Anda di halaman 1dari 20

SMF/BAGIAN ILMU RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

TB USUS DAN TB MILIER

Disusun Oleh :

SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES

KUPANG
LAPORAN KASUS
TB Usus dan TB Milier

RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang


Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang

I. PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
juga mengenai organ tubuh lainnya. TB anak adalah penyakit TB yang terjadi pada anak
usia 0-14 tahun.1
Tuberkulosis anak pada negara berkembang sekitar 40-50% dari jumlah seluruh
populasi. Di Indonesia kasus TB anak di antara semua kasus TB yang ternotifikasi
dalam program TB anak hanya 7% dari yang diperkirakan 8-12% dan pada tingkat
kabupaten/kota menunjukan variasi proporsi yang cukup besar yaitu mencapai
50% di tahun 2011. Menurut penyelidikan WHO dan Unicef di daerah Yogyakarta
0,6% penduduk menderita tuberkulosis dengan basil tuberkulosis positif dalam dahaknya,
perbedaan prevalensi antara di kota dan di desa masing – masing 0,5-0,8% dan 0,3-0,4%.2
Gejala TB pada anak dapat berupa gejala sistemik/umum atau sesuai organ
terkait. Gejala umum pada anak yang sering dijumapai adalah batuk persisten, berat
badan turun atau gagal tumbuh, demam lama serta lesu dan tidak aktif. Gejala-gejala
tersebut sering diangap tidak khas karena juga dijumpai pada penyakit lain. Namun
demikian, sebenarnya gejala TB bersifat khas, yaitu menetap (lebih dari 2 minggu)
walaupun sudah diberikan terapi yang adekuat.3
Secara umum penegakan diagnosis TB pada anak didasarkan pada empat hal
yaitu 1) konfirmasi bakteriologis TB, 2) Gejala klinis yang khas TB, 3) adanya bukti
infeksi TB (hasil uji tuberkulin positif atau kontak erat dengan pasien TB) dan
4)gambaran foto thorax sugestif TB. Dalam mendiagosa TB menggunakan alur diagnosis
TB anak. Jika ditemukan salah satu keadaan dibawah ini, pasien dirujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan rujukan:
1. Fototoraksmenunjukangambaranefusipleuraataumilieratau kavitas
2. Gibbus, koksitis
3. Tanda bahaya:
a. Kejang, kakukuduk

1
b. Penurunankesadaran
c. Kegawatanlain, misalnyasesaknapas

2
Anak dengan satu atau lebih gejala khasTB:
 Batuk ≥ 2 minggu
 Demam ≥ 2 minggu
 BB turunatautidaknaikdalam 2 bulansebelumnya
 Malaise ≥ 2 minggu
Gejala-gejala tersebut menetap walau sudah diberikan terapi yang adekuat

Pemeriksaan mikroskopis/tes
cepat molekuler (TCM) TB

Positif Negatif Spesimentidakdapatdiambil

Ada akses foto rontgentoraks Tidak ada akses fotorontgen


dan/atau ujituberkulin*) toraks dan uji tuberkulin

Skoring sistem

Skor ≥6 Skor < 6

Uji tuberkulin Uji tuberkulin


ATAU DAN
kontak TB kontak TB paru
paru dewasa dewasa (-)
(+)

TB anak
terkonfirmasi
Berkontakde Tidak ada/ tidak
bakteriologis TB anak klinis nganpasienT jelas berkontak
B paru denganpasienTB
dewasa paru dewasa

