Tata Cara Perhitungan Debit Banjir Rencana
Tata Cara Perhitungan Debit Banjir Rencana
Daftar isi
i
5.4.5 Rata-rata curah hujan .............................................................................................. 20
5.4.6 Pengisian data hujan hilang .................................................................................... 21
5.4.7 Distribusi waktu tinggi hujan ................................................................................... 22
5.5 Metode rasional ............................................................................................................... 22
Bibliografi ..................................................................................................................................... 55
ii
PERHITUNGAN BANJIR RENCANA DAN PMF
1. PENDAHULUAN
Analisis hidrologi diperlukan untuk menunjang suatu Perencanaan, Pengembangan, Penelitian
dan Pengoperasian Sumber Daya Air serta sarana dan prasarana yang diperlukan berkaitan
dengan permasalahan air. Dalam merencanakan suatu bangunan air dipakai suatu tinggi
hujan rencana tertentu sebagai dasar untuk menentukan dimensi suatu bangunan. Hal ini
dilakukan karena hujan akan menyebabkan aliran permukaan yang akan melewati bangunan
yang direncanakan misalnya gorong-gorong, weir pada daerah irigasi, spillway pada dam
reservoir dan lain sebagainya. Banjir rencana ini mengandung unsur probability yang
diungkapkan dalam periode ulang. Penentuan berapa periode ulang yang digunakan dalam
desain sangat tergantung pada resiko yang ditimbulkan dan dana yang dipunyai. Banjir
rencana dengan peride ulang T tahun dapat didefinisikan sebagai besaran suatu banjir
mempunyai kemungkinan sama atau terlampaui paling sedikit sekali dalam T tahun. Beberapa
standar atau pedoman sudah dikeluarkan dalam penentuan periode ulang misalnya untuk
drainase perkotaan di desain untuk periode ulang 5 tahun untuk jangka pendek dan 25 tahun
untuk jangka panjang, pelimpah bendungan di desain untuk banjir PMF (Probable Maximum
Flood) atau setengah PMF.
Untuk itu pengetahuan mengenai banjir rencana paling tidak harus dikuasai oleh para
perencana hidrologi untuk membantu dalam estimasi banjir. Isi dari modul ini akan
membahas analisa frekuensi yang terdiri dari probabilitas distribusi, distribusi frekuensi dan
extrapolasi dari suatu seri data serta perhitungan debit maksimum (puncak) dan memberikan
beberapa contoh perhitungan debit banjir rencana (maksimum) dengan berbagai metode.
Mudah-mudahan Modul Analisis Hidrologi untuk Perhitungan Banjir Rencana ini dapat
bermanfaat bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang perencanaan, pengembangan,
pengoperasian, penelitian dan pelestarian sumber daya air.
-1-
atas ambang tertentu dan hanya cocok untuk data yang didapat dari pos duga air
otomatik (PDAO).
3) Jika pada suatu wilayah studi tidak terdapat data pengamatan debit sesaat maksimum,
maka yang harus dilakukan adalah menghitung debit banjir rencana menggunakan metode
hujan-limpasan yang didasarkan pada hujan dan karakteristik DAS. Beberapa metode
tersebut antara lain:
Model matematik hubungan antara hujan dan debit melalui tahapan kalibrasi, diupayakan
mendapatkan parameter model yang dapat merepresentasikan periode pengamatan yang
ada. Parameter tersebut digunakan untuk mendapatkan banjir pada waktu terjadi hujan
yang paling lebat dari setiap tahunnya. Setelah didapat puncak-puncak banjir dari simulasi
tersebut selanjutnya debit banjir rencana dihitung dengan menggunakan salah satu fungsi
distribusi yang tepat seperti Gumbel, Pearson, Log Pearson, Gamma, Log Gamma, Normal,
dan Log Normal.
Data Hidrologi
Analisis Frekuensi 10 < debit < 20 3 < debit < 10 Intensitas Analisa Frekuensi
Hujan
Analisa Distribusi
Hujan
Frekuensi
Hujan
Banjir Rencana
Rencana
Jam-jaman
Rencana
1
-2-
1
Kalibrasi
Parameter
Aktual Unit Sintetik Unit
Rencana
Analisi Frekuensi
Banjir Rencana
Gambar 1. Bagan Alir Perhitungan Debit Banjir Rencana dengan berbagai metode.
Analisis hubungan kala ulang (T) dan perhitungan probabilitas (p) dinyatakan dengan p = 1/T.
Untuk perhitungan analisa frekuensi dapat dilakukan dengan analitis atau grafis. Masing-masing
distribusi memiliki sifat-sifat khas, sehingga setiap data hidrologi harus diuji kesesuaiannya
dengan sifat statistik masing-masing distribusi. Pemilihan distribusi yang tidak tepat dapat
mengundang kesalahan yang cukup besar, dengan demikian pengambilan salah satu distribusi
secara sembarang sangat tidak dianjurkan.
Sebaran peluang yang sesuai dengan seri data hujan atau banjir dapat diuji dengan berbagai
pendekatan. Pendekatan yang lazim digunakan adalah cara grafis dan pemilihan secara visual
dengan plot data ke dalam kertas distribusi dengan berbagai cara seperti Weibull. Hazen dsb.
Data yang mendekati teoritisnya dianggap yang sesuai dan dipilih distribusinya. Selain visual
dilakukan uji kedekatan (goodness of fit test) Chi-Square, Smirnov –Kolmogorov, Standard Error
dan Least Square.
