Anda di halaman 1dari 32

BAB I

MAKSUD DAN TUJUAN

1.1 Bilangan Asam


Menentukan banyaknya asam lemak bebas di dalam lemak / minyak.
1.2 Bilangan Ester
Menentukan banyaknya asam lemak yang teresterkan pada gliserol di lemak /
minyak.
1.3 Bilangan Penyabunan
Menentukan banyaknya total asam lemak (yang bebas dan teresterkan) di
dalam lemak / minyak.
1.4 Bilangan Iodium
Menentukan kadar ikatan tidak jenuh (ikatan rangkap) dalam rantai karbon
pada lemak / minyak.
1.5 Cara pengujian kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil
Menentukan kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil dari segala jenis serat /
kain.
1.6 Penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)
Menentukan banyaknya kadar zat pemberat yang terdapat di dalam sabun.
1.7 Penetapan minyak / logam pelikan
Menentukan kadar minyak / logam pelican di dalam sabun.
1.8 Penetapan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan
Menentukan banyaknya lemak yang tak tersabunkan (RCOOH + R’H) apabila
hasil analisa lemak tak tersabunkan > 3%.
1.9 Penetapan asam lemak bebas
Menentukan kadar asam lemak bebas di dalam sabun yang tidak bereaksi
pada pembentukan sabun.
1.10 Penetapan alkali total
Menentukan banyaknya asam lemak bebas di dalam lemak / minyak.
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Analisa Lemak / Minyak

Lemak dan minyak adalah trigliserida, atau triasilgliserol yang merupakan


ester dari gliserol dengan asam lemak dengan berat molekul tinggi (C – 11 – 24 ).
O

H2C- OH H2C-O-C-R
esterifikasi
O

H C- OH + 3 RCOOH H C-O-C-R

H2C- OH H2C-O-C-R

Gliserol Asam lemak Lemak/minyak

Lemak dari hewan pada umumnya mengandung lemak jenuh lebih banyak
dari pada lemak tak jenuh dan umumnya berbentuk fasa padat, misalnya lemak
babi berupa gliserol–oleo-palmito-sterat. Sedangkan lemak dari minyak nabati
mengandung asam lemak tak jenuh lebih banyak dari pada lemak jenuh dan
umumnya berbentuk fasa cair, misalnya minyak jagung berupa gliserol-trioleat
dengan campuran gliserol-oleo-palmito-linolat, gliserol-dilinolo-oleat, dan gliserol-
trilinoleat.

Lemak yag stabil mempunyai kandungan asam lemak dengan jumlah karbon
C = 11 – 24. Apabila jumlah atom C rendah seperti pada Asam Butirat
(C4H9COOH) pada mentega asli, tidak tahan panas mudah terbakar. Dalam
penyimpanan, asam lemak tak jenuh mudah teroksidasi oleh udara, membentuk
keton-keton yang berbau tengik.

Asam lemak umumnya rantai hidrokarbon panjang dan tidak bercabang.


Lemak dan minyak seringkali diberi nama sebagai derivat asam-asam lemak ini.
Misalnya tristerat dan gliserol diberi nama tristerin dan tripalmitat dari gliserol
disebut tripalmitin.

Salah satu sifat dari lemak/minyak adalah mudah tersabunkan oleh larutan
alkali pada suhu mendidih, menurut reaksi :
O
H2C-O-C-R H2 C - OH
NaOH
O
Penyabunan
H C-O-C-R H C - OH + 3 R-COONa

H2C-O-C-R H2 C - OH
Sabun Natrium
Lemak/minyak Gliserol
(R=R`,R”, dan R` “)

Sifat Lemak / minyak :

 Penyabunan : lemak / minyak mudah tersabunkan oleh larutan alkali pada


suhu mendidih.
 Hidrolisa lemak : lemak / minyak mudah terhidrolisa oleh larutan asam kuat
pada suhu mendidih terutama asam – asam mineral.
 Oksidasi / reduksi : lemak jenuh mengandung asam stearat, asam palmitat,
dan lain-lain, asam lemak jenuh tidak mudah teroksidasi maupun tereduksi.
Lemak tak jenuh mengandung asam oleat, linolat, linoleat dan lain-lain, asam
lemak tak jenuh mudah tereduksi membentuk asam lemak jenuh dan mudah
teroksidasi membentuk keton-keton.
 Lemak/minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh cenderung menjadi
bau dalam penyimpanan. Pada oksidasi dalam udara lembab dan suhu tinggi,
mula-mula asam lemak tak jenuh berubah menjadi hidroksida kemudian
membentuk keton yang menimbulkan bau. Gabungan oksidasi dan penyabunan
oleh enzim dapat menguraikan lemak menjadi gliserol dan merubahnya menjadi
Akrolein CH2 = CH. CHO yang menjadi penyebab utama timbulnya bau tengik.
 Oksidasi udara dalam waktu lama dapat menimbulkan warna kekuningan.
Oksigen mensubstitusi ikatan rangkap membentuk timbulnya gugus karbonil
menyebabkan warna kekuningan
 Pengsulfonan : lemak jenuh mengandung asam stearat, asam palmitat, dan
lain-lain, asam lemak jenuh dapat disulfonkan oleh asam sulfat pekat pada suhu
dan tekanan tinggi
 Pengsulfatan : lemak tak jenuh mengandung asam oleat, linolat, linoleat dan
lain-lain, asam lemak tak jenuh mudah tersulfatkan oleh asam lemak sulfat pekat
pada suhu mendidih
 Jenis pelarut : benzena, minyak tanah, eter, hidrokarbon terklorinasi.
Terpentin, karbon disulfida, ligroin, dll. Tisdak larut dalam air, asam, dll.
 Titik leleh : 47 0C – 65 0C

Jenis asam lemak:

- Asam Laurat C11H23-COOH

- Asam Miristat C13H27-COOH

- Asam Palmitat C15H31-COOH

- Asam Linoleat C17H29-COOH

- Asam Linolat C17H31-COOH

- Asam Risinolat C17H32-OHCOOH

- Asam Oleat C17H33-COOH

- Asam Stearat C17H35-COOH

Adapun cara menghilangkan lemak/minyak dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

1. Penyabunan atau hidrolisa dengan alkali


2. Pengemulsian oleh sabun atau zat aktif permukaan
3. Ekstraksi dengan pelarut organik.
Analisa pada lemak :

1. Bilangan asam
Bilangan asam adalah bilangan yang menyatakan banyaknya mgram KOH
yang diperlukan untuk mentralkan asam lemak bebas dalam 1 gram minyak atau
lemak. Bilangan asam akan meningkat pada minyak atau lemak yang “tengik”.