Terapi OAT**) Observasi gejala selama 2 minggu,

Menetap Menghilang

Bukan TB

3
TCM (TesCepatmolekuler) TBmerupakanteknologibaru yang
telahdikembangkanuntukdapatmengidentifikasikumanMycobacterium
tuberculosis dalamwaktu yang cepat (kuranglebih 2 jam), antara lain
pemeriksaanLine Probe Assay (misalnyaHainGenoType) danNAAT = Nucleic Acid
Amplification Test) (misalnyaXpertMTB/RIF). Pemeriksaan TCM
dapatdigunakanuntukmendeteksikumanMycobacterium tuberculosis secara
molecular sekaligusmenentukanadatidaknyaresistensiterhadap
Rifampicin.PemeriksaanTCM mempunyainilaidiagnostik yang
lebihbaikdaripadapemeriksaanmikroskopis sputum, tetapimasih di
bawahujibiakan.HasilnegatifTCM tidakmenyingkirkan diagnosis TB.3
Cara menggunakan TCM yaitu dengan induksi sputum. Pada anak besar
digunakan golongan expektoran untuk menginduksi sputum. Namun pada bayi
dugunakan nebuliser. Penggunaan nebuliser dengan memakai NACL 0,9% dan
salbutamol, setelah 15 menit di nebulisasi lagi dengan memakai NACL 3%.3
TB abdomen mencakuplesigranulomatosa yang bisaditemukan di
peritoneum (TB peritonitis), usus, omentum, danmesentrium.M
tuberculosissampaike organ
tersebutdapatsecarahematogenataupunpenjalaranlangsung.Peritonitis TB
merupakanbentuk TB anak yang jarangdijumpai, yaitusekitar 1—5% darikasus
TB anak.Umumnyaterjadi pada
dewasadenganperbandinganperempuanlebihseringdarilaki-laki (2:1).3
Pada peritonium terbentuk tuberkel dengan massa perkijuan yang dapat
membentuk satu kesatuan (konfluen). Pada perkembangan selanjutnya, omentum
dapat menggumpal di daerah epigastrium dan melekat pada organ-organ
abdomen, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan obstruksi usus.3
Umumnya, selain gejala khusus peritonitis TB, dapat timbul gejala klinis
umum TB pada anak. Tanda yang dapat terlihat adalah ditemukannya massa
intraabdomen dan adanya asites. Kadang-kadang ditemukan fenomena papan
catur, yaitu pada perabaan abdomen didapatkan adanya massa yang diselingi
perabaan lunak, kadang-kadang didapat pada obstruksi usus dan asites.3

4
Diagnosis pasti TB abdomen dilakukan dengan pemeriksaan USG
abdomen, fotopolos abdomen, analisiscairanasitesdanbiopsi peritoneum.Pada
keadaanobstruksiususkarenaperlengketanperludilakukantindakanoperasi. Pada
USG abdomen dapatditemukanpenebalanmesenterium dan
pembesarankelenjarlimfe dan asites.3
Tuberkulosis milier termasuk salah satu bentuk TB berat dan merupakan
3-7% kasus TB dengan angka kematian yang tinggi. Tuberkulosis milier
merupakan jenis tuberkulosis yang bervariasi mulai dari infeksi kronis, progresif
lambat, hingga penyakit fulminan akut, yang disebabkan penyebaran hematogen
dan mengenai banyak organ.4
Tuberkulosis milier termasuk salah satu bentuk TB dengan gejala klinis
yang berat dan merupakan 3-7% dari seluruh kasus TB, dengan angka kematian
yang tinggi (dapat mencapai 25% pada bayi). TB milier terjadi oleh karena adanya
penyebaran secara hematogen dan diseminata, bisa ke seluruh organ. Gambaran
milier dapat dilihat pada foto toraks dalam waktu 2-3 minggu setelah penyebaran
kuman secara hematogen.3
Tuberkulosis milier lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil, terutama
usia dibawah 2 tahun, karena imunitas seluler spesifik, fungsi makrofag dan
mekanisme lokal pertahanan parunya belum berkembang sempurna sehingga
kuman TB mudah berkembang biak dan menyebar keseluruh tubuh.4
Tuberkulosis milier yang timbul di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu jumlah
dan virulensi kuman Mycobacterium tuberculosis dan status imunologis pasien
(non spesifik dan spesifik). Beberapa kondisi yang menurunkan sistem imun juga
dapat memudahkan timbulnya TB milier, seperti infeksi HIV, malnutrisi, infeksi
morbili, pertusis, diabetes melitus, gagal ginjal, keganasan, dan penggunaan
kortikosteroid jangka lama. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi perkembangan
penyakit adalah faktor lingkungan, yaitu kurangnya sinar matahari, perumahan
yang padat, polusi udara, asap rokok, penggunaan alkohol, obat bius, serta sosial
ekonomi.5
Tuberkulosis pada anak mempunyai permasalahan khusus berbeda dengan
dewasa yaitu masalah diagnosis, pengobatan dan pencegahan. Gejala TB pada

