Laporan Praktikum
Pengendalian Kualitas
Q
MODUL I STATISTICAL PROCESS CONTROL 1
Disusun Oleh :
Nama NIM
Anggi Yos Indra
Muhammad Husein Ri’fai 41617110054
Muhammad Refiansyah 41617110113
Sidik Purnomo 41617110057
FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA
sehingga laporan praktikum ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi kami para mahasiswa Teknik Industri, Untuk menempuh sarjana
Teknik Industri. Kami berharap ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.
Jakarta, 26 November 2019
3
Penyusun
4
DAFTAR ISI
JUDUL LAPORAN
MODUL I STATISTICAL PROCESS CONTROL 1...........................................................1
KATA PENGANTAR..........................................................................................................3
DAFTARISI........................................................................................................................4
BAB I .................................................................................................................................5
PENDAHULUAN...............................................................................................................5
1.1. Latar Belakang...................................................................................................5
1.2. Tujuan Praktikum..............................................................................................6
1.3. Sistematika Laporan..........................................................................................6
BAB II ...........................................................................................................................8
LANDASAN TEORI..........................................................................................................8
2.1. Statistical Process Control (SPC).......................................................................8
2.1.1. Manfaat Statistical Process Control (SPC).........................................................9
2.1.2. Alat Statistical Process Control (SPC).............................................................10
2.2 Flowchart.........................................................................................................11
2.3 Pareto...............................................................................................................12
2.4 Fishbone..........................................................................................................14
2.4.1. Manfaat Diagram Fishbone..............................................................................16
2.4.2. Cara Membuat Diagram Fishbone...................................................................17
2.4.3. Kelebihan/ Kekurangan Diagram FishBone.....................................................19
BAB III .........................................................................................................................21
3.1. Pengumpulan dan Pengolahan Data Flow Chart..............................................21
3.2. Pengumpulan dan Pengolahan Data Pareto......................................................22
Pareto dengan MS Excel..............................................................................................22
BAB IV KESIMPULAN...................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Statistical Process Control (SPC) adalah suatu alat kendali proses yang
menggunakan statistik. Metode yang sering digunakan untuk mengetahui sumber
variasi dari prosesa dalah peta-peta kendali/kontrol (control charts) beserta
analisis kapabilitas proses.
Peta control pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Walter Andrew Shewhart
dari BellTelephone Laboratories, AmerikaSerikat, pada tahun 1924 dengan
maksud untuk menghilangkan variasitidak normal melalui pemisahan variasi
yang disebabkan oleh penyebab khusus (special-causes variation) dari variasi
yang disebabkan oleh penyebab umum (common-causes variation).
Kualitas menjadi factor dasar keputusan konsumen dalam banyak produk
dan jasa. Gejala ini meluas, tanpa membedakan jenis konsumen itu
perseorangan, kelompok, kelompok industri, program pertahanan militer, atau
took pengecer, sehingga kualitas adalah factor kunci yang membawa
keberhasilan bisnis, pertumbuhan, dan peningkatan posisi bersaing.
Keuntungan besar pada investasi dari program jaminan kualitas yang
efektif akan memberikan kenaikan keuntungan kepada perusahaan yang
menggunakan kualitas sebagai strategi bisnisnya. Program jaminan kualitas yang
efektif dapat menghasilkan kenaikan penetrasi pasar, produktivitas lebih tinggi,
dan biaya pembuatan barang dan jasa keseluruhan yang lebih rendah
(Montgomery, 1985).
Sedangkan pengendalian kualitas adalah aktivitas keteknikan dan
manajemen, yang dengan aktivitas itu kita ukur ciri-ciri kualitas produk,
membandingkanya dengan spesifikasi dan mengambil tindakan penyehatan yang
sesuai apabila ada perbedaan antara penampilan yang sebenarnya dengan
standart. Ini berarti bahwa proses produksi harus stabil dan mampu beroperasi
sedemikian rupa hingga semua produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi.
Statistical process control adalah suatu cara pengendalian proses yang
dilakukan melalui pengumpulan dan analisis data kuantitatif selama
berlangsungnya proses produksi. Selanjutnya dilakukan penentuan dan
interpretasi hasil-hasil pengukuran yang telah dilakukan, sehingga diperoleh
gambaran yang menjelaskan baik tidaknya suatu proses untuk peningkatan mutu
produk agar memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan (Gasperz,2002).
