Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberhasilan dari pelayanan kesehatan di suatu negara diukur dengan Angka

Kematian Ibu dan Angka Kematian Perinatal. Pembangunan kesehatan diarahkan

untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya. Usaha itu biasa

dimulai dengan menekan jumlah kematian ibu. Angka Kematian Ibu di Indonesia

masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, terutama

dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Filipina. Angka

Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dapat dilihat dari Survey Demografi Kesehatan

Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang menunjukkan bahwa AKI di Indonesia adalah

228/100000 kelahiran hidup. Sementara target AKI untuk Millenium Development

Goals (MDGs) sebesar 102/100000 kelahiran hidup yang harus dicapai pada tahun

2015 (Depkes, 2007).

Penyebab utama kematian ibu disebabkan oleh penyebab langsung yaitu

perdarahan 27%, pre-eklampsia-eklampsia 23%, infeksi 11%, komplikasi

puerperium 8%, trauma obstetrik 5%, emboli obstetrik 5%, partus lama 5%, abortus

5% dan lain-lain 11% (Depkes, 2010).

Menurut WHO (2009) angka kejadian preeklampsia di dunia sebesar 0,1%

dan di Asia Tenggara 31,6%. Preeklampsia merupakan salah satu penyebab angka

kesakitan dan kematian ibu dan janin yang cukup tinggi di Indonesia. Insiden

preeklamsia di Indonesia diperkirakan 23%.

Hasil penelitian Rozikhan (2007) di Rumah Sakit Soewondo Kendal umur

<20 tahun sebanyak 16 responden, yang mengalami pre-eklampsia berat 12%.

Responden yang berumur 20-35 tahun sebanyak 171 orang, yang mengalami pre-

1
2

eklampsia 78% dan responden yang berumur >35 tahun sebanyak 13 orang dimana

10% mengalami pre-eklampsia berat. Hasil penelitian Kurniawati (2009) di RSUD

Moewardi Surakarta pada pasien primigravida terdapat 29,2 % kasus pre-eklampsia

dan pada multigravida terdapat 20% kasus pre-eklampsia.

Tahun 2009 angka kematian ibu di Sumatera Barat masih tinggi, pada tahun

2009 sebesar 209/100000 kelahiran hidup, walaupun angka tersebut berkurang dari

tahun 2008 sebesar 211,9/100000 kelahiran hidup, namun penurunannya belum

bermakna tapi menurunnya angka kematian ibu ini dapat memberikan gambaran

adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pre-

eklampsia merupakan salah satu penyebab kematian ibu sebesar 12,9%. (Dinkes

Sumbar, 2009).

Angka Kematian Ibu di kota Padang tahun 2010 sebanyak 15/16492

kelahiran hidup, sedikit meningkat dibanding tahun 2009 sebanyak 14/16486

kelahiran hidup dan sama dengan tahun 2008 kasus kematian ibu 15/15693 kelahiran

hidup. Penyebab kematian ibu secara langsung salah satunya adalah pre-eklampsia.

Pada tahun 2008 kejadian pre-eklampsia sebesar 3,8%, tahun 2009 meningkat

menjadi 5,3%, dan tahun 2010 sebesar 6,7% (Dinkes Kota Padang, 2010).

Pre-eklampsia-eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang masih

merupakan penyebab kematian ibu dan penyebab kematian perinatal tertinggi di

Indonesia. Frekuensi kejadian pre-eklampsia sekitar 5-15% dari semua penyulit

kehamilan yang mana penyebab pre-eklampsia sampai sekarang masih belum

diketahui (Prawirohardjo, 2008).

Faktor risiko pre-eklampsia meliputi umur, paritas, riwayat keluarga pre-

eklampsia, riwayat penyakit hipertensi, obesitas, dan kehamilan ganda

(Kurniawati,2009). Menurut Cuningham (2006) kejadian preeklampsia dipengaruhi


3

oleh faktor usia, dimana pada awal dan akhir usia reproduksi lebih rentan untuk

terjadinya pre-eklampsia. Pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20

tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal pada usia 20-29

tahun (Prawirohardjo, 2008) dan di atas usia 35 tahun meningkat menjadi 3 kali lipat

(Cuningham, 2006).

Usia yang rentan terkena pre-eklampsia dalam Bobak (2005) adalah usia <

20 atau > 35 tahun. Preeklampsia juga lebih sering terjadi pada kehamilan yang

pertama (Vicky, 2006). Wanita yang telah banyak melahirkan lebih dari tiga kali

rentan terhadap komplikasi yang serius.

Kejadian pre-eklampsia merupakan kasus obstetri yang banyak dijumpai, di

RSUD dr. Rasidin Padang pada tahun 2010 kejadian pre-eklampsia 15 kasus dari 318

ibu bersalin (4,7%) dan pada tahun 2011 (Januari - Juni) dari 280 ibu bersalin

terdapat kejadian pre-eklampsia 19 kasus (6,7%). Data rekam medik RSUP Dr M.

Djamil Padang pada tahun 2008 dari 1706 ibu bersalin terdapat kejadian pre-

eklampsia 56 kasus (3,2%).

Tahun 2009 dari 1515 ibu bersalin di RSUP DR M.Djamil Padang terdapat

kejadian pre-eklampsia 143 kasus (9,4%). Umur ibu berisiko (<20 tahun dan > 35

tahun) pada kejadian pre-eklampsia ini sebesar 32,8%, paritas ibu berisiko (1 dan >3)

sebesar 56,2%, ibu yang mempunyai riwayat keluarga pre-eklampsia sebesar 60%,

kehamilan ganda 20%, dan yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi 30%. Pada

tahun 2010 dari 1295 ibu bersalin terjadi kenaikan kejadian pre-eklampsia sebanyak

129 kasus (9,96%) dengan umur ibu hamil yang berisiko (<20 tahun dan > 35 tahun)

sebesar 34,4%, paritas yang dinyatakan berisiko (1 dan >3) sebesar 58,1%, ibu yang

mempunyai riwayat keluarga pre-eklampsia 40%, kehamilan ganda 10%, dan riwayat

penyakit hipertensi 30%.


