MAKALAH
SEMINAR HASIL PENELITIAN
Nama : Rosdianingsih
Nim : C1G017185
Program Studi : Agribisnis
Judul : Analisis Risiko Usahatani Cabai Rawit di
Kabupaten Lombok Timur
Dosen Pembimbing I : Dr. Ir. Anas Zaini, M.Sc.,
Dosen Pembimbing II : Dr. Ir. F.X. Edy Pernandez, MP.
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Desember 2021
Waktu : 09.00 wita- Selesai
Zoom meeting (via online)
Tempat :
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2021
ANALISIS RISIKO USAHATANI CABAI RAWIT DI KABUPATEN
LOMBOK TIMUR
Rosdianingsih¹ , Dr. Ir. Anas Zaini, M.Sc.², Dr. Ir.s F.X. Edy Pernandez, MP.³
¹Mahasiswa Agribisnis Pertanian Universitas Mataram ²Dosen Pembimbin di
Fakultasn Pertanian Universitas Mataram
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1)Menganalisis risiko produksi usahatani
cabai Rawit di Kabupaten Lombok Timur (2)Menganalisis besarnya risiko usahatani
cabai rawit di Kabupaten Lombok Timur (3)Mengidentifikasi penyebab timbulnya
risiko produksi usahatani cabai rawit di Kabupaten Lombok Timur. Model analisis
menggunakan analisis risiko (Koefisien Variasi) dan analisis deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya peluang risiko produksi dengan nilai
Koefisien Variasi (KV) 0,17, risiko harga dengan nilai (KV)0,13 dan peluang risiko
pendapatan dengan nilai KV 0,52. Risiko produksi disebabkan oleh kondisi cuaca dan
hama penyakit yang menyerang tanaman cabai rawit. Sedangkan risiko pendapatan
merupakan akumulasi dari risiko harga dan produksi
Strategi atau upaya petani dalam mengatasi risiko usahatani cabai rawit , sebelum
mengalami risiko petani melakukan persiapan factor penunjang produksi,
memprediksi patokan musim tanam guna untuk guna untuk menentukan waktu yang
tepat untuk berusahatani. Pada masa produksi petani melakukan pengendalian hama
dan penyakit dengan menggunakan pestisida, Melakukan penyulaman jika sebagian
tanaman dilapangan mati. Setelah mengalami risiko petani tetap melanjutkan
usahataninya walaupun sudah mengalami kerugian.
PENDAHULUAN
Komoditas hortikiltura yang menjadi bahan pangan penting yang dikonsumsi
sehari-hari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia adalah sayuran, sehingga
diproduksi secara terus-menerus. Sayuran meurpakan komoditas holtikultura yang
memiliki prospek potensial untuk dibudidayakan, karena mengalami pertumbuhan
tertinggi kedua setelah tanaman hias dari segi luas dan produksi. Hal ini juga karena
pada umumnya pembudidayaan sayuran tergolong mudah dan sederhana.
Cabai rawit (Capsicum frutescent L.) merupakan salah satu komoditi sayuran
penting yang bernilai ekonomi tinggi di indonesai. Cabai rawit memiliki peluang
pasar yang semakin luas, bukan hanya digunakan dalam skala rumah tangga, tetapi
juga digunakan dalam skala industri dan memenuhi kebutuhan ekspor ke luar negri.
Cabai rawit merupakan komoditi penting dalam pola konsumsi makanan yaitu
sebagai sayuran atau bumbu masakan. Kebutuhan cabai rawit diprediksi akan terus
meningkat dari tahun ke tahun seiring meningkatnya jumlah penduduk dan
berkembangnyaa industri makanan di Indonesia.
Provinsi Nusa Tenggaraa Barat (NTB) adalah salah satu wilayah sentra
pengembangan komoditas hortikultura, diantaranya tanaman sayuran cabai rawit.
Prospek usaha komoditas hortikultura khususnya tanaman sayuran cabai rawit di
NTB selain itu cabai rawit merupakan komoditas dengan produksi terbesar di
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jumlah produksi cabai rawit pada tahun 2019 sebesar
164,77 ribu ton atau turun 21,73 persen dibandingkan tahun 2018 yang mencapai
210,53 ribu ton. Sentra cabai rawit berada di Kabupaten Lombok Timur yang
produksinya mencapai 147,87 ribu ton. Jumlah ini setara dengan 89,74 persen dari
seluruh total produksi cabai rawit di Provinsi NTB. (BPS Kabupaten Lombok Timur
2020)
Risiko usahatani cabai tidak hanya terbatas pada produksi dan pendapatnnya
saja tetapi juga pada tingkat pemasaran hasil produksi cabai, dimana komoditas cabai
tidak tahan lama untuk disimpan, sehingga petani menghadapi risiko yang besar
apabila komoditas cabai tidak segera dijual di pasaran. Untuk itu komoditas cabai
membutuhkan penanganan khusus untuk bidan pemasaran haasil, yaitu transfortasi
yang cepat sehingga cabai cepat sampai di tingkat konsumsi.
