Anda di halaman 1dari 12

Aku

Rara Glarica

Jam menunjukan pukul dua siang, terik matahari menyelimuti kota tua ini,

kendaraan mengantri indah ditengah hiruk pikuk kota serta halu halang orang

yang sibuk dengan pekerjaannya masing masing .Iya benar kota tua yang

menyedihkan, aku pun bertanya mengapa aku dilahirkan dikota tua ini.

Namun kota tua ini menyimpan banyak cerita, cerita yang tersampul rapih di

balik ketikan tanganku, semua berawal dari sebuah tempat dimana aku

menunggu jawaban yang tak pasti, dengan keraguan penuh tabu. Waktu demi

waktu terlewat sia-sia takut dan gelisahlah yang terasa, namun apa boleh buat

jalan ini sudah pilihan tuhan. Di sudut toko buku ini lah yang menjadi saksi

bisu kejadian itu bermula.

oOo

!!! Kring!!! “halo, dengan siapa?....halo”...tuuuuuuuuuuttt

Siapa sih iseng banget !", kataku kesal. Beberapa menit kemudian telefon

genggamku berbunyi menunjukan 2 pesan masuk.

Pesan Pertama : +6280001....


"Emily Jansen. Ketahuilah kenyataanmu, pergilah kesuatu tempat yang bisa
membuatmu tenang"

Pesan Kedua : +6280001....


"pergilah ke Komplek Mawar Jalan Damai No.131 akan ku berikan sesuatu
tanda awal untukmu"
Aku tercengang membaca pesan seseorang dengan nomor yang sama dan

mengetahui jelas namaku, dengan bodohnya pula menyuruhku pergi ke

tempat yang tak asing di telingaku.

“ ahhh bikin susah aja sih orang, komplek mawar ?” komplek mawar dimana

ya? Kayaknya pernah kesana deh tapi kapan ya?" aku berfikir mengingat

dimanakah tempat yang disebutkan di pesan itu.

“apa iya ini kasus penculikan apa pembunuhan ya ? tapi ga seru banget masa

korban disuruh ke TKP” kataku mengahayal. Tanpa pikir panjang aku pun

langsung bergegas meninggalkan toko buku itu dengan motor mini hitam

yang ku kendarai menuju tempat dimana pesan itu berada. Tiba-tiba cuacah

memburuk seolah menandakan sesuatu hal akan terjadi, entah apa yang aku

pikirkan kebodohan mempercayai pesan aneh.