-3-
i α 1 (periode ulang) ....................................................................... (1)
F T
n 1 2α F
dengan:
F adalah frekuensi;
n adalah jumlah data;
i adalah urutan data;
adalah sangat tergantung pada karakteristik distribusinya:
= 3/8 (Bloon Formula, Normal Distribusi);
= 0,44 (Gringorten Formula, Gumbel Distribusi);
= 0 (Weibull Formula, uniform distribusi );
= ½ (Hazen Formula);
= 2/5 (Cunnane Formula);
c) Hitung besarnya frekuensi dari fungsi distribusi yang dipilih.
d) Tentukan kala ulang banjir dengan menghitung T 1 .
F
e) Plot hubungan antara besarnya periode ulang dengan debit yang telah diurut.
3.1.2. Penentuan banjir rencana/hujan rencana dengan metode Analisis (Kondisi 3 dan 4)
3.1.2.1. Metode Matematis Kite
Memiliki sifat khas yaitu nilai asimetrisnya (skewness) hampir sama dengan nol (Cs 0) dengan
kurtosis = 3. Persamaan estimasi banjir/hujan rencana periode T tahun:
-4-
X T X K LN * S ………………………………………………….………………….(7)
dengan :
K LN : Koefisien kekerapan Log Normal Dua
Untuk mendapatkan besaran kekerapan jenis sebaran ini, seri data yang ada dibuat dalam
bentuk ln terlebih dahulu untuk mendapatkan harga rata-rata dan simpangan bakunya. Koefisien
kekerapan log normal 2 dirumuskan seperti di bawah ini :
S
SY * K N Y
e 2
1
K LN
e 0,5 ……………………………………………………….(8)
SY2
1
Kofisien kekerapan log Normal dua ini sedikit kompleks, untuk mempermudah dapat
digunakan kekerapan normal (KN), tetapi rumus umumnya berubah seperti berikut :
X Y K N *SY
XT e …………………………………………………………………….(9)
dengan :
XY : Debit/hujan maksimum tahunan rata rata dalam bentuk ln
Memiliki sifat khas yaitu nilai asimetrisnya (skewness) Cs 1,1396. Sedangkan nilai kurtosis Ck
5,4002.
Persamaan estimasi banjir/hujan rencana periode T tahun :
Sx
2 i .......................................................................................................... (4)
N 1
T 1
Y = -ln (-ln ( )) ................................................................................................................. (5)
T
dengan:
X adalah x rata-rata tahunan;
Sx adalah simpangan baku;
Y adalah perubahan reduksi;
N adalah jumlah data;
XTr adalah besarnya debit banjir rencana;
T adalah kala ulang.
-5-
X T X K P3 * S ……………………………………………………….(12)
2 3 4 5
K P3
C 1
C
C
C 1C
K N K 1 S K N3 6K N S K N2 1 S K N S S …….(13)
2
N
6 3 6 6 6 3 6
dengan :
CS : koefisien kemencengan (Skewness coeficient)
Pada sebaran peluang ini hampir sama dengan sebaran peluang Log Normal dua
parameter yaitu seri data diubah kedalam bentuk ln dan dihitung rata-rata serta simpangan
bakunya. Tidak mempunyai sifat khas yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan jenis
distribusi ini. Koefisien kekerapan menggunakan koefisien Pearson III. Persamaan estimasi
banjir/hujan rencana periode T tahun :
X Y K P 3*SY
XT e ……………………………………….……………….(14)
dengan :
XY : Debit/hujan maksimum tahunan rata rata dalam bentuk ln
Kecocokan distribusi diuji dengan uji kecocokan menggunakan metode pengujian dan dengan
confidence interval 95% yaitu : Metode Chi – Kuadrat dan Metode Smirnov Kolmogorov. Jenis
sebaran peluang yang sering digunakan pada analisis frekuensi untuk hujan ekstrim adalah
Normal, Log Normal 2 , Log Normal 3, Gumbel Tipe 1, Pearson III dan Log Pearson III.
1) Chi-Square
Metode ini menganggap pengamatan membentuk variable acak dan dilakukan secara statistik
dengan mengikuti asimtot distribusi chi square dengan derajad kebebasan k-p-1, p adalah jumlah
parameter yan diesitimasi dari data. Uji statistik ini berdasarkan pada bobot jumlah kuadrad
perbedaan antara pengamatan dan teoritisnya yang dibagi dalam kelompok kelas. Uji kecocokan
ini dapat dilihat pada rumus 2 seperti berikut :
h
2
k
Oi Ei2 ………………………………………………………26)
i 1 Ei
dengan :
-6-
Oi : jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok ke i.
Ei : jumlah nilai teoritis pada sub kelompok ke i
Jika hasilnya besar menunjukkan bahwa distribusi yang dipilih tidak cocok, tetapi uji ini dapat
memberikan hasil yang baik jika mempunyai panjang pencatatan (n) yang besar. Kottegoda (1996)
menyarankan sebaiknya n 50 tahun dan jumlah kelas interval 5
Urutan pemeriksaan kesesuaian distribusi adalah sebagai berikut :
i) Urutkan data pengamatan dari data dari kecil ke besar atau sebaliknya
ii) Kelompokkan data pengamatan menjadi beberapa “k” kelas interval (k cukup diambil = 5)
iii) Catat frekuensi data pengamatan pada setiap kelas interval
iv) Hitung frekuensi kejadian yang diharapkan “e”
v) Hitung nilai X2
vi) Tetapkan nilai derajat kebebasan Dk
vii) Tetapkan besar tingkat kepercayaan (confidence level, misal 95 %)
viii) Cari X2 kritis dari tabel harga kritis Chi-Square
Bandingkan X2 hitungan dengan X2 kritis, bila X2 hitungan < X2 kritis, berarti metode distribusi yang
diperiksa dapat diterima.
