Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang
menyebabkan peradangan kronis pada sendi (lutfi, 2016).
Artritis Reumatoid (AR) adalah suatu penyakit autoimun (penyakit yang
terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri yang
mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang
persendian dan anggota gerak. Penyakit ini menimbulkan rasa nyeri dan kaku
pada sistem muskuloskeletal yang terdiri dari sendi, tulang, otot, dan jaringan ikat
(Sakasmita, 2012)
Rematik adalah penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi sistemik
yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, tetapi terutama menyerang
fleksibel (sinovial) sendi. Menurut World Health Organisation (WHO) (2016) 335
juta penduduk di dunia yang mengalami Rematik. Sedangkan prevalensi Rematik
tahun 2004 di Indonesia mencapai 2 juta jiwa, dengan angka perbandingan pasien
wanita tiga kali lipatnya dari laki-laki. Di Indonesia jumlah penderita Rematik
pada tahun 2011 diperkirakan prevalensinya mencapai 29,35%, pada tahun 2012
prevalensinya sebanyak 39,47%, dan tahun 2013 prevalensinya sebanyak 45,59%
dan pada tahun 2014 prevalensi Rematik di Sulawesi Utara sebanyak 24,7%.
Rematik adalah suatu penyakit yang menyerang sendi, dan dapat menyerang siapa
saja yang rentan terkena penyakit rematik. Oleh karena itu, perlu kiranya
mendapatkan perhatian yang serius karena penyakit ini merupakan penyakit
persendian sehingga akan mengganggu aktivitas seseorang dalam kehidupan
sehari-hari. Rematik paling banyak ditemui dan biasanya dari faktor, genetik, jenis
kelamin, infeksi, berat badan/obesitas, usia, selain ini faktor lain yang
mempengaruhi terhadap penyakit Rematik adalah tingkat pengetahuan penyakit
Rematik sendiri memang masih sangat kurang, baik pada masyarakat awam
maupun kalangan medis (Mansjoer, 2011).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Anatomi Fisiologi Arthritis rematoid?
2. Apa yang di maksud dengan Arthritis rematoid?
3. Bagaimana etiologi Arthritis rematoid?
4. Bagaimana klasifikasi Arthritis rematoid?
5. Bagaimana patofisiologi Arthritis rematoid?
6. Bagaimana Phatway Arthritis rematoid?
7. Bagaimana manifestasi klinis dari Arthritis rematoid?
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang Arthritis rematoid?
9. Bagaimana penatalaksanaan Arthritis rematoid?
10. Bagaimana asuhan keperawatan dari Arthritis rematoid?
11. Bagaimana terapi titik bekam pada Penyakit rheumatik arthritis?
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami Anatomi Fisiologi dari Arthritis rematoid
2. Untuk memahami pengertian dari Arthritis rematoid
3. Untuk memahami etiologi Arthritis rematoid
4. Untuk memahami klasifikasi Arthritis rematoid
5. Untuk memahami patofisiologi dari Arthritis rematoid
6. Untuk memahami phatway Arthritis rematoid
7. Untuk memahami manifestasi klinis
8. Untuk memahami pemeriksaan penunjang Arthritis rematoid
9. Untuk memahami penatalaksanaan Arthritis rematoid
10. Untuk memahami asuhan keperawatan
11. Untuk mengetahui terapi Titik bekam untuk Penyakit rheumatik arthritis

1.4 Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan
Makalah ini bagi Institusi pendidikan kesehatan adalah untuk mengetahui
tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik dalam menelaah
suatu fenomena kesehatan yang spesifik tentang penyakit
2. Bagi Tenaga Kesehatan (Perawat)

2
Makalah ini bagi tenaga kesehatan khususnya untuk perawat
adalah untuk mengetahui pentingnya bagaimana pelayanan yang tepat
kepada penderita
3. Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik penyusun maupun pembaca
adalah untuk menambah wawasan terhadap seluk beluk tentang
penyakit

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi


1. Anatomi

2. Fisiologi
1. klasifikasi umum persendian (Slowane, 2008)
Suatu artikulasli atau persendian terjadi saat permukaan dan dua tulang
bertemu. adanya pergerakan atau tidak bergantung pada sambungannya.
Persendian dapat diklasifikasi menurut struktuk (berdasarkan ada tidaknya rongga
persendian di antara tulang-tulang yang berarti kulasi dan jenis jaringan ikat yang
berhubungan dengan persendian tersebut): dan menurut fungsi persendian
(berdasarkan jumlah gerakan yang mungkin dilakukan pada persendian).
2. Klasifikasi struktutal persendian
a. Persendian fibrosa tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh
dengan jaringan ikat fibrosa.