2. Bilangan ester
Bilangan ester adalah bilangan yang menyatakan banyaknya mgram KOH
yang diperlukan untuk menyabunkan ester netral dalam 1 gram minyak atau lemak.
Bilangan ester diperoleh dengan cara mengurangi bilangan penyabunan dengan
bilangan asam.

3. Bilangan penyabunan
Bilangan penyabunan adalah bilangan yang menyatakan banyaknya mgram
KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1 gram minyak/lemak. Untuk tiap
molekul minyak diperluakan 3 molekul KOH, bila semakin besar molekul minyak,
maka semakin kecil bilangan penyabunannya.

4. Bilangan Iodium (BI)


Bilangan iodium adalah bilangan yang menunjukkan berapa miligram
halogen (dinyatakan sebagai iodium) yang dapat diikat oleh 100 miligram
minyak/lemak. Jadi BI merupakan ukuran bagi banyaknya ikatan rangkap (tidak
jenuh) dalam minyak/lemak karena halogenida akan diadisi pada ikatan rangkap
tersebut. Tujuannya untuk menentukan berapa banyaknya ikatan rangkap dalam
rantai hidrokarbon pada minyak/lemak. Metoda yang digunakan yaitu adisi ikatan
rangkap dalam hidrokarbon dengan halogen. Penetapannya dilakukan dengan
cara titrasi yodometri (dititar dengan tio sulfat) setelah proses adisi selesai.

5. OPU (Oil Pick Up) penetapan kadar minyak / lemak pada bahan tekstil cara
soxhlet
Kadar minyak/lemak dalam bahan tesktil merupakan perbandingan antara
berat minyak.lemakdalam bahan tekstil dengan berat kering mutlak bahan tekstil
yang telah dihilangkan minyak/lemak. Dengan prinsip minyak / lemak dalam contoh
uji diesktrak dengan zat pelarut minyak/ lemak, dengan menggunakan alat
pengekstraksi soxhlet.

2.2 Analisa Sabun

Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam
lemak. Logam Alkali : L – OH : NaOH, KOH atau NH 4OH untuk sabun yang larut dan
Ca2-, Mg2+, Al3+, Untuk sabun tidak larut, sabun mengandung terutama C 16 dan C18,
namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih
rendah.

Sekali penyabunan itu telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol
dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan. Gliserol digunakan sebagai
pelembab dalam tembakau, industri farmasi dan kosmetik. Sifat melembabkan
timbul dari gugus-gugus hidroksil yang dapat berikatan hidrogen dengan air dan
mecegah penguapan air itu. Sabunnya dimurnikan dengan mendidihkannya dalam
air bersih untuk membuang lindi yang berlebih, NaCl, dan gliserol. Zat tambahan
(additive) seperti batu apung, zat warna dan parfum kemudian ditambahkan. Sabun
padat itu lalu dilelehkan dan dituang ke dalam suatu cetakan.
Fungsi sabun diantaranya:

a. sabun alkali tanah untuk detergen (zat pencuci) RCOONa, RCOOK, RCOONH4
b. sabun alkali logam mineral untuk zat tahan air yang tidak permananen
(RCOO)2Ca, (RCOO)2Mg, (RCOO)3Al
Sabun yang digunakan sebagai pencuci pada umumnya dibuat dari basa
natrium yang direaksikan dengan asam lemak berantai panjang. Untuk tujuan
tertentu sabun dapat dibuat dari garam kalium, misalnya untuk sabun yang lebih
lunak dan lebih larut dalam air. Cara pembuatan sabun secara singkat dapat diihat
sebagai berikut:
Pemasakan minyak/lemak dalam larutan alkali (NaOH atau KOH) pada suhu
mendidih (95 – 100 0C).

O
H2C-O-C-R H2 C - OH
NaOH
O
Penyabunan
H C-O-C-R H C - OH + 3 R-COONa
O

H2C-O-C-R H2 C - OH
Sabun Natrium
Lemak/minyak Gliserol
(R=R`,R”, dan R` “)

1. Sabun Natrium
Dari hasil penyabunan tersebut diperoleh suatu campuran sabun, gliserol
dan sisa alkali. Sabun-Na larut dapat dipisahkan dari masa tersebut dengan cara
penggaraman karena sabun-Na larut dalam larutan jenuh NaCl. Setelah
penggaraman, larutan sabun naik kepermukaan larutan garam NaCl sehingga dapat
dipisahkan dari gliserol dan larutan garam dengan cara menyaring dari larutan
garam. Masa sabun yang kenyal dicuci dengan air dingin untul menetralkan alkali
yang berlebih atau memisahkan garam NaCl yang masih tercampur. Kemudian
sabun kental dicetak menjadi sabun batangan dan dikeringkan. Gliserol dipisahkan
dari sisa larutan garam NaCl dengan jalan destilasi vakum. Garam NaCl dapat
diperoleh kembali secara pengkristalan untuk kemudian dapat dipakai kembali.

2. Sabun Kalium
Sabun kalium tidak mudah dipisahkan dari gliserol karena penambahan
garam NaCl akan menyebabkan pengendapan garam natrium dari asam lemak
(sabun Natrium).

RCOOK + NaCl RCOONa + KCl

Sesuai dengan fungsinya maka sabun-Na atau sabun-K dapat dicampur


dengan zat-zat tambahan seperti pewangi, zat antiseptik, oksidator dan zat pengisi
lainnya, sebelum dicetak atau dipasarkan. Sabun dapat larut dalam alkohol dan
sedikit larut dalam pelarut lemak. Sifat sabun dalam air adalah terlarut dalam pelarut
lemak. Sifat sabun dalam air adalah terlarut berupa larutan koloidal dan bersifat Zat
Aktif Permukaan R-COOL.

