Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia
Indonesia Lucu
Penyair Indonesia
Jilid VI
2018
Penebar Media Pustaka
Indonesia Lucu
Penulis : Penyair Indonesia
Editor : Rg Bagus Warsono
Desain : Edi
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh
isi buku ini ke dalam bentuk apa pun, secara elektronis
maupun mekanis, tanpa izin tertulis dari penerbit atau penulis.
All Rights Reserved
Diterbitkan oleh:
Penebar Media Pustaka
Alamat : Jl. Samas km 1, Palbapang, Bantul, Bantul, Yogyakarta,
55713.
Hp. : 082327654950
E-mail : penebarcom@gmail.com
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Penyair Indonesia, Indonesia Lucu; Editor: Rg Bagus Warsono—
Cetakan 1—Yogyakarta: Penebar Media Pustaka, 2018
xxii + 198 ; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-5414-99-2
Cetakan 1, 2018
ii
Penyair :
1.Adelia Dwi Cahyani, (Ponorogo, Jawa Timur).
2.Agus (Makasar)
3.Alek Brawijaya (Musi Banyuasin)
4.Aloysius Slamet Widodo, (Jakarta)
5.Aloeth Pathi (Pati)
6.Ancis Mura (Maumere , Flores)
7.Anggoro Soeprapto (Semarang)
8.Arfian Catur Juliarfan, (Bulukumba)
9.Arfian Rizky Pratama (Nganjuk)
10.Arizto rianthoby thextc, (Flores Adonara)
11.Arya Setra, (Jakarta)
12.Asrul Irfanto, (Bojonegoro)
13.Astika Elfakhri (Kendari)
14.Bambang Widiatmoko (Bekasi)
15.Buanergis Muryono (Bogor)
16.Bunga Citra Perdana (Malang)
17.Brigita Neny Anggraeni, (Semarang)
18.Ceissar Sihotang (Jakarta)
19.Chalvin Papilaya (Ambon)
20.Denis Hilmawati, (Bekasi)
21.Dewa Sahadewa, (Kupang)
22.Diah Natalia (Jakarta)
23.Dicky Armando, S.E., (Pontianak)
24.Dwi Nurul Idayanti (Sidoarjo)
25.Elok Faiqotul Hima, (Banyuwangi)
26.Fahad Fajri (Karawang)
27.Fajar Chaidir Qurrota A’yun, (Bekasi)
28.Fian N , (Flores)
29.Fathurossi ,(Sumenep)
30.Funuun A.B.M, (Semarang)
31.Ghofiruddin Alfian, (Trenggalek)
32.Gilang Teguh Pambudi, (Bandung)
33.Hafizhah Nurdini (Tanah Bumbu , Kalsel)
34.Harkoni Madura (Sampang)
35.Hasan Bisri BFC (Bogor)
36.Heru Mugiarso, (Semarang)
37.Ihya Maulida (Balangan Kalsel)
iii
38.Iskandar Zulkarnain (Sumenep)
39.Iwan Bonick (Bekasi)
40Khoerun Nisa, (Tegal)
41.Lailia Nurul Fauziah , (Pati)
42.Lina Kus Dwi Sukesi (Madiun)
43.M.Asep Saypulloh (Kediri)
44.M. Rofiqi Fahmi HR (Sumenep)
45.Maman Empun (Lombok Tengah)
46.Marlin Dinamikanto, ( Jakarta)
47.Masimus A. L. Sawung. (Maumere)
48.Miftahur Rahim (Pati)
49.Moh. Zainudin
50.Moh Zaini Ratuloli (Larantuka)
51.Mohammad Ikhsan Firdaus, ( Bogor)
52.Muhammad Daffa, (Banjarbaru)
53.Muhammad Fawaz
54.Mukhlisin. (Bone)
55.Muttaqin Haqiqi (Semarang)
56.Naafi’ Fitriani Sri Sundari (Pontianak)
57.Najibul Mahbub (Pekalongan)
58.Nazil
59. Nita Pujiasih
60.Nurholis, (Kutai Kartanegara)
61.Nur Komar, (Jepara)
62.PEmppy C S (Jakarta)
63.P.Lugas.N (Solo)
64.Pranaja Akbar Suranto (Kuningan)
65.Purnama Sari, (Ngawi)
66.Raden Rita Maimunah (Padang)
67.Raditya Andung Susanto (Brebes)
68.Rahmat Akbar (Kotabaru Kalsel)
69.Rahel Tambun (Medan)
70.Raidhatun Ni’mah (Banjarmasin)
71.RB. Edi Pramono, (Jogyakarta)
72.Riki Utomi (Selatpanjang Riau)
73.Rizki Andika (Karawang)
74.Rizky Saputra, (Blitar)
75.Rizqy Fajarreza (Indramayu)
76.Roni Nugraha Syafroni,(Karawang)
iv
77.Roymon Lemosol, (Seram, Ambon)
78.Sami’an Adib (Jember)
79.Sang Agni Bagaskoro, (Jogyakarta)
80.Sapin Ahmad (Kuningan)
81.Septiannor Wiranata (Kota Baru, Kalsel)
82.Sarwo Darmono (Lumajang)
83.Sigar Aji Poerana, (Bandung)
84.Siti Faridah, (Tasikmalaya)
85.Siti Fatimah Suwito (Palembang)
86.Siwi Puji Rahayu (Jakarta)
87.Snta Ayuning Tyas
88.Soekoso DM, (Purworejo)
89.Sokanindya Pratiwi Wening (Krueng Geukueh)
90.Sri Budiyanti,(Demak)
91.Sri Sunarti (Indramayu)
92.Syaiful B. Harun (Palembang)
93.Syahriannur Khaidir, (Sampit)
94.Sus S. Hardjono , (Sragen)
95.Tarni Kasanpawiro, (Kebumen)
96.Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
97.Tri Munawaroh
98.Virna Mutiara Wahyu, (Depok)
99.Vitalis Koten , (Maumere)
100.Wadie Maharief (Jogyakarta)
101.Wage Tegoeh Wijono (Banyumas)
102.Wahyudi Abdurrahman Zaenal (Pontianak)
103.Wardjito Soeharso (Semarang)
104.Wirol O. Haurissa (Ambon)
105.Yan Ari Wibowo , (Jakarta)
106.Yanu Faoji, (Jakarta)
107.Yemi Alfiani (Kerinci ,Jambi)
108.Yoseph Yoneta Motong Wuwur, (Lembata)
109.Yuri Rakasiwi, ( Mempawah)
110.Zam'sta, (Sumenep)
v
Pengantar Buku
Menjadikan Lumbung Tempat Rekreasi Baca
Pecinta Sastra Indonesia.
Lumbung Puisi pertama kali terus dipancarkan ke
seluruh penjuru Tanah Air dengan kemampuan
sahabat pengisi lumbung dari berbagai daerah di
Indonesia. Kesannya sangat kecil untuk promosi diri
lumbung puisi. Bahkan informasinya pun kadang
tenggelam karene memang kami tidak pernah
menampilkan pengumuman dengan di tag atau link ke
grup atau laman lain atau web lain sejenis. Lumbung
yang kecil ini ternyata dilihat pula oleh orang-orang
tekenal di dunia sastra termasuk penyair-penyair
terkenal, serta pemerhati sastra Indonesia.
Kami tak hendak membuat lumbung ini besar karena
kalau lumbung ini besar tiang penyangganya pun
harus besar. Kecil saja asal terpancar. Sedapatnya
kami memberi sentuhan-sentuhan tentang Lumbung
Puisi di beberapa buku lain dengan menyinggung
tenatang lumbung puisi Indonesia. Hasilnya ternyata
luar biasa orang ingin melihat apa sih lumbung puisi?
Tentu saja pancaran lumbung puisi adalah produk.
Tema yang menggelitik juga belum tentu diselidik,
Sedang tema bagus belum tentu bagus direspon,
bahkan bisa jadi tergerus tema dan kegiatan sastra
yang banyak di Indonesia. Namun sesuatu yang indah
adalah tempat dimana orang ingin berrekreasi
menikmati keindahan itu. Dan Lumbung Puisi
berusaha sebagai tempat rekreasi keindahan Sastra
Indonesia tidak saja bagi kalangan pecinta sastra
tetapi juga bagi masyarakat luas.
vi
Lumbung Puisi mengucapkan apresiasi yang
setinggi-tingginya untuk semua pekerja seni, penyair,
penulis, komunitas dan budayawan yang terus
menggelorakan sastra Indonesia termasuk khusus
puisi . Bahwa puisi tetap berjalan sebagaimana biasa
dalam kehidupan meski banyak diterjang goncangan
yang membuat prihatin sastra Indonesia. Ternyata di
pelbagai belahan Indonesia masih banyak yang
menggerakan sastra Indonesia lewat berbagai event.
Kegiatyan-kegiatan itu sungguh mulia dalam kaca
mata pelestarian budaya sastra Indonesia.
Tak lupa Lumbung Puisi mengucapkan terima kasih
kepada mereka yang sudi berkarya cipta dalam
Lumbung Puisi di jilid VI 2018 ini.
Sekali lagi Lumbung puisi hanya kegiatan kecil dan
tak berarti apa-apa di kancah perpuisian Indonesia.
Dokumentasi karya cipta puisi ini berbeda dengan
kegiatan lain. Adalah salah satu diantara sekian
banyak kegiatan yang berupaya agar puisi tetap
digemari dan dipertahankan, sebab bagi Lumbung
Puisi, puisi itu sangat penting bagi pengisi hidup dan
kehidupan ini.
------------------
vii
Daftar Isi :
Pengantar Buku.................................................................
Pengantar Antologi...........................................................
1.Adelia Dwi Cahyani : Ayahku;Mamaku.................
2. Agus : Jadi Indonesia itu Harus Serius................
3.Alek Brawijaya:Kecapi Bidad(a)(u)ri....................
4.Aloysius Slamet Widodo:Puisi Irit Kata................
5.Aloeth Pathi : Negeriku Berpuisi; Negeriku
Berpuisi II..............................................................
6.Ancis Mura : Bersetubuh.......................................
7.Anggoro Soeprapto : Gigi ;Negeri Asem Kranji....
8.Arfian Catur Juliarfan: Ceritakan Indonesia;
Catatan Si Boy.......................................................
9.Arfian Rizky Pratama: Pemilu di Rimba...............
10.Arizto Rianthoby Thextc: Pejabat Yang
Gembira ( Tertawa ); Jangan-jangan.................
11.Arya Setra: Opera Cicak.......................................
12. Asrul Irfanto: Celoteh tentang Sebuah
Negeri; Negeri Jenaka........................................
13.Astika Elfakhri: Smartphone dalam Satire;
Rokok Kretek….....................................................
14.Bambang Widiatmoko: Sa‟i; Kuatrin Kualat........
15.Buanergis Muryono: Pagi-pagi Sudah Macul.......
16.Bunga Citra Perdana : Angkot Kepayang.............
17.Brigita Neny Anggraeni:Yang Punya Siapa;
Indonesia Hebat, Tapi Lucu...............................
18.Ceissar Sihotang : Jantung-jantung Ibu
Kota; Negeri Anarki.............................................
19.Chalvin Papilaya : Tidak Lucu tentang Tuhan....
20.Denis Hilmawati: Mari Makan.............................
21.Dewa Sahadewa: Cinta Satu Minggu....................
22.Diah Natalia : Langkah Indonesia.......................
23.Dicky Armando, S.E. : Menukar Nasib................
24.Dwi Nurul Idayanti : Ibu Pertiwi.........................
25.Elok Faiqotul Hima: Malang................................
26.Fahad Fajri : Penyair abal-abalan........................
viii
27.Fajar Chaidir Qurrota A‟yun: Negeri Cekikikan..
28.Fian N :Negeri Kita Loecoe.................................
29. Fathurossi : Negeriku; Lucunya Negeriku.........
30.Funuun A.B.M: Negeri tuyul...............................
31.Ghofiruddin Alfian: Negeri Pilin Pelan...............
32.Gilang Teguh Pambudi: Sajak di Atas Meja;
Ternyata Kita Butuh...........................................
33.Hafizhah Nurdini: Tisu........................................
34.Harkoni Madura: Di Depan Podium Bersanggul
Mikrofon; Kidung Menjelang Kampanye............
35.Hasan Bisri BFC: Alangkah Damai Negeriku;
Ganti Presiden.......................................................
36.Heru Mugiarso: Ironi dalam Amplop Riswah......
37.Ihya Maulida: Makan Nasi....................................
38.Iskandar Zulkarnain: Negeri Tua.........................
39.Iwan Bonick: Pagi Hari Aku Baca Koran Bekas;
Ketika Indonesia itu Lucu.....................................
40.Khoerun Nisa: Cinta Zaman New.........................
41.Lailia Nurul Fauziah: Stand Up Wakil Rakyat......
42.Lina Kus Dwi Sukesi: Padiku Menguning............
43.M.Asep Saypulloh: Drama Penguasa..................
44.M. Rofiqi Fahmi HR: Sebatas Mimpi..................
45.Maman Empun: Nelayan Tanpa Kail..................
46.Marlin Dinamikanto: Di Taman Sarinya.............
47.Masimus A. L. Sawung: Cinta Pembantu..............
48.Miftahur Rahim: Indonesia Katanya Lucu............
49.Moh. Zainudin: Ada yang Serius, Ada yang
Main-Main.............................................................
50.Moh Zaini Ratuloli: Kopi Dingin..........................
51.Mohammad Ikhsan Firdaus: Ibu Pertiwi…...........
52.Muhammad Daffa: Indonesia yang Lucu.............
53.Muhammad Fawaz : Indonesia..........................
54.Mukhlisin: Jangan Sabar Di Sini........................
55.Muttaqin Haqiqi: Senandung Palu.....................
56.Naafi‟ Fitriani Sri Sundari: Sekedar Mimpi........
57.Najibul Mahbub: Maafkan Kartini......................
ix
58.Nazil : Ini Lucu?..................................................
59.Nita Pujiasih: Siapakah dikau?...........................
60.Nurholis: Pusingan Secangkir Kopi....................
61.Nur Komar: Nasib Berbeda.................................
62.PEmppy C S: Dalam Batok Kepalamu................
63.P.Lugas.N: Jadi Turis.........................................
64.Pranaja Akbar Suranto: 50 Ribu.........................
65.Purnama Sari: Aktor Manis nan Lucu.................
66.Raden Rita Maimunah: Wong Cilik.....................
67.Raditya Andung Susanto: Menonton Televisi;
Selamat datang di Indonesia...............................
68.Rahmat Akbar : Di Negeri Seribu Wajah.............
69.Rahel Tambun: Kerinduan.................................
70.Raidhatun Ni‟mah: Dalam Diri Kita; Peragu......
71.RB. Edi Pramono: Sang Raja; Impor Lucu..........
72.Riki Utomi: Badut-Badut Negeri.........................
73.Rizki Andika: Indonesia Menonton Bioskop;
Warisan................................................................
74.Rizky Saputra: Negriku Amat Lucu.....................
75.Rizqy Fajarreza: "lelucon negara"......................
76.Roni Nugraha Syafroni: Kicauan; Racun.............
77.Roymon Lemosol: Mengejar Mimpi….................
78.Sami‟an Adib: Menunggu Badai Berlalu..............
79.Sang Agni Bagaskoro: Riang Penjual…................
80.Sapin Ahmad: Orang
miskin.............................................
81.Septiannor Wiranata: Hukum di Negeri..............
82.Sarwo Darmono: Lucu Ning Ora Lucu................
83.Sigar Aji Poerana: Di Mana Antremu?;
Mudahnya Cari Makan dan Jabatan..................
84.Siti Faridah: Lucu, Tapi Bukan…........................
85.Siti Fatimah Suwito: Ih Kok Gitu; Galau.............
86.Siwi Puji Rahayu: Narasi Tanah Indonesia........
87.Snta Ayuning Tyas: Indonesia Negara Siapa?....
88.Soekoso DM: Di Negeri Dagelan; Kontes
Kentut...................................................................
x
89.Sokanindya Pratiwi Wening: Tiang Listrik.........
90.Sri Budiyanti: Berita dari Negeri Tetangga..........
91.Sri Sunarti: Aku masih berdiri ;
Negeri Impor.......................................................
92.Syaiful B. Harun: Sebentar Merah; Di Negeri
Mati....................................................................
93.Syahriannur Khaidir: Njentit.............................
94.Sus S. Hardjono: Negeri Panggung....................
95.Tarni Kasanpawiro: Berebut Piring;
Dari Sudut Beranda...........................................
96.Tajuddin Noor Ganie: Kasus Batubara..............
97.Tri Munawaroh: Indonesiaku Lucu....................
98.Virna Mutiara Wahyu: Negeri Jenaka................
99.Vitalis Koten: Tuan Pemimpin (untuk pemimpin
asal-asalan); Bayanganmu.....................................
100.Wadie Maharief : Plonco.....................................
101.Wage Tegoeh Wijono: Utang..............................
102.Wahyudi Abdurrahman Zaenal: Mbeling..........
103.Wardjito Soeharso: Jika Duit…..........................
104.Wirol O. Haurissa: Komenin..............................
105.Yan Ari Wibowo: Hiburan Tanpa Rencana........
106.Yanu Faoji: Orang-Orang yang Tertawa............
107.Yemi Alfiani: Negeri Para Pendongeng;
Syurga yang Membuat Sengsara.......................
108.Yoseph Yoneta Motong Wuwur: Ingin
Tertawa; Negeri Mimpi.....................................
109.Yuri Rakasiwi: Keseharian Negriku...................
110.Zam'sta /Moh. Rikzam: Negeri yang Lucu;
Negeri Mimpi.......................................................
xi
Bukan Menertawai Negeri Sendiri,
Cuma Kegugu
Penyair Lumbung Puisi Jilid VI diwarnai dengan
penyair-penyair kawakan dan juga mereka yang
berusia muda. Tema Indonesia Lucu yang sengaja
mengangkat puisi dengan pembangkit apresiasi
ekspresi pembaca senyum, tertawa, gembira tetapi
juga kegugu ini mendapat sambutan hangat dari
para penyair ternama dan juga yang baru muncul di
dunia kepenyairan.
Puisi dengan tema lucu memang tak sekedar
asal membuat puisi tetapi bagaimana membuat puisi
itu membangkitkan tertawa sungguh bukan hal yang
gampang.
Tampaknya itulah yang membuat antologi ini
penuh tantangan. Ternyata membuat puisi dengan
tema lucu memerlukan kepiawaian seorang penyair
dalam meramu kata-kata.
Penyair-penyair tak asing seperti Aloysius
Slamet Widodo, Wadie Maharief, Soekoso DM,
Wage Teguh Wijono, Bunergis Maryono,
Syahriannur Khaidir, Arya Setra, Gilang Teguh
Pambudi, Masimus A. L. Sawung, Iwan Bonich,
Wardjito Soeharso, RB Edi Pramono, Bambang
Widiatmoko, Arya Setra, Dewa Sahadewa, Sarwo
Darmono,Wahyudi Abdurrahman Zaenal, Tajuddin
Nur Ganie, Sri Sunarti,Tarni Kasanpawiro, dan lain-
lain menurunkan puisi-puisi yang patut mendapat
apresiasi gemuyu nasional.
Di samping itu, penyair lainnya juga tak kalah
dalam mencipta. Bahkan ada diantaranya yang
mampu nenyuguhkan puisi tidak saja sesuai tema
tetapi juga sangat lucu dan memberikan kekuatan
xii
terhadap antologi ini yang benar-benar Indonesia
Lucu. Mari kita lihat beberapa culikan karya
mereka. Ternyata penyair Indonesia itu mampu
mencipta segala tema.
Kita mulai dari Plonco Karya Wadie maharief:
Kita kenal sejak masuk SMA
Kita sama-sama diplonco
Aku diberi nama oleh senior; Kambing
Kau diberi nama; Melati
teman-teman lain ada yang diberi nama kelinci.
tupai, monyet, soka, kamboja, melur
nama-nama dipampangkan di dada
plonco yang meriah
meski sering dibuat susah dan payah
minta tandatangan dilempar sana-sini
tetap tabah....//
Aloysius Slamet Widodo, penyair dari Jakarta
menampilkan Puisi Irit Kata :
1.
Puisi Malam Pertama
“Aduh”
2.
Puisi Tengah Malam
“Sate”
3.
Puisi Pagi Buta
“Bruuut”
4.
Puisi Diatas Jamban
“Plung”
5.
Puisi Istri Untuk Suami
“Mas …permintaanku hanya satu
xiii
……..semuanya !”....//
Sedang Soekoso DM mengatakan dalam puisinya
bahwa kini di Indonesia seperti :Kontes Kentut,
berikut cuplikannya:
cerrrt cerrt cert! – di kamar mandi keluarnya seret
: ssst, rejeki bakal mampet
thut thut thuuut! – di tempat umum aromanya kecut
: huss, dompetnya makin butut
pruup pruup pruup! – di kantorkantor amisnya
terhirup
: dhuh, jelas ada yang dikorup
kentut ooh kentut!
sosok tanpa wujud bisa bikin cemberut
– kalau tak keluar bisa bikin sakit perut
bless bless bless – di pasar baunya makin bikin gemes
: whess ewhes, nasibnya bakal ambles....//
Di puisi selanjutnya dalam Di Negeri Dagelan:
di negeri dagelan orangorang berjingkrak di altar
licin
sebebasbebasnya mereka menginjakinjak aturan
main
tanpa rasa salah kala menyerobot antrian dan
lampu merah
di tiap tikungan orang mengangkat diri jadi pak-
ogah *)
bertangan dingin menyogok punggawa negeri
menikahi rasuah....//
Selanjutnya Syahriannur Khaidir penyair asal
Sampit semakin unik :
Njentit
Tilik-menilik
Sidik-menyidik
xiv
Utak-atik
Makar di tiang listrik
Pejabat nyentrik
Kartu elektrik
Meja hijau pelik
Hakim bisik-bisik
Pembela usak-usik
Palu tarik-menarik....//
Wage Tegoeh Wijono penyair asal Banyumas
menampilkan Utang
utang itu
kekasihku
mengantarkan daya beli tetap terjaga
sekalipun mengurangi jatah harian
mingguan
atau bulanan
dan utang negara?...//
Penyair selanjutnya Buanergis Muryono menulis
Pagi-pagi Sudah Macul:
Pagi-pagi sudah macul
Nandur Sledri
Ora dadi Puisi
Sing mrambat suket
Eri lan ilalang
Kuguntingi
Agar tumbuh
Bukan puisi
Hanya huruf-huruf terkumpul
Berjumpalitan
Menusuk mata
Berjumpalitan dibaca
Akrobat kata-kata....//
xv
Puisi berikutnya Kuatrin Kualat dari Bambang
Widiatmoko:
Di selembar e-ktp
Tertulis namaku
Tapi lebih dikenal namamu
Setya Novanto.
Arya Setra, tak kalah membuat tertawa selanjutnya
ia menulis Opera Cicak :
Pertunjukan opera cicak
Para pemainnya sungguh kocak
Ada peran berpura pura sakit
Ada peran teraniaya diskriminalisasi
Ada peran merasa paling hebat
Mengangap yg lain tidak ada apa apanya..
Sementara para penonton teriak menjerit karena
harga-harga yang selangit
Dari Semarang Anggoro Soeprapto menulis negeri
ini sebagai Negeri Asem Kranji
Di negeri Asem Kranji
Tokoh masyarakat bernama Karno Karni
Membuat siaran di televisi sendiri
Mengundang teman-teman sendiri
Ngulemi para relasi sendiri
Membuat topik sendiri
Mengulas acara sendiri
Pidato sendiri-sendiri....//
Dewa Sahadewa dari Kupang menampilkan
Cinta Satu Minggu dalam antologi ini:
Senin cinta bersemi melebihi semua taman
warna bunga seolah mengundang
lebah madu dan kupu-kupu bermain.
xvi
Selasa kutulis puisi
kupilih kata paling mesra
kukirim dengan berbagai media
berharap kau semakin merasa.
Rebo katamu aku kepo
kutanya kau ada di mana sama siapa
katamu tak perlu tahu
ya aku rapopo....//
Tajuddin Noor Ganie, memandang lucu Indonesia
dalam kacamata yang dialami di negerinya sendiri,
seperti: Kasus Batubara
Di sebuah provinsi di Indonesia
(Namanya sengaja disamarkan)
Tambang Batubara terbentang beratus hektar
luasnya
Atas nama batubara, tanah dikeruk sedalam-
dalamnya
Setiap hari armada truk gajah membawanya
ke pelabuhan penumpukan
Setiap hari tongkang-tongkang raksasanya
membawanya milir di sungai
Pelan tapi pasti batubara diantarkan
ke alamat konsumen entah di mana
Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan
tongkang ditarik tugboat
Mula-mula melintasi sungai, dan laut
di wilayah negara sendiri,
Kemudian melintasi wilayah laut negara tetangga,
Namun, lucunya aktifitas itu
Tak bermakna social financial bagi warga provinsi
Buktinya, listrik masih nyala bergilir dari hari ke
hari
Padahal provinsi ini adalah lumbung batubara
xvii
Bahan bakar pembangkit listrik itu sendiri....//
Gilang Teguh Pambudi penyair dari Bandung
berbicara : Sajak di Atas Meja
aku lihat dia
ketawa Indonesia
pecah
airmata dangdutnya
sampai ketahuan juga
sesungguhnya dia
sedang tidak bisa ketawa....//
Penyair lain dari Bekasi Iwan Bonick menulis :
Pagi Hari Aku Baca Koran Bekas
Sambil duduk di bale teras tetangga
Ada berita dengan tulisan besar
Pejabat pemerintah tertangkap tangan
menerima suap
Siang hari selesai makan siang
Kiriman rantang
Aku dengar berita di radio
Pejabat pemerintah kena razia pekat
di hotel berbintang
Malam hari melepas lelah
Duduk bersila
Diruangan tanpa jendela
Melihat kabar berita televisi
Pejabat pemerintah tertangkap sedang pesta
narkoba...//
Masimus A. L. Sawung penyair asal Maumere
berscerita tentang Cinta Pembantu
Kulitku begitu terasing dari jemari ibunda
Keningku kering menunggu kecupan basa bibirnya
xviii
Tak ada bisikan cinta pada telingaku.
Ibundaku pergi, sebelum sempat kata selamat pagi
terucap.
Bibirku kaku mengeja kata mama,
Sebab saat aku tercipta bersama pagi ibunda telah
hanyut bersama
Deru mesin ibukota....//
Heru Mugiarso penyair asal Semarang mencatat
Ironi dalam Amplop Riswah
Ia mengemasi sujud dan doanya untuk Tuhan
ia menadahkan tangannya bagi lidah dan perutnya
beberapa lembar uang bergambar dunia
terselip di kocek
lalai ayat-ayat kitab suci yang dihafal
dan digumamkannya....//
Sahabat Penyair dari Flores Zaeni Boli menulis Kopi
Dingin :
yang keras roti roti
roti milik kami
dan angin pun pergi
pergi mencari nasibnya sendiri
Ruth berceritalah pada kami
mengapa bendera harus di beri air seni
lalu kau tinggal pergi ....//
Kemudian, Wahyudi Abdurrahman Zaenal dari
Pontianak mencatat Mbeling
Mereka itu lupa kalau polahya kayak tikus
Blusukan mencari ruang yang banyak upeti
berbungkus
Edan memang, lahan-lahan sempit pun sekarang
diperebutkan (poli)tikus
xix
Lemot gaya otak picik lihai mainkan jurus
Ingin kaya ikuti jejak para tikus….
