Anda di halaman 1dari 4

Algoritma Terapi

Usia >18 thn : BP ≥140/90 mm Hg


Usia ≥60 thn : BP ≥150/90 atau 140/90 (dengan resiko tinggi (DM, CKD))

Modifikasi gaya hidup


(diet DASH, hindari/kurangi konsumsi garam dan alkohol, tidak merokok)

Terapkan Goal BP (usia <60 thn : <140/90, usia ≥60 thn : <150/90, dengan
kondisi tertentu : <140/90 mm Hg) dan mulai pengobatan yang tepat

Stage 1 (BP: 140-159/90-99) Stage 2 (BP: ≥160/100)

Pasien kulit hitam Pasien Non-kulit hitam


Semua pasien
menggunakan 2 obat
(CCB atau Thiazide
CCB atau Thiazide
+ ACEI atau ARB)
Usia <60 thn Usia ≥60 thn

Jika perlu:
+ACEI atau ARB, atau ACEI atau ARB CCB atau Thiazide
kombinasi Thiazide
dengan CCB Kondisi tertentu
Jika perlu: Jika perlu:
 CKD
+ CCB atau + ACEI atau ARB
 CAD
thiazide
 DM
 Riwayat
srtoke
Jika perlu :  Hiperlipid
CCB,Thiazide + ACEI atau ARB

Jika perlu : tambah obat lain


(Spironolactone, central acting agent, β-Bloker)

Jika perlu : merujuk ke spesialis hipertensi

*Catatan : Jika perlu = Jika goal terapi tidak tercapai


Kondisi tertentu/ Komplikasi

CKD (chronic DM (diabetes Coronary Riwayat Hiperlipidemia


kidney melitus) artery stroke
disease) disease

ARB atau ACEI Β-Bloker ARB ACEI, ARB,


dengan atau alfa bloker,
ARB atau ACEI CCB
ACEI

Terapi dilakukan
Strategi Pengobatan: dengan
A. Memaksimalkan pengobatan pertama sebelum penambahan obat
penambahan obat ke-2, antihiperlipidemia
B. Penambahan obat ke-2 sebelum obat pertama (Golongan Statin)
mencapai dosis maksimum,
C. Dimulai dengan menggunakan 2 obat (kelas yang
berbeda) atau sebagai kombinasi tetap.

Keterangan :

1. Pada populasi umum berusia ≥60 tahun, terapi dimulai jika tekanan darah ≥150/90 mm
Hg dengan target yang harus dicapai adalah <150/90 mm Hg.
2. Pada populasi umum <60 tahun, terapi dimulai jika tekanan darah ≥140/90 mm Hg
dengan target yang harus dicapai adalah <140/90 mm Hg.
3. Pada populasi dengan kondisi tertentu/komplikasi, terapi dimulai jika tekanan darah
≥140/90 mm Hg dengan target yang harus dicapai adalah <140/90 mm Hg.
4. Pada populasi kulit hitam umum termasuk mereka dengan diabetes (kondisi tertentu),
terapi yang digunakan sebaiknya mencakup diuretik tipe thiazide atau CCB).
5. Pada populasi non-kulit hitam umum termasuk mereka dengan diabetes (kondisi tertentu),
terapi yang digunakan sebaiknya mencakup diuretik tipe thiazide, CCB, ARB atau ACEI
baik secara tunggal atau kombinasi.
6. Pada populasi dengan penyakit ginjal kronik, terapi yang digunakan sebaiknya mencakup
ACEI atau ARB untuk meningkatkan outcome ginjal (berlaku untuk semua pasien
penyakit ginjal kronik dengan hipertensi terlepas dari RAS atau status diabetes atau
kondisi lainnya).
7. Jika target tekanan darah tidak tercapai dalam 1 bulan perawatan, tingkatkan dosis awal
atau tambahkan obat kedua dari salah satu kelas yang direkomendasikan (thiazide, CCB,
ACEI atau ARB). Jika target belum tercapai juga, maka tambahkan dan titrasi obat ketiga
dari daftar yang tersedia (tetapi jangan menggunakan ACEI dan ARB secara bersamaan)
atau dapat dilihat pada tabel strategi pengobatan hipertensi.
8. Jika tekanan darah mencapai ≥160/100 mm Hg, sebaiknya terapi dimulai dengan
menggunakan 2 obat.

