hukum Dalam Ekonomi). Jakarta: PT Pradnya Paramita
3. Fuady, Munir, S.H., M.H., LL.M. 2002. Pengantar Hukum Bisnis. Bandung: PT Citra
Aditya.
4. Djaja, Ermansjah, Dr., S.H., M.Si. 2009. Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika
5. UUD Perlindungan HAKI. Bandung: PT Citra Umbara
http://ummiadliyah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-hak-atas-kekayaan-intelektual.html
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas ini. Maksud dari penulisan tugas ini
adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Bisnis program S-I pada fakultas Ekonomi Jurusan
Administrasi Perkantoran.
makalah ini sebaik-baiknya. walaupun sebenarnya makalah ini masih belum sempurna dan masih
banyak kesalahan di sana sini. Oleh karena itu penyusun berharap pembaca dapat memberi kritik
dan saran yang membangun agar makalah ini lebih baik lagi.
Akhir kata penyusun berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat sebagai
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan bernegara terdapat berbagai norma yang mengatur kehidupan agar
terjadi keseimbangan dan keteraturan hidup. Ketika salah satu norma tersebut tak dijalankan
dengan benar maka akan berpotensi terjadi hal yang tak diinginkan, dan roda kehidupan akan
tersendat.
Ada beberapa norma yang tertulis maupun tidak tertulis. Norma yang tertulis salah satunya
adalah norma hukum. Meskipun hukum sebagi aturan yang baku dan harus dikuti, namun tetap saja
banyak pihak yang memandang hukum sebagi sesuatu yang bisa dbeli dngan uang dan kekuasaan.
Termasuk didalamnya hukum tentang pengaturan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang saat ini
semakin diperhatikan oleh khalayak. Karena banyaknya klaim dan semakin sulitnya proses peradilan
untuk menindaklanjuti klaim tersebut jika tak memiliki hukum yang kuat.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan HAKI ?
b. Apa saja yang termasuk HAKI ini?
c. Bagaimana Sejarah perkembangan HAKI di Indonesia?
C. TUJUAN
a. Untuk mengetahui pengertian HAKI atau H.KI
b. Untuk mengetahui ruang Lingkup HaKI atau HKI
c. Untuk mengetahui pengertian dan landasan hukum dari Hak cipta, Paten (Patent), dan Merek
(Trademark)
d. Untuk mengetahui sifat hukum HAKI atau HKI
e. Untuk mengetahui pentingnya HAKI atau HKI
f. Untuk mengetahui Sejarah perkembangan Perlindungan HAKI atau HKI di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HAKI
Hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau biasa disingkat HKI(Hak Kekayaan Intelektual)
adalah hak eklusif yang diberikan oleh hukum yang berkaitan dengan usaha manusia, didasarkan
kepada kemampuan intelektual yang memiliki nilai ekonomi.
B. CABANG-CABANG HAKI
1. Hak cipta (copy right)
Hak cipta adalah hak eklusif hak (hak yang semata-mata diperuntukan bagi pemegangnya
sehingga tidak ada pilihan lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya)
bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya atau
memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan-
peraturan yang berlaku. Di Indonesia, pengaturan hak cipta diatur dalam UU No. 19 tahun 2002
tentang hak cipta (UUHC).
Sifat kebendaan hak cipta yaitu benda bergerak tidak berwujud. Hak cipta ini bisa beralih dari
satu orang ke orang lain tapi tidak bisa secara lisan harus dengan bukti otentik secara tertulis baik
tanpa atau dengan akta notaris.
Ciptaan yang dilindungi berdasarkan UUHC pasal 12 ayat 1 yaitu ciptaan dalam bidang ilmu
pengetahuan, seni, dan sastra yang mencakup:
1. Buku, program computer, pamflet, perwajahan (layout), karya tulis yang diterbitkan
2. Ceramah, kuliah, pidato
3. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan
4. Lagu dan music dengan atau tanpa teks
5. Drama atau drama musical, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomin.
6. Seni rupa dalam segala bentuk, seperti seni lukis, gambar seni ukir, kaligrafi, seni pahat, seni patung,
kolase, dan seni terapan.
7. Arsitektur
8. Peta
9. Seni batik, fotografi
10. Sinamatografi
11. Terjemahan, tafsir saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dalam hal pengalihwujudan.
Sebuah ciptaan untuk mendapat perlindungan hukum Negara harus memiliki dua syarat,
yaitu:
1. Material form : suatu ide atau pemikiran yang telah dituangkan dalam bentuk nyata. Jadi yang
dilindungi bukan merupakan suatu ide atu pemikiran.
2. Originality : suatu ciptaan itu benar-benar berasal dari orang yang mengaku sebagai penciptanya,
bukan merupakan tiruan atau perbanyakan dari suatu ciptaan yang telah ada.
1. Tidak dianggap pelanggaran hak cipta apabila berupa Perbuatan yang tidak dapat dituntut sebagai
perbuatan melanggar hak cipta, antara lain:
a. Mengumumkan dan atau memperbanyak lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifat
aslinya
b. Mengumumkan dan atau memperbanyak segala sesuatu yang diumumkan dan atau diperbanyak
oleh pemerintah, kecuali apabila hak cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan pernyataan ciptaan
itu sendiri ataupun ketika ciptaan itu diumumkan dan diperbanyak.
