Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

OTOMIKOSIS

Oleh:

Vebi Adrias
NIM. 1708436491

Pembimbing :
dr. Ariman Syukri, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIKBAGIAN
ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROK - KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Otitis eksterna fungi atau otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan kronik
pada epitel skuamosa dari pinna dan kanalis auditorius eksterna oleh ragi dan filamen
jamur. Jamur adalah penyebab utamanya, namun penyakit ini juga dapat terjadi akibat
infeksi bakteri kronis pada kanalis auditorius eksternus atau telinga tengah yang
menyebabkan menurunnya imunitas lokal sehingga memudahkan terjadinya infeksi
jamur sekunder. Pada kasus dengan perforasi membran timpani, jamur juga dapat
menyebabkan infeksi pada telinga tengah.1,2,3,4
Otomikosis jarang mengancam kehidupan, tetapi merupakan penyakit
yang cukup menantang dan dapat menyebabkan frustasi baik pada pasien maupun
dokter spesialis THT-KL yang menangani. Hal ini disebabkan karena penyakit ini
membutuhkan pengobatan dan tindak lanjut jangka panjang karena mudah
mengalami rekurensi atau kekambuhan terutama bila pasien tidak kooperatif
dalam mengelola penyakitnya.1
Prevalensi otomikosis bervariasi sesuai dengan keadaan geografis dan
faktor predisposisi pasien dan merupakan 9-50% dari seluruh kasus otitis
eksterna. Umumnya otomikosis lebih sering dijumpai pada daerah tropis dan sub
tropis seperti Mesir, India, Birma, Pakistan, Bahrain, Israel dan Indonesia. Faktor
predisposisi penyakit ini diantaranya, suhu dan kelembaban lingkungan, adanya
serumen impaksi, penggunaan antibiotik topikal dan steroid yang berlebihan,
keadaan imunokompromis, penggunaan alat-alat pembersih telinga, riwayat
penyakit telinga sebelumnya, penggunaan alat bantu dengar, dan pasien yang telah
dilkukan operasi mastoidektomi terbuka.1,2,5
Sebagian besar kasus otomikosis disebabkan oleh jamur Aspergillus spp.
dan Candida. Aspergillus niger adalah yang paling sering ditemui pada
pemeriksaan kulturkarena jumlahnya yang mendominasi MAE, jenis jamur lain
yang dapat menyebabkan otomikosis adalah A. flavus, A. fumigatus, A. terreus
(jamur filamentosa), Candida albicans dan C. parapsilosis (jamur ragi).1

1
Umumnya pasien akan datang dengan keluhan penurunan pendengaran
pada salah satu atau kedua telinga, telinga terasa penuh, gatal, keluarnya cairan
dari telinga, hingga telinga berdenging. Penatalaksanaan yang tepat dan cepat
dapat mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Terapi farmakologis dapat
digunakan anti fungal dengan kombinasi obat lainnya yang tepat sehingga dapat
mempercepat proses penyembuhan.2

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Otomikosis adalah infeksi telinga yang disebabkan oleh jamur atau infeksi
jamur yang superficialis pada kanalis auditorius eksternus. Otomikosis ini sering
dijumpai pada daerah yang tropis. Infeksi ini dapat bersifat akut dan subakut, dan
khas dengan adanya inflamasi, rasa gatal, dan ketidaknyamanan. Mikosis ini
menyebabkan adanya pembengkakan, pengelupasan epitel superfisial, adanya
penumpukan debris yang berbentuk hifa, disertai supurasi dan nyeri.6