2) Smirnov – Kolmogorov
Untuk menghindarkan hilangnya informasi data pada Chi-Square tes akibat pengelompokan data
dalam kelas-kelas interval, ada beberapa metode lain yang telah dikembangkan. Salah satu
metode yang sering digunakan adalah Kolmogorov-Smirnov test (1993). Uji kecocokan ini adalah
uji kecocokan non parametric karena tidak mengikuti distribusi tertentu. Uji ini menghitung
besarnya jarak maximum secara vertical antara pengamatan dan teotitisnya dari distribusi
sampelnya. Perbedaan jarak maksimum untuk Smirnov – Kolmogorov tertera pada rumus 27 :
Dengan :
Distribusi dikatakan cocok jika nilai Dn lebih kecil dari D kritisnya pada derajad kepercayaan yang
diinginkan.
Susun data curah hujan harian rerata tiap tahun dari kecil ke besar atau sebaliknya
Hitung probabilitas untuk masing-masing data hujan dengan persamaan Weibull sebagai
berikut :
-7-
m
P x100%
n 1 ……………………………………………………….28)
dimana :
P = probabilitas (%) ; M = nomor urut data dari seri data yang telah disusun
n = banyak data
Cari harga mutlak perbedaan maksimum antara distribusi empiris (P empiris) dengan
distribusi teoritis (P teoritis)
= maksimum P teoritis – P empiris …………………………………………29)
Apabila nilai kritis sesuai harga kritis Kolmogorov-Smirnov test seperti tabel 2.2, maka
distribusi teoritisnya maka dapat diterima dan bila terjadi sebaliknya maka distribusi
teoritisnya ditolak.
CONTOH PERHITUNGAN DEBIT BANJIR DENGAN KONDISI 1 DAN 2 DAPAT DILIHAT PADA
LAMPIRAN A
-8-
4. PERHITUNGAN DEBIT BANJIR DENGAN KONDISI DATA DEBIT < 20 TAHUN
Dalam kondisi yang demikian maka dapat dilakukan perhitungan besarnya banjir rencana dari
besarnya hujan, untuk itu beberapa analisis curah hujan perlu dilakukan.
Metode yang dapat digunakan untuk merata-rata curah hujan dari suatu DAS adalah metode rata-
rata hitung, metode Thiessen dan metode Isohiet, dijelaskan sebagai berikut.
a) Metode Hitung: Metode ini sebaiknya dipakai pada daerah yang datar, pos hujan banyak dan
sifat hujannya merata, digunakan rumus.
P
P i
....................................................................................... (42)
n
dengan:
P adalah tinggi hujan rata-rata (mm)
Pi adalah tinggi hujan pada setiap pos hujan yang diamati (mm)
n adalah banyaknya pos hujan
b) Metode Thiessen ditentukan dengan cara membuat polygon antar pos hujan pada suatu
wilayah DAS kemudian tinggi hujan rata-rata daerah dihitung dari jumlah perkalian antara
tiap-tiap luas polygon dan tinggi hujannya dibagi dengan luas seluruh DAS ; metode ini cocok
-9-
untuk menentukan tinggi hujan rata-rata, apabila pos hujannya tidak merata, digunakan
rumus :
Hujan rata-rata daerah aliran dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
……………….…………..………………….2)
Dengan :
Rt = Curah hujan daerah
A1,2, n = Luas polygon stasiun 1,2 hingga n
R 1,2,n = curah hujan stasiun tiap-tiap stasiun
c) Metode Isohiet (lihat Gambar 8) ditentukan dengan cara menggunakan peta garis kontur
tinggi hujan suatu daerah dan tinggi hujan rata-rata DAS dihitung dari jumlah perkalian tinggi
hujan rata-rata diantara garis Isohiet dengan luas antara kedua garis Isohiet tersebut, dibagi
luas seluruh DAS. Metode ini cocok untuk daerah pegunungan dan yang berbukit-bukit,
digunakan rumus :
dengan pengertian :
P adalah tinggi hujan rata-rata (mm);
P2….. P2 adalah tinggi hujan yang sama pada setiap garis Isohiet (mm);
A1…. An adalah luas yang dibatasi garis Isohiet ( km2 );
A2 adalah luas total DAS ( A1 + A2 + …. An ) ( km2 ).
- 10 -
Gambar 3. Contoh pembuatan Isohiet
Distribusi waktu tinggi hujan sangat besar pengaruhnya terhadap hidrograf banjir, dan untuk
distribusi tertentu dapat memberikan besaran yang berbeda. Ada 3 tipe distribusi yaitu :
t t t
(jam)Gambar 4. Distribusi Hujan (jam) (jam)
Pendekatan yang lain adalah melakukan analisis stepwise dimana dilakukan multiple regresi
antara data debit dengan data hujan.
dengan:
x1, x2, x3, x4, xn adalah data curah hujan bulanan pada masing-masing lokasi;
Y adalah data debit.
Analisis stepwise akan mencari korelasi antara jumlah pos, lokasi pos dan besarnya koefisien
korelasinya. Hubungan ini akan merupakan grafik/kurva yang asyntotis.
Pada umumnya,para perencana menggunakan hujan harian yang mudah didapatkan baru setelah
itu didistribusikan menjadi jam-jaman dengan pola tertentu. Metode pemilihan pola hujan dapat
- 11 -
mempengaruhi besaran banjir rencana yang dihasilkan.Pertimbangan pemilihan pola hujan tidak
terlepas dari ciri sebaran hujan dalam satu hari membentuk satu atau dua atau tiga rentetan
hujan yang ’independent’, serta pola hujan terpilih harus cukup mewakili sehingga dapat diubah
menjadi banjir rencana dengan periode ulang yang sama. Menurut Wanny Adidarma dkk. dalam
tulisan yang berjudul ’Pola Hujan Jam-jaman untuk Perhitungan Banjir Rencana’,
Pola hujan dari satu rentetan hujan di analisis melalui dua pendekatan yaitu :
a) Klasifikasi sepuluh jenis pola yang dibakukan menurut Johannes Brunner(1984),dan
menghitung jumlah frekuensi dari setiap jenis pola hujan menurut peringkat durasi hujan
dan ketebalan hujan, lihat Tabel 2.
b) Pola hujan yang paling tepat digunakan pada analisis banjir rencana menurut I.Cordery et
al (1984) adalah mengikuti pendekatan rata-rata metode tersendiri untuk menghitung
pola hujan temporal dalam kerangka desain. Pola hujan ini akan menghasilkan puncak
banjir yang tertinggi dibandingkan dengan pola lain dengan durasi yang sama.
