0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan17 halaman

Resume Akhlak

Dokumen tersebut membahas tentang akhlak al-karimah dan potensi-potensi dalam jiwa manusia yang membentuk akhlak tersebut. Definisi akhlak al-karimah menurut bahasa Arab dan tokoh-tokoh seperti Ibnu Miskawaih, Al-Ghazali, dan Prof. Dr. Ahmad Amin. Kemudian dibahas empat potensi utama dalam jiwa yaitu Quwwah al-Ilmi (akal), Quwwah al-Ghadhab (emosi), Qu

Diunggah oleh

megawatichandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan17 halaman

Resume Akhlak

Dokumen tersebut membahas tentang akhlak al-karimah dan potensi-potensi dalam jiwa manusia yang membentuk akhlak tersebut. Definisi akhlak al-karimah menurut bahasa Arab dan tokoh-tokoh seperti Ibnu Miskawaih, Al-Ghazali, dan Prof. Dr. Ahmad Amin. Kemudian dibahas empat potensi utama dalam jiwa yaitu Quwwah al-Ilmi (akal), Quwwah al-Ghadhab (emosi), Qu

Diunggah oleh

megawatichandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME KEGIATAN BELAJAR 1

KEKUATAN JIWA YANG MEMBENTUK AKHLAK AL-KARIMAH

INDIKATOR KOMPETENSI 1. Mendefinisikan hakekat akhlak al-karimah.


2. Membedakan potensi-potensi jiwa; Quwwah al-Ilmi, Quwwah al-
Ghadhab, Quwwah asy-Syahwah, dan Quwwah al-‘Adalah dalam
jiwa manusia.
3. Menganalisis terbentuknya akhlak al-karimah dengan sumber-
sumber kemuliaan; hikmah, syaja'ah, iffah, dan ‘adalah

DEFINISI AKHLAKUL KARIMAH


Menurut Bahasa Menurut bahasa kata Akhlak dalam bahasa Arab merupakan jama’
dari /‫ خلق‬khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku,
sopan santun atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi
persesuaian dengan perkataan /‫ خلق‬khalqun berarti kejadian, yang
juga erat hubungannya dengan /‫ خالق‬khalik yang berarti pencipta,
demikian pula /‫ مخلوق‬makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang
memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan
makhluk
Menurut Ibnu Maskawih
‫الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر وال روية‬
“Akhlak adalah kondisi jiwa yang mendorong tindakan-tindakan
tanpa perlu berpikir dan pertimbangan lagi” (Ibn. Miskawaih,
Thadzib al-Akhlaq, 1985; 25)

Akhlak adalah kondisi jiwa yang sudah terbiasa melakukan tindakan-


tindakan tertentu, sehingga tindakan-tindakan tersebut seakan
sudah mendarah daging, mereka akan melakukannya secara
sepontan ketika mendapatkan stimulus tertentu.

Menurut Al-Ghazali
‫س ُهول ٍة و يُس ٍر‬ ِ ‫الخلق عبارة عن ھيئة فِي النَّف ِس ر ا‬
ُ ِ‫سخة عنها ت ُصد ُِر األ فعال ب‬
‫ِمن غي ِر حاج ٍة إِلى فِك ٍر و ر ِويَّة‬

“Akhlak ialah gambaran keadaan jiwa berupa sifat-sifat yang sudah


mendarah daging yang mendorong dilakukannya perbutan-
perbuatan dengan mudah lagi gampang tanpa berfikir panjang” (Al-
Ghazali, Ihya Ulum ad-Din/Rubuu’ al-Muhlikat, 2005; 890)

Akhlah adalah sifat-sifat jiwa yang sudah terlatih dan juga sudah
mendarah daging yang dapat menjadi sumber inspirasi dan
mendorong tindakan-tindakan yang bersifat spontan, tanpa terlebih
dahulu mempertimbangkan untung dan ruginya.

Menurut Prof . Dr. Ahmad Akhlak merupakan perbuatan yang mudah dilakukan karena telah
Amin dididik dengan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhlak terdiri dari perbuatan sadar (ada iradah dan ikhtiar)
yang didorong oleh sifat-sifat yang sudah terbiasa sehingga sekan-
akan spontan dan terkesan tidak usah dipikirkan sebelumnya

akhlak unsurnya terdiri dari perbuatan sadar (ada iradah dan ikhtiar)
yang didorong oleh sifat-sifat yang sudah terbiasa sehingga sekan-
akan spontan dan terkesan tidak usah dipikirkan sebelumnya

POTENSI DALAM JIWA MANUSIA

Ibnu Miskawaih menjelaskan bahwa di dalam jiwa seseorang itu terdapat tiga kekuatan (al-quwwah)
yang sangat penting dalam membentuk akhlak manusia. Sementara Imam Al-Ghazali menyebutkan
sebagai Ummahat al-Akhlaq wa Ushuluha dengan ditambahkan satu kekuatan (al-quwwah) sehingga
genap menjadi empat kekuatan (al-quwwah) (Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din/Rubuu’ al-Muhlikat, 2005;
936), keempatnya adalah sebagai berikut:

Quwwah al-Ilmi Quwwah al-Ilmi adalah kekuatan yang berasal dari akal. Buahnya adalah
hikmah, yakni pemahaman yang mendalam tentang segala sesuatu sesuai
dengan syariat Allah Swt.
Sebagaimana firman-Nya :

ً ِ‫يُؤتِي ال ِحكمة من يشا ُء ۚ ومن يُؤت ال ِحكمة فقد أُوتِي خي ًرا كث‬
‫يرا ۗ وما يذَّك َُّر‬
ِ ‫إِ َّال أُولُو األلبا‬
‫ب‬
“Dia berikan hikmah kepada yang Dia kehendaki dan Siapa yang diberikan
al-hikmah maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang sangat
banyak. Dan hanya orang-orang memiliki akal fikiranlah yang mampu
memahaminya”. (QS. AlBaqarah/2:169)

Al-Maraghi menjelaskan bahwa yang dimaksud hikmah adalah ilmu yang


bermanfaat, yakni ilmu yang dapat mempengaruhi jiwa pemiliknya dan
membimbing kehendaknya untuk mendorong melakukan tindakan-
tindakan yang dapat membawa manfaat dan kebahagiaan dunia akhirat
(Al-Maraghi Jilid III, h. 40).