Mutu sabun ditentukan oleh kadar asam lemak yang tidak tersabunkan.
Sabun memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

 Sabun larut dalam alkohol dan sedikit arut dalam pelarut lemak. Sifat dalam air
yaitu terlarut berupa larutan kolidal dan bersifat zat aktif permukaan RCOOL 
gugus alkali bersifat menolak air (hidrofob) dan gugus COOL bersifat menarik air
(Hidrofil). Bila L berupa ion Na+, K+, atau NH4+. Larutan koloidal akan terbentuk
dengan cepat pada suhu yang makin tinggi.
 Dalam air sadah :
RCOONa + CaSO4  (RCOO)2Ca + Na2SO4 + MgCl2 

(RCOO)2Mg + 2 NaCl.

Sabun dalam air sadah akan mengendap sebagai sabun kalsium atau sabun
magnesium, sehingga untuk mendapatkan daya cuci yang tinggi harus dipakai lebih
banyak sabun atau ditambahkan alkali (NaOH + Na 2CO3 atau Ca(OH)2 + Na2CO3)
untuk melunakkan air sadah.

 Dalam Asam :

RCOONa + HCl ⃗+
H RCOOH + NaCl

Larutan asam akan segera menghidrolisa sabun menjadi asam lemak kembali. Di
dalam air dingin akan terbentuk koloidal atau gumpalan lemak, dalam pemanasan
akan membentuk massa asam lemak yang meleleh dan merupakan lapisan minyak
yang jernih dipermukaan larutan asam.

 Dalam larutan encer :


RCOONa ↔ RCOO- + Na+

Larutan encer sabun selalu terionkan membentuk anion yang berasal dari RCOO-
sehingga sabun disebut zat aktif anion. Gugus RCOO- mempunyai sifat hidrofob dari
rantai alkali R dan hidrofil dari gugus –COO-.

 Hidrolisa dalam air :

RCOONa ⃗
H 2O
RCOOH + Na+

Larutan sabun selalu terhidrolisa dalam air sehingga bersifat sedikit alkalis.
Dengan penambahan indicator fenolpthalin akan berwarna merah muda. Sehingga
dalam waktu bersamaan akan terdapat molekul-molekul RCOONa, RCOOH dan ion-
ion RCOO-, OH- dan Na+.

Macam-macam Sabun dan Mutu Sabun

Mutu sabun ditentukan oleh kadar asam lemak yang tersabunkan,


Sabun Murni: Sabun Na yang sudah dipisahkan dari gliserol, garam NaCl dan bebas
alkali atau asam lemak bebas. Sabun Na yang kering mengandung kadar asam
lemak antara 60 – 80 %, sedangkan sisanya kadar air.

Sabun Inti:

Campuran Sabun Na atau sabun K dengan gliserol. Kadar asam lemak > 60 %,
bersifat netral dengan kadar air 15 – 20 %.

Sabun Kosmetik:

Sabun inti + pewangi + tanbahan sedikit gliserol/

Sabun ½ Inti:

Sabun inti + sedikit alkali bebas. Kadar asam lemak > 45 %.

Sabun Lim:

Masa campuran sabun + gliserol + sedikit alkali bebas (NaOH). Tidak dilakukan
penggaraman dan bersifat alkalis. Kadar asam lemak 15 – 45 %, dan dicampurkan
dengan air kaca natron (Na-Silikat), borax, soda, fosfat, garam NaCL, atau Na 2SO4,
kapur, kaolin, dekstrin, selulosa dan sebagainya.

Kadang-kadang 1 Kg sabun lim dibuat dari campuran minyak kelapa dan minyak
kelapa sawit dalam campuran antara 50 : 50 sampai 80 : 20.

Adapun analisa sabun meliputi beberapa percobaan, yaitu :


1. Penetapan Kadar Lemak Bebas yang Tidak Tersabunkan
Lemak tak tersabunkan adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya
NaOH yang diperlukan untuk menyabunkan lemak tak tersabunkan di dalam sabun.
Tujuannya untuk menentukan banyaknya lemak dalam sabun yang tidak dapat
disabunkan pada saat pembuatan sabun.

2. Penetapan Alkali Bebas


Kadar alkali bebas adalah yang menunjukkan banyaknya kadar alkali bebas
(sebagai NaOH) yang dapat dinetralkan oleh asam). Tujuannya untuk menentukan
kadar alkali bebas didalam sabun yang tidak bereaksi pada pembentukan sabun.
Penetapannya dengan cara titrasi asidimetri.
3. Penetapan Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya NaOH
yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas didalam sabun. Maksudnya
untuk menentukan kadar asam lemak bebas yang tidak bereaksi dengan alkali
menjadi sabun. Tujuannya untuk menentukan banyaknya asam lemak bebas
didalam sabun yang tidak tersabunkan pada saat pembuatan sabun. Penetapannya
dilakukan dengan cara titrasi alkalimetri dengan larutan alkohol KOH sebagai
penitarnya karena asam lemak dicari jumlahnya dimana jumlahnya ekivalen dengan
asam dititar dengan alkali

4. Penetapan Alkali Total


Kadar alkali total adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya alkali bebas
dan alkali terikat (sebagai NaOH) yang dapat dinetralkan oleh asam. Tujuannya
untuk menentukan kadar alkali total didalam sabun sebagai jumlah alkali bebas dan
alkali terikat. Cara penetapan dengan hidrolisa sabun dalam air.

5. Asam lemak Total


Jumlah alkali terurai dan alkali bebas.

6. Penetapan Kadar Zat Pemberat (Fillers)


Zat pengisi atau zat pemberat pada sabun adalah zat-zat semacam kaolin,
batu ambang, asbes, kapur, dll. Zat-zat tersebut ditambahkan pada waktu
pembuatan sabun sebagai zat pengisi atau zat pemberat, dengan maksud untuk
menambah berat dan mempermudah bentuk sabun kalau dicetak. Penetapannya
yaitu dengan cara penyaringan secara kualitatif.

7. Penetapan Minyak / Logam Pelikan


Minyak/logam pelikan adalah minyak-minyak mineral/zat-zat yang tidak bisa
disabunkan, misalnya: minyak tanah, minyak mesin, dll. Ditetapkan secara kualitatif.

