Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar
2.1.1 Pengertian Persalinan Normal
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun
ke dalam jalan lahir.Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan disusul dengan
pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.Persalinan dan kelahiran
normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala
yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri, tanpa alat serta tidak melukai
ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir.
Menurut Mochtar (1998), Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil
konsepsi (janin + uri), yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan
lahir atau dengan jalan lain. Persalinan normal disebut juga partus
spontan.Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir
dengan lahirnya plasenta secara lengkap.
2.1.2 Etiologi
Penyebab timbulnya persalinan sampai sekarang belum diketahui secara
pasti/jelas. Terdapat beberapa teori antara lain:
2.1.2.1 Teori oxytocin :Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh
karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.
2.1.2.2 Keregangan otot-otot :Seperti halnya dengan kandung kencing dan
lambung bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka
timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.Demikian pula dengan rahim,
maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot
rahim makin rentan.
2.1.2.3 Pengaruh janin:Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga
memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih
lama dari biasa.

2.1.2.4 Teori Plasenta Menjadi Tua: Turunnya kadar hormone estrogen dan
progesterone menyebabkan kekejangan pembuluh darah yang
menimbulkan konstraksi rahim.
2.1.2.5 Teori Iritasi Mekanik: Di belakang servik terlihat ganglion
servikale(fleksus franterrhauss). Bila ganglion ini digeser dan di tekan
misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
2.1.3 Bentuk-bentuk persalinan
2.1.3.1 Persalinan spontan
Bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.
2.1.3.2 Persalinan Buatan
Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar.
2.1.3.3 Persalinan anjuran
Bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar
dengan rangsangan.

2.1.4 Tanda-tanda persalinan
Apabila ibu hamil mengalami tanda-tanda seperti dibawah ini,
mengindikasikan bahwa proses persalinan akan segera berlangsung. Ada dua
macam tanda persalinan:
2.1.4.1 Tanda persalinan asli(true labor)
1) Kontraksi
- Tejadi secara teratur, makin lama makin kuat/kencang, semakin lama, dan
dalam waktu yang semakin berdekatan
- Intensitas kontraksi meningkat bila sambil berjalan
- Dirasakan dipunggung bagian bawah dan menyebar kebagian bawah
abdomen.
2) Serviks
- Memperlihatkan perubahan yang cepat (lunak, dilatasi yang ditandai
dengan adanya perdarahan)
- Perubahan keposisi anterior, sulit ditentukan tanpa pemeriksaan vagina.

 Janin
Bagian presentasi biasanya sudah berada dirongga pelvis (sering disebut
“lightening/dropping”). Keadaan ini meningkatkan kemudahan bernafas, dan
pada saat yang bersamaan kandung kemih akan tertekan akibat dorongan bagian
presentasi janin kearah rongga pelvis).
2.1.4.2 Tanda persalinan palsu (false labor)
1) Kontraksi
- Terjadi secara tidak teratur atau teratur tetapi hanya sebentar
- Kontraksi berhenti jika berjalan atau jika berubah posisi
- Dirasakan di daerah punggung atau abdomen diatas navel.
 Serviks 
- Mungkin lunak tetapi tidak ada dilatasi atau tanda-tanda adanya
perdarahan
- Seringkali di posisi posterior, tidak dapat dipastikan tanpa pemeriksan
vagina
3) Janin
- Bagian presentasi biasanya belum masuk rongga pelvis.
2.1.4.3 Tanda persalinan sudah dekat :
1) Terjadi lightening. Menjelang minggu ke-36 pada primigravida terjadi
penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul
yang disebabkan:
- Kontraksi Braxton Hicks
- Ketegangan dinding perut
- Gaya berat janin dimana kepala ke arah bawah
2) Masuknya kepala bayi ke pintu atas panggul dirasakan ibu hamil
- Terasa ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang
- Dibagian bawah terasa sesak
- Terjadi kesulitan saat berjalan
- Sering miksi (buang air kecil)
3) Terjadinya His permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks ditemukan
sebagai keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu terjadi karena perubahan

Sifatnya teratur.4. dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan: . 2. tidak ada perubahan pada serviks. Dengan makin tua hamil. . 2.4 Tanda Persalinan Lainnya: 1) Terjadinya his persalinan. dan memberikan kesempatan rangsangan oksitosin. Sebagian ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap. Kontraksi ini yang bersifat otonomtidak dipengaruhi kemauan. tidak teratur menyebabkan “show“. progesteron. 2) Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda). Sifat his permulaan (palsu) adalah rasa nyeri ringan di bagian bawah.5. 3) Pengeluaran cairan Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran cairan. Pendataran dan pembukaan . Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam. datangnya tidak teratur.Pembagian His dalam persalinan dan sifat-sifatnya : 2) His pendahuluan His tidak kuat. interval makin pendek.1 Power 1) His (kontraksi uterus) His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan. Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks .keseimbangan estrogen. pengeluaran estrogen dan progesteron makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi lebih sering sebagai his palsu. his persalinan mempunyai sifat: . Makin beraktifitas (jalan) kekuatan makin bertambah. Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis servikalis lepas . durasinya pendek.1.5 Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan 2. Pinggang terasa sakit yang menjalar ke bagian depan . tidak bertambah bila beraktifitas.1. dan kekuatannya makin besar . Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah. walaupun begitu dapat dipengaruhi dari luar misalnya rangsangan oleh jari-jari tangan dapat menimbulkan kontraksi.1.

5.5. Vagina yang normal dapat merupakan saluran yang bebas dilalui anak.Koordinasi bersama antara : his kontraksi otot perut.1. 2) Dasar Panggul Terdiri dari otot-otot dan macam-macam jaringan untuk dapat dilalui anak dengan mudah. . Mulai kuat. 4) His pengeluaran (His mengedan) kala II Sangat kuat.2 Passege (Jalan Lahir) Agar anak dapat melalui jalan lahir tanpa rintangan maka jalan tersebut harus normal. . PBP (Pintu Bawah Panggul):Arcus pubis (normal 90o) mobilitas os cocygeus (normal cukup). Hal ini akan menjadi robek atau ruptur.His untuk pengeluaran janin. terkoordinasi dan lama.5 cm Linia inominata normal teraba .1.  Uterus dan vagina  . 6) His pengiring (kala IV) Kontraksi lemah. teratur. teratur dan sakit.Jika terjadi kekakuan pada jaringan dan otot. Uterus yang normal harus dapat menyesuaikan dengan isinya tanpa adanya rintangan di dalam uterus. diafragma dan ligamen 5) His pelepas uri (kala III) Kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta. misalnya tumor. 2.½ lingkaran). 1) Tulang panggul Ukuran panggul dalam : . masih sedikit pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari. His pembukaan serviks sampai terjadi pembukan lengkap 10 cm. . RTP (Ruang tengah panggul):Spina ischiadica (normal tidak menonjol) lengkung sacrum (normal cukup).3 Passanger (Janin) . simetris. . 2. PAP (pintu atas panggul): Promontorium / conjugata diagonalis (normal - 12.3) His pembukaan (kala I) .

. Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan. 2. Isi uterus yang akan dilahirkan adalah janin. sehingga terjadilah tekanan pada otot- otot dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa ngedan karena tekanan pada rectum sehingga merasa seperti BAB dengan tanda anus membuka. Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm.1 Kala I (kala pembukaan) In partu (partu mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah.1. Agar persalinan dapat berjalan lancar maka faktor passanger harus normal. 2. vulva membuka dan perineum meregang. kanalis servikalis. kepala janin telah turun dan masuk ruang panggul.Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahir dan diikuti oleh seluruh badan janin. Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.6. 2. darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler.1.4 Psikologis Dalam persalinan terdapat kebutuhan emosional jika kebutuhan tidak tepenuhi paling tidak sama seperti kebutuhan jasmaninya.5 jam.2 Kala II (pengeluaran janin) His terkoordinir cepat dan lebih lama. pada multi 0.6. akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara). Kala II pada primi 1.5.5-2 jam. kira-kira 2-3 menit sekali. air ketuban dan plasenta. dan berlangsung selama 40 detik atau lebih) . Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase : 1) Fase laten : .6 Proses persalinan Persalinan dibagi dalam empat kala yaitu: 2.1.1. . servik mulai membuka dan mendatar. Pada umumnya fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam 2) Fase aktif : . Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bartahap (kontraksi dianggap akurat/ memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit. Berlangsung hingga seviks membuka kurang dari 4 cm .

Diameter biparietal melewati PAP . 4) Rotation Internal . dinding panggul atau dasar panggul.Terjadinya bersama dengan majunya kepala .Tekanan langsung oleh fundus uteri .Melurusnya badan janin akibat kontraksi uterus. .Nullipara terjadi 2 minggu sebelum persalinan .Kontraksi diafragma dan otot perut (kala II) .Multipara terjadi permulaan persalinan . Proses Persalinan Janin 1) Engagement .Tekanan cairan ketuban .Usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir(Bidang tengah dan PBP) .Rotasi muka belakang secara lengkap terjadi setelah kepala di dasar panggul.Bagian terendah memutar ke depan ke bawah symphisis .Mekanisme persalinan: Gambar 1. 3) Flexion Majunya kepala mendapat tekanan dari servix. flexi (dagu lebih mendekati dada).Kebanyakan kepala masuk PAP dengan sagitalis melintang pada PAP-Flexi Ringan 2) Descent (Turunnya Kepala) Turunnya presentasi pada inlet disebabkan oleh 4 hal : .

Ukuran bahu menempatkan pada ukuran muka belakang dari PBP. 2.3 Kala III (pengeluaran plasenta) Kala tiga persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta.Setelah bayi lahir. seluruh proses berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban. Menurut cara ini perdarahan ini biasanya tidak ada sebelum uri lahir. Atau serempak dari tengah dan pinggir plasenta. Beberapa saat kemudian timbul his. seluruh plasenta terlepas. bahu depan. 7) Expulsi Bahu depan di bawah symphisis sebagai hypomoklion. 2) Fase pengeluaran uri . tali pusat memanjang. plasenta menjadi tebal 2x sebelumnya.6. karena sumbu PBP mengarah ke depan dan atas.1. Duncan: lepasnya uri mulai dari pinggir. Kala III terdiri dari 2 fase: 1) Fase pelepasan uri Cara lepasnya uri ada beberapa cara : .5) Extension Defleksi kepala. Yang lepas duluan adalah bagian tengah lalu terjadi retroplasental hematoma yang menolak uri mula-mula pada bagian tengah kemudian seluruhnya. jadi pinggir uri lahir duluan. Tanda-tanda lepasnya plasenta: perubahan ukuran dan bentuk uterus. lahir bahu belakang. dalam waktu 5-10 menit. uterus teraba keras. 6) Rotation External Setelah kepala lahir. semburan darah tiba-tiba. rahim istirahat sebentar. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc. kontraksi. terdorong kedalam vagina dan akan lahir secara spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simpisis/fundus uteri. badan seluruhnya. Schultze :lepasnya seperti kita menutup payung. cara ini paling sering terjadi. . kepala memutar kembali ke arah panggul anak untuk menghilangkan torsi leher akibat putaran paksi dalam.

2. . bila tali pusat bergetar artinya belum lepas. bila diam atau maju artinya sudah lepas.1 Pengumpulan data 1) Biodata klien meliputi : Nama. Tak bergetar artinya sudah lepas.2.1. antara lain : 1) Tingkat kesadaran ibu 2) Pemeriksaan TTV : tekanan darah. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Klein: sewaktu ada his. rahim kita dorong.Pendidikan. . Kustner: dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada/di atas simfisis. Bila didapatkan terlalu muda (kurang dari 20 tahun) atau terlalu tua (lebih dari 35 tahun) merupakan kelompok resiko tinggi.. Strassman: tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus. Tali pusat diteganggangkan maka bila tali pusat masuk artinya belum lepas. 2.Tugas uterus ini dapat dibantu dengan obat-obat oksitosin.Dengan menjaga kondisi kontraksi dan retraksi uterus yang kuat dan terus-menerus. umur : dalam kategori usia subur (15 – 49 tahun). pekerjaan dan alamat klien.4 Kala IV Kala empat persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir selama 2 jam. 2. .6. bila tali pusat kembali artinya belum lepas. nadi. mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum. selama 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir. pernafasan 3) Kontraksi uterus 4) Terjadinya perdarahan Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400 – 500 cc. Observasi yang dilakukan.1.1 Pengkajian 2. Diam atau turun artinya lepas.2 Manajemen asuhan keperawatan 2. Pengawasan.

