Anda di halaman 1dari 36

Mekanisme Kerja Antidepresan Generasi ke-2 :

1. SSRI ( Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor ) : Obat-obat ini menghambat resorpsi dari
serotonin.
2. NaSA ( Noradrenalin and Serotonin Antidepressants ): Obat-obat ini tidak berkhasiat selektif,
menghambat re-uptake dari serotonin dan noradrenalin. Terdapat beberapa indikasi bahwa obat-
obat ini lebih efektif daripada SSRI.

Efek Samping Antidepresan Generasi ke-2 :


• Efek seretogenik; berupa mual ,muntah, malaise umum, nyeri kepala, gangguan tidur dan
nervositas, agitasi atau kegelisahan yang sementara, disfungsi seksual dengan ejakulasi dan orgasme
terlambat.
• Sindroma serotonin; berupa antara lain kegelisahan, demam, dan menggigil, konvulsi, dan
kekakuan hebat, tremor, diare, gangguan koordinasi. Kebanyakan terjadi pada penggunaan
kombinasi obat-obat generasi ke-2 bersama obat-obat klasik, MAO, litium atau triptofan, lazimnya
dalam waktu beberapa jam sampai 2-3 minggu. Gejala ini dilawan dengan antagonis serotonin
(metisergida, propanolol).
• Efek antikolinergik, antiadrenergik, dan efek jantung sangat kurang atau sama sekali tidak ada.

Obat-obat yang Termasuk Antidepresan Generasi ke-2 :


1. Fluoxetin
Dosis lazim : 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 mg/hari dalam dosis tunggal atau terbagi.
Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap fluoxetin, gagal ginjal yang berat, penggunaan bersama MAO.
Interaksi Obat : MAO, Lithium, obat yang merangsang aktivitas SSP, anti depresan, triptofan,
karbamazepin, obat yang terkait dengan protein plasma.
Perhatian : penderita epilepsi yang terkendali, penderita kerusakan hati dan ginjal, gagal jantung,
jangan mengemudi / menjalankan mesin.
2. Sertralin
Dosis lazim : 50 mg/hari bila perlu dinaikkan maksimum 200 mg/hr.
Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap sertralin.
Interaksi Obat : MAO, Alkohol, Lithium, obat seretogenik.
Perhatian : pada gangguan hati, terapi elektrokonvulsi, hamil, menyusui, mengurangi kemampuan
mengemudi dan mengoperasikan mesin.
3. Citalopram
Dosis lazim : 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari.
Kontra indikasi : hipersensitif terhadap obat ini.
Interaksi Obat : MAO, sumatripan, simetidin.
Perhatian : kehamilan, menyusui, gangguan mania, kecenderungan bunuh diri.
4. Fluvoxamine
Dosis lazim : 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada malam hari, maksimum dosis 300 mg.
Interaksi Obat : warfarin, fenitoin, teofilin, propanolol, litium.
Perhatian : Tidak untuk digunakan dalam 2 minggu penghentian terapi MAO, insufiensi hati, tidak
direkomendasikan untuk anak dan epilepsi, hamil dan laktasi.
5. Mianserin
Dosis lazim : 30-40 mg malam hari, dosis maksimum 90 mg/ hari
Kontra Indikasi : mania, gangguan fungsi hati.
Interaksi Obat : mempotensiasi aksi depresan SSP, tidak boleh diberikan dengan atau dalam 2
minggu penghentian terapi.
Perhatian : dapat menganggu psikomotor selama hari pertama terapi, diabetes, insufiensi hati,
ginjal, jantung.
6. Mirtazapin
Dosis lazim : 15-45 mg / hari menjelang tidur.
Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap mitrazapin.
Interaksi Obat : dapat memperkuat aksi pengurangan SSP dari alkohol, memperkuat efek sedatif dari
benzodiazepine, MAO.
Perhatian : pada epilepsi sindroma otak organic, insufiensi hati, ginjal, jantung, tekanan darah
rendah, penderita skizofrenia atau gangguan psikotik lain, penghentian terapi secara mendadak,
lansia, hamil, laktasi, mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
7. Venlafaxine
Dosis lazim : 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250 mg 1x/hari.
Kontra Indikasi : penggunaan bersama MAO, hamil dan laktasi, anak < 18 tahun.
Interaksi Obat : MAO, obat yang mengaktivasi SSP lain.
Perhatian : riwayat kejang dan penyalahgunaan obat, gangguan ginjal atau sirosis hati, penyakit
jantung tidak stabil, monitor tekanan darah jika penderita mendapat dosis harian > 200 mg.

Kata Kunci : Antidepresan Generasi ke-2, Mekanisme Kerja Antidepresan Generasi ke-2, Efek
Samping Antidepresan Generasi ke-2, Obat-obat yang Termasuk Antidepresan Generasi ke-2

Farmakologi Inhibitor Monoamin Oksidase


Monoamin oksidase merupakan suatu sistem enzim kompleks yang terdistribusi luas dalam
tubuh, berperan dalam dekomposisi amin biogenik, seperti norepinefrin, epinefrin, dopamine,
serotonin. MAOI menghambat sistem enzim ini, sehingga menyebabkan peningkatan
konsentrasi amin endogen.
Ada dua tipe MAO yang telah teridentifikasi, yaitu MAO-A dan MAO-B. Kedua enzim ini
memiliki substrat yang berbeda serta perbedaan dalam sensitivitas terhadap inhibitor. MAO-
A cenderungan memiliki aktivitas deaminasi epinefrin, norepinefrin, dan serotonin,
sedangkan MAO-B memetabolisme benzilamin dan fenetilamin. Dopamin dan tiramin
dimetabolisme oleh kedua isoenzim. Pada jaringan syaraf, sistem enzim ini mengatur
dekomposisi metabolik katekolamin dan serotonin. MAOI hepatic menginaktivasi monoamin
yang bersirkulasi atau yang masuk melalui saluran cerna ke dalam sirkulasi portal (misalnya
tiramin).
Semua MAOI nonselektif yang digunakan sebagai antidepresan merupakan inhibitor
ireversibel, sehingga dibutuhkan sampai 2 minggu untuk mengembalikan metabolisme amin
normal setelah penghentian obat. Hasil studi juga mengindikasikan bahwa terapi MAOI
kronik menyebabkan penurunan jumlah reseptor (down regulation) adrenergik dan
serotoninergik.

Farmakokinetik Inhibitor Monoamin Oksidase


Absorpsi/distribusi – Informasi mengenai farmakokinetik MAOI terbatas. MAOI tampaknya
terabsorpsi baik setelah pemberian oral. Kadar puncak tranilsipromin dan fenelzin mencapai
kadar puncaknya masing-masing dalam 2 dan 3 jam. Tetapi, inhibisi MAO maksimal terjadi
dalam 5 sampai 10 hari.
Metabolisme/ekskresi – metabolisme MAOI dari kelompok hidrazin (fenelzin,
isokarboksazid) diperkirakan menghasilkan metabolit aktif. Inaktivasi terjadi terutama
melalui asetilasi. Efek klinik fenelzin dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah penghentian
terapi. Setelah penghentian tranilsipromin, aktivitas MAO kembali dalam 3 sampai 5 hari
(dapat sampai 10 Hari). Fenelzin dan isokarboksazid dieksresi melalui urin sebagian besar
dalam bentuk metabolitnya.
Populasi khusus – “asetilator lambat”: Asetilasi lambat dari MAOI hidrazin dapat
memperhebat efek setelah pemberian dosis standar.

Indikasi Inhibitor Monoamin Oksidase


Depresi: Secara umum, MAOI diindikasikan pada penderita dengan depresi atipikal
(eksogen) dan pada beberapa penderita yang tidak berespon terhadap terapi antidpresif
lainnya. MAOI jarang dipakai sebagai obat pilihan.

Kontraindikasi Inhibitor Monoamin Oksidase


Hipersensitif terhadap senyawa ini; feokromositoma; gagal jantung kongestif; riwayat
penyakit liver atau fungsi liver abnormal; gangguan ginjal parah; gangguan serebrovaskular;
penyakit kardiovaskular; hipertensi; riwayat sakit kepala; pemberian bersama dengan MAOI
lainnya; senyawa yang terkait dibenzazepin termasuk antidepresan trisiklik, karbamazepin,
dan siklobenzaprin; bupropion; SRRI; buspiron; simpatomimetik; meperidin;
dekstrometorfan; senyawa anestetik; depresan SSP; antihipertensif; kafein; keju atau
makanan lain dengan kandungan tiramin tinggi.

Peringatan Inhibitor Monoamin Oksidase


1. Memburuknya gejala klinik serta risiko bunuh diri:
Penderita dengan gangguan depresif mayor, dewasa maupun anak-anak, dapat mengalami
perburukan depresinya dan/atau munculnya ide atau perilaku yang mengarah pada bunuh diri
(suicidality), atau perubahan perilaku yang tidak biasa, yang tidak berkaitan dengan
pemakaian antidepresan, dan risiko ini dapat bertahan sampai terjadinya pengurangan jumlah
obat secara signifikan. Ada kekhawatiran bahwa antidepresan berperan dalam menginduksi
memburuknya depresi dan kemunculan suicidality pada penderita tertentu. Antidepresan
meningkatkan risiko pemikiran dan perilaku yang mengarah pada bunuh diri (suicidality)
dalam studi jangka pendek pada anak-anak dan dewasa yang menderita gangguan depresif
mayor serta gangguan psikiatrik lainnya.
2. Krisis hipertensif:
reaksi paling serius melibatkan perubahan tekanan darah; tidak dianjurkan untuk
menggunakan MAOI pada penderita lanjut usia atau berkondisi lemah atau mengalami
hipertensi, penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular, atau pemberian bersama obat-
obatan atau makanan tertentu. Karakteristik gejala krisis dapat berupa: sakit kepala pada
daerah oksipital (belakang) yang dapat menjalar ke daerah frontal (depan), palpitasi (tidak
beraturannya pulsa jantung), kekakuan/sakit leher, nausea, muntah, berkeringat (terkadang
bersama demam atau kulit yang dingin), dilatasi pupil, fotofobia. Takhikardia atau
bradikardia dapat terjadi dan dapat menyertai sakit dada. Pendarahan intrakranial (terkadang
fatal) telah dilaporkan berkaitan dengan peningkatan tekanan darah paradoks. Harus sering
diamati tekanan darah, tapi jangan bergantung sepenuhnya pada pembacaan tekanan darah,
melainkan penderita harus sering pula diamati. Bila krisis hipertensi terjadi, hentikan
segera penggunaan obat dan laksanakan terapi untuk menurunkan tekanan darah. Jangan
menggunakan reserpin parenteral. Sakit kepala cenderung mereda sejalan dengan
menurunnya tekanan darah. Berikan senyawa pemblok alfa adrenergik seperti fentolamin 5
mg i.v. perlahan untuk menghindari efek hipotensif berlebihan. Tangani demam dengan
pendinginan eksternal.
3. Peringatan kepada penderita:
Peringatkan penderita agar tidak memakan makanan yang kaya tiramin, dopamine, atau
triptofan (seperti pada Tabel 1) selama pemakaian dan dalam waktu 2 minggu setelah
penghentian MAOI. Setiap makanan kaya protein yang telah disimpan lama untuk tujuan
peningkatan aroma diduga dapat menyebabkan krisis hipertensif pada penderita yang
menggunakan MAOI. Juga peringatkan penderita untuk tidak mengkonsumsi minuman
beralkohol serta obat-obatan yang mengandung amin simpatomimetik selama terapi dengan
MAOI. Instruksikan kepada penderita untuk tidak mengkonsumsi kafein dalam bentuk
apapun secara berlebihan serta malaporkan segera adanya sakit kepala atau gejala lainnya
yang tidak biasa.
4. Risiko bunuh diri:
Pada penderita yang mempunyai kecenderungan bunuh diri, tidak ada satu bentuk
penanganan pun, seperti MAOI, elektrokonvulsif, atau terapi lainnya, yang dijadikan
sandaran tunggal untuk terapi. Dianjurkan untuk melakukan penanganan ketat, lebih baik
dilakukan perawatan di rumah sakit.
5. Pemberian bersamaan antidepresan:
Pada penderita yang menerima suatu SRRI dalam kombinasi dengan MAOI, telah dilaporkan
reaksi serius yang terkadang fatal termasuk hipertermia, kekakuan, mioklonus, instabilitas
otonom disertai fluktuasi cepat pada tanda vital, dan perubahan status mental termasuk agitasi
hebat, yang meningkat menjadi delirium dan koma. Reaksi ini telah terjadi pada penderita
yang baru saja menghentikan SRRI dan baru mulai menggunakan MAOI. Bila terjadi
pengalihan dari SRRI ke MAOI, maka harus ada selang 2 minggu diantara pergantian.
Setelah penghentian fluoxetin, maka harus ada selang 1 atau 2 minggu sebelum mulai
menggunakan MAOI. Jangan memberikan MAOI bersama atau segera setelah antidepresan
trisiklik. Kombinasi ini menyebabkan seizure, koma, hipereksitabilitas, hipertermia,
takhikardia, takhipnea, sakit kepala, midriasis, kemerahan kulit, kebingungan, koagulasi
intravaskular meluas, dan kematian. Beri selang paling tidak 14 hari diantara penghentian
MAOI dan mulainya antidepresan trisiklik.
6. Pemutusan obat:
Pemutusan obat dapat menyebabkan nausea, muntah, dan kelemahan. Suatu sindrom putus
obat setelah pemutusan mendadak jarang terjadi. Tanda dan gejala penghentian dapat
bervariasi mulai dari mimpi buruk dengan agitasi sampai psikosis yang jelas dan konvulsi.
Sindrom ini umumnya dapat mereda dengan
pemberian kembali MAOI dosis rendah diikuti dengan penurunan dosis perlahan dan
penghentian obat.
7. Gejala yang timbul bersamaan:
Tranilsipromin dan isokarboksazid dapat memperhebat gejala yang timbul bersamaan pada
depresi seperti kecemasan dan agitasi.
8. Gangguan fungsi ginjal:
Penderita harus selalu diawasi karena ada kemungkinan terjadinya efek kumulatif pada
penderita yang mengalami gangguan ini.
9. Karsinogenesis:
Fenelzin, seperti turunan hidrazin lainnya, menginduksi tumor pulmonar dan vaskular pada
suatu studi tak terkontrol sepanjang hayat pada mencit.
10. Lanjut usia:
Penderita lanjut usia dapat mengalami kesakitan yang lebih parah daripada penderita usia
muda selama dan setelah suatu episode hipertensi atau hipertermia malignan akibat
pemakaian MAOI. Penderita lanjut usia kurang dapat mengkompensasi reaksi tak
dikehendaki yang serius. Tranilsipromin harus digunakan dengan hati-hati pada penderita
lanjut usia.
11. Kehamilan:
Kategori C. Keamanan penggunaan selama kehamilan belum jelas. Gunakan selama
kehamilan atau pada wanita usia subur hanya bila betul-betul dibutuhkan dan bila manfaatnya
lebih besar daripada bahaya yang mungkin terjadi pada janin.
12. Menyusui:
Keamanan penggunaan selama menyusui belum jelas. Tranilsipromin diekskresi dalam air
susu. Karena potensial menyebabkan efek tak dikehendaki yang serius pada bayi menyusui,
harus diputuskan apakah menghentikan menyusui atau pemakaian obat, dengan
mempertimbangkan pentingnya obat bagi si ibu.
13. Anak: Keamanan dan khasiat pada populasi anak-anak belum jelas. Bila dipertimbangkan
penggunaan MAOI pada anak-anak atau dewasa, harus diperhatikan perimbangan risiko yang
mungkin dengan kebutuhan klinik.

