Anda di halaman 1dari 13

ARTIKEL AGAMA ISLAM

SEJARAH KEHIDUPAN RASULULLAH SAW

Oleh :

Nama : SITI MUTOHAROH

Kelas : X IPS 1

PEMETINTAH DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS

DINAS PENDIDIKAN DAN OLAHRAGA

SMA NEGERI 1 TALANGPADANG

KABUPATEN TANGGAMUS

TAHUN 2017
A. KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

Nabi muhammad saw lahir di makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah
atau tanggal 20 april 571 M dalam keadaan yatim.

Penamaan tahun gajahberkaitan dengan peristiwa pasukan gajah yang dipimpin oleh
Abraham, Gubernur Yaman yang inginingin menghancurkan ka’bah. Namun sebelum
sampai ke kota Makkah, mereka diserang oleh pasukan burunng yang membawa batu kerikil
panas (lihat QS Al-fil : 1-5)

Sekitar tahun 750 masehi, makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di
antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisi nya ataupun karena letaknya. Kota ini
dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan syiria di utara.
Dengan adanya ka’bah ditengah kota, mekah menjadi pusat keagamaan Arab. Di dalamnya
terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Mekah kelihatan makmur dan
kuat. Agama dan masyarakat arab pada masa itu mencerminkan realitas kesukuan
masyarakat jazirah arab dengan luas satu juta mil persegi.

Nabi muhammad saw adah anggota bani hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam
suku Quraisy. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Nabi muhammad lahir dari keluarga
terhormat yang relatif miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak Abdul mutalib, seorang
kepala suku Quraisy yang besar pengaruh nya. Ibunya adalah Aminah binti wahab dari bani
zuhrah. Muhammad Saw. Nabi terakhir ini dilahirkan dalam keadaan yatim karena ayahnya
meninggal dunia tiga bulan setelah menikahi Aminah.

Ramalan tentang kelahiran nabi muhammad saw dapat ditemukan dalam kitab-kitab suci
terdahlu. Al-qur’an dengan tegas menyatakan bahwa kelahiran nabi muhammad saw telah
diramal kan oleh setiap dan semua nabi terdahulu, yang melalui mereka perjanjian telah
dibuat dengan umat mereka masing-masing bahwa mereka harus menerima atas kerasulan
MUHAMMAD SAW nanti.

1. MASA MENYUSUI NABI MUHAMMAD SAW

Sudah menjadi adat bangsa arab ketika itu , bahwa bayi seseorang disususkan kepada wanita
lain. Begitu pula hal nya nabi muhammad Saw beliau disusukan kepada seorang wanita
bernama Halimah as- Sa’dia. Empat tahun lama nya beliau tingggal di dusun bani saad
bersama ibu susunya itu. Selama memelihara nabi muhammad, keluarga halimah as-
sa’diyah memperoleh limpahan rezeki dari Allah SWT, sebagai berkah.

Menjelang usia 5 tahun, halimah as- sa’diyah mengembalikan nabi muhammad saw. Kepada
ibunya karena telah terjadi peristiwa atas anak asuh nya itu yang mencemaskan hatinya.
Ketika di dalam permainan bersama kawan-kawan nya, nabi muhammada saw tiba-tiba di
datangi dua laki-laki berpakaian seba putih, membaringkan nya, kemudian melakukan
sesuatu atas dada anak tersebut. Meski tidak suatu pun terjadi atas nabi muhammad saw
setelah peristiwa itu, namun halimah amat khawatir. Maka segera ia bawa nabi muhammad
saw kembali kepada keluarga nya di mekkah.

2. MASA KANAK-KANAK NABI MUHAMMAD SAW

Tidak lama setelah kelahirannya, bayi nabi muhammad saw diserahkan kepada tsuwaibah,
budak perempuan pamannya, abu lahab, yang pernah menyusui hamzah. Meskipun diasuh
olehnya, hanya beberapa hari, nabi muhammad tetap menyimpan rasa kekeluargaan yang
mendalam dan selalu menghormatinya. Nabi SAW selanjutnya dipercayakan kepada
Halimah, seorang wanita badui dari bani sa’ad. Bayi tersebut diasuhnya dengan hati-hati dan
penuh kasih sayang, dan tumbuh menjadi anak yang sehat dan kekar. Pada usia 5 tahun, nabi
dikembalikan halimah kepada tanggaung jawab ibunya.

