Anda di halaman 1dari 13

ARTI TEMAN SEBENARNYA

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu


Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Rejang Lebong
2019
BIODATA TOKOH

1.

Sebagai

Febri Nadia Putri Siregar Clara (Cewek pelupa, ceroboh, dan


bodoh. Bersahabat dengan Rere)

2.

Sebagai

Oktri Nadilah Rere (Cewek berkacamata dan lucu &


kadang dewasa. Merupakan waketos)

3.

Sebagai

Fira Pratiwi Tetta (Cewek pemarah yang tak mau


kalah. Bersahabat dengan Lily)
4.

Sebagai

Rizki Putri Rahmadhanti Lily (Cewek pendiam yang hobinya


membaca novel. Jarang berbicara dan
cukup cerdas, sahabat Tetta)

5.

Sebagai

Theovani Fujiani Bu Riska (Ibu BK yang tegas)

6.

Sebagai

Huffazhoh Ilmiati Shinta (Cewek pemarah, cerewet,


menel. Berteman dengan Raka dan
Jessika. Mereka dijuluki 3 Serangkai
Menel oleh Clara, Rizal dan Rere)
7.

Sebagai

Ananda Rohaini Jessika (Pemarah, menel, dan centil)

8.

Sebagai

Tasa Absal Thoriq Rizal (Cowok nakal dan jahil.


Bersahabat dengan Raka dan Aldi)

9.

Sebagai

Muhammad Iqbal Raka (Selalu bersama Rizal. Setia


kawan dan nakal)
10.

Sebagai

Satria Bayu Pamungkas Aldi (Berbeda dengan Raka dan


Rizal, Aldi lebih dewasa dan peduli
sesama. Murid kesayangan Bu Riska.
Menjabat sebagai Ketua Osis)

11.

Sebagai

Thien Fransisco Narator dan Pak Ojon


Naskah

ARTI TEMAN SEBENARNYA

BAGIAN 1
Disarankan kepada semua penonton untuk tetap duduk di tempatnya masing – masing.
Karena setelah melihat drama ini kalian bisa merasakan pusing, mual, dan penyakit stress
lainnya.
Hari Sabtu, Raka dan Rizal datang ke sekolah nya untuk latihan Futsal. Ternyata, tidak ada
seorangpun di sana. (Soundtrack : Masa SMA)
Rizal : “Apaan tuh musik? Ga cocok! Ganti-ganti!” (Kemudian Soundtrack lain
diputar)
Rizal : “Woy Ka, woy woy woy!”
Raka : “Kenapa?”
Rizal : “Diem bae, gausah galau gitu lah.”
Raka : “Ya gimana nggak galau zal, aku ini masih gak terima sama alasan dia
mutusin aku malam tadi.”
Rizal : “Nggak terima gimana?
Raka : “Ya masa, aku sudah pacaran 3 tahun terus diputusin gara - gara ga solat
jumat.”
Rizal : “Ah alay kamu. Zaskia Gotik ditinggal kawin pas lagi sayang-sayangnya
sama Vicky biasa aja tuh. Kamu aja yang lemah.”
Raka : “Ya, Zaskia Gotik kan enak dia orang kaya, lah aku manusia biasa yang
langit hanya sebagai atap rumahku dan bumi sebagai alasnya.”
Rizal : “Ah, sok puitis kamu. Udah jam berapa ini gak ada guru nih. Gimana dong
bro?”
Raka : “Ya mau kayak gimana? Pulang?”
Rizal : “Huft, ogah ah! Aku udah mahal-mahal isi bensin, ke sekolah jauh - jauh,
abis itu, balik lagi? Huft, gak gak, deh!”
Raka : “(Tertawa) Ahahaha banyak banget alasan kamu, bilang aja, kalo kamu mau
main kan? (Memukul pundak Rizal) Ga usah bohong deh.”
Rizal : “(Tertawa) Ahhahaa tu, tau?”
Raka : “Ahahaha tau lah, yaudah. Kita main aja, yuk?”
Rizal : “(tertawa) Bener juga ya! (Mengacungkan jempol) Aku suka ide kamu!
(Tertawa) hahahhaa.”
Raka : “Raka gito lho. Udah pinter, cakep lagi!”
Rizal : “(Memukul pundak Raka) Tapi pinter nya kadang-kadang, nah, begonya itu
keterusan!”
Raka : “(Balik memukul pundak Rizal) Sialan, kamu!”
Rizal : “(Mengelus pundak nya) Yaudah, sekarang gimana? Mau kemana nih! Bosen
aku!”
Raka : “(Memukul Rizal) Bego kamu ya, ya main lah!”
Rizal : “(Marah) Ya main apa?! (Mengelus pundak nya) kamu daritadi mukulin aku
terus! Sakit tau!”
Raka : “(Tertawa) Maaf bro. Yaudah, sekarang ngapain?”
Rizal : “(Mengejek) Nah, kan? Bolot nya kumat.”
Raka : “(Menggarukkan kepala) Hhhmmm (menunjuk ke suatu tempat) gimana kalo
ke situ aja? Aku mau liat-liat.”
Rizal : “Lebay kamu, kayak ga pernah kesitu aja.”
Raka : “Ah! Bawel! Ayok!”
Rizal : “ Iya!”