4

Berdasarkan data di atas terjadi kenaikan angka kejadian pre-eklampsia dari

tahun ke tahun di RSUP DR M. Djamil Padang. Oleh karena itu peneliti tertarik

melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Umur dan Paritas dengan Kejadian

Pre-eklampsia di RSUP DR. M. Djamil Padang bulan Juli – Desember 2011”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan umur dan paritas dengan

kejadian Pre-eklampsia di RSUP DR. M. Djamil Padang bulan Juli – Desember

2011”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan umur dan

paritas dengan kejadian pre-eklampsia di RSUP DR. M. Djamil Padang bulan Juli –

Desember 2011.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Diketahuinya distribusi frekuensi pre-eklampsia di RSUP DR. M. Djamil

Padang bulan Juli – Desember 2011

1.3.2.2 Diketahuinya distribusi frekuensi umur ibu bersalin di RSUP DR. M. Djamil

Padang bulan Juli – Desember 2011

1.3.2.3 Diketahuinya distribusi frekuensi paritas ibu bersalin di RSUP DR. M.

Djamil Padang bulan Juli – Desember 2011

1.3.2.4 Diketahuinya hubungan umur ibu bersalin dengan kejadian pre-eklampsia di

RSUP DR. M. Djamil Padang bulan Juli – Desember 2011


5

1.3.2.5 Diketahuinya hubungan paritas ibu bersalin dengan kejadian pre-eklampsia di

RSUP DR. M. Djamil Padang bulan Juli - Desember 2011

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti serta untuk menerapkan ilmu

yang telah didapat pada mata kuliah Metodologi Penelitian, Askeb IV, dan

Obstetri khususnya Pre-eklampsia.

1.4.2 Bagi Rumah Sakit

Sebagai informasi bagi petugas kesehatan tentang hubungan umur dan paritas

ibu bersalin dengan kejadian pre-eklampsia sehingga dapat menjadi acuan

untuk melakukan tindakan atau usaha untuk menurunkan angka kematian ibu.

1.4.3 Bagi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan dalam

memberikan informasi yang berkaitan dengan pre-eklampsia dan sebagai data

dasar untuk penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur dan paritas

dengan kejadian pre-eklampsia di RSUP DR. M. Djamil Padang bulan Juli-

Desember 2011. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai

Agustus 2012 dan pengumpulan datanya pada tanggal 2 April – 14 April 2012 dan

dilanjutkan tanggal 25 Juni – 3 Juli 2012 dengan mengambil data sekunder di bagian

rekam medik RSUP DR. M. Djamil Padang. Populasi pada penelitian ini adalah
6

seluruh ibu bersalin di RSUP DR. M. Djamil Padang pada bulan Juli sampai

Desember 2011. Teknik pengambilan sampel adalah total population yang

memenuhi kriteria inklusi dengan metode penelitian analitik dan desain cross

sectional. Analisa data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat

dengan uji statistik menggunakan chi-square.


7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pre-eklampsia

2.1.1 Pengertian

Pre-eklampsia adalah komplikasi serius trimester kedua-ketiga, dengan

gejala klinis, seperti edema, hipertensi, proteinuria kejang sampai koma dengan umur

kehamilan di atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum-intrapartum-pascapartus

(Manuaba, 2001). Menurut Prawirohardjo (2008) pre-eklampsia adalah penyakit

dengan tanda-tanda hipertensi, oedema, dan proteinuria yang timbul karena

kehamilan umumnya terjadi pada triwulan ke-3 kehamilan.

Pre-eklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya

fungsi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel (Cuningham, 2006). Pre-

eklampsia dapat dideskripsikan sebagai kondisi yang tidak dapat diprediksi dan

progresif serta berpotensi mengakibatkan disfungsi dan gagal multi-organ yang dapat

mengganggu kesehatan ibu dan berdampak negatif pada lingkungan janin (Boyle,

2008).

Menurut Desi Kurniawati (2009) pre-eklampsia adalah kelainan multiorgan

spesifik pada kehamilan, yang ditandai dengan terjadinya hipertensi dan proteinuria

setelah usia kehamilan 20 minggu. Menurut Helen Varney (2010) pre-eklampsia

adalah sindrom spesifik kehamilan yang biasanya terjadi setelah minggu ke-20.

2.1.2 Etiologi

Menurut Prawirohardjo (2008) apa yang menjadi penyebab pre-eklampsia

dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang telah

7
8

dikemukakan tentag terjadinya pre-eklampsia tersebut, tetapi tidak ada satupun teori

tersebut yang dianggap mutlak benar.

Teori dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab pre-eklampsia adalah

iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal

yang berkaitan dengan penyakit itu. Faktor plasenta dapat menyebabkan kelainan

plasenta selama gelombang ke dua invasi trofoblastik pada minggu ke-14 dan 15

kehamilan. Meskipun penyebab langsung pre-eklampsia tidak diketahui, terdapat

sejumlah faktor predisposisi yang berhubungan dengan kondisi tersebut. Diantara

faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditentukan mana sebab dan mana

yang akibat (Wylie, 2010).

2.1.3 Faktor Predisposisi

Menurut Desi. K dan Hanifah. M (2009) wanita hamil cenderung dan mudah

mengalami pre-eklampsia bila mempunya faktor-faktor predisposisi sebagai berikut :

2.1.3.1 Umur

Umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan

(KBBI, 2000). Umur seorang ibu berkaitan dengan alat reproduksi wanita. Umur ibu

yang sangat muda (<20 tahun) atau ibu yang berusia lebih dari 35 tahun merupakan

faktor risiko terjadinya pre-eklampsia. Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah

umur 20-35 tahun. Pada kehamilan < 20 tahun secara biologis belum optimal dimana

emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang, dan keadaan alat reproduksi

belum siap untuk menerima kehamilan. Hal ini akan meningkatkan terjadinya

keracunan kehamilan dalam bentuk pre-eklampsia dan eklampsia (Cuningham, 2006)

Pada usia 35 tahun atau lebih, rentan terjadinya berbagai penyakit dalam

bentuk hipertensi, dan eklampsia. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan
9

pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi. Selain itu, hal ini

juga diakibatkan karena tekanan darah yang meningkat seiring dengan pertambahan

usia. Sehingga pada usia 35 tahun atau lebih dapat cenderung meningkatkan risiko

terjadinya pre-eklampsia (Ayurai, 2009).

Usia yang rentan terkena pre-eklampsia adalah usia < 20 tahun dan > 35

tahun (Kurniawati, 2009). Usia ini merupakan kedua ujung usia reproduksi. Risiko

pre-eklampsia akan bertambah besar seiring dengan bertambahnya usia seorang ibu

(Cuningham, 2006).

Usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun merupakan kehamilan

risiko tinggi karena tingkat risiko morbiditas (terkena penyakit) dan mortalitas

(tingkat kematian) pada ibu dan janin akan meningkat daripada kehamilan pada usia

aman 20-30 tahun. Umur yang berisiko terjadinya pre-eklampsia adalah umur ibu

yang sangat muda atau ibu yang berusia lebih dari 35 tahun (Cuningham, 2006). Usia

reproduksi sehat merupakan sebuah tinjauan medis, sementara berdasarkan statistik

sebenarnya usia muda yang dianggap berisiko bagi kehamilan adalah di bawah 18

tahun. Usia 30 pun sebenarnya belum dianggap berisiko. Angka tersebut ditetapkan

karena kemampuan organ reproduksi wanita di usia tersebut mulai menurun. Jadi

baru di atas 35 tahunlah kehamilan akan mengancam ibu dan janin. Bisa dikatakan,

di bawah usia 20 merupakan fase menunda kehamilan. Usia 20 tahunan adalah fase

menjalankan kehamilan sedangkan usia di atas 30 tahun dianggap fase untuk

menghentikan kehamilan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Benny Karuniawati di RSUD Wates

Kabupaten Kulon Progo (2006) kasus pre-eklampsia banyak terjadi pada usia > 35

tahun sekitar 45% dan pada usia < 20 tahun sebesar 17,5 %. Besar ratio odds dalam

penelitian ini didapatkan 3,46 kali, yang membuktikan bahwa ibu hamil yang
10

memiliki umur berisiko yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun

mempunyai peluang untuk terjadi pre eklampsia-eklampsia 3 kali lebih beresiko dari

umur reproduksi sehat yaitu 20 tahun sampai 35 tahun. Hal ini sesuai dengan yang

dilaporkan oleh Manuaba (2008) bahwa insiden pre eklampsia-eklampsia pada

wanita dengan umur kurang dari 20 tahun lebih dari 3 kali lipat dan usia lebih dari 35

tahun dapat terjadi hipertensi laten. Hal ini disebabkan karena pada usia kurang 20

tahun belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan

kesehatan, namun pre-eklampsia sering terjadi pada usia lebih dari 35 tahun dimana

fungsi organ reproduksi sudah mulai menurun (Prawirohardjo, 2008).

2.1.3.2 Paritas

Paritas adalah keadaan seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak

yang dapat hidup (Dorland, 2005). Menurut Bobak (2005) paritas adalah jumlah

kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan.

Paritas dalam Prawirohardjo (2008) dapat dibedakan menjadi :

1. Primipara adalah wanita yang telah melahirkan anak, yang cukup besar

untuk hidup di dunia luar.

2. Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable (hidup)

beberapa kali.

3. Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau

lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan.

Hubungan antara paritas dengan pre-eklampsia adalah faktor risiko yang

berkaitan dengan timbulnya pre-eklampsia. Paritas yang berisiko terhadap kejadian

pre-eklampsia adalah 1 dan >3. Paritas 1 berisiko karena pada kehamilan pertama

seorang ibu sering mengalami stress. Stress emosi yang terjadi pada primigravida

menyebabkan peningkatan pelepasan corticotropic-releasing hormone (CRH) oleh


11

hypothalamus sehingga menyebabkan peningkatan hormone kortisol. Efek kortisol

adalah mempersiapkan tubuh untuk berespons terhadap semua stressor dengan

meningkatkan respons simpatis, termasuk respons yang ditujukan untuk

meningkatkan curah jantung dan mempertahankan tekanan darah. Hipertensi pada

kehamilan terjadi akibat kombinasi peningkatan curah jantung dan resistensi perifer

total. Selama kehamilan normal, volume darah meningkat secara dratis. Pada wanita

sehat, peningkatan volume darah diakomodasikan oleh penurunan responsivitas

vaskular terhadap hormon-hormon vasoaktif, misalnya angiotensin II. Hal ini

menyebabkan resistensi perifer total berkurang pada kehamilan normal dan tekanan

darah rendah. Pada wanita dengan preeklamsia/eklamsia, tidak terjadi penurunan

sensitivitas terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga peningkatan besar

volume darah langsung meningkatkan curah jantung dan tekanan darah.

Wanita yang telah banyak melahirkan lebih dari 3 orang rentan terhadap

komplikasi yang serius, bahaya pada masa kehamilan salah satunya adalah pre-

eklampsia dimana paritas tinggi cenderung aliran darah akan menurun ke plasenta

yang dapat menyebabkan gangguan plasenta. Sehingga terjadi gangguan

pertumbuhan janin karena kekurangan oksigenisasi (Prawirohardjo, 2008). Paritas

tinggi juga akan terjadinya penyempitan pada lumen arteriola yang mengakibatkan

arteriola dalam tubuh mengalami spasme. Maka tekanan darah akan naik sebagai

usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenisasi jaringan dapat

dicukupi (Muchtar,R, 1998).

Pre-eklampsia lebih banyak terjadi pada primigravida / nulliparitas dan

risiko pre-eklampsia ini juga meningkat pada multipara (Varney, 2010). Menurut

Prawirohardjo (2008) paritas 2-3 merupakan paritas aman ditinjau dari sudut

kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik,
12

sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga

berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.

Persalinan paling aman biasanya persalinan kedua dan ketiga karena pada

persalinan keempat dan kelima akan meningkatkan angka kematian. Menurut hasil

penelitian Kurniawati (2009) di RSUD Moewardi Surakarta pada pasien

primigravida terdapat 29,2 % kasus pre-eklampsia dan menurut hasil penelitian

Benny Karuniawati di di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo (2006) yang mana

kejadian pre-eklampsia banyak terjadi pada paritas 1 sebesar 42,5 %. Hal ini sesuai

dengan yang dilaporkan Wylie (2010) bahwa pre-eklampsia terjadi pada ibu

primigravida.

2.1.3.3 Kehamilan Ganda

Wanita dengan gestasi kembar dua, bila dibandingkan dengan gestasi

tunggal memperlihatkan insiden hipertensi gestasional (13 % : 16 %) dan pre-

eklampsia (13 % : 5 %) yang secara bermakna lebih tinggi. Selain itu, wanita dengan

kehamila ganda dan hipertensi akibat kehamilan memperlihatkan prognosis neonatus

yang lebih buruk daripada mereka yang janin tunggal (Cuningham, 2006).

2.1.3.4 Obesitas

Hubungan antara berat badan ibu dengan risiko pre-eklampsia bersifat

progresif, meningkat dari 4,3 % untuk wanita dengan indeks masa tubuh <19,8 kg/m2

menjadi 13,3 % untuk mereka yang indeksnya sama dengan atau lebih dari 35 kg/m2

(Cuningham, 2006).

Kenaikan berat badan normal pada saat kehamilan berkisar antara 12-16 kg,

jika kenaikan yang terjadi lebih dari itu berarti ibu berisiko mengalami kegemukan

atau obesitas. Kegemukan disamping menyebabkan kolesterol tinggi dalam darah

juga dapat menyebabkan kerja jantung lebih berat, oleh karena jumlah darah yang
13

berada dalam badan sekitar 15 % dari berat badan, maka makin gemuk seseorang

makin banyak pula jumlah darah yang terdapat di dalam tubuh yang berarti makin

berat pula fungsi pemompaan jantung. Sehingga dapat menyebabkan terjadinya pre-

eklampsia (Rozikhan, 2007).

2.1.3.5 Riwayat keluarga Pre-eklampsia

Menurut Manuaba (2007) pre-eklampsia ada kemungkinan diturunkan,

khususnya pada kehamilan pertama karena terjadi pre-eklampsia pada anak

perempuan lebih tinggi daripada menantu wanita.

Sifat “gen” resesif sama dengan teori gen resesif herediter. Pada kehamilan

kedua pre-eklampsia dan eklampsia sedikit berulang, kecuali mendapat suami baru.

2.1.3.6 Riwayat penyakit hipertensi

Salah satu faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia adalah riwayat

hipertensi kronis, atau penyakit vaskuler hipertensi sebelumnya, atau hipertensi

essensial. Tekanan darah tinggi adalah keadaan yang ditandai dengan terjadinya

peningkatan tekanan darah arteri. Hipertensi merupakan penyakit yang pada

umumnya tidak menunjukkan gejala, atau bila ada gejalanya tidak jelas sehingga

tekanan yang tinggi dalam arteri sering tidak dirasakan oleh penderita.

Sebagian besar kehamilan dengan hipertensi esensial berlangsung normal

sampai cukup bulan. Pada kira-kira sepertiga diantara para wanita penderita tekanan

darah tinggi setelah kehamilan 30 minggu tanpa disertai gejala lain. Kira-kira 20%

menunjukkan kenaikan yang lebih mencolok dan dapat disertai satu gejala

preeklampsia atau lebih, seperti edema, proteinuria, nyeri kepala, nyeri epigastrium,

muntah, gangguan visus (Supperimposed preeklampsia), bahkan dapat timbul

eklampsia dan perdarahan otak (Rozikhan, 2007).


14

2.1.4 Patofisiologi

Selama perkembangan plasenta pada kehamilan awal, trofoblas menembus

ke dalam endometrium (desidua) dan menggantikan dinding otot elastik arteri spiral.

Akibatnya, terbentuk sinus besar tidak berstruktur yang dapat mengalirkan darah

dalam jumlah yang sangat besar yang diperlukan, khususnya pada trimester ketiga.

Pembuluh darah yang berdilatasi tersebut tidak lagi dipengaruhi oleh hormon. Pada

pre-eklampsia, adaptasi arteri spiral oleh trofoblas tidak terjadi sehingga suplai darah

pada plasenta terbatas. Kebutuhan terhadap darah meningkat selama pertumbuhan

fetal sehingga suplai darah tidak adekuat dan plasenta menjadi iskemik.

Iskemik plasenta menyebabkan pelepasan substansi yang umumnya toksin

bagi tubuh ibu, terutama bagi sitem sirkulasi. Sistem endotelial pembuluh darah

tubuh paling berisiko mengalami iskemik. Sel tersebut bertanggung jawab terhadap

integritas dinding pembuluh darah.

Sel endotelial menghasilkan substansi, prostasiklin dan asam nitrat yang

berperan dalam vasodilatasi untuk merespons hormon yang bersirkulasi, akan tetapi

pembentukan substansi tersebut terganggu. Selain itu, agen vasokonstriksi seperti

tromboksan dan lemak perioksida dihasilkan dalam jumlah yang besar oleh sel

endotelial yang rusak. Hasil akhir ketidakseimbangan kimiawi tersebut adalah

peningkatan pembentukan tromboksan tujuh kali lipat terhadap protasiklin dan

peningkatan kepekaan vaskular terhadapa angiotensin II. Oleh karena itu, pembuluh

darah menyempit secara tidak tepat.

Perubahan biokimiawi mempengaruhi seluruh tubuh. Terjadi vasopasme

generalisata yang menyebabkan perfusi darah yang buruk ke jaringan dan organ

tubuh. Tingkat fungsi organ pada kondisi tersebut menimbulkan bermacam-macam

dampak pada tubuh ibu dan kondisi janin. Tekanan darah meningkat pada sebagian
15

besar ibu dan peningkatan permeabilitas sel endotelial menyebabkan cairan dan

protein dari sistem sirkulasi berpindah ke jaringan tubuh. Peningkatan rasio

tromboksan terhadapa prostaksiklin juga menghasilkan gumpalan trombosit disertai

kelainan koagulasi (Wylie, 2010).

2.1.5 Perubahan-Perubahan Organ Tubuh yang Terjadi pada Kasus Pre-

eklampsia

2.1.5.1 Perubahan Hematologi

Ketika terjadi perpindahan cairan ke dalam jaringan intestisial, darah yang

bersirkulasi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kadar hematokrit dan

hemoglobin. Kerusakan lapisan endotelial dinding pembuluh darah mengaktifkan

koagulasi yang ditunjukkan oleh kelainan hasil pemeriksaan koagulasifibrin juga

terdapat dalam pembuluh darah bersama dengan trombosit sehingga gumpalan fibrin

dan trombosit tersebut suatu saat dapat menyumbat pembuluh darah sehingga aliran

darah ke organ dan sistem tubuh menjadi terhambat (Wylie, 2010)

2.1.5.2 Perubahan Metabolisme air dan elektrolit

Hemokonsentrasi yang menyerupai pre-eklampsia dan eklampsia tidak diketahui

penyebabnya, jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita pre-

eklampsia dan eklampsia daripada pada wanita hamil biasa atau penderita dengan

hipertensi kronik. Penderita pre-eklampsia tidak dapat mengeluarkan dengan

sempurna air dan garam yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus

menurun, sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak berubah. Elektrolit,

kristaloid, dan protein tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada pre-eklampsia.

Konsentrasi kalium, natrium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal

(Prawirohardjo, 2008).
16

2.1.5.3 Perubahan pada Otak

Perubahan pada otak dapat menyebabkan edema dan perdarahan serebral. Pada

awalnya, ibu mengeluh sakit kepala pada bagian frontal. Akan tetapi kondisi tersebut

dapat mengarah pada kejang. Pada hipertensi berat, vasospasme serebral disertai

edema dan thrombosis dapat menyebabkan ensefalopati (Wylie, 2010).

2.1.5.4 Perubahan pada Plasenta dan Uterus

Menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan fungsi plasenta. Pada

hipertensi yang agak lama pertumbuhan janin terganggu; pada hipertensi yang lebih

pendek bias terjadi gawat janin sampai kematiannya karena kekurangan oksigenisasi.

Kenaikan tonus uterus dan kepekaan terhadap perangsangan sering didapatkan pada

pre-eklampsia dan eklampsia, sehingga mudah terjadi partus prematurus

(Prawirohardjo, 2008).

2.1.5.5 Perubahan pada Mata

Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Vasokonstriksi

retina dapat menyebabka pandagan kabur dan fotofobia.hipertensi juga dapat

menyebabkan kerusakan pembuluh darah retina yang rentan dan menimbulkan

perdarahan kecil, yang dapat mengganggu funsi retina. Ibu dapat melaporkan

keluhan gangguan penglihatan (Wylie, 2010).

2.1.5.6 Perubahan pada Paru-Paru

Kerusakan vaskular dapat menyebabkan perpindahan protein dan cairan ke dalam

lobus-lobus paru. Kondisi tersebut diperburuk denga terapi pergantia cairan yang

dilakukan selama penanganan pre-eklampsia dan pencegahan eklampsia. Selain itu,

gangguan jantung akibat hipertensi dan kerja ekstra jantung untuk memompa darah

ke dalam sirkulasi sistemik yang menyempit dapat menyebabkan kongesti paru

(Wylie, 2010)
17

2.1.5.7 Perubahan pada Ginjal

Ginjal terutama peka terhadap hipertensi. Peningkatan tekanan darah yang memasuki

kapsula bowman menyebabkan kerusakan sel endotelial filter glomerular. Protein

melewati filtrat dan akhirnya menyebabkan proteinuria. Vasospasme arteriol aferen

menurunkan aliran darah ke dalam ginjal sehingga menghambat ekskresi adekuat

produk sisa. Kreatinin dan asam urat tertahan dalam darah dan peningkatan kadar

substansi tersebut menunjukkan kerusakan ginjal. Oliguria adalah indikasi lanjut dan

serius dari kerusakan organ dan keparahan pre-eklampsia (Wylie, 2010).

2.1.6 Diagnosis

Menurut Desi kurniawati dan Hanifah Mirzanie (2009) diagnosis dari pre-

eklampsia antara lain :

2.1.6.1 Anamnesis : cari faktor risiko, keluhan khas (gangguan penglihatan, sakit

kepala yang menetap, nyeri epigastrium, edema yang bertambah berat).

2.1.6.2 Pemerisaan fisik : TD, TFU (pertumbuhan janin yang tidak sesuai dengan

umur kehamilan : IUGR, oligihidramnion), edema (wajah), pertambahan

berat badan yang pesat.

2.1.6.3 Pemeriksaan laboratorium : SGOT/SGPT, AT, kreatinin serum, kadar protein

total (urin tamping 24 jam), proteinuria (dipstick), asam urat serum.

2.1.6.4 Pemeriksaan penunjang lain : USG lebih awal (25-28 minggu) untuk menilai

pertumbuhan janin, NST (non stressed test), profil biosik.

Diagnosis pre-eklampsia tidak konsisten. Definisi pre-eklampsia yang

diterima secara luas adalah peningkatan tekanan darah diastolik >110 mmHg pada

satu kali pemeriksaan atau > 90 mmHg pada dua atau lebih pemeriksaan selang 4

jam, disertai proteinuria. Akan tetapi, kenaikan tekanan darah diastolik di atas 15-20
18

mmHg yang disertai proteinuria juga dapat mengindikasikan terjadinya pre-

eklampsia. Tekanan darah sistolik merupakan indikasi curah jantung, tetapi tekana

darah diastolik lebih dipengaruhi oleh resistansi perifer. Oleh karena itu, tekanan

darah diastolik lebih menunjang penegakan diagnosis pre-eklampsia (Wylie, 2010).

2.1.7 Gambaran Klinis

Gambaran klinis tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (Manuaba :

2001):

2.1.7.1 Hipertensi

1) Kenaikan tekanan darah sistolik dan diastolic 30 mgHg atau 15 mgHg

2) Tekanan darah absolute 140/90 atau 160/110, yang diambil selang 6 jam

dalam keadaan istirahat.

2.1.7.2 Edema

1) Merupakan timbunan cairan tubuh yang tampak atau tidak tampak.

2) Perhitungan kenaikan BB melebihi ¾ - 1 kg/minggu dianggap patologis.

3) Edema dijumpai di tibia, muka, atau tangan bahkan seluruh tubuh.

2.1.7.3 Proteinuria

Proteinuria menunjukkan komplikasi lanjutan dari hipertensi dalam

kehamilan, dengan kerusakan ginjal sehingga beberapa bentuk protein

lolos dalam urine. Normal terdapat sejumlah protein di dalam urine, tetapi

tidak melebih 0,3 gr dalam 24 jam. Proteinuria menunjukkan komplikasi

hipertensi dalam kehamilan lanjut sehingga memerlukan perhatian yang

serius.
19

2.1.7.4 Kejang (konvulsi)

Kejang menunjukkan kelanjutan komplikasi menjdi eklampsia, yang

menyebabkan terjadi AKI tinggi. Kejang dan konvulsi menunjukkan telah

terjadi kemungkinan perdaraha nekrosis dan edema.

2.1.7.5 Koma

Kelanjutan kejang dapat diikuti koma, sebagai manifestasi dari acut

vascular accident (AVA) yang menimbulkan perdaraha nekrosis sehingga

terjadi koma.

