Anda di halaman 1dari 5

Trombosis Sinus Kavernosa Unilateral Sebagai Komplikasi dari Furunkel Hidung

ABSTRACT ABSTRAK
We present a 33- year old man with one of
the most vulnerable complication of mid Kami menyajikan kasus seorang pria berusia
face infection which is cavernous sinus 33 tahun dengan salah satu komplikasi yang
thrombosis (CST). History and physical paling rentan dari infeksi wajah bagian
examination as well as radiological study tengah yaitu trombosis sinus kavernosa.
reveal cavernous sinus thrombosis but Riwayat dan pemeriksaan fisik serta studi
fortunately it was only single side radiologi mengungkapkan trombosis sinus
involvement. We present this case because kavernosa tetapi beruntung hal tersebut
of rarity and fatality of such disorder. hanya mengenai satu sisi. Kami menyajikan
kasus ini karena kelangkaan dan kesulitan
dari gangguan tersebut.

INTRODUCTION PENDAHULUAN
Cavernous sinus thrombosis (CST) was Trombosis sinus kavernosa pada awalnya
initially described by Bright in 1831 as a dideskripsikan oleh Bright pada tahun 1831
complication of epidural and subdural sebagai komplikasi dari infeksi epidural dan
infections. The dural sinuses are grouped into subdural. Sinus dural dikelompokkan
the sagittal, lateral (including the transverse, menjadi sagital, lateral (termasuk sinus
sigmoid, and petrosal sinuses), and cavernous transversal, sigmoid, dan petrosal), dan sinus
sinuses. Because of its complex kavernosa. Karena hubungan anatomi
neurovascular anatomic relationship, neurovaskular yang kompleks, trombosis
cavernous sinus thrombosis is the most sinus kavernosus merupakan yang paling
important of any intracranial septic penting dari trombosis septik intrakranial [1].
thrombosis [1].

The cavernous sinuses receive venous blood Sinus kavernosa menerima darah vena dari
from the facial veins (via the superior and vena wajah (melalui vena opthalmik superior
inferior ophthalmic veins) as well as the dan inferior) serta sphenoid dan vena serebral
sphenoid and middle cerebral veins. They, in tengah. Mereka, sesuai gilirannya, menuju ke
turn, empty ultimately into the internal vena jugularis internal dan sinus sigmoid
jugular veins and the sigmoid sinuses via the melalui sinus petrosus superior. Jaringan
superior petrosal sinuses. This complex web pembuluh vena yang rumit ini tidak
of veins are valveless; blood can flow in any berujung; darah bisa mengalir ke segala arah.
direction. Since the cavernous sinuses receive Karena sinus kavernosa menerima darah
blood via this distribution, infections of the melalui distribusi ini, infeksi pada wajah
face especially in danger area zone [2, 3] like terutama di zona area bahaya [2, 3] seperti
our case can spread the infection to this vein kasus kami dapat menyebarkan infeksi ke
complex in Figure 1. kompleks vena ini pada Gambar 1.
The internal carotid artery with its Arteri karotid internal dengan pleksus
surrounding sympathetic plexus passes simpatik yang mengelilinginya, berjalan
through the cavernous sinus. The third, melewati sinus kavernosa. Saraf kranial
fourth, and sixth cranial nerves are attached ketiga, keempat, dan keenam melekat pada
to the lateral wall of the sinus. The dinding lateral sinus. Saraf kranial kelima
ophthalmic and maxillary divisions of the cabang opthalmikus dan maksilaris tertanam
fifth cranial nerve are embedded in the wall di dinding Gambar 2.
Figure 2.