Standar nilai pada minyak / lemak

Minyak / lemak BA BI BP

Castor 0.13 – 0.8 86.6 – 88.3 175 - 183

Kelapa 2.5 – 10 8.4 – 8.8 200 – 205

Jagung 1–2 113 – 125 187 – 193

Sawit 10 53 200 – 205


Zaitun 0.3 – 1.6 86 – 90 185 – 194

Kacang - 88 – 98 186 – 194

Wijen 9.8 103 – 117 186 – 194

Kedelai 0.3 – 1.2 122 – 134 189 - 193.5


BAB III
REAKSI

3.1 Bilangan Asam


RCOOH + KOH  RCOOK + H2O

3.2 Bilangan Ester


R(COO)3C3H5 + KOH  RCOOK + C3H5(OH)3
KOH + HCl  KCl + H2O

3.3 Bilangan Penyabunan


R(COO)3C3H5 + 3 KOH  3 RCOOK + C3H(OH)3

3.4 Bilangan Iodium


H H
I I
CH = CH + IBr  C – C
I I
I Br
Br2 + 2 KI  KBr + I2
I2 + 2 Na2S2O3  Na2S2O6 + 2 NaI

3.5 Penetapan asam lemak bebas


RCOOH + KOH  RCOOK + H2O

3.6 Penetapan alkali total


RCOONa + H2O  RCOOH + NaOH
NaOH + HCl  NaCl + H2O
BAB IV
ALAT DAN BAHAN

4.1 Bilangan Asam

Alat – alat
 Timbangan analitik
 Erlenmeyer
 Buret
Bahan
 Eter : Alkohol netral = 1 : 2
 KOH Alkohol 0,1 N
 Indikator PP

4.2 Bilangan Ester

Alat – alat

 Timbangan analitik
 Erlenmeyer
 Buret
Bahan
 KOH Alkohol 0,5 N
 HCl 0,5 N
 Indikator PP

4.3 Bilangan Penyabunan


Alat – alat
 Timbangan analitik
 Erlenmeyer
 Pipet
 Buret
Bahan
 Alkohol KOH 0,5 N
 HCl 0,5 N
 Indikator PP
4.4 Bilangan Iodium
Alat – alat
 Timbangan analitik
 Erlenmeyer tutup asah
 Buret
Bahan
 Larutan Hanus 0,1 N
 Chloroform
 Larutan Tiosulfat 0,1 N
 Indikator kanji 0,5%
 Kalium Iodida 10%

4.5 Cara pengujian kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil


Alat – alat
 Pengekstrak Soxhlet lengkap terdiri dari :
Labu lemak / labu ekstraksi 250 ml

Tabung / labu soxhlet

Pendingin gondok / pendingin spiral

 Penangas listrik / elektrik heating plate


 Oven / pengering listrik
 Eksikator
 Kertas saring tabung / kertas saring biasa bebas lemak
 Neraca analitik
Bahan
 Benzena
 Etanol
 Karbon tetra klorida
 Trikloro etilena
 Campuran Benzena : Etanol = 1 : 1

4.6 Penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)

Alat – alat
 Timbangan analitik
 Erlenmeyer
 Buret
Bahan
 Alkohol 95%

4.7 Penetapan minyak / logam pelican


Alat – alat
 Timbangan analitik
 Tabung reaksi
 Rak tabung
Bahan
 KOH Alkohol 0,5 N
 Air suling

4.8 Penetapan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan

Alat – alat
 Timbangan analitik
 Erlenmeyer
 Buret
Bahan
 Eter
 NaHCO3 1%

4.9 Penetapan asam lemak bebas


Alat – alat
 Timbangan
 Erlenmeyer 250 ml
 Pipet volume
 Pendigin refluks
 Buret
Bahan
 Alcohol netral
 KOH Alkohol 0,1000 N
 Indicator PP
4.10 Penetapan alkali total
Alat – alat
 Timbangan analitik
 Erlenmeyer
 Buret
Bahan
 Eter : Alkohol netral = 1 : 2
 KOH Alkohol 0,1 N
 Indikator PP

BAB V
CARA KERJA

5.1 Bilangan Asam


Cara kerja yang dilakukan pada bilangan asam yaitu :

 Timbang dengan teliti 1-2 gram lemak/minyak.


 Larutkan dalam 25 ml pelarut eter alkohol netral.
 Bubuhi 2 tetes indikator PP (tidak berwarna).
 Titar cepat dengan Alkohol KOH 0, 1 N sampai warna
merah jambu muda.
 Sisa larutan jangan dibuang, dilanjutkan untuk penetapan
Bilangan Ester (BE).

5.2 Bilangan Ester


Cara kerja yang dilakukan pada bilangan ester yaitu :

 Sisa cairan bekas penetapan bilangan asam (asam lemak yang sudah
mengandung asam lemak bebas), tambahkan 10 ml tepat (pipet) alkohol KOH
0,5 N.
 Bubuhi batu didih, menyambungkan dengan pendingin tegak lalu refluks
selama 15-30 menit, sewaktu-waktu harus dikocok supaya penyabunan
sempurna.
 Pada akhir pendidihan, tetesi indikator PP maka larutan harus berwarna merah
berarti masih ada kelebihan alkohol KOH, kalau tidak merah berarti masih
kekurangan alkohol KOH dan harus ditambah 10 ml lagi tepat (pipet) Alkohol
KOH 0,5 N, lalu refluks kembali selama 15-30 menit lagi.
 Angkat dan dinginkan sebentar (jangan terlalu dingin bisa membeku), lalu titar
dengan HCl 0,5 N sampai warna merah jambu muda/tepat warna merah hilang
 Dilakukan titrasi blanko untuk 10 ml alkohol KOH 0,5 N yang sama dengan
pelaksanaan yang sama seperti contoh.

5.3 Bilangan Penyabunan


Cara kerja yang dilakukan pada bilangan penyabunan yaitu :

 Ditimbang dengan teliti 1-2 gram contoh minyak / lemak yang sudah bebas air
dan asam mineral.
 Dipipet 10 ml Alkohol KOH 0, 5 N dan batu didih, kemudian direfluks selama
15 -30 menit.
 Pada akhir pendidihan, dibubuhi 2-3 tetes indikator PP dan harus berwarna
merah.
 Diangkat dan didinginkan sebentar, lalu dititar dengan HCl 0, 5 N sampai tepat
warna larutan merah hilang.
 Dilakukan titrasi blanko.