Perhatian
Hipotensi: Amati pada semua penderita adanya gejala hipotensi portural. Efek samping
hipotensif terjadi pada penderita hipertensif, normal maupun hipotensif. Tekanan darah
biasanya segera kembali pada kadar sebelum pengobatan bila obat dihentikan atau dosisnya
dikurangi. Pada dosis lebih besar dari 30 mg/hari, hipotensi postural merupakan efek samping
utama dan dapat mengakibatkan pingsan. Tingkatkan dosis dengan lebih perlahan pada
penderita yang menunjukkan kecenderungan ke arah hipotensi pada permulaan terapi.
Hipotensi postural dapat mereda bila penderita berbaring sampai tekanan darahnya kembali
normal.
Hipomania: Hipomania merupakan efek samping psikiatrik parah yang paling umum
dilaporkan. Hal ini terbatas pada penderita dengan gangguan yang ditandai oleh
gejala hiperkinetik yang terjadi bersamaan dengan efek depresif, tapi dikaburkan oleh efek
depresif tersebut. Hipomania biasanya muncul saat depresi membaik. Bila agitasi terjadi,
gejala ini dapat ditingkatkan oleh MAOI. Hipomania dan agitasi juga terjadi pada
penggunaan obat dalam jumlah yang lebih tinggi daripada dosis yang direkomendasikan atau
setelah terapi jangka panjang. Obat dapat menyebabkan stimulasi berlebihan pada penderita
yang teragitasi atau skizofrenik; pada keadaan mania-depresif, dapat terjadi peralihan dari
fase depresif ke fase mania.
Diabetes: Terdapat bukti yang bertentangan berkenaan dengan apakah MAOI mempengaruhi
metabolisme glukosa atau mempotensiasi senyawa hipoglikemik. Hal ini harus
dipertimbangkan dalam penggunaan MAOI untuk penderita diabetes.
Epilepsi: Efek MAOI pada ambang konvulsi dapat bervariasi. Jangan menggunakan MAOI
bersama metrizamid, hentikan penggunaan MAOI paling tidak 48 jam sebelum myelografi
dan lanjutkan paling tidak 24 jam setelah melakukan prosedur.
Hepatotoksisitas: Terdapat insidensi rendah perubahan fungsi hati atau jaundice pada
penderita yang ditangani dengan isokarboksid. Lakukan uji kimia hati berkala selama terapi.
Hentikan obat pada saat pertama kali adanya tanda disfungsi hati atau jaundice.
Iskemia miokardial: MAOI dapat menekan nyeri angina yang justru dapat menjadi peringatan
iskemia miokardial.
Penderita hipertiroid: Penggunaan tranilsipromin dan isokarboksazid harus dilakukan dengan
hati-hati karena adanya peningkatan sensitivitas terhadap amin penekan.
Mengganti MAOI: Pada beberapa laporan kasus, krisis hipertensif, pendarahan serebral, dan
kematian dapat terjadi karena penggantian MAOI ke obat lain tanpa adanya periode jeda.
Periode jeda selama 10-14 hari dianjurkan jika mengganti suatu MAOI ke yang lainnya atau
dari suatu senyawa dibenzazepin (misalnya amitriptilin, perfenazin).
Penyalahgunaan obat dan ketergantungan: Telah dilaporkan kasus ketergantungan obat pada
penderita yang menggunakan tranilsipromin dan isokarboksazid dalam dosis berlebih dari
rentang terapetik. Beberapa dari penderita tersebut memiliki riwayat penyalahgunaan obat.
Gejala pemutusan obat berikut telah dilaporkan: resah, cemas, depresi, bingung, halusinasi,
sakit kepala, lemah, diare.

Reaksi Obat tak Dikehendaki


1. Umum:
Kardiovaskular – hipotensi ortostatik; pingsan; palpitasi; takhikardia.
SSP – pusing; sakit kepala; hiperrefleksia; tremor; kejutan otot; mania; hipomania; bingung;
gangguan memori; gangguan tidur termasuk hipersomnia dan insomnia;
lemah; mengantuk; resah; overstimulasi termasuk peningkatan gejala kecemasan, agitasi, dan
manik.
Saluran cerna – Konstipasi; gangguan salura cerna; mual; diare; nyeri abdomen.
Lain-lain – Edema; mulut kering; peningkatan transaminase serum; kenaikan bobot badan;
gangguan seksual; anoreksia; penglihatan kabur; impotensi; menggigil.
2. Kurang umum:
SSP – Gugup; euphoria; palilalia (mengulang-ulang perkataan); parestesia; menggigil;
sentakan otot mioklonik; cemas; hiperaktivitas; lelah; sedasi.
Genitouriner – retensi/sering urinasi; impotensi.
Hematologi – perubahan hematologik termasuk anemia, agranulositosis dan trombositopenia;
leukopenia.
Optalmik – Glaukoma; nistagmus; penglihatan kabur.
Lain-lain – berkeringat; ruam kulit; hipernatremia; pingsan; perasaan berat; palpitasi.
3. Jarang:
SSP – konvulsi; ataksia; koma mirip syok; reaksi cemas akut; serangan tiba-tiba skizoprenia;
sakit kepala tanpa peningkatan tekanan darah; kaku otot; hentakan mioklonik; sensasi
abnormal; bingung; hilang memori.
Genitourinari – Gangguan ekskresi air.
Hati – Jaundice yang reversible; hepatitis; kerusakan sel hati nekrotik.
Metabolik – Sindrom hipermetabolik yang meliputi, tapi tidak terbatas pada, hiperpireksia,
takhikardia, takhipnea, kekakuan otot, peningkatan kadar keratin kinase, asidosis metabolik,
hipoksia, dan koma yang menyerupai overdosis.
Lain-lain – Edema pada glottis; depresi respirasi dan kardiovaskular setelah terapi
elektrokonvulsif; leukopenia; sindrom mirip lupus; demam yang terkait dengan peningkatan
tonus otot; tinitus; skleroderma setempat; pemerahan akne sistik, ataksia, akinesia,
disorientasi, urinasi yang sering dan mengompol, urtikaria, lipatan pada sudut mulut
(tranilsipromin); ruam kulit; masalah ejakulasi; tremor.

Overdosis
Gejala: Bergantung pada jumlah overdosis, dapat terjadi gambaran klinik campuran yang
melibatkan gejala SSP, stilmulasi serta depresi kadiovaskular. Tanda dan gejala mungkin
tidak nampak atau minimal selama periode 12 jam pertama setelah makan obat dan
seterusnya berkembang perlahan-lahan, mencapai maksimum dalam 24 sampai 48 jam.
Penderita harus segera dibawa ke rumah sakit, dan selama periode ini harus dimonitor terus-
menerus.
Gejala awal toksisitas MOAI termasuk: iritabilitas; hiperaktivitas; cemas; hipotensi; kolaps
vascular; insomnia; gelisah; pusing; pingsan; trismus (kontraksi terus-menerus otot geraham);
pemerahan kulit; berkeringat; takhipnea; takhikardia; gangguan pergerakan termasuk
perubahan raut wajah, kejang (opistotonus), kaku, gerakan klonik serta fasikulasi (kontraksi
kasar) otot; sakit kepala berat. Pada kasus yang serius dapat terjadi koma, konvulsi, hipertensi
dengan sakit kepala yang parah, nyeri sekitar dada (prekordial), depresi gagal pernapasan,
pireksia (demam), hiperpireksia (demam sangat tinggi), diaforesis (berkeringat), kulit dingin,
berhentinya aktivitas jantung dan pernapasan, bingung (inconsistence), agitasi, bingung
(mental confusion), pusing berat, syok, dan kematian. Pada kasus tertentu telah dilaporkan
terjadinya hipertensi yang disertai dengan kejutan atau fibrilasi mioklonik otot rangka
bersama hiperpireksia, ada kalanya berlanjut menjadi kekakuan menyeluruh serta koma.
Penanganan: Induksi emesis atau bilas lambung dengan memberikan karbon aktif pada awal
keracunan; lindungi jalan udara dari menghirup cairan/benda asing. Pertahankan respirasi
dengan cara yang tepat, termasuk penanganan jalan udara, penggunaan suplemen oksigen,
dan pertolongan ventilasi mekanik sebagaimana diperlukan.
Kardiovaskular – Komplikasi kardiovaskular termasuk hipertensi dan hipotensi; karenanya
harus hati-hati kalau memberikan senyawa aktif kardiovaskular dan harus selalu dilakukan
pemantauan tekanan darah. Hipertensi parah dapat ditangani dengan suatu pemblok alfa-
adrenergik (seperti fentolamin, fenoksibenzamin). Senyawa pemblok beta dapat digunakan
untuk takhikardia, takhipnea, dan hiperpireksia; akan tetapi masih diperlukan lebih banyak
data. Tangani hipotensi dan kolaps vascular dengan cairan i.v. dan, bila perlu, berikan infus
intravena senyawa presor encer. Pemberian amin presor seperti norepinefrin mungkin
memiliki keterbatasan, karena efeknya dapat dipotensiasi. Senyawa adrenergik dapat
meningkatkan respons presor.
SSP – Stimulasi SSP, termasuk konvulsi, dapat ditangani dengan diazepam i.v. yang
diberikan secara perlahan. Hindari turunan fenotiazin dan stimulan SSP. Pantau temperatur
tubuh dengan seksama. Mungkin diperlukan penanganan hiperpireksia. Pemeliharaan
keseimbangan cairan dan elektrolit sangat esensial.
Hemodialisis, dialysis peritoneal, dan hemoperfusi karbon aktif mungkin diperlukan pada
kasus overdosis dalam jumlah banyak (masif), tapi tidak ada data yang cukup untuk
merekomendasi penggunaan rutinnya. Pendinginan eksternal dianjurkan jika terjadi
hiperpireksia. Barbiturat dilaporkan dapat membantu meringankan reaksi mioklonik.
Efek patofisiologik overdosis masif dapat berlangsung selama beberapa hari; perbaikan dari
overdosis sedang diperkirakan terjadi dalam 3 sampai 4 hari. Lanjutkan
penanganan selama beberapa hari sampai dicapai kembali homeostasis. Telaah fungsi hati
dianjurkan selama 4 sampai 6 minggu setelah sembuh. Belum diketahui apakah
tranilsipromin dapat didialisa.