CASE REPORT LAPORAN KASUS


A 33-year-old male with no past medical Seorang pria berusia 33 tahun tanpa riwayat
history presented with a 2-days history of medis masa lalu dilaporkan dengan riwayat
swelling in the left eye. The patient reported pembengkakan di mata kiri selama 2 hari.
having boil in the left side of nasal vestibule Pasien mengatakan mengalami bisul di sisi
which is ruptured with finger tip kiri vestibula nasalis yang pecah dengan
manipulation . He was seen at a peripheral manipulasi ujung jari (memencet). Dia
hospital and was prescribed oral antibiotic dibawa ke rumah sakit perifer dan diberi
with topical cream for nasal infection. The antibiotik oral dengan krim topikal untuk
patient reported that the nasal infection did infeksi hidung. Pasien mengatakan bahwa
not resolve and his eye swelling getting infeksi hidung tidak membaik dan matanya
worse. So, he decided to left against medical membengkak semakin parah. Jadi, dia
advice (LAMA) the hospital. Afterthat , he memutuskan untuk meninggalkan saran
presented to our hospital via emergency medis dari rumah sakit. Setelah itu, dia
department. datang ke rumah sakit kami melalui IGD.

At presentation, the patient's eye was Saat pemeriksaan, mata pasien terasa sakit,
painful, with tearing but no other discharge. dengan mengeluarkan air mata tetapi tidak
He denied any changes in his vision or ada cairan lain. Dia menyangkal adanya
double vision. He also denied any trauma or gangguan apa pun pada penglihatannya atau
insect bites. The patient had no family history penglihatan ganda. Dia juga membantah
of childhood eye diseases. adanya trauma atau gigitan serangga. Pasien
tidak memiliki riwayat keluarga dengan
penyakit mata pada masa kanak-kanak.

On ocular examination, the patient's visual Pada pemeriksaan okular, ketajaman visual
acuity was 6/9 in the left eye without his pasien adalah 6/9 di mata kiri tanpa
glasses. Visual acuity of his right eye was 6/6 kacamatanya. Ketajaman visual mata
without his glasses at distance. Pupils were kanannya adalah 6/6 tanpa kacamatanya di
both reactive with no relative afferent kejauhan. Kedua pupil reaktif tanpa defek
pupillary defect. He had a 2+ swelling of the pupil aferen relatif. Dia memiliki
left upper lid, causing ptosis. A left pembengkakan 2+ pada kelopak mata kiri
hypotropia and a right exotropia were atas, yang menyebabkan ptosis. Tampak
present. hipotropia pada mata kiri dan eksotropia pada
mata kanan.

The patient had mild proptosis of the left eye Pada pasien didapatkan proptosis ringan pada
Figure 3. His eye motility had limitations in mata kiri. Gambar 3. Motilitas matanya
all fields of gaze. Examination of the anterior berkurang di semua bidang pandangan.
segment was significant for conjunctival Pemeriksaan segmen anterior, signifikan
chemosis and injection of the left eye at 6 untuk kemosis konjungtiva dan injeksi
o'clock. Posterior examination was normal in konjungtiva di mata kiri pada pukul 6.
both eyes, with no optic nerve edema. Pemeriksaan posterior normal pada kedua
mata, tanpa adanya edema saraf optik.

His lab investigation showed normal values Hasil laboratoriumnya menunjukkan nilai
apart from white blood cells which was 22 normal kecuali sel darah putih yang 22 (nilai
(normal value: 6-10 x 109 μl ). normal: 6-10 x 109 μl).