4
b. Persendian kartilago tidak memllikl rongga sendi dan diperkokoh
dengan jaringan kartilago.
c. Persendian sinovial memllikt rongga sendi dan diperkokoh dengan
kapsul dan ligamen artikular yang membungkusnya.
3. Klasifikasi Fungsional persendian
a. Sendi sinartrosis atau sendi mati secara struktural. persendian ini
dibungkus dengan jaringan ikat fibrosa atau kartllago.
a) Satura adalah sendi yang dihubungkan dengan jaringan ikat
fibrosa rapat dan hanya ditemukan pada tulang tengkorak.
Contoh sutura adalah sutura sagital dan sutura parietal.
b) Sinkondrosis adalah sendi yang tulang-tulangnya
dihubungkan dengan kartilago hialin. Salah satu contohnya
adalah lempeng epifisis sementara antara epifisis dan
diafisis pada tulang panjang seorang anak. Saat
sinkondrosis sementara berosifikasi. maka bagian tersebut
dinamakan sinostosis.
b. Amfiartrosis adalah sendi dengan pergerakan terbatas yang
memungklnkan terjadinya sedikit gerakan sebagai respons terhadap
torsi dan kompresi.
a) Simfisis adalah sendi yang kedua tulangnya dihubungkan
dengan diskus kartilago. yang menjadi bantalan sendi dan
memungkinkan terjadinya sedikit gerakan. Contoh simflsis
adalah simfisis pubis antara tulang-tulang pubis dan diskus
intervertebralis antar badan vertebra yang berdekatan.
b) Sindesmosis terbentuk saat tulang-tulang yang berdekatan
dihubungkan dengan serat-serat .jaringan ikat kolagen.
Contoh sindesmosis dapat ditemukan pada tulang yang
terletak bersisian dan dihubungkan dengan membrane
interoseus. seperti pada tulang radius dan ulna. serta tibia
dan fibula.
c) Gomposis adalah sendi dimana tulang berbentuk kerucut
masuk dengan pas dalam kantong tulang. Seperti pada gigi

5
yang tertanam pada alveoli (kantong) tulang rahang. Pada
contoh tersebut, jaringan ikat fibrosa yang terlibat adalah
ligamen peridontal.
c. Diartrosis adalah sendi yang dapat bergerak bebas, disebut juga
sendi sinovial (berasal dari kata Yunani yang berarti “dengan
telur“). Sendi ini memiliki rongga sendi yang berisi cairan sinovial.
suatu kapsul sendi (artikular) yang menyambung kedua tulang, dan
ujung tulang pada sendi sinovial dilapisi kartilago artikular
a) Lapisan terluar kapsul sendi terbentuk dari jaringan ikat
fibrosa rapat berwarna putih yang memanjang sampai
bagian periosteum tulang yang menyatu pada sendi.
a) Ligamen adalah penebalan kapsul yang berfungsi untuk
menopang kapsul sendi dan memberikan stabilitas.
b) Ligamen dapat menyatu dalam kapsul atau terpisah dari
kapsul melalui envaginasi kapsul.
c) Lapisan terdalam kapsul sendi adalah membrane synovial
yang melapisi keseluruhan sendi. Kecuali pada kartilago
artikular.
d) Membran sinovial mensekresi cairan sinovial. materi kental
yang jernih seperti putih telur. Materi ini terdiri dari 95%
air dengan pH 7.4 dan merupakan campuran polisakarida
(sebagian besar asam hialuronat) protein, dan lemak.
a) Cairan sinovial berfungsi untuk melumasi dan memberikan
nutrisi pada permukaan kartilago artikular. Cairan ini juga
mengandung sel fagosit untuk mengeluarkan fragmen
jaringan mati (debris) dari rongga sendi yang cedera atau
terinfeksi.
b) Pada beberapa sendi sinovial, seperti persendian lutut.
terdapat diskus artikular (meniskus) fibrokartilago.

a. Diskus artikular memodifikasi bentuk permukaan tulang


yang berartikulasi untuk mempermudah gerakan.
memperbesar stabilitas atau untuk meredam goncangan.

6
b. Cedera pada diskus artikular lutut biasanya disebut
robekan kartilago.
4. Bursa adalah kantong tertutup yang dilapisi membran sinovial, dan
ditemukan di luar rongga sendi. Kantong ini terletak di bawah tendon atau
otot dm dapat ditemukan di area percabangan tendon atau otot di atas
tulang yang menonjol atau secara subkutan jika kulit terpapar pada friksi,
seperti pada siku atau tempurung lutut
2.2 Definisi
Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang
menyebabkan peradangan kronis pada sendi. (Syamsuhidajat, 2010 dalam lutfi
2016)
Artritis Reumatoid (AR) adalah suatu penyakit autoimun (penyakit yang
terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri yang
mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang
persendian dan anggota gerak. Penyakit ini menimbulkan rasa nyeri dan kaku
pada sistem muskuloskeletal yang terdiri dari sendi, tulang, otot, dan jaringan ikat
(Sakasmita, 2012)
Rheumatoid Arthritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronik yang
penyebabnya tidak diketahui.Adanya pemicu eksternal seperi merokok karna
tulang akan mengalami pengeruhan dan akan mengakibatkan pengapuran pada
tulang sendi, infeksi, atau trauma yang memicu reaksi autoimun dapat
menyebabkan hipertrofi sinovial dan peradangan sendi kronis. salah satu teori nya
adalah akibat dari sel darah putih yang berpindah dari aliran darah ke membrane
yang berada di sekitar sendi.
Hal ini terjadi pada individu yang rentan secara genetik (Temprano, 2014)
rheumatoid arthritis (RA) merupakan salah satu penyakit autoimun berupa
inflamasi arthritis pada pasien dewasa (Singh et al., 2015 dalam lutfi 2016)
Rasa nyeri pada penderita RA pada bagian sinovial sendi, sarung tendon,
dan bursa akan mengalami penebalan akibat radang yang diikuti oleh erosi tulang
dan destruksi tulang disekitar sendi (Syamsuhidajat, 2010 dalam lutfi 2016)
hingga dapat menyebabkan kecacatan (Yazici & Simsek, 2010 daam lutfi 2016).