Sejumlah hadis menceritakan bahwa kehidupan halimah dan keluarganya banyak


dianugerahi nasib baik terus menerus ketika muhammad SAW. Kecil hidup dibawah
asuhannya. Halimah menyayangi baginda rasul seperti menyayangi anak sendiri, penuh
kasih sayang dan cinta, namun karena banyak kejadian yang luar biasa sehingga takut akan
terjadi hal-hal yang tidak baik sehingga dikembalikanyya rasulullah SAW. Kepada keluarga
beliau.

Muhammad SAW. Kira-kira berusia 6 tahun, dimana tatkala bermain-main dengan teman-
temannya, teman-teman beliau gembira saat ayah-ayah mereka pulang, namun rasulullah
pulang dengan tangisan menemui ibunda beliau, seraya berkata, wahai ibunda dimana ayah?
Ibunda beliau terharu tanpa jawaban yang pasti, sehingga dalam ketidakmampuan atas
jawaban tersebut, hingga suatu ketika ibunda beliau mengajak baginda nabi saw pergi ke
kota tempat ayah beliau dimakamkan.

Sekembalinya dari pencarian makam suami tercinta ibu rasulullah tercinta jatuh sakit dan
meninggal dunia dalam perjalanan pulang, dengan duka cita yang mendalam dan pulang
bersama seorang pembantu nabi.

Sekembalinya pulang sebagai anak yatim piatu maka beliau diasuh oleh kakeknya, abdul
mutholib. Namun 2 tahun kemudian, kakeknya pun yang berumur 82 tahun, juga meninggal
dunia. Maka pada usia 8 tahun, nabi ada dibawah tanggung jawab pamannya abi thalib.

Pada usia 8 tahun, seperti kebanyakan anak muda seumurannya, nabi memelihara kambing
dimekah dan mengembalakan di bukit dan lembah sekitarnya. Pekerjaan pengembala
sekawanan domba ini cocok bagi perangai orang yang bijaksana dan perenung seperti
muhammad saw muda, ketika beliau memperhatikan segerombolan domba, perhatiannya
akan tergerak oleh tanda-tanda kekuatan gaib yang tersebar disekelilingnya.
3. Masa Remaja
Diriwayatkan ketika berusia 12 tahun, muhammad saw menyertai pamannya, abu thalib,
dalam berdagang menuju suriah, tempat kemudian beliau berjumpa dengan seorang
pendeta, yang dalam berbagai riwayat disebutkan bernama Bahira. Meskipun beliau
merupakan satu-satunya nabi dalam sejarah yang kisah hidupnya dikenal luas, masa-
masa awal kehidupan muhammad saw tidak banyak diketahui.

Muhammad saw, besar bersama kehidupan suku quraisy mekah, dan hari-hari yang
dilaluinya oenuh dengan pengalaman yang sangat berharga. Dengan kelembutan,
kehalusan budi dan kejujuran beliau, maka orang quraisy mekah memberi gelar kepada
beliau dengan al-amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.

Pada usia 30 tahunan, muhammad saw sebagai tanda kecerdasan beliau, dan bijaksana
baliau, nabi saw mampu mendamaikan perselisihan kecil yang muncul ditengah-tengah
suku quraisy yang sedang melakukan renovasi ka’bah.

Mereka mempersoalkan siapa yang paling berhak menempatkan posisi hajar aswad
dika’bah. Beliau membagi tugas kepada mereka dengan teknik dan strategi yang sangat
adil dan melegakan hati mereka.

