Anda di halaman 1dari 16

A.

Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang
melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar
dengan maksud dan tujuan menegakkan dan
menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Keinginan dari KH. Akhmad Dahlan untuk
mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai
alat perjuangnan dan da’wah untuk nenegakan amar
ma’ruf nahyi munkar yang bersumber pada Al-
Qur’an, surat Al-Imron:104 dan surat Al-ma’un sebagai sumber dari gerakan sosial
praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid. 104 : hendaklah ada diantara kamu umat yang
menyeru kepada kebaikan, menyuruh dengan ma’ruf (yang baik baik) dan melarang dari
yang mungkar dan mereka itulah yang menang.
KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan
cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan
dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak
ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits.
Ia mendirikan Muhammadiyah bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi
sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.

B. Universitas Muhammadiyah Makassar


Universitas Muhammadiyah Makassar didirikan
pada tanggal 19 Juni 1963 sebagai cabang dari Universitas
Muhammadiyah Jakarta. Pendirian Perguruan Tinggi ini
adalah realisasi dari hasil Musyawarah Wilayah
Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara ke-21 di
Kabupaten Bantaeng.
Pendirian tersebut didukung oleh Persyarikatan
Muhammadiyah sebagai organisasi yang bergerak

1
dibidang pendidikan dan pengajaran dakwah amar ma’ruf nahi munkar, lewat surat
nomor : E-6/098/1963 tertanggal 22 Jumadil Akhir 1394 H/12 Juli 1963 M. Kemudian
akte pendiriannya dibuat oleh notaries R. Sinojo Wongsowidjojo berdasarkan akta
notaries Nomor : 71 tanggal 19 Juni 1963. Universitas Muhammadiyah Makassar
dinyatakan sebagai Perguruan Tinggi Swasta terdaftar sejak 1 Oktober 1965.
Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) sebagai Perguruan
Tinggi Muhammadiyah (PTM) mengemban tugas dan peran yang sangat besar bagi
agama, bangsa dan negara, baik di masa sekarang maupun di masa depan. Selain
posisinya sebagai salah satu PTM/PTS di Kawasan Timur Indonesia yang tergolong
besar, juga padanya tertanam kultur pendidikan yang diwariskan sebagai amal usaha
Muhammadiyah. Nama Muhammadiyah yang terintegrasi dengan nama makassar
memberikan harapan terpadunya budaya, keilmuan dan nafas keagamaan.
Pada awal berdirinya, Universitas Muhammadiyah Makassar membina dua
fakultas yakni fakultas keguruan dan seni jurusan bahasa Indonesia, dan fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan jurusan pendidikan umum (PU), dan pendidikan sosial
(PS) yang dipimpin oleh rektor Dr. H. Sudan. Pada tahun yang sama (1963) Universitas
Muhammadiyah Makassar telah berdiri sendiri dan dipimpin oleh rektor Drs. H. Abdul
Watif Masri.
Perkembangan berikutnya Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun
1965 membuka fakultas baru yaitu: fakultas ilmu agama dan dakwah (FIAD), fakultas
ekonomi (Fekon), fakultas sosial politik, fakultas kesejahteraan sosial, dan akademi
pertanian. Selanjutnya tahun 1987 membuka fakultas teknik, tahun 1994 fakultas
pertanian, tahun 2002 membuka program pascasarjana, dan tahun 2008 membuka
fakultas kedokteran, dan sampai saat ini, Universitas Muhammadiyah Makassar telah
memiliki 7 Fakultas 34 Program Studi dan Program Pascasarjana yang telah terkareditasi
BAN-PT.
Universitas Muhammadiyah Makassar pada Tahun 2003 mengalami tahapan
transisi sejarah perkembangan, berupa perubahan formasi kepemimpinan dengan
bergabungnya generasi muda dan generasi tua. Pimpinan dan seluruh civitas akademika
Universitas Muhammadiyah Makassar bertekad untuk memelihara hasil capaian para
pendahulu dan mengembangkannya kepada capaian yang lebih baik, serta berkomitmen:

2
(1) memelihara kepercayaan masyarakat, (2) mencapai keunggulan dalam kompetisi yang
semakin ketat, dan (3) mewujudkan kemandirian dalam pengelolaan dan pengembangan
diri. Dari ke tiga komitmen tersebut diharapkan dapat mengantar Universitas
Muhammadiyah Makassar untuk menjadi Perguruan Tinggi Islam Terkemuka.

C. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar


Mahasiswa Kedokteran dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang
menuntut ilmu di bidang kesehatan baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir
dan kerencanaan dalam bertindak. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat
merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan
prinsip yang saling melengkapi.
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar
Visi :
“Menjadi Program Studi Kedokteran yang terunggul dan terpercaya dengan luaran
dokter yang beretika, bermoral Islami, dan bernuansa global pada tahun 2020.”
Misi :
1. Menggunakan sistem pembelajaran Problem Based Learning yang terintegrasi pada
nilai yang Islami dalam proses belajar mengajar.
2. Menghasilkan dokter profesional dan berdaya saing mandiri, beriman, dan bertakwa,
serta berwawasan global yang mampu berperan secara holistic dalam mengatasi
kesehatan masyarakat.
3. Menyelenggarakan penyebaran dan penerapan Iptek kedokteran bagi kesejahteraan
masyarakat dan menyelenggarakan pengabdian pada masyarakat secara Islami.
4. Menyediakan jasa konsultasi bagi amal usaha Muhammadiyah.
5. Mengembangkan suatu model pemeliharaan kesehatn individu yang berorieantasi
pada pencegahan (new paradigma in health), dan mengembangkan suatu “health
complex muhammadiyah” yang terpandang di Asia

3
D. Hukum Belajar Kedokteran
Belajar kedokteran hukumnya wajib kifayah. Artinya, apabila sebagian orang
telah melakukannya maka gugurlah kewajiban yang lain. Berkata Abu Hamid al-Ghazali
(wafat tahun 505 H) di awal-awal kitab beliau Ihya’ Ulumuddin, ketika beliau berbicara
tentang ilmu yang hukumnya fardu kifayah; Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang
wajib tidaklah diistimewakan dari yang lain kecuali dengan menyebutkan pembagian
ilmu. Ilmu dikaitkan dengan tujuan yang hendak kita tuju terbagi menjadi ilmu syar’i dan
selain ilmu syar’i.
Adapun ilmu selain ilmu syar’i dikelompokkan menjadi ilmu yang terpuji, ilmu
yang tercela, dan ilmu yang mubah. Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang mendatangkan
kebaikan dalam urusan dunia seperti ilmu kedokteran dan ilmu hitung. Ilmu ini dibagi
lagi menjadi ilmu yang hukumnya fardu kifayah dan ilmu fadhilah
(disunnahkan/dianjurkan) dan hukumnya tidak wajib.
Adapun ilmu yang hukumnya fardu kifayah adalah ilmu yang tidak bisa
dihilangkan demi terlaksanannya urusan-urusan keduniaan. Seperti ilmu kedokteran, ilmu
ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan badan. Dan juga ilmu hitung, ilmu ini
sangat dibutuhkan dalam muamalah sehari-hari, dalam pembagian wasiat dan warisan,
dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini merupakan ilmu yang seandainya di suatu negeri tidak ada
orang menekuninya maka berdosalah seluruh penduduk negeri itu. Dan seandainya ada
satu orang yang menekuninya, maka sudah mencukupi dan gugurlah kewajiban yang lain.
Adapun yang termasuk ilmu yang disunnahkan namun tidak diwajibkan adalah
seperti mendalami detail ilmu hitung, atau mendalami seluk beluk ilmu kedokteran, atau
selainnya melebihi kadar yang secukupnya, namun dapat memberi manfaat tambahan
bagi yang bersangkutan. Adapun ilmu yang tercela adalah seperti ilmu sihir, mantra-
mantra, dan ilmu sulap. Adapun ilmu yang mubah seperti ilmu tentang sya’ir-sya’ir yang
tidak melemahkan akal, atau sejarah-sejarah terkenal, atau yang sejalan dengannya. Dalil
atas semua itu adalah firman Allah Ta’ala,