BAGIAN 2
Mereka berdua pun berlari ke tempat tersebut. Ternyata di sana sudah ada Clara, Aldi, Rere
dan Bu Riska. Lalu mereka pun mengampirinya.
Rizal : “(Berteriak) Heeyyyy! Kalian pada ngapain?”
Aldi : “(Menoleh kea rah Rizal dan Raka) Eh, kalian berdua? Ngapain di sini?”
Clara : “Aduh aduh si Aldi, orang Rizal nanya malah nanya balik. (Menggelengkan
kepala) is is is.”
Aldi : (Tertawa)
Raka : “(Menarik lengan Rizal) Woi Zal! Salim Sama bu Riska! Bu.” (Raka dan
Rizal pun menyalimi bu Riska)
Bu Riska : “(Menggelengkan kepala) Kalian ini, ada gurunya kok gak salim? Gak
sopan!”
Rizal : “(Tertawa) Maaf buu..! Abis ibu ga keliatan, sih!” (tertawa)
Bu Riska : “(Menjewer telinga Rizal) Memang nya kamu udah tinggi ya? Satu centian
aja belum sampai!”
Raka : “Emang sok tinggi tau bu.” (tertawa)
Clara : “(Bingung) Kalau Rizal tinggi nya satu centian, kok lebih tinggi dari saya,
bu? Harus nya kan se-ikan teri!”
Rere : “Itu seumpama Clara.”
Clara : “O..oh.”
Rere : “Kalian ngapain disini?”
Raka : “Kita mau latihan futsal, rencana nya. Tapi ga tau nya gurunya paling
ngilang entah kemana. (Mendesah putus asa) Sialan.”
Clara : “(Heran) Kalo ilang, kok gak ada beritanya? Harus nya kan masuk tv?”
Bu Riska : “(Menjitak Clara) Hush! Kok malah nyumpahin!”
Clara : “(Mengelus kepalanya) Bukanya nyumpahin, bu. Tapi saya heran aja. Orang
ilang kan masuk berita, yeah.. paling enggak koran lah? Atau radio.”
Rere : “(Membentak) Clara..! Kamu itu begonya kebangetan ya!”
(Tiba-tiba handpone bu Riska berbunyi)
Aldi : “Begonya ga ketolongan. Raka itu cuma bercanda..
Clara : “(Heran) Kalo becanda, masa gurunya beneran ilang? Atau jangan - jangan
Raka bisa sihir?”
Rere : (Kesal) Aduh Clara.. Ya engggak lah!”
Raka : “Iya aku punya! Nanti kamu aku sihir biar pinter! Biar ga bolot lagi!”
Clara : “(Takjub) Hah? Beneran? Mau dong! Mau! Aku kan mau otak kayak Albert
Einstein!”
Raka : “Jangan kan otaknya, nanti aku sihir kamu jadi Albert Einstein nya
sekalian!”
Rizal : “(Mengelus dada) Huu.. Sabar.. Sabar..”
Clara : “(Menatap Rizal heran) Kok ngelus dada? Bilang sabar, lagi?”
Rizal : “Iya, sabar.”
Clara : “Biar apa?”
Rizal : “(Kesal) Biar aku gak nonjok kamu Clara!”
Clara : “(Bingung) Kok, aku mau di tonjok? Emang aku salah apa?” (Semuanya
tertawa, kecuali Rizal dan Clara)
Rizal : “(Kesal) Re..! Kamu kok bisa tahan sih, temenan sama ni makhuk?!”
Rere : “(Tertawa) Udah terlatih, Zal. Ini anak telmi banget. Tapi aku udah biasa.
(tertawa) Jadi kalo ngobrol sama dia iman nya harus kuat. Biar gak khilaf.”
Rizal : “(Mendesah putus asa) Tapi masalah nya dia overdosis, Re!”
Clara : “(Kaget) Hah? Siapa yang overdosis? Nanti aku beli..”
Rizal : “(Membentak) Aku ga nanya kamu Clara..! Iman aku belum kuat!”
Aldi : “Cuma orang tertentu kayak nya yang bisa ngobrol sama dia?”
Clara : “(Kesal) Siapa yang bilang? Rere biasa aja tuh?”
Aldi : “Nah, itu yang aku maksud orang tertentu.”
Clara : “(Kesal) Enggak kok! Semua orang bisa ngo...”
Rere : “(Mendekap mulut Clara) Mendingan kamu diam deh. Nanti lama - lama
kamu pulang gak selamat gara-gara di keroyokin.”
Clara : (Diam)
(Rizal dan Raka bernapas lega)
Raka : “Nah, kan ini anak udah di taklukin, sekarang, aku mau nanya. Kalian mau
ngapain?”
Aldi : “Mau nyari kantong ajaib Doraemon terus bantuin kera sakti nyari kitab suci
lalu nemenin Naruto ngalahin Madara biar dia jadi hokage, Ka.”
Clara : “Hah? Seriusan?”
Aldi : “Ya enggaklah! Kita kan ditugasin buat ngontrol sekolah sama bu Riska.
Takut ada apa - apa.”
Raka : “(Menunjuk Clara) Nah, ni anak? Kok ada di sini?”
Rere : “(Mengangkat jari telunjuk) Aku yang ngajak. Kenapa? Ada dia kan seru.”
Raka : “(Mengejek) Seru? Ngeselin mah iya!”
Rere : (Tertawa)
Aldi : “Yaudah, gimana kalau kalian ikut kami ngontrol sekolah?”
Rizal : “(Senang) Ah! Ide bagus!”
Raka : “Aduuuhhh, perut aku sakit.” (Berguling-guling sambil memegang perutnya)
Rizal : “Ah, kok malah ngajak main guling sih?”
Raka : “Ini tuh sakit perut tau!”
Rizal : “Ayolah ikut kami aja.”
Raka : “Bentar-bentar, aku mau ke WC dulu.” (Raka pun berlari dengan tergesa–
gesa)