7
2.3 Etiologi
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. namun factor predisposisinya
adalah mekanisme imunitas (antigen-antibodi), faktor metabolik, dan infeksi virus
(Surjana, 2009).
1. Autoimun
Sistem imun menyerang synovial (lapisan yang mengelililingi sendi atau
sebagai pelumas). Inflamasi yang dihasilkan menebalkan synovial, yang
akhirnya merusak tulang dalam sendi. Penyakit ini menyerang persendian
dan anggota gerak.
2. Metabolic
Heat Shock Protein (HSP), merupakan protein yang diproduksi sebagai
respon terhadap stres. Protein ini mengandung untaian (sequence) asam
amino homolog. Diduga terjadi fenomena kemiripan molekul dimana
antibodi dan sel T mengenali epitop HSP pada agen infeksi dan sel Host.
Sehingga bisa menyebabkan terjadinya reaksi silang Limfosit dengan sel
Host sehingga mencetuskan reaksi imunologis (Suarjana, 2009).
3. Faktor Infeksi
Beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk semang (host)
dan merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga muncul timbulnya
penyakit RA (Suarjana, 2009).
4. Factor genetic, Perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental
Corticotraonin Releasing Hormone yang mensekresi
dehidropiandrosteron (DHEA), yang merupakan substrat penting dalam
sintesis estrogen plasenta. Dan stimulasi esterogen dan progesteron pada
respon imun humoral (TH2) dan menghambat respon imun selular (TH1).
Pada RA respon TH1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesteron
mempunyai efek yang berlawanan terhadap perkembangan penyakit ini
(Suarjana, 2009).
5. Factor pemicu lingkungan seperi merokok karna tulang akan mengalami
pengeruhan dan akan mengakibatkan pengapuran pada tulang sendi.factor
injeksi mungkin disebabkan oleh virus dan organisme mikroplasma atau
group difterioid yang menghasilkan antigen kolagen tipe H dari tulang

8
rawan sendi penderita. Kelainan yang dapat terjadi pada suatu atritis
rheumatoid yaitu:

1. Kelainan pada daerah artikuler


a. Stadium 1 (stadium sinovitis)
b. Stadium ll (stadium destruksi)
c. Stadium Ill (stadium deformitas)
2. Kelainan pada jaringan ekstra-artikuler
Perubahan patologis yang dapat terjadi pada jaringan ekstra-artikuler
adalah:
1. Otot: terjadi miopati
2. Nodui subkutan
3. Pembuluh dafah perifer: terjadi proliferasi tunika intima, lesi pada
pembuluh darah arterial dan venosa
4. Keienjar limfe: terjadi pembesaran limfe yang berasal dari aloiran limfe
sendi, hiperplasi folikuler, peningkatan aktivitas system retikuloendotelial
dan proliferasi yang mengakibatkan splenomegali
5. Saraf: terjadi nekrosis fokal, reaksi epiteloid serta infiltrasi leukosit
6. Visera (Nurrarif, 2015)

2.4 Klasifikasi
Buffer (2010) mengklasifikasi arthritis rheumatoid menjadi 4 tipe, yaitu:
a) Arthritis Rheumatoid Klasik
Pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
b) Arthritis Rheumatoid Deficit
Pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
c) Probable Arthritis Rheumatoid
Pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
d) Possible Arthritis Rheumatoid

9
Pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan [ CITATION
NsR14 \l 1033 ]

2.5 Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago
dari sendi. Pada persendian ini granulasi (jaringan fibrosa) membentuk panus
(melebar), atau penutup yang menutupi kartilago. Panus masuk ke tulang sub
chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis (cedera sel). Tingkat erosi
dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan
kartilago sangat luas maka terjadi adhesi(gaya tarik menarik molekul yang tidak
sejenis) diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu
(ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi
lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.
Invasi (masuknya virus) dari tulang sub chondrial bisa menyebkan
osteoporosis setempat. Lamanya artritis reumatoid berbeda dari tiap orang.
Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada
orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.
Yang lain. terutama yang mempunyai faktor reumatoid (seropositif gangguan
reumatoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
Pada Artritis reumatoid, reaksi autoimun terutama terjadi pada jaringan
sinovial. Proses fagositosis (sel sendiri yang memakan sel-sel lain) menghasilkan
enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga
terjadi edema, proliferasi (mengalami pengulangan tanpa hambatan) membran
sinovial, dan akhirnya membentuk panus. Panus akan meghancurkan tulang rawan
dan menimbulkan erosi tulang, akibatnya menghilangkan permukaan sendi yang
akan mengalami perubahan generative dengan menghilangnya elastisitas otot dan
kekuatan kontraksi otot (Sylvia, 2016)

