Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

TUMOR GINJAL

DISUSUN OLEH :
Ratika Yos Widya
030.09.192

DOKTER PEMBIMBING :
Dr. M. Hawari Abdi, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


RS TNI AL DR. MINTOHARDJO
PERIODE 02 OKTOBER – 03 NOVEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
BAB I

PENDAHULUAN

Tumor ginjal merupakan tumor urogenitalia nomor tiga terbanyak setelah tumor prostat
dan tumor kandung kemih. Semakin meluasnya penggunaan ultrasonografi abdomen sebagai
salah satu pemeriksaan screening (penyaring) di klinik-klinik rawat jalan, makin banyak
diketemukan kasus-kasus tumor ginjal yang masih dalam stadium awal. 1
Karsinoma sel renal adalah jenis kanker ginjal yang banyak ditemukan pada orang
dewasa. Wilms tumor atau nephroblastoma adalah jenis tumor yang sering terjadi pada anak-
anak di bawah umur 10 tahun, jarang ditemukan pada orang dewasa. Kira-kira 500 kasus
terdiagnosa tiap tahun di Amerika Serikat. 75% ditemukan pada anak-anak yang normal ; 25%
nya terjadi dengan kelainan pertumbuhan pada anak. 1,2
Tumor ini responsive dalam terapinya, 90% pasien bertahan hidup hingga 5 tahun. Di
Amerika Serikat kanker ginjal meliputi 3% dari semua kanker, dengan rata-rata kematian
12.000 akibat kanker ginjal pertahun. Kanker ginjal sedikit lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibanding wanita (2:1) dan umumnya terdiagnosa pada usia antara 50 – 70 tahun, tapi dapat
terjadi pada usia berapa saja juga. Tumor Wilms merupakan sekitar 10% keganasan pada anak.
Paling sering dijumpai pada usia 3 tahun dan 10% nya merupakan lesi bilateral.2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. TUMOR

I.1 Definisi

Tumor merupakan sekelompok sel-sel abnormal yang terbentuk hasil proses


pembelahan sel yang berlebihan dan tak terkoordinasi. . Biasanya , pembelahan sel dalam tubuh
secara ketat dikontrol . Sel-sel baru diciptakan untuk menggantikan yang lebih tua atau untuk
melakukan fungsi-fungsi baru . Sel yang rusak atau tidak lagi diperlukan mati untuk membuat
ruang untuk pengganti sehat. Jika keseimbangan pembelahan sel dan kematian terganggu ,
tumor bisa terbentuk .

Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam saluran kemih tumbuh dan membelah secara
wajar. Tetapi kadang sel-sel mulai membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru
meskipun tubuh tidak memerlukannya. Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa
yang terdiri jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor.

Dalam bahasa medis, tumor dikenal sebagai neoplasia. Neo berarti baru, plasia berarti
pertumbuhan/pembelahan, jadi neoplasia mengacu pada pertumbuhan sel yang baru, yang
berbeda dari pertumbuhan sel-sel di sekitarnya yang normal. Yang perlu diketahui, sel tubuh
secara umum memiliki 2 tugas utama yaitu melaksanakan aktivitas fungsional nya serta
berkembang biak dengan membelah diri. Namun pada sel tumor yang terjadi adalah hampir
semua energi sel digunakan untuk aktivitas berkembang biak semata. Fungsi
perkembangbiakan ini diatur oleh inti sel (nucleus), akibatnya pada sel tumor dijumpai inti sel
yang membesar karena tuntutan kerja yang meningkat.

I.2 Klasifikasi

Dari pengertian tumor diatas, tumor dibagi mejadi 2 golongan besar yaitu tumor jinak
(benign) dan tumor ganas ( malignant) atau kanker. Perbedaan utama di antara keduanya adalah
tumor ganas lebih berbahaya dan fatal. Walaupun tumor ganas atau kanker itu berada pada
jaringan di kaki, hal itu dalam tahap lanjut dapat mengakibatkan kematian. Tumor jinak hanya
dapat menimbulkan kematian secara langsung terkait dengan lokasi tumbuhnya yang
membahayakan misalnya tumor di leher yang dapat menekan saluran napas. Terdapat beberapa
sifat yang membedakan antara tumor jinak dan ganas ;

1. Pertumbuhannya.

Tumor ganas tumbuhnya relative lebih cepat karena memang lebih aktif dan agresif,
akibatnya jika di permukaan tubuh akan tampak tumor membesar dengan cepat dan seringkali
di puncaknya disertai dengan luka atau pembusukan yang tidak kunjung sembuh. Luka
menahun ini diakibatkan suplai nutrisi kepada sel-sel tumor tidak mampu mengimbangi lagi
sel-sel tumor yang jumlah sangat cepat berlipat ganda, akibatnya sel-sel yang berada diujung
tidak mendapat nutrisi dan mati. Jadi hati-hati jika memiliki luka yang kotor dan tidak kunjung
sembuh dengan pengobatan bahkan bertambah luas.

2. Perluasannya.

Tumor jinak tumbuh secara ekspansif atau mendesak, tetapi tidak merusak struktur
jaringan sekitarnya yang normal. Hal ini dikarenakan tumor jinak memiliki kapsul yang
membatasi antara bagian sel-sel tumor yang abnormal dengan sel-sel normal. Sebaliknya pada
tumor ganas yang memang tak berkapsul, tumor ini tumbuhnya infiltratif atau menyusup
sembari merusak jaringan disekitarnya. Pertumbuhan semacam ini pertama kali ditemukan
oleh Hippocrates – bapak ilmu kedokteran – dan beliau menamakan sebagai cancer (bahasa
latin dari kepiting) karena menurutnya proses infiltratif seperti demikian menyerupai bentuk
capit kepiting. Akibat proses infiltratif tersebut, maka jaringan disekitar tumor ganas seringkali
rusak, dan jika jaringan yang diinfiltrasi itu berupa pembuluh darah maka tumor jenis ini dapat
menimbulkan gejala perdarahan. Contohnya, pada kanker paru salah satu gejalanya adalah
batuk darah.

