Anda di halaman 1dari 11

PEMBAHASAN

Good Corporate Governance menjadi penting untuk Asia dalam beberapa


tahun terakhir dengan sebagian besar pasar telah memperkenalkan peraturan yang
komprehensif. Regulator perusahaan dan investor memiliki peran penting dalam
Good Corporate Governance. Meskipun masih ada beberapa kekurangan dalam
kerangka peraturan di banyak negara di kawasan Asia ini yang berfungsi untuk
melumpuhkan manfaat apa yang telah dicapai. Meskipun ada perusahaan yang
sadar melebihi standar tata kelola juga ada bukti yang jelas bahwa pendekatan
terhadap masalah pemerintahan oleh banyak perusahaan di Asia berjumlah lebih
sedikit. Hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara praktik Good Corporate
Governance yang baik dan keuntungan finansial.
1. Malaysia
Pedoman Good Corporate Governance (The Malaysian Code on
Corporate Governance) iniditerbitkan oleh Bursa Efek Malaysia dan kewajiban
untuk melaksanakan Pedoman inidiatur dalam peraturan tentang pencatatan efek
di bursa efek tersebut. Pedoman iniditerbitkan pada tahun 2007 dan merupakan
revisi atas pedoman yang diterbitkansebelumnya.
a) Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bagi perusahaan bersifat
complyand explain. Dengan demikian tidak ada sanksi apabila perusahaan
tidak menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman tersebut. Bagi perusahaan
yang tercatat di bursa efek Malaysia, prinsip prinsip Good Corporate
Governance dan praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan perusahaan
wajib diungkapkan dalam laporan tahunan. Perusahaanjuga wajib
mengidentifikasi prinsip dan praktik terbaik yang tidak dilaksanakan
disertaialasan atas ketidakpatuhan tersebut. Apabila perusahaan mengadopsi
praktek tatakelola negara lain, hal ini juga harus diungkapkan.
b) Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate
Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and
explains sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak

1
menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman Good Corporate Governance.
Namun terdapat kewajiban untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman
tersebut dalam laporan tahunan. Dengan demikian bagi perusahaan yang
tercatat atau akan mencatatkan sahamnya di bursatidak mengungkapkan
dalam laporan tahunannya terkait dengan penerapan tata kelola, Bursa
Malaysia dapat mengambil tindakan terhadap perusahaan atau
direksisebagaimana tercantum dalam Persyaratan Listing di Bursa Malaysia.
c) Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Pedoman Good Corporate Governanc terdiri dari tiga bagian yaitu:
1) Bagian 1: Memuat prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang luas
yang berlaku di Malaysia. Tujuan dari prinsip-prinsip ini adalah untuk
memungkinkan fleksibilitas perusahaan dalam menerapkan prinsip-
prinsip sesuai dengan keadaan masingmasing perusahaan.
2) Bagian 2: Menetapkan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola
perusahaan. Mengidentifikasi seperangkat pedoman atau praktek yang
dimaksudkan untuk membantu perusahaan dalam merancang pendekatan
mereka terhadap tata kelola perusahaan yang baik bagi perusahaannya.
3) Bagian 3: Dorongan atau himbauan bagi pihak-pihak selain tersebut di atas
yang bersifat sukarela. Hal ini tidak ditujukan kepada perusahaan yang
terdaftar tetapi untuk investor dan auditor untuk meningkatkan peran
mereka dalam tata kelola perusahaan. Adapun ruang lingkup dari Pedoman
Good Corporate Governance tersebut adalah:
 The Board Structure, Duties and Effectiveness
 The Audit Committee and its Challenges
 Assessing the Risk and Control Environment
 Effective Oversight of Financial Reporting
 Internal and External Audit: “Eyes And Ears” of Audit Committee
 Conflict of Interest and Related Party Transactions
 Nominating Committee
 Remuneration Committee
 Shareholder Relations

