Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


P
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui
1.3.2 Untuk mengetahui
1.3.3 Untuk mengetahui
1.3.4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan
teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang
menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba,1998).
Asfiksia neonatus adalah bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000).
Asfiksia berarti yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini
berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian.
Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001).
Asfiksia merupakan suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, keadaan tersebut dapat disertai dengan
adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis (Hidayat, 2005).
Jadi, Asfiksianeonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat
bernafas secara spontan dengan ditandai adanya hipoksemia (penurunan PaO2),
hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).

2.2 Etiologi
Proses terjadinya neonatorum ini dapat terjadi pada masa kehamilan,
persalinan atau segera setelah bayi lahir.
Pernyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
a. Asfiksia dalam kehamilan
- Penyakit infeksi akut
- Penyakit infeksi kronik
- Keracunan oleh obat-obatan bius
- Uraemia dan toksemia gravidarum
- Anemia berat
- Cacat bawaan
- Trauma
b. Asfiksia dalam persalinan
- Kekurangan O2
- Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia / insersi uteri).
- Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus
mengganggu sirkulasi darah keuri.
- Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenm.
- Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul,
- Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya,
- Perdarahan banyak 1 plasenta previa dan solutio plasenta.
- Kalau plasenm sudah tua 1 postmaturims (serotinus), disfungsi uteri,
- Paralisis pusat pemafasan
- Trauma dari luar seperti oleh tindakan forceps
- Trauma dar] dalam 1 akibat obat bius

Menurut Betz et al, (2001), terdapat empat faktor yang dapat


menyebabkan terjadinya asfiksia, yaitu :

1. Faktor ibu

a. Hipoksia ibu
Dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat
analgetik atau anestesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan
hipoksia janin dengan segala akibatnya.

b. Gangguan aliran darah uterus


Berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan
berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin, kondisi ini
sering ditemukan pada gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak
pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada penyakit eklamsi.

2. Faktor plasenta

Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan
kondisi plasenta, asfiksis janin dapat terjadi bila terdapat gangguan
mendadak pada plasenta, misalnya perdarahan plasenta, solusio
plasenta.

3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran
darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran
gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan
pada keadaan tali pusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat
antara jalan Iahir dan janin.

4. Faktor neonatus

Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi


karena beberapa hal yaitu pemakaian obat anestesi yang berlebihan
pada ibu, trauma yang terjadi saat persalinan misalnya perdarahan intra
kranial, kelainan kongenital pada bayi misalnya ahernia diafragmatika,
atresia atau stenosis saluran pemapasan, hipoplasia paru.

2.3 Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala asfiksia dapat muncul mulai dari saat kehamilan hingga
kelahiran bayi yang berupa :

1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari
100x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.

a. Jika DJJ normal dan ada mekonium :janin mulai asfiksia

b. Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium :janin sedang asfiksia

c. Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium :janin dalam gawat

2. Pada bayi setelah Iahir

a. Bayi pucat dan kebiru-biruan

b. Usaha bemafas minimal atau tidak ada

c. Hipoksia

d. Asidosis metabolik atau respiratori

e. Perubahan fungsi jantung


f. Kegagalan sistem multiorgan

g. Kalau Sudan mengalami perdarahan di otak maka ada gejala


neurologik, kejang, nistagmus (gerakan ritmik tanpa kontrol pada mata
yang terdiri dari tremor kecil yang cepat ke satu arah dan yang lebin
besar, Iebih Iambat, berulang-ulang ke arah yang berlawanan) dan
menangis kurang baik/tidak baik.

2.4 Patofisiologi

Janin yang kekurangan O2; sedangkan kadar CO2-nya bertambah, akan


menyebabkan muncul rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut
jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka neryus
vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus
simpatikus sehingga DJJ rnenjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang.
Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian
terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan
terjadi atelektasis, Bila janin Iahir, alveoli tidak berkembang.

Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pemafasan akan ganti, denyut jantung


mulai menurun. Sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-
angsur dan bayi memasuki periode apneu primer. Apabila bayi dapat brnapas
kembali secara teratur maka bayi mengalami asfiksia ringan.

Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut


jantung terus menurun disebabkan karena terjadinya rnetabolisme anaerob yaitu
glikolisis glikogen tubuh yang sebelurnnya diawali dengan asidosis respiratorik
karena gangguan metabolisme asain basa, Biasanya gejala ini terjadi pada asfiksia
sedang - berat, tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terlihat lemas
(flascid), Pemafasan makin lama makin lemah sampai bayi mernasuki periode
apneu sekunder, Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar
O; dalam darah (PaO2) terus menurun. Pada paru terjadi pengisian udara alveoli
yang tidak adekuat sehingga menyebabkan resistensi pembuluh darah paru.
Sedangkan di otak terjadi kerusakan sel otak yang dapat menimbulkan kematian
atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya, Pada saat ini, Bayi sekarang tidak
bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan rnenunjukkan upaya pernafasan
secara spontan.

Gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan/ persalinan


ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan
kematian jika resusitasi dengan pemafasan buatan dan pemberian O2 tidak dimulai
segera. Kerusakan dan gangguan ini dapat reversible atau tidak tergantung dari
berat badan dan lamanya asfiksia.

Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Asfiksia Ringan (vigorus baby)

Skor APGAR 7-10, bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan
istirnewa.

b. Asfiksia sedang ( mild moderate asphyksia)

Skor APGAR 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih
dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas
tidak ada.

c. Asfiksia Berat

Skor APGAR 0-3, pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang
darl l00x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat,
reflek iritabilitas tidak ada, Pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi
jantung fetus menghilang tidak lebih clari 10 menit sebelum lahir lengkap atau
bunyi jantung menghilang post partum, pemeriksaan fisik sama pada asfiksia
berat.

Keterangan :

Nilai 0-3 : Asfiksia berat

Nilai 4-6 : Asfiksia sedang

Nilai 7-10 :Normal


Pemantauan nilai apgar clilakukan pada menit ke-l clan menit ke-5, bila nilai
apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor
mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru
lahir clan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi
dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi ticlak menangis.

Menurut Mochhtar (1998) asfiksia dibedakan menjadi maam yaitu :

a. Asfiksia Livida (Biru)


b. Asfiksia Pallida (Putih)

Perbedaan antara asfiksia livida dan asfiksia pallid :

Perbedaan Asfiksia Livida Asfiksia Pallida


a) Warna kulit , a) Kebiru-biruan a) Pucat
Tonus otot b) Masih baik b) Sudah kurang
b) Reaksi c) Positif c) Negatif
rangsangan d) Masih teratur d) Tidak teratur
c) Bunyi e) Lebih baik e) Jelek
d) Jantung
e) Prognosis

Asfiksia livida lebih baik dari pada asfiksia pallida, prognosis tergantung pada
kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak . Bayi yang dalam keadaan
asfiksia dan pulih kembali harus dipikirkan kemungkinannya menderita cacat
mental seperti epilepsy dan bodoh pada masa mmendatang .
2.5 Pathway

 Persalinan lama Faktor lain :


 Lilitan Tali pusat anastesi, obat-obatan
 Ketuban Pecah Dini
 Sectio caesarea

ASFIKSIA

Janin kekurangan O2 Suplai O2 Paru-paru

dan CO2 mmeningkat dalam darah Terisi cairan

Nafas Cepat Sianosis Kapiler Eksudat

dalam alveoli

Apnea laju metabolisme


Ketidakefektifan
Bersihan Jalan
Nafas
Pola Nafas Tidak Resiko
Efektif Hipotermi

Gangguan aliran darah ke alveoli

Ketidak seimbangan ventilasi perfusi

Gangguan Pertukaran
Gas
2.6 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosisa


asfiksia pada bayi baru lahir menurut Prawiroharcljo (2005), yaitu:

a. Denyut Jantung Janin

Frekuensi normal adalah antara 120 dan 160 denyutan dalam semenit,
Selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada
keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak
banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai dibawah 100
semenit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal ini merupakan tanda
bahaya.

b. Mekonium Dalam Air Ketuban


Pada presernasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi
dan harus menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban
pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri pexsalinan
bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
c. Pemeriksaan Darah Janin
Alat yang digunakan : amnioskop yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin,
Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH,
Apabila pH itu turun sampai di bawah 7.2, hal itu dianggap sebagai tanda
bahaya. Selain itu kelahiran bayi yang telah menunjukkan tanda-tanda gawat
janin mungkin disertai dengan asflksia neonatorum, sehingga perlu diadakan
persiapan untuk menghadapi keadaan tersebut jika terdapat asflksia, tingkatnya
perlu dikenal untuk dapat melakukan resusitasi yang sempuma, Untuk hal ini
diperlukan cara penilaian menurut APGAR.
d. Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin meliputi hemoglobinfhematolcrit (HB/ Ht) :
kadar Hb 15-20 gr dan Ht43%-61%), analisa gas darah dan serum elektrolit.