Risiko yang dihadapi petani cabai rawit perlu adanya tindakan atau penanganan
untuk mengantisipasi terjadinya kerugian yang besar. Tujuan penelitian ini adalah :
(1)Menganalisis risiko produksi usahatani cabai di Kabupaten Lombok Timur
(2)Menganalisis besarnya risiko usahatani cabai rawit di Kabupaten Lombok Timur
(3)Mengidentifikasi penyebab timbulnya risiko produksi usahatani cabai rawit di
Kabupaten Lombok Timur.
METODOLOGI PENELITIAN
metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yakni
suatu metode dalam meneliti setatus sekelompok manusia, suatu objek, suatu set
kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau
lukisan secara sistematis, fluktuasi dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan atau fenomena yang diselidiki ( Nazir, 2014 ).
Unit analisis dari penelitian ini adalah usahatani cabai rawit yang dilakukan
oleh petani cabai rawit di Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini akan dilakukan di
Kecamatan Labuhan Haji dan Kecamatan Suralaga. Penentuan daerah penelitian
ditentukan secara purposive sampling yaitu penentuan daerah penelitian secara
sengaja. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Labuhan Haji dan Kecamatan
Suralaga dengan pertimbangan bahwa kecamatan tersebut memiliki luas lahan dan
produksi cabai rawit yang tinggi di Kabupaten Lombok Timur. Responden dalam
penelitian ini adalah petani yang mengusahakan usahatani cabai rawit di Kecamatan
Labuhan Haji dan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Penentuan responden
dilakukan secara “Quata Sampling” yaitu sebanyak 30 orang, yaitu dengan
menetapkan masing-masing disetiap kecamatan yang terpilih yakni 15 orang petani
responden dari kecamatan Labuhan Haji dan 15 orang petani responden dari
Kecamatan Suralaga. Hal ini diasumsikan bahwa sampel sesuai dengan karakteristik
populasi yang telah ditetapkan.
Sedangkan Penentuan jumlah responden dilakukan secara “Accidental
Sampling” yaitu peneliti lansung mengumpulkan data dari unit sampling yang
ditemuinya (petani). Jenis data yang digunakan yaitu data kuantitatif dan data
kualitatif. Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dari data primer
dan data skunder. Teknik pengumpulan data yaitu melalui wawancara dan kuesioner.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : analisis tingkat
risiko menggunakan Koefisien Variasi (KV), koefisien variasi adalah cara untuk
mengukur rentan tidaknya suatu risiko.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristi Responden
1. Umur Responden
Tabel 1. Karaktersistik Responden pada Usahatani Cabai Rawit Berdasarkan Umur
Di Kecamatan Suralaga dan Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur.
No Kisaran Umur (Tahun) Responden (orang) Persentase (%)
1 36-40 5 17
2 41-45 1 3
3 46-50 11 37
4 51-55 7 23
5 56-60 5 17
6 ≥62 1 3
Jumlah 30 100
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan Tabel 1. Umur produktif secara ekonomi dibagi menjadi tiga
klasifikasi yaitu kelompok umur 0-14 tahun merupakan umur belum produktif,
kelompok umur 15-64 tahun merupakan kelompok produktif, dan kelompok umur
diatas 64 tahun merupakan kelompok umur tidak lagi produktif. Berdasarkan tabel 1.
seluruh responden termasuk dalam kelompok umur produktif yaitu sebanyak 30
orang atau 100 persen. Umur produktif merupakan umur ideal untuk bekerja dan
mempunyai kemampuaan untuk meningkatkan produktifitas kerja serta memiliki
kemampuan yang besar dalam menyerap informasi dan teknologi yang inovatif di
bidang pertanian. Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh petani responden dalam
penelitian ini cukup potensial untuk melakukan kegiatan usahatani. Sehingga
berpotensi mengurangi risiko produksi pada usahatani cabai rawit.
