Anda di halaman 1dari 121

BABIV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Objek Penelitian

4.1.1. Sejarah BEI

Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia

merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial

Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu

didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah

kolonial atau VOC.Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912,

perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang

diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami

kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang

dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada

pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan

operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagimana mestinya.Pemerintah

Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan

beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring

dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, atau Indonesia Stock

Exchange (IDX) merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek

Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Demi efektivitas

operasional dan transaksi, Pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa

Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai

40
41

pasar obligasi dan derivatif. Bursa hasil penggabungan ini mulai beroperasi

pada 1 Desember 2007.BEI menggunakan sistem perdagangan bernama

Jakarta Automated Trading System (JATS) sejak 22 Mei 1995, menggantikan

sistem manual yang digunakan sebelumnya. Sejak 2 Maret 2009 sistem JATS

ini sendiri telah digantikan dengan sistem baru bernama JATS-NextG yang

disediakan OMX.Bursa Efek Indonesia berpusat di Gedung Bursa Efek

Indonesia, Kawasan Niaga Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman 52-53,

Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

4.1.2. Visi Misi BEI

4.1.2.1.Visi:

“Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia”

4.1.2.2. Misi

Membangun bursa efek yang mudah diakses dan memfasilitasi

mobilisasi dana jangka panjang. untuk seluruh lini industri dan semua segala

bisnis perusahaan. Tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh Indonesia. Tidak

hanya bagi institusi, tapi juga bagi individu yang memenuhi kualifikasi

mendapatkan pemerataan melalui pemilikan. Serta meningkatkan reputasi

Bursa Efek Indonesia, melalui pemberian Layanan yang berkualitas dan

konsisten kepada

4.2. Karakteristik Data

Data yang di ambil dalam penelitian ini merupakan data primer yang

telah di olah dan diterbitkan oleh pihak instansi yang berwenang dan

kompeten bidang nya sehingga data yang diambil telah valid dan kredibel
42

secara konten dalam artian validitas isi (content validity) sudah terpenuhi.

Laporan analisis data rasio keuangan merupakan dasar untuk menilai

keberhasilan suatu perusahaan. Dari analisis tersebut, digunanakan oleh

pihak-pihak yang berkempentingan untuk mengambil keputusan yang

berkaitan dengan kondisi perusahaan. Adapun perusahaan faramasi yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 perusahaan yaitu 1) Kalbe Farma

Tbk (KLBF), 2) Kimia Farma Tbk. (KAEF), 3) Darya-Varia Laboratoria Tbk.

(DVLA), 4) Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC), 5) Pyridam Farma Tbk.

(PYFA), dan 6) Merck Tbk. (MERK).

Untuk mengevaluasi rasio keuangan diperlukan data-data berupa laporan

keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi. Laporan keuangan yang

digunakan adalah neraca dan laporan laba 4 tahun yaitu 2013-2016 untuk

mengetahui kinerja perusahaan farmasi yang terdaftar di BEI tahun 2013-2016.

Adapun ratio keuangan yang digunakan adalah:

1. Ratio likuiditas yang terdiri dari rasio lancar (Current Ratio), Rasio Cepat

(Quick Ratio).

2. Rasio Solvabilitas yang terdiri Debt Ratio, Total Debt To Equity Ratio,

3. Ratio Profitabilitas yang terdiri dari Gross Profit Margin (GPM), Net Profit

Margin, Return On Equity (ROE).

4. Rasio Aktivitas yang teridir dari Fixed Assets Turn Over, Total Assets Turn

Over
43

4.2.1. Rasio Liquiditas

Rasio likuiditas terdiri dari rasio lancar (current ratio) dan rasio cepat

(quick ratio). berikut penjelasan untuk masing-masing rasio.

Tabel4.1
Rasio Lancar/Current Ratio( QR) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017

Aktiva Lancar Hutang Lancar Current


Perusahaan Tahun CR Rata-Rata CR
(Juta Rupiah) (Juta Rupiah) Ratio
Kalbe Farma Tbk 2013 7,497,319 2,640,590 283.93% 3 :1 8,796,619 4
(KLBF) 2014 8,120,805 2,385,920 340.36% 3 :1 2,387,378

2015 8,748,492 2,365,880 369.78% 4 :1 371.62% 4 : 1


2016 9,572,530 2,317,162 413.11% 4 :1
2017 10,043,951 2,227,336 450.94% 5 :1
Kimia Farma Tbk 2013 1,810,615 746,123 242.67% 2 :1 2,504,159 2
(KAEF) 2014 2,040,431 854,812 238.70% 2 :1 1,351,016

2015 2,100,922 1,088,431 193.02% 2 :1 200.06% 2 : 1


2016 2,906,737 1,696,209 171.37% 2 :1
2017 3,662,090 2,369,507 154.55% 2 :1
Darya-Varia 2013 913,984 215,473 424.18% 4 :1 1,025,546 3
Laboratoria Tbk 2014 925,294 178,583 518.13% 5 :1 301,281

(DVLA) 2015 1,043,830 296,298 352.29% 4 :1 369.26% 3 : 1


2016 1,068,967 374,428 285.49% 3 :1
2017 1,175,656 441,623 266.21% 3 :1
Tempo Scan 2013 3,991,116 1,347,466 296.19% 3 :1 4,289,037 3
Pacific Tbk 2014 3,714,701 1,237,332 300.22% 3 :1 1,587,464

(TSPC) 2015 4,304,922 1,696,487 253.76% 3 :1 273.50% 3 : 1


2016 4,385,084 1,653,413 265.21% 3 :1
2017 5,049,364 2,002,621 252.14% 3 :1
Pyridam Farma 2013 74,974 48,786 153.68% 2 :1 77,454 2
Tbk (PYFA) 2014 78,078 47,995 162.68% 2 :1 38,699

2015 72,746 36,534 199.12% 2 :1 217.37% 2 : 1


2016 83,106 37,934 219.08% 2 :1
2017 78,364 22,245 352.28% 4 :1
Merck Tbk 2013 588,238 147,818 397.95% 4 :1 549,152 4
(MERK) 2014 595,339 129,820 458.59% 5 :1 143,133

2015 483,680 132,436 365.22% 4 :1 390.30% 4 : 1


2016 508,615 120,622 421.66% 4 :1
2017 569,890 184,971 308.10% 3 :1
Sumber: Data Primer Diolah 2019
44

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui hal-hal sebagai berikutPada Kalbe

Farma Tbk (KLBF) tahun 2013 aktiva lancar sebesar Rp. 7.497.319 juta

dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 2.640.590 juta dan persentase rasio

lancar sebesar 283,93% dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang

berada diatas standar industri yang berarti bahwa perusahaan Kalbe

Farma Tbk (KLBF) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan

mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2014 aktiva

lancar sebesar Rp. 8.120.805 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

2.385.920 juta dan persentase rasio lancar sebesar 340,36% dengan

perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas standar industri yang

berarti bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) berada pada posisis

aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka

pendeknya. Pada tahun 2015 aktiva lancar sebesar Rp. 8.748.492 juta dan

hutang lancar tercatat sebesar Rp. 2.365.880 juta dan persentase rasio

lancar sebesar 369,78% dengan perbandingan nya sebesar 4:1 yang

berada diatas standar industri yang berarti bahwa perusahaan Kalbe

Farma Tbk (KLBF) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan

mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2016 aktiva

lancar sebesar Rp. 9.572.530 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

2.317.162 juta dan persentase rasio lancar sebesar 413,11% dengan

perbandingan nya sebesar 4:1 yang berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang


45

jangka pendeknya. Pada tahun 2017 aktiva lancar sebesar Rp. 10.043.951

juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 2.227.336 juta dan persentase

rasio lancar sebesar 450,94% dengan perbandingan nya sebesar 5:1 yang

berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Kalbe Farma Tbk (KLBF) berada pada posisis aman yang berarti

perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya.

Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase rasio lancar pada periode

2013-2017 sebesar 371,62% dengan perbandingan sebesar 4:1 yang

menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) berada pada

posisi aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya pada periode tahun 2013-2017.

Pada Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 aktiva lancar sebesar

Rp. 1.810.615 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 746.123 juta

dan persentase rasio lancar sebesar 242,67% dengan perbandingan nya

sebesar 2:1 yang berada pada standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) berada pada posisis aman yang

berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya.

Pada tahun 2014 aktiva lancar sebesar Rp. 2.040.431 juta dan hutang

lancar tercatat sebesar Rp. 854.812 juta dan persentase rasio lancar

sebesar 238,70% dengan perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas

pada standar industri yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk

(KAEF) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2015 aktiva lancar


46

sebesar Rp. 2.100.922 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

1.088.431 juta dan persentase rasio lancar sebesar 193,02% dengan

perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas pada standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya. Pada tahun 2016 aktiva lancar sebesar Rp. 2.906.737

juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 1.696.209 juta dan persentase

rasio lancar sebesar 171,37% dengan perbandingan nya sebesar 2:1 yang

berada pas pada standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Kimia Farma Tbk (KAEF) berada pada posisis aman yang berarti

perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun

2017 aktiva lancar sebesar Rp. 3.662.090 juta dan hutang lancar tercatat

sebesar Rp. 2.369.507 juta dan persentase rasio lancar sebesar 154,55%

dengan perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas pada standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi

hutang jangka pendeknya. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase

rasio lancar pada periode 2013-2017 sebesar 200,06% dengan

perbandingan sebesar 2:1 yang menunjukkan bahwa perusahaan Kimia

Farma Tbk (KLBF) berada pada posisi aman yang berarti perusahaan

mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya pada periode tahun

2013-2017.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (KAEF) tahun 2013


47

aktiva lancar tercatat sebesar Rp. 913.984 juta dan hutang lancar tercatat

sebesar Rp. 215.473 juta dan persentase rasio lancar sebesar 424,18%

dengan perbandingan nya sebesar 4:1 yang berada diatas standar industri

yang menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2014 aktiva lancar Darya-

Varia Laboratoria Tbk tercatat sebesar Rp. 925.294 juta dan hutang lancar

tercatat sebesar Rp. 178.583 juta dan persentase rasio lancar sebesar

518,13% dengan perbandingan nya sebesar 5:1 yang berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu

untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2015 aktiva lancar

Darya-Varia Laboratoria Tbk tercatat sebesar Rp. 1.043.830 juta dan

hutang lancar tercatat sebesar Rp. 296.298 juta dan persentase rasio

lancar sebesar 352,29% dengan perbandingan nya sebesar 4:1 yang

berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) berada pada posisis aman yang

berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya.

Pada tahun 2016 aktiva lancar sebesar Rp. 1.068.967 juta dan hutang

lancar tercatat sebesar Rp. 374.428 juta dan persentase rasio lancar

sebesar 285,49% dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas

standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) berada pada posisis aman yang berarti


48

perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun

2017 aktiva lancar sebesar Rp. 1.175.656 juta dan hutang lancar tercatat

sebesar Rp. 441.623 juta dan persentase rasio lancar sebesar 266,21%

dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas standar industri

yang menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Selanjutnya jika dilihat rata-rata

persentase rasio lancar pada periode 2013-2017 sebesar 369,26% dengan

perbandingan sebesar 3:1 yang menunjukkan bahwa perusahaan Kimia

Farma Tbk (KLBF) berada pada posisi aman yang berarti perusahaan

mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya pada periode tahun

2013-2017.

Pada perusahaan Tempo Scan Facific Tbk (TSPC) tahun 2013

aktiva lancar tercatat sebesar Rp. 3.991.116 juta dan hutang lancar

tercatat sebesar Rp. 1.347.466 juta dan persentase rasio lancar sebesar

296,19% dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2014 aktiva lancar

perusahaan Tempo Scan Facific Tbk (TSPC) tercatat sebesar Rp.

3.714.701 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 1.237.332 juta dan

persentase rasio lancar sebesar 300,22% dengan perbandingan nya

sebesar 3:1 yang berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa
49

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) berada pada posisis aman

yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka

pendeknya. Pada tahun 2015 aktiva lancar perusahaan Tempo Scan

Facific Tbk (TSPC) tercatat sebesar Rp. 4.304.922 juta dan hutang lancar

tercatat sebesar Rp. 1.696.487 juta dan persentase rasio lancar sebesar

253,76% dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Pada tahun 2016 aktiva lancar

perusahaan Tempo Scan Facific Tbk (TSPC) tercatat sebesar Rp.

4.385.084 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 1.653.413 juta dan

persentase rasio lancar sebesar 265,21% dengan perbandingan nya

sebesar 3:1 yang berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) berada pada posisis aman

yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka

pendeknya. Pada tahun 2017 aktiva lancar perusahaan Tempo Scan

Facific Tbk (TSPC) tercatat sebesar Rp. 5.049.364 juta dan hutang lancar

tercatat sebesar Rp. 2.002.621 juta dan persentase rasio lancar sebesar

252,14% dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Selanjutnya jika dilihat rata-rata

persentase rasio lancar pada periode 2013-2017 sebesar 273,50% dengan


50

perbandingan sebesar 3:1 yang menunjukkan bahwa perusahaan Kimia

Farma Tbk (KLBF) berada pada posisi aman yang berarti perusahaan

mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya pada periode tahun

2013-2017.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tahun 2013 aktiva

lancar tercatat sebesar Rp. 74.974 juta dan hutang lancar tercatat sebesar

Rp. 148.786 juta dan persentase rasio lancar sebesar 153,68% dengan

perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas pada standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya. Tahun 2014 aktiva lancar Pyridam Farma Tbk (PYFA)

tercatat sebesar Rp. 78.078 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

47.995 juta dan persentase rasio lancar sebesar 162,68% dengan

perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas pada standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya. Tahun 2015 aktiva lancar Pyridam Farma Tbk (PYFA)

tercatat sebesar Rp. 72.746 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

36.534 juta dan persentase rasio lancar sebesar 199,12% dengan

perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas pada standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya. Tahun 2016 aktiva lancar Pyridam Farma Tbk (PYFA)
51

tercatat sebesar Rp. 83.106 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

37.934 juta dan persentase rasio lancar sebesar 219,08% dengan

perbandingan nya sebesar 2:1 yang berada pas pada standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya. Tahun 2017 aktiva lancar Pyridam Farma Tbk (PYFA)

tercatat sebesar Rp. 78.364 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

22.245 juta dan persentase rasio lancar sebesar 352,28% dengan

perbandingan nya sebesar 4:1 yang berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) berada pada

posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang

jangka pendeknya. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase rasio

lancar pada periode 2013-2017 sebesar 217,37% dengan perbandingan

sebesar 2:1 yang menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) berada pada posisi aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya pada periode tahun 2013-2017.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 aktiva lancar

tercatat sebesar Rp. 588.238 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp.

147.818 juta dan persentase rasio lancar sebesar 397,95% dengan

perbandingan nya sebesar 4:1 yang berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) berada pada posisis

aman yang berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka

pendeknya. Tahun 2014 aktiva lancar Merck Tbk (MERK) tercatat


52

sebesar Rp. 595.339 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 129.820

juta dan persentase rasio lancar sebesar 458,59% dengan perbandingan

nya sebesar 5:1 yang berada diatas standar industri yang menunjukkan

bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) berada pada posisis aman yang

berarti perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya.

Tahun 2015 aktiva lancar Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp.

483.680 juta dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 132.436 juta dan

persentase rasio lancar sebesar 365,22% dengan perbandingan nya

sebesar 4:1 yang berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan Merck Tbk (MERK) berada pada posisis aman yang berarti

perusahaan mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Tahun

2016 aktiva lancar Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 508.615 juta

dan hutang lancar tercatat sebesar Rp. 120.622 juta dan persentase rasio

lancar sebesar 421,66% dengan perbandingan nya sebesar 4:1 yang

berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Merck Tbk (MERK) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan

mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Tahun 2017 aktiva

lancar Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 569.890 juta dan hutang

lancar tercatat sebesar Rp. 184.971 juta dan persentase rasio lancar

sebesar 308,10% dengan perbandingan nya sebesar 3:1 yang berada diatas

standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk

(MERK) berada pada posisis aman yang berarti perusahaan mampu untuk

melunasi hutang jangka pendeknya. Selanjutnya jika dilihat rata-rata


53

persentase rasio lancar pada periode 2013-2017 sebesar 390,30% dengan

perbandingan sebesar 4:1 yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck

Tbk (MERK) berada pada posisi aman yang berarti perusahaan mampu

untuk melunasi hutang jangka pendeknya pada periode tahun 2013-2017.

Karakteristik rasio cepat (Quick Ratio) perusahaan farmasi yang

terdaftar di BEI 2013-2017 disajikan dalam tabel dibawah.