2
2. Singapura
a) Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply
and explain. Selanjutnya berdasarkan ketentuan pencatatan efek di Bursa efek
Singapore mengharuskan perusahaan tercatat untuk mengungkapkan praktik
tata kelola mereka dalam laporan tahunan dengan referensi khusus kepada
prinsip-prinsip yang terdapat dalam Pedoman. Perusahaan juga wajib
mengungkapkan dan menjelaskan setiap perbedaan pelaksanaannya dari
Pedoman tersebut. Perusahaan juga didorong untuk melakukan konfirmasi
positif tentang pemenuhan prinsip-prinsip tata kelola dan mengungkapkan
setiap ketidak patuhan terhadap prinsip-prinsip tersebut dalam laporan
tahunan perusahaan.
b) Sanksi atas ketidakpatuhan
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya
bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang
tidak menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan
rinci alasan untuk tidak menerapkannya.
c) Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Ruang lingkup Tata Kelola perusahaan
1) Board Matters
2) Remuneration Matters
3) Accountability and Audit
4) Communication with Shareholders
5) Disclosure of Corporate Governance Arrangements
3. Cina
Tata kelola perusahaan di Tiongkok telah berkembang pesat selama proses
transisi. Namun, mekanisme yang telah berkembang seiring dengan lingkungan
politik saat ini menunjukkan bahwa masih ada masalah yang membuat sistem
tata kelola perusahaan secara keseluruhan di Cina tidak kondusif untuk mencapai
standar tinggi. Sistem pemerintahan saat ini di Tiongkok memiliki sejumlah
kelemahan bawaan dan pada tingkat tertentu tidak efektif. Namun, melalui
kontrol Negara yang berkelanjutan, Cina telah berhasil mengembangkan

3
ekonominya dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan stabil dan
menghindari 'resesi transisi' yang dialami oleh banyak ekonomi transisi lainnya.
Meskipun banyak mekanisme tata kelola perusahaan telah diterapkan dan
dikembangkan sebagai bagian dari sistem tata kelola perusahaan China, jalan di
depan masih panjang dan perbaikan lebih lanjut diperlukan.
Struktur kepemilikan Tiongkok dikarakteristikan sangat terkonsentrasi,
dengan mayoritas saham dimiliki oleh Negara dan tidak dapat diperdagangkan.
Oleh karena itu Negara mengontrol, secara langsung atau tidak langsung,
sebagian besar perusahaan yang terdaftar. Pola kepemilikan terkonsentrasi yang
ditemukan di Cina mirip dengan yang ditemukan di banyak negara Eropa Barat
dan Asia Timur. Sebagai pemegang saham pengendali, pemerintah Cina berada
dalam posisi untuk menunjuk personil kunci ke perusahaan-perusahaan yang
terdaftar, dan dengan demikian mengerahkan kemauan politiknya atas kegiatan
bisnis perusahaan. Perbedaan mendasar adalah bahwa di mana pemegang saham
pengendali di Cina adalah Negara, pemegang saham pengendali di ekonomi
Barat adalah investor institusional, keluarga dan individu.
Cina telah mengadopsi struktur dua tingkat tata kelola dewan, yang terdiri
dari dewan pengawas dan manajemen. Undang-undang perusahaan Cina
menetapkan bahwa jumlah direktur harus berjumlah antara 5 dan 19 di
perusahaan terdaftar. Mirip dengan sistem Jerman, dewan manajemen adalah
otoritas pengambilan keputusan utama, sementara dewan pengawas bertindak
sebagai monitor. Tenev et al. menggambarkan struktur dewan Pengawas China
sebagai campuran komite pengawas gaya Jerman dan konsep tradisional
karyawan Cina sebagai penguasa perusahaan.
Keuntungan dari struktur dua tingkat secara teoritis adalah bahwa dewan
pengawas independen, dan melakukan peran pemantauan baik untuk dewan
direksi dan manajemen. Perwakilan karyawan juga harus hadir di dewan
pengawas. Namun di Cina, dewan pengawas sangat tidak efektif. Sekitar
setengah dari anggota dewan pengawas ditunjuk oleh pemegang saham, tetapi
posisi kunci seperti Ketua dan Wakil Ketua biasanya ditunjuk oleh pemegang
saham orang yang lebih besar.