5.4 Bilangan Iodium


Cara kerja yang dilakukan pada bilangan iodium yaitu :

 Ditimbang dengan teliti 1 – 2 gram contoh minyak / lemak ke dalam


erlenmeyer asah.
 Dilarutkan dengan 5 ml chloroform.
 Ditambahkan tepat 10 ml larutan Hanus dari buret.
 Dikocok dan disimpan di tempat yang gelap selama 15 menit.
 Ditambahkan 10 ml KI 10% dan diencerkan dengan air suling.
 Dititar dengan Tiosulfat 0,1 N sampai berwarna kuning muda, lalu
ditambahkan 1-2 ml kanji.
 Titrasi diteruskan sampai larutan menjadi tak berwarna.
 Dilakukan titrasi blanko.

5.5 Cara pengujian kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil


Cara kerja yang dilakukan pada pengujian kadar minyak / lemak dalam
bahan tekstil yaitu :
 Contoh uji ditimbang, misalnya berat contoh uji a gram
 Keringkan labu lemak yang telah diisi batu didih dalam oven suhu 105-110 oC
selam 1 jam, lalu dinginkan dalam eksikator selama 15 menit. Timbang labu
lemak misalnya berat labu lemak = b gram
 Contoh uji dimasukan dalam kertas saring sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu sirkulasi zat pelarut
 Contoh uji di masukan ke dalam labu soxhlet
 Masukan zat pelarut lemak sebanyak 1,5 atau 2 kali volume labu soxhletyang
telah dilengkapi dengan labu ekstraksi, ;lalu pasang dan hubungkan dengan
pendingin
 Letakan diatas penangan listrik, alirkan air dingin
 Lakukan ekstraksi sebanyak 6 kali sirkulasi pelarut
 Setelah selesai keluarkan contoh uji, untuk menghilangkan pelarut pada
contoh uji, keringkan dalam oven selama 1 jam pada suhu 1105-110 oC, lalu
dinginkan dalam eksikator selama 15 menit, lalu timbang , misalnya berat
contoh uji = c gram
 Pisahkan minyak dari pelarut dengan cara penyulingan sampai pelarut habis
 Ulangi pengerjaan tersebut sampai botol tetap dan terakhir penimbangan
misalnya berat labu lemak/labu ekstraksi dan lemak atau minyak = d gram

5.6 Penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)


Cara kerja yang dilakukan pada penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)

 Menimbang dengan teliti 1-2 gram contoh sabun, dimasukkan kedalam


Erlenmeyer.
 Melarutkan dalam 50 - 100 ml alkohol netral/alkohol 96%.
 Memanaskan/refluks dengan menggunakan pendingin tegak diatas penangas
air.
 Sabun dan hidroksida alkali pada sabun akan larut, sedangkan karbonat tidak
larut.
 Bagian yang tidak larut disaring dengan kertas saring yang sudah diketahui
bobotnya.
 Kertas saring dan residu dikeringkan pada 105-110 0C selama 30 menit,
dimasukkan kembali kedalam eksikator, lalu ditimbang sampai bobot tetap.

5.7 Penetapan minyak / logam pelican


Cara kerja yang dilakukan pada penetapan minyak / logam pelican yaitu :

 Timbang kira-kira 0,1 – 0,2 gram contoh sabun, masukkan dalam tabung
reaksi kemudian dilarutkan dengan 2 ml alkohol KOH 0,5 N.
 Larutan yang terjadi kemudian diencerkan dengan air suling, berturut-turut
diencerkan kembali dengan air suling, kurang lebih lima kali pengenceran.
 Bila tidak mengandung logam pelikan, maka tiap-tiap diencerkan dengan air
tidak terjadi kekeruhan, bila terjadi kekeruhan berarti sabun mengandung
logam pelikan.

5.8 Penetapan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan


Cara kerja yang dilakukan pada penetapan kadar lemak bebas yang tidak
tersabunkan yaitu :

 Timbang dengan teliti 1-3 gram contoh sabun, melarutkan dengan 100 ml
larutan NaHCO3 1%.
 Panaskan di atas penangas air (jangan dikocok untuk menghindari busa).
 Dinginkan sampai suhu kamar, dipindahkan seluruh contoh sabun yang sudah
larut kedalam corong pemisah secara kuantitatif, piala dibilas dengan NaHCO3
1%
 Ke dalam corong pemisah dimasukkan 10-20 ml larutan eter, lalu
dikocok/diputar dan dibiarkan beberapa menit sampai terlihat lapisan pemisah,
kemudian dipisahkan.
 Lapisan bawah yang terdiri dari larutan NaHCO3 1% dimasukkan kembali
dalam piala gelas semula, sedangkan lapisan eter dimasukkan kedalam labu
lemak / labu ekstraksi yang telah diketahui bobotnya.
 Larutan contoh dan NaHCO3 1% dalam piala gelas tersebut dimasukkan
kembali dalam corong pemisah, ditambahkan lagi 10-20 ml eter, dikocok,
dibiarkan dan dipisahkan lagi seperti tadi. Diulangi pekerjaan tersebut 3x
berturut-turut.
 Larutan eter yang sudah terkumpul diuapkan dengan alat soxhlet
 Residu yang tinggal kemudian dikeringkan dalam oven 70 0C selama 30 menit,
dinginkan pada eksikator dan ditimbang sampai bobot tetap.

5.9 Penetapan asam lemak bebas


Cara kerja yang dilakukan pada penetapan asam lemak bebas yaitu :
 Timbang teliti 2 – 3 gram contoh, masukan dalam Erlenmeyer 250 ml.
 Larutkan dengan 25 ml Alkohol netral.
 Tambahkan 1 – 2 butir batu didih.
 Didihkan dengan pendingin refluks selama 15 – 30 menit.
 Dinginkan sebentar, bubuhi 1 – 2 tetes indicator PP.
 Titar dengan KOH Alkohol 0,1000 N sampai warna merah muda.

5.10 Penetapan alkali total


Cara kerja yang dilakukan pada penetapan alkali total yaitu :

 Timbang dengan teliti 0,5 – 1 gram contoh sabun.


