Anda di halaman 1dari 16

IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA POLIAMIDA GOLONGAN I & II, DAN

INDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA POLIESTER

1.1. Maksud dan Tujuan

Maksud : Agar praktikan mengetahui cara mengidentifikasi zat warna


pada poliamida golongan I, dan II serta mengetahui cara
mengidentifikasi zat warna pada poliester.
Tujuan : Mengetahui langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam
mengidentifikasi zat warna pada poliamida golongan
serta zat warna pada poliester.
1.2. Dasar Teori

Serat Poliamida
Polymer polyamida (nylon) adalah polimer yang dibentuk dari asam karboksilat dan
amino. Jenis asam karboksilat dan amino sangat bervariasi sehingga terbentuk poliamida yang
sangat bervariasi, misalnya nylon 6, nylon 66, nylon 11 dll. Yang paling banyak diproduksi adalah
6 dan 66. Gugus penghubung (-OH-CO-), nylon 6 dibuat dari senyawa kaprolaktom dan nylon 66
dibuat dari senyawa asam adipat dengan heksa metilen diamina.

H2N – CONH – CONH – CONH – COOH

Ujung ujung polimer terdapat gugus fungsi NH2 (amino) dan COOH (karboksilat) dan
sebagai penghubungnya adalah gugus amida (-CONH-). Jumlah NH2 dan COOH tergantung pada
banyaknya polimer yang menyusun sebuah serat . RH standar 4,0 – 4,5 % karena serat poliamida
ini mempunyai gugus fungsional maka serat ini masih mungkin bereaksi dengan zat-zat lain
sedangkan poliester tidak mempunyai gugus fungsional sehingga daya serapnya lebih besar dari
poliester (sekitar 4,5). Gugus NH2 bersifat basa lemah yang dapat menarik air dan gugus
karboksilat . Yang membedakan antara nylon 6 dan nylon 66 adalah sifat fisikanya sedangkan
sifat kimianya relatif kimia , misal : titik leleh nylon 6 = 2150C <nylon 66 = 2500C , penyerapan
nylon 6 > nylon 66 ini disebabkan oleh perbedaan struktur fisik yaitu perbedaan DO dan DK.
Poliamida ini dapat dicelup dengan zat warna dispersi asam (kompleks logam, mordan ) dispersi
– reaktif.
Pembuatan Polyamida/Nylon

NH2 (CH2)6 NH2 + COOH (CH2)4 COOH NH2(CH2)6 NHCO (CH2)4 COOH + H2O

asam adipat
heksametilena diamine

Kemudian molekul-molekul tersebut bereaksi lagi membentuk molekul yang panjang.


Pembuatan nilon diawali dengan pembuatan bahan baku yaitu asam adipat dan heksa metilena
diamina. Asam adipat dibuat dari fenol melalui pembentukan sikloheksanol dan sikloheksanon.
Sedangkan heksa metilena diamina dibuat dari asam adipat dengan melalui pembentukan
amida dan nitril. Setelah bahan baku diperoleh maka dilakukan pembuatan polimer yang
didahului dengan pembuatan daram nilon, polimerisasi dan penyetopan panjang rantai. Pada
pembuatan garam nilon asam adipat dan heksa metilena diamina dilarutkan dalam metanol
secara terpisahdan setelah dicampurkan akan terbentuk endapan heksametilena diamonium
adipat (garam nilon). Pada pemintalan nilon kehalusan filamen tidak bergantung pada
diameter lubang spineret, tetapi bergantung pada :
 Sifat polimer.
 Kecepatan penyemprotan polimer melalui spineret
 Kecepatan penggulungan filamen
Untuk mendapatkan derajat orientasi tinggi, filamen yang terbentuk ditarik dalam
keadaan dingin. Panjangnya kira-kira menjadi empat atau lima kali panjang semula.