Farmakoterapi atau terapi obat merupakan komponen penting dalam pengobatan


gangguan depresif. Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan, misalnya target
simptom, kerja obat, farmakokinetik, cara pemberian, efek samping, interaksi obat,
sampai pada harga obat. Klasifikasi, farmakologi dan farmakokinetika obat untuk
mengatasi depresi dapat dilihat pada Tabel 3.
4.1 Tiga Fase Pengobatan Gangguan Depresif
Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan kepada
penderita bahwa ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan gangguan
depresif :

Fase akut bertujuan untuk meredakan gejala

Fase kelanjutan untuk mencegah relaps

Fase pemeliharaan/rumatan untuk mencegah rekuren
Dikutip dari Kupfer, 1991
Di pelayanan kesehatan primer, obat anti depresan yang tersedia biasanya golongan
trisiklik. Meskipun antidepresan trisiklik sampai saat ini merupakan obat antidepresan
yang paling banyak digunakan, tetapi penggunaannya masih belum optimal karena
kemampuan diagnostik dari pelayanan kesehatan
primer belum ditingkatkan juga belum
berperannya konselor apoteker. Dari hasil penelitian ternyata dosis yang digunakan masih
terlalu rendah. Akibatnya, efek terapi yang ingin dihasilkan tidak tercapai.
Efek samping antidepresan trisiklik cukup
banyak, tetapi hal ini tidak menghalangi
penggunaannya, karena obat ini telah terbukti
efektif dalam mengobati depresi. Dengan
memberikan obat ini sebagai dosis tunggal pada malam hari, dan melakukan titrasi
peningkatan dosis, maka efek samping yang mengganggu sedikit banyak akan dapat
diatasi.
4.2 Kriteria pemilihan obat
Pertimbangan untuk pemilihan obat ada di tangan dokter yang akan membicarakannya
pada penderita. Konseling diperkuat oleh apoteker. Pertimbangan tersebut meliputi :
-
Efek samping dan respon tubuh terhadap obat
-
Penyakit dan terapi lain yang dialami penderita
-
Kerja obat dalam tubuh ketika dibarengi obat lain. Penderita perlu mengatakan pada
dokter bahwa ia sedang menelan obat tertentu. Dokter akan memperhatikan interaksi
obat yang diketahuinya.
-
Lanjut usia, dimana fungsi absorbsi obat melambat.
-
Efektivitas obat atas penderita. Seringkali pengobatan awal memberi hasil baik. Jika
ini tak terjadi beritahu dokter agar dipikirkan obat lain atau kombinasi.
-
Obat harus dipertahankan selama 7-15 bulan atau lebih panjang untuk menghadang
episode gangguan depresif berikutnya
-
Beberapa orang memerlukan terapi rumatan antidepresan, terutama mereka yang
seringkali mengalami pengulangan gejala episode gangguan depresif atau gangguan
depresif mayor.
Antidepresan baru terlihat efeknya dalam
4 sampai 12 minggu, sebelum ia mengurangi
atau menghapus gejala-gejala gangguan depresif meski hasilnya dirasakan sudah
membuat perbaikan dalam 2 sampai 3 minggu. Selama masa ini efek samping akan
terasa. Banyak efek samping bersifat sementara dan akan menghilang ketika obat
diteruskan, dan beberapa efek samping menetap seperti mulut kering, konstipasi dan efek
seksual.
Orang berusia lanjut perlu mendapatkan perhatian atas daya absorbsi dan kepekaannya
terhadap efek obat. Monitor obat dan gejala perlu lebih cermat.
4.3 Penggolongan Antidepresan
1.
Antidepresan Klasik (Trisiklik & Tetrasiklik)
Mekanisme kerja
: Obat–obat ini menghambat resorpsi dari serotonin dan noradrenalin
dari sela sinaps di ujung-ujung saraf.
Efek samping
:
-
Efek jantung ; dapat menimbulkan gangguan penerusan impuls jantung dengan
perubahan ECG, pada overdosis dapat terjadi aritmia berbahaya.
-
Efek anti kolinergik ; akibat blokade reseptor muskarin dengan menimbulkan antara
lain mulut kering, obstipasi, retensi urin, tachycardia, serta gangguan potensi dan
akomodasi, keringat berlebihan.
-
Sedasi
-
Hipotensi ortostatis dan pusing serta mudah jatuh merupakan akibat efek
antinoradrenalin, hal ini sering terjadi pada penderita lansia, mengakibatkan gangguan
fungsi seksual.
-
Efek antiserotonin; akibat blokade reseptor 5HT postsinaptis dengan bertambahnya
nafsu makan dan berat badan.
-
Kelainan darah; seperti agranulactose dan leucopenia, gangguan kulit
-
Gejala penarikan; pada penghentian terapi dengan mendadak dapat timbul antara lain
gangguan lambung-usus, agitasi, sukar tidur, serta nyeri kepala dan otot.
Obat-obat yang termasuk antidepresan klasik :

Imipramin
Dosis lazim
: 25-50 mg 3x sehari bila perlu dinaikkan sampai maksimum 250-300
mg sehari.
Kontra Indikasi
: Infark miokard akut
Interaksi Obat
: anti hipertensi, obat simpatomimetik, alkohol, obat penekan SSP
Perhatian :
kombinasi dengan MAO, gangguan kardiovaskular, hipotensi,
gangguan untuk mengemudi, ibu hamil dan menyusui.

Klomipramin
Dosis lazim
: 10 mg dapat ditingkatkan sampai dengan maksimum dosis 250 mg
sehari.
Kontra Indikasi
: Infark miokard, pemberian bersamaan dengan MAO, gagal
jantung, kerusakan hati yang berat, glaukoma sudut sempit.
Interaksi Obat
: dapat menurunkan efek antihipertensi penghambat neuro
adrenergik, dapat meningkatkan efek kardiovaskular dari noradrenalin atau
adrenalin, meningkatkan aktivitas dari obat penekan SSP, alkohol.
Perhatian :
terapi bersama dengan preparat tiroid, konstipasi kronik, kombinasi
dengan beberapa obat antihipertensi,
simpatomimetik, penekan SSP, anti
kolinergik, penghambat reseptor serotonin selektif, antikoagulan, simetidin.
Monitoring hitung darah dan fungsi hati, gangguan untuk mengemudi.

Amitriptilin
Dosis lazim
: 25 mg dapat dinaikan secara bertahap sampai dosis maksimum
150-300 mg sehari.
Kontra Indikasi
: penderita koma, diskrasia darah, gangguan depresif sumsum
tulang, kerusakan hati, penggunaan bersama dengan MAO.
Interaksi Obat
: bersama guanetidin meniadakan efek antihipertensi, bersama
depresan SSP seperti alkohol, barbitura
te, hipnotik atau analgetik opiate
mempotensiasi efek gangguan depresif SSP termasuk gangguan depresif saluran
napas, bersama reserpin meniadakan efek antihipertensi.
Perhatian :
ganguan kardiovaskular, kanker payudara, fungsi ginjal menurun,
glakuoma, kecenderungan untuk bunuh diri, kehamilan, menyusui, epilepsi.

Lithium karbonat
Dosis lazim
: 400-1200 mg dosis tunggal pada pagi hari atau sebelum tidur
malam.
Kontra Indikasi
: kehamilan, laktasi, gagal ginjal, hati dan jantung.
Interaksi Obat
: diuretik, steroid, psikotropik, AINS, diazepam, metildopa,
tetrasiklin, fenitoin, carbamazepin, indometasin.
Perhatian
: Monitor asupan diet dan cairan, penyakit infeksi, demam, influenza,
gastroentritis.
2.
Antidepresan Generasi ke-2
Mekanisme kerja :
SSRI (
Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor
) : Obat-obat ini menghambat
resorpsi dari serotonin.
NaSA (
Noradrenalin and Serotonin Antidepressants
): Obat-obat ini tidak
berkhasiat selektif, menghambat re-uptake dari serotonin dan noradrenalin.
Terdapat beberapa indikasi bahwa obat-obat ini lebih efektif daripada SSRI.
ƒ
ƒ
Efek samping :

Efek seretogenik; berupa mual ,muntah, malaise umum, nyeri kepala, gangguan
tidur dan nervositas, agitasi atau kegelisahan yang sementara, disfungsi seksual
dengan ejakulasi dan orgasme terlambat.

Sindroma serotonin; berupa antara lain kegelisahan, demam, dan menggigil,
konvulsi, dan kekakuan hebat, tremor, diare, gangguan koordinasi. Kebanyakan
terjadi pada penggunaan kombinasi obat-obat generasi ke-2 bersama obat-obat
klasik, MAO, litium atau triptofan, lazimnya dalam waktu beberapa jam sampai 2-
3 minggu. Gejala ini dilawan dengan antagonis serotonin (metisergida,
propanolol).

Efek antikolinergik, antiadrenergik, dan efek jantung sangat kurang atau sama
sekali tidak ada.
Obat-obat yang termasuk antidepresan generasi ke-2 :

Fluoxetin
Dosis lazim
: 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 mg/hari dalam dosis
tunggal atau terbagi.
Kontra Indikasi
: hipersensitif terhadap fluoxetin, gagal ginjal yang berat,
penggunaan bersama MAO.
Interaksi Obat
: MAO, Lithium, obat yang merangsang aktivitas SSP, anti
depresan, triptofan, karbamazepin, obat yang terkait dengan protein plasma.
Perhatian
: penderita epilepsi yang terkendali, penderita kerusakan hati dan ginjal,
gagal jantung, jangan mengemudi / menjalankan mesin.

Sertralin
Dosis lazim
: 50 mg/hari bila perlu dinaikkan maksimum 200 mg/hr.
Kontra Indikasi
: Hipersensitif terhadap sertralin.
Interaksi Obat
: MAO, Alkohol, Lithium, obat seretogenik.
Perhatian
: pada gangguan hati, terapi elektrokonvulsi, hamil, menyusui,
mengurangi kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin.

Citalopram
Dosis lazim
: 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari.
Kontra indikasi
: hipersensitif terhadap obat ini.
Interaksi Obat
: MAO, sumatripan, simetidin.
Perhatian
: kehamilan, menyusui, gangguan mania, kecenderungan bunuh diri.

Fluvoxamine
Dosis lazim
: 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada malam hari,
maksimum dosis 300 mg.
Interaksi Obat
: warfarin, fenitoin, teofilin, propanolol, litium.
Perhatian
: Tidak untuk digunakan dalam 2 minggu penghentian terapi MAO,
insufiensi hati, tidak direkomendasikan untuk
anak dan epilepsi, hamil dan laktasi.

Mianserin
Dosis lazim
: 30-40 mg malam hari, dosis maksimum 90 mg/ hari
Kontra Indikasi
: mania, gangguan fungsi hati.
Interaksi Obat
: mempotensiasi aksi depresan SSP, tidak boleh diberikan dengan
atau dalam 2 minggu penghentian terapi.
Perhatian :
dapat menganggu psikomotor selama hari pertama terapi, diabetes,
insufiensi hati, ginjal, jantung.

Mirtazapin
Dosis lazim
: 15-45 mg / hari menjelang tidur.
Kontra Indikasi
: Hipersensitif terhadap mitrazapin.
Interaksi Obat
: dapat memperkuat aksi pengurangan SSP dari alkohol,
memperkuat efek sedatif dari benzodiazepine, MAO.
Perhatian
: pada epilepsi sindroma otak organic, insufiensi hati, ginjal, jantung,
tekanan darah rendah, penderita skizofrenia atau gangguan psikotik lain,
penghentian terapi secara mendadak, lansia, hamil, laktasi, mengganggu
kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.