2. Tingkat pendidikan
Tabel 2. Karakteristik Tingkat Pendidikan Responden Cabai Rawit di Kabupaten
Lombok Timur
No Tingkat Pendidikan Responden (org) Persentase (%)
1 SD 21 70
2 SMP 5 16
3 SMA 2 7
4 S1 2 7
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 2 persentase tingkat pendidikan petani respondek terbanyak
pada tingkat SD yaitu sebesar 70%, kedua tingkat SMP 16%, ketiga tingkat SMA dan
S1 sebesar masing-masing 7%
3. Jumlah Tanggungan Keluarga
Tabel 3. Karakteristik jumlah tanggungan Responden Cabai Rawit di Kabupaten
Lombok Timur
no Kisaran Jumlah Tanggungan RT Jumlah Persentaase %
1 1-2 16 54
2 3-4 14 46
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 3 kisaran jumlah tanggungan teringgi 1-2 orang sebanyak 16
orang atau 54 persen kisaran 3-4 orang sebanyak 14 orang atau 46 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa rata-rata tanggungan rumah tangga responden tergolong
keluarga keluarga kecil. Kesimpulan ini diambil mengacu pada pendapat Ilyas (1998)
dalam Wilyana (2016) yang menyatakan bahwa jumlah tanggungan yang berkisaran
antara 1-2 orang tergolong keluarga kecil, 3-4 orang tergolong keluarga menengah
dan 5 atau lebih tergolong keluarga besar.
4. Pengalaman Berusahatani
Tabel 4. Karaktersistik Pengalaman berusahatani Cabai Rawit Berdasarkan Umur Di
Kecamatan Suralaga dan Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok
Timur.
No Pengalaman Berusahatani Responden (orang) Persentase%
(tahun)
1 10-19 8 27
2 20-29 11 39
3 30-39 8 27
4 ≥45 2 7
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Pada tabel 4 dapa dilihat bahwa responden memiliki rata-rata pengalaman
berusahatani yang sudah lama menggeluti usahatani cabai rawit. Berdasarkan
pengalaman petani berusahatani yang paling banyak berkisaran antara 20-29 tahun
sebanyak 11 orang atau 39 % dan paling sedikit adalah kisaran 45 tahun sebanyak 2
orang atau 7%.
5. Luas Tanam dan Status Kepemilikan
Tabel 5. Karaktersistik Luas Lahan dan Status Kepemilikan Responden Cabai Rawit
Berdasarkan Umur Di Kecamatan Suralaga dan Kecamatan Labuhan Haji
Kabupaten Lombok Timur.
No Luas Lahan (ha) Jumlah Persentase (%)
1 ≤1.00 29 97
2 1.00 1 3
Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa luas lahan garapan petani paling banyak 29
orang atau 97% berkisar antara ≤1.00 ha dan paling sedikit sebanyak 1 orang atau 3%
memiliki luas lahan 1.00
B. Analisis Usahatani Cabai Rawit
1. Produksi dan Harga Usahatani Cabai Rawit
Tabel 6. Produksi Usahatani Cabai Rawit di Kabupaten Lombok Timur
No Panen Produksi (kg) Harga (Rp)/kg
1 Panen 1 75,90 7.000
2 Panen 2 144,93 7.000
3 Panen 3 255,63 7.000
4 Panen 4 427,3 7.000
5 Panen 5 692,43 7.000
6 Panen 6 572,27 7.000
7 Panen 7 462,97 7.000
8 Panen 8 178,33 7.000
9 Panen 9 109,43 7.000
44,03
10 Panen 10 7.000
29,43
11 Panen 11 7.000
16,53
12 Panen 12 7.000
8,47
13 Panen 13 7.000
3,03
14 Panen 14 7.000
Rata2/LLG 215,74 25.925,92
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 6 rata-rata produksi usahatani cabai rawit di Kecamatan
Suralaga dan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur sebesar 215,74/LLG
sedangkan rata-rata harga yang diterima petani yaitu sebesar 25.925,92/kg. pada
jumlah produksi, penanaman dilakukan rata-rata sebanyak 10-14 kali dalam satu kali
musim tanam sejak cabai berumur 3 bulan . pemanenan cabai rawit yaitu berupa
cabai rawit yang sudah matang.
2. Biaya Usahatani Cabai Rawit
2.1. Biaya Tetap
Tabel 7. Total Biaya Tetap Usahatani Cabai Rawit di Kecamatan Labuhan Haji dan
Suralaga Kabupaten Lombok Timur
No Jenis Biaya Tetap Per LLG (Rp) Per ha (Rp)
1 Pajak lahan 208.194 737.457
2 Penyusutan Alat 173.387 737.858
3 Iuran Air Irigasi 142.645 559.141
Total 524.226 2.034.456
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Pajak lahan merupakan biaya yang harus dibayar oleh petani responden
kepada pemerintah atas milik atas milik tanah tempat melakukan kegiatan usahatani.