10
Phatway
Faktor Pencetus:
Bakteri, mikroplasma, atau
virus

Penyakit Menginfeksi
autoimun Sendi secara
antigenik

Predisposisi Individu yang


Genetik mengidap AR
membentuk antibodi Reaksi
IgM autoimun dalam
jaringan sinovial
(antibodi IgG)

Pelepasan
Faktor Reumatoid
(FR)
Respon IgG awal
menghancurkan
FR menempati mikroorganisme
dikapsula sendi

Inflamasi Kronis Pada Tendon,


Ligamen juga terjadi deruksi jaringan

Akumulasi Fagositosis Pembentukan


Sel Darah Putih ektensif Jaringan Parut

Pemecahan
Terbentuk Kolagen Kekakuan sendi
nodul- nodul
rematoid
Edema, poliferasi Rentang Gerak
membrane sinovial Berkurang

Kerusakan
sendi Progresif
Atrofi Otot
Membrane sinovium
menebal & hipertropi
Sendi terkikis
11
Gangguan
Panas Citra Tubuh

Kartilago dirusak

Deformitas Erosi Sendi Nyeri


Sendi dan Tulang

Hambatan Menghilangnya Nyeri Akut


Mobilitas Fisik permukaan sendi

Kurangnya
Pengetahuan
Penurunan elastisitas
dan kontraksi otot

Defisiensi
Intoleransi Pengetahuan
Aktivitas

12
2.7 Manifestasi Klinis
Gejala awal terjadi pada beberapa sendi sehingga disebut poli atritis
rheumatoid. Persendian yang paling sering terkena adalah sendi tangan,
pergelangan tangan, sendi lutut, sendi siku, pergelangan kaki, sendi bahu serta
sendi panggul dan biasanya bersifat bilateral/simetris. Tetapi kadang-kadang
hanya terjadi pada satu sendi disebut atritis rheumatoid mono-artikular.
(Chairuddin, 2008)
1. Stadium awal Malaise, penurunan BB, rasa capek, sedikit demam dan
anemia. Gejaia lokal yang berupa pembengkakan, nyeri dan gangguan
gerak pada sendi matakarpofalangeal Pemeriksaan fisik: tenosinofitas pada
daerah ekstensor pergelangan tangan dan fleksor jari-jari. Pada sendi besar
(misalnya sendi lutut) gejala peradangan lokal berupa pembengkakan nyeri
serta tanda-tanda efusi sendi
2. Stadium lanjut Kerusakan sendi dan deformitas yang bersifat permanen,
selanjutnya timbul/ketidakstabilan sendi akibat rupture tendo/Iigament
yang menyebabkan deformitas rheumatoid yang khas berupa deviasi ulnar
jari~ jari, deviasi radial/volar pergelangan tangan serta valgus lutut dan
kaki Untuk menegakan diagnosis dipakai kriteria diagnosis dari ACR
tahun 1987 dimana untuk mendiagnosis AR diperlukan 4 dari 7 kriteria
tersebut. Kriteria 1-4 tersebut harus minimal diderita selama 6 minggu

Sendi-sendi besar, seperti bahu dan lutut, sering menjadi manifestasi klinis
tetap, meskipun sendi-sendi ini mungkin berupa gejala asimptomatik setelah
bertahun-tahun dari onset terjadinya (Longo, 2012).

13
Gambar 2.3 Sendi Metacarpopalangeal dan proksimal interfalangeal yang
bengkak pada penderita artritis reumatoid (Longo, 2012).
Distribusi sendi yang terlibat dalam RA cukup bervariasi. Tidak
semua sendi proporsinya sama, beberapa sendi lebih dominan untuk
mengalami inflamasi, misalnya sendi sendi kecil pada tangan (Suarjana,
2009).
Manifestasi ekstraartikular jarang ditemukan pada RA
(Syamsyuhidajat, 2010). Secara umum, manifestasi RA mengenai hampir
seluruh bagian tubuh. Menurut Longo, 2012 Manifestasi ekstraartikular
pada RA, meliputi:
a. Konstitusional, terjadi pada 100% pasien yang terdiagnosa RA. Tanda
dan gejalanya berupa penurunan berat badan, demam >38,3oc , kelelahan
(fatigue), malaise, depresi dan pada banyak kasus terjadi kaheksia, yang
secara umum merefleksi derajat inflamasi dan kadang mendahului
terjadinya gelaja awal pada kerusakan sendi (Longo, 2012).
b. Nodul, terjadi pada 30-40% penderita dan biasanya merupakan level
tertinggi aktivitas penyakit ini. Saat dipalpasi nodul biasanya tegas, tidak
lembut, dan dekat periosteum, tendo atau bursa. Nodul ini juga bisa
terdapat di paru-paru, pleura, pericardium, dan peritonuem. Nodul
bisanya benign (jinak), dan diasosiasikan dengan infeksi, ulserasi dan
gangren (Longo, 2012).
c. Sjogren’s syndrome, hanya 10% pasien yang memiliki secondary
sjogren’s syndrome. Sjogren’s syndrome ditandai dengan
keratoconjutivitis sicca (dry eyes) atau xerostomia (Longo, 2012).
d. Paru (pulmonary) contohnya adalah penyakit pleura kemudian diikuti
dengan penyakit paru interstitial (Longo, 2012).
e. Jantung (cardiac) pada <10% penderita. Manifestasi klinis pada jantung
yang disebabkan oleh RA adalah perikarditis, kardiomiopati, miokarditis,
penyakti arteri koreoner atau disfungsi diastol (Longo, 2012).
f. Vaskulitis, terjadi pada <1% penderita, terjadi pada penderita dengan
penyakit RA yang sudah kronis (Longo, 2012).