konsep turunan hikmah


Husnu at-Tadbir (baik pemikirannya), yakni cerdas dan lurus jalan
fikirannya dalam mengistimbatkan (mengambil kesimpulan).
Jaudat adz-Dzihn (jernih pemikirannya), yakni memiliki kebjaksanaan
dalam memilih dan mendapatkan kosep yang memberikan manfaat
sesamanya dan diterima oleh berbagai pihak.
Tsiqabah ar-Ra’yi (tajam pemikirannya) yakni mempunyai kecepatan
kemampuan dalam menghubungkan data-data yang dimilikinya dengan
sebab akibat yang mengasilkan kemaslahatan dalam kehidupan
masyarakat.
Shawab azh-Zhann (tepat pemikirannya). yakni ia akan mendapatkan
taufiq dari Allah Swt. dengan kesesuaian antara dugaan yang terdapat
dalam alam fikirannya dengan kebenaran hakiki tanpa.

Kebalikan dari Quwwah al-Ilmi adalah lemahnya ilmu atau kebodohan,


terbagi dalam dua konsep, yaitu radzilah al-khibb dan radzilah al-balah.
Radzilah al-khabb terdiri dari ad-dahaa (tertipu) dan al-jarbazah (lemah
berfikir) yaitu. Logikanya kurang sehat atau kurang lurus sehingga ketika
mengambil kesimpulan sering kali tidak benar, apa yang dikatakannya baik
ternyata buruk atau sebaliknya.
Radzilah al-balah terdiri dari tiga hal; pertama kebodohan sebab karena
kurang pengalaman belajar, kedua kebodohan sebab dari bawaan seperti
idiot dan ketiga kebodohan sebab hilangnya akal atau gila.

Quwwah al-Ghadhab Quwwah al-Ghadhab merupakan dorongan manusia untuk memdapatkan


kenikmatan yang bersifat abstrak dan batin. Dimana ia bisa menghasilkan
sifat utama yang dapat menjadi sumber akhlak yang mulia serta
menumbuhkan kebaikan- kebaikan yakni sifat syaja’ah (keberanian).

Syaja’ah menurut al-Ghazali dalam kitab Mizan al-Amal meliputi banyak


sifat turunannya, diantara lain adalah sebagai berikut:
a. Al-Karam (kebaikan budi), yaitu berani mengambil sikap moderat untuk
mengambil atau menerima keputusan penting dalam berbagai masalah
yang menyangkut kemaslahatan yang besar dan urusan-urusan yang
mulia.
b. An-Najdah (membantu, menolong), yaitu berani dalam membantu atau
menolong siapapun, apalagi menolong hal yang benar, baginya
merupakan jihad. Bukan penekad juga bukan penakut, apabila sudah
menyakini sebuah kebenaran maka harus berani maju, meskipun harus
mempertaruhkan jiwa demi kemuliaan abadi.
c. Kibr an-Nafs (berjiwa besar), bukan sombong juga bukan rendah diri
(mider). Ia berani menjadikan dirinya sebagai ahli dalam hal kemuliaan
dengan penuh kerendahan hati dan menghindari perdebatan pada
urusan-urusan yang sedikit manfaatnya. Ia sangat menghormati ulama.
d. Al-Ihtimal (ketahanan dalam bekerja), berani bertanggung jawab
menahan diri dalam menjalankan tugas, meski dirasa sangat berat.
e. Al-Hilm (santun), ia dapat menahan emosi yang biasanya meledak-
ledak, tidak terpancing dalam keadaan apapun dan marah. Sikapnya
tetap santun dalam menghadapi semua orang, ia sudah dapat lepas dari
sikap yang buruk dalam menghadapi orang lain atas gejolak jiwa suka
dan tidak suka.
f. Al-Wiqar (tenang), menahan diri dari berbicara secara berlebihan,
kesia-siaan, banyak menunjuk dan bergerak dalam perkara yang tidak
membutuhkan gerakan. Mengurangi amarah, tidak banyak bertanya,
menahan diri dari menjawab yang tidak perlu, menjaga diri dari
ketergesaan dalam beramal, dan bersegera dalam seluruh perkara
kebaikan.

Quwwah al-Ghadhab, juga dapat mendorong perbutan yang buruk bagi


seseorang yaitu :
Tahawwur (nekad) yakni berani melakukan tindakan yang bukan pada
tempatnya, Misalnya berani maju ikut tawuran, padahal belum
mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dan resikonya bisa
mati terbunuh.
al-Jubn (pengecut) yakni sifat takut yang berlebihan dalam
mempertahankan diri dari berbagai masalah kehidupan. Misalnya takut
mengadapi ujian, padahal ujian adalah satu cara yang harus dilalui oleh
siapapun yang ingin meningkatkan dan memperbaiki nasib dan derajatnya.

Quwwah asy-Syahwah Quwwah asy-Syahwah Quwwah asy-Syahwah yaitu daya yang terdapat
pada diri manusia mendorong perbutan-perbuatan untuk memperoleh
kenikmatan-kenikmatan. Dengan kekuatan ini manusia menjadi lebih
bergairah dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Quwwah asy-
Syahwah yang baik disebut al-iffah.

Seorang dikatakan sebagai orang yang ‘affih apabila yang mampu menahan
diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Swt.
Dari sifat 'iffah inilah akan lahir sifat-sifat mulia. Diantara sifat-sifat terpuji
turunan dari sifat 'Iffah adalah sebagai berikut :
a. haya’, adalah sifat malu untuk meninggalkan perbuatan yang
diperintahkan oleh Allah Swt. dan sebaliknya malu melakukan
perbutan yang dilarang oleh-Nya.
b. ‫( القناعة‬qana'ah), adalah sifat menerima atau merasa cukup atas
karunia Allah Saw., sekaligus menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan
merasa kekurangan yang berlebih-lebihan.
c. ‫( السخاء‬sakha’), yaitu sifat dermawan, seseorang disebut dermawan
jika dapat memberi secara tulus ikhlas
d. ‫( الورع‬wara’), yaitu meninggalkan hal-hal yang syubhat karena
khawatir membahayakan nasibnya di akhirat kurang baik

Quwwah asy-Syahwah, dapat mendorong perbutan yang buruk bagi


seseorang, antara lain; rakus, tabdzir, ria, hasud dan lain-lain.

