Anda di halaman 1dari 44

VISI

Pada tahun 2025 menghasilkan Ners yang unggul dalam asuhan keperawatan lanjut usia
dengan menerapkan Ilmu dan Teknologi Keperawatan.

TUGAS MAKALAH PRAKTIKUM


APLIKASI PRAKTIK HOME HEALTH NURSING:
PERAWATAN LANSIA DENGAN DIABETES MELITUS

Program Studi : Program Sarjana Terapan dan Program Studi Pendidikan


Profesi Ners Program Profesi
Mata Kuliah : Home Health Nursing
Dosen Pembimbing : Dra Pudjiati., S.Kp.,M.Kes.
Kelas/Semester : Tingkat III / VI (Enam)
Kelompok : 4 (Empat)
Nama Anggota :
1. Atii'ah Dwiningtyas (P3.73.20.2.17.005)
2. Desy Nurohma Aviyanti (P3.73.20.2.17.011)
3. Fathiyyah Aulia Qawam (P3.73.20.2.17.014)
4. Hedya Saraswati Septiani (P3.73.20.2.17.019)
5. Noviola Lolita (P3.73.20.2.17.026)
6. Salsabila Rizqi Narendra (P3.73.20.2.17.031)
7. Tyagita Ratih Nugraheni (P3.73.20.2.17.037)

JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III
TAHUN 2020
Kata Pengantar

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
nikmat yang diberikan. Shalawat serta salam tak lupa kita sampaikan pada Nabi Muhammad
SAW, dengan mengucap rasa syukur kami sebagai tim penulis berhasil menyelesaikan
Makalah ini yang berjudul “APLIKASI PRAKTIK HOME HEALTH NURSING:
PERAWATAN LANSIA DENGAN DIABETES MELITUS” untuk memenuhi tugas mata
kuliah Home Health Nursing.
Dukungan dari berbagai pihak sangat membantu tim penulis dalam menyelesaikan
Makalah yang berjudul “APLIKASI PRAKTIK HOME HEALTH NURSING: PERAWATAN
LANSIA DENGAN DIABETES MELITUS” ini. Ucapan terimakasih tim penulis ucapkan
kepada:

1. Ibu Dra Pudjiati., S.Kp.,M.Kes. selaku dosen pembimbing kami dan dosen mata kuliah
Home Health Nursing di Poltekkes Kemenkes Jakarta III
2. Dan kepada Orang Tua yang telah memberikan do’a, arah, dukungan, dan dorongan dari
segi material maupun moral.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih
banyak kekurangan-kekurangan dari segi kualitas atau kuantitas maupun dari ilmu
pengetahuan yang kami kuasai. Oleh karena itu kami selaku tim penulis mohon kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan pembuatan laporan atau karya tulis
dimasa mendatang. Atas perhatian dan waktunya kami ucapkan terima kasih.

Tim Penulis

Jakarta,19 Maret 2020

i
Daftar Isi

Kata Pengantar.........................................................................................................................i
Daftar Isi...................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................................4
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................................5
D. Sistematika Penulisan...................................................................................................5
BAB II ISI.................................................................................................................................6
A. Pengertian Home Helath Nursing................................................................................6
B. Macam-Macam Perawatan Home Helath Nursing....................................................6
C. Pengertian Diabetes Melitus.........................................................................................7
E. Tipe Diabetes Mellitus..................................................................................................8
F. Cara Mencegah Diabetes Melitus................................................................................9
I. Faktor yang Mempengaruhi Diabetes Melitus.........................................................13
J. Masalah/Komplikasi Pada Diabetes Melitus............................................................15
K. Tindakan Perawat Di Home Health Nursing Untuk Lansia Dengan Diabetes
Melitus.........................................................................................................................17
M. Abstrak Jurnal............................................................................................................23
BAB III Aplikasi Praktik Home Health Nursing pada Lansia dengan Diabetes Mellitus
(Diet,Aktifitas Fisik,Pengobatan).........................................................................................26
A. PROGRAM LANSET DM SEBAGAI STRATEGI INTERVENSI
KEPERAWATAN KOMUNITAS DALAM PENGENDALIAN MASALAH
DIABETES MELITUS PADA LANSIA (Diah Ratnawati , Juniati Sahar, dan
Henny Permatasari)...................................................................................................26
B. PENGARUH INTERVENSI KEPERAWATAN “CERDIKK” TERHADAP
PENGENDALIAN DIABETES MELLITUS PADA KELOMPOK LANSIA DI
KELURAHAN CURUG KOTA DEPOK (Hera Hastuti, Junaiti Sahar,
Widyatuti)...................................................................................................................27
C. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MINAT HOME CARE PADA
LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS SUDIANG
RAYA (Faisal, Muzakkir², Wahyuni Maria P.H)...................................................29
D. KEBUTUHAN HOME CARE KLIEN DIABETES MELITUS TIPE Suatu Kajian
Klien Pasca Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen
(Gilang Eka Prajanji, Diyah Candra A.K S.kep Ners)...........................................30
E. MODEL PENDAMPINGAN MELALUI KELOMPOK PERPULUHAN
DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGELOLAAN

ii
DIABETUS MELITUS DI RUMAH PADA PENYANDANG DIABETES
MELLITUS TYPE II (Rosa Delima Ekwantini).................................................32
BAB IV PENUTUP...............................................................................................................35
A. Kesimpulan..................................................................................................................35
B. Saran.............................................................................................................................36
Daftar Pustaka........................................................................................................................38

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang
ditandai dengan menurunnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap stresor
yang dialami. Lansia adalah suatu fenomena yang alamiah sebagai akibat dari
perubahan yang terjadi secara fisik dan biologis (Simanullang et al, 2011). Undang-
undang No. 13 tahun 1998, tentang kesejahteraan lanjut usia yang tercantum dalam
bab I pasal 1 ayat 2, menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai umur
di atas 60 tahun (Efendi & Makhfudli, 2009).
Centers for Disease Control and Prevention and The Merck Company
Foundation (2007), mengatakan bahwa pada tahun 2000 jumlah lansia di dunia
dengan usia 65 tahun sebanyak 35 juta orang dan akan menigkat menjadi 71 juta
orang pada tahun 2030. Survei Hasil Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2013
menemukan bahwa jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,4 juta orang, dengan
prevalensi lansia perempuan sebanyak 10,67 juta orang dan prevalensi lansia laki- laki
sebanyak 9,37 juta orang.
Indonesia merupakan negara dengan perkembangan teknologi dan industri
yang sangat cepat, sehingga membawa dampak perubahan pada perilaku dan gaya
hidup masyarakat termasuk lansia. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat
perkembangan tersebut antara lain mengalami perubahan pola konsumsi makanan dan
berkurangnya aktivitas fisik. Dampak dari perubahan tersebut tanpa disadari
menyebabkan peningkatan kejadian penyakit kronis yang menimbulkan masalah
kesehatan (Baret et al, 2009).
World Health Organization (2010), menyebutkan bahwa yang termasuk
penyakit kronis adalah penyakit jantung, stroke, Penyakit Paru Obstruksi Kronik
(PPOK),Kanker,Hipertensi,Diabetes Melitus dan Penyakit Ginjal. Penyakit kronis
tersebut merupakan penyebab 38 juta kematian pada tahun 2009, lebih dari 62% dari
semua kematian di seluruh dunia. Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis

1
yang memerlukan terapi medis secara berkelanjutan untuk mencegah dan mengontrol
penyakit tersebut.
World Health Organization pada tahun 2010 menyebutkan bahwa sekitar 285
juta jiwa penduduk di dunia menderita Diabetes Melitus dan meningkat menjadi 430
juta jiwa pada tahun 2030. Diabetes Melitus merupakan penyakit yang banyak
ditemukan di negara-negara berkembang seperti negara Indonesia. Data Riset
Kesehatan Dasar pada tahun 2007 menyebutkan bahwa terdapat 12,5 juta jiwa
penduduk Indonesia terjangkit penyakit Diabetes Melitus dan diperkirakan mengalami
peningkatan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030 (Kemenkes RI, 2008).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia memaparkan hasil survei World Health
Organization maupun International Diabetes Federation pada tahun 2008, angka
kejadian Diabetes Melitus di Indonesia menepati urutan ke empat tertingi di dunia
setelah negara India, Cina dan Amerika (Meydani, 2011).
Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi diabetes
tertinggi di Indonesia. Prevalensi Diabetes di Jakarta berdasarkan hasil riset kesehatan
dasar (Riskesdas) 2018 meningkat dari 2,5% menjadi 3,4% dari total 10,5 juta jiwa
atau sekitar 250 ribu penduduk di DKI menderita Diabetes. Prevalensi Diabetes secara
nasional 10,9%. Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Dicky L.
Tahapary, SpPD hasil riskesdas 2018 relevan dengan pemetaan yang dilakukan pada
24 Agustus 2018 oleh Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), FK UI,
pemerintah provinsi DKI Jakarta yang didukung oleh Novo Nordisk, perusahaan
farmasi untuk pengobatan Diabetes.
Tingginya prevalensi Diabetes Melitus disebabkan oleh faktor risiko yang
tidak dapat diubah (misalnya jenis kelamin, umur, dan genetik) dan faktor risiko yang
dapat diubah (misalnya kebiasaan merokok, tingkat pendidikan, makanan, aktivitas
fisik, konsumsi alkohol, dan obesitas). Sedangkan tingginya komplikasi Diabetes
Melitus disebabkan oleh ketidakpatuhan klien dalam pengobatan (Teixeria, 2011).
American Diabetes Association pada tahun 2012, menjelaskan bahwa
penatalaksanaan Diabetes Melitus tipe 2 dapat berupa farmakologis dan non-
farmakologis. Penatalaksanaan farmakologis berupa penggunaan obat-obatan seperti
oral anti diabetic (OAD) yang dapat dikombinasikan dengan terapi insulin.
Penatalaksanaan non-farmakologis dapat berupa penerapan self-care management,
meliputi penggendalian pola makan, aktivitas fisik, penggukuran gula darah secara
teratur, dan perawatan kaki. Penatalaksanaan Diabetes Melitus yang tidak tepat
2
menyebabkan glukosa darah menjadi sulit terkontrol sehingga dapat meningkatkan
biaya terapi klien dan munculnya berbagai komplikasi, seperti Neuropati Diabetic,
Katarak,Nefropati Diabetic,Penyakit Jantung Koroner,Gangguan pembuluh darah tepi
dan Pembuluh darah ke otak yang berpengaruh terhadap kualitas hidup klien dengan
Diabetes Melitus (Kocurek, 2009).
Salah satu faktor yang berperan dalam kegagalan pengontrolan glukosa darah
klien dengan Diabetes Melitus adalah ketidakpatuhan penderita Diabetes Melitus
terhadap pengobatan untuk menjaga kesehatannya (Suppapitiporn, 2008).
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan Diabetes Melitus saat ini masih menjadi
masalah yang cukup penting dalam pengelolaan Diabetes Melitus. Hasil penelitian di
beberapa negara menunjukkan bahwa jumlah ketidakpatuhan pasien Diabetes dalam
berobat mencapai 40-50%. Menurut WHO pada tahun 2009, kepatuhan rata-rata
pasien terhadap terapi jangka panjang pada penyakit kronis di negara maju sebesar
50% dan pada negara yang sedang berkembang sebesar 35% bahkan bisa lebih rendah
(Pratiwi, 2007). Beberapa studi melaporkan bahwa tingkat kepatuhan penderita
diabetes melitus tipe 1 berkisaran antara 70-83% sedangkan Diabetes Melitus tipe 2
sekitar 64-74%. Tingkat kepatuhan Diabetes Melitus tipe 2 lebih rendah dibandingan
dengan Diabetes Melitus tipe 1 yang disebabkan oleh regimen terapi yang umumnya
bersifat kompleks dan polifarmasi, serta efek samping obat yang timbul selama
pengobatan (Delamater, 2006). Selain faktor yang berhubungan dengan medikasi,
status sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah serta depresi
yang dialami klien juga dikaitkan dengan kepatuhan yang rendah dan tingkat
morbiditas yang tinggi pada penderita Diabetes Melitus (Kocurek, 2009).
Kementrian Kesehatan pada tahun 2015 menyatakan kunci untuk
meningkatkan status kesehatan dalam mencapai Sustainable Development Goals
(SDGs) tahun 2016 adalah dengan menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong
kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Menigkatkan kesejahteraaan klien
dengan penyakit Diabetes Melitus diperlukan adanya kepatuhan dalam pengobatan
penyakit untuk menciptakan kesehatan secara optimal dan berkualitas. Kepatuhan
(ketaatan) merupakan suatu kemampuan klien dalam melaksanakan cara pengobatan
dan perilaku yang disarankan oleh dokter atau orang lain (Slamet, 2007).
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia tahun 2011 menyatakan kunci dalam
meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, yaitu dengan melaksanakan pelayanan
kesehatan holistik meliputi usaha promotif dan preventif. Upaya kesehatan promotif
3
merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung untuk meningkatkan derajat
kesehatan dengan mengubah gaya hidup lansia secara optimal. Upaya pencegahan
promotif dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan yang bertujuan
untuk mengetahui dan memahami tentang penyakit. Upaya kesehatan preventif
merupakan upaya untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit. Upaya kesehatan
preventif mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier (Maryam dkk, 2008).
Upaya kesehatan promotif dan preventif dapat dilaksanakan dengan kegiatan
pelayanan home care service sebagai tindak lanjut perawatan yang diberikan di rumah
sakit. Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2008 mendefinisikan
home care sebagai pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif
yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka dengan tujuan
untuk meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan atau memaksimalkan
kemandirian dan meminimalkan kecacatan akibat dari penyakitnya. Pelayanan home
care menekankan pada konsep paripurna dan individualistik meliputi perawatan
fisiologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Jenis pelayanan ini diharapkan
dapat mempertahankan pola hidup klien, sehingga dapat mempertahankan kondisi
kualitas hidup klien sesuai dengan harapannya. Tujuan program home care terhadap
penyakit kronis terutama pada penderita Diabetes Melitus adalah untuk meningkatkan
kepatuhan dalam pencapaian tujuan klien dan menurunkan kejadian dirawat kembali
serta menurunkan angka kematian akibat penyakit tersebut (Depkes, 2008).
Ketidakpatuhan dalam pengendalian kadar gula darah pada penderita Diabetes
Melitus pada lansia yang berada di rumah sangat penting diberikan home health
nursing service. Pelayanan home health nursing service yang diberikan pada penyakit
Diabetes Melitus bertujuan agar mampu meningkatkan pemahaman lansia tentang
penyakit dan dapat meningkatkan kepatuhan dalam penatalaksanaan penyakit.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan home health nursing?
2. Apa saja macam-macam perawatan home health nursing?
3. Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?
4. Apa saja gejala-gejala dalam tahap awal penyakit pada penderita Diabetes
Melitus?

4
5. Apa saja tipe-tipe Diabetes Melitus?
6. Bagaimana cara untuk mencegah Diabetes Melitus?
7. Bagaimana cara untuk menyelidiki dan mendiagnosis Diabetes Melitus?
8. Apa saja tindakan pengobatan pada penderita Diabetes Melitus?
9. Apa saja faktor yang mempengaruhi Diabetes Melitus?
10. Apa saja masalah atau komplikasi yang dapat terjadi pada penderita Diabetes
Melitus?
11. Apa saja tindakan perawatan di home health nursing untuk lansia penderita
Diabetes Melitus?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami perawatan di home health nursing untuk lansia
penderita Diabetes Melitus.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat menjelaskan home health nursing.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan macam-macam perawatan home health
nursing.
c. Mahasiswa dapat menjelaskan gejala-gejala dalam tahap awal penyakit pada
penderita Diabetes Melitus.
d. Mahasiswa dapat menjelaskan tipe-tipe Diabetes Melitus.
e. Mahasiswa dapat menjelaskan cara untuk mencegah Diabetes Melitus.
f. Mahasiswa dapat menjelaskan cara untuk menyelidiki dan mendiagnosis
Diabetes Melitus.
g. Mahasiswa dapat menjelaskan tindakan pengobatan pada penderita Diabetes
Melitus.
h. Mahasiswa dapat menjelaskan faktor yang mempengaruhi Diabetes Melitus.
i. Mahasiswa dapat menjelaskan masalah atau komplikasi yang dapat terjadi
pada penderita Diabetes Melitus.
j. Mahasiswa daoat menjelaskan tindakan keperawatan di home health nursing
untuk lansia penderita Diabetes Melitus.

D. Sistematika Penulisan
BAB I    : Pendahuluan
5
BAB II  : Tinjauan Teoritis
BAB III : Aplikasi prktik Home Health Nursing pada Lansia dengan Diabetes
Mellitus (Diet,Aktifitas Fisik,Pengobatan)
BAB IV : Penutup
Daftar Pustaka

BAB II

ISI

A. Pengertian Home Helath Nursing

Perawatan kesehatan di rumah adalah spesialisasi keperawatan dimana perawat


menyediakan perawatan rumah multidimensi untuk pasien dari segala usia. Perawat
kesehatan di rumah membuat rencana perawatan untuk mencapai tujuan berdasarkan pada
diagnosa klien. Rencana-rencana ini dapat mencakup pencegahan, terapi, dan rehabilitasi.

Sherwen (1991) mendefinisikan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian


integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu
individu, keluarga, dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah
kesehatan yang mereka hadapi. Sedangkan Stuart (1998) menjabarkan perawatan
kesehatan di rumah sebagai bagian dari proses keperawatan di rumah sakit, yang
merupakan kelanjutan dari rencana pemulangan (discharge planning), bagi klien yang
sudah waktunya pulang dari rumah sakit. Perawatan di rumah ini biasanya dilakukan oleh
perawat dari rumah sakit semula, dilaksanakan oleh perawat komunitas dimana klien
berada, atau dilaksanakan olehtim khusus yang menangani perawatan di rumah.

B. Macam-Macam Perawatan Home Helath Nursing

Perawatan kesehatan di rumah adalah spesialisasi yang tersedia untuk perawat


terdaftar (Registered Nurses) serta perawat kejuruan berlisensi (Licensed Vocational
Nurses), dan asisten perawat. Staf perawat kesehatan di rumah bertanggung jawab untuk

6
merawat pasien di rumah mereka, melakukan berbagai tugas jika pasien dan/ atau keluarga
mereka tidak mampu merawat diri mereka sendiri. Keterampilan dari berbagai spesialisasi
diperlukan dalam bidang kesehatan rumah:

1. Gerontology

2. Pediatrics

3. Community/ public health

4. Psychiatric/ mental health

5. Medical/ surgical

C. Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes Melitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik menahun yang


ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal karena tubuh tidak
dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup. Menurut kriteria
diagnostik (PERKENI,Perkumpulan Endokrinologi Indonesia,2006) seseorang
dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dL dan
pada tes sewaktu >200 mg/dL. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah
malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya
antara 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang
mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.

Penyakit diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang
banyak diderita oleh lansia. Lansia menderita DM jika konsentrasi glukosa darah
dalam keadaan puasa pagi hari lebih atau sama dengan 126 mg/ dl, atau kadar glukosa
darah 2 jam setelah makan lebih atau sama dengan 200 mg/ dl, atau lebih dari 200
mg/ dl pada pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu (Soegondo, 2008).

7
Seorang yang beresiko terkena diabetes adalah seorang yang berusia >40
tahun, kegemukan, hipertensi, keluarga dengan riwayat penyakit DM, riwayat
melahirkan bayi > 4kg, riwayat DM saat melahirkan, dan dislipidemia.

D. Gejala Diabetes Mellitus

Beberapa pasien diabetes melitus mungkin mengalami gejala-gejala berikut dalam tahap
awal penyakit ini:

1. Sering merasa haus


2. Sering buang air kecil
3. Sering merasa lapar
4. Penurunan berat badan
5. Kelelahan
6. Penglihatan yang kabur
7. Tingkat penyembuhan luka yang lambat
8. Rasa gatal pada kulit, wanita mungkin merasa gatal di daerah vitalnya Beberapa
pasien mungkin tidak mengalami gejala-gejala di atas sama sekali, sehingga
pemeriksaan kesehatan secara rutin dianjurkan untuk menghindari penundaan
tindakan medis yang diperlukan.

E. Tipe Diabetes Mellitus


Diabetes Melitus umumnya diklasifikasikan menjadi 4 kategori dengan penyebab
yang berbeda-beda:
1. Diabetes Melitus Tipe 1
Disebut sebagai “Diabetes Melitus yang Tergantung pada Insulin”. Terkait dengan
faktor genetik dan sistem kekebalan tubuh, yang mengakibatkan kerusakan sel-sel
yang memproduksi insulin, sehingga sel tidak mampu untuk memproduksi insulin
yang dibutuhkan oleh tubuh. Kelompok orang yang paling sering mengidap
penyakit ini adalah anak-anak dan remaja, yang mewakili 3% dari jumlah seluruh
pasien yang ada.
2. Diabetes Melitus Tipe 2
Disebut “Diabetes Melitus yang Tidak Tergantung pada Insulin”, yang mewakili
lebih dari 90% kasus diabetes melitus. Terkait dengan faktor pola makan yang

8
tidak sehat, obesitas, dan kurangnya olahraga. Sel-sel tubuh menjadi resisten
terhadap insulin dan tidak bisa menyerap dan menggunakan dekstrosa dan
kelebihan gula darah yang dihasilkan secara efektif. Jenis diabetes melitus ini
memiliki predisposisi genetik yang lebih tinggi daripada Tipe 1.
3. Diabetes Melitus Gestasional
Terutama disebabkan oleh perubahan hormon yang dihasilkan selama kehamilan
dan biasanya berkurang atau menghilang setelah melahirkan. Studi dalam beberapa
tahun terakhir ini menunjukkan bahwa wanita yang pernah mengalami diabetes
melitus gestasional memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi untuk mengidap
penyakit diabetes melitus tipe II, sehingga wanita tersebut harus lebih
memerhatikan pola makan yang sehat demi mengurangi risiko tersebut.
4. Jenis lain dari Diabetes Melitus
Ada beberapa penyebab lain yang berbeda dari ketiga jenis diabetes melitus di atas,
termasuk sekresi insulin yang tidak memadai yang disebabkan oleh penyakit
genetik tertentu, disebabkan secara tidak langsung oleh penyakit lainnya (misalnya
pankreatitis, yaitu peradangan pada pankreas), yang diakibatkan oleh obat atau
bahan kimia lainnya.