Sifat Polyamida/Nylon

 Morfologi serat

Penampang Melintang Penampang Membujur


 Kekuatan mulurnya
Nilon mempunyai kekuatan dan mulur berkisar dari 8,8 gram per denier dan 18 %,
sampai 4,3 gram per denier dan 45 %. Kekuatan basahnya 80-90 % dari kekuatan kering.
 Tahan gosokan dan tekukan
Tahan gosok dan tekukan nilon tinggi sekitar 4-5 kali dari tahan gosok wol.
 Elastisitas
Selain mulurnya tinggi (22 %), nilon juga mempunyai elastisitas tinggi. Pada
penarikan 8 % nilon elastis 100 % dan pada penarikan 16 %, nilon masih mempunyai
elastisitas 91 %.
 Berat jenis
Berat jenis nilon 1,14
 Titik leleh
Nilon meleleh pada suhu 263oC dalam atmosfer mitrogen dan diudara pada suhu
250oC
 Sifat kimia
Nilon tahan terhadap pelarut dalam pencucian kering. Nilon tahan terhadap asam
encer. Dalam HCl pekat mendidih dalam beberapa jam akan terurai menjadi asam adaipat
dan heksa metilena diamonium hidroklorida. Nilon sangat tahan terhadap basa. Pelarut
yang bisa melarutkan nilon diantaranya asam formiat, kresol dan fenol.
 Sifat biologi
Nilon tahan terhadap serangan jamur, bakteri, dan serangga.
 Moisture Regain
Pada kondisi standar (RH 65 % dan suhu 21oC) moisture regain nilon 4,2 %.

Serat Poliester
Serat polyester dikembangkan oleh J.R . Whinfield dan J.T. Dickson dari Calico Printers
Association. Serat ini merupakan pengembangan dari polyester yang telah ditemukan oleh
Carothers. I.C.I. di Inggris memproduksi serat polyester dengan nama Terylene dan kemudian
du Pont di Amerika pada tahun 1953, juga membuat serat polyester berdasarkan patent dari
Inggris dengan nama Dacron.
Serat polyester adalah serat sintetik yang terbentuk dari molekul polimer polyester linier
dengan susunan paling sedikit 85% berat senyawa dari hidroksi alcohol dan asam terftalat.
Poliester atau yang dikenal dengan nama Terylene di Inggris ini dibuat dari asam tereftalat dan
etilena glikol. Etilena yang berasal dari penguraian minyak tanah dioksidasi dengan udara,
menjadi etilena oksida yang kemudian dihidrasi menjadi etilena glikol. Asam tereftalat dibuat
dari pra-Xilena yang harus bebas dari isomer meta dan orto. P-Xilena merupakan bagian dari
destilasi minyak tanah dan tidak dapat dipisahkan dari isomer meta dan orto dengan cara
destilasi. Poliester termasuk ke dalam serat sintetik yang sangat pesat sekali perkembanganya
dan banyak digunakan untuk tekstil. Serat polyester cepat sekali memperoleh perhatian
konsumen oleh karena sifat mudah penanganannya (ease of care), bersifat cuci pakai (wash and
wear), tahan kusut dan awet.
Sifat-sifat pakaiannya lebih sempurna apabila dicampur dengan serat wol atau kapas.
Pebuatan serat poliester Serat polyester dibuat secara pemintalan leleh dari dua jenis asam
terftalat. Molekul-molekulnya besar dan kaku, sukar dibengkokkan dan mudah kembali
kebentuk semula setelah berubah bentuknya.

Sifat fisika Poliester:


 Pengerjaan dengan larutan soda kostik (NaOH 43o) akan membuat polyester mempunyai
sifat pegangan seperti sutera karen kehilangan berat sebesar 5% .
 Kekuatan dan mulur Terylene mempunyai kekuatan 4.5 gram/denier sampai 7.5
gram/denier dan mulur 25% sampai 7.5% tergantung pada jenisnya. Kekuatan dan mulur
dalam keadaan basahnya hampir sama dengan dalam keadaan kering. Kekuatan
polyester dapat tinggi disebabkan karena proses peregangan dingin pada waktu
pemintalannya akan menyebabkan terjadinya pengkristalan molekul dengan baik,
demikian pula berat molekulnya dapat tinggi.
 Elastisitas Polyester mempunyai elastisitas yang baik sehingga kain polyester tahan kusut.
Jika benang polyester ditarik dan kemudian dilepaskan pemulihan yang terjadi dlam 1
menit.
 Moisture Regain dalam kondisi standard moisture regain polyester hanya 0.4%. Dalam
RH 100% moisture regainnya hanya 0.6-0.8
 Modulus Polyester mempunyai modulus yang tinggi. Pada pembeban 0.9 gram/denier
polyester hanya mulur 1% dan pada pembeban 1.75 gram/denier hanya mulur 2%.
Modulus yang tinggi menyebabkan polyester pada tegangan kecil di dalam penggulungan
tidak akan mulur.
 Berat jenis Berat jenis polyester 1.38
Morfologi Serat Polyester:

Sifat kimia Polyester

 Tahan asam lemah meskipun pada suhu didih dan tahan asam kuat dingin.
 Polyester tahan basa lemah tetapi kurang tahan basa kuat.
 Tahan zat oksidasi, alcohol, keton, sabun dan zat-zat untuk pencucian kering.
 Tahan terhadap serangga, jamur dan bakteri, sedangkan terhadap sinar matahari
ketahanannya cukup baik.
 Poliester larut dalam meta-kresol panas, trifluoroasetat-orto-khlorofenol, campuran 7
bagian berat trikhlorofenol dan 10 bagian fenol dan campuran 2 bagian berat
tetrakhloroetena dan 3 bagian fenol.
 Titik leleh 3
 Poliester meleleh diudara pada suhu 250°C dan tidak menguning pada suhu tinggi.

Reaksi Pembuatan Serat Polyester:

Dacron
Terylene

Zat Warna
Identifikasi Zat Warna Pada Poliamida Golongan I (Bejana, Dispersi, Naftol)

Zat Warna Golongan I


Zat warna yang larut dalam pelarut organik toluena, yaitu zat warna bejana, zat warna
dispersi, beberapa zat warana kompleks logam, beberapa zat warna dispersi-reaktif, dan semua
zat warna naftol.

Zat Warna Bejana


Zat warna bejana tidak larut dalam air dan tak mungkin digunakan untuk mencelup
apabila tidak diubah menjadi bentuk leuco yaitu bentuk zat warna bejana yang tereduksi yang
akan larut dalam larutan alkali, yang mempunyai substantivitas terhadap selulosa sehingga
dapat mencelupnya.

Reaksi :

- ZW Bejana
Pembejanaan

D = C = O + Na2S2O4 + NaOH D C – ONa + H2O

Pembangkitan

D C – ONa + On D=C=O

Zat Warna Dispersi


Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sintesis, yang
kelarutannya dalam air sedikit dan merupakan larutan dispersi. Zat warna tersebut digunakan
untuk mewarnai serat-serat sintetis atau serat tekstil yang bersifat hidrofob. Zat warna ini
mempunyai berat molekul yang kecil dan tidak mengandung gugus pelarut. Dalam
pemakaiannya diperlukan zat pembantu yang berfungsi untuk mendispersikan zat warna dan
mendistribusikannya secara merata didalam larutan, yang disebut zat pendispersi. Zat warna
dispersi dapat mewarnai serat poliester dengan baik jika memakai zat pengemban atau dengan
temperatur tekanan tinggi. Zat warna dispersi mula-mula diperdagangkan dalam bentuk pasta,
tetapi sekarang dapat diperoleh dalam bentuk bubuk.

NH2 O OH

OH O NH2

Zw disperse jenis antrakuinon

Reaksi:

ZW – CH3NH + Asetat – OCO – CH3 ZW – CH3NH - H3COO -

OH O NHOH3
H3COCO OCOCH3

CH CH
Asetat
+ H2C CH2 C C
CH CH2

H3COCOH2C
CH3 HNO OH

Zat Warna Naftol


Zat warna Naftol merupakan zat warna yang terbentuk dalam serat pada pencelupan
dan merupakan hasil reaksi dari senyawa naftol dengan garam Diazonium. Sifat-sifat umum dari
senyawa Naftol: tidak larut dalam air, luntur dalam piridin pekat mendidih, bersifat poligenetik
dan monogenetik, karena mengandung gugus azo maka tidak tahan terhadap reduktor.

Reaksi :

OH ONa

+ NaOH +H O
2
R R
Naftol Naftolat
ONa

+ Sel-OH + NaCl Kapas Tercelup

R
Naftolat

Identifikasi Zat Warna Pada Poliamida GolonganII (Direk, Asam, Basa)

Zat Warna Golongan II


Zat warna yang larut dalam pelarut air, yaitu zw asam, basa, direk, beberapa zw kompleks
logam, semua zw kompleks logam dan semua zw krom.