Quwwah al-‘Adl Quwwah al-‘Adl Menurut al-Ghazali, terbentuknya akhlak yang mulia pada
diri seseorang apabila disinergikan dengan Quwwah al-‘Adl, sebuah
kekuatan penyeimbang dari ketiga kekuatan jiwa yakni Quwwah al-Ilmi
akan menjadi hikmah, Quwwah al-Ghadhab, akan menjadi sifat syaja’ah
dan Quwwah asy-Syahwah, akan menjadi sifat ‘iffah
RESUME KEGIATAN BELAJAR 2
AMAL SHALIH

INDIKATOR KOMPETENSI Mendefinisikan Hakekat Amal Shaleh


1. Menganalisis terbentuknya amal Shalih, berdasarkan konsep
iman; tawakkal,ikhlas, shabar, dan syukur.
2. Membedakan antara amal Shalih dan amal baik dalam
kehidupan sehari-hari.

Hakikat Amal Shaleh Menurut bahasa “Amal Shaleh”, berarti perbutan yang baik,
bermanfaat, selamat, atau cocok.
Sedangkan menurut istilah, amal shaleh didefinisikan sebagi
perbuatan baik yang dilakukan seseorang karena Allah Swt.
dengan tujuan untuk mendapatkan rahmat dan ridha- Nya, baik
menjalankan perintah maupun menjalankan perintah maupun
menjauhi larangan-Nya. sesuai dengan aturan-aturan ajaran Islam

KONSEP BINGKAI AMAL SHALEH


Untuk menyempurnakan kualitas Amal kita, seyogyanya harus dibarengi dengan hal-hal berikut :
Tawakkal Ikhlas Sabar Syukur Ridho

Menurut bahasa kata tawakkal diambil dari Bahasa Arab ‫الت ََو ُّكل‬
ََ ‫ َو َك‬/wakala) yang berarti lemah. Adapun ‫الت ََو ُّكل‬
/tawakkul dari akar kata ‫ل‬
/tawakkul berarti menyerahkan atau mewakilkan. Seperti seseorang
mewakilkan urusan kepada orang lain atau menggantikannya. Artinya,
dia menyerahkan suatu perkara atau urusannya dan dia menaruh
kepercayaan kepada orang itu mengenai urusan tadi.

Menurut Imam al-Ghazali Tawakkal adalah menyerahkan diri kepada


Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya
dalam kesulitan di luar batas kemampuan manusia
Tawakal Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam kitabnya Madarij as-Salikin
menjelaskan bahwa Tawakkal merupakan amalan dan penghambaan
hati dengan menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah Swt.
semata, percaya terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha
atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa
Allah akan memberikan segala ‘kecukupan’ bagi dirinya, dengan tetap
berikhtiar semaksimal mungkin untuk dapat memperolehnya.

Allah Swt. berfirman:

‫ب النفضُّوا ِمن‬ ًّ ‫َّللا ِلنت ل ُهم ۖ ولو كُنت ف‬


ِ ‫ظا غ ِليظ القل‬ ِ َّ ‫فبِما رحم ٍة ِمن‬
‫ف عن ُهم واستغ ِفر ل ُهم وشا ِور ُھم فِي األم ِر ۖ ف ِإذا عزمت فتوكَّل‬ ُ ‫حو ِلك ۖ فاع‬
‫ب ال ُمتو ِك ِلين‬ َّ َّ‫َّللا ۚ إِن‬
ُّ ‫َّللا يُ ِح‬ ِ َّ ‫على‬
Artinya: Maka sebab rahmat dari Allah, Engkau bersikap lemah lembut
kepada mereka. Seandainya Engkau bersikap kasar lagi keras hati,
niscaya mereka akan pergi dari sekelilingmu. Sebab itu maafkan
mereka, mintakan ampunan baginya dan ajaklah bermusyawarah
mereka dalam urusan itu (menentukan strategi perang). Lalu apabila
Engkau telah memiliki tekad yang bulat, maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal
(QS. Ali Imran/3: 159)

Tawakkal ialah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt.


mengenai nasib masa depannya yang didasari oleh keimanan yang
terbentuk dengan marifat, ilmu dan keadaannya dalam mengawali
perbuatan ketika akan melaksanakan amalnya sebagai ikhtiar

Menurut bahasa, ikhlas berarti jujur, tulus dan rela. Dalam bahasa
Arab, kata ‫إخ‬/َ َْ‫ الص‬ikhlas merupakan bentuk mashdar dari ‫أخ‬/َ ‫ص ْل‬ َ ََ
akhlasa yang berasal dari akar kata /‫ خلص‬khalasa. Kata ini mengandung
beberapa makna sesuai dengan kontek kalimatnya. Ia biasa berarti
shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai) dan I’tazala
(memisahkan diri).3 Atau berarti perbaikan dan pembersihan sesuatu
(Ibn Zakaria, Mu’jam Maqayis al-Lughah Jilid 2, 1986: hlm. 208)

Menurut istilah, makna ikhlas diungkapkan oleh para ulama antara lain
adalah sebagai berikut:
Muhammad Abduh mengatakan ikhlas adalah ikhlas beragama untuk
Allah SWT. dengan selalu manghadap kepada-Nya, dan tidak mengakui
kesamaanNya dengan makhluk apapun dan bukan dengan tujuan
khusus seperti menghindarkan diri dari malapetaka atau untuk
mendapatkan keuntungan serta tidak mengangkat selain dari-Nya
Ikhlas
sebagai pelindung (Muhammad Rasyid Ridha,1973, hlm. 475).
Muhammad al-Ghazali mengatakan ikhlas adalah melakukan amal
kebajikan semata-mata karena Allah SWT (Muhammad al-Ghazali,
1993, hlm. 139)