4. Pernikahan Nabi Muhammad saw.


Pada masa mudanya, beliau telah menjadi pengusaha sukses dan hidup berkecukupan
dari hasil usahanya. Pada usia 25 tahun, muhuammad saw menikah dengan khadijah
binti khuwailid, seorang janda kaya berusia 40 tahun. Pernikahan ini diawali dengan
lamaran khadijah dengan muhammad saw setelah melihat dan mendengar kelebihan-
kelebihan dan akhlaknya.
5. Istri-istri Rasulullah saw
Adapun istri-istri muhammad saw berjumlah 11 orang, yaitu:
1) Khadijah Binti Khuwailid RA. (556-619 M)
Status ketika menikah: Janda, karena ditinggal wafat oleh 2 suaminya terdahulu,yaitu
Abi Haleh Al Tamimy dan Oteaq Almakzomy.
Periode menikah: Tahun 595 M di Mekkah ketika usia Rasulullah SAW 25 tahun dan
Khadijah 40 tahun.
Anak: Dari pernikahan dengan Khadijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak
laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau (Al-Qosim dan
Abdullah) meninggal. Sedangan anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah,
Ummu Kultsum, dan Fatimah.
Khadijah RA adalah orang pertama yang pertama mengakui kerasulan suaminya.
Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup.
Khadijah adalah isteri yang paling dicintai Rasulullah SAW.
2) Saudah Bini Zam’a RA. (5996-674 M)
Status ketika menikah: Janda dari Sakran bin ‘Amr Bin Abdi Syams yang turut
berhijrah ke Habsyah
Periode menikah: Tahun 631 M ketika Saudah berusia 35 tahun. Pada pernikahan
dengan Saudah Rasulullah tidak di Karuniai anak. Tujuan Rasulullah menikahinya
adalah untuk menyelamatkan dari kekafiran akibat menjanda. Keluarga Saudah RA
masih kafir dan akan dipastikan mempengaruhi kembali Saudah jika tidak
diselamatkan.
3) Aisyah Binti Abu Bakar RA. (614-678 M)
Rasulullah menikahi Aisyah ketika Aisyah berumur 6 hingga 9 tahun, tetapi mereka
baru bercampur setelah Aisyah cukup umur. Pernikahannya tidak dikaruniai anak,
tujuan Rasulullah menikahi Aisyah adalah untuk mendekatkan hubungan dengan
keluarga Abu Bakar yang merupakan sahabat utama Rasulullah dan merupakan
Khaifah pertama setelah Rasulullah meninggal.
4) Hafsoh Binti Umar Bin Khatab RA. (607-antara 648 dan 665 M)
Rasulullah menikahi Hafsoh dalam keadaan janda dari Khunais Bin Hudzaifah yang
gugur sebagai syahid dalam Perang Badar. Rasulullah menikahi Hafsoh bertujuan
untuk menghormati ayah Hafsoh, yaitu Umar Bin Khatab yang kelak menjadi
Khalifah kedua setelah Rasulullah meninggal.
5) Zainab Binti Khuzaiamh RA. (596-625 M)
Rasulullah menikahi Zainab dalam keadaan janda dari Abdullah Bin Jahsi yang
gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud.Pernikahannya tidak dikaruniai anak.
Zainab RA meninggal dunia 2-3 bulan setelah menikah dengan Rasulullah SAW.
6) Ummu Salamah Hindun Binti Abu Umayyah RA. (599-683 M)
Rasulullah menikahi Ummu Salamah janda dari Abu Salamah dengan meninggalkan
2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Rasulullah menikahiUmmu Salamah dengan
tujuan menjaga keluarga dan anak-anak Ummu Salamah.
7) Zainab Binti Jahsyi Bin Royab RA. (588/561 M)
Rasulullah menikahi Zainab seorang janda dari Zaid Bin Haritsah, anak angkat
Rasulullah. Rasulullah menikahi Zainab karena Zainab adalah putri bibi Rasulullah,
Rasulullah menikahinya atas perintah Allah SWT.
8) Juwairiyah Binti Al-Harits RA. (605-670 M)
Rasulullah menikahi Juwairiyah seorang janda dari Masafeah Ibn Safuan. Juwairiyah
RA Adalah putri dari Al-Harits Bin Dhirar, Pemimpin Bani Mustalik yang pernah
berkomplot untuk membunuh Rasulullah, namun berhasil ditaklukan. Juwairiyah
kemudian menjadi tawana perang yang dimiliki oleh Tsabit Bin Qais Bin Syimas,
kemudian ditebus oleh Rasulullah dengan menikahinya untuk melunakkan hati
sukunya kepada islam.
9) Ummu Habibah Ramlah Binti Abu Sufyan RA (591-665 M)
Rasulullah menikahiUmmu Habibah seorang janda dari Ubaidillah Bin Jahsy yang
Hijrah bersamanya ke Habsyah. Suami Ummu Habibah pertama (Ubaidillah) murtad
dan menjadi nasrani dan meninggal di Habsyiah. Ummu Habibah tetap istiqamah
terhadap agamanya. Alasan Rasulullah menikahinya adalah untuk menghibur beliau
dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Selain itu sebagai
penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya
telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekah.
10) Shofiyyah Binti Huyay Bin Akhtob RA (628-672 M)
Rasulullah menikahi Shofiyyah seorang janda dari Kinanah, salah seorang tokoh
yahudi yang terbunuh dalam Perang Khaibar. Shofiyyah adalah istri Rasulullah yang
berlatarbelakang etnis Yahudi. Sukunya diserang karena telah melanggar perjanjian
yang sudah mereka sepakati dengan kaum Muslimin. Shofiyyah termasuk salah
seorang tawanan saat itu. Nabi berjanji menikahinya jika ia masuk islam.
11) Maimunah Binti Al-HaritsRA (602-681 M)
Rasulullah menikahi Maimunah seorang janda dari Abd Al-Rahman Bin Abdil-
Uzza.Rasulullah menikahi Maimunah sebagai penghormatan bagi keluarganya yang
telah saling tolong menolong dengannya. Maimunah sendirilah yang datang
menemui Rasulullah dan meminta agar menikahinya.
12) Mariah Al-Qibthiyah RA
Rasulullah menikahi Mariah sebagai hadiah dari Muqauqis, seorang penguasa Mesir .
Pada pernikahannya dengan Mariah, rasulullah dikaruniai seorang anak laki-laki
yang diberi nama Ibrahim, namun meninggal dunia pada usia 18 bulan.
B. Kerasulan Muhammad SAW
1. Awal kerasulan
Menjelang usianya yang ke-40, muhammad saw biasa memisahkan diri dari pergaulan
masyarakat umum, untuk berkontemplasi digua hira, beberapa kilometer diutara mekah.

Gua hira tersebut, nabi mula-mula hanya berjam-jam saja, kemudian berhari-hari,
bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 M, muhammad saw mendapat wahyu
pertama dari alloh melalui malaikat jibril.

Pada saat beliau tidur dan terbangun dengan tiba-tiba pada malam itu di gua hira, dalam
ketakutan yang luar biasa, seluruh tubuhnya, seluruh diri batinnya, dicengkram oleh
sebuah kekuatan yang sangat besar, seolah-olah seorang malaikat telah mencengkram
beliau dalam pelukan yang menakutkan seakan mencabut kehidupan dan napas darinya.
Ketika beliau berbaring disana, remuk redam, beliau mendengar perintah, “bacalah!”
beliau tidak dapat melakukan ini, beliau bukan penyair terdidik, bukan peramal, bukan
penyair dengan seribu kalimat yang tersusun dengan baik yang siap dibibir beliau. Ketika
itu ia protes bahwa beliau adalah buta huruf, malaikat itu merangkulnya lagi dengan
kekuatan yang begitu rupa, sehingga turunlah ayat yang pertama yaitu ayat 1 sampai 5
dalam surat al-alaq, yang artinya:
1) Bacalah dengan (menyebut) nama tuhan mu yang menciptakan.
2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3) Bacalah dan tuhanmulah yang maha pemurah.
4) Yang mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam.
5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dia merasa ketakutan karena belum pernah mendengar dan mengalami nya. Dengan
turunnya wahyu yang pertama itu, berarti muhammad saw telah dipilih alloh sebagai
nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada
suatu agama.

Peristiwa turunnya wahyu itu menandakan telah diangkatnya muhammad saw sebagai
seorang nabi penerima wahyu di tanah arab. Malam terjadinya peristiwa itu kemudian
dikenal sebagai “malam penuh keagungan (lailatul al-qadar) “ dan menurut sebagian
riwayat terjadi menjelang akhir bulan ramadhan. Setelah wahyu pertama turun, yang
menandai masa awal kenabian, berlangsung masa kekosongan atau masa jeda (fatrah).