ketakutaan dan fantasi. pembedahan yang pernah dialami. rasa pusing. TBC. his makin sering.ketakutan . Riwayat kebidanan. dapat memperberat persalinan. kuat. penyakit kelamin. Narchisitik. perasaan selalu ingin buang air kemih. Adanya gerakan janin. keturunan hamil kembar pada klien. muntah). adanya show (pengeluaran darah campur lendir). diabetes mellitus. 3) Riwayat penyakit sekarang Dalam pengkajian ditemukan ibu hamil dengan usia kehamilan anatara 38 –42 minggu disertai tanda-tanda menjelang persalinan yaitu nyeri pada daerah pinggang menjalar ke perut. pasif dan introvert. Ditemukan amenorhhea (aterm 38-42 minggu).2) Keluhan Utama Pada umumnya klien mengeluh nyeri pada daerah pinggang menjalar ke perut. penyakit kelamin. teratur. 4) Riwayat penyakit dahulu Adanya penyakit jantung. keluarnya lendir dan darah. TBC. 6) Riwayat Obstetri .Pada trimester II adanya ketidaknyamanan kehamilan (mual. hepatitis.mual muntah. hipertensi. diabetes mellitus. adanya his yang makin sering. memungkinkan penyakit tersebut ditularkan pada klien. kadang ketuban pecah dengan sendirinya. bila buang air kemih hanya sedikit-sedikit. Riwayat haid. hipertensi. sehingga pada multigravida berlangsung 8 jam dengan 2 cm / jam. daan lain-lain. 5) Riwayat penyakit keluarga Adanya penyakit jantung. Pada primigravida persalinan berlangsung 13-14 jam dengan pembukaan 1cm /jam. Pada trimester III klien merasa tidak feminin lagi karena perubahan tubuhnya. 7) Riwayat psikososialspiritual dan budaya Perubahan psikososial pada trimester I yaitu ambivalensi. sehingga memperberat persalinannya. tertaur. prematur kurang dari 37 minggu . hepatitis.

klien dianjurkan duduk / berjalan-jalan disekitar ruangan / kamar bersalin. sepatu / alas kaki dengan tumit tinggi agar tidak dipakai lagi .  9) Pemeriksaan Umum .miring ke kanan / kiri tergantung pada letak punggung anak. Eliminasi Adanya perasaan sering / susah kencing selama kehamilan dan proses persalinan. . . tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar . Seksual Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual / fungsi dari sek yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas. terbatas pada aktivitas ringan. Pada kala II kepala janin sudah masuk rongga PAP klien dalam posisi miring ke kanan / kiri .Pada kala I apabila kepala janin telah masuk sbagian ke dalam PAP serta ketuban pecah. tidak membutuhkan tenaga banyak. Personal Hygiene Kebersihan tubuih senantiasa dijaga kebersihannya. Tinggi badan dan berat badan. lesu. akan kelahiran bayinya. Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai. 8) Pola Kebutuhan sehari-hari . Nutrisi Adanya his berpengaruh terhadapkeinginan atau selera makan yang menurun.klien sulit tidur terutama kala I – IV. . Aktivitas Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.distress keluarga karena adaanya perasaan sekarat selama persalinan berlangsung. tidak mebuat klien cepat lelah. . Istirahat tidur Klien dapat tidur terlentang. Ibu hamil yang tinggi badanya kurang dari 145 cm terlebih pada kehamilan pertama. Pada akhir trimester III dapat terjadi konstipasi. capai.

Perut Adanya pembesaran pada perut membujur. Kepala dan leher Terdapat adanya cloasma gravidarum. caries pada gigi. terkadang adanya pembengkakan pada kelopak mata. letak kepala. memiliki panggul yang sempit. pembesaran kelenjar. Adanya his yang . dan diperiksa tiap 4 jam. sudah masuk PAP atau belum. kadang meningkat menjadi normal kembali setelah persalinan. Suhu badan.378C masih dianggap normal karena kelelahan. bila suhu lebih dari 370C dianggap ada kelainan. sklera kuning. hiperemis ataupun normal.Kecuali bagi klien setelah melahirkan suhu badan 375C. kesakitan dan karena membesarnya perut pernafasan normal antara 80 – 100 X / menit. nadi dan pernafasan Pada penderita dalam keadaan biasa suhu badan anatara 360-370 C. stomatitis. Dada Terdapat adanya pembesaran pada payudara. . terdapat striae gravidarum. punggung kiri/ punggung kanan. . 10) Pemeriksaan fisik . hidung ada polip atau tidak.Berat badan ibu perlu dikontrol secara teratur dengan peningkatan berat badan selama hamil antara 10–12 kg. Pada klien yang akan bersalin / bersalin pernafasanannya agak pendek karena kelelahan. Palpasi : usia kehamilan aterm 3 jari bawah prosesus xypoideus. usia kehamilan prematur pertengahan pusat dan prosesus xypoideus.  . Tekanan Darah Tekanan darah diukur pada akhir kala II yaitu setelah anak dilahirkan biasanya tekanan darah akan naik kira-kira 10 mmHg. Keadaan nadi biasanya mengikuti keadaan suhu. . . hyperpigmentasi linea alba/ nigra. konjungtiva kadang pucat. Bila suhu naik keadaan nadi akan bertambah pula dapat disebabkan karena adanya perdarahan. adanya hiperpigmentasi areola dan papila mamae serta ditemukan adanya kolustrum.

makin lama makin sering dan kuat.1 Kala I No Data (Symptom) Penyebab Masalah (Etiologi) (Problem) 1. kerusakan proses berpikir.Ada varices pada ekstremitas bagian bawah karena adanya penekanan dan pembesaran uterus yang menekan vena abdomen. menyeringai)  Terfokus pada diri sendiri  Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu. aktivitas berulang-ulang) . . tampak capek.frekwensi antara 140 – 160 x / menit. menandakan adannya kelainan letak anak. pengeluaran air ketuban. 11) Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan darah meliputi haemoglobin. 2. Genetalia Pengeluaran darah campur lendir. penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)  Tingkah laku distraksi. DS: Kontraksi Nyeri akut  Laporan secara verbal rasa nyeri. .2.2. Jenis penentuan. uterus.2 Analisa Data: 2. menemui orang lain dan/atau aktivitas. contoh : jalan- jalan.Auskultasi : ada/ tidaknya DJJ. keadaan serviks. dilatasi DO: serviks  Posisi untuk menahan nyeri  Tingkah laku berhati-hati  Gangguan tidur (mata sayu. Ekstremitas Pemeriksaan udema untuk melihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus. hitung darah lengkap. Bila terdapat pengeluaran mekonium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan.Pemeriksaan dalam untuk mengetahui jauhnya dan kemajuan persalinan. sulit atau gerakan kacau. dan kadang-kadang pemeriksaan serologi untuk sifilis. karena pre eklamsia atau karena karena penyakit jantung/ ginjal. faktor Rh. panggul serta keadaan jalan lahir. waktu pembekuan.2.

