Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

MERENCANAKAN KETANAGAN KEPERAWATAN SEDERHANA YANG SESUAI


KEBUTUHAN RUANG PERAWAT

Di susun oleh :
Kelompok 16
Alfiati : 14201.08.16003
Asmawati : 14201.08.16006
Innaytul maula : 14201.08.16014
Mardiana : 14201.08.16023
Musyarrofah : 14201.08.16028
Nanang Dias : 14201.08.16030
Zainullah : 14201.08.16053

PROGRAM STUDY SARJANA KEPERAWATAN


STIKES HAFSHAWATY PESANTREN ZAINUL HASAN
PAJARAKAN – PROBOLINGGO
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala
limpah rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini,
dan sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada proklamator sedunia,
pejuang tangguh yang tak gentar menghadapi segala rintangan demi umat manusia, yakni Nabi
Muhammad SAW.
Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas di STIKES Hafshawaty,
kami susun dalam bentuk makalah dengan judul “MERENCANAKAN KETANAGAN
KEPERAWATAN SEDERHANA YANG SESUAI KEBUTUHAN RUANG PERAWAT”
dan dengan selesainya penyusunan makalah ini, kami juga tidak lupa menyampaikan ucapan
terima kasih kepada:
1. KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH.MM. Selaku pengasuh pondok pesantren
Zainul Hasan Genggong
2. Dr.Nur Hamim.Kep., Ns., M.Kep. Selaku ketua STIKES Hafshawaty Zainul Hasan
Genggong
3. Sinta Wahyu Sari S.Kep.,Ns.,M.Kep.,SP.Mat Ketua Prodi S1 Keperawatan
4. Dodik Hartono, S.Kep.,Ns.,M.Tr.Kep. Selaku dosen Mata Ajar Keperawatan Maternitas
5. Santi Damayanti, sebagai kepala ruang perpustakaan
.
Pada akhirnya atas penulisan materi ini kami menyadari bahwa sepenuhnya belum
sempurna.Oleh karena itu kami dengan rendah hati mengharap kritik dan saran dari pihak dosen
dan para audien untuk perbaikan dan penyempurnaan pada materi makalah ini.

Probolinggo, 03 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................
A. Latar belakang.......................................................................................1
B. Rumusan masalah.................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................2
D. Manfaat.................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................
A. Definisi..................................................................................................3
B. PERMASALAHAN PENJADALAN....................................................3
C. PENJADALAN PERAATAN..............................................................4
D. UNDANG-UNDANG MENGENAI KERJA SHIFT PAGI SIANG DAN
MALAM.................................................................................................4
E. KARAKTERISTIK PENJADALAN PERAATAN..............................6
F. MODEL SEDEHANA PENJADALAN PERAATAN……..………6
G. METODE GOAL PROGRAM DAN LINEAR…………………….7
H. CARA MENGHITUNG TENAGA PERAAT………………………8

BAB III PENUTUP..........................................................................................


A. Kesimpulan ............................................................................................12
B. Saran.......................................................................................................12
DAFTAR PUSATAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen keperawatan secara singkat diartikan sebagai proses pelaksanaan pelayanan
keperwatan melalui upaya staf keperwatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan,
dan rasa aman kepada pasien atau keluarga serta masyarakat.
Manajemen keperawatan merupakan suatu proses yang dilaksanakan sesuai dengan pendekatan
system terbuka. Oleh karena itu manajemen keperawtan terdiri atas beberap komponen oleh tiap-
tiap komponen saling berinteraksi. Pada umumnya suatu system dicirikan oleh lima komponen,
yaitu input, proses, output, control,dan mekanisme umpan balik.
Aspek kesehatan merupakan kisaran hasil keperawatan yang berorientasi pada beberapa
dimensi pelayanan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat melalui upaya mencegah,
mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan. Aspek lingkungan merupakan area
kewenangan dan tanggung jawab keperawatan baik selama pasien berada dalam institusi
pelayanan maupun persiapan menjelang pulang.
Proses manajement keperawatan sejalan dengan proses keperawatan sebagai satu metode
perlakuan asuhan keperawatan secara professional , sehingga keduanya diharapkan saling
menopang. Sebagaimana proses keeprawatan, dalam manajement keperawatan terdiri dari
pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Karena
manajement keperawatan mempunyai kekhususan terhadap mayoritas tenaga dari pada seorang
pegawai, maka setiap tahapan didalam proses manajemnt lebih rumit disbandingkan proses
keperawatan.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana cara penghitungan shif ?
2. Bagaimana pembagian jumlah tenaga dalam kerja diruangan ?
3. Pembagian jadwal perawat ruangan ?
4. Bagaimana alokasi ?
C. Tujuan
1. Bagaimana cara penghitungan shif ?
2. Untuk mengetahui pembagian jumlah tenaga dalam kerja diruangan ?
3. Bagaimana jadwal perawat ruangan ?
4. Bagaimana alokasi?