BAGIAN 3
Mereka pun berkeliling sekolah. Ternyata, mereka bertemu dengan Tetta dan Lilly yang
sedang kebingungan mencari sesuatu.
Aldi : “Tetta, Lilly? Kalian kok, disini? Ada apa?”
Tetta : (Hanya diam. Tetap mencari sesuatu)
Lily : “Dompet nya Tetta ilang, Al”.
Rere : “(Kaget) Kok bisa? Emang berapa duit nya?”
Lilly : “(Berpikir) Gak tau, berapa Ta?”
Tetta : “250 Ribu!”
Bu Riska : “Kok bisa? Kamu ceroboh, ya?! Kenapa kamu bisa bawa uang sebanyak
itu?”
Tetta : “(Gelisah) Tadinya saya mau beli novel bareng Lilly hari ini, gak tau nya
pas hari Sabtu dompet saya ketinggalan di laci, bu.”
Clara : “Udah ketemu?”
Tetta : “(Marah) Ya belom, lah! Kalo udah ngapain saya di sini?”
Clara : (Diam)
Tetta : “(Memohon) Bu.. Tolongi saya bu? Bantuin saya cariin dompet saya, bu.”
Bu Riska : “(Bingung) Yaudah, Aldi, Rere?”
Aldi dan Rere : “(Bersama) Iya bu?”
Bu Riska : “Besok kalian tolong razia sekolah ya? Periksa seluruh tas ya?”
Aldi dan Rere : “(Bersama) Baik bu.”
Clara : “Tapi bu. Kalau besok sudah terlambat!”
Tetta : “(Marah) Kenapa?”
Clara : “Pasti uang nya abis kan? Iya gak, Li?”
Lilly : “Iya, Bu. Mana mungkin uang sebanyak itu di sisih kan. Pasti langsung di
habiskan untuk menghilangkan barang bukti.”
Aldi : “Kalian diam dulu lah. Sini biar aku tanya sama bapak itu. Pak, pak bapak
ada ngeliat dompet disekitar sini ga?”
Pak Ojon : “Wey dak ado, jangankan nemu dompet, untuk makan ambo hariko bae
ambo dak punyo!”
Rere : “Is bau, bapak ga mandi ya?”
Pak Ojon : “Nah apo lagi itu, cak mano kito nak mandi kalo dak ado rumah?”
Aldi : “Yaudah. Sekarang kita ke kelas aja ya?”
Clara : “Emang uangnya ada di kelas?”
Rizal : “Bukan, di jamban!”
Clara : “Kok bisa?”
Rere : “Aduuh..Clara! Jangan mulai, deh!”
(Saat mereka pergi, ternyata Raka menemukan dompet yang dipegang oleh Pak Ojon saat ia
sedang berjalan)
Raka : “Eh pak, pak. Itu dompet saya.”
Pak Ojon : “Dompet kau aponyo?! Ikoko punyo aku.”
Raka : “Ah beneran pak?”
Pak Ojon : “Dak tau kau kek ambo hah? Ambo ko preman. Kalo ambo ngomong punyo
ambo yo punyo ambo!!”
Raka : “Tapi kan pak.”
Pak Ojon : “Tapi aponyo?! Ngajak belago bae pela!”
Raka : “Hmmmmm. Gimana kalo kita tukaran aja pak?”
Pak Ojon : “(diam berpikir) Nah jadi jugo!”
Raka : “Bagus pak. Isi dompet ini kan ga seberapa.”