Dengan Statistical process control dapat memantau kinerja mutu proses
produksi yang terintegrasi mulai dari hulu , supplier, material sampai konsumen,
sehingga keputusan yang diambil oleh manajemen yang benar-benar akurat
berdasarkan analisa dan pengolahan dari berbagai data.SPC mempunyai
kemampuan menggambarkan ketidak normalan proses,melihat penurunan proses,
sehingga bias diambil tindakan perbaikan bahkan tindakan pencegahan sebelum
masalah tersebut benar-benar terjadi.
SPC bisa langsung efektif bekerja pada area dimana suatu proses produksi
itu berlangsung sehingga penyimpangan produk dapat dicegah sedini mungkin
dan Quality Build in Proses bias terbentuk. Mutu memerlukan suatu proses
perbaikan yang terus menerus (continuous improvement). Perbaikan mutu dapat
dilakukan dengan baik jika indicator keberhasilannya merupakan suatu nilai
yang sangat terukur. Ketidak sesuaian karakteristik mutu seperti bobot bersih
produk akan berdampak kerugian pada 4 salah satu pihak, yaitu produsen atau
konsumen. Apabila suatu karakteristik mutu melebihi spesifikasi, pihak produsen
akan dirugikan, demikian pula sebaliknya.
1.2. Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui cara pengendalian kualitas proses statistik pada data
variabel
1.3. Sistematika Laporan
Sistematika penulisan digunakan untuk memudahkan dalam pembahasan,
penulisan ini dibagi menjadi lima bab yang terkait antara satu bab dengan bab
lainnya. Untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan secara garis besarnya
sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Bab ini mengemukakan secara singkat teori-teori yang berhubungan dan
berkaitan dengan masalah yang akan dibahas untuk menunjang landasan berfikir
dalam proses pemecahan masalah dan analisa pembahasan, yaitu mengenai
Mind Mapping dan Brainstorming.
Bab II : Landasan Teori
Bab ini mengemukakan secara singkat teori-teori yang berhubungan dan
berkaitan dengan masalah yang akan dibahas untuk menunjang landasan berfikir
dalam proses pemecahan masalah dan analisa pembahasan, yaitu mengenai
Mind Mapping dan Brainstorming.
Bab III : Pengolahan Data
Pada bab ini berisikan secara singkat mengenai metode/ pembuatan yang
digunakan atau tahapan dalam pembuatan mind mapping dan brainstorming.
BAB IV : Kesimpulan
Merupakan bab terakhir dari laporan ini yang berisi kesimpulan dari hasil
penulisan dan saran - saran yang diberikan penulis berkaitan dengan penulisan
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Merupakan sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel dan bahan-
bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertaluan
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Statistical Process Control (SPC)
Statistical Process Control (SPC) merupakan teknik penyelesaian masalah
yang digunakan sebagai pemonitor, pengendali, penganalisis, pengelola, dan
memperbaiki proses menggunakan metode – metode statistik. Filosopi pada
konsep pengendalian kualitas proses statistik atau yang lebih dikenal dengan
pengendalian proses statistik (Statistical Process Control) adalah output pada
proses atau pelayanan dapat dikemukakan ke dalam pengendalian statistik
melalui alat-alat manajemen dan tindakan perancangan. Pengendalian proses
statistik merupakan penerapan metode-metode statistik untuk pengukuran dan
analisis variasi proses. Teknik ini merupakan parameter-parameter pada proses
dan analisis proses. Dengan menggunakan pengendalian proses statistik ini maka
dapat dilakukan anlisis dan minimasi penyimpangan atau kesalahan,
mengkuantifikasikan kemampuan proses, menggunakan pendekatan statistik
dengan dasar six – sigma, dan membuat hubungan antara konsep dan teknik
yang ada untuk mengadakan perbaikan proses. Sasaran pengendalian proses
statistik adalah terutama adalah mengadakan pengurangan terhadap variasi atau
kesalahan – kesalahan proses. Selain itu, tujuan utama dalam pengendalian
proses statistik adalah mendeteksi adanya khusus (assignable cause atau special
cause) dalam variasi atau kesalahan proses melalui analisis data dari masalalu
maupun masa mendatang. Variasi proses terdiri dari dua macam penyebab, yaitu
penyebab umum (random cause atau chance cause atau common cause) yang
sudah melekat pada proses, dan penyebab khusus (assignable cause atau special
cause) yang merupakan kesalahan yang berlebihan. Idealnya, hanya penyebab
umum yang ditunjukkan atau yang tampak dalam proses, karena hal tersebut
menunjukkan bahwa proses berada dalam kondisi stabil dan dapat diprediksi.