D. Manfaat

1. Bagi Institusi Pendidikan

Manfaat makalah ini bagi Institusi pendidikan kesehatan adalah untuk mengetahui
tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik dalam meneliti suatu fenomena
kesehatan yang spesifik tentang trend issue keperawatan kritis pada acute coronary
syndrome

2. Bagi Tenaga Kesehatan (Perawat)


Manfaat makalah ini bagi tenaga kesehatan khususnya untuk perawat adalah
untuk mengetahui tentang program-program pembangunan kesehatan dalam
menanggulangi masalah kesehatan pada acute coronary syndrome

3. Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik penyusun maupun pembaca adalah
untuk menambah wawasan tentang manajement keperawatan.
BAB II
PEMBAHASAN

1. CARA PENGHITUNGAN TENAGA KERJA DALAM SHIF


a. Cara rasio
Metoda ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagai denominator personal yang
diperlukan.Metoda ini paling sering digunakan karena sederhana dan mudah.Metoda ini hanya
mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktivitas SDM rumah
sakit,da kapan personal tersebut dibutuhkan oleh setiap unit atau bagian rumah sakit yang
mebutuhkan.Bisa digunakan bila:
kemampuan dan sumber daya untuk prencanaan personal terbatas,jenis,tipe, dan volume
pelayanan kesehatan relatif stabil.Cara rasio yang umumnya digunakan adalah berdasarkan surat
keputusan menkes R.I. Nomor 262 tahun 2010 tentang ketenagaan rumah sakit,dengan standar
sebagai berikut :

Tipe RS TM/TT TPP/TT TPNP/TT TNM/TT

A&B 1/(4-7) (3-4)/2 1/3 1/1

C 1/9 1/1 1/5 ¾

D 1/15 ½ 1/6 2/3

Khusus Disesuaikan

Keterangan :
TM=Tenaga Medis
TT = Tempat Tidur
TPP = Tenaga Para Medis Perawatan
TPNP = tenaga para medis non perawatan
TNP = tenaga non media
b. Cara Need

Cara ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja yang diperhitungkan
sendiri dan memenuhi standar profesi.Untuk menghitung seluruh kebutuhan tenaga,diperlukan
terlebih dahulu gambaran tentang jenis pelayanan yang diberikan kepada klien selama di rumah
sakit. Misalnya saja untuk klien yang berobat jalan,ia akan melalui/mendapatkan pelayanan,
antara pembelian karcis, pemeriksaan perawat / dokter, penyuluhan, pemeriksaan laboratorium,
apotik dan sebagainya. Kemudian dihitung standar waktu yang diperlukan agar pelayanan itu
berjalan dengan baik. Hundgins(2013)menggunakan standar waktu pelayanan pasien

Contoh perhitunganya:

Rumah sakit A tipe B memberikan pelayanan kepada pasien rata-rata 500 orang perhari
dimana 50% adalah pasien baru,maka seorang pimpinan keperawatan akan memperhitungkan
jumlah tenaga sebagai berikut :

a. Tenaga yang diperlukan untuk bertugas di bagian pendaftaran adalah : (3+4)/2= 3,5 x
500/240 = 7,29 (7 orang tenaga) jika ia bekerja dari jam 08.00 sampai jam 12.00(240
menit).

b. Tenaga dokter yang dibutuhkan adalah : (15+1)/2=13×500/180=36,11 (36 orang


dokter),jika ia bekerja dari jam 09.00 sampai 12.00)(180 menit)

c. Tenaga asisten dokter yang diperlukan adalah (18+11)/2 = 14,5 x500/240=30,2 orang(30
oarang asisten dokter),jika bekerja dari jam 08.00sampai 12.00(240 menit).

d. Tenaga penyuluhan yang dibutuhkan adalah 5/12 =25,5 x500/240 = 53,13 (53 orang
tenaga penyuluhan),jika ia bekerja dari jam08.00 sampi12.00 (240 menit)

e. Tenaga laboratorium yang dibutuhkan adalah : (5+7)/2=6×500/240 =12,5 (13 oarang


tenaga laboratorium jika ia bekerja dari jam 08.00 sampai jam12.00(240 menit)

Untuk pasien rawat inap, Douglas (2011) menyampaikan standar waktu pelayanan pasien
rawat inap sebagai berikut :
a. Perawatan minimal memerlukan waktu : 1-2 jam/24 jam
b. Perawatan intermediet memerlukan waktu : 3-4 jam/24 jam
c. Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5-6 jam/24 jam

