Anda di halaman 1dari 4

PENYELESAIAN KASUS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK BERBASIS

VOLUME

Tugas ini dibuat untuk Menyelesaikan Soal Mengenai Perhitungan Harga Pokok Produk
Berbasis Volume PT. Jakarta Digital Printing

Dosen Pengampu : Drs. Riwayadi, MBA, Ak, CA, CSRS, CPMA

Oleh Kelompok 3 :

Fadhlan Hasbi ( 1700522026 )

Dicky Ardiansyah ( 1700522034 )

Canada Stevani ( 1700522076 )

Fandura Fajar Suryanto ( 1700522080 )

JURUSAN AKUNTANSI

PROGRAM DIPLOMA III

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018
Soal :

PT Jakarta Digital Printing menggunakan metode alokasi langsung untuk mengalokasikan


biaya departemen jasa ke departemen produksi. Biaya Departemen A dialokasikan
berdasarkan jumlah karyawan, sedangkan biaya Departemen B dialokasikan berdasarkan
jam mesin.Biaya overhead pabrik departemen produksi dibebankan ke produk berdasarkan
jam mesin untuk Departemen I dan jam kerja langsung untuk Departemen II.

Departemen Produksi Departemen Jasa


I II A B
BOP Rp. 820.000.000 Rp. Rp. 200.000.000 Rp. 100.000.000
dianggarkan 608.000.000
Jumlah 90 orang 210 orang 20 orang 28 orang
Karyawan
Jam Mesin 64.000 JM 16.000 JM
Jam kerja 35.000 JKL 100.000 JKL
Langsung

Data berikut ini berkaitan dengan pesanan no. 100

Departemen I Departemen II
Biaya Bahan Baku Langsung Rp. 180.000 Rp. 80.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 100.000 Rp. 50.000
Langsung
Jam Kerja Langsung 1 2
Jam Mesin 3 1

a. Hitunglah tarif BOP tunggal ( plant wide rate ) berdasarkan jam kerja langsung dan harga
pokok pesanan no.100
Jawab :
BOP Dianggarkan
Departemen Produksi
- Departemen I Rp. 820.000.000
- Departemen II Rp. 608.000.000
Departemen Jasa
- Departemen A Rp. 200.000.000
- Departemen B Rp. 100.000.000

Total 1.728.000.000
Tarif BOP Tunggal
𝐵𝑂𝑃 𝐷𝑖𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛
Tarif BOP =
𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙

1.728.000.000
= = 12.800
135.000

Harga Pokok Pesanan


I. 180.000 + 100.000 + ( 1 x 12.800 ) = 292.800
II. 80.000 + 50.000 + ( 2 x 12.800 ) = 155.600
448. 400

b. Hitunglah tarif BOP untuk departemen produksi dan Harga Pokok Pesanan No.100
Jawab :
Departemen I Departemen II Departemen A Departemen B
BOP Sebelum Rp. 820.000.000 Rp. 608.000.000 Rp. 200.000.000 Rp. 100.000.000
Alokasi
Alokasi Rp. 60.000.000* Rp. ( Rp.
Departemen A 140.000.000** 200.000.000 )
Alokasi Rp. Rp. 20.000.000 ( Rp.
Departemen B 80.000.000*** **** 100.000.000 )
Total Rp. 960.000.000 Rp. 768.000.000
90 64.000
*) 300 𝑥200.000.000 = 60.000.000 ***) 80.000 𝑥100.000.000 = 80.000.000

210 16.000
** ) 300 𝑥200.000.000 = 140.000.000 ****) 80.000 𝑥100.000.000 = 20.000.000

Tarif BOP :

𝐷𝑒𝑝𝑎𝑟𝑡𝑒𝑚𝑒𝑛 𝐼 960.000.000
= = 15.000
𝐽𝑎𝑚 𝑀𝑒𝑠𝑖𝑛 64.000

𝐷𝑒𝑝𝑎𝑟𝑡𝑒𝑚𝑒𝑛 𝐼𝐼 768.000.000
= = 7.680
𝐽𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔 100.000

Harga Pokok Pesanan :

Departemen I : 180.000 + 100.000 + ( 3 x 15.000 ) = 325.000

Departemen II : 80.000 + 50.000 + ( 2 x 7.680 ) = 145.360

Total : 325.000 + 145.360 = 470.360


c. Perhitungan harga pokok mana yang lebih akurat ? Kenapa ?

Jawab :

Menurut kami, perhitungan harga pokok yang lebih akurat adalah dengan menggunakan
Departement Rate dibanding dengan menggunakan Plant Wide Rate. Karena, jika
menggunakan Departement Rate, biaya ditelusuri secara rinci dan lebih jelas serta
menggunaka pool biaya department yang terpisah untuk masing-masing department. Selain
itu, perusahaan juga menggunakan tarif alokasi biaya overhead yang berbeda disetiap
department. Namun, jika menggunakan Plant Wide Rate pool biaya yang digunakan hanyalah
pabrik, tidak menelusuri tiap-tiap departementnya atau menggunakan satu pool biaya untuk
semua departemen.

d. Jika perusahaan menggunakan plant-wide-rate sedangkan competitor menggunakan


departmental rate, bagaimana dampaknya terhadap penjualan ?
Jawab :
Menurut kami, jika perusahaan menggunakan perhitungan harga pokok dengan plant-wide-
rate maka akan menimbulkan peningkatan penjualan produk perusahaan. Kenapa demikian ?
karena, jika perusahaan menggunakan perhitungan harga pokok dengan plant-wide-rate
maka perusahaan hanya menggunakan satu pool biaya dimana akan menghasilkan harga
pokok yang kecil sehingga membuat harga produk perusahaan menjadi rendah dibanding
competitor yang menggunakan departemental rate yang menghitung harga pokok terpisah
untuk tiap departemennya ( dimana tiap departemen memiliki biaya-biaya yang berbeda )
sehingga membuat harga produk perusahaan lain menjadi tinggi.