e. Tes combs langsung pada daerah tali pusat, Menentukan adanya kompleks
antigen antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi
hemolitik.
2.7 Penatalaksanaan
Tindakan untuk mengalasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru
lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi
gejala sisa yang mungkin muncul, Tindakan resusitasi bayi baru Iahir mengikuti
tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :
1. Memastikan salumn natas terbuka :
a. Meletakan bayi dalam posisi yang benar
b. Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trachea
c. Bila perlu masukan ET (endotracheal tube) untuk memastikan pernapasan
terbuka
2. Memulai pernapasan :
a. Lakukan rangsangan taktil Beri rangsangan taktil dengan menyentil atau
menepuk telapak kakiLakukan penggosokan punggung bayi secara
cepatmengusap atau mengelus tubuh,tungkai dan kepala bayi.
b. Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
3. Mempertahankan sirkulasi darah :
Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau
bila perlu menggunakan obat-obatan.
 Lanjutan Resusitasi dengan HAIKAP :
a) Hangatkan bayi
b) Atur posisi bayi
c) Isap secret yang ada di tenggorokan bayi
d) Keringkan tubuh bayi
e) Atur posisi bayi kembali
f) Penilaian terhadap bayi
 Refleks Pada Bayi Yang Harus Dikenali Sejak Lahir
1. Refleks menghisap (suckling reflex)
Bayi akan melakukan gerakan menghisap ketika anda menyentuhkan
puting susu ke ujung mulut bayi. Refleks menghisap terjadi Ketika bayi yang
baru lahir secara otomatis menghisap benda yang ditempatkan di mulut
mereka. Refleks menghisap memudahkan bayi yang baru lahir untuk
memperoleh makanan sebelum mereka mengasosiasikan puting susu dengan
makanan. Menghisap adalah refleks yang sangat penting pada bayi. Refleks ini
merupakan rute bayi menuju pengenalan akan makanan. Kemampuan
menghisap bayi yang baru lahir berbeda-beda. Sebagian bayi yang baru lahir
menghisap dengan efisien dan bertenaga untuk memperoleh susu
2. Refleks Menggenggam (palmar grasp reflex)
Grasping Reflex adalah refleks gerakan jari – jari tangan mencengkram
benda-benda yang disentuhkan ke bayi, indikasi syaraf berkembang normal
hilang selelah 3 - 4 bulan Bayi akan otomatis menggenggam jari Ketika Anda
menyodorkan jari telunjuk kepadanya. Reflek menggenggam terjadi kelika
sesuatu menyentuh telapak tangan bayi. Bayi akan merespons dengan cara
menggenggamnya kuat-Kuat.
3. Refelks mencari (rooting reflex)
Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tonus ) pada lengan dan
tungkai sisi ketika bayi Anda menoleh Ke salah salu sisi.
4. Refleks mencari (rooting reflex)
Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap (dibelai) atau di sentuh
bagian pinggir mulutnya. Sebagai respons bayi itu memalingkan kepalanya ke
arah benda yang menyentuhnya, dalam upaya menemukan sesuatu yang dapat
dihisap. Refleks menghisap dan mencari menghilang setelah bayi berusia
sekitar 3 hingga 4 bulan.
5. Refleks Moro ( moro refleks )
Refleks Moro adalah suatu respon tiba-tiba pada bayi yang baru lahir
yang terjadi akibat suara atau gerakan yang mengejutkan.
6. Babinski Reflex.
Refleks primitif pada bayi berupa gerakan jari-jari mencengkram
ketika bagian bawah Kaki diusap, indikasi syaraf berkembang dengan normal.
Hilang di usia 4 bulan.
7. Swallowing Reflex
adalah refleks gerakan menelan benda - benda yang di dekatkan ke
mulut, memungkinkan bayi memasukkan makanan ada secara permainan tapi
berubah sesuai pengalaman.
8. Breathing Reflex,
Refleks gerakan seperti menghirup dan menghembuskan nafas secara
berulang-ulang, fungsi : menyediakan O2 dan membuang CO2, permanen
dalam kehidupan.
9. Eyeblink Reflex,
Refleks gerakan seperti menutup dan mengejapkan mata - fungsi:
melindungi mata dari cahaya dan benda-benda asing - permanen dalam