Dalam penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori tersebut di atas adalah
sebagai berikut :

a. Kategori I : Self care/perawatan mandiri

Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri,penampilan secara umum baik,tidak ada reaksi
emosional,pasien memerlukan orientasi waktu,tempat dan pergantian shift,ttindakan pengobatan
biasanya ringan dan simpel

b. Kategori II : intermediet care/perawatan sedang

Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu,mengatur pisisi waktu makan.meberi dorogan agar
mau makan,eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar
mandi.Penampilan pasien sakit sedang.Tindakan perawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda
vital,periksa urine reduksi,fungsi fisiologis,status emosinal,kelancaran drainage atau infus.Pasien
memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5-10 menit/shift atau 30-60
menit/shiftdengan mengobservasi side efek obat atau reaksi alergi.

c. Kategori III : Intensive care/perawatan total

Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan sendiri,semua dibantu oleh perawat


penampian sakit berat.pasien memerlukan observasi terus-menerus.

Dalam penelitian Douglas (2011) tentang jumlah tenaga pearawat di rumah sakit, didapatkan
jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore dan malam teragantung pada tingkat
ketergantungan pasien seperti pada table di bawah ini:

E. MACAM PEMBERIAN ASUPAN PASIEN DIRUANGAN


minimal Parsial Total
PAGI SIANG MALAM PAGI SIANG MALAM PAGI SIANG MALAM

0,17 0,14 0,10 0,27 0,15 0,07 0,36 0,30 0,20

0,34 0,28 0,20 0,54 0,30 0,14 0,72 0,60 0,40

0,51 0,42 0,30 0,81 0,45 0,21 1,08 0,90 0,60

Perawatan Minimal:

1) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri

2) Makan dan minum dilakukan sendir

3) Ambulasi dengan pengawasan

4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift

5) Pengobatan minimal, status psikologis stabil

6) Persiapan prosedur memerlukan pengobatan

Perawatan Parsial:

1) Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu

2) Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali

3) Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali

4) Folly cateter intake output dicatat

5) Klien dengan pasang infus, persiapan pengobatan memerlukan prosedur

Perawatan total:
1) Segalanya diberi bantuan

2) Posisi yang diatur, observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam

3) Makan memerlukan NGT, intravena terapi

4) Pemakaian suction

5) Gelisah/ disorientasi

Petunjuk Penetapan jumlah Klien Berdasarkan Derajad Ketergantungan:

a. dilakukan satu kali sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh perawat
yang sama selama 22 hari

b. Setiap klien dinilai berdasarkan criteria klasifikasi klien (minimal mmemenuhi tiga
kriteria)

c. Kelompok klien sesuai dengan klasifikasi dengan memberi tanda tally (I) pada kolom
yang tersedia sehingga dalam waktu satu hari dapat diketahui berapa jumlah klien yang
ada dalam klasifikasi minimal, parsial dan total

d. Bila klien hanya mempunyai satu criteria dari klasifikasi tersebut maka klien
dikelompokkan pada klasifikasi di atasnya.

Jadi rata-rata tenaga yang dibutuhkan untuk tiga shift adalah: 7 perawat. Berarti kebutuhan
untuk satu ruangan adalah 7 perawat + 1 Karu + 3 Katim + 2 cadangan = 13 perawat

d. Cara Demand

Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga mennurut kegiatan yang memang nyata
dilakukan oleh perawat.

Menurut Tutuko (2010) setiap klien yang masuk ruang gawat darurat dibutuhkan waktu
sebagai berikut:
a. untuk kasus gawat darurat : 86,31 menit

b. untuk kasus mendesak : 71,28 menit

c. untuk kasus tidak mendesak : 33,09 menit

Konversi kebutuhan tenaga adalah seperti pada perhitungan cara Need.

d. Cara Gillies
Gillies (2012) mengemukakan rumus kebutuhan teanaga keperawatan di satu unit
perawatan adalah sebagai berikut:
Keterangan :
A = rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari
B = rata-rata jumlah pasien /hari
C= Jumlah hari/tahun
D = Jumlah hari libur masing-masing perawat
E = jumlah jam kerja masing-masing perawat
F = Jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per tahun
G = Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun
H = Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit

Prinsip perhitungan rumus Gillies:Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis
bentuk pelayanan, yaitu:

a. Perawatan langsung, adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungan
secara khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Berdasarkan tingkat
ketergantungan pasien padfa perawat maka dapat diklasifikasikan dalam empat
kelompok, yaitu: self care, partial care, total care dan intensive care. Menurut Minetti
Huchinson (2014) kebutuhan keperawatan langsung setiap pasien adalah empat jam
perhari sedangkan untuk:

1. self care dibutuhkan ½ x 4 jam : 2 jam

2. partial care dibutuhkan ¾ x 4 jam : 3 jam


3. Total care dibutuhkan 1- 1½ x 4 jam : 4-6 jam

4. Intensive care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam

b. Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan,


memasang/ menyiapkan alat, ,konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca
catatan kesehatan, melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian RS Graha Detroit
(Gillies, 1989, h 245) = 38 menit/ klien/ hari, sedangkan menurut Wolfe & Young
(Gillies, 1989, h. 245) = 60 menit/ klien/ hari dan penelitian di Rumah Sakit John
Hpokins dibutuhkan 60 menit/ pasien (Gillies, 2013)

c. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi: aktifitas, pengobatan serta
tindak lanjut pengobatan. Menurut Mayer dalam Gillies (2014), waktu yang dibutuhkan
untuk pendidikan kesehatan ialah 15 menit/ klien/ hari.
- Rata-rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatau unit berdsasarkan
rata-ratanya atau menurut “ Bed Occupancy Rate” (BOR) dengan rumus:

Jumlah hari perawatan rumah sakit dalam waktu tertentu x 100%


Jumlah tempat tertentu x 365

e. Cara Swansburg (2012)

Jumlah rata-rata pasien/ hari x jumlah perawat/ pasien/ hari


Jam kerja/ hari

Contoh: Pada rumah sakit A, jumlah tempat tidur pada unit Bedah 20 buah, rata-rata pasien
perhari 15 orang, jumlah jam perawatan 5 jam/ pasien/ hari, dan jam kerja 7 jam/hari
Cara menghitung
/ hari maka jumlah perawaty yang dibuthkan = 77 : 6 = 12,83 atau 13 orang. Jumlah perawat
yang dibutuhkan adalah:
Jumlah shift dalam seminggu: 11 x 7 = 77 shift
Bila jumlah perawat sama setiap hari dengan 6 hari kerja/ minggu dan 7 jam
f. Metoda Formulasi Nina
Nina (2015) menggunsksn lima tahapan dalam menghitung kebutuhan tenaga.

Contoh pengitungannya:
Hasil observasi terhadap RS A yang berkapasitas 300 tempat tidur, didapatrkan jumlah rata-rata
klien yang dirawat (BOR) 60 %, sedangkan rata-rata jam perawatan adaalah 4 jam perhari.
Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah kebutuhan tenaga perawat di ruang
tersebut adalah sbb:

o Tahap I
Dihitung A = jumlah jam perawatan klien dalam 24 jam per klien. Dari contoh
diatas A= 4 jam/ hari

o Tahap II
Dihitung B= jumlah rata-erata jam perawatan untuk sekuruh klien dalam satu hari.
B = A x tempat tidur = 4 x 300 = 1200

o Tahap III
Dihitung C= jumlah jam perawatan seluruh klien selama setahun.
C= B x 365 hari = 1200 x 365 = 438000 jam

o Tahap IV
Dihitung D = jumlah perkiraan realistis jam perawatan yang dibutuhkan selama
setahun.
D= C x BOR / 80 = 438000 x 180/ 80 = 985500

Nilai 180 adalah BOR total dari 300 klien, dimana 60% x 300 = 180. Sedangkan 80
adalah nilai tetap untuk perkiraan realistis jam perawatan.Tahap V
Didapat E= jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan.
E= 985500/ 1878 = 524,76 (525 orang)

Angka 1878 didapat dari hari efektif pertahun (365 – 52 hari minggu = 313 hari) dan
dikalikan dengan jam kerja efektif perhari (6 jam)
g. Metoda hasil Lokakarya Keperawatan

Menurut hasil lokakarya keperawatan (Depkes RI 1989), rumusan yang dapat digunakan
untuk perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan adalah sebagai berikut

Jam perawatan 24 jam x 7 (tempat tidur x BOR) + 25%


Hari kerja efektif x 40 jam

Prinsip perhitungan rumus ini adalah sama dengan rumus dari Gillies (1989) diatas, tetapi
ada penambahan pada rumus ini yaitu 25% untuk penyesuaian ( sedangkan angka 7 pada rumus
tersebut adalah jumlah hari selama satu minggu).

h. Standar ketenagaan Perawat dan Bidan di Rumah Sakit

Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut direktorat pelayanan
keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada
masing-masing rumah sakit. Model pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