Tabel 4.2
Keadaan Rasio Cepat / Quick Ratio (QR) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017

Aktiva Lancar Persediaan (juta Hutang Lancar


Perusahaan Tahun Quick Ratio QR Rata-Rata QR
(juta rupiah) rupiah) (juta rupiah)
Kalbe Farma Tbk 2013 7,497,319 3,090,544 2,640,590 166.89% 1.7
(KLBF) 2014 8,120,805 3,003,150 2,385,920 214.49% 2.1
2015 8,748,492 3,344,404 2,365,880 228.42% 2.3 233.57% 2.3
2016 9,572,530 3,557,497 2,317,162 259.59% 2.6
2017 10,043,951 3,395,889 2,227,336 298.48% 3.0
Kimia Farma Tbk 2013 1,810,615 640,909 746,123 156.77% 1.6
(KAEF) 2014 2,040,431 687,407 854,812 158.28% 1.6
2015 2,100,922 742,318 1,088,431 124.82% 1.2 131.69% 1.3
2016 2,906,737 967,327 1,696,209 114.34% 1.1
2017 3,662,090 1,192,343 2,369,507 104.23% 1.0
Darya-Varia 2013 913,984 206,628 215,473 328.28% 3.3
Laboratoria Tbk 2014 925,294 227,050 178,583 390.99% 3.9
(DVLA) 2015 1,043,830 198,658 296,298 285.24% 2.9 290.81% 2.9
2016 1,068,967 209,778 374,428 229.47% 2.3
2017 1,175,656 203,862 441,623 220.05% 2.2
Tempo Scan 2013 3,991,116 1,000,694 1,347,466 221.93% 2.2
Pacific Tbk 2014 3,714,701 1,056,051 1,237,332 214.87% 2.1
(TSPC) 2015 4,304,922 1,232,919 1,696,487 181.08% 1.8 195.80% 2.0
2016 4,385,084 1,362,026 1,653,413 182.84% 1.8
2017 5,049,364 1,478,762 2,002,621 178.30% 1.8
54

Pyridam Farma 2013 74.974 35.867 48.786 80,16% 0,8


Tbk (PYFA) 2014 78.078 32.258 47.995 95,47% 1,0
2015 72.746 36.164 36.534 100,13% 1,0 115,01% 1,2
2016 83.106 40.301 37.934 112,84% 1,1
2017 78.364 36.891 22.245 186,44% 1,9
Merck Tbk 2013 588.238 249.319 147.818 229,28% 2,3
(MERK) 2014 595.339 183.724 129.820 317,07% 3,2
2015 483.680 161.125 132.436 243,56% 2,4 234,34% 2,3
2016 508.615 231.212 120.622 229,98% 2,3
2017 569.890 289.064 184.971 151,82% 1,5

Sumber: Data Primer Diolah 2019

Berdasarkan tabel 4.2 diatas diketahui bahwa pada perusahaan

Kalbe Farma Tbk (KLBF) tahun 2013 tercatat aktiva lancar sebesar Rp.

7.497.319 juta, persediaan sebesar Rp. 3.090.544 juta dan hutang lancar

sebesar Rp. 2.640.590 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio)

sebesar 166,89% dan perbandingannya sebesar 1,7:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Tahun 2014 tercatat aktiva lancar sebesar Rp. 8.120.805 juta,

persediaan sebesar Rp. 3.003.150 juta dan hutang lancar sebesar Rp.

2.385.920 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar

214,49% dan perbandingannya sebesar 2,1:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Tahun 2015 tercatat aktiva lancar sebesar Rp. 8.748.492 juta,

persediaan sebesar Rp. 3.334.404 juta dan hutang lancar sebesar Rp.

2.365.880 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar


55

228,42% dan perbandingannya sebesar 2,3:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan.Tahun 2016 tercatat aktiva lancar sebesar Rp. 9.572.530 juta,

persediaan sebesar Rp. 3.557.497 juta dan hutang lancar sebesar Rp.

2.317.162 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar

259,59% dan perbandingannya sebesar 2,6:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Tahun 2017 tercatat aktiva lancar sebesar Rp. 10.043.951

juta, persediaan sebesar Rp. 3.395.889 juta dan hutang lancar sebesar Rp.

2.227.336 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar

298,48% dan perbandingannya sebesar 3,0:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Rasio Cepat

(Quick Ratio) tahun 2013-2017 tercatat sebesar 233,57% dengan

perbandingan Rasio Cepat (Quick Ratio) sebesar 2,3:1 yang menunjukkan

bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) mampu membayar hutang

jangka pendek tampa harus menjual inventori perusahaan dalam periode

2013-2017.

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 tercatat

aktiva lancar sebesar Rp. 1.810.615 juta, persediaan sebesar Rp. 640.909
56

juta dan hutang lancar sebesar Rp. 746.123 juta dengan persentase rasio

cepat (Quick Ratio) sebesar 156,77% dan perbandingannya sebesar 1,6:1

berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Kimia Farma Tbk (KAEF) mampu membayar hutang jangka pendek

tampa harus menjual inventori perusahaan. Pada tahun 2014 tercatat

aktiva lancar Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 2.040.431 juta,

persediaan sebesar Rp. 687.407 juta dan hutang lancar sebesar Rp.

854.812 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar

158,28% dan perbandingannya sebesar 1,6:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Pada tahun 2015 tercatat aktiva lancar Kimia Farma Tbk

(KAEF) sebesar Rp. 2.100.922 juta, persediaan sebesar Rp. 742.318 juta

dan hutang lancar sebesar Rp. 1.088.431 juta dengan persentase rasio

cepat (Quick Ratio) sebesar 124,82% dan perbandingannya sebesar 1,2:1

berada dibawah standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Kimia Farma Tbk (KAEF) harus menjual inventori perusahaan untuk

memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pada tahun 2016 tercatat aktiva

lancar Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 2.906.737 juta, persediaan

sebesar Rp. 967.327 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 1.696.209 juta

dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 114,34% dan

perbandingannya sebesar 1,1:1 berada dibawah standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) harus menjual


57

inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pada

tahun 2017 tercatat aktiva lancar Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp.

3.662.090 juta, persediaan sebesar Rp. 1.192.343 juta dan hutang lancar

sebesar Rp. 2.369.507 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio)

sebesar 104,23% dan perbandingannya sebesar 1,0:1 berada dibawah

standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk

(KAEF) harus menjual inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban

jangka pendeknya. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Rasio

Cepat (Quick Ratio) tahun 2013-2017 tercatat sebesar 131,69% dengan

perbandingan Rasio Cepat (Quick Ratio) sebesar 1,3:1 yang menunjukkan

bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada periode tahun 2013-

2014 harus menjual inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban

jangka pendeknya.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun

2013 tercatat aktiva lancar sebesar Rp. 913.984 juta, persediaan sebesar

Rp. 206.628 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 215.473 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 328,28% dan

perbandingannya sebesar 3,3:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Tahun 2014 tercatat aktiva lancar Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) sebesar Rp. 925.294 juta, persediaan sebesar Rp. 227.050

juta dan hutang lancar sebesar Rp. 178.583 juta dengan persentase rasio
58

cepat (Quick Ratio) sebesar 390,99% dan perbandingannya sebesar 3,9:1

berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) mampu membayar hutang jangka

pendek tampa harus menjual inventori perusahaan. Tahun 2015 tercatat

aktiva lancar Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp.

1.043.830 juta, persediaan sebesar Rp. 198.658 juta dan hutang lancar

sebesar Rp. 296.298 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio)

sebesar 285,24% dan perbandingannya sebesar 2,9:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus

menjual inventori perusahaan. Tahun 2016 tercatat aktiva lancar Darya-

Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.068.967 juta, persediaan

sebesar Rp. 209.778 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 374.428 juta

dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 229,47% dan

perbandingannya sebesar 2,3:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Tahun 2017 tercatat aktiva lancar Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.175.656 juta, persediaan sebesar Rp. 203.862

juta dan hutang lancar sebesar Rp. 441.623 juta dengan persentase rasio

cepat (Quick Ratio) sebesar 220,05% dan perbandingannya sebesar 2,2:1

berada diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) mampu membayar hutang jangka


59

pendek tampa harus menjual inventori perusahaan. Selanjutnya jika

dilihat rata-rata persentase Rasio Cepat (Quick Ratio) tahun 2013-2017

tercatat sebesar 290,81% dengan perbandingan Rasio Cepat (Quick Ratio)

sebesar 2,9:1 yang menunjukkan bahwa perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) pada periode tahun 2013-2014 mampu

memenuhi kewajiban jangka pendeknya tampa menjual inventori

perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013

tercatat aktiva lancar sebesar Rp. 3.991.116 juta, persediaan sebesar Rp.

1.000.694 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 1.347.466 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 221,93% dan

perbandingannya sebesar 2,2:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Pada tahun 2014 tercatat aktiva lancar perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 3.714.701 juta, persediaan sebesar

Rp. 1.056.051 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 1.237.332 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 214,87% dan

perbandingannya sebesar 2,1:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Pada tahun 2015 tercatat aktiva lancar perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 4.304.922 juta, persediaan sebesar
60

Rp. 1.232.919 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 1.696.487 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 181,08% dan

perbandingannya sebesar 1,8:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Pada tahun 2016 tercatat aktiva lancar perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 4.385.084 juta, persediaan sebesar

Rp. 1.362.026 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 1.653.413 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 182.84% dan

perbandingannya sebesar 1,8:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Pada tahun 2017 tercatat aktiva lancar perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 5.049.364 juta, persediaan sebesar

Rp. 1.478.762 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 2.002.621 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 178,30% dan

perbandingannya sebesar 1,8:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Rasio Cepat

(Quick Ratio) tahun 2013-2017 tercatat sebesar 195,85% dengan

perbandingan Rasio Cepat (Quick Ratio) sebesar 2,0:1 yang menunjukkan

bahwa perusahaan perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) pada


61

periode tahun 2013-2014 mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya

tampa menjual inventori perusahaan.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tahun 2013 tercatat

aktiva lancar sebesar Rp. 74.974 juta, persediaan sebesar Rp. 35.867 juta

dan hutang lancar sebesar Rp. 48.786 juta dengan persentase rasio cepat

(Quick Ratio) sebesar 80,16% dan perbandingannya sebesar 0,8:1 berada

dibawah standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) tidak mampu membayar hutang jangka pendek dan

harus menjual inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Pada tahun 2014 tercatat aktiva lancar perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar Rp. 78.974 juta, persediaan sebesar Rp. 32.258 juta dan

hutang lancar sebesar Rp. 47.995 juta dengan persentase rasio cepat

(Quick Ratio) sebesar 95,47% dan perbandingannya sebesar 1,0:1 berada

dibawah standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) tidak mampu membayar hutang jangka pendek dan

harus menjual inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Pada tahun 2015 tercatat aktiva lancar perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar Rp. 772.746 juta, persediaan sebesar Rp. 36.164 juta dan

hutang lancar sebesar Rp. 36.534 juta dengan persentase rasio cepat

(Quick Ratio) sebesar 100.13% dan perbandingannya sebesar 1,0:1 berada

dibawah standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) tidak mampu membayar hutang jangka pendek dan

harus menjual inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut.


62

Pada tahun 2016 tercatat aktiva lancar perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar Rp. 83.106 juta, persediaan sebesar Rp. 40.301 juta dan

hutang lancar sebesar Rp. 37.934 juta dengan persentase rasio cepat

(Quick Ratio) sebesar 112,84% dan perbandingannya sebesar 1,1:1 berada

dibawah standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) tidak mampu membayar hutang jangka pendek dan

harus menjual inventori perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Pada tahun 2017 tercatat aktiva lancar perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar Rp. 78.354 juta, persediaan sebesar Rp. 36.891 juta dan

hutang lancar sebesar Rp. 22.245 juta dengan persentase rasio cepat

(Quick Ratio) sebesar 186,44% dan perbandingannya sebesar 1,9:1 berada

diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) mampu membayar hutang jangka pendek dan tampa

harus menjual inventori perusahaan. Selanjutnya jika dilihat rata-rata

persentase Rasio Cepat (Quick Ratio) tahun 2013-2017 tercatat sebesar

115,01% dengan perbandingan Rasio Cepat (Quick Ratio) sebesar 1,2:1

yang menunjukkan bahwa perusahaan perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) pada periode tahun 2013-2014 tidak mampu memenuhi

kewajiban jangka pendeknya dan harus menjual inventori perusahaan

untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 tercatat aktiva

lancar sebesar Rp. 588.238 juta, persediaan sebesar Rp. 249.319 juta dan

hutang lancar sebesar Rp. 147.818 juta dengan persentase rasio cepat
63

(Quick Ratio) sebesar 229,28% dan perbandingannya sebesar 2,3:1 berada

diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk

(MERK) mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual

inventori perusahaan. Pada tahun 2014 tercatat aktiva lancar perusahaan

Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 595.339 juta, persediaan sebesar Rp.

183.724 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 129.820 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 317,07% dan

perbandingannya sebesar 3,2:1 berada diatas standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) mampu membayar

hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori perusahaan. Pada

tahun 2015 tercatat aktiva lancar perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar

Rp. 483.680 juta, persediaan sebesar Rp. 161.125 juta dan hutang lancar

sebesar Rp. 132.436 juta dengan persentase rasio cepat (Quick Ratio)

sebesar 243,56% dan perbandingannya sebesar 2,4:1 berada diatas standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK)

mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori

perusahaan. Pada tahun 2016 tercatat aktiva lancar perusahaan Merck Tbk

(MERK) sebesar Rp. 508.615 juta, persediaan sebesar Rp. 231.212 juta

dan hutang lancar sebesar Rp. 120.622 juta dengan persentase rasio cepat

(Quick Ratio) sebesar 229,98% dan perbandingannya sebesar 2,3:1 berada

diatas standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk

(MERK) mampu membayar hutang jangka pendek tampa harus menjual

inventori perusahaan. Pada tahun 2017 tercatat aktiva lancar perusahaan


64

Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 569.890 juta, persediaan sebesar Rp.

289.064 juta dan hutang lancar sebesar Rp. 184.971 juta dengan

persentase rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 151,82% dan

perbandingannya sebesar 1,5:1 berada pas pada standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) mampu membayar

hutang jangka pendek tampa harus menjual inventori perusahaan.

Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Rasio Cepat (Quick Ratio)

tahun 2013-2017 tercatat sebesar 234,34% dengan perbandingan Rasio

Cepat (Quick Ratio) sebesar 2,3:1 berada diatas standar industry yang

menunjukkan bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) pada

periode tahun 2013-2014 mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya

dan tampa harus menjual inventori perusahaan.

4.2.2. Karakteristik Rasio Solvabilitas

Rasio Solvabilitas yang diteliti terdiri dari Debt To Asset Ratio dan

Total Debt To EquityRatio, berikut penjelasan untuk karakteristik untuk

masing-masing rasio.

Tabel 4.3
Debt to Asset Ratio (DAR) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017

Total Hutang Total Aktiva


Perusahaan Tahun Debt Ratio Rata-Rata
(juta rupiah) (juta rupiah)
Kalbe Farma Tbk 2013 2,815,103 11,315,061 25%
(KLBF) 2014 2,607,557 12,425,032 21%
2015 2,758,131 13,696,417 20% 20%
2016 2,762,162 15,226,009 18%
2017 2,722,208 16,616,239 16%
65

Kimia Farma Tbk 2013 847,585 2,471,940 34%


(KAEF) 2014 1,157,041 2,968,185 39%
2015 1,374,127 3,236,224 42% 45%
2016 2,341,155 4,612,563 51%
2017 3,523,628 6,096,149 58%
Darya-Varia 2013 275,351 1,190,054 23%
Laboratoria Tbk 2014 273,816 1,236,248 22%
(DVLA) 2015 402,761 1,376,278 29% 27%
2016 451,786 1,531,366 30%
2017 524,586 1,640,886 32%
Tempo Scan 2013 1,545,006 5,407,958 29%
Pacific Tbk 2014 1,460,391 5,592,730 26%
(TSPC) 2015 1,947,588 6,284,729 31% 29%
2016 1,950,534 6,585,807 30%
2017 2,352,892 7,434,900 32%
Pyridam Farma 2013 81,218 175,119 46%
Tbk (PYFA) 2014 76,176 172,737 44%
2015 58,729 159,952 37% 39%
2016 61,554 167,063 37%
2017 50,708 159,564 32%
Merck Tbk 2013 184,728 696,946 27%
(MERK) 2014 162,909 716,600 23%
2015 168,104 641,647 26% 25%
2016 161,262 743,935 22%
2017 230,569 847,067 27%
Sumber: Data Primer Diolah 2019

Dari tabel 4.3 diatas diketahui pada tahun 2013 total hutang Kalbe

Farma Tbk (KLBF) tercatat sebesar Rp. 2.815.103 juta dan total aktiva

sebesar Rp. 11.315.061 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR)

sebesar 25% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Pada tahun 2014 total hutang Kalbe

Farma Tbk (KLBF) tercatat sebesar Rp. 2.607.557 juta dan total aktiva

sebesar Rp. 12.425.032 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR)
66

sebesar 21% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Pada tahun 2015 total hutang Kalbe

Farma Tbk (KLBF) tercatat sebesar Rp. 2.758.131 juta dan total aktiva

sebesar Rp. 13.696.417 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR)

sebesar 20% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Pada tahun 2016 total hutang Kalbe

Farma Tbk (KLBF) tercatat sebesar Rp. 2.762.162 juta dan total aktiva

sebesar Rp. 15.226.009 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR)

sebesar 18% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Pada tahun 2017 total hutang Kalbe

Farma Tbk (KLBF) tercatat sebesar Rp. 2.722.208 juta dan total aktiva

sebesar Rp. 16.616.239 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR)

sebesar 16% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Selanjutnya jika di rata-ratakan

persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) periode 2013-2017 diperoleh rata-

rata sebesar 20% < 35% standar industri yang telah ditetapkan yang dapat

diartikan bahwa pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Kalbe Farma Tbk

(KLBF) sulit mendapatkan pinjaman karena Debt To Asset Ratio (DTAR)

berada dibawah standar industry.

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 total hutang

perusahaan Kimia Farma Tbk tercatat sebesar Rp. 847.585 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 2.471.940 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 34% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan
67

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2014 total hutang

perusahaan Kimia Farma Tbk tercatat sebesar Rp. 1.157.041 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 2.968.185 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 39% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan mudah mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2015 total hutang

perusahaan Kimia Farma Tbk tercatat sebesar Rp. 1.374.127 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 3.236.224 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 42% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan mudah mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2016 total hutang

perusahaan Kimia Farma Tbk tercatat sebesar Rp. 2.341.155 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 4.612.563 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 51% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan mudah mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2017 total hutang

perusahaan Kimia Farma Tbk tercatat sebesar Rp. 3.523.628 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 6.096.149 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 58% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan mudah mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Selanjutnya jika dilihat

rata-rata persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) perusahaan Kimia Farma

Tbk tercatat sebesar 45% > 35% standar industri yang telah ditetapkan yang

berarti bahwa untuk periode tahun 2013-2017 perusahaan Kimia Farma Tbk

(KAEF) akan mudah mendapat pinjaman dari pihak lain.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun 2013

total hutang perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tercatat


68

sebesar Rp. 275.351 juta dan total aktiva sebesar Rp. 1.190.054 juta dengan

persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 23% < 35% standar industri

yang berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak

lain. Tahun 2014 total hutang perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) tercatat sebesar Rp. 273.816 juta dan total aktiva sebesar Rp.

