Anda di halaman 1dari 53

KERAGAMAN KANDUNGAN ASAM LEMAK ESENSIAL ASI

DAN TINGKAT KECUKUPANNYA PADA BAYI DI INDONESIA

NADIA SVENSKARIN NAHROWI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
iii

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN


SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Keragaman Kandungan Asam
Lemak Esensial ASI dan Tingkat Kecukupannya pada Bayi di Indonesia adalah benar
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
PertanianBogor.
Bogor, November 2015

Nadia Svenskarin Nahrowi


NIMI151120181
iv

RINGKASAN
NADIA SVENSKARIN NAHROWI. Keragaman Kandungan Asam Lemak Esensial
ASI dan Tingkat Kecukupannya pada Bayi di Indonesia. Dibimbing oleh AHMAD
SULAEMAN dan IKEU EKAYANTI.

Saat ini, defisiensi asam lemak esensial menjadi salah satu masalah yang
menjadi perhatian dunia global, terutama di negara-negara berkembang. Dimana asam
lemak esensial yang meliputi asam lemak linoleat (omega 6), linolenat (omega 3), ARA
dan DHA berperan penting dalam fungsi penglihatan dan perkembangan otak yang
normal. Banyak studi telah membuktikan bahwa ada kaitan yang erat antara asupan
pangan ibu dengan komposisi asam lemak ASI. Secara umum, penelitian ini bertujuan
untuk untuk menganalisis keragaman kandungan dan tingkat konsumsi asam lemak
esensial ASI pada berbagai wilayah di Indonesia. Tujuan khusus dari penelitian ini
adalah: 1)mengidentifikasi karakteristik ibu, 2)mengidentifikasi pola kebiasaan makan
ibu, 3)menganalisis keragaman kandungan asam lemak esensial ASI yang berbeda
wilayah, 4)menganalisis tingkat konsumsi asam lemak esensial ASI pada bayi yang
berbeda wilayah, 5)menganalisis hubungan antara pola kebiasaan makan dan kandungan
asam lemak esensial ASI,6)menganalisis tingkat kecukupan asam lemak esensial ASI
pada bayi yang berbeda masa laktasi dan wilayah,dan 7)menganalisis hubungan antara
pola makan dan kandungan asam lemak esensial ASI.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2014 hingga Juli 2014 dengan
menggunakan desain studi cross sectional. Penentuan lokasi dan pengambilan sampel
dari setiap provinsi tersebut dilakukan dengan memilih dua desa dengan jumlah
penduduk yang paling/relatif padat dan terdapat sejumlah ibu menyusui dengan masa
laktasi (3-5 bulan, 6-8 bulan, 9-11 bulan, dan 12-23 bulan) yang memiliki kriteria yakni
berusia 25-40 tahun, bersuku bangsa asli wilayah setempat, berstatus gizi normal, tidak
melahirkan bayi kembar, menyusui hanya satu bayi, tidak sedang berpuasa, jumlah anak
maksimal 3 orang, tidak merokok dan meminum alkohol, dan tidak sedang mengikuti
terapi penyakit khusus (hiperlipidemia, diabetes,dan penggunaan obat kortikosteroid),
bersedia mendonasikan ASI (minimum 100 ml), dan menandatangani inform consent.
Total responden terdapat sebanyak 76 orang yang terdiri atas 19 orang dari masing-
masing kelompok masa laktasi 3-5 bulan dan 12-23 bulan, 18 orang dari kelompok
masa laktasi 6-8 bulan, dan 20 orang dari kelompok masa laktasi 9-11 bulan.
Jenis data yang dikumpulkan meliputi karakteristik individu ibu (usia, paritas,
tinggi badan, berat badan, lokasi tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan besar
pendapatan keluarga), kebiasaan makan (jenis dan frekuensi pangan sumber lemak dan
jumlah sumber asam lemak esensial dan sumber laktagogum), dan kandungan asam
lemak ASI (kadar lemak dan total asam lemak, komposisi asam lemak, dan kadar asam
lemak esensial). Analisis kadar asam lemak dilakukan dengan menggunakan metode gas
kromatografi. Pengolahan data primer menggunakan software Microsoft Excel 2007 dan
SPSS for Windows versi 16.0. dengan uji korelasi Spearman,Pearson, dan uji ANOVA.
Karakteristik usia, paritas, dan status gizi ibu tidak berbeda nyata antar wilayah
(p>0.05) dan ketiga variabel tersebut telah memenuhi kriteria inklusi. Pendapatan
keluarga dan pendidikan berbeda nyata antar wilayah (p<0.05), dimana pendapatan
wilayah Sulawesi Selatan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, sedangkan pendidikan
terakhir ibu wilayah Sumatera Barat (SMA/sederajat) lebih tinggi dibandingkan wilayah
lain(SD/sederajat). Telur, ikan air tawar, ikan air laut, dan santan lebih banyak
v

dikonsumsi oleh responden dari Sulawesi Selatan dibandingkan wilayah lain (P<0.05),
sedangkan daging merah lebih banyak dikonsumsi responden dari Sumatera Barat
(P<0.05). Responden Jawa Barat lebih banyak mengkonsumsi kacang-kacangan dan
hati, namun hal ini tidak berbeda signifikan (P>0.05).
Kadar lemak dalam 100 ml ASI berkisar 2.93 hingga 4.79 gram dan dalam 100 g
lemak ASI, kadar total asam lemak ASI berkisar 69.98-79.79 gram. Kandungan lemak
ASI tertinggi terdapat pada bayi dengan masa laktasi 3-5 bulan (2.93±1.64 g/100ml),
sedangkan kandungan terendah berada pada bayi dengan masa laktasi 9-11 bulan
(4.79±5.57g/100ml). Berdasarkan masa laktasi, kadar total asam lemak ASI (P=0.019)
dan semua jenis asam lemak esensial berbeda nyata (P<0.05), sedangkan kadar lemak
ASI tidak berbeda nyata (P=0.076). Semakin bertambah masa laktasi, maka kadar total
asam lemak ASI semakin meningkat (p=0.002;r=0.36), sedangkan kadar lemak tidak.
Namun berdasarkan wilayah, hanya kadar total asam lemak ASI(P=0.000), lemak
(P=0.041), ARA (p=0.002), DHA(p=0.000), dan asam linoleat (p=0.002) yang berbeda
signifikan. Hampir seluruh kadar asam lemak esensial ASI Indonesia memiliki kadar
yang lebih rendah jika dibandingkan dengan studi ASI di belahan dunia lain.
Presentase contoh yang sering mengkonsumsi jenis pangan ikan laut dan
seafood memang lebih tinggi di Sulawesi Selatan (87.5%) dibandingkan Sumatera Barat
(53.85%), namun kadar DHA ASI masih lebih tinggi Sumatera Barat. Hal tersebut
diduga disebabkan oleh perbedaan kualitas pada jenis ikan yang dikonsumsi, dimana
Sumatera Barat lebih banyak mengkonsumsi ikan laut berjenis tongkol dan kembung
yang kadar DHAnya lebih kaya dibandingkan ikan bandeng yang banyak dikonsumsi di
Sulawesi Selatan. Tingginya kadar ARA ASI pada responden Sumatera Barat tidak
berkaitan dengan jenis ikan yang dikonsumsi, namun diduga berkaitan dengan
perbedaan metabolisme ibu dalam mensintesis ARA dari prekusor asam linoleat.
Adapun tingginya kadar linoleat dan linolenat ASI pada responden Sumatera Barat
diduga berkaitan dengan kuantitas konsumsi pada jenis pangan sumber linoleat dan
linolenat, juga tingginya kuantitas konsumsi minyak sawit yang dapat menurunkan
kadar asam linoleat. Peningkatan kadar ARA, DHA, dan asam linolenat ASI berkaitan
dengan tingginya konsumsi ikan laut dan ikan air tawar.
Semakin tinggi tingkat masa laktasi, maka semakin menurun produksi ASI
(p=0.001*;r=-0.443), sedangkan berdasarkan wilayah tidak berbeda signifikan
(p=0.052). Kuantitas ASI harian pada studi ini masih sesuai dengan kisaran, namun
cenderung lebih rendah dari kisaran maksimal. Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa
hal yakni bias perhitungan kuantitas ASI harian, frekuensi pemberian ASI yang semakin
menurun sejalan bertambahnya usia bayi, dan rendahnya konsumsi jenis pangan yang
dapat meningkatkan kuantitas ASI. Tingkat konsumsi asam lemak esensial ASI harian
berbeda nyata dan berhubungan negative (p<0.05) berdasarkan masa laktasi, terkecuali
EPA. Namun berdasarkan wilayah, tingkat konsumsi asam lemak esensial ASI tertinggi
terdapat pada bayi Jawa Barat dan hanya tingkat konsumsi asam linoleat yang berbeda
nyata (p=0.012). Berdasarkan masa laktasi dan wilayah, tingkat kecukupan asam
linolenat (termasuk ARA) belum memenuhi standar tingkat kecukupan
harian,sedangkan tingkat kecukupan harian asam linoleat (termasuk EPA dan DHA)
dari ASI telah memenuhi standar kecukupan harian terkecuali masa laktasi 12-23 bulan.
Kata kunci : Asam lemak esensial, ASI, pola makan, masa laktasi, lokasi, Indonesia
vi

SUMMARY
NADIA SVENSKARIN NAHROWI. Diversity of Essential Fatty Acid Content in
Breast Milk and its Adequacy Level in Indonesian Infants. Supervised by AHMAD
SULAEMAN and IKEU EKAYANTI.
Essential fatty acids deficiency has become a global issue of concern in recent
times, particularly in developing countries. Essential fatty acids which include linoleic
(omega 6), linolenic (omega 3), ARA, and DHA play an important role in visual
function and normal brain development. Many studies had proven a strong association
between lactating women food consumption and essential fatty acids composition of the
breast milk. General objective of this study was to analyze the diversity of the content
and intake level of essential fatty acids of breast milk in various regions in Indonesia.
Specific objectives of this study were to: 1) identify lactating women characteristics, 2)
identify lactating women dietary pattern, 3) identify the diversity of essential fatty acids
content of breast milk in different regions, 4) analyze the intake level of essential fatty
acids of breast milk in infants in different regions, and 5) analyze the association
between dietary pattern and essential fatty acid content of breast milk, 6)analyze
adequate levelof essential fatty acids of breast milk in infants in different regions and
lactating periode, dan 7)analyze the correlation of dietary pattern and essential fatty
acids content of breast milk
This study was conducted in February-July 2014 using a cross-sectional study
design. Determining the location and sampling were done by choosing one city and one
district based on the following criteria: 1) the chosen city was the capital of the
province, and 2) the chosen district was the one with the highest population density and
relatively easy to access by public transportbased on citizen demography data from each
province. One sub-district was then selected from each district/city, the one with the
densest/relatively dense population level,had the highest exclusive breastfeeding, and
had characteristics the number of lactating womenwhich spread evenly in each group
based on lactating periode (3-5 months, 6-8 months, 9-11 months, and 12-23 months).
Two villages with the densest/relatively dense population were then chosen. The
selected village had to have a number of lactating womenwith these criteria: 25-40 years
old, native, have normal nutritional status, do not have twins, breastfeeding for one
infant only, not fasting, have three children or less, not smoking or drinking alcoholic
beverages, not in therapy of specific disease (hyperlipidemia, diabetes, and use of
corticosteroid drugs), willing to donate their breast milk (minimum 100 ml), and signed
the informed consent.Total lactating women were 76 people consisting of 19 people
from each 3- to 5-month and 12- to 23-month of lactation group, 18 people from the 6-
to 8-month of lactation group, and 20 people from 9- to 11-month of lactation group.
Type of data collected were individual characteristics of the mothers (age,
parity, height, weight, residential location, education level, and family income), eating
habits (type and frequency of fat-source food consumption and quantity of fat food
soucres and lactagogum sources), and essential fatty acid composition of breast milk
(fat content, total fatty acid content, fatty acid composition, and essential fatty
acidcontent). Analysis of fatty acid content was performed using gas chromatography
method. Primary data were analyzed using 2007 Microsoft Excel and SPSS version 16.0
for Windows. The data were analyzed by Spearman, Pearson correlation test and
ANOVA test.
vii

Lactating women age, parity and nutritional status were not significantly
different in the three regions (p>0.05) and these variables had met the inclusion criteria.
Family income and education level were significantly different between regions
(p<0.05) wherein the income in South Sulawesi was higher than other regions while
lactating women education level in West Sumatra (high school or equivalent) was
higher than other regions (primary school or equivalent). Eggs, freshwater fish, marine
fish, and coconut milk were widely consumed by lactating women from South Sulawesi
compared to other regions (p<0.05) while red meat was widely consumed by lactating
women from West Sumatra (p<0.05). Lactating women living in West Java consumed
beans and liver more than other regions but this did not differ significantly (p>0.05).
Fat content (g/100ml) in breast milk ranged from 2.93 to 4.79 and total fatty acid
content (g/100g fat) of breast milkranged from 69.98 to 79.79. The highest fat content
of breast milk was found in infants with 3- to 5-month of lactation (2.93±1.64 g/100 ml)
while the lowest content was found in infants with 9- to 11-month of lactation
(4.79±5.57 g/100 ml). Based on the duration of lactation, total fatty acid content of
breast milk (p=0.019) and all types of essential fatty acids were significantly different
(p<0.05) while fat content of breast milk was not significantly different (p=0.076). The
longer the lactation was, the higher the total content of fatty acids of breast milk was
(p=0.002; r=0.36) but this did not apply to the fat content. However, based on the
location of study, only the total fatty acids (p=0.000), fat (p=0.041), ARA (p=0.002),
DHA (p=0.000), and linoleic acid contents of breast milk were significantly different.
Almost all essential fatty acids content in Indonesia were lower than other breast-milk
related studies elsewhere in the world.
The number of lactating women consuming seafood was higher in South
Sulawesi (87.5%) than West Sumatra (53.85%) but the DHA content of breast milk was
higher in West Sumatra. It was allegedly caused by the difference in quality on the type
of fish consumed, where people in West Sumatra consumed more marine fish (mackerel
and tuna) which had higher DHA content than milkfish that was widely consumed in
South Sulawesi. Higher content of ARA in breast milk found in lactating women living
in West Sumatra was not associated with the type of fish consumed but it was allegedly
related to the difference in lactating women fat reserves or lactating women metabolism
in the synthesis of ARA from linoleic acid precursors. High content of linoleic and
linolenic in breast milk found in lactating women living in West Sumatra mightbe
allegedly related to the quantity of linoleic and linolenic source food consumption, as
well as the high quantity of palm oil consumption that could reduce linoleic acid
content. Increased contents of ARA, DHA, and linolenic acid in breast milk were
associated with high consumption of freshwater and marine fish.
Higher level of lactation periode would make lower production of breast milk
(p=0.001; r=0.443) but there was no significant difference based on region (p=0.052).
Daily breast milk quantity in this study was still in accordance with the range but tended
to be lower than the maximum range. It was allegedly caused by several things such as
bias in the calculation of daily breast milk quantity, breastfeeding frequency declining
with age infants, and low consumption of type of food that could increase the quantity
of breast milk. Intake level of daily essential fatty acids of breast milk was significantly
different and negatively correlated (p<0.05) by duration of lactation, except for EPA.
However, based on region, the highest intake level of essential fatty acids of breast milk
was found in infants in West Java and only the intake level of linoleic acid was
significantly different (p=0.012).
Keywords :essential fatty acids, breast milk, dietary pattern, lactation, regions,
lactating women, Indonesia
viii

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu
masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
KERAGAMAN KANDUNGAN ASAM LEMAK ESENSIAL ASI
DAN TINGKAT KECUKUPANNYA PADA BAYI DI INDONESIA

NADIA SVENSKARIN NAHROWI

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Gizi Masyarakat

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr.Katrin Roosita, SP.,MSi
xiii

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR LAMPIRAN xiv
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan 3
Manfaat Penelitian 4
Kerangka Pemikiran 4
2 TINJAUAN PUSTAKA 7
Karakteristik Ibu Menyusui 7
Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui 7
Air Susu Ibu (ASI) 7
Kuantitas ASI 8
Lemak 9
Asam Lemak 10
Asam Lemak Esensial 12
Manfaat Asam Lemak Omega – 3 dan Omega – 6 13
Pangan Sumber Asam Lemak Esensial 13
Analisis Asam Lemak ASI 15
3 METODE PENELITIAN 16
Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian 16
Populasi dan Contoh Penelitian 16
Jenis dan Cara Pengumpulan Data 17
Pengambilan Sampel ASI 19
Analisis Asam Lemak ASI 19
Pengolahan dan Analisis Data 20
Definisi Operasional 20
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 22
Karakteristik Ibu 22
Pola Makan Ibu 22
Keragaman Kandungan Lemak dan Asam Lemak Esensial ASI 23
Hubungan Pola Makan Ibu dan Kandungan Asam Lemak Esensial ASI 26
Kuantitas ASI 27
Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Asam Lemak Esensial ASI 29
5 SIMPULAN DAN SARAN 32
Simpulan 32
Saran 32
DAFTAR PUSTAKA 33
LAMPIRAN 39
RIWAYAT HIDUP 41
14

DAFTAR TABEL

1 Angka kecukupan asam linoleat dan linolenat 12


2 Pangan sumber asam lemak esensial 14
3 Perbandingan kandungan asam lemak esensial aneka ikan dan telur 14
4 Kategori variabel penelitian 18
5 Jenis dan cara pengumpulan atau pengukuran data 19
6 Karakteristik ibu menyusui 22
7 Presentase ibu menyusui yang mengkonsumsi pangan sumber lemak
dengan tingkat frekuensi sering (3-6x/minggu) berdasarkan wilayah 23
8 Konsumsi pangan sumber lemak berdasarkan wilayah 23
9 Kandungan total asam lemak, kadar lemak, dan asam lemak esensial
berdasarkan masa laktasi 24
10 Keragaman kandungan asam lemak esensial berdasarkan wilayah 25
11 Hubungan kandungan asam lemak esensial dan konsumsi pangan sumber
lemak 27
12 Kuantitas ASI harian berdasarkan wilayah 29
13 Konsumsi kacang-kacangan, sayur, dan buah pada ibu menyusui
berdasarkan wilayah 29
14 Konsumsi harian asam lemak esensial ASI berdasarkan masa laktasi 29
15 Tingkat kecukupan harian asam lemak esensial ASI pada bayi berdasarkan
masa laktasi 30
16 Konsumsi harian asam lemak esensial ASI berdasarkan wilayah 31
17 Tingkat kecukupan harian asam lemak esensial ASI pada bayi
berdasarkan wilayah 31
18 Presentase konsumsi pangan hewani (ikan dan non ikan) contoh 39
19 Konsumsi jenis ikan dan menu pada contoh berdasarkan wilayah 39
20 Presentase konsumsi sayur contoh berdasarkan wilayah 40
21 Konsumsi jenis sayur dan menu pada contoh berdasarkan wilayah 40
22 Kandungan asam lemak esensial berdasarkan masa laktasi 40

DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka pemikiran keragaman kandungan asam lemak esensial ASI dan
tingkat kecukupannya pada bayi 6
2 Skema penarikan sampel 17
3 Kandungan asam lemak esensial berdasarkan masa laktasi 25
4 Kuantitas ASI harian berdasarkan masa laktasi 28
1

1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kualitas sumberdaya manusia yang unggul ditentukan oleh keberhasilan
tumbuh kembang pada masa awal kehidupan. Human Development Report UNDP
tahun 2014 mengungkapkan bahwa Indonesia menempati urutan 108 dari 287
negara dan termasuk dalam perkembangan sumberdaya manusia tingkat
menengah. Berdasarkan hasil itu dapat dinilai bahwa kualitas sumberdaya
manusia Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain (UNDP 2014).
Bayi merupakan bibit para generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa
Indonesia ke depannya.
Berdasarkan data SDKI tahun 2012 ditemukan bahwa angka kematian
bayi di Indonesia masih relatif tinggi yakni sebanyak 32 kematian per 1000 bayi.
WHO dan UNICEF tahun 2003 menyebutkan bahwa 60% kematian balita
berkaitan dengan kondisi kurang gizi. Dua per tiga dari kematian tersebut tenyata
berhubungan dengan kurang tepatnya praktik pemberian makanan pada bayi dan
anak.Kondisi itu sangat mendorong pentingnya penerapan optimal feeding pada
bayi dan anak. Upaya terbaik dilakukan sedini mungkin terutama sejak bayi
dalam kandungan hingga usia dua tahun setelah kelahiran guna meningkatkan
kualitas sehingga diperoleh hasil yang maksimal (Khomsan 2003). Penyelesaian
masalah gizi bayi akan sangat berkaitan dengan kejadian masalah gizi pada tahap
usia selanjutnya. Berdasarkan Depkes (2009a), upaya mewujudkan bayi yang
sehat, kuat, dan cerdas ialah dengan memberikan makanan bergizi. Pemberian
ASI secara eksklusif sampai usia 6 bulan merupakan salah satu bentuk optimal
feeding yang telah direkomendasikan WHO dan UNICEF.
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena semua kandungan zat
gizi di dalamnya lengkap dan sempurna.Studi Gibney et al.(2005) menyebutkan
bahwa ASI dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama periode 6 bulan pertama
kehidupan. ASI memiliki berbagai manfaat dan peran yakni mengandung zat
kekebalan (antibodi), berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan sel otak,
meminimalkan kejadian alergi pada bayi (Roesli 2000), mencegah terjadinya diare
(Kemenkes RI 2010), menurunkan angka kesakitan balita (Roesli 2000), menekan
kematian anak (Balaluka et al. 2012), meningkatkan status gizi bayi (Verawati
2012), dan juga meningkatkan kesehatan ibu. Namun di balik sudah terbuktinya
berbagai penelitian ilmiah mengenai ASI, kondisi di Indonesia masih sangat miris.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, hanya terdapat
30.2% bayi yang menyusui eksklusif sampai dengan 6 bulan.
Secara umum komposisi ASI terdiri dari karbohidrat, protein, lemak,
mineral, vitamin, laktosa, oligosakarida bebas, dan air. Lemak termasuk salah satu
dari tiga komponen terbesar ASI yang berperan penting sebagai sumber energi
utama bayi dan berdampak pada perkembangan otak bayi (Newburg 2001).
Lemak yang tersusun dari berbagai komponen asam lemak memiliki beragam
fungsi, salah satunya ialah jenis asam lemak esensial. Asam lemak esensial
merupakan bentuk dari asam lemak tidak jenuh jamak yang meliputi asam lemak
linoleat (omega 6) dan linolenat (omega 3). Terdapat beragam peranan penting
asam lemak dalam pengaturan fungsi tubuh, antara lain tekanan darah, sintesis
prostaglandin, pembentukan plak, konsentrasi lipid darah, respons imun, repsons
terhadap peradangan dan sebagainya. ARA dan DHA adalah jenis asam lemak
2

turunan dari asam lemak omega-6 dan omega-3 yang memiliki peran fungsional
terhadap penglihatan dan perkembangan otak yang normal (Dalzell et al.2010;
Mahan & Stump 2008).
Konsumsi makanan ibu yang baik, bergizi, serta berimbang akan
berpengaruh pada seberapa baik kuantitas dan kualitas kandungan ASI. Faktor
yang berpengaruh khusus terhadap kandungan asam lemak ASI diantaranya ialah
kebiasaan konsumsi pangan ibu (Riordan 2005; Martin et al.2012), lokasi wilayah
tempat tinggal, metabolisme asam lemak ibu, cadangan lemak ibu (Gao et al.
2013), serta intik karbohidrat (Read et al. 1965). Menurut Martin et al.(2012),
pola makan akan mempengaruhi komposisi asam lemak ASI baik penyerapan
secara langsung maupun cadangan pada tubuh. Hasil studi Hardinsyah (2011)
menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi lemak jenuh penduduk Indonesia sebesar
38,1 g/kap/hr atau sekitar 61.9% dari total lemak yang dikonsumsi. Adanya
asupan lemak jenuh yang berlebih pada ibu menyusui akan dapat menjadi faktor
resiko muculnya penyakit degeneratif seperti obesitas dan hipertensi yang ditandai
dengan peningkatan persentase lemak tubuh dan peningkatan tekanan darah.
Asupan ibu akan berkaitan juga dengan kandungan asam lemak pada ASI. Jika
bayi kekurangan asupan asam lemak esensial, maka pertumbuhan dan
perkembangan otak pun akan berjalan kurang optimal.
Banyak studi telah membuktikan bahwa ada kaitan yang erat antara asupan
pangan dengan komposisi asam lemak ASI. Studi Olang et al.(2012)
mengungkapkan bahwa ibu yang terbiasa mengkonsumsi pangan yang tinggi
asam lemak tidak jenuh seperti ikan atau seafood pada masa menyusui, akan
memiliki kadar DHA yang tinggi serta rendah rasio ARA dengan DHA. Hasil lain
yang ditemukan pada studi ini ialah wilayah tempat tinggal dapat menjadi salah
satu faktor yang mempengaruhi jenis asupan pangan sumber lemak ibu, dimana
ibu yang tinggal di wilayah pinggir pantai memiliki kadar DHA dan omega 3
yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tinggal di daratan. Hal itu
disebabkan tingginya tingkat frekuensi konsumsi pangan berjenis ikan laut yang
kaya akan asam lemak tidak jenuh. Hasil studi Gao et al.(2013) juga
menggambarkan bahwa perbedaan pola konsumsi ikan dan beberapa pangan
sumber lemak pada ibu hamil yang tinggal di lokasi berbeda akan menyebabkan
perbedaan pada komposisi asam lemak ASI. Dimana konsumsi ikan laut yang
tinggi mungkin akan lebih efektif dalam mempengaruhi kadar DHA pada
kolostrum.
Di Indonesia, terdapat tiga wilayah yang memiliki pola konsumsi yang
berbeda diantaranya Provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan.
Penduduk di Jawa Barat terbiasa mengkonsumsi pangan dengan
mengkombinasikan sayur mayur dengan pangan hewani, sedangkan Sumatera
Barat merupakan wilayah yang pola makannya cenderung ke arah pangan hewani
berjenis daging. Berbeda lagi dengan Sulawesi Selatan, pola makan penduduk
pada wilayah ini cenderung mengkonsumsi pangan hewani berjenis ikan atau
seafood. Berdasarkan studi yang telah diutarakan sebelumnya, perbedaan pola
makan ketiga wilayah ini dapat menjadi salah satu faktor yang diduga akan
mempengaruhi keragaman pada kandungan asam lemak esensial ASI.
Berdasarkan uraian kondisi yang dipaparkan di atas, perbedaan kandungan
asam lemakesensial serta perhitungan konsumsi asam lemak esensial ASI pada
bayi dengan berbagai masa laktasi dan wilayah di Indonesia dapat menjadi sebuah
3

kajian yang perlu ditelaah lebih jauh. Semakin luas dan dalamnya wawasan serta
pengetahuan terkait ASI, maka akan terciptalah generasi muda Indonesia yang
semakin berkualitas.
Perumusan Masalah
Kualitas sumberdaya manusia suatu bangsa ditentukan oleh baiknya
pertumbuhan dan perkembangan terbaik pada masa kanak-kanaknya. Berdasarkan
data UNDP tahun 2014, posisi kualitas SDM Indonesia masih jauh tertinggal
dibandingkan negara-negara di Asia lainnya. Selain itu, tingkat kematian ibu dan
bayi pun menjadi salah satu permasalahan yang tak kunjung tuntas diselesaikan.
Masih tingginya tingkat kematian bayi di Indonesia mendorong pemerintah untuk
berupaya menekan permasalahan dengan menggalakan program ASI eksklusif.
Banyak studi telah menjelaskan bahwa ASI merupakan makanan terbaik bayi
yang kaya akan gizi terlengkap dan sempurna dan hingga saat ini, belum
ditemukan bentuk makanan lain yang dapat menandingi keunggulan kandungan
dan fungsi ASI.
Lemak termasuk salah satu dari tiga komponen terbesar ASI yang
berperan penting sebagai sumber energi utama bayi dan berdampak pada
perkembangan otak bayi. Kandungan berbagai asam lemak ASI memiliki beragam
fungsi, salah satunya ialah jenis asam lemak esensial seperti omega 3 dan omega
6. ARA dan DHA adalah jenis asam lemak turunan dari asam lemak omega-6 dan
omega-3 yang memiliki peran fungsional terhadap penglihatan dan perkembangan
otak yang normal (Dalzell et al.2010; Mahan & Stump 2008). Pada setiap masa
laktasi komposisi gizi ASI akan cenderung bervariasi tergantung kondisi fungsi
fisiologis tubuh bayi dan faktor lain. Faktor yang berpengaruh khusus terhadap
kandungan asam lemak ASI diantaranya ialah kebiasaan konsumsi pangan sumber
lemak, wilayah tempat tinggal, metabolisme asam lemak ibu, cadangan lemak ibu,
serta intik karbohidrat.
Beberapa masalah penting yang berkaitan dengan analisis kandungan asam
lemak esensial ASI adalah :
a. Bagaimana keragaman kandungan jenis asam lemak esensial ASI yang
berbeda masa laktasi dan wilayah?
b. Bagaimana konsumsi asam lemak esensial ASI pada bayi yang
berbeda masa laktasi dan wilayah?
c. Bagaimana tingkat kecukupan asam lemak esensial ASI pada bayi
yang berbeda masa laktasi dan wilayah?
d. Apakah ada hubungan antara pola makan tertentu dengan kandungan
asam lemak esensial ASI?
Tujuan
Tujuan Umum
Studi ini bertujuan untuk menganalisis keragaman kandungan asam lemak
esensial ASI dan kecukupannya pada berbagai masa laktasi dan wilayah di
Indonesia
Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam studi ini antara lain :
1. Mengidentifikasi karakteristik ibu
2. Mengidentifikasi pola makan ibu
4

3. Menganalisis kuantitas harian ASI yang berbeda masa laktasi dan


wilayah
4. Menganalisis keragaman kandungan asam lemak esensial ASI yang
berbeda masa laktasi dan wilayah
5. Menganalisis konsumsi harian asam lemak esensial ASI pada bayi yang
berbeda masa laktasi dan wilayah
6. Menganalisis tingkat kecukupan asam lemak esensial ASI pada bayi
yang berbeda masa laktasi dan wilayah
7. Menganalisis hubungan antara pola makan dan kandungan asam lemak
esensial ASI

Manfaat Penelitian
Hasil studi ini diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat
mengenai keragaman kandungan asam lemak esensial yang berbeda masa laktasi
dan wilayah di Indonesia. Informasi tersebut dapat membantu orang tua dalam
memahami lebih jauh mengenai keunggulan asam lemak esensial sebagai
komponen istimewa pada kandungan ASI yang memiliki keunikan akan
keragaman pada setiap individu yang berbeda wilayah dan masa laktasi. Selain
itu, studi ini pun dapat membuka wawasan kepada setiap ibu apakah perbedaan
pola konsumsi akan memberikan berpengaruh pada kualitas serta kuantitas
kandungan asam lemak esensial ASI dan mengetahui lebih mendalam tentang
jenis pangan apa saja di Indonesia yang sebaiknya dianjurkan dikonsumsi selama
menyusui. Lebih jauh lagi, studi ini memberikan manfaat bagi setiap ibu untuk
tetap menjadikan ASI sebagai makanan terbaik bayi selama 6 bulan pertama
kelahiran karena keunikan kandungannya. Bagi pemerintah dan akademisi, hasil
studi ini akan memberikan manfaat pada penambahan informasi dan wawasan
terbaru mengenai kandungan ASI di Indonesia, yang dapat dijadikan pijakan awal
untuk mengembangkan studi-studi lanjutan lainnya.
Kerangka Pemikiran
Bayi dan ibu menyusui termasuk salah satu kelompok usia yang seringkali
rawan mengalami masalah gizi. Status gizi dan kesehatan bayi dipengaruhi oleh
seberapa baik kualitas dan kuantitas asupannya. Salah satu asupan pangan yang
paling berperan penting pada masa bayi ialah ASI. ASI merupakan makanan
terbaik pertama yang dikonsumsi bayi dengan kandungan gizi terlengkap dan
sempurna, serta memiliki peranan penting dalam berbagai fungsi fisiologis tubuh.
Terdapat berbagai komponen zat gizi penting penyusun ASI, salah satu diantara
komponen terbesarnya adalah lemak. Lemak ASI memiliki berbagai manfaat
penting antara lain berperan sebagai sumber energi terbesar dan memilliki dampak
terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak. Adapun jenis asam lemak
penyusun ASI yang memiliki peran fungsional terkait penglihatan serta tumbuh
kembang optimal dari otak yaitu asam lemak esensial yang meliputi omega 3 dan
omega 6. Kandungan lemak ASI sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni
usia ibu, paritas, metabolisme asam lemak ibu, cadangan lemak ibu, dan pola
makan ibu (pangan sumber lemak dan intik karbohidrat). Pola makan dipengaruhi
oleh faktor eksternal seperti kondisi sosial ekonomi yang meliputi tingkat
pendidikan, besar pendapatan keluarga, dan wilayah tempat tinggal. Pola makan
yang baik akan dapat menunjang tercapainya kualitas kandungan ASI yang lebih
5

optimal. Selain kualitas ASI, kuantitas ASI pun menjadi faktor yang sangat
penting. Kuantitas ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia, paritas,
kualitas dan kuantitas makanan, hormonal, kondisi psikologis dan sosial,
frekuensi menyusui, dan konsumsi pangan sumber laktagogum. Untuk
mendukung tercapainya pertumbuhan dan perkembangan otak bayi yang optimal,
maka perlu diukur seberapa besar tingkat kecukupan asam lemak esensial ASI
pada bayi. Kerangka pemikiran ini digambarkan secara lengkap pada Gambar 1.
6

Karakteristik Ibu Karakteristik Lingkungan

Usia Wilayah tempat tinggal


Paritas Pendapatan keluarga
Masa Laktasi Pendidikan ibu

Metabolisme asam lemak


ibu Pola makan Ibu
Cadangan lemak ibu
Jenis dan frekuensi pangan
Hormonal sumber lemak
Kondisi psikologis dan Jumlah pangan sumber lemak
sosial
Intik karbohidrat

Konsumsi sumber laktagogum

Kualitas dan kuantitas makan

Kandungan Asam Lemak ASI

Kadar lemak dan total asam lemak ASI


Komposisi asam lemak Konsumsi Harian
Kadar asam lemak esensial Asam Lemak Esensial ASI

Kuantitas ASI harian bayi

Frekuensi menyusui

Angka kecukupan Tingkat kecukupan


Asam Lemak Esensial ASI pada bayi Asam Lemak Esensial ASI pada bayi
Keterangan :

= Variabel yang diteliti =Variabel yang tidak diteliti

= Hubungan yang diteliti = Hubungan tidak diteliti

Gambar 1 Kerangka pemikiran keragaman kandungan asam lemak esensial ASI dan
tingkat kecukupannya pada bayi
7

2 TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik Ibu Menyusui
Ibu menyusui harus mengkonsumsi makanan dengan prinsip gizi seimbang
agar siap untuk memproduksi ASI dan siap menyusui. Ibu yang menyusui
biasanya sering merasa lapar dan haus. Dalam sehari, produksi ASI bisa mencapai
750-900 ml (Mohrbacher 2011; NHMRC 2012), sedangkan pada bayi yang
berusia 12-23 bulan produksi ASI harian dapat mencapai 550 ml per hari (Dewey
et al. 2001). Jumlah ini akan dihisap bayi sesuai kebutuhannya setiap saat.
Keberhasilan produksi ASI sangat tergantung pada intensitas (lama dan frekuensi)
bayi menyusu. Makin lama dan makin sering bayi menyusu, maka semakin
banyak produksi ASI. Beberapa masalah yang menyebabkan ibu tidak dapat
menyusui antara lain : tidak mempraktekkan IMD, menyusui semau ibu, ibu atau
bayi sakit, kurangnya rasa percaya diri ibu, permasalahan pada payudara, dan lain
sebagainya (Kurniasih et al.2010). Perilaku menyusui pun dapat dipengaruhi oleh
faktor budaya yakni etnis/suku. Studi Hamzah et al. (2011) menunjukkan bahwa
ada keterkaitan antara kebiasaan suku bugis di Sulawesi Selatan terhadap
perilaku menyusui.
Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui
Kebutuhan gizi ibu menyusui meningkat dibandingkan dengan tidak
menyusui. Pada waktu menyusui kebutuhan energi dan protein perempuan usia
19-29 tahun meningkat menjadi 2400 Kal dan 67 g per hari pada 6 bulan pertama
serta 2450 Kal dan 67 g per hari pada 6 bulan kedua. Kebutuhan lemak ibu
menyusui disesuaikan dengan kebutuhan energi, yakni seperlima dari total
kebutuhan energi (Kurniasih et al.2010).

Air Susu Ibu (ASI)


ASI merupakan pangan kompleks yang mengandung zat-zat gizi lengkap
dan bahan-bahan bioaktif yang diperlukan untuk tumbuh-kembang dan
pemeliharaan kesehatan bayi (Almatsier et al. 2011). ASI adalah emulsi lemak
dalam larutan protein, laktosa, dan garam-garam organik yang disekresi oleh
kedua belah kelenjar payudara ibu yang berguna sebagai makanan yang utama
bagi bayi (Roesli 2000). ASI merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi
serta mempunyai nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi
yang dibuat manusia ataupun susu hewan seperti susu sapi, susu kerbau, dan lain-
lain. ASI sangat menguntungkan ditinjau dari berbagai segi, baik segi gizi,
kesehatan, ekonomi maupun sosio-psikologis. Hal ini banyak terlihat di berbagai
negara atau wilayah dimana higiene lingkungan belum memadai disamping
makanan bayi pengganti ASI tidak tersedia ataupun harganya sangat mahal dan
tidak terjangkau oleh daya beli penduduk pada umumnya (Suhardjo 1992).
ASI berisi antibodi untuk melawan bakteri dan virus, antibodi IgA
sekretori yang relatif tinggi, yang mencegah mikroorganisme melekat pada
mukosa usus. Antibodi kolostrum ASI dan ASI yang tertelan ini dapat
memberikan kekebalan gastrointestinal lokal pada organisme yang masuk ke
tubuh. ASI juga merupakan sumber laktoferin, protein whey yang mengikat besi
normalnya sekitar sepertiga terjenuhi dengan besi, yang mempunyai pengaruh
menghambat pertumbuhan Escherichia coli dalam usus (Behrman et al. 2000).
8

Lamanya menyusui berhubungan erat dengan tingginya tingkat pertumbuhan


anak. Selain itu, hal tersebut juga berkaitan dengan penurunan resiko penyakit
kronis pada anak, obesitas, dan perbaikan kognitif (Dewey et al. 2001).

Kuantitas ASI
Metabolisme produksi ASI dan fisiologisnya
Seorang ibu menyusui mempunyai dua refleks, masing-masing berperan
dalam pembentukan dan pengeluaran air susu, yakni refleks prolaktin dan refleks
oksitosin/letdown(Sulistyoningsih 2011). Prolaktin adalah hormon utama yang
mengatur sintesis kasein susu. Menjelang akhir kehamilan, hormon prolaktin
memegang peranan penting dalam pembuatan kolostrum,namun jumlahnya
terbatas, karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang
kadarnya masih tinggi. Setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron
berkurang serta isapan bayi akan merangsang ujung saraf sensoris yang berfungsi
sebagai reseptor mekanik. Rangsangan akan dilanjutkan ke hipotalamus melalui
medula spinalis dan mesensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran
faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan merangsang pengeluaran
faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin. Prolaktin akan meningkat dalam
keadaan stres atau pengaruh psikis, anestesi, operasi,rangsangan puting
susu,hubungan kelamin,serta obat-obat transqulizer hipotalamus, sedangkan
keadaan yang menghambat pengeluaran prolaktin adalah gizi ibu yang buruk dan
obat-obatan.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan refleks let down adalah melihat,
mendengarkan suara, mencium, dan memikirkan bayi, sedangkan faktor yang
menghambat ialah stres seperti bingung, pikiran kacau, takut, dan cemas
(Sulistyoningsih 2011). Kurniasih et al. (2010) mengungkapkan bahwa produksi
ASI usia 0-6 bulan berkisar 600 ml hingga 1000 ml, sedangkan ASI pada masa
laktasi di atas 6 bulan umumnya tingkat produksinya menurun hingga dapat
mencapai 550 ml/hari (WHO2001).
Faktor yang Mempengaruhi Kuantitas ASI
Kualitas dan kuantitas makanan ibu
Ibu dengan asupan makanan sehari-hari yang kurang terutama sejak masa
kehamilan akan berpengaruh terhadap berkurangnya produksi asi atau bahkan
tidak keluar. Untuk mencukupi kebutuhan bayi dari ASI, maka ibu perlu
memperhatikan kualitas dan kuantitas makanannya. Diet yang dilakukan pada
masa pemberian ASI eksklusif akan memberikan efek negatif. Asupan kalori ibu
menyusui yang kurang dari 1500-1700 Kal akan dapat mengurangi 15% volume
ASI (Sulistyoningsih 2011).
Hormonal
ASI diproduksi sebagai hasil kerja hormon dan refleks. Hormon yang
berperan dalam proses menyusui ialah hormon prolaktin (untuk memproduksi
ASI) dan oksitosin (menyebabkan ASI dapat keluar), sedangkan refleks yang
membantu proses menyusui ialah refleks prolaktin dan let down (Sulistyoningsih
2011).
Psikologis dan sosial
Kondisi psikologis dan sosial ibu akan berdampak pada banyaknya ASI
yang dihasilkan, diantaranya rasa percaya diri ibu dan kontak langsung ibu dengan
anak.
9

a. Rasa percaya diri ibu


Keberhasilan proses menyusui sangat tergantung pada rasa percaya diri
ibu bahwa ia mempu menyusui atau memproduksi ASI yang cukup
untuk bayinya. Gangguan emosional ibu seperti cemas, marah, dan
kecewa juga akan berpengaruh (Sulistyoningsih 2011).
b. Kontak langsung ibu bayi
Ikatan kasih sayang ibu dan bayi dapat terbentuk karena beberapa
rangsangan seperti sentuhan kulit dan mencium bau yang khas antara
ibu dan bayi. Kontak tersebut akan membentuk kepuasan,serta bayi
pun merasa aman mendapat kehangatan dari dekapan ibunya. Sikap
ibu dalam memberikan ASI dan bagaimana bayi merespon akan dapat
menciptakan kasih sayang ibu dan anak yang akan mempengaruhi
produksi ASI (Sulistyoningsih 2011).
Frekuensi menyusui
Menurut studi Keating et al. (2013), kuantitas ASI yang dihasilkan sangat
dipengaruhi oleh banyaknya intensitas menyusui. Semakin sering bayi menyusu,
maka ASI yang dihasilkan pun semakin banyak. Stimulus pada puting susu oleh
hisapan mulut bayi secara teratur yang menyebabkan ereksi nipple.
Konsumsi pangan sumber laktagogum
Berdasarkan studi sebelumnya, terdapat beberapa pangan yang dinilai
dapat mempengaruhi produksi ASI antara lain kacang-kacangan, biji-bijian,
bayam, singkong, kacang mede, buncis, jagung muda (Yanti 2011), kacang
panjang (Tri 2004), sayur katuk (Wirakusumah 2006;Yanti 2011;Satyaningtyas et
al. 2014), dan jantung pisang (Wahyuni et al. 2012). Selain itu, buah-buahan yang
mengandung banyak air akan membantu ibu menghasilkan ASI yang berlimpah
(Wahyuni et al. 2012).
Lemak
Lemak sendiri berperan sebagai sumber energi, produksi ASI dan
pembawa vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Kebutuhan minyak dalam
PGS dinyatakan 4 porsi, masing-masing 5 gram. Asam lemak yang dibutuhkan
ibu menyusui yaitu lemak tak jenuh ganda, seperti omega-3 dan omega-6.
Makanan sumber lemak omega-6 yaitu minyak kedelai, minyak jagung dan
minyak bunga matahari, sedangkan lemak yang mengandung omega-3 yaitu
terdapat pada jenis ikan laut, sepeti tongkol, cakalang, tenggiri, lemuru, sarden
dan salmon. Asam lemak omega-3 dan omega-6 penting untuk perkembangan dan
fungsi saraf janin (Kurniasih et al.2010).
Lemak pada ASI memiliki peran utama sebagai sumber energi. Total
kandungan lemak ASI berjumlah sebanyak 30 hingga 50 g/L. Terdapat beberapa
komponen lemak ASI yang memiliki beragam fungsi, diantaranya ialah Long-
Chain Polyunsaturated Fatty Acid (LC-PUFA) yang berperan penting pada fungsi
penglihatan dan kemampuan kognitif, Free Fatty Acid (FFA) yang berperan
sebagai anti infeksi, dan triglyserid yang berperan penting sebagai sumber energi
terbesar bayi, memecah asam lemak bebas/FFA dan gliserol dengan enzim lipase.
Komponen lemak tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh konsumsi pangan ibu.
Total kandungan lemak ASI pada mature milk (setelah 30 hari kelahiran) lebih
tinggi dari pada kolostrum, dimana kolostrum ASI mengandung total lemak
10

sebesar 2.9 g pada hari ke-1 hingga ke-5, sedangkan pada mature milk terdapat
sebanyak 4.2 g (Riordan 2005).
Selain pola makan ibu, kandungan asam lemak ASI dapat dipengaruhi
beberapa faktor diantaranya usia ibu, status gizi ibu, paritas, kondisi ibu yang
puasa, merokok, mengkonsumsi alkohol, dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
Menurut studi Dewey et al.1986, semakin tua usia ibu maka kadar lemak ASI
semakin rendah. Kadar lemak ASI stabil pada usia 21 hingga 37 tahun. Status gizi
ibu berpengaruh terhadap komposisi cadangan lemak tubuh ibu. Ibu dengan status
gizi lebih akan memiliki kadar lemak ASI yang tinggi pula. Selain itu, jumlah
anak yang dilahirkan pun akan mempengaruhi kadar lemak ASI. Ibu yang telah
melahirkan anak hingga 4 memiliki kadar lemak ASI yang lebih rendah, jadi
kadar lemak ASI lebih stabil dan tinggi pada ibu yang melahirkan satu hingga tiga
anak (Prentice 1986).
Konsumsi obat-obatan tertentu seperti kortikosteroid, obat penyakit
diabetes dan hiperlipidemia dapat mempengaruhi kadar lemak pada ASI. Hal
tersebut berkaitan dengan tingginya kandungan toxic di hati yang akan
mengganggu metabolisme dari lipid (Ehrenkranz 1986). Kebiasaan
mengkonsumsi alkohol harus dihindari oleh setiap ibu menyusui. Alkohol yang
dikonsumsi ibu akan dengan cepat masuk ke dalam ASI dan akan berefek secara
langsung kepada bayi yang mengkonsumsi ASInya (Mennella 2001, Giglia and
Binns 2006). Selain itu konsumsi alkohol akan menurunkan produksi ASI
(American Academy of Pediatrics Policy Statement 2005). Kadar oksitosin akan
menurun, sehingga akan menghambat kerja dari let down refleks (Mennella et al.
2005). Selain konsumsi alkohol, kebiasaan merokok pada ibu menyusui pun harus
dihindari. Menurut studi Amir et al.(2002) dan Ilett et al.(2003), merokok dapat
menurunkan kuantitas ASI. Kadar lemak ASI yang dihasilkan juga rendah. Bayi
yang mengkonsumsi ASI dari ibu merokok memiliki pertumbuhan yang rendah
(Academy of Breastfeeding Medicine 2004). ASI dari ibu perokok mengalami
perubahan rasa serta flavor yang mungkin akan berdampak pada konsumsi ASI
pada bayi (Academy of Breastfeeding Medicine 2004, Ilett et al. 2003).
Terganggunya tidur bayi merupakan dampak lain jika mengkonsumsi ASI dari ibu
perokok (Chapman 2008).
Asam Lemak
Lemak disusun oleh dua jenis molekul kecil yaitu gliserol dan asam lemak.
Gliserol yaitu sejenis alkohol yang memiliki tiga rantai karbon dengan masing-
masing mengandung sebuah gugus hidroksil. Asam lemak sendiri memiliki
kerangka karbon dengan panjang 16 sampai 18 atom karbon. Ujung asam lemak
sendiri yaitu “kepala” yang terdiri atas gugus karboksil. Asam lemak memiliki
panjang serta jumlah dan lokasi ikatan ganda yang beragam. Asam lemak dapat
dibedakan menjadi asam lemak jenuh apabila asam lemak tersebut tidak
membentuk ikatan ganda di antara atom-atom karbon yang menyusun ekor
sehingga atom hydrogen sebanyak mungkin terikat pada kerangka karbon. Asam
lemak tidak jenuh memiliki satu atau lebih ikatan ganda yang terbentuk melalui
pengeluaran atom hidrogen dari kerangka karbon. Bentuk asam lemak akan
menjadi kaku jika terdapat ikatan ganda (Campbell et al.2002).
Asam lemak tidak jenuh jamak rantai panjang atau yang dikenal dengan
istilah long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA) terkandung dalam ASI,
namun hampir tidak ditemukan dalam susu formula (Horta et al. 2007).
11

Komponen ini memiliki peran penting sebagai komponen struktural membran


pada sistem jaringan, termasuk jaringan pembuluh darah. Suplementasi dengan
LC-PUFA terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada orang yang hipertensi
(Engler et al. 1999). Studi lain menyebutkan bahwa anak yang ketika masa
kecilnya mengkonsumsi susu formula yang telah disuplementasi LC-PUFA, pada
usia 6 tahun memilki tingkat tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan
dengan anak yang mengkonsumsi susu formula yang tidak disuplementasi
(Forsyth et al. 2005). Faktor yang berpengaruh khusus terhadap kandungan asam
lemak ASI diantaranya ialah kebiasaan konsumsi ibu (Kelishadi et al. 2012;
Riordan 2005; Martin et al. 2012), metabolisme asam lemak ibu (Scopesi Fet al.
2001; Sauerwald et al.2001;Xie and Innis 2008), cadangan lemak ibu (Gao et al.
2013; Much 2013), intik karbohidrat (Read et al. 1965), masa laktasi (Kovacs et
al.2005; Szabo et al. 2010).
Martin et al. (2012) mengungkapkan pola makan akan mempengaruhi
komposisi asam lemak ASI baik penyerapan secara langsung maupun cadangan
pada tubuh. Berbagai studi mengungkapkan bahwa tingginya konsumsi ikan laut
dapat meningkatkan kadar DHA dan EPA pada ASI (Huang et al. 2013; Gao et al.
2013;Saphier et al. 2013;Makela et al. 2013; Urwin et al. 2013;Martin et al. 2012;
Pipop et al. 2008). Studi Olang et al. (2012) mengungkapkan bahwa ibu yang
terbiasa mengkonsumsi pangan yang tinggi asam lemak tidak jenuh seperti ikan
atau seafood pada masa menyusui, akan memiliki kadar DHA yang tinggi serta
rendah rasio ARA dengan DHA. Hasil lain yang ditemukan pada studi ini ialah
wilayah tempat tinggal dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jenis
asupan pangan sumber lemak ibu, dimana ibu yang tinggal di wilayah pinggir
pantai memiliki kadar DHA dan omega 3 yang lebih tinggi dibandingkan dengan
ibu yang tinggal di daratan. Hal itu disebabkan tingginya tingkat frekuensi
konsumsi pangan berjenis ikan laut yang kaya akan asam lemak tidak jenuh.
Selain itu, ikan laut (Makela et al. 2013; Huang et al. 2013; Lauritzen et
al.2002) dan ikan air tawar (Martin et al.2012;Rose 2006) dapat meningkatkan
kadar linoleat ASI. Minyak nabati dan pangan olahan pun dapat meningkatkan
kadar tersebut (Gao et al. 2013; Martin et al.2012; Brenna &Lapillonne 2009;
Nishimura et al. 2014; Wan et al. 2010). Salah satu jenis minyak nabati yang kaya
linoleat ialah minyak kelapa sawit dengan kandungan sebesar 9660 mg/100 g
pangan, sumber pangan kaya linolenat ialah kelompok kacang-kacangan dan
olahannya (Mulyani 2014)Menurut Nishimura et al. (2014), dalam konsumsi
pangan sumber linoleat dan linolenat, terdapat rasio asam linoleat dan asam
linolenat. Ketika kadar asam linolenat rendah, kadar asam linoleat menjadi tinggi.
Studi di Cina mengungkapkan bahwa tingginya konsumsi telur sebagai
sumber ARA tidak berkaitan dengan kadar ARA pada ASI, namun diduga
berkaitan dengan faktor cadangan lemak pada ibu dan metabolismeibu dalam
mensintesis ARA dari prekusor asam linoleat (Gao et al. 2013). Cadangan lemak
ibu dibentuk sejak masa kehamilan, sehingga masa kehamilan memiliki peran
penting terhadap kadar lemak ASI pada saat menyusui. Jenis asam lemak esensial
pada ASI yang dihasilkan dipengaruhi juga oleh distribusi cadangan lemak pada
ibu (Much et al.2013;Lauritzen dan Carlson. 2011). Intik karbohidrat yang tinggi
akan berpengaruh terhadap tingginya pembentukan lemak pada tubuh,sehingga
hal tersebut akan berdampak pada kandungan lemak ASI yang dihasilkan (Read et
al. 1965).
12

Asam Lemak Esensial


Asam lemak esensial merupakan asam lemak yang ditandai dengan ikatan
rangkap/tidak jenuh pada C-7 terakhir (terutama C-6 dan C-7) pada rantai asam
lemak ke arah gugus metil ujung. Asam ini dinamai dengan asam lemak linoleik
dan memiliki sifat struktur tidak dapat disintesis oleh tubuh manusia.Selain itu,
asam lemak jamak tidak jenuh ikatan rangkap C-3 dan C-4 dari gugus metil akhir
juga dibutuhkan. Orang dewasa membutuhkan minimal 1%-2% dari kalorinya
dalam bentuk asam lemak esensial dan sekitar 12%-14% dari kalori (40% lemak
makanan) untuk kesehatan optimum. Asam arakidonik juga dibutuhkan dalam
memenuhi kebutuhan asam lemak esensial untuk membentuk prostaglandin,
leukotrien dan tromboksan (Linder 1992).
ARA (Arachidonic acid) dan DHA (Docosahaexanoic acid) memainkan
peranan struktur dan fungsi yang penting di dalam tubuh. Asam lemak tersebut
dibutuhkan untuk perkembangan otak yang normal dan fungsi penglihatan. ARA
dan DHA merupakan komponen struktur dan jaringan syaraf.DHA juga
merupakan komponen membrane fotoreseptor retina. Produksi ARA dan DHA
dari asam linoleat dan α-asam linolenat tidak tersedia secara memadai. Bayi harus
memenuhi kedua asam lemak ini secara langsung dari sumber eksogen yaitu dari
konsumsi makanan (Dalzell et al.2010).
ASI mengandung asam lemak yang dapat meningkatkan pertumbuhan otak
yaitu DHA (Decosahexaenoic acid), ARA (Arachidonic acid), dan asam lemak
omega-3 yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan jaringan saraf. DHA
dibutuhkan untuk membangun myelin berupa sarung pembungkus di sekitar
masing–masing saraf sehingga membantu rangsangan saraf elektris bergerak
dengan cepat menuju tujuan. Berdasarkan penelitian bahwa konsentrasi DHA
mencapai posisi tertinggi pada otak bayi yang mendapat ASI. Diantara bayi
tersebut, bayi yang mendapat ASI lebih lama memiliki kandungan DHA yang
lebih tinggi (Sears & Martha 2003; Innis 2007).
Dibandingkan dengan ASI, susu formula yang hanya mengandung sedikit
atau tidak ada sama sekali ARA dan DHA. Bayi yang tidak diberikan
suplementasi formula telah menunjukkan penurunan tingkat DHA dan ARA di
dalam plasma fosfolipid dan korteks otak dibandingkan dengan bayi yang diberi
ASI. Telah dilaporkan bahwa bayi yang diberikan ASI memiliki IQ yang lebih
tinggi dibandingkan bayi dan menunjukkan uji perkembangan lebih baik
dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula. Hal ini menunjuk pada
hipotesis bahwa hal tersebut berkaitan dengan ketidakcukupan asupan asam lemak
ganda jamak rantai panjang (Dalzell et al.2010). Berdasarkan WHO(2005), angka
kecukupan asam lemak esensial (linoleat dan linolenat) pada bayi dibagi
berdasarkan kelompok usia, yakni berkisar 0.5-0.7 g/hr (linoleat) dan 4.4-7g/hr
(linolenat) (Tabel 1).
Tabel 1 Angka kecukupan asam linoleat dan linoleat

Masa Laktasi Angka Kecukupan(g/hr)


Linoleat* Linolenat**
0-6 bulan 0.5 4.4
7-12 0.5 4.6
>12 0.7 7
Sumber : WHO 2005
*sudah termasuk EPA dan DHA; **sudah termasuk ARA
13

Banyak studi telah membuktikan bahwa ada kaitan yang erat antara asupan
pangan dengan komposisi asam lemak ASI. Jika dibandingkan dengan kolostrum,
mature milk ASI memiliki persentase asam lemak jenuh yang lebih tinggi, asam
lemak tak jenuh tunggal yang rendah, asam linoleat dan linolenat yang tinggi,
serta LC PUFA yang rendah (Gibson et al. 1981). Studi Olang et al.(2012)
mengungkapkan bahwa ibu yang terbiasa mengkonsumsi pangan yang tinggi
asam lemak tidak jenuh seperti ikan atau seafood pada masa kehamilan dan
menyusui, akan memiliki kadar DHA yang tinggi serta rendah rasio ARA dengan
DHA. Hasil lain yang ditemukan pada studi ini ialah wilayah tempat tinggal dapat
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jenis asupan pangan sumber lemak
ibu, dimana ibu yang tinggal di wilayah pinggir pantai memiliki kadar DHA dan
omega 3 yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tinggal di daratan. Hal
itu disebabkan tingginya tingkat frekuensi konsumsi pangan berjenis ikan laut
yang kaya akan asam lemak tidak jenuh. Hasil studi Gao et al. (2013)
menggambarkan bahwa perbedaan pola konsumsi ikan dan beberapa pangan
sumber lemak pada ibu hamil yang tinggal di lokasi berbeda akan menyebabkan
perbedaan pada komposisi asam lemak ASI. Dimana konsumsi ikan laut yang
tinggi mungkin akan lebih efektif dalam mempengaruhi kadar DHA pada
kolostrum. Ibu yang mengkonsumsi pangan yang rendah lemak akan
meningkatkan kadar ARA pada ASI selain itu meningkatkan konsumsi produk
susu dan olahan pun dapat meningkatkan kadar ARA (Nasser 2010). Menurut
Zhang et al. (2009), sumber pangan yang paling kaya akan ARA ialah telur (74
mg/100 g pangan).

Manfaat Asam Lemak Omega – 3 dan Omega – 6


Asam lemak omega 3 dibutuhkan untuk perkembangan otak dan mata
serta berguna dalam mempertahankan dan menghasilkan kesehatan. Asam lemak
omega – 6 berperan penting dalam fungsi otak dan hati serta pertumbuhan dan
perkembangan secara normal (Castle & Paula 2010).
Manfaat asam lemak omega – 3 dikenal memiliki beragam manfaat
kesehatan melawan penyakit kardiovaskular (CVDs) termasuk hipotrigliseridemia
dan efek anti peradangan. Selain itu, beragam studi mengidikasikan adanya
manfaat asam lemak tersebut sebagi antihipertensi, antikanker, antioksidan,
antidepresi, anti penuaan dan efek anti arthritis (Siriwardhana et al.2012).

Pangan Sumber Asam Lemak Esensial


Makanan yang mengandung asam lemak linoleat (omega-6) terdapat pada
minyak jagung, kapas, kacang kedelai, wijen dan bunga matahari. Asam lemak
arakidonat terdapat pada minyak biji-bijian dan minyak kacang tanah. Omega-3
atau linolenat terdapat pada minyak kacang kedelai, kecambah dan gandum.
Selain itu, minyak nabati, kacang-kacangan, roti gandum utuh, dan ayam dapat
menjadi sumber lain dari linolenat (University of Nebraska-Lincoln 2010).
Eikosapentanoat/EPA dikandung dalam bahan pangan seperti minyak ikan
tertentu atau dapat juga dibuat dari asam linolenat, sedangkan dokosaheksanoat
(DHA) terdapat pada minyak ikan tertentu (Almatsier 2006). Selain itu, ikan laut
dan air tawar dapat meningkatkan kadar EPA, DHA, asam linoleat dan linolenat
pada ASI (Huang et al. 2013; Gao et al. 2013;Saphier 2013; Martin et al. 2012;
NDA 2012; Pipop et al.2008; Francois et al. 1998). Tingginya konsumsi minyak
14

sawit dapat menyebabkan rendahnya kadar asam linolenat dan asam linoleat pada
ASI (Pipop et al.2008).
Tabel 2 Pangan sumber asam lemak esensial
Jenis Pangan
Jenis Asam Lemak Esensial
(g AL/100 g lemak); (mg AL/100 g pangan)
ARA Kelompok pangan telur dan olahannya (164.7 mg/100
g) dari telur bebek asin (356.4 mg/100 g)
EPA Kelompok pangan olahan ikan dan udang (89.5 mg/100
g) dari sarden kaleng saos tomat (568.5 mg/100 g)
DHA Kelompok pangan olahan ikan dan udang (200.7
mg/100 g) dari ikan tongkol bakar (604.1 mg/100 g).
LINOLENAT/ OMEGA 6 Kelompok kacang kedelai dan olahannya (362.1 mg/100
g) dari tahu (533 mg/100 g).
LINOLEAT/ OMEGA 3 Kelompok lemak dan minyak (6475.2 mg/100 g) dari
minyak sawit kemasan (9660 mg /100 g).
Sumber : Mulyani 2014

Berdasarkan Tabel 2, sumber pangan yang kaya akan ARA ialah telur dan
olahannya. Ikan dan udang merupakan sumber pangan kaya DHA dan EPA,
sedangkan sumber pangan kaya linolenat adalah kelompok kacang kedelai dan
olahannya. Lemak dan minyak menjadi pangan kaya linoleat (Mulyani 2014).
Tabel 3 menunjukkan perbandingan kandungan asam lemak esensial aneka ikan
dan telur. Ikan tongkol memiliki kadar DHA dan EPA lebih tinggi dibandingkan
jenis pangan lain. Telur memiliki kadar ARA tertinggi. Kadar linoleat dan
linolenat pada ikan tongkol lebih rendah dibandingkan jenis pangan lain. Ikan air
tawar seperti ikan mas memiliki kadar asam lemak yang lebih rendah
dibandingkan ikan laut.
Tabel 3 Perbandingan kandungan asam lemak esensial aneka ikan dan telur*
Kandungan Asam Lemak (AL)
Jenis Pangan
mg AL/100 g pangan
Ikan tongkol ARA : 7.3
EPA : 14.6
DHA : 88.7
Linoleat : 5.5
Linolenat : 1.6
Ikan kembung ARA : 2.6
EPA : 4.1
DHA : 21.7
Linoleat : 5.8
Linolenat : 6.2
Ikan mas ARA : 8.4
EPA : 5.4
DHA : 12.1
Linoleat : 447.9
Linolenat : 22.5
Ikan bandeng ARA : 14.3
15

Tabel 3 Perbandingan kandungan asam lemak esensial aneka ikan dan telur*
(lanjutan)
Kandungan Asam Lemak (AL)
Jenis Pangan
mg AL/100 g pangan
Ikan bandeng EPA : 4.2
DHA : 3.4
Linoleat : 471
Linolenat : 67.3
Telur ARA : 164.7
EPA :0
DHA : 43
Linoleat : 1499.6
Linolenat : 32.4
*Sumber : Mulyani 2014
Analisis Asam Lemak ASI
Studi Bertino et al. (2013) mengungkapkan bahwa penyimpanan ASI
selama 96 jam dalam lemari pendingin dapat menjaga keseluruhan komposisi
lemak pada ASI. Bayi yang menerima ASI dari proses penyimpanan masih
memiliki kandungan asam lemak yang sama lengkapnya dengan ASI yang diberi
secara langsung. Analisis kadar asam lemak dilakukan dengan menggunakan
metode gas kromatografi menurut AOAC (2005). Adapun tahapannya secara
umum terdiri atas ekstraksi lipid, metilasi, pemisahan/penentuan GC, dan
kalkulasi asam lemak. Total lemak diekstraksi dari 3 gram ASI ditambah 45 ml
methanol chloroform dengan perbandingan volume 2 :1. Setelah itu, cairan
diemulsi dengan 12 ml NaCl 0,85% dan lapisan terbawah diambil dan dikeringkan
pada suhu 400C. Lalu dihitung jumlah lemaknya. Kemudian FAME (Fatty Acid
Methyl Esters) dipersiapkan dengan methanol-acetyl chloride dengan
perbandingan volume 100:15 pada suhu 700C dalam bak air selama 3 jam dan
dihancurkan dengan hexane. Hasil analisis FAME akan keluar pada alat Shimadzu
GC 2010 plus dengan kolomberjenis Quadrex 007 cyanopropyl methyl sil.
Helium digunakan sebagai pembawa gas dengan tingkat kecepatan aliran sebesar
2 ml/menit. Setelah itu, titik puncak dari FAME diidentifikasi dengan
membandingkan waktu retensi sesuai standar yang telah tersertifikasi (Supelco 37
Komponen Campuran FAME). Persentase asam lemak dihitung dengan metode
normalisasi. Titik puncak pada area yang kurang dari 0.05% pada total area tidak
dijadikan sebagai rujukan hasil.
16

3 METODE PENELITIAN
Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penentuan lokasi dan
pengambilan sampel dari setiap provinsi tersebut dilakukan dengan prosedur terstandar.
Pada setiap provinsi dipilih satu kota dan satu kabupaten dengan kriteria antara lain kota
terpilih ialah ibu kota provinsi, sedangkan kabupaten yang dipilih ialah kabupaten
dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi yang relatif mudah diakses dengan
transportasi umum berdasarkan data demografi penduduk dari BPS provinsi. Setelah itu,
dipilih satu kecamatan dari masing-masing kabupaten/kota yang memiliki tingkat
penduduk terpadat/relatif padat, memiliki cakupan ASI eksklusif tertinggi, serta
memiliki karakteristik dan jumlah ibu menyusui yang tersebar merata di setiap
pengelompokan masa laktasi. Kemudian dipilih dua desa dengan jumlah penduduk yang
paling/relatif padat dan terdapat sejumlah ibu menyusui sesuai kriteria. Lokasi sampel
terpilih ialah Kabupaten Bogor, Kota Bandung, Kabupaten Padang Pariaman, Kota
Padang, Kabupaten Gowa, dan Kota Makasar.
Penanganan semua sampel ASI dilakukan di ruangan Sekretariat Manajemen
Keamanan Pangan (MKP), lantai 3 Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, sedangkan analisis sampel diuji di Laboratorium Terpadu Institut Pertanian
Bogor, Baranangsiang. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari Februari
2014 hingga Juli 2014.
Populasi dan Contoh Penelitian
Contoh dalam penelitian ini ialah ibu menyusui berusia 25-40 tahun dengan
masa laktasi antara 3-23 bulan (4 kelompok : 3-5 bulan, 6-8 bulan, 9-11 bulan, dan 12-
23 bulan) yang berada di wilayah provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi
Selatan. Contoh yang dipilih harus memiliki kriteria inklusi sebagai berikut bersuku
bangsa asli wilayah setempat, berstatus gizi normal, tidak melahirkan bayi kembar,
menyusui hanya satu bayi, tidak sedang berpuasa, jumlah anak maksimal 3 orang, tidak
merokok dan meminum alkohol, dan tidak sedang mengikuti terapi penyakit khusus
(hiperlipidemia, diabetes,dan penggunaan obat kortikosteroid), bersedia mendonasikan
ASI (minimum 100 ml), dan menandatangani inform consent. Berdasarkan perhitungan
jumlah sampel minimal (Lemshow 1997), jumlah sampel yang harus terkumpul
sebanyak 50 orang.
n= z2p (1-p)
d2
n= (1.962 ) 0.153 (1-0.153) = 50 orang
0.12
keterangan :
p= 15.3 % cakupan ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2010,
d=0.1 Z 1-ᾳ /2 = 1.96
Awalnya total contoh yang diambil sebanyak 80 contoh yang terdiri atas 20
orang untuk setiap masa laktasi, namun terdapat 4 orang yang memiliki status gizi lebih
(5% dari total), sehingga total responden yang diperoleh menjadi 76 orang yang terdiri
terdiri atas terdiri atas 19 orang dari masing-masing kelompok masa laktasi 3-5 bulan
dan 12-23 bulan, 18 orang dari kelompok masa laktasi 6-8 bulan, dan 20 orang dari
17

kelompok masa laktasi 9-11 bulan. Jika berdasarkan wilayah, contoh terdiri atas 36
orang Jawa Barat, 17 orang Sumatera Barat, dan 23 orang Sulawesi Selatan. Dengan
demikian, jumlah contoh yang diperoleh telah memenuhi kebutuhan minimal. Bagan
teknik pengambilan contoh dapat dilihat dalam Gambar 2.

Provinsi X

Ibu Kota Provinsi Kabupaten

Satu Kecamatan Satu Kecamatan

Desa 1 Desa 2 Desa 1 Desa 2

12 sampel Sumatera Barat 12 sampel

12 sampel Sulawesi 12 sampel

16 sampel Jawa Barat 16 sampel

80 Sampel

20 Sampel 20 Sampel 20 Sampel 20 Sampel


(3-5 bulan) (6-8 bulan) (9-11 bulan) (12-23 bulan)

Drop
Out
(4
19 Sampel 18 Sampel 20 Sampel 19 Sampel
(3-5 bulan) (6-8 bulan) (9-11 bulan) (12-23 bulan)

Gambar 2 Skema penarikan sampel

Jenis dan Cara Pengumpulan Data


Jenis data yang dikumpulkan mencakup data primer dan data sekunder. Data
primer meliputi karakteristik individu (usia, paritas, tinggi badan, berat badan, lokasi
tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan besar pendapatan keluarga), pola makan (jenis
dan frekuensi pangan sumber lemak), kandungan asam lemak ASI (kadar lemak dan
total asam lemak, komposisi asam lemak, dan kadar asam lemak esensial), kuantitas
ASI harian, dan konsumsi asam lemak esensial ASI bayi. Data sekunder berupa
gambaran umum wilayah, keadaan sosial ekonomi, dan data sebaran ibu menyusui
diperoleh dari data demografi Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kecamatan pada tiap
wilayah provinsi. Penjelasan pengkategorian variabel penelitian secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 4.
18

Tabel 4 Kategori variabel penelitian

No Variabel Kategori Pengukuran Sumber


Karakteristik Individu
1 Usia ibu 1. 19 – 29 tahun WNPG (2004)
2. 30 – 49 tahun
2 Pendidikan terakhir 1. Tidak tamat SD/Sederajat Riskesdas
ibu 2. SD/ Sederajat (2010)
3. SMP/Sederajat
4. SMA/Sederajat
5. Diploma/Akademi
6. Sarjana/ Pascasarjana
3 Wilayah 1. Jawa Barat
2. Sumatera Barat
3. Sulawesi Selatan
4 Pendapatan keluarga Sesuai Batas UMR BPS 2014
5 Paritas 1. 1
2. 2
3. 3
6 Status gizi (IMT) a. Gizi kurang : <18.5 WHO (2006)
b. Gizi baik (normal): 18.5 –
24.9
c. Gizi lebih : >25
Pola makan
7 Jenis pangan sumber Riskesdas (2010)
lemak
8 Frekuensi konsumsi Cornelia (2010)

KandunganAsam Lemak ASI


9 Komposisi asam Gao et al. 2013
lemak
10 Kadar lemak dan total
asam lemak
11 Kadar asam lemak
esensial
12 Kuantitas ASI Damanik et al.2006
13 Konsumsi Asam
Lemak Esensial ASI
pada Bayi
14 Tingkat kecukupan
Asam Lemak Esensial
ASI pada Bayi
Data karakteristik individu dan kebiasaan makan diperoleh melalui wawancara
terstruktur menggunakan kuesioner, serta pengukuran antropometri langsung pada
contoh. Kuisioner terdiri atas karakteristik ibu, karakteristik keluarga, recall konsumsi
pangan, Food Frequency Questioner (FFQ) sumber lemak, dan pengukuran kuantitas
ASI harian. Data jenis pangan sumber lemak diperoleh melalui data Food Frequency
Questioner (FFQ) selama sebulan terakhir dan recall selama 2x24 jam. Data jenis
19

pangan sumber lemak merujuk pada data konsumsi pangan sumber lemak hasil
Riskesdas tahun 2010 yang terdiri atas 148 jenis pangan (Riskesdas 2010). Jenis pangan
sumber lemak dikompositkan dan dikategorikan kepada kelompok pangan sumber asam
lemak esensial seperti ikan (laut dan air tawar), seafood, daging, kacang-kacangan,
minyak (sawit dan kelapa), telur, hati, dan santan dengan 2 kategori frekuensi konsumsi
yakni sering (>=3x/minggu) dan tidak sering (0-2x/minggu) (Cornelia et al. 2010).
Kemudian kategori frekuensi konsumsi dari kelompok jenis pangan tersebut dikaitkan
dengan kadar asam lemak esensial dari sampel ASI. Penjelasan jenis dan cara
pengumpulan atau pengukuran data secara rinci dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Jenis dan cara pengumpulan atau pengukuran data

No Data Cara Pengukuran atau Frekuensi


pengumpulan
1. Karakteristik individu Wawancara langsung dengan Satu kali pada saat
menggunakan kuisioner pengambilan ASI
2. Konsumsi pangan Wawancara langsung dengan Satu kali pada saat
sumber lemak menggunakanFood Frequency pengambilan ASI
Questioner (FFQ) (Recall sehari
sebelumnya)
3. Status Gizi
Anthropometri Satu kali pada saat
- Berat Badan (BB) Penimbangan dengan timbangan pengambilan ASI
berat badan injak analog, dengan
ketelitian 0.1 kg

- Tinggi Badan (TB) Pengukuran TB dengan microtoise,


dengan ketelitian 0.1 cm

- Status Gizi (BB/U) Perhitungan berdasarkan Z-score


dengan standar Depkes 2008
4. Profil Asam Lemak Metode gas kromatografi Satu kali analisis
ASI
5. Kuantitas ASI Penimbangan berat badan bayi Satu hari setelah
setiap sebelum dan setelah disusui pengambilan ASI
selama 1x 24 jam
Pengambilan Sampel ASI
Sampel ASI diambil menggunakan pompa manual ataupun elektrik dengan
jumlah minimal sebanyak 100 ml. Untuk 10 ml hasil ASI perahan pertama, harus
dibuang terlebih dahulu. ASI diambil selama 1-4 hari baik di pagi, siang, maupun sore
hari. Hasil perahan ASI kemudian ditampung dalam wadah botol kaca dan segera
disimpan dalam freezer bersuhu -400C. Analisis kadar asam lemak dilakukan dengan
menggunakan metode gas kromatografi menurut AOAC tahun 2005. Analisis dilakukan
di Lab Terpadu IPB Baranangsiang oleh tenaga laboran profesional.
Analisis Asam Lemak ASI
Analisis kadar asam lemak dilakukan dengan menggunakan metode gas
kromatografi menurut AOAC (2005). Adapun tahapannya secara umum terdiri atas
ekstraksi lipid, metilasi, pemisahan/penentuan GC, dan kalkulasi asam lemak. Total
20

lemak diekstraksi dari 3 gram ASI ditambah 45 ml methanol chloroform dengan


perbandingan volume 2 :1. Setelah itu, cairan diemulsi dengan 12 ml NaCl 0,85% dan
lapisan terbawah diambil dan dikeringkan pada suhu 40 0C. Lalu dihitung jumlah
lemaknya. Kemudian FAME (Fatty Acid Methyl Esters) dipersiapkan dengan methanol-
acetyl chloride dengan perbandingan volume 100:15 pada suhu 700C dalam bak air
selama 3 jam dan dihancurkan dengan hexane. Hasil analisis FAME akan keluar pada
alat Shimadzu GC 2010 plus dengan kolom berjenis Quadrex 007 cyanopropyl methyl
sil. Helium digunakan sebagai pembawa gas dengan tingkat kecepatan aliran sebesar 2
ml/menit. Setelah itu, titik puncak dari FAME diidentifikasi dengan membandingkan
waktu retensi sesuai standar yang telah tersertifikasi (Supelco 37 Komponen Campuran
FAME). Persentase asam lemak dihitung dengan metode normalisasi. Titik puncak pada
area yang kurang dari 0.05% pada total area tidak dijadiikan sebagai rujukan hasil.
Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu verifikasi, coding,
entry, cleaning, dan analisis. Verifikasi bertujuan untuk memeriksa konsistensi
informasi yang telah terkumpul.Penyusunan coding ialah pemberian kode atau angkat
tertentu yang disesuaikan dengan jawaban pertanyaan dalam kuisioner. Coding tersebut
akan memudahkan proses pengentrian data. Entry merupakan proses pemasukkan data
jawaban kuisioner sesuai kode pada masing-masing variabel. Setelah data dientri,
dilakukan cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan entri data. Selanjutnya
data diolah dan dianalisis menggunakan program Microsoft excel 2007 dan Statistical
Program for Social Science (SPSS) version 16.0 for Windows. Analisis data dilakukan
secara statistik dan deskriptif. Analisis data tersebut antara lain :
1. Deskriptif :
a. Karakteristik individu (ibu) meliputi usia, paritas, pendidikan terakhir,
pendapatan keluarga, wilayah, berat badan tinggi badan, dan status gizi.
b. Pola makan contoh meliputi jenis dan frekuensi pangan sumber lemak dan
jumlah pangan sumber asam lemak esensial dan sumber laktagogum.
c. Kandungan asam lemak ASI meliputi kadar lemak dan total asam lemak,
komposisi asam lemak, dan kadar asam lemak esensial.
2. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menganalisa hubungan antara frekuensi
konsumsi pangan sumber lemak dengan kandungan asam lemak esensial ASI.
3. Uji korelasi Pearson digunakan untuk menganalisa hubungan antara kuantitas ASI
dengan kuantitas pangan sumber laktagogum serta menganalisa hubungan antara
kuantitas pangan sumber asam lemak esensial dengan kadar asam lemak esensial
ASI.
4. Uji ANOVA untuk menganalisis perbedaan karakteristik individu, frekuensi
konsumsi pangan sumber lemak ibu, dan konsumsi asam lemak esensial bayi antar
masa laktasi dan wilayah.
Definisi Operasional
Contoh adalah ibu menyusui berusia 25-40 tahun dengan masa laktasi antara 3 hingga
23 bulan yang berada di wilayah provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, dan
Sulawesi Selatan, dimana contoh bersuku bangsa asli wilayah setempat, berstatus
gizi normal,tidak melahirkan bayi kembar, menyusui hanya satu bayi, tidak
sedang berpuasa, jumlah anak maksimal 3 orang, tidak merokok dan meminum
alkohol, dan tidak sedang mengikuti terapi penyakit khusus, bersedia
mendonasikan ASI (minimum 100 ml), dan menandatangani inform consent.
21

Karakteristik individu adalah gambaran kondisi internal contoh yang meliputi usia,
pendidikan terakhir, wilayah, suku bangsa, pendapatan keluarga, paritas, badan,
tinggi badan, dan status gizi contoh.
Usia adalah umur contoh saat penelitian dilakukan berada pada umur 25-40 tahun.
Berat badan adalah massa tubuh dalam satuan kilogram yang ditimbang menggunakan
timbangan injak detecto dengan ketelitian 0,5 kg.
Tinggi badan adalah panjang tubuh dalam satuan centimeter yang diukur
menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,5 cm.
Wilayah adalah lokasi rumah tempat tinggal contoh yang dikategorikan dalam tiga
wilayah yakni Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan.
Suku bangsa adalah suku dominan yang paling banyak dianut kepercayaannya oleh
contoh karena genetis atau lamanya bermukim di wilayah tertentu.
Pendidikan ibu adalah tingkat pendidikan terakhir yang diemban ibu contoh, baik yang
tamat SD/sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, tamat
Diploma/Akademi (D1/D2/D3), dan tamat Sarjana/Pascasarjana (S1/S2/S3).
Pendapatan keluarga adalah jumlah pendapatan per bulan dalam bentuk uang yang
diperoleh orang tua dari pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan yang
dikategorikan berdasarkan standar deviasi sesuai batas UMR wilayah.
Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan contoh.
Pola makan adalah kegiatan konsumsi pangan sumber lemak contoh yang dikonsumsi
secara rutin dan berulang, yang digambarkan melalui jenis dan frekuensi pangan
sumber lemak selama sebulan terakhir dan recall konsumsi pangan 2x24jam.
Frekuensi konsumsi adalah frekuensi contoh dalam mengkonsumsi jenis pangan
sumber lemakselama satu bulan terakhir yang terdiri atas dua kategori yakni
sering(>=3x/minggu) dan tidak sering(0-2x/minggu).
Kuantitas ASI adalah jumlah ASI harian yang dapat dihasilkan oleh ibu yang
dipengaruhi oleh usia, paritas, kualitas dan kuantitas makanan, hormonal, kondisi
psikologis dan sosial, frekuensi menyusui, dan konsumsi pangan sumber
laktagogum.
Keragaman asam lemak esensial ASI adalah gambaran asam lemak esensial pada ASI
yang meliputi komposisi EPA, DHA, ARA, asam linoleat, dan asam linolenat.
Kadar lemak ASI adalah kadar lemak pada ASI dalam satuan gram yang terdapat
dalam 100 ml ASI.
Total asam lemak ASI adalah total dari asam lemak yang terkandung dalam 100 gram
lemak maupun dalam 100 ml ASI
Konsumsi Asam Lemak Esensial Bayi adalah perbandingan antara konsumsi asam
lemak esensial bayi harian dengan angka kecukupan asam lemak esensial bayi
Konsumsi asam lemak esensial bayi adalah jumlah harian konsumsi asam lemak
esensial ASI bayi yang dihitung dengan mengalikan kandungan asam lemak
esensial ASI bayi dengan kuantitas konsumsi ASI aktual.
Kuantitas konsumsi ASI aktual adalah jumlah ASI yang dikonsumsi oleh setiap bayi
selama 1x 24 jam, yang diukur dengan menghitung total dari selisih berat badan
bayi yang dikoreksi dengan berat popok dan pakaian kering setiap kali menyusui
dikonversi dalam gram dan dikalikan dengan massa jenis ASI sebesar 0.983
mL/g..
22

4 HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Ibu
Tabel 6 menggambarkan karakteristik responden berdasarkan wilayah yang
meliputi usia, berat badan, tinggi badan, status gizi, paritas, rata-rata pendapatan
keluarga, dan pendidikan terakhir ibu. Berdasarkan Depkes (2009) rataan usia ibu
sebesar 29-30 tahun terkategori pada kelompok usia dewasa awal (26-35 tahun) serta
status gizi ibu pada ketiga wilayah pun tergolong normal (WHO 2006). Usia, paritas,
dan status gizi tidak berbeda nyata antar wilayah (p>0.05) dan ketiga variabel tersebut
telah memenuhi kriteria inklusi. Rataan pendapatan keluarga tertinggi terdapat pada
sampel yang berasal dari Sulawesi Selatan (Rp 1.889.600±1.336.610) dan semua rataan
pendapatan keluarga tergolong di atas UMR (BPS 2014). Pendapatan keluarga dan
pendidikan berbeda nyata antar wilayah (p<0.05), dimana pendapatan wilayah Sulawesi
Selatan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, sedangkan pendidikan terakhir ibu
wilayah Sumatera Barat lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Tabel 6 Karakteristik ibu menyusui
Karakteristik Wilayah P
Jawa Barat Sumatera Barat Sulawesi Selatan value
(n=36) (n=17) (n=23)
Usia Ibu (tahun)a 29.14±5.64 30.81±4.60 30.25±3.64 0.388
Paritas a 2.10±1.14 2.57±1.53 2.58±1.02 0.96
Pendapatan 1.227.100±710559 1.636.400±707.980 1.889.600±1.336.610 0.012*
Keluarga a(rupiah)
Berat Badan Ibu 49.72±5.91 48.76±4.83 50.01±4.78 0.790
(kg) a
Tinggi Badan Ibu 150.46±6.27 152.42±3.10 152.17±4.72 0.387
(cm) a
Status Gizi Ibu 21.94±1.99 20.99±2.08 21.57±1.53 0.315
2 a
(kg/m )
Pendidikan Ibu b SD/sederajat SMA/sederajat SD/sederajat 0.000*
a Rata-rata ± standar deviasi; *berbeda nyata pada p<0.05
b Presentase terbanyak

Pola Makan Ibu


Berdasarkan Tabel 7, telur, kacang-kacangan dan minyak sawit merupakan jenis
pangan yang paling banyak dikonsumsi responden di ketiga wilayah. Telur, ikan air
tawar, ikan air laut, dan santan lebih banyak dikonsumsi oleh responden dari Sulawesi
Selatan dibandingkan wilayah lain (P<0.05), sedangkan daging merah lebih banyak
dikonsumsi responden dari Sumatera Barat (P<0.05). Data recall pada Tabel 8
menunjukkan bahwa jumlah ikan yang dikonsumsi responden Sulawesi Selatan lebih
banyak (112,17±103,4 g/hr) dibandingkan wilayah lain, responden Jawa Barat lebih
banyak mengkonsumsi kacang-kacangan (58.33±59.95g/hr), sedangkan Sumatera Barat
lebih banyak mengkonsumsi ayam (66,7±79.05g/hr).
23

Tabel 7 Presentase ibu menyusui yang mengkonsumsi pangan sumber lemak dengan
tingkat frekuensi sering (3-6x/minggu) berdasarkan wilayah

Presentase ibu menyusui(%)


Jenis Pangan Jawa Barat Sumatera Barat Sulawesi Selatan
(n=36) (n=17) (n=23) P Value
Hati 10.26 0.00 8.33 0.258
Telur 61.54 57.69 87.50 0.048*
Ikan air laut 28.21 53.85 87.50 0.000*
Seafood 0.00 15.38 12.50 0.050
Ikan air tawar 12.82 3.85 62.50 0.000*
Minyak sawit 69.23 76.92 75.00 0.768
Minyak kelapa 25.64 15.38 45.83 0.053
Kacang-kacangan 87.18 76.92 83.33 0.560
Daging merah 15.38 42.31 16.67 0.029*
Santan 10.26 53.85 54.17 0.000*
*berbeda nyata pada p<0.05

Berdasarkan studi Mulyani (2014) mengenai sumber pangan asam lemak


esensial, responden Sulawesi Selatan banyak mengkonsumsi telur yang kaya akan ARA
(0.16 g/100 g pangan) serta kelompok ikan dan udang yang kaya akan EPA (0.0895
g/100 g pangan) dan DHA (0.2 g/100 g pangan), sedangkan responden Jawa Barat lebih
banyak kacang kedelai dan olahannya yang kaya akan asam linolenat (0.362 g/100 g
pangan).
Tabel 8 Konsumsi pangan sumber lemak (g/hr) berdasarkan wilayah

Wilayah Jumlah konsumsi(g/hari)


Ikan Ayam Telur Kacang-kacangan
Jawa Barat 43.06±65.5 12.6±32.65 29.03±40.60 58.33±59.95
Sumatera Barat 79.44±94.98 66.7±79.05 23.3±29.15 28.87±34.05
Sulawesi Selatan 112.17±103.4 2.82±13.55 23.47±39.38 16.5±33.8
P value 0.017* 0.000* 0.849 0.027*

Keragaman Kandungan Lemak dan Asam Lemak Esensial ASI


Faktor yang berpengaruh khusus terhadap kandungan asam lemak ASI
diantaranya ialah kebiasaan konsumsi pangan ibu (Kelishadi et al. 2012;Riordan 2005;
Martin et al. 2012), lokasi wilayah tempat tinggal, metabolisme asam lemak ibu,
cadangan lemak ibu (Gao et al. 2013), serta intik karbohidrat (Read et al. 1965). ASI
diperoleh dari individu ibu yang mengkonsumsi pola makan dengan sumber lemak yang
beragam seperti aneka daging dengan olahan santan, aneka ikan, hingga perpaduan
antara pangan hewani dan nabati serta aneka sayur. Menurut Martin et al.(2012), pola
makan akan mempengaruhi komposisi asam lemak ASI baik penyerapan secara
langsung maupun cadangan pada tubuh.
24

Berdasarkan Tabel 9, kadar lemak (g/100ml) berkisar 2.93 hingga 4.79. Hasil
tersebut menunjukkan kadar yang lebih tinggi dari hasil studi Kelishadi et al. (2012)
yang menyebutkan kadar lemak ASI wanita Irak sebesar 2.17 ± 1.22 g/100 ml dan kadar
lemak mature milk pada studi Riordan (2005) sebesar 4.2 g.Kandungan lemak ASI
tertinggi terdapat pada bayi dengan masa laktasi 3-5 bulan (2.93±1.64 g/100ml),
sedangkan kandungan terendah berada pada bayi dengan masa laktasi 9-11 bulan
(4.79±5.57g/100ml).
Tabel 9 Kandungan total asam lemak, kadar lemak, dan asam lemak esensial
berdasarkan masa laktasi
Masa Laktasi P P value;r c
Kandungan
valueb
3-5 bln 6-8 bln 9-11 bln 12-23 bln
(n=19) (n=18) (n=20) (n=19)
Total Asam Lemak
(g/100g Lemak) 70.61±7.63 70.86±10.32 76.09±8.37 77.59±5.98 0.019* 0.002**;0.36
Total Asam Lemak
(g/100 ml ASI) 1.87±1.08 2.24±1.46 4.11±4.48 2.55±0.78 0.040*
Kadar Lemak 2.93±1.64 3.32±1.91 2.80±1.19 3.58±1.65 0.076 0.119;0.183
(g/100 ml ASI)
ARA (C20:4n6) a 0.09±0.10 0.13±0.14 0.12±0.09 0.11±0.09 0.747 0.261;-0.135
EPA (C20:5n3) a 0.05±0.04 0.05±0.05 0.04±0.08 0.05±0.14 0.997 0.013*;0.293
a
DHA (C22:6n3) 0.18±0.17 0.20±0.20 0.21±0.16 0.20±0.17 0.952 0.558;-0.071
Asam Linoleat 4.92±3.26 5.09±3.51 5.46±3.20 5.50±3.40 0.933 0.133;-0.180
(C18:2n6c) a
Asam Linolenat 0.19±0.09 0.18±0.14 0.30±0.42 0.23±0.09 0.363 0.123;-0.185
(C18:3n3) a
a Rata-rata ± standar deviasi (% dari total asam lemak atau g/100 g lemak)
b Uji beda Anova; *signifikan p<0.05
c Uji hubungan Spearman; **signifikan p<0.01
Bayi dengan masa laktasi 12-23 bulan memiliki kadar total asam lemak tertinggi
(77.59±5.98 g/100g lemak), sedangkan kadar terendah dimiliki pada bayi dengan masa
laktasi 3-5 bulan (70.61±7.63 g/100g lemak). Jika dibandingkan dengan studi Saphier
(2013), kadar total asam lemak sampel Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan
wanita Israel (72%). Lain halnya jika ditelaah dalam 100 ml ASI, kandungan total asam
lemak pada ASI berkisar 1.87-4.11 g dan kandungan terendah terdapat pada ASI yang
masa laktasinya 3-5 bulan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa berdasarkan masa
laktasi, kadar total asam lemak ASI berbeda nyata (p=0.019), sedangkan kadar lemak
ASI tidak berbeda nyata (p=0.076). Semakin bertambah masa laktasi, maka kadar total
asam lemak ASI semakin meningkat (p=0.002;r=0.36), sedangkan kadar lemak
tidak.Hal tersebut sesuai menurut studi Finley et al.(1985) bahwa tingkat masa laktasi
berkorelasi positif dengan total kadar asam lemak.
Gambar 3 menunjukkan hasil keragaman kandungan asam lemak esensial
berdasarkan masa laktasi. Kandungan EPA dan asam linoleat tertinggi terdapat pada
ASI dengan masa laktasi 12-23 bulan (EPA (C20:5n3) 0.05±0.14g/100g lemak dan
asam linoleat (C18:2n6c) 5.50±3.40g/100g lemak), sedangkan kandungan DHA dan
asam linolenat tertinggi terdapat pada ASI dengan masa laktasi 9-11 bulan (DHA
(C22:6n3) 0.21±0.16g/100g lemak dan asam linolenat 0.30±0.42g/100g lemak).
Berbeda halnya dengan kandungan ARA, kandungan ARA tertinggi terdapat pada ASI
dengan masa laktasi 6-8 bulan (ARA (C20:4n6) 0.13±0.14g/100g lemak). Namun hasil
25

uji statistik menunjukkan semua kadar asam lemak esensial berdasarkan masa laktasi
(Gambar 3) tidak berbeda signikan (P>0.05).

10
5,5
4.92
Kandungan(g/100g Lemak)

ARA
p=0.747 a;0.261b
1 EPA
3-5 bln 6-8 bln 9-11 bln 12-23 bln p=0.747
p=0.997a
;0.013b*
0.19 0.23 DHA p=0.997
0.18 0.2 a
;0.558b
p=0.952
p=0.952
0.1
0,1 0.11
0.09 Linoleat .933
0.05
0.05 p=363
p= 0.933a
;0.133b
Linolenat
0,01
0.01
p=0.363a;0.123 b
3-5 6-8 9-11 12-23
Masa laktasi (bulan)

Gambar 3 Kandungan asam lemak esensial berdasarkan masa laktasi a Uji Annova ;bUji
Spearman; *signifikan P>0.05
Jika ditelaah berdasarkan wilayah, kandungan asam lemak esensial pun semakin
beragam (Tabel 10).Kandungan asam lemak esensial lebih tinggi pada sampel ASI yang
berasal dari Sumatera Barat dibandingkan dengan Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
Kadar asam lemak esensial Jawa Barat memiliki kecenderungan lebih rendah
dibandingkan kadar wilayah lainnya. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa
hanya kadar ARA (p=0.002), DHA(p=0.000),dan asam linoleat (p=0.002) yang berbeda
signifikan antar wilayah (P<0.05). Hal ini diduga terkait perbedaan pola makan sumber
lemak antar wilayah (Tabel 7).
Tabel 10 Keragaman kandungan asam lemak esensial berdasarkan wilayah

Kandungan Jumlah (g/100 g lemak) P value


Jawa Barat Sumatera Sulawesi
(n=36) Barat Selatan
(n=17) (n=23)
ARA (C20:4n6) 0.08±0.08 0.19±0.07 0.11±0.13 0.002*
EPA (C20:5n3) 0.05±0.06 0.05±0.15 0.03±0.04 0.597
DHA (C22:6n3) 0.10±0.12 0.31±0.15 0.28±0.17 0.000*
Asam Linoleat (C18:2n6c) 5.04±2.90 7.48±1.27 3.96±4.09 0.002*
Asam Linolenat (C18:3n3) 0.22±0.34 0.28±0.08 0.22±0.07 0.635
*berbeda nyata pada p<0.05
Jika dibandingkan dengan studi di belahan dunia lain yang diasumsikan masa
laktasi tidak berbeda nyata terhadap kadar asam lemak esensial, maka diperoleh
perbandingan yang bervariasi. Berdasarkan hasil studi sebelumnya, kadar ARA ASI
pada studi ini (0.09-0.13%) jauh lebih rendah dibandingkan kadar ARA ASI di di
26

Australia, Chili, Jepang, Meksiko, Filipina, Inggris, Israel, Bolivia, Irak, Taiwan,
Amerika Serikat, India yang berkisar 0.35-1.82% (Yuhas et al.2006; Ganapathy 2009;
Martin et al. 2012; Kelishadi et al. 2012; Ronit et al.2012; Huang et al.2013;Saphier
2013). Kadar EPA ASI pada studi ini (0.04-0.05%) berada pada kisaran yang lebih
rendah dari wanita Bolivia yang memiliki kadar sebesar 0.06-0.2%(Martinet al. 2012),
sedangkan kadar DHA ASI (0.18-0.21%) berada pada kisaran yang lebih tinggi dari
wanita Israel (Saphier 2013). Namun jika dibandingkan dengan studi lain di Irak
(Kelishadi et al. 2012), Taiwan (Huang et al.2013), Thailand (Pipop et al.2008),dan
Jepang (Yuhas et al. 2006) yang memiliki kadar berkisar 0.3–1.4%, kadar DHA ASI
Indonesia tergolong lebih rendah.
Kadar asam linolenat (0.18-0.3%) memiliki kisaran yang hampir sama dengan
kadar wanita Thailand (Pipop et al. 2008). Namun kadar tersebut jauh lebih rendah
dengan wanita Eropa, Australia (Molto et al. 2011), Israel (Saphier 2013), Bolivia
(Martin et al. 2012), Taiwan (Huang et al. 2013), Swedia (Yu et al. 1998), dan Brazil
(Rose 2006) dengan kisaran kandungan 0.33-2%. Kadar asam linoleat pun (3.96-7.48%)
menunjukkan kadar yang jauh lebih rendah dengan studi di Thailand (Pipop et al.
2008), Bolivia (Martin et al. 2012), dan Taiwan (Huang et al. 2013) yang memiliki
kadar berkisar 9.31-22.8%. Jika dilihat secara keseluruhan, kadar asam lemak esensial
ASI pada sampel di Indonesia memiliki kadar yang lebih rendah jika dibandingkan
dengan studi ASI di belahan dunia lain.
Hubungan Pola Makan Ibu dan Kandungan Asam Lemak Esensial ASI
Berdasarkan Tabel 7, presentase contoh yang sering mengkonsumsi jenis pangan
ikan laut dan seafood memang lebih tinggi di Sulawesi Selatan (87.5%) dibandingkan
Sumatera Barat (53.85%), namun kadar asam lemak esensial ASI masih lebih tinggi
Sumatera Barat. Hal tersebut diduga disebabkan oleh perbedaan kualitas pada jenis ikan
yang dikonsumsi, dimana Sumatera Barat lebih banyak mengkonsumsi ikan tongkol dan
kembung, sedangkan Sulawesi Selatan lebih banyak mengkonsumsi ikan bandeng
(Tabel 19 pada Lampiran 1)
Studi Mulyani (2014) mengungkapkan bahwa ikan tongkol (DHA 88.7
mg/100g pangan) dan ikan kembung (DHA 21.7 mg/100g pangan) memiliki
kandungan DHA yang lebih tinggi dibandingkan ikan bandeng (DHA 3.4 mg/100g
pangan), sehingga kandungan DHA Sumatera Barat lebih tinggi dibandingkan Sulawesi
Selatan. Beragam studi pun mengungkapkan bahwa tingginya konsumsi ikan laut dapat
meningkatkan kadar DHA dan EPA pada ASI (Huang et al.2013; Gao et al.
2013;Saphier et al. 2013;Makela et al. 2013; Urwin et al.2013;Martin et al.2012; Pipop
et al.2008). Berdasarkan uji statistik pada Tabel 11, tingginya kadar DHA ASI memang
berkaitan dengan konsumsi ikan laut (p=0.002), namun tidak berkaitan nyata dengan
kadar EPA (p>0.05).
Menurut Zhang et al. (2009), sumber pangan yang paling kaya akan ARA ialah
telur (74 mg/100 g pangan). Tingginya konsumsi telur dan hati dapat meningkatkan
kadar ARA ASI. Berdasarkan Tabel 7, presentase contoh yang mengkonsumsi telur di
Sumatera Barat tidak jauh berbeda dengan Sulawesi Selatan dan konsumsi telur tidak
berhubungan nyata (p=0.321) dengan kadar ARA ASI (Tabel 12). Selain telur, ikan
pun dapat menjadi sumber pangan ARA namun kadarnya lebih rendah (Mulyani 2014).
Pada studi ini, walaupun kandungan ARA pada jenis ikan yang dikonsumsi Sumatera
Barat seperti ikan tongkol (7.3 mg/100 g pangan) dan kembung (2.6 mg/100 g pangan)
memiliki kadar yang lebih rendah dibandingkan dengan ikan bandeng (14.3 mg/100g
27

pangan), kandungan ARA ASI Sumatera Barat tetap lebih tinggi dibandingkan wilayah
lain. Hal itu diduga berkaitan dengan tingginya kadar asam linoleat ASI Sumatera Barat
yang dapat berperan sebagai prekusor, serta perbedaan metabolisme ibu dalam
mensintesis ARA dari prekusor asam linoleat (Gao et al.2013; Scopesi Fet al.2001;
Sauerwald et al.2001;Xie and Innis 2008).
Tabel 11 Hubungan kandungan asam lemak esensial dan konsumsi pangan sumber
lemak
Kandungan Jenis Pangan Sumber Lemak (p value)

Hati Telur Ikan Seafood Ikan Minyak Minyak Kacang- Santan


Laut Air Sawit Kelapa kacangan
Tawar
ARA 0.321 0.180 0.024* 0.748 0.283 0.521 0.160 0.384 0.365
EPA 0.205 0.935 0.624 0.069 0.436 0.040* 0.027* 0.249 0.570
DHA 0.155 0.046* 0.002* 0.774 .006* 0.155 0.130 0.263
0.018*
Asam 0.386 0.923 0.149 0.679 0.849 0.620 0.177 0.233 0.739
Linoleat
Asam 0.050* 0.255 0.014* 0.994 0.491 0.228 0.259 0.448 0.429
Linolenat

*berbeda nyata pada p<0.05


Berdasarkan studi sebelumnya, ikan laut (Makela et al. 2013; Huang et al.
2013; Lauritzen et al. 2002) dan ikan air tawar (Martin et al.2012;Rose 2006) dapat
meningkatkan kadar linoleat ASI. Selain itu, minyak nabati dan pangan olahan pun
dapat meningkatkan kadar tersebut (Gao et al. 2013; Martin et al.2012; Brenna &
Lapillonne 2009; Nishimura et al. 2014; Wan et al.2010). Minyak kelapa sawit
merupakan sumber linoleat dengan kandungan sebesar 9660 mg/100 g pangan (Mulyani
2014). Namun jika dibandingkan dengan data konsumsi, presentase contoh Sumatera
Barat yang mengkonsumsi ikan laut (53.85%) lebih rendah dibandingkan Sulawesi
Selatan (87.5%). Selain itu, kandungan linoleat dan linolenat pada jenis ikan yang
sering dikonsumsi seperti ikan tongkol (l/inoleat 5.5mg/100 g pangan; linolenat
1.6mg/100g pangan) dan kembung (linoleat 5.8mg/100 g pangan; linolenat 1.2mg/100g
pangan) memiliki kadar linoleat yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis ikan lain.
Walaupun presentase konsumsi ikan laut dan kandungan linoleat dan linolenat
pada jenis ikan yang dikonsumsi contoh Sumatera Barat lebih rendah dibandingkan
Sulawesi Selatan, kandungan linoleat ASI tetap lebih tinggi Sumatera Barat
dibandingkan wilayah lain. Hal itu diduga berkaitan dengan tingginya kuantitas
konsumsi pangan sumber linoleat (Pipop et al. 2008)dan rendahnya konsumsi sumber
pangan linolenat seperti kelompok kacang-kacangan dan olahannya (Mulyani 2014).
Menurut Nishimura et al. (2014), dalam konsumsi pangan sumber linoleat dan linolenat,
terdapat rasio asam linoleat dan asam linolenat. Ketika kadar asam linolenat rendah,
kadar asam linoleat menjadi tinggi. Berdasarkan uji statistik, ikan laut hanya
berhubungan nyata dengan kadar asam linolenat (p=0.014), sedangkan kadar asam
linoleat tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan konsumsi jenis pangan apapun (Tabel
11).
Kuantitas ASI
Produksi ASI sangat dipangaruhi oleh pola makan, emosi dan keadaan psikis,
penggunaan alat kontrasepsi, perawatan payudara, anatomis payudara, fisiologis,
28

frekuensi menyusui, dan obat-obatan, sehingga kuantitas ASI yang dikeluarkan pun
sangat beragam tergantung kondisi setiap individu. Seberapa banyak dan berkualitas
ASI yang dihasilkan itu pun akan berdampak dari seberapa cukup konsumsi asam lemak
esensial yang diperoleh dari ASI.
700

600 578 ±268

500
KUANTITAS ASI (ml)

372±234
400
345±174
300

200
191± 171
100

0
3-5 bulan 6-8 bulan 9-11 bulan 12-23 bulan

Gambar 4 Kuantitas ASI harian berdasarkan masa laktasi


(Anova; P=0.003; Spearman P=0.001; r = -0.443)
Berdasarkan Gambar 4, semakin tinggi tingkat laktasi maka semakin sedikit
produksi ASI yang dihasilkan. Kuantitas ASI yang dihasilkan pada sampel studi ini
masih sesuai dengan kisaran produksi ASI. Kurniasih et al. (2010) mengungkapkan
bahwa produksi ASI usia 0-6 bulan berkisar 600 ml hingga 1000 ml, sedangkan ASI
pada masa laktasi di atas 6 bulan umumnya tingkat produksinya menurun hingga dapat
mencapai 550 ml/hari (WHO 2001). Namun jika dibandingkan dengan kisaran
maksimal yang dapat dihasilkan pada masanya, rataan ASI yang dihasilkan pada
responden kali ini cenderung lebih rendah dari jumlah optimalnya.
Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa hal antara lain : pertama, bias
perhitungan kuantitas ASI harian karena teknik perhitungan dilakukan berdasarkan
penimbangan bayi selama 24 jam yang dilakukan oleh responden sendiri. Walaupun
sebelumnya dilakukan tutorial prosedur kepada responden, namun responden dinilai
masih memiliki banyak keterbatasan dari segi pengetahuan, keterampilan, dan
kepatuhan pada prosedur yang seharusnya dilakukan. Kedua, semakin menurunnya
frekuensi pemberian ASI. Frekuensi pemberian ASI akan dipengaruhi oleh frekuensi
pola makan tambahan ASI, khususnya pada bayi berusia 6 bulan ke atas. Setiap bayi
memiliki pola makan yang beragam, mulai dari frekuensi pemberian dan kuantitas yang
diberikan. Hal tersebut diduga akan mempengaruhi pola pemberian ASI yang
dikonsumsi oleh bayi. Semakin sedikit frekuensi ASI yang diberikan, maka produksinya
pun akan semakin rendah (Keating et al. 2013). Ketiga, rendahnya pola makan sumber
laktagogum ibu, sehingga mempengaruhi kuantitas ASI (Yanti 2011;Tri
2004;Wirakusumah 2006;Wahyuni et al. 2012). Berdasarkan hal tersebut, untuk masa
laktasi 3-5 bulan perlu upaya peningkatan kuantitas ASI yang dihasilkan dengan cara
meningkatkan pola makan sumber laktagogum, meningkatkan frekuensi pemberian ASI
29

pada bayi, mengendalikan kondisi psikologis, dan menciptakan lingkungan sosial yang
kondusif.
Tabel 12 Kuantitas ASI harian berdasarkan wilayah

Wilayah Kuantitas (ml/hari) P Value


Jabar (n=36) 412±316
Sumbar (n=17) 251±154 0.052
Sulsel (n=23) 513±304
Jika ditelaah lebih jauh persebaran kuantitas ASI berdasarkan wilayah, Tabel 12
menggambarkan bahwa kuantitas ASI pada responden Sumatera Barat lebih rendah
dibandingkan responden Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Kacang-kacangan, sayur dan
buah merupakan jenis pangan sumber laktagogum yang dapat meningkatkan produksi
ASI(Yanti 2011;Tri 2004;Wirakusumah 2006;Wahyuni et al. 2012).
Tabel 13 Konsumsi kacang-kacangan, sayur, dan buah pada ibu menyusui berdasarkan
wilayah
Wilayah Jumlah konsumsi(g/hari)
Kacang-kacangan Sayur Buah
Jawa Barat 28.87±34.05 56.67±69.46 38.54±76.41
Sumatera Barat 58.33±59.95 37.09±41.8 35.5±44.75
Sulawesi Selatan 16.5±33.8 82.60±88.67 40±97.47
P value 0.027* 0.052 0.990
*berbeda nyata pada p<0.05
Hasil recall pada Tabel 8 menunjukkan bahwa responden Sulawesi Selatan
(82.60±88.67g/hr; 40±97.47g/hr) dan Jawa Barat (56.67±69.46 g/hr; 38.54±76.41 g/hr)
memang cenderung lebih banyak mengkonsumsi sayur dan buah daripada responden
Sumatera Barat (37.09±41.8g/hr; 35.5±44.75g/hr). Jenis pangan yang sering dikonsumsi
seperti katuk, bayam, kangkung, wortel, daun singkong, daun pepaya, dan kacang
panjang, jeruk, semangka, pepaya, tahu dan tempe (Tabel 21 pada Lampiran 1). Namun
berdasarkan uji statistik, kuantitas ASI berdasarkan wilayah tidak berbeda signifikan
(p=0.052) dan tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan konsumsi kacang(p=0.623),
sayur (p=0.748) dan buah (p=0.066). Dugaan penyebab lain pada rendahnya kuantitas
ASI Sumatera Barat ialah rendahnya frekuensi pemberian ASI (Keating et al.2013),
kualitas dan kuantitas makanan, hormonal, dan kondisi psikologis dan sosial
(Sulistyoningsih 2011). Oleh karena itu, guna meningkatkan kuantitas ASI responden
Sumatera Barat disarankan meningkatkan frekuensi pemberian ASI, mengendalikan
kondisi psikologis dan sosial, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas makanan.
Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Asam Lemak Esensial ASI pada Bayi
Kandungan asam lemak esensial ASI yang sangat bermanfaat bagi tubuh akan
semakin baik berfungsi, jika dikonsumsi secara rutin dan dalam jumlah yang mencukupi
bagi tubuh. Hal itu berkaitan dengan seberapa sering anak mengkonsumsinya baik dari
ASI maupun makanan selain ASI. Konsumsi asam lemak esensial ASI harian
dipangaruhi tidak hanya dari kuantitas ASI harian, tetapi juga kualitas kandungan asam
lemak esensial ASInya. Konsumsi asam lemak esensial ASI harian pada bayi diperoleh
dengan mengalikan kuantitas ASI sehari dengan kandungan asam lemak esensial ASI
30

dari setiap contoh. Konsumsi asam lemak esensial ASI harian pada bayi berdasarkan
masa laktasi tercantum dalam Tabel 14.
Tabel 14 Konsumsi harian asam lemak esensial ASI pada bayi berdasarkan masa laktasi
Konsumsi (g/hari) P value
Kandungan 3-5 bln 6-8 bln 9-11 bln 12-23 bln
(n=19) (n=18) (n=20) (n=19)
ARA 0.029±0.035 0.021±0.033 0.013±0.016 0.006±0.007 0.000*a/0.057;-0.274b
EPA 0.013±0.017 0.009±0.011 0.006±0.012 0.002±0.003 0.273 a /0.055;-0.270 b
DHA 0.055±0.047 0.041±0.078 0.052±0.077 0.013±0.020 0.001* a /0.049;-0.283* b
Asam 1.497±1.167 0.847±1.031 0.659±0.700 0.370±0.409 0.000* a /0.028;-0.313* b
Linoleat
a b
0.071±0.047 0.028±0.038 0.110±0.192 0.016±0.013 0.000* /0.004;-0.408*
Asam
Linolenat
a Uji beda Anova; *signifikan p<0.05 b Uji hubungan Spearman (p value;r); *signifikan p<0.05

Berdasarkan Tabel 14, konsumsi ARA berkisar 0.006-0.029 g/hr, EPA sebesar
0.002-0.013 g/hr, DHA sebesar 0.013-0.055 g/hr, asam linoleat berkisar 0.37-1.497g/hr,
dan asam linolenat berkisar 0.016-0.110g/hr. Konsumsi asam lemak esensial ASI harian
berbeda nyata (p<0.05) berdasarkan masa laktasi, terkecuali EPA dan tingkatnya
semakin menurun dengan semakin bertambahnya masa laktasi.
Tabel 15 Tingkat kecukupan harian asam lemak esensial ASI pada bayi berdasarkan
masa laktasi
Kandungan Tingkat kecukupan(%)
3-5 bln 6-8 bln 9-11 bln 12-23 bln
(n=19) (n=18) (n=20) (n=19)
Asam Linoleata 313.0 179.4 143.4 55.0
Asam Linolenatb 2.3 1.1 2.7 0.3
a Termasuk kecukupan EPA dan DHA; b Termasuk kecukupan ARA
Berdasarkan masa laktasi, tingkat kecukupan harian asam linoleat (termasuk
EPA dan DHA) dari ASI hampir seluruhnya telah memenuhi standar kecukupan harian,
terkecuali pada masa laktasi 12-23 bulan (55%), sedangkan tingkat kecukupan asam
linolenat (termasuk ARA) belum memenuhi standar tingkat kecukupan harian (Tabel
15). Hal tersebut sejalan dengan tingkat produksi ASI yang kian menurun dengan
semakin bertambahnya usia, sehingga pada usia 6 bulan ke atas sangat diperlukan
konsumsi makanan tambahan selain ASI guna memenuhi tingkat kecukupan harian
asam lemak esensial. Menurut Marangoni et al. (2000) dan Milligan et al. (2008),
selama 2 tahun pertama terjadi masa perkembangan otak yang pesat, sehingga asupan
ARA dan DHA yang diperlukan otak pun dibutuhkan maksimal.
31

Tabel 16 Konsumsi harian asam lemak esensial ASI berdasarkan wilayah


Konsumsi (g/hr) P Value
Kandungan Jabar Sumbar Sulsel
(n=36) (n=17) (n=23)
ARA (C20:4n6) 0.077
0.055±0.064 0.058±0.074 0.018±0.020
EPA (C20:5n3) 0.380
0.012±0.018 0.004±0.005 0.007±0.010
DHA (C22:6n3) 0.170
0.086±0.097 0.126±0.209 0.047±0.056
Asam Linoleat (C18:2n6c) 0.012*
3.450±3.678 1.922±1.978 0.756±0.835
Asam Linolenat (C18:3n3) 0.149
0.156±0.189 0.156±0.189 0.070±0.062
*berbeda nyata pada p<0.05
Konsumsi asam lemak esensial ASI pada bayi Jawa Barat dan Sumatera Barat
lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Selatan (Tabel 16). Responden Jawa Barat memiliki
kualitas asam lemak esensial ASI lebih rendah, namun kuantitas ASI yang dihasilkan
lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, sehingga konsumsi harian pun menjadi tinggi.
Berbeda dengan responden Sumatera Barat, walaupun kuantitas ASI rendah, kualitas
asam lemak esensial ASI lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Namun uji statistik
menunjukkan bahwa hanya konsumsi asam linoleat saja yang berbeda nyata (p=0.012)
antar ketiga wilayah.
Tabel 17 Tingkat kecukupan harian asam lemak esensial ASI pada bayi berdasarkan
wilayah
Tingkat kecukupan (%)
Jabar Sumbar Sulsel
Kandungan (n=36) (n=17) (n=23)
Asam Linoleata 701.8 410.4 121.3
Asam Linolenatb 4.8 4.9 1.3
a Sudah termasuk kecukupan EPA dan DHA; b Sudah termasuk kecukupan ARA
Berdasarkan wilayah, tingkat kecukupan harian asam linoleat (termasuk EPA
dan DHA) dari ASI telah memenuhi standar kecukupan harian, sedangkan tingkat
kecukupan asam linolenat (termasuk ARA) belum memenuhi standar tingkat kecukupan
harian (Tabel 17). Oleh karena itu, untuk meningkatkan tingkat kecukupan harian asam
lemak esensial dari ASI tidak hanya dengan kuantitas ASI yang diperbanyak namun
juga kualitas konsumsi pangan sumber lemak esensial ibu pun perlu ditingkatkan.
Selain itu, untuk memenuhi tingkat kecukupan harian asam lemak esensial pada masa 6
bulan ke atas, perlu peningkatan konsumsi pangan sumber asam lemak esensial baik
kualitas maupun kuantitas.
32

5 SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Rataan usia ibu sebesar 29-30 tahun dan status gizi ibu tergolong normal (IMT
18.5-23.5). Usia, paritas, dan status gizi tidak berbeda nyata antar wilayah (p>0.05) dan
ketiga variabel tersebut telah memenuhi kriteria inklusi. Pendapatan keluarga dan
pendidikan berbeda nyata antar wilayah (p<0.05), dimana pendapatan wilayah Sulawesi
Selatan (Rp 1.889.600±1.336.610) lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, sedangkan
pendidikan terakhir ibu wilayah Sumatera Barat (SMA/sederajat) lebih tinggi
dibandingkan wilayah lain. Total asam lemak sampel berkisar 70.3-77.06%, sedangkan
kadar lemak ASI berkisar 2.93-4.79 g. Kadar asam lemak esensial ASI berdasarkan
masa laktasi tidak berbeda signifikan (p>0.05), namun berdasarkan wilayah berbeda
signifikan pada kandungan ARA(p=0.002), DHA(p=0.000), dan asam linoleat ASI
(p=0.002). Kadar asam lemak esensial lebih tinggi pada sampel yang berasal dari
Sumatera Barat dibandingkan Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Konsumsi ikan laut dan
ikan air tawar berkaitan dengan peningkatan kadar ARA, DHA, dan asam linolenat ASI.
Kuantitas ASI harian semakin menurun sejalan bertambahnya masa laktasi (p=0.001;r=
-0.443) dan kuantitas ASI harian tidak berbeda signifikan berdasarkan wilayah
(p=0.052). Konsumsi asam lemak esensial ASI harian berbeda nyata (p<0.05)
berdasarkan masa laktasi, terkecuali EPA. Berdasarkan wilayah, konsumsi asam lemak
esensial ASI harian berbeda nyata hanya pada asam linoleat (p=0.012). Berdasarkan
masa laktasi dan wilayah, tingkat kecukupan asam linolenat (termasuk ARA) belum
memenuhi standar tingkat kecukupan harian, sedangkan tingkat kecukupan harian asam
linoleat (termasuk EPA dan DHA) dari ASI telah memenuhi standar kecukupan harian
terkecuali masa laktasi 12-23 bulan.

Saran
Rendahnya kadar asam lemak esensial ASI pada hampir sebagian besar contoh
diduga disebabkan oleh rendahnya konsumsi serta kurang pemahaman terhadap
pemilihan kualitas pangan sumber lemak dari hewani laut dan air tawar dibandingkan
jenis pangan lainnya, sehingga perlu adanya penyuluhan tidak hanya kepada ibu hamil
dan menyusui, namun sejak dini seorang anak sudah dapat dikenalkan akan pentingnya
mengkonsumsi pangan sumber asam lemak esensial khususnya ikan. Dukungan
program pemerintah seperti „Gemarikan‟dapat menjadi alternatif program yang dapat
digencarkan. Rendahnya tingkat kecukupan asam linoleat (termasuk EPA dan DHA)
pada bayi usia 12-23 bulan, maka perlu peningkatkan kuantitas serta kualitas konsumsi
makanan pendamping ASI sumber asam linoleat, EPA, dan DHA. Penelitian
selanjutnya dapat menelaah lebih jauh tentang kandungan asam lemak esensial ASI
pada suku lain yang berbeda, tingkat kecukupan asam lemak esensial harian pada bayi
dan baduta, dan meneliti kandungan zat gizi lain seperti kandungan mineral, vitamin,
protein, dan asam amino esensial pada ASI serta hubungannya dengan pola makan.
33

DAFTAR PUSTAKA
Academy of Breastfeeding Medicine. 2004. Clinical Protocol #9: Use of galactogogues
in initiating or augmenting maternal milk supply. www.bfmed.org.[4November
2015]
Almatsier S, Soetardjo S, Soekatri M. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Almatsier S. 2006. Penuntun Diet. Jakarta: PT. Gramedia
American Academy of Pediatrics Policy Statement. 2005. Breastfeeding and the use of
human milk. Pediatrics. 115(5;2):496-506.
Balaluka GB,Nabugobe PS, Mitangala PN, Cobohwa NB, Schirvel C, Dramaix MW,
Donnen P. 2012. Community volunteers can improve breastfeeding among
children under six months of age in The Democratic Republic of Congo crisis.
International Breastfeeding Journal. 7:2.
Behrman R, Robert MK, Ann MA. 2000. Ilmu Kesehatan Anak: Volume I (A. Samik
Wahab, penerjemah). Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC.
Bertino E, Giribaldi M, Baro C, Giancotti V, Pazzi M, Peila C, Tonetto P, Arslanoglu S,
Moro GE, Cavallarin L, Gastaldi D. 2013. Effect of prolonged refrigeration on the
lipid profile, lipase activity, and oxidative status of human milk.JPGN. 56(4):390–
396. doi: 10.1097/MPG.0b013e31827af155
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2014. Perkembangan Upah Minimum Regional/Propinsi di
Seluruh Indonesia (Dalam Ribuan Rupiah).
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=
19&notab=13. [30 Desember 2014]. Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan
Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Kemenakertrans
Brenna JT, Salem N Jr, Sinclair AJ, Cunnane SC. 2009. [alpha]-Linolenic acid
supplementation and conversion to n-3 long-chain polyunsaturated fatty acids in
humans. Prostaglandins, Leukotrienes and Essential Fatty Acids(PLEFA). 80:85–
91
Campbell, Reece, Mitchel. 2002. Biologi Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.
Castle, Paula. 2010. Omega – 3 and Omega – 6 Fatty Acid. United States: University of
Nebraska – Lincoln.
Chapman DJ. 2008. Short-term effects of smoking on breastfed infants. J Hum Lact.
24(1):92-93.
Cordain L, Watkins BA, Florant GL, Kelher M, Rogers L, Li Y. 2002. Fatty acid
analysis of wild ruminant tissues: evolutionary implications for reducing
dietrelated chronic disease. EurJ ClinNutr. 56:181–191.
Cornelia, Sumedi E, Anwar I, Ramayulis R, Iwaningsingsih S, Kresnawan T, Nurlita H.
2010. Penuntun Konseling Gizi. Jakarta : Abadi Publishing & Printing.
Dalzell J, Rogersen E, Martindale L. 2010. Breastfeeding Contemporary Issues in
Practice and Policy. United Kingdom: Radcliffe Publishing Ltd.
34

Damanik R, Wahlqvist ML Wattanapenpaiboon. 2006. Lactagogue effects of


Torbangun, a Bataknese traditional cuisine. Asia Pac J Clin Nutr.15(2):267-274.
[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009a. Buku Gizi: kapankah
masalah ini berakhir?.http://litbang. Depkes.go.id.[3 Juni 2013]
___________.2009b. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
___________. 2011. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Laporan Nasional 2010.
Jakarta: Balitbangkes, Depkes RI. http://www.litbang.depkes.go.id.[3 Juni 2013].
Dewey et al. 1986. Human Lactation 2 Maternal and Environmental Factors:
Relationship of Maternal Age to Breast Milk Volume and Composition. New York
and London:Plenum Press.
Diharjo K, Riyadi S, Media Y. 1998. Masalah di seputar perilaku pemberian ASI secara
eksklusif.Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. XXVI(3).
[EFSA]European Food Safety Authority . 2012. Scientific opinion on the tolerable
upper intake level of eicosapentaenoic acid (EPA), docosahexaenoic acid (DHA)
and docosapentaenoic acid (DPA). EFSA J.10(7):2815.
Ehrenkranz RA.1986. Human Lactation 2 Maternal and Environmental Factors:The
Influence of Maternal factors on Drug Levelsin Human Milk. New York and
London:Plenum Press.
Engler MM, Engler MB, Kroetz DL, Boswell KD, Neeley E, Krassner SM.1999. The
effect of a diet rich in docosahexaenoic acid on organ and vascular fatty acid
composition in spontaneously hypertensive rats. Prostaglandin, Leukotrienes, and
Essential Fatty Acids (PLEFA). 61 (5):289-295.
Finley DA, Lonnerdal B, Dewey KG, Grivetti LE. 1985. Breast milk composition: fat
content and fatty acid composition in vegetarians and non-vegetarians. Am J Clin
Nutr.41:787–800.
Forsyth JS, Willatts P, Agostoni C, Bissenden J, Casaer P, Boehm G. 2005. Long chain
polyunsaturated fatty acid supplementation in infant formula and blood pressure
in later childhood: follow up a randomised controlled trial. Br Med J. 326
(7396):953.
Francois CA, Connor SL, Wander RC, Connor WE. 1998. Acute effects of dietary fatty
acids on the fatty acids of human milk.Am J Clin Nutr .67:301–308.
Ganapathy S. 2009. Long chain polyunsaturated fatty acids. Indian Pediatrics.46:785-
790.
Gao Y, Zhang J, Wang C, Li L, Man Q, Song P, Meng L, Lie O Froyland L. 2013. The
fatty acid composition of colostrum in three geographic regions of China.Asia Pac
J Clin Nutr. 22 (2):276-282.
Gibney MJ, MM Barrie, MK John, A Leonore.. 2005. Public Health Nutrition. Oxford:
Blackwell Publishing Ltd.
Gibson RA, Kneebone GM. 1981. Fatty acid composition of human colostrum and
mature breast milk.Am J Clin Nutr.34:252-257.
35

Giglia R, Binns C. 2006. Alcohol and lactation: A systematic review. Nutrition and
Dietetics. 63:103.
Hamzah, Sukri, Hariani. 2011. Perilaku Menyusui Bayi pada Etnik Bugis di Pekkae
2003.http://www.jurnalkesmas.org/berita-157-perilaku-menyusui-bayi-pada-
etnik-bugis-di-pekkae-2003.html
Hardinsyah. 2011. Analisis konsumsi lemak, gula dan garam penduduk Indonesia. Gizi
Indon. 34(2): 92-100.
Horta BL, Bahl R, Martines JC, Victora CG. 2007. Evidence on The Long-Term Effects
of Breastfeeding : Systematic Reviews And Meta Analyses. USA: WHO.
Huang HL, Chuang LT, Li HH, Lin C, Glew RH. 2013. Docosahexaenoic acid in
lactating women and neonatal plasma phospholipids and milk lipids of Taiwanese
women in Kinmen: fatty acid composition of lactating women blood, neonatal
blood and breast milk. Lipids in Health and Disease (LIPIDS HEALTH DIS).
12:27.
Ilett KF et al. 2003.Use of nicotine patches in breast-feeding mothers:transfer of
nicotine and cotinine into human milk. Clin Pharmacol Ther. 74:516-524.
Innis. 2007. Dietary (n-3) fatty acids and braindevelopment. J. Nutr. 137: 855–859.

Jirapinyo P, Densupsoontorn N, Wiraboonchai D, Vissavavejam U,Tangtrakulvachira


T, Chungsomprasong P,Thamonsiri N, Wongarn R. 2008. Fatty acid composition
in breast milk from 4 regions of Thailand. J Med Assoc Thai. 91(12): 1833-1838.
Keating EM, Curtis BA, Slusher TM. 2013.Handbook of dietary and nutritional aspects
of human Breast milk : Lactating women Milk Volume and Breast Milk
Expression: Implications for Diet and Nutrition in Infants.Belanda:Wageningen
Academic Publishers
Kelishadi R, Hadi B, Iranpour R, Khosravi-Darani K, Mirmoghtadaee P, Farajian S,
Poursafa P. 2012. A study on lipid content and fatty acid of breast milk and its
association with mother‟s diet composition. J Res Med Sci. 17(9):824–827.
[Kemenkes RI] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Penuntun Hidup
Sehat. Jakarta: UNICEF Indonesia.
Khomsan. 2003. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Kovacs A, Funke S, Marosvolgyi T, Burus I, Decsi T. 2005. Fatty acids in earlyhuman
milk after preterm and full-term delivery. J Pediatr GastroenterolNutr. 41:454–
459.
Kurniasih D, Hilmansyah H, Astuti MP, Imam S. 2010. Sehat dan Bugar berkat Gizi
Seimbang. Jakarta: Kompas Gramedia.
Lauritzen L, Carlson SE. 2011. Maternal fatty acid status during pregnancy andlactation
and relation to newborn and infant status. Matern Child Nutr. 7:41–58.
Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme.Jakarta: UI Press.
Mahan KL, Stump SE. 2008. Krause’s Food and Nutrition Therapy.Canada: Saunders.
36

Makela J, Linderborg K, Niinikoski H, Yang B, Lagstro H .2013. Breast milk fatty acid
composition differs between overweight and normal weight women: the STEPS
Study. Eur J Clin Nutr. 52:727–735.DOI 10.1007/s00394-012-0378-5.
Marangoni F., Agostoni C., Lammard A.M., Giovannini M., Galli C. & Riva E. 2000.
Polyunsaturated fatty acid concentrations in human hindmilk are stable
throughout 12-months of lactation and provide a sustained intake to the infant
during exclusive breastfeeding: an Italian study. Br J Nutr .84:103–109.
Martin MA, Lassek WD, Gaulin SJC, Evans R,Woo JG, Geraghty SR, Davidson BS,
Morrow AL, Kaplan HS, Gurven MD. 2012.Fatty acid composition in the mature
milk of bolivian forager-horticulturalists: controlled comparisons with a us
sample.Lactating women and Child Nutrition. 8:404–418.
Mennella J. 2001. Alcohol‟s effect on lactation. Alcohol Res Health. 25:230-234.
Mennella JA, Pepino MY, Teff KL.2005. Acute alcohol consumption disrupts the
hormonal milieu of lactating women. J Clin Endocrinol Metab. 90:1979-1985.
Milligan LA, Rapoport SI, Cranfield MR, Dittus W, Glander KE, Oftedal OTet al.
2008. Fatty acid composition of wild anthropoid primate milks.Comp Biochem
Phys B.149:74–82.
Molto-Puigmarti C, Castellote AI, Carbonell-Estrany X, Lopez-Sabater MC. 2011.
Differences in fat content and fatty acid proportions among colostrum,
transitional, and mature milk from women delivering very preterm, preterm, and
term infants. Clin Nutr.30:116-23
Mohrbacher. 2011. The magic number and long-term milk production.Clinical
Lactation, Vol. 2-1, 15-18. United States Lactation Consultant Association
Much D et al. 2013. Breast milk fatty acid profile in relation to infant growth and body
composition: results from the INFAT study.Pediatr Res74:2. International
Pediatric Research Foundation, Inc. doi:10.1038/pr.2013.82
Mulyani RI. 2014. Studi kandungan dan persentase daily value asam lemak esensial
makanan Indonesia. [Skripsi]. Departemen Gizi Masyarakat. Fakultas Ekologi
Manusia. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nasser. 2010.The effect of a controlled manipulation of lactating women dietary fat
intake on medium and long chain fatty acids in human breast milk in Saskatoon,
Canada. International Breastfeeding Journal.5:3.
[NHMRC]National Health and Medical Research Council. 2012. Infant Feeding
Guidelines. Australia: Commonwealth of Australia
Newburg DS. 2001. Bioactive Components of Human Milk : Milk Lipids and The Milk
Fat Globule. New York: Kluwer Academic/Plenum Publishers.
__________. 2009. Neonatal protection by an innate immune system of human milk
consisting of oligosaccharides and glycans. J Anim Sci. 87(13): 26-34.
Nishimura RY, Barbieiri P, de Castro GSF, Jord~ao Jr AA, Perdon G, Sartorelli
DS.2014. Dietary polyunsaturated fatty acid intake during late pregnancy affects
fatty acid composition of mature breast milk. Nutr. 30: 685–689.
37

Olang B,Hajifaraji M, Ali MA, Hellstrand S, Palesh M, Azadnyia E, Kamali Z,


Strandvik B, Yngve A 2012. Docosahexaenoic acid in breastmilk reflects
lactating women fish intake in Iranian mothers.Food Sci Nutr.3:441-446.
Old. 2000. Maternal Newborn Nursing: A Family and Community Based Approach
6thed. Philadelphia: Prentice Hall.
Patin RV, Vítolo MR, Valverde MA, Carvalho PO, Pastore GM, Lopez FA. 2006. The
influence of sardine consumption on the omega-3 fatty acid content of mature
human milk. J Pediatr (Rio J).82(1):63-69.
Prentice A.1986. Human Lactation 2 Maternal and Environmental Factors: The Effect
of Maternal Parity on Lactational Performance in A Rural African Community.
New York and London:Plenum Press.
Read WWC, Lutz PG , Tashjian A. 1965. Human Milk Lipid : The influence of dietary
carbohydrates and fat on the fatty acids of mature milk . A study in four ethnic
groups. Am J Clin Nutr. 17;180-183.
Rejeki S. 2008. Studi fenomenologi: pengalaman menyusui eksklusif ibu bekerja di
wilayah Kendal Jawa Tengah. Media Ners. 2(1): 1 – 44.
Riordan J. 2005. Breastfeeding and Human Lactation3rd Ed. Canada: Jones and Barlett
Publisher Inc.
Roesli U. 2000. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Ronit L, Zaidenberg-Israeli G, Mimouni FB, Dollberg S, Shimoni E, Ungar Y, Mandel
D. 2012. Human milk fatty acids profile changes during prolonged lactation: a
cross-sectional study.IMAJ. 14;7-10.
Saphier O, Blumenfeld J, Silberstein T, Burg T. 2013. Fatty acid composition of
breastmilk of Israeli mothers.Indian Pediatrics. 50;1044-1046.
Satyaningtyas E, Estiesih T. 2014. Roti tawar laktogenik, perangsang asi, berbasis
kearifan lokal daun katuk (sauropus androgynus (l.) merr). Jurnal Pangan dan
Agroindustri. 2(1):121-131.
Scopesi F, Ciangherotti S, Lantieri PB, Risso D, Bertini I, Campone F, Pedrotti A,
Bonacci W, Serra G. 2001. Maternal dietary PUFAs intake and human milk
content relationships during the first month of lactation. Clin Nutr. 20:393-7.
Sears W, Martha S. 2003. The Baby Book, Everything You Need to Know about Your
Baby from Birth to Age Two. New York: Little, Brown and Company.
Siriwardhana, Kalupahana NS, Moustaid-Moussa N.2012. Health benefits of n-3
polyunsaturated fatty acids: eicosapentanoic acid and docosahexaenoic acid. Adv
Food Nutr Res.65:211-222.
Suhardjo.1992. Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak.Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Sulistyoningsih H.2011. Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta:Graha Ilmu.
Szabo E et al.2010. Fatty acid profile comparisons inhuman milk sampled from the
same mothers at the sixth week and thesixth month of lactation. J Pediatr
Gastroenterol Nutr 2010;50:316–20.
38

Tri KW. 2004. Studi Kualitatif Tentang Peranan Faktor Kebudayaan Dalam Praktik
Pemberian Makanan Pendamping Asi (Mp-Asi) Untuk Bayi Usia 0–4 Bulan
(Studi Di Desa Jatimulyo Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen Propinsi
Jawa Tengah Tahun 2004. Fakultas Keperawatan, Universitas Diponegoro.
Semarang.
[UNDP] United Nations Development Programs. 2014. http://hdr.undp.org/en/statistic/
[30 November 2014].
Urwin et al. 2013. Immune factors and fatty acid composition in human milk from
river/lake, coastal and inland regions of China. Br J Nutr. 109:1949–1961.
doi:10.1017/S0007114512004084.
Verawati B. 2012. Praktek pemberian ASI, PHBS, dan Morbiditas Kaitannya dengan
Status Gizi Bayi Usia 0-12 Bulan [skripsi]. Departemen Gizi Masyarakat.
Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.
Wahyuni E, Sumiati S, Nurliani. 2012. Pengaruh konsumsi jantung pisang batu
terhadap peningkatan produksi ASI di wilayah Puskesmas Srikuncoro, Kecamatan
Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah.Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
15(4):418–424.
Wan Z, Wang X, Xu L, Geng Q, Zhang Y.2010. Lipid content and fatty acids
composition of mature human milk in rural North China. Br J Nutr. 103:913–916.
[WHO] World Health Organization. 2001. Guiding Principles for Complementary
Feeding of Breastfed Child. USA: Pan American Health Organization WHO,
Division of Health Promotion and Protection Food and Nutrition Program.
______. 2006. Global Database on Body Mass Index. Geneva: WHO.
Wirakusumah ES. 2006. Kandungan Gizi, Non Gizi serta Pengolahan Sayuran
Indigenous. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Promosi Pemanfaatan
Sayuran Indigenous untuk Peningkatan Nutrisi Keluarga melalui Kebun
Pekarangan.Jakarta 17-19 April 2006.22 hlm.
Xie L, Innis SM. 2008. Genetic variants of the FADS1 FADS2 gene cluster
areassociated with altered (n-6) and (n-3) essential fatty acids in plasma
anderythrocyte phospholipids in women during pregnancy and in breast
milkduring lactation. J Nutr.138:2222–22228.
Yanti. 2011. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Bandung : Refika Aditama.
Yu G, Duchen K, Bjorksten B.1998. Fatty acid composition in colostrum and mature
milk from non-atopic and atopic mothers during the first 6 months of lactation.
Acta Paediatr.87:729-736.
Yuhas R, Pramuk K, Lien EL. 2006. Human milk fatty acid composition from nine
countries varies most in DHA. Lipids. 41:851–858.
Zhang J, Wang Y, Meng L, Wang C, Zhao W, Chen J,Ghebremeskel K, Crawford MA.
2009. Lactating women and neonatal plasma n-3 and n-6 fatty acids of pregnant
women and neonates from three regions of China with contrasting dietary
patterns. Asia Pac J Clin Nutr.18:377-88.
39

LAMPIRAN
Data Hasil Recall
Tabel 18 Presentase konsumsi pangan hewani (ikan dan non ikan) contoh berdasarkan
wilayah

Wilayah
Jenis pangan hewani Jabar Sumbar Sulsel
n % n % n %
Ikan 12 37.5 14 82.4 20 76.9
Non Ikan 20 62.5 3 17.6 6 23.1
Total 32 100 17 100.0 26 100

Tabel 19 Konsumsi jenis ikan dan menu pada contoh berdasarkan wilayah

Jenis Pangan Wilayah Menu URT Berat Kandungan (mg/100g pangan)


ARA EPA DHA Linoleat Linolenat
Ikan teri Sulsel Perkedel ikan 3 ptg 150 27.8 27.8 68.1 1122.6 32.2
Sambal ikan teri segar 5 sdm 75 10.3 20.5 68.3 1352.0 35.9
Sumbar dan Jabar Ikan teri goreng 2 sdm 30 6.5 13.6 49.4 545.3 15.6
Ikan Bandeng Sulsel ikan bandeng bakar 1 ptg 95 59.7 80.7 166.5 200.8 0.0
ikan bandeng goreng 1 ptg 64 18.4 42.8 166.6 668.9 94.8
Ikan kembung Sulsel Ikan goreng 3 ekr kcl 75 6.0 7.3 43.9 331.1 0.8
Ikan layang goreng 1/2 ptg 45 3.6 4.4 26.3 198.6 0.5
ikan bumbu kuning 1/2 ptg 25 2.0 2.4 14.6 110.4 0.3
Ikan tongkol Sumbar Gulai ikan 1 ptg 75 14.8 0.0 215.6 159.8 42.0
Ikan goreng 1 ptg 50 57.0 9.9 0.0 508.1 23.6
Ikan bakar 1 ptg 75 31.0 106.7 453.1 39.6 14.7
Jabar Tongkol pindang goreng 1 ptg 40 45.6 7.9 0.0 406.5 18.8
Ikan mujair Sumbar Ikan balado 1 ptg 50 4.3 3.6 17.4 227.1 13.2
Jabar Ikan goreng 1 ekor 60 5.1 4.3 20.9 272.5 15.8
Ikan mas Jabar Ikan pindang 1/2 ekor 60 21.1 11.5 34.3 1086.3 49.3
40

Tabel 20 Presentase konsumsi sayur contoh berdasarkan wilayah

Konsumsi Sayur Wilayah


Jabar Sumbar Sulsel
n % n % n %
Ya 18 56.3 12 70.6 19 73.1
Tidak 14 43.8 5 29.4 7 26.9
Total 32 100 17 100 26 100

Tabel 21 Konsumsi sayur pada contoh berdasarkan wilayah

Wilayah Jenis sayur URTBerat Presentase konsumsi contoh


n %
Jabar sayur sop 1 mangkuk kecil 100 3 17.6
sayur asem 1 mangkuk kecil 100 4 23.5
sayur bayam 1 mangkuk kecil 50 6 35.3
tumis kangkung 2 sdm 25 2 11.8
buntil singkong 2 bh 200 1 5.9
sayur katuk 2 sdm 40 1 5.9
Sumbar tumis bayam 0.5 mangkuk 50 5 41.7
tumis kangkung 2 sdm 25 4 33.3
daun singkong 0.5 mangkuk 100 2 16.7
Brokoli 3 bh 30 1 8.3
Sulsel tumis bayam 3 sdm 100 5 26.3
tumis kangkung 3 sdm 35 3 15.8
tumis kacang panjang 4 sdm 60 5 26.3
sayur jantung pisang 3 sdm 100 1 5.3
sayur sop 1/2 mangkuk 100 3 15.8
daun katuk 1 mangkuk 100 1 5.3
Sayur labu siam 1 mangkuk 120 1 5.3

Tabel 22 Kandungan asam lemak esensial berdasarkan masa laktasi


Masa Laktasi P P value;r c
Kandungan
valueb
3-5 bln 6-8 bln 9-11 bln 12-23 bln
(n=19) (n=18) (n=20) (n=19)
ARA (C20:4n6) a 0.09±0.10 0.13±0.14 0.12±0.09 0.11±0.09 0.747 0.261;-0.135
EPA (C20:5n3) a 0.05±0.04 0.05±0.05 0.04±0.08 0.05±0.14 0.997 0.013*;0.293
DHA (C22:6n3) a 0.18±0.17 0.20±0.20 0.21±0.16 0.20±0.17 0.952 0.558;-0.071
Asam Linoleat 4.92±3.26 5.09±3.51 5.46±3.20 5.50±3.40 0.933 0.133;-0.180
(C18:2n6c) a
Asam Linolenat 0.19±0.09 0.18±0.14 0.30±0.42 0.23±0.09 0.363 0.123;-0.185
(C18:3n3) a
a Rata-rata ± standar deviasi (% dari total asam lemak atau g/100 g lemak)
b Uji beda Anova; *signifikan p<0.05
c Uji hubungan Spearman; **signifikan p<0.01
41

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Stockholm, Swedia pada tanggal 12 Mei 1989 dari
pasangan Bapak Nahrowi Ramli dan Ibu Siti Fatimah. Penulis merupakan putri pertama
dari empat bersaudara. Penulis telah menikah dengan Maryono dan dikaruniai dua orang
anak bernama Tsaqif Arsyad Abdurrahman dan Qonita Khalisa Salsabila.
Penulis memulai pendidikannya di Taman Kanak-Kanak Tsunaeri, Jepang pada
tahun 1993. Selanjutnya penulis menyelesaikan studi pendidikan dasar tahun 2002 di
SDN Polisi 5 Bogor dan pendidikan menengah pertama pada tahun 2005 di SMP Negeri
4 Bogor. Tahun 2007 Penulis berhasil lulus dari SMA Negeri 1 Bogor dan pada tahun
yang sama Penulis pun melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Alhamdulillah Penulis diterima di Departemen
Gizi Masyarakat yang berada di Fakultas Ekologi Manusia dan menjadi salah satu
jurusan terfavorit di IPB.
Selama menempuh pendidikan di Departemen Gizi Masyarakat, penulis pernah
terlibat aktif dalam anggota dari klub kulinari Himpunan Mahasiswa Gizi (HIMAGIZI)
pada tahun 2008-2009, terlibat dalam kepanitiaan Funny Fair dan Nutrition Fair yang
diadakan oleh HIMAGIZI, dan pernah menjadi koordinator acara dari Seminar Gizi
Nasional (SENZASIONAL) pada tahun 2010. Pada tahun 2011, penulis melanjutkan
studi S2 sekaligus menikah. Sambil menjalani kehidupan rumah tangga, penulis
menyelesaikan studi dan aktif dalam mengembangkan IMAGO „LSM untuk kalangan
pelajar Kota Bogor‟ khususnya kegiatan di bidang kesehatan.