2. Tidak dianggap pelanggaran hak cipta dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan dan
diumumkan, antara lain:
a. Penggunaan ciptaan hak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah,
penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan
kepentingan yang wajar dari pencipta
b. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian guna keperluan pembelaan di
dalam atau diluar pengadilan
c. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya ataupun sebagian guna keperluan:
1. Ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan
2. Pertunjukan dan pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan
kepentingan yang wajar dari pencipta
d. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, sastra dalam huruf braile guna keperluan
para tuna netra, terkecuali jika perbanyakan itu bersifat komersial
e. Perbanyakan suatu ciptaan selain program computer secara terbatas dengan cara atau alat apapun
atau proses serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan
pusat dokumentasi yang non komersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya.
f. Perubahan dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan pemilik program computer yanag
semata-mata dilakukan untuk digunakan sendiri.
Pencipta adalah orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan pada Direktorat
Jendral HKI atau orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan sebagai pencipta pada
suatu ciptaan. Hak pencipta dibagi 2, yaitu:
1. Hak ekonomi (economi right) adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi bagi penciptanya
atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat atas ciptaan serta produk hak terkait.
2. Hak moral ( moral right) adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat
dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apapun walaupun hak ekonomi pada hak cipta atau hak
terkait telah dialihkan, kecuali dengan persetujuan pencipta dengan persetujuan ahli warisnya dalam
pencipta telah meninggal dunia, sehingga pada intinya hak moral mempunyai dua macam hak, yaitu:
a. The raight to protect the integrity of work, yaitu hak pencipta bahwa ciptaannya diumumkan atau
diperbanyak harus ditampilkan secara utuh tanpa distorsi, mutilasi dan bentuk pemutar balikan
lainnya, pemotongan, perusakan, penggantian yang berhubungan dengan karya cipta yang pada
akhirnya akan merusak apresiasi dan reputasi pencipta
b. Attributation atau authorship right, yaitu hak pencipta bahwa setiap ciptaannya digunakan secara
umum, harus dicantumkan nama atau nama samarannya meskipun hak ekonomimya telah dialihkan
Pendaftaran hak cipta bukan merupakan suatu kewajiban bagi pencipta karena sejak adanya
ciptaan itu dengan atau tanpa didaftarkan telah dilindungi. Namun demikian, Direktorat jendral HKI
Departemen Hukum dan HAM RI menyelenggarakan pendaftaran ciptaan dan dicatat dalam daftar
umum ciptaan.
Sanksi pidana
1. Barang siapa memperbanyak atau mengumumkan suatu ciptaan tanpa izin pencipta atau pemegang
hak ciptanya dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat satu bulan dan denda
paling sedikit Rp 1.000.000,00 dan pidana penjara paling lama 7 tahun dengan denda paling banyak
Rp 5.000.000.000,00
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum
suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00
3. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan
komersial suatu program computer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda
paling banyak Rp 500.000.000,00
1. Kebaruan (novelty)
2. Langkah-langkah inventif (inventive steps)
3. Dapat diterapkan dalam industry (industrial aplicable)
Jangka waktu paten selama 20 tahun sejak tanggal penerimaan dan tak bisa diperpanjang
sementara paten sederhana 10 tahun.
Subjek paten adalan investor atau yang menerima lebih lanjut hak inventor yang
bersangkutan.
Paten dapat beralih atau dialihkan baik sebagian ataupun seluruhnya, karena: pewarisan,
hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab lain yang dibenarkan dalam undang-undang .
Sanksi pidana:
1. Barangsiapa dengan tanpa sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00
2. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten sederhana dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,00
1. Lembaga yang mewakili masyarakat didaerah yang memproduksi barang yang bersangkutan
2. Lembaga yang memberikan kewenangan untuk itu
3. Kelompok konsumen barang
Merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 tahun sejak tanggal
penerimaan pendaftaran dan jangka waktu itu bisa diperpanjang.
Hak atas merek terdaftar dapat beralih atau dialihkan karena, pewarisan, wasiat, hibah,
perjanjian, sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan
Sanksi pidana
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya
dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan atau jasa sejenis diproduksi dan atau
diperdagangkan dipidana dengan pidana penjara pling lama 5 tahun dan atau denda paing banyak
Rp 1.000.000.000,00
2. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada pokoknya dengan
merek terdaftar milik pihak lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau
diperdagangkan dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak
Rp 800.000.000,00
10 prinsip penting UU Merek Indonesia:
1. Merek merupakan sebuah tanda yang membedakan sebuah produk barang atau jasa dengan produk
barang atau jasa lain yang sejenis
2. Perlindungan merek diberikan dengan pendaftaran
3. Pihak yang mengajukan permohonan dibatasi
4. Jangka waktu perlindungan merek dapat diperpanjang
5. UU merek menyediakan pengecualian khusus terhadap perlindungan indikasi asal yang tak harus
didaftarkan
6. Menganut asas pendaftar pertama.
7. Menggunakan prinsip permohonan merek yang beritikad baik
8. Penghapusan merek oleh Direktorat Jendral HKI terjadi karena 4 kemungkinan, yaitu atas prakarsa
Direktorat Jendral HKI, atas permohonan dari pemegang merek, keputusn pengadilan, tidak
diperpanjangnya jangka waktu perlindungan merek
9. Putusan pengadilan niaga hanya data diajukan kasasi
10. Menyadarkan proses tuntutan pidana berdasarkan delik aduan
Seperti telah disinggung di atas, Indonesia telah memiliki perangkat hukum yang memadai di
bidang perlindungan hak kekayaan intelektual. Indonesia telah meratifikasi konvensi-konvensi
internasional di bidang hak kekayaan intelektual seperti Paris Convention, Berne Convention,
maupun Trade Related Aspects of Intellectuals Property Rights (TRIPs). Perangkat hokum di bidang
hak keyaan intelektual yang dipunyai Indonesia diantaranya adalah:
a. UU No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman
b. UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
c. UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
d. UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
e. UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten
f. UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek
g. UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
h. UU No. 7 Tahun 1994 Tentang Ratifikasi Trade Related Aspects of Intellectuals Property Rights (TRIPs)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setiap karya-karya yang lahir dari buah pikir yang cemerlang yang berguna bagi manusia
perlu di akui dan dilindungi. Untuk itu system HaKI atau HKI diperlukan sebagai bentuk penghargaan
atas hasil karya (kreativitas) nya. Disamping itu sistem HKI menunjang diadakannya sistem
dokumentasi yang baik atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya
teknologi atau karya lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah. Dengan dukungan dokumentasi
yang baik tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk
keperluan hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih
tinggi lagi.
B. SARAN
Pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai hak
kekayaan intelektual sehingga masyarakat dapat mengerti hukum yang berlaku di Indonesia
sekaligus memahami pentingnya hak kekayaan intelektual setiap individu maupun organisasi. Selain
itu pelaksanaan dan pemberian ganjaran dilakukan dengan lebih tegas sehingga para pelaku bisnis
tidak melakukan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Selain itu pemerintah dapat juga
membentuk sebuah badan hukum independen yang secara khusus bertugas mengatur dan
mengawasi seluruh bisnis yang terdapat di Indonesia.
Masyarakat disarankan lebih peduli akan tindakan pelanggaran HKI, baik dari pengawasan
akan adanya usaha yang melanggar HKI juga mempraktikkan tindakan menghargai HKI dengan
membeli produk yang asli.
Bagi para pelaku bisnis sebaiknya mendaftarkan bisnisnya sehingga bisnis yang dimiliki
terlindung oleh hukum serta mengurangi adanya pelanggaran hak kekayaan intelektual yang
dilakukan oleh pihak lain. Selain itu pelaku bisnis diharapkan memiliki rasa yang kreatif dan inovatif
sehingga menciptakan ide-ide bisnis yang baru tanpa melakukan peniruan dari bisnis yang telah ada
mengingat kerugian-kerugian yang didapatkan apabila praktik pelanggaran HKI tetap dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
http://azzaqun.blogspot.com/2012/04/makalah-haki.html
http://alqomaluphindonesia.files.wordpress.com/2010/12/makalah-alqoma.pdf
http://aftinaarda.blogspot.com/2011/11/makalah-tik.html
http://fidyanifitri.wordpress.com/2012/04/10/hak-kekayaan-intelektual/
http://kaaeka.wordpress.com/2011/11/15/contoh-kasus-pelanggaran-etika-dalam-dunia maya-dan-
teknologi-informasi/
BAB 1
PENDAHULUAN
1.3. Tujuan
Tujuan dan manfaat penulisan makalah ini adalah:
a. Megetahui pengertian dari diksi
b. Mengetahui syarat-syarat yang dibutuhkan dalam penggunaan diksi
c. Memahami penjelasan tentang kata ilmiah, kata populer, kata jargon dan slang
d. Memahami penjelasan pilihan kata dan penggunaan diksi
BAB II
PEMBAHASAN
3.1. Kesimpulan
Kreativitas dalam memilih kata merupakan kunci utama pengarang dalam menulis
gagasan atau ungkapan. Penguasaan dalam pengolahan kata juga merupakan kunci utama
dalam menghasilkan tulisan yang indah, dapat dibaca serta ide yang ingin disampaikan
penulis dapat dipahami dengan baik.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang
ingin disampaikannya baik secara lisan maupun dengan tulisan. Pemilihan kata juga harus
sesuai dengan situasi kondisi dan tempat penggunaan kata–kata itu. Pembentukan kata atau
istilah adalah kata yang mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas
dalam bidang tertentu.
Amran, Tasai. 2010 Cermat Berbahasa Indonesia. (Jakarta :CV Akademika Pressindo.
Adi, Tri. 2007 Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, CV Andi Offset, Yogyakarta.
http://tugaskuliah15.blogspot.co.id/2015/10/makalah-bahasa-indonesia-diksi-atau.html
BAB I
PENDAHULUAN
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada
mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi
kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri
dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya,
apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.
Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang
diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk
memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang
mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya.
Akibatnya muncullah sistem’barter’yaitu barang yang ditukar dengan barang.
Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di
antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang
diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk
memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran
yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-
pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar,
sehingga pada akhirnya manusia menemukan Alat Tukar yang disebut Uang.
Uang adalah alat pembayaran transaksiekonomi yang digunakan di suatu
negara.UntukIndonesia, mata uang adalah rupiah.Uang sendiri di dunia sudah seperti hal
yang sangat pokok, dimana semua manusia membutuhkannya.Di setiap Negara mempunyai
mata uang berbeda dengan nilai yang berbeda pula.
Uang merupakan alat pembayaran yang berlaku sekarang untuk semua transaksi jual-beli
baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Keberadaan uang menyediakan alternatif
transaksi yang lebih mudah dari pada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang
cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki
keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai.
Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong
perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas
dan kemakmuran
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Secara Umum, Secara umum uang merupakan alat tukar yang diterima serta
mempermudah proses tukar menukar.
Pengertian Berdasarkan Fungsi, Berdasarkan fungsinya uang merupakan benda yang
berfungsi sebagai alat pembayaran.
Pengertian Berdasarkan Hukum, Berdasarkan hukum uang adalah benda yang telah
ditetapkan oleh undang-undang sebagai alat pembayaran yang sah.