F. Cara Mencegah Diabetes Melitus


Obesitas merupakan faktor risiko utama diabetes melitus. Dengan demikian, kita bisa
menurunkan risiko diabetes melitus dengan mencegah obesitas. Beberapa metode
pencegahan disarankan di bawah ini:
1. Menjaga berat badan ideal. Mereka yang sudah mengalami kelebihan berat badan
wajib menetapkan sasaran penurunan berat badan (5-10% dari berat badan saat
ini).
a. Indeks Massa Tubuh (IMT/BMI - Body Mass Index) dari orang Asia adalah
18,5-22,9.
b. IMT = Berat (kg) ÷ Tinggi (m) ÷ Tinggi (m)

2. Pola makan yang seimbang dengan target “Tiga rendah dan satu tinggi” – yaitu
prinsip pola makan rendah lemak, rendah gula, rendah natrium, dan tinggi serat.
3. Tetap aktif, berolahraga secara teratur dengan intensitas sedang (dianjurkan untuk
berolahraga setiap hari selama 30 menit atau lebih selama setidaknya 5 hari
seminggu).
9
G. Cara Menyelidiki dan Mendiagnosis Diabetes Mellitus
Karena gejala awal Diabetes Melitus yang tidak jelas, pemeriksaan kesehatan
yang tepat setiap tahun bisa membantu mendeteksi penyakit ini sesegera mungkin.
Setelah mencatat riwayat medis pasien, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan
berikut ini:
1. Tes glukosa darah secara acak: mengambil darah untuk memeriksa kadar glukosa
tanpa puasa.
2. Tes glukosa darah puasa: puasa setelah tengah malam dan pengambilan darah
keesokan harinya untuk memeriksa kadar glukosa.
3. Tes toleransi glukosa oral: setelah tes glukosa darah puasa dilakukan, pasien
diberikan glukosa sebanyak 75g dan dilakukan pengambilan darah setelah jangka
waktu 2 jam, demi keperluan pengamatan perubahan kadar glukosa darah.

H. Tindakan Pengobatan Diabetes Mellitus


Saat ini tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit diabetes melitus. Pasien harus
mengikuti solusi pengobatan untuk mengendalikan penyakit dan mengurangi risiko
komplikasi. Pasien harus menerapkan dan mengikuti berbagai jenis pengobatan yang
berbeda, sesuai dengan jenis dan tingkat keakutan diabetes melitus.
1. Perubahan pola makan
Semua pasien harus mengikuti petunjuk perubahan pola makan yang ditetapkan.
Setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda-beda, pasien harus
berkonsultasi kepada ahli gizi terdaftar untuk merancang menu yang sesuai dengan
pengelolaan penyakit dan proses penstabilan glukosa. Prinsip umumnya adalah
sebagai berikut:
a. Pola makan yang seimbang, teratur, dan dengan jumlah yang sesuai dengan
prinsip “kurangi jumlah makanan dan perbanyak waktu makan” untuk
menstabilkan glukosa.
b. Makanan yang mengandung karbohidrat dalam jumlah yang tepat (termasuk
biji-bijian, sayuran rimpang, buah-buahan, dan produk susu).
10
1) Jumlah karbohidrat haruslah sekitar 50% dari total asupan kalori. Misalnya,
sekitar 750 kkal kalori (setara dengan sekitar 188g karbohidrat, yaitu 18 -
19 porsi pertukaran karbohidrat) yang akan diproduksi oleh karbohidrat
dalam menu 1500 kkal.
2) Pertukaran karbohidrat di atas haruslah merata di antara waktu makan
utama dan di waktu camilan, misalnya: 5 porsi untuk sarapan, makan siang,
dan makan malam, serta 1 porsi untuk waktu camilan di antara waktu
makan utama. 1 porsi pertukaran karbohidrat = 10g karbohidrat.
3) Pasien bisa memilih jumlah biji-bijian, sayuran rimpang, buah-buahan, dan
produk susu yang sesuai dengan “pertukaran karbohidrat”, misalnya:
a) 1 porsi biji-bijian (10g karbohidrat) = sesendok sup penuh beras / 1/5
mangkuk bihun/mie Shanghai (dimasak) / 1/3 mangkuk bubur
Chiuchow / 1/3 mangkuk makaroni/spaghetti (dimasak) / 1/2 iris roti
(tanpa pinggiran) / 1/2 mangkuk oatmeal gandum (dimasak). 1
mangkuk = mangkuk 300ml ukuran sedang)
b) 1 porsi sayuran rimpang (10g karbohidrat) = kentang/ubi jalar seukuran
telur / labu/akar teratai seukuran 2 butir telur
c) 1 porsi buah (10g karbohidrat) = apel/jeruk/jeruk keprok/pir/buah kiwi
berukuran kecil / 1/2 apel/jeruk berukuran besar / 10 buah anggur
kecil / 1/2 buah pisang
d) 1 porsi produk susu (12g karbohidrat) = 240ml susu rendah lemak/skim
/ 4 sendok sup bubuk susu skim

c. Hindari makanan dan minuman yang kaya kandungan gula atau gula tambahan
demi mencegah lonjakan glukosa.

d. Hindari konsumsi lemak yang terlalu banyak (terutama lemak jenuh seperti kulit
dan lemak hewan) untuk melindungi sistem kardiovaskular.

e. Hindari minum terlalu banyak minuman beralkohol. Alkohol memengaruhi


kemanjuran obat dan bisa menyebabkan rendahnya kadar glukosa darah. Selain itu,
hindari juga mengonsumsi minuman beralkohol saat perut masih kosong. Jika tidak
bisa dihindari, konsumsi harus dibatasi hingga kurang dari 2 porsi alkohol untuk

11
pria dan kurang dari 1 porsi alkohol untuk wanita setiap hari (1 porsi sama dengan
300ml bir / 150ml anggur merah / 45ml minuman spirit).
2. Hipoglikemik oral
Resep akan diberikan oleh dokter sesuai dengan kondisi tubuh, reaksi obat, dan
kondisi pengendalian kadar glukosa darah pada pasien.

Jenis Fungsi Contoh

Memperlambat
Penghambat penyerapan Akarbose

α-Glukosidase dekstrosa di usus halus


sehingga mencegah
penyerapan glukosa
yang
berlebihan setelah
makan

Glibenklamid
Merangsang sekresi
insulin Klorpropamid

Sulfonilurea
dari pankreas Tolbutamid
Gliklazid

Mengurangi produksi
glukosa
di hati, meningkatkan
penggunaan glukosa
oleh
jaringan tubuh (otot),
Biguanid dan Metformin
mengurangi
penyerapan
glukosa di saluran
pencernaan

Penghambat Enzim Merangsang sekresi Sitagliptin


insulin

12
Dipeptidil Peptidase-
4 dari pankreas

Meningkatkan
sensitivitas
tubuh terhadap insulin

sehingga glukosa bisa Rosiglitazon

Glitazon masuk
Pioglitazon
ke dalam sel dan
menurunkan kadar
glukosa.

3. Injeksi insulin
Injeksi insulin merupakan cara yang mirip dengan sekresi insulin normal untuk
mengelola glukosa. Tindakan pengobatan ini diterapkan kepada pasien diabetes
melitus tipe 1 dan kepada beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 yang kadar
glukosanya tidak bisa dikelola setelah pemberian obat hipoglikemik oral. Suntikan
insulin bisa diklasifikasikan menjadi 4 durasi kerja insulin, yaitu durasi singkat,
menengah, lama, dan insulin pra-campuran. Para dokter umumnya akan
menentukan jenis, dosis, dan frekuensi injeksi insulin yang diperlukan. Injeksi bisa
dilakukan oleh diri pasien sendiri setelah menerima pelatihan terkait. Inkretin
Mimetik mirip dengan peptida-1 yang mirip dengan glukagon (GLP-1) dari usus
yang digunakan untuk meningkatkan sekresi insulin dan mengendalikan glukosa.

I. Faktor yang Mempengaruhi Diabetes Melitus


Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa DM berkaitan dengan
faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan DM (first
degree relative), umur ≥ 45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan
lahir bayi >4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional dan riwayat
lahir dengan berat badan rendah(<2,5 kg).
Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2
atau lingkar perut ≥80 cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya
aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat. Faktor lain yang terkait
dengan risiko diabetes adalah penderita polycystic ovarysindrome (PCOS), penderita

13
sindrom metabolikmemiliki riwatyat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa
darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya, memiliki riwayat penyakit
kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral rrterial Diseases (PAD), konsumsi
alkohol, faktor stres, kebiasaan merokok, jenis kelamin,konsumsi kopi dan kafein.
1. Obesitas (Kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada
derajat kegemukan dengan IMT > 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar
glukosa darah menjadi 200mg%.
2. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.
3. Riwayat Keluarga Diabetes Mellitus
Seorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen diabetes.
Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat
homozigot dengan genresesif tersebut yang menderita Diabetes Mellitus.
4. Dislipidemia
Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >
250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya
HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.
5. Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus
adalah > 45 tahun.
6. Riwayat persalinan
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan bayi >
4000gram
7. Faktor Genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental Penyakit ini
sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis
dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika
orang tua atau saudara kandung mengalami penyakit ini.
8. Alkohol dan Rokok
Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan
frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan
14
peningkatan obesitas dan pengurangan tidak aktifan fisik, faktor-faktor lain yang
berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-
baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok,
juga berperan dalam peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu
metabolisme guladarah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit
regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat
tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara
dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.
Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan
menjadi dua. Yang pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya
umur, faktor genetik, pola makan yang tidak seimbang jenis kelamin, status
perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok,
konsumsi alkohol, Indeks Masa Tubuh.