II. ANATOMI TELINGA


a. Telinga luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga (aurikula), liang telinga (meatus
acusticus eksterna) sampai membran timpani bagian lateral. Daun telinga terdiri
dari tulang rawan elastin dan kulit yang berfungsi mengumpulkan gelombang
suara, sedangkan liang telinga menghantarkan suara menuju membrana timpani7.
Liang telinga berbentuk huruf S dengan panjang 2,5-3 cm. Sepertiga bagian
luar terdiri dari tulang rawan yang banyak mengandung kelenjar serumen dan
rambut, sedangkan dua pertiga bagian dalam terdiri dari tulang dengan sedikit
serumen.8
b. Telinga tengah
Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membrana timpani,
cavum timpani, tuba eustachius, dan tulang pendengaran. Bagian atas membran
timpani disebut pars flaksida (membran Shrapnell) yang terdiri dari dua
lapisan,yaitu lapisan luar merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga dan lapisan
dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia. Bagian bawah membran timpani disebut
pars tensa (membran propria) yang memiliki satu lapisan di tengah, yaitu lapisan
yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin.9
Tulang pendengaran terdiri atas maleus (martil), inkus (landasan), dan
stapes (sanggurdi) yang tersusun dari luar ke dalam seperti rantai yang
bersambung dari membrana timpani menuju rongga telinga dalam.7 Prosesus

3
longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan
inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang
berhubungan dengan koklea. Hubungan antara tulang-tulang pendengaran
merupakan persendian. Tuba eustachius menghubungkan daerah nasofaring
dengan telinga tengah.10
Prosessus mastoideus merupakan bagian tulang temporalis yang terletak di
belakang telinga. Ruang udara yang berada pada bagian atasnya disebut antrum
mastoideus yang berhubungan dengan rongga telinga tengah. Infeksi dapat
menjalar dari rongga telinga tengah sampai ke antrum mastoideus yang dapat
menyebabkan mastoiditis.7
c. Telinga dalam
Telinga dalam terdiri dari dua bagian, yaitu labirin tulang dan labirin
membranosa. Labirin tulang terdiri dari koklea, vestibulum, dan kanalis
semisirkularis, sedangkan labirin membranosa terdiri dari utrikulus, sakulus,
duktus koklearis, dan duktus semisirkularis. Rongga labirin tulang dilapisi oleh
lapisan tipis periosteum internal atau endosteum, dan sebagian besar diisi oleh
trabekula (susunannya menyerupai spons).7
Koklea (rumah siput) berbentuk dua setengah lingkaran. Ujung atau puncak
koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala vestibuli (sebelah
atas) dan skala timpani (sebelah bawah). Diantara skala vestibuli dan skala
timpani terdapat skala media (duktus koklearis). Skala vestibuli dan skala timpani
berisi perilimfa dengan konsentrasi K+ 4 mEq/l dan Na+ 139 mEq/l, sedangkan
skala media berisi endolimfa dengan konsentrasi K+ 144 mEq/l dan Na+ 13
mEq/l. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut
membrana vestibularis (Reissner’s Membrane) sedangkan dasar skala media
adalah membrana basilaris. Pada membran ini terletak organ corti yang
mengandung organel- organel penting untuk mekanisme saraf perifer
pendengaran. Organ Corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam yang berisi 3000
sel dan tiga baris sel rambut luar yang berisi 12000 sel. Ujung saraf aferen dan
eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-sel rambut
terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung

4
datar, dikenal sebagai membran tektoria. Membran tektoria disekresi dan
disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus.8
Nervus auditorius atau saraf pendengaran terdiri dari dua bagian, yaitu:
nervus vestibular (keseimbangan) dan nervus kokhlear (pendengaran). Serabut-
serabut saraf vestibular bergerak menuju nukleus vestibularis yang berada pada
titik pertemuan antara pons dan medula oblongata, kemudian menuju cerebelum.
Sedangkan, serabut saraf nervus kokhlear mula-mula dipancarkan kepada sebuah
nukleus khusus yang berada tepat dibelakang thalamus, kemudian dipancarkan
lagi menuju pusat penerima akhir dalam korteks otak yang terletak pada bagian
bawah lobus temporalis.7

Gambar 1. Anatomi telinga

III. EPIDEMIOLOGI
Angka insidensi otomikosis tidak diketahui, tetapi sering terjadi pada
daerah tropis dengan cuaca yang panas dan juga pada orang-orang yang senang
dengan olahraga air. 1 dari 8 kasus infeksi telinga luar disebabkan oleh jamur.
90% infeksi jamur ini disebabkan oleh Aspergillus sp, dan selebihnya adalah
candida sp. Angka prevalensi Otomikosis ini dijumpai pada 9% dari seluruh
pasien yang mengalami gejala dan tanda otitis eksterna. Otomikosis ini lebih
sering dijumpai pada daerah dengan cuaca panas dan banyak literature
menyebutkan otomikosis berasal dari Negara tropis dan subtropics. Di United