kehidupan jika bayi terkena sinar atau hembusan angin, matanya akan
menutup atau dia akan mengerjapkan matanya.
10. Puppilary Reflex,
Refleks gerakan menyempitkan pupil mata terhadap cahaya terang,
membesarkan pupil mata terhadap lingkungan gelap. - fungsi : melindungi dari
cahaya terang, menyesuaikan terhadap suasana gelap.
11. Refleks Tonic Neck,
Disebut juga posisi menengadah, muncul pada usia satu bulan dan akan
menghilang pada sekitar usia 5 bln. Saat kepala bayi digerakkan Kesamping,
lengan pada sisi tersebut akan lurus dan lengan yang berlawanan akan
menekuk ( Kadang-Kadang pergerakan akan sangat halus atau lemah ). Jika
bayi baru lahir tidak mampu untuk melakukan posisi ini atau jika reflek ini
terus menetap hingga lewat usia 6 bulan, bayi dimungkinkan mengalami
gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian, refleks tonick
neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang akan
menyediakan bayi untuk mencapai gerak sadar.
12. Refleks Tonic labyrinthine / labirin,
Pada posisi telentang, reflex ini dapat diamati dengan mengangkat bayi
beberapa saat lalu dilepaskan. Tungkai yang diangkat akan bertahan sesaat
kemudian jatuh. Refleks ini akan hilang pada usia 6 bulan.
13. Refleks Merangkak (crawling )
Jika ibu atau seseorang menelungkupkan bayi baru lahir, ia membentuk
posisi merangkak karena saat di dalam rahim Kakinya tertekuk kearah
tubuhnya.
14. Refleks Berjalan dan melangkah (stepping )
Jika ibu atau seseorang menggendong bayi dengan posisi berdiri dan
telapak Kakinya menyentuh permukaan yang keras, ibu / orang tersebut akan
melihat refleks berjalan, yaitu gerakan kaki seperti melangkah ke depan. Jika
tulang keringnya menyentuh sesuatu, ia akan mengangkat Kakinya seperti
akan melangkahi benda tersebut Refleks berjalan ini akan dan berbeda dengan
gerakkan berjalan normal, yang ia Kuasai beberapa bulan berikutnya. Menurun
setelah 1 minggu dan akan lenyap sekitar 2 bulan.
15. Refleks Yawning,
Yakni refleks seperti menjerit Kalau ia merasa lapar, biasanya
Kemudian dan berlangsung hingga sekitar satu tahun kelahiran. Refleks
plantar ini dapat periksa dengan menggosokkan sesuatu di telapak Kakinya,
maka jari-jari Kakinya akan melekuk secara erat.
16. Refleks Swimming,
Refiek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisi
air ia akan mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang. Refleks
ini akan menghilang pada usia empat sampai enam bulan. Refleks ini
berfungsi untuk membantu bayi bertahan jika ia tenggelam. Meskipun bayi
akan mulai mengayuh dan menendang seperti berenang, namun meletakkan
bayi di air sangat beresiko. Bayi akan menelan banyak air pada air saat itu.
2.8 Konsep Asuhan Keperawatan
1. Identitas
a. Pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku/bangsa, tanggal mrs,
tanggal pengkajian, ruangan, diagnosa medis no, rekam medik)
b. Identitas penanggung jawab (nama orang tua, agama, penclidikan, pekerjaan,
alamat,umur)
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama
Kesulitan bemafas akibat bexsihan jalan nafas atau hipoksia janin akibat otot
pernafasan yang kurang optimal,
b. Riwayat kesehatan dahulu
Kaji riwayat kehamilan/pexsalinan (prenatal, natal, neonatal, posnatal)
c. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji apakah dalam keluarga pemah mengalami penyakit yang sama atau
penyakit lainnya,
d. Kebutuhan dasar
Sirkulasi
 Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt, Tekanan
darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
 Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas
maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta Ill/IV,
 Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam peitama kehidup an,
 Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan l vena.

