Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Lattar Belakang


Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat, dan merupakan salah satu pilar
ekonomi, selayaknya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Di sisi lain,
salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan mengentaskan
kemiskinan dilakukan melalui program-program pemberdayaan ekonomi rakyat.
Dengan demikian, melalui pemberdayaan koperasi diharapkan akan mendukung
upaya pemerintah tersebut. Dalam upayanya, pemerintah dalam hal ini
Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dituntut untuk
dapat menghasilkan program dan kebijakan yang dapat mendukung tumbuh dan
berkembangnya koperasi.

Walaupun hambatan senantiasa menghadang di hadapan kita, namun koperasi


sebagai pilar ekonomi yang berbasis masyarakat ekonomi skala kecil dan mikro terus
diupayakan pengembangannya. Komitmen dan statmen nasional yang sudah kita baca
dan kita dengar di mass media, bahwa peranan ekonomi skala kecil dan mikro ternyata
patut diperhitungkan karena penyerapan tenaga kerja dan ketahanan menghadapi krisis
sektor ini menunjukkan hal yang sangat positif.

1.2 Rumusan Masalah


1 Apa saja asas, prinsip,dan tujuan pemberdayaan UMKM ?
2 Apa saja kriteria UMKM ?
3 Apa saja faktor nonfinansial yang mempengaruhi kemajuan UMKM?
4 Apa saja kekuatan dan kelemahan UMKM di Indonesia?
5 Bagaimana pola pemberdayaan koperasi di Indonesia?

1.3 Tujuan
1 Mengetahui asas, prinsip,dan tujuan pemberdayaan UMKM
2 Mengetahui kriteria UMKM
3 Mengetahui faktor nonfinansial yang mempengaruhi kemajuan UMKM
4 Mengetahui kekuatan dan kelemahan UMKM di Indonesia
5 Mengetahui pola pemberdayaan koperasi di Indonesia

BAB Ii
pembahasan

1. ASAS-ASAS USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM)

Berdasarkan Pasal 2 beserta penjelasanny pada Undang-Undang


Nomor 20 Tahun 2008 tentang asas-asas (UMKM) di antaranya:

Asas kekeluergaan, yaitu asas yang melandasi upaya pemberdayaan


UMKM sebagai bagian dari perekonomian nasional yang yang
diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, keseimbangan, kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional untuk kesejahteraan rakyat.

Asas Demokrasi Ekonomi, yaitu pemberdayaan UMKM


diselenggarakan sebagai kesatuan dari pembangunan perekonomian
nasional untuk kesejahteraan rakyat.

Asas Kebersamaan, yaitu asas yang mendorong peran seluruh UMKM


dan dunia usaha secara bersama-sama dalam kegiatan untuk
mewujutkan kesejahteraan rakyat.

Asas efisiensi berkeadilan, yaitu asas yang mendasari pelaksanaan


pemberdayaan UMKM dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan
dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan
berdaya asing.

Asas berkelanjutan, yaitu asas yang yang secara terencana


mengupayakan berjalannyaproses pembangunan melalui
pemberdayaan UMKM yang membentuk perekonomian yang tangguh
dan mandiri.

Asas berwawasan lingkungan, yaitu asas yang dilakukan dengan


tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan
pemeliharaan lingkungan hidup.

Asas kemandirian, yaitu asas yang dilakukan dengan tetap menjaga


dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan kemandirian UMKM.

Asas keseimbangan kemajuan, adalah asas pemberdayaan UMKM


yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah.

Asas kesatuan ekonomi nasional, adalah asas pemberdayaan UMKM


yang merupakan bagian dari pembangunan kesatuan ekonomi
nasional.
Prinsip dan Tujuan Pemberdayaan UMKM

berdasarkan pasal 4 dan pasal 5 UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, prinsip
dan tujuan pemberdayaan UMKM sebagai berikut:

Prinsip pemberdayaan UMKM:

Penumbuhan kemandiriran, kebersamaan, dan kewirausahaan.

Mewujudkan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan


berkeadilan.

Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi


pasar.

Peningkatan daya saing UMKM.

Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian


secara terpadu.

Tujuan pemberdayaan UMKM:

Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang,

Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan menjadi usaha


yang tangguh dan mandiri.

Meningkatkan peran dalam pembangunan daerah, pencipta


lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi.

2. KRITERIA-KRITERIA UMKM

Berdasarkan Pasal 6 pada UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, kriteria UMKM
antara lain.

Kriteria usaha mikro adalah sebagai berikut:

memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000 tidak termasuk


tanah dan bangunan tempat usaha

memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000

Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut:

Memilikin kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000 sampai dengan


paling banyak Rp. 500.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha.

memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000


Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:

Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000 sampai


dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000 tidak termasuk
tanah dan bangunan.

Kekeyaan bersih, adalah hasil dari pengurangan total nilai


kekayaan usaha (asat) dengan total nilai kewajiban tidak
termasuk tanah dan bangunan .