4
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Alloh dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya
(dirugikan)” (Al-anfal:60)

E. Dokter Muslim
Ilmu kedokteran yang dewasa ini berkembang, umumnya bersifat universal atau
digunakans ecara umum. Karena itu, bagi kaum Muslimin perlu menyeleksinya, dipilih
hanya yang sesuai dengan norma dan kaidah Islam. Sejak dulu kaum Muslimin, dengan
disemangati oleh gerakan islamisasi maka seluruh sendi kehidupan Muslim dijadikan
sebagai bagian pengamalan agama,untuk itu maka dicarilah pijakan-pijakan islamis, juga
dalam praktek pengobatan, atau lebihs pesifik dokter.Meski dalam prakteknya dan
dikaitkan dengan asal sistem atau metode pengobatan bersifatuniversal, namun dalam
Islam terdapat nilai-nilai yang mesti dijunjung tinggi, khususnya dikaitkan dengan
praktek kedokteran, sehingga dikenal dengan kedokteran Islami.Jika merujuk pada karya
klasik, seperti yang terdapat dalam buku al-Qanun fi al- Thibb karya Ibnu Sina, sama
sekali tidak menyinggung soal kedokteran Islam ini.
Menurut analisis 'Abdul Hamid, karena pada masa lalu etika kedokteran tidak
mungkin terpisah dari ajaran umum al-Quran dan Sunnah Nabi. Dengan kata lain, kedua
sumber itu senantiasa berlaku sebagai pembimbing dalam segala aspek kehidupan umat
Islam termasuk bagi dokter dan pasiennya.Konsep tentang dokter muslim ini terkait pula
dengan etika kedokteran, menurut Dr AhmadElkandi, salah seorang pendiri Himpunan

5
Kedokteran Islam Amerika Serikat dan Kanada, bahwa etika dianggap sebagai
persyaratan penting untuk menjadi dokter. Sumpah Hippocrates yang terkenal telah
menekankan fakta ini dan sumpah ini masih berlaku sebagai basis bagiundang-undang
yang dibuat untuk kode etik professional.

F. Konsep Dokter Muslim


Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri, sehingga teladan yang
paling utama adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan
seorang muslim. Akhlak seorang dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang
menjunjung tinggi adab Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagai teladan
yang sempurna dan akhlak Beliau disarikan dari Al-Qur’an itu sendiri sebagai pedoman
hidup seorang muslim. Sebagai hamba Allah, seorang dokter muslim harus mempunyai
tujuan hidup: “Hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah”. Ia semata-mata mengabdi
kepada Allah (QS. Al-An’am: 112) dengan menjauhi segala larangan (QS. Al Imran:
110) dan mematuhi semua perintah Allah, rasul-Nya dan Ulil Amri.
Seorang dokter muslim juga harus mampu mengobati penyakit jasmani,
rohani, sosial serta gangguan pada iman dan Islam pasiennya. Etika/adab yang harus
dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan Muhmmad
Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih
Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas
kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya,
menggunakan metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati,
bersahaja, dan mawas diri.
Seorang dokter muslim harus mampu mengadakan pendekatan kepada
masyarakat. Pasien yang sakit adalah mahluk sosial yang merupakan bagian dari suatu
komunitas yang sakit. Oleh karenanya, seorang dokter muslim tidak boleh hanya melihat
seseorang penderita secara mikro (individual), melainkan juga harus melihatnya
dalam skala makro (ingat konsep bio psykososio kultural dan relegius).

6
Seorang dokter muslim harus menyadari dan menginsyafi bahwa mengobati orang
sakit karena Allah, adalah suatu amal yang amat tinggi nilainya. Dengan demikian, ia
telah melaksanakan dakwah Islam, bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia
pula yang menurunkan obatnya. Dokter hanya dapat mengenali jenis penyakit dan
menuliskan resep, namun hanya Allah jualah yang menyembuhkan. Seorang dokter
muslim menghilangkan anggapan bahwa dialah yang menyembuhkan pasiennya.