2.1.8 Klasifikasi Pre-eklampsia

Menurut Manuaba (2010) pre-eklampsia dibagi dalam golongan ringan dan

berat dengan gejala dan tanda sebagai berikut :

2.1.8.1 Pre-eklampsia Ringan

1) Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval

pemeriksaan 6 jam.

2) Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval

pemeriksaan 6 jam.

3) Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; atau kenaikan berat badan 1

kg atau lebih dalam seminggu.

4) Proteinuria kuantitatif 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1

sampai 2 pada urin kateter atau urin aliran pertengahan.

2.1.8.2 Pre-eklampsia Berat

1) Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastole 110

mmHg atau lebih.


20

2) Oligouria, urin kurang dari 400 cc/24 jam.

3) Proteinuria lebih dari 3 gr/liter.

4) Adanya nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, edema

paru dan sianosis.

5) Gangguan kesadaran.

6) Perdarahan pada retina

7) Trombosit < 100.000/mm

Tabel 2.1
Indikator Beratnya Pre-eklampsia
Kelainan Ringan Berat
Tekanan darah Sistolik 140 mmHg atau kenaikan 30mmHg 160mmHg atau >
Tekanan darah Diastolik 90 mmHg atau kenaikan 15 mmHg 110 mmHg
Proteinuria 0,3 gr/lebih > 5gr/l
Nyeri Kepala Tidak ada Ada
Gangguan Penglihatan Tidak ada Ada
Nyeri perut bagian atas Tidak ada Ada
Oligouri Tidak ada < 400 cc/24 jam
Sianosis Tidak ada Ada
Edema paru-paru Tidak ada Ada
Perdarahan pada retina Tidak ada Ada
Sumber : Manuaba (2010)

2.1.9 Pencegahan Pre-eklampsia

2.1.9.1 Pemeriksaaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali

tanda-tanda sedini mungkin (Pre-eklampsia ringan), lalu diberikan

pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

2.1.9.2 Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklampsia kalau

ada faktor-faktor predisposisi.

2.1.9.3 Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan.

Istirahat tidak selalu berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari

perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet
21

tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat, garam, dan penambahan berat

badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.

2.2 Umur

Umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan

(KBBI,2000). Umur seorang ibu berkaitan dengan alat reproduksi wanita. Umur ibu

yang sangat muda (< 20 tahun) atau ibu yang berusia lebih dari 35 tahun merupakan

faktor risiko terjadinya pre-eklampsia. Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah

umur 20-35 tahun. Pada kehamilan < 20 tahun secara biologis belum optimal dimana

emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang, dan keadaan alat reproduksi

belum siap untuk menerima kehamilan. Hal ini akan meningkatkan terjadinya

keracunan kehamilan dalam bentuk pre-eklampsia dan eklampsia (Cuningham, 2006)

Pada usia 35 tahun atau lebih, rentan terjadinya berbagai penyakit dalam

bentuk hipertensi, dan eklampsia. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan

pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi. Selain itu, hal ini

juga diakibatkan karena tekanan darah yang meningkat seiring dengan pertambahan

usia. Sehingga pada usia 35 tahun atau lebih dapat cenderung meningkatkan risiko

terjadinya pre-eklampsia (Ayurai, 2009).

Usia yang rentan terkena pre-eklampsia adalah usia < 20 tahun dan > 35

tahun (Kurniawati, 2009). Usia ini merupakan kedua ujung usia reproduksi. Risiko

pre-eklampsia akan bertambah besar seiring dengan bertambahnya usia seorang ibu

(Cuningham, 2006).

Usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun merupakan kehamilan

risiko tinggi karena tingkat risiko morbiditas (terkena penyakit) dan mortalitas

(tingkat kematian) pada ibu dan janin akan meningkat daripada kehamilan pada usia
22

aman 20-30 tahun. Umur yang berisiko terjadinya pre-eklampsia adalah umur ibu

yang sangat muda atau ibu yang berusia lebih dari 35 tahun (Cuningham, 2006). Usia

reproduksi sehat merupakan sebuah tinjauan medis, sementara berdasarkan statistik

sebenarnya usia muda yang dianggap berisiko bagi kehamilan adalah di bawah 18

tahun. Usia 30 pun sebenarnya belum dianggap berisiko. Angka tersebut ditetapkan

karena kemampuan organ reproduksi wanita di usia tersebut mulai menurun. Jadi

baru di atas 35 tahunlah kehamilan akan mengancam ibu dan janin. Bisa dikatakan,

di bawah usia 20 merupakan fase menunda kehamilan. Usia 20 tahunan adalah fase

menjalankan kehamilan sedangkan usia di atas 30 tahun dianggap fase untuk

menghentikan kehamilan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Benny Karuniawati di RSUD Wates

Kabupaten Kulon Progo (2006) kasus pre-eklampsia banyak terjadi pada usia > 35

tahun sekitar 45% dan pada usia < 20 tahun sebesar 17,5 %. Besar ratio odds dalam

penelitian ini didapatkan 3,46 kali, yang membuktikan bahwa ibu hamil yang

memiliki umur berisiko yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun

mempunyai peluang untuk terjadi pre eklampsia-eklampsia 3 kali lebih beresiko dari

umur reproduksi sehat yaitu 20 tahun sampai 35 tahun. Hal ini sesuai dengan yang

dilaporkan oleh Manuaba (2008) bahwa insiden pre eklampsia-eklampsia pada

wanita dengan umur kurang dari 20 tahun lebih dari 3 kali lipat dan usia lebih dari 35

tahun dapat terjadi hipertensi laten. Hal ini disebabkan karena pada usia kurang 20

tahun belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan

kesehatan, namun pre-eklampsia sering terjadi pada usia lebih dari 35 tahun dimana

fungsi organ reproduksi sudah mulai menurun (Prawirohardjo, 2008).


23

2.3 Paritas

Paritas adalah keadaan seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak

yang dapat hidup (Dorland, 2005). Menurut Bobak (2005) paritas adalah jumlah

kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan.

Paritas dalam Prawirohardjo (2008) dapat dibedakan menjadi :

1. Primipara adalah wanita yang telah melahirkan anak, yang cukup besar

untuk hidup di dunia luar.

2. Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable (hidup)

beberapa kali.

3. Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak

atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan

persalinan.

