SPengertian dan Isi Politik Etis, Tujuan dan Tokoh Pencetus Politik Etis (Politik
Balas Budi)
Berikut ini adalah pembahasan tentang politik etis yang meliputi Pelaksanaan Politik Etis, tujuan
politik etis, isi politik etis, pencetus politik etis, program politik etis, pengertian politik etis, tokoh
pencetus politik etis, pengaruh politik etis, politik balas budi, pengertian politik balas budi, isi
politik balas budi, tujuan politik balas budi.
Pengertian Politik Etisss
Apakah yang dimaksud dengan politik etis?
Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa
pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi.
Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.
Pelaksanaan Politik Etis
Perubahan politik di negeri Belanda membawa pengaruh bagi kebijakan pada negara-negara
jajahan Belanda, termasuk Indonesia (Hindia Belanda).
Golongan liberal di negeri Belanda yang mendapat dukungan yang besar dari kalangan
masyarakat, mendesak pemerintah Belanda untuk meningkatkan kehidupan di wilayah jajahan.
Salah satu penganut politik liberal adalah Van Deventer. C.Th. van Deventer, merupakan salah
seorang tokoh penganjur (Pencetus) Politik Etis.
Desakan ini mendapat dukungan dari pemerintah Belanda. Dalam pidato negara pada tahun 1901,
Ratu Belanda, Wihelmina mengatakan:
“Negeri Belanda mempunyai kewajiban untuk mengusahakan kemakmuran dari
penduduk Hindia Belanda”.
Pidato tersebut menandai awal kebijakan memakmurkan Hindia Belanda yang dikenal
sebagai Politik Etis atau Politik Balas Budi.
Gambar: C.Th. van Deventer (Tokoh Politik Etis)
Tokoh Pencetus Politik Etis
Keberadaan Politik Etis di Hindia Belanda ketika itu, setidaknya diwarnai oleh sosok-sosok
mereka, baik sebagai inisiator, fasilitator, eksekutor maupun kritikus dari kebijaksanaan tersebut.
Berikut adalah 5 tokoh Belanda yang mewarnai Politik Etis.
1. Eduard Douwes Dekker (1820-1887)
2. Pieter Brooshooft (1845 – 1921)
3. Conrad Theodore van Deventer (1857-1915)
4. Jacques Henrij Abendanon (1852-1925)
5. Dr. Douwes Dekker (1879-1950)
Keberadaan Politik Etis di Hindia Belanda ketika itu, setidaknya diwarnai oleh sosok-sosok
mereka, baik sebagai inisiator, fasilitator, eksekutor maupun kritikus dari kebijaksanaan tersebut.
Isi Politik Etis
Adapun tujuan (Isi) politik etis adalah:
1. Edukasi: menyelenggarakan pendidikan.
2. Irigasi: membangun sarana dan jaringan pengairan.
3. Transmigrasi/imigrasi: mengorganisasi perpindahan penduduk.
Politik etis yang dilaksanakan Belanda dengan melakukan perbaikan bidang irigasi, pertanian,
transmigrasi, dan pendidikan, sepintas kelihatan mulia. Namun di balik itu, program-program ini
dimaksudkan untuk kepentingan Belanda sendiri.
Timbulnya Elite Nasional (Kaum Terpelajar Pribumi)
Salah satu dampak pelaksanaan Politik Etis adalah melahirkan golongan cerdik, karena berkat
diselenggarakannya pendidikan (cendikiawan).
Sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu adalah HIS (Holands Inlandsche School) yang
diperuntukkan bagi keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk
golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan sekolah kelas dua.
Dalam pendidikan tingkat menengah disediakan HBS (Hogere Burger School), MULO (Meer
Uiterbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middlebared School). Di samping itu ada beberapa
sekolah kejuruan/keguruan seperti Kweek School, Normal School.
Adapun untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Institut or Hoger
Technisch Ondewijs in Netherlands Indie), Sekolah Tinggi Hukum (Rechshool), dan Sekolah
Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari Sekolah Dokter Jawa, Stovia, Nias, dan GHS
(Geneeskundige Hooge School).
Pendidikan kesehatan (kedokteran tersebut di atas) yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai
sekolah dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumi Putra
(Inlaends Geneekundige).
Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi Dokter Bumi Putra (Inlands Arts). Sekolah ini
diberi nama STOVIA (School Tot Opleideng Van Indische Artsen) kemudian pada tahun 1913
diubah menjadi NIAS (Netherlands Indische Artesen School).
Dengan kemajuan di bidang pendidikan ini melahirkan golongan cerdik dan pandai yang mulai
memikirkan perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajah.