14
g. Hematologi berupa anemia normositik, immmune mediated
trombocytopenia dan keadaan dengan trias berupa neutropenia,
splenomegaly,dan nodular RA sering disebut dengan felty syndrome.
Sindrom ini terjadi pada penderita RA tahap akhir (Longo, 2012).
h. Limfoma, resiko terjadinya pada penderita RA sebesar 2-4 kali lebih
besar dibanding populasi umum. Hal ini dikarenakan penyebaran B-cell
lymphoma sercara luas (Longo, 2012).
2.8 Pemeriksaan Penunjang
1. Faktor Reumatoid, Fiksasi lateks, Reaksi-reaksi aglutinasi
2. Laju Endap Darah: Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin
kembali normal sewaktu gejala-gejala meningkat
3. Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi (kambuh).
4. Sel Darah Putih: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi
(Peredangan).
5. Haemoglobin: umumnya menunjukkan anemia sedang.
6. lg (lg M dan lg G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun
sebagai penyebab AR.
7. Sinar x dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan
lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan
(perubahan awal) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil
jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara
bersamaan.
8. Scan radionukhda : identifikasi peradangan sinovium
9. Artroskopi Langsung, Aspirasi cairan sendi sinovial
10. Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas. (Nurrarif, 2015)
2.9 Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
1. Pendidikan kesehatan penting dalam membantu pasien untuk memahami
penyakit mereka dan belajar bagaimana cara mengatasi konsekuensinya.
2. Fisioterapi dan terapi fisik dimulai untuk membantu meningkatkan
kekuatan otot, serta mengurangi rasa sakit.

15
3. Terapi okupasi dimulai untuk membantu pasien untuk menggunakan sendi
dan tendon efisien tanpa menekankan struktur ini, membantu mengurangi
ketegangan pada sendi dengan splint dirancang khusus, serta menghadapi
kehidupan sehari-hari melalui adaptasi kepada pasien dengan lingkungan
dan penggunaan alat bantu yang berbeda.
4. Tindakan ortopedi meliputi tindakan bedah rekonstruksi.

Farmakologis

1. DMARD’s merupakan ukuran yang paling penting dalam pengobatan


sukes AR. DMARD’s dapat memperlambat atau mencegah perkembangan
kerusakan dan hilangnya fungsi sendi. Terapi DMARD yang sukses dapat
menghilangkan kebutuhan untuk obat antiinflamasi atau analgesic lainnya.
2. Glukokortikoid adalah obat antiinflamasi manjur dan biasanya digunakan
pada pasien dengan AR untuk menjembatani waktu sampai DMARD’s
efektif. Dosis prednisone 10 mg per hari biasanya digunakan, namun
beberapa pasien mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi.
3. NSAID menganggu sintesis prostaglandin melalui penghambatan enzim
siklooksigenase (COX) sehinnga mengurangi pembengkakan dan rasa
sakit.
4. Analgesik, seperti asetaminefon/parasetamol, tramadol, kodein, opiate, dan
berbagai obat analgesic lainnya juga dapat digunakan untuk mengurangi
ras sakit. (Helmi, 2014)

16
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
3.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Pada identitas klien terdapat nama, jenis kelamin, umur, agama,
pekerjaan, alamat, tanggal pengkajian, diagnose medis dan sumber
informasi.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan keluhan yang di prioritaskan dan dapat
mengancam jiwa pasien. Keluhan utama yang diambil hanyalah satu
keluhan. Biasanya pada pasien dengan penyakit Rheumatoid Arthritis
adanya keluhan sakit dan kekauan pada tangan, atau pada tungkai.
3. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Penyakit Sekarang
Penyakit atau sesuatu yang dikeluhkan saat masuk rumah
sakit atau alasan pada saat masuk rumah sakit. Pasien atau
keuarga menceritakan semua keluhan yang terjadi sebelum
sakit.
b) Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya suatu penyakit atau keluhan yang pernah
berhubungan dengan penyakit sekarang.
c) Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya suatu penyakit keturunan atau penyakit menular
dari keluarga.
4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan adalah:
a) inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi
(bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit,
dan pembengkakan.
b) melalukan pengukuran passive range of matoin pada sendi-
sendi synovial, catat bila ada deviasi(keterbatasan gerak