Eliminasi

 Dapat berkemih saat lahir.

Makanan/ cairan

 Berat badan : 2500-4000 gram


 Panjang badan 1 44-45 cm
 Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)

Neurosensori
 Tonus otot : fleksi hipeitonik dari semua ekstremitas.
 Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30
menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas).
Penampilan asimetris (molding,edema, hematoma).
 Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi
menunjukkan abnonnalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik
yang memanjang)

Pernafasan

 Skor APGAR 1 l menit ..,.,. 5 menit ,.,..,. skor optimal harus antara 7-
10.
 Rentang dari 30-60 pennenit, pola periodik dapat terlihat,
 Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya
silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.

Keamanan

 Suhu rentang dari 36,5° C sampai 37,5° C. Ada verniks Qumlah dan
distribusi tergantung pada usia gestasi),
 Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat,
warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang
menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau
perubahan wama herlequin, petekie pada kepala/ Wajah (dapat
menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau
tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata,
antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama
punggung bawah dan bokong) dapat terlihat, Abrasi kulit kepala
mungkin ada (penempatan elektroda internal)
e. Pemeriksaan fisik

3. Diagnosa Keperawatan
a) Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d produksi mukus belebih
b) Pola nafas tidak efektif b/d hipoventilasi/ hiperventilasi
c) Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
4. Intevensi
a) DX : Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d produksi mukus belebih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2x24 jam,
diharapkan bersihan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria hasil :
- Tidak menunjukkan demam
- Tidak menunjukkan cemas
- Rata rata replrasl dalam batas normal
- Pengeluaran sputum melalut Jalan nafas
- Tidak ada suara nafas tambahan
- Tidak ada sianosis
- PaCO2 dalam batas normal

Intervensi :

- Tentukan kebutuhan oral/suction tracheal


- Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction
- Beritahu keluarga tentang suction
- Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai
dilakukan
- Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera
sebelum, selama dan sesudah suction

Rasional :

- Untuk memungkinkan reoksigenasi


- Pernafasan bising, ronki dan mengi menunjukkan tertahannya
secret
- Membantu memberikan informasi yang benar pada keluarga
- Mencegah obstruksi/aspirasi
- Membantu untuk mengidentifikasi pebedaan status oksigen
sebelum dan sesudah suction.

b) DX : Pola nafas tidak efektif b/d hipoventilasi/ hiperventilasi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2x24 jam,
diharapkan pola nafas menjadi efektif.
Kriteria hasil :
- Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif
- Ekspansi dada simetris
- Tidak ada bunyi nafas tambahan
- Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal

Intervensi :

- Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan


pengisapan lender
- Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan
ventilasi
- Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan

Rasional :

- Untuk menghilangkan mucus yang terakumulasi dan nasofaring


tracea
- Bunyi nafas menurun/tidak ada bila jalan nafas obstruksi
sekunder. Ronki dan mengi, menyertai obstruksi jalan
nafas/kegagalan pernafasan
- Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas
c) DX : Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan perfusi ventilasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2x24 jam,


diharapkan pertukaran gas teratasi.

Kriteria hasil :
- Tidak sesak nafas
- Fungsi paru dalam batas normal

Intervensi :

- Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi


sputum
- Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
- Berikan oksigen tambahan yang sesuai
Rasional :

- Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan


atelektasi,rronki,mengi menunjukkan akumulasi secret /
keetidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat
menimbulkan peningkatan kerja pernafasan.
- Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/ saturasi /
peningkatan PaO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi/
perubahan program terapi.
- Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi
sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan
alveolar paru.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan
mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan
gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi
kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.Penanganannya adalah dengan
tindakan resusitasi. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan
yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :

1) Memastikan saluran terbuka.


2) Memulai pernafasan
3) Mempertahankan sirkulasi

Langkah-langkah resusitasi, meliputi 2 tahap. Tahap pertama adalah langkah awal,


dan tahap kedua adalah ventilasi.

3.2 Saran

Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap agar dapat menambah ilmu
pengetahuan kepada pembaca. Oleh karena itu, harapan penulis kepada pembaca
semua agar memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E. Marilynn.(2000).Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta. EGC.


Kedokteran.kesehatan.com/2014/II/resusitasi-bayi-baru-lahir.
Nadea.academi.edu/10552935/Lp-Asfiksia-neonatorum.
Rizamunandar.kesehatan.com/2014/03/asuhan-keperawatan-pada-bayi.
Sudiarie.wordpress.com/2011/03/02/asfiksia.

Wilkinson, J .M, (2002). Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC
dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC