Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PSIKOLINGUISTIK

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

Oleh
Kelompok IX :
1. Gita Fajria (17129141)
2. Husni Wulandari (17129142)
3. Naziroh (17129377)
4. Siti Nurul Fadilah (17129266)
17 BKT 09

DOSEN PENGAMPU :
NUR AZMI ALWI, S.S, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil’alamin, puji syukur kami ucapkan kepada Allah


SWT, karena dengan rahmat, taufik serta hidayah-Nya tugas Psikolinguistik yang
berbentuk makalah dengan judul “Perkembangan Bahasa Anak” ini dapat
terselesaikan dengan tepat waktu. Dan tidak lupa shalawat serta salam saya
ucapkan kepada nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun sebagai tugas yang merupakan implementasi dari


program belajar aktif oleh Dosen pengajar mata kuliah “Psikolinguistik”.

Semoga dengan tersusunnya makalah ini bisa menambah khazanah


keilmuan dalam mempelajari “Psikolinguistik” dan memberikan manfaat bagi
pembacanya. Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih banyak
kesalahan dan kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah
berikutnya.

Bukittinggi, 09 April 2020

Kelompok IX
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………..…….

DAFTAR ISI ……………………………………….…………..……………..….

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………………………..…………………….................


B. Rumusan Masalah …………………………………………………….......
C. Tujuan Penulisan …………………………………………………….........

BAB II PEMBAHASAN  

A. Teori Perkembangan Bahasa Anak………………….…………………….


B. Perkembangan Motorik…….……………………………….………….....
C. Perkembangan Sosial dan Komunikasi...…………………………………
D. Perkembangan Kognitif…………………………………………………...
E. Perkembangan Bahasa………...……………………………………...…..

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ………………………..……………….…………….……...
B. Saran ………………………………..…..……………..………….……..

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….........


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur


hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa sertasosialisasi dan
kemandirian. Ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain,
menimbulkan perubahan, berkolerasi dengan pertumbuhan,memiliki tahap yang
beruutan dan mempunyai pola yang tetap. Perkembangan berbicara dan menulis
merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk
arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun
membeo. Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang
individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama
dengan menulis.
Seorang bayi dari hari ke hari akan mengalami perkembangan bahasadan
kemampuan bicara, namun tentunya tiap anak tidak sama persis pencapaiannya,
ada yang cepat berbicara ada pula yang membutuhkan waktuagak lama. Untuk
membantu perkembangannya ibu dapat membantu memberikan stimulasi yang
disesuaikan dengan keunikan masing-masing anak.
Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani
terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut makin
meningkat dan meluas, misalnya dengan orang di sekitarnya lingkungan dan
berkembang dengan orang lain yang baru dikenal dan bersahabat dengannya.
Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengertian bahasa dan berbicara.
Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang diutarakan dalam bentuk
lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantomim atau
seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling
efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak
dipergunakan. Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan
meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu memperhatikan
perkernbangan tersebtit, sebab pada masa ini, sangat menentukan proses belajar.
Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik, memberikan motivasi
pada anak untuk belajar dan sebagainya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana teori perkembangan bahasa seorang anak?
2. Bagaimana perkembangan motorik yang terjadi pada seorang anak?
3. Bagaimana perkembangan social dan komunikasi pada seorang anak?
4. Bagaimana perkembangan kognitif yang terjadi pada seorang anak?
5. Bagaimana perkembangan bahasa pada anak?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar dapat memahami teori perkembangan bahasa seorang anak
2. Agar dapat memahami perkembangan motorik yang terjadi pada
seorang anak
3. Agar dapat memahami perkembangan social dan komunikasi pada
seorang anak
4. Agar dapat memahami perkembangan kognitif yang terjadi pada
seorang anak
5. Agar dapat memahami perkembangan bahasa pada anak
BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori Perkembangan Bahasa Anak

Penelitian yang dilakukan terhadap perkembangan bahasa anak tentunya


tidak terlepas dari pandangan, hipotesis atai teori psikologi yang dianut. Dalam
hal ini sejarah telah mencata adanya tiga pandangan teori dalam perkembangan
bahasa anak.