Patient admitted to the hospital for further Pasien dirawat di rumah sakit untuk
investigation and management. The pemeriksaan lebih lanjut dan terapi.
computed tomography was done and showed Computed tomography dilakukan dan
ill defined hypodense swelling with proptosis menunjukkan pembengkakan hipodens yang
in the left eye globe with no bone defect or tidak jelas dengan proptosis di bola mata kiri
clear collection. As clinical suspicion, tanpa defek tulang atau koleksi yang jelas.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) and Sebagai kecurigaan klinis, Magnetic
Venography (MRV) were done to assess the Resonance Imaging (MRI) dan Venography
cavernous sinus and other intracranial (MRV) dilakukan untuk menilai sinus
structure. MRI& MRV revealed contrast kavernosa dan struktur intrakranial lainnya.
enhanced T1-weighted MRI demonstrates MRI & MRV dengan kontras ditingkatkan
heterotense mass filling the left eye globe. T1-weighted MRI menunjukkan massa
T2-weighted MRI demonstrates higher than heterotense mengisi bola mata kiri. MRI T2-
normal signal in left side of cavernous sinus. weighted menunjukkan lebih tinggi dari
Contrast-enhanced MRI demonstrate absence sinyal normal di sisi kiri sinus kavernosa.
of enhancement in the cavernous sinus MRI kontras-tinggi menunjukkan tidak
because of thrombosis. Figure 4 adanya peningkatan di sinus kavernosa
karena trombosis. Gambar 4

Therefore, Ceftriaxone, Vancomycin, nasal Oleh karena itu, Ceftriaxone, Vancomycin,


and systemic steroid, normal saline, nasal nasal dan steroid sistemik, normal saline,
drops and optical antibiotics with eye care to tetes hidung dan antibiotik optik dengan
avoid further corneal injury. Nevertheless, perawatan mata untuk menghindari cedera
there was only mild improvement regarding kornea lebih lanjut. Namun demikian, hanya
eye swelling and opthalmoplegia over two ada perbaikan ringan mengenai
days. So, Infection Disease team consulted. pembengkakan mata dan opthalmoplegia
Then, they added Meropenem instead of selama dua hari. Jadi, dikonsulkan pada tim
vancomycin. Then, patient started to improve Penyakit Infeksi. Kemudian, mereka
dramatically. The course of antibiotics menambahkan Meropenem, bukan
continued for 3 weeks. After 6 months, vankomisin. Kemudian, pasien mulai
patient came to the clinic as out-patient membaik secara dramatis. Perjalanan
follow up with totally cure and without any antibiotik berlanjut selama 3 minggu. Setelah
disease sequela Figure 5. 6 bulan, pasien datang ke klinik sebagai
pasien rawat jalan dengan benar-benar
sembuh dan tanpa penyakit berulang.
Gambar 5.

DISCUSSION AND CONCLUSION DISKUSI DAN KESIMPULAN


Cavernous sinus thrombosis (CST) is the Trombosis sinus kavernosa adalah
formation of thrombus within the cavernous pembentukan trombus di dalam sinus
sinus, which can be either be septic or kavernosa, yang dapat berupa septik atau
aseptic. Septic CST is a rapidly evolving aseptik. Septic CST adalah proses
thrombophlebitic process with an infectious tromboflebitis yang berkembang cepat
origin (typically from the middle third of the dengan asal infeksi (biasanya dari sepertiga
face, sinuses, ears, teeth, or mouth), affecting tengah wajah, sinus, telinga, gigi, atau
the cavernous sinus and its structures. mulut), yang mempengaruhi sinus kavernosa
Aseptic CST is usually a thrombotic process dan strukturnya. Aseptik CST biasanya
that is a result of trauma, iatrogenic injuries, merupakan proses trombotik yang merupakan
or prothrombotic conditions [4]. hasil dari trauma, cedera iatrogenik, atau
kondisi prothrombotik [4].

The differential diagnosis of CST includes Diagnosis banding dari CST meliputi selulitis
orbital cellulitis, superior orbital fissure orbita, sindrom fisura orbital superior,
syndrome, orbital apex syndrome, sino- sindrom apeks orbital, aspergillosis
orbital aspergillosis sub-peri-osteal sinoorbital sub-peri-osteal mucocoeles,
mucocoeles, Tolosa-Hunt's syndrome, sindrom Tolosa-Hunt, meningioma, fistula
meningioma, carotid-cavernous fistula, and karotid-kavernosa, dan mukormikosis rhino-
rhino-cerebral mucormycosis.The clinical serebral. Presentasi klinis biasanya
presentation is usually due to the venous dikarenakan obstruksi vena baik vena
obstruction either ophthamic veins or others ophthamic atau lainnya serta kerusakan saraf
as well as impairment of the cranial nerves kranial di dinding sinus kavernosa atau di
that at cavernous sinus wall or within the dalam trabecula.
trabecula.