Zat Warna Direk


Zat warna direk adalah senyawa azo yang disulfonisasi. Apabila pada uji zat warna direk
terjadi pelunturan dan mencelup kapas dalam larutan amoniak (NH4OH) dengan penambahan
garam dapur (NaCl) yang menghasilkan warna yang sama dengan warna contoh asli
menunjukan zat warna direk.

Reaksi :
-
Sel – OH OHSel O- + H+

OH-
ZW – SO3Na ZW – SO- + Na2+

NH2

NH2

N N N NH
+ Sel - OH

SO3Na

Zat Warna Asam

Zat warna asam mempunyai afinitas terhadap serat-serat protein dan poliamida seperti
wol dan nylon berdasarkan ikatan elektrovalen/ikatan ion.
Reaksi :

HOOC – Wool – NH2 HOOC – Wool – NH3+

HOOC – Wool – NH3+ + DSO3- DSO3NH3 – Wool – COOH

Zat warna Basa

Sifat utama zat warna basa yaitu mempunyai kecerahan dan intensitas warna yang tinggi.
Zat warna ini biasanya digunakan untuk menimbulkan warna yang searah pada hasil pencelupan
dengan zat warna belerang, atau untuk mendapatkan bahan dengan warna yang cerah dan
murah tetapi tahan luntur. Pencelupan kembali serat akrilat atau kapas yang di beits tanin
dengan warna tua, menunjukkan adanya zat warna basa.

Reaksi :

W – COO- + (Kation – ZW)+ W – COO (Kation – ZW)

R – COO- + D NH+ R – COO – NH D


Zat warna

Uji penentuan
+
[D NH] Cl- + NaOH [D NH ]+ OH- + Na
(C2H5)2 – ZW – (C2H5)2 Cl- luntur

Identifikasi Zat Warna Pada Poliester (Dispersi, Bejana, Naftol)


Zat Warna Dispersi
Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sintesis, yang
kelarutannya dalam air sedikit dan merupakan larutan dispersi. Zat warna tersebut digunakan
untuk mewarnai serat-serat sintetis atau serat tekstil yang bersifat hidrofob. Zat warna ini
mempunyai berat molekul yang kecil dan tidak mengandung gugus pelarut. Dalam
pemakaiannya diperlukan zat pembantu yang berfungsi untuk mendispersikan zat warna dan
mendistribusikannya secara merata didalam larutan, yang disebut zat pendispersi. Zat warna
dispersi dapat mewarnai serat poliester dengan baik jika memakai zat pengemban atau dengan
temperatur tekanan tinggi. Zat warna dispersi mula-mula diperdagangkan dalam bentuk pasta,
tetapi sekarang dapat diperoleh dalam bentuk bubuk.
Reaksi:

ZW – CH3NH + Asetat – OCO – CH3 ZW – CH3NH - H3COO -

OH O NHOH3
H3COCO OCOCH3

CH CH
Asetat
+ H2C CH2 C C
CH CH2

H3COCOH2C
CH3 HNO OH

Zat Warna Bejana


Zat warna bejana tidak larut dalam air dan tak mungkin digunakan untuk mencelup
apabila tidak diubah menjadi bentuk leuco yaitu bentuk zat warna bejana yang tereduksi yang
akan larut dalam larutan alkali, yang mempunyai substantivitas terhadap selulosa sehingga
dapat mencelupnya. Pada pengujian zat warna bejana pada poliester, pengujian dilakukan
berdasarkan daya serap rayon asetat terhadap larutan ekstraksi zat warna. Rayon asetat tidak
akan tercelup dengan zat warna bejana.

Zat Warna Naftol


Zat warna Naftol merupakan zat warna yang terbentuk dalam serat pada pencelupan dan
merupakan hasil reaksi dari senyawa naftol dengan garam Diazonium. Sifat-sifat umum dari
senyawa Naftol: tidak larut dalam air, luntur dalam piridin pekat mendidih, bersifat poligenetik
dan monogenetik, karena mengandung gugus azo maka tidak tahan terhadap reduktor. Pada
pengujian zat warna naftol pada poliester, pengujian dilakukan berdasarkan daya serap rayon
asetat terhadap larutan ekstraksi zat warna. Rayon asetat tidak akan tercelup dengan zat warna
naftol namun hanya ternodai (warna muda pada asetat rayon).
1.3. Alat Dan Bahan