Durasi hujan yaitu lamanya hujan berlangsung .Pada umumnya lamanya hujan yang turun kurang
dari 24 jam, untuk satu rentetan kejadian. Hujan yang turun terus menerus selama 6 jam
dikatakan durasinya 6 jam, setelah itu hujan berhenti.Jika hujan turun selama 3 jam dikatakan
durasinya 3 jam.Untuk mengetahui pola distribusi kejadian hujan yang sering terjadi perlu
didefisikan jenis pola hujan tersebut.Johanes Brummer (1984) menentukan 10 jenis pola hujan
.Kesepuluh pola hujan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
- 12 -
Tabel 2. Pembagian Pola Hujan Menurut Johanes Brummer (Sumber: Pola Hujan Jam-jaman
untuk Perhitungan Banjir Rencana,(Wanny A.dkk),1999).
Curah hujan berbeda-beda sesuai dengan jangka waktu yang ditinjau yaitu curah hujan tahunan
(jumlah curah hujan dalam setahun), curah hujan bulanan (jumlah curah hujan dalam sebulan),
curah hujan harian (jumlah curah hujan dalam sehari/24 jam), yang didapat dari pos hujan biasa
dan curah hujan jam-jaman yang didapat dari pos hujan otomatik.Hujan bulanan digunakan untuk
menghitung ketersediaan air.Hujan harian maksimum tahunan digunakan untuk menghitung
hujan rencana. Hujan jam-jaman digunakan untuk menghitung banjir rencana menggunakan
metode Unit Hidrograf. Hujan rencana yang diperlukan untuk perhitungan banjir
rencana dengan menggunakan Metode Unit Hidrograf adalah hujan rencana rata-rata DAS yang
sudah ditentukan durasi dan pola distribusi hujan hariannya.
- 13 -
1) Lengkung IDF (Intensity Duration Frekuency)
Dengan menggunakan analisis frekuensi rentetan data hujan harian maksimum tahunan durasi
tertentu dapat menghasilkan kedalaman hujan periode ulang tertentu dengan durasi yang
bersangkutan.Kedalaman hujan dengan berbagai periode ulang dan durasi dengan persamaan
empiris akan membentuk lengkung IDF.
Perhitungan hujan rencana harian sudah tidak asing lagi bagi para perencana oleh karena pos
hujan biasa (menghasilkan hujan harian) yang tersedia cukup banyak apalagi untuk P.Jawa.
Masalah yang timbul adalah pos hujan otomatik jumlahnya jauh lebih sedikit apalagi data hujan
yang dipublikasikan secara berkesinambungan hanya jam-jaman saja. Sedangkan untuk durasi
kurang dari 1 jam tidak pernah dipublikasikan.Oleh karena itu untuk hujan durasi pendek
digunakan Rumus Bell (Wanny 1995). IDF dapat diestimasi dengan dua pendekatan:
Dengan menggunakan data hujan durasi pendek (< 1 jam). Bila data hujan durasi pendek
tidak tersedia dapat digunakan rumus Bell.
Dengan menggunakan analisa frekuensi pada data hujan durasi pendek yang jumlah
datanya sebaiknya lebih besar dari 10 tahun. Pendekatan ini dilakukan dengan persamaan
Sherman dan Talbot.
Dalam rumus Bell ini data yang digunakan adalah hujan harian maksimum tahunan rata-rata di
daerah tinjau dan jumlah hari hujan tahunan rata-rata dengan tinggi hujan lebih besar dari 10
mm. Data tersebut dapat diperoleh dari kantor BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan
Geofísika).
60 0, 67 0,33
R10 0,92 * M *N .............................................................................. (1)
t 60
RT R10 0,14 * ln T 0, 68 0,54 * t
0, 25
0,5 .................................................. (2)
Dengan :
Rumus di atas mempunyai keterbatasan nilai yaitu 50<M<115 dan 1 < N< 80.
- 14 -
Setelah , didapat, maka untuk mencari mm/jam
Kedalaman hujan dengan berbagai periode ulang dan durasi dengan persamaan empiris akan
membentuk lengkung IDF.Hujan yang dimaksud disini adalah hujan rencana. Hujan rencana ini
adalah hujan yang ditentukan pada periode ulang tertentu. Jadi dengan mengetahui hujan
rencana ini melalui analisa frekuensi dapat diramalkan besarnya kemungkinan bahwa dalam suatu
jangka waktu tertentu akan terjadi hujan yang besarnya sama dengan atau melampaui hujan
rencana tadi. Setelah tinggi hujan untuk periode ulang tertentu dengan durasi tertentu ditentukan
maka dapat dihitung Intensitas Hujannya.
Menggunakan
Menggunakan RumusRumus
Sherman:Sherman :
a
IT
mm/jam…………………………………………………….....(8)
tn
log a
(log I ) (log t ) 2 (log t * log I ) (log t )
N (log t ) 2 (log t ) (log t ) ..................................(9)
n
(log I ) (log t ) N (log t * log I ).......................................................(10)
N (log t ) (log t ) (log t )
2
Dengan :
IT : intensitas hujan untuk periode ulang T tahun dengan durasi t menit (mm/jam)
a,n : konstanta
t : durasi hujan (menit)
N : jumlah data
T : periode ulang (tahun).
Tabel
Tabel 4. PerhitunganIDF
1. Perhitungan IDF rumus
rumusSherman
Shermanutk.
untuk periode
Periode Ulang
ulang T tahun
T tahun.
No. Durasi,t Rt I Log I Log t (Log t)2 (Log t *log I)
(menit) (mm) (mm/jam)
1.
2.
3.
4.
5.
.
.
N
N (log I ) (log t ) (log t ) 2
(log t * log I )
N ( I ) ( I ) ( I )
2 2
a
N ( I ) ( I ) ( I )
2
2
..............................................................(12)
(I ) (I * t ) N ( I * t ) t ) ................................................................(13)
b ( I ) ( I * t ) N ( I *..........
2
2
b N ( I ( I ) ( I )
N ( I ( I ) ( I )
2
2
..........................................................................(13)
Dengan :
Dengan :
I : intensitas hujan untuk periode ulang T tahun dengan durasi t menit
ITT : intensitas hujan untuk periode ulang T tahun dengan durasi t menit
(mm/jam)
(mm/jam)
a,b : konstanta
a,b : konstanta
tt ::durasi
durasihujan
hujan(menit)
(menit)
NN : jumlah data
: jumlah data
TT ::periode
periodeulang (tahun).
ulang (tahun).
- 16 -
4.1.3. PERHITUNGAN PMP MENGGUNAKAN METODA HERSFIELD
Desain bangunan pelimpah pada bendungan besar, perlu memperhitungkan faktor keamanan
agar waduk mampu menampung dan mengalirkan air dengan aman. Oleh karena itu dibutuhkan
perkiraan besarnya hujan badai terbesar yang akan menghasilkan debit aliran masuk yang besar
pula.
Nilai besaran hujan badai terbesar yang mungkin terjadi ditinjau secara matematis maupun fisik
(meteorology) harus realistis. Dengan demikian banjir aliran masuk (inflow) akan menjadi realistis
pula dan akan menghasilkan suatu dimensi bangunan yang cukup tinggi tingkat kehandalannya.
Curah Hujan Maksimum Boleh Jadi (CMB) atau Probable Maximum Precipitation (PMP) dapat
diartikan sebagai curah hujan terbesar dengan durasi tertentu yang secara fisik dimungkinkan
terjadi pada suatu pos atau DPS. Secara umum besar CMB ini berkisar antara 2 sampai 6 kali hujan
kala ulang 100 tahun.
Secara meteorology, CMB dapat diperkirakan dengan metode “Storm Transposition” dan
“Moisture Maximization” yang membutuhkan data-data meteorology seperti, pusat tekanan
tinggi dan rendah, “moisture source”, “dew point” dan lain-lain. Data meteorology yang
dibutuhkan untuk kedua macam pendekatan tersebut, di Indonesia masih sangat kurang. Metode
lain yang dapat digunakan, adalah pendekatan statistik.
Data yang diperlukan pada perhitungan dengan metode ini, adalah berupa seri data hujan harian
maksimum tahunan dengan panjang data sangat disarankan > 30 tahun.
Untuk keperluan desain bendungan-bendungan besar, disarankan dilakukan studi CMB ini secara
khusus.
Metode Hersfield (1961, 1986) merupakan prosedur statistik yang digunakan untuk
memperkirakan CMB, untuk kondisi dimana data meteorologi sangat kurang atau perlu analisis
secara cepat.
Pada metode ini CMB dihitung untuk masing-masing pos hujan (point rainfall), yang selanjutnya
dicari CMB rata-ratanya, dan akhirnya diubah menjadi hujan DPS yang diperoleh dari perkalian
CMB rata-rata dengan koefisien reduksi.
X t X n KS n . . . . . . . . . . . . (3.15)
dimana :
X n dan S n = rata-rata dan simpangan baku dari rentetan data hujan harian
maksimum tahunan berjumlah n
- 17 -
X m X n Km Sn ……………………..(3.16)
Km ditentukan berdasarkan obervasi pada pencatatan hujan harian dari 2700 pos hujan yang 90 %
berada di Amerika.
Km berbanding terbalik dengan hujan harian maksimum rata-rata dan nilainya bervariasi untuk
berbagai durasi (1 jam, 6 jam dan 24 jam), lihat gambar 3.3 yang diambil dari Manual for
Estimation of Probable Maximum Precipitation. Untuk dapat menerapkan rumus (3.16) diperlukan
nilai rata-rata dan simpangan baku dari setiap pos. Hujan ekstrim yang sangat jarang terjadi,
katakana dengan periode ulang 500 tahunan atau lebih, ada kemungkinan dapat ditemui dalam
kurun waktu pengamatan misalnya 30 tahun, kejadian yang sangat jarang tersebut disebut
“Outlier” yang mungkin cukup berpengaruh pada besaran X n dan S n dari rentetan data yang
bersangkutan.
Untuk data yang panjang besarnya pengaruh berkurang dibandingkan dengan data pendek, serta
tergantung pula pada tingkat kejarangan kejadian hujan atau outlier. Hal ini menjadi salah satu
lingkup studi Hersfield sehingga menghasilkan :
Selanjutnya hasil-hasil perhitungan dari kedua cara tersebut dibandingkan dan dipilih yang paling
realistis.
Faktor reduksi sebaiknya dilakukan dengan mempelajari hujan badai (storm) di daerah studi yang
diukur di beberapa pos hujan pada saat yang sama dan beberapa kali kejadian, sehingga cakupan
luasannya dapat dianalisa. Karena keterbatasan data maka analisa tersebut tidak dapat dilakukan,
untuk itu faktor reduksi dapat menggunakan perumusan yang sudah ada ataupun acuan lainnya.
Menurut manual HEC-1 halaman 13, reduksi luasan dirumuskan seperti berikut :
Dengan :
- 18 -
AREA : luas DAS (miles2)
Sedangkan menurut HOP Brook faktor penyesuaian PMP sebesar 0,8. Menurut Monenco
1986 besarnya reduksi 0.9 sedangkan dari Manual for Estimation PMP (WMO 332)
sebesar 0.97. Untuk kondisi di DAS Tabang, faktor reduksi diambil sebesar 0.8 sehingga
Gambar 3.3 Grafik hubungan Km, durasi hujan dan hujan harian maksimum tahunan
rata-rata (Hersfield 1965)
- 19 -
Gambar 3.4 Grafik hubungan Xn-m / X n dengan factor penyesuaian Xn (hersfield, 1961)
- 20 -
(Hersfield 1961)
Gambar 3.7 Grafik penyesuaian terhadap periode waktu pengamatan (Weiss, 1964)
i) Sesuaikan nilai X n dan S n berdasarkan grafik dari gambar (3.4), (3.5) dan (3.6).
- 21 -
ii) Cari nilai Km dari gambar (3.3) berdasarkan nilai X n yang sudah disesuaikan.
iii) Hitung besar CMB tiap pos hujan (point rainfall), atau Xm berdasarkan rumus Hersfield.
iv) Sesuaikan nila Xm (hasil hitungan butir iii) berdasarkan gambar (3.7), dimana untuk periode
pengamatan atau pencatatan setiap 24 jam besar factor penyesuaian adalah = 1.01.
v) Hitung CMB rata-rata dari beberapa hasil hitungan CMB tiap pos hujan.
vi) Hitung CMB-DPS dengan cara mengalikan CMB rata-rata dengan factor reduksi
Catatan : X nm dan S nm adalah mean atau nilai rata-rata dan simpangan baku yang dihitung
dengan membuang data hujan maksimum pada setiap seri data, sementara X n dan Sn dihitung
tanpa membuang data hujan maksimum.
- 22 -
Metode ini dapat menggambarkan hubungan antara debit limpasan dengan besar curah hujan
secara praktis berlaku untuk luas DAS hingga 5.000 hektar dengan mempertimbangkan dua
komponen utama ialah waktu konsentrasi (tc) dan intensitas curah hujan (itc).
Persamaan yang digunakan :
Qp = 0,00278 C.I.A
dengan:
Qp adalah debit puncak banjir (m3/s);
C adalah koefisien limpasan;
I adalah intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam);
A adalah luas daerah aliran (ha).
Keterangan :
a) Salah satu cara menghitung tc, Kirpich (1940).
tc = 0,0195 l0,77 S-0,385
dengan pengertian :
tc adalah waktu dalam menit
l adalah panjang lereng dalam m
S adalah kemiringan lereng m/m
b) Koefisien limpasan C, diperkirakan dengan meninjau tata guna lahan (lihat Tabel 2).
- 23 -
Banyak Rumah,terpisah 0.40-0.60 Datar, 2% 0.05-0.10
Banyak Rumah, rapat 0.60-0.75 Rata-rata,2-7 % 0.10-0.15
Pemukiman, pinggiran Kota 0.25-0.40 Curam, 7 % atau lebih 0.15-0.20
Apartemen 0.50-0.70
Daerah Industri Halaman berumput,tanah pasir
padat
Ringan 0.50-0.80 Datar, 2 % 0.13-0.17
Padat 0.60-0.90 Rata-Rata, 2-7 % 0.18-0.22
Lapangan, kuburan dan sejenisnya 0.10-0.25 Curam, 7 % atau lebih 0.25-0.35
Halaman, jalan kereta api dan
sejenisnya 0.20-0.35
Lahan tidak terpelihara 0.10-0.30
- 24 -
4.1.4.2. Metode Melchior, der Weduwen, dan Haspers
Metode rasional pada umumnya berlaku untuk DAS yang luasnya sampai dengan 5.000 hektar,
khusus untuk wilayah Jakarta, anggapan-anggapan yang digunakan dalam penerapan metode
rasional pada DAS yang luasnya lebih kurang 5.000 hek tar, adalah : intensitas hujan yang merata
di seluruh DAS untuk waktu curah hujan tertentu, waktu hujan sama dengan waktu konsentrasi
dari DAS, puncak banjir dan intensitas hujan mempunyai kala ulang yang sama; digunakan rumus :
Qmax = . .f.q
dengan:
Qmax adalah debit maksimum (m3/s);
adalah koefisien aliran;
adalah koefisien reduksi;
f adalah luas daerah aliran (km2);
q adalah hujan maksimum (m3/km2/s).
4) Hujan maksimum (q) dihitung dari grafik hubungan persentase curah hujan dengan t
terhadap curah hujan harian dengan luas DAS dan waktu (Gambar 5).
- 25 -
Gambar 5 Distribusi hujan dalam 24 jam (cara Melchior)
- 26 -
4) Hujan maksimum (q) menurut Haspers dihitung dengan rumus :
Rt
q
3,6t
Rt = R S x .Y
dengan:
t adalah waktu curah hujan (jam)
q adalah hujan maksimum (m³/km²/s)
R adalah curah hujan maksimum rata-rata (mm)
S x adalah simpangan baku
Y adalah variabel simpangan untuk kala ulang T tahun
R t adalah curah hujan dengan kala ulang T tahun (mm)
Berdasarkan Haspers ditentukan :
untuk t-< 2 jam,
t.R24
Rt
t 1 0,0008(260 R 24 )(2 t)2
dengan:
t adalah waktu curah hujan (jam);
R 24 adalah curah hujan dalam 24 jam (mm);
Rt adalah curah hujan dengan waktu t jam (mm).
untuk 2 jam < t < 19 jam,
t.R24
Rt
t 1
untuk 19 jam < t < 30 hari,
R t 0,707.R 24 t 1
dengan:
t adalah waktu curah hujan (hari);
R 24 adalah curah hujan dalam 24 jam (mm);
R t adalah curah hujan dalam t jam (mm).
Metode yang dapat digunakan untuk menghitung banjir berdasarkan data kejadian hujan adalah
dengan menggunakan metode hidrograf satuan. Metode ini memerlukan informasi berupa hujan
efektif, aliran dasar dan hidrograf limpasan. Dalam menentukan besarnya banjir dengan hidrograf
satuan diperlukan data hujan jam-jaman. Metode ini mencari hubungan antara limpasan
permukaan dan hujan sebagai penyebabnya (walaupun sudah jelas terlihat bahwa kuantitas dan
intensitas hujan mempunyai pengaruh langsung terhadap hidrograf), maka dengan hidrograf
satuan dapat dijelaskan bagaimana hubungannya, berapa besar pengaruh hujan efektif terhadap
limpasan permukaan.
- 27 -
Beberapa hal yang diperlukan dalam membuat unit hidrograf satuan:
a) Tentukan besarnya hujan efektif dapat dihitung dengan menggunakan metode Ø indeks atau
metode Horton:
1) Metode Ø indeks, mengasumsikan bahwa besarnya kehilangan hujan dari jam ke jam
adalah sama, sehingga kelebihan dari curah hujan akan sama dengan volume dari
hidrograf aliran seperti (Gambar 6).
Waktu (t)
Kehilangan
Tinggi Curah
Hujan (mm) Hujan Efektif
Hidrograf Satuan
2) Sedangkan metode Horton mengasumsikan bahwa kehilangan debit aliran akan berupa
lengkung eksponensial, sehingga makin besar jumlah hujan yang meresap akan
mengakibatkan tanah menjadi cepat jenuh akibatnya besar resapan akan berkurang dan
akan mengikuti rumus Horton sebagai berikut.
fp fc (f0 fc )e kt
dengan:
fp adalah kapasitas infiltrasi pada waktu t (mm);
fc adalah harga akhir dari infiltrasi;
f0 adalah kapasitas infiltrasi permulaan yang tergantung dari hujan sebelumnya,
dapat diperkirakan 50% - 80% dari curah hujan total;
k adalah konstanta yang tergantung dari tekstur tanah;
t adalah waktu sejak hujan mulai (jam).
- 28 -
Contoh metode Horton dapat di lihat pada Gambar 7 di bawah ini.
b) Pilih Hidrograf limpasan, terdiri dari dua komponen pokok yaitu : debit aliran permukaan dan
aliran dasar dan pisahkan aliran permukaan dan aliran dasarnya.
Cara praktis, untuk mendapatkan besarnya aliran permukaan adalah sebagai berikut :
1) Debit aliran dasar merata dari permulaan hujan sampai akhir dari hidrograf aliran
(Gambar 8).
2) Debit aliran dasar ditarik dari titik permulaan hujan sampai titik belok di akhir hidrograf
aliran (Gambar 9).
3) Debit aliran dasar terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama mengikuti
pendekatan cara ke-1 sampai titik belok bagian atas (awal dari aliran antara), bagian ke-
2 mengikuti pendekatan cara ke-2, (lihat Gambar 10).
Gambar 8 Debit aliran dasar merata dari permulaan hujan sampai akhir dari hidrograf
aliran
Gambar 9 Debit aliran dasar ditarik dari titik permulaan hujan sampai titik belok di akhir hidrograf
aliran
- 29 -
Gambar 10 Debit aliran dasar terbagi menjadi dua bagian
c) Tentukan besarnya unit hidrograf dengan membagi ordinat limpasan permukaan dengan
hujan efektif.
d) Untuk menghitung besarnya hidrograf banjir dihitung dengan mengalikan besarnya hujan
efektif untuk kejadian banjir dengan kala ulang tertentu dengan hidrograf satuan yang
didapat, selanjutnya ditambah aliran dasar.
Asumsi dan pendekatan dalam pembentukan hidrograf satuan:
1) Hujan efektif terdistribusi dengan intensitas sama (uniform) selama periode yang
ditentukan.
2) Hujan efektif didistribusi merata pada seluruh DAS.
3) Hujan efektif yang terjadi dengan durasi yang sama, akan menghasilkan aliran dengan
durasi waktu (time base) yang sama pula. Tetapi jumlah limpasan/run off yang terjadi
tergantung dari intensitas hujannya.
t
TB
4) Dengan kenaikan intensitas hujan effektif/netto secara proposional i' = n.i dengan durasi
yang sama, dihitung hidrograf limpasan dengan ordinat Q' = n.Q pula (kenaikan Q
sebanding dengan kenaikan i).
- 30 -
Gambar 12 Hidrograf aliran
Penguasaan teknik “unit hidrograf” digunakan sebagai salah satu dasar yang penting dari
sutu metode untuk memperkirakan hidrograf banjir (flood hydrograph) dari suatu hujan
rencana (design rainfall).
Unit hidrograf merupakan fungsi response yang bersifat linear dari suatu input hujan effektif
menjadi limpasan langsung sebagai output (Gambar 14).