Laju motor miniku dengan cepat menyelusuri jalan-jalan sepi dikota tua ini,

tiba-tiba ditengah jalan seseorang memanggil jelas namaku, namun suara

yang terdengar jauh itu seketika menghilang. aku pun berhenti ditengah jalan

,jantungku berdebar kencang, langitpun mulai menghitam, langit itu menatap

tajam kearahku menyuruh kembali kerumah dan berlindung dibalik

hangatnya selimut ,namun rasa keingintahuan pesan aneh memenangkan

keputusanku, aku pun menoleh ke belakang dan kesekitarku, mencari orang

yang memanggilku ,lagi-lagi keanehan terjadi saat pandangan tertuju pada

gapura gagah bertuliskan


“KOMPLEK MAWAR” bulu kuduk ku berdiri, rasa takut menertawakanku

di dalam hati, tidak ada satupun orang terlihat di komplek tersebut ,seperti

komplek lama yang sudah tidak di sewakan lagi, dengan keberanianku ,

motor mini ini menuju alamat yang dipesan itu , dengan cermat kuperhatikan

nomor disetiap rumah, tepat di Jalan Damai dengan nomor 131 , aku berdiri

di depan rumah mewah bergaya eropa kuno yang tak terawat ,tak ada tanda

kedatangan seseorang, hanya saja kutemukan sepucuk surat dengan nama ku

didepan gerbang besar itu, sigap ku ambil dan cepat meninggalkan tempat itu

,baru saja sampai di depan gapura tiba-tiba hujan menguyur kota tua ini , aku

dengan cepat membelokkan motor miniku kearah rumah namun hujan sangat

deras ,angin kencang dan gemuruh petir yang terdengar marah menyakitkan

telingaku , cuacah ini tidak memungkinkan aku untuk meneruskan perjalanan

kearah rumah, aku memutuskan untuk meneduh di bawah halte terdekat di

komplek ini, “rasanya ingin ku gas saja motor ini, namun aku perihatin

dengan nyawa yang tersisa satu ini”, berbisik dihatiku, mataku mulai berair

rasanya ingin ku tumapahkan bersamaan dengan langit yang mencoba

menolongku, “bodohnya mengambil tindakan tidak sesuai dengan

umur,terjebak disini sama saja terjebak dineraka” kataku, “tidak nak” jawab

seseoarang paruh baya dengan wajah pucat “kau tidak bodoh” katanya lagi,

mataku terbelak kaget ,rasanya tidak ada seorangpun terlihat datang di halte

ini,”lakukanlah dengan ikhlas untuk mereka" katanya memotong pemikiran


negative ku tentangnya ,”maksudnya pak?” melihat kearahnya ,seketika

bapak paruh baya itu meninggalkanku begitu saja menerjang hujan lebat dan

lenyap dibawah derasnya hujan , tanpa pikir panjang aku nyalakan motor

miniku dan menggas dengan kuat melawan hujan yang deras, rasa takut yang

tak tertahankan ,tak ku pikirkan ,hari ini begitu membingungkan. ya tuhan

apakah maksud dibalik semua ini ?

oOo

Keesokan harinya mengalir begitu saja ,setelah kejadian aneh kemarin aku

tidak berani keluar rumah terlalu jauh, mental anak pecundang yang kini

menjadi status ku, surat yang ku ambil dikomplek itu meringkuk dingin di

dalam lemari belajarku, tak ada nyali membuka apa isi surat tersebut, hanya

saja orang aneh yang menerrorku tiba-tiba berhenti menelfonku dan

mengirimkan pesan, aneh tapi aku merasa lega karena sudah tidak ada yang

membuatku penasaran dan mencoba merelakan nyawaku untuk

mengetahuinya , satu satunya tempat yang berani ku singgahi hanya sampai

toko buku ini, ya benar disinilah tempat tinggalku kedua ,aku menghabiskan

waktu disini berjam -jam untuk melepas semua kejenuhan.

melamun ditoko buku ini sudah menjadi rutinitas ,memikirkan semua

keanehan kemarin yang utama nya . “apa ya maksudnya bapak kemarin?"

Coba kalo kemarin ngikutin dia, kemana ya arahnya ? tapi kok dia bisa tiba

tiba ya ? bapak itu bisa tau dari siapa ya?....” beribu pertanyaan mengiang
ngiang ,menanti jawaban yang pasti,namun tiba tiba berbisik pelan di hatiku

“apa iya bapak itu jahat?

Seketika Petir menyambar keji membangunkan lamunanku, tak sadar sudah 4

jam terbelenggu di toko buku ini, akhirnya aku memutuskan pulang karena

takut badai terjadi lagi, pukul 16.00 WIB , lagi-lagi hujan deras mengguyur

kota tua ini hingga malam dan menutup hari yang penuh ragu.

oOo

Ke esokan harinya aku tertidur si sofa depan dan terbangun Pukul 3.15 WIB,

sunyi senyap rumah ini layaknya rumah kosong tak bertuan. Hanya saja suara

anjing menggonggong seperti serigala itu terdengar miris di telingaku. Bulu

kudukku seketika berdiri dan membayangkan hal-hal yang aneh terjadi lagi

"aduh mana sih ibu kok ga ada dikamar ya" tanganku yang dingin

menggambil telfon genggam dan mencoba menanyakan dimana keberadaan

ibu. 5 tahun lalu ayahku pergi ke kalimantan untuk pekerjaannya yang tidak

jelas, sampai sekarangpun tak ada kabar sedikitpun tentang nya. Namun

herannya ibuku tak pernah menanyakan hal itu dan membicarakannya

sedikitpun denganku, bodohnya aku juga tidak pernah berani menanyakan

bagiamana keadaan ayah, sebenarnya aku juga merindukannya namun apa

boleh buat, aku takut menyakiti hati ibu jika aku menanyakan keadaan atau

hal mengenai ayah, pagi ini mulai menua dan matahari menjunjukan sinarnya

namun aku bingung kemanakah keberadaan ibu, sudah berkali kali nomornya
ku hubungin namun tidak ada jawaban sama sekali. Beberapa hari ini ibu

selalu menghilang tiba tiba tanpa kabar. Dan selalu pulang tepat jam 6 sore,

dan sudah berhari-hari aku tidak masuk sekolah pula karena tak sanggup

dengan kegelisahan yang sedang ku hadapi , bukan itu saja, teman-teman

disekolahpun enggan menanyakan kabarku ,jadi itulah yang selalu menjadi

alasan kuat untuk izin kepada ibu guru jika aku bertemu nanti.