Pengertian Berdasarkan Nilai, Pengertian uang berdasarkan nilai memiliki pengertian bahwa
uang adalah satuan hitung yang dapat digunakan untuk menyatakan nilai.
Beberapa ahli ekonomi yang mengemukakan tentang pengertian uang, di antaranya adalah
sebagai berikut:
menyatakan uang adalah segala sesuatu yang umum diterima dalam pembayaran barang-
barang.
R.S. Sayers
Dalam bukunya Modern Banking menyatakan uang adalah segala sesuatu yang umum
diterima sebagai pembayaran utang.
A.C. Pigou
Dalam bukunya the Veil of Money menyatakan bahwa uang adalah segala sesuatu yang
umum dipergunakan sebagai alat penukar.
Rolling G. Thomas
Dalam bukunya Our Modern Banking and Monetary System mendefinisikan uang adalah
segala sesuatu yang siap sedia dan pada umumnya diterima dalam pembayaran pembelian
barang-barang, jasa-jasa dan untuk membayar utang.
Uang merupakan alat tukar yang diterima pleh masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah
atas kesatuan hitungnya.
Rimski K Judisseno
Uang adalah suatu media yang diterima dan digunakan oleh para pelaku ekonomi untuk
memudahkan dalam bertransaksi
Ima Rahmawati
Uang adalah benda yang disetujui oleh masyarakat umum sebagai alat perantara tukar
menukar dalam perdagangan
A.C. Pigou
Uang adalah segala sesuatu yang umum dipergunakan sebagai alat tukar
Walker
Uang adalah semua hal yang dapat dilakukan oleh uang itu. Dengan kata lain uang adalah
uang karena fungsinya sebagai uang dan bukan karena fungsi-fungsi yang lain
Dengan demikian, uang didefinisikan sebagai segala sesuatu (benda) yang diterima oleh
masyarakat sebagai alat perantara dalam melakukan tukar-menukar atau perdagangan.
Persyaratan utama dari sesuatu menjadi uang adalah diterima secara umum (acceptability)
dan diketahui secara umum (cognizability). Apabila sesuatu dapat diterima dan diketahui
secara luas kegunaannya sebagai alat tukar, penimbun kekayaan, dan standar cicilan hutang
maka sesuatu itu memenuhi syarat pertama sebagai uang.
2. Stability of Value
Sesuatu yang dapat berperan sebagai uang akan besar manfaatnya apabila nilainya relatif
stabil. Hal ini mengingat bahwa salah satu fungsi dari uang adalah sebagai alat penimbun
kekayaan. Orang akan lebih senang menyimpan kekayaan dalam bentuk sesuatu yang relatif
stabil nilainya. Dengan memilih sesuatu tersebut akan menjamin bahwa daya belinya tidak
akan berkurang terlalu banyak apabila ia menunda untuk membelanjakan kekayaannya.
3. Portability
Sesuatu yang berperan sebagai uang harus mudah dibawa untuk urusan setiap hari. Bahkan
transaksi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan uang dalam jumlah (fisik) yang kecil
jika nilai nominalnya besar. Kemudahan untuk dibawa-bawa memudahkan penggunaan uang
untuk transaksi.
4. Durability
Dalam transaksi, uang akan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Dengan adanya
pemindahaan ini mengharuskan uang tersebut tetap utuh (awet) dan terjaga nilainya secara
fisik. Kalau tidak, rusak atau pun robek akan menyebabkan penurunan nilainya dan
merusakkan kegunaan moneter dari uang tersebut. Ini berarti uang harus merupakan sesuatu
yang tidak mudah rusak yang menyebabkan penurunan nilai.
5. Divisibility
Uang digunakan untuk menetapkan transaksi dari berbagai jumlah, sehingga uang dari
berbagai nominal (satuan/unit) harus dicetak untuk mencukupi/melancarkan transaksi jual-
beli. Untuk itu harus tersedia uang dalam berbagai nilai. Untuk menjamin dapat
ditukarkannya uang satu dengan yang lainnya, semua jenis uang harus dijaga agar tetap
nilainya. Dengan demikian orang akan mudah melakukan transaksi, baik yang kecilnya
nilainya maupun yang besar.
6. Elasticity of supply
Jumlah uang yang beredar harus mencukupi kebutuhan dunia usaha (perekonomian).
Ketidakmampuan penyedian uang untuk mengimbangi kegiatan usaha akan mengakibatkan
perdagangan macet dan pertukaran dilakukannya seperti pada perekonomian barter, yaitu
barang ditukar dengan barang yang lain secara langsung. Mungkin bisa terjadi nilai uang
menjadi semakin mahal menyimpang dari nilai nominalnya karena uang menjadi langka.
Ciri keenam dari uang ini merupakan salah satu tugas pokok Bank Sentral. Bank
Sentral sebagai satu-satunya pencetak uang harus mampu melihat perkembangan
perekonomian yang selanjutnya harus mampu menyediakan uang yang cukup bagi
perkembangan perekonomian tersebut. Sebaliknya Bank Sentral harus bertindak dengan cepat
seandainya dirasa uang yang beredar terlalu banyak dibandingkan dengan kegiatan
perekonomian, dalam hal ini Bank Sentral harus mengurangi jumlah uang yang beredar.
Kemampuan Bank Sentral dan lembaga-lembaga keuangan yang lain dalam hal penyedian
uang yang harus dijamin tetap baik (bersifat elastis).