2. ALOKASI DAN PENJADWALAN TENAGA DALAM SHIF

A. DEFINISI

Alokasi adalah penentuan banyaknya barang yang disediakan untuk suatu tempat
(Pembeli dan sebagainya) penjatahan. Atau penentuan banyaknya biaya yang disediakan untuk
suatu keperluan (Kamus besar bahasa Indonesia:Online). Penjadwalan adalah pengalokasian
waktu yang tersedia untuk melaksanakan masing-masing pekerjaan dalamrangkamenyelesaikan
suatu kegiatan hingga tercapainya hasil yang optimal dengan mempertimbangkan keterbatasan-
keterbatasan yang ada (Husein 2008 dalam Jurnal USU). Salah satu layanan dalam rumah sakit
adalah layanan rawat inap. Di dalam layanan ini terdapat alur tranformasi kegiatan, mulai dari
tahap penelitian terhadap pasien., diagnosis hingga tahap penyembuhan. Layanan rawat inap
dalam rumah sakit tersebut membutuhkan penjadwalan yang optimal. Optimal artinya
keutungan harus sebesar-besarnya dan kerugian harus sekecil-kecilnya (Suyadi 2015 dalam
setiawan dkk).
Penentuan jadwal diperlukan peranan penting pihak management terutama kepala bidang
keperawatan, dalam prosesnya menggunakan cara manual. cara seperti ini membutuhkan waktu
yang lama. Pihak management harus membuat penjadwalan perawat setiap unit ruang rawat inap
(setiawan dkk 2014).

B. PERMASALAHAN PENJADWALAN
Agar tujuan tercapai seperti yang diinginkan oleh semua manajemen perusahaan maka
perlu Melaksanakan pekerjaan secara efektif dan efisien. Masalah penjadwalan tenaga kerja
memiliki karakteristik yang spesifik, antara lain kebutuhan karyawan yang berfluktuasi,
kapasitas tenaga kerja yang tidak bisa disimpan, dan faktor kenyamanan pelanggan. Berbagai
permasalahan pasti akan dihadapi setiap perusahaan dalam membuat jadwal untuk memenuhi
semua kebutuhan jam kerja sesuai dengan jumlah pekerja yang ada. Terlebih lagi jika dalam
suatu organisasi atau perusahaan jumlah pekerja sangat banyak, jumlah jam kerja sangat panjang
(misal 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu) dan variasi pekerjaan banyak. Contoh
nyata yang dapat diambil pada kasus ini adalah penjadwalan perawat dan penjadwalan dokter
yang ada di sebuah rumah sakit. Banyaknya jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan
kesehatan sangat kontras dengan jumlah perawat dan dokter yang ada pada rumah sakit. Hal ini
mengakibatkan pihak rumah sakit perlu melakukan pengaturan jadwal yang efisien untuk setiap
sumber daya manusia yang ada (termasuk perawat dan pasien) agar semua pasien dapat terlayani
dengan baik.(Atmasari 2014).

C. PENJADWALAN PERAWAT
perencanaan kebutuhan dan penjadwalan perawat adalah salah satu halyang paling
penting yang harus di buat di dalam keputusan rumah sakit,Ada tiga hal yang berkaitan dengan
proses dan pengambilan keputusan perencanaan kebutuhan dan penjadwalan perawat yaitu:
a. Staffing Decision Yaitu merencanakan tingkat atau jumlah kebutuhan akan perawat
prakualifikasinya.
b. Scheduling decisión Yaitu menjadwalkan hari masuk dan libur juga shift. Shift
kerja untuk setiap harinya sepanjang periode penjadwalan dalam rangka memenuhi
kebutuhan 3 mínimum tenaga perawat yang harus tersedia
c. Allocation Decision Yaitu membentuk kelompok perawat untuk dialosikan ke shift-
shift atau hari-hari yang kekurangan tenaga kibat adanya variasi demand yang tidak
diprediksi, misalnya absennya perawat.
Masalah penjadwalan kariayan banyak di jumpai pada Industri jasa, salah satunya
dirumah sakit. Sebagaimana yang telah di atur dalam Undang-undang No 44 tahun 2009 tentang
Rumah sakit bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan rumah sakit adalah meninggkatkan mutu
dan mempertahankan standar pelayananan kesehatan. Untuk peningkatan mutu dan standar itu
rumah sakit harus memiliki sistem penjadwalan yang berkualitas karena padatnya system
memberi pelayanan yang ada di dalamnya baiknya atau tidaknya system pelayanan yang ada
dalam rumah sakit dapat menentukan sistem penjadwalan perawat yang ada pada umumnya
perawat di Indonesia di klaifikaskan dalam sistem penjadwalan dinas jaga atau shift, yaitu dinas
pagi, jaga sore, dan jaga malam. Namun bagi sebagian perawat,di tuntut bekeja di malam hari,
liburan dan akhir pekan sering membuat stress dan frustasi. oleh karena itu, penjadwalan
merupakan factor yang paling penting dalam penentuan ketidak puasan atau kepuasan kerja.
manager sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyusun jadwal kerja sebaiknya secara
berkala melakukan evaluasi kepuasan pegawai terhadap system penjadwalan yang sedang
berlaku. Dengan mempertimbangkan keuntungandan kerugian. karena beberapa penjadwalan
mengharuskan pembayaran uang lembur, hasil kepuasan perawat dalam peningkatan biaya.
Selain itu, Perpanjangan dinas jaga dari 8 jam – 10/12 jam Dapat menyebakan peningkatan
kesalahan penilaian klinis Karena perawat keletihan.untuk alasan ini, banayk organisaasi
membatasi jumlah hari berturut-turut seorang perawat dapat bekerja di perpanjangan dinas jaga.
(USU 2015)

