1. UU NO.
1 TAHUN 1970 tentang Keselamatan Kerja
BAB III SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA. Pasal 3 ayat 1 poin q ; Dengan peraturan perundangan
ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
BAB II RUANG LINGKUP. Pasal 2 ayat 2 poin q; Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku
dalam tempat kerja di mana :dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau
disalurkan listrik, gas, minyak atau air;
2. Kep.Men Tenaga Kerja RI No. 75/MEN/2002 tentang pemberlakuan PUIL 2000 SNI 04-0225-2000.
3. Permenaker No. 02 /MEN/1989 tentang Instalasi Penyalur Petir
4. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000 SNI 04-0225-2000
Bagian 1 Pendahuluan
1.1 Maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan Persyaratan Umum Instalasi Listrik ini ialah agar
pengusahaan instalasi listrik terselenggara dengan baik, untuk menjamin keselamatan manusia dari
bahaya kejut listrik, keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya, keamanan gedung serta isinya
dari kebakaran akibat listrik, dan perlindungan lingkungan.
9.9.4 Bekerja di dekat instalasi yang bertegangan.
Jarak minimum aman dari perlengkapan yang bertegangan ialah batas jarak terdekat orang dapat bekerja
dengan aman dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh perlengkapan tersebut. Untuk berbagai-bagai
tegangan jarak minimum aman kerja itu adalah sebagai berikut:
Tenaga kerja yang bekerja di dekat tegangan yang lebih tinggi dari pada tegangan
perlengkapan yang sedang dikerjakannya harus tahu pasti bahwa perlengkapan tersebut
bebas dari kebocoran isolasi atau dari imbas yang membahayakan, dan perlengkapan itu
harus dibumikan.
5. UU NO. 20 TAHUN 2002 tentang Ketenagalistrikan
Pasal 2. Penyelenggaraan usaha ketenagalistrikan menganut asas manfaat, efisiensi, berkeadilan,
kebersamaan, optimasi ekonomis dalam pemanfaatan sumber daya, berkelanjutan, percaya dan
mengandalkan pada kemampuan sendiri, keamanan dan keselamatan, serta kelestarian fungsi
lingkungan hidup.
Pasal 64. Setiap orang yang memproduksi, mengedarkan, atau memperjual-belikan pemanfaat listrik
yang tidak memiliki tanda keselamatan
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 48 ayat (4) dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).