5
anak seringkali tidak khas, karena sulitnya mendiagnosis TB pada anak, sering
terjadi overdiagnosis diikuti dengan overtreatment, atau sebaliknya. Foto thoraks
bukan merupakan alat diagnostik utama pada TB anak, tapi bila dijumpai
gambaran milier, langsung didiagnosis TB. Gambaran sugestif TB berupa
pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat; konsolidasi
segmental/lobar; kalsifikasi dengan infiltrat; atelektasi; tuberkuloma.4

II. LAPORAN KASUS


Masuk rumah sakit tanggal 04Oktober 2016 pukul 23.20 WITA
IDENTITAS
Nama : An.MMT
Tanggal lahir/Umur : 11 Agustus 2009 / 9 tahun 3 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Katolik
Alamat : Atambua

ANAMNESIS (Alloanamnesis dengan ibu pasien tanggal 13 Oktober 2016)


Keluhan Utama : Perut yang makin hari makin membesar
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien rujukan dari RS Atambua dengan perut
yang makin hari makin membesar yang dialami sejak ±1 bulan. Mulanya seperti
terasa perut kembung namun lama kelamaan semakin membesar, terasa kencang
dan keras serta nyeri yang timbul sesekali ketika pasien makan terlalu banyak.
Sebelumnya pasien juga mengeluh batuk dan demam yang terjadi ± 2 minggu.
Batuk disertai dahak berwarna putih dan kadang agak kekuningan, batuk tidak
sampai menimbulkan sesak napas. Demam yang dialami pasien bersifat hilang
timbul, demam terutama muncul pada malam hari dan menurun pada pagi atau
siang hari, demam tidak sampai menggigil dan disertai keringat malam. Ibu pasien
juga mengeluhkan adanya penurunan BB yang dilihat oleh ibu pasien ketika
pasien mengalami batuk-batuk pertama kali, namun nafsu makan pasien
baik.Kejang (-), sakit kepala (-), mimisan (-), perdarahan gusi (-), nyeri menelan (-
), sesak (-), nyeri dada (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan dan minum baik,

6
buang air besar (BAB) sekitar 1-2x/sehari dan buang air kecil (BAK)
lancarsekitar3-4x/sehari
Riwayat penyakit dahulu: Tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya,
pasien baru pertama kali di rawat di rumah sakit.
Riwayat penyakit keluarga: Keluarga pasien (Tanta) meninggal 1 tahun yang
lalu dengan diagnosis TB dan minum obat selama 6 bulan namun tidak tuntas
pengobatannya.
Riwayat Kehamilan dan persalinan : Anak ke 2 dari 3 bersaudara. Perawatan
antenatal care (ANC) ibu rutin di puskesmas. Penyakit selama kehamilan tidak
ada. Lahir normal di rumah sakit dibantu oleh dokter dan bidan. Berat badan lahir
(BBL) 3000 gram, panjang badan lahir (PBL) tidak diketahui.
Kemampuan dan Kepandaian Bayi :Dapat mengangkat kepala usia 3 bulan,
dapat duduk usia 7 bulan, berjalan usia 11 bulan, bicara lancar usia 2 tahun.
Anamnesis makanan :
- ASI : usia 0 – 2 tahun
- Susu formula : usia 6 bulan
- Bubur : usia 7 bulan
- Nasi : usia 1 tahun
Riwayat Imunisasi: Lengkap
PEMERIKSAAN FISIK (13 Oktober 2016)
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Berat badan : 17 kg
Tinggi badan : 120 cm
Status Gizi (IMT/U) :12,14<-3SD (sangat kurus)
Tanda vital : Tekanan darah = 90/70 mmHg
Nadi = 90 x/menit, reguler, kuat
Respirasi = 20 x/menit, reguler
Suhu badan = 37,1 0C
Kulit : Ruam (-), petekie (-), turgor kulit baik (-), sianosis (-).

7
Kepala : Bentuk normocephal (+), rambut hitam-agak kuning di ujung
rambut, tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera tidak ikterik, edema palpebra
(-/-)
Hidung : Rhinorrhea (-)
Telinga : Otorrhea (-)
Mulut : Mukosa bibir kering (-), Tonsil T1–T1 non hiperemis
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada
perbesaran kelenjar tiroid
Paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris bilateral, retraksi dinding
dada (-)
Palpasi : Vocal fremitus kanan sama dengan kiri, tidak teraba massa,
tidak teraba krepitasi, tidak ada nyeri tekan
Perkusi paru : Sonor pada lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi:Suara napas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi :Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Teraba pulsasi ictus cordis pada ICS V linea midclavicular
sinistra
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni regular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi :Tampak sedikit cembung, Lingkar perut=53 cm
Auskultasi : Peristaltik usus (+)kesan normal
Perkusi :Shifting dullnes (+), Pekak-Timpani (Fenomena papan catur)
Palpasi :Nyeri tekan (-),supel, hepar teraba 3 cm bawah arcus
Anggota gerak : - Ekstremitas atas : Akral hangat, edema (-)
- Ekstremitas bawah : Akral hangat, edema (-)
Genital : Normal
Punggung : Tidak ada kelainan, lordosis (-), kifosis (-), scoliosis (-).

8
Otot-otot : Eutrofi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Laboratorium (05 Oktober 2016)
Hasil Satuan Nilai rujukan Ket
Hemoglobin 8,1 g/dL 12-16 L
Eritrosit 3,72 10^6/uL 4,00-5,30 L
Hematrokrit 26,3 % 35-45 L
MCV 70,7 fL 75-91 L
MCH 21,8 Pg 25,0-33,0 L
MCHC 30,8 g/L 25-33 L
Leukosit 10,36 10^3/uL 5-11 N

Eosinofil 0,1 % 0-4 N


Basofil 0,4 % 0-1 N
Neutrofil 81,0 % 32-52 H
Limfosit 11,4 % 30-60 L
Monosit 7,4 % 2-8 N
Trombosit 515 10^3/ul 150-400 H
Glukosa Sewaktu 118 mg/dL 70-150 N
Ureum darah 29,80 mg/dL 17,00-43,00 N
Kreatinin darah 0,33 mg/dL 0,6-1,1 N

Hasil Urinalisis(05 Oktober 2016)


PARAMETER HASIL NILAI NORMAL
Makroskopik
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Jernih Jernih
Berat Jenis 1,010 1,000-1,030
PH 5,0 NEG 4,5-8.0
Lekosit Esterase Negatif Negatif
Protein Negatif Negatif
Albumin Negatif Negatif
Glukosa Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Darah Negatif Negatif
Sedimen
Leukosit Negatif Negatif
Eritrosit Negatif 0-5
Silinder Negatif Negatif
Bakteri Negatif Negatif

9
Hasil Foto Thoraks (13 Oktober 2016)

Kesan:
 Bayangannodulertegasberdia
metersekitar 1-3 mm,
meluaskeseluruhbagianparud
anterdistribusimeratapadaked
uaparu.
 Pembesaran kelenjar hilus
 Efusi pleura
 Dapatmembesardanmenyatu
(konfluen)
 Kalsifikasi
 Kesimpulan : TB Milier

Hasil USG (7 Oktober 2016)

Kesan:
 Hepar : membesar ringan,
nodule (-)
 Terdapat nodul – nodul
intraabdomen
 Cairan bebas
 Kesimpulan : suspek
Lymphoma
+Hepatomegali+Asites

Hasil CT Scan Abdomen (11 Oktober 2016)