J. Masalah/Komplikasi Pada Diabetes Melitus


Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi akut dan
kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
1. Komplikasi Akut
Komplikasi jangka pendek antara lain hipoglikemi dan ketoasidosis.
Ketoasidosis diabetik (KAD) dapat dijumpai pada saat diagnosis pertama DM
tipe 1 atau pasien lama akibat pemakaian insulin yang salah. Risiko terjadinya
KAD meningkat antara lain pada anak dengan kontrol metabolik yang jelek,
riwayat KAD sebelumnya, masa remaja, pada anak dengan gangguan makan,
keadaan sosio-ekonomi kurang, dan tidak adanya asuransi kesehatan.
a. Hipoglikemia, adalah kadar glukosa darah seseorang di bawahnilai normal
(< 50 mg/dl). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1
yang dapat dialami 1-2 kali per minggu, Kadar gula darah yang terlalu
rendah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga
tidak berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan.
b. Hiperglikemia, hiperglikemia adalah apabila kadar gula darah meningkat
secara tiba-tiba, dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang
berbahaya, antara lain ketoasidosis diabetik, Koma Hiperosmoler Non
Ketotik (KHNK) dan kemolakto asidosis.
2. Komplikasi Kronis
15
Komplikasi jangka panjang terjadi akibat perubahan mikrovaskular berupa
retinopati, nefropati, dan neuropati.
a. Komplikasi makrovaskuler, komplikasi makrovaskuler yang umum
berkembang pada penderita DM adalah trombosit otak (pembekuan darah
pada sebagian otak), mengalami penyakit jantung koroner (PJK), gagal
jantung kongetif, dan stroke. Komplikasi makrovaskular lebih jarang
didapatkan pada anak dan remaja. Komplikasi tersebut dapat terjadi akibat
kontrol metabolik yang tidak baik.
b. Komplikasi mikrovaskuler, komplikasi mikrovaskuler terutama terjadi
pada penderita DM tipe 1 seperti nefropati, diabetik retinopati (kebutaan),
neuropati, dan amputasi. Retinopati merupakan komplikasi yang sering
didapatkan, lebih sering dijumpai pada pasien DM tipe 1 yang telah
menderita lebih dari 8 tahun. Faktor risiko timbulnya retinopati antara lain
kadar gula yang tidak terkontrol dan lamanya menderita diabetes.
Nefropati diperkirakan dapat terjadi pada 25%-45% pasien DM tipe 1 dan
sekitar 20%-30 akan mengalami mikroalbuminuria subklinis.
Mikroalbuminuria merupakan manifestasi paling awal timbulnya nefropati
diabetik. Neuropati merupakan komplikasi yang jarang didapatkan pada
anak dan remaja, tetapi dapat ditemukan kelainan subklinis dengan
melakukan evaluasi klinis dan pemeriksaan saraf perifer.
Ulkus kaki diabetik (UKD) merupakan salah satu komplikasi kronik
dari DMT2 yang sering ditemui.UKD adalah penyakit pada kaki penderita
diabetes dengan karakteristik adanya neuropati sensorik, motorik, otonom
dan atau gangguan pembuluh darah tungkai. UKD merupakan salah satu
penyebab utama penderita diabetes dirawat di rumah sakit. Ulkus, infeksi,
gangren, amputasi, dan kematian merupakan komplikasi yang serius dan
memerlukan biaya yang tidak sedikit dan perawatan yang lebih lama.
Amputasi merupakan konsekuensi yang serius dari UKD. Sebanyak
14,3% akan meninggal dalam setahun setelah amputasi, dan sebanyak
37% akan meninggal 3 tahun pasca amputasi. Bila dilakukan deteksi dini
dan pengobatan yang adekuat akan dapat mengurangi kejadian tindakan
amputasi. Perhatian yang lebih pada kaki penderita DM dan pemeriksaan
secara reguler diharapkan akan mengurangi kejadian komplikasi berupa
ulkus diabetik, yang pada akhirnya akan mengurangi biaya rawat dan
16
kecacatan. Oleh karena itu perlu peningkatan pemahanan mengenai
diagnosis UKD yang kemudian dilanjutkan dengan penatalaksanaan yang
optimal. Penatalaksanaan UKD yang optimal memerlukan pendekatan
multidisiplin, seperti ahli bedah, ahli endokrin,ahli patologi klinik, ahli
mikrobiologi, ahli gizi, ahli rehabilitasi medik dan perawatan luka.

Pada dekade terakhir, penyakit ginjal diabetes (PGD) menjadi


penyebab utama penyakit ginjal tahap akhir. Penyakit ginjal diabetes
dialami oleh hampir sepertiga pasien yang menderita diabetes. Pasien
diabetes yang menjalani hemodialisis memiliki angka survival yang buruk
dengan mortalitas 5 tahun sebanyak 70%. PGD terjadi sebagai akibat
interaksi antara faktor hemodinamik dan metabolik. Faktor hemodinamik
berkontribusi dalam perkembangan PGD melalui peningkatan tekanan
sistemik dan intraglomerular, yang akan mengaktivasi jalur hormon
vasoaktif seperti Renin Angiotensin System (RAS) dan endotelin. Faktor
hemodinamik akan meningkatkan intracellular second messengers seperti
Protein Kinase C (PKC), Mitogen-Activated Protein (MAP kinase), NF-
κβ dan bermacam GF seperti sitokin prosklerotik, TGF-β, Permeability
Enhancing Growth Factor (PEGF) dan Vascular Endothelial Growth
Factor (VEGF).
Kondisi hiperglikemia dan produksi mediator humoral, sitokin dan
bermacam growth factor menyebabkan perubahan struktur ginjal, seperti
peningkatan deposisi matrik mesangial dan perubahan fungsi seperti
peningkatan permeabilitas membrana basalis glomerulus. Selanjutnya,
perkembangan dan progresifitas PGD dipengaruhi oleh berbagai macam
perubahan metabolik yang diinduksi oleh hiperglikemia dan gangguan
hemodinamik.

K. Tindakan Perawat Di Home Health Nursing Untuk Lansia Dengan Diabetes


Melitus
1. Tugas Perawat Dalam Merawat Lansia
a. Memaksimalkan Kesehatan Pasien Lansia

17
Membantu meningkatkan kesehatan lansia dan mengedukasi keluarga terkait
cara merawat serta tindakan medik saat darurat.
b. Menjaga Lansia Tetap Aktif
Perawat lansia dapat mencari upaya semaksimal mungkin agar pasien lansia
yang mengalami suatu penyakit untuk dapat bebas mempertahankan kebebasan
beraktivitas secara mandiri.
c. Mengontrol Makanan Dan Obat Pasien Lansia
Perawat lansia memastikan lansia mengonsumsi makanan diet yang seimbang
dan menyiapkan obat yang harus dikonsumsi setiap harinya sesuai dengan
rekomendasi dokter dan berdasarkan jenis penyakit yang diderita.
d. Membantu Kebersihan Pasien Lansia
Perawat lansia melakukan tanggung jawab kebersihan dan mendampingi
aktivitas sehari-hari lansia, seperti memandikan keramas mengajak keluar
lansia untuk jalan-jalan sekitar rumah, mendatangi suatu acara tertentu dan
lainnya.
e. Mengontrol Kesehatan Lansia
Perawat lansia dapat membantu melakukan pemeriksaan tanda vital seperti
tensi, suhu tuuh, tekanan darah, perawatan luka, atau kondisi lainnya.
f. Memotivasi Dan Memberi Perhatian Pada Pasien
Perawat lansia dapat memberi perhatian penuh agar semangat untuk
kesembuhan pada pasien, sehingga membantu mengurangi rasa sakit.
g. Berkomunikasi Dengan Pasien
Perawat lansia dapat melakukan komunikasi intensif dengan pasien, sehingga
pasien tidak merasa sendirian atau kesepian di rumah.
2. Model Pendampingan Lanjut Usia Berbasis Home Health Nursing
Model pendampingan lanjut usia berbasis home health nursing dirancang dalam
bentuk program pendampingan berbasis home care bagi lansia tidak potensial,
meliputi aspek fisik, sosial, mental dan spiritual.
Tujuan program pendampingan lansia berbasis Home Health Nursing sebagai
berikut:
a. Meningkatkan peran serta keluarga dan masyarakat dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan lansia di lingkungan keluarga lansia itu sendiri.
b. Meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif Posbindu dan keluarga dalam
pelayanan pendampingan lansia di keluarga.
18
c. Memberikan pendampingan terhadap lansia yang mempunyai hambatan fisik,
mental, sosial, ekonomi dan spiritual, sehingga lansia dapat mengatasi
masalahnya dan dapat hidup secara wajar.
d. Meningkatkan kemampuan lansia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
keluarga dan masyarakat dimana ia tinggal.
e. Menciptakan suasana yang menyenangkan seperti rasa aman,nyaman dan
tentram bagi lansia dalam kehidupan keluarga sehari-hari.

3. Bentuk Program Pendampingan Berbasis Home Health Nursing


Bentuk program pendampingan berbasis Home Health Nursing bagi lansia, terdiri
dari aspek fisik,sosial mental dan spiritual. Pelaksanaan bentuk program
pendampingan dapat diuraikan sebagai berikut:

Bentuk Jenis
No Operasional Prosedur
Pendampingan Pendampingan

1. Pendamping menyiapkan
makanan sesuai kebutuhan gizi
dan kondisi lansia
a. Penyelenggaraan Makan
1. Aspek Fisik 2. Menghidangkan makanan setiap
Lansia
waktu makan
3. Pendampingan membimbing
lansia saat makan

b. Kebersihan Diri Lansia 1. Pendamping menyiapkan alat


1) Mandi mandi lansia
2) Kebersihan mulut 2. Pendamping memandikan
3) Kebersihan kepala lansia dengan sentuhan kasih
4) Kebersihan kuku sayang.
3. Pendamping memberi obat
penghangat badan sambil di-
massage
4. Pendamping membimbing
lansia untuk membersihkan
mulut (menggosok gigi/gigi
palsu dan lidah).
5. Pendamping menyiapkan air
garamhangat kuku untuk

19
membersihkan lendir dengan
menggurah mulut lansia
(dilakukan 1 minggu sekali)
6. Pendamping membantu
keramas (dilakukan seminggu
sekali).
7. Pendamping memberikan
vitamin pada rambut lansia dan
menyisirnya
8. Pendamping memberikan obat
tetesmata kepada lansia.
9. Pendamping membersihkan
telinga lansia.
10. Pendamping memotong kuku
tangan dan kuku kaki
lansia (dilakukan 1 bulan sekali)

Pendamping membimbing lansia


untuk menggerakkan badan sambil
duduk dikursi roda/ kursi biasa
c. Mobilisasi Lansia ( menggerakan kepala kekiri
1) Olahraga kekanan, keatas–kebawah,
mengangkat tangan, memutar,
mengangkat kaki, memutar mutar
pergelangan kaki).

1. Pendamping menyiapkan alat


dan obat-obatan:
a) Alat mandi (handuk besar,
handuk kecil, sikat gigi,
gunting kuku, sisir rambut).
b) obat-obatan non medis
d. Kesehatan Lansia (sabun mandi, pasta gigi
1) Obat-obatan non detergen,shampoo,
2) Menjaga kebersihan vitamin rambut, kayu
3) Pertolongan pada putih/minyak telon, minyak
gejala sakit ringan massage, cream, sabun cuci
muka,minyak but-
but,inhaler, dll).
c) obat medis yang diberikan
dokter(sesuai kondisi sakit
lansia)
d) pakaian hangat, syal

20
1. Pendamping mengajak lansia
berbicara atau berkomunikasi.
2. Pendamping mendengarkan
dan menanggapi pembicaraan
lansia.
3. Pendamping mengajak lansia
untuk bergaul dengan
lingkungansekitar lansia.
4. Pendamping mendampingi
lansia melakukan hubungan
sosial secara interpersonal
a. Komunikasi sosial dalam keluarga,kelompok
lansia sebaya dan masyarakat
1) Keluarga lansia lingkungan dimana lansia
2) Teman sebaya tinggal.
lansia 5. Melibatkan lansia ketika
3) Masyarakat terjadi peristiwa penting, baik
2. Aspek Sosial lingkungan sekitar dalam lingkungan keluarga dan
lansia lingkungan masyarakat
b. Keikutsertaan atau 6. Pendamping meminta nasihat
partisipasi lansia lansia, baik untuk
dalam kegiatan kepentingan keluarga dan
masyarakat kepentingan masyarakat
c. Rekreasi lansia 7. Pendamping mendampingi
lansia ketika berpartisipasi
dalam kegiatan masyarakat
8. Pendamping mengajak lansia
untuk melakukan
rekreasi.Rekreasi dirumah
dalam bentuk makan bersama,
olahraga bersama,berbelanja,
mengunjungi rumah sanak
saudara, mengunjungi tempat
wisata, rekreasi ke luar
rumah.

3. Aspek Mental a. Kecerdasan Intelektual 1. Pendamping mengingatkan lansia


b. Kecerdasan Emosional terkait kegiatan sehari-hari
c. Kecerdasan Moral 2. Pendamping membantu lansia
mengingat momen/peristiwa
penting yang dialaminya
3. Pendamping membantu
menengankan emosi lansia
dengan selalu beristigfar,

21
mengingat Allah SWT
4. Pendamping membantu lansia
untuk lebih sabar
5. Pendamping mengingatkan lansia
untuk bersikap jujur, dan dapat
membedakan yang baik dan
buruk

1. Pendamping mengingatkan
lansia untuk selalu berdoa,
bersyukur,sabar, ikhlas dan
menjauhi larangan Allah SWT
2. Pendamping mengajak,
mengingatkan lansia untuk
berbuat baik kepada orang lain,
menjagatali persaudaraan,
saling menghormatidan
4. Aspek Spiritual Bimbingan Keagamaan menghargai serta
menghormati nilai dan norma
yang berlaku dilingkungan
masyarakat.
3. Pendamping mengajak,
mengingatkan dan
mendampingi lansia untuk
tidak membuangs ampah
sembarangan dan menjaga
lingkungan.

L. Program Pengendalian Diabetes Melitus


Program Pengendalian Diabetes melitus dilaksanakan secara terintegrasi dalam
program pengendalian penyakit tidak menular terintegrasi yaitu antara Iain:
a. Pendekatan faktor risiko penyakit tidak menular terintegrasi di fasilitas layanan
primer (Pandu PTM)
a. Untuk peningkatan tatalaksana faktor risiko utama (konseling berhenti
merokok, hipenensi, dislipidemia, obesitas dan lainnya) di fasilitas pelayanan
dasar (puskesmas, dokter keluarga, praktik swasta).

22
b. Tata laksana terintegrasi Hipertensi dan diabetes melalui pendekatan faktor
risiko.
c. Prediksi risiko penyakit jantung dan Stroke dengan charta WHO.
2. Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular)
Pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan dini dalam
memonitoring faktor risiko menjadi salah satu tujuan dalam program
pengendalian penyakit tidak menular termasuk diabetes melitus. Posbindu PTM
merupakan program pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular
berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat
terhadap faktor risiko baik terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat lingkungan
sekitarnya.
3. CERDIK dan PATUH di Posbindu PTM dan Balai Gaya Hidup Sehat Program
PATUH, yaitu:
a. P : Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
b. A : Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
c. T : Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
d. U : Upayakan beraktivitas fisik dengan aman
e. H : Hindari rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya
Program CERDIK, pesan peningkatan gaya hidup sehat, yaitu:
a. C : Cek kondisi kesehatan secara berkala
b. E : Enyahkan asap rokok
c. R : Rajin aktifitas fisik
d. D : Diet sehat dengan kalori seimbang
e. I : Istirahat yang cukup
f. K : Kendalikan stres

M. Abstrak Jurnal
Lansia dengan diabetes mellitus (DM) adalah populasi yang rentan karena
berbagai faktor risiko yang perlu perhatian khusus dalam hal pencegahan dan
pengobatan. Makalah ilmiah akhir ini menggambarkan program lansia sehat yang
menderita Diabetes Mellitus (LANSET DM) sebagai strategi intervensi untuk
memberikan layanan dan asuhan keperawatan masyarakat untuk mengendalikan DM
melalui penerapan teori manajemen, masyarakat sebagai mitra, keluarga masuk
keperawatan, didahului - lanjutkan model dan teori konsekuensi fungsional di
23
Kelurahan CisalakPasar. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, dan
kuesioner kepada 106 responden dengan total sampling. Strategi intervensi
dilaksanakan melalui: terapi komplementer, modalitas terapi, terapi keluarga,
pembinaan, bimbingan, penyuluhan dan pendidikan kesehatan untuk kelompok
swadaya dan kelompok pendukung selama 8 bulan. Hasilnya menunjukkan perubahan
signifikan penurunan 47,2% kadar gula darah. Kesimpulannya, LANSET DM efektif
dan berlaku untuk digunakan dalam manajemen layanan dan perawatan untuk lansia
dengan DM dalam hal pencegahan, promosi kesehatan, dan mengendalikan Diabetes.
Saya merekomendasikan perlunya perawat komunitas untuk mengembangkan
program dan secara aktif terlibat dalam pencegahan primer, sekunder dan tersier
dalam mengendalikan DM terutama di Depok.
Prevalensi penyakit Diabetes Mellitus (DM) meningkat seiring bertambahnya
usia lansia sebagai kelompok yang rentan. Sehingga perlu pemantauan dan
pengendalian faktor risiko mencegah terjadinya komplikasi. Karya Ilmiah Akhir ini
menggunakan integrasi teori manajemen keperawatan, community as partner, family
centre nursing, dan health belief model. Pengkajian pada 30 lansia dengan total
sampling. Bentuk intervensi yang digunakan yaitu pembentukan kelompok swabantu
dan pendukung, promosi kesehatan, konseling, coaching dan terapi modalitas, dengan
media dokumentasi BP2DM. Hasil pre-post intervensi CERDIKK selama 9 bulan
menggunakan uji paired t-test dengan nilai p:0.000 memberikan makna ada pengaruh
perilaku lansia dalam pengendalian DM, meningkat perilaku kelompok pendukung
dan terjadi penurunan kadar gula darah lansia DM 73 mg/dl. Program CERDIKK
dinyatakan efektif dalam pemantauan dan pengendalian DM lansia. Diharapkan
program ini melibatkan kader dan perawat komunitas secara aktif.
Home care lanjut usia merupakan pelayanan pendampingan dan perawatan
lanjut usia di lingkungan keluarga atau di rumah. Lanjut usia merupakan individu
yang berada dalam tahapan usia late adulthood atau yang dimaksud dengan tahapan
usia dewasa akhir, dengan kisaran usia dimulai dari 60 tahun keatas. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan minat home
care pada lansia penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Sudiang Raya. Penelitian
ini dilaksanakan pada tanggal 09 juni-09 juli tahun 2017. Jenis penelitian ini
merupakan penelitian Kuantitatif dengan metode yang digunakan adalah metode
survei analitik dengan rancangan Cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan
tekhnik purposive sampling, didapatkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 37
24
responden. Analisis yang di gunakan adalah analisis bivariat dengan menggunakan uji
chi-squeare test, dengan taraf kesalahan ρ = 0,05. Hasil penelitian ini didapatkan
faktor yang berhubungan dengan minat home care pada lansia penderita diabetes
melitus di Puskesmas Sudiang Raya yaitu pengetahuan dengan nilai ρ = 0,004,
dukungan keluarga dengan nilai ρ = 0,000, dan status ekonomi dengan nilai ρ = 0,000.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan minat home care pada lansia penderita Diabetes Melitus, ada hubungan antara
dukungan keluarga dengan minat home care pada lansia penderita Diabetes Melitus,
dan ada hubungan antara status ekonomi dengan minat home care pada lansia
penderita Diabetes Melitus.
Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 akan menyebabkan timbulnya berbagai
penyakit akut dan komplikasi, jika tidak ditangani dengan baik. Memberikan
perawatan di rumah, program kesembuhan dan perawatannya akan berkelanjutan
untuk mencegah timbulnya komplikasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui
gambaran kebutuhan perawatan di rumah pada klien dengan DM tipe 2. Metode
penelitian dengan desain penelitian kualitatif deskriptif eksploratif dan pendekatan
fenomenologis. Seleksi peserta menggunakan purposive sampling. Prosedur
pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Ditemukan bahwa ada dua
tema yang diidentifikasi dari kata kunci, kategori, dan sub tema yang menggambarkan
masalah dan kebutuhan perawatan di rumah pada klien DM tipe 2 yang dirujuk ke
asuhan keperawatan, pendidikan pasien dan pemberdayaan. Ini harus diterapkan
penelitian lebih lanjut dengan metode dan karakteristik lain untuk melihat deskripsi
spesifik tentang kebutuhan perawatan di rumah.
Menurut Pusat Data dan Informasi PERSI (2003) bahwa prevalensi diabetes
mellitus tipe II meningkat. WHO memperkirakan prevalensi global DM tipe II akan
meningkat dari 171 juta orang pada tahun 2000 menjadi 366 juta orang di tahun 2030
dan Indonesia menduduki urutan keempat setelah Amerika Serikat, China dan India.
Hasil Riskesdas (2013) menunjukan prevalensi DM di Daerah Istimewa Yogyakarta
tahun 2013 berdasarkan diagnosis 2,6 % dan berdasarkan diagnosis dangejala 3,0%.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti diperoleh data jumlah penyandang
DM tahun 2014 di wilayah kerja Puskesmas Gamping I Sleman sebanyak 270 orang.
Penyakit DM apabila dibiarkan tidak terkendali dapat menimbulkan penyulit atau
komplikasi yang berakibat fatal seperti : penyakit jantung koroner, gagal ginjal,
kebutaan, infeksi akibat ulkus sampai dengan diamputasi pada bagian yang terkena
25
ulkus dan dapat mengakibatkan kematian. Kelompok perpuluhan merupakan salah
satu wahana pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan agar masyarakat
menyadari masalah kesehatan yang dialami sehingga ikut serta dalam menyelesaikan
masalah kesehatan. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui pengaruh Model
pendampingan melalui kelompok perpuluhan terhadap peningkatan kemampuan
pengelolaan DM di rumah pada penyandang DM tipe II. Jenis Penelitian ini adalah
Quasi eksperiment dengan rancangan pre test-post test design with control group.
Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 64 responden yang terbagi dalam 32
responden kelompok dengan pendampingan melalui kelompok perpuluhan (kelompok
perlakuan) dan 32 responden dengan pendampingan melalui posyandu Lansia
(kelompok pembanding).