 Larutkan dalam 50 ml air suling panas sampai seluruh sabun larut.
 Tetesi dengan 2-3 indikator MO.
 Titar dengan larutan HCl 0,5000 N sampai berwarna jingga muda.
BAB VI
DATA PERCOBAAN

6.1 Bilangan Asam


BA 1
Bobot contoh lemak : 1,6475 gram
mL titrasi : 3,1 mL
BA 2
Bobot contoh lemak : 1,6763 gram
mL titrasi : 3,4 mL
mL x N KOH Alkohol x BE KOH Alkohol
BA 1 =
Bobot contoh lemak ( mgram )
3 x 0,1 x 56
= = 10,53
1,6475
mL x N KOH Alkohol x BE KOH Alkohol
BA 2 =
Bobot contoh lemak ( mgram )
3 x 0,1 x 56
= = 11,35
1,6763
6.2 Bilangan Ester
BE 1
Bobot contoh lemak : 1,6475 gram
mL titrasi : 4,2 mL
BE 2
Bobot contoh lemak : 1,6763 gram
mL titrasi : 5,3 mL
mL titrasi blanko = 11,8 mL
( ml banko−ml titrasi ) x N HCl x BE KOH
BE1 =
bobot contoh uji(mg)
( 10,5−4,2 ) x 0,5 x 56
= =107,07
1,6475
( ml banko−ml titrasi ) x N HCl x BE KOH
BE2 =
bobot contoh uji(mg)
( 10,5−5,3 ) x 0,5 x 56
= =86,85
1,6763
6.3 Bilangan Penyabunan
BP 1
Bobot lemak 1 = 1,8858 gram
Titrasi = 10 mL
Blanko 1 = 10,4 mL
BP 2
Bobot lemak 2 = 1,5874 gram
Titrasi =9,2 mL
Blanko 2 = 10,4 mL
( ml blanko−ml titrasi ) x N HCl x BE
BP 1 =
bobot contoh uji( gram)
( 10,4−10 ) x 0,5 x 56
= =5,94
1,8858
( ml blanko−ml titrasi ) x N HCl x BE
BP 2 =
bobot contoh uji( gram)
( 10,4−9,2 ) x 0,5 x 56
= =21,24
1,5844

6.4 Bilangan Iodium


BI 1
Bobot lemak : 1,5447
Titrasi :4,2 ml
Blanko BI 1: 8,8 mL
BI2
Bobot lemak : 1,6924 gram
Titrasi : 3,7 mL
Blanko BI 2 : 8,8 mL
( mLblanko−mL titrasi ) x N Na 2 S 2 O 4 x BE I 2
BI 1 = x 100 mg
bobot contoh uji(mgram)
( 8,8−4,2 ) x 0 , 1 x 127
= x 100 mg
1,5447
= 1,549,7
( ml blanko−ml titrasi ) x N Na 2 S 2 O 4 x BE I 2
BI 2 = x 100mg
bobot uji(mgram)
( 8,8−3,7 ) x 0 ,1 x 127
= x 100 mg
1,6924
=1.6924

6.5 Cara pengujian kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil


Sebelum
Berat contoh uji (a gram) : 1,2677 gram
Berat labu lemak (b gram) : 110,2801 gram
Sesudah
Berat contoh uji (c gram) : 2,0694 gram
Berat labu lemak (d gram) : 110,6719gram
Perhitungan
c−a
Kadar minyak / lemak = x 100%
contoh uji
2,0694−1,2677
= x 100%
2,0694
= 38,74 %
Atau
d−b
= x 100%
contoh uji
110,6719−110,2801
= x 100%
2,0694
= 18,93%
6.6 Penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)
Bobot contoh : 1,0386 gram
Bobot kertas : 0,3475vgram
Bobot residu = 0,4455
Berat Residu
Kadar Zat Pengisi (Filler) = x 100%
Berat Contoh

0,4455−0,3475
= x 100%=9,43%
1,0386

6.7 Penetapan minyak / logam pelican


Sangat keruh Keruh Agak keruh  Jernih  Jernih
6.8 Penetapan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan
berat labu awal : 86,0809 gram
berat labu akhir : 86,3321 gram
berat residu : 0,2512 gram
berat contoh : 1,276 gram
berat residu
kadar lemak netral = x 100%
bobot contoh
0,2512
= x 100%
1,2760
= 19,68%
6.9 Penetapan asam lemak bebas
Berat contoh uji 1 : 2,0141 gram : 2014,1 mgram
Titrasi 1 : 0,2 mL
Berat contoh uji 2 : 2,0806 gram : 2080,6 mgram
Titrasi 2 : 0,5 mL
mL x N Alkohol KOH x BE asamlemak
Asam lemak bebas 1 = x 100%
bobot contoh (mg)
0,6 ml x 0,1000 N x 200
= x 100%
1009,1mg
= 1,18%
mL x N Alkohol KOH x BE asamlemak
Asam lemak bebas 2 = x 100%
bobot contoh (mg)
0,8 ml x 0,1000 N x 200
= x 100%
1045,1mg
= 1,53%
0,1985+0,4806
X́ asam lemak bebas = =0,3395 %
2

6.10 Penetapan alkali total


Berat contoh uji 1 : 0,5337 gram
Titrasi 1 : 4,1 mL
Berat contoh uji 2 : 0,5245 gram
Titrasi 2 : 4,1 mL
mL x N HCl x BE NaOH
Alkali total 1 = x 100%
bobot contoh(mg)
4,1 mL x 0,5000 N x 56
= x 100%
533,7 mg
= 15,36 %
mL x N HCl x BE NaOH
Alkali total 2 = x 100%
bobot contoh(mg)
4,1 mL x 0,5000 N x 56
= x 100%
524,5 mg
= 15,63 %
BAB VII
DISKUSI

7.1 Bilangan Asam


Pada percobaan bilangan asam, untuk menentukan banyaknya asam
lemak bebas didalam lemak / minyak. Dalam percobaan ini untuk
menetralkan asam – asam organic (lemak) bebas dalam 1 – 2 gram lemak
kita harus mengetahui berapa mgram KOH Alkohol yang diperlukan. Pada
KOH Alkohol berfungsi sebagai mengetahui kadar lemak sehingga lemak
bebas tidak ikut terikat.
Pada penambahan eter alcohol berfungsi untuk menghambat
kelarutan lemak dari air. Untuk penambahan indicator PP larutan tidak
berwarna menunjukkan lemak / minyak mengandung asam lemak bebas.
Pada saat titrasi, titrasi yang dilakukan yaitu titrasi alkalimetri dengan
menggunakan KOH Alkohol sampai larutan berwarna merah muda. Warna
merah muda menandakan titik akhir dari titrasi KOH Alkohol.