Venlafaxine
Dosis lazim
: 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250 mg 1x/hari.
Kontra Indikasi
: penggunaan bersama MAO, hamil dan laktasi, anak < 18 tahun.
Interaksi Obat
: MAO, obat yang mengaktivasi SSP lain.
Perhatian :
riwayat kejang dan penyalahgunaan obat, gangguan ginjal atau sirosis
hati, penyakit jantung tidak stabil, monitor tekanan darah jika penderita mendapat
dosis harian > 200 mg.
3. Antidepresan MAO.
Inhibitor Monoamin Oksidase (Monoamine Oxidase Inhibitor, MAOI)
Farmakologi
Monoamin oksidase merupakan suatu sistem enzim kompleks yang terdistribusi luas
dalam tubuh, berperan dalam dekomposisi
amin biogenik, seperti norepinefrin,
epinefrin, dopamine, serotonin. MAOI menghambat sistem enzim ini, sehingga
menyebabkan peningkatan konsentrasi amin endogen.
Ada dua tipe MAO yang telah teridentifikasi, yaitu MAO-A dan MAO-B. Kedua enzim
ini memiliki substrat yang berbeda serta perbedaan dalam sensitivitas terhadap
inhibitor. MAO-A cenderungan memiliki aktivitas deaminasi epinefrin, norepinefrin, dan
serotonin, sedangkan MAO-B memetabolisme benzilamin dan fenetilamin. Dopamin
dan tiramin dimetabolisme oleh kedua isoenzim. Pada jaringan syaraf, sistem enzim
ini mengatur dekomposisi metabolik katekolamin dan serotonin. MAOI hepatic
menginaktivasi monoamin yang bersirkulasi at
au yang masuk melalui saluran cerna ke
dalam sirkulasi portal (misalnya tiramin).
Semua MAOI nonselektif yang digunakan sebagai antidepresan merupakan inhibitor
ireversibel, sehingga dibutuhkan sampai
2 minggu untuk mengembalikan metabolisme
amin normal setelah penghentian obat. Hasil studi juga mengindikasikan bahwa terapi
MAOI kronik menyebabkan penurunan jumlah reseptor (
down regulation
) adrenergik
dan serotoninergik.
Farmakokinetik
Absorpsi/distribusi – Informasi mengenai farmakokinetik MAOI terbatas. MAOI
tampaknya terabsorpsi baik setelah pemberi
an oral. Kadar puncak tranilsipromin dan
fenelzin mencapai kadar puncaknya masing-masing dalam 2 dan 3 jam. Tetapi,
inhibisi MAO maksimal terjadi dalam 5 sampai 10 hari.
Metabolisme/ekskresi – metabolisme MAOI dari kelompok hidrazin (fenelzin,
isokarboksazid) diperkirakan menghasilkan metabolit aktif. Inaktivasi terjadi terutama
melalui asetilasi. Efek klinik fenelzin dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah
penghentian terapi. Setelah penghentian tranilsipromin, aktivitas MAO kembali dalam
3 sampai 5 hari (dapat sampai 10 Hari). Fenelzin dan isokarboksazid dieksresi melalui
urin sebagian besar dalam bentuk metabolitnya.
Populasi khusus – “asetilator lambat”: Asetilasi lambat dari MAOI hidrazin dapat
memperhebat efek setelah pemberian dosis standar.
Indikasi
Depresi: Secara umum, MAOI diindika
sikan pada penderita dengan depresi atipikal
(eksogen) dan pada beberapa penderita yang tidak berespon terhadap terapi
antidpresif lainnya. MAOI jarang dipakai sebagai obat pilihan.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap senyawa ini; feokromositoma; gagal jantung kongestif; riwayat
penyakit liver atau fungsi liver abnormal; gangguan ginjal parah; gangguan
serebrovaskular; penyakit kardiovaskular; hipertensi; riwayat sakit kepala; pemberian
bersama dengan MAOI lainnya; senyawa
yang terkait dibenzazepin termasuk
antidepresan trisiklik, karbamazepin, dan siklobenzaprin; bupropion; SRRI; buspiron;
simpatomimetik; meperidin; dekstrometo
rfan; senyawa anestetik; depresan SSP;
antihipertensif; kafein; keju atau makanan lain dengan kandungan tiramin tinggi.
Peringatan
Memburuknya gejala klinik serta risiko bunuh diri
: Penderita dengan gangguan
depresif mayor, dewasa maupun anak-anak, dapat mengalami perburukan depresinya
dan/atau munculnya ide atau perilaku yang mengarah pada bunuh diri (
suicidality
),
atau perubahan perilaku yang tidak biasa, yang tidak berkaitan dengan pemakaian
antidepresan, dan risiko ini dapat ber
tahan sampai terjadinya pengurangan jumlah
obat secara signifikan. Ada kekhaw
atiran bahwa antidepresan berperan dalam
menginduksi memburuknya depresi dan kemunculan
suicidality
pada penderita
tertentu. Antidepresan meningkatkan risiko pemikiran dan perilaku yang mengarah
pada bunuh diri (
suicidality
) dalam studi jangka pendek pada anak-anak dan dewasa
yang menderita gangguan depresif mayor serta gangguan psikiatrik lainnya.
Krisis hipertensif
: reaksi paling serius melibatkan perubahan tekanan darah; tidak
dianjurkan untuk menggunakan MAOI pada penderita lanjut usia atau berkondisi
lemah atau mengalami hipertensi, penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular, atau
pemberian bersama obat-obatan atau makanan tertentu. Karakteristik gejala krisis
dapat berupa: sakit kepala pada daerah oksipital (belakang) yang dapat menjalar ke
daerah frontal (depan), palpitasi (tidak beraturannya pulsa jantung), kekakuan/sakit
leher, nausea, muntah, berkeringat (terkadang bersama demam atau kulit yang
dingin), dilatasi pupil, fotofobia. Takhikardia atau bradikardia dapat terjadi dan dapat
menyertai sakit dada. Pendarahan intrakranial (terkadang fatal) telah dilaporkan
berkaitan dengan peningkatan tekanan darah paradoks. Harus sering diamati tekanan
darah, tapi jangan bergantung sepenuhnya pada pembacaan tekanan darah,
melainkan penderita harus sering pula diamati. Bila krisis hipertensi terjadi, hentikan
segera penggunaan obat dan laksanakan terapi untuk menurunkan tekanan darah.
Jangan menggunakan reserpin parenteral. Sakit kepala cenderung mereda sejalan
dengan menurunnya tekanan darah. Berikan seny
awa pemblok alfa adrenergik seperti
fentolamin 5 mg i.v. perlahan untuk menghindari efek hipotensif berlebihan. Tangani
demam dengan pendinginan eksternal.
Peringatan kepada penderita
: Peringatkan penderita agar tidak memakan makanan
yang kaya tiramin, dopamine, atau triptofan (seperti pada
Tabel 1
) selama pemakaian
dan dalam waktu 2 minggu setelah penghentian MAOI. Setiap makanan kaya protein
yang telah disimpan lama untuk tujuan peningkatan aroma diduga dapat
menyebabkan krisis hipertensif p
ada penderita yang menggunakan MAOI. Juga
peringatkan penderita untuk tidak mengkonsumsi minuman beralkohol serta obat-
obatan yang mengandung amin simpatomimetik selama terapi dengan MAOI.
Instruksikan kepada penderita untuk tidak mengkonsumsi kafein dalam bentuk apapun
secara berlebihan serta malaporkan segera adanya sakit kepala atau gejala lainnya
yang tidak biasa.
Risiko bunuh diri
: Pada penderita yang mempunyai kecenderungan bunuh diri, tidak
ada satu bentuk penanganan pun, seperti MAOI, elektrokonvulsif, atau terapi lainnya,
yang dijadikan sandaran tunggal untuk terapi. Dianjurkan untuk melakukan
penanganan ketat, lebih baik dilakukan perawatan di rumah sakit.
Pemberian bersamaan antidepresan
: Pada penderita yang menerima suatu SRRI
dalam kombinasi dengan MAOI, telah dilaporkan reaksi serius yang terkadang fatal
termasuk hipertermia, kekakuan, mioklonus, instabilitas otonom disertai fluktuasi cepat
pada tanda vital, dan perubahan status mental termasuk agitasi hebat, yang
meningkat menjadi delirium dan koma. Reaksi ini telah terjadi pada penderita yang
baru saja menghentikan SRRI dan baru mulai menggunakan MAOI. Bila terjadi
pengalihan dari SRRI ke MAOI, maka harus ada selang 2 minggu diantara pergantian.
Setelah penghentian fluoxetin, maka harus ada selang 1 atau 2 minggu sebelum mulai
menggunakan MAOI. Jangan memberikan MAOI bersama atau segera setelah
antidepresan trisiklik. Kombinasi ini meny
ebabkan seizure, koma, hipereksitabilitas,
hipertermia, takhikardia, takhipnea, sakit kepala, midriasis, kemerahan kulit,
kebingungan, koagulasi intravaskular meluas, dan kematian. Beri selang paling tidak
14 hari diantara penghentian MAOI dan mulainya antidepresan trisiklik.
Pemutusan obat
: Pemutusan obat dapat menyebabkan nausea, muntah, dan
kelemahan. Suatu sindrom putus obat setelah pemutusan mendadak jarang terjadi.
Tanda dan gejala penghentian dapat bervariasi mulai dari mimpi buruk dengan agitasi
sampai psikosis yang jelas dan konvulsi
. Sindrom ini umumnya dapat mereda dengan
pemberian kembali MAOI dosis rendah diikuti dengan penurunan dosis perlahan dan
penghentian obat.
Gejala yang timbul bersamaan
: Tranilsipromin dan isokarboksazid dapat
memperhebat gejala yang timbul bersamaan pada depresi seperti kecemasan dan
agitasi.
Gangguan fungsi ginjal
: Penderita harus selalu diawasi karena ada kemungkinan
terjadinya efek kumulatif pada penderita yang mengalami gangguan ini.
Karsinogenesis
: Fenelzin, seperti turunan hidrazin lainnya, menginduksi tumor
pulmonar dan vaskular pada suatu studi tak terkontrol sepanjang hayat pada mencit.
Lanjut usia
: Penderita lanjut usia dapat mengalami kesakitan yang lebih parah
daripada penderita usia muda selama dan setelah suatu episode hipertensi atau
hipertermia malignan akibat pemakaian MAOI. Penderita lanjut usia kurang dapat
mengkompensasi reaksi tak dikehendaki yang
serius. Tranilsipromin harus digunakan
dengan hati-hati pada penderita lanjut usia.
Kehamilan
:
Kategori C
. Keamanan penggunaan selama kehamilan belum jelas.
Gunakan selama kehamilan atau pada wanita usia subur hanya bila betul-betul
dibutuhkan dan bila manfaatnya lebih besar daripada bahaya yang mungkin terjadi
pada janin.
Menyusui
: Keamanan penggunaan selama menyusui belum jelas. Tranilsipromin
diekskresi dalam air susu. Karena potensial menyebabkan efek tak dikehendaki yang
serius pada bayi menyusui, harus diput
uskan apakah menghentikan menyusui atau
pemakaian obat, dengan mempertimbangkan pentingnya obat bagi si ibu.
Anak
: Keamanan dan khasiat pada populasi anak-anak belum jelas. Bila
dipertimbangkan penggunaan MAOI pada anak-anak atau dewasa, harus diperhatikan
perimbangan risiko yang mungkin dengan kebutuhan klinik.
Perhatian
Hipotensi
: Amati pada semua penderita adanya gejala hipotensi portural. Efek
samping hipotensif terjadi pada penderita hipertensif, normal maupun hipotensif.
Tekanan darah biasanya segera kembali pada kadar sebelum pengobatan bila obat
dihentikan atau dosisnya dikurangi. Pada dosis lebih besar dari 30 mg/hari, hipotensi
postural merupakan efek samping utama dan dapat mengakibatkan pingsan.
Tingkatkan dosis dengan lebih perlahan pada penderita yang menunjukkan
kecenderungan ke arah hipotensi pada permulaan terapi. Hipotensi postural dapat
mereda bila penderita berbaring sampai tekanan darahnya kembali normal.
Hipomania
: Hipomania merupakan efek samping psikiatrik parah yang paling umum
dilaporkan. Hal ini terbatas pada penderita dengan gangguan yang ditandai oleh
gejala hiperkinetik yang terjadi bersamaan dengan efek depresif, tapi dikaburkan oleh
efek depresif tersebut. Hipomania biasanya muncul saat depresi membaik. Bila agitasi
terjadi, gejala ini dapat ditingkatkan oleh MAOI. Hipomania dan agitasi juga terjadi
pada penggunaan obat dalam jumlah yang lebih tinggi daripada dosis yang
direkomendasikan atau setelah terapi jangka panjang. Obat dapat menyebabkan
stimulasi berlebihan pada penderita yang teragitasi atau skizofrenik; pada keadaan
mania-depresif, dapat terjadi peralihan dari fase depresif ke fase mania.
Diabetes
: Terdapat bukti yang bertentangan berkenaan dengan apakah MAOI
mempengaruhi metabolisme glukosa atau me
mpotensiasi senyaw
a hipoglikemik. Hal
ini harus dipertimbangkan dalam penggunaan MAOI untuk penderita diabetes.
Epilepsi
: Efek MAOI pada ambang konvulsi dapat bervariasi. Jangan menggunakan
MAOI bersama metrizamid, hentikan penggunaan MAOI paling tidak 48 jam sebelum
myelografi dan lanjutkan paling tidak 24 jam setelah melakukan prosedur.
Hepatotoksisitas
: Terdapat insidensi rendah perubahan fungsi hati atau jaundice pada
penderita yang ditangani dengan isokarboksid. Lakukan uji kimia hati berkala selama
terapi. Hentikan obat pada saat pertama kali adanya tanda disfungsi hati atau
jaundice.
Iskemia miokardial
: MAOI dapat menekan nyeri angina yang justru dapat menjadi
peringatan iskemia miokardial.
Penderita hipertiroid
: Penggunaan tranilsipromin dan isokarboksazid harus dilakukan
dengan hati-hati karena adanya peningkatan sensitivitas terhadap amin penekan.
Mengganti MAOI
: Pada beberapa laporan kasus, krisis hipertensif, pendarahan
serebral, dan kematian dapat terjadi karena penggantian MAOI ke obat lain tanpa
adanya periode jeda. Periode jeda selama 10-14 hari dianjurkan jika mengganti suatu
MAOI ke yang lainnya atau dari suatu seny
awa dibenzazepin (misalnya amitriptilin,
perfenazin).
Penyalahgunaan obat dan ketergantungan
: Telah dilaporkan kasus ketergantungan
obat pada penderita yang menggunakan tranilsip
romin dan isokarboksazid dalam
dosis berlebih dari rentang terapetik. Beberapa dari penderita tersebut memiliki riwayat
penyalahgunaan obat. Gejala pemutusan obat berikut telah dilaporkan: resah, cemas,
depresi, bingung, halusinasi, sakit kepala, lemah, diare.
Reaksi Obat tak Dikehendaki
- Umum
:
Kardiovaskular
– hipotensi ortostatik; pingsan; palpitasi; takhikardia.
SSP
– pusing; sakit kepala; hiperrefleksia;
tremor; kejutan otot; mania; hipomania;
bingung; gangguan memori; gangguan tidur termasuk hipersomnia dan insomnia;
lemah; mengantuk; resah; overstimulasi termasuk peningkatan gejala kecemasan,
agitasi, dan manik.
Saluran cerna
– Konstipasi; gangguan salura cerna; mual; diare; nyeri abdomen.
Lain-lain
– Edema; mulut kering; peningkatan transaminase serum; kenaikan bobot
badan; gangguan seksual; anoreksia; penglihatan kabur; impotensi; menggigil.
- Kurang umum
:
SSP
– Gugup; euphoria; palilalia (mengul
ang-ulang perkataan); parestesia;
menggigil; sentakan otot mioklonik; cemas; hiperaktivitas; lelah; sedasi.
Genitouriner
– retensi/sering urinasi; impotensi.
Hematologi
– perubahan hematologik termasuk anemia, agranulositosis dan
trombositopenia; leukopenia.
Optalmik
– Glaukoma; nistagmus; penglihatan kabur.
Lain-lain
– berkeringat; ruam kulit; hipernatremia; pingsan; perasaan berat; palpitasi.
- Jarang
:
SSP
– konvulsi; ataksia; koma mirip syok; reaksi cemas akut; serangan tiba-tiba
skizoprenia; sakit kepala tanpa peningkatan tekanan darah; kaku otot; hentakan
mioklonik; sensasi abnormal; bingung; hilang memori.
Genitourinari
– Gangguan ekskresi air.
Hati
– Jaundice yang reversible; hepatitis; kerusakan sel hati nekrotik.
Metabolik
– Sindrom hipermetabolik yang meliputi, tapi tidak terbatas pada,
hiperpireksia, takhikardia, takhipnea, kekakuan otot, peningkatan kadar keratin
kinase, asidosis metabolik, hipoksia, dan koma yang menyerupai overdosis.
Lain-lain
– Edema pada glottis; depresi respirasi dan kardiovaskular setelah terapi
elektrokonvulsif; leukopenia; sindrom mirip lupus; demam yang terkait dengan
peningkatan tonus otot; tinitus; skleroderma setempat; pemerahan akne sistik,
ataksia, akinesia, disorientasi, urinasi
yang sering dan mengompol, urtikaria, lipatan
pada sudut mulut (tranilsipromin); ruam kulit; masalah ejakulasi; tremor.
Overdosis
Gejala
: Bergantung pada jumlah overdosis, dapat terjadi gambaran klinik campuran
yang melibatkan gejala SSP, stilmulasi serta depresi kadiovaskular. Tanda dan gejala
mungkin tidak nampak atau minimal selama periode 12 jam pertama setelah makan
obat dan seterusnya berkembang perlahan-lahan, mencapai maksimum dalam 24
sampai 48 jam. Penderita harus segera dibawa ke rumah sakit, dan selama periode ini
harus dimonitor terus-menerus.
Gejala awal toksisitas MOAI termasuk: iritabilitas; hiperaktivitas; cemas; hipotensi;
kolaps vascular; insomnia; gelisah; pusing; pingsan; trismus (kontraksi terus-menerus
otot geraham); pemerahan kulit; berkeringat; takhipnea; takhikardia; gangguan
pergerakan termasuk perubahan raut wajah, kejang (opistotonus), kaku, gerakan
klonik serta fasikulasi (kontraksi kasar) otot; sakit kepala berat. Pada kasus yang
serius dapat terjadi koma, konvulsi, hipertensi dengan sakit kepala yang parah, nyeri
sekitar dada (prekordial), depresi gagal pernapasan, pireksia (demam), hiperpireksia
(demam sangat tinggi), diaforesis (berkeringat), kulit dingin, berhentinya aktivitas
jantung dan pernapasan, bingung (inconsistence), agitasi, bingung (mental confusion),
pusing berat, syok, dan kematian. Pada kasus tertentu telah dilaporkan terjadinya
hipertensi yang disertai dengan kejutan atau fibrilasi mioklonik otot rangka bersama
hiperpireksia, ada kalanya berlanjut menjadi kekakuan menyeluruh serta koma.
Penanganan
: Induksi emesis atau bilas lambung dengan memberikan karbon aktif
pada awal keracunan; lindungi jalan udara
dari menghirup cairan/benda asing.
Pertahankan respirasi dengan cara yang tepat, termasuk penanganan jalan udara,
penggunaan suplemen oksigen, dan pertolongan ventilasi mekanik sebagaimana
diperlukan.
Kardiovaskular
– Komplikasi kardiovaskular termasuk hipertensi dan hipotensi;
karenanya harus hati-hati kalau memberikan senyawa aktif kardiovaskular dan harus
selalu dilakukan pemantauan tekanan darah. Hipertensi parah dapat ditangani dengan
suatu pemblok alfa-adrenergik (seperti fentolamin, fenoksibenzamin). Senyawa
pemblok beta dapat digunakan untuk takhikardia, takhipnea, dan hiperpireksia; akan
tetapi masih diperlukan lebih banyak data. Tangani hipotensi dan kolaps vascular
dengan cairan i.v. dan, bila perlu, berikan infus intravena senyawa presor encer.
Pemberian amin presor seperti norepinefrin mungkin memiliki keterbatasan, karena
efeknya dapat dipotensiasi. Senyawa adrenergik dapat meningkatkan respons presor.
SSP
– Stimulasi SSP, termasuk konvulsi
, dapat ditangani dengan diazepam i.v. yang
diberikan secara perlahan. Hindari turunan
fenotiazin dan stimulan SSP. Pantau
temperatur tubuh dengan seksama. Mungkin diperlukan penanganan hiperpireksia.
Pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit sangat esensial.
Hemodialisis, dialysis peritoneal, dan hemoperfusi karbon aktif mungkin diperlukan
pada kasus overdosis dalam jumlah banyak (masif), tapi tidak ada data yang cukup
untuk merekomendasi penggunaan rutinnya. Pendinginan eksternal dianjurkan jika
terjadi hiperpireksia. Barbiturat dilaporkan dapat membantu meringankan reaksi
mioklonik.
Efek patofisiologik overdosis masif dapat berlangsung selama beberapa hari;
perbaikan dari overdosis sedang diperkirakan terjadi dalam 3 sampai 4 hari. Lanjutkan
penanganan selama beberapa hari sampai dicapai kembali homeostasis. Telaah
fungsi hati dianjurkan selama 4 sampai 6 minggu setelah sembuh. Belum diketahui
apakah tranilsipromin dapat didialisa.
Interaksi MAOI dengan Makanan
Interaksi obat/makanan: Peringatkan semua penderita untuk tidak memakan makanan
dengan kandungan tiramin tinggi, karena dapat terjadi krisis hipertensif.
Tabel 1. Makanan yang mengandung tiramin
a
Susu/produk telur
American
Blue
b
Boursault
b
Brie
Camembert
b
Cheddar
b
Emmenthaler
b
Gruyere
Mozzarella
Permesan
Romano
Roquefort
Sour cream
Stilton
b
Swiss
b
Yogurt
Daging/Ikan
Anchovy
Hati sapi
b
atau ayam,
daging lain, ikan
(tidak direfrigerasi,
difermentasi, rusak
(spoiled), diasap,
diacar)
Caviar
Sosis terfermentasi (bologna,
pepperoni, salami, summer
susage)
b
Ikan yang dikeringkan (salted
herring)
Sosis kering
Binatang buruan liar
b
Ekstrak daging
Daging yang disiapkan
dengan penulak
Herring, diacar, rusak
(spoiled)
Pasta udang
Minuman beralkohol
Beer (import,
beberapa tak
beralkohol)
Anggur merah (terutama
Chianti)
Sherry
b
Minuman hasil distilasi
Minuman
Buah-buahan/Sayuran
Pisang
Bean curd
Buah yang
dikeringkan (e.g.
raisin, prune)
Buah (e.g. alpukat, terutama
yang terlalu matang)
Fig, kalengan (terlalu
matang)
Sup miso
Raspberry
Acar kubis (sauerkraut)
b
Kecap
Ekstrak ragi
b
Makanan yang Mengandung Vasopresor Lain
Kacang besar (e.g.
kacang fava) –
dopa
b
Kafein (e.g. kopi, teh, kola)
Coklat – fenetilamin
Ginseng
Keterangan :
a
Kandungan tiramin tidak dapat diprediksi dan dapat bervariasi. Jumlah tiramin
diurutkan dari rendah ke tinggi.
b
Kandungan tiramin tinggi sampai tinggi sekali.
Tabel 2. Interaksi MAOI dengan Obat
Pencetus
(precipitant)
Obat
sasaran
Deskripsi
Metilfenidat
MAOI
N
Pemberian bersama
dapat menyebabkan krisis hipertensif
Metrizamid
MAOI
N
Hentikan MAO pali
ng tidak 48 jam sebelum myelografi dan
jangan memulai lagi pemakaian paling tidak 24 jam setelah
prosedur karena adanya penurunan ambang seizure
MAOI
Anestetik
N
Penderita yang memakai MAOI tidak boleh menjalani
pembedahan pilihan yang memerlukan anestesi umum.
Jangan memberikan kokain atau anestetik lokal yang
mengandung vasokonstriktor simpatomimetik. Perlu
diperhatikan kemungkinan efek
hipotensif gabungan dari MAO
dan anesthesia spinal. Hentikan MAO paling tidak 10 hari
sebelum pembedahan pilihan.
MAOI
Anti
depresan
N
Jangan memberikan MAOI bersama dengan atau segera
setelah pemberian antidepresan. Telah dilaporkan reaksi
serius yang terkadang fatal (termasuk hipertermia, kekakuan,
mioklonus, instabilitas otonom dengan kemungkinan fluktuasi
tanda vital, dan perubahan status mental yang meliputi agitasi
hebat dan kebingungan yang berkembang ke delirium dan
koma). Jangan memberikan MAOI dalam urutan yang rapat
bersama MAOI lainnya.
MAOI
Anti
diabetes
N
MAOI dapat mempotensiasi respon hipoglikemik terhadap
insulin atau sulfonilurea dan menunda perbaikan hipoglikemia.
MAOI
Barbiturat
N
Berikan barbitur
at pada dosis yang lebih rendah dalam
kombinasi dngan MAOI
MAOI
Pemblok
beta
N
Bradikardia dapat terjadi selama penggunaan bersama MAOI
tertentu dengan pemblok beta
MAOI
Burpopion
N
Penggunaan bersama
suatu MAOI dengan bupropion HCl
dikontraindikasikan. Berikan jeda paling tidak 14 hari antara
penghentian MAOI dan dimulainya penanganan bupropion
HCl.
MAOI
Buspiron
N
Jangan makan isokarboksazid dalam kombinasi dengan
buspiron. Telah terjadi beberapa kasus peningkatan tekanan
darah. Berikan jeda paling tidak 10 hari antara penghentian
isokarboksazid dan mulainya pemakaian buspiron.
MAOI
Karbama-
zepin
N
Dapat terjadi krisis hipertensif, seizure konvulsif berat, koma,
atau kolaps sirkular pada penderita yang menerima komibnasi
ini.
MAOI
Sikloben-
zaprin
N
Karena siklobenzaprin strukturnya dekat dengan antidepresan
trisiklik, gunakanlah dengan hati-hati dalam kombinasi dengan
MAOI.
MAOI
Dekstrome-
t
orfan
N
Hiperpireksia, gerakan otot abnormal, psikosis, perilaku aneh,
hipotensi, koma, dan kematian telah dikaitkan dengan
kombinasi ini.
MAOI
Guanetidin
T
MAOI dapat menghambat efek hipotensif guanetidin.
MAOI
Levodopa
N
Dapat terjadi reaksi hi
persensitif jika levodopa diberikan pada
penderita yang sendang menggunakan MAOI.
MAOI
Meperidin
N
Pemberian bersama atau penggunaan dalam 2 sampai 3
minggu diantara keduanya dapat menyebabkan agitasi,
seizure, diaforesis, dan demam, dan berkembang menjadi
koma, apnea dan kematian. Reaksi tak dikehendaki mungkin
terjadi beberapa minggu setelah penghentian MAOI. Hindari
kombinasi ini; berikan analgesik
narkotik lain dengan hati-hati.
MOAI
Metildopa
N
Pemberian bersama
dapat menyebabkan hilangnya kontrol
tekanan darah atau tanda stimulasi sentral (seperti eksitasi,
halusinasi.
MAOI
Alkaloid
Rauwolfia
N
MAOI menginhibisi destruksi serotonin dan epinefrin, yang
diyakini dilepaskan dari penyimpanan di jaringan oleh alkaloid