Hubungan antara paritas dengan pre-eklampsia adalah faktor risiko yang

berkaitan dengan timbulnya pre-eklampsia. Paritas yang berisiko terhadap kejadian

pre-eklampsia adalah 1 dan >3. Paritas 1 berisiko karena pada kehamilan pertama

seorang ibu sering mengalami stress sehingga meningkatkan pelepasan hormon

kortisol, sedangkan hormon kortisol ini berfungsi untuk mempertahankan tekanan

darah (Cuningham, 2006). Wanita yang telah banyak melahirkan lebih dari 3 orang

rentan terhadap komplikasi yang serius, bahaya pada masa kehamilan salah satunya

adalah pre-eklampsia dimana paritas tinggi cenderung aliran darah akan menurun ke

plasenta yang dapat menyebabkan gangguan plasenta. Sehingga terjadi gangguan

pertumbuhan janin karena kekurangan oksigenisasi (Prawirohardjo, 2008).

Pada paritas tinggi juga akan terjadinya penyempitan pada lumen arteriola

yang mengakibatkan arteriola dalam tubuh mengalami spasme. Maka tekanan darah
24

akan naik sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenisasi

jaringan dapat dicukupi (Muchtar,R, 1998).

Pre-eklampsia lebih banyak terjadi pada primigravida / nulliparitas dan

risiko pre-eklampsia ini juga meningkat pada multipara (Varney, 2010). Menurut

Prawirohardjo (2008) paritas 2-3 merupakan paritas aman ditinjau dari sudut

kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik,

sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga

berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.

Persalinan paling aman biasanya persalinan kedua dan ketiga karena pada

persalinan keempat dan kelima akan meningkatkan angka kematian. Menurut hasil

penelitian Kurniawati (2009) di RSUD Moewardi Surakarta pada pasien

primigravida terdapat 29,2 % kasus pre-eklampsia dan menurut hasil penelitian

Benny Karuniawati di di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo (2006) yang mana

kejadian pre-eklampsia banyak terjadi pada paritas 1 sebesar 42,5 %. Hal ini sesuai

dengan yang dilaporkan Wylie (2010) bahwa pre-eklampsia terjadi pada ibu

primigravida.
25

2.4 Kerangka Teori

Menurut Desy Kurniawati dan Hanifah Mirzanie (2009), kejadian pre-

eklampsia dipengaruhi oleh :

Umur

Paritas

Kehamilan Ganda

Obesitas Kejadian Pre-


eklampsia

Riwayat keluarga
pre-eklampsia

Riwayat penyakit
hipertensi

Gambar 2.1
Faktor-faktor Penyebab Pre-eklampsia Menurut Desy Kurniawati dan Hanifah
Mirzanie (2009)

Keterangan :
Yang Diteliti
Tidak Diteliti
26

2.5 Kerangka Konsep

Berdasarkan tinjauan teoritis di atas maka pada penelitian ini yang menjadi

variabel independen yang akan diteliti yaitu umur dan paritas yang mempengaruhi

kejadian pre-eklampsia sebagai variabel dependen, seperti yang terlihat pada gambar

di bawah ini :

Variabel Independen Variabel Dependen

Umur
Pre-eklampsia
Paritas

Gambar 2.2

Kerangka Konsep Hubungan Umur dan Paritas Dengan Kejadian Pre-Eklampsia Di


RSUP Dr. M. Djamil Padang bulan Juli – Desember 2011
27

2.5 Definisi Operasional

Table 2.2
Definisi Operasional

Variabel Definisi Alat Cara Hasil Ukur Skala


Operasional Ukur Ukur
Pre- Penyakit dengan Melihat Check 1. Pre-eklampsia Nominal
eklampsia tanda-tanda khas catatan list 2. Tidak Pre-
tekanan darah Rekam eklampsia
tinggi Medik
(hipertensi),
pembengkakan
jaringan
(edema), dan
ditemukannya
protein dalam
urin (proteinuria)
yang timbul
karena
kehamilan.

Umur Lamanya waktu Melihat Check 1. Berisiko bila umur Nominal


hidup sejak ibu catatan list ibu < 20 dan > 35
dilahirkan Rekam tahun.
sampai saat ibu medic
bersalin sekarang 2. Tidak berisiko bila
umur ibu 20-35
tahun

Paritas Jumlah anak Melihat Check 1. Berisiko jika Nominal


yang dilahirkan catatan list paritas 1 dan >3
termasuk yang rekam
meninggal mediK 2. Tidak berisiko bila
paritas 2 atau 3
28

2.6 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, landasan teoritis dan kerangka konsep yang

telah dikemukakan maka hipotesa yang akan diuji adalah :

Ha : Ada hubungan umur dengan kejadian pre-eklampsia di RSUP Dr.

M.Djamil Padang bulan Juli - Desember 2011

Ha : Ada hubungan paritas dengan kejadian pre-eklampsia di RSUP Dr. M.

Djamil Padang Juli - Desember 2011


29

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan desain crossectional untuk

mengetahui hubungan variabel independen dan dependen yang diidentifikasi pada

waktu bersamaan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian telah dilakukan di RSUP DR M. Djamil Padang pada bulan

November 2011 sampai Agustus 2012. Pengumpulan data dilakukan dengan

mengambil data di bagian Medical Record yang telah dilakukan pada tanggal 2 April

2012 – 14 April 2012 dan dilanjutkan tanggal 25 Juni – 3 Juli 2012.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin bulan Juli-Desember 2011

di RSUP DR M. Djamil Padang sebanyak 617 responden.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari objek yang diteliti dan dianggap mewakili

seluruh sampel populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan

menggunakan teknik total population yaitu semua ibu bersalin di RSUP DR M.

Djamil Padang bulan Juli - Desember 2011 yang memenuhi kriteria sampel.

Besarnya sampel yang memenuhi kriteria yaitu sebanyak 478 responden.

29
30

3.3.2.1 Kriteria Inklusi :

1) Ibu-ibu yang melahirkan yang tidak mengalami kehamilan ganda, tidak

ada riwayat pre-eklampsia dan tidak ada riwayat hipertensi.

2) Data dalam status lengkap

3.4 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Jenis Data

3.4.1.2 Data Sekunder

Data yang diperoleh dari Rekam Medik RSUP DR M. Djamil Padang yaitu

data seluruh ibu bersalin di RSUP DR M. Djamil Padang bulan Juli – Desember

2011.