7.2 Bilangan Ester


Pada percobaan bilangan ester, untuk menentukan banyaknya asam
lemak yang teresterkan pada gliserol di lemak / minyak. Bilangan ester yaitu
bilangan yang menyatakan banyaknya mgram KOH yang diperlukan untuk
menyabunkan ester dalam 1 gram lemak / minyak. Bilangan ester diperoleh
dengan cara mengurangi bilangan penyabunan dengan bilangan asam.
Percobaan bilangan ester ini kebalikan dari bilangan asam, oleh karena itu
pada penetapan ini asam lemak yang esterkan dan jumlahnya akan lebih
banyak dari bilangan asam.
Pada penambahan KOH Alkohol 0,5N berfungsi sebagai mencari
bilangan ester yang terikat. Pada penambahan indicator PP harus berwarna
merah untuk menunjukkan larutan dalam keadaan basa. Larutan direfluks,
setelah direfluks larutan didinginkan, lalu dititrasi dengan HCl 0,5 N, titik akhir
titrasi ditandai dengan warna larutan dari ungu hingga tidak berwarna. Hal
yang harus diperhatikan yaitu pada saat mendinginkan larutan dari refluks
jangan terlalu dingin, karena bisa membeku.
7.3 Bilangan Penyabunan
Pada percobaan bilangan penyabunan ini, untuk menentukan
banyaknya total asam lemak (yang bebas dan teresterkan) didalam minyak /
lemak. Biilangan penyabunan yaitu bilangan yang menyatakan banyaknya
mgram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1 gram minyak / lemak.
Bilangan penyabunan ini dapat dikatakan gabungan dari bilangan asam dan
bilangan ester. Metoda yang dilakukan yaitu hidrolisis lemak dan
penyabunan asam lemak dengan alkali. Lemak / minyak mudah terhidrolisa
oleh larutan asam kuat pada suhu mendidih terutama asam – asam mineral.
Pada KOH Alkohol 0,5 N berfungsi sebagai melarutkan lemak /
minyak untuk mengetahui kadar dari seluruh asam lemak. Pada
penambahan KOH Alkohol harus diperhatikan agar tidak berlebih. Larutan
diberi indicator PP setelah direfluks dan dititrasi dengan HCl sampai titik akhir
dengan ditandai warna larutan merah hilang. Warna merah pada larutan
menandakan larutan dalam suasan basa / kandungan KOH Alkohol berlebih.
Dapat dinyatakan bahwa semakin besar molekul minyak, maka semakin kecil
bilangan penyabunan.

7.4 Bilangan Iodium


Pada percobaan bilangan iodium ini, untuk menentukan kadar ikatan
tak jenuh (ikatan rangkap) dalam rantai karbon pada lemak / minyak. Metoda
yang digunakan yaitu adisi ikatan rangkap dalam hidrokarbon dengan
halogen (I, Br). Penetapan ini dilakukan dengan titrasi iodometri setelah
proses adisi selesai. Pada penyimpanan larutan ditempat yang gelap
dikarenakan karena larutan mempunyai reaksi yang menyebakan larutan
mudah terurai oleh cahaya dan suhu tinggi. Larutan ditambahkan KI 10%,
lalu dititar dengan tiosulfat 0,1 N sampai berwarna kuning muda. Warna
kuning ditimbulkan dari oksidasi udara dalam waktu lama dan oksigen
mensubtitusi ikatan rangkap membentuk timbulnya gugus karbonil. Lalu
ditambahkan indicator kanji dan larutan berwarna biru ungu. Karan I2
bereaksi maka warna biru ungu akan berkurang dan akan hilang tepat
setelah iod amilum bereaksi. Titrasi dilakukan sampai titik akhir yaitu sampai
larutan menjadi tak berwarna.
7.5 Cara pengujian kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil
Pada percobaan kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil cara
soxhlet (oil pick up), untuk menentukan kadar minyak / lemak dlam bahan
tekstil dari segala jenis serat atau kain. Paada percobaan ini, yang diuji yaitu
sampel kain yang telah diberi minyak / lemak. Minyak / lemak pada kain
diekstrak dengan zat pelarut yaitu alcohol 96% dengan menggunakan alat
pengekstraksi soxhlet. Kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil merupakan
perbandingan antara berat minyak / lemak dalam bahan testil dengan berat
kering mutlak bahan tekstil yang telah dihilangkan minyak / lemak.
Perbedaan yang tidak sesuai didapatkan dari kadar minyak / lemak yang
dihitung dari minyak / lemak yang sudah terekstrasi dan tertampung di dalam
labu lemak dan terdapat hasil yang sedikit berbeda dengan pengurangan
berat kain.

7.6 Penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)


Pada percobaan penetapan kadar zat pemberat (Fillers), untuk
menentukan banyaknya kadar zat pemberat yang terdapat didalam sabun.
Pada penambahan contoh uji diberi alcohol 95% karena sabun larut dalam
alcohol dan sedikit larut dalam pelarut lemak. Sabun dan hidroksida alkali
pada sabun akan larut sedangkan karbonat tidak akan larut, karena larutan
sabun selalu terhidrolisa dalam air sehingga bersifat sedikit alkalis. Pada
bagian yang tidak larut disaring menggunakan kertas saring. Lalu dikeringkan
pada suhu 105 – 110oC dan ditimbang untuk mengetahui kaadar zat pemberat
yang terdapat di dalam sabun larut. Dalam sabun ditambahkan zat pemberat /
pengisi (filler) agar menambah berat sabun dan memudahkan sabun untuk
dicetak. Zat pemberat tersebut dapat berupa zat semacam kaolin (zat yang
mempermudah pada saat pencetakan sabun), kalsium, batu ambang, asbes,
kapur, dll sesuai dengan kebutuhan.