Progesifitasnya berbeda-beda, karena itu periode sakit total bervariasi antara beberapa
bulan dan beberapa tahun.

3. Metastasis.

Metastasis merupakan anak sebar, artinya kemampuan suatu jaringan tumor untuk lepas
dari induknya dan menempel serta mampu hidup dan berkembang lebih lanjut pada jaringan
tubuh lain yang letaknya jauh dari jaringan tumor induk. Sel-sel ini juga keluar dari tumor
asalnya dan memasuki aliran darah atau sistem getah bening dan akan terbawa ke bagian tubuh
lainnya (proses ini dikenal sebagai metastase tumor).

Tanpa penanganan proses lokal ini meluas dengan bertumbuh terus ke dalam jaringan
sekelilingnya dan dengan bermetastasis menyebabkan kematian Misalnya kanker payudara
dapat bermetastasis hingga ke paru-paru dan menyebabkan gangguan proses pernapasan. Jalur
metastasis bisa melalui aliran darah, aliran limfe maupun proses terlepas/terjatuh langsung
menempel pada tempat tertentu. Metastasis hanya terjadi pada tumor ganas. Tumor jinak tidak
pernah bermetastasis. Oleh karena metastasis inilah maka tumor ganas pada kaki misalnya
dapat berakibat fatal terhadap penderitanya.

4. Gambaran selular.

Tumor ganas di bawah mikroskop akan tampak sekumpulan sel-sel yang seringkali
tidak menyerupai jaringan normal semestinya, bahkan sel-sel ganas bisa memberi gambaran
yang sama sekali tidak menyerupai sel apapun dalam tubuh manusia (tidak
berdiferensiasi/anaplasi). Sedangkan tumor jinak umumnya diferensiasinya baik, artinya
gambaran sel-selnya masih serupa sel-sel normal asalnya namun aktvitas pembelahannya saja
yang lebih aktif. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin anaplastik / berdiferensiasi semakin
buruk suatu tumor maka tumor itu pastilah semakin ganas.

5. Kekambuhan.

Tumor jinak umumnya dengan dioperasi secara tepat jarang untuk kambuh lagi. Tumor
ganas memiliki kekambuhan lebih tinggi dikarenakan proses pembedahannya sulit untuk
benar-benar tuntas dikarenakan memang jaringan abnormal ini tidak berkapsul sehingga sulit
untuk dibedakan dan dipisahkan dari jaringan normal sekitarnya yang sudah diinfiltrasi. Selain
itu tumor ganas tahap lanjut umumnya penyebaran sudah lebih luas bahkan sudah bermetasasis
jauh sehingga operasi adalah tidak mungkin menyembuhkan lagi karena sel-sel ganas sudah
ada hampir di setiap bagian tubuh.

Ada 2 sistem klasifikasi tumor yaitu grading dan staging. Dalam grading, klasifikasi
tumor berdasarkan gambaran jaringan pada mikroskop, yaitu dari hasil biopsy (gambaran
histopatologik). Di sini dinilai tingkat anaplastik atau differensiasi sel-sel kanker, semakin
kacau gambaran sel (semakin anaplastik) semakin tinggi derajatnya dan berarti semakin ganas
kanker tersebut.

Sedangkan staging didapatkan dari pemeriksaan klinis-penunjang, dan umumnya


derajatnya dinilai berdasarkan ukuran besar tumor induk, sudah menyebar ke kelenjar limfe
atau belum serta sudah bermetastasis atau belum. Yang lebih bermakna dalam terapi adalah
klasifikasi berdasarkan staging ini. Semakin tinggi staging, misalnya kanker yang sudah
bermetastasis, maka pengobatan akan menemukan jalan buntu dan harapan hidup berkurang.

Secara umum, semakin kecil derajat kanker maka semakin dapat ditanggulangi dan
prognosis (harapan kesembuhan dan hidup) jauh lebih besar.

I.3 Etiologi

Etiologi terbentuknya tumor masih belum diketahui (idiopatik). Secara umum


dipercaya bahwa proses terbentuknya tumor berkaitan dengan 3 faktor utama yaitu genetik
(keturunan), karsinogenik (onkogen) dan co-karsinogen (co-onkogen).

Faktor genetik atau keturunan menyebutkan bahwa beberapa orang membawa bakat
(berupa gen) untuk tumor tertentu. Tentunya bakat saja tidak akan menjelma menjadi tumor di
kemudian hari jika tidak ada faktor pemicu lainnya. Yang diindikasikan sebagai faktor etiologi
ialah predisposisi genetik yang diperlihatkan dengan adanya hubungan kuat dengan penyakit
Hippel-Lindau (hemangioblastoma serebelum, angiomata retina dan tumor ginjal bilateral)
suatu kelainan herediter yang jarang (Underwood, 2000).

Faktor pemicu lainnya itu adalah karsinogen dan co-karsinogen. Yang termasuk
karsinogen antara lain senyawa kimia (seperti asbes, pengawet dan pewarna makanan), faktor
fisika (seperti radiasi roentgen berlebih, sinar matahari berlebih), hormonal (seperti peranan
estrogen pada kanker payudara, testosterone pada kanker prostate), dan virus (seperti virus
HPV sebagai biang keladi utama kanker leher rahim ).