Dengan demikian, seorang dokter muslim harus menyadari bahwa ia adalah


khalifah Allah dalam pengobatan yang senantiasa berlaku sopan kepada semua pasiennya
dan selalu mendoakan agar Allah memberikan kesembuhan kepada pasien yang
ditanganinya. Meskipun sudah banyak penulis, alim maupun pakar kedokteran
muslim menyampaikan karakteristik atau ciri dokter muslim, namun sampai saat ini
belum ada kesepakatan mengenai rumusan tertulis dokter muslim yang disetujui oleh
segenap persatuan dokter muslim baik ditingkat nasional, regional maupun
internasional.

G. Karaktertstik Dokter Muslim


Menurut Majid Ramadhan (2004) dalam bukunya “Karakteristik Dokter
Muslim”, ciri dokter yang diharapkan dapat menanggung amanat juga kekahalifahan
adalah :
1. Aqidahnya benar
2. Ikhlas dan tekun dalam bekerja
3. Maksimal dalam spesialisasi profesinya
4. Jujur dalam perkataan dan perbuatan
5. Punya komitmen untuk selalu dapat bermanfaat bagi manusia
6. Pemalu, jujur, dan menjaga rahasia
7. Peka dan penyayang
8. Ikut merasakan rasa sakit pasien (empati) dan membangun optimisme pada pasien
9. Rendah hati, tidak sombong dan ramah
10. Tidak melebih-lebihkan ongkos dan meringankan yang kesulitan
11. Berpenampilan indah

7
12. Menasehati pasiennya, dengan menyuruh kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran.

H. Adab Dokter Terhadap Allah Sebagai Pencipta


1. Beriman
Sebab tanpa iman segala amal saleh sebagai dokter dan tenaga para medis akan
hilang sia-sia dimata Allah.
DalilnyaSuratAl-‘Ashri:

“Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, Selain mereka yang
beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-nasehati dengan kebenaran,Dan
naseha-nasehati dengan kesabaran” (QS. Al-ashr: 1-3)

2. Tulus-ikhlas karena Allah.

“Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan


ikhlas, lurus mengerjakan agama, karena Dia. (QS. Al Bayyinah : 5)

I. Adab Terhadap Diri Sendiri


1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.
Bahwa profesi kedokteran adalah salah satu profesi yang sangat mulia tetapi tergantung
dengan dua syarat , yaitu :
 Dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan

8
 Menjaga akhlak mulia dalam perilaku dan tindakan-tindakannya sebagai dokter

Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan yang merupakan karunia
Tuhan yang paling berharga bagi manusia, sebagaimana dinyatakan dalam hadist
Nabi yang berarti:

”Mohonlah kepada Allah kesehatan, sebab tidak ada sesuatupun yang dianugerahkan
kepada hamba-Nya yang lebih utama daripada kesehatan (HR Ahmad al- Turmudzi ,
dan Ibn Majah)

Disamping itu dokter selalu menjadi tumpuan pasien, keluarga, masyarakat,


bahkan bangsa. Mengingat kedudukan profesi kedokteran tersebut seharusnya dalam
menjalankan profesinya tidak hanya berfikir tentang materi tetapi lebih kepada
pengabdian dan perbaikan umat. Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut
merupakan motivasi untuk memelihara akhlak yang baik dalam hubungannya dengan
masyarakat

2. Berusaha Menjernihkan Jiwa


Kejernihan jiwa akan menentukan kualitas perbuatan manusia secara keseluruhan,
jika seseorang termasuk dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif. Hal
ini sejalan dengan penegasan Rasulullah yang artinya: ”Ingatlah bahwa tubuh manusia
ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruh tubuh menjadi baik dan apabila
buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk, ingatlah atau adalah hati”. (HR Al Bukhari ,
Muslim, Ahmad, Al Darimi , dan Ibn Majah)