Wardjito Soeharso dari Semarang menegaskan
Jika Duit Sama dengan Kekuasaan, Maka …
Jika duit sama dengan kekuasaan
Punya duit punya kekuasaan
Punya kekuasaan punya duit
Tak berduit tak berkuasa
Tak berkuasa tak berduit
Orang berduit tentu berkuasa
Orang berkuasa tentu berduit
Orang tak berduit tentu tak berkuasa
Orang tak berkuasa tentu tak berduit....//
RB. Edi Pramono mencatat kelucuan lain di negeri
ini berjudul Impor Lucu
alangkah lucunya negri ini,
aih, entahlah lucu atau ngeri
setelah berbagai subsidi dicabuti
tax amnesty malah menyasar rakyat kecil dalam
negri
ada wacana impor guru besar untuk perguruan
tinggi
impor sapi ditambahi
impor uang semakin tinggi
impor beras saat panen raya terjadi
impor garam tiba-tiba sudah terjadi
di Madura, garam lokal bergunung menunggu
pembeli
sekarang impor perdana cangkul untuk petani
haiyaa, jangan jangan sebentar lagi akan impor
ideologi
hihihihihi....//
xx
Menyinggung soal impor, Sri Sunarti dari
Indramayu yang juga menulis : Negeri Impor
terik menerpa jalanan tak bertepi
di antara ayunan langkah laki-laki bertelanjang
dada
menuju pematang menjemput asa
di antara tumpukan jerami yang terangkum
di setiap musim tiba
tapi semua melimpah di negeri subur penuh hasil
bumi
sementara ia tak kuasa melawan regulasi impor
beras
yang menggilasnya
di jargon negeri kaya swasembada pangan....//
Akhirnya betapa Lucunya Indonesia ini, rupa-rupa
lucu dalam kaca mata penyair yang memang
merupakan alat rekam kehidupan di Indonesia
dalam seni bahasa.
Tentu masih banyak lain penyair menulis bagus
puisi di antologi ini, dan tak dapat disoroti satu
persatu. Akhirnya dari Kebumen penyair Tarni
Kasanpawiro menulis : Berebut Piring, dan Sarwo
Darmono dalam geguritannyamenuloi Lha...Piye leh
ra Lucu, untuk menutup pengantar ini:
Jari saling tuding
Gigi menjelma taring
Semua terlihat miring
Saling berebut paling....//
(Tarni kasanprawiro)
Sarwo Darmono:
Lha… Piye Leh ra Lucu , Sing Blaka malah ora
dipercaya
xxi
Sing Blaka dikuya kuya , Sing Blaka dianggep
Cidro
Sing Blaka dianggep Mung Golek Asmo
Embuh Ora Weruh , Iki Lucu apa ora
Isone mung ngguyu , Ngguyu sing ora Mutu
Semoga pembaca budiman terhibur dengan antologi
ini.
(Rg Bagus Warsono, Kurator di HMGM Indramayu,2018)
xxii
1.
Adelia Dwi Cahyani
Ayahku
Suaminya mamaku
Ayahnya kakakku
Ayahnya adikku
Ayahku..................
Anaknya kakekku
Anaknya nenekku
Ayahku
Kaulah ayahku
Adelia Dwi Cahyani
Mamaku
Mamaku...
Istrinya Papaku
Anaknya nenekku
Anaknya kakekku
Mamaku....
Saudaranya Tanteku
Saudaranya Pamanku
Tantenya Sepupuku
1
2.
Agus
Jadi Indonesia itu Harus Serius
Lihatlah anak-anak berlari bersama bolanya
Ia tertawa bersama kawannya
Di atas jalan ia membuat gawang kecil dari sendalnya
Dan tidak ada yang perlu dikwatirkan mereka pasti
tertawa
Dan lihatlah ada anak yang satunya diam sebagai
penonton
Agar ini benar-benar menjadi laga
Sebelum permainan berhenti
Anak yang menonton itu kebelet pipis
Lalu tanpa ampun dan tanpa sia-sia
Ia lalu membuka kancin celananya dan pipis di yengah
jalan
Setelahnya jalan hitam itu di beri sebuah tanda dari air
kencinnya
Ia menuliskan “ kami benar-benar merdeka kami bias
bermain bola
Dan pipis di mana saja termasuk di jalan raya”
Tapi aku tak yakin semua itu adalah air kencingnya
Sebagian besar pasti air matanya!
Pangkep, 18 april 2018
2
3.
Alek Brawijaya
Kecapi Bidad(a)(u) ri
Alunan merdu terdengar di kedua telingaku
Saat kecapi itu berdawai dalam ketenangan
Di antara hamparan hijau padi yang bertunas
Aku terhanyut dalam alur angin
Terasa terbang ke nirwana
Menemuai para bidadari dan menyunting seribu istri
Aku terlalu menikmati indahnya surga
Air jernih yang mengalir ditelapak kakiku
Membasuh segala noda yang melakat didiriku
Bahkan airnya bisa ku minum sepuasnya
Demi melepaskan dahaga dunia
Setelah itu aku meminta sayap
Agar bisa terbang kemana saja
Dan hebatnya ketika sayap ku mandikan air sumur suci
Kuciptaka jutaan malaikat untuk membangun
singgasana jannah
Semakin tinggi semakin merdu alunan itu
Meski terdengar dari kejauhan
Suara ibu memanggil dari bilik pintu surga
Yang katanya di sana terdapat jutaan manusia
Yang hanya bisa memakan daging busuk
Serta bermandikan kegersangan sang dunia
3
Aku tidak peduli,
Karena surga yang tercipta dari kepakan sayapku
Merupakan tumbal yang memerlukan jutaan jelata
Meski ibuku memangil dan menggigil.
4
4.
Aloysius Slamet Widodo
1.
Puisi Malam Pertama
“Aduh”
2.
Puisi Tengah Malam
“Sate”
3.
Puisi Pagi Buta
“Bruuut”
4.
Puisi Diatas Jamban
“Plung”
5.
Puisi Istri Untuk Suami
“Mas …permintaanku hanya satu
……..semuanya !”
6.
Puisi Suami untuk Istri
“Tak apusi!”
5
7.
Puisi Suami Takut Istri
“Sing waras ngalah!”
8.
Puisi Penganten Wanita Malam Pertama
“Kenapa nggak dari dulu”
9.
Puisi Pengantin Priya Malam Pertama
“Belum masuk sudah keluar!”
10.
Puisi Manula
1“Djie Sam Su”
2 jam pemanasan
3 menit berdir
4 minggu baru bias
11.
Puisi Manula 3
“Biar lambat sudah tak muncrat !”
12.
Puisi LGBT 1
“Kucingku dimana?”
6
13.
Puisi LGBT 2
“Minak jingo ,
Miring penak,
Nungging monggo
14.
Puisi Saiful Jamil
“Hap…………..”
15.
Puisi Seorang Poligator
“kawin kedua lebih susah dari kawin selanjutnya”.
16.
Puisi Seorang Interpreneur
“Sebelas duabela…..
Sebelas kali jatuh , dua belas kali bangkit “.
17.
Puisi Seorang Agamawan
“Agama itu Cinta”
18.
Puisi Dimas Kanjeng
“Aku bias menggandakan uang, sekaligus menjandakan
orang.”
7
19.
Puisi Cita Citata
“Sakitnya Tuh Disini”
20 .
Puisi Gatot Brajamusti 1
“Aspat!”
21.
Puisi Gatot Brajamusti 2
“treessome”
22.
Puisi Sebuah Mobil Tinja
“Rejekiku dari Silitmu”
23.
Puisi Para Pelaut
Di laut kita Jaya
Di darat kita buaya
24.
Puisi Menutup Aleksis
“gratiskan .. nanti tutup se [<<>>].
8
5.
Aloeth Pathi
Negeriku Berpuisi
Politisi berpuisi
Rakyat berpuisi
Presiden berpuisi
Oposisi berpuisi
Ketika semua berpuisi
Beberapa penyair meng-Amin-i
Sambil memegang erat puisi-puisi itu di dadanya
Karena mereka menulis puisi dengan ketulusan
Karena mereka membaca puisi dengan kejujuran
Karena mereka mencipta puisi dalam keadaa
spesial
Ketika semua berpuisi
Beberapa penyair berkumpul di taman kota
Bicara tentang syair mereka
Ada yang mengkritik
Ada yang menghakimi
Ada yang menganggap biasa saja
"Ah itu pencitraa, hanya kamuflase mencari
dukungan"
Ketika semua berpuisi
Seorang penyair tersenyum
sambil memeluk erat puisi-puisi itu
Berharap syair itu
menjadi do'a yang terkabulkan
menjadi nasehat menyongsong hari esok
9
Menjadi pembuktian dari janji- janji
menjadi semangat kebaikan bersama. Semoga
Sekarjalak 17 April 2018
Negeriku Berpuisi II
Mantan pejabat dihari tua ingin ber Syiar kebaikan
Politisi menganggap orasinya adalah syair indah
Pendakwah bersyair mengutip ayat-ayat Tuhan
Petani melihat sawah menguning adalah syair rasa
syukur
Lalu
Koruptor latah berpuisi dibalik jeruji
Pegawai nakal berpuisi sehabis mencongkel jendela
kantor
Pencuri ayam berpuisi setelah dikeroyok massa
Para PKL berpuisi ketika Satpol PP menggusur
lapak jualan
Percayalah !!
Seorang Penyair tak akan menjadi penyihir
Tidak menjadi nyinyir dan kikir
Penyair akan terus bersyair dan bersyiar
Sekarjalak, 17 April 2018
10
6.
Ancis Mura
Bersetubuh
(Ranjang Demokrasi yang Acak-acakan)
Sajakku bergerilya
Menjelajahi lekuk lekuk tubuhmu
Dan aromamu tak perna menyudahi
Birahi yang membuncah
Meletup letup
Ingin
Inginku taklukan sendi-sendimu, dengan tombaku
yang selalu kau anggap tumpul tuk lubangi
nikmatmu
kau tak jua ambruk.
Berbagai gaya dan posisi telah ku coba
Tetapi kau terlalu kokoh tuk ku taklukan
Birahimu meletup lagi
tiada henti
hingga tiang listrikpun kau gagahi
kali ini ku yakin kau tersengat racun
yang ku oles di ujung tombakku
kau mengerang
merintih sakit di pojok ranjang yang acak acakan
aku tersenyum puas
melihat kedua bola matamu nyaris terbalik
akhhhh...
kita sama sama mengerang
kau kesakitan
aku kenikmatan
di pojok ranjang yang acak acakan
melihatmu meratapi diri yang tidak suci lagi
11
seperti belia lepas perawan
kau menangis
Meski ku tahu
Air matamu lebih didominasi
Air mata buaya
( Maumere , November 2017)
12
7.
Anggoro Soeprapto
Gigi
Seperti hari yang lalu
Kau hubungi aku tanpa ragu
"Jadikah kita ketemu?"
Katamu bungah tanpa susah
Aku tahu karena saat kau kontak
Lewat WA ada simbol gembira
Emoji yang menggambarkan
Orang tertawa
Sebagai manusia yang hidup
di zaman milenia yang guyup
Lama kita kenalan di dunia maya
Tanpa ketemu hanya saling sapa
Hari ini cerah
angin bertiup sumringah
Kau ngajak ketemuan di mall
Di tengah pusat kota
Membayangkan tubuhmu sentosa
subur bahenol
Seksi penuh aksi
Aku pun berangkat tergesa-gesa
Aku pakai baju kuning ya?
Katamu lewat WA
O, dunia berbunga-bunga rasanya
Angin sumilir cuaca indah
Daun-daun Angsana luruh
iringi perjalanan hati gemuruh
Berdebar saat mall dimaksud kutemukan
Kau menunggu di pintu masuk duluan
Seperti kau janjikan
berbusana kuning gading
13
Memang segera kutemukan
Aku mendekat dan bersalaman
Betul dugaanku, gadis cantik
Sangat menarik
Tapi ketika tawamu mengembang
Aku hampir pingsan
Gigimu berlapis perak penuh kawatan
Keclap, tertimpa sinar menyilaukan
Buru-buru aku minta maaf
Bilang salah orang dan pulang
Semarang, April 2018
Negeri Asem Kranji
Di negeri Asem Kranji
Tokoh masyarakat bernama Karno Karni
Membuat siaran di televisi sendiri
Mengundang teman-teman sendiri
Ngulemi para relasi sendiri
Membuat topik sendiri
Mengulas acara sendiri
Pidato sendiri-sendiri
Berdebat sendiri
Lalu disiarkan seluruh negeri
Lalu saling menjebak sendiri
Saling mengintai sendiri-sendiri
Saling mengecam dan mendebat sendiri
Endingnya, kemana lagi kalau tidak lapor Polisi?
Hihihi...
Semarang, April 2018
14
8.
Arfian Catur Juliarfan
Ceritakan Indonesia
Negara merdeka, katanya ?
Tapi seperti bingkai tak berfoto
Dipajang, dilihat banyak pasang mata
Ribuan bahkan jutaan bertanya : tanpa foto ?
Kakek tua berbisik “sudah hilang”
Datang anak kecil “ahahahaha” tertawa tanpa tahu
sebab
Aneh tapi lucu
Si kakek kemudian murung
Si anak terdiam dan penasaran
“kenapa kek ?” Dengan polos anak itu
“benar-benar hilang” suara gemetaran kakek
Lalu bernyanyi
“sambung-menyambung menjadi satu itulah . . .itulah
yang hilang”
Makassar, 10-11 maret 2018
15
Arfian Catur Juliarfan
Catatan Si Boy
Petang di bulan kedua
Darah dan air mata
Menggumpal jadi bata
Serbuk mimpi yang terbawa
Terkubur di hari ke empatbelas
Penghabisan gelas demi gelas
Sendiri dalam perenungan
Bukan untuk dirayakan
Ini indonesia boy
Semakin kau bersedih
Akan banyak yang menertawakan
Ingat, valentine bukan budaya kita
Makassar, 13 maret 2018
16
9.
Arfian Rizky Pratama
Pemilu di Rimba
Lihatlah pemilu di rimba
Saat Singa betina menjadi calon tunggal
Namun, datanglah Srigala sok gagah
Berpura-pura jadi sang lawan
Sebenarnya kolega singa
Sebelumnya Singa betina memang penguasa, Tahta yang
diwariskan dari sang jantan
Semua bisa tak ketahuan, karena pengawasnya sang
Macan
Haik,cuh. jelas, Masih sejenis Kucing raksaa
Pemilihnya para ayam
Mereka sudah sangat paham
Siapapun yang jadi pemimpinnya
ayam tetaplah jadi mangsa
17
10.
Arizto Rianthoby Thextc
Pejabat Yang Gembira ( Tertawa )
Ketika matahari malu-malu muncul
Sinarnya yang begitu hangat memancara menerpa kulit
Terdengar suara-suara yang tertawa gembira
Ya....itulah mereka para pejabat yang tertawa gembira
menyabut sinar itu
Apakah maksud dari ke-gembiraan itu?
Apakah para pejabat itu gila? Ataukah hanya ekting
belakah agar dapat bermain filem
Ataukah negeri ini memang lucu untuk di tertawakan?
Ya...itulah kelakuan para pejabat dinegeri kita ini
Begitu mirisnya merekah Sungguh perilakau yang tak
pantas untuk seorang pejabat dinegeri ini
Inilah cermin orang-orang yang kita percya untuk
membangun bangsa ini begitu lucunya mereka
Dari: "Ama Balikoli" 31 Jan 2018
Jangan-jangan
Jangan jalan didepanku...aku gak keliatan
Jangan jalan dibelakangku...aku bukan bodyguardmu!
Jangan jalan disampingku...karna disampingku ada
jurang....
18
11.
Arya Setra
Opera Cicak
Pertunjukan opera cicak
Para pemainnya sungguh kocak
Ada peran berpura pura sakit
Ada peran teraniaya diskriminalisasi
Ada peran merasa paling hebat
Mengangap yg lain tidak ada apa apanya..
Sementara para penonton teriak menjerit karena harga-
harga yang selangit
Ada pula yang mencibir karena tidak puas atas
pertunjukan nya
Dan ada juga yang terdiam seakan pasrah akan akhir
cerita..
Sementara diriku....
Haruskah aku tertawa, menangis atau terdiam melihat
kenyataan yang ada ???
Jakarta 27 maret 2018
19
12.
Asrul Irfanto
Celoteh tentang Sebuah Negeri
Sumbang
Tak merdu tembangmu terngiang di telinga
Liriknya getir becerita
Tentang jerit anak-anak yang lapar
Di tengah lautan padi yang luas terhampar
Pilu
Nada lagumu menyayat kalbu
Melantunkan kisah sendu
Tentang barisan penganggur
Diantara pabrik-pabrik yang tumbuh menjamur
Engkau pengamen kecil
Dengan baju dan nasib yang sama dekil
Berceloteh tentang sebuah negeri
Dengan kisah indahnya yang tak terperi
Layaknya sandiwara di layar televisi
Negeriku, negerimu, negeri kita dan mereka
Tempat lahir dan kelak nanti kita tiada
Yang semestinya kita jaga dengan penuh cinta
Bukan untuk dibenamkan bukan pula dihancurkan
Dengan kepongahan dan keangkaramurkaan
Bojonegoro, 8 Maret 2018
20
Asrul Irfanto
Negeri Jenaka
Mari berpantun
Bolehlah tanggalkan sedikit santun
Berceloteh tentang sebuah negeri
Tempat kita berpijak dan kelak mati
Negeri para cendikia yang berlagak pandir
Pongah bertingkah kesampingkan pikir
Bermain peran layaknya sandiwara
Mengundang tawa meski sebenarnya tak jenaka
Negeri para pendusta
Dimana para pemimpin tak lagi dapat dipercaya
Lantang bersuara berkoar tentang keadilan
Riuh bergemuruh propaganda tentang kemakmuran
Bersilat lidah atas nama rakyat
Berpacu berlomba menjadi yang terhebat
Namun semua hanya janji palsu
Terukir indah dalam harapan semu
Keadilan hanyalah gurauan
Kemakmuran sekedar kelakar picisan
Bojonegoro, 1 November 2013
21
13.
Astika Elfakhri
Smartphone dalam Satire
apakah lantaran gelombang radio yang lamban
atau karena asap kendaraan yang berlebihan
mereka dibuat gelisah dan kebingungan
mereka berhenti di tengah jalan
mereka tontoni harta benda orang ludes di tengah
kebakaran
seraya mereka hunus ponsel-ponsel canggih
benda yang serakah pada berita dan sensasi
peranti yang sepanjang hari terus memperbarui diri
tapi tak pernah bisa
memperbarui kekolotan mereka terhadap darah dan
musibah
mereka sumbat jalan raya
dan secepat cahaya mereka wartakan rekaman bencana
dibumbu kutipan-kutipan ilahi
tanpa menyadari kehadiran mereka menghambat
evakuasi
Kampus Baru, 2017
Rokok Kretek
bila dihisap pria
bunyinya kretek
bila dihisap wanita
bunyinya kritik
Kendari, 2018
22
14.
Bambang Widiatmoko
Sa’i
Jika ada jamaah Indonesia
Menunaikan ibadah haji
Ataupun Umrah
Lantas melakukan Sa‟i
Napak tilas di zaman Nabi
Berjalan kaki dari bukit Marwah
Ke bukit Safa
Tapi menyelinginya dengan bacaan
Sila sila dalam Pancasila
Itulah Indonesia.
2018
Kuatrin Kualat
Di selembar e-ktp
Tertulis namaku
Tapi lebih dikenal namamu
Setya Novanto.
2018
23
15.
Buanergis Muryono
Pagi-pagi Sudah Macul
Pagi-pagi sudah macul
Nandur Sledri
Ora dadi Puisi
Sing mrambat suket
Eri lan ilalang
Kuguntingi
Agar tumbuh
Bukan puisi
Hanya huruf-huruf terkumpul
Berjumpalitan
Menusuk mata
Berjumpalitan dibaca
Akrobat kata-kata
Di area pentas
Danau
Ladang
Kebon
yang kehilangan sawah-sawah buat kandhang burung
dara.
Rumah petak tiada layak
Seolah rakyat penyakitan
Disingkirkan
Meminggirkan.
Sudahlah
Kumpulin huruf-huruf itu
Jangan ditanam
Mereka enggan jadi buku
Kata-kata itu biarlah jadi rumput
Hak para wedus.
Aku dadi wedus
24
Kowe dadiya truwelu
Keob lan Sapi racukup nyenggut rumput.
Jangan pernah mengeluh
Sejumput daun ubi sudahlah cukup
Begitulah kita bisa hidup.
Belajar tulus bersyukur.
Kaget aku
Ning mburiku asu jugug.
Asu!
Renungan Zaman Pada Duaribudelapanbelas 23
February 2018
25
16.
Bunga Citra Perdana
Angkot Kepayang
Demonstrasi angkot di suatu hari
Dan ternyata lebih dari satu hari
Membuat hidup para pejalan kian membingungkan
Hanya karena jasa angkutan baru masuk kota
Padahal, tak ada kaitan sama sekali
Dengan mata pencaharian para sopir angkot
Saya jadi bertanya penuh rasa heran
Mereka, sadar atau lagi kepayang?
Untuk hidup, mereka butuh uang
Tapi, mogok memutar roda angkot
Selama beberapa hari dan lebih dari satu kali
Malang, 4 April 2018
26
17.
Brigita Neny Anggraeni
Yang Punya Siapa
Yang punya rendang, jengkol, pete
ya Indonesia
Yang punya tradisi mudik
ya Indonesia
Yang punya istilah kerokan
ya Indonesia
Yang punya komodo, tapir
ya Indonesia
Yang punya batik, keris, wayang, gamelan
ya Indonesia
Yang punya dagdut, keroncong
ya Indonesia
Yang punya pencak silat, debus
ya Indonesia
Yang punya dokar, becak
ya Indonesia
Yang punya Borobudur, Prambanan
ya Indonesia
Hanya Indonesia
Masihkah kau tak bangga.
27
Brigita Neny Anggraeni
Indonesia Hebat, Tapi Lucu
Indonesia hebat, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
dan impor beras pun masih jadi andalan
Indonesia hebat, pemegang kekuasaan kedaulatan
rakyat
tapi rakyat masih melarat, dan dewan kursi tak takut
kuwalat
indonesia hebat, berbagai suku, budaya, agama hidup
berdampingan
namun demp-demo golongan semakin banyak, dan
mencari perhatian
28
18.
Ceissar Sihotang
Jantung-jantung Ibu Kota
Simpul dasi yang hampir mencekik tuannya
Mengintip dari balik pintu gedung bertingkat
Langkah kaki para pencari yang kesepian
Sama cepatnya dengan detak jantung
Gelandangan yang kelaparan
Berlarian bersama kawan
Sesekali pula menari nari di tengah keramaian
Bibir bibir kering yang tertawa lantang
Menggoda jiwa yang kebingungan
Yang terlalu banyak meng‟iba
Yang sesungguhnya menahan seribu tanya
Mereka bisa melihat bintang dikerumunan,
Sedang aku hanya melihat
Hutan besi di kesendirian.
Mungkin segala yang aku punya
Bukanlah menjadi hal yang mereka pinta
Tapi bisa saja segala yang mereka miliki
Menjadi hal yang terus aku cari.
29
Ceissar Sihotang
Negeri Anarki
Demit demit penuhi pemikiran yang rumit
Orang bersalah menggila meminta keadilan
Mengharap yang tak mungkin didapatkan
Orang orang suci nan sakti
Ternyata hanya pecundang
Yang kelaparan akan sesuap nasi
Kejujuran bagai seorang jelata, terpinggirkan.
Kepercayaan bagai ilmu pengetahuan yang bisa
disalahkan
Kebodohan dijadikan taman bermain
Ini bukan lagi bumi pertiwi
Ini negeri anarki.
30
19.
Chalvin Papilaya
Tidak Lucu tentang Tuhan
Di manakah tuhan?
dan pertanyaan ini adalah kebodohanku
yang pernah hadir sebagai satu kehendak
dalam kefanaan atau ego kebakaanku
tentang keabadian yang tak berkepribadian
Menurutmu, kau telah menemukannya
di dalam rumah ibadah itu, ia sedang tidur di altar
dalam khotbah para lelaki yang tak menjaga tubuhnya
di kitab-kitab yang kau baca dengan kebutaan
bagi jemaat-jemaat tuli yang sok menggumuli
kesuburan
bukankah dari situ pun kau diberi tumpangan tangan
oleh tuhan yang murung dan terkurung
demi kau bisa ke langit jauh dari bumi
Banyak hari adalah hari-hari mimpimu
yang tak kunjung tiba, tak terlaksana bersama ibaan
untuk pergi ke kampung, berdiam di pedalaman
dan berlibur ke pinggiran kota yang busuk
menikmati jawaban-jawaban yang mungkin
barangkali tuhan ada di situ, mungkin dalam kabut
yang dapat mencabut nyawamu secara lembut
31
20.
Denis Hilmawati
Mari Makan
Menjadi tradisi makan bersama
Hampir semua acara diadakan Makan Bersama
Namun kini semakin bervariasi menunya
Semakin canggih tingkat kedudukannya
Mari Makan bersama
Hari ini mau makan apa?
Pilihannya makan dimana?
Paling nikmat Makan Siapa?
Entah apa yang menjadi kamusnya
Makan bersama dalam satu arena
Namun mata melotot pada Gedgednya
Hidangan yang ada tidak mampu memuaskan selera
Lalu mau meneruskan ke mana? Acara makan bersama
tiada pernah usai
Bisa memakan apa saja ,Dunia ada dalam genggaman
tangannya
Begitu besar nafsu angkara, Melebihi besar dunia
Hanya satu cara menghentikannya, masuk liang kubur
parker selamanya.
Bekasi, 01 Januari 2018. Denis Hilmawati
32
21.
Dewa Sahadewa
Cinta Satu Minggu
Senin cinta bersemi melebihi semua taman
warna bunga seolah mengundang
lebah madu dan kupu-kupu bermain.
Selasa kutulis puisi
kupilih kata paling mesra
kukirim dengan berbagai media
berharap kau semakin merasa.
Rebo katamu aku kepo
kutanya kau ada di mana sama siapa
katamu tak perlu tahu
ya aku rapopo
Kemis kau nampak semakin manis
kupeluk kau menangis
Jumat hari keramat
rinduku teramat sangat
tapi aku tak mau bertanya
takut kau bilang posesif amat.
Sabtu waktu kita bercumbu
penuh desah merayu
aku terhanyut sentuhanmu.
Minggu kuhubungi semua kontakmu
tak tersambung satupun
aku termangu
kau seperti ditelan kubur
Ah ternyata Minggu cintamu libur.
33
22.
Diah Natalia
Langkah Indonesia,
Saat palu hakim dipukul
Harga melonjak sepihak
Saat berjalan di trotoar
Anak ada dimuka
Orangtua berlindung diketiak anak
Lebih baik kupilih tidur dari melodrama Mu
Mimpi pun buruk dari tidur-tidur ku
Atau karena tubuh beralas kardus?!
Kulayangkan jemari pada televisi
Wakil-wakil kami mahsyuk
Rapat-rapat mengena rakyat
Rapat yang tak bisa kubaca presentasinya
dan berakhir di ranjang,
Untuk urusan itupun kupilih tidur,
Aku belum baligh tuan,
Belum baligh ternyata kita
Untuk bersendawa kebebasan,
Mengerjap mataku karena debu dari jalan depan
Taklagi bisa tidur,
Kulangkahkan kaki menengok jalan menikung,
Tak tau kemana kaki menjemput ujung,
Kulihat anak-anak bermain
Bertemu salah
Tetapi yang tak salah menjadi salah,
34
Merdekanya mereka...