Sedangkan co-karsinogen adalah factor predisposisi atau factor yang dapat


memudahkan terbentuknya tumor, seperti : usia tertentu (umumnya kejadian tumor seiring
dengan pertambahan usia), pola hidup yang salah, kegemukan, merokok, alkohol, pola makan
kurang serat, adanya iritasi berulang-ulang, dialisa (penderita gagal ginjal kronis yang
menjalani dialisa menahun memiliki resiko tinggi).
I.4 Diagnosis

Kanker pertumbuhannya cepat, hanya dibutuhkan beberapa minggu atau bulan saja
benjolan yang awalnya kecil dapat menjadi besar sekali. Sementara untuk tumor jinak tumbuh
lambat dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk mencapai besar
tertentu.

Diagnosis dengan deteksi dini atau tes skrining. Penelitian akan tes skrining serta cara-
cara deteksi dini semakin berkembang ke arah yang cukup menjanjikan. Terdapat beberapa
cara dalam mengenali tumor. Juga terdapat prosedur-prosedur yang bertahap dilakukan oleh
dokter guna mendiagnosa penyakit ini. Keluhan subjektif yang disampaikan pasien seringkali
tidak banyak menolong karena memang umumnya gejala tidak spesifik.

Namun memang ada beberapa gejala yang sudah mengarahkan pikiran dokter ke
kemungkinan tumor tertentu, misalnya :

- Sering keluar darah pada kemaluan setelah berhubungan seksual tanpa sebab jelas. Biasanya
perlu dicurigai ke arah kanker leher rahim.

- Benjolan payudara yang keras dengan putting susu yang tertarik ke dalam, perlu
dipertimbangkan kanker payudara.

- Batuk darah pada perokok berat yang berusia > 50 tahun seringnya terkait kanker paru.

- Perubahan feses menjadi kecil-kecil serta terdapatnya darah di dalamnya dapat dicurigai
kanker usus besar.

Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan dapat yang sederhana dan relative murah
sampai yang supermahal dan canggih. Prinsipnya semakin aneh dan sulit suatu tumor maka
diperlukan pemeriksaan yang lebih canggih dan mahal. Antara lain pemeriksaan penujang yang
dilakukan adalah foto roentgen , CT-scan, MRI, USG, biopsy (sebagian atau seluruh jaringan
yang dicurigai diambil dan diperiksa dibawah mikroskopsecara patologi anatomi) ,
bronkoskopi (memasukkan selang berkamera ke dalam saluran napas), endoscopy
(memasukkan selang berkamera ke dalam saluran cerna, bisa lewat mulut atau dubur),
pemeriksaan darah, pemeriksaan feses, Pap’s smear dan mammografi (foto roentgen khusus
untuk payudara).
Di antara semua jenis pemeriksaan penunjang ini, pemeriksaan yang dapat memastikan
jenis tumor dan derajad keganasannya adalah biopsy. Seperti yang disinggung sebelumnya,
dalam hal penyakit tumor dikenal pemeriksaan skrining yang artinya deteksi dini akan
kehadiran tumor tersebut sehingga penatalaksanaan dapat memberikan hasil lebih optimal.
Deteksi dini adalah hal terpenting dalam penatalaksanaan tumor, khususnya kanker. Bahkan
ada beberapa cara deteksi dini yang dapat dilakukan pasien sendiri, contohnya memeriksa
payudara sendiri tiap bulan sehabis mens (SADARI-Periksa Payudara Sendiri) untuk
mendeteksi adanya tumor pada payudara.

Namun sayangnya tidak semua jenis tumor memiliki cara skrining yang tepat. Berbagai
kanker ganas seperti kanker paru, pancreas, lambung, ovarium seringkali terluput dari gejala
keluhan maupun pemeriksaan klinis sehingga datang-datang sudah dalam tahap lanjut yang
sulit ditangani lagi. Beruntungnya, dua jenis kanker tersering pada kaum wanita, yaitu kanker
payudara dan leher rahim, memiliki deteksi dini yang cukup akurat. Pap’s smear masih menjadi
skrining efektif bagi kanker leher rahim maupun kanker endometrium (dinding rahim),
sedangkan mammografi dikombinasi dengan SADARI dan USG efektif digunakan sebagai
skrining kanker payudara.

I.5 Penatalaksanaan

Pengobatan tumor ada berbagai macam, secara umum merupakan kombinasi antara
operasi, radiasi dan kimia (kemoterapi). Tumor jinak jika mengganggu dan memungkinkan
biasanya dioperasi dan diangkat. Dan selanjutnya kekambuhan jarang terjadi. Tumor jinak
tidak memerlukan terapi radiasi maupun kemoterapi. Berbeda dengan tumor jinak, hanya
kanker stadium sangat awal saja yang dapat diterapi dengan operasi semata, selebihnya
biasanya diterapi kombinasi antar ketiga macam jenis terapi di atas.

Kanker dengan staging rendah umumnya dengan dioperasi pengangkatan yang baik dan
dilanjutkan dengan radiasi terhadap kemungkinan adanya sel-sel yang tertinggal di sekitar
daerah yang dioperasi, maka dapat menyembuhkan penderita. Pada kanker yang sudah
bermetastasis, tambahan kemoterapi yang berupa obat yang disuntikkan ke pembuluh darah
dimaksudkan untuk mengejar dan membunuh sel-sel kanker yang sudah berkeliaran ke seluruh
tubuh melalui pembuluh darah atau limfe. Dan biasanya dalam tahap lanjut, terapi kanker
hanya ditujukan paliatif yang berarti bertujuan mempanjang usia dan meringankan gejala yang
membuat pasien menderita. Terapi paliatif tidak bertujuan menyembuhkan, karena memang
kanker sudah relative sulit disembuhkan pada stadium lanjut.