Kondisi ini menunjukkan variasi yang minimum (Ariani, D.W, 2004).
Dalam setiap proses produksi, hal yang perlu dipahami adalah setiap
produk ataupun jasa yang dihasilkan tidak akan 100% sama. Hal ini karena
adanya variasi selama proses produksi berlangsung. Adanya variasi merupakan
hal yang normal dan wajar, namun akan berpengaruh pada kualitas produk
sehingga perlu dikendalikan.
Umumnya, metode statistik banyak digunakan dalam upaya pengendalian
proses produksi. Pendekatan yang paling umum digunakan dalam dunia industri
adalah melalui metode Statistical Process Control (SPC).
Statistical Process Control merupakan metode pengambilan keputusan
secara analitis yang memperlihatkan suatu proses berjalan dengan baik atau
tidak. SPC digunakan untuk memantau konsistensi proses yang digunakan untuk
pembuatan produk yang dirancang dengan tujuan mendapatkan proses yang
terkontrol
2.1.1. Manfaat Statistical Process Control (SPC)
Pengendalian proses statistik dikatakan berada dalam batas
pengendalian apabila hanya terdapat kesalahan yang disebabkan oleh
sebab umum. Berdasarkan hal tersebut tentunya memberikan manfaat
penting, yaitu (Gryna, 2001):
1. Proses memiliki stabilitas yang akan memungkinkan organisasi
dapat memprediksi perilaku peling tidak untuk jangka pendek.
2. Proses memiliki identitas dalam menyusun seperangkat kondisi
yang penting untuk membuat prediksi masa mendatang.
3. Proses yang berada dalam kondisi “berada dalam batas
pengendalian statistik” beroperasi dengan variabilitas yang lebih
kecil daripada proses yang memiliki penyebab khusus. Variabilitas
yang rendah penting untuk memenangkan persaingan.
4. Proses yang mempunyai penyebab khusus merupakan proses
yang tidak stabil dan memiliki kesalahan yang berlebihan yang harus
ditutup dengan mengadakan perubahan untuk mencapai perbaikan.
5. Dengan mengetahui bahwa proses berada dalam batas
pengendali statistik akan membantu karyawan dalam menjalankan
proses tersebut. Atau dapat dikatakan, apabila data berada dalam
batas pengendali, maka tidak perlu lagi dibuat penyesuaian atau
perubahan. Hal ini disebabkan penyesuaian atau perubahan kembali
yang tidak diperlukan justru akan menambah kesalahan, bukan
mengurangi.
6. Dengan mengetahui bahwa proses berada dalam batas
pengendali statistik, akan memberikan petunjuk untuk mengadakan
pengurangan variabilitas proses jangka panjang. Untuk mengurangi
variabilitas proses tersebut, sistem pemrosesan harus dianalisis dan
diubah oleh manajer sehingga karyawan dapat menjalankan proses.
7. Analisis untuk pengendalian statistik mencakup penggambaran
data produksi akan memudahkan dalam mengidentifikasi
kecenderungan yang terjadi dari waktu ke waktu.
8. Proses yang stabil atau yang berada dalam batas pengendali
statistik juga dapat memenuhi spesifikasi produk, sehingga dapat
dikatakan proses dalam kondisi terawat dengan baik dan dapat
menghasilkan produk yang baik. Kondisi ini dibutuhkan sebelum
proses diubah dari tahap perencanaan ke tahap produksi secara
penuh.