1. Pandangan Nativisme

Pandangan ini diwakili oleh Noam Chomsky (1974). Ia berpendapat


bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau nature.
pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh dalam
pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan
pemberian biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang
secara genetis telah di programkan.
Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa
pertama, kanak-kanak sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya
yang secara genetis telah diprogramkan. Pandangan ini tidak menganggap
lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan
menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis, sejalan dengan
yang disebut hipotesis pemberian alam.
Para ahli nativis berpendapat bahwa bahasa merupakan pembawaan
dan bersifat alamiah dan meyakini bahwa kemampuan berbahasa sebagaimana
halnya kemampuan berjalan, merupakan bagian dari perkembangan manusia
yang dipengaruhi oleh kematangan otak, beberapa bagian neurologis tertentu
dari otak manusia memiliki hubungan dengan perkembangan bahasa, sehingga
kerusakan pada bagian tersebut dapat menyebabkan hambatan bahasa.
Menurut Chomsky , Howe, Maratsos (dalam miller, 1981)
berpandangan bahwa ada keterkaitan antara faktor biologis yang menekankan
membentuk individu menjadi makhluk linguistik dan perkembangan bahasa.
Chomsky (dalam dworetzky, 1984) mengembangkan toeri yang komplek
tentang bahasa yang disebut transformation grammer theory. Menurut
Chomsky, arti dari kalimat atau kandungan semantik dalam kalimat berkaitan
dengan struktur yang lebih dalam yang merupakan bagian alat penguasaan
bahasa.
Chomsky (1974) mengatakan bahwa individu dilahirkan dengan alat
penguasaan bahasa (Language Acquisition Device) LAD dan menemukan
sendiri cara kerja bahasa tersebut. Dalam belajar bahasa, individu memiliki
kemampuan tata bahasa bawaan untuk mendeteksi kategori bahasa tertentu
seperti fonologi, sintaksis dan sematik. Kaum nativis berpendapat bahwa
bahasa itu terlalu kompleks dan rumit, sehingga mustahil dapat dipelajari
dalam waktu singkat melalui metode seperti peniruan atau imitation. Alat ini
yang merupakan pemberian biologis yang sudah di programkan untuk merinci
butir-butir yang mungkin dari suatu tata bahasa. LAD dianggap sebagai
bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memproses bahasa, dan tidak
punya kaitan dengan kemampuan kognitif lainnya. Dan juga bahasa pertama
itu penuh dengan kesalahan dan penyimpangan kaidah ketika pengucapan
atau pelaksanaan bahasa (performance). 
Manusia tidak mungkin belajar bahasa pertama dari orang lain seperti
klaim skinner menurut chomsky bahasa hanya dapat diuasai oleh
manusia, karena:
1. Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), pola
perkembangan bahasa berlaku universal, dan lingkungan
hanya memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa.
2. Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat , tidak bergantung
pada  lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorisme.

Lenneberg (1967) memiliki pendapat yang senada dengan ahli lain


bahwa belajar bahasa adalah berdasarkan pengetahuan awal yang diperoleh
secara biologis. Para ahli nativis menjelaskan bahwa anak dilahirkan dengan
mekanisme atau kapasitas internal sehingga dapat mengorganisasi
lingkingannya dan mampu mempelajari bahasa.
Para ahli nativis menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa
dipengaruhi oleh kematangan seiring dengan pertumbuhan anak. Pandangan
para ahli nativis yang memisahkan antara belajar bahasa dengan
perkembangan kognitif dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa anak
belajar bahasa dari ligkungan sekitarnya dan memiliki kemampuan untuk
mengubah bahasanya jika lingkungannya berubah.