Dalam sistem ekonomi global saat ini fungsi uang menjadi lebih besar dan meluas, tetapi
secara garis besar, Fungsi uang dibagi menjadi dua macam, yaitu fungsi asli dan fungsi
turunan.
Fungsi asli uang menunjukkan fungsi yang mula-mula melekat pada uang atau fungsi yang
mengacu pada tujuan awal diciptakannya uang yaitu :
a. Sebagai alat tukar umum (medium of exchange), yaitu uang berfungsi sebagai alat untuk
pertukaran dan mengatasi kesulitan dalam pertukaran secara natura (barter).
b. Sebagai satuan hitung (unit of account), yaitu uang berfungsi untuk menentukan nilai dari
suatu barang atau jasa, serta untuk menentukan besarnya harga.
c. Penimbun kekayaan artinya uang dapat disimpan telebih dahulu, yang nantinya akan
mempermudah dalam pertukaran di masa mendatang.
d. Sebagai alat pembentukan modal dan pemindahan modal (transfer of value), yaitu uang
berfungsi untuk menambah atau memperbesar modal usaha, baik dipergunakan sendiri
maupun dipinjamkan kepada orang lain yang membutuhkan modal tersebut.
e. Sebagai ukuran harga atau pengukur nilai (standard of value), yaitu uang berfungsi sebagai
alat untuk menentukan harga barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
1. Berdasarkan Bahan
Uang jika dilihat dari bahan untuk membuatnya terdiri atas dua macam sebagai berikut.
a. Uang Logam
Uang logam merupakan uang dalam bentuk koin yang terbuat dari logam. Bahan pembuat
uang logam antara lain aluminium, kupronikel, broze, emas, perak, atau perunggu. Biasanya
uang yang terbuat dari logam mempunyai nominal yang kecil. Di Indonesia uang logam
terdiri atas pecahan Rp25,00; Rp50,00; Rp100,00; Rp200,00; Rp500,00; dan Rp1.000,00.
b. Uang Kertas
Uang kertas merupakan uang yang bahannya terbuat dari kertas atau bahan lain. Uang kertas
harus dibuat dengan bahan berkualitas tinggi yang tahan air, tidak mudah robek, dan tidak
luntur. Uang kertas biasanya dibuat dalam nominal yang lebih besar sehingga mudah dibawa
dan digunakan dalam transaksi sehari-hari. Pecahan uang kertas di Indonesia mulai dari
Rp100,00; Rp500,00; Rp1.000,00; Rp5.000,00; Rp10.000,00; Rp20.000,00; Rp50.000,00;
dan Rp100.000,00.
2. Berdasarkan Nilai
Jenis uang dapat dilihat dari nilai yang terkandung pada uang tersebut. Nilai uang terdiri atas
nilai intrinsik, yaitu nilai bahan untuk membuat uang dan nilai nominal yaitu nilai yang
tertera dalam uang tersebut. Jenis uang berdasarkan nilainya terdiri atas dua jenis berikut.
Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut sama
nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum sama
dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari emas,
maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya
uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas uang lebih tinggi dari nilai bahan yang
digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai
intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang Rp1.000,00 pemerintah
mengeluarkan biaya Rp750,00.
a. Uang Kartal
Uang kartal adalah alat pembayaran sah yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara
melalui bank sentral yang berupa uang logam dan uang kertas. Uang kartal di Indonesia
dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan dicetak oleh Perusahaan Umum Per-cetakan Uang
Republik Indonesia (Perum Peruri). Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang kertas.
Uang logam
Uang logam adalah uang yang terbuat dari logam; biasanya dari emas atau perak karena
kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil, bentuknya mudah dikenali,
sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih
kecil tanpa mengurangi nilai.
Uang kertas
Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan
merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang
Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran
yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).
b. Uang Giral
Uang giral adalah alat pembayaran berupa bilyet giro, cek, dan pemindahan telegrafis yang
dikeluarkan oleh bank kepada seseorang atau badan karena mempunyai simpanan rekening di
bank yang bersangkutan. Uang giral diterbitkan oleh bank umum atau bank komersial, Uang
Giral Terbagi yakni :
Bilyet giro
Adalah memindahbukukan sejumlah uang dari rekening nasabah yang bersangkutan pada
rekening nasabah lain yang ditunjuk, Bilyet giro tidak dapat ditukar surat.
Cek
Merupakan Surat Perintah dari nasabah yang memiliki rekening giro pada sebuah bank agar
bank tersebut membayar sejumlah uang secara tunai kepada pihak yang namanya tercantum
dalam cek.
Merupakan pembayaran yang dilakukan dengan pemindahan antar rekening pada suatu bank
tertentu melalui telegram. Cara ini dipilih apabila jarak orang yang melakukan transaksi
berjauhan.
4. Berdasarkan Kawasan
Jenis uang ternyata juga dapat dilihat dari daerah atau wilayah berlakunya uang tersebut.
a. Uang Lokal
Uang lokal adalah uang yang dipergunakan dalam satu negara tertentu. Misalnya rupiah yang
digunakan di Indonesia, ringgit digunakan di Malaysia, dan rupee digunakan di India.
b. Uang Regional
Uang regional digunakan oleh beberapa negara dalam satu kawasan tertentu. Penggunaan
uang regional masih terbatas pada euro yang digunakan di kawasan Eropa. Akan tetapi,
bukan tidak mungkin dengan pesatnya perdagangan bebas uang regional semakin banyak
digunakan di beberapa kawasan perdagangan yang lain.
c. Uang Internasional
Uang internasional merupakan uang yang berlaku antarnegara hampir di seluruh dunia dan
menjadi standar pembayaran internasional. Contohnya US dolar yang sampai saat ini
digunakan sebagai standar pembayaran internasional.