Kapan diperlukan radiasi antara lain berdasarkan sensitivitas jenis sel kanker terhadap
radiasi. Ada beberapa sel kanker yang memang sangat peka diradiasi dan memberikan hasil
baik seperti kanker dari sel-sel embrional (contoh testis), atau sel-sel darah dan limfe (contoh
limfoma). Tetapi ada beberapa sel kanker yang memang kebal terhadap penyinaran. Terkadang
radiasi dilakukan sebelum operasi dengan tujuan kanker sedikit mengecil sehingga operasi
lebih mudah dengan lebih sedikit efek samping. Permasalahan pengobatan kanker adalah
kompleks, tidak semudah yang dituliskan diatas.

Walaupun secara teoritis radiasi dan kemoterapi dapat membunuh kanker dan operasi
dapat membuang kanker, terdapat batasan nyata terhadap upaya-upaya ini. Hal ini dikarenakan
penyakit kanker disebabkan oleh agen yang unik, yaitu sel tubuh sendiri yang kehilangan
kontrol dan membangkang terhadap koordinasi selular. Tentunya ini berbeda dengan penyakit
lain pada umumnya yang disebabkan oleh agen asing seperti virus, bakteri. Akibatnya
pengobatan terhadap kanker seperti radiasi dan kemoterapi secara klinis akan membunuh sel-
sel normal yang terkena juga. Oleh karena itu walaupun dunia kedokteran sudah menemukan
dosis radiasi yang dapat mematikan kanker tetapi penyinaran sebesar dosis itu tidak mungkin
dilakukan karena itu berarti merusak jaringan normal yang ada disekitarnya juga. Sebagai
conoh jika kanker berada di hati dan dengan radiasi berarti hati pun ikut rusak, hal itu akan
mendatangkan kematian pula di kemudian hari.

Demikian pula dengan kemoterapi yang merupakan zat kimia racun terhebat bagi sel,
bukan semata sel kanker, tetapi juga sel tubuh normal yang menyerapnya. Akibatnya mereka
yang menjalani radiaoterapi maupun kemoterapi akan sarat dengan efek samping seperti, mual-
muntah, badan kurus, kulit kering dan membusuk, rambut-alis rontok, badan lemah, sakit
kepala dan banyak lagi.

Pengobatan terhadap kanker saat ini masih merupakan tantangan yang besar bagi dunia
kedokteran modern. Dan semoga kelak dapat ditemukan obat ampuh yang dapat mengeliminasi
kanker dari tubuh tanpa efek samping yang berlebih.
I.6 Pencegahan

Berdasarkan pada bahasan di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi suatu tumor itu
adalah multifaktorial dan prosesnya rumit. Akibatnya dalam dunia neoplasia, pencegahan
terhadap jenis penyakit satu ini seringkali sulit karena memang penyebab pastinya belum
diketahui. Terdapat beberapa keganasan yang sudah memiliki anjuran pencegahan yang sudah
diterima umum antara lain menghindari merokok (untuk mencegah kanker leher rahim, paru,
mulut), hindari hubungan seksual usia terlalu dini dan gonta-ganti seksual serta imunisasi HPV
(untuk mencegah kanker leher rahim), hindari alcohol (untuk mencegah kanker lambung,
kerongkongan, hati) dan lainnya.

I.7 Komplikasi

Komplikasi dapat terjadi jika tumor terletak di wilayah tubuh mana hal itu
mempengaruhi fungsi organ normal. Jika tumor tersebut ganas, juga dapat menyebabkan
komplikasi jika menyebar (bermetastasis)

I.8 Prognosis

Prognosis bervariasi di antara berbagai jenis tumor. Jika tumor jinak, prognosis
umumnya sangat baik. Namun, ada beberapa kasus di mana tumor jinak dapat menyebabkan
masalah yang signifikan, misalnya, di otak.

Jika tumor tersebut ganas, hasilnya tergantung pada stadium dari tumor pada saat
diagnosis. Beberapa kanker bisa disembuhkan. Beberapa yang tidak dapat disembuhkan masih
dapat diobati dan pasien dapat hidup selama bertahun-tahun dengan kanker. tumor lainnya
dengan cepat mengancam jiwa.

Secara umum, semakin kecil derajat kanker maka semakin dapat ditanggulangi dan
prognosis (harapan kesembuhan dan hidup) jauh lebih besar.
II. TUMOR GINJAL

II.1. Definisi

Tumor ginjal adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dari sel jaringan ginjal. Tumor

lunak atau siste pada umumnya tidak ganas dan yang padat ganas atau kanker. Kanker adalah

pertumbuhan sel yang tidak normal sangat cepat dan mendesak sel-sel disekitarnya. 2

Tumor Ginjal atau nephroblastoma adalah jenis tumor yang sering terjadi pada anak-

anak di bawah umur 10 tahun, jarang ditemukan pada orang dewasa.

Sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) adalah kanker, sedangkan kista (rongga berisi

cairan) atau tumor biasanya jinak. Seperti organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa mengalami

kanker. Pada dewasa, jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel

ginjal (adenokarsinoma renalis, hipernefroma), yang berasal dari sel-sel yang melapisi tubulus

renalis.2

II.2. Anatomi dan Fisiologi Ginjal 1,6

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak retroperitoneal, di

kedua sisi kolumna vertebralis daerah lumbal. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan

dengan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi kosta 12,

sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi kosta 11. Setiap ginjal terdiri dari kira-kira

1,3 juta nefron.1, 6,

Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal

bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial. Pada

sisi ini terdapat hilus ginjal yaitu tempat struktur-struktur pembuluh darah, sistem limfatik,

sistem saraf, dan ureter menuju dan meninggalkan ginjal.

Besar dan berat ginjal sangat bervariasi; hal ini tergantung pada jenis kelamin, umur,

serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Pada autopsi klinis didapatkan bahwa ukuran
ginjal orang dewasa rata-rata adalah 11,5 cm (panjang) x 6 cm (lebar) x 3,5 cm (tebal). Beratnya

bervariasi antara 120-170 gram, atau kurag lebih 0,4% dari berat badan.

Gambar 1. Letak Ginjal

Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medula ginjal. Di

dalam korteks terdapat berjuta-juta nefron sedangkan di dalam medula banyak terdapat duktuli

ginjal. Nefron adalah unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas tubulus kontortus

proksimalis, tubulus kontortus distalis, dan duktus kolegentes.4,6,7

Gambar 2. Laju filtrasi glomerulus.

Ginjal menerima sekitar 20 % dari aliran darah jantung atau sekitar 1 liter per menit

darah dari 40 % hematokrit, plasma ginjal mengalir sekitar 600 ml/menit. Normalnya 20 %

dari plasma disaring di glomerulus dengan LFG 120 ml/menit atau sekitar 170 liter per hari.

Penyaringan terjadi di tubular ginjal dengan lebih dari 99 % yang terserap kembali

meninggalkan pengeluaran urin terakhir 1-1,5 liter per hari.1, 6, 7


Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang langsung

dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena renalis yang bermuara ke

dalam vena kava inferior. Sistem arteri ginjal adalah end arteries yaitu arteri yang tidak

mempunyai anastomosis dengan cabang-cabang dari arteri lain, sehingga jika terdapat

kerusakan pada salah satu cabang arteri ini, berakibat timbulnya iskemia/nekrosis pada daerah

vaskularisasinya.4,6,7

Gambar 3. Pembuluh darah ginjal

Fungsi utama ginjal adalah sebagai organ pengatur dalam mengekskresi bahan-bahan

kimia asing tertentu (misalnya obat-obatan) hormon dan metabolit lain, tetapi fungsi yang

paling utama adalah mempertahankan volume dan komposisi ECF dalam batas normal. Tentu

saja ini dapat terlaksana dengan mengubah ekskresi air dan zat terlarut, kecepatan filtrasi yang

tinggi memungkinkan pelaksanaan fungsi ini dengan ketepatan tinggi. Pembentukan renin dan

eritropoietin serta metabolisme vitamin D merupakan fungsi nonekskretor yang penting.


Sekresi renin berlebihan yang mungkin penting pada etiologi beberapa bentuk hipertensi.

Defisiensi eritropoietin dan pengaktifan vitamin D yang dianggap penting sebagai penyebab

anemia dan penyakit tulang pada uremia.7

Ginjal juga berperan penting dalam degradasi insulin dan pembentukan sekelompok

senyawa yang mempunyai makna endokrin yang berarti, yaitu prostaglandin. Sekitar 20%

insulin yang dibentuk oleh pankreas didegradasi oleh sel-sel tubulus ginjal. Akibatnya

penderita diabetes yang menderita payah ginjal membutuhkan insulin yang jumlahnya lebih

sedikit. Prostaglandin merupakan hormon asam lemak tidak jenuh yang terdapat dalam banyak

jaringan tubuh. Medula ginjal membentuk PGI dan PGE2 yang merupakan vasodilator

potensial. Prostaglandin mungkin berperan penting dalam pengaturan aliran darah ke ginjal,

pegeluaran renin dan reabsorpsi Na+. Kekurangan prostagladin mungkin juga turut berperan

dalam beberapa bentuk hipertensi ginjal sekunder, meskipun bukti-bukti yang ada sekarang ini

masih kurang memadai.6

II.3. Klasifikasi Tumor Ginjal

II.3.1. Tumor Jinak

Tumor mulai pada sel-sel, blok-blok bangunan yang membentuk jaringan-jaringan.

Jaringan-jaringan membentuk organ-organ tubuh. Secara normal, sel-sel tumbuh dan

membelah untuk membentuk sel-sel baru ketika tubuh memerlukan mereka. Ketika sel-sel

tumbuh menua, mereka mati, dan sel-sel baru mengambil tempat mereka. Adakalanya proses

yang teratur ini berjalan salah. Sel-sel baru terbentuk ketika tubuh tidak memerlukan mereka,

dan sel-sel tua tidak mati ketika mereka seharusnya mati. Sel-sel ekstra ini dapat membentuk

suatu massa dari jaringan yang disebut suatu pertumbuhan atau tumor.
a. Hamartoma Ginjal

Hamartoma atau angiomiolipoma ginjal adalah tumor ginjal yang terdiri atas

komponen lemak, pembuluh darah dan otot polos. Lesi ini bukan merupakan tumor sejati,

tetapi paling cocok disebut sebagai hamartoma. Tumor jinak ini biasanya bulat atau lonjong

dan menyebabkan terangkatnya simpai ginjal. Kadang tumor ini ditemukan juga pada

lokasi ektrarenal karena pertumbuhan yang multisentrik . Lima puluh persen dari

hamartoma ginjal adalah pasien Tuberous sklerosis atau penyakit Bournville yaitu suatu

kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental, epilepsi, adenoma seseum dan

terdapat hamartoma di retina, hepar, tulang, pankreas dan ginjal. Tumor ini lebih banyak

menyerang wanita daripada pria dengan perbandingan 4 : 1.