2. Pandangan Behaviorisme

Pandangan ini diwakili oleh B.F Skinner, yang menekankan bahwa


proses pemerolahan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu
oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum
behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratlan suatu
wujud, sesuatu yang dimiliki atau digunakan, dan sesuatu yang di lakukan.
Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku-perilaku manusia lainnya.
Oleh karena itu, mereka lebih suka menggunakan istilah perilaku verbal
(verbal behavior), agar tampak lebih mirip dengan perilaku kain yang harus
dipelajari.
Menurut kaum behavioris kemampuan berbicara dan memahami
bahasa oleh anak diperolah melalui rangsangan dari lingkungannya. Anak
dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki
peranan  yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Kaum
behavioris tidak hanya mengakui peranan aktif si anak dalam proses
pemerolehan bahasa, malah juga tidak mengakui kematangan si anak itu.
Proses perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lingkungannya.
Para ahli behavioristik berpendapat bahwa anak dilahirkan tanpa
membawa kemampuan apapun. Dengan demikian anak harus belajar melalui
pengondisian daqri lingkungan, proses imitasi, dan
diberikan reiforcement (penguat).
Para ahli perilaku menjelaskan beberapa faktor penting dalam
mempelajari bahasa yaitu imitasi, rewart, reinforcement dan frekuensi suatu
perilaku. Skinner, (1957) memandang perkembangan bahsa dari sudut
stimulus-respon, yang memandang berpikir sebagai proses internal bahasa
mulai diperoleh dari interaksi dalam lingkungan. Bandura, (1997) memandang
perkembangan bahasa dari sudut teori belajar sosial. Hergenhahn, (1982) Ia
berpendapat bahwa anak belajar bahasa dengan melakukan imitasi atau
menirukan suatu model yang berarti tidak harus menerima penguatan dari
orang lain.
Pandangan behavioristik  dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa
anak pada suatu saat dapat membuat suara-suara  baru dalam awal
perkembangan bahasannya, dan dapat membentuk kalimat-kalimat baru yang
berbeda dari yang pernah diajarkan padanya.

3. Pandangan kognitivisme

Chomsky pernah menyinggung masalah kognitivisme dari piaget ini.


Beliau menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif
tidak dapt menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak dank has itu.
Begtiu juga limgkungan berbahasa tidak dapat menjelaskan struktur yang
muncul di dalam bahasa anak. Oleh karena itu menurut Chomsky bahasa
struktur haruslah diperoleh secara alamiah.
Jean Piaget (1954) menyatakan bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri
alamiah yang terpisah, melainkah salah satu di antara beberapa kemampuan
yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar, maka
perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan yang lebih mendasar
dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urut-urutan perkembangan kognitif
menentukan urutan perkembangan bahasa.
Piaget menegaskan bahwa stuktur yang kompleks dari bahasa
bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam, dan bukan pula sesuatu yang
dipelajari dari lingkungan. Struktur bahasa itu timbul sebagai akibat dari
interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif anak dengan
lingkungan kenahsaannya (juga lingkungan yang lain). 
Para ahli kognitif berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh
beberapa fator seperti peran aktif anak terhadap lingkungan, cara anak
memproses suatu informasi, dan menyimpulkan struktur bahasa.
Menurut Piaget (Hergenhahn, 1982), berpikir sebagai prasyarat
berbahasa, terus berkembang secara progresif dan terjadi pada setiap tahap
perkembangan sebagai hasil dari pengalaman dan penalaran. Perkembangan
anak secara umum dan perkembangan bahasa awal anak berkaitan erat dengan
berbagai  kegiatan anak , objek, dan kejadian yang mereka alami dan
menyentuh, mendengar, melihat, merasa, dan membau.
Menurut piaget struktur yang kompleks itu bukan pemberian alam dan
bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul
secara tak terelakkan sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara
tingkat fungsi kognisi anak dengan lingkungan kebahasaannya.
Vygotsky (1986), mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan
bahasa anak berkaitan erat dengan kebudayaan dan masyarakat tempat anak
dibesarkan. Vygotsky menggunakan istilah zona perkembangan proximal
(ZPD) untuk tugas-tugas yang sulit untuk dipahami sendiri oleh anak. ZPD
juga memiliki batas yang lebih rendah merupakan tingkat masalah yang
dipecahkan anak dan batas yang lebih tinggi merupakan tingkat tanggung
jawab ekstra yang dapatditerima anak dengan bantuan orang dewasa.
Teori kognitif dikritik berkenaan dengan pandangan bahwa bahasa
memiliki pengaruh yang kecil terhadap perkembangan kognisi . pendapat ini
bertentangan dengan penelitian yang membuktikan bahwa pengetahuan baru
dapat diperoleh seseorang melalui berbicara dan menulis.

B. Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan perkembangan bayi sejak lahir yang


paling tamapk, yakni sebuah perkembangan yang betahap dari duduk, merangkak,
sampai berjalan.
Motor berarti gerak dua. Dua kemampuan bergerak yang paling banyak
diperhatiakn para pakar adalah berjalan  dan penggunaan tangan sebagai alat. Baik
berjalan maupun pemahaman penggunaan tangan sebagian besar tergantung pada
kedewasaan.
Perkembangan fisik motorik pada anak dapat ditandai dari pertumbuhan
fisiknya yang meliputi peningkatan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan
tonus otot. Pertumbuhan fisik anak perlu dicermati. Sebab, kurang optimalnya
pertumbuhan fisik dapat menjadi pertanda ada sesuatu pada diri anak. Umumnya
orangtua diberikan catatan untuk mendata pertumbuhan anaknya dan lembaran ini
telah disediakan oleh dokter atau rumah sakit tempat melakukan konsultasi.
Khusus untuk berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala dapat dipantau
pertumbuhannya melalui Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS tersebut dapat dibawa
pulang karenanya setiap konsultasi hendaknya selalu dibawa.
Pada usia 3-6 tahun, seorang anak tumbuh dengan cepat, namun tidak
secepat masa sebelumnya. Pada usia 3 tahun, tubuh, tangan dan kaki si anak akan
tumbuh semakin panjang. Kepala masih relatif besar, akan tetapi bagian tubuh
lainnya terus berusaha menyusul seiring dengan semakin miripnya bagian anggota
tubuhnya dengan tubuh orang dewasa. Umumnya tubuh anak laki-laki lebih tinggi
dan lebih berat serta memiliki banyak otot pada setiap kilogram berat tubuhnya.
Sedangkan anak perempuan memiliki jaringan lemak lebih banyak. Baik anak
laki-laki maupun perempuan biasanya tumbuh sekitar 5-7,5 sentimeter per tahun
sepanjang usia balita dan mendapatkan 2-3 kg per tahun. Berat dan tinggi anak
laki-laki akan tetap seperti itu sampai pertumbuhannya menyentuh masa pubertas.
Perkembangan otot dan tulang, membuat anak-anak semakin kuat.
Berbagai perubahan ini, yang dikoordinasi oleh kematangan otak dan sistrem
saraf, menghasilkan perkembangan berbagai keterampilan motorik pada anak.
Perkembangan motorik adalah perkembangan saraf motorik kasar dan halus anak.
Motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan
dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar,
sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contohnya, berjalan, berlari, berlompat, dan
sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan
dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan.
Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan
rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, dan sebagainya.
Anak yang terampil dan menguasai gerakan motoriknya, umumnya
memiliki fisik yang sehat lantaran banyak bergerak. Keterampilan motorik
tersebut tentunya memengaruhi kemandirian dan rasa percaya diri anak dalam
mengerjakan sesuatu, karena ia sadar akan kemampuan fisiknya. Pada usia balita
ini terjadi kemajuan yang besar dalam keterampilan motorik kasar, seperti berlari,
melompat yang melibatkan penggunaan otot besar. Hal ini didukung dengan
perkembangan daerah sensoris dan motor pada korteks yang memunginkan
koordinasi yang lebih baik antara apa yang diinginkan oleh anak dan apa yang
dapat dilakukannya. Tulang dan otot mereka semakin besar sehingga
memungkinkan mereka untuk berlari, melompat dan memanjat lebih cepat, lebih
jauh dan lebih baik. Seiring dengan pengembangan kedua keterampilan tersebut,
anak balita terus menggabungkan berbagai kemampuan yang telah mereka miliki
dengan yang baru mereka dapatkan, untuk menghasilkan kemampuan yang lebih
kompleks.