Perempuan itu nomor 1 di Indonesia
Lelaki tak ada uang pun ditendang
Pun, ekonomi tetap malang
Lain waktu kataku padaku
Lain tempo aku akan bangun
dan melangkah di kondisi yang tepat
When the demons stop to laughing
And all sin has been washed
Merah-Putih
Tumpah darahku
TsimShaSui-HongKong Maret 2018
35
23.
Dicky Armando, S.E.
Menukar Nasib
Jangan jadi orang miskin, Kawan!
Karena fakir dilarang sakit,
disuruh diet pula.
Jangan pula mengeluh soal listrik.
Tak sanggup bayar, cabut saja meterannya!
Perihal makanan apalagi,
daging sapi mahal, telan saja keong sawah.
Selesai urusan.
Tapi mana pula ada sawah lagi,
kalau kebun sawit baru benar.
Besok-besok saya tak mau jadi orang miskin,
mending jadi menteri.
Pontianak, 13 Januari 2018
36
24.Dwi Nurul Idayanti
Ibu Pertiwi
Inilah Ibu Pertiwi
Negeri elok nan permai
Gunung menjulang tinggi
Hamparan hijaunya sawah bumi
Luasnya laut sebgai bukti
Betapa kayanya bangsa ini
Inilah ibu pertiwi
Dinaungi dari berbagai suku
Bersatu membebaskan diri dari belenggu
Demi tegaknya merah putihmu
Wahai Indonesiaku
Inilah ibu pertiwi
Setelah reformasi penduduk negeri
Lupa diri sampai korupsi
Rakyat menjerit tak peduli
Asal senang penuh materi
Krisis multidimensi bukan lagi tabu
Bak sembilu menusuk relungmu
Kejujuran menjadi rindumu
Yang berdasi yang mencuri
Tanpa mencicipi seluk jeruji besi
Betapa lucunya Indonesiaku kini
37
25.
Elok Faiqotul Hima
Malang
Rantai terbentang sepanjang nusantara, semakin ke sini
bertambah erat
Eratnya rantai justru tangan tak lagi saling mengikat
Layaknya kekuatan menyatu, tapi sudah tak ada empati
Berlagak saling menyapa, namun tak lagi peduli
Indonesia mendengar, tapi sedikit yang turun tangan
Indonesia melihat, namun acuh yang terkadang di dapat
Dunia ini begitu rumit dengan segala misteri yang ada
Dunia ini unik bagi mereka yang mau menyimaknya
Padi terhampar di daratan, tapi makan hendak impor
Laut kaya akan kehidupan, namun tak bisa mengolah
Kita kaya dengan menjadi budak dalam kandang
Kita maju di antaranya yang terbuang
Sungguh sayang
Indonesia malang
38
26.
Fahad Fajri
Penyair abal-abalan
Kata ibu, aku kecil bercita-cita terserah tuhan
Melamun adalah kegemaran, kujawab spontan
Sadar duduk dalam ruang ilmu pemerintahan
Berkegiatan acak tanpa disiplin jurusan
Isi kepala berkata berdagang biar dapat uang
sungguhan
Orang bilang jangan, mending masuk partai
keagamaan
Karena berkah dan di surga banyak kenalan
Tapi hati kaget berdebar-debar
Oh, inikah namanya menjadi penyair abal-abalan,
tuhan
Karawang, april 2014
39
27.
Fajar Chaidir Qurrota A’yun
Negeri Cekikikan
Negeri kita tempat kuntilanak.
Tawanya bikin hati terbelalak.
Digelar pertunjukan tukang lawak.
Panggung megah para pelawak.
mereka aktor dan penonton,
Menertawai diri sendiri.
Sementara didekatku,
Orang lebih suka menangis daripada tertawa.
Lebih suka marah daripada bersantai-ria.
Aku mencium perbedaan:
Di depan istana pemerintahan.
Di dalam kota, sesak pembangunan.
Jika tuan dalam ruangan tertawa,
Mereka diluar berkeluh-kesah,
Jika tuan di dalam makan-makan,
Perut mereka keroncongan.
Bila tuan di dalam tertawa, hahaha,
Mereka keluar air mata.
Kalau tuan di dalam berdasi sutra,
Mereka pakai kaos yang tak pernah disetrika.
Bila tuan-tuan tidur nyenyak,
Mereka sesak di dalam kontrakan sepetak.
Dan apabila tuan kedinginam di AC
Mereka telanjang dada membuka jendela.
Jika tuan-tuan gajinya lancar, besar,
Mereka masih menggamit ijazah di kepal tangannya.
40
Jika tuan-tuan di dalam sehat,
Anak mereka tumornya kumat.
Jika tuan-tuan korupsi tak diadili,
Mereka hanya menonton di televisi sambil hati jadi
sensi.
karena baru saja terdengar kabar,
Maling Ampli yang dibakar.
Tuan, terus tertawa.
Aku dan mereka takut kemiskinan juga.
Tuan ini Orang pintar,
Tapi sayang tidak benar.
Tuan ini orang terdidik,
Tapi tak suka hal yang bajik.
41
28.
Fian N
Negeri Kita Loecoe
dan, kau pun mati dihimpit telapak
tanganku
masuk saku baju hilang di saku celana
muncul angka siapa sangka
menunggu yang lain
segera datang
penuh tanda tanya
mau dibawah ke mana (?)
jangan banyak kau tanya
mari kita sama-sama
berebut angka
berebut segala
kita jarah
dapat jatah
soal hukum jangan tanya
bisa dibeli apa saja
juga kapan saja dan di mana pun
yang penting pandai-pandai saja
ini kisah negeri kita
ini „kan loecoe
Flores, 2017
42
29.
Fathurossi
Negeriku
Tertawalah Saat kau
Menatap negeriku
Dan menangislah
Saat kau melihat pelawak negeriku
Lucunya Negeriku
Tertawalah ,
Tersenyumlah,
Bersenanglah,
Selagi masih bisa
Menatap Indonesia
43
30.
Funuun A.B.M
Negeri tuyul
Tugas negara kini jadi bisnis keluarga
Memudahkan komunikasi, lagaknya.
Ada yang diusung jadi bupatinya
ininya jadi tangan kanannya
itunya jadi penasehatnya,
anunya jadi entah siapanya
Belum lagi lain-lainnya.
Jabatan jadi tuyul peliharaan.
Proyek besar-besaran diadakan
Disetujui sendiri hati cekikikan
Anggaran kecil dilebih-lebihkan
Anggaran lebih didiamkan
Dana turun hati kegirangan
Pelaksanaan, dana diminimkan
Selebihnya dibagi ratakan
Laporan sesuai anggaran
Proyek terlaksana semua aman
Uang beranak siap dihambur-hamburkan.
Proyek selanjutnya siap direncanakan.
Tuyul-tuyul siap diedarkan.
Semarang, 2018
44
31.
Ghofiruddin Alfian
Negeri Pilin Pelan
asyiknya hidup di negeri pilin pelan
semua orang hobi memilin dan memelan
kalau mereka jelata, ya untuk mencari keselamatan
kalau berkuasa, ya untuk terus bertahan,
atau agar menanjak status dan jabatan
hidup di negeri pilin pelan
kau tidak butuh prinsip untuk bertahan,
prinsipnya ya itu pilin pelan,
pilin-pilin pelan-pelan,
tapi jangan sampai terpilin
karena lama-lama kau bisa tertelan,
jika tidak mampu bertahan pikiranmu bisa edan
karena terlalu banyak pertanyaan
negeri pilin pelan,
ia adalah potret ideal jaman edan,
jaman edan yang katanya pujangga ronggowarsito
yen ra edan ra keduman,
ya memang seperti itu di negeri pilin pelan,
orang yang waras dan paling bijak
ia hanya akan disingkirkan dari pusaran kekuasaan
(Trenggalek, 24 November 2017)
45
32.
Gilang Teguh Pambudi
Sajak di Atas Meja
aku lihat dia
ketawa Indonesia
pecah
airmata dangdutnya
sampai ketahuan juga
sesungguhnya dia
sedang tidak bisa ketawa
aku merasakan
goyangan pinggul luka-luka
merobek panggung
menjadi dua bahkan tiga
antara sakit hati
dan sesungguhnya menari
sajak di atas meja dibicarakan
kaki di bawah meja digigit ular
jalan kesejahteraan dipertaruhkan
disebut proses kalau kesasar-sasar
Kemayoran, 06112017
46
Gilang Teguh Pambudi
Ternyata Kita Butuh
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan sosial
kata tikus yang mencuri kelapa
dan ular yang meninggalkan bisa pada korbannya
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan ekonomi
kata beruang yang bertapa
depan perapian sampai mati kelaparan
kata harimau yang menghabiskan
sisa makan siangnya
di tengah kerabatnya
yang juga mati kelaparan
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan beragama
kata kadal gurun
yang memahami suhu panas
tetapi lupa pemangsa dan janji Tuhannya
kata srigala malam
yang melupakan kasih sayang bulan
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan berpendidikan
kata induk elang
yang menipu anak itik
sebelum memangsanya
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan bernegara dan berbangsa
kata sekelompok burung jalak
dalam suatu perjalanan cinta
yang melupakan nasib kelompok
dan nasib setiap perut anggotanya
sementara paruhnya bernyanyi-nyanyi saja
47
tentang keadilan hukum dalam berbangsa
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan hidup bersama alam
kata anjing lewat
yang mengencingi tembok-trmbok
menimbulkan bau tak sedap
kata seekor macan
yang merusak sarang pipit
dengan ujung cakarnya
kata sekawanan gajah
yang menginjak-injak kebun sayuran
kata gergaji besi
yang menumbangkan pohon-pohon
ternyata kita butuh kecerdasan dan kedewasan
berbahasa
kata seekor kelinci yang sangat lucu
yang tidak mau mengerti
maksud setiap kalimat
dalam kitab suci
kata seekor ayam
yang bulunya dipakai
mencoret-coret sajak
kata kuntilanak
yang diatas pohon
entah menyanyi,
menangis atau menghina
Kemayoran, 07112017
48
33.
Hafizhah Nurdini
Tisu
Kusyukuri nafas ini
Saat daun gugur tertiup angin
Menyapa tanah pijakanku
Disini
Kutinggalkan jejak semu
Menuju sumber aroma penggoda hidungku
Kupejamkan mata dan berhenti didepannya
Rumah makan....
Kumasuki tempat itu
Bersama orkestra di perutku
Seketika itu
Gagal fokus menghinggapiku
Gulungan putih diatas meja
Lebih dulu mengenal tempat itu
Mendiami tempat khusus untuknya
Dengan senang hati diambil manfaatnya
Tapi yang kutahu
Tisu semacam itu juga
Bertahta di toilet
dan sekarang ia jua
bertahta dihadapanku
Fokusku telah kembali padaku
Untuk apa memikirkan itu
Toh, tidak berpengaruh besar
pada nafasku
49
Aku pulang dengan perut
yang lebih tenang
dan pikiranku tertinggal
pada gulungan putih di meja makan itu
Ambungan, 2018
50
34.
Harkoni Madura
Di Depan Podium Bersanggul Mikrofon
di depan podiom bersanggul mikrofon
seorang juru kampanye berorasi
dengan wajah bermuka-muka
atasnama partai yang diusungnya
dia sesekali berjas sesekali bersorban
hadirin sontak bertepuk tangan
dari bibirnya meluncur teluh kekata menyabda
melampaui fatwa ulama
dia langitkan berpuluh wajah dan nama
seolah tak ada lagi kandidat yang pantas jadi pesaing
buat menandur pertiwi yang berangkat mengering
sebelum orasi berbusa-busa berakhir
kursi-kursi kosong melompong ditinggal hadirin
sebab mereka lelah dikibuli warna-warni panji
yang berkali-kali selalu ingkar janji
Banyuates, 27 Maret 2018
51
Harkoni Madura
Kidung Menjelang Kampanye
di bibir-bibir jalan desa hingga kota
ratusan spanduk bergambar pasangan calon meruah
memagut tiang-tiang listrik dan pepipi tanah
janji-janji menghambur menyekujur
dari yang sejuk juga muluk
hingga mulai balita sampai manula
tak jeda membendung ledakan tawa
hingar kampanye menjalar dan mengubun
serupa kepul kemenyan di gubuk mbah dukun
orang-orang sibuk memilah dan memilih
pasangan calon yang tidak belang, tapi putih
apalagi bakal membikin tanah air pingsan berkali-kali
sebab baginya satu suara adalah pertaruhan
atas amanah titipan Tuhan
Banyuates, 27 Maret 2018
52
35.
Hasan Bisri BFC
Alangkah Damai Negeriku
Alangkah damainya negeriku
Pohon-pohon nyiur indah melambai
Lautan dengan ombak tenang membiru
Dan kokoh gunung-gunung menghijau
Dibungkus selimut awan tipis
O, begitu manis
Betapa damainya negeriku
Berton-ton narkoba datang
Masuk dari pintu-pintu terbuka pelabuhan dan bandara
Sebagian jadi barang haram selundupan yang dilena
Sebagian lagi jadi tangkapan sempurna
Siapa penyelundup, siapa pengimpornya
Tentu bukan orang kita
Alangkah damainya negeriku
Pabrik-pabrik narkoba tegak berdiri
Tumbuh di negeriku seolah-olah sembunyi
Sebentar dibongkar, sebentar kemudian tak ada kabar
Mungkin saja pemiliknya ditangkap dan dipenjara
Bisa jadi benar adanya
Bisa juga akal-akalan saja
Sebagian jadi barang bukti
Sebagian banyak lagi tak tahu rimbanya
Alangkah damainya negeriku
Banyak penyelundup narkoba
Tapi mereka bukan orang kita
Banyak pemilik pabrik narkoba
Tapi mereka bukan orang kita
53
Tapi lihatlah korban-korbannya
Bahkan sebagian banyaknya generasi muda
Mereka pasti orang kita!
Bogor, 21 April 2018
54
Hasan Bisri BFC
Ganti Presiden
Selaksa meme terpampang di media sosial
#2019
Ganti
Presiden
Lalu para petani menyisihkan sebagian uang pupuknya
Lalu para nelayan menyisihkan sebagian uang solarnya
Lalu para ibu menyisihkan sebagian uang belanjanya
Lalu para kiai menyisihkan sebagian uang transpornya
Lalu para eksekutif menyisihkan sebagian kecil gajinya
Lalu para pedagang membuka lebar-lebar mulutnya:
“pakailah kaos ini
Kaos yang akan menyingkap selubung duka sejarah
bangsa
Taruhlah tumbler ini di meja kerja
Kelak anda menjadi bagian penting dari coretan
sejarah bangsa
Pakailah gelang kesayangan ini
Kelak……..”
Sebuah truk lewat dengan bak yang terbuka
Di pantatnya meme yang begitu menggoda:
#2019
Ganti
Rakyat
Si pedagang terpana
Di pikiran nakalnya berkata
Kelak, bisa saja rakyat diekspor besar-besaran ke
Malaysia
Ke Brunei dan Singapura
Ke Hongkong, Taiwan dan Timur Tengah tentu saja
Maka, rumah-rumah jadi kosong
Tanah-tanah jadi lapang
55
Lalu berdatanganlah orang-orang jangkung berkulit
warna udang
Berbondong-bondonglah orang-orang berkulit warna
mentega
Hingga penuh sesak udara
Oleh napas-napas busuk dari negeri tetangga
Hingga #2030
kita bakal ternganga
Bogor, 21 April 2018
56
36.
Heru Mugiarso
Ironi dalam Amplop Riswah
Ia mengemasi sujud dan doanya untuk Tuhan
ia menadahkan tangannya bagi lidah dan perutnya
beberapa lembar uang bergambar dunia
terselip di kocek
lalai ayat-ayat kitab suci yang dihafal
dan digumamkannya
Ia bersumpah demi nama Khaliknya
dengan paras datar
mengenakan topeng dusta
yang telah lama dibelinya
ia lupa bekas hitam di keningnya
ia lalai mencukur jenggotnya
pada saat dicokok
dan dipermalukan
di depan layar kaca
Jangan terima amplop riswah kecuali isinya, kata
mereka
Dan pedang di tangan kanan dewi keadilan
siap menghunjam
entah dalam kelucuan atau sebaliknya dalam ironi
yang getir?
2017
57
37.
Ihya Maulida
Makan Nasi
Sepotong roti yang terpampang
Kau kunyah dengan gampang
Alunan gigi yang bersentuhan
Kau lerai ke tenggorokan
Getaran sendawa memecah hening
Gambaran perut yang sudah terisi
Bak roti yang tersusun rapi
Diri mu berjalan dengan senang hati
Menuju ruang televisi
Bangkit …
Melihat panutan waktu yang berlalu
Berjalan meninggalkan televisi
Menelusuri arah datang nya aroma
Ini kah ketukan hati
Yang menerangkan kembali
Disebut makan karena nasi
Bukan sekedar perut yang terisi
58
38.
Iskandar Zulkarnain
Negeri Tua
Negeriku sudah tua
Penyair disangka pesulap oleh pemerintah
Sebagai terdakwah penggelapan negro
Mahasiswa berdemo tadi pagi sebelum pak tinggi datang
Polisi main petak umpet di balik layar
Tentara nembak layar
Negeriku kian matang usianya
Hingga kerutan dahinya berwarna pelangi
Merah kuning hijau kombinasi yang sempurna
Pak tinggi mulai mengaduk warna itu
Hingga belepotan pada mata dan sebagian masuk
kedalam jidat
Otak merah
Mata biru
Campuran dari pelangi itu ada pada mulut
Merah kuning hijau di mulut yang baru
Janji bau pesing
sebabkan wanita bunting.
Annuqayah 2018
59
39.
Iwan Bonick
Pagi Hari Aku Baca Koran Bekas
Sambil duduk di bale teras tetangga
Ada berita dengan tulisan besar
Pejabat pemerintah tertangkap tangan
menerima suap
Siang hari selesai makan siang
Kiriman rantang
Aku dengar berita di radio
Pejabat pemerintah kena razia pekat
di hotel berbintang
Malam hari melepas lelah
Duduk bersila
Diruangan tanpa jendela
Melihat kabar berita televisi
Pejabat pemerintah tertangkap sedang pesta narkoba
Kabar berita setiap saat bagai hiburan
Kabar berita setiap saat bagai tontonan
Kabar berita setiap saat membuat tersenyum kecut
Ini bukan hiburan
Ini bukan tontonan
Ini nyata di Negeri Indonesia Raya
Aku tak bisa tesenyum
Kalau Indonesia itu lucu
Aku tak bisa tertawa
Kalau Indonesia itu lucu
Tapi mengapa berita itu bagai hiburan
Kabar itu bagai tontonan
Dan apakah kita terhibur dengan tontonan itu
Berita hari ini membuat tertawa gila
Kp Teluk Angsan Bekasi Senin pahing 2 April 2018
60
Iwan Bonick
Ketika Indonesia itu Lucu
Lautan samudera membentang luas
Tapi ikan ikan yang kita makan berlebel import
Tanahnya subur makmur
Tapi membeli pangan dari negeri tetangga Hasil bumi
nya melimpah
Tapi bermerek
Bangsa lain
Airnya jernih
Di hulu Tapi tak sampai ke hilir
Hutannya rimbun juga luas dan masih perawan Tapi
terbakar atau di bakar
Dengan alasan perluasan lahan
Pembangunan dimana mana
Tapi tenaga kerjanya orang orang asing Banyak nya
pasar tradisional
Tapi lebih suka belanja sayuran di gedung serba canggih
dan mewah
Kp Teluk Angsan Bekasi Senin pahing 2 April 2018
61
40.
Khoerun Nisa
Cinta Zaman New
Perjalanan masa
Mengikuti perubahan
Berkembangnya cinta
Cinta dalam pegangan layar
Jadikan pendamping hati
Dalam sisi keadaan
Layar yang terfokuskan
Tersenyum geli
Rasa salahmengartikan
Cinta bertemu dalam layar
Pertemuan sebelah bagian
Hanya luar yang terpandang
Dengan rayuan gombal
Dijadikan sebuah percintaan
Cinta dimana-mana
Tinggal sentuh dan kata rayuan
Teknologi jadi perjodohan
Dalam dunia cinta
Panggilan bukan saatnya
Aku mencintaimu
Rayuan menggodaku
Panggilanmu merasuk tubuhku
Ayah bunda itulah yang kau inginkan
Kuberfikir sejenak ....
Kau sangat sayang padaku
Emang siapa dirimu
Kita belum menikah
Udah ayah bunda!
62
41.
Lailia Nurul Fauziah
Stand Up Wakil Rakyat
Negeri haha hihi bercerita setiap hari
Dari ujung kota sampai penjuru negeri
Tanpa dalang skenario apik berseri
Mulai kaum berdasi hingga berpeci
Kicauan aksaraa menjadi belati
Pengadilan tinggi dimoderatori netizen berargumentasi
Sudut kanan kiri dimainkan dalam balik kebiri
Panggung sandiwara dunia di penuhi artis pejabat
negara
Berpose dengan guratan kata bijak
Mengaku aparat ternyata keparat
Rakyat menjerit meminta hak
Muncul pagar betis siap menerkam.
63
42.
Lina Kus Dwi Sukesi
Padiku Menguning di Atas Klakson Angin
Pertiwiku adalah lumbung yang hijau
Di mana bulir-bulir padi telah menguning
Bermanja di atas pucuk-pucuk daun kering
Goyang tangkainnya, bagai gemulai penari
Menanti petani untuk menuai panen hari ini
Di sudut petak yang lain
Sawah telah dibajak, untuk ditanami kembali
Begitu cepat, laksana peredaran matahari
Berjuta-juta ton gabah dihasilkan dari sawah
Menjelma butir-butir Kristal putih
Mewangikan tungku di dapur yang sunyi
Di sisi lain, pada titik nadi
Aliran darahku berhenti
Biji pepadi yang tumbuh begitu rimbun
Tiada cukup untuk membuat kenyang negeri ini
Hingga dating hasil panen
Dengan kapal-kapal laut
Bukan dari gerobak-gerobak tua
Yang ditarik kerbau jantan dan betina
Di antara redup dan terang matahari
Sejumput asa mengetuk nurani
Inikah gemah ripah loh jinawi ?
Madiun,21-04-2018
64
43.
M.Asep Saypulloh
Drama Penguasa
Episode demi episode selalu ditunggu
Begitu menarik kisah mereka
Naskah yang begitu runtut ditulis
Menyajikan tontonan yang epik
Mulai dari komedi sampai tragedi
Mulai dari sok suci sampai lupa diri
Terjerat korupsi malah pergi
Dipublikasikan di tv malah pasang gigi
Seakan ceritanya tak berujung
Satu aktor meng-klimakskan ceritanya
Satu aktor memulai perannya
Sungguh gokil negeri ini
Para penguasa jadi bintang FTV
65
44.
M. Rofiqi Fahmi HR
Sebatas Mimpi
Bangsaku sungguh indah nan elok
Yang telah diciptakan oleh-Nya
Tapi membuatku tertawa
Dengan bangsaku
Lenyaplah
Seperti daun malam
Belum terhembus angin suci
Yang menyeruap pada samudra
Untuk mngelurkan amarahnya
Mabuklah
Seperti capung malam
Yang belum terampung hidupnya
Susah dipandang
Tapi rindu di pandang
Tehembuslah oleh waktu
Terlelaplah oleh jiwa
Bangsaku hanya dijadikan guyonan bersama
Yang tak menghasilkan apa-apa
Mari kita penerus bangsa
Tanamkan keadilan dulu
Sehingga kita dapat menemukan mutiara kehidupan
Sumenep, 0-04-2018
66
45.
Maman Empun
Nelayan Tanpa Kail
Sudahkah kau rasakan
Hidup sesak di tanah sempit
Bersama nafas berbau ikan
Dalam tiupan angin laut yang mengganas
Beratus-ratus tahun moyangku
Menguliti pasir dan karang
Dengan perahu yang terbuat dari airmata
Berlayar ke arah gelombang yang membunuh
Lalu diam-diam
Ikan-ikan berlari mengejar sauh
Yang datang dari negeri asing
Menguntit ombak yang kusetubuhi
Aku berteriak garang
Mengusir kapal putih berbendera merah
Namun teriakanku tersapu badai
Kapal-kapal itu menghantam perahu
Kini, aku kehilangan kail dan ikan-ikan
Jika kukembali ke pulau
Kakiku tak kan bisa terjejak
Karena tanahku telah terjual pula
Praya, 2018
67
46.
Marlin Dinamikanto
Di Taman Sarinya Persenggamaan Dunia
meskipun malam telah bersekutu dengan gelap
bahkan sejak lama. Sebelum dunia dibuat ada
atau diadaadakan oleh cerita Bunda Eva yang silap
tentang buah terlarang yang katanya menggoda
seperti cerita yang tersurat di Kitabkitab Samawi
di sanalah kunangkunang menegaskan hadirnya
malam dan segala gelap yang menyertainya
telah membunuh Cahaya. Tapi bukan kunangkunang
yang tak pernah mati sebab ada pedang di dasar jiwa
mengarungi rasa takut yang menggenang
di loronglorong keterasingan manusia
selalu ada cara mengatasi keterbatasannya
Gurun Gobi dan dataran tinggi Himalaya
bukan halangan bagi manusia menyebarkan
air mani yang diolah dari hasrat ke vagina
kehidupan yang terbentang sejak Mesopotamia
melintas Tigris, Samarkhand, India
ada lagi dari Yunan dan Formosa
menjelajah laut luas dan hinggap
di kepulauan nusantara. Itulah kita
manusia kunangkunang Indonesia
membakar gelap dengan nyala kecil saja
sebelum akhirnya pungkas diterjang usia
tak begitu lama. Hanya 70 tahun saja
tapi tak pernah sepi sebab ada hiburan
bersenggama dengan berbagai ras
seperti halnya derkuku dan burung dara
68
melahirkan burung puter. Begitulah kita
tak lagi terlihat asli seperti Kaukasuid purba
tak terlihat pendek gemuk seperti Mongolid
atau hitam legam seperti Negroid. Itulah kita
bangsa yang tak begitu asli kepulauan nusantara
menetap di pegunungan, lembah dan pantaipantai
membawa adab yang tak selalu sama
di taman sarinya persenggamaan dunia
meskipun malam telah bersekutu dengan gelap
bahkan sejak lama. Sebelum dunia dibuat ada
atau diadaadakan oleh cerita Bunda Eva yang silap
hingga keserakahan yang melahirkan cuaca ekstrim
tapi percayalah. Selama Isrofil belum memegang
sangkakala
kiamat masih lama. Paling tidak itulah cerita
dari kitabkitab Samawi purba
Martupat, 18 Januari 2018
69
47.
Masimus A. L. Sawung
Cinta Pembantu
1)
Kulitku begitu terasing dari jemari ibunda
Keningku kering menunggu kecupan basa bibirnya
Tak ada bisikan cinta pada telingaku.
Ibundaku pergi, sebelum sempat kata selamat pagi
terucap.
Bibirku kaku mengeja kata mama,
Sebab saat aku tercipta bersama pagi ibunda telah
hanyut bersama
Deru mesin ibukota.
2)
Jemarinya begitu santun membelaiku,
Dengan tabah ia menemani keseharian kesibukanku
Dengan manja bibirnya mengecup keningku, membelai
rambutku,
Lalu aku tertidur pulas dalam palungannya.
“apa perempuan ini ibuku.?”
3)
Saat berakhir terang, lahirlah kegelapan.
Sedang diluar rumah hujan jatuh dengan sombongnya.