2.1.2. Alat Statistical Process Control (SPC)
Statistical process control berkaitan dengan upaya menjamin
kualitas dengan memperbaiki kualitas proses dan upaya menyelesaikan
segala permasalahan selama proses. Statistical process control bisa
diterapkan, baik untuk industri manufakturing maupun jasa. Statistical
process control banyak menggunakan alat- alat statistik untuk membantu
mencapai tujuannya. Statistical process control mempunyai alat, yaitu
(Iriawan, 2006):
1. Peta kendali
2. Histogram
3. Diagram pareto
4. Lembar periksa
5. Diagram konsentrasi cacat
6. Diagram scatter
7. Diagram sebab dan akibat
2.2 Flowchart
Flowchart adalah penggambaran secara grafik dari langkah-langkah dan
urut-urutan prosedur dari suatu program. Flowchart menolong analis dan
programmer untuk memecahkan masalah kedalam segmen-segmen yang lebih
kecil dan menolong dalam menganalisis alternatif – alternative lain dalam
pengoperasian.
Flowchart biasanya mempermudah penyelesaian suatu masalah khususnya
masalah yang perlu dipelajari dan dievaluasi lebih lanjut.
2.2.1. Pedoman-Pedoman Dalam Membuat Flowchart
Bila seorang analis dan programmer akan membuat flowchart, ada
beberapa petunjuk yang harus diperhatikan, seperti :
1. Flowchart digambarkan dari halaman atas ke bawah dan dari kiri ke
kanan.
2. Aktivitas yang digambarkan harus didefinisikan secara hati-hati dan
definisi ini harus dapat dimengerti oleh pembacanya.
3. Kapan aktivitas dimulai dan berakhir harus ditentukan secara jelas.
4. Setiap langkah dari aktivitas harus diuraikan dengan menggunakan
deskripsi kata kerja, misalkan MENGHITUNG PAJAK PENJUALAN.
5. Setiap langkah dari aktivitas harus berada pada urutan yang benar.
6. Lingkup dan range dari aktifitas yang sedang digambarkan
harus ditelusuri dengan hati-hati. Percabangan-percabangan yang
memotong aktivitas yang sedang digambarkan tidak perlu digambarkan pada
flowchart yang sama. Simbol konektor harus digunakan dan percabangannya
diletakan pada halaman yang terpisah atau hilangkan seluruhnya bila
percabangannya tidak berkaitan dengan sistem.
7. Gunakan simbol-simbol flowchart yang standar.
2.2.2. Jenis-Jenis Flowchart
Flowchart terbagi atas lima jenis, yaitu :
1. Flowchart Sistem (System Flowchart)
2. Flowchart Paperwork / Flowchart Dokumen (Document
Flowchart)
3. Flowchart Skematik (Schematic Flowchart)
4. Flowchart Program (Program Flowchart)
5. Flowchart Proses (Process Flowchart) Flowchart Sistem
Flowchart Sistem merupakan bagan yang menunjukkan alur kerja
atau apa yang sedang dikerjakan di dalam sistem secara keseluruhan dan
menjelaskan urutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem.
Dengan kata lain, flowchart ini merupakan deskripsi secara grafik dari
urutan prosedur-prosedur yang terkombinasi yang membentuk suatu
sistem.
Flowchart Sistem terdiri dari data yang mengalir melalui sistem
dan proses yang mentransformasikan data itu. Data dan proses dalam
flowchart sistem dapat digambarkan secara online (dihubungkan
langsung dengan komputer) atau offline (tidak dihubungkan langsung
dengan komputer, misalnya mesin tik, cash register atau kalkulator).
2.3 Pareto
Diagram Pareto merupakan metode standar dalam pengendalian mutu
untuk mendapatkan hasil maksimal atau memilih masalah-masalah utama dan
dianggap sebagai suatu pendekatan sederhana yang dapat dipahami oleh pekerja
tidak terlalu terdidik, serta sebagai perangkat pemecahan dalam bidang yang
cukup kompleks.
Diagram Pareto merupakan suatu gambar yang mengurutkan klasifikasi
data dari kiri ke kanan menurut urutan ranking tertinggi hingga terendah. Hal ini
dapat membantu menemukan permasalahan yang terpenting untuk segera
diselesaikan (ranking tertinggi) sampai dengan yang tidak harus segera
diselesaikan (ranking terendah).