HIPERLIPIDEMIA DENGAN HIPERTENSI

Ada bukti dari data uji klinis yang menunjukkan hubungan antara kontrol tekanan darah dan
kadar lipid. Uji coba ALLHAT (Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent
Heart Attack) yang melibatkan 42.418 peserta berusia 55 tahun dan lebih tua dengan
hipertensi tahap 1 atau tahap 2 menunjukkan bahwa pemberian antihipertensi golongan tiazid
(klortalidon) menimbulkan peningkatan efek hipokalemia, peningkatan kadar kolesterol total
dan glukosa serum serta meningkatkan resiko kasus diabetes baru setelah 4 tahun pemberian,
sementara pemberian amilodipin (antihipertensi golongan CCB) dan lisinopril (antihipertensi
golongan ACE inhibitor) memberikan kadar glukosa dan kolesterol yang lebih rendah.
Perbandingan antara kelompok lisinopril dan klortalidon menunjukkan signifikansi statistik
(p <0,05). Disaat diuretik tiazid telah dianjurkan sebagai terapi awal pada sebagian besar
pasien dengan hipertensi, berdasarkan data dari ALLHAT, kita harus memperhatikan potensi
kelainan lipid yang mungkin terjadi.

Pada hasil uji coba lain yang di laporkan oleh Sposito et al, pasien dengan hipertensi dan
kolesterol total serum tinggi yang menggunakan enalapril atau lisinopril dan pravastatin atau
lovastatin secara bersamaan, menunjukkan peningkatan efek antihipertensi. (Sumber:
Sundararajan Srikanth & Prakash Deedwania. Management of Dyslipidemia in Patients with
Hypertension. Curr Hypertens Rep (2016) 18:76)

Pengaruh Terapi Antihiperlipidemia pada Tekanan Darah

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa mengobati hiperlipidemia memiliki efek
menguntungkan pada tekanan darah (TD). Studi oleh Borghi et al., telah menemukan bahwa
pasien yang menerima terapi antihipertensi dan statin bersamaan mengalami penurunan
tekanan darah. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan statin dalam kombinasi dengan
obat antihipertensi dapat meningkatkan kontrol TD pada pasien dengan hipertensi yang tidak
terkontrol dan kadar kolesterol serum yang tinggi. Statin memiliki efek positif pada fungsi sel
otot polos atau vaskular atau keduanya. Hiperkolesterolemia dapat mempengaruhi TD dengan
mempotensiasi efek pada endotelium pembuluh darah dengan pelepasan vasokonstriktor
endotelin-1 dan Angiotensin II sehingga TD meningkat. (Sumber: Jamshed J. Dalal, T. N. C.
Padmanabhan, Piyush Jain, Shiva Patil, Hardik Vasnawala, and Ashish Gulati. LIPITENSION:
Interplay between dyslipidemia and hypertension. Indian J Endocrinol Metab. 2012 Mar-Apr; 16(2):
240–245)

Pengaruh Terapi Antihipertensi pada Kadar Lipid

Obat antihipertensi memiliki dampak tertentu pada tingkat lipid. Perubahan kadar lipid ini
penting dalam hipertensi, karena hingga 40% dari hipertensi yang baru didiagnosis memiliki
setidaknya satu kelainan lipid. Di antara obat anti-hipertensi, beta bloker dan diuretik tiazid
telah menunjukkan perubahan dalam parameter lipid. Efek beta bloker pada tingkat lipid
tergantung pada sifat farmakologi. Penghambat selektif (beta-1) dan penghambat beta yang
lebih baru memiliki sedikit dampak pada kadar kolesterol total. Efek diuretik tiazid pada
parameter kolesterol meningkat pada dosis yang lebih tinggi. Mempertimbangkan efek beta
bloker dan diuretik tiazid pada kadar lipid plasma, antihipertensi golongan alfa bloker atau
calcium channel bloker mungkin menjadi terapi awal yang lebih disukai pada pasien dengan
hiperlipidemia. (Sumber: Jamshed J. Dalal, T. N. C. Padmanabhan, Piyush Jain, Shiva Patil, Hardik
Vasnawala, and Ashish Gulati. LIPITENSION: Interplay between dyslipidemia and hypertension. Indian
J Endocrinol Metab. 2012 Mar-Apr; 16(2): 240–245)

Kesimpulan

1. Untuk pasien hipertensi dengan hiperlipidemia, obat golongan beta bloker dan diuretik
tiazid dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.
2. Mempertimbangkan efek beta bloker dan diuretik tiazid pada kadar lipid plasma, Obat
golongan ACE inhibitor, ARB, alfa bloker, dan CCB dapat digunakan sebagai pilihan
pengobatan untuk hipertensi dengan hiperlipidemia.
3. Kombinasi antihipertensi golongan ACE inhibitor dan antihiperlipidemia golongan statin
memiliki keuntungan yaitu meningkatkan efek antihipertensi.