26
BAB III

Aplikasi Praktik Home Health Nursing pada Lansia dengan Diabetes Mellitus
(Diet,Aktifitas Fisik,Pengobatan)

A. PROGRAM LANSET DM SEBAGAI STRATEGI INTERVENSI KEPERAWATAN


KOMUNITAS DALAM PENGENDALIAN MASALAH DIABETES MELITUS
PADA LANSIA (Diah Ratnawati , Juniati Sahar, dan Henny Permatasari)
Perawatan yang diberikan pada lansia yang menderita DM difokuskan pada upaya
prevensi dan promosi kesehatan. Prevensi dan promosi kesehatan lansia dengan DM dapat
dilakukan dengan dukungan keluarga, kelompok dan masyarakat. Metode itu dikenal
dengan nama Type 2 Diabetes Self-Management Social Support Intervention (T2DM
Self-Management Social Support Intervention) yang terdapat didalamnya Diabetes self-
management education (DSME) yang merupakan program intervensi yang diinisiasikan pada
tahun 2001 di negara bagian dari US. (McEwen, Pasvogel, Gallegos, dan Barera, 2010).
Integrasi strategi yang diambil dari T2DM Self Management Social Support
dimodifikasi dengan formulasi baru yaitu program Lansia Sehat dengan DM (LANSET
DM). Program LANSET DM ini menambahkan penanganan dini pada lansia dan keluarga
dengan terapi komplementer seperti terapi herbal dengan daun sirih merah dan relaksasi
BEBAS DM (Berkombinasi Benson, Meditasi dan Afirmasi Stres DM). Perawatan
mandiri dalam program ini juga dilatih seperti perawatan kaki dan senam kaki. Strategi
program ini dengan membuat pencegahan lansia berisiko dan pemantauan lansia dengan
DM melalui Kartu Pemantauan Mandiri Lansia DM (KPM Lansia DM) terhadap penilaian
status gizi lansia, kebutuhan kalori perhari, kecukupan aktifitas fisik dan kekebalan stres.
Intervensi keperawatan yang dilakukan dengan menggunakan LANSET DM
adalah memberikan pendidikan kesehatan tentang DM pada lansia serta penerapan
LANSET DM, pemberdayaan keluarga dalam penerapan LANSET DM dalam keluarga,
pembentukan kelompok pendukung dengan lansia DM serta kerjasama dengan lintas
sektoral dan lintas program terkait pengendalian kadar gula darah sehingga lansia sehat
dengan DM. Pendidikan kesehatan diberikan dengan cara penyuluhan kesehatan, pelatihan
atau penyegaran kader lansia, dan penyebaran leaflet. Keberhasilan program
LANSET DM ini dipengaruhi oleh tersedianya sarana dan prasarana, adanya kader dan
tenaga kesehatan, dan yang paling utama kemauan lansia untuk sehat, serta dukungan sosial

27
dari keluarga maupun orang terdekat bahkan masyarakat.
Hasil yang diperoleh setelah melakukan intervensi keperawatan pada keluarga lansia
dengan DM menunjukkan bahwa pengetahuan, keterampilan dan sikap keluarga
dalam mengelola DM semakin baik yang ditandai dengan keluarga mampu mengenal
masalah DM, memutuskan untuk melakukan penanganan terhadap masalah DM, merawat
lansia dengan DM khususnya dengan melakukan perawatan kaki, senam kaki, senam
DM dan relaksasi “BEBAS DM” maupun akupresur DM, memodifikasi lingkungan atau
menciptakan lingkungan yang kondusif, serta menggunakan fasilitas kesehatan yang
tersedia.
B. PENGARUH INTERVENSI KEPERAWATAN “CERDIKK” TERHADAP
PENGENDALIAN DIABETES MELLITUS PADA KELOMPOK LANSIA DI
KELURAHAN CURUG KOTA DEPOK (Hera Hastuti, Junaiti Sahar, Widyatuti)
Kemenkes RI tahun 2013 telah mencanangkan upaya pengelolaan lansia diabetes
mellitus dengan perilaku CERDIK. Perilaku CERDIK ini mempunyai makna, Cek
kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan tepat,
Istirahat Cukup, Kelola Stres. Upaya ini sejalan dengan pilar penanganan diabetes yang
dikemukakan oleh Soegondo tahun 2009 yaitu edukasi, pengaturan makan, olah raga,
pengobatan dan cek gula darah. Namun belum ada indikator pelaksanaan program
pengelolaan lansia tersebut. Berbeda dengan model DSME (Diabetes Self Managemen
Education) yaitu pengontrolan gula darah melalui cek gula darah setahun sekali, cek
kesehatan mata dua tahun sekali, senam kaki, aktivitas fisik, pengontrolan IMT, diet,
kadar kolesterol, cek status merokok, review pengobatan. Penerapan DSME sudah
memiliki integrasi antara pemerintah sebagai pengambil kebijakan, Community Health
Service (puskesmas) sebagai pelaksana teknis dibantu kader kesehatan yang ada
dimasyarakat, berkerja melakukan pengontrolan terhadap lansia yang menderita DM
sejak pertama kali mereka terdiagnosa DM baik di RS maupun di masyarakat.
Pelaksanaan perilaku CERDIK masih perlu dikombinasi dengan pencegahan dan
perawatan terhadap kesehatan peredaran darah ke akral terutama kearea kaki. Oleh
karena itu pelaksanaan perilaku CERDIK ditambahkan dengan satu aspek lagi yaitu ‘K’,
sehingga menjadi perilaku CERDIKK. Makna penambahan dari huruf K ini adalah Kulit
Kaki sehat. Hal ini dapat dilakukan melalui perawatan kulit kaki setiap hari, memantau
keadaan kulit kaki lansia diabetes terutama tanda-tanda terjadinya gangguan peredaran
darah dikaki dan senam kaki. Sehingga penulis mengintegrasikan program CERDIK

28
menjadi program CERDIKK.
Perilaku lansia DM di kelurahan Curug dapat diaktifkan dengan meningkatkan
kemanfaatan fungsi pemantauan dan pengendalian DM. Pelaksanaan program atau
perilaku CERDIKK melalui model Community as Partner menggunakan strategi
pemberdayaan lansia, keluarga dan kader (Anderson & McFarlane, 2011). Keluarga
sebagai orang terdekat bagi lansia dapat dilibatkan sebagai faktor pendukung perilaku
CERDIKK. Dalam pemberdayaan keluarga perlu menggunakan model Family Centered
Nursing (Friedman, 2010). Hal ini terutama mengaktifkan fungsi-fungsi pemeliharaan
sistem tubuh lansia yang sesuai dengan teori konsekuensi fungsional (Miller, 2012).
Pelaksanaan program CERDIKK ini dituangkan dalam laporan karya tulis ilmiah penulis
dengan judul pengaruh intervensi keperawatan CERDIKK terhadap pengendalian
diabetes mellitus pada lansia di kelurahan Curug.
Masalah keperawatan yang utama terjadi yaitu ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan pada lanjut usia dengan masalah diabetes mellitus di Kelurahan Curug
Kecamatan Cimanggis Depok. Setelah dilakukan intervensi keperawatn didapatkan hasil
1)Terjadi peningkatan pengetahuan kelompok swabantu CERDIKK DM sebelum dan
sesudah kegiatan sebesar 27,8% (rata-rata nilai post test 88,18). Hambatan dalam
pelaksanaan pengelolaan masalah kesehatan lansia dengan diabetes mellitus adalah (1)
Kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan masalah diabetes mellitus masih rendah
karena dianggap bukan sebagai penyakit yang dapat membawa kematian secara
langsung (3) setiap kegiatan beberapa lansia harus dijemput satu persatu bagi lansia yang
kurang motivasi dan bagi lansia yang kesulitan berjalan namun memiliki motivasi tinggi,
(4) Lansia yang secara fisiologis telah mengalami penurunan penglihatan, pendengaran
dan daya ingat yang memungkinkan kesalahan penerjemahan informasi, (5) Tidak semua
kader dapat ikut serta dalam setiap kegiatan komunitas yang dilaksanakan, hal ini karena
kader memiliki banyak kegiatan selain kegiatan Posbindu, kader juga kadang merangkap
menjadi kader posyandu dan juga adanya kegiatan pribadi.
Dinas Kesehatan Kota Depok dapat memperoleh gambaran dari karya ilmiah akhir ini
bahwa pemantauan dan pengendalian masalah kesehatan lansia dengan diabetes mellitus
yang dikelola dengan intervensi CERDIKK menggunakan BP2DM dan pelibatan aktif
kader Posbindu yang dilakukan oleh perawat telah dirasakan manfaatnya oleh lansia dan
keluarga dalam meningkatkan status kesehatan lansia sehingga dapat dicanangkan
pelaksanaan penerapan pemantauan kesehatan lansia secara mandiri menggunakan
intervensi CERDIKK dan media dokumentasi BP2DM.
29
C. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MINAT HOME CARE PADA
LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS SUDIANG RAYA
(Faisal, Muzakkir², Wahyuni Maria P.H)
Home care lanjut usia merupakan pelayanan pendampingan dan perawatan lanjut
usia di lingkungan keluarga atau di rumah (Triwibowo, 2012). Pada kenyataannya di
masyarakat masih ada ditemukan keluarga yang belum memahami kebutuhan lanjut
usia, mengingat bahwa kebutuhan dari lanjut usia bukan hanya sebatas tercukupi
dengan makan, minum, dan menjaga kesehatan fisik saja, tetapi lebih dari itu
diperlukan juga kepedulian keluarga dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya.
Maka dari itu lanjut usia perlu mendapatkan perhatian khusus dari keluarga agar
mereka tidak merasa kesepian dan hendaknya kebutuhan lanjut usia tersebut dapat di
penuhi, sehingga lanjut usia dapat hidup dengan bahagia dan merasa masih berguna
bagi masyarakat (Widyakusuma, 2013). Namun masyarakat luas juga masih
beranggapan bahwa biaya program untuk menggunakan pelayanan home care
(perawatan di rumah) mahal karena seseorang yang ingin melakukan pengobatan
didatangi langsung kerumahnya dan hal ini akan menelan biaya yang banyak,
sehingga hanya kelompok masyarakat tertentu saja yang dapat menggunakan
pelayanan home care yaitu kelompok masyarakat dengan sosial ekonomi menengah
ke atas. (Perwitasari, 2012)
Sehubung dengan hal itu peneliti menyimpulkan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan dengan minat home care, sesuai dengan teori dan penelitian yang telah
dijelaskan sebelumnya pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah seseorang
melakukan pengindraan terhadap objek tertentu artinya apa semakin banyak
informasi yang didapatkan terkait dengan pelayanan home care maka semakin banyak
pula pengetahuan yang didapatkan tetapi sebaliknya kurangnya informasi yang
didapatkan akan berdampak negatif pula terhadap individu itu sendiri.
Peneliti menyimpulkan bahwa dukungan dari keluarga sangat berpengaruh
terhadap minat home care pada lansia. Semakin besar dukungan yang diberikan oleh
keluarga maka akan menimbulkan rasa senang dan bahagia pada lansia. Namun
sebaliknya kurangnya dukungan yang diberikan oleh keluarga maka akan