Diagram pareto dibuat untuk menemukan masalah atau penyebab yang
merupakan kunci dalam penyelesaian masalah dan perbandingan terhadap
keseluruhan. Dengan mengetahui penyebab-penyebab yang dominan (yang
seharusnya pertama kali diatasi) maka kita akan bisa menetapkan prioritas
perbaikan. Perbaikan atau tindakan koreksi pada faktor penyebab yang dominan
ini akan membawa akibat atau pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan
penyelesaian penyebab yang tidak berarti. Prinsip Pareto adalah “sedikit tapi
penting, banyak tetapi remeh”.
Selain itu, Diagram Pareto juga dapat digunakan untuk membandingkan
kondisi proses, misalnya ketidaksesuaian proses, sebelum dan setelah diambil
tindakan perbaikan terhadap proses.
Diagram Pareto dibuat berdasarkan data statistik dan prinsip bahwa 20%
penyebab bertanggungjawab terhadap 80% masalah yang muncul atau
sebaliknya. Kedua aksioma tersebut menegaskan bahwa lebih mudah
mengurangi bagian lajur yang terletak di bagian kiri diagram Pareto daripada
mencoba untuk menghilangkan secara sistematik lajur yang terletak di sebelah
kanan diagram. Hal ini dapat diartikan bahwa diagram Pareto dapat
menghasilkan sedikit sebab penting untuk meningkatkan mutu produk atau jasa.
Keberhasilan penggunaan diagram Pareto sangat ditentukan oleh
partisipasi personel terhadap situasi yang diamati, dampak keuangan yang
terlihat pada proses perbaikan situasi dan penetapan tujuan secara tepat. Faktor
lain yang perlu dihindari adalah jangan membuat persoalan terlalu kompleks dan
juga jangan terlalu mencari penyederhanaan pemecahan.
Langkah-langkah pembuatan diagram pareto, yaitu sebagai berikut:
1. Menentuka
n metode atau arti dari pengklasifikasian data,
misalnya berdasarkan masalah, penyebab, jenis ketidaksesuaian dan
sebagainya.
2. Menentukan satuan yang digunakan untuk membuat urutan
karakteristik- karakteristik tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit dan
sebagainya.
3. Mengumpulkan data sesuai dengan interval waktu yang telah
ditentukan.
4. Merangkum data dan membuat rangking kategori data tersebut dari
yang terbesar hingga yang terkecil.
5. Menghitung frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif yang
digunakan.
6. Menggambar diagram batang menunjukkan tingkat kepentingan
relative masing- masing masalah. Mengidentifikasi beberapa hal yang
penting untuk mendapatkan perhatian.
Berdasarkan langkah-langkah pembuatan diagram pareto tersebut di atas
jelas bahwa secara sederhana dan mudah akan dapatdigambarkan penyimpangan
- penyimpangan mana yang cukup penting dan mendesak untuk segera diatasi.
Untuk melaksanakan perbaikan atau korelasi ini maka 3 hal berikut cukup
penting untuk dipertimbangkan (Wignjosoebroto, 2006):
1. Setiap orang yang terlibat dalam permasalahan ini harus sepakat untuk
bekerja sama mengatasinya.
2. Tindakan perbaikan harus benar-benar akan memberikan dampak
positif yang kuat yang akhirnya juga akan menguntungkan semua pihak.
3. Tujuan nyata (dalam hal ini efisiensi dan produktivitas kerja
diharapkan akan meningkat) harus bisa diformulasikan secara konkrit dan
jelas.
Diagram pareto dapat diaplikasikan untuk proses perbaikan dalam
berbagai macam aspek permasalahan. Diagram pareto ini seperti halnya diagram
sebab akibat tidak saja efektif digunakan untuk usaha pengendalian kualitas
suatu produk, akan tetapi juga bisa diaplikasikan untuk (Wignjosoebroto, 2006):
1. Mengatasi permasalahan pencapaian efisiensi atau
produktivitas kerja yang lebih tinggi lagi.