5
Kingdom (UK), diagnosis otitis eksterna yang disebabkan oleh jamur ini sering
ditegakkan pada saat berakhirnya musim panas.6
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ali Zarei di Pakistan, Otomikosis
dijumpai lebih banyak pada wanita (terutama ibu rumah tangga) dari pada pria.
Otomikosis biasanya terjadi pada dewasa dan jarang pada anak-anak. Pada
penelitian tersebut, dijumpai otomikosis sering pada remaja laki-laki, yang juga
sesuai dengan yang dilaporkan oleh peneliti lainnya. Tetapi berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Hueso dkk, dari 102 kasus ditemukan 55,8% merupakan laki-
laki dan 44,2% pada perempuan.6

IV. ETIOLOGI
Faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna, dalam hal ini otomikosis,
meliputi ketiadaan serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperatur dan
trauma lokal, yang biasanya sering disebabkan oleh kapas telinga (cotton buds)
dan alat bantu dengar. Serumen sendiri memiliki pH yang berkisar antara 4-5
yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan jamur. Olah raga air misalnya
berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan ini oleh karena
paparan ulang dengan air yang menyebabkan keluarnya serumen, dan keringnya
kanalis auditorius eksternus. Bisa juga disebabkan oleh adanya prosedur invasive
pada telinga. Predisposisi yang lain meliputi riwayat menderita eksema, rhinitis
alergi, dan asma.6
Infeksi ini disebabkan oleh beberapa spesies dari jamur yang bersifat
saprofit, terutama Aspergillus niger. Agen penyebab lainnya meliputi A. flavus, A.
fumigatus, Allescheria boydii, Scopulariopsis, Penicillum, Rhizopus, Absidia, dan
Candida sp. Otomikosis dapat merupakan infeksi sekunder dari predisposisi
tertentu misalnya otitis eksterna yang disebabkan oleh bakteri yang diterapi
dengan kortikosteroid dan berenang.6
Banyak faktor yang menjadi penyebab perubahan jamur saprofit ini
menjadi jamur yang patogenik, tetapi bagaimana mekanismenya sampai sekarang
belum dimengerti. Beberapa dari faktor dibawah ini dianggap berperan dalam
terjadinya infeksi, seperti perubahan epitel, peningkatan kadar pH, gangguan
kualitatif dan kuantitatif dari serumen, faktor sistemik (seperti gangguan imun

6
tubuh, kortikosteroid, antibiotik, sitostatik, neoplasia), faktor lingkungan (panas,
kelembaban), riwayat otomikosis sebelumnya, otitis media sekretorik kronik, post
mastoidektomi, atau penggunaan substansi seperti antibiotika spectrum luas pada
telinga.6

V. GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang dapat ditemui hamper sama seperti gejala otitis eksterna
pada umumnya yakni otalgia dan otorrhea sebagai gejala yang paling banyak
dijumpai, kemudian diikuti dengan kurangnya pendengaran, rasa penuh pada
telinga dan gatal.10,6
Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Tang Ho,et al yaitu dari 132
kasus otomikosis didapati persentase masing-masing gejala otomikosis sebagai
berikut:
Simptom Ju mlah Pasien (n) Persentase (%)
Otalgia 63 48
Otore 63 48
Kehilangan Pendengaran 59 45
Rasa penuh ditelinga 44 33
Gatal 20 23
Tinitus 5 4

Tabel 1. Persentase gejala otomikosis.6

Pada liang telinga akan tampak berwarna merah, ditutupi oleh skuama dan
kelainan ini ke bagian luar akan dapat meluas sampai muara liang telinga dan
daun telinga sebelah dalam. Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan ditutupi
skuama halus. Bila meluas sampai kedalam, sampai ke membran timpani, maka
akan dapat mengeluarkan cairan serosanguinos.10
Pada pemeriksaan telinga yang dicurigai otomikosis, didapati adanya
akumulasi debris fibrin yang tebal, pertumbuhan hifa berfilamen yang berwarna
putih dan panjang dari permukaan kulit, hilangnya pembengkakan signifikan pada
dinding kanalis, dan area melingkar dari jaringan granulasi diantara kanalis
eksterna atau pada membran timpani.10,11