Ikhlas ialah menyengajakan suatu perbuatan hanya karena Allah Swt.,


menyerahkan penilaiannya hanya kepada-Nya. Membersihkan segala
macam bentuk kemusyrikan nyata maupun sir (kecil) seperti ingin
populer, simpati orang, kemewahan, kedudukan, harta, kepuasan hawa
nafsu dan lain lainnya yang bersifat duniawi.

sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasannya, di antaranya:


1. Ria, yakni melakukan amal perbuatan tidak untuk mencari ridha
Allah SWT., akan tetapi untuk dinilai oleh manusia untuk
memperoleh pujian atau kemashuran, posisi, kedudukan di tengah
masyarakat
tanda-tanda orang yang riya’, adalah: (1). Seseorang yang
bertambah ketaatannya apabila dipuji atau disanjung oleh orang
lain akan tetapi menjadi berkurang atau bahkan meninggalkan
amalan tersebut apabila mendapat celaan dan ejekan, (b). Tekun
dalam beribadah apabila di depan orang banyak akan tetapi malas
apabila dikerjakan sendirian, (c). Mau memberi atau sedekah
apabila dilihat orang banyak, tetapi enggan apabila tidak ada orang
yang melihatnya, (d). Berkata dan berbuat kebaikan bukan semata-
mata karena Allah SWT. Akan tetapi karena mengharap pamrih
kepada manusia

2. Sum’ah, yakni menceritakan amal yang telah dilakukan kepada


orang lain supaya mendapat penilain dan dihargai

3. Nifak, sifat menyembunyikan kekafiran dengan menyatakan dan


mengikrarkan keimanannya kepada Allah Swt

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sabar berarti tahan menghadapi


cobaan, tidak lekas marah, putus asa atau patah hati. Sebenarnya kata
sabar berasal dari bahasa arab, yaitu shabara- yashbiru-shabran yang
artinya menahan. Kata lainnya adalah alhabs yang artinya menahan
atau memenjarakan. Artinya adalah menahan hatinya dari keinginan
atau nafsunya.

Sedangkan menurut istilah sabar didefinisikan oleh para ulama, antara


lain:
1. Shabar adalah sikap tegar dalam menghadapai ketentuan dari
Allah. Orang yang sabar menerima segala musibah dari Allah
dengan lapang dada,
2. Sabar adalah keteguhan hati yang mendorong akal pikiran dan
agama dalam menghadapi dorongan-dorongan nafsu syahwat.
Sabar 3. Shabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi
godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka
mencapai tujuan

Sabar ialah menahan atau mengatur diri untuk dapat tetap taat
terhadap aturan-aturan yang benar berdasarkan syariat dalam
menjalankan perintah Allah Swt., menjauhi larangan-Nya dan menerima
cobaan yang memeberatkan dirinya, yakni pada waktu tertentu mulai
dari awal dimulainya pekerjaan sampai berakhirnya (selesai).

shabar memerlukan pengetahuan yang cukup tentang apa yang sedang


diamalkan. Mustahil orang yang bodoh akan dapat shabar, karena
kemungkinan besar ia akan melanggar aturan-aturan yang sudah
ditetapkan sebab tidak mengetahuinya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), syukur diartikan sebagai:


(1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan lega,
senang dan sebagainya). Sebenarnya kata syukur berasal dari bahasa
Arab yakni dalam bentuk mashdar dari kata kerja syakara–yasykuru–
syukran–wa syukuran–wa syukranan.. Secara bahasa berarti pujian atas
kebaikan dan penuhnya sesuatu. Syukur juga berarti menampakkan
sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini menampakkan sesuatu
Syukur kepermukaan, yakni menampakkan nikmat Allah.

Menurut istilah syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang


dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan
mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan
kehendak-Nya.

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi.


Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah.
Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan
memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan yakni dengan
memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan
penganugerahannya.

Syukur ialah mengakui nikmat yang dikaruniakan Allah Swt. kepada-


Nya, selanjutnya mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan
tuntunan dan kehendak-Nya. apabila karunia kenikmatan yang Allah
berikan kepadanya digunakan untuk menjadikan dirinya bertambah
baik amalnya, maka ia sukses. Perbuatannya akan menjadi amal shalih.

Menurut bahasa kata /‫ الرضا‬ridha berasal dari bahasa Arab yang


berarti senang, suka, rela. Ia merupakan lawan dari kata /‫ السخط‬al-sukht
yang berarti kemarahan, kemurkaan, rasa tidak suka. Orang yang /‫الرضا‬
ridha berarti orang yang sanggup melepaskan ketidak senangan dari
dalam hati, sehingga yang tinggal di dalam hatinya hanyalah
kesenangan.

Menurut istilah para ulama ridha didefinisikan antara lain oleh;


1. Dzunnun Al-Miṣri, beliau mengatakan bawa ridha ialah kegembiraan
hati dalam menghadapi qadha tuhan,
2. Ibnu Ujaibah mengatakan bahwa ridha adalah menerima
Ridho
kehancuran dengan wajah tersenyum, atau bahagianya hati ketika
ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang telah diatur dan
ditetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-
apa yang datang dari Allah,
3. Al-Barkawi berpendapat bawa ridha adalah jiwa yang bersih
terhadap apa-apa yang menimpanya dan apa-apa yang hilang, tanpa
perubahan.
4. Ibnu Aṭaillah as-Sakandari berkata, “ridha adalah pandangan hati
terhadap pilihan Allah yang kekal untuk hamba-Nya, yaitu,
menjauhkan diri dari kemarahan.
Ridho ialah merespon kepututusan dan takdir-Nya. Kondisi kejiwaan
atau sikap mental yang senantiasa menerima dengan lapang dada atas
segala keputusan Allah Swt. yang terkait dengan diri seorang hamba,
baik berupa karunia yang baik, yakni nikmat maupun yang buruk (bala’).
RESUME KEGIATAN BELAJAR 3
AKHLAK TERHADAP DIRI SENDIRI

1. Menemukan kategorisasi akhlak yang ada hubungannya


INDIKATOR KOMPETENSI dengan diri sendiri.
2. Menganalisis akhlak yang ada hubungannya dengan diri
sendiri;khauf dan raja’, malu, rajin, hemat dan istiqamah
3. Membedakan sebab dan akibat dari akhlak al-karimah pada
diri sendiri; khauf dan raja’, malu, rajin, hemat dan istiqamah