10
Kesan :
 Multiple lymphoma enlargement dengan ukuran bervariasi di paraaorta dan
mesenterium disertai penebalan circumfleksial dinding caecum merupakan
manifestasi gastrointestinal tuberculosis.
 Hepatomegaly
 Asites
 Reticulogranuler pattern di paru kanan dan kiri : suspect TB milier
 Efusi pleura kanan minimal.
RESUME :
Pasien anak 9 tahun 3 bulan perut makin hari makin membesar yang dialami sejak
±1 bulan. Perut kembung, keras dan nyeri yang timbul sesekali ketika pasien
makan terlalu banyak. Batuk dan demam yang terjadi ± 2 minggu. Batuk disertai
dahak berwarna putih dan kadang agak kekuningan, batuk tidak sampai
menimbulkan sesak napas. Demam bersifat hilang timbul, demam terutama
muncul pada malam hari dan menurun pada pagi atau siang hari, demam tidak
sampai menggigil dan disertai keringat malam. Penurunan BB namun nafsu
makan pasien baik. Buang air besar (BAB) sekitar 1-2x/sehari dan buang air kecil
(BAK) lancarsekitar3-4x/sehari. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status gizi <-
3SD (Sangat kurus), konjungtiva anemis (+), perut sedikit cembung,
hepatomegali, shifting dullnes (+), fenomena papan catur. Pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan

11
Hb=8,1(menurun),Eritrosit=3,72(menurun),Hematokrit=26,3(menurun),MCV=70,
7(menurun),MCH=21,8(menurun),MCHC=30,8(menurun),Neutrofil=81,0(tinggi),
Limfosit=11,4(menurun), trombosit=515(meningkat)

DIAGNOSIS BANDING : TB Usus, TB Milier, Gizi buruk, Tumor Abdomen


DIAGNOSIS KERJA : TB Usus, TB Milier, Gizi buruk
TERAPI

1. Streptomicin 1x500 mg iv
2. Rifampisin 1x250 mg tablet
3. Isoniasid 1x175 mg tablet
4. Pirazinamid 1x300 mg tablet
5. B6 1x1
6. F100 6x150 cc

FOLLOW UP

Tanggal Follow up
13-10-2016 S: Perut cembung (+), batuk (+), lendir warna putih,
demam (-), keringat malam (+)
O:
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
TD: 90/70mmHg, T: 37,1 RR: 20x/m, N: 90x/m
Mata : Anemis +/+, ikterik -/-
Thoraks : simetris, retraksi intercosta (-),
Pulmo : Ves +/+, rh -/-, wh -/-
Cor : BJ I/II tunggal, reguler, murmur (-),gallop(-)
Abdomen : Cembung (+), LP=53 cm, shifting
dulness (+), fenomena papan catur, hepar 3 cm BAC
Eks: akral hangat, CRT < 3”
A:
TB Usus suspek TB paru, gizi buruk
P:
1. B6 1x1
2. F100 6x150 cc
14-10-2016 S:
Demam (+), perut cembung (+) , batuk (+)
berkurang, berlendir berkurang
O:

12
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
TD : 90/60mmHg t: 37,6 RR: 21x/m, N: 90x/m
Mata : Anemis +/+, ikterik -/-
Thoraks : simetris, retraksi intercosta (-)
Pulmo : Ves + /+, rh -/-, wh -/-
Cor: BJ I/II tunggal, reguler, murmur (-), gallop(-)
Abdomen : Cembung (+), LP=52 shifting dulness
(+), fenomena papan catur, hepar 3 cm BAC
Eks: Akral hangat, CRT < 3”, udem (-)
A: TB Milier, Tb Usus, Gizi buruk
P:
1. B6 1x1
2. Parasetamol sirup 3x1 ½ sendok (bila panas)
3. F100 6x150 cc
15-10-2016 S:
Perut cembung (+), batuk (+), lendir warna putih,
demam (-), keringat malam (+)
O:
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
TD: 100/60 mmHg t: 37,1 RR: 20x/m, N: 87x/m
Mata : Anemis -/-, ikterik -/-
Thoraks : simetris, retraksi –
Pulmo : Ves +/+, rh -/-, wh -/-
Cor: BJ I/II Tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: Cembung (+), lingkar perut=52 cm,
shifting dulness (+), fenomena papan catur, hepar 3
cm BAC
Eks: akral hangat, CRT < 3”
A:
TB Milier, Tb Usus, Gizi buruk
P:
1. Streptomicin 1x500 mg iv
2. Rifampisin 1x250 mg tablet
3. Isoniasid 1x175 mg tablet
4. Pirazinamid 1x300 mg tablet
5. B6 1x1
6. Prednison 3x1 tablet
7. F100 6x150 cc
16-10-2016 S:
Perut cembung menurun, batuk (-), lendir (-)
O:
KU : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
TD: 100/60 mmHg t: 36,7 RR: 22x/m, N: 87x/m