7
VI. DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan pada: Anamnesis, yaitu danya keluhan nyeri di
dalam telinga, rasa gatal, adanya secret yang keluar dari telinga. Yang paling
penting adalah kecenderungan beraktifitas yang berhubungan dengan air,
misalnya berenang, menyelam, dan sebagainya.10
Gejala klinik. Yang khas, terasa gatal atau sakit di liang telinga dan daun
telinga menjadi merah, skuamous dan dapat meluas ke dalam liang telinga sampai
2/3 bagian luar. Didapati adanya akumulasi debris fibrin yang tebal, pertumbuhan
hifa berfilamen yang berwarna putih dan panjang dari permukaan kulit.10,12
Pemeriksaan laboratorium Preparat langsung : skuama dari kerokan kulit
liang telinga diperiksa dengan KOH 10% akan tampak hifa-hifa lebar, berseptum,
dan kadang-kadang dapat ditemukan spora-spora kecil dengan diameter 2-3 u.12
Pembiakan : Skuama dibiakkan pada media Agar Saboraud, dan
dieramkan pada suhu kamar. Koloni akan tumbuh dalam satu minggu berupa
koloni filament berwarna putih. Dengan mikroskop tampak hifa-hifa lebar dan
pada ujung-ujung hifa dapat ditemukan sterigma dan spora berjejer melekat pada

permukaannya.13
Gambar 2. Otomikosis

VII. PENATALAKSANAAN
Pengobatan ditujukan untuk menjaga agar liang telinga tetap kering,

8
jangan lembab, dan disarankan untuk tidak mengorek-ngorek telinga dengan
barang-barang yang kotor seperti korek api, garukan telinga, atau kapas. Kotoran-
kotoran telinga harus sering dibersihkan. 13
Pengobatan yang dapat diberikan seperti : Larutan asam asetat 2-5% dalam
alcohol, larutan Iodium povidon 5% dan yang sering dipakai adalah fungisida
topical spesifik, seperti preparat yang mengandung nystatin, ketoconazole,
klotrimazole, dan anti jamur yang diberikan secara sistemik.13
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan anti jamur tidak
secara komplit mengobati proses dari otomikosis ini, oleh karena agen-agen diatas
tidak menunjukkan keefektifan untuk mencegah otomikosis ini relaps kembali.
Hal ini menjadi penting untuk diingat bahwa, selain memberikan anti jamur
topical, juga harus dipahami fisiologi dari kanalis auditorius eksternus itu sendiri,
yakni dengan tidak melakukan maneuver-manuver pada daerah tersebut,
mengurangi paparan dengan air agar tidak menambah kelembaban, mendapatkan
terapi yang adekuat ketika menderita otitis media, juga menghindari situasi
apapun yang dapat merubah homeostasis lokal. Kesemuanya apabila dijalankan
dengan baik, maka akan membawa kepada resolusi komplit dari penyakit ini.12,13

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi dari otomikosis yang pernah dilaporkan adalah perforasi dari
membran timpani dan otitis media serosa, tetapi hal tersebut sangat jarang terjadi,
dan cenderung sembuh dengan pengobatan. Patofisiologi dari perforasi membran
timpani mungkin berhubungan dengan nekrosis avascular dari membran timpani
sebagai akibat dari thrombosis pada pembuluh darah. Angka insiden terjadinya
perforasi membran yang dilaporkan dari berbagai penelitian berkisar antara 12-
16% dari seluruh kasus otomikosis. Tidak terdapat gejala dini untuk memprediksi
terjadinya perforasi tersebut, keterlibatan membran timpani sepertinya merupakan
konsekuens inokulasi jamur pada aspek medial dari telinga luar ataupun
merupakan ekstensi langsung infeksi tersebut dari kulit sekitarnya.14