Besarnya pajak tanah ditentukan oleh pemerintah berdasarkan klasifikasi tanah yang
bersangkutan, kesuburan tanah, strategis atau tidaknya letak tanah tersebut serta luas
tanah. Rata-rata biaya pajak lahan yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 208.194/LLG
atau Rp. 737.457/ha.
Setiap penggunaan alat tertentu secara berangusr-angsur dan mengalami
istilah penyusutan atau hilangnya nilai ekonomis selama masa penggunaannya.
Dalam usahatani cabai rawit di Kecamatan Labuhan Haji dan Suralaga Kabupaten
Lombok Timur menggunakan banyak macam alat yang tahan lama yang setiap
pemakaiannya akan mengalami penyusutan antara lain : handsprayer, cangkul, sabit,
parang, dan ember. Tabel 4.10 menunjukkan rata-rata biaya penyusutan alat
responden untuk usahatani cabai rawit sebesar Rp.173.387/LLG atau Rp.737.858/ha.
Iuran air merupakan biaya yang dikeluarkan petani responden untuk
membayar air yang digunakan untuk mengairi lahan petani selama 1 tahun. Dimana
biaya yang di keluarkan dibayarkan kepada pekasih. Biaya rata-rata iuran air sebesar
Rp.142.645/LLG atau 559.141/ha.
Berdasarkan tabel 4.10 diatas bahwa total penggunaan biaya tetap pada usahatani
cabai rawit di Kecamatan Labuhan Haji dan Suralaga Kabupaten Lombok Timur
musim hujan sebesar Rp.524.226/LLG atau Rp.2.034.456/ha.
2.2. Biaya Variabel
Tabel 8.. biaya Variabel Usahatani Cabai Rawit di Kecamatan Suralaga dan Labuhan
Haji Kabupaten Lombok Timur
No Jenis biaya Per LLG Per ha
1 Biaya saprodi (Rp) 81.547.490 302.027.741
2 Biaya TK (Rp) 250.000.000 925.925.926
3 Biaya variabel lain (Rp) 99.565.000 368.759.259
Total (Rp) 431.112.490 1.596.712.926
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya Variabel pada usahatani
cabai rawit di Kecamatan Suralaga dan Lbuhan Haji Kabupaten Lombok Timur
adalah sebesar Rp.431.112.490/LLG atau Rp.1.596.712.926/ha. Biaya variabel terdiri
dari biaya saprodi, biaya tenaga kerja, dan biaya lain-lain. Dalam biaya variabel biaya
yang paling banyak dikeluarkan oleh petani adalah biaya tenaga kerja yamh meliputi
kegiatan pengolahan tanah,, pembuatan bedengan, penanaman, penyiangan,
penyemprotan, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan lain dan pemanenan.
1. Biaya sarana produksi
Biaya sarana produksi yang dikeluarkan dalam usahatani cabai rawit meliputi
biaya pembelian bibit, pupuk, dan obat-obatan. Biaya sarana produksi dapat
dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Total biaya sarana produksi usahatani cabai rawit di kelcamatan
suralaga dan labuhan haji kabupaten Lombok timur
No Jenis Biaya Saprodi Per LLG Per ha
1 Bibit (Rp) 1.224.000 4.533.333
2 Pupuk (Rp) 980.884 3.632.904
3 Obat-obatan (Rp) 459.967 1.703.581
Jumlah 2.664.851 9.869.818
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 9 menunjukkan jenis biaya sarana produksi yang digunakan
dalam usahatani cabai rawit yaitu, bibit, pupuk, dan obat-obatan. Rata-rata
biaya sarana produksi pada usahatani cabai rawit di Kecamatan Suralaga dan
Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur yang dikeluarkan oleh petani sebesar
Rp.2.664.851/LLG atau Rp.9.869.818/ha.
2. Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani cabai rawit di daerah penelitian
adalah tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Perbedaan
kegiatan pada masing-masing usahtani berpengaruh terhadap biaya tenaga
kerja pada masing-masing kegiatan. Kegiatan pada masing-masing usahtani
dapat dilihat pada tabel 10
Tabel 10. Total Biaya Tenaga Kerja Usahatani Cabai Rawit di Kecamatan
Suralaga dan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur.