perubahan nafas. respirasi pengetahuan  Keinginan berkemih proses  Peningkatan refleks persalinan  Wajah tegang  Anoreksia  Kelelahan  Kontak mata buruk. merintih. nafas panjang/berkeluh kesah)  Perubahan dalam nafsu makan dan minum. DO:  Gangguan konsentrasi  Penurunan kemampuan  Ketidakmampuanmempertahankan rutinitas  Ketidakmampuanmendapatkan energi sesudahtidur  Kurang energi  Ketidakmampuan untukmempertahankan aktivitasfisik 3. leselamatan ibu  DO dan janin. DS: Kekhawatiran Kecemasan  Mengungkapkan perasaan cemas. perubahan tekanan darah. 2. DS: Peningkatan Kelelaham  Tidak tertarik padalingkungan kebutuhan  Meningkatnya komplainfisik energi selama  Secara verbal menyatakan kurang persalinan energi. kelelahan. gelisah. nadi dan dilatasi pupil)  Perubahan autonomik dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)  Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah. waspada. iritabel. .  Tampak cemas kurang  Peningkatan nadi. menangis.  Respon autonom (seperti diaphoresis. terhadap takut.

penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)  Tingkah laku distraksi. menyeringai)  Terfokus pada diri sendiri  Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu. aktivitas berulang- ulang)  Respon autonom (seperti diaphoresis. menemui orang lain dan/atau aktivitas. dilatasi/  Posisi untuk menahan nyeri peregangan  Tingkah laku berhati-hati jaringan. vena DO:  Takikardi.2 Kala II No Data (Symptom) Penyebab Masalah (Etiologi) (Problem) 1. perubahan tekanan darah. kontraksi.2. waspada. bradikardi  Kulit berkeringat  Penurunan nadi perifer . capek. menangis. nafas panjang/berkeluh kesah)  Perubahan dalam nafsu makan dan minum. nadi dan dilatasi pupil)  Perubahan autonomik dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)  Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah. DS: Fluktuasi pada Perubahan  Laporan secara verbal perasaan aliran darah balik curah jantung lemah. contoh : jalan-jalan. DS: Tekanan mekanik Nyeri akut  Laporan secara verbal rasa nyeri. kompresi  Gangguan tidur (mata sayu. Faktor risiko: Resiko  Prosedur invasif berulang infeksi  Trauma jaringan  Pemajanan terhadap patogen  Persalinan lama  Pecah ketuban. iritabel. tampak saraf.2. pada bagian DO: presentasi. perubahan nafas.2. 2. 3. kerusakan proses berpikir. merintih. sulit atau gerakan kacau.

sulit atau gerakan kacau. nadi dan dilatasi pupil)  Perubahan autonomik dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)  Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah. kerusakan proses berpikir.2. waspada. aktivitas berulang- ulang)  Respon autonom (seperti diaphoresis. tampak capek. penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)  Tingkah laku distraksi. contoh : jalan-jalan. menyeringai)  Terfokus pada diri sendiri  Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu. perubahan nafas. Nyeri akut  Laporan secara verbal rasa nyeri.  Oliguria  Perubahan warna kulit  Tampak gelisah  Dispnea 4.3 Kala III No Data (Symptom) Penyebab Masalah (Etiologi) (Problem) 1. DS: Trauma jaringan. iritabel. merintih. menemui orang lain dan/atau aktivitas. Faktor risiko: Risiko  Pencetus persalinan kerusakan  Pola kontraksi hipertonik integritas  Janin besar kulit  Pemakaaian forcep 2. 2. perubahan tekanan darah. menangis.2. respon fisiologis DO: setelah melahirkan  Posisi untuk menahan nyeri  Tingkah laku berhati-hati  Gangguan tidur (mata sayu. nafas panjang/berkeluh kesah) . Faktor risiko: Risiko cedera  Posisi selama melahirkan (meternal)  Kesulitan dengan pelepasan plasenta  Profil darah abnormal.

waspada.Kegagalan miometri volume  Melaporkan haus dari mekanisme cairan DO: homeostatik (misal :  Penurunan turgor kulit/lidah sirkulasi . DS: Trauma jaringan. kerusakan proses berpikir. . laserasi jalan lahir. penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)  Tingkah laku distraksi.  Perubahan dalam nafsu makan dan minum. 2. Nyeri akut  Laporan secara verbal rasa nyeri. volume cairan 2.DS: . nadi dan dilatasi pupil)  Perubahan autonomik dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)  Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah. menyeringai)  Terfokus pada diri sendiri  Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu. 3. respon fisiologis DO: setelah melahirkan  Posisi untuk menahan nyeri  Tingkah laku berhati-hati  Gangguan tidur (mata sayu. contoh : jalan-jalan. menangis. tampak capek. iritabel. menemui orang lain dan/atau aktivitas.Kelelahan Kekurangan  Melaporkan kelemahan .4 Kala IV No Data (Symptom) Penyebab (Etiologi) Masalah (Problem) 1. Faktor risiko: Risiko Peningkatan kehilangan cairan secara kekurangan tidak disadari. sulit atau gerakan kacau.2.2. merintih. perubahan nafas. perubahan tekanan darah. nafas panjang/berkeluh kesah)  Perubahan dalam nafsu makan dan minum. aktivitas berulang- ulang)  Respon autonom (seperti diaphoresis.