Akhlak terhadap diri sendiri pada dasarnya adalah


PENGERTIAN AKHLAK PADA DIRI SENDIRI sifat jiwa yang sudah mendarah daging yang dapat
menjadi inspirasi dan mendorong perbuatan
manusia yang akibatnya kembali pada dirinya
sendiri, baik itu perbuatan yang bermanfaat
maupun perbuatan yang madharat.
Indikatornya Akhlak terhadap diri sendiri adalah sifat perbuatan yang langsung berpengaruh atau
berakibat baik atau memberi manfaat dan menjadikan derajatnya mulia bagi diri orang yang
menyandangnya. Sifat tersebut akan menagantar pemiliknya menjadi orang yang sukses dunia
akhirat. Untuk menjadi pribadi yang berakhlak terpuji, sepatutnya memiliki lima sifat baik dalam
dirinya yaitu : Khauf dan Raja’ , Malu , Rajin, Hemat dan Istiqamah

Secara bahasa, khauf adalah lawan kata al-amnu. Al-Amnu adalah rasa
aman, dan khauf adalah rasa takut. Khaufa adalah perasaan takut
terhadap siksa dan keadaan yang tidak mengenakkan karena
kemaksiatan dan dosa yang telah diperbuat.
khauf adalah sifat yang sudah mendarah daging dalam jiwa manusia
yang dapat mendorong rasa takut terhadap siksa.
Alasan Kenapa kita harus mempunyai sifat khauf
1. supaya ada proteksi diri. Terutama dari perbuatan kemaksiatan atau
dosa.
2. agar tidak ujub atau berbangga diri dan sombong. Sekalipun kita
sedang dalam zona taat, kita harus selalu waspada terhadap nafsu
KHAUF DAN RAJA’
Sedangkan raja’ adalah perasaan penuh harap akan surga dan berbagai
kenikmatan lainnya, sebagai buah dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-
Nya. Bagi seorang muslim, kedua rasa ini mutlak dihadirkan. Karena akan
mengantarkan pada satu keadaan spiritual yang mendukung kualitas
keberagamaan seorang muslim.
Raja’ adalah sifat yang sudah mendarah daging dalam jiwa manusia yang
dapat mendorong harapan akan surga.
Alasan kenapa manusia perlu memiliki sifat raja’.
1. agar tetap bersemangat dalam ketaatan.
2. agar tetap tenang dengan berbagai kesulitan hidupnya
Imam al-Ghazali berkata, “Kesedihan itu dapat mencegah manusia dari
makan. Khauf dapat mencegah orang berbuat dosa. Sedang raja’ bisa
menguatkan keinginan untuk melakukan ketaatan. Ingat mati dapat
menjadikan orang bersikap zuhud dan tidak mengambil kelebihan harta
duniawi yang tidak perlu.

Menurut bahasa malu berarti merasa sangat tidak enak hati seperti hina
atau segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut,
kepada pihak lain. Sedang menurut istilah adalah adalah sifat yang
mendorong seseorang merasa tidak enak apabila meninggalkan
kewajiban-kewajiabannya sebagai hamba Allah Swt dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya.

Ibnul Qoyyim menjelaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin bahwa


kuatnya sifat malu itu tergantung kondisi kualitas hatinya.

Ada tiga macam malu yang perlu melekat pada seseorang, yaitu:
1. Malu kepada diri sendiri ketika sedikit melakukan amal saleh
kepada Allah dan kebaikan untuk umat dibandingkan orang lain.
Malu ini mendorongnya meningkatkan kuantitas amal saleh dan
pengabdian kepada Allah dan umat.
2. Malu kepada manusia. Ini penting karena dapat mengendalikan
MALU
diri agar tidak melanggar ajaran agama, meskipun yang
bersangkutan tidak memperoleh pahala sempurna lantaran
malunya bukan karena Allah. Namun, malu seperti ini dapat
memberikan kebaikan baginya dari Allah karena ia terpelihara
dari perbuatan dosa.
3. Malu kepada Allah. Ini malu yang terbaik dan dapat membawa
kebahagiaan hidup. Orang yang malu kepada Allah, tidak akan
berani melakukan kesalahan dan meninggalkan kewajiban selama
meyakini Allah selalu mengawasinya.

Sifat Malu adalah Sifat yang sudah mendarah daging dalam jiwa
seseorang yang dapat menahan seseorang melakukan perbuatan yang
menurut pandangan dirinya dapat merugikan atau bertentangan dengan
perintah dan larangan agama.

Menurut bahasa rajin berarti suka bekerja, getol (sungguh-sungguh


bekerja),giat berusaha dan kerapkali; terus-menerus.
Sifat rajin dapat difahami sebagai kondisi jiwa yang dapat
RAJIN mendorongkesungguhan untuk melakukan kegiatan tertentu secara
terus-menerus dalammencapai suatu tujuan.
Seorang muslim harusrajin dalam segala hal; rajin beramal, belajar,
bekerja, dan berbagai usaha untukmemperbaiki kualitas diri sehingga
menjadi orang yang terbaik, sukses hidupnyadunia akhirat.
Sifat Rajin Sifat yang sudah menyatu dengan jiwanya yang dapat
mendorong kegigihan seseorang dalam setiap usaha mencapai tujuan
dan keinginan- keinginannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indosenia hemat diartikan dengan berhati-


hati dalam membelanjakan uang.
Hemat dalam kehidupan sehari-hari adalah sifat jiwa yang sudah
menyatu dengan dirinya yang dapat mendorong seseorang
menggunakan segala sesuatu yang dimilikinya, baik harta, tenaga
maupun waktu sesuai dengan kebutuhan
orang yang hemat berarti ia telah berbuat baik kepada diri sendiri. Ia
HEMAT akan menjadi orang yang bisa menahan diri dalam menggunakan karunia
Allah, pandai mengelola nikmat terutama sehat dan waktu, sehingga kita
dapat berharga bagi orang lain, merasakan kebahagian tanpa
penyesalan, dan bisa hidup sederhana.
Sifat Hemat adalah Sifat yang sudah menyatu dengan dirinya yang dapat
mendorong seseorang menggunakan segala sesuatu yang dimilikinya
baik harta, tenaga maupun waktunya sesuai dengan kebutuhan.