No Jenis biaya TK Per LLG Per ha
Pengolahan lahan 258.333 956.789
(Rp)
Pembuatan 268.333 993.826
Guludan (Rp)
Penanaman (Rp) 339.500 1.257.407
Penyiangan (Rp) 171.500 635.185
Pemupukan (Rp) 522.667 1.935.804
Penyemprotan 606.667 2.246.915
(Rp)
Pengendalian hama 53.333 197.530
dan penyakit (Rp)
Pemeliharaan (Rp) 40.000 148.148
Panen (Rp) 6.041.402 22.375.563
Total (Rp) 8.301.735 30.747.167
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya tenaga kerja pada usahatani cabai
rawit sebesar Rp.8.301.735/LLG atau Rp.30,747.167/ha. Biaya tenaga kerja terdiri
dari pengolahan lahan, pembuatan guludan, penyiangan, penanaman, pemupukan,
penyemprotan, pengendalian hama dan penyakit,pemeliharaan lain dan panen. Dalam
penelitian ini tenaga kerja yang digunakan lebih banyak dari luar keluarga.
3. Biaya Variabel Lain
Biaya variabel lain yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu biaya yang
dikeluarkan dalam usahatani cabai rawit selain biaya sarana produksi dan
biaya tenaga kerjaa. Biaya variabel lain dalam usahatani cabai rawit dapat
dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Total Biaya Variabel Lain pada Usahatani Cabai Rawit
No Jenis biaya lain Per LLG Per ha
1 Mulsa (Rp) 955.500 3.538.889
2 Tali (Rp) 230.000 851.852
3 Bambu (Rp) 2.133.333 7.901.233
Total (Rp) 3.358.833 12.291.974
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Dari tabel 4.14 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya lain-lain pada usahatani
cabai rawit masing-masing sebesar Rp.3.358.833/LLG atau Rp.12.291.974/ha. Biaya
lain-lain yang dimaksud disini adalah biaya plastic mulsa, tali dan bamboo untuk
kegiatan usahatani cabai rawit.
3. pendapatan Usahatani Cabai Rawit
Tabel 12. Total Biaya Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan Usahatani Cabai Rawit
di Kecamatan Suralaga dana Labuhan Haji Kabupaten Lombok timur
No Uraian Per LLG Per ha
1 Produksi (kg) 3.021 11.512
2 Harga (Rp) 7.000 25.926
3 Penerimaan (Rp) 21.106.900 80.328.377
4 Total biaya (Rp) 14.663.107 54.307.804
5 Pendapatan (Rp) 6.443.793 21.968.361
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa rata-rata besarnya penerimaan yang
didapatkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan maka diperoleh rata-rata
pendapatan pada usahatani cabai rawit di Kecamatan Suralaga dan Labuhan Haji
Kabupaten Lombok Timur musim hujan masing-masing sebesar Rp.6.443.797/LLG
atau Rp.23.865.900/ha.
C. Analisis Risiko Produksi dan Pendapatan Usahatani Cabai Rawit
1. Risiko Produksi
Tabel 13. Risiko Produksi Usahatani Cabai Rawit
No Keterangan Nilai per ha
1 Produksi 11.512
2 Variance (Va²) 3.715.831
3 Simpangan baku (Va) 1927,64
4 Koefisien Variasi (KV) 0,17
5 Batas bawah (L) -47.420.150
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 13 dapat dilihat bahwa nilai Koefisien Variasi (KV)
usahatani cabai rawit di Kecamatan Suralaga dan Labuhan Haji yaitu sebesar 0,17
atau KV>0,5 yang berarti ada peluang terjadinya risiko produksi dalam melakukan
usahatani cabai rawit. Adapun nilai untuk batas bawah (L) yaitu sebesar -47420150
atau L<0 yang artinya petani rugi. Berdasarkan hubungan antara koefisien variasi dan
batas bawah maka dapat dinyatakan terdapat peluang kerugian yang diterima petani
atau terdapat peluang terjadinya risiko produksi pada usahatani cabai rawit yang ada
di kecamatan Suralaga dan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur. Hal ini
dikarenakan pada tanaman cabai rawit rentan terhadap penyakit (cabai busuk, layu)
maupun serangan hama (kutu putih) yang dapat mengurangi hasil produksi, selain itu
perawatan atau teknik budidaya yang dilakukan oleh petani cabai rawit terbilang
sangatlah minim, seperti kurangnya menggunakan pestisida pada saat cabai sakit
ataupun terserang hama karena dirasa serangan hama belum mencapai ambang batas
yang sangat parah.