2. Faktor risiko:posisi selama melahirkan. trauma jaringan.  Pengisian vena menurun ketidakadekuatan  Perubahan status mental perpindahan cairan.  Membran mukosa/kulit kering uteroplasental  Peningkatan denyut nadi. respon fisiologis setelah melahirkan. janin besar. pemajanan terhadap patogen.2. Faktor risiko: Pencetus persalinan. 3) Risiko kekurangan volume cairan. 2) Resiko infeksi. penurunan berlanjut.3 Diagnosa keperawatan 2. 2.2. Faktor risiko: peningkatan kehilangan cairan secara tidak disadari. pemakaaian forcep. 4) Risiko kerusakan integritas kulit.3. dilatasi serviks. kompresi saraf.2 Kala II 1) Nyeri akut b.3. kesulitan dengan pelepasan plasenta. persalinan lama atau pecah ketuban.  Konsentrasi urine meningkat efek – efek  Temperatur tubuh meningkat hipertensi saat kehamilan)  Hematokrit meninggi 2.1 Kala I 1) Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus. kontraksi. laserasi jalan lahir.3. 2) Nyeri akut b/d trauma jaringan. 2) Kelelahan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi selama persalinan.3. ansietas. pola kontraksi hipertonik. . penurunan vasokontriksi tidak volume/tekanan nadi komplet. tekanan darah.2.4 Kala IV 1) Nyeri akut b/d trauma mekanis/ edema jaringan.2. 3) Kecemasan berhubungan dengan kekhawatiran terhadap leselamatan ibu dan janin. Faktor risiko : prosedur invasif berulang. 3) Perubahan curah jantung b/d fluktuasi pada aliran darah balik vena. 2. dilatasi/ peregangan jaringan (perineum).d tekanan mekanik pada bagian presentasi. kelelahan fisik dan psikologis. kurang pengetahuan proses persalinan. 2.3 Kala III 1) Risiko cedera (meternal). profil darah abnormal.

1 Kala I 1) Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus. Intervensi . kegagalan miometrium dari mekanisme homeostatik. Jelaskan metode pereda nyeri yang ada seperti relaksasi.2. R : Untuk mengetahui kemajuan persalinan dan ketidaknyamanan yang dirasakan ibu. Lakukan perubahan posisi sesuai dengan keinginan ibu. R : Nyeri persalinan bersifat sangat individual sehingga posisi nyaman tiap individu akan berbeda. dan gambaran ketidaknyamanan). pengalaman terdahulu dan serta dukungan emosional termasuk orang yang diinginkan. obat – obatan. pola pernafasan. massase. . Kaji faktor yang dapat menurunkan toleransi terhadap nyeri. R : Nyeri persalinan bersifat unik dan berbeda–beda tiap individu. 2. . 2) Kekurangan volume cairan b/d kelelahan. Kaji kontraksi uterus dan ketidaknyamanan (awitan. pemberian posisi.2. .4 Rencana Keperawatan 2. Beberapa teknik pengendalian nyeri Relaksasi Massase. miring kiri dianjurkan karena memaksimalkan curah jantung ibu. . durasi. R : Memungkinkan lebih banyak alternative yang dimiliki oleh ibu.4. frekuensi. Kaji tentang metode pereda nyeri yang diketahui. oleh karena dukungan kepada ibu untuk mengendalikan rasa nyerinya. Tujuan: diharapkan ibu mampu mengendalikan nyerinya dengan kriteria hasil ibu menyatakan menerima rasa nyerinya sebagai proses fisiologis persalinan. . Respon terhadap nyeri sangat tergantung budaya. R : Tidak menambah nyeri klien. . R : Mengidentifikasi jalan keluar yang harus dilakukan. . Kurangi dan hilangkan faktor yang meningkatkan nyeri. intensitas. tetapi ingin di tempat tidur anjurkan untuk miring ke kiri. dilatasi serviks.

kurang pengetahuan proses persalinan. gelisah. Kaji tanda – tanda vital yaitu nadi dan tekanan darah. Kaji tingkat kecemasan pasien. Intervensi: . R : Dukungan emosional khususnya dari orang – orang yang berarti bagi ibu dapat memberikan kekuatan dan motivasi bagi ibu. Anjurkan untuk relaksasi dan istirahat di antara kontraksi. R : Makanan dan asupan cairan yang cukup akan memberi lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi yang memperlambat kontraksi atau kontraksi tidak teratur. . diharapkan cemas berkurang. R : Nadi dan tekanan darah dapat menjadi indikator terhadap status hidrasi dan energi ibu. Tujuan : Diharapkan ibu tidak mengalami keletihan dengan kriteria hasil nadi:60-80x/menit(saat tidak ada his). 2) Kelelahan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi selama persalinan. 3) Kecemasan berhubungan dengan kekhawatiran terhadap leselamatan ibu dan janin. . ibu tidak cemas. Intervensi : . Sarankan suami atau keluarga untuk mendampingi ibu. R : Bertujuan untuk meminimalkan aktivitas simpatis pada system otonom sehingga ibu dapat memecah siklus ketegangan-ansietas- nyeri. R : Mengurangi bertambahnya keletihan dan menghemat energy yang dibutuhkan untuk persalinan. . Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60 menit. dengan kriteria hasil nadi: pasien tampak tenang. tegang. ibu menyatakan masih memiliki cukup tenaga. . Tawarkan dan berikan minuman atau makanan kepada ibu.

R : Mengerti dan memahami tentang proses persalinan sehingga dapat mengurangi kecemasan. R : Informasi yang jelas dan sederhana memudahkan ibu dalam memahami dan mengerti proses perslinan sehingga kecemasannya berkurang. R :Keluarga sangat dibutuhkan untuk menenangkan dan mengurangi kecemasan. Tujuan : diharapkan klien dapat mengontrol rasa nyeri dengan kriteria hasil : .2. . Jelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien. Anjurkan keluarga menemani pasien sementara waktu bila memungkinkan. . kontraksi. Beri informasi yang jelas dan bijaksana tentang fisiologi kalaI. 2. Beri tahu pasien tentang prosedur persalinan.2 Kala II 1) Nyeri akut b. cemas yang berlebihan dapat meningkatkan persepsi nyeri dan dapat mempunyai dampak negatif pada proses persalinan. . . Evaluasi pola kontraksi dan kemajuan persalinan.d tekanan mekanik pada bagian presentasi.4. . kompresi saraf. Beri dukungan moril dan informasikan bahwa akan selalu bersama ibu selama proses persalinan. dilatasi/ peregangan jaringan (perineum). . R : Memberi support dan ketenangan. . Temani pasien terutama pada saat gelisah dan ajurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya. R : Pasien dapat mengalami peningkatan cemas atau kehilangan kontrol bila dibiasakan tanpa perhatian. R : Mengidentifikasi tingkat cemas. R : Meningkatkan pemahanan dan pemecahan masalah sehingga kecemasan teratasi. R : Peningkatan kekuatan kontraksi uterus dapat meningkatkan kecemasan .

Pantau dan catat aktivitas uterus pada setiap kontraksi. R : Posisi yang tepat menjamin penempatan yang tepat dari obat- obatan dan mencegah komplikasi. . 2) Resiko infeksi. Identifikasi derajat ketidak nyamanan dan sumbernya. R : Memberikan informasi tentangkemajuan kontinu. Lakukan perawatan parienal setiap 4 jam. persalinan lama atau pecah ketuban. Anjurkan klien untuk mengatur upaya untuk mengejan. Kaji pemenuhan kandung kemih. Faktor risiko: prosedur invasif berulang. . Berikan dukungan dan informasi yang berhubungan dengan persalinan. Menggunakan teknik yang tepat untuk mempertahankan kontrol nyeri. R : Meningkatkan kenyamanan. R : Posisi yang tepat dengan relaksasi memudahkan kemajuan persalinan. Intervensi : . memudahkan turunnya janin. membantu identifikasi pola kontraksi abnormal. . pemajanan terhadap patogen. . Mengungkapkan penurunan nyeri . Dukung dan posisikan blok sadel / anastesi spinal. menurunkan resiko trauma kantung kencing. trauma jaringan. Bantu ibu untuk memilih posisi optimal untuk mengejan. Tujuan : diharapkan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : tidak ditemukan tanda-tanda adanya infeksi. R : Informasi tentang perkiraan kelahiran menguatkan upaya yang telah dilakukan berarti. . R : Upaya mengejan spontan yang tidak terus menerus menghindari efeknegatif berkenaandenganpenurunan kadar oksigen ibu dan janin. local sesuai indikasi. kateterisasi bila terlihat distensi. . . R : Mengklarifikasi kebutuhan memungkinkan intervensi yang tepat. Intervensi : . .

. R : Peningkatan suhu atau nadi > dapat menandakan infeksi. Pantau TD dan nadi setiap 5-15 mnt.Nadi=80 x/mnt. Anjurkan klien untuk inhalahi dan ekshalasi selama upaya mengejan menggunakan tehnik glottis terbukaan.yang dapat mengganggu aliran balik vena. R : Pemeriksaan vagina berulang meningkatkan resiko infeksi endometrial. . . R : Digunakan dengan kewaspadaan karena pemakaian antibiotik dapat merangsang pertumbuhan yang berlebih dari organisme resisten. TD= 120/80 mmHg. Catat tanggal dan waktu pecah ketuban. Gunakan tehnik asepsis bedah pada persiapan peralatan. R : Mendeteksi bradikardi pada janin dan hipoksia. . . nadi dan sel darah putih. R : Menurunkan resiko kontaminasi. . 3) Perubahan curah jantung b/d fluktuasi pada aliran darah balik vena. perhatikan jumlah dan konsentrasi haluaran urine. dengan menggunakan tehnik aseptik. R : Membantu meningkatkan kebersihan . Intervensi . R : Valsava manuver yang lama dan berulang terjadi bila pasien menahan nafas saat mendorong terhadap glottis yang tertutup. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60 menit diharapkan cardiak out put dalam batas normal. Pantau suhu. . Berikan antibiotik sesuai indikasi. Pantau DJJ setelah setiap kontraksi atau upaya mengejan. tes terhadap albuminuria. . R : Dalam 4 jam setelah ketuban pecah akan terjadi infeksi. mencegah terjadinya infeksi uterus asenden dan kemungkinan sepsis. R : Peningkatan curah jantung 30-50% mempengaruhi kontraksi uterus.ah kliendan janin rentan pada infeksi saluran asenden dan kemungkinan sepsis. Lakukan pemeriksaan vagina hanya bila sangat perlu.

4) Risiko kerusakan integritas kulit. pola kontraksi hipertonik. Intervensi . . . R : Posisi Sim lateral kiri menurunkan ketegangan perineal. hindari tekanan pada poplitea. pernafasan yang baik membantu meningkatkan peregangan bertahap dari perineal dan jaringan vagina dan mencegah terjadinya trauma atau laserasi serviks. pemakaaian forcep. janin besar. .sokong telapak kaki. Tempatkan klien pada posisi Sim lateral kiri untuk melahirkan bila nyaman. R : Posisi persalinan yang baik mempertahankan aliran balik vena dan mencegah hipotensi. Bantu klien dengan posisi tepat. pernapasan. Atur infus intra vena sesuai indikasi. Faktor risiko: Pencetus persalinan. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 60 menit diharapkan tidak terjadi kerusakan kulit/ jaringan dengan kriteria evaluasi : . dan menurunkan perlunya episiotomy. Bantu klien mengangkat kaki secara simultan. . Anjurkan klien memilih posisi persalinan yang mengoptimalkan sirkulasi. R : Dengan posisi yang tepat. pantau pembrian oksitosin dan turunkan kecepatan bila perlu. Bebas dari laserasi yang dapat dicegah. . dan upaya untuk rileks. Otot-otot perineal rileks selama upaya mengedan . Pantau TD dan nadi segara setelah pemberian anastesi sampai klien stabil. R : Jalur IV harus tersedia pada kasus perlunya memperbaiki hipotensi atau menaikkan obat kedaruratan.meningkatkan peregangan bertahap. R : Hipotensi adalah reaksi merugikan paling umum pada blok epidural lumbal atau subaraknoid memperlambat aliran balik vena dan menurunkan curah jantung. .

