Anda di halaman 1dari 3

1.

Tingkat Kesetaraan Gender dalam Kontrol atas Sumber Daya

Dalam bidang peternakan yang termasuk kedalam kontrol sumber daya adalah akses
kandang, input ternak, tenaga kerja, penyuluhan, rapat koperasi, kelompok ternak, kredit, dan
pasar. Kontrol memiliki arti yaitu penguasaan atau wewenang atau kekuatan untuk
mengambil keputusan. Dalam hal ini menunjukkan apakah pengaabilan keputusan
didominasi oleh gender atau tidak. Kontrol atas sumber daya pada kesetaraan gender dapat
dikategorikan menjadi rendah, sedang dan tinggi. Sementara hasil dari penelitian
menunjukkan sebagian besar rumah tangga responden termasuk dalam kategori tingkat
kesetaraan gender sedang (46%) dan sebanyak 40 % menempati kategori rendah.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sari, dkk (2009) yang menyatakan bahwa kontrol
atas sumber daya cenderung dirasakan oleh satu pihak saja yaitu laki-laki saja. Dengan
adanya isu subordinasi menyebabkan yaitu suatu keyakinan dimana salah satu jenis kelamin
lebih baik, lebih penting, atau lebih diutamakan dibandingkan jenis kelamin yang lain. Hal
tersebut sejalan dengan pendapat Fakih (1996) yang menyatakan bahwa batasan kultural dan
agama menyebabkan perempuan memilik peluang yang lebih rendah dibandingkan dengan
laki-laki dalam pengambilan suatu keputusan. Oleh karena itu laki-laki memiliki kewenangan
dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga karena laki-laki dianggap sebagai kepala
keluarga.

2. Tingkat Kesetaraan Gender dalam Kontrol atas Manfaat

Aspek manfaat dalam hal ini yaitu akses hasil penjualan susu sapi, manfaat pendapatan
usaha, pemenuhan kebuthan dasar, manfaat kredit usaha, dan pengetahuan usaha ternak.
Kontrol atas manfaat memiliki arti pengambilan keputusan, kekuasaan dan manfaat yang
telah di dapat. Hasil dari penelitian menunjukkan sebagian besar rumah tangga responden
menempati tingkat kesetaraan gender dalam control atas manfaat pada kategori rendah
(66%). Hal ini tersebut menyatakan bahwa kesetaraan pengambilan keputusan atau kontrol
atas manfaat masih timpang antara laki-laki dan perempuan.

3. Hubungan Karakteristik Rumah Tangga Peternak dengan Tingkat Kesetaraan


Gender dalam Pembagian Kerja

Dalam hal ini, pembagian kerja dapat dilihat dari tingkat curahan waktu kerja produktif
laki-laki dengan tingkat curah waktu kerja produktif perempuan. Adapun karakteristik rumah
tangga responden memiliki hubungan dengan tingkat curahan waktu kerja laki-laki yaitu
jumlah kepemilikan ternak. Umur, tingkat pendidikan, jumlah tenaga kerja, jumlah
tanggungan rumah tangga, dan luas kepemilikan kandan tidak memiliki hubungan yang
signifikan dengan curahan waktu kerja produktif laki-laki.

Tingkat pendidikan laki-laki tidak berkaitan dengan tingkat curahan kerja produktif laki-
laki. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Handayani (2014) yang menyatakan bahwa tingkat
pendidikan laki-laki tidaj ada hubungannya dengan curahan kerja produktif laki-laki dalam
usaha ternak. Sementara jumlah kepemilikan ternak terdapat hubungan yang signifikan
dengan tingkat curahan waktu kerja produktif laki-laki. Hal ini sesuai dengan pendapat
Handayani (2014) yang menyatakan bahwa jumlah kepemilikan ternak memiliki korelasi
yang positif dengan curahan waktu kerja laki-laki.

Luas kepemilikan kandang tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan curahan
waktu kerja produktif laki-laki. Dalam hal tersebut luas kepemilikan kandang sempit, sedang
maupun luas, tingkat curahan waktu kerja produktif laki-laki termasuk kedalam kategori
sedang ke tinggi.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tingkat curahan waktu kerja produktif laki-laki
yang tinggi sebagian besar dimiliki oleh responden dengan umur dewasa menengah yaitu 31
sampai 50 tahun (60,07%). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mugniesyah (2009) yang
menyatakan bahwa tugas perkembangan pada umur dewasa menengah, salah satunya yaitu
mencapai dan mempertahankan suatu tingkat kehidupan ekonomi. Oleh sebab itu laki-laki
pada umur dewasa menengah sebagian besar memiliki curahan kerja produktif yang lebih
tinggi daripada kategori umur lainnya.

Sementara itu, jumlah kepemilikan ternak memiliki hubungan yang signifikan dengan
tingkat curahan waktu kerja produktif laki-laki, karena semakin banyak jumlah ternak maka
semakin banyak waktu yang diperlukan untuk pemeliharaan, mengumpulkan pakan dan
memerah sapi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Handayani (2014) yang menyatakan
bahwa jumlah kepemilikan ternak memilik korelasi yang positif dengan curahan waktu kerja
laki-laki. Sementara iru, karakteristik rumah tangga memiliki hubungan yang signifikan
dengan curahan waktu kerja produktif perempuan adalah jumlah tenaga kepemilikan ternak
dan jumlah tenaga kerja.

Jumlah tenaga kepemilikan ternak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat
curahan waktu kerja produktif perempuan. Semakin banyak kepemilikan ternak, perempuan
semakin diperlukan untuk terlibat membantu usaha ternak atau membantu suaminya.

Jumlah tenaga kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat curahan waktu
kerja produktif perempuan. Semakin tinggi jumlah tenaga kerja maka akan semakin tinggi
curahan waktu kerja perempuan. Hal tersebut bias terjadi apabila usaha ternak memiliki sapi
yang banyak maka akan dibutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak khususnya tenaga kerja
luar rumah tangga. Tenaga kerja tersebut membantu kegiatan produktif yang dominan
dilakukan oleh perempuan.

4. Hubungan Karakteristik Rumah Tangga Peternak dengan Tingkat Kesetaraan


Gender dalam Akses terhadap Sumber Daya
Karakteristik rumah tangga yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat
kesetaraan gender dalam akses terhadap sumber daya adalah umur, dan jumlah kepemilikan
ternak. Dalam rumah tangga yang memiliki umur responden semakin tua, semakin tinggi
tingkat kesetaraan dalam akses terhadap sumber daya usaha ternak. Hal ini karena beberapa
responden dengan umur muda memiliki pandangan bahwa istri harus dirumah, mengurus
anak, dan tidak perlu ke kandang. Hal tersebut menyebabkan akses perempuan pada umur
muda dan menengah lebih rendah daripada umur tua, sehingga tingkat kesetaraan gender
dalam akses terhadap sumber daya menjadi rendah.

Sementara itu, jumlah kepemilikan ternak memiliki hubungan yang signifikan dengan
tingkat kesetaraan gender dalam akses terhadap sumber daya. Semakin banyak jumlah
kepemilikan ternak, semakin tinggi tingkat kesetaraan gender dalam akses terhadap sumber
daya. Hal ini karena semakin banyak ternak yang dimiliki maka semakin banyak tenaga kerja
yang dibutuhkan untuk untuk membantu produksi usaha ternak. Kesetaraan gender antara
laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga usaha ternak menggambarkan adanya
kesempatan yang setara dan mewujudkan kerjasama antara laki-laki dengan perempuan
dalam mengelola usaha ternak.