Aku masih digendongannya, menunggu kedatangan
bunda
Yang mungkin sedang tersesat diantara rintik hujan.
4)
Dalam hening ku dengar bisikan
“jangan cemas, dia mungkin sedang dihimpit kemacetan
akibat banjir,
Atau mungkin sedang berteduh dibawah halte sambil
menunggu hujan berhenti
Jatuhkan diri pada tanah. Ayo, aku menunggumu
dikamar. Biarkan bocah itu
70
Sebab matanya akan tertidur pulas, sayang.”
5)
Itu suara ayah,
Lalu kepada siapa dia mengucap kata “sayang”.
Maumere, 02/02/2018
71
48.
Miftahur Rahim
Indonesia Katanya Lucu
Inilah Negeri Indonesia
Yang sepertinya
Kalian juga tau itu semua
Inilah Indonesia kita
Yang katanya menawan
Namun dia menyedihkan
Serupa inikah Indonesia
Mengapa seperti ini kuberkata
Karena sekarang aku sedang diancam oleh fakta
Kau sebut aku pecundang
Ketika kau lihat aku sedang bekerja di ladang
Kau sebut aku pecundang
Saat meneteskan keringat hanya untukku makan
Kau tak terima
Rezeki halal yang kudapatkan ini
Lebih berkah ketimbang jutaan proposal yang kau
sodorkan
Kau sebut aku tak beradab
Saat kumencari hutang
Untuk pajak-pajak yang rajin kubayarkan
Kau sebut aku khianat
Saat kubercerita
Soal hukum yang sekarang tak berguna
Ia meringkus kaum-kaum lemah
Namun, menghamba pada konglomerat yang sekarang
beranak-pinak
Lantas kau akan sebut aku apa
Jika aku berdiri di sini
Mengucapkan apa yang kudapat
Dari semua kejanggalan di tanah ini
Saat perjalanan Kajen-Sokopuluhan
31 Maret 2018, di penghujung petang.
72
49.
Moh. Zainudin
Ada yang Serius, Ada yang Main-Main
Sebagian, barangkali kamu melihat orang-orang begitu
serius
Tak putus-putus mengurus semua supaya terurus
Tak putus-putus rela kurus bagai orang-orang yang setia
bersama lapar dan haus
sampai berakhir saat mega-mega menjadi puncak
peraduan sang surya
tiap hari mereka menggerus karunia menemukan intan
permata
guna dirasa
guna menjaga
segala apa yang diusahakan
tak lepas dari ajaran yang dibawa insan pilihan
bahwa berguna bagi jiwa dan raga
bersama orang sekitar kita
adalah sebaik-baik manusia
Tetapi, sebagian orang tak mampu mengusahakan
tenaganya
Tak terlihat karya nyata
terdengar bunyi nyaring memekakkan telinga
Tubuh kami sudah lemah tapi malah disumpah serapah
Sumpah yang dilontarkan mengalahkan sembarangan
Melampaui batas pengetahuan yang diberikan Tuhan
Ia lebih dulu mendahului tapi tak mengerti
Ditanya soal bukti diukur ahli tak memenuhi
Yang ditebar di mana-mana jauh dari kata damai
73
Yang ditebar kekhawatiran
Menumbuhkan kegaduhan
Menumbuhkan segudang pertanyaan
Apa yang kamu isi mempengaruhi produktivitas mereka
Untuk melangkah pada ladang rezeki-Nya
Padahal pundaknya membawa istri dan juga belahan
hatinya
Kepalanya membawa orang tua yang sudah renta
Cobalah kamu berpikir sungguh-sunguh sehingga kata-
katamu tak dinilai guyon bahkan omong kosong
bertutur hendaknya memantik untuk bangkit dari
keterpurukan
bertutur hendaknya membawa kedekatan pada Tuhan
begitu orang bijak menuturkan
Akhir kita adalah bertemu pada penguasa semesta
Apakah kamu percaya? Seharusnya
Karena kita sama-sama Indonesia
PP. Darul Ulum-Griya Asumta, 27 Maret 2018
74
50.
Moh Zaini Ratuloli
Kopi dingin
yang keras roti roti
roti milik kami
dan angin pun pergi
pergi mencari nasibnya sendiri
Ruth berceritalah pada kami
mengapa bendera harus di beri air seni
lalu kau tinggal pergi
di sini orang-orang masih berdiskusi
bagaimana menurun kan bendera lalu menaikannya
lagi
ferdy bercerita tentang penjahit yang harus membayar
pajak
sementara orang-orang besar di maafkan untuk tak
membayar
negara kapal karam kapitalis
oleng di makan rayap ketamakan
dan kita masih bercerita tentang kopi yang telah dingin
Zaenni Bolli, 2015
75
51.
Mohammad Ikhsan Firdaus
Ibu Pertiwi Sudah Jarang Mandi
Bau badanmu menyebar di darat dan laut
Bibirmu juga kering, pada langit kau memagut
Hey ibu pertiwi!
Kau sudah jarang mandi
Sampai kau berkutu yang buat gatal negeri.
Kau berdaki yang buat dekil ini negeri.
Kau jarang mandi!
Sampai jadi bau menyengat ini negeri.
Air diteguk habis tuan-tuan yang numpang
Sabun habis, tinggal busa yang meletup tiap gelombang.
Hey ibu pertiwi!
Tanah menggoda ciut hidungnya
Air membasahi langsung hilang jernihnya.
Hey ibu!
Pertiwimu hilang diambil tuan penghisap sabu.
Ibu pertiwi, kau jarang mandi!
Bogor, 20 Mei 2017
76
52.
Muhammad Daffa
Indonesia yang Lucu
Satu-satunya keinginanku yang paling mendesak adalah
memproklamirkan kata-kata
Di haribaan negara yang sekarat dan nyaris mati. Aku
tidak bermaksud untuk mengguling titah presiden
dalam megah istananya, atau menggali-gali luka silam
yang sudah terhapus dari ingatan anak bangsa.
Sungguh, aku hanya ingin memproklamirkan puisi
Di haribaan negara yang sekarat dan nyaris mati.
Tapi kudengar nubuat setangkai daun yang jatuh
Pada sabtu pagi, sesudah seremoni hujan.
"Umat-umat-KU yang patuh tak pernah berdendam
kepada yang lebih tinggi dari sekadar kekuasaan
presiden!"
Apakah kami masih berhak bermimpi
Mengajukan pertanyaan dan debar-debar
Yang tak tenteram setelah negara ini merdeka
Tapi masih juga penuh lebam, terluka fatal?
Mimpi-mimpi kami hanya ingin berpuisi di hadapan
bapak menteri
Memproklamirkan barisan kata yang tangguh dan tak
akan pernah terlukai
Di halaman gedung-gedung pencakar langit
Masing-masing ranting, juga dedaunan yang mulai
menguning serempak menggugat
"kembalikan Indonesia yang lucu!"
Surabaya, Februari 2018
77
53.
Muhammad Fawaz
Indonesia
Menari tertawa melihat alam
Tersadar menawan bak salam
Pantai surga bagi penyelam
Melihat indahnya warisan dalam
Meniti tiada henti, demi kekayaanmu nanti
Sangat megah ibu pertiwi
Memangku canda dan tawa ini
Hutan yang rimbun nan hijau
Fauna menyanyi berkicau merdu
Mengawali pagi dan mengakhiri senja bumi seribu pulau
Bintang menari dan bertabur di langit nan biru
Matahari tersenyum menghibur daku
Akankah indonesiaku?
Tidak..... tetap bangkit dan lucu
Setiap saat dan setiap waktu
Pada 23 Des 2017 11.32,
78
54.
Mukhlisin
Jangan Sabar Di Sini
Susah sabar di negeriku
Banyak aturan tak menjamin aman
Di mana-mana hukum macet
Mirip jalanan ibu kota negara
Klakson-klakson egois berbunyi
Saling bersahutan mengundi marah
Saling sesak ....
Saling himpit ....
Saling salip ...
Dan saling mengumpat
Rambu-rambu hanya formalitas
Lebih takut kepada polantas.
Susah sabar di negeriku
Orang miskin dilarang sakit
Ongkos sehat menyentuh langit
Harga obat tak semurah keringat
Dokter-dokter sering datang telat
Padahal nasib pasien sekarat
Katanya serba gratis dan praktis
Faktanya banyak pasien terlunta
Di sebuah kamar puskesmas
Dan, di sebuah bilik rumah sakit
Buang saja kartu sehatmu
Kami lebih butuh kartu sabar.
Susah sabar di negeriku
Vonis hukum bisa didagangkan
Oleh kolaborasi picik para oknum
Semakin mengkerdilkan kebenaran
79
Ibarat jauh panggang dari api
Keadilan hanya milik pemberi amplop
Bertransaksi dari laci ke laci
Berjual beli dari lobi ke lobi
Lantangnya suara ketukan palu
Tak selantang suara nuranimu
Ikan teri dipaksa sering bersabar
Di luar bui, ikan kakap pelesir.
Susah sabar di negeriku
Karena sabar sudah tercemar
Karena sabar barang kelakar
Karena sabar orang bisa modar.
80
55.
Muttaqin Haqiqi
Senandung Palu
Palu beradu dengan landas kayu
Ramai deru gemuruh
Beraneka ragam
Berbeda lagu
Pelan bak belaian angin pada untaian rambut
Pun menggelegar menggetar
Menggertak relung sedalam palung
Ada kala seirama senada
Juga sumbang tak beratur
Palu beradu dengan landas kayu
Senandung sumbang palu
Menggebuk seru ranting rapuh
Meremuk debu
Mengguncang batin kalbu
Ranting bingung sedih dan kalut
Seru haru sedan tak bertalun
Datang diundang diserbu serdadu
Komandan palu dingin dan acuh
Tak peduli ranting hancur mendebu
Palu beradu dengan landas kayu
Terketuk ria, lenggok merayu
Senandung merdu palu
Menyambut cabang bertamu
Cabang riang tertawa
Berdendang bersama berseru
Sungguh pun Palu suka melucu
Bercerita jenaka dagel
Menghibur negeri ini
81
Menggelitik akal
Mengocok perut
Sampai kapan palu terus bersenandung
Sampai kapan terus melucu
82
56.
Naafi’ Fitriani Sri Sundari
Sekedar Mimpi
Indonesia …
Negaraku ya Negeriku
Subur tanahmu
Makmur harusnya rakyatmu
Adil semestinya pemerintahanmu
Sederhana wajibnya gaya hidupmu
Tanpa keluhan kemiskinan dimana-mana
Tiada perkelahian antar suku bangsa
Namun, kenapa semua menjadi lelucon
Seperti kompetisi stand up comedy
Sederhana tetapi menggelikan
Sungguh
Indonesia ….
Mau dibawa kemana negeriku ini?
Mau dibikin kayak apa negeriku ini?
Seperti dagelan yang mengundang tawa cekakan
Seperti cerita sinetron menarik di awal, hilang di tengah
perjalanan
Drama apalagi yang sedang engkau mainkan
Sandiwara apalagi yang sedang engkau rencanakan
Indonesia bak zamrud khatulistiwa
Berangkai dari Sabang sampai Merauke
Indah menawan bila dipandang
Hijaunya hutanmu
Birunya lautmu
Namun semua hanya fatamorgana
Di antara ada dan tiada
Indonesia ….
Namamu harum bak harumnya bunga kesturi
Namun sayang semua hanya sekedar mimpi
83
57.
Najibul Mahbub
Maafkan Kartini
Maafkan Kartini
Sementara ber ibu-ibu
Berkebaya bernostalgia
Kami masih mengerjakan
Soal-soal ujian yang semakin tak jelas arahnya
Sementara membaca sangatlah asing
Bagi kami
Sedang menonton lebih asyik
Mengunggah rasa
Menjadi baper bukannya pinter
Maafkan kami Kartini
Jika kebaya yang kau sandingkan
"Dihujat" dan " dikafirkan"
Oleh sebagian suara
Sedang "ninja" menjadi "idola"
"Pengkapling surga"
Suratmu kepada abandenon kembali
Bertebaran
Memenuhi serambi grup WhatsApp ku
Suratmu kembali
Mengingat kepada kearifan
Dalam beragama dan berbudaya
Karena Eropa bukanlah menjadi idola
Tapi negeri inilah
Moncer luar biasa
Maafkan kami Kartini
Hari lahirnya
84
Kugunakan mencuci baju
Yang telah dipakai istriku
Menyambut miladmu
85
58.
Nazil
Ini Lucu?
Hahahaha
Ini lucu?
Ketika kita ambil sampah disepanjang jalan,
Kita malu,
Namun, ketika kita ambil uang rakyat,
Kita anggap itu nomor satu.
Hahahaha
Ini lucu?
Ketika celaka tersuap harta,
Kita anggap biasa.
Namun, ketika hal kecil terjadi karena tak sengaja,
Kita anggap sengsara.
Dan apakah Ini lucu?
Ketika Semua tertawa,
Semua foya foya,
Semua bahagia,
Semua berpesta pora,
Namun, disudut sana,
Seseorang menangis penuh luka,
Tanpa ada yang menengoknya.
86
59.
Nita Pujiasih
Siapakah dikau?
Aku bertanya pada dikau
Siapakah dikau?
Gayus Tambunan kah?
Neneng Sri Wahyuni kah?
Atau justru Yahya Fuad?
Siapapun kamu yang jelas kau bukanlah Dilan
Hey dikau
Masih sajakah kau begitu?
Janji-janjimu pada rakyatmu dulu
Hah…itu sudah menjadi janji palsu
Lalu masih sajakah kau mengelak?
Jika iya itu sungguh memalukan
Administrasi negara berantakan
Pembangunan tak terselesaikan
Rakyat kecil terabaikan
Lalu masih sajakah kau mengelak?
Jika iya sungguh itu tidaklah adil
Sadarlah dikau para penggelap uang negara
Akan kau kemanakan para rakyatmu
Mau dibawa kemana kemajuan Indonesiamu
Jangan biarkan bangsa ini mati karakter karenamu
Ingatlah
Bukanlah kita meminta Indonesia untuk bisa memberi
kita keuntungan
Namun apa yang bisa kita berikan untuk Indonesiaku
Camkan kata-kata Soekarno itu
87
60.
Nurholis
Pusingan Secangkir Kopi
Kopi panas adalah hak hidung
Aromanya mengepul menjadi aroma terapi
Biar dada tak lagi sesak
Menghirup udara yang mungkin tak lama lagi berbayar
Kopi dingin adalah hak mulut
Yang sewaktu-waktu akan disiramkan pada mulut yang
panas
Sedari lama menahan umpatan ala kebun binatang
Yang jika keluar, maka keluarnya menuju hotel prodeo
Ampas kopi adalah hak wajah
Dibalurkan sebagai cat wajah ala tentara
Bukan untuk gerilya
Tapi sembunyi dari kejaran tikus-tikus penguasa
Cangkir kosong adalah hak sunyi
Kasihan! Kursi goyang mengayun tubuhnya sendiri
Sudah lama sekali mulut-mulut dibungkam rapat
Maka biar cangkir dibanting saja, biar ramai
Kutai Barat, 18 Maret 2018
88
61.
Nur Komar
Nasib Berbeda
Adalah mereka yang binasa
Penjahat ilegal dihakimi masa
Orang-orang paling kotor
Terkapar tertembus pelor
Pendosa paling kurang ajar
Meregang nyawa karena dibakar
Pesakitan yang wajib dikeras
Diketuk palu dengan tegas
Itulah nasib penjahat tak bersertifikat
Terang rendah, tak layak dihormat
Lain halnya dengan penjahat bersertifikasi
Terang dipertuan dengan segala advokasi
Nyawa mereka dijamin tak 'kan melayang
Sebab masa cuma bisa teriak; ganyang!
Jepara, 2018
89
62.
PEmppy C S
Dalam Batok Kepalamu
Jika ku tutup rapat pintu ini
Bagaimana cahaya dapat sampai kesini
Menerangi kegelapan dan menunjukkan jalan
Mungkin juga menghangatkan pikiran
Jika kubuka pintu ini
Akankah debu debu kan merusak sepasang paru
Dan musim membuat segalanya rapuh
Mimpi mimpi yang tumbuh di tiap rumah
Menertawakan aturan yang tak pernah bertahan lama
Para pemburu membuat pagar pagar kemudian
menghancurkannya
Nurani di gunakan hingga di tinggalkan
Apa yang seharusnya di perangi
Apa yang semestinya di pelihara
Bagai Tuhan yang tak terlihat dimana mana
Di tempat ini, kita adalah pikiran
Binging sendiri dengan rimbunan pilihan
90
63.
P.Lugas.N
Jadi Turis
Digusur atas nama kemajuan
sawahnya hilang petani bimbang
perkembangan jaman
petinggi jawabnya lantang
beli sawah murah bangun apartemen mewah
pejabat dirangkul pengusaha sambil bersiul
sawah jadi trambul aturan dibikin mandul
tanah dikapling cangkul kian tumpul
dapur tak jadi ngebul
berasnya mahal rakyat terjungkal
tengkulak nakal terpingkal
pesta panen raya beras lokal
sambut datangnya beras internasional
padinya histeris sawah habis
berjuluk negeri agraris petani jadi turis
petani gelisah rakyat susah
petingginya masih berporah
Kota Bengawan, 28 Januari 2018
91
64.
Pranaja Akbar Suranto
50 Ribu
Di sisi kanan bawah
celana jeans ku
terselip satu sisa nafas
yang setiap saat bisa saja tersublim
oleh guratan keringatku
Aku tahu,,
di setiap hentakan nafasku
bukanlah gairah berbinar
seperti indahnya warna
yang ada di sisi celana jeans ku
Baeklah,,
ku beri harapan hari ini
untuk tak akan menyentuhnya
karena dia yang terakhir
Dan dia adalah,,
bernilai 50 Ribu saja
Walau angka yang tertera
tak sebanyak angka impian semalam
tapi dia yang mampu mengganjal
batas hari dan batas nafasku.
92
65.
Purnama Sari
Aktor Manis nan Lucu
Cukup !
Tolong hentikan !
Perutku sudah mulai kram
Entah karna lagamu membuatku geram
Atau mungkin aku yang makan nasi garam
Ku harap tawa sampai dirumah Tuhan
Yang katanya ingin mengabdi untuk negeri
Detik ini buatku bertakjub ngeri
Menglingkarkan lengan ke pundak si miskin pilu
Agar di coblos saat pemilu
Lucunya tuan
Ternyata begini serunya drama kehidupan
Sudah disiapkan setumpuk naskah selaci
Menunggu tikus berdasi beraksi
Manisnya anda
Negeri ini tak butuh gula kata palsu
Ataupun teater melucu
Tak nampakkah kau rakyat berselimut debu ?
Sedangkan kau masih saja memasang wajah lugu
93
66.
Raden Rita Maimunah
Wong Cilik
Hukum buat wong cilik
Pada tahun tahun yang telah lewat
Nenektua duduk di kursi terdakwa inginkan rumah
Nenektua istri pahlawan veteran
Dihadapkan pada aparat hukum dalam usia renta
Kisah kehidupan rakyat kecil
Perempuan diambang senja berjalan tertatih
Dengan beban diatas kepala
Terduduk ditrotoar menghitung ribuan lusuh
Hanya itu yang di dapat
Demo terjadi dimana-mana bikin rakyat resah
Pemikiran-pemikiran belum lagi tuntas
Sampai kapan ?
Sementara ranah prostitusi masih menjadi ajang bisnis
Anak-anak SMA jual beli sesama mereka
Gaya hidupkah atau himpitan hidup
Kehidupan malam tidak diperkenankan oleh norma
manapun
Disatu sisi lendir dan desah nafas masih menjadi
penghasilan
Masih tersimpankah norma
Masih ada lagi derita rakyat
Gadis kecil 5 tahun pengamen jalanan
Mencari makan dari satu mobil ke mobil lain
Mengharap recehan jika ada yang iba
Tak ada yang dapat kita lakukan
Selain diam membisu, menatap dengan hati iba
Karena rasa tak dapat diwakili oleh kata
Padang , 5 April 2018
94
67.
Raditya Andung Susanto
Menonton Televisi
Bumi sudah tampak ramai
Kabarnya ;
akan ada sinetron baru
yang diputar di stasiun swasta
nasional hingga mancanegara
Ada guyonannya, seriusannya
ada juga yang cuma banyak bicara
saat adegannya
Trailer akan diputar setiap hari
Pamflet dan baliho sudah disebar
ke seluruh penjuru negeri
Segera tayang 27 Juni 2018
di televisi kesayangan anda
Jangan nonton, berat
kamu gak akan kuat. Biar aku saja
; kata ayah saya
Bumiayu, 8 Maret 2018
95
Raditya Andung Susanto
Selamat datang di Indonesia
Hubungan Tuhan dan hambaNya
Sedang tidak akur
sebab mereka lebih suka berdoa di sosial media
Yang bercadar dikatakan teroris
Orang telanjang dada;
Matanya merem melek
Uhh. erotis katanya
Anak kecil sibuk dengan gadgetnya
Nonton drama korea
Anak muda dan orang tua
Sibuk. Sama televisinya
Nonton upin ipin dan kawan-kawannya
Kumpulnya rame-rame
saling diem pegang hape
Kalo ada mahasiswi berpakaian syar‟i
diusir dari perguruan tinggi
anda sedang berada di negeri selucu ini ; NKRI
Bumiayu, 11 Maret 2018
96
68.
Rahmat Akbar
Di Negeri Seribu Wajah
Bila kau ingin melihat Negeri seribu wajah
Tidak perlu harus jalan-jalan ke luar Negeri
Sebab kau tidak akan melihat tikus dan kadal pemuas
diri
Di Negeri seribu wajah orangnya lucu berpakaian rapi
Mereka duduk di kursi dan malam-malamnya terus
mencuri
Bila kau ingin berjalan di Negeri seribu wajah
Maka kau akan melihat tikus dan kadal ramai di televisi
Mulutnya manis tapi berbau terasi
Mereka umbar senyum-senyum penuh pasti
Padahal, sebenarnya itu hanya sebuah amunisi
Di Negeri seribu wajah
Manusia bermata merah bersuka ria
Demokrasi memang benar terjadi
Tapi mereka tidak pernah perduli
Sebab di Negeri seribu wajah tikus dan kadal hanya
mementingkan diri sendiri
Di Negeri seribu wajah derai air mata berpesta pora
Di kolong jembatan
Di emperan toko
Di diskotik
Di jalan-jalan kota sampai pelosok desa
Lalu ada seorang yang tertawa ria: yaitu‟
Tikus dan kadal yang menggambil hak saudaranya
sendiri
97
Di Negeri seribu wajah
Istana bertrali besi bagai rumah sendiri
Bebas keluar ke sana ke mari
Bahkan ada yang bisa jalan-jalan ke Bali
Makanya tikus dan kadal hanya senyum
Sebab hukum hanya dijadikan sebuah ilustrasi
Di Negeri seribu wajah ada anak-anak Negeri
yang masih setia berorasi
Berdoa agar tikus dan kadal yang berpakaian rapi
Menggingat tentang amanah yang suci
Kotabaru, Maret 2018
98
69.
Rahel Tambun
“Kerinduan akan Pembebasan”
Kita adalah anak-anak bangsa yang ditirikan,
Pembangunan di Negeri ini tidak tumbuh untuk anak-
anak tiri Negeri
Tapi berdiri atas industri pengusaha asing yang
berinvestasi untuk meraup kekayaan alam ibu pertiwi
Kitalah bangsa yang ditendang menjadi gelandangan
Kita bersama telah menjadi pengungsi di tanah leluhur
sendiri
Orang-orang tiri di desa
Berhamburan mengejar mimpi-mimpi di kota
Menjadi tenaga pekerja oleh orang asing yang semena-
mena hanya untuk meraup kekayaan di Negeri sendiri
Sampai kapan..
Aku, kamu dan kita
Bisa merasakan kedamaian, kenyamanan dan tidak
adanya lagi kesenjangan sosial dalam Negeri kita ini
Siapa yang kita salahkan?
Siapa yang kita tuntut?
Siapa yang akan bertanggungjawab?
Kawan..
Kita siap tergilas jika kita terpaku dengan kondisi.
Bogor, 21 April 2018
99
70.
Raidhatun Ni’mah
Dalam Diri Kita
Dalam diri kita,tidur seorang pesulap dan seorang lagi
pelawak
Saat dunia jadi ladang pesugihan para tikus
Pesulap dalam diri kita beraksi,merapal mantera :
ada teriakan,
Rintihan,
Kadang bisikan.
Pesulap melempar diri pada api
Membakar dalam koyak demonstrasi
Yang kata-katanya membara
Lebur pada abu dan tiada
Sementara pelawak itu kagum,berjaga-jaga
disudut website
Diam-diam mencatat bara kata
Yang tiba-tiba terasa mengocok perut
sok pancasilais
dalil Negara coreng moreng
“sejak kapan jempol jadi tuhan?”
Sejak tuhan tak lagi tinggal dalam diri
100
Raidhatun Ni’mah
Peragu
Kita ini peragu
Sering bertanya
Tapi tak tahu apa atau siapa
Melempar kosa kata
Yang haus akan rasa
melontarnya jadi api
Yang lelah pada asa
menusuknya jadi beku
101
71.
RB. Edi Pramono
Sang Raja
Duhai sang raja,
datangmu mengobrak abrik ladang kata
kami dipancung kapak kapak media
dari segala penjuru
satu kisah nyata
menjadi banyak versi beda
entah kebenaran ada di pihak mana
boleh jadi semua serba pembenaran
Duhai sang raja,
andai engkau bisa berbahasa Indonesia
dan engkau baca semua media
apalagi yang maya
mungkin engkau akan kembali muda
oleh tawa tanpa jeda
membaca kekonyolan demi kekonyolan
di berbagai tautan
ataupun status picisan
yang bodoh dan yang pandai
tiba-tiba menjadi sama
sama kelasnya
sama mutunya
berlomba mengais sampah kata kata
Duhai sang raja,
jangan jangan justru baginda
pingsan tertawa
Selamat datang di negri para dewa
yang mabuk tanpa arak dan tanpa tuak
Jogja, 2 Maret 2017
102
RB. Edi Pramono
Impor Lucu
alangkah lucunya negri ini,
aih, entahlah lucu atau ngeri
setelah berbagai subsidi dicabuti
tax amnesty malah menyasar rakyat kecil dalam negri
ada wacana impor guru besar untuk perguruan tinggi
impor sapi ditambahi
impor uang semakin tinggi
impor beras saat panen raya terjadi
impor garam tiba-tiba sudah terjadi
di Madura, garam lokal bergunung menunggu pembeli
sekarang impor perdana cangkul untuk petani
haiyaa, jangan jangan sebentar lagi akan impor ideologi
hihihihihi
Jogja, 2 Maret 2018
103
72.
Riki Utomi
Badut-Badut Negeri
topeng itu melekat di wajah asli.
dibawanya kemana-mana.
topeng rombeng betapa indah
sebagai kepalsuan untuk duduk disana.
aha, itu apa? palu dan tafsiran luka?
biar saja, toh akan diam sendiri dan
bungkam dihimpit waktu.
“mau kemana”? tanya kursi.
“minggat dulu, ngopi di sebelah senayan.”
“nggak ikut rapat?” tanya meja.
“jangan khawatir. nanti tinggal
buat keputusan.”
lalu badut ongkang-ongkang sambil
merokok. ngopi wara-wiri mirip
lukisan yang tak jadi.
“kamu tahu kan di sakuku ada apa?”
tukang kopi menggeleng.
“ada tiket masuk penjara! setidaknya
cater dulu, nanti sip lah.”
tukang kopi tersenyum sambil
menjentikkan jempol dan jari tengah.