C. Perkembangan Social Dan Komunikasi

Sesungguhnya semenjak lahir bayi sudah disetel secara biologis untuk


berkomunikasi; dia akan tanggap terhadap kejadian yang ditimbulkan oleh orang
disekitarnya (terutama ibunya), daya lihat bayi yang paling baik berada pada jarak
kira-kira 20 cm (8 inci) yakni jarak yang terjadi pada waktu interaksi rutin terjadi 
antara bayi dan ibu, kurang lebih 70% dari waktu menyusui sangibu memandangi
bayinya dalam jarak 20 cm itu. Oleh karena itu byi akan membalas tatapan ibunya
dengan melihat mata sang ibu yang menarik perhatiannya. Kemudian bayi juga
belajar bahwa sewaktu terajadi saling tatap mata berarti ada komunikasi antara dia
dan ibunya.
D. Perkembangan Kognitif

Istilah kognisi berkaitan dengan peristiwa mental yang terlibat dalam


proses pengenalan tentang dunia, yang sedikit banyak melibatkan pikiran atau
berpikir. Oleh karena itu, secara umum kata kognisi bisa dianggap bersinonim
dengan kata berpikir atau pikiran.
Dari sekian banyak kajian tentang proses berpikir pada anak-anak dalam
usia yang berbeda-beda. Piaget menyatakan adanya beberapa tahap perkembangan
kognitif anak. Tahap-tahap itu adalah sebagi berikut:

1. Tahap Sensomotorik
Pahap sensomotorik ini merupakan tahap pertama dalam
perkembangan koknisi anak, pada awal tahap ini bayi belom membedakan
dirinya dari isi dunia lainnya, memori (daya ingat) yang belom sempurna
muncul bersamaan dengan beberapa antisipasi akan hal-hal yang akan
datang seperti, pengguna panca indra kemampuan motorik.

2. Tahap Praoposional
Pada tahap ini cara “brpikir” anak-anak masih didominasi oleh
cara-cara bagai mana hal-hal atau benda-benda itu tampak. Cara berpikir
masih kurang operasional. Umpamanya, kanak-kanak itu belom bisa
menyadari bahwa jumlah benda akan tetap sama,misalnya dalam
eksperimen pada seorang anak dihadapkan dua buah gelas yang besar dan
bentunya sama, dan keduanya sama-sama berisi air penuh.

3. Tahap Operasional Konkret


Tahap operasional konkret ini dilalui anak yang berusia sekitar
tujuh sampai menjelang sebelas tahun. Pada tahap kanak-kanak itu telah
memahami konsep konferensi sehingga mereka tahu bahwa air yang ada
didalam gelas dan ada dalam silinder jumlahnya sama. Namun, kanak-
kanak itu tidak bisa menjelaskan alasanya.
4. Tahap Operasional Formal
Pada tahap ini yang dilalui  setelah anak berusia sebelas tahun ke
atas, anak-anak sudah berpikir logis sepertihalnya dengan orang dewasa.
Selama preode operasional formal ini, anak-anak mulai menggunakan
aturan-aturan formal dari pikiran dan logika untuk memberikan dasar
kebenaran jawaban-jawaban mereka.

E. Perkembangan Bahasa

Bayi baru lahir sampai usia satu tahun lazim disebut dengan istilah infant
artinya tidak mampu berbicara; istilah ini memang tepat kalau dikaitkan dengan
kemampuan berbicara atau berbahasa.namun kurang tepat atau tidak tepat kalau
dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi.

1. Tahap perkembangan artikulasi


Tahap ini dilalui bunyi antara sejak lahir sampai kira-kira berusia
14 bulan. Pada bab 13.3 sudah dibicarakan bahwa menjelang usia satu
tahun, bayi dimanapun sudah mampu menghasikan bunyi-bunyi vokal
“aaa”, (dora dkk., 1976; raffler engel, 1973) namun sebenarnya usaha ke
arah menghasilkan bunyi-bunyi itu sudah mulai pada minggu-minggu
sejak kelahiran itu.