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data melalui pengambilan data sekunder dengan menggunakan

format pengumpulan data yaitu dengan cara melihat kembali semua catatan rekam

medik tentang ibu bersalin di RSUP DR M.Djamil Padang bulan Juli-Desember

2011. Data yang diambil terdiri dari 617 responden dan yang memenuhi kriteria

sebanyak 478 responden. Pengumpulan data yang telah dilakukan yaitu

1) Tanggal 2 April 2012 : 20 Status

2) Tanggal 3 April 2012 : 28 Status

3) Tanggal 4 April 2012 : 35 Status

4) Tanggal 5 April 2012 : 36 Status

5) Tanggal 6 April 2012 : 30 Status

6) Tanggal 7 April 2012 : 35 Status

7) Tanggal 9 April 2012 : 35 Status

8) Tanggal 10 April 2012 : 35 Status


31

9) Tanggal 11 April 2012 : 38 Status

10) Tanggal 12 April 2012 : 36 Status

11) Tanggal 13 April 2012 : 30 Status

12) Tanggal 14 April 2012 : 35 Status

13) Tanggal 25 Juni 2012 : 18 Status

14) Tanggal 26 Juni 2012 : 20 Status

15) Tanggal 30 Juni 2012 : 18 Status

16) Tanggal 2 Juli 2012 : 15 Status

17) Tanggal 3 Juli 2012 : 14 Status


+
478 status

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

3.5.7 Teknik Pengolahan Data

3.5.7.1 Pemeriksaan Data (Editing)

Memeriksa kembali kelengkapan data yang diperoleh atau dikumpulkan.

Editing dilakukan pada saat pengumpulan data, ternyata data yang diperoleh sudah

lengkap dan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

3.5.7.2 Pengkodean (Coding)

Mengklasifikasikan jawaban menurut kriteria tertentu. Setelah editing

dilakukan maka setiap jawaban diberi kode yaitu :

Umur :

1 : Berisiko (<20 dan > 35 tahun)

2 : Tidak berisiko (20-35 tahun)


32

Paritas

1. : Berisiko (1 dan >3)

2. : Tidak Berisiko (2-3)

Pre-eklampsia

1 : Pre-eklampsia

2 : Tidak Pre-eklampsia

3.5.7.3 Memasukkan Data (Entry)

Memasukkan data yang telah diberi kode ke dalam master tabel pada

komputer kemudian di analisa.

3.5.7.4 Pengecekan Data (Cleaning)

Setelah data dimasukkan kemudian data diperiksa kembali sehingga benar-

benar bersih dari kesalahan.

3.5.8 Analisa Data

3.5.8.1 Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari

setiap variabel. Data yang dikumpulkan diolah dan dianalisa dengan metode

deskriptif kuantitatif menggunakan tabulasi frekuensi dan dikelompokkan sesuai

dengan variabel yang diteliti.

3.5.8.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan umur dan paritas ibu

dengan kejadian pre-eklampsia. Data yang dikumpulkan tersebut dilakukan uji

statistik Chi-square (X2) secara komputerisasi, dengan kepercayaan 95% (α=0,05).

Hubungan dikatakan bermakna apabila p ≤ 0,05 artinya ada hubungan umur dan
33

paritas dengan kejadian pre-eklampsia dan apabila p > 0,05 maka hasil perhitungan

statistik dinilai tidak bermakna, berarti tidak ada hubungan antara variabel

independen dan dependen.


34

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC

Boyle, Mauren. 2008. Kedaruratan dalam Persalinan Buku Saku Kebidanan. Jakarta
: EGC.

Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. Jakarta :


EGC.

Cunningham, Gary. 2006. Obstetri Williams. Jakarta : EGC.

Depkes. 2007. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Depkes. 2010. Analisis Kematian Ibu di Indonesia. Bandung : Departemen


Kesehatan RI

Dinkes Kota Padang. 2010. Profil Kesehatan Kota Padang 2010 Padang : Dinas
Kesehatan Kota Padang.

Dinkes Sumbar. 2010. Profil Kesehatan Sumatera Barat 2010. Padang : Dinas
Kesehatan Sumatera Barat.

Dinkes Sumbar. 2010. Laporan Dinas Kota. Padang 2010 : Dinas Kesehatan Kota
Padang.

Dorland. 2005. Kamus Kedokteran Dorland. EGC : Jakarta

Kriebs, Jan M. 2010. Buku Saku Asuhan Kebidanan Varney. Jakarta : EGC

Kurniawati, Desy dan Hanifah Mirzanie. 2009. Obgynacea Obstetri dan Gynekologi.
Yogyakarta : TOSCA Enterprise.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2001. Kapita Selekta Rutin Obstetri Gynekologi dan KB.
Jakarta : EGC.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2008. Pengatar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Muchtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.


Rukiyah, Ai Yeyeh. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta :
Trans Info media.
35

Setiawan, Ari. 2010. Metodologi Penelitian Kebidanan DIII, DIV, S1 dan S2.
Yogyakarta : Nuha Medika.

Wylie, Linda. 2010. Manajemen Kebidanan Gangguan Medis Kehamilan dan


Persalinan. Jakarta : EGC.

Yandianto, 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung : M2S

Artikasari, Kurniawati. 2009. Hubungan Antara Primigravida Dengan Angka


Kejadian Preeklamsia/Eklamsia Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Diakses
dari etd.eprints.ums.ac.id/4063/2/J500060022.pdf. Tanggal 4 Desember
2012.

Ayurai. 2009. Hubungan antara Usia, Paritas dengan kejadian Pre-eklampsia.


Diakses dari http://ayurai.wordpress.com/2009/04/21/hubungan-antara-usia-
paritas-dengan-kejadian-preeklamsia/ Tanggal 4 desember 2011.

Karuniawati, Benny. 2006. Faktor Risiko Umur Ibu Hamil Terhadap Kejadian
PreEklampsia-Eklampsia. Diakses dari :
http://biechan.wordpress.com/kumpulan-penelitian/ Tanggal 10 desember
2011.

Rozikhan. 2007. Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Preeklampsia Berat Di Rumah


Sakit Dr. H. SoewondoKendal. Diakses dari
eprints.undip.ac.id/18342/1/ROZIKHAN.pdf Tanggal 4 Desember 2011.

Sudhaberata. 2001. Profil Penderita Preeklampsia-Eklampsia di RSU Tarakan


Kaltim. Diakses dari http://biechan.wordpress.com/kumpulan-penelitian/
Tanggal 5 Juli 2012

WHO.2009. Causes of death 2009. Diakses dari http://www.who.int/evidence/bod


Tanggal 20 Februari 2012.