2. Permasalahan keselamatan kerja (safety).
3. Penghematan atau pengendalian material, energi, dan lain-lain.
4. Perbaikan sistem dan prosedur kerja.
2.4 Fishbone
Ada banyak metode untuk mengetahui akar penyebab dari masalah yang
muncul diperusahaan. Metode – metode tersebut antara lain : Brainstorming,
Bertanya Mengapa beberapakali (WHY – WHY) dan metode Diagram Fishbone
(Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa. Pada kesempatan
ini yang dibicarakan adalah metode yang ke 3 yakni Diagram Fishbone (Tulang
Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa
Diagram tulang ikan atau fishbone adalah salah satu metode / tool di
dalam meningkatkan kualitas. Sering juga diagram ini disebut dengan diagram
Sebab-Akibat atau cause effect diagram. Penemunya adalah seorang ilmuwan
jepang pada tahun 60- an. Bernama Dr. Kaoru Ishikawa, ilmuwan kelahiran 1915
di Tikyo Jepang yang juga alumni teknik kimia Universitas Tokyo. Sehingga
sering juga disebut dengan diagram ishikawa. Metode tersebut awalnya lebih
banyak digunakan untuk manajemen kualitas. Yang menggunakan data verbal
(non-numerical) atau data kualitatif. Dr. Ishikawa juga ditengarai sebagai orang
pertama yang memperkenalkan 7 alat atau metode pengendalian kualitas (7
tools). Yakni fishbone diagram, control chart, run chart, histogram, scatter
diagram, pareto chart, dan flowchart.
Dikatakan Diagram Fishbone (Tulang Ikan) karena memang berbentuk
mirip dengan tulang ikan yang moncong kepalanya menghadap ke kanan.
Diagram ini akan menunjukkan sebuah dampak atau akibat dari sebuah
permasalahan, dengan berbagai penyebabnya. Efek atau akibat dituliskan sebagai
moncong kepala. Sedangkan tulang ikan diisi oleh sebab-sebab sesuai dengan
pendekatan permasalahannya. Dikatakan diagram Cause and Effect (Sebab dan
Akibat) karena diagram tersebut menunjukkan hubungan antara sebab dan
akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal, diagram sebab-akibat
dipergunakan untuk untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan
karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab itu.
Diagram Fishbone telah menciptakan ide cemerlang yang dapat membantu
dan memampukan setiap orang atau organisasi/perusahaan dalam menyelesaikan
masalah dengan tuntas sampai ke akarnya. Kebiasaan untuk mengumpulkan
beberapa orang yang mempunyai pengalaman dan keahlian memadai
menyangkut problem yang dihadapi oleh perusahaan Semua anggota tim
memberikan pandangan dan pendapat dalam mengidentifikasi semua
pertimbangan mengapa masalah tersebut terjadi. Kebersamaan sangat diperlukan
di sini, juga kebebasan memberikan pendapat dan pandangan setiap individu.
Jadi sebenarnya dengan adanya diagram ini sangatlah bermanfaat bagi
perusahaan, tidak hanya dapat menyelesaikan masalah sampai akarnya namun
bisa mengasah kemampuan berpendapat bagi orang – orang yang masuk dalam
tim identifikasi masalah perusahaan yang dalam mencari sebab masalah
menggunakan diagram tulang ikan.
2.4.1. Manfaat Diagram Fishbone
Fungsi dasar diagram Fishbone (Tulang Ikan) adalah untuk
mengidentifikasi dan mengorganisasi penyebab-penyebab yang mungkin
timbul dari suatu efek spesifik dan kemudian memisahkan akar
penyebabnya . Sering dijumpai orang mengatakan “penyebab yang
mungkin” dan dalam kebanyakan kasus harus menguji apakah penyebab
untuk hipotesa adalah nyata, dan apakah memperbesar atau
menguranginya akan memberikan hasil yang diinginkan.