17
sendi), catat bila ada krepitasi, catat bila terjadi nyeri saat
sendi di gerakkan
c) lakukan inspeksi dan palpasi otot skelet secara bilateral,
catat bila ada atrofi, tonus yang berkurang, ukur kekuatan
otot.
d) kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
e) kaji aktifitas atau kegiatan sehari-hari.
a. Keadaan Umum
. .Pada keadaan umum ini yang perlu di periksa adalah
Tekanan Darah, suhu, RR, nadi, dan berat badan
b. Kesadaran
Pada saat pemeriksaan pasien dilihat kesadarannya.
1. Head To Toe
a. Kepala
Inspeksi: bentuk kepala, kulit kepala dan lihat
kebersihan kepala.
Palpasi: ubun-ubun, benjolan, massa, dan nyeri tekan.
b. Rambut
Inspeksi: Warna, penyebaran, kebersihan, bau rambut
Palpasi: ketebalan rambut
c. Wajah
Inspeksi: kesimetrisan, bentuk wajah, warna, kebersihan
wajah, adanya odem.
Palpasi; nyeri tekan, benjolan dan massa.
d. Mata
Inspeksi: kesimetrisan mata, konjungtiva, sclera, dan
reflek cahaya
Palpasi: nyeri tekan.
e. Hidung
Inspeksi: kesimetrisan, warna, septum nasi, kebersihan
rongga hidung.
Palpasi: nyeri tekan

18
f. Telinga
Inspeksi: warna telinga, kesimetrisan, lubang telinga,
ukuran telinga, kebersihan telinga.
Palpasi: nyeri tekan dan kelenturan daun telinga.
g. Mulut dan Faring
Inspeksi: lihat bibir apakah pucat, tidak ada luka, tidak
sianosis, dan apakah kering. Lihat kebersihan gigi, lidah
dan gusi
h. Leher
Inspeksi : benjolan, warna, permukaan, kesimetrisan,
keadaan tonsil.
Palpasi : suhu, nyeri tekan, kelenjar tyroid, vena
jugularis, denyut karotis.
i. Integumen dan Kuku
Inspeksi: warna kulit, warna kuku, kebersihan kulit dan
kuku.
Palpasi: kelembapan kulit, suhu kulit tekstur kulit, dan
kuku.
j. Payudara dan Ketiak
Inspeksi; kesimetrisan, warna, kebersihan.
Palpasi: benjolan, masa.
k. Thorak
Inspeksi: bentuk thorak, pola nafas, retraksi, batuk.
Palpasi: nyeri tekan
Perkusi: suara sonor
Auskultasi: suara vesikuler
l. Abdomen
Inspeksi: warna, bentuk, benjolan, adanya benjolan,
massa, kebersihan.
Auskultasi: bising usus
Palpasi: nyeri tekan,
Perkusi: suara tympani

19
m. Anus
Inspeksi: warna, kebersihan
Palpasi: nyeri tekan dan adanya benjolan
n. Genetalia
Inspeksi: warna, kebersihan
Palpasi: nyeri tekan, benjolan, massa
o. Muskuloskeletal
Inspeksi: kesimetrisan
Palpasi: adanya edema
c. Neurologis
Terdapat reflek pada bisep, trisep, patella, achiles dan babinski.
Data tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya, (mis.,
mata, jantung, paru-paru, ginjal), tahapan (mis., eksaserbasi akut atau remisi)
dan keberadaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
a) Aktivitas/Istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress
pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan
simetris.
Limitasi fungsional yang berpengaruh terhadap gaya hidup, waktu
senggang, pekerjaan.
Keletihan.
Tanda : Malaise.
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit; kontraktur/kelainan pada
sendi dan otot.
b) Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/kaki (mis., pucat intermiten,
sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
c) Integritas Ego
Gejala : Faktor-faktor stress akut/kronis; mis., finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi, (mis.,
ketergantungan pada diri orang lain).

20
d) Makanan/Cairan
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/mengkonsumsi makanan/
cairan adekuat; mual.
Anoreksia.
Kesulitan untuk mengunyah (keterlibatan TMJ).
Tanda : Penurunan berat badan.
Kekeringan pada membran mukosa.
e) Neurosensori
Gejala : Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki., hilangnya sensasi pada
jaringan.
Pembengkakan sendi simetris.
f) Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri mungkin/mungkin tidak disertai oleh
pembengkakan jaringan lunak pada sendi.
Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pada pagi hari).
g) Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang; nodul subkutaneus.
Lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga.
Demam ringan menetap.
Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
5. Analisa Data
a. Data subyektif: data didapatkan dari pasien dengan anamnesa
b. Data objektif: data didapatkan dari hasil pemeriksaan
3.2 Diagnosa Keperawatan (NANDA,2015-2017)
a. Nyeri Akut
b. Hambatan mobilitas fisik
c. Ganggua citra tubuh
d. Defisiensi pengetahuan
e. Intoleransi Aktivitas