3. Lebih Mendalam Ilmu yang Dikuasainya


Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban
sepanjang hidup. Sebagimana diketahui bahwa ilmu pengetahuan itu dari hari
ke hari selalu mengalami perkembangan. Karena itu, agar setiap dokter tidak
ketinggalan informasi dan ilmu pengetahuan dan lebih mendalami bidang profesinya,
maka dituntut untuk selalu belajar. Dalam ajaran Islam sangat ditekankan dalam
mengamalkan segala sesuatu agar dilakukan secara professional dan penuh ketelitian .
Nabi bersabda :

9
“Sesungguhnya Allah menyukai bila seseorang diantara kalian mengerjakan
pekerjaannya dengan teliti”. (HR . Al-Baihaqi)

4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir


Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metode ilmiah
sesuai dengan kaidah logika ilmiah sebagaimana terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran
modern . Ajaran Islam sangat menekankan agarberfikir atau merenung terhadap berbagai
sebab , tujuannya agar mendapatkan keyakinan yang benar . Diantara anjuran berfikir
dengan metode ilmiah , antara lain tersurat dalam firman Allah :

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , silih bergantinya malam dan
siang , bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia ,dan apa
yang Allah turunkan dari langit berupa air ,lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi
sesudah mati ( kering ) nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan , dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi ; Sungguh (
terdapat ) tanda tanda ( keesaan dan kebesaran Allah ) bagi kaum yang memikirkan .
( QS. Al – Baqarah : 164 )

5. Mawas Diri
Meningat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut
nyawa dan keselamatan seseorang. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan, itu
disebabkan adanya anggapan masyarakat yang menganggap mereka adalah orang yang
paling mengetahui rahasia kehidupan dan kematian. Dengan senantiasa mawas diri,

10
seorang dokter muslim akan sadar atas segala kekurangannya sehingga di masa
mendatang akan memperbaikinya, juga akan terhindar dari berbagai sifat tercela lain
seperti sombong, riya, angkuh, dan lainnya.
Di samping sifat-sifat di atas, sesuai dengan tuntunan dalam akhlak islami,
khususnya yang berhubungan dengan profesi kedokteran, dokter muslim harus tulus
ikhlas karena Allah SWT, penyantun, peramah, sabar, teliti, tegas, patuh pada peraturan,
penyimpan rahasia, dan bertanggung jawab, dan lain-lain.

6. Ikhlas, penyantun, ramah, sabar, dan tenang.


Dokter muslim juga harus ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya, semua
dilakukan sebagai ibadah untuk mencari ridha Allah SWT. Berbuat ikhlas sangat dituntut
dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, dalam ayat berikut:

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan
memurnikan keta’atan kepada Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus
(QS. Al Bayyinat ; 5)
Dokter muslim juga di tuntut penyantun, ikut merasakan penderitaan orang lain
sehingga berkeinginan menolongnya. Dokter muslim juga di tuntut ramah, bergaul
dengan luwes dan menyenangkan. Juga di tuntut bersikap sabar, tidak emosional dan
lekas marah, tenang, penyantun, ramah, sebagaiaman dianjurkan dalam ayat Al-Qur’an :

11
Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS.Ali ‘Imran : 159)
Dokter muslim di tuntut memiliki kesabaran dalam menghadapi segala masalah,
tidak emosional dan tidak cepat marah. Sikap sabar sangat dituntut dalam Islam, antara
lain disebutkan dalam Al-Qur’an :

Artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Al- Syura : 43)
Dokter muslim juga dituntut bersikap tenang, tidak gugup dalam menghadapi
segawat apapun. Nabi barsabda : Bersikap tenang kamu sekalian (HR al-Thabrani da
al-Baihaqi).
Dalam menjalankan profesinya, dokter muslim juga dituntut melakukannya
dengan teliti, bersifat hati-hati, cermat dan rapi.
Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang di antara kalian
mengerjakan pekerjannya dengan teliti (HR. al-Baihaqi)
Sikap tegas, tidak ragu-ragu dalam menentukan sikap juga dituntut kepada dokter
muslim. Nabi bersabda : Nabi bersabda : Jika ada keraguan dalam hatimu,
tinggalkanlah itu.”(HR.Ahmad).
Banyak peraturan yang mesti ditegakkan oleh dokter muslim, baik yang
berhubungan dengan profesi kedokteran, berbangsa dan bernegara, lebih-lebih dalam
beragama. Tunduk patuh pada peraturan sangat dianjurkan dalam islam, sebagaimana
anjuran Nabi : Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW bersabda : Dengarkanlah dan
patuhilah walaupun dijadikan kepala atasmu seorang Habasyi…(HR. Bukhari)
Dalam menjalankan pekerjaannya, jika seorang dokter muslim mendapatkan
sesuatu yang tidak baik pada pasiennya maka dituntut agar merahasiakannya. Nabi