Alat :

 Tabung reaksi
 Gelas kimia
 Penjepit
 Pengaduk
 Kaki tiga
 Pipet
Bahan :
 Kain poliamida
 Kain kapas
 Serat akrilat
 Serat wool
 Multifiber
 Piridin 1:1
 Toluena
 NaCl
 Larutan sabun
 HCl
 NaOH
 Alkohol
 CH3COOH
 Eter
1.4. Alat dan Bahan
Identifikasi Zat Warna Pada Poliamida

- Uji pencucian
1) Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi dengan 5 ml larutan sabun
(0,5% sabun netral dan 0,2% Natrium Karbonat).
2) Panaskan selama 15 menit, kemudian keluarkan contoh uji, amati.
3) Semua golongan zat warna luntur dalam uji pencucian kecuali zat warna bejana
dan naftol tidak luntur atau luntur sedikit.
4) Bagi larutan sabun menjadi 2 bagian :
Bagian 1 : tambahkan 1 ml asam asetat glasial
Bagian 2 : larutan sabun
5) Masukkan kedalam kedua tabung reaksi tersebut kain uji aneka serat (multi fibers),
didihkan.
6) Keluarkan kain aneka serat, cuci.
7) Amati jenis bahan yang tercelup (lampirkan pada jurnal).

- Uji Piridin
1) Masukkan contoh uji kedalm tabung reaksi yang berisi 5 ml larutan piridin air (57 :
43).
2) Panaskan selama 15 menit.
3) Dinginkan dengan aliran air kemudian keluarkan contoh uji lalu amati.
4) Semua zat warna luntur banyak dalam larutan piridin, kecuali zat warna bejana, zat
warna krom atau zat warna dispersi reaktif (luntur sedikit karena proses
pencelupan dan penyabunan yang kurang sempurna).

- Uji Toluena
1) Ekstrak piridin (uji piridin) dipisahkan (saring).
2) Tambahkan 2 ml HCl 16%, kemudian tambahkan 3 ml toluena kemudian dikocok.
3) Biarkan larutan menjadi dua lapisan, lapisan air dan lapisan toluena.
4) Zat warna pada lapisan toluena adalah golongan 1 dan zat warna pada lapisan air
adalah zat warna golongan 2.
Identifikasi Zat Warna Pada Poliamida Golongan I (Bejana, Dispersi, Naftol)

A. Zat Warna Bejana

1) Amati hasil uji pencucian


Zat warna bejana tidak luntur atau luntur sedikit dalam suasana asam maupun
alkali, tidak mencelup kembali semua serat.
2) Amati hasil uji piridin
Zat warna bejana tidak luntur atau luntur sedikit.
3) Amati hasil uji toluena
Zat warna bejana akan terdapat dalam lapisan toluena atau lapisan antara toluena
air.
 Pengujian
 Ekstrak toluena ditambah 1ml NaOH ditambah Na2S2O4 ditambah NaCL 0,5 ml
ditambah kapas putih, bila kapas tercelup menunjukkan positif zw bejana.

A. Zat warna dispersi


1) Amati uji pencucian
Zat warna dispersi luntur sedikit, dalam suasana asam maupun alkali akan
mencelup kembali serat poliamida, asetat, poliester dan poliakrilat.
2) Amati uji piridin
Zat warna dispersi luntur banyak.
3) Amati uji toluena
Zat warna dispersi terdapat dalam lapisan toluena.
 Pengujian
 Pisahkan larutan toluena atau keluarkan airnya cuci 5-6 kali sisa toluena dengan
air.
 Uapkan toluena dengan air
 Tambahkan air dan masukkan serat asetat kedalam tabung lalu didihkan.
 Serat asetat tercelup menunjukkan zat warna dispersi.

B. Zat warna naftol


1) Amati uji pencucian
Zat warna naftol luntur sedikit atau sedang dalam uji pencucian.
2) Amati uji piridin
Zat warna naftol luntur sedikit.
3) Amati uji toluena
Zat warna naftol akan berada pada lapisan toluena.
 Kedalam ekstrak toluena ditambahkan 3 ml air, pisahkan airnya dan cuci larutan
toluena dengan air sebanyak 2 kali.
 Pindahkan toluena, uapkan sampai kering.
 Tambahkan 3 ml alkohol dan 0,5 ml NaOH 10% panaskan.
 Tambahkan 3 ml air didihkan sampai alkohol menguap.
 Tambahkan Natrium Hidro Sulfit didihkan sampai warna tereduksi masukkan kapas
grey dan NaCl didihkan.
 Keluarkan kapas, bila kapas berwarna kuning berarti zat warna naftol.