1.236.248 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 22%

< 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2015 total hutang perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tercatat sebesar Rp. 402.761 juta dan

total aktiva sebesar Rp. 1.376.278 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 29% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2016 total hutang

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tercatat sebesar Rp.

451.786 juta dan total aktiva sebesar Rp. 1.531.366 juta dengan persentase

Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 30% < 35% standar industri yang

berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain.

Tahun 2017 total hutang perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

tercatat sebesar Rp. 524.586 juta dan total aktiva sebesar Rp. 1.640.886 juta

dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 32% < 35% standar

industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman dari

pihak lain. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) perusahaan Kimia Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tercatat

sebesar 29% > 35% standar industri yang telah ditetapkan yang berarti bahwa
69

untuk periode tahun 2013-2017 perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) akan mudah mendapat pinjaman dari pihak lain.

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013 total

hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tercatat sebesar Rp.

1.545.006 juta dan total aktiva sebesar Rp. 5.407.958 juta dengan persentase

Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 29% < 35% standar industri yang

berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain.

Tahun 2014 total hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tercatat

sebesar Rp. 1.460.391 juta dan total aktiva sebesar Rp. 5.592.730 juta dengan

persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 26% < 35% standar industri

yang berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak

lain. Tahun 2015 total hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

tercatat sebesar Rp. 1.947.588 juta dan total aktiva sebesar Rp. 6.284.729 juta

dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 31% < 35% standar

industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman dari

pihak lain. Tahun 2016 total hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) tercatat sebesar Rp. 1.950.534 juta dan total aktiva sebesar Rp.

6.585.807 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 30%

< 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan sulit

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2017 total hutang perusahaan

Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tercatat sebesar Rp. 2.352.892 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 7.434.900 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 32% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan
70

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Selanjutnya jika dilihat

rata-rata persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) tercatat sebesar 29% < 35% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti bahwa untuk periode tahun 2013-2017 perusahaan

Kimia Farma Tbk (KAEF) akan sulit mendapat pinjaman dari pihak lain.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tahun 2013 total hutang

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tercatat sebesar Rp. 81.218 juta dan

total aktiva sebesar Rp. 175.119 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 46% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan mudah mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2014 total hutang

perusahaan perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tercatat sebesar Rp.

76.176 juta dan total aktiva sebesar Rp. 172.737 juta dengan persentase Debt

To Asset Ratio (DTAR) sebesar 44% > 35% standar industri yang berarti

bahwa perusahaan akan mudah mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun

2015 total hutang perusahaan perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA)

tercatat sebesar Rp. 58.729 juta dan total aktiva sebesar Rp. 159.952 juta

dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar 37% > 35% standar

industri yang berarti bahwa perusahaan akan mudah mendapatkan pinjaman

dari pihak lain. Tahun 2016 total hutang perusahaan perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) tercatat sebesar Rp. 61.554 juta dan total aktiva sebesar

Rp. 167.063 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) sebesar

37% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan akan mudah

mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2017 total hutang perusahaan
71

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tercatat sebesar Rp. 50.708 juta dan

total aktiva sebesar Rp. 159.564 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 32% > 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Selanjutnya jika dilihat

rata-rata persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) perusahaan Pyridam Farma

Tbk (PYFA) tercatat sebesar 39% > 35% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti bahwa untuk periode tahun 2013-2017 perusahaan

Pyridam Farma Tbk (PYFA) akan mudah mendapat pinjaman dari pihak lain.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 total hutang

perusahaan Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 184.728 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 696.946 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 27% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2014 total hutang

perusahaan Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 162.909 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 716.600 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 23% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2015 total hutang

perusahaan Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 168.104 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 641.647 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 26% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2016 total hutang

perusahaan Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 161.262 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 743.935 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio
72

(DTAR) sebesar 22% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Tahun 2017 total hutang

perusahaan Merck Tbk (MERK) tercatat sebesar Rp. 230.569 juta dan total

aktiva sebesar Rp. 847.067 juta dengan persentase Debt To Asset Ratio

(DTAR) sebesar 27% < 35% standar industri yang berarti bahwa perusahaan

akan sulit mendapatkan pinjaman dari pihak lain. Selanjutnya jika dilihat

rata-rata persentase Debt To Asset Ratio (DTAR) perusahaan Merck Tbk

(MERK) periode tahun 2013-2017 tercatat sebesar 25% < 35% standar

industri yang telah ditetapkan yang berarti bahwa untuk periode tahun 2013-

2017 perusahaan Merck Tbk (MERK) akan sulit mendapat pinjaman dari

pihak lain.

Untuk nilai Debt To Equity disajikan dalam tabel 4.4 dibawah ini.

Tabel 4.4
Debt To Equity Raio (DER) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017

Total Hutang Total Equitas Debt To Equity Rata-


Perusahaan Tahun %
(juta rupiah) (juta rupiah) Ratio (DER) Rata
Kalbe Farma Tbk 2013 2,815,103 8,499,957 0.33 33%
(KLBF) 2014 2,607,557 9,817,476 0.27 27%
2015 2,758,131 10,938,286 0.25 25% 25%
2016 2,762,162 12,463,847 0.22 22%
2017 2,722,208 13,894,032 0.20 20%
Kimia Farma Tbk 2013 847,585 1,624,355 0.52 52%
(KAEF) 2014 1,157,041 1,811,144 0.64 64%
2015 1,374,127 1,862,097 0.74 74% 86%
2016 2,341,155 2,271,407 1.03 103%
2017 3,523,628 2,572,521 1.37 137%
73

Darya-Varia 2013 275,351 914,703 0.30 30%


Laboratoria Tbk 2014 273,816 962,431 0.28 28%
(DVLA) 2015 402,761 973,517 0.41 41% 38%
2016 451,786 1,079,580 0.42 42%
2017 524,586 1,116,300 0.47 47%
Tempo Scan 2013 1,545,006 3,862,952 0.40 40%
Pacific Tbk 2014 1,460,391 4,132,339 0.35 35%
(TSPC) 2015 1,947,588 4,337,141 0.45 45% 42%
2016 1,950,534 4,635,273 0.42 42%
2017 2,352,892 5,082,008 0.46 46%
Pyridam Farma 2013 81,218 93,901 0.86 86%
Tbk (PYFA) 2014 76,176 96,559 0.79 79%
2015 58,729 101,222 0.58 58% 66%
2016 61,554 105,509 0.58 58%
2017 50,708 108,856 0.47 47%
Merck Tbk 2013 184,728 512,219 0.36 36%
(MERK) 2014 162,909 553,691 0.29 29%
2015 168,104 473,543 0.35 35% 33%
2016 161,262 582,672 0.28 28%
2017 230,569 615,437 0.37 37%
Sumber: Data Primer Diolah 2019

Tabel 4.4 diatas menjelaskan pada perusahaan Kalbe Farma Tbk

(KLBF) tahun 2013 tercatat total hutang perusahaan Kalbe Farma Tbk

(KLBF) sebesar Rp. 2.815.103 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 8.499.957

juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.33 dengan persentase Debt

to Equity Ratio (DER) sebesar 33% < 80% standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2014 tercatat total hutang perusahaan

Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.607.557 juta dan total ekuitas

sebesar Rp. 9.817.476 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.27

dengan persentase Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 27% < 80% standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan


74

modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2015 tercatat total hutang

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.758.131 juta dan total

ekuitas sebesar Rp. 10.938.286 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 0.25 dengan persentase Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 25% <

80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2016 tercatat

total hutang perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 22.762.162

juta dan total ekuitas sebesar Rp. 12.463.847 juta dengan Debt to Equity

Ratio (DER) sebesar 0.22 dengan persentase Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 22% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun

2017 tercatat total hutang perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp.

2.722.208 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 13.894.032 juta dengan Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 0.20 dengan persentase Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 20% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak

lain. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Debt to Equity Ratio (DER)

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-

rata Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 25% < 80% standar industri yang

telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Kalbe

Farma Tbk (KLBF) lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada

modal dari pihak lain.

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 tercatat total
75

hutang perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 847.585 juta dan

total ekuitas sebesar Rp. 1.624.355 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 0.52 dengan persentase Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 52% <

80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2014 tercatat

total hutang perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 1.157.040

juta dan total ekuitas sebesar Rp. 1.811.144 juta dengan Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 0.64 dengan persentase Debt to Equity Ratio (DER) sebesar

64% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih

banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2015

tercatat total hutang perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp.

1.374.127 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 1.862.097 juta dengan Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 0.74 dengan persentase Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 74% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak

lain. Tahun 2016 tercatat total hutang perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

sebesar Rp. 2.341.155 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 2.271.407 juta

dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 1,03 dengan persentase Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 103% > 80% standar industri yang menunjukkan

bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal pihak lain dari pada

modal sendiri. Tahun 2017 tercatat total hutang perusahaan Kimia Farma Tbk

(KAEF) sebesar Rp. 3.523.628 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 2.572.521

juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 1,37 jika


76

dipersentasekanDebt to Equity Ratio (DER) diperoleh sebesar 137% > 80%

standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak

menggunakan modal pihak lain dari pada modal sendiri. Selanjutnya jika

dilihat rata-rata persentase Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 86% < 80% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Kalbe

Farma Tbk (KLBF) lebih banyak menggunakan modal dari pihak lain dari

pada modal sendiri.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun 2013

tercatat total hutang perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

sebesar Rp. 275.351 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 914.703 juta dengan

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.30 dan jika dipersentasekan maka

diperolehDebt to Equity Ratio (DER) sebesar 30% < 80% standar industri

yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal

sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2014 tercatat total hutang

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 273.816 juta

dan total ekuitas sebesar Rp. 962.431 juta dengan Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 0.28 dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity

Ratio (DER) sebesar 28% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak

lain. Tahun 2015 tercatat total hutang perusahaan Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) sebesar Rp. 402.761 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 973.517
77

juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.41 dan jika

dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 41% <

80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2016 tercatat

total hutang perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp.

451.786 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 1.079.580 juta dengan Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 0.42 dan jika dipersentasekan maka diperoleh

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 42% < 80% standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2017 tercatat total hutang perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 524.586 juta dan total

ekuitas sebesar Rp. 1.116.300 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 0.47 dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 47% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak

lain. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Debt to Equity Ratio (DER)

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) periode tahun 2013-2017

tercatat rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 38% < 80% standar

industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-

2017perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal dari pihak lain.

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013 tercatat

total hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.
78

1.545.006 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 3.862.952 juta dengan Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 0.40 dan jika dipersentasekan maka diperoleh

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 40% < 80% standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2014 tercatat total hutang perusahaan

Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 1.460.391 juta dan total ekuitas

sebesar Rp. 4.132.339 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.35

dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar

35% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih

banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2015

tercatat total hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

1.947.588 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 4.337.141 juta dengan Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 0.45 dan jika dipersentasekan maka diperoleh

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 45% < 80% standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2016 tercatat total hutang perusahaan

Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 1.950.534 juta dan total ekuitas

sebesar Rp. 4.635.273 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.42

dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar

42% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih

banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2017

tercatat total hutang perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

2.352.892 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 5.082.008 juta dengan Debt to
79

Equity Ratio (DER) sebesar 0.46 dan jika dipersentasekan maka diperoleh

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 46% < 80% standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Debt

to Equity Ratio (DER) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) periode

tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 42%

< 80% standar industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun

2013-2017 perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal dari pihak lain.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) tahun 2013 tercatat

total hutang perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar Rp. 81.218 juta

dan total ekuitas sebesar Rp. 93.901 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 0.86 dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 86% > 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal pihak lain dari pada modal

sendiri. Tahun 2014 tercatat total hutang perusahaan Pyridam Farma Tbk

(FYFA) sebesar Rp. 76.176 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 96.559 juta

dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.79 dan jika dipersentasekan

maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 79% < 80% standar

industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan

modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2015 tercatat total hutang

perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar Rp. 58.729 juta dan total

ekuitas sebesar Rp. 101.222 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar
80

0.58 dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 58% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan

lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun

2016 tercatat total hutang perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar

Rp. 61.554 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 105.509 juta dengan Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 0.58 dan jika dipersentasekan maka diperoleh

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 58% < 80% standar industri yang

menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2017 tercatat total hutang perusahaan

Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar Rp. 50.708 juta dan total ekuitas sebesar

Rp. 108.856 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.47 dan jika

dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 47% <

80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Selanjutnya jika

dilihat rata-rata persentase Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Debt to

Equity Ratio (DER) sebesar 66% < 80% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Pyridam

Farma Tbk (FYFA) lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada

modal dari pihak lain.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 tercatat total hutang

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 184.728 juta dan total ekuitas

sebesar Rp. 512.219 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.36
81

dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar

36% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih

banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2013

tercatat total hutang perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 184.728

juta dan total ekuitas sebesar Rp. 512.219 juta dengan Debt to Equity Ratio

(DER) sebesar 0.36 dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity

Ratio (DER) sebesar 36% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan Merck Tbk (MERK) lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2014 tercatat total hutang perusahaan

Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 162.909 juta dan total ekuitas sebesar Rp.

553.691 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.29 dan jika

dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 29% <

80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk

(MERK) lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak

lain. Tahun 2015 tercatat total hutang perusahaan Merck Tbk (MERK)

sebesar Rp. 168.104 juta dan total ekuitas sebesar Rp. 473.543 juta dengan

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.35 dan jika dipersentasekan maka

diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 35% < 80% standar industri

yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak lain. Tahun 2016 tercatat

total hutang perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 161.262 juta dan

total ekuitas sebesar Rp. 582.672 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER)

sebesar 0.28 dan jika dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio
82

(DER) sebesar 28% < 80% standar industri yang menunjukkan bahwa

perusahaan Merck Tbk (MERK) lebih banyak menggunakan modal sendiri

dari pada modal pihak lain. Tahun 2017 tercatat total hutang perusahaan

Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 230.569 juta dan total ekuitas sebesar Rp.

615.437 juta dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0.37 dan jika

dipersentasekan maka diperoleh Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 37% <

80% standar industri yang menunjukkan bahwa perusahaan Merck Tbk

(MERK) lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal pihak

lain. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Debt to Equity Ratio (DER)

perusahaan Merck Tbk (MERK) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata

Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 33% < 80% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Merck Tbk

(MERK) lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal dari

pihak lain.

4.2.3. Karakteristik Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas terdiri dari Margin Laba Bersih (Net Profit

Margin)dan Return On Equity (ROE), berikut penjelasan untuk karakteristik

untuk masing-masing rasio.Untuk nilaiNet Profit Margin disajikan dalam

tabel 4.5 dibawah ini.

Tabel 4.5
Margin Laba Bersih/Net Profit Margin (NPM) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017
Laba Bersih Penjualan
Perusahaan Tahun Setelah Pajak Bersih NPM % Rata-Rata
(juta rupiah) (juta rupiah
Kalbe Farma Tbk 2013 1,970,452 16,002,131 0.12 12% 12%
2014 2,121,091 17,368,533 0.12 12%
83

2015 2,057,694 17,887,464 0.12 12%


2016 2,350,885 19,374,231 0.12 12%
2017 2,453,251 20,182,120 0.12 12%
Kimia Farma Tbk 2013 215,642 4,348,074 0.05 5%
(KAEF) 2014 236,531 4,521,024 0.05 5%
2015 252,973 4,860,371 0.05 5% 5%
2016 271,598 5,811,503 0.05 5%
2017 331,708 6,127,479 0.05 5%
Darya-Varia 2013 125,796 1,101,684 0.11 11%
Laboratoria Tbk 2014 80,929 1,103,822 0.07 7%
(DVLA) 2015 107,894 1,306,098 0.08 8% 10%
2016 152,083 1,451,357 0.10 10%
2017 162,249 1,575,647 0.10 10%
Tempo Scan 2013 638,535 6,854,889 0.09 9%
Pacific Tbk 2014 584,293 7,512,115 0.08 8%
(TSPC) 2015 529,219 8,181,482 0.06 6% 7%
2016 545,494 9,138,239 0.06 6%
2017 557,340 9,565,462 0.06 6%
Pyridam Farma 2013 6,196 192,556 0.03 3%
Tbk (PYFA) 2014 2,658 222,302 0.01 1%
2015 3,087 217,844 0.01 1% 2%
2016 5,146 216,952 0.02 2%
2017 7,127 223,002 0.03 3%
Merck Tbk 2013 175,445 1,193,952 0.15 15%
(MERK) 2014 181,472 863,208 0.21 21%
2015 142,545 983,446 0.14 14% 16%
2016 153,843 1,034,807 0.15 15%
2017 147,387 1,156,648 0.13 13%
Sumber: Data Primer Diolah 2019

Berdasarkan tabel 4.5 diatas diketahui pada perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) tahun 2013 laba bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar Rp. 1.970.452 juta dan penjualan bersih sebesar Rp.

16.002.131 juta dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,12

yang di jika dipersentasekan menjadi 12% < 20% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum


84

maksimal. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.121.091juta dan penjualan bersih sebesar Rp.

17.368.533juta dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,12

yang di jika dipersentasekan menjadi 12% < 20% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.057.694 juta dan penjualan bersih sebesar Rp.

17.887.464 juta dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,12

yang di jika dipersentasekan menjadi 12% < 20% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal. Tahun 2016 laba bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.350.885 juta dan penjualan bersih sebesar Rp.