Menurut bahasa Istiqomah berarti “lurus, menjadi lurus atau tegak


lurus”, adalah bentuk mashdâr dari fiil istaqama – yastaqimu
istiqamatan (Almunawwir; 1173), atau jalan yang lurus dan benar
(Mufradat Alfazh al-Qur’an, hlm. 692) juga berarti tetap beramal
berdasarkan agama tauhid, tidak kembali pada kemusyrikan (Al-
Maraghi, Juz 24: hlm. 127).

Menurut Istilah istiqamah adalah kata yang mencakup semua urusan


agama yakni mendirikan (melaksanakannya secara sempurna) dan
menunaikan janji terkait dengan ucapan, perbuatan, keadaan dan niat
dengan sebenar-benarnya kehadirat Allah Swt. (Ibn. Qayyim, Madarid
as-Salikin, Juz III, h. 1708).
ISTIQOMAH
Abdur Razaq mendefinisikan bahwa istiqamah itu menuju jalan yang
lurus yakni agama yang sempurna dari keterpihakan ke kanan atau ke
kiri, mencakup ketaatan lahir dan batin terhadap pelaksanaan perintah
dan meninggalkan larangan sehingga dapat dikatakan sebagai wasiat
ketaatan agama secara menyeluruh (Asyru Qawaid fi al-Istiqamah, hal.
13).

Sifat Istiqomahadalah sifat yang sudah menyatu dengan jiwa seseorang


yang mendorong untuk melakukan jalan yang lurus (benar) berupa
ketaatan mutlak kepada Allah Swt. secara konsisten dan terus menerus
dalam keadaan apapun dan di mana pun ketika menjalankan perintah-
Nya dan menjauhi larangan-Nya.
RESUME KEGIATAN BELAJAR 4
AKHLAK TERHADAP ORANG LAIN

INDIKATOR KOMPETENSI 1. Menemukan kategorisasi akhlak yang berhubungan dengan


orang lain.
2. Menganalisis akhlak terhadap orang lain; kasih sayang, siddiq,
amanah, tabligh, pemaaf, dan adil.
3. Menilai implementasi akhlak terhadap orang lain; kasih
sayang, siddiq, amanah, tabligh, pemaaf, dan adil.

Pengertian Akhlak Pengertian Akhlak terhadap orang lain adalah sifat-sifat yang
melekat kuat dalam diri seseorang yang menjadi sumber
kekuatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
berakibat baik atau buruk bagi orang lain, di luar pelakunya.

Macam-macam apa saja sih yang termasuk dalam kategori akhlak terhadap orang lain: Kasih Sayang
Siddiq Amanah Tabligh Pemaaf Adil. Dengan ketujuh sifat tersebut apabila sudah terpatri dalam jiwa
Saudara, insyaAllah Saudara akan menjadi orang yang bermanfaat, orang yang baik dalam pandangan
Allah Swt. Sebagaimaa ukuran orang baik yang disampaikan oleh Rasullah Saw. sebagai berikut:َ

‫ وخير الناس‬،‫ وال يؤلف‬، ‫ وال خير فيمن ال يألف‬، ‫ « المؤمن يألف ويؤلف‬: ‫ قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬: ‫عن جابر قال‬
‫» أنفعهم للناس‬

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan
tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang
yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Pengertian Kasih Sayang sifat yang melekat dalam jiwa yang dapat menjadi
inspirasi dan mendorong untuk melakukan secara cepat dalam hal saling
membantu meringankan penderitaan atau kesulitan yang dialami oleh orang
lain. Untuk itu, Islam mengatur batas-batas kasih sayang yang diperbolehkan,
supaya berakibat baik bagi semua pihak. Konsep ibadah harus dipahami
sebagai prinsip dalam mengimplementasikan sifat kasih sayang diantara kita,
yakni dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Tidak ada
rasa kasih dan sayang yang kita berikan kepada makhluk lain kecuali untuk
memperoleh ridha Allah Swt.
KASIH SAYANG
Kasih sayang memiliki makna yang tidak terbatas. Memiliki rasa kasih sayang
kepada makhluk lain merupakan fitrah yang dimiliki manusia. Maka, tentu kita
harus menempatkan rasa kasih sayang ini sesuai dengan batas-batas
penciptaan kita sebagai makhluk Allah dan jangan sampai melewati batas-
batas hukum-Nya Rasulullah Saw. bersabda:
Artinya: Dari Jabir berkata, saya datang kepada Rasulullah Saw., lalu saya
berkata, “Saya berbaiat kepadamu untuk masuk Islam”, lalu beliau memegang
tangannya sambil bersabda, “Nasehat itu untuk setiap orang Islam”. Kemudian
Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah
tidak akan menyayanginya”. (HR. Ahmad)
Hadis tersebut di atas mengisyaratkan bahwa kasih sayang kita itu tidak
terbatas, yakni kepada semua ‘manusia’ bukan hanya saudara muslim.
Sehingga kita sebagai orang Islam harus bisa mengajarkan dan mencontohkan
untuk menyayangi semua manusia di bumi.
Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi seluruh alam, juga
mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya berlaku antar manusia,
melainkan juga pada hewan, tumbuhan dan lingkungan di sekitarnya. sifat
kasih sayang yang tidak didasari dengan prinsip penghambaan diri kepada
Allah, adalah tidak benar

Kata /‫ صديق‬Siddiq, berasal dari bahasa Arab yang berarti "benar/jujur".


Menurut istilah adalah sesuatu yang diberikan sebagai sebuah gelar
kehormatan kepada individu tertentu, Siddiq untuk laki-laki dan Siddiqah untuk
perempuan
Ash-Shiddiq yang dimaksud adalah orang yang dengan jujur mau menerima
/‫ صدق‬shidq, (kebenaran). Jujur adalah sifat yang ada dan sudah menyatu
dengan jiwa seseorang yang dapat mengispirasi dan mendorong secara cepat
untuk berbicara dan berbuat apa adanya. Sama antara pembicaraan dan
perilakunya.