21
3.3 Intervensi Keperawatan
a. Nyeri akut
 NOC

No Indikator 1 2 3 4 5
1 Menggambarkan factor penyebab
2 Menggunakan tindakan pencegahan
3 Meggunakan tindakan pengurangan
nyeri tanpa analgesik
4 Menggunakan analgesik yang
direkomendasikan
Keterangan :
1 = Berat
2 = Cukup berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = Tidak ada
 NIC
1. Pemberian anastesi
a. Lakukan dan dokumentasikan riwayat kesehatan pasien dan
pengkajian fisik, evaluasi konndisi sebelumnya, alergi, dan
konta indikasi pada anastesi tertentu yangb khusus atau teknik
anastesi
b. Kolaborasikan denga penyedia perawatan yang terlibat
mengenai keseluruhan fase dari perawatan anastesi
c. Berikan anestesi konsisten dengan setiap kebutuhan fisiologi
pasien, permintaan pasien, penilain klinis, dan standar nurse
anesthesia practice atau praktik perawat anastesi
2. Pengurangan kecemasan
a. Gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan
b. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang akan dirasakan
yang mungkin dialami klien selama prosedur (dilakukan)

22
Berikan objek yang menunjukkan perasaan
aman
b. Hambatan Mobilitas Fisik
 NOC

indikator Keterangan 1 2 3 4 5
210901 Nyeri
210902 Cemas
210903 Mendesah
210917 Otot pegal
210918 Meringis
Ket :
1 = berat
2 = cukup berat
3 = sedang
4 = ringan
5 = tidak ada
 NIC
1. peningkatan latihan kekuatan
a. bantu klien dalam mengeksporasi nilai, kepercayaan, dan
tujuannya dalam melakukan latihan otot.
b. modifikasi gerakan yang resiprokal (timbal) dan metode
dalam mengaplikasikan resistensi untuk pasien yang tetap duduk
di kursi maupun tempat tidur
2. peningkatan latihan, peregangan
a. instruksikan memulai latihan pada otot atau sendi yang tidak
kaku atau pegal secara bertahap.
b. instruksikan untuk menghindari gerakan cepat atau memantul
untuk mencegah stimulasi berlebihan dari leflek
3. terapi latihan pergerakan
a. berikan pasien pakaian yang tidak mengekan
b. sediakan tempat tidur berketinggian rendah

23
3.4 Terapi Titik Bekam
Bekam didefinisikan sebagai terapi uno dengan menggunakan sebuah
gelas pada daerah tertentu pada kulit yang disayat ataupun tidak untuk
menghisapnya sehingga keluarlah darah pada daerah spesifik tersebut
akibat perbedaan tekanan udara di dalamnya.(Suarsyaf.P,
2012).Sedangkan dalam perspektif kedokteran barat, bekam didefinisikan
sebagai sebuah terapi ekstraksi darah dari titik titik spesifik pada kulit yang
diinsisi. (Suarsyaf.P,2012).
Terapi bekam dapat dibedakan menjadi terapi bekam basah dan terapi
bekam kering. Terapi bekam basah yaitu melukai bagian tubuh yang
dibekam setelah dilakukan  bekam kering menggunakan jarum tajam
(lancet) atau sayatan pisau steril (surgical blade) lalu disekitarnya dihisap
dengan alat cupping set atau hand pump untuk mengeluarkan darah kotor
dari dalam tubuh. Lamanya tiap hisapan 3-5 menit dan maksimal 9
menit.Penghisapan tidak lebih dari 7 kali penghisapan.(Kasmui,
2010).Sedangkan, terapi bekam kering atau bekam angin, yaitu menghisap
permukaan kulit dan memijat tempat sekitarnya tanpa mengeluarkan darah
kotor. Kulit yang dibekam akan tampak merah kehitam-hitaman selama 3
hari atau akan terlihat memar selama 1-2 pekan. Sedotan pada bekam
kering hanya sekali dan dilakukan selama 5-10 menit. (Fatahillah,2006).
A. Tujuan Titik Bekam
a. Meningkatkan sirkulasi darah pada persendian yang mengalami
sakit
b. Mengurangi peradangan sendi
c. Mengurangi pembengkakan di sekitar persendian
d. Meringankan rasa nyeri pada sendi
e. Meningkatkan kekebalan tubuh
f. Meminimalisir kerusakan pada tulang rawan
g. Mengurangi kram otot disekitar sendi

24
B. Prosedur Titik Bekam
a. Titik bekam untuk penyakit rheumatoid arthritis

1. Titik al-kaahil
Terletak di proxesus spinosus cervikalis VII,
merupakan titik pertemuan antara meredian usus
besar, lambung, usus kecil, kandung kemih, empedu
dan three energi serta. Titik ini berfungsi untuk nyeri
rematik otot pundak dan punggung.
2. Titik ala warak
Terletak dipangkal paha belakang pinggul. Berfungsi
untuk nyeri bagian belakang paha, nyeri persendian
sakro-lumbalis, sciatica, arthritis sendi tungkai.
3. Titik zhohrul qodam
Terletak dipunggung kaki (OS tersalia) berfungsi
untuk paralisis rasialis, nyeri Tungkak, dan tungkai
lemah.
4. Titik iltiwa'
Terletak di bawah mata kaki bagian dalam (malleolus
medialis) agak ke bawah ke arah tumit. Berfungsi

25
untuk telinga berbunyi, nafas berat, nefritis kronis,
didirikan, konstipasi.
5. Titik saaq
Terletak ditungkai bawah antara lutut dan pergelangan
kaki, merupakan titik pertemuan antara Meridian
limpa, hati, dan ginjal. Berfungsi untuk penyakit
lambung dan limpa, tungkai bawah kesemutan dan
nyeri.
6. Titik ala zahrul qodami
Terletak di punggung kaki ( OS tersalia ) berfungsi
untuk paralisis, nyeri Tungkak, tungkai lemas.
b. Prosedur bekam basah

1. Persiapan alat : kop/gelas bekam, handspump (pompa), pisau


bedah, kassa steril, iodine, desinfektan, larutan H202, minyak
zaitun, bisturi, skapel, klem, kain duk, sarung, tangan, masker,
mangkom/cawan, nampan, tempat sampah, meja, kursi dan bed
periksa. Tabung oksigen untuk antisipasi jika pasien atau syok.

