Anda di halaman 1dari 5

Tugas Sistem Terdistribusi

Karakteristik Sistem Terdistribusi

Oleh:

Dimas Kurniawan
8020160159
02PT5

TEKNIK INFORMATIKA
STIKOM DINAMIKA BANGSA JAMBI
Karakteristik Sistem Terdistribusi

1. Making Resource Accessible


2. Distribution Transparency
3. Openness
4. Scalability
5. Concurrency
6. Fault Tolerance
1. Making Resource Accessible
Kemampuan menggunakan hardware, software atau data dimanapun dan kapanpun.
Karakteristik ini juga yang menentukan siapa saja yang dapat mengakses sebuah
resource dalam sebuah sistem terdistribusi. Salah satu contohnya dalam sebuah web,
terdapat .htaccess yang hanya dapat diakses oleh user-user yang telah memiliki grant
access terhadap file tersebut.

2. Distribution Transparency
Secara umum, transparansi disini tidak berlaku untuk user biasa yang mengutamakan
fungsionalitas, apakah ia sedang menggunakan sistem yang terdistribusi atau tidak.
Namun secara khusus bagi seorang pengelola baik itu developer atau administrator
sistem sangat perlu untuk mengetahui arsitektur dari sistem yang sedang digunakan
karena untuk mempermudah bagi mereka dalam mengembangkan dan memelihara
sistem tersebut.
hal ini dipisahkan lagi menjadi 7 fungsi yang berbeda adapun fungsi tersebut adalah
sebagai berikut :

 Access transparency
Sumber daya lokal dan remote di akses dengan menggunakan operasi yang sama.

 Location transparency
Pengguna sistem tidak tahu mengetahui keberadaan hardware dan software(CPU,…le
dan data).

 Migration (Mobility) transparency


Sumber daya (baik berupa Hardware dan/atau software) dapat bebas berpindah tanpa
mengubah sistem penamaan.

 Replication transparency
Sistem bebas untuk menambah …le atau sumber daya tanpa diketahui oleh user (dalam
rangkan meningkatkan kinerja).

 Concurency transparency
User tidak akan mengetahui keberadaan user lain dalam sistem, walaupun user tersebut
menggunakan sumber daya yang sama.
 Failure transparency
Aplikasi harus dapat menyelesaikan prosesnya walaupun terdapat kegagalan pada
beberapa pada komponen sistem.

 Performance transparency
Beban kerja yang bervariasi tidak akan menyebabkan turunnya kinerja sistem, hal ini
dapat di capai dengan melakukan automatisasi konfigurasi terhadap perubahan beban.

3. Openness
Sebuah keterbukaan dalam sistem terdistribusi memiliki pengertian kemampuan sebuah
sistem dalam mengembangkan fleksibilitas terhadap peningkatan kinerja sebuah sistem.
Seperti penambahan module baru dan ketersediaan extension / plugin yang dapat
terkoneksi dengan sistem lain. Contoh karakteristik ini misalkan sebuah aplikasi web
banking yang dapat terhubung dengan sistem web milik perusahaan finance.

 Setiap layanan (services) harus dapat di akses oleh semua user.


 Mudah dalam implementasi, install dan debug services;
 User dapat membuat dan menginstall service yang telah dibuat oleh si user tersebut.

4. Scalability
Skalabilitas memiliki pengertian bahwa sebuah sistem terdistribusi harus dapat
ditingkatkan kinerjanya tanpa mengubah komponen-komponen di dalamnya. Sebagai
contoh, sebuah aplikasi web yang digunakan oleh user yang terlalu banyak. Maka untuk
meningkatkan kinerja dari web tersebut agar tidak terjadi overload atau system down
maka perlu dilakukan upgrade processor dan ram. Dalam proses upgrading tersebut,
komponen dalam web tidak perlu diubah.

 Kinerja dari pada personal workstations


 Kecepatan infrastruktur komunikasi
 Fleksibilitas dalam membagi beban kerja : contoh, apabila terdapatprosesor
(workstation) yang idle maka dapat di alokasikan secara otoma-tis untuk mengerjakan
tugas2 user.
5. Concurrency

Semua proses dalam sistem terdistribusi dilakukan secara concurrency (secara bersama-
sama). Hal ini dilakukan untuk mencegah inkonsistensi dan ketidak valid an sebuah data
dan proses. Sebagai contoh dalam sebuah aplikasi web yang diakses oleh banyak user.
Ketika server melakukan sebuah update. Maka semua user yang mengakses halaman
web tersebut akan langsung mendapatkan update terbaru tersebut.

6. Fault Tolerance

Kesalahan pasti terjadi dalam sebuah sistem. Entah itu disebabkan karena masalah
jaringan, power supply, bencana alam atau human error. Sebuah sistem terdistribusi
dirancang memliki kemampuan untuk menangani hal-hal tersebut. Contoh dalam hal ini
adalah dibangunnya sebuah clustering server. Dimana ketika server utama mengalami
down karena beberapa penyebab kesalahan, maka extended server langsung
membackup sistem utama dan menggantikannya.