Anda di halaman 1dari 2

Nyala, mati, nyala, mati…..

Itulah kondisi lampu di teras rumah, ketika gue lagi bersantai malam disana. Daripada
kesel sendiri, gue matiin aja tuh lampu dan minta tolong ke bokap buat pasang lampu baru.
Alhasil, santai malam gue pun berubah jadi santai gelap-gelapan. Entah kenapa, sekarang gue
jadi menyukai gelap. Sebelumnya, gue malah risih dengan yang namanya gelap, apalagi kalo
lagi di bioskop, gue parno sendiri liatin tanda EXIT sebelum film dimulai.
Balik lagi ke santai gelap-gelapan gue. Walaupun gelap, gue masih betah duduk di
teras selama hampir sejam. Pikiran gue sliweran kemana-mana, mulai dari mikirin hal yang
penting sampe sesuatu yang gak penting sekalipun. Gak jarang juga gue mengkhayal sesuatu
yang menyenangkan sehingga bisa buat gue senyum-senyum sendiri. Eh, tapi kalo dipikir-
pikir, mengkhayal itu salah satu aktivitas yang seru dan kreatif, asalkan ngayalnya yang
normal-normal aja jangan yang macem-macem. Kenapa seru dan kreatif? Dengan
mengkhayal, lo bisa tau kebebasan berpikir dan seberapa besar imajinasi lo dalam
mereflesikan sesuatu, dari hal yang gak masuk di akal sampai yang mungkin terjadi. Selain
itu, mengkhayal juga salah satu pintu dalam menemukan mimpi lo. Kalau lo udah tau apa
mimpi lo, lo pasti akan memiliki sebuah usaha untuk meraihnya. Nah, dalam proses meraih
mimpi inilah digunakan sebuah khayalan. Ketika mengkhayal, lo pasti membayangkan
gimana caranya agar mimpi lo ini terwujud. Saat balik ke realita dan lo benar-benar ingin
mewujudkannya, jalanilah proses itu sama seperti lo mengkhayalkannya. Dengan begitu,
proses yang lo lewati akan terasa lebih mudah dan lo gak akan merasa terbebani. Emang gak
mudah, tapi jika punya niat yang besar, percaya dan yakin lo akan mendapatkannya.
Malam semakin larut dan gue masih bertahan buat gelap-gelapan di teras rumah.
Tiba-tiba, gue memikirkan sesuatu. Pemikiran gue ini bisa dibilang cukup bijak. Gak tau gue
kesambet apa bisa jadi bijak gini. Gue berpikir, bahwa manusia ibarat lampu yang menyala
dan nantinya akan mati. Saat menyala, manusia akan mancarin sinar terang dan menunjukkan
segala kemampuannya agar orang sekitarnya dapat melihat keberadaannya. Bahkan, gak
jarang ada individu yang mau lebih terang dibandingkan individu lain supaya semakin
jelaslah dia diantara banyak orang. Ini gak salah dan setiap orang berhak melakukannya
karena pada dasarnya manusia memang ingin dilihat dan dihargai keberadaannya oleh orang
lain. Namun, ini bisa membawa suatu dampak yang buruk. Orang terkadang lupa, bahwa gak
selamanya ia dapat terus ‘menyala’ dengan terang. Ada fase dimana ia akan redup dan lama-
kelamaan akan ‘mati’. Fase dimana seseorang ‘menyala’, cenderung membawa orang untuk
membanggakan dirinya sendiri dan terkadang merendahkan orang lain yang sedang ‘redup’
sinarnya. Walaupun memang gak semua orang melakukannya, tapi di dalam diri setiap orang
pasti selalu ada keinginan untuk membanggakan dirinya apabila ia dapat mencapai sesuatu,
entah itu kecil ataupun besar. Terkadang, gue pun berpikiran seperti itu, Namun itu semua
dapat kita kendalikan sendiri, sehingga hal tersebut gak akan terjadi, atau setidaknya dapat
kita minimalisir. Barulah seseorang yang tadinya ‘menyala’ itu, akan merasakan pahitnya
hidup ketika mereka sudah mulai ‘redup’. Redup dan mati disini maksudnya ialah keadaan
dimana seseorang ‘mati’ dalam pemikirannya, semangat hidupnya, maupun ‘mati’ dalam
berkarya. Orang tersebut akan benar-benar merasa tidak berdaya dan putus asa. Bagi orang-
orang sejens ini, mereka akan lebih terpuruk lagi dengan melihat orang-orang yang tadinya
‘redup’ yang mereka rendakan sebelumnya, mulai bersinar dan ‘menyala’. Mereka akan
merasa tertekan melihatnya.
Oleh karena itu, jika kita sedang berada dalam fase ‘menyala’, tetaplah rendah hati
dan hargai orang lain, Bukan hanya orang lain saja yang harus kita hargai, alam pun juga
harus kita hormati. Bagaimanapun juga, kita hidup berdampingan dengan alam. Apa yang
kita punya, itu pun juga kepunyaan alam. Sebaliknya, jika kita berada dalam fase ‘redup’, kita
harus tetap bangkit dan optimis bahwa keadaan akan berubah lebih baik apabila kita memiliki
aksi nyata untuk memperbaikinya. Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Jangan
pernah merendahkan dan menganggap orang lain tidak mempunyai kemampuan. Itu akan
berbalik kepada kita saat kita berada dalam fase ‘redup’. Orang pun akan melihat kita seperti
itu. Bila kita tetap berbuat baik kepada sesama, rendah hati, dan menghargai orang lain, baik
dalam keadaan diatas maupun dibawah, orang lain pun akan membalas sikap kita dengan
perbuatan yang sama.
“Tidur, dek!” Suara nyokap mengakhiri perenungan singkat gue mengenai lampu.
Gue pun bergegas ke kamar, berdoa, dan berharap esok menjadi manusia yang lebih baik.