2. Risiko Harga
Tabel 14. Risiko Harga Usahatani Cabai Rawit di Kabupaten Lombok Timur
No Keterangan Nilai per ha
1 Harga 25.926
2 Variance (Va²) 11.939.783
3 Simpangan baku (Va) 3.455.399
4 Koefisien varian (KV) 0,13
5 Batas bawah (L) -6.899.286
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan Tabel 2.17 dapat dilihat bahwa nilai Koefisien Variasi (KV)
untuk harga pada usahatani cabai rawit yaitu sebesar 0,13 atau KV>0,5 yang berarti
terdapat risiko harga pada usahatani cabai rawit. Adapaun untuk nilai batas bawah (L)
yaitu sebesar -6.899.286 atau L<0 yang artinya petani rugi. Berdasarkah hubungan
antara koefisien variasi dan batas bawah maka dapat dinyatakan terdapat peluang
kerugian yang diterima petani atau terdapat peluang terjadinya risiko harga pada
usahatani cabai rawit yang ada di Kabupaten Lombok Timur. Hal ini dikarenakan
pada musim kemarau terjadi over produksi atau kelebihan produksi sehingga harga
cabai rawit menurun.
3. Risiko Pendapatan Usahatani Cabai Rawit
Tabel 15 Risiko Pendapatan Usahatani Cabai Rawit
No Keterangan Nilai per ha
1 Pendapatan 21.968.361
2 Variance (Va²) 13.529.135.342
3 Simpangan baku (Va) 116314,81
4 Koefisien varian (KV) 0,52
5 Batas bawah (L) -1.294.601
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 14 nilai koefisien variasi (KV) usahatani cabai rawit di
Kecamatan Suralaga dan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur yaitu sebesar 0,52
atau KV>0,5 yang berarti terdapat risiko pendapatan usahatani cabai rawit. Adapun
nilai untuk batas bawah (L) yaitu sebesar -1294601 atau L<0 yang artinya petani rugi.
Berdasarkan hubungan antara koefisien variasi dan batas bawah maka dapat
dinyatakan terdapat peluang kerugian yang diterima petani atau terdapat peluang
terjadinya risiko pendapatan pada usahatani cabai rawit yang ada di Kecamatan
Suralaga dan labuhan haji Kabupaten Lombok Timur ini dikarenakan pada musim
kemarau tanaman cabai rawit dapat menghasilkan produksi yang lebih tinggi,
sehingga produksi cabai yang dihasilkan pada musim kemarau dapat menyebabkan
produksi cabai rawit menjadi over produksi atau kelebihan produksi sehingga dapat
menyebabkan harga menjadi rendah atau anjlok.
D. penyebab dan strategi petani dalam menghadapi risiko produksi dan
pendapatan usahatani cabai rawit
1. penyebab terjadinya risiko
Usaha dalam sektor agribisnis merupakan usaha yang rawan terhadap risiko
dan ketidakpastian. Hal ini dikarenakan usaha dalam sektor agribisnis berhubungan
lansung dengan mahluk hidup sebagai komoditi usahanya. Para pelaku usaha di
sektor agribisnis perlu mempelajari sumber-sumber risiko yang ada pada usahanya
tersebut untuk kemudian melakukan pengukuran risiko untuk mengetahui dampak
dan akibat serta bisa menentukan alternative solusi untuk mengatasi risiko tersebut.
Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kerugain yang akan ditanggung oleh pelaku
usaha. Berikut beberapa jenis risiko beserta penyebab terjadinya antara lain :
1. Risiko produksi
Fluktuasi yang terjadi pada suatu usahatani baik fluktuasi hasil produksi, harga
dan jumlah penerimaan yang berada dibawah standar yang ditetapkan merupakan
indikasi adanya risiko. Risiko produksi yang sering dihadapi oleh petani pada
usahatani cabai rawit meliputi kondisi alam yang sulit diprediksi, serangan hama dan
penyakit pada tanaman cabai rawit. Risiko produksi ini menyebabkan tingkaat
produktifitas cabai rawit menurun sehingga penerimaan petani semaikn kecil.
Produktifitas yang berflutuasi menunjukkan adanya nilai produktivitas yang tinggi,
normal dan rendah.
Risko produksi secara lansung mempengaruhi hasil produksi. Jumlah
produksi mugkin saja mengalami penurunan. Penurunan jumlah produksi tersebut
akan mepengaruhi jumlah penerimaan sehingga berdampak pada kerugian usaha.