13
Mata : Anemis -/-, ikterik -/-
Thoraks : simetris, retraksi –
Pulmo : Ves + /+, rh basah kasar +/+, wh -/-
Cor: BJ I/II tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Cembung (+), lingkar perut=52 cm,
shifting dulness (+), fenomena papan catur, hepar 3
cm BAC
Eks: Akral hangat, CRT < 3”
A:
TB Milier, Tb Usus, Gizi buruk
P:
1. Streptomicin 1x500 mg iv
2. Rifampisin 1x250 mg tablet
3. Isoniasid 1x175 mg tablet
4. Pirazinamid 1x300 mg tablet
5. B6 1x1
6. F100 6x150 cc

III. DISKUSI
Tuberkulosisadalahpenyakitmenularlangsung yang disebabkanolehkuman
TB (Mycobacterium tuberculosis).Peritonitis TB merupakanbentuk TB anak yang
jarangdijumpai, yaitusekitar 1-5% darikasus TB
anak.Padaperitoniumterbentuktuberkeldenganmassaperkijuan yang
dapatmembentuksatukesatuan (konfluen). Padaperkembanganselanjutnya,
omentumdapatmenggumpal di daerah epigastrium danmelekatpada organ-organ
abdomen, sehinggapadaakhirnyadapatmenyebabkanobstruksiusus. Di lain pihak,
kelenjarlimfe yang terinfeksidapatmembesar, menyebabkanpenekananpada vena
portadenganakibatpelebaran vena dinding abdomen danasites.1
Umumnya, selaingejalakhusus peritonitis TB,
dapattimbulgejalaklinisumum TB padaanak.Tanda yang
dapatterlihatadalahditemukannyamassaintraabdomendanadanyaasites. Kadang-
kadangditemukanfenomenapapancatur, yaitupadaperabaan abdomen
didapatkanadanyamassa yang diselingiperabaanlunak, kadang-
kadangdidapatpadaobstruksiususdanasites.1
Tuberkulosis milier (TB milier) merupakan penyakit limfohematogen
sistemik akibat penyebaran kuman Mycobacterium tuberculosis dari kompleks