D. UNDANG-UNDANG MENGENAI KERJA SHIFT PAGI SIANG DAN


MALAM
Pengaturan jam kerja dalamsistem shift di atur dalam UU No 13 tahun 2003 mengenai
ketenaga kerjaan yaitu di atur dalam pasal-pasal sebagai berikut:
a. Jika jam kerja dilingkungan suatu perusahaan atau badan hukum lainnya di
tentukan 3 shift, pembagian dan setiap shift adalah maksimum 8 jam per hari,
termaksud istirahat antar jam kerja (Pasal 79 ayat 02 Huruf a UU No 13
tahun 2003).
b. Jumlah jamkerja secaraa kumulatif masing-masing shift tidak boleh lebih dari
40 jam/minggu (Pasal 77 ayat 02 UU No13 tahun 2003)
c. Setiap pekerja yang bekerja melebihi ketentuan waktu kerja 8 jam / hari per
shift atau melebihi jumlah jam kerja akumulatif 40jam/minggu, harus
sepengetahuan dan dengan surat perintah dari pimpinan perusahaan yang di
perihitungkan sebagai waktu kerja lembur ( pasal 78 ayat 02 UU No 13 Tahun
2003)
d. Dalam Penerapannya, terdapat pekerjaan yang di jalanan terus menerus yang
dijlankan dengan pembagian waktu kerja dalam shift-shift. Menurut
Kepmenarkertrans No 233/men/2003, yang di maksud dengan Pekerjaan
dijalankan secara terus menerus disini adalah pekerjaan yang menurut jenis dan
sifatnya harus di laksanakan atau dijalankan secara terus dalam keadaan lain
berdasarkan kesepakatan anatara pekerja dengan pengusaha.