Dengan adanya diagram Fishbone ini sebenarnya memberi
banyak sekali keuntungan bagi dunia bisnis. Selain memecahkan
masalah kualitas yang menjadi perhatian penting perusahaan. Masalah –
masalah klasik lainnya juga terselesaikan. Masalah – masalah klasik
yang ada di industri manufaktur khusunya antara lain adalah :
a) keterlambatan proses produksi,
b) tingkat defect (cacat) produk yang tinggi,
c) mesin produksi yang sering mengalami trouble,
d) output lini produksi yang tidak stabil yang berakibat kacaunya
plan produksi,
e) produktivitas yang tidak mencapai target,
f) complain pelanggan yang terus
Namun, pada dasarnya diagram Fishbone dapat dipergunakan
untuk kebutuhan- kebutuhan berikut :a) Membantu mengidentifikasi
akar penyebab dari suatu masalah, b) Membantu membangkitkan ide-ide
untuk solusi suatu masalah, c) Membantu dalam penyelidikan atau
pencarian fakta lebih lanjut, d) Mengidentifikasi tindakan (bagaimana)
untuk menciptakan hasil yang diinginkan, e) Membahas issue secara
lengkap dan rapi, f) Menghasilkan pemikiran baru. Jadi ditemukannya
diagram Fishbone memberikan kemudahan dan menjadi bagian penting
bagi penyelesaian masalah yang mucul bagi perusahaan.
Penerapan diagram Fishbone dapat menolong kita untuk dapat
menemukan akar “penyebab” terjadinya masalah khususnya di industri
manufaktur dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam
variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan.
Apabila “masalah” dan “penyebab” sudah diketahui secara pasti, maka
tindakan dan langkah perbaikan akan lebih mudah dilakukan. Dengan
diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan kita
untuk dapat melihat semua kemungkinan “penyebab” dan mencari
“akar” permasalahan sebenarnya.
Apabila ingin menggunakan Diagram Fishbone , kita terlebih
dahulu harus melihat, di departemen, divisi dan jenis usaha apa diagram
ini digunakan. Perbedaan departemen, divisi dan jenis usaha juga akan
mempengaruhi sebab – sebab yang berpengaruh signifikan terhadap
masalah yang mempengaruhi kualitas yang nantinya akan digunakan.
2.4.2. Cara Membuat Diagram Fishbone
Dalam hal melakukan Analisis Fishbone, ada beberapa tahapan
yang harus dilakukan, yakni
1.Menyiapkan sesi analisa tulang ikan.
2.Mengidentifikasi akibat atau masalah.
3.Mengidentifikasi berbagai kategori sebab utama.
4.Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran.
5.Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama.
6.Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin
Cara yang lain dalam menyusun Diagram Fishbone dalam rangka
mengidentifikasi penyebab suatu keadaan yang tidak diharap adalah
sebagai berikut:
1. Mulai dengan pernyataan masalah-masalah utama penting dan
mendesak untuk diselesaikan.
2. Tuliskan pernyataan masalah itu pada kepala ikan, yang
merupakan akibat (effect). Tulislah pada sisi sebelah kanan dari
kertas (kepala ikan), kemudian gambarkan tulang belakang dari kiri ke
kanan dan tempatkan pernyataan masalah itu dalam kotak.
3. Tuliskan faktor-faktor penyebab utama (sebab-sebab) yang
mempengaruhi masalah kualitas sebagai tulang besar, juga
ditempatkan dalam kotak. Faktor- faktor penyebab atau kategori-
kategori utama dapat dikembangkan melalui Stratifikasi ke dalam
pengelompokan dari faktor-faktor: manusia, mesin, peralatan,
material, metode kerja, lingkungan kerja, pengukuran, dll. Atau
stratifikasi melalui langkah-langkah aktual dalam proses. Faktor –
faktor penyebab atau kategori-kategori dapat dikembangkan melalui
brainstorming. Berikut beberapa pendekatan yang bisa dijadikan
panduan untuk merumuskan faktor-faktor utama dalam mengawali
pembuatan Diagram Cause and Effect:
a) Pendekatan The 4 M’s (digunakan untuk perusahaan
manufaktur). Faktor-faktor utama yang bisa dijadikan acuan
menurut pendekatan ini adalah 1) Machine (Equipment), 2)
Method (Process/Inspection), 3) Material (Raw, Consumables
dll.), 4) Man power.
b) Pendekatan The 8 P’s (digunakan pada industri jasa).
Menurut pendekatan ini, ada setidaknya 8 hal yang bisa dijadikan
acuan sebagai faktor utama antara lain 1) People, 2) Process, 3)
Policies, 4) Procedures, 5) Price, 6) Promotion, 7) Place/Plant, 8)
Product
c) PendekatanThe 4 S’s (digunakan pada industri jasa).