104
“mari kita rayakan dalam lubang saja.”
badut terperangah.
“ya. lubang kuburan.”
si badut tertawa, menumpahkan isi perutnya.
barangkali ia tak mampu lagi membuat lubang
kuburannya sendiri.
(2018)
105
73.
Rizki Andika
Indonesia Menonton Bioskop
sepuluh ribu untuk tiket
masuk tanpa alas kaki
kursi kayu didapatnya
kisah mendatar dimulai
tak ada serius kali ini
layar makan tawa kering
perut buncit berisi kenyang
sisa jabat piring di bawah meja
kenal pemain dan sutradara
di layar adalah nikmat alur
sembunyi bukan tak kuat
biar cerita jadi menarik
pejabat kuasa main
jadi pemeran utama
indonesia menonton
di bioskop monoton
Karawang, April 2018
106
Rizki Andika
Warisan
sekarang sudah sampai kepala tujuh
dan sebentar akan jadi delapan
maaf aku harus begini bung
ini ada yang tak waras
sekarang orang sakit mimpin negara
mereka buang hajat kok di gunung
sungai jadi tempat cuci bokong
orang miskin dibikin kursi
agama dilelang murah
rakyat kecil simpan harapan
di sela pantat bandit politik
betapa kotornya posisi asa
di antara kelamin dan lubang
begini maksudku
bung warisanmu:
pancasila
hanya syarat upacara
Karawang, April 2018
107
74.
Rizky Saputra
Negriku Amat Lucu
Mendengar namanya, tak hanya sekedar rasa bangga
Menyerukan negeriku, bukan cukup pada keelokannya
Negriku amat lucu,
Kata orang, tongkat kayu pun menjadi tanaman
Batu yang ku tanam, mampu menghijaukan alam
Tiap kumerasa lelah, ku dapat menyelam dalam kolam
susu
Negeriku, dimana lautnya lebih luas dari daratan
Bangsaku bukan hanya dikenal karena kebersatuannya
Melainkan perbedaan dan ragamnya, yang tak biasa
orang dapat menyatukan
Negeriku amat lucu,
Dihuni orang orang hebat, lebih hebat dari pahlawan
dalam buku cerita
Peluru membelokkan diri, ketika berhadap dengan
bangsaku
Senjata berlaras samudera pun, dengan sendirinya
menyerpihkan diri
Bangsaku lucu,
Tak berbekal senjata emaspun kami dapat berdiri,
Meski berpeluru biji delima pun, kami tetap maju
Bangsaku memang tanah para pendekar ...
Negeriku amat lucu,
Berjuta rakyatnya, beribu pulaunya, tak terhitung lagi
perbedaannya
Kami tersenyum karena kami terus bekerja
Kami tertawa, namun kami berani untu Indonesia.
108
75.
Rizqy Fajarreza
"lelucon negara"
Negaraku lucu..
Banyak kecoa kecoa membangun gedung gedung
pencakar angkasa
Dengan pekerja belatung belatung dari desa
Tapi negaraku lupa untuk membangun SDM
masyarakatnya
Rakyat negeri ini lucu.
Ilmu ilmu bertebaran di pelosok jalanan dengan matah
hati nurani
Seperti malaikat menaburkan hujan
Setiap orang berebut dan mengambil dengan lidah
menjulur ke langit
Tapi rakyat negeri ini lupa caranya menggunakan ilmu
Mereka hanya membodohi lawan mainnya di arena
kekuasaan
Negaraku lucu
Ideologi Pelakorisme terus tumbuh subur diantara
selangkangan rumput liar
Dengan mengatasnamakan "berjuang melawan
penindasan para janda" merdeka haha 2x
jatibarang april 2018
109
76.
Roni Nugraha Syafroni
Kicauan
Sepoi angin yang datang,
Merebahkan badan, asyik!
Tak terkira padam menjelang,
Itu tanda banyak jangkrik.
Pergi berpacu dengan tidur sang matahari,
Malu matahari pun belum terjaga.
Tapi sudah ada terlihat diri,
Katanya membela bangsa.
Ah sudahlah mungkin ini adalah yang terbaik,
Dari kuasa Ilahi Robbi.
Hanya sekadar berkicau di depan memang menarik,
Ya inilah semuanya yang ada di hati.
Cijerah-Telukjambe Timur, Maret 2018
110
Roni Nugraha Syafroni
Racun
Kursi seringkali menjadi saksi,
Pada nafas-nafas deru kedudukan.
Sering bersitegang hingga renggang mati,
Tiadalah lagi puing-puing peradaban.
Mulut hingga putih tiada lagi yang percaya,
Semua sudah mabuk-mabok semua.
Dendang sudah lagi tak mempan, pak!
Dan ya inilah senyuman murni kami.
Melingkar tiada guna,
Walau rupiah terbang melayang.
Kami di sini hanya menyeringai,
Senang senang ha ha ha . . .
Cijerah-Telukjambe Timur, Maret 2018
111
77.
Roymon Lemosol
Mengejar Mimpi Ke Senayan
mengejar mimpi ke senayan
aku terpeleset dan jatuh ke dalam selokan
penuh comberan
beberapa ekor kadal tertawa menawan
seakan lelucon sedang mereka tonton
di panggung hiburan
sebisa mungkin aku coba berdiri dan tersenyum
sekadar menyamarkan perih yang menusuk sampai ke
sumsum
tapi yang tampak adalah kecut
ha, aku tak pandai menahan rasa sakit
seperti sang mega bintang yang sengaja
membenturkan kepalanya ke tiang listrik
aku malu
Ambon, Februari 2018
112
78.
Sami’an Adib
Menunggu Badai Berlalu
aku baru sadar kalau hidup di negeri ilusi
konon tanahnya subur yang diidamkan petani
yang hobi menggemburkan tanah semaian mimpi
sepanjang penantian musim panen yang tak kunjung
sampai
aku baru sadar kalau hidup di negeri euforia
setiap diri berharap histeria tepukan semata
pemuka agama bangga didapuk menjadi politisi
politisi sibuk merancang misi membangun citra diri
penguasa gemar mengasah taktik menjadi pengusaha
pengusaha menguras bumi demi membangun istana
selebritis tak pernah berhenti mencipta sensasi
membeli palu pengadilan yang beralih fungsi
menjadi barang komoditi bernilai tinggi
yang kutahu sampai kini, aku hidup di negeri kutukan
bersama Malin Kundang yang durhaka pada ibunya
juga Rara Jonggrangyang jitu tipumuslihatnya
atau aku yang terkutuk menjadi seonggok piala
yang diperebutkan para kontestan pemburu tahta
aku tak tahu sampai kapan leluconini akan berlalu
menertawakan semua kenangan pilu paling ngilu
sementara orang-orang sudah tak sabar menunggu
kumandang melodi syahdu: badai pasti berlalu
Jember, 2018
113
79.
Sang Agni Bagaskoro
Riang Penjual Undang-undang
Ia telah menyatukan harga diri dengan nilai tukar,
Sebagai ganti dari kebebasan yang tak terhitung
jumlahnya,
Meninggalkan ikatan manusia hanya untuk kepentingan
ia semata-mata,
Terhanyut ke dalam lautan penuh egois
Yang telah disahkan oleh undang-undang dan tidak
boleh dibatalkan,
Ia telah menetapkan satu-satunya kebebasan yang tak
berakal,
Dijual dalam ruang bernama perdagangan bebas,
Menjadikannya seperti hewan yang sangat berkuasa
Terlampau banyak yang diperdagangkan,
Terlampau cepat musnahnya peradaban,
Kecuali moral yang selalu disembunyikan,
Lalu sekarang siapa sebenarnya yang menjadi korban ?
Celakanya ia tetap selalu merasa berkorban,
Dengan semua norma dan masa dalam sebuah undang-
undang,
Yang selalu dipasarkan namun tidak pasaran,
Pedagang yang tidak lagi berbau amis.
Caranya berbicara didepan yang suka mengada-ada,
Dibelakang juga turut memaki-maki tanpa henti,
seolah-olah kami ini orang-orang tuli,
Cukup biadab bukan ?
114
Apakah perlu penglihatan yang mendalam,
Untuk memastikan rasa rakus itu menggenang dimana-
mana,
Dari liur-liur yang cukup menipu,
Yang mampu menguasai pikiran pada waktu pemilu.
Jakarta, 12 November 2017
115
80.
Sapin Ahmad
Orang miskin
Dulu bagi orang miskin meminta itu malu, Gengsi
Katanya Lebih baik memberi dalam kelaparan.
Kini, Meminta-minta berkedok bantuan
dengan sebundel kliping-kliping
Bertuliskan bakti sosial
Bertebaran disetiap ketukan pintu.
Diam-diam dia berkedok bakti sosial;
Mengumpulkan beras bernonsubsidi
untuk menanak nasi.
Katanya itu bukanlah menita-minta
Itu Rezeki namanya.
116
81.
Septiannor Wiranata
Hukum di Negeri Merdeka
Di suatu pagi
Di stasiun kereta api
Kudapati sang mawar tanpa duri
Merahnya telah berubah pucat pasi
Ia tampak telah dilucuti
Perasaan menyesal ia seorang diri
Karena telah merasa di khianati
Oleh seekor serigala yang melarikan diri
Entah kemana membawa semua kelopaknya pergi
Kini ia tahu sang singa penguasa rimba itu adalah
komplotan serigala
Karena tutup telinga mendengar kabar berita
Ketika mawar mengadu peristiwa
Yang telah mendapat tipuan belaka dari serigala
Auman singa menutup sidang perkara
Memvonis serigala hanya dengan satu bulan
penjara
Padahal sang mawar rugi ratusan juta
Ribuan mawar kecewa
Terhadap keputusan singa yang tidak bijaksana
Karena menerima upah dari serigala
Akhirnya kini sang mawar tinggal cerita
Tubuhnya hancur dilindas kereta
117
Karena kecewa dengan hasil sidang perkara
Mawar mati meninggalkan sebuah tanya
Tentang kemana keadilan hukum dinegeri yang
katanya merdeka
Kotabaru, 19 april 2018
118
82.
Sarwo Darmono
Lucu Ning Ora Lucu
(Geguritan)
Nek ndelok Kahanan kang ana , Kudune pancen Lucu ,
Ning sak jane ya.. ora Lucu
Ora lucu dikongkon lucu. Wis Lucu Ora ana sing ngguyu
Ana sing ngguyu karo Mecucu . Ana sing ngguyu karo
mlayu
Gek.. ra lucu kepiye…?
Ora Lara digawe Lara , Larane mung kala kala
Yen perkarane di Bwyowara
Dadi panguwasa isone mung Cidro
Dadi Panguwasa gawene mung numpuk Arto
Ora peduli Kawulone Urip Sengsara
Jarene dadi Panutan Kawula, Ngerti Paugeran Agama
Duwe perkara di tinggal Lunga
Umpama Yuswa…… Kadyo Surya wis jam Lima
Kudune dadi tulada Utama
Kudune Luwih nyedek marang kang Kuwasa
Ora malah Gawe Gara gara, Ndadekna kahanan kurang
Prayoga
Lha… Piye Leh ra Lucu , Sing Blaka malah ora dipercaya
Sing Blaka dikuya kuya , Sing Blaka dianggep Cidro
Sing Blaka dianggep Mung Golek Asmo
Embuh Ora Weruh , Iki Lucu apa ora
Isone mung ngguyu , Ngguyu sing ora Mutu
Lumajang Kemis Kliwon 1 Maret 2018
119
83.
Sigar Aji Poerana
Di Mana Antremu?
Tungkai yang lelah dan mati rasa tak menghalangi
Matinya pendingin ruangan bukan alasan untuk keluar
Hanya aku dan laparku
Dan seorang yang lainnya sudah mengambil gilirannya
Melangkahlah kakiku pada wanita penuh ramah dan
tangan terbuka
“Makan disini atau bawa pulang?”
Seraya aku membuka mulut
Belum pula frasa itu terucap
Dan seorang bapak paruh baya mengambil tempatku…
“Maaf ya, De. Saya buru-buru”
Hanya itu
Enam kata yang keluar dari mulutnya
Setelah serasa enam jam aku menunggu…
Tuan, sungguh, aku harap antre matiku pun disela
olehmu.
Mudahnya Cari Makan dan Jabatan
Kau mau yang cepat?
Ada
Kau mau yang mudah?
Tentu ada!
Di negeri ini banyak yang instan
Dari mulai panganmu sehari-hari
Sampai pejabat di Senayan kini.
120
84.
Siti Faridah
Lucu, Tapi Bukan Untuk Jadi Bahan Tertawaan
Lucunya negeri ini
Hukum hidup seperti alang-alang liar
Bebas tak beraturan
Seakan akan berada ditangan penguasa
Para kuasa lah yang menciptakan hukum dan keadilan
Sungguh tidak adil bukan ?
Kaum lemah hanya bisa diam
Diam dalam seribu bungkam
Seakan jadi permainan para penguasa
Kenyataan ini berkembang dengan adagium
“hukum tumpul ke atas, runcing ke bawah”
Sadis terdengarnya
Namun itu faktanya
Kita tak bisa buat apa apa
Semua mengalir layaknya air yang ada disungai
Tak bisa dihentikan apalagi disendat
Karena itu akan membuatnya rusak
Berantakan
Layaknya negeri ini
Yang lucu
Tapi bukan untuk jadi bahan tertawaan
121
85.
Siti Fatimah Suwito
Ih Kok Gitu
Saban hari aku bingung,
negeri ini bentar-bentar heboh
Sukanya rame-rame, berkelompok, kompak
nyatanya sakit sendiri dan mati
Semua orang terkadang mendadak cerdas
Pandai berbicara ini itu
Sampai-sampai cacing itu bagus untuk dimakan
Berprotein, duh mules!
Ah lucunya, karena kau berposisi
Tiap kali lihat TV jidatku suka mendadak tua
Bisa-bisanya ongkos makan naik daun karena minyak!
Duh tilang besi selalu berputar 24 jam bos, nyatanya aku
terbakar jenggot
Dan antara awal akhir kalender nilai rupiah tak berubah
warna
tragis karena aku tak berdasi
Aku pun mengeluh, karena aku tercekal oleh kata
anak siapa,
sekolah dimana,
ada duit?
Ihhh ini orang kelaparan
Permai, 15/4/2018
122
Siti Fatimah Suwito
Galau
Dimana-dimana orang suka tersenyum sendiri
Entah apa yang terjadi
Tau-tau merasa pedean
Dengan kotak persegi ala kekinian
Dengar-dengar pada capek jadi penonton
Semua berlari mengejar sensasi
Coba-coba belajar berdialog bebas
Berharap masuk insan terlucu
Pagi ini bertebaran foto-foto berdasi
Aku tertawa karena pada promosi
Bikin jantung ku tak kumat lagi
Yahhh tawaran hidup enak
Tiap hari selalu uring-uringan
Hujan datang sukanya mendadak
Pengamat cuaca menggalau
Yahhh kusut wajah
Palembang, 21/4/2018
123
86.
Siwi Puji Rahayu
Narasi Tanah Indonesia
Seribu tangan bertepuk dari ujung Sumatra
Begitu lihai dan elok dipandang mata
Seribu tangan menepuk dada,
terketuk panggung jalan raya para sahaya
Indonesia tanah air beta
Seribu puja-puja terbang dari Tanah Jawa
Tatkala ksatria putus asa, datang semar membawa fatwa
Meskipun, terselip dalam perutnya
Sungai Musi menyisir jejaring pancing
Tetap tenang, tak terkoyak tajamnya bambu runcing
Namun kini, apabila pangkat berbicara
Sergap dipercaya
Tenangnya asa dapat kalap seketika
Angin mamiri berhembus
Mengikuti arah mata angin yang tak ia kenali
Sampai puncak Kilimanjaro
Ada pesan untuk Indonesia
Bijaksana bukan untuk panggung sandiwara
Segala upaya bukan untuk gelak tawa semata
Karena Pancasila, Indonesia ada
Jakarta, 21 April 2018
124
87.
Snta Ayuning Tyas
Indonesia Negara Siapa?
Indonesia negara siapa?
WNI antri mencari kerja
WNA antri masuk kerja
WNI di gaji seadanya.
WNA di gaji berlipat ganda
Indonesia negara siapa?
Orang asing menjadi penguasa
Pribumi menjadi budaknya
Orang asing yang memerintah
Pribumi susah payah menjadi pekerjanya
Indonesia negara siapa?
Orang lain semakin lama semakin kaya
Rakyat sendiri semakin lama semakin susah
Datang nya orang asing bukan membuat sejahtera
Datang nya malah semakin membuat susah
Indonesia negara siapa?
Semakin lama orang asing semakin membuncah
Menguasai segala sektor yang ada
Rakyat semakin menjerit dimana-mana
Karena Indonesia akan dikuasai mereka
Orang yang tak punya hati dan hanya mengejar dunian
semata
125
88.
Soekoso DM, (Purworejo)
Di Negeri Dagelan
di negeri dagelan orangorang berjingkrak di altar licin
sebebasbebasnya mereka menginjakinjak aturan main
tanpa rasa salah kala menyerobot antrian dan lampu
merah
di tiap tikungan orang mengangkat diri jadi pak-ogah *)
bertangan dingin menyogok punggawa negeri menikahi
rasuah
di kawasan lelucon orangorang tak henti ketawa lebar
kala saksikan diri mereka sendiri di cermin kontroversi
dalam hal pemilu pilih siapa saja calon yang bayar
perihal rizki pilih demitdemit pengganda duit
dalam hal politik pilih partai yang cantik dan kebal
kritik
perihal ekonomi pilih bank yang bisa dikemplang
dalam hal subsidi pilih jadi warga miskin paling gombal
bicara bisnis pilih jalan tengah, ½ haram ½ halal
dalam hal budaya pilih segala yang beraroma gejolak
nafsu
atau menenggak narkoba demi kenikmatan serba semu
di negeri jenaka bencana disulap jadi proyek em-em **)
para broker siapkan manajer boneka yang bisa jadi a-t-
m
bersama thuyul dari lorong legislatif, eksekutif atau
yudikatif
di ruang remang mereka berdiskusi rencanakan aksi
bagaimana teknik tikus dan coro menggerogoti pundi
negeri
126
di negeri humor segala pun menjelma guyonan kece
menjelma thukul, menjelma soimah, menjelma sulee
menjadi stand-up comedy, menjadi semau lu semau
gue!
2017, bumi bagelen
*) pak-ogah : tokoh pemalas dalam cerita anak „Si Unyil‟
yang
kerjanya selalu minta-minta uang dengan cara jenaka.
**) em-em : milyaran
127
Soekoso DM :
Kontes Kentut
cerrrt cerrt cert! – di kamar mandi keluarnya seret
: ssst, rejeki bakal mampet
thut thut thuuut! – di tempat umum aromanya kecut
: huss, dompetnya makin butut
pruup pruup pruup! – di kantorkantor amisnya terhirup
: dhuh, jelas ada yang dikorup
kentut ooh kentut!
sosok tanpa wujud bisa bikin cemberut
– kalau tak keluar bisa bikin sakit perut
bless bless bless – di pasar baunya makin bikin gemes
: whess ewhes, nasibnya bakal ambles
brot brrot brroott – di teras istana campur ampas pispot
sampai para satpam jadi repot
: boss, ada pejabat akan di-reshuffle, e e – dicopot!
kentut ooh kentut!
monster tanpa bentuk berdaya gunung kelud
– kalau meletus semaunya bikin bisnis bangkrut!
(hai Indonesia! kenapa kontes kentut terus terjadi
padahal kentut = kongkalikong atawa kolusi & korupsi
baunya bak bangkai tapi barangnya sulit dicari!)
2018, bumi bagelen.
128
89.
Sokanindya Pratiwi Wening
Tiang Listrik
kekasih,
apa kabarmu hari ini?
kutahu kau pasti bersedih
kekasih,
jangan murung dan termenung ikhlaskanlah karena itu
sudah terjadi....
aku tahu,
tiang listrik yang kita jadikan
tonggak cinta
tempat biasa kita janji bertemu
kemarin telah ternoda....
kekasih,
tenangkan hatimu
walau tiang listrik yang biasa kau peluk
saat gigilmu mengamuk -
rindukan aku yang jauh,
kemarin telah terluka....
tiang listrik ditabrak papa
kepala papa benjol tak sebesar jengkol
papa luka parah
berdarah-darah
pingsan, amnesia, entah besok gila
atau sudah?!
kekasih,
bersyukurlah
tiang listrik kita luka tak separah papa
ia ternoda bukan oleh maunya
hanya takdirnya
dicium paksa oleh mobil papa,
papa yang sanggup menistakan dirinya
menghindar dari kejaran kapeka...!
Krueng Geukueh, 17/11/2017
129
90.
Sri Budiyanti
Berita dari Negeri Tetangga
Tak kudengar lagi macan Asia mengaum
Mungkinkah tertidur?
Oh....ternyata
Kudengar berita dari negeri tetangga
“Macan Asia taringnya patah”
Oh....tidak
Dan kudengar lagi, mereka bercerita
Tentang negeri yang amburadul
Seperti kapal pecah
Tak lain adalah negeriku sendiri
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak
Aku hanya bisa mengelus dada
Karena aku hanya pahlawan devisa
Hatiku semakin teriris
Ketika melihat koruptor di negeri tetangga
di hukum mati
Tetapi, koruptor di negeri sendiri
Malah dibela sampai mati
Rasanya murka
Kenapa negeriku sangat hina?
Demak, 22 Januari 2018
130
91.
Sri Sunarti
Aku masih berdiri
di punggung bumi yang melahirkan banyak kekayaan
di gigir pantai yang menyembunyikan mutiara manikam
di indahnya geliat wisatawan yang snorkeling
ikan-ikan cantik bertebaran di bawah karang laut
negeriku kaya ikan hingga harus mengimpor ikan
dari negeri saudara tua
hingga cacing berprotein tinggi bertengger di ikan
kemasan kaleng
Aku masih berdiri,
di gigir pantai jauh menatap
negeriku subur hingga harus mengimpor rumput laut
dari negeri sebelah
mengekspor pasir untuk reklamasi hingga laut abrasi
lalu kapal-kapal asing berlalu lalang mencuri ikan
dan siap dtenggelamkan
negeriku kaya tetapi selalu kekurangan
negeriku dijaga tetapi selalu kemalingan
lalu siapa pemilik dan penjaga negeri ini
Aku masih berdiri, digigir pantai
Tersenyum dalam kepahitan
Indramayu,2018
131
Sri Sunarti
Negeri Impor
terik menerpa jalanan tak bertepi
di antara ayunan langkah laki-laki bertelanjang dada
menuju pematang menjemput asa
di antara tumpukan jerami yang terangkum
di setiap musim tiba
tapi semua melimpah di negeri subur penuh hasil bumi
sementara ia tak kuasa melawan regulasi impor beras
yang menggilasnya
di jargon negeri kaya swasembada pangan
lalu apa yang tersisa, kedelai,pupuk,pestisida,garam
dan deret daftar barang impor lainnya
hingga dosen impor isyu terkini
tak kuasa menepisnya , membanjiri negeri ini
sampai semburat merah di kaki langit menjemput senja
langkahnya tak surut dan kian pasti
untuk tetap berdiri tegak menjadi tuan di negeri sendiri
Indramayu, 2018
132
92.
Syaiful B. Harun
Sebentar Merah
Hijau menyala :
Roda-roda dua melaju
Melewati garis hitam-putih
Seperti berlomba
Kuning menyala :
Roda-roda dua berlomba
Adu cepat, salib-menyalib
Melewati garis hitam-putih
Daripada menanti dua menit
Sebentar merah :
Roda-roda dua berpacu
Sekencang-kencangnya
Dari gigi satu lompat ke gigi tiga
Gedubraaak! Di garis hitam-putih
Dua gigi berlompatan di jalan
Palembang, 2018
133
Syaiful B. Harun
Di Negeri Mati
orang-orang mati
bukan di kamar mati
tapi di pematang, hutan, dan kali
bukan gempa atau tsunami
tapi negeri hilang hati
di negeri mati
setiap datang hari memilih
orang-orang seperti zombi
gampang diambil-alih :
lembar bergambar dwitunggal berpeci
Palembang, 2018
134
93.
Syahriannur Khaidir
Njentit
Tilik-menilik
Sidik-menyidik
Utak-atik
Makar di tiang listrik
Pejabat nyentrik
Kartu elektrik
Meja hijau pelik
Hakim bisik-bisik
Pembela usak-usik
Palu tarik-menarik
Indonesia kan asik
Maling ayam ditendang jungkir-balik
Koruptor dikondang banding bolak-balik
Hukum peceklik
Orang luar cekikak-cekikik
Sampang, 08/10/2017
135
94.
Sus S. Hardjono
Negeri Panggung
Ini panggung namanya panggung
Stand up comedy
Mengocok perut yang tidak lucu
Ini panggung ketidakadilan yang maha esa
Keuangan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
Dan kemanusiaan yang tidak beradab
Sungguh betapa lucunya negeri Indonesia
Dipimpin badut badut yang berperut gendut
Karena banyaknya makan uang rakyat
Dan penuh proyek proyek fiktif
Yang ditipu dan ditipek
Ini negeri penuh kelucuan
Pendidikan menjadi lelucon yang hebat
Proyek proyek menjadi obyek keserakahan para kucing
Yang mengerat tulang tulang bangsa yang kering dan
miskin
Ini negeri penuh kejenuhan
Di atas kemakmuran bersama
Mengatasnamakan derita rakyat
Emereka jual hati kami
Mata kami tanah airmata kami
Semua berkibar atas nama kapitalis
Yang Berjaya di atas pesohor yang sok moralis
Urat rasa malu kami telah putus
136
Terbebat untuk mengeruk dan mengeksploitasi tubuh
kami
Hingga derita dan mendulang utang yang tak
terlunaskan
Hingga kau wariskan airmata
Darah
Kemiskinan yang merantai
Tangan kami kaki kami menjadi budak budak negeri
jahanam
Menjadi pelacur pelacur di negeri sendiri
Menjadi pemulung pemulung yang
Sakit lepra dan kudis di trotoar jalanan
Sragen 2018
137
95.
Tarni Kasanpawiro
Berebut Piring,
Jari saling tuding
Gigi menjelma taring
Semua terlihat miring
Saling berebut paling
Kaki dihentak-hentak
Injak-menginjak diinjak
Kecebong bukan lagi bayi katak
Terlahir dari kumpulan dahak
Bumi tak lagi bulat
Langit kehilangan atap
Tuhankulah yang paling kuat
Bukan, tuhankulah yang terkuat
Kamu salah, tidak
Kamu yang salah
Lihat tuhanku berwarna merah
Lihat tuhanku berwarna hijau
Lihat tuhanku berwarna kuning
Lihat tuhanku berwarna biru
Apakah tuhan kita beda
Entahlah
Lidah telah kehilangan rasa
Tuli telinga buta sebelah mata
Tapi tak satupun ada yang merasa
Seakan semuanya sempurna
Inilah dunia kita
138
Tempat yang terlihat indah
Namun penuh dengan sampah
Berebut gelas dan piring pecah
Dari sebab lapar dahaga
Yang tak pernah ada habisnya
Bekasi 14 September 2017
Tarni Kasanpawiro
Dari Sudut Beranda
Aku takut bicara walau tanpa suara
Karena dinding tak hanya bermata tapi juga bertelinga
Kini kata bisa menjelma apa saja
Bunga yang indah, pisau yang tajam bahkan binatang
pemangsa
Aku terkurung di dapur dengan pisau di tangan
Apa yang bisa aku lakukan
Sementara di luar sana
Lembaga swadaya masyarakat tak lagi ramah
Para preman berlomba menjadi penguasa
Menang kalah adalah pesta, berebut jatah
Hukum telah berubah menjadi rimba
Jarah menjarah adalah biasa
Tangisku kering sudah air mata
Memikirkan nasib generasi selanjutnya
Jika kita saja tak mampu menghalau gelombang kata
Bagaimana nanti dengan anak cucu kita
Oh cinta tetaplah bersemayam dalam dada
Aku ingin sejenak mendinginkan rasa
Bekasi, 19 Januari 2017
139
96.