a. Bunyi resonasi
Penghasilan bunyi, yang terjadi dalam rongga mulut, tidak
terlepas dari kegiatan dan perkembangan motorik bayi pada bagian
rongga mulut itu. Pada waktu baru lahir pengenyutan dilakukan
dengan gerakan rahang ke atas dan kebawah. Dalam beberapa minggu
kemudian si bayi mulai mengembangkan gerakan kesamping. Gerakan
rahang kedepan dan ke belakang baru terjadi saat bayi berusia satu
tahun.
Untuk mengenyut bayi itu harus menutup rongga hidung
dengan menaikkan volume. Kegiatan yang merepotkan ini akan
semakin lancar waktu si bayi berusia tiga bulan, namun barusia tiga
tahun, si anak dapat melakukan penelanan dengan lancar dan benar.
Bayi yang paling umum yang dapat dibuat bayi adalah bunyi tangis
karena merasa tidak enak atau merasa lapar dan bunyi-bunyi sebagai
bentuk bersin dan serdawa.

b. Bunyi berdekut
Bunyi berdekut ini agak mirip dengan dengan bunyi {ooo}
pada burung merpati. Bunyi berdekut ini agak sebenarnya adalah buyi
“kuasi konsonan” yang berlangsung dalam satu embusan napas,
bersamaan dengan seperti bunyi hambat antara velar dan uvular. Bunyi
yang dihasilkan adalah bunyi konsonan belakang dan tengah dengan
vokal belakang, tetapi tanpa resonasi penuh.

c. Bunyi berleter
Beleter adalah mengeluarkan bunyi yang terus menerus tanpa
tujuan. Berleter ini biasanya dilakukan oleh bayi yang berusia antara
empat sampai enam bulan.
Bayi pada masa usia empat sampai enam bulan sering
mencoba-coba berbagi macam bunyi; dan dia semakin semakin dapat
mengendalikan bagian-bagian orang yang terlibat dalam mekanisme
bunyi. Dengan meningkatkan penguasaan terhadap lindahnya,dia dapat
mengembuskan dan menjulurkan lidahnya dengan kuat.
Pada masa ini si anak sudah mampu membuat bunyi vokal
yang mirip bunyi [a]. Lalu kemampuannya untuk mengatupkan bibir
memungkinkan dia menghasilkan bunyi labial. Menurut fergusen
(dalam purwo, 1989) hal itu terjadi antara lain, alat-alat bicara si anak
belom sama dengan alat-alat bicara orang dewasa.

d. Bunyi berleter ulang


Tahap ini  dilalui si anak sewaktu berusia antara enam sampai
sepuluh bulan. Menjelang usia enam bulan si anak dapat
memonyongkan bibir dan menariknya kedalam tampa menggerakkan
rahang. Dua bulan berikutnya dia dapat mengatupkan bibirnya rapat-
rapat selama mengunyah dan menelan makanan yang agak cair.

Konsonan yang mula-mula dapat di ucapkan adalah bunyi labil [p] dan
[b]. Bunyi letep alveoler [t] dan [d], bunyi nasal dan bunyi [j]. Bunyinya
belom sempurna dan pembentukannya juga agak lembut.
Kalau bunyi berdekut yang terjadi pada usia antara dua sampai tiga
bulan. Muncul saat anak berinteraksi dengan orang lain, maka bunyi berleter
terjadi atau banyak dilakukan ketika si anak sedang sendirian, tidak ada orang
lain (nakazima, 1975; strak, 1981). Jadi, pada masa ini si anak
memperdengarkan suaranya sendiri. Hal ini memang penting bagi
perkembangan penguasa bahasa selanjutnya.
Bunyi yang terlahir tidak dapat mendengar (tuli), sampai dengan masa
bermain-main dengan bunyi, masih melakukan kegiatan yang sama dengan
bayi yang normal.namun karna dia tidak dapat mendengar suaranya sendiri
maka kegiatan mengeluarkan bunyi-bunyi bahasa mulai menurun. Kegiatanya
tidak sampai ketahap mencoba mengucapkan bunyi-bunyi konsonan (oller
ddk., 1986 dalam purwo, 1989).