E. KARAKTERISTIK PENJADWALAN PERAWAT


Penjadwalan perawat memiliki karakteristik yang penting, antara lain:
a. Coverage
Jumlah perawat dengan berbagai tingkat yang akan ditugaskan sesuai jadwal
berkenaan dengan pemakaian minimum personel perawat tersebut.
b. Quality
Sebuah alat untuk menilai keadaan pola jadwal.
c. Stability
Bagaimana agar seseorang perawat mengetahui kepastian jadwal libur masuk
untuk beberapa hari mendatang dan supaya mereka mempunyai pandangan
bahwa jadwal ditetapkan oleh suatu kebijaksanaan yang stabil dan konsisten,
seperti weekend policy, rotation policy.
d. Flexibility
Kemampuan jadwal untuk mengantisipasi setiap perubahan-perubahan seperti
pembagian fulltime, part time, rotasi shift dan permanen shift.
e. Fairness
Alat untuk menyatakan bahwa tiap-tiap perawat akan merasa diberlakukan sama.
f. Cost
Jumlah resource yang dikonsumsi untuk penyusunan maupun operasional
penjadwalan. (Menurut Warner 1976 dalam Atmasari 2014)
F. MODEL SEDEHANA PENJADWALAN PERAWAT DI RUANGAN
Rumah sakit merupakan instansi yang memiliki kesibukan kerja yang sangat
tinggi. Kesibukan ini akan lebih tampak pada ruangan dimana pada ruangan ini
pengaturan seluruh sumber daya yang meliputi dokter, perawat, kendaraan ambulan,
obat-obatan sampai pengaturan shift jaga harus dioptimalkan. Misalkan pada ruang
rawat di sebuah rumah sakit waktu jaga perawat dalam sehari dibagi kedalam 3 shift,
yaitu shift pagi, sore dan shift malam. Penjelasan untuk masing-masing shift adalah
sebagai berikut :
1. Shift pagi
kebutuhan dalam 1 hari = 7 jam kerja dan durasi waktu = antara pukul 7.00 pagi s.d
14.00 sore
2. Shift sore
Kebutuhan dalam 1 hari = 7 jam kerja dan Durasi waktu = antara pukul 14.00 sore
s.d 21.00 malam
3. Shift malam
kebutuhan dalam 1 hari = 10 jam kerja dan Durasi waktu = antara pukul 21.00
malam s.d 7.00 pagi dihari berikutnya.
Dalam memenuhi kebutuhan perawat untuk seluruh shift, haruslah mematuhi
peraturan-peraturan yang ada pada rumah sakit. Karena banyaknya batasan-batasan
dalam pembuatan jadwal, hal ini mengakibatkan hampir tidak ada solusi yang benar-
benar feasible untuk digunakan. Dalam prakteknya pasti terdapat pelanggaran-
pelanggaran terhadap satu atau beberapa peraturan.Oleh karena itu, batasan-batasan
model dibagi kedalam dua jenis yaitu :
1. Kendala utama
Merupakan batasan-batasan yang merepresentasikan peraturan-peraturan kerja
yang tidak boleh dilanggar. Contoh kendala utama adalah : Seorang perawat tidak
dapat berjaga pada shift pagi, sore dan malam dalam secara berturut-turut. Dan
Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada lebih dari empat hari aktif kerja
berturut-turut.
2. Kendala tambahan
Merupakan batasan-batasan yang merepresentasikan peraturan-peraturan kerja
yang sewaktu-waktu dapat dilanggar, namun sebisa mungkin pelanggaran terhadap
kendala tambahan tersebut diminimalkan. Contoh kendala tambahan adalah: Setiap
perawat tidak boleh ditugaskan pada dua shift malam berturut-turut dan Setiap
perawat tidak boleh ditugaskan pada tiga shift sore berturut-turut. (Atmasari 2014)
G. METODE GOAL PROGRAMMING DAN LINEAR
Program linier merupakan suatu metode pendekatan terhadap masalah
pengambilan keputusan yang hanya melibatkan satu tujuan (single goal). Program linier
digunakan untuk mengalokasikan sumber daya langka yang ada supaya mencapai
tujuan yaitu meminimumkan atau memaksimumkan suatu permasalahan. Contoh
permasalahan yang harus dimaksimumkan adalah keuntungan dan penjualan produk,
sedangkan contoh permasalahan meminimumkan adalah biaya dan kerugian.
(USU,2015)
Goal Programming atau yang dikenal dengan Program Tujuan Ganda (PTG)
merupakan modifikasi atau variasi khusus dari program linier. Goal Programming
bertujuan untuk meminimumkan jarak antara atau deviasi terhadap tujuan, target atau
sasaran yang telah ditetapkan dengan usaha yang dapat ditempuh untuk mencapai target
atau tujuan tersebut secara memuaskan sesuai dengan syarat-ikatan yang ada, yang
membatasinya berupa sumber daya yang tersedia, teknologi yang ada, kendala tujuan,
dan sebagainya .(Nasendi, 1985). Goal Programming pertama kali diperkenalkan oleh
Charnes dan Coopers (1961). Charnes dan Coopers mencoba menyelesaikan persoalan
program linier dengan banyak kendala dengan waktu yang bersamaan. Gagasan itu
berawal dari adanya program linier yang tidak bisa diselesaikan karena memiliki tujuan
ganda. Charnes dan Coopers mengatakan bahwa jika di dalam persamaan linier tersebut
terdapat slack variable dan surplusvariable (variable deviasi atau penyimpangan) di
dalam persamaan kendalanya, maka fungsi tujuan dari persamaan tersebut bisa
dikendalikan yaitu dengan mengendalikan nilai ruas kiri dari persamaan tersebut agar
sama dengan nilai ruas kanannya. Inilah yang menjadi dasar Charnes dan Coopers
mengembangkan metode Goal Programming. (USU,2015)
Terminologi yang mendasari GP Terdiri dari Objektif yang dimana Objektif
merupakan Suatu pernyataan yang menyatakan atau mempresentasikan suatu aspirasi
atau kainginan untuk dapat memaksimumkan pemenuhan permintaan dan lain-lain.
Tingkat aspirasi atau nilai target adalah bagian kedua dalamgoal programming yang
artinya Suatu nilai yang membatasi pencapaian objektif diterima atau ditolak atau
merupakan tingkat pencapaian yang diinginkan untuk setiap atribut atau objektif. Dan
yang terakhir adalah Goal yang dimana goal adalah Suatu pencapaian objektif yang
sesuai dengan tingkat aspirasi pengambil keputusan.
Ada beberapa formulasi model goal programming yang dibentuk dari modifikasi
model linear programming dengan criteria pemilihan keputusan yang memuaskan
adalah yang meminimumkan masing-masing variable deviasinya. Variabel deviasi ini
yang menyebabkan penyimpangan terhadap pencapaian tingkat aspirasi goal yang
ditetapkan pengmbil keputusan.
Berdasarkan Jurnal ’’Penjadwalan Perawat Unit Gawat Darurat Dengan
Menggunakan Goal Programming’’ oleh Atmasari Setelah model matematik
diformulasikan dalam bentuk Goal Programming dan selanjutnya diproses dengan
menggunakan paket LINGO maka dihasilkan jadwal kerja perawat untuk Unit Gawat
Darurat dalam periode satu bulan. Dari jadwal GP hasil komputasi jumlah kebutuhan
minimal dan maksimal perawat untuk tiap shift dalam satu hari sudah memenuhi range
yang ditentukan pihak manajemen rumah sakit. Day off dari masing-masing perawat
dipenuhi dengan cara memberikan hari libur maksimal setelah perawat ditugaskan pada
tiga hari aktif kerja. Dari jadwal GP hasil komputasi terlihat bahwa perawat mendapat
jatah libur secara merata dan tidak ada perawat yang tidak mendapat hari libur setelah
maksimal bekerja selama tiga hari. Untuk total jumlah shift perawat dalam satu periode
sudah memenuhi range yang ditentukan oleh pihak manajemen rumah sakit yaitu antara
15 sampai 22 hari. Terlihat dari jadwal GP hasil komputasi bahwa tidak ada satupun
perawat yang jumlah total shiftnya kurang dari 15 hari atau melebihi 22 hari. Untuk
pembagian shift malam dari jadwal GP hasil komputasi setiap perawat memiliki jatah
shift malam kurang lebih 30% dari jumlah shift yang ada. Untuk pelanggaran perawat
ditugaskan pada dua atau lebih shift malam secara berturut- turut tidak didapati pada
jadwal GP hasil komputasi. Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini,
maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai yakni Dengan menggunakan model
penjadwalan goal Programming, maka diperoleh penjadwalan perawat yang lebih baik
dibandingkan jadwal yang dibuat secara manual. Dan Jadwal yang dihasilkan dengan
model goal programming dapat memenuhi seluruh kendala utama yang merupakan
presentasi peraturan rumah sakit yang tidak boleh dilanggar, dan juga memenuhi
seluruh kendala tambahan yang merupakan presentasi peraturan rumah sakit yang dapat
dilanggar. maka penggunaan metode GP ini Lebih baik dibandingkan dengan metode
manual karena mengingat banyaknya kendala dan persoalan pada metode manual
tersebut.
BAB III
1. KESIMPULAN
Alokasi adalah penentuan banyaknya barang yang disediakan untuk suatu tempat(pembelian
dan sebagainya)penjahatan.atau penentuan banyaknya biaya yang disediakan untuk suatu
keperluan ( kamus besar bahasa Indonesia onlien). Penjadaalan adadaln pengakolasian aktu yang
disediakan untuk melaksanakan masing-masing pekerjan dalam menyelesaikan suatu kegiatan
sehingga tercapai.
Agar bertujuan tercapai seperti yang diinginkan oleh semua manajemen perusahaan maka perlu
melaksankan pekerjaan secara efektif dan efisien.