Tajuddin Noor Ganie
Kasus Batubara
Di sebuah provinsi di Indonesia
(Namanya sengaja disamarkan)
Tambang Batubara terbentang beratus hektar luasnya
Atas nama batubara, tanah dikeruk sedalam-dalamnya
Setiap hari armada truk gajah membawanya
ke pelabuhan penumpukan
Setiap hari tongkang-tongkang raksasanya
membawanya milir di sungai
Pelan tapi pasti batubara diantarkan
ke alamat konsumen entah di mana
Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan
tongkang ditarik tugboat
Mula-mula melintasi sungai, dan laut
di wilayah negara sendiri,
Kemudian melintasi wilayah laut negara tetangga,
Namun, lucunya aktifitas itu
Tak bermakna social financial bagi warga provinsi
Buktinya, listrik masih nyala bergilir dari hari ke hari
Padahal provinsi ini adalah lumbung batubara
Bahan bakar pembangkit listrik itu sendiri
Namun, lucunya aktifitas itu
Tak bermakna social financial bagi warga provinsi
Buktinya, fasilitas umum masih begitu minimnya
Tidak ada pelabuhan samudera
Tidak ada jalan raya yang mulus sempurna
Tidak ada bandara yang memadai
Penganguran terdidik masih tinggi angkanya
Pengemis masih berkeliaran di mana-mana
140
“Duhai, kemanakah larinya uang hasil penjualan
batubara
yang bergunung-gunung banyaknya itu?” tanya banyak
orang
Ada yang menjawab sekenanya
“Habis dirampok teroris Abu Sayaf”
(Menurut berita koran, ketika melintas di perairan
Filipina
tongkang direbut teroris Abu Sayaf, awaknya disandera
Selanjutnya yang kembali cuma tongkang dan awaknya
Meskipun mereka bebas tanpa tebusan sama sekali
Namun, batubaranya sendiri tetap tinggal di Filipina)
Banjarmasin, 29 Oktober 2017
141
97.
Tri Munawaroh
Indonesiaku Lucu
Indonesia negaraku
Negara yang begitu lucu
Yang membuat ku menggelengkan kepala
Lihat saja...
Mereka yang pandai dan berdasi
Memiliki otak berlian dan emas
Tapi mereka disebut tikus negara
Bagaimana bisa disebut tikus
Atau anjing penjaga harta?
Aku tertawa keras karnanya
Lihat saja...
roda hukum berputar..
berputar kepada mereka yang tak punya sutra
Tangga yang harusnya mengantar mereka
Dalam istilah kemakmuran
Tetapi justru
Menjadi duri yang melekat dikulit
Lihat saja..
Si buruh bisa membagi pupuk untuk semua padinya
Tapi yang berdasi tak tau arti kata membagi
Dan lihatlah..
Anak SD tau Pancasila
Si Dewan tak tau bunyinya
Anak kecil tak terlihat seperti bocah
Mereka yang keriput seperti bocah
Tak berdasi atau bertopi..
Sama saja..
Betapa lucu Indonesiaku
142
98.
Virna Mutiara Wahyu
Negeri Jenaka
Saat keadilan dapat di-diskon dengan harga sekian
buih pengasingan hanyalah tempat lain dari rumah
pribadi
istilah lama “ tumpul ke atas, tajam ke bawah “
entah yang dipakai perumpamaan pisau, golok, atau
celurit
Mudah saja jika punya banyak duit
lakukanlah sekehendak hati, toh tak ada yang berani
memarahi
Sumpal ke sana dan kesini, mereka akan sukarela
mangap layaknya ikan di kolam
Lemah kekuasaan, akan lemah pula harga diri
Begitu celoteh orang yang duduk dikursi amanat
Jijik dan perih, saat melebar mata melihat sekeliling
Di jantung perubahan, semua bermetamorfosis semakin
ganas dan liar
Barangkali dapat kutemukan ketenangan lain selain di
sini
Saat semua kecurangan dan kejahatan jadi rutinitas
yang tak enak hati bila tertinggal
Masih kurang jenaka kah negeri ini?
Baiklah akan kupikirkan lagi yang lebih gila
Mungkinkah jika ada yang meramal
Semua kegaduhan negeri akan berhenti di tahun 2030?
Binasa semua kesemuan, melebur dalam ketundukan
jajahan
Kupikir tak ada yang lebih tak waras dari pada itu?
Depok, 21 April 2018
143
99.
Vitalis Koten
Tuan Pemimpin
(untuk pemimpin asal-asalan)
Tuan pemimpinku
Engkau tak perlu bertopeng
Hanya perlu bersolek muka
Agar tampil memesona
Ngeri di muka ajal
Nyala matamu buta dunia
Namun namamu minta dikenal
Tuan pemimpinku yang tampak santun dan berbudi
Bibirmu sarat kata
Belum pernah berkeringat
Permintaanmu disebut sebelum terlambat
Tuan tak perlu resah
Sebab bisa bicara
Mati bukan akhir kisah
Maumere - Flores, 28 Januari 2018
144
Vitalis Koten
Bayanganmu, selalu hadir setiap malamku
Saat suasana menjadi horor dan mencekam
Yang siap merenggut dengan paksa kebahagiaanku
Bayanganmu, selalu datang di setiap mimpiku
Saat aku mimpi buruk
Tentang kau yang selalu cemaskan kursimu yang
empuk, kasurmu yang tebal, egoisme hatimu yang
senantiasa seperti serigala mencari mangsa dan pikiran
yang serasa ingin selalu menguasai dunia
Bayanganmu, selalu
menemani dalam sepiku
Saat aku merasa sendiri dan ketakutan
Mungkin kami semua bisa kau tipu dengan suara yang
bisa dikarang indah
Aku pun tak kuasa menyimpan tanya
Kamu itu pemimpinku apa hantu sih?
Maumere - Flores, 21 Januari 2018
145
100.
Wadie Maharief
Plonco
Kita kenal sejak masuk SMA
Kita sama-sama diplonco
Aku diberi nama oleh senior; Kambing
Kau diberi nama; Melati
teman-teman lain ada yang diberi nama kelinci.
tupai, monyet, soka, kamboja, melur
nama-nama dipampangkan di dada
plonco yang meriah
meski sering dibuat susah dan payah
minta tandatangan dilempar sana-sini
tetap tabah
sejak itu aku selalu memanggilmu melati
kau suka saja
tapi tentu aku tak suka dipanggil kambing
meski aku berjenggot lebat kayak bandot
anehnya, setelah tua
banyak teman-teman yang suka pakai nama lain
seperti sembunyikan identitas dan jadi orang asing
rambut disemir warna pirang cemerlang
ada teman laki-laki suka pakai kalung dan anting
yang perempuan potong rambut cepak
dan pakai celena jins sobek
ada yang suka tampil parlente
meski sebenarnya kere
ada yang berlagak pintar
tapi tipu sana-sini dengan gencar
apakah ini sisa-sisa budaya plonco
diajari pakai topeng untuk menutup bopeng?
----- Yogya 11 April 2018
146
101.
Wage Tegoeh Wijono
Utang
utang itu
kekasihku
mengantarkan daya beli tetap terjaga
sekalipun mengurangi jatah harian
mingguan
atau bulanan
dan utang negara?
apakah hanya untuk menjaga hubungan bilateral?
ah
barangkali ya
barangkali tidak
kata negarawan
tak bisa sesimpel itu
kalau bicara simpel
seluruh kekayaan negara sudah cukup untuk sejahtera
bersama rakyat
tapi nyatanya
.............
Purwokerto, 12042018
147
102.
Wahyudi Abdurrahman Zaenal
Mbeling
Mereka itu lupa kalau polahya kayak tikus
Blusukan mencari ruang yang banyak upeti berbungkus
Edan memang, lahan-lahan sempit pun sekarang
diperebutkan (poli)tikus
Lemot gaya otak picik lihai mainkan jurus
Ingin kaya ikuti jejak para tikus
Nyomot harta seenak udel bikin rakyat kurus
Geger rasa kalau-kalau tersandung KPK wajahnya takut
dikremus
TRY, 2017
148
103.
Wardjito Soeharso
Jika Duit Sama dengan Kekuasaan, Maka …
Jika duit sama dengan kekuasaan
Punya duit punya kekuasaan
Punya kekuasaan punya duit
Tak berduit tak berkuasa
Tak berkuasa tak berduit
Orang berduit tentu berkuasa
Orang berkuasa tentu berduit
Orang tak berduit tentu tak berkuasa
Orang tak berkuasa tentu tak berduit
Semakin banyak duit semakin berkuasa
Semakin berkuasa semakin banyak duit
Semakin tidak berkuasa semakin tidak berdaya
Semakin tidak berduit semakin nestapa
Jika duit sama dengan kekuasaan
Orang membeli kekuasaan dengan duit
Orang menimbun duit dari kekuasaan
Orang berbuat apa saja demi duit dan kekuasaan
Jika duit sama dengan kekuasaan
Duit menjadi tangga menuju kekuasaan
Kekuasaan menjadi sumber pencetak duit
Jika duit sama dengan kekuasaan
Hitunglah duitmu kau tahu berapa besar kekuasaanmu
Manfaatkan kekuasaanmu kau tahu berapa banyak
duitmu
Jika duit sama dengan kekuasaan
Maka ketika duit dan kekuasaan menyatu
Menjelma biang dari segala biang keburukan
Merusak tatanan kehidupan
149
Jika duit sama dengan kekuasaan
Maka duit dan kekuasaan membangun satu diksi
: Korupsi!
03.03.2018
150
104.
Wirol O. Haurissa
Komenin
tidak ada keseriusan yang dicicil bersamaan dengan
cabe dan bawang. diadukan di atas cobe, dituangkan
dan dicampurkan dalam kuali menjadi zaman pedis,
bersing bersinggungan, hacing ditambahkan debu,
pedih-pedih, melo-melo melobi. dan digantungkan pada
ujung-ujung bibir dengan kecup kecupan cemburut,
cemungut-cemungut seumpama wajah keriput dibedaki
bedak limasenti. dicita-citakan di tipi-tipi, di kopan-
kopan, di pupisi-pupisi dan di kenangankan dalam
karangan tukar-menukar kata mengeram, harum
kemesraan yang membawakan
kita ke sebuah tertawakan miris-miris, miring-miring
151
105.
Yan Ari Wibowo
Hiburan Tanpa Rencana
Instansi Pendidikan lahang rekreasi
Impian dunia kerja tempat pariwisata
semua semakin menyulitkan tuk mengembangkan diri
mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kuliah
ha ha ha
semua hiburan tanpa rencana!
Suatu Pagi (di Jakarta)
Setiap pagi, kakiku hanya tau jalan – jalan yang
tergenang,
setiap pagi, telingaku hanya mendengar lengking
ngengat tanpa sayap berparade
setiap pagi, mataku pertanda sesal, tertumbuk pohon
mati nan busuk
setiap pagi, hidungku mencium panasnya udara hitam
malam.
entah sampai kapan kutulis hari – hari ini
semua terasa sangat sulit dicapai
bahkan sangat aneh ketika harus kubaca lagi
seperti memaki hidup sendiri.
152
106.
Yanu Faoji
Orang-Orang yang Tertawa
Jika tengok kebelakang maka akan kau temukan
Sisa-sisa peluh pada baju dan celana rombengku
Aku yang terlahir dari sepasang pematuh
Yang tulusnya diganti dengan balas tak sewajarnya
Embun yang hampir menyapu bersih seluruh muka ku
Yang membasuh helai-helai ubanku
Dengan tudung yang pengaitnya sengaja
ku kalungkan pada leher dan menggantung dibawah
tengkuk
Melumuri kaki dengan lempung-lempung yang aku
pijaki
Gubug yang beratap jerami akan melindungi
Tubuhku dari sunyinya gulita beserta dinginnya rintik
Yang mulai liar terbawa derau yang tak beratur
Padahal tujuanku ini hanyalah menghidupimu
Agar kau jadi insan generasi yang berakhlak budi
Malah sawah-sawah yang kutanami padi
Kau ringkus dan diganti pabrik-pabrik
Atau malah kau jual kepada penjajah
Sedangkan kaum –kaum mu kau telantarkan
Bahkan otak-otak kecil suci tak kau kasih ilmu
Dibiarkan dengan liar berkeliaran
Di kolong jembatan, di pinggiran trotoar
Kau sangat lucu…
Membunuh diri dengan cara konyolmu
Kau lebih suka mengisi perutmu
Dengan logam-logam atau besi produksi industri
Kerongkonganmu akan kemarau
Akibat kali-kali tak lagi air yang mengaliri
Melainkan limbah-limbah dan kotoran
Orang-orang yang akan menertawaimu
Jakarta, 13 Maret 2018
153
107.
Yemi Alfiani
Negeri Para Pendongeng
Telah dikisahkan dahulu
Kala aku masih dalam buaian ibu
Tentang saktinya negeri pertiwi
Menjadi buah bibir banyak orang
Apabila ditancapkan kayu di tanah
Maka akan tumbuh
Apabila dibasahi rintik-rintik hujan
Akan subur tanaman
Tatkala terik mentari menyerang
Tetap ditemukan rasa nyaman bersandar di bawah
pohon menjulang
Kini, negeriku terlelap pulas
Telah terlena dengan dongeng-dongeng
Dalam buaian
Mimpi-mimpi hanya omongan
Jagad pertiwi terasa hanya persinggahan
Tidak ada lagi damai
Tanah sudah berlumpur api
Rintik hujan bisa menjadi bencana
Terik mentari terasa membakar
Seiring waktu saktinya pun memudar
Seiring waktu tanah surga yang dulu dipuja, lambat laun
menjelma neraka.
KRC, April 2018
154
Yemi Alfiani
Syurga yang Membuat Sengsara
Konon, segumpal tanah dari syurga
Telah dicampak ke bumi
Segumpal itu menjadi negeri
Negeri yang asri
Sejuk dan menghijau alamnya
Teramat indah pantainya
Menjulang kokoh gunung-gunungnya
Membuat mata memandang tanpa henti bersyukur
Keindahannya pula
Menjadi awal sengsara
Berdatanganlah penghuni asing
Untuk melihat indahnya negeri lintasan khatulistiwa
Lama waktu berlalu
Kini.
Aku lapar, aku tidak bisa makan nasi ataupun ubi
Aku haus, aku tidak bisa minum air bersih
Aku ingin melihat langit yang membiru
Aku ingin berlari di bibir pantai
Tapi aku tidak bisa
Gunung-gunung sampah telah menjamur
Air bersih sangat langka
Ketika mengadah menggumpal awan hitam
Limbah pabrik ikut serta memberi warna
Yang katanya tanah syurga telah tiada
Telah lenyap bersama guliran waktu
KRC, April 2018
155
108.
Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Ingin Tertawa
Pagi ini sungguh basah
Cakrawarala pun sedang berkabung
Serigala berbuluh domba
Lagi berkeliaran
Mencari mangsa
Domba tambun
Domba yang setia
Dimangsa serigala
Yang kejam dan bengis
Srigala bingung dengan permainan domba
Yang setia dan jujur pada wilaya kekuasaannya
Satu per satu srigala masuk dalam jebakan domba
Domba setia, jujur dan pendiam
Domba paham srigala tak mengerti dunianya
Domba ingin tertawa
Srigala ingin berkuasa hanya terus gagal
Di Negeri ini terdengar kafir dari teriakan tetangga
Tetangga lain terdiam
Urusan rumah tangga
Ada hakim, jaksa dan polisi
Tapi demonstran berkuasa
Negeri hukum
Hukum yang ompong dari tuntutan massa
Hukum di negeri ini ingin ditertawa
Kalikasa, 1 April 2018
156
Yoseph Yoneta Motong Wuwur*
Negeri Mimpi
Aku bermimpi
Akan cita dan asa di depan mata
Inginku seperti merpati yang setia
Tidak.seperti gagak yang tak percaya diri
Atau merak yang tersiksa karena indah buluhnya
Mimpi akan pemimpin yang setia
Pemimpin yang mementingkan kesejahteraan
masyarakat
Bagai seekor induk ayam melindungi anaknya
Induk ayam mengais mencari makan untuk anaknya
Di negeri ini pemimpin yang jujur dibenci
Dicemooh
Orang dunguh disanjung
Orang yang berkata benar dijauhkan
Orang pembohong dan pencuri ditemani
Kalikasa, 1 April 2018
157
109.
Yuri Rakasiwi
Keseharian Negriku
Aneh jika dilihat sekarang
Negriku banyak berubah
Bangunannya, lihatlah
Dulu pondok roboh, sekarang gedung pencakar langit
Langit kok dicakar
Disini sedang perang
Perang sengketa, argumen bahkan moral
Demonstrasi dimana-mana
Bak perang troya
Sedikit-sedikit pukul, sedikit-sedikit hantam
Mungkin nyawanya punya cadangan
Yang ber-uang berkuasa
Yang miskin menghamba, meratap
Tak peduli luka, mengais tak ada
Mereka bisa makan hari ini, besok ?
Mana tahu
Jual diri saja, jangan
Harga diri tetap tak terbayar
Rakyat bersuara, pemerintah lebih
Perutnya buncit-buncit
Duduk-duduk santai, sedang yg di bawah sengsara
Aduhai,
Berdiri berbicara lucu
Pelawak kecewa, kalah popularitas
Ayolah negriku, jangan begitu
Masing-masing punya perut
Yang harus di isi
Negriku Negri Kawakan
Negriku negri kawakan
Bestari, hanya sebatas kata
158
Hanya sebatas sedu sedan
Aneh
Bocah imut tau cinta-cintaan
Amboi, di khitan saja belum
Wajah polos dibalut seragam merah putih
Dengan santainya cium-ciuman
Dek, sekolah dulu ya ! Kasian orang tua
Kasian si gundu dilupakan
Gara-gara internet meraja lela
Tak peduli usia, tua atau muda
Duduk bersila, menatap maya
Negriku panas
Prostitusi sudah biasa
Obat dijual bebas
Dari narkoba hingga obat kuat
Hah,Laku keras
Negriku modern, katanya
Dulu petak umpet di saung
Sekarang umpet privasi
Sayang ya, keseruan tlah usai
Yang nyata berganti maya
159
110.
Zam'sta /Moh. Rikzam
Negeri yang Lucu
Di negeri ini,
Orang-orang menyaksikan pelawak
Menangis tersedu
Dan melihat tingkah penguasa
Tertawa terhibur
Di negeri ini,
Orang-orang kehilangan rasa malu
Hingga ego, ambisi,
Keculasan dan kelicikan
Menjadi tontonan yang dikhalayakkan
Di negeri ini,
Korupsi menjadi tradisi
Turun-temurun
yang terus dipertahankan
Suap dan politik uang dibudayakan
Di negeri ini,
Hukum menjadi alat pemuasan nafsu
dan kepentingan
Serta tameng bagi tiap-tiap
kebusukan dan kebobrokan
Di negeri ini,
Aku menangis karena luka
Tapi, orang-orang tertawa karena lukaku.
Aku ikut saja tertawa,
Menertawakan tangis sendiri
Batuputih, 2017
160
Zam'sta (Moh. Rikzam)
Negeri Mimpi
Di dalam mimpi
Aku berjalan ke setiap setapak negeri
Memanggul surga
Sepikul wajah purnama
Sekeranjang angan-angan luhur
Sampai tidurku memasuki
riuh angin pasar-pasar
Matahari kupetik dari senyum kekasihku
dan kujadikan bantalku
Surgaku menjadi seculun mitos
yang melintasi lorong-lorong negeri dongeng
di atas tanah, hutan-hutan penuh mistis
dan laut yang tergerus
Juga sebuah dusun dikabuti kemarau
dan kecemasan
kasak-kusuk, percekcokan
Mendengung ke udara
Hingga akhirnya aku terbangun
dalam se-tubuh kesangsian
Batuputih, 2017
161
Biodata Penyair Lumbung Puisi Sastrawan
Indonesia Jilid VI Indonesia Lucu :
1. Adelia Dwi Cahyani, penyair ini tinggal di
Ponorogo, Jawa Timur. Puisinya mengisi Lumbung
Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
2. Agus, lahir di Pinrang 25 Desember 1994 lalu sejak
kecil menetap di pangkep.Kini belajar di Universitas
Negeri Makassar program studi Sastra Indonesia. Dan
beribadah di Bengkel Sastra.
3. Alek Brawijaya, lahir di Teluk Kijing Kec Lais
Kab Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 11 mei 1992.
Tulisannya pernah dimuat dibeberapa media lokal dan
nasional serta tergabung dalam beberapa Antologi
puisi bersama. Kini bernaung dalam komunitas
perintis”ARSI – (ARUS MUSI), tinggal di Kab Musi
Banyuasin, Sumatera Selatan.
4. Aloysius Slamet Widodo, lahir di Solo, 29
Februari 1952 . Adalah sastrawan Indonesia angkatan
2000. Mengunjungi SD Pangudi Luhur Purbayan, SMP
Bintang Laut, SMA Santo Yoseph, dan arsitektur ITB.
Karyanya natara lain : Potret Wajah Kita 2004,
Bernafas dalam Resesi 2005, Kentut 2006, Selingkuh
2007, Simpenan 2009, Namaku Indonesia 2012.
Penyair ini dekenak dengan Tokoh penyair dengan
puisi-puisi Glayengan yang terkenal. Bersama
Sosiawan Leak dan Rg Bagus Warsono dicatat sebagai
pembaharu puisi Indonesia dengan tema-tema puisi
Sakkarepmu (puisi bebas sekehendak hati) dan pada
Penerbitan Antologi Bersama Lumbung Puisi Jilid VI
Indonesia lucu menampilkan puisi Irit Kata yang
membuat pemmbaca antologi ini terpingkal-pingkal.
162
5. Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah.
Karyanya dimuat Mata Media antologi bersama, Puisi
Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta 2013),
Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan
Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta 2013),
keluarga adalah Segalanya #1 (el Nisa Publisher,
Jakarta, 2013), kelola Buletin Gandrung Sastra Media
& Perahu Sastra. Tinggal di Margoyoso-Pati.
6. Ancis Mura, merupakan nama pena dari
Fransiskus Mura. Lahir di Diawatu, Nagekeo-Flores 13
April 1993.Menulis puisi di beberapa media lokal yakni
Harian Pagi Pos Kupang dan beberapa media online
seperti Floressastra.com, Vox NTT, Flores Post dan
lain-lain. Saat ini berstatus sebagai Mahasiswa aktif di
Sekolah Tinggi Filsafat Katolik – Ledalero- Flores,
NTT. Berdiam di Maumere-Flores-NTT.
7. Anggoro Suprapto, Lahir di kota kecil, Juwana,
Pati, Jawa Tengah, 17 Agustus 1962. Lulusan sarjana
komunikasi, meneruskan pasca sarjana non gelar
jurusan khusus jurnalistik. Hidup sebagai penulis, dan
dijuluki teman-temannya "pabrik naskah" karena
menulis apa saja, baik karya fiksi maupun nonfiksi.
Banyak bukunya yang sudah diterbitkan, di
antaranya: Kumpulan Puisi: Album Biru, Puisi-puisi
Heroik, Tugumuda. Kumpulan Cerpen: Wagiyem,
Matindo, Selamat Pagi Play Boy. Novel: Nyanyian
Sepanjang Jalan, Matahari Merah, Amiyati Gadis
Desa, Jatuhnya Soeharto, Padang Ilalang Gersang.
Juga menulis Buku-buku Nonfiksi, diterbitkan Kompas
Gramedia, dan penerbit lainnya. Karyanya juga
banyak diterbitkan secara gabungan.
8. Arfian Catur Juliarfan, nama lainnya Nyong
lahir pada 14 Juli 1995 di Kabupten
163
Bulukumba. mahasiswa tingkat akhir di Fakultas
Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
9. Arfian Rizky Pratama, Lahir tanggal 4 maret
1998 pernah bersekolah di SDN Grogol 2, SMPN 1
Grogol, dan SMAN 2 Nganjuk. Saat ini mahasiswa
Universitas Negeri Malang . Puisinya mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
10. Arizto rianthoby thextc, penyair ini berasal
dari Flores Adonara. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
11. Arya Setra, penyair sekaliguis seniman ini telah
menulis di beberapa antologi bersama nasional dan
tingal di Pasar Seni Jakarta.
12. Asrul Irfanto, penyair ini lahir di Bojonegoro, 6
Desember 1977 dan tinggal Di Bojonegoro Jawa Timur.
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
13. Astika Elfakhri, lahir di Kendari pada tanggal 23
Juli 1992, adalah arsitek dan penulis puisi asal
Sulawesi Tenggara yang bergiat di Komunitas Arus
Kendari. kumpulan puisinya “Bertuhan pada Bunga-
bunga” telah diterbitkan pertama kali pada Februari
2018 oleh Settung Publisher.
14. Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran
Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal
antara lain Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat
Kata (2011), Jalan Tak
Berumah (2014), Paradoks (2016), Silsilah yang
164
Gelisah (2017). Kumpulan esainya Kata Ruang (2015).
Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi
bersama antara lain Deklarasi Puisi
Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Secangkir
Kopi(2013), Lintang Panjer Wengi di Langit
Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem
Jakarta (2014), Negeri Langit (2015), Negeri
Laut (2016), Pasie Karam (2016), Ije
Jela (2016), Matahari Cinta Samudra Kata(HPI.,
2016), Sail Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Kota
Terbayang (2017), Hikayat Secangkir
Robusta (2017). Pesona Ranah Bundo (2018), Negeri
Bahari (2018). Ikut menulis esai di buku antara
lain Jaket Kuning Sukirnanto (2014) Ngelmu Iku
Kelakone Kanthi Laku (2016), Apresiasi Sastra dan
Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam
Puisi (2017).
15. Buanergis Muryono, lahir di Muria Jepara 52
tahun silam. Menulis sejak kecil sampai sekarang. Aktif
di media editorial, teater, audio, radio, animasi, iklan,
video, film, dokumenter. Art and Culture Consultant.
Javanolog dan guru besar di Sanggar Mariska,
"Membina Kreatifitas Generasi Muda." Motto : Dirimu
adalah jawaban Tuhan. Tinggal di Jakarta Bertapa di
Bogor.
16. Bunga Citra Perdana, lahir di Malang 16
September 1978, Penyair ini tinggal di Malang , Jawa
Timur. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
17. Brigita Neny Anggraeni, lahir di Semarang 02
Februari 1979. Suka menulis puisi, buku sejarah,
budaya, esay, parenting dan ilmu pengetahuan.
165
Beberapa bukunya telah diterbitkan oleh Elexmedia
Komputindo. Beberapa lagi dipasarkan secara online
seperti buku nya novel sejarah berjudul Saridin. Puisi-
puisinya tergabung dalam Puisi Menolak Korupsi.
Merdomisili di Semarang, di Klipang Pesona Asri.
18. Ceissar Sihotang, ahir di Jakarta, 8 Juni.
Tempat tinggal di Sunter, Jakarta Utara. Menyukai
Seni lukis dan Fotografi, juga senang mempelajari
banyak Bahasa Asing. Beberapa puisi sempat dimuat
di Kumpulan Fiksi dan Antologi bersama : Long
Distance Relationship, Nyala Puisi, Puisi Pematang
Siantar, Jarak dan Rindu, serta Perempuan
Memandang Dunia. Buku Pertama “Bad Sense”.