Beberapa hal yang diidentifikasi sebagai sumber risiko produksi pada usaha yang
dijalankan disebabkan oleh manusia dan alam. Factor pendukung timbulnya risiko
pada saat berlansungnya kegiatan produksi yang disebabkan oleh manusia adalah
tenaga kerja yang berkaitan dengan keterampilan dan pengalaman kerja, sedangkan
beberapa hal dari alam yang dapat menjadi factor pendukung timbulnya sumber risiko
yaitu antara lain misalnya bencana alam (banjir, gempa bumi, angina rebut dll),
kondisi alam (lembab, panas, dingin dll), dan mahluk alam ( hama, penyakit,
binatang, dll). Penyebab risiko produksi yang dihadapi oleh petani cabai rawit di
kecamatan suralaga dan labuhan haji Kabupaten Lombok Timur
1. Keadaan cuaca dan iklim
Kondisi alam seperti cuaca dan iklim menjadi suatu ketidakpastian, karena
merupakan bagian dari risiko yang harus dihadapi oleh petani yang tidak dapat diukur
Seperti juga halnya produk pertanian lainnya , produksi tanaman cabai rawit juga
dipengaruhi oleh cuaca dan iklim. Pada musim hujan tanaman cabai menghadapi
berbagai macam risiko salah satunya terjadinya pembusukan baik diakar, batang,
daun sehingga secara perlahan tanaman cabai akan mati. Gulma juga akan tumbuh
dengan sangat subur pada saat musim hujan dan ini menjadikan gulma sebagai risiko
pada tanaman cabai. Gulma dapat merugikan dan menganggu pertumbuhan tanaman
cabai melalui perebutan unsur hara didalam tanah, menjadi inang bagi serangga
vector dan pathogen penyakit. Begitujuga pada musim kemarau cabai juga
menghadapi risiko seperti hama dan penyakit.
2. Hama dan penyakit
Hama dan penyakit merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil
produksi tanaman cabai rawit. Keberadaan hama dan penyakit yang menyerang
tanaman cabai ini membuat produktifitas cabai berfluktuasi bahkan sering sekali
menyebabkan kerugian.
3. Keterampilan Tenaga Kerja
Keterampilan tenaga kerja merupakan factor penting dalam melakukan
kegiatan usahatani cabai rawit. Ketersediaan tenaga kerja yang trampil sangat
mempengaruhi keberhasilan produksi, tenaga kerja dalam hal ini adalah petani yang
sangat berperan penting dalam setiap kegiatan usahatani cabai rawit yang
diusahakannya. Dalam hal ini sering sekali petani mengandalkan pengetahuannya
sendiri dalam memproduksi usahatani cabai rawit karena menganggap
pengalamannya dalam berusahatani dalam bertani sudah cukup. Sehingga temuan
atau informasi terbaru dari berbagai pihak seperti dari dinas pertanian terkait
peningkatan produktivitas cabai rawit kurang diperhatikan.
2. Risiko Harga
Pada tingkat petani risiko harga menjadi permasalahan penting dalam kegiatan
usahatani. Indikasi risiko harga ditunjukkan oleh fluktuasi harga yang diperoleh
petani pada setiap kali produksi. Lemahnya posisi daya tawar petani yang di sebabkan
oleh keterbatasan sarana dan prasarana, serta akses informasi pasar. Adanya panen
raya yang terjadi bersamaan dengan petani didaerah lainnya juga menyebabkan
produksi melimpah dipasaran sehingga harga jual menjadi rendah dan pendapatan
petani pun menurun. Sumber risiko lainnya adalah teknis penjualan yang kurang baik
dimana petani petani menjual lewat pedagang pengepul dengan system pembayaran
secara tidak lansung. Selain dilihat dari harga output produksi risiko harga juga dapat
dilihat dari harga input. Fluktuasi harga input yang tinggi juga merupakan risiko bagi
petani. Tingginya harga input akan berdampak pada pembengkakan biaya serta akan
berpengaruh juga terhadap tingkat pendapatan petani.
3. Risiko pendapatan
Seringkali jumlah pendapatan yang diharapkan petani tidak sesuai dengan
jumlah pendapatan yang diterimanya. Hal ini tidak lepas kaitannya dengan risiko
produksi dan risiko harga. Perubahan dan penyimpangan yang terjadi pada tingkat
produksi dan harga yang tidak stabil akan mempengaruhi tingkat pendapatan yang
diterima oleh petani. Dimana saat produksi banyak sedangkan harga jatuh maka akan
dapat mendatangkan kerugian yang akan didapatkan petani begitu pula sebaliknya
apabila harga naik tapi produksi sedikit maka pendapatan yang diterima petani tidak
begitu banyak.