14
primer, yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 bulan pertama, setelah infeksi
awal. TB milier dapat mengenai 1 organ (sangat jarang, <5%), namun yang lazim
terjadi pada beberapa organ (seluruh tubuh, >90%), termasuk otak. TB milier
klasik diartikan sebagai kuman basil TB berbentuk millet (padi) ukuran rata-rata 2
mm, lebar 1-5 mm diparu, terlihat pada Rontgen. Pola ini terlihat pada 1-3 %
kasus TB.5
Dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan adanya perut makin
hari makin membesar, cembung, terasa kencang dan keras serta nyeri yang timbul
kadang - kadang. Demam lama, batuk berdahak, berat badan turun, riwayat kontak
dengan penderita TB positif. Dari pemeriksaan fisik didapatkan perut cembung,
shifting dullnes (+) dan fenomena papan catur. Pada hasil laboratorium
didapatkan jumlah neutrofil mencapai 81,0 %. Foto thorax, USG abdomen dan CT
scan didapatkan kesan TB Usus, TB Milier.
Hal ini sesuai denganteori gejala dan pemeriksaan fisik pasien dengan TB
usus yaitu ditemukan fenomena papan catur, yaitu pada perabaan abdomen
didapatkan adanya massa yang diselingi perabaan lunak, kadang-kadang didapat
pada obstruksi usus dan asites.1 Gejala seperti demam,batuk persisten, berat badan
turun atau gagal tumbuh, demam lama serta lesu dan tidak akti,fmenetap (lebih
dari 2 minggu) walaupun sudah diberikan terapi yang adekuat,3 ditemukan juga
pada pasien TB milier dalam kasus ini.
Pada hasil foto thorax didapatkan adanya pembesaran kelenjar hilus, efusi
pleura minimal dan atelektasi. Hasil CT Scan memberikan
gambaranretikulogranuler pattern dikedua lapang paru dapat merupakan DD : TB
Milier, Interstitial Lung Pneumonia, Interstitial Lung Edema. Hasil USG
memberikan gambaran terdapat nodul – nodul intraabdomen dan asites. Hal ini
sejalan dengan teori yang menyatakan adanya gambaran khas pada TB milier
yaitu Pembesarankelenjarhilusatauparatrakealdengan/tanpainfiltrat
(visualisasinyaselaindenganfoto toraks AP, harusdisertaifoto toraks lateral),
Konsolidasi segmental/lobar , Efusi pleura, Atelektasis, Kavitas, Kalsifikasi
dengan infiltrate Tuberkuloma. Pada USG abdomen
dapatditemukanpenebalanmesenterium dan pembesarankelenjarlimfe dan asites.1

15
Dalam tatalaksana TB Usus dan TB milier anak, FDC pada fase intensif
diberikan sedangkan fase lanjutan diberikan selama 10 bulan. Fase itensif yaitu
2HRZ dan fase lanjutan 10HR. pada kasus ditemukan pemberian stretomisin
1x500mg. Hal ini sesuai dengan teori yaitu pemberian streptomicin 15–40
mg/kgBB/hari, dosis maksimal 1 000 mg/hari1
Pemberian vitamin B6 dimaksudkan untuk mencegah efek samping INH
berupa neuritis perifer yang timbul akibat inhibisi kompetitif pada metabolisme
piridoksin.6,7

Pemberian kortikosteroid diberikan pada kondisi : TB meningitis,


sumbatan jalan napas akibat TB kelenjar, perikarditis TB, TB milier, efusi pleura,
TB abdomen dengan asites. Obat yang sering digunakan adalah prednison dengan
dosis 2mg/KgBB/hari sampai 4mg/KgBB/hari pada kasus sakit berat, dengan
dosis maksimal 60mg/hari selama 4 minggu. Teppering Off dilakukan secara
bertahap setelah 2 minggu pemberian kecuali pada TB meningitis pemberian
selama 4 minggu sebelum tappering off.1
Setelah 2 bulan pengobatan, anak disarankan untuk melakukan evaluasi
terhadap pengobatan TB. Evaluasi yang terpenting adalah evaluasi klinis, yaitu
menghilang atau membaiknya kelainan klinis yang sebelumnya ada pada awal
pengobatan.Pada pasien ini demam tidak ada, batuk tidak ada, nafsu makan
membaik dan berat badan mengalami peningkatan sebesar 2,5 kg.6,7
Pada pasien ini ditemukan adanya anemia mikrositik hipokrom dimana Hb
8,1 g/dL, MCV 70,7 fL , MCH 21,8Pg dan MCHC 30,8g/L yang diperkirakan
disebabkan oleh defisiensi Fe. Hal ini dipertegas dengan ditemukan gambaran
anemia mikrositik hipokrom pada sediaan darah tepi. Anemia penyakit kronis
sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi dan keduanya memberikan
gambaran penurunan besi serum. Rendahnya besi di anemia penyakit kronis
disebabkan aktifitas mobilisasi besi sistem retikuloendotelial ke plasma menurun,
sedangkan penurunan saturasi transferin pada anemia defisiensi besi diakibatkan
oleh degradasi transferin yang meningkat.8