19. Chalvin Papilaya, lahir di Poka/Ambon pada 23
Januari 1992. Selain menulis puisi juga menulis naskah
teater. Ia kadang-kadang bermain teater di Bengkel
Sastra Batu Karang.
20. Denis Hilmawati, lahir di Solo 02 Februari 1969.
Buku Antologi Bersama yang pernah diikuti Denis
Hilmawati diantaranya adalah: Haiku
Indonesia,Sonian, Kitab Karmina Indonesia Seribu
Wajah Ambarawa, Menyemai Ingat Menuai Hormat,
Puisi Sakkarepmu Bersama Penyair Mbeling
Indonesia, Untuk Jantung Perempuan bersama Ewith
Bahar, Cemara Cinta, Memo Anti Teroris, Memo Anti
Kekerasan Terhadap Anak.
21. Dewa Putu Sahadewa, Lahir di Denpasar, 23
Februari 1969, memasuki Fak. Kedokteran Udayana.
Karyanya antara lain Di Rumah Dedari , Frame
Publishing 2015. Ia adalah penyair Bali, tinggal di
Kupang Nusatenggara Timur.
166
22. Diah Natalia, S.Si., Apt, lahir di Jakarta,
prestasi yang pernah saya raih berjumlah 16 rupa,
saya apoteker yang masih berjuang meraih gelar
master demi kehidupan yang lebih layak, gemar
menulis . Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
23. Dicky Armando, S.E., penyair amatir atau bisa
juga disebut penyair jalanan dari Kota Pontianak,
Provinsi Kalimantan Barat. Telah menetaskan dua
buku kumpulan puisi yaitu; Huruf-Huruf Kering dan
Kumpulan Puisi Melamun.
24. Dwi Nurul Idayanti, lahir di sidoarjo, 12 April
1999. Saat ini tengah menempuh pendidikan di
Universitas Jember. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
25. Elok Faiqotul Hima, Lahir di Bangkalan, 25
Desember 1999,pelajar di SMA Negeri 1 Glenmore,
Banyuwangi, merupakan anak pertama dari tiga
bersaudaa dari pasangan Rumyani Prasetya Wati dan
Imam Baidawi. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid
VI, Penebar Pustaka 2018.
26. Fahad Fajri, lahir di Karawang, 28 januari 1996
saat orang-orang sibuk bersantap sahur pada bulan
Ramadhan, aku keluar dengan tangis uring-uringan.
Sekarang aktif sebagai mahasiswa Universitas
Singaperbanhgsa Karawang program studi Ilmu
Pemerintahan.
27. Fajar Chaidir Qurrota A’yun, lahir di Jakarta
tanggal 23 Agustus 1993, bertempat tinggal di
Perumahan Graha Bakti Kodam Jaya, Cikarang
167
Timur, Kabupaten Bekasi, saat ini adalah mahasiswa
STAI Haji Agus Salim Cikarang jurusan Pendidikan
Agama Islam. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid
VI, Penebar Pustaka 2018.
28. Fian N, Lahir 03 Desember 1995 pada sebuah
desa yang bernama Olakile. Puisinya juga mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
29. Fathurossi, lahir tanggal 24 juli, di desa Jadung
Dungkek Sumenep. Berproses di Lubselia sejak 29-07-
2015, hingga kini. Aktif di perpustakaan sekolah .
Penyair ini adalah siswa kelas akhir SMA Annuqayah,
Sumenep. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
30. Funuun A.B.M, atau Siti Chusnianingsih.
anak ke 3 dari 4 bersaudara. lahir di Jepara, 07
Agustus 1995. kegemaran menulisnya baru berani ia
ungkapkan pada tahun 2018. Mahasiswa Universitas
Negeri Semarang. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
31. Ghofiruddin Alfian lahir di Trenggalek pada 16
Desember 1990. telah menerbitkan dua buku puisi
tunggal, yaitu Catatan Seorang Mbambung (Diandra
Creative, 2016) dan Perempuan Sekilas
Pandang (Sembilan Mutiara Publishing, 2018) yang
merupakan bagian pertama dari buku puisi Trilogi
Area 38, disusul bagian kedua dan ketiga: Timur
Daya dan Filosofi Simu Area 38 yang masih dalam
proses pengendapan.
32. Gilang Teguh Pambudi, lahir di Curug Sewu
Kendal, Jawa Tengah. Tetapi menghabiskan masa
168
remajanya di Sukabumi, Jawa Barat. Lalu setelah
bekerja dan berkeluarga di Bandung sempat
berdomisili di Bandung, Purwakarta, dan Jakarta.
Terutama karena tugas sebagai penyiar dan manajer
Radio. Menulis di koran sejak kelas 1 SMA. Puisinya
terkumpul dalam beberapa buku antologi bersama,
selain antologi sendiri.
33. Hafizhah Nurdini, lahir di Pagatan, Tanah
Bumbu, Kalimantan Selatan pada tanggal 13
Nopember 2001. Anak tunggal dari pasangan Antung
Zainun dan Amiluddin. Kini mengenyam pendidikan di
MAN Insan Cendekia Tanah Laut angkatan ke-2.
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
34. Harkoni Madura, Lahir di Sampang, 3
Desember 1969. Puisinya dimuat di Jawa Pos, Radar
Madura, Media, Tera, Lensa
Madura, dan Aschal. Puisinya juga dimuat dalam a
ntologi bersama antara lain: Dzikir Pengantin Taman
Sare (2001), Tikar Pandan di Stingghil (2011),
Memo Untuk Wakil Rakyat
(2015), Mengunyah Geram (2017) dan lain-lain.
Beralamat di SDN Banyuates 4, Kec. Banyuates,
Kab.Sampang.
35. Hasan Bisri BFC, tahu dari kakaknya, bahwa
kelahirannya 18 Agustus 1964, karena sehari
sebelumnya ada perayaan 17-an. Tapi oleh pejabat
desa, kelahirannya dicatat sebagai 1 Desember 1963.
Lahir di Karang Jompo, Tirto, Pekalongan.
Kesukaannya menggambar kartun, menulis humor
dan wayang mbeling, membuat skenario komedi.
Pernah nekad jadi pelawak bersama cewe Ausie
169
berkulit putih bersih, cantik dan berambut blondie
panjang, di negeri Kanguru, tepatnya Brisbane (1994 ).
Namanya Debra Surman. Beberapa kali memperoleh
penghargaan dalam penulisan naskah humor dan
skenario. Bersama seorang istri dan keempat anaknya
yang lucu-lucu tinggal di Bojong Kulur, Gunung Putri,
Bogor, tempat yang apabila hujan deras tidak banjir,
tapi dalam keadaan berawan bisa seleher banjirnya
karena kiriman dari hulu sungai Cikeas dan Cileungsi.
36. Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan
lima puluh enam tahun yang lalu. Berkiprah di dunia
penulisan sastra sejak masih remaja sekitar tahun
1975. Tulisannya berupa puisi, esai, kritik dan cerita
pendek pernah di muat di berbagai majalah dan surat
kabar nasional dan daerah antara lain Horison,
Republika, Media Indonesia, Jawa Pos , Suara
Merdeka, Solo Pos, Littera, Hysteria, Radar
Banjarmasin dan sebagainya . Prestasi yang pernah
diraih adalah penghargaan Komunitas Sastra
Indonesia Award 2003 dari yayasan Komunitas Sastra
Indonesia sebagai penyair terbaik.Salah satu puisinya
masuk dalam 100 Puisi Indonesia Terbaik dan masuk
dalam nominasi penerima anugerah sastra Pena
Kencana tahun 2008.Buku antologi puisi
tunggalnya Tilas waktu (2011) yang diluncurkan pada
temu sastra internasional Numera ( Padang, 2012)
masuk dalam katalog perpustakaan YaleUniversity
,Cornell University serta University of Washington
Amerika Serikat. Antologi bersama esai dan puisinya
menjadi koleksi Universitas Hamburg Jerman.
Namanya masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair
Indonesia (Yayasan Hari Puisi , 2017). Antologi puisi
tunggal keduanya telah terbit dengan judul Lelaki
Pemanggul Puisi (2017). Di luar itu, ia adalah inisiator
gerakan Puisi Menolak Korupsi yang didukung oleh
170
ratusan penyair Indonesia. Sekarang aktif mengelola
jurnal sastra dan budaya nasional Kanal yang
diterbitkan oleh komunitas sastra Simpang 5
Semarang.
37. Ihya Maulida, lahir tanggal 27 mei 2002 di
kecamatan Lampihong kab. Balangan, Kalsel. anak
dari pasangan H. Mas'ud Raniansyah dan Hj. Mahrita
dan merupakan anak bungsu pernah
mengayam pendidikan di R.A Lampihong, MTsN 4
Balangan, dan sekarang sekolah di MAN Insan
Cendekia Tanah Laut. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
38. Iskandar Zulkarnain, kelahiran Sumenep,
merupakan pembaca dan penulis yang aktif di LPM
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) dan
anak asuh Sanggar Basmalah. Sekarang sedang
menetap di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa
Selatan Blok B /08. Sebagian karyanya sudah banyak
yang dimuat di media, utamanya koran lokal.
39. Iwan Bonick, adalah penyair dan seniman asal
Bekasi tinggal di Kp Teluk Angsan Bekasi Senin pahing
2 April 2018. Puisinya terdapat di beberapa antologi
bersama nasonal, mengikuti Antologi Mencari Ikan
sampai Papua.
40. Khoerun Nisa, lahir di Tegal, 30 Juli 1999
tinggal di Dukuh jati kidul, Pangkah, Tegal. Puisinya
mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
41. Lailia Nurul Fauziah, penyair ini tinggal di
Kajen Margoyoso Pati. Puisinya mengisi Lumbung
Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
171
42. Lina Kus Dwi Sukesi, lahir di Madiun, 9 Juni
1983. Tinggal di Madiun. Puisinya mengisi Lumbung
Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
43. M.Asep Saypulloh, lahir di kediri,5 januari 2001
sekarang masih duduk di MAN 1 Kediri kelas XI -
Agama 2,Anak dari M.Ali Maksum dan Zaidah ini
punya 7 saudara. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
44. M. Rofiqi Fahmi HR, Penulis kelahiran
Lombang Gili Genting Sumenep. Ia pembaca dan
penulis yang masih menginjak bangku siswa kelas
akhir MA 1 Annuqayah dan merupakan anak asuh
Sanggar Basmalah. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
45. Maman Empun nama pena dari Muhamad
Irham lahir di Praya 7 Oktober 1981. Sekarang
bekerja sebagai pengajar di Pondok Pesantren
Sa’adatuddarain Wakan Praya Lombok Tengah NTB.
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
46. Marlin Dinamikanto, penyair ini kelahiran
Jogyakarta tinggal di Jakarta. Puisi-puisinya dimuat
dalam berbagai antologi bersama nasional. Puisinya
juga mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka
2018.
47. Masimus A. L. Sawung. Biasa dipanggil Maxi L
Sawung. Merupakan mahasiswa aktif di kampus STFK
Ledalero semester 6. Penulis berasal dari Maumere,
Flores, NTT. Rajin membaca buku dipinggir jalan.
172
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
48. Miftahur Rahim (Mast Oim), seorang penyuka
sastra dari Pati. Karya-karyanya pernah mengikuti
beberapa antologi puisi, diantaranya Santri Kajen
Tolak Korupsi (2016), Ramadhan (2017).
49. Moh. Zainudin, penyair di PP. Darul Ulum-
Griya Asumta, 27 Maret 2018. Puisinya mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
50. Moh Zaini Ratuloli (zaeniboli),lahir di
Flores,29-08-1982, beberapa karyanya juga pernah
ikut di Antologi Puisi menolak korupsi (Jilid 2b dan
jilid 4),Memandang Bekasi 2015,Sakarepmu
2015,Capruk Soul jilid 2,Antologi Puisi Klukung
2016,Memo Anti Kekerasan terhadap anak,Lumbung
Puisi jiid 5 dan Koran maupun bulletin lokal di Bekasi
.sejak 2013 akhir hingga sekarang tergabung dalam
komunitas Sastra Kalimalang(Bekasi) ,Juga aktif
bergiat di literasi dan teater.Sekarang mengajar di
SMK Sura Dewa ,Larantuka Flores NTT.
51. Mohammad Ikhsan Firdaus, Nama
penanya M I Firdaus, Lahir di Bogor, 30 Oktober
2002. Saat ini masih pelajar SMAN 1 Megamendung
Menulis di antologi bersama Puisi, Anekdot, Dan Haiku
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
52. Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru,
Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Puisi-puisinya
dipublikasikan pada Radar Banjarmasin, Banjarmasin
Post, Media Kalimantan, Koran Banjar, Tribun Bali,
Sumatra Ekspress, Palembang Ekspress, Majalah
173
Santarang, Majalah Simalaba, dan sejumlah antologi
bersama: Ije Jela ( Tifa Nusantara 3), Hikayat
Secangkir Robusta ( Antologi Puisi Krakatau Award
2017), 1550 MDPL(Kopi Penyair Dunia), Menemukan
Kekanak Di Tubuh Petuah (Stepa Pustaka, 2016,
terpilih sebagai kontributor terbaik), Dari Negeri Poci:
Negeri Bahari, Maumang Makna di Huma Aksara
(Kalumpu Puisi Penyair Kalimantan Selatan, Aruh
Sastra 2017), dan Rampai: Banjarbaru Lewat Sajak
(Antologi Puisi Penyair Kota Banjarbaru). Buku
kumpulan puisi tunggalnya Talkin ( 2017). Mahasiswa
di prodi Sastra Indonesia Universitas Airlangga,
Surabaya.
53. Muhammad Fawaz, Puisinya mengisi Lumbung
Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
54. Mukhlisin. Dikenal dengan nama pena sebagai
“Muhlis Hatba”, sekarang tinggal di Bone “Tanah
Bugis” Sulawesi Selatan. Pria penyuka syair, sastra
dan dunia jurnalistik ini, lahir di Jambi tahun 1977
lalu. Juga, pegiat Komunitas TuLI (Tulisan Liar
Independen) Bone dan LSM setempat. Sejak tahun
2000, mengabdikan diri sebagai ASN dan kini
beraktivitas pada salah satu PTKIN di Indonesia
Timur.
55. Muttaqin Haqiqi, lahir di Pemalang, 1 Mei
1998.Saat ini tercatat sebagai mahasiswa aktif
semester 4 pada Universitas Negeri Semarang, jurusan
Teknik Mesin. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
56. Naafi’ Fitriani Sri Sundari, lahir 3 Oktober
2004 di Sintang, Kalimantan Barat. Putri pertama
174
dari dua bersaudara. Merupakan putri dari pasangan
bapak Sukino dan Ibu Saumi Setyaningrum. Saat buku
terbit masih pelajar MTs Negeri I Pontianak. Buku
kumpulan cerpen dengan judul: “Apa Itu Favourite?”
merupakan buku pertama Naafi’ yang berhasil
diselesaikan dan diterbitkan pada tahun 2017.
57. Najibul Mahbub, mengikuti beberapa antologi
bersama : Antologi 105 Penyair, Semanggi Surabaya,
Indonesia dalam Titik 13, Penyair Menolak Korupsi
jilid I, Penyair Menolak Korupsi Jilid II, Menuju Jalan
Cahaya, Antologi tentang Gus Dur, Habituasi Wajah
Semesta, Daun Bersayap Awan, Ziarah Batin, Antologi
Puisi 2 Koma 7, Puisi Menolak Korupsi Jilid I, Puisi
menolak korupsi jilid 2, Antologi Wakil Rakyat, Memo
Wakil Rakyat, Memo Anti terorisme, Memo Anti
Kekerasan Anak, Memo untuk Presiden, AntologiPuisi
Kampungan, Antologi Puisi “Ayo Goyang”,Antologi
Puisi 122 Penyair “Cinta Rindu Damai dan Kematian”,
Rasa Sejati (Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia),
Memo Kepala Daerah, Kumpulan Esai PMK “Bungai
Rampai PMK”, Antologi “Madah Merdu Kamadhatu”
Magelang 2017, Antologi puisi religi “Tadarus Puisi”
2017, antologi kita dijajah lagi, antologimerawat
kebhinekaan,dan antologi jendela Pekalongan.
Penulis juga adalah guru Bahasa Indonesia dan juga
pendiri teater Bayang di MAN 2 Pekalongan
merupakan Pria kelahiran 13 Maret 1981.
58. Nazil, Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
59. Nita Pujiasih, Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
175
60. Nurholis, lahir tahun 1990 di Samboja, Kutai
Kartanegara, Kalimantan Timur. Seorang buruh
tambang yang cinta puisi. Karyanya tergabung dalam
antologi bersama: Mengunyah Geram, 100 Puisi
Melawan Korupsi (2017), The First Drop Of Rain,
Banjarbaru Festival (2017) dan Dharma Asmaraloka
(2018).
61. Nur Komar, lahir di Jepara pada 1 Agustus 1977
bergabung dalam antologi bersama : Kitab karmina
Indonesia (2015), Klungkung; Tanah Tua, Tanah Cinta
(2016), Membaca Jepara 2 dan 3 (2016, 2017),
Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia V; Rasa Sejati,
Kita Dijajah Lagi (2017), Sajak-sajak Anak Negeri;
Bianglala (2017), Munajat.
62. PEmppy C S., Lahir di Jakarta 8 Juni. Tinggal di
Jakarta Utara. Beberapa karya puisi saya sempat
dimuat di oase kompas,radar seni,kumpulan fiksi,
competer,lini fiksi, poetryprairie, Lentera puisi dan
antologi bersama Long Distance Relationship, Tifa
nusantara 3, Jarak dan Rindu, Banjarbaru’s Rainy
Day Literary Festival. Buku pertama (Bad Sense).
Menggemari seni Fotografi, seni Lukis juga Teater.
63. P.Lugas.N, nama pena penulis Petra Lugas
Nuswantoro yang berasal dari Kota Bengawan (Kota
Solo), lahir Karanganyar 2 Mei 1991. Telah
merampungkan studi Jurusan Administrasi Negara di
FISIP, UNS. Anak Pertama dari 2 bersaudara
Pasangan Sudiyono-Harni adik bernama Skyvan
Enggar.M. Puisinya telah dimuat di Surat Kabar lokal
dan tergabung dalam beberapa buku antologi puisi.
176
64. Pranaja Akbar Suranto, santri di pondok
pesantren MA. Husnul Khotiomah , Kuningan Jawa
Barat. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
65. Purnama Sari, Lahir di Ngawi, 18 Juli 2000
Tinggal di Gemarang rt/rw 03/04, kec. Kedunggalar,
kab. Ngawi, Jawa Timur, Saat ini adalah mahasiswa
program studi Matematika UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
66. Raden Rita Maimunah, penyaiir ini tinggal di
koto Tengah, Padang, Sumatera Barat. Sehari-harinya
penyair ini sebagai pendidik di SMK di Padang.
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
67. Raditya Andung Susanto, dengan nama pena
Raeditya, pelajar kelas XII di SMK Bhara Trikora II,
tinggal di Paguyangan Brebes. Member Bumiayu
Creative City Forum (BCCF) divisi sastra dan Relawan
Pustaka Rumah Impian. Penyair RUAS Indonesia-
Malaysia Ke 4 2017.
68. Rahmat Akbar, lahir di Kotabaru 04 Juli 1993
tepatnya di Kalimantan Selatan. Puisinya, pernah
menggisi media Tribun Bali, Media Kalimantan,
puisinya “Hitammu Di Tanahku” antologi puisi ASKS
Ke 13 KALSEL 2016, puisinya di antologi “
Gemuruh1001 Kuda Padang Sabana, antologi puisi “
Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku,
antologi puisi “Tadarus Puisi Kalsel 2017”, antologi
puisi ASKS ke 14 KALSEL 2017, antologi puisi “Puputan
Melawan Korupsi” Bali.
177
Penyair ini kesehariannya adalah guru Bahasa
Indonesia di SMA Garuda Kotabaru dan aktiv
tergabung di komunitas Taman Sastra SMA Garuda
Kotabaru.
69. Rahel Tambun S.Pd, lahir di Silombu Bagasan,
27 Agustus 1995, menamatkan sekolah dasar di SD
Negeri 173660, SMP Negeri 2 Lumban Julu, SMA
Negeri 1 Pardinggaran dan melanjutkan pendidikan Ke
perguruan Tinggi Negeri Medan (UNiMED) dan
menamatkan kuliahnya pada tahun 2017. Puisinya
mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018,
70. Raidhatun Ni’mah, lahir 12 juni 1998 di
Kandangan,Banjarmasin,kalimantan
selatan.Sekarang tinggal di Asrama 1 puteri UIN
Antasari Banjar Masin sebagai mahasantri yang
tengah mengenyam bangku kuliah di Universitas Islam
Negeri, Banjarmasin Timur,Kalimantan Selatan.
71. RB. Edi Pramono, sebagian sajak-sajaknya
terbit di antologi bersama: Dari Sragen Memandang
Indonesia, Puisi Menolak Korupsi Jilid II, Habis Gelap
Terbitlah Sajak, Ensiklopegila Koruptor, Memo Untuk
Wakil Rakyat, Memo Anti Terorisme, Memo Anti
Kekerasan Terhadap Anak, Madah Merdu
Kamadhatu, Antologi 66 Penyair Teras Puisi,
API, Merawat Kebhinnekaan, Sastra Kidung Semilir.
Tinggal di dusun Karanganom, Maguwoharjo,
72. Riki Utomi, lahir Pekanbaru 19 Mei 1984.
Alumnus FKIP Prodi. Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Islam Riau. Bukunya antara
lain Mata Empat (kumpulan cerpen, 2013), Sebuah
Wajah di Roti Panggang (kumpulan cerpen,
178
2015), Mata Kaca (kumpulan cerpen, 2017)
dan Menuju ke Arus Sastra (kumpulan esai, 2017).
Puisi-puisinya pernah dimuat Kompas, Koran Tempo,
Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka,
Lampung Post, Banjarmasin Post, Sumut Pos, Riau
Pos, Batam Pos, Kendari Pos, Padang Ekspres, Rakyat
Sumbar, Sabili, Haluan Kepri, dll. Juga terangkum
dalam antologi Negeri Langit dari Negeri Poci
5, Pertemuan Penyair Serumpun, Seratus Tahun
Cerpen Riau, Samudera Kata Samudera Cinta, Kolase
Hujan, Melabuh Kesumat, dll. Mendapatkan
penghargaan Acarya Sastra dari Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta 2015
dan Prestasi Seni Sastra dari Dinas Kebudayaan
Provinsi Riau 2016. Bekerja sebagai penulis lepas dan
guru. Tinggal di Selatpanjang, Riau.
73. Rizki Andika, lahir di Karawang, April 1997.
Belajar menulis di Rumah Seni Lunar sejak 2017.
Berkegiatan di Perpustakaan Jalanan Karawang dan
menjadi mahasiswa di Universitas Singaperbangsa
Karawang. Mengikuti antologi bersama The First Drop
of Rain (2017), Anggrainim, Tugu dan Rindu (2018).
74. Rizky Saputra, Ia merupakan seorang pelajar di
SMA Negeri 1 Ponggok Kabupaten Blitar. Puisinya
mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
75. Rizqy Fajarreza, biasa di panggil Amay, Lahir di
Indramayu 31 Januari 1997, Adalah seorang pecinta
Puisi di Indramayu tinggal di Indramayu. Puisinya
mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
179
76. Roni Nugraha Syafroni, lahir di Bengkulu, 3
April 1987. Disamping sebagai penyair penyair ini juga
seorang guru di Karawang. Puisinya mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
77. Roymon Lemosol, lahir di Lumoli Kabupaten
Seram Bagian Barat, Maluku 24 Agustus 1971. Puisi-
puisinya pernah menghiasi halaman sejumlah
media cetak lokal maupun nasional,
antaralain majalah Fuly, majalah Assau, Lombok
Post, Suara NTB, Koran Seputar Indonesia, Media
Indonesia. Sebagian lagi terhimpun dalam buku
antologi bersama Biarkan Katong Bakalae (Kantor
Bahasa Maluku 2013), Puisi Menolak Korupsi Jilid
4 (Forum Sastra Surakarta 2015), Memo untuk Wakil
Rakyat (Forum Sastra Surakarta 2015). Memo Anti
Terorisme (Forum Sastra Surakarta 2016), Ije Jela
(Pustaka Senja 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap
Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Nyanyian Puisi
Untuk Ane Matahari (Imaji Indonesia 2017), Bunga
Rampai PMK Bergerak Dengan Nurani (Forum Sastra
Surakarta 2017), Akar Cinta Tanah Air (D3M Kail,
2017), Dari Loksado Untuk Indonesia (Loksado
Writers, 2017), Puisi Menolak Korupsi 6 (Elmatera,
Yogyakarta 2017), Mazhab Rindu(Harasi, 2017). Masih
Ada Bulan yang Akan Bersinar (D3M Kail, 2017), Kita
Dijajah Lagi (Penebar Media Pustaka, 2017). The First
Drop Of Rain (Wahana Resolusi 2017). Akulah
Damai (BNPT, 2017). Kesaksian Tiang Listrik (Pram
Publisser, 2018). Sendja Djiwa Pak Budi (2018), Negeri
Bahari (Kosa Kata Kita 2018). Anggrainim, Tugu Dan
Rindu (Swarnadwipa, 2018).
180
78. Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15
Agustus 1971. Alumni Fakultas Sastra Universitas
Negeri Jember. Antologi puisi bersama antara lain:
Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta,
2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding
Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi
Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015),
Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya
Kalimasada Blitar, 2015),Merupa Tanah di Ujung
Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015),
Kalimantan Rinduku yang Abadi (Disbudparpora Kota
Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015),
Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta, 2016),
Lumbung Puisi IV: Margasatwa Indonesia (2016), Ije
Jela Tifa Nusantara 3 (2016), Seberkas Cinta
(Nittramaya, Magelang, 2016), Malam-malam Seribu
Bulan (FAM Publishing, Kediri, 2016), Requiem Tiada
Henti (Dema IAIN Purwokerto, 2017), Negeri Awan
(DNP 7, 2017), Lumbung Puisi V: Rasa Sejati (2017),
PMK 6 (2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih
Mata (2017), Lumbung Puisi VI:Rasa Sejati (2017),
Menderas Sampai Siak (2017), Timur Jawa: Balada
Tanah Takat (2017), Hikayat Secangkir Robusta
(Krakatau Awards 2017), Perjalanan Sunyi (Jurnal
Poetry Prairie 2017), Pengampunan (Jurnal Poetry
Prairie 2017), Petualangan (Jurnal Poetry Prairie
2017), dan lain-lain. Aktivitas sekarang sebagai tenaga
pendidik di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Jember.
79. Sang Agni Bagaskoro, Jenis Kelamin : Laki –
Laki Jl. C. Simanjuntak no. 193 GK/V, Terban,
Yogyakarta,Tempat Lahir : Medan,Tanggal Sang Agni
Bagaskoro , Lahir : 10 Oktober 1995,
Kewarganegaraan : Indonesia. Tinggal di Yogyakarta.
181
80. Sapin, Lahir di kota Majalengka. Sekarang
Seorang mahasiwa aktif di Universitas Kuningan Jawa
Barat. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018.
81. Septiannor Wiranata, lahir di Kotabaru,
Kalimantan Selatan pada 20 september 1998.