Identifikasi Zat Warna Pada Poliamida Golongan II (Direk, Asam, Basa)


A. Zat Warna Direk
1) Amati uji pencucian
Zat warna direk luntur banyak dalam uji pencucian.
Dalam suasana asam mencelup serat poliamida, sutera, wol dan poliakrilat
dengan warna tua sedang serat rayon dan kapas tercelup dengan warna
muda.
Dalam suasana alkali mencelup serat kapas dan rayon dengan warna tua dan
serat poliamida dengan warna muda.
2) Amati uji piridin
Zat warna direk luntur dengan cepat dalam larutan campuran piridina air.
3) Amati uji toluena
Zat warna direk berada pada lapisan air.
 Pengujian
 Pisahkan lapissan air dari lapisan toluena kedalam tabung reaksi lain.
 Masukka kapas putih, NaCl dan satu tetes amoniak pekat.
 Didihkan selama 1-2 menit, dinginkan. Apabila kapas tercelup seperti contoh
 uji, menunjukkan zat warna direk.
B. Zat warna asam
1) Amati uji pencucian
Zat warna asam luntur banyak dalam uji pencucian.
Dalm suasana asam mencelup kembali serat poliamida, wol dan sutera
dengan warna tua.
Dalam suasana alkali mencelup serat wol, sutera kapas dan rayon dengan
warna muda.
2) Amati uji piridina
Zat warna asam luntur dengan cepat dalam larutan piridina air.
3) Amati uji toluena
Zat warna asam terdapat pada lapisan air.
 Pengujian
 Pisahkan lapisan air dari lapisan toluena kedalm tabung reaksi lain.
 Tambahkan 3-4 tetes asamasetat 10% dan serat wol kemudian didihkan selam
2 menit. Apabila wol tercelup menunjukkan zat warna asam.

C. Zat warna basa


1) Amati uji pencucian
Zat warna basa luntur cepat dalam uji pencucian.
Dalam suasana asam mencelup kembali serat wol, sutera, akrilat dengan
warna tua dan menodai serat-serat lain.
Dalam suasana alkali mencelup serat wol dan sutera dengan warna tua dan
menodai serat lain.
2) Amati uji piridina
Zat warna basa luntur banyak dalam larutan piridina air.
3) Amati uji toluena
 Tuangkan ekstrak piridina kedalam tabung reaksi yang berisi ekstrak larutan
toluena air.
 Masukkan 2 ml larutan natrium hidroksida hingga lapisan air bersifat alkali. Lalu
kocok.
 Amati. Warna basa yang bersifat alkali menjadi tidak berwarna atau berubah
warnanya dan akan berpindah dari lapisan air kedala lapisan toluena.
 Tuangkan ekstrak toluena kedalam tabung reaksi lain, tambahkan asam asetat
10%, kocok. Apabila warna contoh timbul kembali, menunjukkan zat warna
basa.
Identifikasi Zat Warna Pada Poliester (Dispersi, Bejana, Naftol)

- Uji Pendahuluan
1. Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi 3-5 ml larutan asam
asetat glasial.
2. Panaskan, kemudian keluarkan contoh uji, amati
3. Semua golongan zat warna luntur dalam uji pendahuluan, kecuali zat warna
dispersi.
4. termosol dan naftol luntur sedikit.

- Uji Zat Warna Dispersi, Naftol, dan Bejana


1. Lunturan zat warna hasil uji pendahuluan didihkan, kemudian dinginkan.
2. Masukkan 2-3 ml eter kedalam tabung yang berisi lunturan, kocok biarkan
terpisah.
3. Cuci berulang-ulang dan uapkan.
4. Tambahkan 2 tetes zat pendispersi dan air.
5. Masukkan serat asetat, didihkan kembali.
6. Apabial serat terwarnai menunjukkan zat warna dispersi
7. Apabila serat terwarnai sedikit (sangat muda) menunjukkan zat warna naftol.
8. Apabila serat tidak terwarnai menunjukkan zat warna bejana.