A. Permintaan Uang
Permintaan uang adalah sejumlah uang tertentu yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk
melakukan transaksi dalam perdagangan atau tujuan tertentu. Permintaan uang datang dari
empat pihak, yaitu:
1. Pihak perseorangan/konsumen,
2. Pihak pengusaha/produsen,
Dalam analisis John Maynard Keynes, masyarakat melakukan permintaan uang untuk
memenuhi tiga keinginan, yaitu sebagai berikut.
Permintaan uang untuk tujuan transaksi, artinya uang dibutuhkan untuk membayar
pembelian-pembelian yang akan mereka lakukan. Memegang uang untuk tujuan transaksi
merupakan tujuan yang mendasar, karena dengan pemilikan uang dapat dengan mudah
melakukan pembelian barang-barang yang diinginkan. Permintaan uang untuk tujuan
transaksi meningkat jika antara penerimaan dan pengeluaran tidak seimbang. Permintaan
untuk motif ini dianggap tergantung pada tingkat pendapatan, artinya semakin tinggi
pendapatan, semakin banyak uang yang diperlukan oleh perusahaan atau perseorangan
untuk tujuan transaksi.
Permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga, artinya uang sebagai alat untuk menghadapi
kesusahan yang mungkin timbul di masa yang akan datang, karena setiap orang tidak dapat
menduga kejadian-kejadian di hari esok. Permintaan uang untuk tujuan ini dipengaruhi oleh
tingkat pendapatan masyarakat atau pendapatan nasional.
Permintaan uang untuk tujuan spekulasi, artinya uang digunakan untuk kegiatan spekulasi
(untung-untungan). dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akanmendapatkan
keuntungan dari peningkatan harga rumah, saham, atau emas di masa depan. Ini tentu
dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.
B. Penawaran Uang
Penawaran uang adalah sejumlah uang tertentu yang disediakan oleh pemerintah atau bank
untuk dapat dimiliki oleh masyarakat. Penawaran uang dapat memengaruhi tingkat harga,
tingkat bunga, dan tingkat kegiatan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, kenaikan
penawaran uang dalam perekonomian perlu dikendalikan. Tugas tersebut dipegang oleh bank
sentral.
1. Kebutuhan pemerintah, untuk memenuhi anggaran, untuk menekan tingkat inflasi (kenaikan
harga) dan untuk menambah jumlah uang yang beredar.
2. Keadaan internasional yang tidak stabil.
3. Perkembangan perdagangan luar negeri (kegiatan ekspor dan impor).
4. Sistem perbankan yang berlaku.
5. Penciptaan uang yang baru untuk menambah jumlah uang yang beredar.
Teori Uang Statis atau disebut juga “teori kualitatif statis” bertujuan untuk menjawab
pertanyaan: apakah sebenarnya uang ? Dan mengapa uang itu ada harganya ? Mengapa uang
itu sampai beredar ? Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai
yang diakibatkan oleh perkembangan ekonomi. Yang termasuk teori uang statis adalah:
Uang bersifat seperti barang, nilainya tidak dibuat-buat, melainkan sama dengan nilai logam
yang dijadikan uang itu. Contoh: uang emas dan uang perak.
Teori ini menyatakan bahwa uang dibentuk atas dasar pemufakatan masyarakat untuk
mempermudah pertukaran.
Teori Nominalisme
Uang diterima berdasarkan nilai daya belinya.
Teori Negara
Asal mula uang karenanegara, apabila negara menetapkan apa yang menjadi alat tukar dan
alat bayar maka timbullah uang. Jadi uang bernilai karena adanya kepastian dari negara
berupa undang-undang pembayaran yang disahkan.
Teori ini mempersoalkan sebab terjadinya perubahan dalam nilai uang. Teori dinamis antara
lain:
Teori ini menyatakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah
uang yang beredar. Apabila jumlah uang berubah menjadi dua kali lipat, maka nilai uang
akan menurun menjadi setengah dari semula, dan juga sebaliknya.
Teori yang telah dikemukakan David Ricardo disempurnakan lagi oleh Irving Fisher dengan
memasukan unsur kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang
memengaruhi nilai uang.
Teori ini dilihat dari jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.
Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat
dipandang sebagai barang.
Perkembangan jenis mata uang yang beredar di Indonesia setelah kemerdekaan 1945
beragam. Hal ini tentu tidak terlepas dari kondisi dan situasi yang penuh gejolak
pascakemerdekaan tersebut. Namun, setelah tahun 1951 dengan berlakunya Hukum Darurat
No. 20 Tahun 27 September 1951, di tetapkan alat pembayaran yang sah, kecuali Irian Barat,
adalah rupiah. Kemudian diperkuat lagi dengan keluarnya Undang-Undang Pokok Perbankan
Nomor 13 Tahun 1968 yang menetapkan satuan hitung uang Indonesia adalah Rupiah dan
disingkat Rp.
Adapun jenis-jenis mata uang sebelum keluarnya kedua peraturan dan undang-undang di atas
adalah sebagai berikut.
1. ORI
ORI atau Uang Republik Indonesia yang berlaku hanya di pulau jawa saja, di samping ada
mata uang lainnya.