- 31 -
Untuk suatu daerah aliran tertentu dapat ditentukan bahwa 1 satuan hujan efektif (mm atau
cm atau inch) yang berlangsung selama 1 jam akan menghasilkan suatu karakteristik
hidrograf limpasan langsung yang disebut t jam unit hidrograf. Sehingga dapat didefinisikan
bahwa :
“t jam unit hidrograf” adalah hidrograf limpasan langsung yang dihasilkan oleh 1 satuan
hujan effektif (mm, cm, atau inch) yang jatuh merata di daerah aliran sungai selama t jam.
Volume dari unit hidrograf sama dengan volume dari 1 satuan tebal air yang tersebar merata
di seluruh luas daerah aliran.
Pembentukan hidrograf dengan unit hidrograf :
- 32 -
q7t (aliran rata-rata pada waktu 7t)
= Pe yU(6t) Pe zU(5t)
= 0 Pe zU(5t)
- 33 -
Waktu tenggang adalah antara titik berat curah hujan sampai dengan puncak UHS. Besarnya nilai
CT dan CP bervariasi menurut kondisi topografi, geologi dan iklim (Mutreja, K.N, 1990). Durasi
hujan effektif setebal te dipengaruhi oleh waktu tenggang, dapat dihitung menggunakan rumus :
tp
te
5 .5
Apabila durasi curah hujan efektif(te) lebih besar dari durasi hujan(tr), yang telah ditentukan
(dalam satuan jam), maka perlu diadakan koreksi pada waktu tenggang menjadi (tp’). Dari
Gambar 17 waktu yang diperlukan antara permulaan hujan hingga puncak hidrograf (time to
peak) adalah sebesar (TP).
Hubungan antara tr, te, tp, tp’ dan TP adalah:
Bila te > tr , maka :
tp’ = tp + 0,25 (tr - te)
Tp = tp’ + 0,5 tr
Bila te < tr maka
TP = tp + 0,5 tr
SNYDER hanya memberikan model untuk menghitung debit puncak (Qp) dan waktu mencapai
puncak (Tp) dari suatu hidrograf, maka dari itu untuk mendapatkan ordinat garis lengkung
hidrografnya atau dengan kata lain untuk menghitung debit (Q) pada garis lengkung hidrograf
dapat digunakan rumus eksponensial dari ALEXEJEV sebagai berikut :
Q = f(t)
Bila Q sebagai sumbu y dan t sebagai sumbu x, maka y = f(x)
(1 x ) 2
a
y 10 x
- 34 -
b) Indeks kemiringan sungai (m/km) merupakan perbedaan tinggi titik yang ditinjau dengan titik
yang tertinggi di hulu sungai dari DAS, dan dibagi oleh panjang sungai utama, dinyatakan
dalam meter per kilometer.
c) Indeks danau (Lu) yaitu tampungan dari suatu danau atau resevoir dapat secara nyata
mengurangi tinggi puncak banjir, besarnya pengurangan banjir tergantung dari letak danau
terhadap DAS, indeks danau dihitung dengan rumus:
indeks danau
luas daerah di hulu danau km 2
luas DAS (km 2 )
Harga indeks danau yang digunakan dalam persamaan regresi tidak boleh melebihi 0,25,
apabila luas permukaan danau lebih kecil daripada 1 %, maka indeks danau dapat diabaikan.
d) Rata-rata curah hujan terbesar selama 24 jam dalam setahun (P), yaitu harga rata-rata curah
hujan terbesar selama 24 jam dalam setahun didapat dari peta isohietnya (lihat lampiran
untuk Pulau Jawa dan Sumatera) dan dikalikan dengan faktor pengurang (ARF), berdasarkan
dari luas DAS, seperti pada Tabel 3.
- 35 -
Pendekatan model deterministik banyak digunakan untuk mensimulasikan hujan menjadi debit
banjir. Model statistik dan probabilistik digunakan untuk menghitung besarnya debit banjir bila
data banjirnya tersedia untuk perioda waktu yang memadai (>20 tahun), sedangkan metode
stokastik dan optimasi tidak lazim untuk digunakan dalam menentukan debit banjir.
Dari metode/model deterministik, banyak pendekatan yang telah dikembangkan sehingga model
dapat diklasifikasikan ke dalam sistemnya (black box/konseptual), sistem persamaannya (linear,
non linear), parameternya (hurup/distributed) dan lain-lain. Model mana yang layak untuk
digunakan sangat tergantung pada ketersediaan data resiko kegagalan serta tahapan dari studi
yang dilakukan.
Prosedur pemanfaatan model matematik untuk penentuan debit banjir rencana :
a) Pilih model matematik untuk mensimulasikan hidrograf banjir yang terjadi.
b) Pilih hidrograf banjir dan hujan yang mengakibatkan terjadinya banjir tersebut.
c) Lakukan kalibrasi untuk mendapatkan nilai parameter dari model yang dipilih.
d) Lakukan verifikasi dengan mengambil hidrograf banjir dan hujan yang mengakibatkannya
dengan menggunakan parameter yang telah didapat dari hasil kalibrasi. Jika hasil rekonstitusi
hidrografnya baik lanjut ke tahap selanjutnya butir e) jika kurang baik kembali ke tahap butir
c).
e) Pilih hujan paling maksimum untuk setiap tahunnya dengan menggunakan parameter model
yang diperoleh sehingga dapat ditentukan besarnya hidrograf banjir akibat hujan terbesar
tersebut, atau berdasarkan hujan rencana yang dihasilkan. Lakukan proses ini untuk
sepanjang tahun pengamatan hujan yang tersedia.
f) Tentukan dari hidrograf-hidrograf banjir tersebut puncak-puncaknya untuk setiap tahunnya.
g) Lakukan perhitungan besarnya banjir rencana untuk berbagai periode ulang seperti pada
kondisi dimana data debit puncak banjir tersedia.
- 36 -