Pendekatan ini memberikan acuan 4 faktor utama antara lain 1)
Surroundings, 2) Suppliers, 3) Systems, 4) Skills
d) Pendekatan 4 P (pendekatan manajemen pemasaran).
Pendekatan yang menggunakan perspektif manajemen
pemasaran untuk memberikan faktor utama yang bisa dijadikan
acuan yakni 1) Price, 2) Product 3) Place, 4) Promotion
4. Tuliskan penyebab-penyebab sekunder yang
mempengaruhi penyebab- penyebab utama (tulang-tulang
besar), serta penyebab-penyebab sekunder itu dinyatakan
sebagai tulang-tulang berukuran sedang.
5. Tuliskan penyebab-penyebab tersier yang
mempengaruhi penyebab-penyebab sekunder (tulang-tulang
berukuran sedang), serta penyebab-penyebab tersier itu
dinyatakan sebagai tulang-tulang berukuran kecil.
6. Tentukan item-item yang penting dari setiap faktor dan
tandailah faktor-faktor penting tertentu yang kelihatannya
memiliki pengaruh nyata terhadap karakteristik kualitas. Untuk
mengetahui faktor-faktor penyebab dari suatu masalah yang
sedang dikaji kita dapat mengembangkan pertanyaan-
pertanyaan berikut :Apakah penyebab itu? Mengapa kondisi
atau penyebab itu terjadi? Bertanya “Mengapa” beberapa kali
(konsep five whys) sampai ditemukan penyebab yang cukup
spesifik untuk diambil tindakan peningkatan. Penyebab -
penyebab spesifik itu yang dimasukkan atau dicatat ke dalam diagram
sebab- akibat.
2.4.3. Kelebihan/ Kekurangan Diagram FishBone
Kelebihan Fishbone diagram adalah dapat menjabarkan setiap
masalah yang terjadi dan setiap orang yang terlibat di dalamnya dapat
menyumbangkan saran yang mungkin menjadi penyebab masalah
tersebut.
Sedang Kekurangan Fishbone diagram adalah opinion based on
tool dan di design membatasi kemampuan tim / pengguna secara visual
dalam menjabarkan masalah yang mengunakan metode “level why”
yang dalam, kecuali bila kertas yang digunakan benar
– benar besar untuk menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
Serta biasanya voting digunakan untuk memilih penyebab yang paling
mungkin yang terdaftar pada diagram tersebut.
BAB III
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
3.1. Pengumpulan dan Pengolahan Data Flow Chart
Mulai
Datang ke Bank
Mengambil Nomor Antrian
TIDAK
Menyiapkan Berkas
Pemeriksaan Berkas
YA
22
X
3.2. Pengumpulan dan Pengolahan Data Pareto
Pareto dengan MS Excel
Pareto dengan Minitab
23
24
3.3. Pengumpulan dan Pengolahan Data FishBone
SOP Kurang Update
Man Method
Lembur
Kemampuannya Kurang Tidak Sesuai SOP
Pegawai Kelelahan Cedera Fisik Lama
Kurang Komunikasi Antar Karyawan
Kurang Training
Kurang Konsentrasi
Cat Mobil Yang Tidak Merata Saat Inspeksi
Over Produksi
Mutu Bahan Komposisi Bahan Tidak Sesuai Tidak SesuaiAngin Kencang
Standar
Kurang Maintennance Material Tidak Bagus
Kekurangan Cahaya
Tidak Ada Anggaran Khusus Area Tempat Kerja Lembab
Mesin Spray Tersumbat Tidak Ada Spesifikasi Khusus
Mesin Sudah Lama (Tua)
Machine a
BAB IV KESIMPULAN
4.1 Kesinmpulan
Tiga metode yang telah dipelajari flow chart, Paretto dan
Fishbone. Masing-masing metode ini memiliki fungsi, seperti flow
chart merupakan diagram arus yang bertujuan untuk
mempermudah dan menyusun pekerjaan agar lebih tertata. Pareto
memiliki fungsi untuk mencari tahu masalah terbesar yang di
hadapi oleh organisasi/perusahaan. Dan pareto bertujuan untuk
mengurutkan masalah terbesar dan memakai filosofi 20%:80%
agar masalah tersebut lebih mudah untuk di selesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
27