30
menimbulkan perasaan tidak senang dan bahagia pada lansia. Maka dari itu peran dan
dukungan keluarga sangatlah penting dalam memenuhi kebutuhan keseharian lansia
baik dari menjaga dan merawat lansia, bantuan finansial, meningkatkan status mental,
serta memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spritual bagi lansia.
Peneliti menyimpulkan bahwa status ekonomi berpengaruh terhadap minat home
care. Seseorang yang status sosial ekonomi yang cukup baik, maka akan mengurangi
beban dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya sedangkan seseorang yang memiliki
status sosial ekonomi yang kurang juga akan berdampak dalam memenuhi kebutuhan
kesehariannya, maksudnya dalam memenuhi kebutuhan keseharian seseorang
dibutuhkan biaya, termasuk untuk penggunaan jasa pelayanan home care pasti
dibutuhkan juga finansial.
D.KEBUTUHAN HOME CARE KLIEN DIABETES MELITUS TIPE
Suatu Kajian Klien Pasca Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Kebumen (Gilang Eka Prajanji, Diyah Candra A.K S.kep
Ners)
Gambaran Kebutuhan Pelayanan Home Care Klien DM Tipe 2 Pasca Rawat Inap dan
Keluarga
1. Permasalahan Perawatan Luka pada Klien DM Tipe 2 Pasca Rawat Inap
Permasalahan dan hambatan yang terkadang masih mengganggu tersebut
disebabkan disamping ketiadaan pengetahuan dan keahlian, banyak klien yang
mempunyai kesulitan untuk memahami dampak-dampak penyakit seumur hidup
serta membina kesadaran diri dan komitmen yang diperlukan, terkadang
kebutuhan klien bertentangan dengan kepercayaan tradisional dalam masyarakat
dan pendekatan-pendekatan modern terhadap perawatan DM yang bisa
berbenturan dengan sistem kesehatan alternatif (Kelompok Studi WHO, 2000:79).
2. Kebutuhan Pelayanan Home Care untuk Perawatan Luka pada Klien DM Tipe 2
Kebutuhan partisipan dan keluarga mengenai adanya perawat yang membantu
memenuhi perawatan sehari-hari tersebut mendukung pernyataan yang
diungkapkan oleh Potter & Perry (2005) bahwa klien dengan kondisi yang sudah
lanjut dan kronik sangat membutuhkan perawatan di rumah pasca rawat inap
seperti halnya DM tipe 2 yang merupakan penyakit degeneratif sehingga
memerlukan pengobatan secara berkelanjutan terutama bagi klien DM dengan
ulkus diabetik yang memerlukan perawatan luka secara teratur.
3. Kebutuhan akan Pengetahuan Perawatan Luka pada Klien DM Tipe 2

31
Pendidikan kesehatan mengenai perawatan kaki diabetes merupakan bagian dalam
pengelolaan DM, kaki diabetes yang tidak terawat dengan baik akan mudah
mengalami luka, dan cepat berkembang menjadi ulkus ganggren. Kelainan kaki
DM dapat disebabkan adanya gangguan pembuluh darah, gangguan persyarafan
dan adanya infeksi. Bagi klien DM yang telah terkena luka hingga terjadinya
ulkus ganggren, diperlukan perawatan yang rutin untuk mencegah komplikasi
selanjutnya dan amputasi (Tambunan, et al 2005:293). Oleh sebab itu, peran
perawat home care sebagai pendidik sangatlah dibutuhkan terutama bagi klien dan
keluarga yang masih sangat awam dengan perawatan luka diabetiknya.
4. Permasalahan Pengontrolan Diet pada Klien DM Tipe 2 pasca Rawat Inap
Pengaturan diet atau biasa disebut terapi gizi medis merupakan salah satu terapi
non farmakologi yang sangat direkomendasikan bagi penyandang DM. Terapi gizi
medis ini pada prinsipnya adalah melakukan pengaturan pola makan yang
didasarkan pada status gizi penderita DM yang sesuai dengan kebutuhan
individual, namun tidak meninggalkan terapi farmakologis lainnya yang
menunjang kesembuhan (Soebardi et al, 2005:1865). Wetheril & Kereiakes
(2001) menyatakan bahwa DM sangat berkaitan erat dengan gula, dan gula
berasal dari makanan atau minuman yang dikonsumsi setiap harinya, maka pola
makan akan menjadi sangat penting dalam usaha untuk mencapai terapi
pengobatan yang maksimal serta untuk mencegah kenaikan kadar glukosa darah
yang tidak diinginkan.
5. Kebutuhan Pelayanan Home Care untuk Pengaturan dan Pengetahuan Diet pada
Klien DM Tipe 2
Beberapa manfaat yang telah terbukti dari terapi gizi medis antara lain;
menurunkan berat badan, menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik,
menurunkan kadar glukosa darah, memperbaiki profil lipid, meningkatkan
sensitivitas reseptor insulin dan memperbaiki sistem koagulasi darah (Soebardi et
al, 2005:1865). Perawat home care khususnya untuk klien DM tipe 2 perlu
menyampaikan pada klien DM tipe 2 bahwa penekanan tujuan terapi diet pada
DM tipe 2 yang utama adalah pada pengendalian glukosa dan lipid. Selain itu,
perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan
disertai dengan pengurangan lemak total terutama lemak jenuh. Pengaturan porsi
makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari.
Dianjurkan pula untuk membatasi asupan kalori sedang yaitu 250-500 kkal lebih
32
rendah dari asupan rata-rata sehari (Sukardji et al, 2005:46). Dengan adanya
perawat yang melakukan pengaturan menu diet serta memberikan edukasi
mengenai diet yang dibutuhkan oleh partisipan secara rutin di rumah, diharapkan
klien dan keluarga mendapatkan kemudahan dalam melakukan pengaturan menu
sehari-hari dan keluargapun mengetahui cara mengatur menu diet yang benar
yang sesuai dengan petunjuk. Sehingga, permasalahan yang ada dapat teratasi dan
dapat menekan kenaikan kadar glukosa darah serta komplikasi yang lebih lanjut.
E. MODEL PENDAMPINGAN MELALUI KELOMPOK PERPULUHAN
DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGELOLAAN DIABETUS
MELITUS DI RUMAH PADA PENYANDANG DIABETES MELLITUS
TYPE II (Rosa Delima Ekwantini)
Pada penelitian ini kemampuan pengelolaan di rumah pada kelompok yang
mendapatkan pendampingan melalui kelompok perpuluhan mengalami peningkatan dan
secara statistik ada perbedaan secara bermakna antara sebelum dengan setelah mengikuti
pendampingan pada kemampuan terhadap perencanaan makan, kontrol gula darah,
pengobatan dan kemampuan pengelolaan DM di rumah secara keseluruhan. Kemampuan
pengelolaan aktivitas dan perawatan kaki secara statistik tidak ada perbedaan secara
bermakna, hal ini terjadi karena jalan – jalan pada pagi hari dan mengikuti senam lansia
seminggu sekali merupakan aktivitas yang sudah lama dilakukan responden dan tidak
ada responden yang mengalami masalah dengan kakinya selama ini.
Penyakit DM merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan dan
perawatan lama dan secara terus – menerus serta memerlukan self management bagi
penyandangnya. Pengetahuan, motivasi dan dukungan dari orang – orang terdekat atau
yang berkompeten sangat diperlukan untuk keberlanjutan pengelolaan penyakitnya.
Kemampuan dalam pengelolaan DM sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan
pemahaman penyandang terhadap 4 pilar pengelolaan DM yaitu edukasi terhadap
penatalaksanaan penyakit dan pencegahan komplikasi, perencanaan makan, aktivitas
fisik, perawatan kaki dan pengobatan.
Pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap pengelolaan DM diperoleh dari
pendidikan kesehatan atau konseling yang diberikan oleh petugas kesehatan baik dokter,
perawat atau kader kesehatan yang sudah dilatih. Pengetahuan yang baik mengenai
pengelolaan DM di rumah akan meningkatkan motivasi penyandang DM dalam merawat
diri mempertahankan kondisinya agar tetap terkendali sehingga kejadian komplikasi

33
dapat ditunda. Motivasi manusia didasarkan pada 7 pengetahuan yang dimiliki oleh
individu . Pendampingan melalui kelompok perpuluhan merupakan kegiatan penyuluhan
atau pendidikan kesehatan yang bisa dilakukan oleh kader atau petugas kesehatan secara
kelompok dengan permasalahan kesehatan yang sama sehingga mereka saling bertukar
pengalaman terhadap masalah dan penyelesaiannya yang selama ini dialami terkait
dengan penyakit DM yang disandang. Hal ini diharapkan dengan saling bertukar
pengalaman dan pendampingan akan meningkatkan pengetahuan danmemotivasi
penyandang DM untuk mengelola penyakitnya. Diabetes tipe II umumnya terjadi pada
saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan kokoh. Keberhasilan
pengelolaan diabetes mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga, dan
masyarakat. Tim kesehatan harus mendampingi pasien dalam menuju perubahan
perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukas i yang ko
m prehens if, pengembangan keterampilan dan motivasi, Edukasi secara individual
maupun kelompok atau pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti
perubahan perilaku yang berhasil. Pendampingan adalah suatu bentuk edukasi, konseling
dan motivasi untuk membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi dalam
pengelolaan penyakitnya di rumah. Penyakit DM adalah penyakit yang berhubungan 1
dengan gaya hidup atau perilaku . Perubahan perilaku hampir sama dengan proses
edukasi yang memerlukan penilaian, perencanaan, implementasi, dokumentasi, dan
evaluasi, sehingga proses edukasi bagi pasien DM sebaiknya dilakukan secara terus
menerus dan perlu adanya evaluasi keberhasilan penanganan dengan melihat adanya
perubahan – perubahan dari kriteria pengendalian seperti, kadar gula darah, tekanan
darah, IMT, kadar HbA1c, dan kadar kolesterol. Pengelolaan dan pengendalian diri bagi
penyandang DM dilakukan seumur hidup, maka sangatlah perlu bagi mereka
mendapatkan pengetahuan secara terus menerus mengenai pengelolaan sehari – hari
dirinya, mempunyai kesempatan untuk ber konsultasi tentang permasalahan yang terkait
dengan penyakit yang diderita dan mendapatkan pembenaran dari tindakan – tindakan
yang telah dilakukan dalam pengelolaan dirinya, sehingga meningkatkan motivasi dalam
melakukan penyenyusaian gaya hidup terkait dengan penyakit DM yang diderita.
Dengan kata lain pendampingan akan membantu meningkatkan pengetahuan dan
motivasi penderita DM dalam melakukan penyesuai atau perubahan gaya hidup yang
sehat.
Pada penelitian ini kemampuan pengelolaan terhadap perawatan kaki tidak ada
perbedaan secara bermakna sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pendampingan baik
34
pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol. Penelitian ini berbeda dengan
penelitian yang dilakukan Santhanakrisman yang menyatakan 54% penderita DM patuh
terhadap perawatan kaki. Kemampuan pengelolaan perawatan kaki bagi penyandang DM
akan membantu dalam pencegahan timbulnya luka di kaki sehingga mencegah terjadinya
ulkus DM. Perawatan kaki meliputi penggunaan alas kaki ketika beraktivitas, memeriksa
dan membersihkan kaki, melakukan senam kaki agar vaskularisasi lancar. Pada
penelitian ini kemampuan responden terhadap kontrol gula darah ada perbedaan secara
bermakna antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pendampingan baik melalui
kelompok perpuluhan maupun melalui posyandu Lansia. Kontrol gula darah secara
teratur merupakan salah satu bagian dari pengelolaan DM untuk mengetahui
keberhasilan penyandang dalam pengendalian penyakitnya. Pemantauan kadar gula
darah secara teratur minimal 1 bulan sekali akan membantu penyandang dalam menilai
sesesuaian pengelolaan yang dilakukan. Kemampuan pengelolaan terhadap pengobatan,
pada penelitian ini terdapat perbedaan secara bermakna antara sebelum dan sesudah
mengikuti kegiatan pendampingan baik melalui kelompok perpuluhan maupun melalui
posyandu Lansia. Kontrol glikemik dapat dikendalikan jika pasien DM disiplin dan patuh
dalam menjalani terapi farmakologi. Ketidakpatuhan dalam terapi farmakologis.