2. SARAN
Bagi institusi pendidikan
Bagi institusi pendidikan diharapakan untuk mendalami tentang manajemen keperaatan
sehingga yang bersangkutan dapat memberikan pengarahan lebih intensif
Bagi mahasisa
Bagi mahasisa mengenai makalah dapat dijadikan pengetahuan tambahan tentang
manajemen keperaatan
Daftar pustaka
Adiama, candra yoga & hastuti , Tri. 2016. Kesehatan dan keselamatan kerja. Jakarta:
EGC
Suyanto. 2009. Mengenal kepemepimpinan dan manajemen keperawatan rumah sakit.
Jakarta
Sampuran , budi 2017. Pedoman manajeman informasi kesehatan disarana pelayanan
kesehatan . Jakarta :UI
Marquis, B.L. dan huston, C.J. 2015. Leaderships roles and manajemen funcition in
nursing : Philadelphia
Anonim. (2017). Gajimu. Pembagian Kerja Shift .
Anonim. (2015). repository.USU.ac.id. Landasan Teori Perawat , 1-21.
Atmasari. (2014). diglib.its.ac.id. ’Penjadwalan Perawat Unit Gawat Darurat Dengan
Menggunakan Goal Programming , 1-13.
Rudi setiawan, D. P. (2014). Repository.unej.ac.id. Optimasi penjadwalan Perawat ruangrawat
inap penyakit dalam rumahsakit daerah dr.Soebandi Jamber , 1-9.