2. Tahap Perkembangan Kata dan Kalimat


a. Kata Pertama
Menurut Francescato (1968, dalam Purwo 1989), anak belajar
mengucapkan kata sebagai suatu keseluruhan, tanpa memperhatikan
fonem kata-kata itu satu persatu. Sedangkan menurut Waterson, 1971
dalam Purwo 1989, anak hanya dapat menangkap ciri-ciri tertentu dari
kata yang diucapkan oleh orang dewasa, dan pengucapannya terbatas
pada kemampuan artikulasinya.

b. Kalimat Satu kata


Kata pertama yang berhasil diucapkan anak akan di susul oleh
kata kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Keistimewaan kata-kata
yang di ucapkan anak biasanya dapat ditafsirkan sebagai sebuah
kalimat yang bermakna. Jadi, bicara anak yang pertama kalinya
mengandung makna adalah terdiri atas kalimat satu kata. Yang
pertama kali muncul adalah ujaran yang sering diucapkan oleh orang
dewasa dan yang didengarnya atau yang sudah diakrabinya seperti
main, orang, binatang piaraan, makanan dan pakaian.

c. Kalimat Dua Kata


Kemampuan untuk menggabungkan dua kata ini dalam bentuk
sebuah kalimat dikuasai anak menjelang usia 18 bulan. Dalam
menggabungkan kata, anak mengikuti urutan kata yang terdapat pada
bahasa orang dewasa. Ucapan dalam bentuk kalimat dua kata ini sudah
jauh lebih berproduksi dari pada ucapan kalimat satu kata. Ini tentunya
sesuai dengan kemampuan si anak secara keseluruhan.

d. Kalimat Lebih Lanjut


Menjelang usia dua tahun anak rata-rata sudah dapat menyusun
kalimat empat kata yakni dengan cara perluasan, meskipun kalimat dua
kata masih mendominasi korpus bicaranya. Dalam pengasuhannya,
ibu-ibu sering menggunakan pola kalimat "tanya ya - tidak" pada anak
usia dua sampai tiga tahun. Pada masa ini perkembangan bahasa anak
meningkat dengan pesat, terutama karena si ibu sering menggunakan
berbagai teknik untuk mengajak anak bercakap-cakap. Pertanyaan
yang dapat di jawab si anak akan di jawab sendri oleh si ibu, sehingga
menjelang usia tiga tahun anak sudah menganal pola dialog.

3. Tahap Menjelang Sekolah


Yang di maksud menjelang sekolah di sini menjelang anak masuk
sekolah dasar; yaitu pada waktu mereka berusia antara lima sampai enam
tahun. Pendidikan di taman kanak-kanak (TK), apalagi kelompok bermain
(play group) belum dapat dianggap sebagai sekolah, sebab sifatnya banyak
menolong anak siap memasuki pendidikan dasar.
Mengenai pengenalan bahasa tulis di dalam masyarakat yang sudah
tidak buta aksara, anak sudah "mengenal" bahasa tulis sebelum
bersekolah. Dia tau, misalnya, bahwa namanya bisa dituliskan di atas
kertas. Dia sudah bisa membedakan antara gambar dan tulisan yang ada di
buku; dan dia tau bahwa orang tuanya membaca tulisan, bukan gambar,
dalam buku cerita atau buku/bacaan lain.
Ketika memasuki taman kanak-kanak anak sudah menguasai
hampir semua kaidah dasar gramatikal bahasanya. Dia sudah dapat
membuat kalimat berita, kalimat tanya, dan anak sejumlah kontruksi lain.
Hanya saja dia masih mendapatkan kesulitan dalam membuat kalimat
pasif. Namun, anak pada masa prasekolah ini telah mempelajari hal-hal
yang di luar kosakata dan tata bahasa. Mereka sudah dapat menggunakan
bahasa dalam konteks sosial yang bermacam-macam. Mereka dapat
berkata kasar pada teman-temannya, tetapi juga dapat berkata sopan
kepada orang tuanya
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan


(pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini
orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua,anak tidak
akan bisa berbicara. Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk
melatih mengucapkan kata-kata kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak
tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara atau
gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut
dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk menga!ari anak berbicara.

B. Saran

Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangannya. Maka dari


itu penulis butuh kritik dan saran serta dukungan dari dosen pembimbing dan
pembaca. Walaupun demikian penulis berharap makalah ini dapat menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan serta bermanfaat bagi pembaca sehingga dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR RUJUKAN

Abdul Chaer. 2003.  Psikolingusitik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak


Indonesia. Jakarta : Grasindo