. Rendahkan kaki klien secara simultan dari pijakan kaki. Intervensi . . R : Menghilangkan kemungkinan kontaminan yang dapat mengakibatkan infesi saluran asenden selama periode pasca partum. profil darah abnormal.4. R : Episiotomy dapat mencegah robekan perineum pada kasus bayi besar.2. Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan. . . R : Menurunkan terauma kandung kemih dari bagian presentasi.dan ruang poplitea yang dapat menyebabkan tromboplebitis pasca partum. Bantu sesuai kebutuhan dengan manufer tangan. R : Memudahkan pelepasan plasenta. Palpasi fundus uteri dan masase perlahan. Bersihkan vulva dan perineum dengan air larutan antiseptik. . R : Menurunkan regangan otot mencegah tekanan pada betis. berikan pembalut perineal steril.3 Kala III 1) Risiko cedera (meternal) b/d posisi selama melahirkan. . R : Memungkinkan melahirkan lambat saat kepala bayi telah distensidi perineum 5cm sehingga menurunkan trauma pada jaringan ibu. Bahaya ada berupa emboli cairan amnion dapat masuk ke sirkulasi maternal. kesulitan dengan pelepasan plasenta. .dan ketidakcukupan relaksasi perineal. Tujuan: diharapkan tidak terjadi cedera maternal dengan kriteria hasil: . Masase fundus secara perlahan setelah pengeluaran plasenta. menyebabkan emboli paru. persalinan cepat. Kaji kepenuhan kandung kencing. Kesadaran pasien compos mentis. . Bantu dengan episiotomy garis tengan atau mediolateral k/p. 2. . berikan tekanan pada dagu janin melalui perineum ibu saat tekanan pengeluaran pada oksiputdengan tangan lain. R : Pada pelepasan plasenta. Kaji irama dan pola pernapasan. R : Menghindari rangsangan/trauma berlebihan pada fundus.

Menyatakan nyeri berkurang dengan skala (0-3). R : Pernapasan membantu mengalihkan perhatian langsung dari ketidaknyamanan. . posisikan kembali uterus di bawah pengaruh anastesi dan berikan ergonovin maleat (ergotrat) setelah penemapatan uterus kembali. R : Peningkatan tekanan intrakranial selama mendorong dan peningkatan curah jantung yang cepat membuat klien dengan aneurisme serebral sebelumnya berisiko terhadap ruptur. hangat. R : Meningkatkan kenyamanan. . Tujuan : diharapkan nyeri hilang atau berkurang dengan kriteria hasil: . Ganti pakaian dan linen basah. Intervensi : . meningkatkan relaksasi. . 2) Nyeri akut b/d trauma jaringan. R : Membatasi potensial infeksi endometrial. respon fisiologis setelah melahirkan. R : Bila bayi Rh-positif dan klien Rh-negatif. . menurunkan edema dan memberikan kenyamanan dan anastesi lokal. . Kaji perilaku klien. Berikan antibiotik profilatik. Wajah tampak tidak meringis. Berikan oksitosin IV. . . Gunakan bantuan ventilator bila diperlukan. dan kebersihan. R : Kegagalan pernapasan dapat terjadi mengikuti emboli amnion atau pulmoner. . perhatikan perubahan SSP. . klien akan menerima imunisasi dengan imun globulin Rh (Rh-Ig) pada pasca partum. R : Membantu menghindari regangan otot. R : Meningkatkan kontraktilitas miometrium uterus. Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi dengan menarik napas dalam. Wajah tampak tenang. Bantu dengan tampon sesuai dengan indikasi. Dapatkan sampel darah tali pusat untuk menetukan golongan darah. R : Mengkonstriksikan pembuluh darah. . Berikan kompres es pada perineum setelah melahirkan.

Palpasi uterus . diharapkan kekurangan volume cairan tidak terjadi. disorientasi. menurunkan kehilangan darahm dan meningkatkan kontraksi uterus. penurunan TD. mendemonstrasikan kontraksi adekuat dari uterus dengan kehilangan darah dalam batas normal. R : Penghisapan merangsang pelepasan oksitoksin dari hipofisis posterior. Intervensi : . N:60- 90x/menit). Berikan selimut penghangat. menurunkan kelelahan dan meningkatkan rasa nyaman. . bantu mengarahkan perhatiannya untuk mengejan. misalnya mekanisme Duncan versus mekanisme Schulze. peka rangsangan. . R : Hemoragi dihubungkan dengan kehilangan cairan lebih besar dari 500 ml dapat dimanifestasikan oleh peningkatan nadi. laserasi jalan lahir. R : Mengejan membantu pelepasan dan pengeluaran. . Pantau tanda dan gejala kehilangan cairan berlebihan atau syock. Tujuan:Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 15 menit. Faktor risiko: peningkatan kehilangan cairan secara tidak disadari. Catat waktu dan mekanisme pelepasan plasenta . . . perhatikan ”ballooning”. 3) Resiko kekurangan volume cairan. R : Penyambungan tepi-tepi memudahakan penyembuhan. . Tempatkan bayi di payudara klien bila ia merencanakanuntuk memberi ASI. sianosis.119/79mmHg . R : Menunjukkan relaksasi uterus dengan perdarahan ke dalam rongga uterus. meningkatkan kontraksi miometrik dan menurunkan kehilangan darah. . dan penurunan kesadaran. Instruksikan klien untuk mendorong pada kontraksi. Bantu dalam perbaikan episiotomi bila perlu. R : Kehangatan meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan perfusi jaringan. dengan kriteria hasil tekanan darah dan nadi pasien normal (TD: 110/70.

kelelahan fisik dan psikologis.2. R : Meningkatkan efek vasokonstriksi dalam uterus untuk mengontrol perdarahan pascapartum setelah pengeluaran plasenta. R : Jaringan plasenta yang tertahan dapat menimbulkan infeksi pascapartum dan hemoragi segera atau lambat. 2. R : Bila kehilangan cairan berlebihan. dan lebih banyak waktu di mana miometrium tetap rileks. sifat kejadian intrapartal. sesuai indikasi. R : Kekuatan dapat menimbulkan putusnya tali pusat dan retensi fragmen plasenta. . . . penggantian secara parenteral membantu memperbaiki volume sirkulasi dan oksigenasi dari organ vital. Menunjukkan postur dan ekspresi wajah rileks . R : Intervensi manual perlu untuk memudahkan pengeluaran placenta dan menghentikan hemoragi. Kaji sifat dan derajat nyeri. R : Lebih banyak waktu diperlukan bagi plasenta untuk lepas. Pasien merasakan nyeri berkurang pada skala nyeri (0-2) Intervensi : .4. Pasien melaporkan nyeri berkurang . lebih banyak darah hilang. Bantu sesuai kebutuhan dengan pengangkatan plasenta secara manual di bawah anestesi umum dan kondisi steril. dan pemberian anastesi atau analgesia. jenis persalinan.4 Kala IV 1) Nyeri akut b/d trauma mekanis / edema jaringan. meningkatkan kehilangan darah. Dapatkan dan catat informasi yang berhubungan dengan inspeksi uterus dan plasenta untuk fragmen plasenta yang tertahan. Berikan oksitoksin melalui rute IM atau IV drip diencerkan dakam karutan elektrolit. lama persalinan. Kriteria hasil : . Berikan cairan melalui rute parenteral. . nyeri berkurang. . ansietas Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat mengontrol nyeri. Hindari menarik tali pusat secara berkebihan. .