Ketika hati muhammad saw diliputi kegelisahan yang sangat dan merasakan beban emosi
yang menghimpit, dia pulang ke rumah dengan perasaan waswas, dan meminta istrinya
untuk menyelimutinya. Saat itulah turun wahyu yang kedua yang berbunyi “ Wahai kau
yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan!!”

Dan seterusnya, yaitu surah Al-Muddatstsir 1-7 wahyu yang telah, dan kemudian turun
sepanjang hidup Muhammad SAW, muncul dalam bentuk suara yang berbeda-beda. Tapi,
pada periode akhir kenabiannya, wahyu surah-surah Madaniyah turun dalam satu suara.
Adapun orang-orang yang pertama kali memeluk agama Islam: Orang-orang yang
pertama-tama masuk Islam adalah:

a). Siti Khadijah (Istri Nabi SAW)

b). Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)

c). Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi SAW)

d). Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi SAW)


Orang-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:

a). Utsman Bin Affan

b). Zubair Bin Awwam

c). Saad Bin Abi Waqqash

d). Abdurahman Bin Auf

e). Thalhah Bin “Ubaidillah

f). Abu Ubaidillah Bin Jarrah

g). Arqam Bin Abil Arqam

h). Fatimah Binti Khathab

Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal Awwaluun” Artinya orang-orang yang terdahulu
dan yang pertama-tama masuk Islam dan mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari
Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil Arqam.
2. AKHIR MASA KERASULAN
2.1 Pembentukan Negara Madinah
Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib (Madinah), Nabi Muhammad SAW resmi
sebagai pemimpin penduduk kota itu. Babak baru dala sejarah islam pun dimulai.
Berbeda dengan periode Mekkah, Pada Periode Madinah, Islam merupakan kekuatan
politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun
diMadinah. Nabi Muhammad SAW mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala
agama, tetapi juga sebagai kepala negar. Dengan kata lain, dalam diri Nabi terkumpul
dua kekuasaan, Kekuasaan Spiritual dan Kekuasaan Duniawi. Kedudukannya sebagai
Rasul secara otomatis merupakan kepala negara.
Dengan terbentuknya negara Madinah, islam makin bertambah kuat. Perkembangan
Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekah dan musuh-musuh islam
lainnyamenjadi risau. Kerisauan ini akan mendorong orang-orang Quraisy berbuat apa
saja. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan gangguan dari musuh, Nabi
sebagai kepala Pemerintah mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara. Umat
islam diizinkan berperang dengan dua alasan:
1. Untuk mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya
2. Menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya
dari orang-orang yang menghalanginya.

Dalam sejarah Madinah ini memang banyak terjadi peprangan sebagai upaya
kaum muslimin mempertahankan diri dari serangan musuh. Nabi Muhammad
SAW sendiri, diawal pemerintahnnya mengadakan beberapa Ekspedisi keluar kota
sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak
diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk.
Perjanjian Madinah dengan beberapa kabilah disekitar Madinah juga diadakan
dengan maksud mempertahankan kedudukan Madinah.

Pada tahun 9 dan 10 Hijriah (630-632 M) banyak suku dari pelosok Arab
mengutus Delegasinya kepada Nabi SAW menyatakan ketundukan mereka.
Masuknya orang Mekkah ke agama Islam rupanya mempunyai pengaruh yang
amat besar pada penduduk padang pasir yang liar itu. Tahun itu disebut dengan
tahun Perutusan. Persatuan bangsa Arab telah terwujud, peperangan antar suku
yang berlangsung sebelumnya telah berubah menjadi persaudaraan seagama.

Setelah itu, Nabi SAW segera kembali ke Madinah. Beliau mengatur organisasi
masyarakat kabilah yang telah memeluk agama islam. Petugas keagamaan dan
para da’i dikirim keberbagai daerah dan kabilah untuk mengajarkan ajaran-ajaran
agama islam, mengatur peradilan, dan memungut zakat. Dua bulan setelah itu,
Nabi menderita sakit demam. Tenaganya dengan cepat berkurang. Pada hari Senin
tanggal 12 Rabiulawal 11 Hijriah atau 8 Juni 632 Masehi, Nabi Muhammad SAW
wafat dirumah isterinya Aisyah.