Hamartoma ginjal sering tanpa menunjukkan gejala dan kadang-kadang didapatkan

secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin dengan ultrasonografi abdomen(Basuki,

.Gejala klinis yang mungkin dikeluhkan adalah : nyeri pinggang, hematuria, gejala

obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang kala terdapat gejala perdarahan rongga

retroperitonial.

b. Fibroma Renalis

Tumor jinak ginjal yang paling sering ditemukan ialah fibroma renalis atau tumor

sel interstisial reno-medulari. Tumor ini biasanya ditemukan secara tidak sengaja sewaktu

melakukan autopsi, tanpa adanya tanda ataupun gejala klinis yang signifikan. Fibroma

renalis berupa benjolan massa yang kenyal keras, dengan diameter kurang dari 10 mm yang

terletak dalam medula atau papilla. Tumor tersusun atas sel spindel dengan kecenderungan

mengelilingi tubulus di dekatnya.

c. Adenoma Korteks Benigna

Adenoma koreteks benigna merupakan tumor berbentuk nodulus berwarna kuning

kelabu dengan diameter biasanya kurang dari 20 mm, yang terletak dalam korteks ginjal.
Tumor ini jarang ditemukan, pada autopsi didapat sekitar 20% dari seluruh autopsi yang

dilakukan. Secara histologis tidak jelas perbedaannya dengan karsinoma tubulus renalis ;

keduanya tersusun atas sel besar jernih dengan inti kecil. Perbedaannya ditentukan hanya

berdasarkan ukurannya ; tumor yang berdiameter kurang dari 30 mm ditentukan sebagai

tumor jinak. Perbedaan ini sepenuhnya tidak dapat dipegang sebab karsinoma stadium awal

juga mempunyai diameter kurang dari 30 mm. Proses ganas dapat terjadi pada adenoma

korteks.

d. Onkositoma

Onkositoma merupakan subtipe dari adenoma yang sitoplasma granulernya (tanda

terhadap adanya mitokondria yang cukup besar dan mengalami distorsi) banyak ditemukan.

Onkositoma kadang-kadang dapat begitu besar sehingga mudah dikacaukan dengan

karsinoma sel renalis.

II.3.2. Tumor Ganas (kanker)

a. Adenokarsinoma Ginjal

Adenokarsinoma ginjal adalah tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari

tubulus proksimalis ginjal. Tumor ini merupakan 3% dari seluruh keganasan pada orang

dewasa. Tumor ini paling sering ditemukan pada umur lebih dari 50 tahun. Penemuan kasus

baru meningkat setelah ditemukannya alat bantu diagnosa USG dan CT scan.

Angka kejadian pada pria lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 2 : 1.

Meskipun tumor ini biasanya banyak diderita pada usia lanjut (setelah usia 40 tahun), tetapi

dapat pula menyerang usia yang lebih muda. Kejadian tumor pada kedua sisi (bilateral)

terdapat pada 2% kasus. Tumor ini dikenal dengan nama lain sebagai : tumor Grawitz,

Hipernefroma, Karsinoma sel Ginjal atau Internist tumor. Serupa dengan sel korteks

adrenal tumor ini diberi nama hipernefroma yang dipercaya berasal dari sisa kelenjar

adrenal yang embrionik.


Gambar 4. Adenokarsinoma

Klasifikasi stadium Robson


Kini sudah jarang dipakai, tapi literatur yang melaporkan kasus di masa lalu sering
memakai sistem klasifikasi ini.

Stadium I : tumor terlokalisasi dalam ginjal

Stadium II : tumor menginvasi lemak perirenal, tapi belum menembus fasia Gerota

Stadium III : tumor telah menginvasi menembus fasia Gerota

IIIa : secara makroskopik tumor mengenai vena renal, vena kava (supra dan
subdiafragma serta atrium kanan)

IIIb : metastasis kelenjar limfe regional

IIIc : sekaligus terdapat invasi vena dan metastasis kelenjar limfe

Stadium IV : menginvasi organ sekitar atau metastasis jauh

IVa : menginvasi organ sekitar (kecuali kelenjar adrenal)

IVb : metastasis jauh


Gambar 5. Stadium adenokarsinoma

b. Nefroblastoma (tumor Wilms)

Nefroblastoma adalah tumor ginjal yang banyak menyerang anak berusia kurang

dari 10 tahun dan paling sering dijumpai pada umur 3,5 tahun. Tumor ini merupakan tumor

urogenitalia yang paling banyak menyerang anak-anak. Kurang lebih 10% tumor ini

menyerang kedua ginjal secara bersamaan. Insiden puncaknya antara umur 1- 4 tahun.

Anak perempuan dan laki-laki sama banyaknya. Tumor Wilms merupakan 10% dari semua

keganasan pada anak. Tumor ini mungkin ditemukan pada anak dengan kelainan aniridia,

keraguan genitalia pada anak dan sindrom Beckwith-Wiedemann (makroglosi, omfalokel,

viseromegah dan hipoglikemia neonatal). Satu persen dari tumor Wilms ditemukan familial

dan diturunkan secara dominan autosomal. Onkogen tumor Wilms telah dilokasi pada garis

p 13 kromosom 11

Nefroblastoma sering dikenal dengan nama tumor Wilm atau karsinoma sel

embrional. Tumor Wilm sering diikuti dengan kelainan bawaan berupa: anridia,

hemihipertrofi dan anomali organ urogenitalia.