oOo

Setelah sehari ibu menghilang tanpa kabar, tepat Hari ini adalah hari kamis

tanggal 8 januari dimana hari ini adalah hari ulang tahunnya, sekarang pukul

21.30 WIB, dan ibupun belum pulang, aku duduk terdiam didepan pintu

menunggu kedatangan ibu, walau mata sudah tak sanggup lagi tapi

kegelisahan tetap terjaga hingga pukul 1.30 WIB sampai akhirnya aku

putuskan masuk dan mengunci pintu rumah , rasanya ingin memeluk tubuh

ibu, sudah tak tertampung rasa rindu terhadapnya, aku hanya bisa meringkuk

di sofa dan menyalahkan keadaan hingga aku terlelap, pukul 4.30 WIB aku

terbangun dan melihat keadaan rumah , tak ada tanda kedatangan ibu, hanya

saja aku menemukan sepucuk surat merah dilaci kamar ibu , didalamnya

hanya terdapat foto aku dan ayah yang tertuliskan “ kekasih hidupku”, lagi-

lagi rasa rindu itu membuatku menangis ,perih mata ini tak bisa

menggantikan kegelisanku hingga malam, sehari setelah tidak ada kabar dari

ibu ,sesuatu keganjalan terjadi disetiap menjelang malam, aku selalu


mencium semerbak bunga menusuk hidungku, harum semerbak bunga ini

selalu datang dari areal gudang bawah tanah rumahku, tapi bagaimana

mungkin ? tempat itu sudah lima tahun terkunci rapat , bahkan aku yakin

sekali tidak ada satupun orang membukanya , karena warna karatnya itu

mencilat mengihiasi gembok dimana harum itu berasal, anehnya firasatku

selalu membawaku ke arah gudang tersebut,

oOo

Dua minggu berturut-turut ibu selalu menghilang tanpa kabar pasti ,aku heran

, rasanya ingin mencari tahu kemanakah ibu selama ini menginggalkan

rumah tanpa mengabarkanku tapi firasatku kuat sekali untuk memilih pergi

ke areal gudang , entah kebetulan atau tidak setelah malam aku mencium

harum semerbak bunga, malam ini aku mendengar sayup-sayup syair lagu

bersenandung dan menyanyikan sebuah lagu , akupun mencoba mencari tahu

dimanakah sumber itu bersenandung ,lagi-lagi gudang itu , ya gudang bawah

tanah rumahku , jantungku berdegup kencang mencoba berjalan menyelusuri

lorong arah gudang itu ,memberanikan diri mendengarkan senandung lembut

dari areal gudang, tepat tiga langkah menuju bawah tanah arah gudang, tiba-

tiba langkah kakiku kaku tak bisa bergerak, lirik lagu tersebut terdengar jelas

di telingaku dan terus mengiang-ngiang dikepalaku, membuat bulu kuduk ini

berdiri

“ lakukanlah dengan ikhlas untuk mereka” lirik itu mengingatkanku oleh


seorang bapak paruh baya di halte dua pekan lalu, “tidak mungkin, suara itu?

aku tidak mengerti apa yang terjadi “ kataku didalam hati meringis ,air mata

ini mulai jatuh membasahi pipiku , lutuku lemas, aku tak sanggup beranjak

dari lorong tersebut , aku menangis terduduk di dekat pintu gudang itu ,

namun tangisanku terhenti , mendengar langkahan kaki menuju keluar

gudang itu ,dengan sekuat tenaga aku berdiri dan berlari kecil menuju

kamarku , aku membuka pintu kamarku dan menguncinya rapat-rapat , aku

menangis dibawa selimut dan menanyakan apa yang akan terjadi , beberapa

jam kemudian aku tak sadar sudah terlelap hingga pagi menjelang , tepat

pukul lima pagi aku terbangun dan memeriksa seisi rumah , lagi-lagi tak ada

tanda kedatangan ibu , dan tujuan keduaku adalah gudang bawah tanah itu ,

aku memberanikah diri melangkah kearah gudang , namun tak ada keanehan,

gembok itu masih terkunci rapih , akhirnya aku memutuskan kembali ke

kamar mencoba menghubungi ibu , tetap tak ada jawaban satupun dari ibu,

tujuh jam setelah mencoba menghubungi ibu , aku putuskan pergi ke toko

buku,untuk menghilangkan sejenak rasa kegelisahanku, setibanya disana aku

melihat pemuda dengan seragam pos lengkap dengan topi hitamnya sedang

berbincang dengan salah satu karyawan toko, heran matanya selalu melihat

ke arahku , pandangan itu sangat tajam sehingga membuat karyawan itu

merebut surat yang berada ditangan pemuda itu dan meninggalkannya , tak

lama kemudian pemuda itu meninggalkan toko buku itu dengan motor bebek
yang ia gunakan , silang beberapa jam karyawan itu mengampiriku