DAFTAR PUSTAKA
1
. Amir Nurmiati. Gangguan depresif Aspek Neurobiologi dan Tatalaksana. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2005. hal1-140
2
. Burnham, T.A.(Eds), 2001.
Drug Fact and Comparison
, 55 th Ed, St Louis: A
Wolters Kluwers Company, pp.902-944
3
. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik - Pedoman Penggolongan Diagnosis
Gangguan Jiwa - Jakarta 1996
4
. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik - Yayasan Gangguan depresif Indonesia :
Anxietas dan Gangguan depresif, Modul Pelatihan Bagi Dokter Umum, Jakarta
2002
5
. Fraser, K., etal., Pharmaceutical Care, Mood Disorders : Drug Treatment of
Depression. The Pharmaceutical Journal Vol 266
6
. Ghazaleh, R.A., Depression Care Plan Guidelines, Peters Institute of
Pharmaceutical Care. 2004
7
. Kando, J.C., Wells, B.G, Hayes, P.E. 2005. Depressive Disorder.
In
: Dipiro, J.T.,
et al. ( Eds ),
Pharmacotherapy a Patophysiological Approach,
6
th
Ed., St
Louis : Mc Graw Hill Companies, Inc, pp. 1235-1255
8
. Kaplan H.I & Sadock BJ : Pocket Handbook of Emergency Psychiatric Medicine,
William Wilkins, 1993
9.
Kaplan H.I. & Sadock B.J : Synopsis Psychiatry, 7 edition, 1994
10
. Kode - Kimble, M. A. and Young, L. Y., 2002.
Applied Therapeutic : The
Clinical
Use Of Drugs
, Vancouver : Applied Therapeutic, Inc, pp.75.1-75.12
11
. Mc Evoy, G. K.,2002.
AHFS Drug Information
, Bethesda : American Society of
Health-System Pharmacist, pp. 2179-2276
12
. Nolan, S, Scoggin, J.A. Serotonin Syndrom: Recognition and Management
13
. Rundell, J.R., Wise, M.G.2000.
Consultation Psychiatry,
3rd Ed., Washington :
American Psychiatric Press, pp. 61-79
14
.
www.counseling-works.org.uk
15
.
www.depressions-guide.com
16
. www.e-psikologi.com
17
.
www.nimh.nih.gov/healthinformation/depression
18.
www. who.int/mental_health/management/depression