Hasil penjualan tahunan, adalah hasil penjualan bersih yang


berasal dari penjualan barang atau jasa.

3 ASPEK-ASPEK PENDUKUNG NONFINANSIAL KEMAJUAN


UMKM DI INDONESIA

Pemerintah dan pemerintah daerah yang berperanmelakukan


penumbuhan iklim usaha, menumbuhkan iklim usaha dengan
menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang
meliputi aspek:

a. Pendanaan

b. Sarana dan Prasarana

c. Informasi usaha

d. Kemitraan

e. Perizinan usaha

f. Kesempatan berusaha

g. Promosi dagang

h. Dukungan kelembagaan Dunia usaha dan masyarakat berperan


secara aktif membantu menumbuhkan iklim usaha.

4 KEKUATAN DAN KELEMAHAN UMKM

kekuatan

Usaha kecil pada kenyataannya mampu bertahan dan mengantisipasi


kelesuan perekonomian yang diakibatkan inflasi maupun berbagai
faktor penyebab lainnya. Tanpa subsidi maupun proteksi, usaha kecil
mampu menambah nilai devisa negara khususnya industri kecil di
sektor informal dan mampu berperan sebagai penyangga dalam
perekonomian masyarakat kecil/lapisan bawah. Di samping itu,
usaha kecil juga memiliki nilai strategis bagi perkembangan
perekonomian negara kita, antara lain sebagai berikut.
 Banyaknya Produk-produk tertentu yang dikerjakan oleh
perusahaan kecil. Perusahaan besar dan menengah banyak
ketergantungan kepada usaha kecil, karena jika hanya dikerjakan
perusahaan besar dan menengah marginnya menjadi tidak
ekonomis.

 Merupakan pemerataan konsentrasi dari kekuatan ekonomi


dalam masyarakat.

a) Secara umum perusahaan dalam skala kecil baik usaha perseorangan maupun
persekutuan (kerjasama) memiliki kelabihan dan daya tarik. Kelebihan dan daya
tarik tersebut adalah sebagai berikut :
 Pemilik merangkap menejer perusahaan dan merangkap semua fungsi
manajerial seperti marketing, finance, dan administrasi.
 Dalam pengelolaannya mungkin tidak memiliki keahlian manajerial yang
handal.
 Sebagian besar membuat lapangan pekerjaan yang baru, inovasi, sumberdaya
baru serta barang dan jasa-jasa baru.
 Resiko usaha menjadi beban pemilik.
 Pertumbuhannya lambat, tidak teratur, tetapi kadan cepat dan bahkan
prematur.
 Fleksibel terhadap bentuk fluktuasi jangka pendek, namun tidak memiliki
rencana jangka panjang.
 Bebas menentukan harga produksi atas barang dan jasa.
 Prosedur hukum sederhana
 Pajak relatif ringan, karena yang dikenakan pajak adalah pribadi pengusaha,
bukan perusahaannya.
 Komunikansi dengan pihak luar bersifat pribadi
 Mudah dalam proses pendiriannya.
 Mudah dibubarkan setiap saat jika dikehendaki
 Pemilik mengelola secara mandiri dan bebas waktu.
 Pemilik menerima seluruh laba.
 Umumnya mampu untuk survive
 Cocok untuk mengelola produk, jasa, atau proyek perintisan yang sama sekali
baru, atau belum pernah ada yang mengelolanya sehingga memiliki pesaing.
 Memberikan peluang dan kemudahan dalam peraturan dan kebijakan
pemerintah demi berkembangnya usaha.
 Diverifikasi usaha terbuka luas sepanjang waktu dan pasar konsumen
senantiasa tergali melalui kreativitas pengelola.

Relatif tidak membutuhkan investasi terlalu besar, tenaga kerja tidak berpendidikan
tinggi, dan sara produksi lainnya relatif tidak terlalu maha

Kelemahan Usaha Kecil


Kelemahan dan hambatan dalam pengelolaan usaha kecil umumnya berkaitan dengan
faktor intern dari usaha kecil itu sendiri. Kelemahan dan hambatan-hambatan tersebut
adalah sebagai berikut:
o Terlalu banyak biaya yang dikeluarkan, utang yang tidak bermanfaat, tidak
mematuhi ketentuan pembukuan standar.
o Pembagian kerja yang tidak proporsional, dan karyawan sering bekerja di luar
batas jam kerja standar.
 Tidak mengetahui secara tepat berapa kebutuhan modal kerja karena tidak adanya
perencanaan kas.
 Persediaan barang terlalu banyak sehingga beberapa jenis barang ada yang kurang
laku.
 Sering terjadi mist-manajemen dan ketidakpedulian pengelolaan terhadap prinsip-
prinsip manajerial.
 Sumber modal yang terbatas pada kemampuan pemilik.
 Perencanaan dan program pengendalian sering tidak ada atau belum pernah
merumuskan.
 Adapun yang menyangkut faktor eksternal :
 Risiko dan utang-utang kepada pihak ketiga ditanggung oleh kekayaan pribadi
pemilik.
 Sering kekurangan informasi bisnis, hanya mengacu pada intuisi dan ambisi
pengelola, serta lemah dalam promosi.
 Tidak pernah melakukan studi kelayakan, penelitian pasar, dan analisis perputaran
uang tunai
3. POLA PEMBERDAYAAN KOPERASI

Kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM secara umum diarahkan


terutama untuk mendukung pelaksanaan prioritas pembangunan
nasional melalui:
(1) Peningkatan ekonomi lokal dengan mengembangkan usaha skala
mikro dalam rangka mendukung peningkatan pendapatan kelompok
masyarakat berpendapatan rendah
(2) Peningkatan produktivitas dan akses ukm pada sumber daya
produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, termasuk
ekonomi daerah, sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Dalam rangka mendukung peningkatan pendapatan masyarakat


berpendapatan rendah melalui peningkatan ekonomi lokal,
kota, dan perdesaan, pemberdayaan usaha mikro difokuskan
untuk mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat
miskin. Langkah kebijakannya yaitu:

(1) Meningkatkan kapasitas dan memperluas jangkauan lembaga


keuangan mikro (LKM) baik dengan pola bagi hasil,
konvensional, maupun melalui dana bergulir
(2) Meningkatkan kemampuan pengusaha mikro dalam aspek manajemen
usaha dan teknis produksi

(3) Meningkatkan fasilitasi pengembangan sarana dan prasarana


usaha mikro

(4) Meningkatkan fasilitasi pembinaan sentra-sentra produksi


tradisional dan usaha ekonomi produktif terisolir dan daerah
tertinggal/perbatasan.

Dalam kaitannya dengan peningkatan akses UMKM kepada sumber daya


produktif, langkah kebijakannya meliputi:

(1) Meningkatkan akses modal UMKM kepada lembaga keuangan dengan


mendorong pemanfaatan skim penjaminan kredit dan kredit
usaha rakyat (KUR), khususnya untuk investasi produktif di
sektor agribisnis dan industri
(2) Meningkatkan kemampuan UMKM dalam pengajuan investasi usaha
dengan skim penjaminan kredit melalui pembinaan oleh lembaga
layanan usaha (Business Development Service Provider – BDS-P
(3) Meningkatkan fasilitas pemasaran dan promosi ekspor produk-
produk UKM dan koperasi
(4) Meningkatkan akses teknologi dan inovasi dengan menyediakan
fasilitas layanan teknologi dan pusat inovasi.

Seiring dengan peningkatan akses tersebut, langkah kebijakan


pemberdayaan UMKM lainnya adalah meningkatkan wirausaha yang
tangguh dan kompetitif, serta berwawasan iptek dan inovatif.
Kebijakan penting lainnya yang mendukung terciptanya iklim
usaha yang kondusif bagi UMKM adalah

(1) menyelesaikan penyusunan turunan peraturan pelaksanaan RUU


tentang UMKM dan koperasi
(2) meningkatkan formalisasi badan usaha UMKM

(3) memberikan rekomendasi perbaikan kebijakan dan regulasi yang


menghambat usaha dan investasi, baik di pusat maupun di
daerah.

a) Sementara itu, langkah kebijakan dalam rangka meningkatkan


kualitas kelembagaan koperasi meliputi:

(1) meningkatkan pelaksanaan pembinaan, pengawasan, dan penilaian perkoperasian

(2) pelatihan dan pemasyarakatan praktik-praktik koperasi terbaik, sekaligus


bimbingan teknis penerapan akuntabilitas koperasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau


badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas
kekeluargaan.

Di Indonesia, Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) dikenal dengan


nama microfinance. Microfinance adalah penyediaan layanan keuangan untuk
kalangan berpenghasilan rendah, termasuk konsumen dan wiraswasta, yang
secara tradisional tidak memiliki akses terhadap perbankan dan layanan
terkait.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan kelompok pelaku


ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup
pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi
dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi
sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan
nasional, Usaha Mikro Kecil dan Menengah juga menciptakan peluang kerja
yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu
upaya mengurangi pengangguran.

3.2 Saran

Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) merupakan


sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan
nasional dan menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja
dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.
Untuk itu, pemerintah seharusnya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan
kebijakan pembangunan UMKMK.
DAFTAR PUSTAKA
Sumantri & Erwin, 2017. Manajemen Koperasi Dan Usaha Mikro Kecil Dan
Menengah (UMKM). Kediri : Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara
PGRI Kediri

Bappenas.co.id

https://anindyaditakhoirina.wordpress.com/2011/10/12/pemberdayaan-koperasi-serta-usaha-
mikro-kecil-dan-menengah/