16
Pasien ini juga ditemukan gizi buruk dan diberikan terapi susu formula
F75 dan dilanjutkan dengan F100. Hal ini sesuai dengan teori yaitu pada fase
stabilisasi diberikan F75 sesuai kondisi dan berat badan anak. F75 dapat diganti
ke F100 jika anak mampu menghabiskan F75 dalam waktu 4 jam. Setelah fase
stabilisasi dilanjutkan dengan fase trasnsisi dan rehabilitasi dimana anak diberikan
susu F100 ditambah cairan dan makanan untuk mengejar tumbuh kembang anak.9
Gizi buruk terjadi akibat asupan makanan yang kurang dalam jangka
waktu panjang atau karena penyakit kronis. Kondisi yang sering menyertai
malnutrisi energi protein dan mikronutrien adalah anemia. Penyebab anemia pada
anak yang asupan proteinnya tidak adekuat adalah karena menurunnya sintesis
eritopoeietin, sedang apabila tidak mengasup protein sama sekali karena timbul
stem cell pada sumsum tulang belakang yang tidak berkembang, dan juga
penurunan produksi eritopoeietin. Pada penatalaksanaan anak gizi buruk,
diberikan suplementasi zat gizi pada hari pertama fase stabilisasi hingga fase
rehabilitasi. Suplementasi ditujukan tidak hanya untuk memperbaiki anemia,
namun juga untuk meningkatkan status imunitas dan fungsi fisiologis tubuh
lainnya. Akan tetapi, hanya suplementasi Fe yang tidak diberikan pada fase
stabilisasi dan transisi. Fe diberikan pada fase rehabilitasi ketika berat badan bayi
atau anak sudah mulai naik, atau penyakit infeksi sudah mulai membaik. Hal
tersebut berkaitan dengan efek suplementasi Fe yang akan memperburuk tingkat
infeksi.1,3,9
IV. KESIMPULAN
Telah dilaporkan satu laporan kasus anak perempuan berusia 9 tahun 3
bulan dengan diagnosis TB Usus, TB Milier dan Gizi buruk. Dari kasus di atas,
pendekatan dalam menegakkan diagnosis dilakukan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium, di mana hasil-hasil dari
pemeriksaan bermanfaat sebagai penuntun terapi.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2016. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di


Indonesia, Perpari, Jakarta.pp:1-38
2. World Health Organization. Global Tuberculosis Control 2010. WHO,
Geneva, Switzerland,2010.pp:5-37
3. Departemen kesehatan Republik Indonesia.,Dalam: Buku Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis., Edisi ke-2, Cetakan I.,Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.,2011.pp:323-328
4. Starke JR.,Tuberculosis.,Dalam: Behrman RE, Kliegman R, Jenson HB,
penyunting.,Nelson Textbook of Pediatrics.,Edisi ke-19.,Philadelphia;
Saunders.,2011.,pp:960-971.
5. Guidi R, Bolli V, Lanza C,dkk.,Macronodular hepatosplenic tuberculosis.,
Acta Radiologica Short Reports.,2012.,pp:1-21
6. World Health Organization.,Anti tuberculosis treatment in children., Dalam:
Guidance for national tuberculosis programmes on the management of
tuberculosis in children., Geneva: World Health Organization.,2006.,pp:1205-
1211.
7. Price SA, Wilson LM.,Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease
Processes (Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit).,Edisi 4.,
Penerbit EGC.,Jakarta.,1995.,pp: 709-712.

18
8. Rogelio Hernández-Pando, Rommel Chacón-Salinas, Jeanet Serafín-López,
and Iris Estrada.,Immunology, pathogenesis, virulence., In: tuberculosis 2007
from basic science to patient care.,2007.,Diunduh dari
www.tuberculosistextbook.com., pp:157-205
9. Departemen kesehatan Republik Indonesia.,Dalam: Bagan Tatalaksana Anak
Gizi Buruk.,Edisi Revisi, cetakan 7., Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.,2013., pp:7-14

19