Gambar 6. Massa pada Abdomen

The National Wilms Tumor Study Group (NWTSG) membagi 5 stadium tumor Wilms, yaitu :
a. Stadium I
Tumor terbatas di dalam jaringan ginjal tanpa menembus kapsul. Tumor ini dapat di
reseksi dengan lengkap.
b. Stadium II
Tumor menembus kapsul dan meluas masuk ke dalam jaringan ginjal dan sekitar
ginjal yaitu jaringan perirenal, hilus renalis, vena renalis dan kelenjar limfe para-aortal.
Tumor masih dapat direseksi dengan lengkap.
c. Stadium III
Tumor menyebar ke rongga abdomen (perkontinuitatum), misalnya ke hepar,
peritoneum dan lain-lain.
d. Stadium IV
Tumor menyebar secara hematogen ke rongga abdomen, paru-paru,otak dan tulang.

Gambaran trifasik pada tumor Wilms, adanya epithel, blastema dan stroma.
Gambaran tumor Wilms dengan unfavorable histology.

Diagnosis tumor Wilms berdasarkan atas :


· Gejala klinik
Gejala dan tanda tumor Wilms.

c. Tumor Pelvis Renalis

Angka kejadian tumor ini sangat jarang. Sesuai dengan jenis histopatologinya tumor ini

dibedakan dalam dua jenis yaitu (1) karsinoma sel transitional dan (2) karsinoma sel skuamosa.

Seperti halnya mukosa yang terdapat pada kaliks, buli-buli dan uretra proksimal, pielum juga

dilapisi oleh sel-sel transitional dan mempunyai kemungkinan untuk menjadi karsinoma

transitional. Karsinoma sel skuamosa biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis

karena adanya batu yang menahun pada pelvis renalis.


Sebagian besar tumor renalis pada orang dewasa ialah karsinoma sel renalis, dimana

sisanya yang paling banyak (5-10%) karsinoma sel transitional yang berasal dari urotelium

pelvis renalis, karena pertumbuhannya ke dalam rongga kaliks pelvis, tumor ini secara dini

akan ditandai dengan adanya hematuria atau obstruksi.

Tumor ini sering menginfiltrasi dinding pelvis dan dapat mengenai vena renalis.

Gambaran klinis

Yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah hematuria (80%),kadang-kadang

disertai dengan nyeri pinggang,dan terasa massa pada pinggang keadaan tersebut disebabkan

oleh massa tumor atau akibat obtruksi oleh tumor yang menimbulkan hidronefrosis.Pada

pemeriksaan PIV terdapat filling defect yang nampak seolah-olah seperti batu

radiolusen,tuberkuloma,atau hemangioma pada pielum ginjal. Untuk itu bantuan ultrasonografi

atau Ctscan dapat membedakanya.Pemeriksaan sitologi urine dengan mengambil contoh urine

langsung ke dalam pielum melalui kateter ureter.Melalui alat ureteronoskopi dapat dilihat

langsung ke dalama pielum.jika ada massa pada pielum diambil contoh jaringan untuk

pemeriksaan histopatologi.
BAB III

GAMBARAN RADIOLOGI TUMOR GINJAL

Diagnosis karsinoma renal terutama mengandalkan pemeriksaan pencintraan, termasuk

USG, CT dan MRI. BNO-IVP dan angiografi renal kini sudah jarang digunakan, skening

radioisotop terutama digunakan untuk menilai metastasis tulang atau hati. Pasien hematuria

harus terlebih dulu diperiksa di USG, jika menemukan lesi penempat ruang, harus diperiksa

lebih lanjut dengan CT atau MRI untuk memperjelas diagnosis. Karsinoma asimtomatik

dewasa ini sebagian terbesar terdeteksi dengan USG. Setahun sekali pemeriksaan USG ginjal

merupakan cara paling sederhana dan efektif untuk menemukan karsinoma renal.

Pemeriksaan USG umumnya dapat membedakan karsinoma renal, angioleiomiolipoma

renal dan kista renal sederhana. Lemak menunjukkan hiperekoik, karsinoma sel renal tidak

mengandung lemak sehingga USG dapat membedakan dengan baik karsinoma renal dan

angioleimiolipoma renal. Tapi angioleimiolipoma renal yang mengandung sedikit lemak

mudah didiagnosis keliru sebagai karsinoma renal. Skening CT harus planar dan kontras, dapat

mendiagnosis secara tepat kebanyakan karsinoma renal, tapi kista hemoragik mudah

terdiagnosis keliru sebagai karsinoma renal, dalam hal ini MRI dapat membantu

membedakannya, CT dan MRI sangat membantu dalam menemukan embolus vena,

menentukan lingkup embolus kanker dan stadium klinis.

3.1. CT-Scan

CT scan merupakan pemeriksaan pencitraan yang dipilih pada karsinoma ginjal.

Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang cukup tinggi dalam mengetahui adanya penyebaran

tumor pada vena renalis, vena cava, ekstensi perirenal dan metastasis pada kelenjar limfe

retroperitoneal.

CT Scan berguna sebagai tambahan ketepatan dalam membedakan antara kista atau

tumor padat terutama dalam melakukan staging. Dapat juga dilakukan untuk melihat adanya
sisa tumor setelah pembedahan atau adanya rekurensi tumor pasca bedah. CT scan merupakan

pemeriksaan pencitraan yang dipilih pada karsinoma ginjal. Pemeriksaan ini mempunyai

akurasi yang cukup tinggi dalam mengetahui adanya penyebaran tumor pada vena renalis, vena

cava, ekstensi perirenal dan metastasis pada kelenjar limfe retroperitoneal.

Gambar 3.1.1. CT scan abdomen pasien tumor Wilms

Gambar 3.1.2. Tumor wilms pada anak-anak 4 tahun dengan massa di abdomen. Massa
heterogenus di ginjal kiri (panah besar) dan metastase bepar multipel (panah kecil). Metastase
hepar multipel dengan thrombus tumor di dalam vena porta.
Gambar 3.1.3 a) Adanya kalsifikasi fokal pada bagian atas dari ginjal sebelah kanan. b)
Adanya massa yang besar pada ginjal kanan disertai dengan kalsifikasi, infasi ke lobus hepar.
c) Adanya kalsifikasi fokal pada bagian atas ginjal sebelah kanan (panah putih).

Gambar 3.1.4. sel ginjal karsinoma pada ginjal kanan yang didedikasikan pada ct scan ginjal. sebelum
peningkatan kontras ,. sel ginjal karsinoma . dengan ct scan contrast ginjal dengan ukuran 101 . 7 hu

3.2. USG

Apabila terdapat keraguan antara kista atau tumor padat ginjal, maka pemeriksaan

tersederhana dan murah adalah pemeriksaan ultrasonografi. Dalam hal ini USG hanya dapat

menerangkan bahwa ada massa solid atau kistik.

Pemeriksaan USG umumnya dapat membedakan karsinoma renal, angioleiomiolipoma

renal dan kista renal sederhana. Lemak menunjukkan hiperekoik, karsinoma sel renal tidak

mengandung lemak sehingga USG dapat membedakan dengan baik karsinoma renal dan

angioleimiolipoma renal. Tapi angioleimiolipoma renal yang mengandung sedikit lemak

mudah didiagnosis keliru sebagai karsinoma renal.


Gambar 3.2.1. Karsinoma ginjal yang diidentifikasi sebagai massa yang bulat yang
membentang dari bagian posterior ginjal ( anak panah ) .

Gambar 3.2.2. Karsinoma ginjal sebelah kanan. Menggunakan USG Doppler.

Gambar 3.2.3. Pada potongan sagittal dari gambar diperoleh adannya massa yang besar pada
ginjal kanan , massa yang didominasi hyperechoic , yang terletak di bagian dari posteroinferior
ginjal dan daerah yang berisi echotexture yang heterogen
Gambar 3.2.4. Karsinoma sel ginjal yang diidentifikasi sebagai massa yang bulat yang
membentang dari bagian posterior ginjal ( anak panah ) .

3.3. MRI
MRI bisa memberikan keterangan tambahan mengenai penyebaran tumor. MRI dapat

mengungkapkan adanya invasi tumor pada vena renalis dan vena cava tanpa membutuhkan

kontras, tetapi kelemahannya adalah kurang sensitif mengenali lesi solid yang berukuran

kurang dari 3 cm. MRI juga bermanfaat untuk magnetic resonance venography untuk

membantu diagnosis trombus pada vena renalis. MRI dapat menunjukkan informasi penting

untuk menentukan perluasan tumor di dalam vena cava inferior termasuk perluasan ke

daerah intarkardial.

Gambar 3.3.1. Karsinoma renalis sinistra pada pasien yang menjalani nephrectomy untuk sel
ginjal karsinoma . Gambar magnetik resonansi aksial t1 weighted ( MRI )
Gambar 3.3.2. karsinoma sel ginjal yang besar sebelah kanan dengan invasi vena kava inferior
. potongan aksial t1 weighted MRI sebelum peningkatan kontras . karsinoma sel ginjal yang
besar sebelah kanan dengan invasi vena kava inferior i . aksial t1 weighted contrast enhanced
MRI.

Gambar 3.3.3. wilms tumor pada anak laki-laki 3 tahun dengan sebuah massa di perut . gambar
MRI gadolinium enhanced koronal fat suppressed t1 weighted menunjukkan massa yang besar,
terdeteksi dengan baik di sebelah kanan ginjal ( panah )
Gambar 3.3.4. karsinoma sel renalis sinistra pada pasien dengan penyakit ginjal polycystic.
aksial t1 weighted contrast enhanced MRI.
DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki P. 2003. Dasar-Dasar Urologi Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta

2. Cooper CS, Snyder III HM. 2005. Pediatric Genitourinary Cancer, dalam Nachtsheim D.

Editor. Vademecum Urological Oncology. Texas: Landes Bioscience.117-123.

3. De Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. EGC. Jakarta

4. Hardjowijoto S, Djuwantoro D, Rahardjo EO, Djatisoesanto W. 2005. Management of

Wilms’ Tumor in Department of Urology Soetomo Hospital : report of 70 cases. Jurnal

Ilmu Bedah Indonesia vol. 33 no. 1 :1-5

5. Tongaonkar HB, Qureshi SS, Kurkure PA, Muckaden MA, Arora B, Yuvaraja TB. 2007.

Wilms’ tumor: An update. Indian Journal of Urology. 458-465

6. Rasad S. 2005. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Balai Penerbit FK UI: Jakarta

7. Sachdeva K, MD, Makhoul I, MD, Renal Cell Carcinoma,

http://www.emedicine.com.2003

8. Bukowski M.R, Novick C.A, Renal Cell Carcinoma : Molekuler Biologi, Imunology, and

Clinical Management, http: //www.New England Journal Of Medicine.com.2003.