membawakan sepucuk surat , sungguh aneh bukan ? mana mungkin pos itu

tertuju pada pelanggan toko ? seperti nya penulis surat itu tidak tahu dimana

alamat rumahku ,

“ maaf , apakah kamu Emily ?” tanya karyawan itu sopan ,

“ iya benar , ada apa ?” balasku

“ini kiriman surat , sebelumnya saya tidak tahu darimana asalnya ,tukang pos

itu tidak tahu menau, alamat yang tertuju adalah alamat ini , dan tertera nama

‘untuk emily Jensen pelanggang setia toko gramedi , saya sudah mengcheck

member dan hanya satu yang bernama Emily , kurasa kaulah orangnya “

katanya sambil memberikanku surat

“ iya mungkin benar aku “ jawabku, karyawan itu terlihat aneh, aku sangat

mengerti tatapannya ketakutan, pandangannya pun tak terarah, iya tidak

memandang mataku, Karyawan itu lalu pergi meninggalkanku tanpa

permisi,aku pun tak peduli dan langsung membuka surat

Dear Emily,

Lakukanlah dengan ikhlas untuknya , kau harus bisa menerima

---

Lagi-lagi kata itu menusukku ,secara perlahan aku berusaha berfikir dan

menenangkan diri , “sudah cukup” berbisik di hatiku ,akhirnya aku pun

meninggalkan tempat itu dan memberanikan pulang , di perjalanan aku


berfikir cara menemukan jawaban, hingga tiba di rumah , aku pun

mengecheck seisi rumah namun tak ada tanda kedatangan ibu, tujuan kedua

adalah gudang itu , jam menunjukan pukul 16.30 WIB, “sebentar lagi malam,

aku harus berani melawan rasa takut pada gudang itu “ kataku dalam hati .

Sebelum kearah gudang , aku pergi ke kamarku dan membuka laci meja

belajar , melihat surat yang dulu ku ambil dari rumah tua tak bertuan itu ,

perlahan aku meyakinkan diri membuka surat itu , ternyata surat itu berisikan

foto aku,ibu dan ayah di belakang foto itu tertulis “kenangan manis” , aku

tidak mengerti apa maksud dari surat itu, karena sudah lelah aku tidak

memikirkan keanehan sepucuk surat yang memiliki foto keluargku, aku

melamun hingga jam menunjukan pukul 20.30 WIB ,harum semerbak itu

mulai menusuk hidungku, dan sayup sayup lantunan nada mulai terdengar

.lalu aku tersadar dari lamunanku dan memberanikan diri melangkah ke arah

bawah tanah dimana gudang itu berada, seacara perlahan aku membuka pintu

yang mengarah kebawah dan menuruni setiap tangga hingga akhirnya sampai

di depan pintu gudang itu , harum itu semakin kuat tercium dan senanSdung

itu pun secara perlahan menghilang, iya aneh suara itu menghilang setelah

aku berada tepat didepan pintu masuk gudang itu, aku melihat kesekitarku ,

aku memikirkan cara membuka gembok tua ini, gembok yang sudah tua ini

sepertinya sudah mati bersatu hingga menguning dengan pintu gudang , aku

hanya menaruh tangan ku memegang gembok dengan ratapan menyerah ,


klerk . aku terkejut , ternyata selama ini gembok tua hanya hiasan , gudang

ini tidak pernah terkunci, dengan sekuat tenaga aku berusaha membuka

gudang ini ,Ciiiiiit secara perlahan pintu terbuka , aku terkejut melihat

keadaan didalam banyak foto aku, ayah dan ibu di dindingnya , tempat ini

dingin, lilin dan bunga dimana-mana ,lebih-lebih lagi aku terkejut ternyata

tempat ini bukan gudang melainkan tempat makam tertutup milik keluarga

dan hanya terdapat satu nisan didalamnya, dengan berat hati aku melihat

nama dinisan tersebut dan mataku mulai mengenali nama yang tercantum di

nisan itu ,nama yang sangat aku kenali

“Tidak, ini bohong , semua ini hanya mimpi” katakku,

akupun berusaha mencubit kulitku hingga membiru , namun aku tersadar dan

memahami semua maksud ini, semua yang kurasakan selama ini ,sunyi

senyap dan kehilangan. Semuanya sudah jelas terjawab.

EMILY JENSEN
LAHIR : 8 JANUARI 1906
RIP : 8 JANUARI 1923
Note :
-Yang menjadi Bapak paruh baya dan tukang pos adalah Ayah Emily, ia bisa
melihat roh Emily selalu berada dirumah dan ditoko buku.
-Ibu Emily di asingkan dirumah suci , karena masih trauma dengan kematian
anaknya .
-Kepergian Emily dikarenakan kecelakaan saat pesta ulang tahunnya, dan
dirawat selama 2 tahun di ICCU karena mengalami keumpuhan total serta
hilang sebagian ingatan.
-Lantunan dan wangi bunga adalah isyarat kerinduan seorang ibu.
-Komplek Mawar Jalan Damai No.131 adalah rumah suci dimana ibu Emily
berada.