19.374.231 juta dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,12

yang di jika dipersentasekan menjadi 12% < 20% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.453.251 juta dan penjualan bersih sebesar Rp.

20.182.120 juta dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,12

yang di jika dipersentasekan menjadi 12% < 20% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) belum memaksimalkan


85

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase margin laba bersih/net

profit margin(NPM) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) periode tahun

2013-2017 tercatat rata-rata margin laba bersih/net profit margin (NPM)

sebesar 12% < 20% standar industri yang telah ditetapkan yang berarti pada

periode tahun 2013-2017 perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal.

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 laba bersih

setelah pajak perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 215.642juta

dan penjualan bersih sebesar Rp. 4.348.074juta dengan margin laba bersih/net

profit margin sebesar 0,05 yang di jika dipersentasekan menjadi 5% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 236.531 juta dan

penjualan bersih sebesar Rp. 4.521.024 juta dengan margin laba bersih/net

profit margin sebesar 0,05 yang di jika dipersentasekan menjadi 5% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 252.973 juta dan

penjualan bersih sebesar Rp. 4.860.371 juta dengan margin laba bersih/net
86

profit margin sebesar 0,05 yang di jika dipersentasekan menjadi 5% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2016 laba bersih setelah pajak

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 271.598 juta dan

penjualan bersih sebesar Rp. 5.811.503 juta dengan margin laba bersih/net

profit margin sebesar 0,05 yang di jika dipersentasekan menjadi 5% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 331.708 juta dan

penjualan bersih sebesar Rp. 6.127.479 juta dengan margin laba bersih/net

profit margin sebesar 0,05 yang di jika dipersentasekan menjadi 5% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase

margin laba bersih/net profit margin (NPM) perusahaan Kimia Farma Tbk

(KAEF) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata margin laba bersih/net

profit margin (NPM) sebesar 5% < 20% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena

penjualan produk perusahaan belum maksimal.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun 2013


87

laba bersih setelah pajak perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

sebesar Rp. 125.796 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 1.101.684 juta

dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,11 yang di jika

dipersentasekan menjadi 11% < 20% standar industri, yang berarti bahwa

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 80.929 juta dan penjualan bersih

sebesar Rp. 1.103.822 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,07 yang di jika dipersentasekan menjadi 7% < 20% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 107.894 juta

dan penjualan bersih sebesar Rp. 1.306.098 juta dengan margin laba

bersih/net profit margin sebesar 0,08 yang di jika dipersentasekan menjadi

8% < 20% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka

karena penjualan produk perusahaan belum maksimal. Tahun 2016 laba

bersih setelah pajak perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

sebesar Rp. 152.083 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 1.451.357 juta

dengan margin laba bersih/net profit margin sebesar 0,10 yang di jika

dipersentasekan menjadi 10% < 20% standar industri, yang berarti bahwa
88

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 162.249 juta dan penjualan bersih

sebesar Rp. 1.575.647 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,10 yang di jika dipersentasekan menjadi 10% < 20% standar

industri, yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan

produk perusahaan belum maksimal. Selanjutnya jika dilihat rata-rata

persentase margin laba bersih/net profit margin (NPM) perusahaan Darya-

Varia Laboratoria Tbk (DVLA) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata

margin laba bersih/net profit margin (NPM) sebesar 10% < 20% standar

industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum memaksimalkan

pendapatan usaha mereka karena penjualan produk perusahaan belum

maksimal.

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

638.535 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 6.854.889 juta dengan margin

laba bersih/net profit margin sebesar 0,09 yang di jika dipersentasekan

menjadi 9% < 20% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka

karena penjualan produk perusahaan belum maksimal. Tahun 2014 laba


89

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

584.293 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 7.512.115 juta dengan margin

laba bersih/net profit margin sebesar 0,08 yang di jika dipersentasekan

menjadi 8% < 20% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka

karena penjualan produk perusahaan belum maksimal. Tahun 2015 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

529.219 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 8.181.482 juta dengan margin

laba bersih/net profit margin sebesar 0,06 yang di jika dipersentasekan

menjadi 6% < 20% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka

karena penjualan produk perusahaan belum maksimal. Tahun 2016 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

545.494 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 9.138.239 juta dengan margin

laba bersih/net profit margin sebesar 0,06 yang di jika dipersentasekan

menjadi 6% < 20% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka

karena penjualan produk perusahaan belum maksimal. Tahun 2017 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

557.340 juta dan penjualan bersih sebesar Rp. 9.565.462 juta dengan margin

laba bersih/net profit margin sebesar 0,06 yang di jika dipersentasekan

menjadi 6% < 20% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo

Scan Pacific Tbk (TSPC) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka


90

karena penjualan produk perusahaan belum maksimal. Selanjutnya jika

dilihat rata-rata persentase margin laba bersih/net profit margin (NPM)

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) periode tahun 2013-2017

tercatat rata-rata margin laba bersih/net profit margin (NPM) sebesar 7% <

20% standar industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun

2013-2017 perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tahun 2013 laba bersih

setelah pajak perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 6.196 juta

dan penjualan bersih sebesar Rp. 192.556 juta dengan margin laba bersih/net

profit margin sebesar 0,03 yang di jika dipersentasekan menjadi 3% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 2.658 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 222.302 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,01 yang di jika dipersentasekan menjadi 1% < 20% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 3.087 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 217.844 juta dengan margin laba bersih/net profit
91

marginsebesar 0,01 yang di jika dipersentasekan menjadi 1% < 20% standar

industri, yang berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2016 laba bersih setelah pajak

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 5.146 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 216.952 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,02 yang di jika dipersentasekan menjadi 2% < 20% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 7.127 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 223.002 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,03 yang di jika dipersentasekan menjadi 3% < 20% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase

margin laba bersih/net profit margin (NPM) perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata margin laba bersih/net

profit margin (NPM) sebesar 2% < 20% standar industri yang telah

ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Pyridam

Farma Tbk (PYFA) belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena

penjualan produk perusahaan belum maksimal.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 laba bersih setelah
92

pajak perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 175.445 juta dan

penjualan bersih sebesar Rp. 1.193.952 juta dengan margin laba bersih/net

profit margin sebesar 0,15 yang di jika dipersentasekan menjadi 15% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 181.472 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 863.208 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,21 yang di jika dipersentasekan menjadi 21% > 20% standar

industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK)sudah

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan sudah maksimal. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 142.545 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 983.446 juta dengan margin laba bersih/net profit margin

sebesar 0,14 yang di jika dipersentasekan menjadi 14% < 20% standar

industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Tahun 2016 laba bersih setelah pajak

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 153.843 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 1.034.807 juta dengan margin laba bersih/net profit

margin sebesar 0,15 yang di jika dipersentasekan menjadi 15% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk


93

perusahaan belum maksimal. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 147.387 juta dan penjualan

bersih sebesar Rp. 1.156.648 juta dengan margin laba bersih/net profit

margin sebesar 0,13 yang di jika dipersentasekan menjadi 13% < 20%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum

memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase

margin laba bersih/net profit margin (NPM) perusahaan Merck Tbk (MERK)

periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata margin laba bersih/net profit

margin (NPM) sebesar 16% < 20% standar industri yang telah ditetapkan

yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Merck Tbk (MERK)

belum memaksimalkan pendapatan usaha mereka karena penjualan produk

perusahaan belum maksimal.

Karakteristik dataReturn on Equity (ROE disajikan dalam tabel 4.6

dibawah ini.

Tabel 4.6
Retun On Equity Perusahaan Farmasi Yang
Terdaftar di BEI tahun 2013-2017

Laba Bersih Total Modal


Perusahaan Tahun Setelah Pajak Sendiri ROE % Rata-Rata
(juta rupiah) (juta rupiah)
Kalbe Farma Tbk 2013 1,970,452 8,499,957 0.23 23%
(KLBF) 2014 2,121,091 9,817,476 0.22 22%
2015 2,057,694 10,938,286 0.19 19% 20%
2016 2,350,885 12,463,847 0.19 19%
2017 2,453,251 13,894,032 0.18 18%
94

Kimia Farma Tbk 2013 215,642 1,624,355 0.13 13%


(KAEF) 2014 236,531 1,811,144 0.13 13%
2015 252,973 1,862,097 0.14 14% 13%
2016 271,598 2,271,407 0.12 12%
2017 331,708 2,572,521 0.13 13%
Darya-Varia 2013 125,796 914,703 0.14 14%
Laboratoria Tbk 2014 80,929 962,431 0.08 8%
(DVLA) 2015 107,894 973,517 0.11 11% 12%
2016 152,083 1,079,580 0.14 14%
2017 162,249 1,116,300 0.15 15%
Tempo Scan 2013 638,535 3,862,952 0.17 17%
Pacific Tbk 2014 584,293 4,132,339 0.14 14%
(TSPC) 2015 529,219 4,337,141 0.12 12% 13%
2016 545,494 4,635,273 0.12 12%
2017 557,340 5,082,008 0.11 11%
Pyridam Farma 2013 6,196 93,901 0.07 7%
Tbk (PYFA) 2014 2,658 96,559 0.03 3%
2015 3,087 101,222 0.03 3% 5%
2016 5,146 105,509 0.05 5%
2017 7,127 108,856 0.07 7%
Merck Tbk 2013 175,445 512,219 0.34 34%
(MERK) 2014 181,472 553,691 0.33 33%
2015 142,545 473,543 0.30 30% 29%
2016 153,843 582,672 0.26 26%
2017 147,387 615,437 0.24 24%
Sumber: Data Primer Diolah 2019

Berdasarkan tabel 4.6 diatas diketahui pada perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) tahun 2013 laba bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar Rp. 1.970.452 juta dan total modal sendiri sebesar Rp.

8.499.957 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,23 yang jika

dipersentasekan menjadi 23% < 40% standar industri, yang berarti bahwa

belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa

posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.121.091 juta dan total

modal sendiri sebesar Rp. 9.817.476 juta dengan Return On Equity (ROE)
95

sebesar 0,22 yang jika dipersentasekan menjadi 22% < 40% standar industri,

yang berarti bahwa belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2015 laba

bersih setelah pajak perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp.

2.057.694 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 10.938.286 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,19 yang jika dipersentasekan menjadi

19% < 40% standar industri, yang berarti bahwa belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat. Tahun 2016 laba bersih setelah pajak perusahaan

Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.350.885 juta dan total modal sendiri

sebesar Rp. 12.463.847 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,19

yang jika dipersentasekan menjadi 19% < 40% standar industri, yang berarti

bahwa belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan

bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2017 laba bersih setelah

pajak perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 2.453.251 juta dan

total modal sendiri sebesar Rp. 13.894.032 juta dengan Return On Equity

(ROE) sebesar 0,18 yang jika dipersentasekan menjadi 18% < 40% standar

industri, yang berarti bahwa belum maksimalnya penggunaan modal sendiri

hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.

Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Return On Equity

(ROE)perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) periode tahun 2013-2017

tercatat rata-rata Return On Equity (ROE) sebesar 20% < 40% standar

industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017
96

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)belum maksimalnya penggunaan modal

sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 laba bersih

setelah pajak sebesar Rp. 215.642 juta dan total modal sendiri sebesar Rp.

1.624.355 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,13 yang jika

dipersentasekan menjadi 13% < 40% standar industri, yang berarti bahwa

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) belum maksimalnya penggunaan

modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum

kuat. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 236.531 juta dan total

modal sendiri sebesar Rp. 1.811.144 juta dengan Return On Equity (ROE)

sebesar 0,13 yang jika dipersentasekan menjadi 13% < 40% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak sebesar

Rp. 252.973 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 1.862.097 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,14 yang jika dipersentasekan menjadi

14% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma

Tbk (KAEF) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2016 laba

bersih setelah pajak sebesar Rp. 152.083 juta dan total modal sendiri sebesar

Rp. 1.079.580 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,14 yang jika

dipersentasekan menjadi 14% < 40% standar industri, yang berarti bahwa

perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) belum maksimalnya penggunaan


97

modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum

kuat. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 331.708 juta dan total

modal sendiri sebesar Rp. 2.572.521 juta dengan Return On Equity (ROE)

sebesar 0,13 yang jika dipersentasekan menjadi 13% < 40% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase

Return On Equity (ROE) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) periode

tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Return On Equity (ROE) sebesar 13% <

40% standar industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun

2013-2017 perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat.

Perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun 2013 laba

bersih setelah pajak perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

sebesar Rp. 125.796 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 914.703 juta

dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,14 yang jika dipersentasekan

menjadi 14% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Darya-

Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum maksimalnya penggunaan modal

sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.

Tahun 2014 laba bersih setelah pajak perusahaan Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) sebesar Rp. 80.929 juta dan total modal sendiri sebesar Rp.

962.431 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,08 yang jika
98

dipersentasekan menjadi 8% < 40% standar industri, yang berarti bahwa

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 107.894 juta dan total

modal sendiri sebesar Rp. 973.517 juta dengan Return On Equity (ROE)

sebesar 0,11 yang jika dipersentasekan menjadi 11% < 40% standar industri,

yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2016 laba bersih setelah pajak

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 152.083 juta

dan total modal sendiri sebesar Rp. 1.079.580 juta dengan Return On Equity

(ROE) sebesar 0,14 yang jika dipersentasekan menjadi 14% < 40% standar

industri, yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan

bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2017 laba bersih setelah

pajak perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 162.249

juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 1.116.300 juta dengan Return On

Equity (ROE) sebesar 0,15 yang jika dipersentasekan menjadi 15% < 40%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan

bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Selanjutnya jika dilihat rata-

rata persentase Return On Equity (ROE) perusahaan Darya-Varia


99

LaboratoriaTbk (DVLA) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Return

On Equity (ROE) sebesar 12% < 40% standar industri yang telah ditetapkan

yang berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal

ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.

Perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013 laba bersih

setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

638.535 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 3.862.925 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,17 yang jika dipersentasekan menjadi

17% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2014 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

584.293 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 4.132.339 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,14 yang jika dipersentasekan menjadi

14% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2015 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

529.219 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 4.337.141 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,12 yang jika dipersentasekan menjadi

12% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini
100

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2016 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

545.494 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 4.635.273 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,12 yang jika dipersentasekan menjadi

12% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2017 laba

bersih setelah pajak perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp.

557.340 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 5.082.008 juta dengan

Return On Equity (ROE) sebesar 0,11 yang jika dipersentasekan menjadi

11% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Selanjutnya jika

dilihat rata-rata persentase Return On Equity (ROE) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Return On

Equity (ROE) sebesar 13% < 40% standar industri yang telah ditetapkan yang

berarti pada periode tahun 2013-2017 perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan

bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.

Perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tahun 2013 laba bersih

setelah pajak perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 6.196 juta

dan total modal sendiri sebesar Rp. 93.901 juta dengan Return On Equity

(ROE) sebesar 0,07 yang jika dipersentasekan menjadi 7% < 40% standar
101

industri, yang berarti bahwa Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak

perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 2.658 juta dan total

modal sendiri sebesar Rp. 96.559 juta dengan Return On Equity (ROE)

sebesar 0,03 yang jika dipersentasekan menjadi 3% < 40% standar industri,

yang berarti bahwa Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat. Tahun 2015 laba bersih setelah pajak perusahaan

Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 3.087 juta dan total modal sendiri

sebesar Rp. 101.222 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,03 yang

jika dipersentasekan menjadi 3% < 40% standar industri, yang berarti bahwa

Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri

hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun

2016 laba bersih setelah pajak perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA)

sebesar Rp. 5.146 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 105.509 juta

dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,05 yang jika dipersentasekan

menjadi 5% < 40% standar industri, yang berarti bahwa Pyridam Farma Tbk

(PYFA) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan

bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2017 laba bersih setelah

pajak perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebesar Rp. 7.127 juta dan

total modal sendiri sebesar Rp. 108.856 juta dengan Return On Equity (ROE)

sebesar 0,07 yang jika dipersentasekan menjadi 7% < 40% standar industri,
102

yang berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase

Return On Equity (ROE) perusahaan perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) periode tahun 2013-2017 tercatat rata-rata Return On Equity (ROE)

sebesar 5% < 40% standar industri yang telah ditetapkan yang berarti pada

periode tahun 2013-2017 perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat.

Perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 laba bersih setelah pajak

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 175.445 juta dan total modal

sendiri sebesar Rp. 512.219 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar

0,34 yang jika dipersentasekan menjadi 34% < 40% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat. Tahun 2014 laba bersih setelah pajak perusahaan

Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 181.472 juta dan total modal sendiri sebesar

Rp. 553.691 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,33 yang jika

dipersentasekan menjadi 33% < 40% standar industri, yang berarti bahwa

perusahaan Merck Tbk (MERK) belum maksimalnya penggunaan modal

sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.

Tahun 2015 laba bersih setelah pajak perusahaan Merck Tbk (MERK)

sebesar Rp. 142.545 juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 473.543 juta
103

dengan Return On Equity (ROE) sebesar 0,30 yang jika dipersentasekan

menjadi 30% < 40% standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck

Tbk (MERK) belum maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini

menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2016 laba

bersih setelah pajak perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 153.843

juta dan total modal sendiri sebesar Rp. 582.672 juta dengan Return On

Equity (ROE) sebesar 0,26 yang jika dipersentasekan menjadi 26% < 40%

standar industri, yang berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi

pemilik perusahaan belum kuat. Tahun 2017 laba bersih setelah pajak

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 147.387 juta dan total modal

sendiri sebesar Rp. 615.437 juta dengan Return On Equity (ROE) sebesar

0,24 yang jika dipersentasekan menjadi 24% < 40% standar industri, yang

berarti bahwa perusahaan Merck Tbk (MERK) belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat. Selanjutnya jika dilihat rata-rata persentase Return

On Equity (ROE) perusahaan Merck Tbk (MERK) periode tahun 2013-2017

tercatat rata-rata Return On Equity (ROE) sebesar 29% < 40% standar

industri yang telah ditetapkan yang berarti pada periode tahun 2013-2017

perusahaan Merck Tbk (MERK) belum maksimalnya penggunaan modal

sendiri hal ini menunjukkan bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat.
104

4.2.4. Karakteristik Rasio Aktivitas

Rasio Aktivitas yang diteliti terdiri dari Fixed Asset Turn Over

(FATO) dan Total Asset Turn Over (TATO), berikut penjelasan untuk

karakteristik untuk masing-masing rasio.

