Anda di halaman 1dari 4

DEGRADASI KARET

Degradasi mekanik ialah reaksi polimerisasi yang mana energi aktivasinya didapat
dari gaya mekanik pada polimer. Degradasi mengurangi efektivitas bahan aditif karena
ketergantungan yang kuat dari efektivitas pada berat molekul. Karena polimer rantai Panjang
yang memiliki berat molekul yang berbeda akan menunjukan waktu yang berbeda tergantung
resistensi. Dengan kata lain molekul yang lebih Panjang rentan terhadap degradasi mekanik,
sehingga degradasi lebih cepat (Himawan,2013). Dalam proses pengolahan polime dengan
menggunakan sistem degradasi mekanik, biasanya degradasi ini menggunakan empat tahapan
utama dalam prosesnya, yaitu ((Bhuvaneswari, 2018)) :

1. Regrinding
Regrinding atau yang biasa disebut sebagai pembentukan bubuk. Dalam
proses regrinding ini material akan digiling dengan menggunakan Two roll milling
dan ball milling. Regrending biasanya melibatkan material filler yang digunakan
dalam industri karet, pada proses regrending ini material hasil dari proses mempunyai
ukuran kurang dari 85 µm, dan kebutuhan filler yang digunakan tidak lebih besar dari
200 µm
2. adhesive pressing
Merupakan slaah satu metode yang efektif untuk proses recycle polimer,
dimana pada metode ini permukaan komponen yang ingin di recycle harus dilapisi
oleh adhesive binde kemudian akan dipress didalam hotpress.metode ini adalah salah
satu metode tertua yang digunakan untuk proses daur urlag polimer. Pada metode ini
biasanya polimer akan di press dengan menggunakan suhu 100-200 C dengan
menggunakan tekanan mencapai 30-200 bar.
3. compression molding, dan
compression molding adalah proses yang melibatkan pencetakan partikel polimer
pada suhu tinggi dan tekanan 180 ° C di bawah 350 bar untuk mengalir disekitar
partikel-partikel tanpa perlunya bahan kimia tambahan sebagai pengikat.
4. injection molding.
injection molding juga merupakan jenis proses pencetakan yang
memungkinkan untuk digunakan sebagai proses recycle dari produk-produk polimer
cross-linked. Metode yang digunakan untuk memproses / mencampur polimer
dengan termoplastik lainnya. Dalam aplikasinya, injectiob molding pada polimer akan
dilakukan pada suhu
180°C dan tekanan yang tinggi yaitu 350 bar.

FOTODEGRDASI

Degradasi yang disebabkan oleh cahaya disebut sebagai fotodegradasi. Energi foton
dari sinar matahari adalah faktor terpenting yang menyebabkan polimer mengalami degradasi
tipe ini. Sebagian besar polimer rentan terhadap degradasi yang diprakarsai oleh UV dan
cahaya tampak. Biasanya, panjang gelombang UV yang digunakan untuk degradasi polimer
bekisar pada 290-400 nm di bawah sinar matahari. Radiasi UV menyebabkan degradasi foto-
oksidatif yang melibatkan oksigen dan menghasilkan pemecahan rantai polimer,
menghasilkan radikal, dan mengurangi berat molekul. Degradasi biasanya terjadi pada
komponen ether, dimana foto-iradiasi menghasilkan ester, aldehyde, formate, and propyl end
groups. Degradasi akan terjadi pada panjang gelombang yang berbeda berdasarkan ikatan
yang ada pada polimer. Sebagai contoh, PE membutuhkan sekitar 300 nm untuk mulai
terjadinya degradasi , sedangkan untuk PP membutuhkan sekitar panjang gelombang 370 nm
untuk bisa terdegradasi. Fotodegradasi terutama mengubah sifat fisik dan optik polimer.
Gugus kromoforik dalam polimer adalah salah satu hal yang menybebakan adanya degradasi
fotolitik. Keton, kuinon, dan peroksida (Bhuvaneswari, 2018).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Runc (2008) dimana penelitian ini ingin
mengathui seberapa besar pengaruh penambahan titanium dioksida (TiO2) - dan seng oksida
(ZnO) sebagai bahan penggisi dalam Dyed natural rubber (NR) dan styrene–butadiene rubber
(SBR) yang mmempunyai ikatan yang lemah dan mudah tedegradasi jika terpapar sinar UV.
Proses fotodegrdasi dari komponen dyed natural rubber (NR) styrene–butadiene rubber
(SBR) dilakukan selama 68 jam dalam interval panjang gelombang dari 290 hingga 800 nm,
dimana dari penelitian ini menujukan bahwa pada panjang gelombang 290 hingga 800 nm
dyed natural rubber (NR) styrene–butadiene rubber (SBR) sudah terdegradasi, hal
disesuaikan dengan (Bhuvaneswari, 2018) yang menyatakan bahwa pada panjang gelombang
sekitra 290-400 komponen polimer, khususnya karet sudah megalami degrdasi karena
ikatannya yang lemah dan sangat mudah untuk menyerap sinar matahari.

Sebagian besar polimer biasanya mengandung tingkat ketidakjenuhan yang tinggi


dalam pada ikatan antar molekul polimernya. Unsaturasi polimer berarti menunjukan polimer
yang memiliki ikatan rangkap karbon-karbon (-C = C-), contohnya Natural rubber (NR),
styrene butadiene rubber (SBR), dan polybutadiene rubber (BR). Sebagian besar polimer ini
rentan terhadap degradasi jika terkena radiasi ultra-violet (UV), panas, air, ozon, dan oksigen.
Penelitian yang dilakukan oleh Kim (2015) menggunakan panjang gelombang sinar UV 254
nm dengan waktu selama 202 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa Natural rubber (NR),
styrene butadiene rubber (SBR), dan polybutadiene rubber (BR) sudah mengalami
forodegradasi pada waktu dan panjang gelombong tersebut, hal ini ditandai dengan adanya
perbedaan warna yang ditunjukan pada gambar serta adanya retakan pada permukaan karet
yang dapat dilihat pada gambar 1. (Kim,2015).

Gambar 1. (a) Permukaan karet sebelum degradasi sinar UV (B) permukaan karet
setelah degradasi sinar UV selama 202 jam, panjang gelombang 245 nm (Kim,2015)

Gambar 1. Permukaan karet setelah degradasi sinar UV (Kim, 2015)

Kim, IK-Sik. 2015. Characterization of the UV Oxidation of Raw Natural Rubber Thin Film
Using Image and FT-IR Analysis. Korea : Aero Technology Research Institute

.
Runc, dkk. 2008. Photooxidation of Dyed Styrene–Butadiene and Natural Rubbers.
Laboratoire de Technologies Industrielles : Luxembourg

Bhuvaneswari, Harini. 2018. Degradability of Polymers. India : Cipet