2. Persiapan pasien dengan memberikan support agar tidak


gelisah dan takut bagi yang pertama dibekam. Berikan
penjelasan bahwa tidaklah sakit dan agar lebih tenang
bimbinglah pasien untuk berdoa. Dan posisikan pasien sesuai
yang akan dibekam.

3. Tubuh diurut atau dilakukan massage dengan minyak zaitun


selama kurang lebih 5 menit sebelum dilakukan bekam

4. Sterilkan bagian tubuh yang akan dibekam dengan disinfektan

5. Lakukan pemvakuman pada permukaan kulit dari titik-titik


yang dituju dengan alat bekam dan biarkan selama 10-15 menit

26
6. Untuk bekam kering yaitu gelas dibiarkan berada pada tubuh
selama 3-5 menit setelah itu dicabut manfaat tahap ini yaitu
untuk memindahkan berbagai unsur kotor pada bagian2
penting dalam tubuh seperti persendian ke bagian-bagian
kurang penting seperti permukaan kulit. Pada bagian ini
anestesi.

7. Dengan menggunakan bedah standart kemudian dilakukan


penyayatan (jumlah 5-15 sayatan) dalam satut titik tergantung
diameter kop yang dipakai panjang sayatan 0,3-0,5 cm tipis
dan tidak boleh terlalu dalam dilakukan sejajar dengan garis
tubuh. Salah satu tanda sayatan baik adalah sesaat setelah
disayat, kuli tidak mengeluarkan darah akan tetapi setelah
disedot dengan alat maka darahnya baru keluar.

8. Alat bekam dilepaskan dan diurut kembali dengan


menggunakan minyak zaitun selama 2-3 menit sebagai
penutup terapi bekam kering.

9. Pada penyakit rheumatoid arthritis ini pelaksanaan terapi


bekam tidak boleh dilakukan pada daerah yang mengalami
peradangan.

BAB 4
PENUTUP
1.1 Kesimpulan

27
Arthritis rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian
(biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami perdangan, sehingga
terjadi pembengkakakn, nyeri dan sering kali akhirnya menyebabkan kerusakan
bagian dalam sendi. Tanda dan gejala pada umumnya berupa nyeri pada
persendian, bengkak (reumatid nodule), dan kekakuan pada sendi terutama setelah
bangun pada pagi hari. (Syamsuhidajat, 2010 dalam lutfi 2016)
Rematik adalah penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi sistemik
yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, tetapi terutama menyerang
fleksibel (sinovial) sendi. (Suarjana, 2009 dalam lutfi 2016)

1.2 Saran
Mengingat arthritis reumatid merupakan penyakit yang banyak dijumpai
pada lansia namun tidak menutup kemungkinan untuk menyerang usia muda
maka penanganan penyakit ini diupayakan secara maksimal dengan peningkatan,
prasarana dan sarana kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ethel, Slowane 2008 Anatomi Fisiologi untuk Pemula, Jakarta: EGC

28
Longo, Dan L. MD., Kasper, Dennis L. MD., et al. 2012. Harrison’s
Principle of Internal Medicine ed.18 chapter 231: Rheumatoid Arthritis. MeGra-
Hill Companies, Inc. USA
Nurrarif, Amin Huda dan Kusama Hardhi, 2015. Aplikasi Asuhan
Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic Noc, Yogyakarta:
Medi Action.
Ns. Reny Yuli Aspiani, S. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Gerontik Aplikasi NANDA, NIC dan NOC - Jilid 1. Jakarta : CV. TRANS INFO
MEDIA
Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Ed.6 ; Cet.1 ; Jil.II. Jakarta : EGC.
Rheumatoid arthritis in the year 2016. WHO.
Suarjana, Drs.H, Apt. 2009. Arthritis Rheumatoid Dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit dalam edisi V. Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Ali, Idrus, et al. interna
publishing. Jakarta.
Syaifuddin. 2011. Anatomi fisiologi: kurikulum berbasis kompetensi untuk
keperaatan dan kebidanan. Jakarta : EGC
Sjamsuhidajat, R, et al.2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-de jong
Edisi 3. EGC. Jakarta
Zairin Noor Helmi. 2014. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Salemba
Medika, Jakarta.
Kasmui. 2010. Bekam Pengobatan Menurut Sunnah Nabi, Semarang:
Komunitas Thibbun Nabawi “ISYFI”
Fatahillah, Ahmad. 2006. Keampuhan Bekam (Pencegahan dan
Penyembuhan Penyakit). Jakarta: Qultum Media.

29