Politik Etis (Pengertian, Isi, Tujuan, Pencetus, dan Pelaksanaan Politik Etis |
Trilogi Van Deventer)
Guru Ips Rabu, 07 September 2016 Ips Kelas 8, Sejarah
Politik etis adalah politik yang diperjuangkan untuk mengadakan desentralisasi, kesejahteraan
rakyat serta efisiensi (di daerah jajahan). Politik etis (politik balas budi) muncul pada tahun 1890
atas desakan golongan liberal dalam parlemen Belanda. Mereka yang berhaluan progresif tersebut
memberikan usulan agar pemerintah Belanda memberikan perhatian kepada masyarakat Indonesia
yang telah bersusah payah mengisi keuangan negara Belanda melalui program tanam paksa.
Desakan
ini muncul dari pemikiran bahwa negeri Belanda telah berutang banyak atas kekayaan bangsa
Indonesia yang dinikmati oleh masyarakat Belanda.
Politik etis mulai dilakukan pada 1901 yang berisi tiga tindakan, yaitu edukasi (pendidikan),
irigasi (pengairan), dan transmigrasi (perpindahan penduduk). Pencetus politik etis (politik balas
budi) ini adalah Van Deventer. Van Deventer memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dengan
menulis karangan dalam majalah De Gids yang berjudul Eeu Eereschuld (Hutang Budi). Van
Deventer menjelaskan bahwa Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Hutang budi
itu harus dikembalikan dengan memperbaiki nasib rakyat, mencerdaskan dan memakmurkan.
Isi Politik Etis
Isi poitik etis menurut Van
Deventer, ada tiga cara atau
disebut juga trilogi van
deventer untuk memperbaiki
nasib rakyat tersebut yang
isinya sebagai berikut:
1. Edukasi (Pendidikan)
Pendidikan diberikan di
sekolah kelas satu kepada anak-
anak pegawai negeri dan orang-
orang yang berkedudukan atau berharta. Pada 1903 terdapat 14 sekolah kelas satu di ibukota
karesidenan dan ada 29 di ibukota Afdeling. Mata pelajarannya, yaitu membaca, menulis,
berhitung, ilmu bumi, ilmu alam, sejarah, dan menggambar. Pendidikan kelas dua dikhususkan
untuk anak-anak pribumi golongan bawah. Pada 1903, di Jawa dan Madura sudah terdapat 245
sekolah kelas dua negeri dan 326 sekolah Fartikelir, di antaranya 63 dari Zending. Adapun jumlah
muridnya pada 1892 ada 50.000, pada 1902 ada 1.623 anak pribumi yang belajar pada sekolah
Eropa. Untuk menjadi calon pamong praja ada tiga sekolah Osvia, masing-masing di Bandung,
Magelang, dan Probolinggo. Sedangkan, nama-nama sekolah untuk anak-anak Eropa dan anak
kaum pribumi adalah sebagai berikut.
a. HIS (Hollandsch Indlandsche School) setingkat SD
b. MULO (Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs) setingkat SMP
c. AMS (Algemeene Middlebare School) setingkat SMU
d. Kweek School (Sekolah Guru) untuk kaum bumi putra
e. Technical Hoges School (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung. Pada 1902, didirikan sekolah
pertanian di Bogor (sekarang IPB).
2. Irigasi (Pengairan)
Sarana vital bagi pertanian
adalah pengairan dan oleh pihak
pemerintah telah dibangun sejak
1885. Bangunan-bangunan irigasi
Berantas dan Demak seluas
96.000 bau, pada 1902 menjadi
173.000 bau. Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi subur dan produksinya bertambah.
3. Transmigrasi (Perpindahan Penduduk)
Dengan transmigrasi tanah-tanah di luar Jawa yang belum diolah menjadi lahan perkebunan,
akan dapat diolah untuk menambah penghasilan. Selain itu juga untuk mengurangi kepadatan
penduduk Jawa. Pada 1865 jumlah penduduk Jawa dan Madura 14 juta. Pada 1900 telah berubah
menjadi dua kali lipat. Pada awal abad ke-19 terjadi migrasi penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa
Timur sehubungan dengan adanya perluasan perkebunan tebu dan tembakau, migrasi penduduk
dari Jawa ke Sumatra Utara karena adanya permintaan besar akan tenaga kerja perkebunan di
Sumatra Utara, terutama ke Deli, sedangkan ke Lampung mempunyai tujuan untuk menetap.
Tujuan Politik Etis
Tujuan politik etis adalah memajukan tiga bidang yakni edukasi dengan menyelenggarakan
pendidikan, Irigasi dengan membangun sarana dan jaringan pengairan, dan juga Transmigrasi/
imigrasi dengan mengorganisasi perpindahan penduduk.
Politik etis yang dilaksanakan Belanda dengan melakukan perbaikan bidang irigasi, pertanian,
transmigrasi, dan pendidikan, sepintas kelihatan mulia. Namun di balik itu, tujuan dari program-
program ini dimaksudkan untuk kepentingan Belanda sendiri.