2. URIDAB
3. URIPS
URIPS, yaitu Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera yang berlaku di sebagian pulau
Sumatera. Hal ini disebabkan ada beberapa mata uang yang berlaku di Sumatera
4. URITA
URITA, yaitu Uang Republik Indonesia Tapanuli yang berlaku di daerah Tapanuli saja
5. URIPSU
URIPSU, yaitu Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera Utara yang berlaku di provinsi
Sumatera Utara
6. URIBA
URIBA, yaitu Uang Republik Indonesia baru Aceh yang berlaku di daerah Aceh
7. UDMP
UDMP, yaitu Dewan Mandat Pertahanan daerah Palembang yang berlaku di Palembang.
Melalui keberadaan uang yang diterima secara umum sebagai alat pertukaran barang/jasa,
maka aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen semakn lancar. Kelancaran pada
sistim pertukaran uang ini meningkatkan standar hidup masyarakat.
Masyarakat pada umumnya menggunakan uang untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa,
dimana ini menjamin kesediaan masyarakat dalam menukarkan uangnya dengan barang-
barang dan jasa-jasa. Sehingga setiap orang puas pada pekerjaannya yang sudah sesuai untuk
mendapatkan penghasilan dalam bentuk uang. Pembagian tugas (spesialisasi) merupakan ciri
kas dari masyarakat modern yang akan meningkatkan produsksi, pertukaran dan kesejaheraan
masyarakat.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai dengan
bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga penggunaan
bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas suatu masyarakat tersebut. Sebagai
makhluk sosial kita tidak bisa terlepas dari berkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas.
Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai ketika seseorang berkomunikasi dengan pihak
lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan menangkap informasi dikarenakan pemilihan kata yang
kurang tepat ataupun dikarenakan salah paham.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam
berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih
mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan.
Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa
tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak
dengan kata-kata yang kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari baik dalam segi makna dan relasi, gaya bahasa, ungkapan, jargon, kata slang, kata kajian,
kata popular, kata sapaan dan kata serapan.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana penjelasan mengenai diksi?
C. Batasan Masalah
1. Apa pengertian dari diksi?
2. Apa saja syarat ketepatan diksi?
3. Makna kata dan relasi kata
4. Perubahan makna
5. Gaya bahasa
6. Apa saja syarat-syarat diksi?
7. Kata sapaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Diksi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras
(dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti
yang diharapkan)”. Sedangkan menurut Wikipedia pengertian diksi adalah sebagai berikut:
1. Diksi merupakan pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara.
2. Diksi merupakan seni berbicara yang jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami.
Pengertian ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi dapat pula diartikan pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam
berbicara di depan umum atau dalam karang mengarang (Kridalaksana, 1982: 35). Diksi bukan hanya
berarti pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau
menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan
sebagainya.
Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu
gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-
ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata
yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau
perbendaharaan kata bahasa itu.
3. Jargon
Jargon adalah kata kata yang mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap
kurang sopan atau aneh. Contohnya: Udah ujan, becek, gak ada ojek.
4. Kata slang
Kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang berupa pengrusakan sebuah kata
biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Contoh Slang : asoy, manatahan.
E. Perubahan Makna
Macam-macam perubahan makna:
1. Perluasan arti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata
yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi
sebuah kelas makna yang lebih umum.
2. Penyempitan arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang
lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.
3. Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau
lebih baik nilainya dari arti yang lama.
4. Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makna sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti
yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.
F. Gaya Bahasa
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu
untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara
khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Ø Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodic.
Ø Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur.
Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari
yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif
karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak
lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu.
Ø Antithesis
adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan
mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
Ø Repetisi
Adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi
tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Ø Erotesis atau pertanyaan retoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk
mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki
adanya suatu jawaban.
Ø Sinekdoke
Adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang berarti menerima
bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figurative, yang mempergunakan sebagian dari
sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk
menyatakan sebagian (totum pro parte).
Ø Eufimisme
Eufimisme adalah ungkapan yang halus untuk menggantikan kata-kata yang dirasakan menghina
ataupun menyinggung perasaan.
Anak Anda memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. (=bodoh)
Ø Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan
membesar-besarkan suatu hal.
Hatiku tercabik-cabik, ketika kau mengakhiri hubungan kita.
Ø Metafora
Gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal secara implicit. Contohnya Banyak
mahasiswa yang mencoba memperebutkan mawar fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu. Pada
kalimat di atas, kata mawar digunakan untuk menyebut gadis. Ini berarti, keduanya diperbandingkan.
Komponen makna penyama: cantik/indah, segar, harum, berduri, cepat layu. Komponen makna
pembeda: untuk “gadis” adalah manusia, berjenis wanita, untuk “mawar” adalah bagian dari tanaman.
Ø Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang menampilkan binatang, tanaman, atau benda sebagai manusia. Contoh:
melambai-lambai nyiur di pantai.
Ø Sarkasme
Sindiran langsung dan kasar.kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan
kasar.
Ø Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Ø Litotes
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Contohnya
Rumah yang buruk inilah yang merupakanhasilusaha kami bertahun-tahun lamanya.
Ø Pleonasme
Disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan yang jika dihilangkan, artinya tetap utuh. Contohnya
Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri. Ungkapan di atas adalah pleonasme karena
semua kata tersebut memiliki makna yang sama, walaupun dihilangkan kata-kata: dengan telinga
saya,
G. Kata Sapaan
Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara
(orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga.
Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan:
1. Nama diri seperti Toto, Nur.
2. Kata yag tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi.
3. Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, professor, dokter.
4. Kata nama, seprti tuan, nyonya, sayang.
5. Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, atau hadirin.
6. Kata ganti persona kedua Anda.
Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat istiadat setempat, adat kesantunan serta
situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat
kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun yang
perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata
sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dipaparka didepan, maka kami mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Diksi adalah pilihan kata yang tepat untuk mengemukakan gagasan sehingga diperoleh efek yang
diharapkan. Diksi merupakan faktor yang penting dalam berkomunikasi, yang digunakan agar tidak
terjadi kesulitan dalam memahami informasi.
Diksi tidak hanya digunakan dalam bahasa lisan saja namun juga digunakan dalam bahasa tulis
(jurnalistik), Adapun penggunaaan dari diksi digunakan dalam makna kata dan relasi makna, gaya
bahasa, jargon dan kata slang, juga kata sapaan.
B. Saran
Harapan kami agar masyarakat dapat memahami dan menerapkan diksi (pilihan kata) dalam
aktivitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia, Jakarta, 1985.
Adi, Tri, Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, CV Andi Offset, Yogyakarta, 2007.
Sugono, Dendy, Buku Praktis Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa,Jakarta, 2003.
Moeliono, Anton, Santun bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1991.
www.wikipedia.com
http://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&q=pilihan+kata+dalam+
bahasa+indonesia&star=10
http://duniapuspits.blogspot.co.id/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_5191.html
Sugono, Dendy, Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar, Gramedia, Jakarta, 2009.
Uang Kartal adalah uang dalam bentuk fisik seperti logam dan kertas yang sah dan wajib diterima untuk transaksi sehari-hari. Dikeluarkan oleh bank sentral, uang kartal memiliki nilai nominal tetap dan bersifat kurang elastis dibandingkan uang giral. Sebaliknya, Uang Giral merupakan uang dalam bentuk simpanan di bank, digunakan melalui instrumen seperti cek dan giro, dan tidak diwajibkan diterima dalam transaksi sehari-hari. Sifat elastisitasnya lebih tinggi karena dapat dengan mudah digunakan dalam transaksi non-tunai .
Suatu benda harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar dapat diakui sebagai "uang". Pertama, benda tersebut harus diterima secara umum (acceptability). Selain itu, bahan yang dijadikan uang harus tahan lama (durability), memiliki kualitas yang seragam (uniformity), jumlahnya harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik, dan tidak mudah dipalsukan (scarcity). Uang juga harus mudah dibawa (portable), mudah dibagi tanpa mengurangi nilainya (divisibility), dan memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).
Perlindungan hukum terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) penting karena menciptakan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya kreativitas di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Perlindungan HaKI mendorong penciptaan dan penyebaran hasil kebudayaan, yang secara langsung mempercepat pertumbuhan kecerdasan dan meningkatkan edukasi. Dengan adanya perlindungan HaKI, karya-karya dapat berkembang tanpa risiko replika yang tidak diinginkan, menjaga integritas dan kualitas budaya .
Fungsi turunan dari uang selain fungsi utamanya adalah: 1) Uang sebagai alat pembayaran yang sah, 2) Uang sebagai alat pembayaran utang, 3) Uang sebagai alat penimbun kekayaan, 4) Uang sebagai alat pemindah kekayaan, dan 5) Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi .
Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena kedua logam ini memenuhi syarat-syarat efisiensi uang. Emas dan perak memiliki harga yang cenderung tinggi dan stabil, mudah dikenali dan diterima oleh orang, serta tidak mudah musnah. Selain itu, emas dan perak mudah dibagi-bagi menjadi unit yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai .
Menurut kajian WIPO, sistem HaKI yang baik memberikan berbagai manfaat, antara lain meningkatkan posisi perdagangan dan investasi, mengembangkan teknologi, mendorong perusahaan untuk bersaing secara internasional, membantu komersialisasi suatu invensi, mengembangkan sosial budaya, dan menjaga reputasi internasional untuk kepentingan ekspor. Dengan demikian, HaKI memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan pengayaan budaya .
Uang giral tidak dianggap sebagai alat pembayaran yang sah karena penggunaannya bukan mengikat; masyarakat dapat menolak membayar atau menerima pembayaran dengan uang giral. Uang giral disimpan dalam bentuk simpanan di bank dan digunakan untuk transaksi melalui instrumen seperti cek, giro, atau transfer telegrafis. Fungsi uang giral lebih praktis dan aman, tetapi tidak memiliki status legal yang mengharuskan penerimaan oleh siapa pun, berbeda dari uang kartal yang merupakan alat bayar sah dan wajib diterima .
Dasar hukum untuk Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) di Indonesia mencakup beberapa undang-undang nasional antara lain: UU No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, UU No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten, UU No. 15 tahun 2001 tentang Merek, dan UU No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta .
Sejarah perundang-undangan HaKI di Indonesia dimulai sejak tahun 1840 ketika pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan peraturan tersebut. Selama masa kolonial, Belanda mengundangkan beberapa undang-undang terkait HaKI, termasuk Undang-Undang Merek pada tahun 1885, Undang-Undang Paten pada tahun 1910, dan Undang-Undang Hak Cipta pada tahun 1912. Setelah kemerdekaan, Indonesia telah memperkenalkan undang-undang yang lebih komprehensif untuk melindungi berbagai aspek Hak Kekayaan Intelektual seperti merek, hak cipta, dan hak paten .
Uang logam memiliki tiga macam nilai: 1) Nilai Intrinsik, yaitu nilai bahan pembuatannya seperti emas dan perak, 2) Nilai Nominal, yaitu nilai yang ditunjukkan di atasnya yang menunjukkan jumlah emas atau perak yang diimplikasikan, dan 3) Nilai Tukar, yaitu daya beli uang tersebut dalam mendapatkan barang atau jasa .