BAGIAN 4
Mereka pun menuju ke kelas. Di sana sudah ada Raka, Jessika dan Shinta. Mereka terlihat
sedang menyembunyikan sesuatu.
Bu Riska : “(Berteriak) Raka! Jessika! Shinta! Kalian kenapa di sini? Dan dompet siapa
itu?!
Raka : “(Gugup) Anu.. Ini dompet saya, bu.”
Tetta : “(Menunjuk dompet tersebut) Itu dompet saya, bu! Itu dompet pemberian
pacar saya tercinta”
Raka : “(Marah) Sembarangan banget, kamu?! Ini dompet saya! Ini kado ulang
tahun aku. Iya kan?”
Shinta : “Iya.”
Lily : “Itu kan dompetnya Tetta! Liat aja warnanya pink. Balikin!”
Jessika : “Apaan sih, kamu cupu! Ikutan aja!”
Shinta : “(Kesal) Tau ni! Si cupu!”
Jessika : “(Menjulurkan lidah nya) Huuu! Ngaku - ngaku!”
Shinta : “Tau!”
Tetta : “(Ingin menangis) Bu.. Ini punya saya bu. Sumpah!”
Bu Riska : “(Bingung) Raka, sini dompetnya Tetta!”
Raka : “(Kesal) ini bukan dompet Tetta bu! Punya saya!”
Jessika : “Dia itu Cuma ngaku - ngaku, bu!”
Shinta : “Iya! Ngaku - ngaku!”
Clara : “Cepetan sini, dompet nya!”
Shinta : “Alah! Clara! Kamu itu sengaja mau belain Tetta biar duit 250 di dompet ini
jadi bagi dua, kan? Sama kamu?” (Semua orang kaget)
Jessika : “(Menginjak kaki Shinta) kamu bego banget, sih! Jadi kita ga jadi beli ayam
geprek”
Tetta : “(Kesal) Tuh, kan bu! Itu dompet saya!”
Bu Riska : “Raka, Jessika, Shinta. Balikin dompet nya Tetta. Sekarang! Saya bisa aja
ngeluarin kalian dari sekolah ini!”
(Mereka bertiga pun berdiskusi, pada saat itu Raka pun mengambil uang Rp. 50.000 dari
dompet Tetta)
Jessika : “(Takut) Ampun, bu! Ini, saya balikin! Tapi jangan keluarin saya bu! Saya
masih mau sekolah”
Shinta : “Iya, Bu! Jangan laporin kita, dong bu! Maaf ya bu, janji nggak bakal
ngulangin lagi” (Bu Riska mengambil dompetnya dan menyerahkan kepada
Tetta)
Tetta : “Bu, kok isinya kurang bu?! Disini cuma ada 200 ribu, seharusnya kan 250
ribu. Terus 50 ribunya lagu kemana dong bu?” (Jessika dan Shinta menunjuk
Raka)
Raka : “Buu! Ampun bu! Jangan keluarin saya!”
Bu Riska : “Ini semua tergantung dengan keputusan teman-teman. Termasuk Tetta.”
Raka : “Maafin aku ya, Ta?”
Tetta : “Ih malas banget aku maafin mereka.”
Lilly : “Ta, maafin aja.”
Tetta : “Iya, deh. Tapi jangan ulangin lagi!”
Raka, Jessika, Sinta : “(Bersama) iya!”
Rizal : “Munafik kamu, teman lama apaa kamu?! Nemu dompet tapi ga bagi-bagi.”
(Kemudian Raka dan Rizal pun berkelahi, bu Riska dan Aldi pun melerai mereka)
Aldi : “Kan aku udah bilang, kita itu ga boleh ikutan kalo cewek lagi berantem.
Memang cewek itu menyeramkan.”
Clara : “Bu, berarti masalah nya selesai, dong?”
Rere : “Ya iyalah Clara! Udah deh! Jangan mulai!”
(Semuanya tertawa)
Akhirnya pencuri tersebut di temukan. Sejak kejadian itu, Wulan dkk menjadi anak yang
baik, dan mereka tidak ada lagi permusuhan. Clara menjadi akrab dengan Wulan yang
tadinya bermusuhan.
TAMAT