IX. PROGNOSIS

9
Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat. Pada saat
terapi dengan anti jamur dimulai, maka akan dimulai suatu proses resolusi
(penyembuhan) yang baik secara imunologi. Bagaimanapun juga, risiko
kekambuhan sangat tinggi, jika faktor yang menyebabkan infeksi sebenarnya
tidak dikoreksi dan fisiologi lingkungan normal dari kanalis auditorius eksternus
masih terganggu.15

10
BAB III
LAPORAN KASUS
Nama Dokter Muda : Vebi Adrias
Nim : 1708436491
Tanggal : 16 Desember 2019

STATUS PASIEN LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. V
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Libo Baru KM 19 Kandis, Siak
Suku Bangsa : Batak

ANAMNESA
Keluhan Utama :

Gatal pada telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke Poli THT RSUD Arifin Achmad dengan keluhan gatal pada
telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu. Gatal terus menerus sehingga mengganggu
aktivitas. Pasien juga mengeluhkan telinga kirinya terasa penuh. Keluhan pendengaran
berkurang tidak ada, telinga berdenging tidak ada, nyeri pada daun telinga saat ditarik
disangkal. Masuk serangga pada telinga disangkal.Batuk, pilek, nyeri tenggorok dan
demam juga tidak dikeluhkan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (+) ± 7 bulan yang lalu
- Riwayat alergi (-)
- Riwayat DM (-)
- Riwayat Hipertensi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang pernah memiliki keluhan yang sama.

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi dan Kebiasaan


Pasien seorang ibu rumah tangga. Pasien sering membersihkan telinga menggunakan besi
pembersih telinga dan terkadang mengorek telinga menggunakan jari tangan. Pasien tidak
sering berenang.

11
PEMERIKSAAN FISIK

STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Composmentis kooperatif
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 80 kali/menit
Suhu Tubuh : 36,5 C

Pemeriksaan Sistemik
Kepala
Mata : Konjungtiva : Tidak anemis (kanan – kiri )
Sklera : Tidak ikterik (kanan – kiri)

Toraks : Jantung : Dalam batas normal


Paru : Dalam batas normal

Abdomen : Dalam batas normal

Ekstremitas : Dalam Batas normal

STATUS LOKALIS THT

Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Kel. Kongenital - -
Trauma - -
Daun Telinga Radang - -
Nyeri tarik - -
Nyeri tekan tragus - -
Lapang / sempit Lapang Sempit
Liang Telinga Hiperemi - +
Edema - +
Massa - -
Bau - -
Sekret/Serumen Warna - Debris berwarna
putih
Jumlah - Sedikit
Membran Tympani

Warna Putih Putih


Refleks Cahaya + jam 5 + jam 7
Utuh Bulging - -
Retraksi - -
Atrofi - -
Jumlah perforasi - -
Jenis - -
Perforasi Kuadran - -

12
Pinggir - -
Warna mukosa telinga tengah - -

Gambar

Tanda radang/abses - -
Fistel - -
Mastoid Sikatrik - -
Nyeri tekan - -
Nyeri ketok - -

Tes Garpu Tala Rinne + +


Weber Tidak ada lateralisasi
Schwabach Sama dengan Sama dengan
pemeriksa pemeriksa
Kesimpulan
Audiometri Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Hidung
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Deformitas - -
Kelainan Kongenital - -
Hidung Luar Trauma - -
Radang - -
Massa - -

Sinus Paranasal
Pemeriksaan Dekstra Sinistra
Nyeri tekan - -
Nyeri ketok - -

Rinoskopi Anterior
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Vestibulum Vibrise + +
Radang - -
Cavum Nasi Lapang /Cukup Lapang/Sempit Lapang Lapang
Lokasi - -
Jenis - -
Sekret Jumlah - -
Bau - -
Ukuran Eutrofi Eutrofi
Warna Merah Muda Merah Muda

13
Konkha Inferior Permukaan Licin Licin
Edema - -
Ukuran Eutrofi Eutrofi
Konkha Media Warna Merah Muda Merah Muda
Permukaan Licin Licin
Edema - -
Cukup lurus / deviasi Cukup lurus Cukup lurus
Permukaan Licin Licin
Warna Merah muda Merah muda
Septum Spina - -
Krista - -
Abses - -
Perforasi - -
Lokasi - -
Bentuk - -
Ukuran - -
Permukaan - -
Massa Warna - -
Konsistensi - -
Mudah digoyang - -
Pengaruh vasokonstriktor - -
Gambar