linen bersih dan kering. Masase uterus dengan perlahan sesuai indikasi. Evaluasi penyatuan perbaikan luka. . . mandi sebagian. . . Inspeksi perbaikan episiotomi atau laserasi. R : Informasi dapat mengurangi ansietas berkenaan rasa takut tentang ketidaktahuan. Multipara. Berikan lingkungan yang tenang. R : Meningkatkan kenyamanan. anjurkan pasien istirahat. Anjurkan penggunaan teknik pernafasan / relaksasi. . hemoroid. distensi uterus berlebihan. Pemberian analgesik sesuai kebutuhan. Berikan kompres es. R : Persalinan dan kelahiran merupakan proses yang melelahkan. Lakukan tindakan kenyamanan (misalnya : perawatan mulut. R : Trauma dan edema meningkatkan derajat ketidaknyamanan dan dapat menyebabkan stress pada garis jahitan. yang dapat memperberat persepsi nyeri. perawatan perineal periodik). R : Membantu mengidentifikasi faktor – faktor yang memperberat ketidaknyamanan nyeri. . rangsangan oksitosin dan menyusui meningkatkan derajat after pain berkenaan dengan kontraksi miometrium. Catat adanya faktor- faktor yang memperberat hebatnya dan frekuensi afterpain. R : Es memberikan anastesia lokal. Dengan ketenangan dan istirahat dapat mencegah kelelahan. perasaan bersih. . meningkatkan vasokontriksi dan menurunkan pembentukan edema. . . perhatikan adanya edema. R : Masase perlahan meningkatkan kontraktilitas tetapi tidak seharusnya menyebabkan ketidaknyamanan berlebihan. R : Meningkatkan rasa kontrol dan dapat menurunkan beratnya ketidaknyamanan berkenaan dengan afterpain (kontraksi) dan masase fundus. Berikan informasi yang tepat tentang perawatan rutin selama periode pascapartum.

apakah perlu oksitosin dan sebagainya. R : Membantu mengidentifikasi laserasi yang potensial terjadi pada vagina dan servik yang dapat mengakibatkan aliran berlebihan dan merah terang. Kontraksi uterus kuat. . 2) Kekurangan volume cairan b/d kelelahan. TTV dalam batas normal . . Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 2 jam. Catat lokasi dan konsistensi fundus setiap 15 menit. tertahannya bekuan darah atau relaksasi uterus. tidak ada bekuan. kegagalan miometrium dari mekanisme homeostatik. R : Kaji manipulasi uterus atau masalah-masalah dengan pelepasan plasenta dapat menimbulkan kehilangan darah. Atonia uteri dapat meningkatkan aliran lokhea. R : Mengoptimalkan aliran darah serebral dan memudahkan pematauan fundus dan aliran vaginal. yaitu dengan menghambat prostaglandin yang merangsang timbulnya nyeri. apakah perlu histerektomi karena ruptur uteri. . R : Aktivitas miometri uterus menimbulkan hemostasis dengan menekan pembuluh darah endometrial. dengan kriteria hasil : . Kaji penyebab perdarahan. Fundus harus keras dan terletak di umbilikus. . diharapkan tidak terjadi kekurangan volume cairan. TD) setiap 15 menit. Anjurkan Tempatkan pasien pada posisi rekumben. Observasi jumlah. warna darah yang keluar dari uterus setiap 15 menit. Intervensi : . kehilangan darah pada persalinan dan lama persalinan tahap II. Kaji jenis persalinan dan anastesia. aliran lokhea sedang. R : Analgesik bekerja pada pusat otak. Perubahan posisi dapat menandakan kandung kemih penuh. . Kaji TTV (nadi. R : Untuk dapat melakukan intervensi. .

Berikan preparat oksitosin atau preparat ergometrin. Ht pada pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan segera. R : Meningkatkan volume darah dan menyediakan vena terbuka untuk pemberian obat-obatan darurat. Beri pasien cairan dan elektrolit peroral jika memungkinkan. R : Membantu memperkirakan jumlah kehilangan darah. menutup pembuluh darah yang terpajan pada sisi bekas plasenta dan menurunkan kehilangan darah. . kadar fibrinogen. . . Takikardia lanjut dapat disertai syok. bila perdarahan berlebihan. Bradikardia dapat terjadi secara normal pada respon terhadap peningkatan curah jantung dan peningkatan isi sekuncup dan hipersensitif vagal setelah kelahiran. Kaji intake dan output cairan. Cek jumlah trombosit. . R : Perpindahan cairan dan darah ke dasar vena. Gantikan kehilangan cairan dengan plasma atau darah lengkap sesuai indikasi. Periksa Hb. dan untuk menentukan jumlah cairan yang harus diberikan. . tingkatkan kecepatan infus oksitosin intravena bila perdarahan uterus menetap. dan produk fibrin split. Pasang infus IV larutan isotonik. R : Penggantian cairan yang hilang diperlukan untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah syok. . penurunan sedang diastolik dan sistolik TD dan takikardia dapat terjadi. atau syok atau ditingkatkan dalam respon terhadap oksitosin. R : Perubahan dapat menunjukkan terjadinya kelainan koagulasi. R : Merangsang kontraktilitas miometrium. R : Untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk dan keluar. Perubahan yang lebih nyata dapat terjadi pada respon terhadap magnesium sulfat. masa protrombin. . dan masa tromboplastin. . R : Untuk mengganti cairan intravaskuler yang hilang karena perdarahan.

pembedahan dapat diindikasikan. Bantu dalam persiapan dilatasi dan kuretase.. perbaiki laserasi jalan lahir. evakuasi hematoma. . R : Bila perdarahan tidak berespon terhadap tindakan konservatif/ pemberian oksitosin. laparotomi.