Menulis merupakan sebuah hobi yang sejak dulu
ia senangi untuk mencurahkan berbagai
pandangan dan cerita pengalamannya.
aktif sebagai pelajar di SMA Garuda Kotabaru
dan aktif tergabung di Komunitas Taman Sastra
SMA Garuda Kotabaru.
82. Sarwo Darmono, lahir , Magetan 27 Oktober
1963 Pekerjaan Penyiar Radio. Digenal sebagai
penyair yang menulis geguritan, Puisinya mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018,
83. Sigar Aji Poerana, lahir di Bandung, 30 Januari
1996. Tengah menempuh pendidikan strata satu di
Fakultas Hukum di Universitas Padjadjaran dan
tinggal di Bandung.
84. Siti Faridah, lahir di Tasikmalaya pada tanggal
08 Februari 1999, tinggal di Ciamis. Saat buku ini
terbit adalah Mahasiswa studi S1-ku di Universitas
Negeri Semarang jurusan Ilmu Hukum.
85. Siti Fatimah Suwito, akrab disapa Fatimah.
Hasil kolaborasi produktif antara Jawa dan
Palembang makanya sedikit hitam tapi manis. Aktif di
dunia literasi yang tergabung di Forum Lingkar Pena
Sumsel dan sebagai pendidik di UIN Raden Fatah
Palembang
182
86. Siwi Puji Rahayu, lahir Di Jakarta pada 24
Agustus 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan
Sastra Universitas Muhammadiyah Prof.Dr. Hamka,
tergabung dalam anggota Komunitas Vanderwicjk.
Menyukai dunia tulis menulis untuk mempertajam
kegemaran tersebut, Bergabung dengan komunitas
Rumah Membaca (online) yang dinaungi oleh
sastrawan A’yat Khalili.
87. Snta Ayuning Tyas. Puisinya mengisi Lumbung
Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
88. Soekoso DM, lahir 1949 di Purworejo dalam
zodiak Cancer. Berpuisi sejak 1970-an di media daerah
dan nasional seperti Suara Merdeka, Suara Karya,
Kedaulatan Rakyat, Krida, Semangat, Horison.
Memenangkan beberapa lomba puisi al. Puisi
Antikekerasan (KSI Jakarta, 2001). Juga Dunia Rapuh
Anak-anak (Poetry Prairie, 2016) dan Puisi Daring
Asean (UNS Surakarta, 2017) Geguritan (puisi Jawa) –
nya tersebar di Djaka Lodang, Mekar Sari dan
Panjebar Semangat (1970 – 2015). Antologi Puisi
tunggalnya al. Kutang-kutang (1979), Bidak-bidak
Tergusur (1987), Waswaswaswas, Was! (1996), Sajak-
sajak Tanah Haram (2004) dan Decak dan Derak
(Elmatera Yogya, 2014). Puisi lainnya terserak di lebih
30 antologi campursari, al. Kakilangit Kesumba
(Kopisisa, 2009), Antologi Puisi 3 bahasa Equator
(Yayasan Cempaka, 2011), juga Antologi Puisi
Menolak Korupsi dan Memo Antikekerasan Terhadap
Anak (Forum Sastra Surakarta, 2013 / 2016), dan
Antologi Puisi Klungkung (Yayasan Nyoman Gunarsa
Bali, 2016).
183
89. Sokanindya Pratiwi Wening, Penyair ini
tinggal di Krueng Geukueh, Aceh. Puisinya mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
90. Sri Budiyanti, lahir di Demak 21 Februari 1990.
Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar. Sehari-harinya
mengajar di sebuah Sekolah Dasar yaitu SD Negeri
Balerejo 2. Tinggal di Desa Sidomulyo Dukuh Krasak
RT.10 Rw.01 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak
Jawa Tengah. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid
VI, Penebar Pustaka 2018.
91. Sri Sunarti,M.Pd.,Lahir di Indramayu, 24 Mei
1965, Alumni Pascasarjana UPI Bandung. Mengikuti
antologi bersama : Antologi Puisi Resital dari Negeri
Minyak , (Dewan Kesenian Indramayu DKI, 2001),
Perempuan di Persimpangan ,(DKI,2003),Romantisme
Negeri Minyak (DKI-Formasi,2013}, Cimanuk,Ketika
Burung-burung Kini Telah Pergi, Antologi Puisi 100
Penyair Nusantara,(Lovz Rinz
Publishing,Cirebon,2016), Tadarus Puisi, Penyair
Indonesia Modern, Antologi Bersama, (CV Media
Pustaka,Yogyakarta,2017) ,Negeriku Terjajah (CV
Media Pustaka,Yogyakarta,2017), Menebar Karakter
Sampai Papua. Implementasi Penguatan Pendidikan
Karakter (CV Mediaguru, Surabaya,2017).
Cerita pendeknya terdapat di Maaf Buku Ini Aku
Simpan , Kumpulan Cerpen Guru Penulis Sagusabu
(Ciayumajakuning,Yayasan Pelita Parahiyangan
Goebok Senja Poestaka, Bandung,2018). Antologi
Cerpen Matahari Retak di Atas Cimanuk (DKI,2010),
Menulis Karya ilmiah di Kumpulan Karya Ilmiah Riksa
Bahasa II, Penyandingan Bangsa melalui
Pengajaran Bahasa bagi Penutur Asing (Rizqi Press,
Bandung,2010),
184
92. Syaiful B. Harun, nama lainnya Arie Png. lahir
Palembang,16-06-1967. Berprofesi sebagai salah
seorang guru di Ma'had Al Islamiy Aqulu-el Muqoffa.
Semasa kuliah telah tertarik pada puisi terlebih sejak
menjuarai "Lomba Cipta Puisi Provinsi Bengkulu"
dalam rangka memperingati Penyair Chairil Anwar
pada tahun 1996. Buku yang pernah diterbitkan
berupa kumpulan puisi "Nyanyian Cerita Fajar"
(Palembang, 2004) dan Apresiasi dan Menulis Puisi
(Palembang, 2018), serta beberapa buku antologi puisi,
yaitu Antologi "Gerhana" Memperingati Peristiwa
Gerhana Matahari Total di Sebagian Wilayah
Indonesia - Rabu, 9 Maret 2016 (Jakarta, 2016),
Antologi “Kebangsaan” (Depok, 2018), Antologi Puisi
“Angin” (2018), dan Antologi “Kenangan Masa Lalu”
(2018).
93. Syahriannur Khaidir, lahir di Sampit tanggal
26/09/1975 Provinsi Kalimantan Tengah, mengenyam
pendidikan terakhir di Universitas Islam Malang, lulus
1999. Menulis puisi baginya merupakan proses
pembelajaran secara kontinyu dalam upaya
menuangkan ide kreatif dan imajinatif, Di samping
menulis, aktivitas sehari-hari sebagai tenaga pengajar
di SMKN 1. Karyanya dimuat dalam antologi
bersama:- Antologi Puisi Membaca Kartini oleh :
Komunitas Joebawi 2016,- Antologi Arus Puisi Sungai
oleh : Tuas Media, April 2016,- Antologi Puisi Peduli
Hutan oleh : Tuas Media, Agustus 2016,- Antologi Puisi
Rasa Sejati oleh : Lumbung Puisi Jilid V 2017 Penebar
Media Pustaka - Antologi Puisi Kita Dijajah Lagi oleh :
Lumbung Puisi/HMGM/Penebar Media Pustaka 2017, -
Antologi Puisi Tadarus Puisi oleh : Lumbung Puisi/
Penebar Media Pustaka 2017,- Antologi Puisi Indonesia
Masih ada Bulan yang akan Menyinari oleh : D3M
185
KAIL 2017, - Kumpulan Puisi Mencari Ikan Sampai
Papua oleh : Penebar Media Pustaka 2018.
94. Sus S. Hardjono lahir 5 Nopember l969 di
Sragen. 1990 an - Aktif menulis puisi, cerpen dan
geguritan dan novel sejak masih menjadi mahasiswa,
serta mempublikasikannya di berbagai media massa
yang terbit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Diantara
puisinya dimuat di Bernas, KR , Pelopor Jogya ,
Merapi , Solo Pos, Joglo Semar, Suara Merdeka,
Wawasan, Swadesi , Radar Surabaya ,Minggu Pagi ,
Cempaka Minggu. Mengikuti berbagai antologi
bersama nasional. Mengelola Rumah Sastra Sragen di
Sragen.
95. Tarni Kasanpawiro, Lahir di Kebumen 01
Desember 1971, Suka menulis puisi dan cerpen sejak
bangku SMP, hobby menari. Beberapa puisinya
tergabung dalam antologi puisi bersama
"Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap
Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi
jilid 2.
96. Tajuddin Noor Ganie (TNG), lahir di
Banjarmasin, 1 Juli 1958. Sarjana S.1 PBSID STKIP
PGRI Banjarmasin (2002) dan Sarjana S.2 FKIP
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (2005).
Pensiunan ASN Dinas Tenaga Kerja Provinsi
Kalimantan Selatan (2016). Dosen PBSID STKIP PGRI
Banjarmasin dengan banyak mata kuliah, antara lain
Penulisan Kreatif Sastra, dan Penelitian Sastra dan
Pengajarannya. Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei
sastra sejak tahun 1980. Antologi puisi yang sudah
terbit adalah Bulu Tangan (Tuas Media Publisher,
Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalsel, 2012),
186
dan Perahu Ilalang (FAM Publisihing, Pare, Kediri,
2016). Sering diundang baca puisi dan sebagai
pembicara untuk topik-topik menulis karya sastra,
kajian sastra, sejarah sastra, sastra Banjar, budaya
Banjar, dan folklor Banjar dalam pertemuan ilmiah di
kampus-kampus dan di luar kampus di kota
Banjarmasin, Surabaya, Solo, dan kota-kota besar
lainnya di tanah air. Penerima Anugerah Pemuda
Pelopor Bidang Sastra dari Menteri Negera Pemuda
dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah
Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Ir. H. Gusti
Hassan Aman, 1998), Anugerah Astraprana sebagai
Sastrawan Banjar dari Kesultanan Banjar (Sultan Haji
Khairul Salleh Al Mu’tashim Billah, 2014), Anugerah
Budaya dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Rudy Ariffin,
MM, 2014), Sastrawan Kalsel Berprestasi dari
Walikota Banjarbaru (Drs. H. Ruzaidin Noor, 2014),
dan Penghargaan Seni Kota Banjarmasin untuk
bidang Seni Sastra .
97. Tri Munawaroh. Puisinya mengisi Lumbung
Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
98. Virna Mutiara Wahyu, lahir di Jakarta pada 15
November 1996. Seorang mahasiswi di UIN Jakarta,
mulai serius untuk belajar menulis ketika
bergabung di komunitas Rumah Membaca Indonesia
yang dikelola oleh penulis A’yat Khalili.
99. Vitalis Koten , TTL: Malaysia, 28 Desember 1995
Umur: 22 Tahun .Agama: Katolik , Sekolah: STFK
Ledalero , Maumere , tinggal di Maumere –
Flores.Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI,
Penebar Pustaka 2018,
187
100. Wadie Maharief, adalah wartawan senior KR
Jogyakarta, dan di beberapa media di Jogyakarta.
Dikenal sebagai budayawan. Menulis puisi di berbagai
antologi bersama nasional.
101. Wage Tegoeh Wijono lahir di Solo menggali
kreativitas di Semarang, Pernah menjadi jurnalis di
beberapa media masa sembari menulis karya sastra
dan berteater. Pernah pula tercatat sebagai anggota
Bengkel Tater Rendra. Sejumlah karya sastranya
dimuat dibeberapa media masa. Tinggal di
Purwokerto.
102. Wahyudi Abdurrahman Zaenal ( IBN
Sinentang) lahir di kota Pontianak tanggal 24 April
1966. Nama penanya, antara lain; Wyaz Ibn
Sinentang, Fatwa Taqhanqheru Damara,
Wahyudi Abdurrahman Zaenal, dan Wahyu
Yudi. Mulai menulis puisi sejak tahun 1980. Selain puisi
juga menulis cerita pendek, dan artikel. Karya-
karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal,
Nasional/luar pulau, Negeri Jiran, dan online.
Karyanya juga terangkum dalam beberapa kumpulan
bersama; Antologi Puisi Bangkit III (Studio Seni Sastra
Kota Batu, 1996), Jepin Kapuas Rindu Puisi (DK
Kalimantan Barat, 2000), Diverse (Shell-Jagad
Tempurung, June 2012), Flows Into The Sink
Into The Gutter (Shell-Jagad Tempurung, 2012), Suara
Lima Negara (DRSB, 2012), Indonesia dalam Titik
13 (Aswaja Jogya, 2013), Kepada sahabat (DBP
Sarawak, 2013), Bukan Menari di pentas Peluru 1-
2 (PPK – Kelantan, 2013/2014), Puis 2,7: Apresiasi &
Kolaburasi (Bengkel Publisher, 2013), Puisi Menolak
Korupsi II (2013), Dari Dam Sengon ke Jembatan
188
Penengel (Dewan Kesenian Kudus, 2013), Hitam
Putih (DBP Sabah, 2013), Tifa Nusantara 2 (DKK
Tangerang, 2013), Lentera Internasional II (PBKS,
2014), Karah Passie (DK Aceh Barat 2016), Siginjai
Kata-kata (DK Jambi, 2016), Ije Jela (DK Batola –
Kalsel, 2016), Lumbung Puisi IV(Sibuku, 2016), Y0gya
dalam Nafasku (Seminar Internasional Sastra Antar
Bangsa, 2016), 6,5 SR Luka Pidie Jaya (Ruang Sastra,
2017), Seloka(Gaksa Enterprise, 2017), Langit Kita
(Pena Padu, 2017). Antologi Cerpen Kain Tilam (DK
Kalimantan Barat, 1998), Kalbar Berimajenasi (STAIN
Press, 2012), 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012 (DRSB,
2012). Antologi Puisi tunggalnya Bersama Hujan
(Kelompok Empat Kreatif, 2011), Hijrah(Kelopak
Poedjangge/SEC, 2012), Nyanyian Lilin Putih(Shell-
Jagad Tempurung, 2012), Perjalanan Sajak Bulan
Kosong (Kelopak Poedjangge/SEC, 2013), Rekah
Camelia di Langit Desember(Kelopak Poedjangge/SEC,
2014), Tiga Ibu (Guepedia, 2016), Kumpulan Cerpen
tunggalnya Puing (Jentera Pustaka, 2014). Pernah
tergabung dalam Kompak (Kelompok Penulis
Pontianak), Sanggar CS2K (Cipta Sastra Swara
Khatulistiwa), Bengkel Sastra Kalbar, salah satu
pendiri IPSKH (Ikatan Penulis Sastra Kota
Hantu), Komite Sastra Dewan Kesenian Kota
Pontianak (2002–2005), owner Kelopak
Poedjangge & SEC (Smart Educational Centre).
103. Wardjito Soeharso lahir di Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah, namun mengenyam
pendidikannya di Kota Salatiga. Sejak usia muda,
Wardjito sudah mengakrabi dunia seni melalui bacaan
komik, cerita silat, dan cerita anak-anak. Dia mulai
menulis puisi dan prosa ketika masih duduk di bangku
189
SMP dengan mengirimkan karyanya, baik di majalah
remaja maupun di majalah dinding sekolahnya.
Lantas dia memperdalam minat sastranya dengan
melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Inggris, Fakultas
Sastra Universitas DiponegoroSemarang. Selama
kuliah, dia aktif dalam kegiatan kelompok teater
kampus. Dalam wadah inilah minat dan bakat
menulisnya semakin terasah. Banyak puisi dan naskah
drama telah ditulisnya. Begitu menyelesaikan
kuliahnya, dia bekerja sebagai pegawai negeri sipil
(PNS) di Kantor Wilayah Departemen Penerangan
Provinsi Jawa Tengah. Kesibukannya sebagai PNS pun
tak menyurutkan minatnya untuk tetap menjalani
proses kreatif sebagai penyair. Bahkan, dari
instansinya, dia memperoleh beasiswa melanjutkan
pascasarjana di Universitas Boston, Massachusetts,
Amerika Serikat dengan mengambil konsentrasi pada
bidang International Coummunication. Kini dia
menjabat sebagai widyaiswara Badan Diklat Provinsi
Jawa Tengah sembari terus berkarya dan
menggerakkan generasi muda untuk mencintai sastra.
Karya: Mendung di Atas Kota Semarang (1983),
Penerbitan Pers di Indonesia: Dari Undang Undang
Sampai Kode Etik (Aneka Ilmu Semarang, 1993),
Antologi Puisi Penulismuda (Media ESolusindo
Semarang, 2007), Yuk, Nulis Puisi (Percetakan Negara
RI Surabaya, 2008), Yuk, Nulis Artikel (Media E-
Solusindo Semarang, 2009), Phantasy Poetica-
Imazonation (pmpublisher Semarang, 2010), Ide,
Kritik, Kontemplasi (pm-publisher Semarang, 2010),
Puisi Menolak Korupsi 1 (Forum Sastra Surakarta,
2014), Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra
Surakarta, 2014) bekerja sebagai pegawai negeri sipil
(PNS) di Kantor Wilayah Departemen Penerangan
Provinsi Jawa Tengah. Kesibukannya sebagai PNS pun
tak menyurutkan minatnya untuk tetap menjalani
190
proses kreatif sebagai penyair. Bahkan, dari
instansinya, dia memperoleh beasiswa melanjutkan
pascasar jana di Universitas Boston , Massachusetts ,
Amerika Serikat dengan mengambil konsentrasi pada
bidang International Coummunication. Kini dia
menjabat sebagai widyaiswara Badan Diklat Provinsi
Jawa Tengah sembari terus berkarya dan
menggerakkan generasi muda untuk mencintai sastra.
Karya:Mendung di Atas Kota Semarang (1983).
Penerbitan Pers di Indonesia: Dari Undang Undang
Sampai Kode Etik (Aneka Ilmu Semarang, 1993)
Antologi Puisi Penulismu da (Media E Solusindo
Semarang, 2007), Yuk, Nulis Puisi (Percetakan Negara
RI Surabaya, 2008), Yuk, Nulis Artikel (Media E
Solusindo Semarang, 2009), Phantasy Poetica
Imazonation (pm publisher Semarang, 2010), Ide,
Kritik, Kontemplasi (pm publisher Semarang, 2 010),
Puisi Menolak Korupsi 1 (Forum Sastra Surakarta,
2014)Puisi M enolak Korupsi 2 (Forum Sastra
Surakarta, 2014)Memo Untuk Presiden (Forum Sastra
Surakarta, 2014) Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia
(HMGM Indramayu, 2014) Pengantin Langit (BNPT
dan Komunitas sastra Indonesia Jakarta, 2014) Puisi:
Medium Komunikasi dalam Pembelajaran
(AzzaGrafika, 2014) Kumpulan Puisi: Sakkarepmu!
(HMGM Indramayu, 2015)
104. Wirol O. Haurissa, (Attrydos) lahir di
Ambon Maluku, 1 September 1988. Sarjana Sains
Teologi, Fakultas Filsafat Teologi di Universitas
Kristen Indonesia Maluku. Dan study Magister Ilmu
Susastra, Universitas Kristen Petra, Surabaya.
Sesehari menulis puisi, cerita pendek dan skrip teater,
mendirikan Bengkel Sastra Batu Karang, menjalani
pementasan-pementasan independen teater dan sastra
di kota Ambon, Depok, Surabaya dan kota Salatiga.
191
Puisi dan esai tersebar di media online, majalah, buku.
Beberapa puisi termuat dalam Antologi Penyair
Maluku Biarakan Kami Bakale, Revolusi cendrawasih,
Mata Aru, Pemberontakan Dari Timur, Sastra
Kepulauan VIII, SekarpeMu, Surat Cinta Untuk
Makassar, Kita Dijajah Lagi dan Bilingual Short
Fiction by The Infernon - Love to Whom It may
Concern ajd Other Stories . Pernah menjadi juara satu
lomba Menulis dan Baca Puisi Universitas Swasta
Wilayah XII Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua
Barat di Ternate. Pernah menjadi juri Lomba Baca
Puisi Pelajar SMP sepulau Ambon dalam memperingati
Hari Ulang Tahun Merah Saga. Pernah menjadi
Fasilitator Pelatihan Cipta dan Baca Puisi Perdamaian
di Pusat Studi Perdamaian, Pascasarjana Teologi
UKIM Ambon.
105. Yan Ari Wibowo, lahir 07 Januari 1990 di Ds
Kedungmenjangan, Purbalingga, Jawa Tengah.
Tinggal di Jakarta. Puisinya mengisi Lumbung Puisi
Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
106. Yanu Faoji, lahir di Banyumas pada tanggal 13
januari 1995. Memasuki sekolah dasar dan Sekolah
Menengah Pertama di Gumelar, Banyumas, Jawa
Tengah. Kemudian hijrah ke ajibarang untuk
melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMAN
Ajibarang dan melanjutkan studi di perguruan tinggi
swasta di purwokerto. Sekolah tinggi Teknologi
Telematika Telkom. Dan sekarang sedang melanjutkan
program studi lanjut perguruan tinggi Teknik Elektro
di Universitas Mercubuana Jakarta. Sambil magang di
salah satu bank di Jakarta.
192
107. Yemi Alfiani , lahir di Koto Rendah, 15 Juni
1993. Kerinci Profinsi Jambi. Tinggal di Kab. Kerinci.
Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar
Pustaka 2018.
108. Yoseph Yoneta Motong Wuwur, lahir di
Kalikasa, 17 Mei 1984 merupakan Alumnus Fakultas
Pertanian Universitas Flores, Ende-Flores- NTT. Perna
Bekerja Sebagai Staf lapangan Pada Dinas Pertanian
dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata- NTT.
109. Yuri Rakasiwi, penyair ini berasal dari
Mempawah, Kalimantan Barat. Puisinya mengisi
Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.
110. Zam'sta, adalah nama pena dari Moh Rikzam,
lahir di Sumenep 07 April 1989. Bergiat di Masyarakat
Bawah Pohon Yogyakarta (2009-2012) Komunitas
Pelar Sumenep (2014-2015). Saat ini, bersama teman-
temannya mendirikan komunitas 'Pabengkon Sastra'
di kampungnya. Puisinya disiarkan di buletin,
majalah, program sastra radio dan juga terkumpul
dalam antologi bersama; Narasi Tembuni, Gemuruh
Ingatan, Rumah Pohon.
193
Puisi Indah di Indonesia Lucu
Ada yang sangat apik dari penyair yang juga seniman
Arya Setra yang berjudul Opera Cicak.
Syahriannur Khaidir, penyair yang mulai menanjak
namanya memberikan pusi yang bagus dengan judul
Njentit.
Penyair muda berbakat Adelia Dwi Cahyani tampil
memukau dengan berjudul Ayahku dan Mamahku.
Begitu juga Funuun A.B.M dengan puisi Negeri
Tuyul menambah kelucuan Indonesia.
Penyair lain Khoerun Nisa memberi puisi apik
dalam Cinta zaman New.
Di lain penyair Raditya Andung Susanto dalam
judul Menonton Televisi :
Penyair Roni Nugraha Syafroni dalam puisi
berjudul Racun juga menggambarkan lucunya
Indonesia.
Nurholis dalam puisi Pusingan Secangkir Kopi
katanya seperti nonton jangan dilewat untuk dinikmati
senyum.
Judul yang bagus juga disugugkan oleh Tarni
Kusprawiro seperti Rebutan Piring.
Judul yang bagus juga disuguhkan Dicky Armando,
S.E berjudul Menukar Nasib.
Berikut Puisi pendek karya Arya Setra berjudul
Opera Cicak:
//Pertunjukan opera cicak
Para pemainnya sungguh kocak
Ada peran berpura pura sakit
Ada peran teraniaya diskriminalisasi
Ada peran merasa paling hebat
Mengangap yg lain tidak ada apa apanya..
Sementara para penonton teriak menjerit karena
harga-harga yang selangit
194
Ada pula yang mencibir karena tidak puas atas
pertunjukan nya
Dan ada juga yang terdiam seakan pasrah akan akhir
cerita..
Sementara diriku....
Haruskah aku tertawa, menangis atau terdiam melihat
kenyataan yang ada ??? //
Syahriannur Khaidir dalam Njentit:
//.…/Indonesia kan asik
Maling ayam ditendang jungkir-balik
Koruptor dikondang banding bolak-balik
Hukum peceklik
Orang luar cekikak-cekikik//.
Adelia Dwi Cahyani dalam puisio pendek yang
sederhana namun cukup membuat senyum
pembacanya. Ia menulis dalam Ayahku:
//Suaminya mamaku
Ayahnya kakakku
Ayahnya adikku
/Ayahku..................
Anaknya kakekku
Anaknya nenekku
/Ayahku
Kaulah ayahku//.
Funuun A.B.M dalam Negeri Tuyul:
//Tugas negara kini jadi bisnis keluarga
Memudahkan komunikasi, lagaknya.
Ada yang diusung jadi bupatinya
ininya jadi tangan kanannya
itunya jadi penasehatnya,
anunya jadi entah siapanya
Belum lagi lain-lainnya. ….//
Khoerun Nisa di puisinya Cinta zaman New.
//…..Cinta dalam pegangan layar
Jadikan pendamping hati
Dalam sisi keadaan
195
Layar yang terfokuskan
Tersenyum geli
Rasa salahmengartikan
Cinta bertemu dalam layar
Pertemuan sebelah bagian
Hanya luar yang terpandang
Dengan rayuan gombal…//
Di lain penyair Raditya Andung Susanto dalam
judul Menonton Televisi :
//Bumi sudah tampak ramai
Kabarnya ;
akan ada sinetron baru
yang diputar di stasiun swasta
nasional hingga mancanegara
Ada guyonannya, seriusannya
ada juga yang cuma banyak bicara
saat adegannya…//
Penyair Roni Nugraha Syafroni dalam puisi
berjudul Racun juga menggambarkan lucunya
Indonesia.
//Kursi seringkali menjadi saksi,
Pada nafas-nafas deru kedudukan.
Sering bersitegang hingga renggang mati,
Tiadalah lagi puing-puing peradaban/…
…/Melingkar tiada guna,
Walau rupiah terbang melayang.
Kami di sini hanya menyeringai,
Senang senang ha ha ha .//
Demikian tampak dalam puisi Nurholis berjudul
Pusingan Secangkir Kopi :
//…./Ampas kopi adalah hak wajah
Dibalurkan sebagai cat wajah ala tentara
Bukan untuk gerilya
Tapi sembunyi dari kejaran tikus-tikus penguasa/
/Cangkir kosong adalah hak sunyi
Kasihan! Kursi goyang mengayun tubuhnya sendiri
196
Sudah lama sekali mulut-mulut dibungkam rapat
Maka biar cangkir dibanting saja, biar ramai//
Sigar Aji Poerana dalam puisi pendek cukup
membuat lucunya Indonesia. Demikian puisi
Mudahnya Cari Makan dan Jabatan:
//Kau mau yang cepat?
Ada/
/Kau mau yang mudah?
Tentu ada!/
/Di negeri ini banyak yang instan
Dari mulai panganmu sehari-hari
Sampai pejabat di Senayan kini //.
Penyair Dicky Armando dalam puisi
Menukar Nasib menyuguhkan puisi yang juga lucu
dan menarik:
//Jangan jadi orang miskin, Kawan!
Karena fakir dilarang sakit,
disuruh diet pula.
Jangan pula mengeluh soal listrik.
Tak sanggup bayar, cabut saja meterannya!
Perihal makanan apalagi,
daging sapi mahal, telan saja keong sawah.
Selesai urusan./…//
(Rg Bagus Warsono, penyair tinggal di Indramayu)
197
198