Rinoskopi Posterior ( Nasofaring ) : Tidak dilakukan pemeriksaan


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Koana Lapang / Sempit
Warna
Mukosa Edema
Jaringan Granulasi
Ukuran
Warna
Konkha Inferior Permukaan
Edema
Adenoid Ada/ Tidak

Ada / Tidak
Muara Tertutup sekret
tuba Eustachius Edema
Lokasi
Massa Ukuran
Bentuk

14
Permukaan
Post Nasal Drip Ada / Tidak
Jenis
Gambar

Orofaring / Mulut
Pemeriksaan Kelainan Dektra Sinistra
Simetris/ Tidak Simetris Simetris
Palatum Mole + Warna Merah Muda Merah Muda
Arkus Faring Edema - -
Bercak/ Eksudat - -
Dinding Faring Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Ukuran T1 T1
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Tonsil Muara kripti Tidak melebar Tidak melebar
Detritus - -
Eksudat - -
Perlengketan dengan pilar - -
Warna Merah muda Merah muda
Peritonsil Edema - -
Abses - -
Lokasi - -
Bentuk - -
Tumor Ukuran - -
Permukaan - -
Konsistensi - -
Gigi Karies / Radiks + +
Kesan Dalam batas normal Dalam batas
normal
Lidah Deviasi - -
Bentuk Normal Normal
Tumor - -
Gambar

Laringoskopi Indirek: Tidak dilakukan pemeriksaan


Pemeriksaan Kelainan
Epiglotis Bentuk
Warna
Edema
Pinggir rata / tidak

15
Massa
Aritenoid Warna
Edema
Massa
Gerakan
Ventrikular Band Warna
Edema
Massa
Plica Vokalis Warna
Gerakan
Pinggir Medial
Massa
Subglotis / Sekret ada / tidak
Trakhea
Massa
Sinus Piriformis Massa
Sekret
Valekule Sekret ( jenisnya )
Massa
Gambar

Pemeriksaan kelenjar Getah Bening Leher : Tidak terdapat pembesaran KGB

Inspeksi : lokasi..................................................................................................
Bentuk................................................................................................
Soliter/Multiple..................................................................................

Palpasi : Bentuk..............................................................................................
Ukuran..............................................................................................
Konsistensi........................................................................................
Mobilitas............................................................................................

16
RESUME ( DASAR DIAGNOSIS )

Anamnesis :

Keluhan Utama:

Gatal pada telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke Poli THT RSUD Arifin Achmad dengan keluhan gatal pada
telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu. Gatal terus menerus sehingga mengganggu
aktivitas. Pasien juga mengeluhkan telinga kirinya terasa penuh. Keluhan pendengaran
berkurang tidak ada, telinga berdenging tidak ada, nyeri pada daun telinga saat ditarik
disangkal. Masuk serangga pada telinga disangkal. Batuk, pilek, nyeri tenggorok dan
demam juga tidak dikeluhkan.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien memiliki keluhan yang sama sebelumnya

Pemeriksaan Fisik

Telinga Kanan Kiri

Daun Telinga Dalam batas normal Dalam Batas normal

Lapang, hiperemis (-), Sempit, hiperemis (+),


Liang Telinga edema (-), massa (-), edema (+), massa (-),
serumen (-) terdapat debris warna putih
Utuh, warna putih, reflek Utuh, warna putih, reflek
Membran Tympani
cahaya (+) cahaya (+)

Gambar

Hidung Kanan Kiri


Rinoskopi Anterior

Vestibulum
Dalam batas normal Dalam batas normal
Cavum Nasi
Lapang Lapang
Konkha Inferior
Dalam batas normal Dalam batas normal

17
Sekret
- -
Massa
- -

Gambar

Rinoskopi Posterior
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Laringoskopi Indirek
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Epiglotis
- -
Pita Suara
- -
Gambar