Tabel 4.7
Fixed Asset Turn Over (FATO) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017

Total Aktiva
Penjualan
Perusahaan Tahun Tetap FATO Rata-Rata
(juta rupiah)
(juta rupiah)
Kalbe Farma Tbk 2013 1,970,452 3,898,061 0.51
(KLBF) 2014 2,121,091 3,938,494 0.54
2015 2,057,694 4,555,756 0.45 0.48
2016 2,350,885 5,342,660 0.44
2017 2,453,251 5,533,819 0.44
Kimia Farma Tbk 2013 215,642 498,644 0.43
(KAEF) 2014 236,531 557,939 0.42
2015 252,973 3,236,224 0.08 0.21
2016 271,598 4,612,563 0.06
2017 331,708 6,096,149 0.05
Darya-Varia 2013 125,796 1,190,054 0.11
Laboratoria Tbk 2014 80,929 1,236,248 0.07
(DVLA) 2015 107,894 1,376,278 0.08 0.09
2016 152,083 1,531,366 0.10
2017 162,249 1,640,886 0.10
Tempo Scan 2013 638,535 5,407,958 0.12
Pacific Tbk 2014 584,293 5,592,730 0.10
(TSPC) 2015 529,219 6,284,729 0.08 0.09
2016 545,494 6,585,807 0.08
2017 557,340 7,434,900 0.07
Pyridam Farma 2013 6,196 175,119 0.04
Tbk (PYFA) 2014 2,658 172,737 0.02
2015 3,087 159,952 0.02 0.03
2016 5,146 167,063 0.03
2017 7,127 159,564 0.04
105

Merck Tbk 2013 175,445 696,946 0.25


(MERK) 2014 181,472 716,600 0.25
2015 142,545 641,647 0.22 0.22
2016 153,843 743,935 0.21
2017 147,387 847,067 0.17
Sumber: Data Primer Diolah 2019

Dari tabel 4.7 diatas diketahui pada perusahaan kalbe Farma Tbk

(KLBF) tahun 2013 penjualan sebesar Rp. 1.970.452 juta dan total aktiva tetap

sebesar Rp. 3.898.061 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0,51 kali < dari 5 kali

standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Tahun 2014 penjualan sebesar Rp. 2.121.091 juta dan total aktiva tetap

sebesar Rp. 3.938.494 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0,54 kali < dari 5 kali

standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Tahun 2015 penjualan sebesar Rp. 2.057.694 juta dan total aktiva tetap

sebesar Rp. 4.555.756 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0,45 kali < dari 5 kali

standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Tahun 2016 penjualan sebesar Rp. 2.350.885 juta dan total aktiva tetap

sebesar Rp. 5..342.660 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0,44 kali < dari 5 kali

standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Tahun 2017 penjualan sebesar Rp. 2.453.251 juta dan total aktiva tetap

sebesar Rp. 5.533.819 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0,44 kali < dari 5 kali
106

standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Selanjutnya jika dilihat rata-rata Fixed Asset Turn Over (FATO)

perusahaan kalbe Farma Tbk (KLBF) periode tahun 2013-2017 sebesar 0,48

kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa

memaksimalkan aktiva.

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 penjualan

sebesar Rp. 215.642 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 498.644 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar 0,43 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2014 penjualan

sebesar Rp. 236.534 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 557.939 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar 0,42 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2015 penjualan

sebesar Rp. 252.973 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 3.236.224 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar 0,08 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2016 penjualan

sebesar Rp. 271.598 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 4.612.563 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar 0,06 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2017 penjualan

sebesar Rp. 331.798 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 6.096.149 juta, dari
107

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar 0,05 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Selanjutnya jika dilihat

rata-rata Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

periode tahun 2013-2017 sebesar 0,21 kali < dari 5 kali standar industri yang

berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun 2013

penjualan sebesar Rp. 125.796 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 1.190.054

juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0,11 kali < dari 5 kali standar

industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Tahun 2014 penjualan sebesar Rp. 80.929 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp.

1.236.248 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO)

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0,07 kali < dari 5

kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Tahun 2015 penjualan sebesar Rp. 107.894 juta dan total aktiva tetap

sebesar Rp. 1.376.278 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0,08 kali <

dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa

memaksimalkan aktiva. Tahun 2016 penjualan sebesar Rp. 152.083 juta dan

total aktiva tetap sebesar Rp. 1.531.366 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed

Asset Turn Over (FATO) perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

sebesar 0,10 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan
108

belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2017 penjualan sebesar Rp. 162.249

juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 1.640.886 juta, dari data tersebut

diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Darya-Varia Laboratoria

Tbk (DVLA) sebesar 0,10 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Selanjutnya jika dilihat rata-rata

Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) periode tahun 2013-2017 sebesar 0,09 kali < dari 5 kali standar

industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013 penjualan

sebesar Rp. 638.535 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 5.407.958 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) sebesar 0,12 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2014 penjualan

sebesar Rp. 584.293 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 5.592.730 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) sebesar 0,10 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2015 penjualan

sebesar Rp. 529.219 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 6.284.729 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) sebesar 0,08 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2016 penjualan

sebesar Rp. 545.494 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 6.585.807 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Tempo Scan
109

Pacific Tbk (TSPC) sebesar 0,08 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2017 penjualan

sebesar Rp. 557.340 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 7.434.900 juta, dari

data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) sebesar 0,07 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Selanjutnya jika dilihat

rata-rata Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) periode tahun 2013-2017 sebesar 0,09 kali < dari 5 kali standar industri

yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) tahun 2013 penjualan

sebesar Rp. 6.196 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 175.119 juta, dari data

tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Pyridam Farma

Tbk (PYFA) sebesar 0,04 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2014 penjualan sebesar

Rp. 2.658 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 172.737 juta, dari data tersebut

diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar 0,02 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2015 penjualan sebesar

Rp. 3.087 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 159.952 juta, dari data tersebut

diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar 0,02 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2016 penjualan sebesar

Rp. 5.146 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 167.063 juta, dari data tersebut
110

diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar 0,03 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2017 penjualan sebesar

Rp. 7.127 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 159.564 juta, dari data tersebut

diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk

(PYFA) sebesar 0,04 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Selanjutnya jika dilihat rata-rata

Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA)

periode tahun 2013-2017 sebesar 0,03 kali < dari 5 kali standar industri yang

berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 penjualan sebesar Rp.

175.445 juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 696.946 juta, dari data tersebut

diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Merck Tbk (MERK)

sebesar 0,25 kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan

belum bisa memaksimalkan aktiva. Tahun 2014 penjualan sebesar Rp. 181.472

juta dan total aktiva tetap sebesar Rp. 716.600 juta, dari data tersebut diperoleh

Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar 0,25

kali < dari 5 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa

memaksimalkan aktiva. Tahun 2015 penjualan sebesar Rp. 142.545 juta dan

total aktiva tetap sebesar Rp. 641.647 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed

Asset Turn Over (FATO) perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar 0,22 kali < 5

kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan

aktiva. Tahun 2016 penjualan sebesar Rp. 153.843 juta dan total aktiva tetap
111

sebesar Rp. 743.935 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over

(FATO) perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar 0,21 kali < 5 kali standar

industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Tahun 2017 penjualan sebesar Rp. 147.387 juta dan total aktiva tetap sebesar

Rp. 847.067 juta, dari data tersebut diperoleh Fixed Asset Turn Over (FATO)

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar 0,17 kali < 5 kali standar industri yang

berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva. Selanjutnya jika

dilihat rata-rata Fixed Asset Turn Over (FATO) perusahaan Merck Tbk

(MERK) periode tahun 2013-2017 sebesar 0,22 kali < dari 5 kali standar

industri yang berarti bahwa perusahaan belum bisa memaksimalkan aktiva.

Untuk perhitungan data Total Asset Turnover disajikan dalam tabel

dibawah ini.

Tabel 4.8
Total Asset Turn Over (TATO) Perusahaan Farmasi
Yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2017

Penjualan Total Aktiva


Perusahaan Tahun TATO Rata-Rata
(juta rupiah) (juta rupiah)
Kalbe Farma Tbk 2013 1,970,452 11,315,061 0.17
(KLBF) 2014 2,121,091 12,425,032 0.17
2015 2,057,694 13,696,417 0.15 0.16
2016 2,350,885 15,226,009 0.15
2017 2,453,251 16,616,239 0.15
Kimia Farma Tbk 2013 215,642 2,471,940 0.09
(KAEF) 2014 236,531 2,968,185 0.08
2015 252,973 3,236,224 0.08 0.07
2016 271,598 4,612,563 0.06
2017 331,708 6,096,149 0.05
Darya-Varia 2013 125,796 1,190,054 0.11
Laboratoria Tbk 2014 80,929 1,236,248 0.07 0.09
(DVLA) 2015 107,894 1,376,278 0.08
112

2016 152,083 1,531,366 0.10


2017 162,249 1,640,886 0.10
Tempo Scan 2013 638,535 5,407,958 0.12
Pacific Tbk 2014 584,293 5,592,730 0.10
(TSPC) 2015 529,219 6,284,729 0.08 0.09
2016 545,494 6,585,807 0.08
2017 557,340 7,434,900 0.07
Pyridam Farma 2013 6,196 175,119 0.04
Tbk (PYFA) 2014 2,658 172,737 0.02
2015 3,087 159,952 0.02 0.03
2016 5,146 167,063 0.03
2017 7,127 159,564 0.04
Merck Tbk 2013 175,445 696,946 0.25
(MERK) 2014 181,472 716,600 0.25
2015 142,545 641,647 0.22 0.22
2016 153,843 743,935 0.21
2017 147,387 847,067 0.17
Sumber: Data Primer Diolah 2019

Tabel 4.8 diatas menjelaskan bahwa pada perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) tahun 2013 tercatat penjualan sebesar Rp. 1.970.452 juta dan

Total aktiva perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 11.315.061

juta dari data tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan

Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0.17 kali < 2 kali standar industri hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2014 tercatat penjualan sebesar Rp. 2.121.091 juta dan Total aktiva

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp. 12.425.032 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) sebesar 0.17 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan

bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva


113

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2015 tercatat penjualan

sebesar Rp. 2.057.694 juta dan Total aktiva perusahaan Kalbe Farma Tbk

(KLBF) sebesar Rp. 13.696.417 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets

Turn Over (TATO) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0.15 kali <

2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya. Tahun 2016 tercatat penjualan sebesar Rp.

2.350.885 juta dan Total aktiva perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar

Rp. 15.226.009 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets Turn Over

(TATO) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0.15 kali < 2 kali

standar industri hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya. Tahun 2017 tercatat penjualan sebesar Rp.

2.453.251 juta dan Total aktiva perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar

Rp. 16.616.239 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets Turn Over

(TATO) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 0.15 kali < 2 kali

standar industri hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya.Selanjutnya jika dilihat rata-rata Total Assets Turn

Over (TATO) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) periode tahun 2013-2017

sebesar 0,16 kali < 5 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.


114

Pada perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2013 tercatat

penjualan sebesar Rp. 215.642 juta dan Total aktiva perusahaan perusahaan

Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 2.471.940 juta dari data tersebut

diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk

(KAEF) sebesar 0.09 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan

bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2014 tercatat penjualan

sebesar Rp. 236.531 juta dan Total aktiva perusahaan perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 2.968.185 juta dari data tersebut diperoleh

Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

sebesar 0.08 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2015 tercatat penjualan

sebesar Rp. 252.973 juta dan Total aktiva perusahaan perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 3.236.224 juta dari data tersebut diperoleh

Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

sebesar 0.08 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2016 tercatat penjualan

sebesar Rp. 271.598 juta dan Total aktiva perusahaan perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 4.612.563 juta dari data tersebut diperoleh

Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

sebesar 0.06 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa
115

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2014 tercatat penjualan

sebesar Rp. 215.642 juta dan Total aktiva perusahaan perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 2.471.940 juta dari data tersebut diperoleh

Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

sebesar 0.09 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.Tahun 2017 tercatat penjualan

sebesar Rp. 331.708 juta dan Total aktiva perusahaan perusahaan Kimia

Farma Tbk (KAEF) sebesar Rp. 6.096.149 juta dari data tersebut diperoleh

Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

sebesar 0.05 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.Selanjutnya jika dilihat rata-

rata Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF)

periode tahun 2013-2017 sebesar 0,07 kali < 5 kali standar industri hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) tahun 2013

tercatat penjualan sebesar Rp. 125.796 juta dan Total aktiva perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.190.054 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0.11 kali < 2 kali standar industri hal ini
116

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2014 tercatat penjualan sebesar Rp. 80.929 juta dan Total aktiva perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.236.248 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0.07 kali < 2 kali standar industri hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2015 tercatat penjualan sebesar Rp. 107.894 juta dan Total aktiva perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.376.278 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0.08 kali < 2 kali standar industri hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2016 tercatat penjualan sebesar Rp. 152.083 juta dan Total aktiva perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.531.366 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0.10 kali < 2 kali standar industri hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2017 tercatat penjualan sebesar Rp. 162.083 juta dan Total aktiva perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar Rp. 1.531.366 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Darya-Varia


117

Laboratoria Tbk (DVLA) sebesar 0.10 kali < 2 kali standar industri hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.

Selanjutnya jika dilihat rata-rata Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan

Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) periode tahun 2013-2017 sebesar 0,09

kali < 5 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya.

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2013 tercatat

penjualan sebesar Rp. 638.535 juta dan Total aktiva perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk (TSPC) sebesar Rp. 5.407.958 juta dari data tersebut diperoleh

Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

sebesar 0.12 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2014 tercatat penjualan

sebesar Rp. 584.293 juta dan Total aktiva perusahaan Tempo Scan Pacific

Tbk (TSPC) sebesar Rp. 5.592.730 juta dari data tersebut diperoleh Total

Assets Turn Over (TATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

sebesar 0.10 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2015 tercatat penjualan

sebesar Rp. 529.219 juta dan Total aktiva perusahaan Tempo Scan Pacific

Tbk (TSPC) sebesar Rp. 6.284.729 juta dari data tersebut diperoleh Total
118

Assets Turn Over (TATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

sebesar 0.08 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2016 tercatat penjualan

sebesar Rp. 545.494 juta dan Total aktiva perusahaan Tempo Scan Pacific

Tbk (TSPC) sebesar Rp. 6.585.807 juta dari data tersebut diperoleh Total

Assets Turn Over (TATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

sebesar 0.08 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2017 tercatat penjualan

sebesar Rp. 557.340 juta dan Total aktiva perusahaan Tempo Scan Pacific

Tbk (TSPC) sebesar Rp. 7.434.900 juta dari data tersebut diperoleh Total

Assets Turn Over (TATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

sebesar 0.07 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Selanjutnya jika dilihat rata-

rata Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk

(TSPC) periode tahun 2013-2017 sebesar 0,09 kali < 5 kali standar industri hal

ini menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) tahun 2013 tercatat

penjualan sebesar Rp. 6.196 juta dan Total aktiva perusahaan Pyridam Farma

Tbk (FYFA) sebesar Rp. 175.119 juta dari data tersebut diperoleh Total
119

Assets Turn Over (TATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar

0.04 kali < 2 kali standar industri hal ini menunjukkan bahwa perusahaan

belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya. Tahun 2014 tercatat penjualan sebesar Rp. 2.658

juta dan Total aktiva perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar Rp.

172.737 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO)

perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar 0.02 kali < 2 kali standar

industry, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan

penjualannya. Tahun 2015 tercatat penjualan sebesar Rp. 3.087 juta dan Total

aktiva perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar Rp. 159.952 juta dari

data tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Pyridam

Farma Tbk (FYFA) sebesar 0.02 kali < 2 kali standar industry, hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2016 tercatat penjualan sebesar Rp. 5.146 juta dan Total aktiva perusahaan

Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar Rp. 167.564 juta dari data tersebut

diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk

(FYFA) sebesar 0.03 kali < 2 kali standar industry, hal ini menunjukkan

bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2017 tercatat penjualan

sebesar Rp. 7.127 juta dan Total aktiva perusahaan Pyridam Farma Tbk

(FYFA) sebesar Rp. 159.564 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets
120

Turn Over (TATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) sebesar 0.04

kali < 2 kali yaitu standar industry, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan

belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya.Selanjutnya jika dilihat rata-rata Total Assets Turn

Over (TATO) perusahaan Pyridam Farma Tbk (FYFA) periode tahun 2013-

2017 sebesar 0,03 kali kecil dari standar industri yang ditetapkan sebesar 5 kali,

hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.

Pada perusahaan Merck Tbk (MERK) tahun 2013 tercatat penjualan

sebesar Rp. 638.535 juta dan Total aktiva perusahaan Merck Tbk (MERK)

sebesar Rp. 5.407.958 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets Turn

Over (TATO) perusahaan perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar 0.12 kali

lebih kecil dari standar industri yang ditetapkan sebesar 2 kali, hal ini

menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun

2014 tercatat penjualan produk perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp.

175.445 juta dan Total aktiva perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp.