Pelaksanaan Politik Etis
Desakan untuk melaksanakan politik etis mendapat dukungan dari pemerintah Belanda. Dalam
pidato negara pada tahun 1901, Ratu Belanda, Wihelmina mengatakan:
“Negeri Belanda mempunyai kewajiban untuk mengusahakan kemakmuran dari
penduduk Hindia Belanda”.
Pidato tersebut menandai awal kebijakan memakmurkan Hindia Belanda yang dikenal sebagai
Politik Etis atau Politik Balas Budi. Pada dasarnya kebijakan-kebijakan politik etis yang diajukan
oleh van Deventer tersebut baik. Akan tetapi dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-
penyimpangan yang dilakukan oleh
para pegawai Belanda.
Berikut ini penyimpangan-penyimpangan dari pelaksanaan dari politik etis tersebut.
1. Pelaksanaan Dalam Bidang Irigasi
Pelaksanaan dalam pengairan (irigasi) hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk
perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi. Dalam bidang
irigasi (pengairan) diadakan pembangunan dan perbaikan. Tetapi pengairan tersebut tidak
ditujukan untuk pengairan sawah dan ladang milik rakyat, namun untuk mengairi perkebunan-
perkebunan milik swasta asing dan pemerintah kolonial.
2. Pelaksanaan Dalam Bidang Edukasi
Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan
tenaga administrasi yang cakap dan murah. Namun dalam pelaksanaannya pendidikan yang
dibuka untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-
orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk
anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-
anak pribumi dan pada umumnya.
3. Pelaksanaan Dalam Bidang Transmigrasi / Migrasi
Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan
perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga
kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatra Utara, khususnya di Deli,
Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan
menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak
jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah
Belanda mengeluarkan Poenale sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang
melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada
mandor/pengawasnya. Migrasi juga dilaksanakan oleh pemerintah Belanda bukan untuk
memberikan penghidupan yang layak serta pemerataan penduduk, tetapi untuk membuka hutan-
hutan baru di luar pulau Jawa bagi perkebunan dan perusahaan swasta asing. Selain itu juga untuk
mendapatkan tenaga kerja yang murah.
Jelaslah bahwa pemerintah Belanda telah menyelewengkan Politik Etis. Usaha-usaha yang
dilaksanakan baik edukasi, irigasi, dan emigrasi, tidak untuk memajukan rakyat Indonesia, tetapi
untuk kepentingan penjajah itu sendiri. Sikap penjajah Belanda yang demikian itu telah
menyadarkan bangsa Indonesia bahwa penderitaan dan kemiskinan rakyat Indonesia dapat
diperbaiki jika bangsa Indonesia bebas merdeka dan berdaulat.
Pendukung Politik Etis
Pendukung Politik Etis usulan Van Deventer adalah sebagai berikut.
- Mr. P. Brooshoof, redaktur surat kabar De Lokomotif, yang pada tahun 1901 menulis buku
berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial).
- K.F. Holle, banyak membantu kaum tani.
- Van Vollen Hoven, banyak memperdalam hukum adat pada beberapa suku bangsa di Indonesia.
- Abendanon, banyak memikirkan soal pendidikan penduduk pribumi.
- Leivegoed, seorang jurnalis yang banyak menulis tentang rakyat Indonesia.
- Van Kol, banyak menulis tentang keadaan pemerintahan Hindia Belanda.
- Douwes Dekker (Multatuli), dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar, Saya dan Adinda.
Usulan Van Deventer tersebut mendapat perhatian besar dari pemerintah Belanda, pemerintah
Belanda menerima saran tentang Politik Etis, namun akan diselaraskan dengan sistem kolonial di
Indonesia. (Edukasi dilaksanakan, tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pegawai
rendahan). Pendidikan dipisahpisah antara orang Belanda, anak bangsawan, dan rakyat. Bagi
rakyat kecil hanya tersedia sekolah rendah untuk mendidik anak menjadi orang yang setia pada
penjajah, pandai dalam administrasi dan sanggup menjadi pegawai dengan gaji yang rendah.
Meskipun pemerintah Belanda telah menjalankan politik etis, tetap saja bangsa Indonesia belum
mengalami perubahan yang berarti. Politik etis hanya menguntungkan Belanda, karena program
pendidikan, pengairan dan perpindahan penduduk yang dicanangkan melalui politik etis
dilaksanakan seluruhnya untuk memberikan keuntungan bagi pemerintah Belanda. Namun di sisi
lain, tanpa di sadari oleh Belanda, politik etis ternyata telah melahirkan golongan terpelajar dari
kalangan bangsa Indonesia, mereka inilah yang nantinya akan menggerakkan masyarakat untuk
melawan Belanda melalui organisasi pergerakan nasional. Golongan terpelajar ini menyadari
bahwa hanya dengan kemerdekaanlah bangsa Indonesia akan maju, sejahtera dan sejajar dengan
bangsa lainnya di dunia