35
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perawatan kesehatan di rumah adalah spesialisasi keperawatan dimana
perawat menyediakan perawatan rumah multidimensi untuk pasien dari segala usia.
Perawat kesehatan di rumah membuat rencana perawatan untuk mencapai tujuan
berdasarkan pada diagnosa klien. Rencana-rencana ini dapat mencakup pencegahan,
terapi, dan rehabilitasi. Perawatan kesehatan di rumah adalah spesialisasi yang
tersedia untuk perawat terdaftar (Registered Nurses) serta perawat kejuruan berlisensi
(Licensed Vocational Nurses), dan asisten perawat. Keterampilan dari berbagai
spesialisasi diperlukan dalam bidang kesehatan rumah, yaitu Gerontology, Pediatrics,
Community/ public health, Psychiatric/ mental health dan Medical/ surgical.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik menahun yang
ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal (120-140 mg/dL)
karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup.
Beberapa pasien diabetes melitus mungkin mengalami gejala-gejala berikut dalam
tahap awal penyakit ini yaitu sering merasa haus, sering buang air kecil, sering merasa
lapar, penurunan berat badan, kelelahan, dll. Diabetes melitus umumnya
diklasifikasikan menjadi 4 kategori dengan penyebab yang berbeda-beda, yaitu
diabetes melitus tipe 1 disebut sebagai diabetes melitus yang tergantung pada insulin,
diabetes melitus tipe 2 disebut diabetes melitus yang tidak tergantung pada insulin,
diabetes melitus gestasional yang disebabkan oleh perubahan hormon yang dihasilkan
selama kehamilan dan biasanya berkurang atau menghilang setelah melahirkan, dan
jenis lain dari diabetes melitus.
Beberapa cara untuk mencegah diabetes melitus yaitu menjaga berat badan
ideal, pola makan yang seimbang, dan tetap aktif beraktifitas. Selain itu ada beberapa
cara pemeriksaan untuk menyelidiki dan mendiagnosis diabetes melitus diantaranya
adalah tes glukosa darah secara acak, tes glukosa darah puasa dan tes toleransi
glukosa oral. Pada pasien diabetes melitus ada beberapa tindakan pengobatannya
36
yaitu perubahan pola makan, hipoglikemik oral dan injeksi insulin. Faktor-faktor yang
mempengaruhi diabetes mellitus diantaranya faktor risiko yang tidak dapat diubah
meliputi riwayat keluarga dengan DM dan faktor lain yang terkait dengan risiko
diabetes adalah penderita polycystic ovarysindrome (PCOS), penderita sindrom
metabolic, memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau
peripheral rrterial Diseases (PAD), konsumsi alkohol, faktor stres, kebiasaan
merokok, jenis kelamin, konsumsi kopi dan kafein. Selain itu diabetes yang tidak
terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi akut dan kronis.
Di home health nursing ada beberapa tugas penting perawat untuk merawat
lansia dengan diabetes yaitu memaksimalkan kesehatan pasien lansia, menjaga lansia
tetap aktif, mengontrol makanan dan obat pasien lansia, membantu kebersihan pasien
lansia, mengontrol kesehatan lansia, memotivasi dan memberi perhatian pada pasien,
serta berkomunikasi dengan pasien. Model pendampingan lanjut usia berbasis home
care dirancang dalam bentuk program pendampingan berbasis home care bagi lansia
tidak potensial, meliputi aspek fisik, sosial, mental dan spiritual.
Salah satu penelitian berjudul Program Lanset DM sebagai Strategi Intervensi
Keperawatan Komunitas dalam Pengendalian Masalah Diabetes Melitus pada
Lansia (Diah Ratnawati , Juniati Sahar, Dan Henny Permatasari). Penelitian tersebut
menggambarkan program lansia sehat yang menderita Diabetes Mellitus (LANSET
DM) sebagai strategi intervensi untuk memberikan layanan dan asuhan keperawatan
masyarakat untuk mengendalikan DM melalui penerapan teori manajemen,
masyarakat sebagai mitra, keluarga masuk keperawatan, didahului - lanjutkan model
dan teori konsekuensi fungsional di Kelurahan Cisalak Pasar. LANSET DM efektif
dan berlaku untuk digunakan dalam manajemen layanan dan perawatan untuk lansia
dengan DM dalam hal pencegahan, promosi kesehatan, dan mengendalikan diabetes.
Dalam penelitian tersebut merekomendasikan perlunya perawat komunitas untuk
mengembangkan program dan secara aktif terlibat dalam pencegahan primer,
sekunder dan tersier dalam mengendalikan DM

B. Saran
Diharapkan program kegiatan perawatan kesehatan lansia di rumah ini
bertujuan meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa
tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai
eksistensinya dalam masyarakat. Bagi perawat home health nursing diharapkan dapat
37
meningkatkan kemampuan melakukan asuhan keperawatan yang professional, sebagai
case manager dalam melakukan asuhan keperawatan dimulai dari perencanaan
manajemen kasus home health nursing, rancangan asuhan keperawatan yang akan
diberikan, serta pencatatan dan pelaporan home health nursing dalam bentuk tabel
indikator penilaian dan bekerja sama dengan keluarga/care giver dalam membantu
melaksanakan asuhan keperawatan.
Selain itu untuk menunjang pelayanan perawatan kesehatan rumah yang
optimal perlu diadakan pelatihan dan pendidikan bagi setiap petugas kesehatan,
instansi, serta anggota masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan pelayanan pada
lansia, baik melalui pelatihan dan pendidikan dalam maupun luar negeri. Lalu, bagi
keluarga pasien yang terlibat dalam penerapan home health nursing pada lansia
dengan diabetes melitus dapat melakukan perawatan kesehatan lansia secara mandiri
guna membantu lansia untuk tetap mempertahankan kualitas hidupnya yang sehat dan
produktif.

38
Daftar Pustaka

Ariwisana, K., Rini, M., Saputra, D., Witriasih, M. A.. 2017. Pengaruh Home Care Service
Terhadap Kepatuhan Dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Lansia.
Community of Publishing in Nursing, Volume 5 hal. 8–18.

Astuti, Indriyani. 2018. DKI Jakarta Wilayah Tertinggi Prevalensi Diabetes


http://mediaindonesia.com/read/detail/203040-dki-jakarta-wilayah-tertinggi-prevalensi-
diabetes (24 Maret 2020).

Decroli, Eva. 2019. Diabetes Mellitus Tipe 2. Padang: Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Ekwantini, R. D. (2017). Model Pendampingan Melalui Kelompok Perpuluhan Dalam


Meningkatkan Kemampuan Pengelolaan Diabetus Melitus di Rumah Pada Penyandang
Diabetes Mellitus Type II. Jurnal Teknologi Kesehatan, 13(2), 87-93.
Fatimah, Restyana. 2015. Diabetes Mellitus Tipe2. J Majority . 4(5): 93 – 101.
Hastuti, H. dkk. (2013). Program lansia…, Diah Ratnawati, FIK UI, 2013. (Lanset Dm).
Hastuti, H., & Sahar, J. (2017). TERHADAP PENGENDALIAN DIABETES MELLITUS
PADA. 4(2), 142–147.
Himawan, dkk. 2009. Komplikasi Jangka Pendek dan Jangka Panjang Diabetes Mellitus Tipe
1. Sari Pediatri. 10(6): 367 – 372.
H, W. M. P., Makassar, N. H., & Makassar, N. H. (2018). PADA LANSIA PENDERITA
DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS SUDIANG RAYA. 12, 20–27.
Kementerian Kesehatan RI. (n.d.). infodatin-diabetes.pdf.
Mynurz. 2018. Tugas Penting Perawat Lansia diakses dari https://mynurz.com/blog/7-tugas-
penting-perawat-lansia/ pada 17 Maret 2020 pukul 19.00.
Rahajeng, Ekowati, dkk. 2008. Pedoman Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit
Metabolik. Jakarta: Depkes RI.
Registered Nursing. Home Health Nurse. 8 November 2019. Diakses melalui
https://www.registerednursing.org/specialty/home-health-nurse/, pada 18 Maret 2020
pukul 06.00 WIB.
Rudijanto, Achmad, dkk. 2015. Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus
Tipe 2 Di Indonesia 2015. Jakarta: PB PERKENI.
Soegondo, S. 2008. Hidup Mandiri Dengan Diabetes Melitus, Kencing Manis, Sakit Gula.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

39
Tati, Rinekasari N R. 2017. Model Pendampingan Lanjut Usia Berbasis Home Care dalam
Implementasi Pendidikan Vokasional. TEKNOBUGAVolume 5 No. 2–Desember
2017.
Yayasan Elisabeth Rumah Sakit ST ELISABETH. Apakah DIABETES MELLITUS itu?. 4
September 2019. diakses melalui http://rs-elisabeth.com/artikel-kesehatan/diabetes-
melitus/, pada 18 Maret 2020 pukul 09.40 WIB.

40