7.7 Penetapan minyak / logam pelican


Pada percobaan penetapan minyak / logam pelican, untuk
menentukan kadar minyak / logam pelican di dalam sabun. Minyak / logam
pelican adalah minyak – minyak mineral atau zat – zat yang tidak bisa
disabunkan, misalnya minyak tanah, minyak mesin dan sebagainya hanya
dicari atau ditetapkan secara kualitatif saja. Prinsip dari percobaan logam
pelican yaitu sabun dilarutkan dengan KOH Alkohol 0,5% karena sabun larut
oleh KOH Alkohol sehingga dapat dilihat kandungan logam dalam larutan
tersebut. Lalu diencerkan 5 kali dengan air suling. Jika pengenceran
semakiin keruh maka sabun tersebut positif mengandung logam pelican. Dan
jika larutan semakin jernih maka sabun tersebut negatif mengandung logam
pelican.

7.8 Penetapan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan


Pada percobaan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan, untuk
menentukan banyaknya lemak yang tak tersabunkan (RCOOH + R’H)
apabila hasil analisa lemak tak tersabunkan > 3%. Dalam pembuatan sabun
ada juga lemak yang tidak tersabunkan oleh alkali juga oleh lemak – lemak
yang sedikit tercampur dengan lilin atau minyak lain yang tidak tersabunkan.
Pada penambahan NaHCO3 1% pada sabun berfungsi sebagai
penghisap alkali bebas tersebut dan lemak netralnya tidak disabunkan. Pada
larutan eter berfungsi untuk memisahkan larutan NaHCO3 yang berikatan
dengan alkali bebas dengan larutan eter dan asam lemak (lemak yang tidak
tersabunkan). Setelah eter didapatkan lalu dipisahkan eter dalam lemak
tersebut menggunakan soxhlet. Lalu dioven sampai sisa eter bersisa dan
diketahui residu lemak di labu lemak. Semakin kecil kadar lemak netral yang
tidak tersabunkan maka semakin baik pula mutu sabun tersebut kecuali bila
asam lemak sudah teroksidasi akibat penyimpanan yang tidak benar. Sabun
yang ideal tidak memiliki kandungan lemak netral yang tidak tersabunkan,
tetapi itu sulit ditemukan sabun yang ideal.

7.9 Penetapan asam lemak bebas


Pada percobaan penetapan asam lemak bebas, untuk menentukan
kadar asam lemak bebas di dalam sabun yang tidak bereaksi pada
pembuatan sabun. Dalam praktikum ini contoh uji sabun ditambahkan larutan
alcohol netral untuk melarutkan sabun karena alcohol adalah pelarut untuk
bahan organic. Setelah melalui pendinginan refluks larutan diberi indicator
PP, sebagai pembuktian bahwa bahan tersebut bersifat asam atau basa.
Metode titrasi yang digunakan yaitu titrasi alkalimetri, sehingga larutan yang
digunakan yaitu larutan KOH Alkohol 0,1000N. titik akhir titrasi pada larutan
ditandai dengan larutan berwarna merah muda.
7.10 Penetapan alkali total

Pada percobaan alkali total, untuk menentukan banyaknya asam


lemak bebas didalam lemak / minyak. Kadar alkali total adalah bilangan
yang menunjukkan banyaknya alkali bebas dan alkali terikat (sebagai NaOH)
yang dapat dinetralkan oleh asam. Tujuannya untuk menentukan kadar alkali
total didalam sabun sebagai jumlah alkali bebas dan alkali terikat. Cara
penetapan dengan hidrolisa sabun dalam air.

Pada penetapan alkali total, sabun dilarutkan dalam air suling panas.
Meskipun sabun tidak larut oleh air tetapi jika dilarutkan pada air panas akan
membentuk koloid didalam air. Hal yang harus diperhatikan pada percobaan
ini yaitu jangan mengocok larutan sabun karena akan timbul busa yang
berpengaruh terhadap titik akhir. Larutan ditetesi indicator MO. Lalu dititrasi
dengan HCl 0,5 N agar seluruh alkali dapat bereaksi atau terikat dengan HCl.
Titik akhir ditandai dengan larutan berwarna jingga muda yang menandakan
larutan telah netral karena alkali seluruhnya telah hilang.
BAB VIII
KESIMPULAN

8.1 Bilangan Asam


Pada praktikum bilangan asam basa didapatkan bilangan asam sebesar
10,53 dan 11,35.
8.2 Bilangan Ester
Berat Bilangan Ester 1 =107,07
Berat Bilangan Ester 2=86,85
8.3 Bilangan Penyabunan
Pada praktikum ini didapatkan bilangan penyabunan 1 yaitu 5,94 dan
bilangan penyabunan 2 yaitu 21,24

8.4 Bilangan Iodium


Pada praktikum ini didapatkan bilangan iodium 1 yaitu 1.594,7dan
bilangan iodium 2 yaitu 1,6924.

8.5 Cara pengujian kadar minyak / lemak dalam bahan tekstil


Pada praktikum OPU kadar minyak / lemak adalah 38,74% atau
18,93%.

8.6 Penetapan zat pemberat / pengisi (Fillers)


Berdasarkan percobaan fillers didapatkan bobot residu / zat pengisi
sebesar 9,43%.

8.7 Penetapan minyak / logam pelican


Berdasarkan percobaan logam pelican setelah larutan diencerkan 5
kali larutan semakin jernih, maka larutan tidak mengandung logam pelican.

8.8 Penetapan kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan


Kadar lemak netral yang didapat pada percobaan ini dengan bobot
contoh uji 1,276 gram adalah 19,68%.

8.9 Penetapan asam lemak bebas


Pada percobaan penetapan asam lemak dengan bobot contoh 1,0091
mgram yaitu 1,18,% dan pada bobot contoh 1,0451 mgram yaitu 0,3395%.
Dengan rata – rata asam lemak bebas 1,53%.

8.10 Penetapan alkali total


Pada penetapan alkali total, didapatkan hasil alkali total dengan bobot
contoh 0,5245 mg sebesar 15,63% dan pada bobot contoh 0,5337 mg
sebesar 15,36.
DAFTAR PUSTAKA

Hariyanti Rahayu, dkk., BAHAN AJAR PRAKTIKUM KIMIA ZAT PEMBANTU


TEKSTIL. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung. 2006.
http://ftan-x.blogspot.com/2012/08/lipida-uji-kuantitatif-mutu-minyak.html?m=1.