Anda di halaman 1dari 13

Pemeriksaan Widal, RPR dan HBsAg

1. Judul Praktikum : PEMERIKSAAN WIDAL


Tujuan Praktikum :
Mengetahui ada tidaknya antibodi spesifik terhadap antigen Salmonella sp. dalam serum.
Dasar Teori :
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica, terutama serotype
Salmonella typhi (S. typhi). Demam tifoid (termasuk para-tifoid) disebabkan oleh kuman
Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B dan Salmonella paratyphi C.
Bakteri ini termasuk Gram negatif yang memiliki flagel, tidak berspora, motil, berbentuk batang,
berkapsul dan bersifat fakultatif anaerob dengan karakteristik antigen O, H dan Vi. Sistem imun
memungkinkan tubuh mengenali benda asing (bakteri) yang memasuki tubuh dan merenspon
terhadapnya. Sel limfosit B ditransformasi menjadi sel plasma, yang menghasilkan antibody,
dengan kemampuan yang khas terhadap protein asing tertentu atau antigen (respon imun
humoral). Berbagai unsur dari mikroorganisme bersifat protein, terikat pada protein, atau berupa
molekul karbohidrat besar dan bersifat antigenik.
Pada sel bakteri Salmonella sp., unsur – unsur yang dapat dianggap sebagai antigen
somatik (badan sel sendiri) disebut antigen O (antigen permukaan), antigen flagela disebut
antigen H dan antigen kapsula pada spesies yang mempunyai fagela. Dibentuknya antibodi
berbeda sebagai respon terhadap antigen merupakan petunjuk diagnostik untuk penyakit infeksi.
Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan adalah pemeriksaan darah tepi,
pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan bakteri, uji serologis, dan pemeriksaan
bakteri secara molekuler. Pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan adalah uji
serologis. Kultur Salmonella sp. merupakan gold standard dalam menegakkan diagnosis demam
tifoid. Tes serologis lain yang dapat digunakan dalam menentukan diagnosis demam tifoid adalah
tes Widal, dan tes IgM Salmonella typhi.
Widal test merupakan tes serologi suatu uji serum darah dengan aglutinasi untuk
mendiagnosa demam tifoid. Prinsip pemeriksaan menggunakan tes widal adalah reaksi aglutinasi
yang terjadi pada serum penderita setelah dicampur dengan suspense antigen Salmonella.
Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin) pada serum penderita.
Gambar ilustratif bakteri Salmonella typhi beserta jenis antigennya
Pada kultur darah, hasil biakan yang positif memastikan demam typhoid. Kegunaan
pemeriksaan widal adalah mencari ada tidaknya zat antibodi dan mengukur titer zat anti terhadap
kuman Salmonella sp dalam serum penderita. Pada uji Widal, akan dilakukan pemeriksaan reaksi
antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-
beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama
sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi
menunjukkan titer anti bodi dalam serum. Tes IgM Salmonella typhi merupakan tes aglutinasi
kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat dengan menggunakan partikel yang
berwarna dan meningkatkan sensetivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen
O yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella serogrup D. Tes ini hanya
mendeteksi IgM hanya dalam beberapa menit.

Beberapa metode dalam pemeriksaan demam tifoid, antara lain:


1) Kultur Gal
Diagnosis pasti penyakit demam tifoid yaitu dengan melekukan isolasi bakteri
Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B dan Salmonella
paratyphi C dari spesimen yang berasal dari darah, feses, dan urin penderita demam tifoid.
Pengambilan spesimen darah sebaiknya dilakukan pada minggu pertama timbulnya
penyakit, karena kemungkinan untuk positif mencapai 80-90%, khususnya pada pasien
yang belum mendapat terapi antibiotik. Pada minggu ke-3 kemungkinan untuk positif
menjadi 20-25% and minggu ke-4 hanya 10-15%.
2) Widal
Penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah
Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan positif
penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi
infeksi. Pemeriksaan tunggal penyakit tifus dengan tes Widal kurang baik karena akan
memberikan hasil positif bila terjadi infeksi berulang karena bakteri Salmonella, imunisasi
penyakit tifus sebelumnya ,Infeksi lainnya seperti malaria dan lain-lain.
3) TubexRTF
Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexRTF sebagai solusi
pemeriksaan yang sensitif, spesifik, praktis untuk mendeteksi penyebab demam akibat
infeksi bakteri Salmonella typhi Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen
TubexRTF dilakukan untuk mendeteksi antibody terhadap antigen lipopolisakarida O9
yang sangat spesifik terhadap bakteri Salmonella typhi.
4) Metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dipakai untuk melacak antibodi
IgG, IgM dan IgA terhadap antigen LPS O9, antibodi IgG terhadap antigen flagella d (Hd)
dan antibodi terhadap antigen Vi Salmonella typhi. Uji ELISA yang sering dipakai untuk
mendeteksi adanya antigen S. typhi dalam spesimen klinis adalah double antibody
sandwich ELISA. Sensitivitas uji ini sebesar 95% pada sampel darah, 73% pada sampel
feses dan 40% pada sampel sumsum tulang.
5) Pemeriksaan IgM dipstik tes
Uji serologis dengan pemeriksaan IgM dikembangkan di Belanda dimana dapat
mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen lipopolisakarida (LPS) Salmonella
typhi dengan menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen Salmonella
typhi sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti-human immobilized sebagai reagen
kontrol. Metode ini mempunyai sensitifitas sebesar 63% bila dibandingkan dengan kultur
darah (13.7%) dan uji Widal (35.6%).

Tes Widal merupakan serologi baku dan rutin digunakan. Hasil positif Widal akan
memperkuat dugaan terinfeksi Salmonella typhi pada penderita. Saat ini walaupun telah
digunakan secara luas, namun belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off
point). Beberapa keterbatasan uji Widal adalah:
1) Positif Palsu
Merupakan sebuah pengukuran untuk mengetahui probabilitas seorang pasien benar-
benar mengidap suatu penyakit. Nilai Positif palsu dihitung dengan membandingkan hasil
benar positif dengan seluruh hasil tes positif menurut uji skrining (True Positive dan False
Positive) dalam persen. Semakin tinggi kemampuan tes skrining memperkirakan seseorang
menderita penyakit akan membantu petugas kesehatan memberikan penanganan yang tepat
dan segera.
2) Negatif Palsu
Menggambarkan probabilitas seorang pasien benar-benar tidak mengidap suatu
penyakit. Nilai negatif palsu dihitung dengan membandingkan hasil benar negatif dengan
seluruh hasil tes negatif menurut uji skrining (True negative dan false negative) dalam
persen. Semakin tinggi kemampuan tes skrining memperkirakan seseorang tidak menderita
suatu penyakit akan sangat membantu petugas kesehatan menghindarkan penanganan atau
pengobatan yang tidak perlu sehingga terhindar dari efek samping pengobatan.
Metode Pemeriksaan : Widal Slide
Prinsip Pemeriksaan:
Adanya antibodi Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi dalam serum sampel akan bereaksi
dengan antigen yang terdapat dalam reagen Widal. Reaksi dengan adanya aglutinasi.
Alat :
1. Serum
2. Reagen Widal
3. Rotator atau batang pengaduk
4. Pipet tetes
5. Slide
Bahan :
1. Antigen Salmonella typhi ‘O’.
2. Antigen Salmonella typhi ‘H’
3. Antigen Salmonella paratyphi ‘AH’
4. Antigen Salmonella paratyphi ‘BH’
5. Kontrol positif
6. Kontrol negatif
Cara Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Pipet satu tetes serum (20µl) ke lingkaran yang teredapat pada slide dengan kode O, H, HA
dan CP dan CN
3. Tambahkan masing-masing satu tetes reagen widal sesuai dengan kode slide, begitu pula pada
CN dan CP
4. Campur antigen dan serum dengan batang pengaduk yang berbeda, dan lebarkan kemudian
goyang-goyangkan selama satu menit
5. Amati reaksi yang tejadi.
Interpretasi Hasil :
Pada saat terjadi infeksi bakteri Salmonella, tubuh manusia melakukan respons terhadap
stimulus antigen dan menghasilkan antibodi yang sesuai. Ketika sampel dicampurkan dengan
suspensi antigen Salmonella (telah dilemahkan dan diwarnai), maka antibodi yang ada di dalam
sampel akan bereaksi dengan suspensi antigen sehingga memberikan aglutinasi yang dapat
dilihat oleh mata telanjang.
 Positif : Terjadi aglutinasi mengindikasikan adanya antibodi anti-salmonella di dalam
sampel.
 Negatif : Tidak terjadi aglutinasi mengindikasikan tidak adanya antibodi anti-salmonella
di dalam sampel.
Daftar Pustaka :
Clinical Immunology and Serology – A Laboratory Perspective 3rd ed. Christine Dorresteyn
Stevens. 2009. F.A. Davis Company. Philadelphia.
HiPer® Widal Test Teaching Kit (Slide Test).

2. Judul Praktikum : PEMERIKSAAN RPR CARBON ANTIGEN


Tujuan Praktikum :
Mengukur reaktivitas Rapid Plasma Reagin (RPR) dalam sampel serum.
Dasar Teori :
Pemeriksaan Rapid Plasma Reagin adalah pemeriksaan non-treponema untuk mendeteksi
penyakit sifilis secara serologis. Reagin adalah istilah untuk antibodi yang ditemukan pada serum
pasien penderita sifilis. Sifilis adalah penyakit menular seksual pada kelamin yang disebabkan
oleh infeksi Treponema pallidum. Saat patogen menyerang bagian kulit yang rentan infeksi,
awalnya akan terjadi penebalan dinding endotel disertai agregasi limfosit, sel plasma dan
makrofag. Lesi awal terjadinya sifilis disebut juga dengan chancre /séngkèr/. Lesi tersebut
berkembang 10 – 90 hari dari infeksi awal, atau rata-rata terbentuk setelah 20 hari. Chancre
merupakan lesi yang tidak menyebabkan rasa sakit, terlihat seperti benjolan yang sendiri-sendiri,
dan memiliki garis luar yang jelas. Pada laki-laki biasanya terjadi di penis, sedangkan pada
wanita kadang sulit dideteksi karena bisa timbul pada vagina atau serviks. Tahapan awal ini
berlangsung selama 1-6 minggu dan sembuh dengan sendirinya.
Jika tahap awal infeksi tidak diobati atau ditangani, 25% dari kasus chancre akan
berkembang ke tahap sekunder, yang mana penyebaran organisme tersebut akan terjadi. Waktu
terjadinya tahap sekunder ini biasanya 1-2 bulan setelah ditemukannya chancre. Gejala tahap
sekunder meliputi limfadenopati atau pembesaran kelenjar getah bening, rasa tidak enak, demam,
faringitis dan ruam pada kulit dan selaput lendir. Bisa timbul bintik-bintik merah pada telapak
tangan dan kaki. Sekitar 40% penderita infeksi sekunder akan mengalami kelainan syaraf seperti
gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, tinnitus dan gangguan syaraf pada wajah. Seperti
tahap awal infeksi, tahap sekunder ini sembuh dengan sendirinya.
Tahap laten mengikuti tahap selanjutnya dari infeksi T. pallidum dengan ciri khas tidak
ditemukannya gejala. Satu dari tiga pasien sifilis yang tidak diobati dapat berkembang pada
tahap tersier yang timbul 10 – 30 tahun dari tahap sekunder. Manifestasi utama dari sifilis tahap
tersier adalah gumatus sifilis, penyakit kardiovaskuler dan neurosifilis.
Ibu hamil memiliki potensi menularkan sifilis kepada bayinya, yang sering disebut juga
dengan istilah sifilis kongenital. Indikasi awalnya adalah peradangan pada tali pusar. Kemudian
bayi akan mengalami hidung berair disertai darah (hemorrhagic rhinitis) dan erupsi kulit pada
mulut, telapak tangan dan kaki. Gejala lainnya yaitu limfadenopati, pembengkakan hati, penyakit
kuning, anemia dan kelainan tulang.
Diagnosis laboratorium untuk menunjang diagnosis penyakit sifilis dibagi menjadi tiga
bagian utama, yaitu deteksi langsung spirokaeta, tes serologis non-treponemal dan uji serologis
treponemal.
Deteksi langsung spirokaeta yaitu dengan mikroskop lapang gelap (dark-field microscopy).
Sampel yang digunakan adalah eksudat atau cairan yang diambil dari lesi. Prinsipnya adalah
objek dalam mikroskop lapang gelap akan terlihat terang dibandingkan dengan latar gelap.
Treponema patogenik diidentifikasi dengan karakteristik berbentuk spiral dan aktif bergerak.

Teknik pemeriksaan langsung lainnya yaitu fluoresent antibodi yang akan menarget
Treponema pallidum sehingga dalam pemeriksaan mikroskopis lapang gelap, patogen akan lebih
mudah terlihat karena mereka memancarkan sinar fluoresens.
Jika lesi pada pasien tidak terlihat, seperti yang terjadi pada kasus sifilis sekunder atau
tersier, uji serologis untuk mendeteksi antibodi adalah diagnosis utama. Tes serologis dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu nontreponemal atau treponemal, tergantung reaktivitas
antibodi yang terdeteksi. Tes nontreponemal, yang mendeteksi antibodi terhadap cardiolipin,
secara tradisional digunakan untuk uji screening sifilis karena sensitivitas dan mudah dilakukan.
Namun, hasil positif palsu umum terjadi karena sifat antigen yang tidak spesifik. Oleh karena itu,
setiap hasil positif harus dikonfirmasi dengan tes treponemal yang lebih spesifik, yang
mendeteksi antibodi terhadap T. pallidum.
Uji RPR adalah tes nontreponemal yang dilakukan untuk menentukan adanya reagin.
Reagin merupakan antibodi yang terbentuk karena adanya cardiolipin, bahan lipid dari membran
sel bakteri yang rusak. Reagin ditemukan pada serum pasien penderita sifilis dan beberapa
penyakit lainnya. Antigen yang merupakan kombinasi kolesterol, lesitin, dan cardiolipin
digunakan dalam reaksi untuk mendeteksi antibodi reagin nontreponemal, (jenis IgG atau IgM).
Kata kunci:
Lesi: luka, khususnya pada kulit yang pecah atau terkena infeksi.
Treponema pallidum: bakteri berbentuk spiral penyebab sifilis
Riagin: antibodi yang ditemukan pada serum pasien penderita sifilis
Cardiolipin: sejenis lipid yang sering ditemukan pada membran bakteri

Metode Pemeriksaan : Flokulasi Karbon


Prinsip Pemeriksaan: Partikel karbon yang dilapisi dengan suatu kompleks lipid akan bereaksi
dengan reagin yang ada di dalam sampel sehingga akan terjadi flokulasi.
Alat :
1. Micropipette
2. Pipet tetes
3. Pipet pengaduk
4. Plat test putih / kartu test
5. Tabung reaksi
6. Rak tabung
Bahan :
1. Reagen Karbon: Suspensi stabil berisi partikel karbon yang dilapisi oleh kompleks lipid
dengan natrium azida 0,95 g/L sebagai pengawet.
2. Larutan Kontrol (Positif dan Negatif).
Cara Kerja :
1. Biarkan sampel dan reagen berada pada suhu ruangan (20-30oC) sebelum melakukan
pemeriksaan.
2. Gunakan pipet pengaduk yang berbeda untuk setiap reagen dan sampel.
3. Teteskan satu tetes sampel (50 µL), kontrol reaktif dan kontrol non reaktif masing-masing
pada lingkaran yang berbeda di atas kartu tes.
4. Homogenkan botol reagen antigen dengan hati-hati kemudian teteskan satu tetes reagen untuk
setiap sampel dan kontrol serum.
5. Gunakan ujung gepeng dari pipet pengaduk untuk meng-homogenkan serum dengan reagen
lateks dengan gerakan melingkar ke seluruh isi lingkaran.
6. Dengan hati-hati miringkan dan putar plat tes selama dua (8) menit dan amati aglutinasi pada
batas waktu dibawah satu (1) menit. Semua hasil pemeriksaan harus dibandingkan dengan
kontrol reaktif dan non-reaktif.
Interpretasi Hasil :
Dapat diamati gumpalan atau flokulasi hitam yang dilaporkan sebagai berikut:
Pengamatan Aglutinasi Simbol Pelaporan
Gumpalan sedang atau besar R Reaktif
Gumpalan kecil W Lemah (Weakly Reactive)
Tidak ada atau sangat sedikit N Non-Reaktif
gumpalan

Nilai Normal : Non-Reaktif

Daftar Pustaka :
Clinical Immunology and Serology – A Laboratory Perspective 3rd ed. Christine Dorresteyn
Stevens. 2009. F.A. Davis Company. Philadelphia.
RPR CARBON ANTIGEN, Fortress diagnostics. 2016.

3. Judul Praktikum : PEMERIKSAAN HEPATITIS B SURFACE ANTIGEN


(HBSAg)
Tujuan Praktikum : Melakukan deteksi Hepatitis B (HBV) dalam serum.
Dasar Teori :
Penyakit Hepatitis B menjadi salah satu penyakit endemik di dunia yang disebabkan oleh virus
Hepatitis B (HBV) sehingga menyebabkan penyakit hati. Virus Hepatitis B dapat ditularkan
melalui kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh. Transmisi paling umum biasanya
melalui transfusi darah, jarum punktur (teknik akupunktur), kontak langsung dengan luka
terbuka, kontak seksual, kontak antara ibu dan anak (mother-neonate) selama kelahiran.
Virus hepatitis B (HBV) tergolong dalam virus DNA untai ganda sirkuler dan merupakan
anggota dari Familia Hepadnaviridae. Virus ini terdiri dari kapsid inti yang mengandung virus
DNA dan dikelilingi oleh envelope containing surface antigen. Umumnya periode inkubasi virus
Hepatitis B berkisar antara 4-12 minggu bahkan referensi lain menyebutkan antara 6-8 minggu
(1-6 bulan), kondisi akut antara 2 minggu hingga 3 bulan. Masa penyembuhan tergantung pada
tingkat keparahan penyakit. Gejala penyakit hepatitis B ditandai dengan malaise, demam,
gastroenteritis, dan ikterus. Infeksi penyakit hepatitis B pada orang dewasa biasanya tanpa
disertai gejala klasik berupa penyakit kuning. Berikut ini beberapa jenis penyakit hepatitis yang
disebabkan adanya infeksi HBV, antara lain:
• Hepatitis ikterik
• Hepatitis anikterik sub klinik
• Hepatitis fulminant
• Hepatitis kronis atau persisten
Sebanyak 90-95% HBV pada pasien dewasa benar-benar hilang dan pasien sembuh dari
penyakit hepatitis akut. Sekitar 5-10% pasien dengan HBV menjadi pembawa hepatitis kronik
(chronic carriers) dan sekitar 90% HBV yang menginfeksi bayi baru lahir (neonates)
berkembang menjadi infeksi hepatitis B kronis. Diperkirakan 300 juta orang di seluruh dunia
sebagai pembawa virus hepatitis kronik (chronic carrier) yang berkaitan erat dengan
perkembangan hepatocellular carcinoma.
Hepatitis B surface antigen (HBsAg) merupakan marker serologi khusus pada infeksi
hepatitis B akut atau kronis. HBsAg menjadi antigen pertama yang muncul setelah virus hepatitis
B terdeksi 1 hingga 10 minggu sebelum gejala klinis muncul dan terdeteksi dalam serum darah.
Pengujian HBsAg secara rutin digunakan untuk mendiagnosa adanya dugaan infeksi HBV dan
mengamati status individu terinveksi hingga menentukan apakah infeksi telah sembuh atau
pasien menjadi chronic carrier HBV. Kadar HBSAg pada pasien yang telah pulih dari infeksi
HBV menghilang 3 hingga 5 bulan setelah infeksi muncul. Kadar HBsAg pada penderita
infeksi kronik HBV dapat tetap terdeteksi seumur hidup. Skrining HBsAg prenatal sangat
dianjurkan sehingga ibu hamil dengan carrier HBV dapat dilakukan pengobatan profilaktik.
Profil serologi infeksi HBV akut dan kronik dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini

Gambar 1. Profil Serologi Infeksi Akut HBV

Gambar 2. Profil Serologi Infeksi Kronis HBV (HBeAg Positif)

Gambar 3. Profil Serologi Infeksi Kronis HBV (HBeAg Negatif)


Hasil pengujian HBsAg dengan cara cepat dan tidak memerlukan netralisasi reagen seperti
ELISA (Enzyme Link Immunosorbent Assay) untuk penegakan diagnosis dapat dikonfirmasi
melalui gejala yang timbul dan pemantauan yang tepat. Beberapa marker HBV yang dapat
digunakan untuk pengawasan diagnostic selain HBsAg, antara lain HBeAg, IgM anti-HBc, total
anti-HBc, anti- HBe dan anti HBs. Pengujian HBsAg dapat dilakukan dengan cara imunofiltrasi
(melalui aliran) dan imunokromatografi. Hasil positif ditandai dengan munculnya perubahan
garis dan warna atau menunjukkan pola aglutinasi.
Metode Pemeriksaan : Imunokromatografi
Prinsip Pemeriksaan: Serum darah yang diteteskan pada sumuran sampel bereaksi dengan
partikel yang dilapisi antibodi anti-HBs. Reaksi antara serum darah dengan antibodi anti-HBS
akan bergerak sepanjang strip membran kemudian berikatan dengan antibodi spesifik sehingga
pada zona tes akan menghasilkan garis warna.
Alat dan Bahan :
1. Tabung reaksi
2. Sampel Serum
3. Strip HbsAg
Cara Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Siapkan serum dalam tabung reaksi
3. Keluarkan strip HBsAg dari pembungkus
4. Celupkan strip HBsAg ke dalam serum kemudian dibiarkan selama 15 menit
5. Amati perubahan yang terjadi

Interpretasi Hasil :
1. Hasil positif ditandai dengan adanya 2 garis merah pada zona kontrol dan zona tes
2. Hasil negatif ditandai dengan adanya 1 garis merah pada zona kontrol
3. Hasil invalid ditandai dengan tidak adanya garis merah pada zona control

Nilai Normal : Non-Reaktif


Diskusi :
Daftar Pustaka :
Clinical Immunology and Serology – A Laboratory Perspective 3rd ed.
ASI VDRL ANTIGEN TEST. Arlington Scientific Inc. Washington. 2009
3.