4
4. Jepang
Perkembangan prilaku ke arah corporate governance yang terjadi di
jepang, dipengaruhi oleh obligasi, keluarga, dan konsensus. Di jepang istilah
beberapa obligasi tertentu masih terasa aneh. Sebagai bagian dari keluarga di
perusahaan, individu – individu yang berada didalamnya adalah bagian dari
sebuah unit yang mengembangkan kehidupan mereka. Keluarga memimpin
sikap dan kepatuhan di seluruh perusahaan. Bahkan sebuah grup yang telah
terikat dipandang lebih tinggi daripada konsep – konsep ekonomi. Konsensus,
memainkan peran yang penting di corporate governance jepang. Konsensus
sangat dihargai meski terkadang menghasilkan keputusan dengan lambat.
Sama halnya dengan jerman, di jepang bank juga memainkan peran
penting sebagai pembantu pendanaan dan monitoring perusahaan – perusahaan
besar yang go public. Bank memiliki porsi saham paling besar di perusahaan,
bank tersebut juga memiliki hubungan yang dekat dengan para eksekutif. Bank
utama jepang bersedia memberikan saran - saran financial dan juga dengan ketat
menjaga mereka.
Sebagaimana kasus jerman, corporate governance jepang saat ini sedang
mengalami perubahan. Contoh, dikarenakan bank jepang yang ingin
melanjutkan perkembangan sebagai organisasi ekonomi, peran bank dalam
memonitor dan mengontrol prilaku manajerial dan pengeluaran perusahaan,
menjadi lebih semakin tidak signifikan dibandingkan masa lalu.
Masih berkaitan dengan struktur corporate gonernance, telah terjadi
perubahaan lain di market kontrol. Akibat adanya resesi ekonomi yang telah
dihadapi jepang, membuat para manajer berusaha untuk tidak ada takeover
meski perusahaan sedang dalam keadaan tidak sehat.
Setidaknya terdapat dua sistem corporate governance yang dianut oleh
negara-negara di dunia ini pada umumnya, yaitu one-tier board (sistem satu kamar)
dan two-tier board (sistem dua kamar atau dualisme). Sistem two-tier board banyak
digunakan negara-negara Eropa daratan, seperti Jerman dan Belanda. Sedangkan
sistem one-tier board dianut oleh negara-negara seperti Inggris dan AS. Namun
walaupun menganut satu sistem yang sama, apabila diterapkan di dua negara yang
berbeda, maka hasil yang diperoleh dapat berbeda. Inggris dan AS menggunakan

5
sistem one-tier board, akan tetapi kasus skandal terkait dengan perilaku korporasi
di AS lebih sering terjadi dibandingkan dengan Inggris. Hal ini mengindikasikan
bahwa sistem one-tier board Inggris tampak lebih baik dibandingkan dengan AS.
5. Amerika
Corporate governance AS diatur dalam perundang-undangan Securities
Acts of 1933 & 1934 sebelum mengalami reformasi besar-besaran pada tahun
2002 menjadi Sarbanes Oxley Act 2002. Undang-undang ini diprakarsai oleh
Senator Paul Sarbanes yang berasal dari Maryland dan seorang anggota House
of Representative, Michael Oxley dari Ohio, serta telah ditandatangani oleh
Presiden George W. Bush pada tanggal 30 Juli 2002. Undang-undang ini
dikeluarkan sebagai respon dari Kongres Amerika Serikat terhadap berbagai
skandal pada beberapa korporasi besar seperti Enron, WorldCom (MCI), AOL
Time Warner, Aura Systems, Citigroup, Computer Associates International,
CMS Energy, Global Crossing, HealthSouth, Quest Communication, Safety-
Kleen, dan Xerox. Semua skandal tersebut merupakan contoh bagaimana fraud
schemes berdampak sangat buruk terhadap pasar, stakeholders, dan para tenaga
kerja.
Aturan ini sangat diperlukan dan dianggap memegang peranan penting
untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pasar modal nasional antara
lain dengan memperkuat pengawasan akuntansi perusahaan. Dengan
diterbitkannya undangundang tersebut, ditambah dengan beberapa aturan
pelaksanaan dari Securities Exchange Commision (SEC), dan beberapa self
regulatory bodies lainnya, diharapkan akan meningkatkan standar akuntabilitas
korporasi, transparansi dalam pelaporan keuangan, serta memperkecil
kemungkinan bagi perusahaan atau organisasi untuk melakukan fraud.
Komposisi board dalam Sarbanes Oxley Act 2002 tidak diatur secara jelas.
Namun praktik korporasi AS umumnya menggunakan sistem one-tier board.
Pengaturan terkait dengan board dalam Sarbanes Oxley Act tersebut lebih
mengarah pada standar baru akuntabilitas yang terkait dengan kontrol internal
dan laporan keuangan perusahaan. Peraturan tersebut menuntut diadakannya
auditor internal yang bertanggungjawab langsung kepada dewan audit. Auditor