Antidepresan Generasi Baru

Posted by Desiana Nurwanti on Tuesday, November 29, 2011


Labels: Knowledge portal
Karena efek tak diinginkan yang cukup serius, TCA pun tersingkir. Posisinya digantikan oleh
generasi baru, SSRI atau SNRI.

Kehadiran antidepresan pertama, tricyclic antidepressants (TCA), pada 1955 menjadi suatu
gebrakan dalam tatalaksana klinis depresi. Seperti penemuan obat lainnya, TCA dijumpai
secara tak sengaja. Saat itu, pakar asal Swiss tengah mengembangkan obat pertama kelompok
ini (imipramine ) untuk pengobatan tuberkulosis. Kebetulan pasien yang diobati juga
menunjukkan gejala gangguan jiwa termasuk depresi. Setelah pemberian imipramine, pasien
menunjukkan perbaikan dalam kehidupan sosial mereka. Inilah cikal berkembangnya terapi
farmakologi depresi.

Masih pada era 1950-an ditemukan kelompok antidepresan kedua, yaitu monoamine oxidase
inhibitor (MAOI). Obat pertama dari kelas ini adalah iproniazid. Selanjutnya satu setengah
dekade silam, ditemukan generasi antidepresan yang lebih baru, selective serotonin reuptake
inhibitor (SSRI). Terakhir dikembangkan golongan terbaru, yakni selective norepinephrine
reuptake inhibitor (SNRI). Kehadiran antidepresan atipikal seperti bupropion, nefazodone,
dan mirtazapine kemudian menambah khazanah terapi farmakologi depresi.

Menurut Dr. Suryo Dharmono, SpKJ, dari Departemen Psikiatri FKUI RSUPNCM, saat ini
yang menjadi pilihan dalam terapi depresi adalah generasi baru seperti SSRI dan SNRI.
Pasalnya, SSRI dan SNRI bersifat lebih selektif terhadap neurotransmitter yang terkait
dengan depresi. Mekanisme selektif ini melahirkan antidepresan dengan profil efikasi yang
sama dengan yang sebelumnya, tapi tolerabilitasnya lebih baik dan lebih aman saat overdosis.
"Obat pendahulu mulai banyak ditinggalkan karena efek sampingnya yang cukup signifikan.
Misalnya saja, MAOI bisa mengarah pada gangguan vaskular," kata Suryo.

Lebih lanjut Suryo mengatakan, profil tolerabilitas suatu antidepresan adalah hal penting
yang harus jadi pertimbangan dalam memilih terapi. Di samping itu juga perlu ditinjau profil
farmakologi serta kerja sekundernya jika ada. Salah satu hal yang mengkhawatirkan dalam
terapi depresi adalah kemungkinan resistensi terhadap pengobatan. Untuk ini perlu dilakukan
alih strategi seperti dengan augmentasi atau penambahan obat lain (misalnya, lithium atau
triiodothyronine).

FLUOXETINE
Fluoxetine merupakan anggota SSRI pertama yang diakui FDA untuk pengobatan depresi.
Seperti SSRI lain, obat ini bekerja dengan menghambat reuptake serotonin (5-HT1A, 5-
HT2C, dan 5-HT3C) ke dalam prasinap saraf terminal. Alhasil akan terjadi peningkatan
neurotransmisi oleh serotonin sehingga menimbulkan efek antidepresan.

Adapun keistimewaan fluoxetine dibanding antidepresan lainnya adalah obat ini boleh
diberikan pada usia lanjut, di atas 65 tahun. Kemudian, pada Januari 2003, fluoxetine juga
sukses menggondol pengakuan dari FDA untuk pengobatan depresi dan obsessive
compulsive disorder (OCD) pada anak dan remaja (7-17 tahun).
Untuk pemberian awal, biasanya dosis fluoxetine dimulai 20 mg per hari pada pagi hari.
Selanjutnya, dosis lazim untuk mengatasi depresi berkisar 20-40 mg per hari. karena
berpotensi untuk aktivasi SSP awal pada pengobatan. Sementara itu, dosis awal yang bisa
diberikan pada pasien tua adalah 10 mg per hari. Kemudian dititrasi menjadi 20 mg atau lebih
per hari. Karena fluoxetine memiliki waktu paruh 2-4 hari dan zat aktifnya, norfluoxetine,
memiliki waktu paruh 7-9 hari, jadi sangat beralasan menunggu hingga 4 minggu antara
titrasi dosis.

Efek samping yang paling umum dijumpai pada pemakaian fluoxetine adalah agitasi,
insomnia, dan neuromuscular restlessness mirip akathisia. Ini mungkin karena kurang
selektifnya fluoxetine terhadap reseptor norepinefrin dan serotonin-2C (5-HT2C). Tapi
untungnya, efek samping ini biasa berlangsung singkat dan bisa membaik dengan
pengurangan dosis. Pemberian temporer bersama dengan penghambat beta adrenergik atau
benzodiazepine kerja panjang juga bisa mengurangi efek samping yang timbul.

SERTRALINE
Sertraline diindikasikan terutama untuk mengatasi gejala depresi dan kecemasan. Tapi obat
ini juga bisa diresepkan untuk mengatasi OCD, stress pasca trauma, gangguan panik, dan
bipolar. Pemberian dosis sertraline dimulai dengan dosis 50 mg per hari. Selanjutnya
dilakukan titrasi dalam range dosis 100-200 mg per hari sebagai dosis tunggal atau berbagi.
Untuk pasien tua, terapi bisa dimulai dengan dosis 25 mg. Sedangkan dosis awal pada anak
dengan OCD (6-12 tahun) adalah 25 mg per hari.

Seperti anggota SSRI lainnya, sertraline juga menimbulkan berbagai efek yang tak
diinginkan, seperti diare. Kasus diare pada penggunaan sertraline dilaporkan lebih banyak
ketimbang fluoxetine. Tapi untuk kasus ansietas dan insomnia, dilaporkan lebih sedikit.

PAROXETINE
Paroxetine merupakan salah satu anggota SSRI yang poten. Tak ayal, sejak di-release
pertama kali pada 1992, obat ini menjadi salah satu obat yang paling banyak diresepkan
untuk depresi. Hal ini karena efikasinya yang tak hanya ampuh untuk depresi, tapi juga bisa
mengatasi sejumlah gangguan kecemasan, mulai dari serangan panic hingga masalah phobia.
Paroxetine adalah turunan dari fenilpiridin.

Pada pengobatan depresi, pemberian paroxetine diawali dengan dosis 20 mg per hari. Pasien
tua bisa memulai dengan dosis 10 mg per hari. Batas atas dosis adalah 40 -60 mg per hari.
Sementara untuk anak, dosis awal yang direkomendasikan adalah 10 mg per hari.

Efek samping paroxetine secara umum mirip dengan SSRI lainnya. Tapi paroxetine lebih
cenderung menimbulkan sedasi dan konstipasi. Hal ini disinyalir sebagai akibat aktivitas
antikolinergiknya. Potensi untuk kenaikan berat badan, interaksi obat, dan disfungsi seksual
sedikit lebih tinggi pada pasien yang menggunakan paroxetine ketimbang dengan fluoxetine
dan sertraline.

Belakangan ini, sediaan paroxetin controlled release telah dilempar ke pasaran guna
mengurangi efek samping gastrointestinal pada formulasi immediate release. Dosis awal yang
direkomendasikan untuk pengobatan depresi adalah 25 mg per hari, dengan range dosis 25-
62,5 mg per hari. Perubahan dosis harus dilakukan dalam interval tak lebih dari satu minggu.
Pada pasien dengan gangguan panic, suatu dosis awal 12,5 mg per hari direkomendasikan.
Dosis hingga 75 mg masih bisa digunakan untuk pasien ini. Pasien harus diberi tahu bahwa
tabletnya ditelan bukan dikunyah.Serupa dengan semuaSSRI, paroxetine sebaiknya jangan
digunakan bersama dengan MAOI. Untuk penggantian terapi dengan MAOI harus ada
periode jeda sekitar dua minggu.

CITALOPRAM
Citalopram biasanya diindikasikan untuk mengobat depresi dengan gangguan mood.
Terkadang obat ini juga diresepkan untuk pengobatan body dysmorphic disorder dan ansietas.
Menariknya, citalopram terbukti tak mengalami interaksi klinis yang signifikan dengan obat
atau bahan lain. Jadi, obat ini cocok digunakan untuk pasien yang menerima banyak
pengobatan. Range dosis citalopram yang direkomendasikan adalah 20-60 mg per hari.

Selain interaksi yang jarang, citalopram juga tampak memiliki tolerabilitas yang cukup baik.
Adapun efek yang umum dikeluhkan adalah nausea, insomia ringan, dan ansietas. Nausea
merupakan efek samping yang paling awal muncul, tapi hanya bersifat sementara.
Pengurangan dosis hingga 10 mg per hari bisa meredakan efek nausea ini.

Belum lama ini, telah diluncurkan isomer aktif dari rasemik citalopram, yaitu escitalopram.
Obat ini tercatat sebagai anggota SSRI terbaru dan paling selektif yang diakui oleh FDA
untuk pengobatan depresi.

Dalam studi terbukti, escitalopram pada dosis 10 mg per hari secara signifikan lebih efektif
ketimbang plasebo untuk mengobati depresi. Efek ini sama efektifnya dengan citalopram
dosis 40 mg per hari. Pemberian dosis yang lebih tinggi 20 mg per hari, tidak memberikan
manfaat yang lebih baik. Pada pasien dengan gangguan hati atau ginjal ringan dan sedang, tak
perlu dilakukan pengaturan dosis. Seperti halnya citalopram, potensi untuk interaksi
escitalopram juga rendah.