Faring

Palatum Mole
Dalam batas normal Dalam batas normal
Dinding Faring
Dalam batas normal Dalam batas normal
Tonsil
Dalam batas normal Dalam batas normal

Gambar

Diagnosis : Otomikosis sinistra

DD/ : Otitis eksterna

Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan KOH 10%

Terapi :
- Irigasi liang telinga dengan H2O2 3%
- Tampon Miconazole pada telinga kiri
- Cetirizine 1 x 10 mg

18
Prognosis :

Quo ad vitam : Bonam

Quo ad sanam : Bonam

Nasehat :
- Hindari masuknya air kedalam telinga, jika mandi gunakan kapas untuk menutup
telinga
- Jangan mengorek telinga menggunakan jari tangan.

19
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan,


maka dapat ditegakkan diagnosis kerja pada pasien adalah otomikosis sinistra.
Pasien mengeluhkan telinga kirinya gatal sejak 1 minggu yang lalu dan
dirasakan terus menerus. Pasien juga mengeluhkan telinga kirinya terasa
penuh. Dari pemeriksaan fisik didapatkan liang telinga bengkak, kemerahan,
dan adanya kotoran berwarna putih.Hal tersebut disebabkan oleh adanya
akumulasidari debris mikotik dalam liang telinga.
Faktor risiko terjadinya otomikosis pada pasien ini adalah pasien
memiliki kebiasaan mengorek telinga menggunakan besi pembersih telinga
dan menggunakan jari tangan yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya
otomikosis pada pasien ini. Kebiasaan ini dapat menyebabkan trauma
(biasanya kecil dan tanpa gejala) pada kulit kanali sauditorius eksternus dan
menyebabkan terjadinya endapan jamur pada lukatersebut sehingga terjadi
infeksi jamur.6
Prinsip penatalaksanaan pada pasien otomikosis adalah pengangkatan
jamur dari liang telinga, menjaga agar liang telinga tetap kering serta suasana
asam, pemberian obat anti jamur, serta menghilangkan faktor risiko.
Tindakan pembersihan liang telinga bisa dilakukan dengan berbagai macam
cara antara lain dengan lidi kapas/kapas yang dililitkan pada aplikator,
pengait serumen, atau suction. Pemberian terapi medikamentosa pada pasien
ini dengan pemasangan tampon mikonazol. Semua golongan anti jamur dari
golongan azoles seperti clotrimazole, fluconazole, ketoconazole, dan
miconazole lebih efektif yang kemudian diikuti oleh golongan nystatin dan
tolnaftate.13,16 Pemberian tetes Clotrimazole telah digunakan dan efektif
untuk pengobatan otomikosis diInggris dan India. Sedangkan menurut
Venewald dan Wollina terapi efektif pada pasien dengan kolonisasi kronis
aspergillus pada kanalis auditorius eksternus adalah dengan kombinasi antara
pembersihan debris dan clotrimazole topikal.17-20

20
Meskipun pada pasien ini telah dilakukan pembersihan liang telinga
dan pemberian tampon telinga anti jamur, namun rekurensi masih menjadi
pertimbangan masalah kedepan. Hal tersebut bisa disebabkan beberapa
faktor,antara lain kepatuhan pasien dalam menjalankan edukasi yang telah
diberikan, kepatuhan dalam menggunakan obat sesuai aturan, dan respon
jamur terhadap pengobatan. Untuk itu perlu adanya anjuran kontrol ulang
secara berkesinambungan untuk mengevaluasi respon penyakit sehingga tidak
menimbulkan komplikasi kedepannya. Pasien juga disarankan untuk
meninggalkan kebiasaan yang dapat menyebabkan terjadinya otomikosis
dimasa yang akan datang, antara lain dengan tidak mengorek telinga,
menjagaliang telinga agar tidak basah dan biasakan berobat ke dokter jika ada
keluhan.12,13,15