Jujur adalah sifat terpuji yang selayaknya dimiliki oleh umat Islam. Abu Hamid
al-Ghazali secara khusus membahas tentang hal jujur ini. Tepatnya dalam sub
tema yang berjudul fi al-Shidqi wa Fadhilatih wa Haqiqatihi (Jujur, Keutamaan
dan Hakikatnya).

Menurut al-Ghazali kata jujur dapat diartikan dalam berbagai makna yaitu :
SIDIQ
1. Jujur dalam lisan; jujur dalam lisan atau ucapan berkaitan langsung dengan
informasi atau berita yang disampaikan, apakah itu benar atau salah. Baik
yang telah berlalu maupun yang akan terjadi. Dan tidak membesar-besarkan
informasi, karena menurut Al-Ghazali hal ini dekat dusta.
2. Jujur dalam niat dan kehendak. Jujur dalam hal ini terkait langsung dengan
keikhlasan.. Tidak ada dorongan sedikitpun kecuali hanya karena Allah.
3. Jujur dalam azam (tekad); sebelum seseorang melakukan sesuatu
kadangkala seseorang memiliki tekad terlebih dahulu sebelum
mengimplementasikannya
4. Jujur dalam menunaikan azam (tekad); Maksudnya adalah ketika seseorang
telah memiliki azam dan ia memiliki peluang untuk melaksanakan azamnya.
5. Jujur dalam perbuatan; adalah usaha seseorang untuk menampilkan
perbuatan lahiriah agar sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya
6. Jujur dalam mengimplementasikan maqamat di dalam agama seperti jujur
di dalam khauf (takut kepada Allah), raja’ (berharap kepada Allah), zuhud
dan lain sebagainya. Ini adalah tingkatan jujur yang paling tinggi. Seseorang
dapat dikatakan jujur dalam tahap ini ketika ia telah mencapai hakikat yang
dimaksud dalam khauf, raja’ atau zuhud yang dikehendaki.

Pengertian Sidiq sifat jiwa yang sudah mendarah daging yang dapat
menginspirasi dan mendorong untuk melakukan secara cepat dalam hal
berbicara dan berbuat apa adanya. Apa yang ada di dalam hatinya sama
dengan apa yang disampaikan melalui lisannya

Menurut bahasa Amanah berasal dari kata amuna – ya’munu – amanatan yang
bermakna tidak meniru, terpercaya, jujur, atau titipan. Pengertian Amanah
sifat yang sangat kuat yang melekat dalam jiwa yang dapat mendorong
perbuatan-perbuatannya secara cepat dalam hal melaksanakan tanggung
jawab yang dipercayakan kepadanya, baik yang menyangkut hak dirinya, hak
orang lain, maupun hak Allah Swt

Amanah dalam arti yang luas dan dalam lebih dari sekedar menunaikan hajat
duniawi kepada pemiliknya. Amanah hakikatnya lawan kata khianat. Orang
yang amanah adalah orang yang dapat dipercaya dan membuat jiwa aman.

AMANAH Amanah yang berarti benar-benar bisa dipercaya (bertanggung jawab). Jika
satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang orang percaya bahwa urusan
itu akan dilaksanakan dengan sebaik baiknya.

Konsekuensi Amanah adalah mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya,


baik sedikit maupun banyak, tidak mengambil lebih daripada yang ia miliki,
tidak mengurangi hak orang lain, baik itu hasil penjualan, jasa atau upah buruh.
Amanah juga memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan
kewajiban yang diberikan padanya.
Singkatnya sifat amanah itu adalah sifat tanggung jawab dari tugas yang
dipikulkan kepada kita, apapun bentuknya

Menurut bahasa tabligh berasal dari bahasa Arab yang berarti menyampaikan.
Tabligh di sini bermakna menyampaikan sesuatu dengan benar dan tepat
sasaran.

Tabligh juga berarti mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain
untuk kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran
Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tablig pada hakikatnya adalah dakwah
menyampaikan kebenaran. Seseorang yang mempunyai sifat tabligh yang tidak
TABLIGH pernah menyembunyikan kebenaran. Ia akan menyampaikan kebenaran itu,
dan mengajak orang-orang untuk mengikutinya. Dalam profesi guru, sifat
tabligh dapat diartikan akan menyampaikan informasi berupa ilmu
pengetahuan dengan benar dan dengan tutur kata yang tepat. Jadi intinya
sifat tabligh adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang
dapat melakukan dengan cepat untuk menyampaikan apa saja yang menjadi
tanggunggung jawabnya siapa saja yang selayaknya harus menerima.

Pengertian Tabligh sifat jiwa yang terpatri kuat di dalamnya yang dapat
menjadi inspirasi dan mendorong untuk melakukan secara cepat dalam hal
menyampaikan kebenaran. Rasanya risih kalau melihat kebenaran ditutup-
tutupi

Pengertian Pemaaf Sifat yang melekat dalam jiwa yang dapat menjadi
pendorong untuk melakukan perbuatan secara cepat dalam hal melupakan
kesalahan orang lain terkait dengan dirinya.
Pemaaf berarti orang yang rela member maaf kepada orang lain. Sikap pemaaf
dapat dimaknai sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa menyisakan
rasa benci dan keinginan untuk membalasnya. Sebenarnya kata pemaaf,
adalah serapan dari Bahasa Arab, yakni al-‘afw yang berarti maaf, ampun, dan
anugerah.
Allah mengajarkan kepada kita agar menjadi pribadi yang pemaaf, melalui ayat
berikut ini:

ِ ‫سع ِة أن يُؤتُوا أُو ِلي القُرب ٰى والمسا ِكين وال ُمه‬


‫اج ِرين‬ َّ ‫وال يأت ِل أُولُو الفض ِل ِمنكُم وال‬
‫َّللاُ غفُور ر ِحيم‬ َّ ‫َّللا ۖ وليعفُوا وليصف ُحوا ۗ أال ت ُ ِحبُّون أن يغ ِفر‬
َّ ‫َّللاُ لكُم ۗ و‬ ِ َّ ‫فِي س ِبي ِل‬
Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan
kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan member
(bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang
berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang
PEMAAF dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur/24: 22