FLUVOXAMINE

Meskipun efeknya mirip dengan SSRI lainnya, tapi fluvoxamine memiliki efek farmakologi
yang berbeda. Oleh karena kerja tersebut, fluvoxamine menunjukkan efek samping yang
lebih sedikit dibanding antidepresan lain. Demikian juga dengan efek kehilangan kemampuan
seksual yang umumnya dijumpai pada golongan SSRI, juga tampak lebih kecil. Efek samping
yang biasa dikeluhkan adalah nausea, muntah, dan sakit kepala. Dosis awal yang diberikan
adalah 50 mg per hari, kemudian dititrasi 150-250 mg per hari dalam dosis terbagi dua. Pada
anak-anak dapat dimulai dengan dosis 25 mg pada saat tidur. Fluvoxamine merupakan SSRI
dengan waktu paruh relatif pendek, yaitu sekitar 15,6 jam.

VENLAFAXINE
Secara struktural, venlafaxine merupakan senyawa baru yang diakui oleh FDA untuk
pengobatan depresi mayor pada 1993. Obat yang tergolong dalam SNRI ini adalah
antidepresan bisiklik yang menginhibisi reuptake norepinefrin dan serotonin secara kuat.
Awalnya, venlafaxine beredar dalam formulasi immediate-release (IR) yang digunakan dua
atau tiga kali sehari. Tapi untuk kenyamanan pasien, pada 1997 di-release bentuk extended-
release (XR) yang diberikan sekali sehari.Dosis awal venlafaxine XR yang direkomendasikan
adalah 37.5 mg -75 mg per hari. Dosis bisa dinaikkan dengan penambahan hingga 75 mg per
hari, setiap 4-7 hari, sampai dengan dosis maksimum per hari 225 mg.

Profil keamanan vanlafaxine sebanding dengan SSRI dan lebih rendah dari TCA. Efek
samping yang paling umum dijumpai adalah nausea, pusing, insomnia, mengantuk, dan mulut
kering. Efek antikolinergik secara signifikan lebih ringan dibandingkan dengan antidepresan
lainnya. Sedangkan efek disfungsi seksual sama seperti SSRI lain.

Ada laporan awal suatu studi yang menyatakan, venlafaxine bisa meningkatkan tekanan
darah diastol secara signifikan. Tapi analisa selanjutnya memperlihatkan bahwa efek ini
merupakan fenomena yang terjadi hanya pada dosis di atas 300 mg per hari.

Sindrom discontinue yang mengkhawatirkan bisa terjadi pada penghentian venlafaxine secara
mendadak. Untuk menghindari sindrom ini, venlafaxine XR harus di-tappering off dengan
pengurangan dosis harian 75 mg dalam masa satu minggu.

Mirtazapine

Mirtazapine merupakan antidepresan tetrasiklik yang tak terkait dengan antidepresan trisiklik
dan SSRI. Secara kimiawi, obat ini pun berbeda dengan antidepresan lain. Makanya,
mirtazapine memiliki cara kerja yang unik. Mirtazapine bertindak sebagai antagonis reseptor
alpha2-adrenergic, sekaligus jugasebagai antagonis poten reseptor postsynaptic 5-HT2 dan 5-
HT3. Akibatnya, mirtazapine bisa menstimulasi pelepasan norepinephrine dan serotonin.

Studi memperlihatkan, mirtazapine efektif mengobati depresi dalam setiap tingkat keparahan.
Di samping itu, mirtazapine juga terbukti efektif mengatasi depresi sedang dan berat,
terutama pasien dengan ansietas, gangguan tidur, agitasi, dan pasien dengan keterbelakangan
mental.

Mirtazapine baru memunjukkan efikasi dalam 2-4 minggu setelah pengobatan, meskipun
gangguan tidur dan ansietas bisa diperbaiki pada minggu pertama. Dalam studi review yang
membandingkan mirtazapine dengan SSRI, jumlah responden dengan permulaan efek
perbaikan yang menetap pada minggu pertama, dua kali lebih besar pada mirtazapine (13 %
vs 6% ). Mirtazapine memiliki waktu paruh cukup panjang, yakni perempuan (37 jam) dan
laki-laki (26 jam).

Karena profil farmakologi yang unik, mirtazapine tak memiliki efek samping yang terkait
dengan antikolinergik, adrenergik, dan serotonin. Efek samping yang paling umum dijumpai
adalah fatigue, pusing, sedasi sementara, dan peningkatan bobot badan. Menariknya lagi,
mirtazapine tak menyebabkan disfungsi seksual seperti yang kerap dijumpai pada
antidepresan lainnya. Dosis yang direkomendasikan adalah 15 mg pada saat akan tidur,
kemudian dititrasi hingga 45 mg per hari jika perlu.

(Arnita, sumber Jurnal AAFP, MIMS, Rxlist)

Efek Samping Obat Antidepresi


I. Pendahuluan
Depresi adalah gangguan di mana keadaan murung setelah 2-3 minggu masih juga
bertahan atau bahkan memburuk.
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :
 Afek depresif
 Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
 Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang
nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
Gejala lainnya :
 Konsentrasi dan perhatian berkurang;
 Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
 Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
 Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
 Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
 Tidur terganggu;
 Nafsu makan berkurang.
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek
dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.

Teori monoamin menyatakan bahwa depresi diakibatkan oleh terganggunya


keseimbangan antara neurotransmitter didalam otak. Khsusunya akibat terutama kekurangan
serotonin (dan atau noradrenalin) di saraf-saraf otak.
Obat antidepresiva atau obat antimurung adalah obat yang mampu memperbaiki
suasana jiwa (“mood”) dengan menghilangkan atau meringankan gejala keadaan murung.
Obat-obat antidepresi dibagi menjadi empat golongan yaitu obat antidepresi trisiklik,
tetrasiklik, Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), dan Monoamin Oxydase Inhibitor
(MAOI).
Adapun efek samping dari obat-obat antidepresi ini dapat berupa:
 Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan
kognitif menurun)
 Efek antikolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi, sinus
takikardia)
 Efek anti-adrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi)
 Efek neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi, insomnia)

Untuk mengatasi keadaan tersebut dapat dilakukan:


 Mulut kering dapat diatasi dengan meminta pasien mengunyah permen karet tanpa gula atau
permen tanpa gula, memakai larutan pilocarpine 1 persen, suatu agonis kolinergik, sebagai
larutan pencuci mulut tiga kali sehari, tablet bethanechol, suatu agonis kolinergik lainnya, 10
sampai 30 mg, sekali atau dua kali sehari.
 Pandangan kabur dapat diatasi dengan tetes mata kolinimimetik, suatu larutan pilocarpine 1
persen sebagai obat tetes mata.
 Retensi urin dapat diatasi dengan bethanechol
 Konstipasi dapat diatasi dengan laksatif pembentuk massa
 Hipotensi ortostatik dapat diatasi dengan memilihkan obat dengan aktivitas adrenergik-α1
yang rendah. Atau memberikan instruksi kepada pasien untuk bangkit perlahan-lahan dan
duduk segera jika mengalami rasa pusing.
 Monitoring EKG untuk deteksi kelainan jantung.
II. Penggolongan obat-obat antidepresi
a. Antidepresan trisiklik (Tricyclic Antidepressants; TCA):
Antidepresan trisiklik disebut demikian karena memiliki karakteristik nukleus dengan tiga-
cincin. Yang termasuk golongan ini antara lain amitriptyline, imipramine, clomipramine,
tianeptine, opipramol.
b. Tetrasiklik; obat-obat generasi kedua dan ketiga:
Yang termasuk golongan ini antara lain maprotiline, mianserin, amoxapine
c. Inhibitor ambilan kembali serotonin selektif (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor,
SSRI):
Yang termasuk golongan ini antara lain sertraline, paroxetine, fluvoxamine, fluoxetine,
citalopram.
d. Inhibitor oksidase monoamine (Monoamine Oxydase [MAO] Inhibitor)
Yang termasuk golongan ini antara lain maclobemide, tranylcypromine.

III. Kerja farmakologis


Farmakokinetik
a. Trisiklik dan tetrasiklik:
Absorpsi dari pemberian sebagian besar obat trisiklik dan tetrasiklik adalah tidak lengkap,
dan terdapat metabolisme bermakna dari efek lintas pertama. Trisiklik dimetabolisme melalui
dua jalur utama: transformasi nukleus trisiklik dan perubahan rantai cabang alifatik. Jalur
pertama melibatkan hidroksilasi dan konjugasi cincin untuk membentuk glucuronide; jalur
kedua, terutama dimetilasi nitrogen. Imipramine pamoate adalah suatu obat dalam bentuk
depot yang digunakan untuk pemberian intramuskular (IM); indikasi untuk pemakaian
preparat tersebut adalah terbatas. Ikatan protein biasanya lebih dari 75 persen, kelarutan
dalam lemak adalah tinggi, dan volume distribusi terentang dari 10 sampai 30 L per kg untuk
amin tersier sampai 20 sampai 60 L per kg untuk amin sekunder yang bersangkutan. Waktu
paruh obat trisiklik dan tetrasiklik adalah bervariasi dari 10 sampai 70 jam, tetapi
nortriptyline, maprotiline, dan terutama protriptyline dapat memiliki waktu paruh yang lebih
panjang. Waktu paruh yang panjang memungkinkan semua senyawa diberikan sekali sehari;
diperlukan waktu lima sampai tujuh hari untuk mencapai kadar plasma yang stabil.
b. SSRI:
Perbedaan utama antara SSRI yang tersedia terletak terutama pada sifat farmakokinetiknya,
terutama waktu paruhnya. Fluoxetine memiliki waktu paruh yang terpanjang, dua sampai tiga
hari; metabolit aktifnya memiliki waktu paruh tujuh sampai sembilan hari. Waktu paruh SSRI
lain adalah jauh lebih pendek, kira-kira 20 jam, dan SSRI tersebut tidak memiliki metabolit
aktif yang penting. Semua SSRI diabsorpsi baik setelah pemberian oral dan memiliki efek
puncaknya dalam rentang empat sampai delapan jam. Semua SSRI dimetabolisme oleh hati.
Paroxetine dan fluoxetine dimetabolisme di hati oleh P450IID6, suatu subtipe enzim yang
spesifik, yang menyatakan bahwa klinisi harus berhati-hati dalam pemberian bersama obat
lain yang juga dimetabolisme oleh P450IID6. Pada umumnya, makanan tidak memiliki efek
yang besar pada absorpsi SSRI; pada kenyataannya, pemberian SSRI dengan makanan sering
menurunkan insidensi gejala mual dan diare yang sering berhubungan dengan pemakaian
SSRI.
c. MAOI:
MAOI yang sekarang tersedia diabsorpsi cepat jika diberikan peroral. Tranylcypromine
mencapai konsentrasi plasma puncak dalam kira-kira dua jam dan memiliki waktu paruh dua
sampai tiga jam. Tidak seperti MAOI hydrazine, konsentrasi plasma tranylcypromine adalah
disertai dengan efek hipotensinya. Dengan demikian, klinisi dapat memberikan
tranylcypromine dalam sejumlah dosis kecil harian untuk menurunkan efek hipotensif.
Pendekatan pemberian tersebut tidak menurunkan efek hipotensif dari MAOI hydrazine.
Farmakodinamik
a. Trisiklik dan tetrasiklik:
Efek jangka pendek obat trisiklik dan tetrasiklik adalah untuk menurunkan ambilan kembali
norepinefrin dan serotonin dan menghambat reseptor asetilkolin muskarinik dan histamin.
Trisiklik dan tetrasiklik adalah bervariasi dalam hal efek farmakodinamiknya. Amoxapine,
nortriptyline, desipramine, dan maprotiline memiliki aktivitas antikolinergik yang paling
kecil; doxepine memiliki aktivitas antihistaminergik yang paling besar; clomipramine adalah
trisiklik dan tetrasiklik yang paling selektif serotonin dan seringkali dimasukkan dengan
inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRI) seperti fluoxetine (Prozac).
Pemberian jangka panjang obat risiklik dan tetrasiklik menyebabkan penurunan jumlah
reseptor adrenergik-β dan, kemungkinan, penurunan yang serupaa dalam jumlah reseptor
serotonin tipe 2 (5-HT2).
b. SSRI:
SSRI memiliki dua ciri yang sama: Pertama, mereka memiliki aktivitas spesifik dalam hal
inhibisi ambilan kembali serotonin tanpa efek pada ambilan kembali norepinefrin dan
dopamin. Kedua, SSRI pada intinya tidak memiliki sama sekali aktivitas agonis dan
antagonis pada tiap reseptor neurotransmiter. Tidak adanya aktivitas pada reseptor
antikolinergik, antihistaminergik, dan anti-adrenergik-α1 adalah dasar farmakologis untuk
rendahnya insidensi efek samping yang terlihat pada pemberian SSRI.
c. MAOI:
Monoamin oksidase (MAO) adalah enzim yang terdistribusi luas dalam tubuh dan berlokasi
terutama intraselular, dimana enzim biasanya berikatan dengan sisi luar membran
mitokondrium. Konsentrasi MAO paling tinggi adalah di hati, saluran gastrointestinal, sistem
saraf pusat, dan sistem saraf simpatik. MAOA dalam saluran gastrointestinal adalah
bertanggung jawab untuk metabolisme tyramine diet; jika MAOA diinhibisi oleh MAOI,
tyramine makanan dapat memasuki sirkulasi secara langsung dalam bentuk tidak
termetabolisme dan selanjutnya dapat bertindak sebagai presor, yang menyebabkan suatu
krisis hipertensif.
MAO memiliki dua jenis. MAOA relatif lebih spesifik untuk metabolisme norepinefrin dan
serotonin; MAOB relatif spesifik untuk metabolisme phenylethylamine; baik MAOA maupun
MAOB terlibat dalam metabolisme dopamin. Jika digunakan MAOI ireversibel untuk
mengobati pasien, diperlukan waktu sekurangnya dua minggu setelah dosis obat terakhir
sebelum pasien dapat dengan aman memakan makanan yang mengandung tyramine, karena
tubuh memerlukan kira-kira dua minggu untuk mensintesis ulang MAO yang telah diinhibisi
secara ireversibel dan dihancurkan oleh MAOI yang ireversibel.