6
internal terdiri dari anggota board of directors,vsebagian anggota independen,
dan ahli akuntansi.
Sarbanes Oxley juga mengatur sanksi pidana bagi pelaku fraud dan
mengatur tentang sistem pelaporan bagi whistleblower untuk melaporkan
terjadinya penyimpangan. Sistem pelaporan ini diselenggarakan oleh komite
audit. Korporasi AS juga dapat menggunakan jasa pelaporan hotlines melalui
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE). ACFE akan membantu
dalam menerima, menyusun, dan merahasiakan pengaduan, serta memberikan
informasi kepada korporasi agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Sistem
hotlines ini akan mendorong para pegawai untuk melaporkan fraud yang terjadi
dalam perusahaan karena mereka akan terlindung dari tindakan pembalasan
pihak yang dilaporkan. Hal ini merupakan elemen penting dan kritis bagi
program pencegahan fraud yang kuat.
6. Inggris
Sistem one-tier board Inggris terangkum dalam apa yang disebut sebagai
Combined Code. Combined Code ini merupakan pedoman yang mengatur
tentang prinsip-prinsip tata kelola perusahaan Inggris yang terdaftar dan
merupakan rezim swaregulasi yang paling penting. Combined Code ini bukan
merupakan peraturan perundang-undangan dan tidak diciptakan oleh parlemen
Inggris, tetapi dibuat oleh sebuah komite yang mewakili kepentingan bisnis dan
finansial. Combined Code hanya berlaku pada perusahaan terdaftar dan
pemberlakuannya didasarkan pada prinsip 'comply or explain' (memenuhi
ketentuan atau menjelaskan). Hal ini berarti bahwa sebuah perusahaan yang
terdaftar di Inggris harus memenuhi ketentuan tersebut atau memberikan
penjelasan tentang alasan ketidakpatuhan mereka terhadap aturan tersebut.
Sejarah Combined Code Inggris dimulai dengan terjadinya skandal Polly
Peck, salah satu korporasi besar Inggris yang mengalami kebangkrutan akibat
pemalsuan laporan keuangan selama bertahun-tahun pada 1991, yang
mendorong pemerintah Inggris untuk membentuk Corporate Governance
Committee dibawah kewenangan Financial Reporting Council. Komite yang
dipimpin oleh Sir Adrian Cadbury ini kemudian mengeluarkan laporan Cadbury

7
Report pada tahun 1992 sebagai respon skandal perusahaan yang terjadi
menyusul skandal Polly Peck, yaitu skandal Maxwell dan BCCI.
Laporan Cadbury kemudian dijadikan dasar pengaturan tata kelola
perusahaan di Inggris. Dalam laporan tersebut, terdapat tiga rekomendasi utama.
Pertama, CEO dan Chairman (pemegang puncak kepemimpinan Board of
Directors) harus terpisah, atau dengan kata lain, tidak boleh dipegang oleh orang
yang sama. Kedua, keanggotaan board setidaknya harus meliputi kurang lebih
tiga direktur non-eksekutif. Dua diantaranya merupakan direktur non-eksekutif
independen, sedangkan sisanya merupakan direktur non-eksekutif tidak
independen. Ketiga, board harus memiliki komite audit yang terdiri dari direktur
non-eksekutif.
Laporan Cadbury merupakan laporan yang mengawali serangkaian
laporan lain yang muncul untuk mendukung perkembangan Combined Code
Inggris, yang disesuaikan dengan kondisi perubahan perilaku tata kelola
korporasi pada saat itu. Serangkaian laporan tersebut antara lain Greenbury
Report (1995), Hampel Report (1998), Turnbull Report (1999), dan Higgs
Report (2003). Greenbury Report (1995) berisi rekomendasi perubahan
beberapa prinsip yang tercantum dalam Cadbury Code terutama terkait dengan
remunerasi. Salah satu dari rekomendasi tersebut yaitu bahwa setiap board harus
memiliki komite remunerasi yang terdiri dari direktur noneksekutif dan
chairman. Hampel Report (1998) menambahkan rekomendasi pada kedua
laporan sebelumnya, yaitu bahwa pemegang kepemimpinan pada board
(chairman) harus dianggap sebagai “pemimpin” dari direktur-direktur non-
eksekutif. Setahun kemudian, laporan ini kemudian disusul oleh Turnbull
Report. Turnbull Report berisi kontrol internal untuk menjamin laporan
keuangan yang baik. Turnbull Report kemudian dijadikan pedoman oleh US
Securities and Exchange Commission (SEC) sebagai kerangka untuk memenuhi
kebutuhan korporasi AS dalam masalah kontrol internal terkait dengan laporan
keuangan (Financial Reporting Council 2011). Detail mengenai hal tersebut
tercantum dalam Section 404 of the Sarbanes-Oxley Act 2002.
Ketika skandal Enron terjadi pada 2002, Derek Higgs melakukan review
tentang peran dan efektivitas dari direktur non-eksekutif dalam board. Laporan

8
yang dikenal dengan nama Higgs Report tersebut diterbitkan pada tahun 2003.
Isi Higgs Report terkait dengan komposisi board of directors. Dalam laporan
tersebut, Higgs menyarankan keseimbangan antara anggota eksekutif dan non-
eksekutif yang menduduki kursi board of directors. Setidaknya, jumlah direktur
non-eksekutif tidak kurang dari separuh dari seluruh anggota board of directors
dan bergerak secara independen.
Dari laporan Higgs tersebut, maka dapat dilihat bahwa sistem one-tier
board yang dimiliki oleh Inggris memiliki dua kelompok utama, yaitu eksekutif
dan non-eksekutif dengan komposisi yang seimbang. Direktur-direktur non-
eksekutif ini, walaupun tidak terlibat dalam operasional keseharian perusahaan,
namun memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan direktur eksekutif.
Apabila dibandingkan dengan sistem two-tier board, maka fungsi dari direktur
non-eksekutif hampir sama dengan dewan pengawas.
Combined Code tidak berdiri sendiri namun juga didukung oleh Company
Act 2006. Peraturan perundang-undangan tersebut juga mengatur tentang
kewajiban dari board of directors, antara lain bertindak sesuai dengan
kewenangan mereka, mempromosikan keberhasilan perusahaan, melakukan
penilaian independen, dan menghindari konflik kepentingan. Selain itu,
peraturan tersebut juga didukung oleh Public Interest Disclosure Act 1998 terkait
dengan whistleblower. Whistleblower merupakan individu yang membongkar
malpraktrik yang dilakukan oleh petinggi perusahaan. Undang-undang ini
digunakan untuk memberikan perlindungan hukum kepada whistleblower.

9
DAFTAR PUSTAKA

Sutojo, Siswanto & Aldridge, John. Good Corporate Governance (Tata Kelola
Perusahaan Yang Sehat), Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka, 2008
Rasyidah, Resa. (2013). Perbandingan Corporate Governance dengan Sistem
One-Tier Board di Inggris dan AS Terkait Efektififas Pencegahan
Terjadinya Fraud dalam Korporasi. Global & Policy Vol.1, Januari-Juni
2013.
http://studenttheses.cbs.dk/bitstream/handle/10417/797/jason_pettman_og_navcha
a_lamjav.pdf?sequence (Diakses pada tanggal 17 Februari 2019)

10