Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMONIA

Oleh :

VIVI AISYAH
NIM. 1932000051

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN – UNIVERSITAS NURUL
JADID PAITON PROBOLINGGO
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
PNEUMONIA
1. DEFINISI
Pneumonia adalah penyakit peradangan pada paru yang ditandai
dengan adanya pengisian cairan yang masuk ke dalam alveoli (Axton &
Fugate, 1993).
Inflamasi parenkim paru yang sifatnya dadakan dan biasanya
berasal dari suatu gejala infeksi, disebut pneumonia. (Sylvia)
Penumonia adalah reaksi pengisian cairan alveoli yang diakibatkan
oleh inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan kosolidasi
cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi
agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan
saluran.Trakhabrankialis, adalah beberapa keadaan yang mengganggu
mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya, kesadaran
menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain.
Dengan demikian flora endogen yang menjadi patogen ketika memasuki
saluran pernapasan. ( Ngasriyal, Perawatan Anak Sakit, 1997)
2. ETIOLOGI
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:
1. Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah staphylococcus
aureus, streptococus, aeruginosa, legionella, hemophillus, influenza,
eneterobacter. Bakteri-bakteri tersebut berada pada kerongkongan
manusia sehat, setelah system pertahanan menurun oleh sakit, usia tua,
atau malnutrisi, bakteri tersebut segera memperbanyak diri dan
menyebabkan kerusakan.
2. Virus penyebab pneumonia diantaranya yaitu virus influenza,
adenovirus, chicken-pox (cacar air). Meskipun virus-virus ini
menyerang saluran pernafasan bagian atas, tetapi gangguan ini dapat
memicu pneumonia, terutama pada anak-anak.
3. Organism mirip bakteri yaituMicoplasma pneumonia. Pneumonia jenis
ini berbeda dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu pneumonia
yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering
disebut pneumonia yang tidak tipikal. Mikoplasma ini menyerang
segala jenis usia.
4. Jamur penyebab pneumonia yaitu candida albicans.
3. KLASIFIKASI
Secara garis besar pneumonia dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
1. Aspirasi pneumonia
Terjadi bila bayi tersedak dan ada cairan /makanan masuk ke paru-paru.
Pada bayi baru lahir, biasanya tersedak karena air ketuban atau ASI.
2. Pneumonia karena infeksi virus, bakteri, atau jamur
Umumnya penyebab infeksi paru adalah virus dan bakteri seperti
streptococcus pneumonia dan haemophylus influenzae. Gejala akan
muncul 1-2 hari setelah terinfeksi. Gejala yang muncul mulai dari demam,
batuk lalu sesak nafas.
3. Pneumonia akibat faktor lingkungan
Polusi udara menyebabkan sesak nafas terutama bagi yang alergi. Bila
tidak segera dilakukan pengobatan maka akan mengakibatkan bronchitis
dan selanjutnya menjadi pneumonia.
4. PATOFISIOLOGI
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif
seperti menghirup bibit penyakit di uadara. Ada beberapa mekanisme yang
pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi.Partikel infeksius
difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan
epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-
paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan
juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons
inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi
leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag.
Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas
pada foto toraks.Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi
dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan
interstisial.Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran
napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.
5. MANIFESTASI KLINIK
 Menggigil, demam
 Nyeri dada
 Takipnea
 Bibir dan kuku sianosis
 Sesak nafas
 Batuk
 Kelelahan
6. KOMPLIKASI
 Efusi pleura
 Hipoksemia
 Pneumonia kronik
 Bronkaltasis
 Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-
paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps).
 Komplikasi sistemik (meningitis)
7. FAKTOR RESIKO
 Usia diatas 65 tahun
 Aspirasi secret orofaringeal
 Infeksi pernapasan oleh virus
 Penyakit pernapasan kronik
 Kanker
 Trakeostomi
 Bedah abdominal
 Riwayat merokok
 Alkoholisme
 Malnurisi
8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar,
bronchial); dapat juga menyatakan abses)
2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat
mengidentifikasi semua organisme yang ada.
3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis
organisme khusus.
4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan
luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi
7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing
9. PENATALAKSANAAN
Pengobatan umum pasien-pasien pneumonia biasanya berupa pemberian
antibiotik yang efektif terhadap organisme tertentu, terapi O2 untuk
menanggulangi hipoksemia.
Beberapa contoh pemberian antibiotic seperti:
 Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
 Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
 Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia
mikroplasma.
10. PENGKAJIAN
1. Data dasar pengkajian pasien
2. Aktivitas/istirahat
Gejala: kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda: letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
3. Sirkulasi
Gejala: riwayat adanya
Tanda: takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
4. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes
mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk,
penampilan kakeksia (malnutrisi)
5. Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia,
artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk
membatasi gerakan)
7. Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda : sputum:merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Bunyi nafas menurun
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
8. Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan
steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
9. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6-8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas
pemeliharaan rumah
11. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi
jalan nafas
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolus kapiler.
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
4. Resiko gangguan perlekatan berhubungan dengan perpisahan antara ibu
dan bayi akibat hospitalisasi.
12. RENCANA KEPERAWATAN
Dx 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi
jalan nafas
1. Monitor pola nafas
2. Monitor bunyi nafas tambahan
3. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
4. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
5. Berikan oksigen jika perlu
6. Anjurkan asupan cairan jika tidak kontraindikasi
7. Kolaborasi pemberian broncodilator jika perlu
Dx 2: Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolus kapiler.
1. Monitor kecepatan aliran oksigen
2. Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen
3. Bersihkan secret pada hidung, mulut dan trakea jika perlu
4. Pertahankan kepatenan jalan nafas
5. Kolaborasi penentuan dosis oksigen
Dx 3: Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
1. Identifikasi karakteristik nyeri (mis. pencetus, pereda, kualitas, lokasi,
intensitas, frekuensi, durasi)
2. Monitor tanda- tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik
3. Monitor efektifitas analgetik
4. Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
5. Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesic.
DAFTAR PUSTAKA

http://askep-topbgt.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-efusi
pleura.html
http://askep-asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/07/askep-efusi-
pleura.html
Carpenito, Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan edisi 8, EGC , Jakarta
Carpenito, Lynda Juall (1995), Rencana Asuhan dan Dokumentasi
Keperawatan,EGC,Jakarta
Doengoes, Marilyn (1989), Nursing Care Plans Second Edition, FA Davis
Company, Philadelphia
Long, Barbara C (1989), Perawatan Medikal Bedah, Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Padjadjaran, Bandung
Luckmann’s Sorensen (1996), Medical Surgical Nursing, WB Saunders,
Philadelphia
Soeparman (1996), Ilmu Penyakit Dalam jilid 2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Sjamsuhidajat, R (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah edisi revisi, EGC, Jakarta
Baughman C Diane.2000, Keperawatan medical bedah, EGC, Jakrta
Doenges E Mailyn.1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
perencanaandan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. EGC, Jakarta
Hudak,Carolyn M.1997,Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1,
EGC,Jakarta
Purnawan J. Dkk.1982,Kapita Selekta Kedokteran, Ed2. Media Aesculapius.
FKUI