IV. Efek samping obat antidepresi


Efek samping obat antidepresi dapat berupa:
Trisiklik
Sedasi Rasa mengantuk, efek aditif dengan sedatif
lain
Simpatomimetik Gemetar, insomnia
Antimuskarinik Penglihatan kabur, konstipasi, susah buang
air kecil, kebingungan
Kardiovaskular Hipotensi ortostatik, defek konduksi, aritmia
Psikiatris Psikosis semakin memburuk, sindroma
menarik diri
Neurologis Seizure
Metabolik-endokrin Berat badan meningkat, gangguan seksual
MAOI Gangguan tidur, berat badan meningkat,
hipotensi postural, gangguan seksual
(pheneizine)
Amoxapine Sama seperti efek pada trisiklik dengan
tambahan dari efek yang dihubungkan
dengan antipsikosis
Maprotiline Sama seperti pada trisiklik, seizure
tergantung dosis
Mirtazapine Somnolen, selera makan meningkat, berat
badan bertambah, pusing
Trazadone, nefazodone Mengantuk, pusing, insomnia, mual, agitasi
Venlafaxine Mual, somnolen, berkeringat, pusing,
gangguan seksual, hipertensi, kecemasan
Bupropion Pusing, mulut kering, berkeringat, tremor,
psikosis semakin memburuk, berpotensi
terjadi seizure pada dosis tinggi
Fluoxetine dan SRI yang lain Insomnia, tremor, gejala gastrointestinal,
ruam, penurunan libido, disfungsi seksual,
kecemasan (secara akut)
a. Trisiklik dan tetrasiklik
Efek psikiatrik: suatu efek merugikan yang utama dari obat trisiklik dan tetrasiklik dan
antidepresan lainnya adalah kemungkinan menginduksi episode manik pada pasien gangguan
bipolar I dan pada pasien tanpa riwayat gangguan bipolar I. Adalah penting untuk
menggunakan dosis rendah obat risiklik dan tetrasiklk pada pasien tersebut atau
menggunakan obat seperti fluoxetine (Prozac) atau berupa bupropion (Willbutrin), yang lebih
kecil kemungkinannya menyebabkan episode manik.
Efek neurologis: dua trisiklik, desipramine dan protriptyline, dikaitkan dengan stimulasi
psikomotor. Kedutan mioklonik dan tremor lidah dan anggota gerak atas adalah sering
terjadi. Amoxapine adalah unik dalam hal menyebabkan gejala parkinsonisme, akathisia, dan
malahan diskinesia karena aktivitas penghambatan dopaminergik yang dimiliki oleh salah
satu metabolitnya. Amoxapine juga dapat menyebabkan sindroma neuroleptik malignan pada
kasus yang jarang. Maprotiline dapat menyebabkan kejang jika dosis ditingkatkan terlalu
cepat atau dipertahankan pada kadar yang tinggi untuk jangka waktu yang lama.
Clomipramine dan amoxapine dapat menurunkan ambang kejang lebih dari obat lain dalam
kelasnya. Tetapi, sebagai satu kelas, obat trisiklik dan tetrasiklik memiliki risiko relatif
rendah untuk menimbulkan kejang, kecuali pada pasien yang memiliki risiko untuk kejang
(sebagai contohnya, pasien epileptik dan pasien dengan lesi otak). Dosis awal harus lebih
rendah dari biasanya, dan peningkatan dosis selanjutnya harus bertahap.
Efek antikolinergik: dapat berupa mulut kering, konstipasi, pandangan kabur, dan retensi
urin. Glaukoma sudut sempit juga dapat diperberat oleh obat antikolinergik, dan pencetusan
glaukoma memerlukan terapi gawat darurat dengan obat miotik. Obat trisiklik dan tetrasiklik
dapat digunakan pada pasien dengan glaukoma, asalkan tetes mata pilocarpine diberikan
bersama-sama. Efek antikolinergik yang berat dapat menyebabkan sindroma antikolinergik
sistem saraf pusat dengan konfusi dan delirium, khususnya jika obat trisiklik dan tetrasiklik
diberikan dengan obat antipsikotik atau antikolinergik.
Sedasi: merupakan efek yang paling sering ditemukan pada obat trisiklik dan tetrasiklik dan
dapat diperkirakan jika mengantuk telah menjadi masalah. Efek sedatif dari obat trisiklik dan
tetrasiklik adalah akibat dari aktivitas serotonergik, kolinergik dan histaminergik (H1).
Efek autonomik: diakibatkan penghambatan adrenergik-α1, adalah hipotensi ortostatik, yang
dapat menyebabkan terjatuh dan cedera pada pasien yang terkena. Nortriptyline mungkin
merupakan obat yang paling kecil kemungkinannya menyebabkan masalah tersebut, dan
beberapa pasien berespon terhadap fluorocotisone (Florinef), 0,02 sampai 0,05 mg dua kali
sehari. Efek autonomik lain yang mungkin terjadi adalah keringat berlebihan, palpitasi, dan
peningkatan tekanan darah.
Efek jantung: jika diberikan dalam dosis terapetik yang lazimnya, obat trisiklik dan
tetrasiklik dapat menyebabkan takikardia, pendataran gelombang T, perpanjangan interval
QT, dan depresi segmen ST dalam pencatatan elektrokardiografik (EKG). Imipramine
memiliki efek mirip quinidine pada kadar terapetik plasma dan dapat menurunkan jumlah
kontraksi prematur ventrikular. Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung, obat trisiklik
dan tetrasiklik harus dimulai dengan dosis kecil, dengan peningkatan dosis secara bertahap
dan memantau fungsi jantung.
Efek merugikan lain: penambahan berat badan terutama suatu efek penghambatan reseptor
histamin tipe 2 (H2), sering terjadi. Impotensi suatu masalah yang kadang-kadang ditemukan
kemungkinan lebih sering berhubungan dengan amoxapine karena penghambatan reseptor
dopamin yang disebabkan oleh obat dalam traktus tuberoinfundibular.

b. SSRI:
Fluoxetine: efek merugikan yang paling sering dari fluoxetine melibatkan sistem saraf pusat
dan sistem gastrointestinal. Efek sistem saraf pusta yang paling sering adalah nyeri kepala,
ketegangan, insomnia, mengantuk, dan kecemasan. Keluhan gastrointestinal yang paling
sering adalah mual, diare, anoreksia, dan dispepsia. Data menyatakan bahwa mual adalah
berhubungan dengan dosis dan merupakan suatu efek merugikan di mana pasien tampaknya
mengembangkan toleransi. Efek yang lainnya melibatkan fungsi seksual dan kulit. Fluoxetine
dieksresi dalam air susu; dengan demikian, ibu menyusui tidak boleh menggunakan
fluoxetine. Fluoxetine juga harus digunakan dengan berhati-hati oleh pasien dengan penyakit
hati.
SSRI lain: efek merugikan yang ditemukan pada SSRI lainnya serupa dengan yang
ditemukan pada fluoxetine.

c. MAOI
Efek merugikan yang paling sering dari MAOI adalah hipotensi ortostatik, penambahan berat
badan, edema, disfungsi seksual, dan insomnia. Jika hipotensi ortostatik berhubungan dengan
pemakaian phenelzine atau isocarboxazid adalah parah, keadaan ini mungkin berespon
terhadap terapi dengan fludrocortisone (florinef), suatu mineralokortikosteroid 0,1 sampai 0,2
mg sehari; kaus kaki elastik (support stocking); hidrasi; dan peningkatan asupan garam.
Hipotensi ortostatik yang berhubungan dengan pemakaian tranylcypromine, adalah suatu
krisis hipertensif spontan yang terjadi setelah pemaparan pertama dengan obat dan tidak
berhubungan dengan ingesti tyramine. Penambahan berat badan, edema, dan disfungsi
seksual seringkali tidak responsif terhadap terapi apapun dan mungkin mengharuskan
mengganti dari hydralazine menjadi MAOI nonhydralazine atau sebaliknya. Mioklonus, nyeri
otot, dan parathesia kadang-kadang ditemukan pada pasien yang diobati dengan MAOI.
Parathesia mungkin sekunder karena defisiensi pyrodoxine akibat MAOI, yang berespon
dengan suplementasi pyrodoxine, 50 sampai 150 mg peroral setiap hari. Kadang-kadang,
pasien mengeluh merasa mabuk atau kebingungan, kemungkinan menyatakan bahwa dosis
harus diturunkan dan selanjutnya ditingkatkan perlahan-lahan. Efek hepatotoksik jarang
dilaporkan. MAOI kurang kardiotoksik dan kurang epileptogenik jika dibandingkan obat
trisiklik yang digunakan untuk mengobati depresi. MAOI harus digunakan dengan berhati-
hati oleh pasien dengan penyakit ginjal, gangguan kejang, penyakit kardiovaskular, atau
hipertiroidisme. MAOI dikontraindikasikan selama kehamilan, walaupun data tentang risiko
teratogeniknya adalah minimal. MAOI tidak boleh digunakan oleh wanita menyusui karena
obat dapat keluar melalui air susu.
Krisis Hipertensif akibat Tyramine: jika pasien yang menggunakan MAOI nonselektif
mengingesti makanan yang kaya akan tyramine, mereka kemungkinan mengalami reaksi
hipertensif yang dapat membahayakn (sebagai contohnya, suatu penyakit serebrovaskular).
Pasien juga harus diperingatkan bahwa gigitan lebah dapat menyebabkan krisis hipertensif.

V. Kesimpulan
Sindrom depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa “aminergik
neurotransmitter” (noreadrenaline, serotonin, dopamine) pada sinaps neuron di susunan saraf
pusat (khususnya pada sistem limbik).
Mekanisme obat antidepresi adalah menghambat re-uptake aminergik neurotransmitter dan
menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oxidase sehingga terjadi peningkatan
jumlah aminergic neurotransmitter pada sinaps neuron di susunan saraf pusat.
Efek samping obat antidepresi dapat berupa sedasi, efek kolinergik, efek anti-adrenergik alfa
dan efek neurotoksis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan H I, Sadock B J, Grebb J A. Terapi biologis. Dalam: S Wiguna I M, editor. Kaplan


dan sadock sinopsis psikiatri. Edisi 7. Jilid 2. Jakarta: Binarupa aksara; 1997. hal 594, 601,
622.
2. Hall A. Antidepresi. Dalam : Guze B, Richeimer S, Siegel D J, editor. Buku Saku Psikiatri.
Jakarta: EGC; 2002. hal. 400.
3. Fauci Anthony S, Lane H Clifford. Gangguan mental. In : Braunwald Eugene, Fauci
Anthony S, Kasper Dennis L, Hauser Stephen L, Longo Dan L, Jameson J Larry, editors.
Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Edisi 13. Volume 5. United States: The
McGraw-Hill Companies; 2001. hal. 2646.
4. Santoso S O, Wiria M S S. Psikotropik. Dalam: Ganiswarna S G, Setiabudy R, Suyatna F D,
Purwantyastuti, Nafraidi, editor. Farmakologi dan terapi. Edisi 4. Jakarta: Bagian
farmakologi FKUI; 2001. hal 157-160.
5. Potter W Z, Hollister L E. Agen-agen antidepresi. Farmakologi dasar dan klinik. Edisi 8.
Jakarta: Salemba Medik; 2002. hal. 268-290.
6. Maslim R. Obat antidepresi. Panduan praktis penggunaan klinis obat psikotropik. Edisi 3.
Jakarta. 2001. hal. 23.
7. Tjay T H, Rahardja K. Antidepresiva. Obat-obat penting khasiat, penggunaan dan efek-efek
sampingnya. Edisi 5. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 2002. hal. 434.