Anda di halaman 1dari 9

ARINI PUTRI

1511211029

TUGAS ADKL DAN ARKL


PERHITUNGAN ARKL PAJANAN INGESTI (TERTELAN)
ARKL PADA AIR
Suatu pemukiman penduduk dicurigai bahwa sumur sebagai sumber air minum
telah tercemar oleh arsen (As).Setelah dilakukan pengukuran sampel oleh petugas
puskesmas pada air sumur penduduk sebanyak 30 sampel air sumur didapat:
As Minimal = 0,04 mg/l
As rata-rata =0,07 mg/l
As Maksimal =0,1 mg/l
Jika air tersebut diminum 2l/hariterpajan 350 hari/tahun dan RfdAs=3×10-4
mg/kg-hari.
Hitunglah tingkat risiko (RQ) Non Karsinogenik pada 15 dan 30 tahun kedepan
dengan rata-rata nerat badan dewasa 50 kg
Diket: C : As Minimal =0,04 mg/l
As rata-rata =0,07 mg/l
As Maksimal=0,1 mg/l
R : 2 l/hari
Fe: 350 hari/tahun
RfD: 3x10-4
Dt1: 15 tahun
Dt2: 30 tahun
Wb: 50 kg
RfdAs: 3x10-4 mg/kg-hari
tAvg1: 15 x 365 hari/tahun=5.475 hari
tAvg2: 30 x 365 hari/tahun=10.950 hari
Dit : Hitunglah tingkat risiko (RQ) Non Karsinogenik pada 15 dan 30 tahun
kedepan dengan rata-rata berat badan dewasa 50 kg
Jawab:
a.RQ Non Karsinogenik C As Minimal pada 15 tahun ke depan
𝐶 𝑋 𝑅 𝑋 𝐹𝐸 𝑋 𝐷𝑡1
𝐼𝑛𝑘 = 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔1
ARINI PUTRI
1511211029

0.04 mg⁄l x 2l⁄hari x 350 hari⁄tahun x 15


𝐼𝑛𝑘 =
50 kg x 5.475 hari
420
𝐼𝑛𝑘 =
273.750
𝐼𝑛𝑘 = 0.0015 𝑥 10−4 mg⁄kg x hari
𝐼𝑛𝑘
𝑅𝑄 =
𝑅𝑓𝐷
15 𝑥 10−4
𝑅𝑄 =
3 𝑥 10−4
𝑅𝑄 = 5
b.RQ Non Karsinogenik C As Minimal pada 30 tahun kedepan
𝐶 𝑥 𝑅 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡2
𝐼𝑛𝑘 =
𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔2
0.04 𝑚𝑔⁄𝑙 𝑥 2𝑙⁄ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑥 350 ℎ𝑎𝑟𝑖⁄𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑥 30
𝐼𝑛𝑘 =
50 𝑘𝑔 𝑥 10.950 ℎ𝑎𝑟𝑖

𝐼𝑛𝑘= 840
547.500

𝐼𝑛𝑘 = 0.0015 = 15 𝑥 10−4 𝑚𝑔⁄𝑘𝑔 𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖


𝐼𝑛𝑘
𝑅𝑄 =
𝑅𝑓𝐷
15 𝑥 10−4
𝑅𝑄 =
3 𝑥 10−4
𝑅𝑄 = 5
c.RQ Non Karsinogenik C As Rata-Rata pada 15 tahun kedepan

Ink=C X R X FE X Dt1
Wb X t
avg1

Ink=0.07 mg⁄l X2l⁄hari x 350 hari⁄tahun X 15


50 kg X 5.475 hari

Ink= 735
273.750
ARINI PUTRI
1511211029

Ink=0.0027=27 x 10−4 mg⁄kg x hari


𝐼𝑛𝑘
𝑅𝑄 =
𝑅𝑓𝑑
27 𝑥 10−4
𝑅𝑄 =
3 𝑥 10−4
𝑅𝑄 = 9
d.RQ Non Karsinogenik C As Rata-Rata pada 30 tahun kedepan

Ink=C X R X FE X Dt2
Wb X t
avg2

Ink=0.07 mg⁄l X2l⁄hari x 350 hari⁄tahun X 30


50 kg X 10.950 hari

Ink= 1.470
540.500

Ink=0.0027=27 x 10−4 mg⁄kg x hari


𝐼𝑛𝑘
𝑅𝑄 =
𝑅𝑓𝑑
27 𝑥 10−4
𝑅𝑄 =
3 𝑥 10−4
𝑅𝑄 = 9
e.RQ Non Karsinogenik C As Maksimal pada 15 tahun kedepan

Ink=C X R X FE X Dt1
Wb X t
avg1

Ink=0.1 mg⁄l X2l⁄hari x 350 hari⁄tahun X 15


50 kg X 5.475hari

Ink= 1050
273.750

Ink=0.0038=38 x 10−4 mg⁄kg x hari


𝐼𝑛𝑘
𝑅𝑄 =
𝑅𝑓𝑑
ARINI PUTRI
1511211029

38 𝑥 10−4
𝑅𝑄 =
3 𝑥 10−4
𝑅𝑄 = 12,67
f. RQ Non Karsinogenik C As Minimal 30 tahun kedepan

Ink=C X R X FE X Dt2
Wb X t
avg2

Ink=0.1 mg⁄l X2l⁄hari x 350 hari⁄tahun X 30


50 kg X 10.950 hari

Ink= 2100
547.500

Ink=0.0038=38 x 10−4 mg⁄kg x hari


𝐼𝑛𝑘
𝑄=
𝑅𝑓𝑑
38 𝑥 10−4
𝑅𝑄 =
3 𝑥 10−4
𝑅𝑄 = 12,67
KESIMPULAN :

Setelah dilakukan penghitungan terhadap tingkat risiko (RQ) pada setiap


konsentrasi , diperoleh seluruh RQ > 1 , dengan demikian seluruh konsentrasi tidak
aman , atau berisiko. Sehingga perlu dilakukan pengelolaan risiko.

PENGELOLAAN RESIKO:

Setelah dilakukan keempat langkah ARKL di atas maka telah dapat diketahui
apakah suatu agen risiko aman/dapat diterima atau tidak. Pengelolaan risiko bukan
termasuk langkah ARKL melainkan tindak lanjut yang harus dilakukan bilamana hasil
karakterisasi risiko menunjukkan tingkat risko yang tidak aman ataupun unacceptable.
Dalam melakukan pengelolaan risiko perlu dibedakan antara strategi pengelolaan risiko
dengan cara pengelolaan risiko.
ARINI PUTRI
1511211029

Strategi pengelolaan risiko meliputi penentuan batas aman yaitu :

1. Konsentrasi agen risiko (C), dan/atau


2. Jumlah konsumsi (R), dan/atau
3. Waktu pajanan (tE) , dan/atau
4. Frekuensi pajanan (fE) , dan/atau
5. Durasi panajan (Dt)
Setelah batas aman ditentukan, selanjutnya perlu dilakukan penapisan alternatif terhadap
batas aman yang akan dijadikan sebagai target atau sasaran pencapaian dalam
pengelolaan risiko. Batas aman yang dipilih adalah batas aman yang lebih rasional dan
realistis untuk dicapai.

Adapun cara pengelolaan risko adalah cara atau metode yang digunakan untuk mencapai
batas aman tersebut. Cara pengelolaan risiko meliputi beberapa pendekatan yaitu
pendekatan teknologi, pendekatan sosial-ekonomis, dan pendekatan institusional.

STRATEGI PENGELOLAAN RISIKO:

1. Penentuan Batas Aman


a.Penentuan konsentrasi aman (C)
 Konsentrasi aman non karsinogenik pada 15 tahun kedepan
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔1
𝐶𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝑅 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡1
3 𝑥 10 −4 𝑥 50 𝑥 5.475
2 𝑥 350 𝑥 15
82,125
10.500
𝟎, 𝟎𝟎𝟕𝟖
 Konsentrasi aman non karsinogenik pada 30 tahun kedepan
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔2
𝐶𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝑅 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡2
3 𝑥 10 −4 𝑥 50 𝑥 10.950
2 𝑥 350 𝑥 30
ARINI PUTRI
1511211029

164,25
21.100
𝟎, 𝟎𝟎𝟕𝟖
b.Penentuan laju konsumsi aman non karsinogenik

 Laju aman non karsinogenik lama pajanan selama 15 tahun pada C


As minimal = 0,04 mg/l
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔1
𝑅𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝐶𝑚𝑖𝑛 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡1
3 𝑥10−4 𝑥 50 𝑥 5475
=
0,04 𝑥 350𝑥 15
82,125
=
210

= 𝟎, 𝟑𝟗
 Laju aman non karsinogenik lama pajanan selama 30 tahun pada C
As minimal = 0,04 mg/l
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔2
𝑅𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝐶𝑚𝑖𝑛 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡2
3 𝑥10−4 𝑥 50 𝑥 10.950
=
0,04 𝑥 350𝑥 30
164,25
=
420

= 𝟎, 𝟑𝟗
 Laju aman non karsinogenik lama pajanan selama 15 tahun pada C
As rata-rata = 0,07 mg/l :
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔1
𝑅𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝐶𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡1
3 𝑥10−4 𝑥 50 𝑥 5475
=
0,07 𝑥 350𝑥 15
82,125
=
367,5

= 𝟎, 𝟐𝟐
ARINI PUTRI
1511211029

 Laju aman non karsinogenik lama pajanan selama 30 tahun pada C


As rata-rata = 0,07 mg/l
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔2
𝑅𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝐶𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡2
3 𝑥10−4 𝑥 50 𝑥 10.950
=
0,07 𝑥 350𝑥 30
164,25
=
735
= 𝟎, 𝟐𝟐
 Laju aman non karsinogenik lama pajanan selama 15 tahun pada C
As maksimal = 0,1 mg/l :
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔1
𝑅𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝐶𝑚𝑎𝑥 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡1
3 𝑥10−4 𝑥 50 𝑥 5475
=
0,1 𝑥 350𝑥 15
82,125
=
525

= 𝟎, 𝟏𝟓
 Laju aman non karsinogenik lama pajanan selama 30 tahun pada C
As maksimal = 0,1 mg/l :
𝑅𝑓𝐷 𝑥 𝑊𝑏 𝑥 𝑡𝑎𝑣𝑔2
𝑅𝑛𝑘(𝑎𝑚𝑎𝑛) =
𝐶𝑚𝑎𝑥 𝑥 𝐹𝐸 𝑥 𝐷𝑡2
3 𝑥10−4 𝑥 50 𝑥 10.950
=
0,1 𝑥 350𝑥 30
164,25
=
1.050

= 𝟎, 𝟏𝟓
ARINI PUTRI
1511211029

Penentuan waktu pajanan aman (tE)

Penerapannya dilakukan untuk pemajanan inhalasi, sedangkan untuk


pemajanan ingesti (melalui makanan atau air minum) dilakukan
pembatasan jumlah konsumsi saja

Penentuan frekuensi pajanan aman (fE)

Pengelolaan frekuensi pajanan dilakukan dengan mengurangi jumlah


hari terpapar dalam satu tahun, oleh karenanya hanya dapat dilakukan pada
populasi pekerja maupun siswa bukan pada populasi penduduk
(masyarakat). Penerapannya dilakukan untuk pemajanan inhalasi,
sedangkan untuk pemajanan ingesti (melalui makanan atau air minum)
cukup dilakukan dengan pembatasan jumlah konsumsi saja.

Penentuan durasi pajanan aman (Dt)

Durasi pajanan aman dikelola pada pemajanan inhalasi pada


lingkungan yang permanen seperti pada lingkungan tempat tinggal
(pemukiman). Pengelolaan durasi pajanan dilakukan dengan membatasi
lamanya tinggal (tahun) masyarakat pada suatu pemukiman dengan cara
melakukan ‗relokasi‘ pemukiman pada saat telah melewati batas durasi
amannya. Penerapan strategi durasi pajanan aman untuk pemajanan
ingesti (melalui makanan atau air minum) kurang tepat karena pada
pemajanan ingesti pengelolaan risiko cukup dilakukan dengan pembatasan
jumlah konsumsi saja.

Penapisan alternatif (pemilihan skenario) pengelolaan risiko


Cara Pengelolaan Risiko
Pengelolaan risiko selain membutuhkan strategi yang tepat juga harus
dilakukan dengan cara atau metode yang tepat. Dalam aplikasinya cara
pengelolaan risiko dapat dilakukan melalui 3 pendekatan yaitu :
1. Pendekatan teknologi
ARINI PUTRI
1511211029

Pengelolaan risiko menggunakan teknologi yang tersedia meliputi


penggunaan alat, bahan, dan metode, serta teknik tertentu. Contoh pengeloaan
risiko dengan pendekatan teknologi antara lain : penerapan penggunaan IPAL,
pengolahan / penyaringan air, modifikasi cerobong asap, penanaman tanaman
penyerapan polutan, dll.
Pendekatan teknologi yang dapat dilakukan pada kasus pencemaran air minum
oleh Arsen ini dapat berupa : dilakukannya pengelolaan/penyaringan pada air
sumur yang tercemar Arsen.
2. Pendekatan sosial-ekonomis
Pengelolaan risiko menggunakan pendekatan sosial – ekonomis meliputi
pelibatsertaan pihak lain, efisiensi proses, substitusi, dan penerapan
sistemkompensasi. Contoh pengelolaan risiko dengan pendekatan sosial –
ekonomis antaralai : 3R (reduce,reuse dan recycle) limbah, pemberdayaan
masyarakat yang berisiko, pemberian kompensasi pada masyarakat yang
terkena dampak, permohonan bantuan pemerintah akibat keterbatasan
pemrakarsa (pihak yang bertanggung jawab mengelola risiko) , dll.
Pendekatan sosial ekonomis yang dapat dilakukan pada kasus pencemaran air
minum oleh Arsen dapat berupa : pemberian kompensasi pada masyarakat
yang berdampak akibat tercemarnya air sumur oleh Arsen.
3. Pendekatan institusional
Pengelolaan risiko dengan menempuh jalur dan mekanisme kelembagaan
dengan cara melakukan kerjasama dengan pihak lain. Contoh pengeloaan risiko
dengan pendekatan institusional antara lain : kerjasama dalam pengelolaan
limbah B3, mendukung pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah,
menyampaikan laporan kepada instansi yang berwenang, dll.
Pendekatan institusional yang dapat dilakukan untuk pengelolaan risiko seperti
: masyarakat mendukung pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah
terhadap kawasan tempat terjadinya pencemaran air sumur oleh Arsen.