Headache is the most common presentation Sakit kepala adalah gejala yang paling umum
symptom and usually precedes fevers, dan biasanya mendahului demam, edema
periorbital edema, and cranial nerve signs. periorbital, dan tanda saraf kranial. Sakit
The headache is usually sharp, increases kepala biasanya tajam, meningkat secara
progressively, and is usually localized to the progresif, dan biasanya terlokalisir ke daerah
regions innervated by the ophthalmic and yang dipersarafi oleh cabang oftalmikus dan
maxillary branches of the trigeminal nerve. cabang maksilaris dari saraf trigeminal. Agen
The causative agent is generally penyebab umumnya hingga 70%
Staphylococcus aureus up to 70%, although Staphylococcus aureus, meskipun
streptococci, pneumococci, and fungi may be streptokokus, pneumokokus, dan jamur dapat
implicated in rare cases especially in juga terlibat pada kasus yang jarang terutama
immunocompromised patients. Whatever the pada pasien imunokompromise.
type of CST either septic or aseptic, the Apa pun jenis trombosis sinus kavernosa baik
mainstay of treatment is aggressive antibiotic septik atau aseptik, pengobatan andalan
which can cross the blood brain barrier such adalah antibiotik yang dapat melewati sawar
as vancomycin and third generation darah otak seperti vankomisin dan
cephalosporin. As well as anticoagulants [5] sefalosporin generasi ketiga. Serta
and the intravenous corticosteroid [6] have a antikoagulan [5] dan kortikosteroid intravena
role in decrease mortality rate. Surgical [6] yang memiliki peran dalam menurunkan
intervention can be use as part of angka kematian. Intervensi bedah dapat
management especially if the sinus is source digunakan sebagai bagian dari manajemen
of infection. However, a case report and terutama jika sinus yang merupakan sumber
literature review by Naesens et al of infeksi. Namun, laporan kasus dan tinjauan
community-acquired MRSA infections of the literatur oleh Naesens et al dari community-
central nervous system, including cavernous acquired MRSA infeksi pada sistem saraf
sinus thrombosis, showed that patients pusat, termasuk trombosis sinus kavernosus,
treated with linezolid had a better outcome menunjukkan bahwa pasien yang diobati
than those treated with vancomycin [7]. dengan linezolid memiliki hasil yang lebih
The complications of CST range from baik daripada pasien yang diobati dengan
residual facial discoloration, extension of vankomisin [7].
infection to intracranium, pituitary Komplikasi trombosis sinus kavernosa
dysfunction up to death in 30% of cases. meliputi dari perubahan warna wajah, infeksi
Sanhez et al published two cases of superior ke intracranium, disfungsi hipofisis hingga
ophthalmic vein infection due to cutaneous kematian pada 30% kasus. Sanhez dkk
nasal infection which has been managed melaporkan dua kasus infeksi vena
vigorously with antibiotic Clindamycin and ophthalmic superior karena infeksi cutaneous
steroid. Although, there was no culture nasal yang telah diobati dengan antibiotik
guided only empirical treatment [8]. Clindamycin dan steroid. Meskipun, tidak
ada panduan, hanya pengobatan secara
empiris [8].

CONCLUSION KESIMPULAN
Health education is much important in such Pendidikan kesehatan sangat penting dalam
case because if we discourage such kasus ini karena jika kita berani memberikan
manipulation in nasal furuncle will not end manipulasi pada furunkel hidung maka
with such major situation. As well as, with keadaan yang lebih berat tidak akan terjadi.
early intervention will avoid a devastating Serta, dengan intervensi secara dini akan
complication. menghindarkan komplikasi yang parah.