3. NAMA DAN GELAR NABI MUHAMMAD SAW


Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua julukan dari suku Quraisy (suku
terbesar di Mekkah yang juga suku dari Muhammad) yaitu Al-Amiin yang artinya
"orang yang dapat dipercaya" dan As-Saadiq yang artinya "yang benar". Setelah masa
kenabian para sahabatnya memanggilnya dengan gelar Rasul Allāh ,kemudian
menambahkan kalimat Shalallaahu 'Alayhi Wasallam, yang berarti "semoga Allah
memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya"; sering disingkat "S.A.W" atau
"SAW") setelah namanya.
Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim yang berarti "bapak Qasim",
karena Muhammad pernah memiliki anak lelaki yang bernama Qasim, tetapi ia
meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut bersama kaum Quraisy dalam perbaikan
Kakbah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang siapa yang
berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan masalah tersebut
dan memberikan penyelesaian adil. Saat itu ia dikenal di kalangan suku-suku Arab
karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia
memperoleh gelar Al-Amin yang artinya "orang yang dapat dipercaya".
Diriwayatkan pula bahwa Muhammad adalah orang yang percaya sepenuhnya dengan
keesaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat tamak,
angkuh dan sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia dikenal
menyayangi orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak yatim serta
berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua
kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti
berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal
sebagai As-Saadiq yang berarti "yang benar".
Di dalam HR Bukhari dan Muslim disebutkan nama dan gelar Nabi Muhammad
SAW, antara lain :
- Ahmad
- Al-Mahi
- Al-Hasyir
- Al-'Aqib
- Muqaffi
- Nabiyyuttaubah
- Nabiyyurrahmah.

Pengertian nama-nama nabi Muhammad Saw :


- Ahmad : yang paling terpuji karena akhlak karimahnya, dan paling banyak
memuji Allah.
- Al-Mahi ( pengikis/penghapus) : karena Allah mengikis kekufuran dengan
mengutusnya,
- Al-Hasyir (penghimpun) : sebab nanti di hari kiamat seluruh manusia berhimpun
di hadapan beliau, ada yang mengatakan di bawah perintah beliau.
- Al-'Aqib (penutup) : karena beliaulah nabi dan rasul penutup.
- Muqaffi (yang mengikuti) : maksudnya mengikuti dan melanjutkan jejak risalah
para nabi.
- Nabiyyuttaubah (nabi taubat) : meski beliau sudah ma'shum dalam artian bersih
dari dosa, namun beliau banyak bertaubat. Dalam satu riwayat beliau bertaubat
hingga 70 kali sehari, dan dalam riwayat lain hingga 100 kali.
- Nabiyyurrahmah (nabi ramhat) : beliau adalah seorang nabi yang penuh kasih
hatta dalam peperangan pun, diutusnya beliau ke bumi ini adalah sebagai rahmat
bagi semesta alam.

Nama-nama tersebut berdasarkan penuturan beliau sendiri. Dan kita tahu bahwa
setiap sabda beliau adalah berdasarkan wahyu. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang
memberi nama/gelar tersebut adalah Allah Swt.

Sifat-Sifat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW mempunyai sifat yang baik yaitu:


a). Siddiq
Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat bohong (kidzib)
Rasulullah sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun perkataannya. Apa yang
dikatakan dan disampaikan serta yang diperbuat adalah benar dan tidak bohong.
Karena akhlak Rasulullah adalah cerminan dari perintah Allah SWT.

b). Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat Khianat
atau tidak dapat dipercaya. Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah
SWT. Rasulullah taat kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan risalah sesuai
dengan petunjuk Allah SWT tidak mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT
maupun kepada umatnya.
c). Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan. Rasulullah sangat tidak mungkin untuk
menyembunyikan (kitman). Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya
tidak ada yang ditutup- tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu
pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir. Rasulullah menyampaikan risalah
secara sempurna sesuai dengan perintah Allah SWT.

d). Fathonah
Fathonah artinya cerdas. Sangat tidak mungkin Rasul bersifat baladah atau bodoh.
Para Rasul semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan wahyu yang telah diterima
dari Allah SWT. Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat tidak mungkin
Rasul itu bodoh. Apabila bodoh bagaimana bisa menyampaikan wahyu Allah.

4. PENGERTIAN NAMA NABI MUHAMMAD SAW