12
bersabda : barang siapa menutupi aurat seorang muslim di dunia maka Allah SWT akan
menutupi auratnya di dunia dan akhirat (HR. Ahmad).
Dokter muslim juga mesti bertanggung jawab atas segala resiko dan konsekwensi
dari profesinya. Allah SWT berfirman :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, smuanya itu akan diminta
pertanggung jawabnya. (QS. al –Isra : 36)
Nabi juga bersabda : Setiap kalian adalah penggembla, dan setiap kalian bertanggung
jawab atas gembalanya itu (HR Bukhari dan Ahmad).

J. Adab tehadap pasien


1. Memiliki Rasa Cinta Kasih
Rasa cinta kasih adalah cahaya yang timbul dari hati yang terdalam , dia akan dapat
menyinari orang lain , alam semesta dan segala sesuatu . Cahaya itu kemudian memantul
kepada dirinya dan limpahan kepadanya kejernihan , kerelaan dan kemantapan . Ajaran
Islam sangat menekankan menyintai sesama
2. Keharusan Bersikap Benar dan Jujur
Benar dan jujur bagi seorang dokter yang selalu berkomunikasi dengan masyarakat
merupakan keharusan agar mendapat kepercayaan dari pasien dan masyarakat. Yang di
maksud dengan benar dan jujur di sini adalah sifat yang komprehensif mempunyai
banyak makna, termasuk menepati janji dan menunaikan amanah. Al-Qur’an sangat
menekankan bersikap benar dan jujur, di antaranya terdapat dalam firman Allah SWT :

13
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah
kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. AL-Taubat : 119)
Orang yang tidak amanah dan tidak menepati janji sangat dikecam dalam hadist Nabi :
Tidak ada iman bagi orang yang tidak memelihara amanah, dan tidak ada agama bagi
orang yang tidak menunaikan janjinya. (HR. Ahmad)
3. Berendah hati (Tawadlu)
Setiap orang, terutama orang yang melayani kepentingan umum termasuk dolter dituntut
bersifat rendah hati. Sifat yang sering menyebabkan seseorang dijauhi dalam pergaulan
biasanya karena kesombongan dan keangkuhan. Kesombongan dan keangkuhan biasanya
lahir karena ada perasaan, ilmu, atau pengaruhnya. Ajaran Islam sangan mengecam
perbuatan angkuh dan sombong. Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong. “(QS. Al-Nahl :
23 )
Di sisi lain dijelaskan Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang merendahkan diri
(tawadlu). Nabi bersabda : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa merendahkan diri
karena Allah SWT satu derajat maka Allah SWT mengangkatnya satu derajat sehingga
menjadikannya dalam kelompok ‘iliyyin (surga yang tinggi), dan barang siapa takabur
atas Allah SWT satu derajat, menjadikannya dalam kelompok kaum yang rendah
(neraka) (HR Ahmad).
4. Keadilan dan keseimbangan
Dokter termasuk orang yang paling banyak berurusan dengan masalah manusia dan
kemanusiaan. Kehidupan seseorang, termasuk dokter sangat ditentukan oleh kualitas
hubungan dengan masyarakat itu. Ajaran Islam sangat menekankan berlaku adil dan
berkeseimbangan dalam berbagai urusan, tidak berlebihan atau over acting, dalam gaya
hidup, khususnya dalam masalah tarip praktek dan bayaran sehingga mengurangi dan
menodai prinsip-prinsip yang mesti dijunjung tinggi sebagai pelayan masyarakat

14
Allah SWT berfirman :

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al –Baqarah : 142)

15
16