696.946 juta dari data tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO)

perusahaan perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar 0.25 kali lebih kecil dari

standar industri yang ditetapkan sebesar 2 kali, hal ini menunjukkan bahwa

perusahaan belum memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva

perusahaan dalam menghasilkan penjualannya. Tahun 2015 tercatat penjualan

produk perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 142.545 juta dan Total
121

aktiva perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 641.647 juta dari data

tersebut diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan perusahaan

Merck Tbk (MERK) sebesar 0.25 kali lebih kecil dari standar industri yang

ditetapkan sebesar 2 kali, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya. Tahun 2016 tercatat penjualan produk

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 153.843 juta dan Total aktiva

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 743.935 juta dari data tersebut

diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan perusahaan Merck Tbk

(MERK) sebesar 0.21 kali lebih kecil dari standar industri yang ditetapkan

sebesar 2 kali, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya. Tahun 2017 tercatat penjualan produk

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 147.387 juta dan Total aktiva

perusahaan Merck Tbk (MERK) sebesar Rp. 847.067 juta dari data tersebut

diperoleh Total Assets Turn Over (TATO) perusahaan perusahaan Merck Tbk

(MERK) sebesar 0.17 kali lebih kecil dari standar industri yang ditetapkan

sebesar 2 kali, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum

memaksimalkan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam

menghasilkan penjualannya.Selanjutnya jika dilihat rata-rata Total Assets Turn

Over (TATO) perusahaan Merck Tbk (MERK) periode tahun 2013-2017

sebesar 0,22 kali kecil dari standar industri yang ditetapkan sebesar 5 kali, hal

ini menunjukkan bahwa perusahaan belum memaksimalkan penggunaan


122

keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualannya.

4.3. Analisis Data dan Pembahasan

4.4.1. Analisis Data

1. Kinerja Keuangan PT. Kalbe Farma Tbk Tahun 2013-2017

Kinerja keuangan perusahaan PT. Kalbe Farma Tbk (KLBF)

dilihat dari rasio keuangan dapat disajikan dalam tabel di bawah

Tabel 4.9
Analisis Rasio Keuangan PT. Kalbe Farma Tbk Tahun 2013-2017

Kalbe Farma Tbk


Rasio Keuangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata Standar
(KLBF)
Industri
Rasio CR 3 :1 3 :1 4 :1 4 :1 5 :1 4 :1 2 :1
Liquiditas QR 1,7 : 1 2,1 : 1 2,3 : 1 2,6 : 1 3,0 : 1 2,3 : 1 1,5 : 1
Rasio DAR 25% 21% 20% 18% 16% 20% 35%
Solvabilitas DER 33% 27% 25% 22% 20% 25% 80%
Rasio NPM 12% 12% 12% 12% 12% 12% 20%
Profitabilitas ROE 23% 22% 19% 19% 18% 20% 40%
Rasio FATO 0,51 kali 0,54 kali 0,45 kali 0,44 kali 0,44 kali 0,48 kali 5 kali
Aktivitas TATO 0,17 kali 0,17 kali 0,15 kali 0,15 kali 0,15 kali 0,16 kali 2 kali
Sumber: Diolah tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.9 diatas dapat dijelaskan keadaan rasio keuangan

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebagai berikut:

Rasio Likuiditas terdiri dari Rasio Lancar (Current Ratio) dan Rasio

Cepat (Quick Ratio), berdasarkan tabel 4.9 dapat dijelaskandiatas diketahui

Rasio Lancar (Current Ratio) pada perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

pada tahun 2013dan 2014 sebesar 3:1, tahun 2015 dan 2016 sebesar 4:1 dan

pada tahun 2017 sebesar 5:1. Selanjutnya jika dirata-ratakan mulai periode

tahun 2013-2017 diperoleh Rasio Lancar (Current Ratio) pada perusahaan

Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 4:1, dari data tersebut dapat disimpulkan

bahwa Rasio Lancar (Current Ratio) pada perusahaan Kalbe Farma Tbk
123

(KLBF) periode tahun 2013-2017 besar dari standar industry yang hanya

sebesar 2:1 yang berarti bawa perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) mampu

untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya atau melunasi hutang yang

segera jatuh tempo. Kasmir (2012:134) lancar atau current ratio merupakan

rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban

jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara

keseluruhan dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia

untuk menutupi kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh

tempo, jika current ratio besar atau sama dengan 2:1 standar industri berarti

perusahaan dalam keadaan baik karena mampu melunasi kewajiban jangka

pendeknya. Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Kalbe Farma Tbk

(KLBF) tahun 2013 sebesar 1,7:1, tahun 2014 sebesar 2,1:1, tahun 2015

sebesar 2,3:1, tahun 2016 sebesar 2,6:1 dan tahun 2017 sebesar 3,0:1 dengan

rata-rata Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

periode tahun 2013-2017 sebesar 2,3:1. Data Rasio Cepat (Quick Ratio)

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) menunjukkan bahwa Rasio Cepat

(Quick Ratio) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) besar dari satandar

industry yang ditetapkan sebesar 1,5:1, hal tersebut menunjukkan bahwa

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) mampu melunasi hutang jangka

pendeknya tampa harus menjual inventori atau asset perusahaan. Kasmir

(2012:136) Rasio cepat (quick ratio) atau rasio sangat lancar atau acid test

ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangk pendek)
124

dengan aktiva tampa harus menjual inventory, jika Rasio cepat (quick ratio)

besar atau sama dengan 1,5:1 standar industri berarti perusahaan dalam

keadaan baik. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa

perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) mempunyai likuiditas yang baik

karena perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) mampu melunasi

kewajiban/hutang jangka pendeknya. Menurut Kasmir (2012:130) Rasio

likuiditas atau sering juga disebut dengan nama rasio modal kerja merupakan

rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan.

Rasio Solvabilitas terdiri dari Debt to Assets Ratio (DAR) dan Debt to

Equity Ratio (DER). Pada perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) Debt to

Assets Ratio (DAR) tahun 2013 sebesar 25%, tahun 2014 sebesar 21%, tahun

2015 sebesar 20%, tahun 2016 sebesar dan tahun 2017 sebesar 16% dengan

rata-rata Debt to Asset Ratio (DAR) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

periode tahun 2013-2017 sebesar 20%, data Debt to Asset Ratio (DAR)

tersebut berada di bawah standar industri yang ditetapkan yakni sebesar 35%

yang berarti bahwa perusahaan akan sulit mendapatkan pinjaman modal dari

pihak lain. Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan Kalbe Farma Tbk

(KLBF) pada tahun 2013 sebesar 33%, tahun 2014 sebesar 27%, tahun 2015

sebesar 25%, tahun 2016 sebesar 22% dan tahun 2017 sebesar 20% dengan

rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF)

periode tahun 2013-2017 sebesar 25%, data tersebut menunjukkan bahwab

Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) berada di

bawah standar industry yang ditetapkan sebesar 80% yang berarti bahwa
125

Kalbe Farma Tbk (KLBF) lebih banyak menggunakan modal sendiri dari

pada modal pihak lain. Kasmir (2011:158) mengatakan bahwa jika Debt to

Equity Ratio (DER) kecil dari standar industry 80% berarti perusahaan lebih

banyak menggunakan modal sendiri dari pada utang atau pinjaman dari pihak

lain. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan Rasio

Solvabilitas perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada

modal pihak luar, Menurut Fahmi (2015:72), rasio solvabilitas adalah

mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang

Rasio Profitabilitas menurut Fahmi (2015:80), rasio profitabilitas

ialah rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang

ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam

hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio

profitabilitas makan semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya

perolehan keuntungan perusahaan. Rasio Profitabilitas terdiri dari Net Profit

Margin (NPM) dan Return On Equity (ROE). Pada perusahaan Kalbe Farma

Tbk (KLBF) Net Profit Margin tahun 2013 – 2017 sebesar 12% dengan rata-

rata sebesar 12%, hasil tersebut berada dibawah standar industri yang

ditetapkan sebesar 20% yang berarti bahwa belumnya pendapatan usaha

karena penjualan produk belum maksimal

sebesar 33%, tahun 2014 sebesar 12%, tahun 2015 sebesar 12

Return on Equity adalah rasio yang menunjukkan tingkat

pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah

dikeluarkan untuk bisnis tersebut (Hartono, 2018:12). Hasil


126

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Return on Equity

perusahaan Kalbe Farma tahun 2013-2017 sebesar 19,77%

1) Gross Profit Margin

Gross Profit Margin menunjukkan berapa persen keuntungan

yang diperoleh dari penjualan produk. Dalam kondisi normal, Gross

Profit Margin semestinya positif karena menunjukkan apakah

perusahaan dapat menjual barang diataas harga pokok. Bila negatif,

itu berarti perusahaan mengalami kerugian(Hartono, 2018:11). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Gross Profit Margin

perusahaan Kalbe Farma tahun 2013-2017 sebesar 48,48%, berada

diatas standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 30%,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan kalbe farma dalam

sehat atau keadaan baik karena memiliki GPM positif.

2) Net Profit Margin

Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih

(setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis

atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.

Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga

memiliki NPM yang positif. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Net Profit

Margin perusahaan Kalbe Farma tahun 2013-2017 sebesar 12,06%,

berada dibawah standar industri yang ditetapkan sebesar 20%, yang

berarti bahwa kinerja keuagan belum maksima dalam pendapatan


127

atas penjualannya.

a. Rasio Aktivitas

1) Fixed Assets Turn Over (FATO)

Rasio aktivitas, yaitu rasio untuk mengukur likuiditas aktiva

tertentu dan efesiensi pengelolaan asset (Sugiono:59). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Fixed Asset Turn Over

perusahaan Kalbe Farma tahun 2013-2017 sebesar 0,48, berada

dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 5 kali,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan kalbe farma belum

maksimal dalam pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

2) Total Assets Turn Over (TATO)

Total Assets Turn Over (TATO) adalah tingkat efisiensi

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan

volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio Total Asset

Turnover berarti semakin efisien penggunaan seluruh aktiva. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Total Asset Turn Over

perusahaan Kalbe Farma tahun 2013-2017 sebesar 0,16, berada

dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 2 kali,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan kalbe farma belum

maksimal dalam pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

2. Kinerja Keuangan Kimia Farma Tbk


128

Kinerja keuangan perusahaan Kimia Farma Tbk (KAEF) dilihat

dari rasio keuangan dapat disajikan dalam tabel 4.10

Tabel4.10
Analisis Rasio Keuangan Kimia Farma Tbk Tahun 2013-2017

Standar
Rasio Keuangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata
Industri
Rasio CR 2,43 2,39 1,93 1,71 1,55 2,00 2 kali
Liquiditas QR 1,57 1,58 1,25 1,14 1,04 1,32 1,5 kali
Rasio DAR 34,29% 38,98% 42,46% 50,76% 57,80% 44,86% 35%
Solvabilitas DER 52,18% 63,88% 73,79% 103,07% 136,97% 85,98% 80%
Rasio ROE 13,28% 13,06% 13,59% 11,96% 12,89% 12,95% 40%
Profitabilitas GPM 29,72% 30,65% 31,62% 32,07% 35,58% 31,93% 30%
NPM 4,96% 5,23% 5,20% 4,67% 5,41% 5,10% 20%
Rasio FATO 0,43 0,42 0,08 0,06 0,05 0,21 5 kali
Aktivitas TATO 0,09 0,08 0,08 0,06 0,05 0,07 2 kali
Sumber: Diolah tahun 2019

a. Rasio Likuiditas

1) Rasio Lancar (Current Ratio)

Current Ratio menunjukkan jumlah kewajiban yang dijamin

pembayarannya oleh aktiva lancar. Semakin tinggi hasil

perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar, semakin tinggi

kemapuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya

(Hartono, 2018:9). Hasil perhitungan current ratio (kewajiban

lancar) rata-rata perusahaan Kimia Farma Tbk tahun 2013-2017

sebesar 2,00 kali berada diatas standar industri yaitu sebesar 2 kali.

Itu berarti bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk likuid dan kinerja

keuangan baik karena mampu melunasi kewajiban jangka pendek.

2) Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat (Quick Ratio) bertujuan untuk mengukur apakah


129

perusahaan memiliki asset lancar (tampa harus menjual persediaan)

untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya, semakin baik

kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Hasil

perhitungan Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Kimia Farma

Tbk tahun 2013-2017 diperoleh rata-rata 1,32 kali, yang berada

dibawah standar industri yang ditetapkan yaitu 1,5 kali. Itu berarti

bahwa perusahaan Kimia Farma Tbk memiliki kinerja keuangan

yang kurang baik dilihat dari rasio cepat (Quick Ratio).

b. Rasio Solvabilitas

1) Debt to Assets Ratio (DAR)

Debt to Assets Ratio (DAR) adalah rasio yang mengukur

bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin keseluruhan

kewajiban (Hartono, 2018:13). Hasil perhitungan rata-rata Debt to

Assets Ratio (DAR) perusahaan Kimia Farma Tbk tahun 2013-2017

sebesar 44,86% berada diatas standar industri yang ditetapkan yaitu

sebesar 35%. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan Kimia

Farma Tbk dapat mengelola aktiva dengan baik. Perusahaan yang

Debt to Assets Ratio (DAR) di bawah standar industri akan sulit

mendapatkan pinjaman.

2) Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Ekuity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan

sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh utang. Rasio ini juga

dapat dibaca sebagai perbandingan antara dana pihak luar dengan


130

dana milik perusahaan (hartono, 2018:12). Hasil perhitungan Debt to

Ekuity Ratio (DER) Perusahaan Kimia Farma Tbk tahun 2013-2017

sebesar 85,98% lebih tinggi dari standar industri yang telah

ditetapkan yaitu sebesar 80%. Itu berarti bahwa tingkat pendanaan

perusahaan menggunakan modal sendiri ialah lebih kecil dibanding

hutang yang berarti kinerja keuangan perusahaan kurang baik dalam

mengelola aktivanya.

c. Rasio Profitabilitas

1) Return On Equity

Return on Equity adalah rasio yang menunjukkan tingkat

pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah

dikeluarkan untuk bisnis tersebut (Hartono, 2018:12). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Return on Equity

perusahaan Kimia Farma tahun 2013-2017 sebesar 12,95% yang

berada di bawah standar industri yaitu sebesar 40% yang berarti

bahwa perusahaan Kimia Farma kurang bisa menghasilkan untung.

2) Gross Profit Margin

Gross Profit Margin menunjukkan berapa persen keuntungan

yang diperoleh dari penjualan produk. Dalam kondisi normal, Gross

Profit Margin semestinya positif karena menunjukkan apakah

perusahaan dapat menjual barang diataas harga pokok. Bila negatif,

itu berarti perusahaan mengalami kerugian(Hartono, 2018:11). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Gross Profit Margin


131

perusahaan Kimia Farma sebesar tahun 2013-2017 sebesar 31,93%,

berada diatas standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar

30%, yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan Kimia Farma

Tbk dalam sehat atau keadaan baik karena memiliki GPM positif.

3) Net Profit Margin

Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih

(setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis

atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.

Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga

memiliki NPM yang positif. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Net Profit

Margin perusahaan Kimia Farma tahun 2013-2017 sebesar 5,10%,

berada dibawah standar industri yang ditetapkan sebesar 20%, yang

berarti bahwa kinerja keuagan belum maksimal dalam pendapatan

atas penjualannya.

d. Rasio Aktivitas

1) Fixed Assets Turn Over (FATO)

Rasio aktivitas, yaitu rasio untuk mengukur likuiditas aktiva

tertentu dan efesiensi pengelolaan asset (Sugiono:59). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Fixed Asset Turn Over

perusahaan Kimia Farma tahun 2013-2017 sebesar 0,21 kali, berada

dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 5 kali,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan Kimia farma belum


132

maksimal dalam pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

2) Total Assets Turn Over (TATO)

Total Assets Turn Over (TATO) adalah tingkat efisiensi

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan

volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio Total Asset

Turnover berarti semakin efisien penggunaan seluruh aktiva. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Total Asset Turn Over

perusahaan Kimia Farma tahun 2013-2017 sebesar 0,07 kali, berada

dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 2 kali,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan Kimia Farma Tbk

belum maksimal dalam pengelolaan aktivanya dengan artian

perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

3. Kinerja Keuangan Darya-Varia Laboratoria Tbk

Kinerja keuangan perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk

(DVLA) dilihat dari rasio keuangan dapat disajikan dalam tabel 4.11

Tabel4.11
Analisis Rasio Keuangan Darya-Varia Laboratoria Tbk
Tahun 2013-2017
133

Rasio Keuangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata Standar


Industri
Rasio CR 4,24 5,18 3,52 2,85 2,66 3,69 2 kali
Liquiditas QR 3,28 3,91 2,85 2,29 2,20 2,91 1,5 kali
Rasio DAR 23,14% 22,15% 29,26% 29,50% 31,97% 27,20% 35%
Solvabilitas DER 30,10% 28,45% 41,37% 41,85% 46,99% 37,75% 80%
Rasio ROE 13,75% 8,41% 11,08% 14,09% 14,53% 12,37% 40%
Profitabilitas GPM 59,97% 53,02% 51,89% 55,22% 56,74% 55,37% 30%
NPM 11,42% 7,33% 8,26% 10,48% 10,30% 9,56% 20%
Rasio FATO 0,11 0,07 0,08 0,10 0,10 0,09 5 kali
Aktivitas TATO 0,11 0,07 0,08 0,10 0,10 0,09 2 kali
Sumber: Diolah tahun 2019

a. Rasio Likuiditas

1) Rasio Lancar (Current Ratio)

Current Ratio menunjukkan jumlah kewajiban yang dijamin

pembayarannya oleh aktiva lancar. Semakin tinggi hasil

perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar, semakin tinggi

kemapuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya

(Hartono, 2018:9). Hasil perhitungan current ratio (kewajiban

lancar) rata-rata perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun

2013-2017 sebesar 3,69 kali berada diatas standar industri yaitu

sebesar 2 kali. Itu berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria

Tbk likuid dan kinerja keuangan baik karena mampu melunasi

kewajiban jangka pendek.

2) Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat (Quick Ratio) bertujuan untuk mengukur apakah

perusahaan memiliki asset lancar (tampa harus menjual persediaan)

untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya, semakin baik


134

kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Hasil

perhitungan Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Darya-Varia

Laboratoria Tbk tahun 2013-2017 diperoleh rata-rata 2,91 kali, yang

berada diatas standar industri yang ditetapkan yaitu 1,5 kali. Itu

berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk memiliki

kinerja keuangan yang baik dilihat dari rasio cepat (Quick Ratio).

b. Rasio Solvabilitas

1) Debt to Assets Ratio (DAR)

Debt to Assets Ratio (DAR) adalah rasio yang mengukur

bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin keseluruhan

kewajiban (Hartono, 2018:13). Hasil perhitungan rata-rata Debt to

Assets Ratio (DAR) perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun

2013-2017 sebesar 27,20% berada dibawah standar industri yang

ditetapkan yaitu sebesar 35%. Hal ini mengindikasikan bahwa

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbkkurang dapat mengelola

aktiva dengan baik. Perusahaan yang Debt to Assets Ratio (DAR) di

bawah standar industri akan sulit mendapatkan pinjaman.

2) Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Ekuity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan

sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh utang. Rasio ini juga

dapat dibaca sebagai perbandingan antara dana pihak luar dengan

dana milik perusahaan (hartono, 2018:12). Hasil perhitungan Debt to

Ekuity Ratio (DER) Perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun


135

2013-2017 sebesar 37,75% lebih tinggi dari standar industri yang

telah ditetapkan yaitu sebesar 80%. Itu berarti bahwa tingkat

pendanaan perusahaan menggunakan modal sendiri ialah lebih besar

dibanding hutang yang berarti kinerja keuangan perusahaan sudah

baik dalam mengelola aktivanya.

c. Rasio Profitabilitas

1) Return On Equity

Return on Equity adalah rasio yang menunjukkan tingkat

pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah

dikeluarkan untuk bisnis tersebut (Hartono, 2018:12). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Return on Equity

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun 2013-2017 sebesar

12,37% yang berada di bawah standar industri yaitu sebesar 40%

yang berarti bahwa perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk kurang

bisa menghasilkan untung.

2) Gross Profit Margin

Gross Profit Margin menunjukkan berapa persen keuntungan

yang diperoleh dari penjualan produk. Dalam kondisi normal, Gross

Profit Margin semestinya positif karena menunjukkan apakah

perusahaan dapat menjual barang diataas harga pokok. Bila negatif,

itu berarti perusahaan mengalami kerugian(Hartono, 2018:11). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Gross Profit Margin

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk sebesar tahun 2013-2017


136

sebesar 55,37%, berada diatas standar rasio keuangan yang telah

ditetapkan sebesar 30%, yang berarti bahwa kinerja keuagan

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk dalam keadaan sehat atau

keadaan baik karena memiliki GPM positif.

3) Net Profit Margin

Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih

(setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis

atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.

Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga

memiliki NPM yang positif. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Net Profit

Margin perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun 2013-2017

sebesar 9,56%, berada dibawah standar industri yang ditetapkan

sebesar 20%, yang berarti bahwa kinerja keuagan belum maksimal

dalam pendapatan atas penjualannya.

d. Rasio Aktivitas

1) Fixed Assets Turn Over (FATO)

Rasio aktivitas, yaitu rasio untuk mengukur likuiditas aktiva

tertentu dan efesiensi pengelolaan asset (Sugiono:59). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Fixed Asset Turn Over

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun 2013-2017 sebesar

0,09 kali, berada dibawah standar rasio keuangan yang telah

ditetapkan sebesar 5 kali, yang berarti bahwa kinerja keuagan


137

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk belum maksimal dalam

pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan belum mampu

memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

2) Total Assets Turn Over (TATO)

Total Assets Turn Over (TATO) adalah tingkat efisiensi

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan

volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio Total Asset

Turnover berarti semakin efisien penggunaan seluruh aktiva. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Total Asset Turn Over

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk tahun 2013-2017 sebesar

0,09 kali, berada dibawah standar rasio keuangan yang telah

ditetapkan sebesar 2 kali, yang berarti bahwa kinerja keuagan

perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk belum maksimal dalam

pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan belum mampu

memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

4. Kinerja Keuangan Tempo Scan Pacifick Tbk

Kinerja keuangan perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

dilihat dari rasio keuangan dapat disajikan dalam tabel 4.12

Tabel4.12
Analisis Rasio Keuangan Tempo Scan Pacific Tbk
Tahun 2013-2017
138

Rasio Keuangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata Standar


Industri
Rasio CR 2,96 3,00 2,54 2,65 2,52 2,74 2 kali
Liquiditas QR 2,22 2,15 1,81 1,83 1,78 1,96 1,5 kali
Rasio DAR 28,57% 26,11% 30,99% 29,62% 31,65% 29,39% 35%
Solvabilitas DER 40,00% 35,34% 44,90% 42,08% 46,30% 41,72% 80%
Rasio ROE 16,53% 14,14% 12,20% 11,77% 10,97% 13,12% 40%
Profitabilitas GPM 39,68% 39,14% 38,11% 38,13% 38,24% 38,66% 30%
NPM 9,32% 7,78% 6,47% 5,97% 5,83% 7,07% 20%
Rasio FATO 0,12 0,10 0,08 0,08 0,07 0,09 5 kali
Aktivitas TATO 0,12 0,10 0,08 0,08 0,07 0,09 2 kali
Sumber: Diolah tahun 2019

a. Rasio Likuiditas

1) Rasio Lancar (Current Ratio)

Current Ratio menunjukkan jumlah kewajiban yang dijamin

pembayarannya oleh aktiva lancar. Semakin tinggi hasil

perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar, semakin tinggi

kemapuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya

(Hartono, 2018:9). Hasil perhitungan current ratio (kewajiban

lancar) rata-rata perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun 2013-

2017 sebesar 2,74 kali berada diatas standar industri yaitu sebesar 2

kali. Itu berarti bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk likuid

dan kinerja keuangan baik karena mampu melunasi kewajiban

jangka pendek.

2) Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat (Quick Ratio) bertujuan untuk mengukur apakah

perusahaan memiliki asset lancar (tampa harus menjual persediaan)

untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya, semakin baik


139

kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Hasil

perhitungan Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Tempo Scan

Pacific Tbk tahun 2013-2017 diperoleh rata-rata 1,96 kali, yang

berada diatas standar industri yang ditetapkan yaitu 1,5 kali. Itu

berarti bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk memiliki kinerja

keuangan yang baik dilihat dari rasio cepat (Quick Ratio).

b. Rasio Solvabilitas

1) Debt to Assets Ratio (DAR)

Debt to Assets Ratio (DAR) adalah rasio yang mengukur

bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin keseluruhan

kewajiban (Hartono, 2018:13). Hasil perhitungan rata-rata Debt to

Assets Ratio (DAR) perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun

2013-2017 sebesar 29,39% berada dibawah standar industri yang

ditetapkan yaitu sebesar 35%. Hal ini mengindikasikan bahwa

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk kurang dapat mengelola aktiva

dengan baik. Perusahaan yang Debt to Assets Ratio (DAR) di bawah

standar industri akan sulit mendapatkan pinjaman.

2) Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Ekuity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan

sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh utang. Rasio ini juga

dapat dibaca sebagai perbandingan antara dana pihak luar dengan

dana milik perusahaan (hartono, 2018:12). Hasil perhitungan Debt to


140

Ekuity Ratio (DER) Perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun

2013-2017 sebesar 41,72% lebih rendah dari standar industri yang

telah ditetapkan yaitu sebesar 80%. Itu berarti bahwa tingkat

pendanaan perusahaan menggunakan modal sendiri ialah lebih besar

dibanding hutang yang berarti kinerja keuangan perusahaan sudah

baik dalam mengelola aktivanya.

c. Rasio Profitabilitas

1) Return On Equity

Return on Equity adalah rasio yang menunjukkan tingkat

pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah

dikeluarkan untuk bisnis tersebut (Hartono, 2018:12). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Return on Equity

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun 2013-2017 sebesar

13,12% yang berada di bawah standar industri yaitu sebesar 40%

yang berarti bahwa perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk kurang bisa

menghasilkan untung.

2) Gross Profit Margin

Gross Profit Margin menunjukkan berapa persen keuntungan

yang diperoleh dari penjualan produk. Dalam kondisi normal, Gross

Profit Margin semestinya positif karena menunjukkan apakah

perusahaan dapat menjual barang diataas harga pokok. Bila negatif,

itu berarti perusahaan mengalami kerugian(Hartono, 2018:11). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Gross Profit Margin


141

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk sebesar tahun 2013-2017

sebesar 38,66%, berada diatas standar rasio keuangan yang telah

ditetapkan sebesar 30%, yang berarti bahwa kinerja keuagan

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk dalam keadaan kurang sehat

atau keadaan tidak baik karena memiliki GPM dibawah standar.

3) Net Profit Margin

Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih

(setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis

atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.

Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga

memiliki NPM yang positif. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Net Profit

Margin perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun 2013-2017

sebesar 7,07%, berada dibawah standar industri yang ditetapkan

sebesar 20%, yang berarti bahwa kinerja keuagan belum maksimal

dalam pendapatan atas penjualannya.

d. Rasio Aktivitas

1) Fixed Assets Turn Over (FATO)

Rasio aktivitas, yaitu rasio untuk mengukur likuiditas aktiva

tertentu dan efesiensi pengelolaan asset (Sugiono:59). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Fixed Asset Turn Over


142

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun 2013-2017 sebesar 0,09

kali, berada dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan

sebesar 5 kali, yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan

Tempo Scan Pacific Tbk belum maksimal dalam pengelolaan

aktivanya dengan artian perusahaan belum mampu memaksimalkan

aktiva yang dimilikinya.

2) Total Assets Turn Over (TATO)

Total Assets Turn Over (TATO) adalah tingkat efisiensi

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan

volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio Total Asset

Turnover berarti semakin efisien penggunaan seluruh aktiva. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Total Asset Turn Over

perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk tahun 2013-2017 sebesar 0,09

kali, berada dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan

sebesar 2 kali, yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan

Tempo Scan Pacific Tbk belum maksimal dalam pengelolaan

aktivanya dengan artian perusahaan belum mampu memaksimalkan

aktiva yang dimilikinya.

5. Kinerja Keuangan Pyridam Farma Tbk

Kinerja keuangan perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) dilihat

dari rasio keuangan dapat disajikan dalam tabel 4.13

Tabel4.13
Analisis Rasio Keuangan Pyridam Farma Tbk
Tahun 2013-2017
143

Standar
Rasio Keuangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata
Industri
Rasio CR 1,54 1,63 1,99 2,19 3,52 2,17 2 kali
Liquiditas QR 0,80 0,95 1,00 1,13 1,86 1,15 1,5 kali
Rasio DAR 46,38% 44,10% 36,72% 36,84% 31,78% 39,16% 35%
Solvabilitas DER 86,49% 78,89% 58,02% 58,34% 46,58% 65,67% 80%
Rasio ROE 6,60% 2,75% 3,05% 4,88% 6,55% 4,77% 40%
Profitabilitas GPM 67,74% 63,58% 63,34% 62,37% 60,53% 63,51% 30%
NPM 3,22% 1,20% 1,42% 2,37% 3,20% 2,28% 20%
Rasio FATO 0,04 0,02 0,02 0,03 0,04 0,03 5 kali
Aktivitas TATO 0,04 0,02 0,02 0,03 0,04 0,03 2 kali
Sumber: Diolah tahun 2019

a. Rasio Likuiditas

1) Rasio Lancar (Current Ratio)

Current Ratio menunjukkan jumlah kewajiban yang dijamin

pembayarannya oleh aktiva lancar. Semakin tinggi hasil

perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar, semakin tinggi

kemapuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya

(Hartono, 2018:9). Hasil perhitungan current ratio (kewajiban

lancar) rata-rata perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-2017

sebesar 2,17 kali berada diatas standar industri yaitu sebesar 2 kali.

Itu berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk likuid dan kinerja

keuangan baik karena mampu melunasi kewajiban jangka pendek.

2) Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat (Quick Ratio) bertujuan untuk mengukur apakah

perusahaan memiliki asset lancar (tampa harus menjual persediaan)

untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya, semakin baik

kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Hasil


144

perhitungan Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Pyridam Farma

Tbk tahun 2013-2017 diperoleh rata-rata 1,15 kali, yang berada

dibawah standar industri yang ditetapkan yaitu 1,5 kali. Itu berarti

bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk memiliki kinerja keuangan

yang kurang baik dilihat dari rasio cepat (Quick Ratio).

b. Rasio Solvabilitas

1) Debt to Assets Ratio (DAR)

Debt to Assets Ratio (DAR) adalah rasio yang mengukur

bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin keseluruhan

kewajiban (Hartono, 2018:13). Hasil perhitungan rata-rata Debt to

Assets Ratio (DAR) perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-

2017 sebesar 39,16% berada dibawah standar industri yang

ditetapkan yaitu sebesar 35%. Hal ini mengindikasikan bahwa

perusahaan Pyridam Farma Tbk kurang dapat mengelola aktiva

dengan baik. Perusahaan yang Debt to Assets Ratio (DAR) di bawah

standar industri akan sulit mendapatkan pinjaman.

2) Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Ekuity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan

sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh utang. Rasio ini juga

dapat dibaca sebagai perbandingan antara dana pihak luar dengan

dana milik perusahaan (hartono, 2018:12). Hasil perhitungan Debt to

Ekuity Ratio (DER) Perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-

2017 sebesar 65,67% lebih rendah dari standar industri yang telah
145

ditetapkan yaitu sebesar 80%. Itu berarti bahwa tingkat pendanaan

perusahaan menggunakan modal sendiri ialah lebih besar dibanding

hutang yang berarti kinerja keuangan perusahaan sudah baik dalam

mengelola aktivanya.

c. Rasio Profitabilitas

1) Return On Equity

Return on Equity adalah rasio yang menunjukkan tingkat

pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah

dikeluarkan untuk bisnis tersebut (Hartono, 2018:12). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Return on Equity

perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-2017 sebesar 4,77%

yang berada di bawah standar industri yaitu sebesar 40% yang

berarti bahwa perusahaan Pyridam Farma Tbk kurang bisa

menghasilkan untung.

2) Gross Profit Margin

Gross Profit Margin menunjukkan berapa persen keuntungan

yang diperoleh dari penjualan produk. Dalam kondisi normal, Gross

Profit Margin semestinya positif karena menunjukkan apakah

perusahaan dapat menjual barang diataas harga pokok. Bila negatif,

itu berarti perusahaan mengalami kerugian(Hartono, 2018:11). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Gross Profit Margin

perusahaan Pyridam Farma Tbk sebesar tahun 2013-2017 sebesar

63,51,66%, berada diatas standar rasio keuangan yang telah


146

ditetapkan sebesar 30%, yang berarti bahwa kinerja keuagan

perusahaan Pyridam Farma Tbk dalam keadaan kurang sehat atau

keadaan tidak baik karena memiliki GPM dibawah standar.

3) Net Profit Margin

Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih

(setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis

atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.

Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga

memiliki NPM yang positif. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Net Profit

Margin perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-2017 sebesar

2,28%, berada dibawah standar industri yang ditetapkan sebesar

20%, yang berarti bahwa kinerja keuagan belum maksimal dalam

pendapatan atas penjualannya.

d. Rasio Aktivitas

1) Fixed Assets Turn Over (FATO)

Rasio aktivitas, yaitu rasio untuk mengukur likuiditas aktiva

tertentu dan efesiensi pengelolaan asset (Sugiono:59). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Fixed Asset Turn Over

perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-2017 sebesar 0,03 kali,

berada dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan

sebesar 5 kali, yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan

Pyridam Farma Tbk belum maksimal dalam pengelolaan aktivanya


147

dengan artian perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva

yang dimilikinya.

2) Total Assets Turn Over (TATO)

Total Assets Turn Over (TATO) adalah tingkat efisiensi

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan

volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio Total Asset

Turnover berarti semakin efisien penggunaan seluruh aktiva. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Total Asset Turn Over

perusahaan Pyridam Farma Tbk tahun 2013-2017 sebesar 0,03 kali,

berada dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan

sebesar 2 kali, yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan

Pyridam Farma Tbk belum maksimal dalam pengelolaan aktivanya

dengan artian perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva

yang dimilikinya.

6. Kinerja Merck Tbk

Kinerja keuangan perusahaan Merck Tbk (MERK) dilihat dari

rasio keuangan dapat disajikan dalam tabel 4.14

Tabel4.14
Analisis Rasio Keuangan Merck Tbk
Tahun 2013-2017
148

Standar
Rasio Keuangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata
Industri
Rasio CR 3,98 4,59 3,65 4,22 3,08 3,90 2 kali
Liquiditas QR 2,29 3,17 2,44 2,30 1,52 2,34 1,5 kali
Rasio DAR 26,51% 22,73% 26,20% 21,68% 27,22% 24,87% 35%
Solvabilitas DER 36,06% 29,42% 35,50% 27,68% 37,46% 33,23% 80%
Rasio ROE 34,25% 32,77% 30,10% 26,40% 23,95% 29,50% 40%
Profitabilitas GPM 45,69% 53,11% 50,46% 52,40% 50,84% 50,50% 30%
NPM 14,69% 21,02% 14,49% 14,87% 12,74% 15,56% 20%
Rasio FATO 0,25 0,25 0,22 0,21 0,17 0,22 5 kali
Aktivitas TATO 0,25 0,25 0,22 0,21 0,17 0,22 2 kali
Sumber: Diolah tahun 2019

a. Rasio Likuiditas

1) Rasio Lancar (Current Ratio)

Current Ratio menunjukkan jumlah kewajiban yang dijamin

pembayarannya oleh aktiva lancar. Semakin tinggi hasil

perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar, semakin tinggi

kemapuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya

(Hartono, 2018:9). Hasil perhitungan current ratio (kewajiban

lancar) rata-rata perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar

3,90 kali berada diatas standar industri yaitu sebesar 2 kali. Itu

berarti bahwa perusahaan Merck Tbk likuid dan kinerja keuangan

baik karena mampu melunasi kewajiban jangka pendek.

2) Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat (Quick Ratio) bertujuan untuk mengukur apakah

perusahaan memiliki asset lancar (tampa harus menjual persediaan)

untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya, semakin baik

kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Hasil


149

perhitungan Rasio Cepat (Quick Ratio) perusahaan Merck Tbk tahun

2013-2017 diperoleh rata-rata 2,34 kali, yang berada dibawah

standar industri yang ditetapkan yaitu 1,5 kali. Itu berarti bahwa

perusahaan Merck Tbk memiliki kinerja keuangan yang kurang baik

dilihat dari rasio cepat (Quick Ratio).

b. Rasio Solvabilitas

1) Debt to Assets Ratio (DAR)

Debt to Assets Ratio (DAR) adalah rasio yang mengukur

bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin keseluruhan

kewajiban (Hartono, 2018:13). Hasil perhitungan rata-rata Debt to

Assets Ratio (DAR) perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar

24,87% berada dibawah standar industri yang ditetapkan yaitu

sebesar 35%. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan Merck Tbk

kurang dapat mengelola aktiva dengan baik. Perusahaan yang Debt

to Assets Ratio (DAR) di bawah standar industri akan sulit

mendapatkan pinjaman.

2) Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Ekuity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan

sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh utang. Rasio ini juga

dapat dibaca sebagai perbandingan antara dana pihak luar dengan

dana milik perusahaan (hartono, 2018:12). Hasil perhitungan Debt to

Ekuity Ratio (DER) Perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar

33,23% lebih rendah dari standar industri yang telah ditetapkan yaitu
150

sebesar 80%. Itu berarti bahwa tingkat pendanaan perusahaan

menggunakan modal sendiri ialah lebih besar dibanding hutang yang

berarti kinerja keuangan perusahaan sudah baik dalam mengelola

aktivanya.

c. Rasio Profitabilitas

1) Return On Equity

Return on Equity adalah rasio yang menunjukkan tingkat

pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah

dikeluarkan untuk bisnis tersebut (Hartono, 2018:12). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Return on Equity

perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar 29,50% yang

berada di bawah standar industri yaitu sebesar 40% yang berarti

bahwa perusahaan Merck Tbk kurang bisa menghasilkan untung.

2) Gross Profit Margin

Gross Profit Margin menunjukkan berapa persen keuntungan

yang diperoleh dari penjualan produk. Dalam kondisi normal, Gross

Profit Margin semestinya positif karena menunjukkan apakah

perusahaan dapat menjual barang diataas harga pokok. Bila negatif,

itu berarti perusahaan mengalami kerugian(Hartono, 2018:11). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Gross Profit Margin

perusahaan Merck Tbk sebesar tahun 2013-2017 sebesar 50,50%,

berada diatas standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar

30%, yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan Merck Tbk


151

dalam keadaan sehat atau keadaan baik karena memiliki GPM

diatas standar.

3) Net Profit Margin

Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih

(setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis

atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.

Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga

memiliki NPM yang positif. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Net Profit

Margin perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar 15,56%,

berada dibawah standar industri yang ditetapkan sebesar 20%, yang

berarti bahwa kinerja keuagan belum maksimal dalam pendapatan

atas penjualannya.

d. Rasio Aktivitas

1) Fixed Assets Turn Over (FATO)

Rasio aktivitas, yaitu rasio untuk mengukur likuiditas aktiva

tertentu dan efesiensi pengelolaan asset (Sugiono:59). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Fixed Asset Turn Over

perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar 0,22 kali, berada

dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 5 kali,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan Merck Tbk belum

maksimal dalam pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.


152

2) Total Assets Turn Over (TATO)

Total Assets Turn Over (TATO) adalah tingkat efisiensi

penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan

volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio Total Asset

Turnover berarti semakin efisien penggunaan seluruh aktiva. Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Total Asset Turn Over

perusahaan Merck Tbk tahun 2013-2017 sebesar 0,22 kali, berada

dibawah standar rasio keuangan yang telah ditetapkan sebesar 2 kali,

yang berarti bahwa kinerja keuagan perusahaan Merck Tbk belum

maksimal dalam pengelolaan aktivanya dengan artian perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya.

4.4.1. Pembahasan

Berdasarkan analisis data diatas diketahui kenerja keuangan pada

perusahaan Kalbe Farma untuk rasio aktivitas yang dilihat dari rasio lancar

(current ratio) sebesar 3,72 kali > 2 kali standar industri yang berarti

perusahaan sudah berada pada titik aman untuk kewajiban jangka pendeknya

dan rasio cepat (Quick Ratio) berada diatas standar industri yang berarti yang

berarti bahwa keuangan perusahaan begitujuga untuk rasio cepat (Quick

Ratio) sebesar 2,34 > 1,5 standar industri yang berarti bahwa perusahaan

dalam keadaan baik. Kasmir (2011:13) Jika rasio cepat lebih besar atau sama

dengan 1,5 kali berarti perusahaan lebih baik dari perusahaan lain, karena

tidak perlu menjual inventory untuk melunsi hutang jangka pendeknya. Rasio

Solvabilitas yang terdiri dari Debt to Assets Ratio 20,11% < 35% standar
153

industri yang berarti perusahaan akan sulit mendapat pinjaman dan Debt to

Equity Ratio sebesar 25,33% < 80% standar industri yang berarti bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada meminjam

dari pihak lain (Kasmir, 2011:158). Pada rasio profitabilitas yang terdiri dari

Return on Equity (ROE) sebesar 19,77 < 40% yang berarti belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri yang berarti bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat (Kasmir, 2011:158). Gros profit margin 48,48% >

30% yang berarti bahwa perusahaan dalam sehat atau baik. Net Profit Margin

12,06% < 20% yang berarti bahwa belum makasimalnya pendapatan usaha

atas penjualan produk belum maksimal (Kasmir, 2011:201). Pada rasio

aktivitas perusahaan kalbe farma yang terdiri dari Fixed Assets Turn Over

(FATO) sebesar 0,48 kali < 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva dan Total Assets Turn Over

(TATO) sebesar 0,16 kali < 2 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Hal tersebut

sesui dengan teori yang mengatakan bahwa apabila nilai rasio FATO dan

TATO dibawah standar berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan

aktiva yang dimilikinya (Kasmir,2011:186).

Pada perusahaan Kimia Farma untuk rasio aktivitas yang dilihat dari

rasio lancar (current ratio) sebesar 2,00 kali > 2 kali standar industri yang

berarti perusahaan sudah berada pada titik aman untuk kewajiban jangka

pendeknya dan rasio cepat (Quick Ratio) berada diatas standar industri yang

berarti yang berarti bahwa keuangan perusahaan begitujuga untuk rasio cepat
154

(Quick Ratio) sebesar 1,32 < 1,5 standar industri yang berarti bahwa

perusahaan dalam keadaan kurang baik karena kemungkinan besar

perusahaan akan menjual inventorynya untuk melunasi hutang jangka

pendek. Kasmir (2011:13) Jika rasio cepat lebih besar atau sama dengan 1,5

kali berarti perusahaan lebih baik dari perusahaan lain, karena tidak perlu

menjual inventory untuk melunsi hutang jangka pendeknya. Rasio

Solvabilitas yang terdiri dari Debt to Assets Ratio 44,86% > 35% standar

industri yang berarti perusahaan akan mudah mendapat pinjaman dan Debt to

Equity Ratio sebesar 85,98% > 80% standar industri yang berarti bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal pihak lain dari pada modal dari

(Kasmir, 2011:158). Pada rasio profitabilitas yang terdiri dari Return on

Equity (ROE) sebesar 12,95 < 40% yang berarti belum maksimalnya

penggunaan modal sendiri yang berarti bahwa posisi pemilik perusahaan

belum kuat (Kasmir, 2011:158). Gros profit margin 31,93% > 30% yang

berarti bahwa perusahaan dalam sehat atau baik. Net Profit Margin 5,10% <

20% yang berarti bahwa belum makasimalnya pendapatan usaha atas

penjualan produk belum maksimal (Kasmir, 2011:201). Pada rasio aktivitas

perusahaan Kimia farma yang terdiri dari Fixed Assets Turn Over (FATO)

sebesar 0,21 kali < 5 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva dan Total Assets Turn Over (TATO)

sebesar 0,07 kali < 2 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan

belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Hal tersebut sesui

dengan teori yang mengatakan bahwa apabila nilai rasio FATO dan TATO
155

dibawah standar berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva

yang dimilikinya (Kasmir,2011:186).

Pada perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk untuk rasio aktivitas

yang dilihat dari rasio lancar (current ratio) sebesar 3,69 kali > 2 kali standar

industri yang berarti perusahaan sudah berada pada titik aman untuk

kewajiban jangka pendeknya dan rasio cepat (Quick Ratio) berada diatas

standar industri yang berarti yang berarti bahwa keuangan perusahaan

begitujuga untuk rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 2,91 > 1,5 standar industri

yang berarti bahwa perusahaan dalam keadaan baik karena kemungkinan

besar perusahaan tidak akan menjual inventorynya untuk melunasi hutang

jangka pendek. Kasmir (2011:13) Jika rasio cepat lebih besar atau sama

dengan 1,5 kali berarti perusahaan lebih baik dari perusahaan lain, karena

tidak perlu menjual inventory untuk melunsi hutang jangka pendeknya. Rasio

Solvabilitas yang terdiri dari Debt to Assets Ratio 27,20% < 35% standar

industri yang berarti perusahaan akan sulit mendapat pinjaman dan Debt to

Equity Ratio sebesar 37,75% < 80% standar industri yang berarti bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal dari

pihak lain (Kasmir, 2011:158). Pada rasio profitabilitas yang terdiri dari

Return on Equity (ROE) sebesar 12,37 < 40% yang berarti belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri yang berarti bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat (Kasmir, 2011:158). Gross profit margin 55,37% >

30% yang berarti bahwa perusahaan dalam sehat atau baik. Net Profit Margin

9,56% < 20% yang berarti bahwa belum makasimalnya pendapatan usaha
156

atas penjualan produk belum maksimal (Kasmir, 2011:201). Pada rasio

aktivitas perusahaan Darya-Varia Laboratoria Tbk yang terdiri dari Fixed

Assets Turn Over (FATO) sebesar 0,09 kali < 5 kali standar industri yang

berarti bahwa perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva dan Total

Assets Turn Over (TATO) sebesar 0,09 kali < 2 kali standar industri yang

berarti bahwa perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang

dimiliki. Hal tersebut sesui dengan teori yang mengatakan bahwa apabila

nilai rasio FATO dan TATO dibawah standar berarti perusahaan belum

mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya (Kasmir,2011:186).

Pada perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk untuk rasio aktivitas yang

dilihat dari rasio lancar (current ratio) sebesar 2,74 kali > 2 kali standar

industri yang berarti perusahaan sudah berada pada titik aman untuk

kewajiban jangka pendeknya dan rasio cepat (Quick Ratio) berada diatas

standar industri yang berarti yang berarti bahwa keuangan perusahaan

begitujuga untuk rasio cepat (Quick Ratio) sebesar 2,91 > 1,5 standar industri

yang berarti bahwa perusahaan dalam keadaan baik karena kemungkinan

besar perusahaan tidak akan menjual inventorynya untuk melunasi hutang

jangka pendek. Kasmir (2011:13) Jika rasio cepat lebih besar atau sama

dengan 1,5 kali berarti perusahaan lebih baik dari perusahaan lain, karena

tidak perlu menjual inventory untuk melunsi hutang jangka pendeknya. Rasio

Solvabilitas yang terdiri dari Debt to Assets Ratio 29,20% < 35% standar

industri yang berarti perusahaan akan sulit mendapat pinjaman dan Debt to

Equity Ratio sebesar 41,72% < 80% standar industri yang berarti bahwa
157

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal dari

pihak lain (Kasmir, 2011:158). Pada rasio profitabilitas yang terdiri dari

Return on Equity (ROE) sebesar 13,12% < 40% yang berarti belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri yang berarti bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat (Kasmir, 2011:158). Gross profit margin 38,66% >

30% yang berarti bahwa perusahaan dalam sehat atau baik. Net Profit Margin

7,07% < 20% yang berarti bahwa belum makasimalnya pendapatan usaha

atas penjualan produk belum maksimal (Kasmir, 2011:201). Pada rasio

aktivitas perusahaan Tempo Scan Pacific Tbk yang terdiri dari Fixed Assets

Turn Over (FATO) sebesar 0,09 kali < 5 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva dan Total Assets

Turn Over (TATO) sebesar 0,09 kali < 2 kali standar industri yang berarti

bahwa perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Hal

tersebut sesui dengan teori yang mengatakan bahwa apabila nilai rasio FATO

dan TATO dibawah standar berarti perusahaan belum mampu

memaksimalkan aktiva yang dimilikinya (Kasmir,2011:186).

Pada perusahaan Pyridam Farma Tbk untuk rasio aktivitas yang dilihat

dari rasio lancar (current ratio) sebesar 2,17 kali > 2 kali standar industri

yang berarti perusahaan sudah berada pada titik aman untuk kewajiban jangka

pendeknya dan rasio cepat (Quick Ratio) berada dibawah standar industri

yang berarti yang berarti bahwa keuangan perusahaan kurang baik. Rasio

cepat (Quick Ratio) sebesar 1,15 > 1,5 standar industri yang berarti bahwa

perusahaan dalam keadaan kurang baik karena kemungkinan besar


158

perusahaan tidak akan menjual inventorynya untuk melunasi hutang jangka

pendek. Kasmir (2011:13) Jika rasio cepat lebih besar atau sama dengan 1,5

kali berarti perusahaan lebih baik dari perusahaan lain, karena tidak perlu

menjual inventory untuk melunsi hutang jangka pendeknya. Rasio

Solvabilitas yang terdiri dari Debt to Assets Ratio 39,16% < 35% standar

industri yang berarti perusahaan akan sulit mendapat pinjaman dan Debt to

Equity Ratio sebesar 65,67% < 80% standar industri yang berarti bahwa

perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri dari pada modal dari

pihak lain (Kasmir, 2011:158). Pada rasio profitabilitas yang terdiri dari

Return on Equity (ROE) sebesar 4,77% < 40% yang berarti belum

maksimalnya penggunaan modal sendiri yang berarti bahwa posisi pemilik

perusahaan belum kuat (Kasmir, 2011:158). Gross profit margin 63,51%

>30% yang berarti bahwa perusahaan dalam sehat atau baik. Net Profit

Margin 2,28% < 20% yang berarti bahwa belum makasimalnya pendapatan

usaha atas penjualan produk belum maksimal (Kasmir, 2011:201). Pada rasio

aktivitas perusahaan Pyridam Farma Tbk yang terdiri dari Fixed Assets Turn

Over (FATO) sebesar 0,03 kali < 5 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva dan Total Assets Turn Over

(TATO) sebesar 0,03 kali < 2 kali standar industri yang berarti bahwa

perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Hal tersebut

sesui dengan teori yang mengatakan bahwa apabila nilai rasio FATO dan

TATO dibawah standar berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan

aktiva yang dimilikinya (Kasmir,2011:186).


159

Pada perusahaan Merck Tbk untuk rasio aktivitas yang dilihat dari rasio

lancar (current ratio) sebesar 3,90 kali > 2 kali standar industri yang berarti

perusahaan sudah berada pada titik aman untuk kewajiban jangka pendeknya

dan rasio cepat (Quick Ratio) berada dibawah standar industri yang berarti

yang berarti bahwa keuangan perusahaan kurang baik. Rasio cepat (Quick

Ratio) sebesar 2,34 > 1,5 standar industri yang berarti bahwa perusahaan

dalam keadaan kurang baik karena kemungkinan besar perusahaan tidak akan

menjual inventorynya untuk melunasi hutang jangka pendek. Kasmir

(2011:13) Jika rasio cepat lebih besar atau sama dengan 1,5 kali berarti

perusahaan lebih baik dari perusahaan lain, karena tidak perlu menjual

inventory untuk melunsi hutang jangka pendeknya. Rasio Solvabilitas yang

terdiri dari Debt to Assets Ratio 24,87% < 35% standar industri yang berarti

perusahaan akan sulit mendapat pinjaman dan Debt to Equity Ratio sebesar

33,23% < 80% standar industri yang berarti bahwa perusahaan lebih banyak

menggunakan modal sendiri dari pada modal dari pihak lain (Kasmir,

2011:158). Pada rasio profitabilitas yang terdiri dari Return on Equity (ROE)

sebesar 29,50% < 40% yang berarti belum maksimalnya penggunaan modal

sendiri yang berarti bahwa posisi pemilik perusahaan belum kuat (Kasmir,

2011:158). Gross profit margin 50,50% > 30% yang berarti bahwa

perusahaan dalam sehat atau baik. Net Profit Margin 15,56% < 20% yang

berarti bahwa belum makasimalnya pendapatan usaha atas penjualan produk

belum maksimal (Kasmir, 2011:201). Pada rasio aktivitas perusahaan Merck

Tbk yang terdiri dari Fixed Assets Turn Over (FATO) sebesar 0,22 kali < 5
160

kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum mampu

memaksimalkan aktiva dan Total Assets Turn Over (TATO) sebesar 0,22 kali

< 2 kali standar industri yang berarti bahwa perusahaan belum mampu

memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Hal tersebut sesui dengan teori yang

mengatakan bahwa apabila nilai rasio FATO dan TATO dibawah standar

berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimilikinya

(Kasmir,2011:186).