21
BAB V
KESIMPULAN

Otitis eksterna fungi atau otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan
kronik pada epitel skuamosa dari pinna dan kanalis auditorius eksterna oleh ragi
dan filamen jamur.Faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna, dalam hal ini
otomikosis, meliputi ketiadaan serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan
temperatur dan trauma lokal, yang biasanya sering disebabkan oleh kapas telinga
(cotton buds) dan alat bantu dengar.Gejala klinis yang dapat ditemui hampir sama
seperti gejala otitis eksterna pada umumnya yakni otalgia dan otorrhea sebagai
gejala yang paling banyak dijumpai, kemudian diikuti dengan kurangnya
pendengaran, rasa penuh pada telinga dan gatal.
Penatalaksanaannya dengan menghindari faktor predisposisi dan dengan
medikamentosa yaitu larutan asam asetat 2-5% dalam alcohol, larutan Iodium
povidon 5% dan yang sering dipakai adalah fungisida topical spesifik, seperti
preparat yang mengandung nystatin, ketoconazole, klotrimazole, dan anti jamur
yang diberikan secara sistemik.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Edward Y, Irfandy D. Otomycosis. Available at:


http://repository.unand.ac.id/17717/1/crotomycosis.pdf

2. Anwar K, Gohar MS. Otomycosis: clinical features, presdisposing factors,


and treatment implications. 2014. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4048507/pdf/pjms-30-564.pdf

3. Chaudhry A. Otomycosis. Available at:


http://www.rmc.edu.pk/Otomycosis.pdf

4. Khan F, Muhammad R, Khan MR Rehman F. etc. Effifacy of Topical


Clotrimazole in Treatment of Otomycosis. 2013. Available at:
http://www.ayubmed.edu.pk/JAMC/25-1/Farida.pdf

5. Ahmad A. Ketepatan Diagnosis Otomikosis di Bagian THT R. S. DR.


Ciptomangunkusumo Jakarta. Available at:
http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-78798.pdf

6. Tang Ho, Jeffey T Vrabec, Donald Yoo, Newton J Coker. Otomycosis :


Clinical featuresand treatment implications. The journal of Otolaryngology-
Head and neck Surgery. 2006.

7. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama. 2008. 325-30.

8. Lee KJ. Anatomy of the ear, Essential otolaryngology head & neck surgery
9th ed. USA: McGraw-Hill. 8-22.

9. Tortora GJ, Derrickson BH. Principle of anatomy and physiology 12th ed.
USA: John Wiley & Sons. 2009. 626-27.

10. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan pendengaran (tuli). Dalam


buku ajar ilmu penyakit THT. Edisi VI. Jakarta: FKUI. 2012. Hal 10-22,60.

11. P. Hueso Gutirrez, S Jiminez Alvarez, E Gill-carcedo Sanudo, et al.


Presumed diagnosis : Otomycosis. 2005.

12. Fungal Ear Infection. Available from www.patient.co.uk. Diakses pada


tanggal 2 September 2019.

23
13. Arif Mansjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri, dkk. Otomikosis. Kapita
Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius. 2016.

14. Ali Zarei Mahmoud abadi. Mycological Studies in 15 Cases of Otomycosis.


Pakistan Journal of Medical Sciences. 2006. 22 (4). 486-8.

15. Hafil, A. Sosialisman. Helmi. Kelainan Telinga Luar. Dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke-7. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI; 2012.

16. Munguia R, Daniel SJ, 2008. Ototopical antifungals and otomycosis: a


review. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology. 2008.72:453-
9.

17. Abou-Halawa AS, Khan MA, Alrobaee AA, Alzolibani AA, Alshobaili
HA.Otomycosis with perforated tympanic membrane: self medication with
topical antifungal solution versus medicated ear wick. International Journal
of Health Sciences.2012.6(1):73–7.

18. Phillip RM, Rosen T. Topical Antifungal Agents.


ComprehensiveDermatologic Drug Therapy. WB Saunders Company.
Philadelphia, USA.p: 497-523.

19. Vennewald I, Wollina U. Cutaneus Infections due to Oppurtunistic Molds:


uncommon presentation. Clindermatol.2005. 23:565-71.

20. Reynolds JEF, Martindale, The Extra Pharmacopoela 31st ed. The Council of
The Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.3rd ed. Clinical Otology.
New York :Thieme Medical Publishers. 2007.p.403.

24