Memberi maaf kepada orang lain yang bersalah merupakan cara bagaimana
kita bisa membangun kembali tatanan masyarakat yang rusak. Terutama dalam
proses membangun keluarga diantara kita yang tentunya tidak luput dari
kesalahan-kesalahan baik bapak, ibu maupun anak. Allah Swt. berfirman:

‫اجكُم وأوال ِدكُم عد ًُّوا لكُم فاحذ ُرو ُھم ۚ وإِن تعفُوا‬
ِ ‫ا أيُّها الَّذِين آمنُوا إِنَّ ِمن أزو‬
‫َّللا غفُور ر ِحيم‬
َّ َّ‫وتصف ُحوا وتغ ِف ُروا ف ِإن‬

Artinya: Hai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara pasangan-


pasanganmu dan anak-anakmu itu ada yang menjadi musuhmu. Maka
hendaknya kalian berhati-hati dalam menghadapi mereka. Dan jika kalian bisa
memaafkan, memperbaiki dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. At-Taghabun/64:14)

Menurut bahasa Adil derasal dari bahasa Arab yang berarti proporsional, tidak
berat sebelah, atau jujur. Adil maksudnya juga tidak berat sebelah, tidak
ADIL memihak, berpihak pada yang benar, berpegang pada kebenaran, atau yang
sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang.
Pengertian Adil Sifat yang melekat dalam jiwa yang dapat menjadi inspirasi dan
mendorong untuk melakukan secara cepat dalam hal meletakan sesuatu pada
tempatnya, memberikan atau menerima sesuatu sesuai haknya, dan
menghukum yang jahat sesuai haknya, dan menghukum yang jahat sesuai dan
kesalahan dan pelanggaranya.
Adapun nilai positif perbuatan adil antara lain : membawa ketentraman,
kedamaian, menimbulkan kepercayaan, meningkatkan kesejahteraan,
meningkatkan prestasi belajar, menciptakan kemakmuran, mengurangi
kecemburuan sosial, mempererat tali persaudaraan, dapat menimbulkan
kebaikan dan mencegah kejahatan.

Common questions

Didukung oleh AI

Tawakkal, or trust in God, complements other qualities such as 'ikhlas' (sincerity) and 'sabar' (patience) by forming a holistic framework for a Muslim's moral character. Tawakkal ensures that actions are dependent on divine assistance rather than personal ability alone, while ikhlas assures that these actions are intended solely for Allah's pleasure. Sabar supports enduring hardships without frustration. Together, they cultivate a resilient, sincere, and God-dependent character .

Tabligh, in religious or educational contexts, emphasizes the truthful and accurate conveyance of information or teachings. It requires the communicator to relay content comprehensively and appropriately. Effective communication in these settings depends on the accuracy of tabligh to ensure that recipients understand the core message and are encouraged to implement it in practice. This synthesis underscores the role of tabligh as both an art of transmitting knowledge and a means of reinforcing ethical living .

A community can institutionalize 'sidiq' (truthfulness) and 'amanah' (trustworthiness) by establishing transparent systems that reward honest behavior and strict accountability measures for breaches of trust. This can involve regular community workshops to reinforce these values, a mentorship program pairing experienced individuals with younger members to instill these values, and the creation of a public recognition system to celebrate acts of truthfulness and trustworthiness. By embedding these values systematically, social trust is likely to be enhanced through consistent individual and collective behavior .

Pemaaf, or forgiveness, plays a critical role in repairing social relationships by allowing individuals to reconcile and restore trust without harboring resentment. This forgiveness promotes community harmony by enabling individuals to move past personal grievances, thereby reducing conflicts and fostering a supportive social environment where mutual respect and understanding are prioritized .

Quwwah al-Ghadhab, or the force of anger, influences human behavior by potentially prompting individuals to engage in both proactive and reactive actions. Positively, it can lead to the development of virtues like courage ('syaja’ah'), where one acts bravely when necessary. Negatively, if uncontrolled, it results in recklessness or 'tahawwur,' where individuals might take actions without knowing right from wrong, potentially leading to dangerous situations like engaging in fights without understanding the consequences .

Ignoring 'ridha', or acceptance of God's will, when dealing with adversities may lead to chronic dissatisfaction and emotional turmoil. Without acceptance, individuals may persist in denial or frustration, preventing effective coping strategies. Over time, this can breed resentment, diminish life satisfaction, and strain mental health and interpersonal relationships due to a lack of peace with unchangeable life circumstances .

Syukur, or gratitude, in Islamic thought is expressed through three distinct modes: heart (feeling inner satisfaction and recognition of Allah's benevolence), tongue (verbal acknowledgment and praise of the giver), and action (using Allah's gifts according to His will). This multifaceted approach leads to personal spiritual growth by fostering a continuous awareness of dependence on Allah and reinforcing a pattern of positive behavioral adjustments aligned with divine values .

Al-Iffah, or restraint from prohibited desires, regulates human behavior by controlling the pursuit of worldly pleasures. This self-restraint leads to the development of beneficial qualities such as 'haya’' (modesty in avoiding prohibited actions), 'qana’ah' (contentment with God's provision), 'sakha’' (generosity), and 'wara’' (caution against doubtful matters). These virtues collectively foster a disciplined and dignified personal conduct, aligning with ethical principles .

Amal Shalih refers to good deeds performed with the specific intention of achieving Allah's pleasure and mercy. While everyday good deeds can be beneficial actions in normal life, 'Amal Shalih' is especially characterized by adherence to Allah’s commands and avoiding His prohibitions, thereby requiring not just the action but also the appropriate intentionality and conformity to religious guidelines .

Quwwah al-‘adl, or the power of justice, acts as a moderating force among the different human desires for knowledge (Quwwah al-Ilmi), anger (Quwwah al-Ghadhab), and appetites (Quwwah asy-Syahwah). According to al-Ghazali, this balance facilitates the emergence of wisdom (hikmah), courage (syaja’ah), and self-restraint (‘iffah) respectively. Al-Ghazali contends that justice ensures that none of these desires dominate excessively, thus cultivating a harmonious and virtuous character that can navigate complexities of moral decisions .

Anda mungkin juga menyukai