E. strategi petani dalam menghadapi risiko usahatani cabai rawit
Risiko yang disebabkan oleh faktor manusia, alam dan teknologi jika
ditangani dengan baik akan memperkecil kerugian yang di alami oleh pelaku usaha.
Dengan kata lain setiap pelaku usaha yang menerapkan manajemen risiko yang baik
akan lebih menguntungkan daripada pelaku usaha yang tidak memiliki manajemen
risiko yang baik. Petani di Kecamatan Suralaga dan Labuhan Haji sadar betul bahwa
dalam budidaya tanaman cabai rawit akan menghadapi berbagai macar risiko. Oleh
karena itu petani harus mempunyai strategi dalam menghadapi risiko tersebut.
Tabel 16.. cara petani dalam menghadapi risiko usahatani cabai rawit
1. Sebelum Terjadinya Risiko
Uraian Jumlah Persentase %
Mempersiapkan atau membuat 0 0
perencanaan sebelum melakukan
usahatani cabai rawit
Memprediksikan patokan musim tanam 5 17
guna untuk menentukan waktu yang
tepat untuk berusahtani
Melakukan persiapan seperti menyiapkan 30 100
segala factor penunjang produksi
usahatani cabai rawit
Berdasrka tabel diatas sebelum petani mengalami risiko pada usahatani cabai
rawit aeluruh petani memilih untuk mempersiapkan segala factor penunjang produksi
usahatani cabai rawit dan sebanyak 5 orang atau 17% memilih untuk mebuat prediksi
patokan musim guna untuk menyesuaikan usahataninya dengan kondisi musim.
2. Dalam Masa Produksi
Uraian Jumlah Persentase %
Melakukan pengendalian hama dan 30 100
penyakit dengan menggunakan pestisida
Melakukan penyulaman jika sebagian 30 100
tanaman dilapangan mati
Mengatur jarak penanaman 0 0
Masa produksi merupakan masa dimana dapat menentukan hasil produksi apakah
baik atau buruk, sehingga untuk mendapatkan hasil yang berkualitas baik berbagai
cara atau solusi yang dilakukan salah satunya petani petani lebih memilih melakukan
pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisidaa dikarenakan lebih
cepat walaupun petani mengetahui bahwa pestiida tidak sepenuhnya aman, seluruh
petani memilih untuk cara ini dalam proses masa produksi dan jika sebagian tanaman
mati petani biasanya melakukan penyulaman terhadap tanaman cabai rawit yang mati.
3. Setelah Mengalami Risiko
Uraian Jumlah Persentase %
Tetap melajutkan usahatani cabai rawit 30 100
walaupun sudah mengalami kerugian
Mencari solusi kenapa kegagalan bisa 0 0
terjadi dengan bertanya kepada penyuluh
pertanian atau petani yang lain sekaligus
bertanya tentang bagaimana cara
mengatasi risiko yang ada
Berpindah melakukan usahatani yang lai 0 0
Masa setelah mengalami risiko adalah masa dimana petani sudah merasa rugi
yang disebabkan oleh risiko pada usahatani cabai rawit, petani akan merasa merugi
apabila kerusakan lebih dari setengah lahan, akan tetapi petani lebih memilih tetap
melanjutkan usahataninya sampai sampai masa panen, walaupun produksi cabai
rawitnya tidak sesuai dengan yang diharapkan semua petani memilih tetap melanjutka
usahataninya walaupun sudah mengalami kerugian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkah hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan mada dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Risiko produksi pada usahatani cabai rawit di Kecamatan Suralaga dan
Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur tergolong tinggi dengan nilai
Koefisien Variasi (KV) sebesar 0,17 atau KV>0,5, risiko pendapatan
diperoleh (KV) sebesar 0,52 atau KV>0,5
yang berarti ada peluang terjadinya risiko produksi dan Risiko pendapatan
dalam melakukan usahatani cabai rawit.
2. Upaya penaganan risiko yang dilakukan oleh petani dalam menghadapi risiko
usahatani cabai rawit yaitu, sebelum mengalami risiko petani mempersiapkan
factor penunjang produksi, melakukan prediiksi waktu tanam yang tepat. Pada
masa produksi upaya yang dilakukan yaitu melakukan pengendalian hama dan
penyakit menggunakan pestisida dan masa setelah mengalami risiko petani
tetap melanjutkan usahataninya.
3. Sumber risiko pada usahatani cabai rawit di Kecamatan Suralagan dan
Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur adalah cuaca dan iklim, hama dan
penyakit, dan fluktuasi harga.
5.2. Saran
1. Diharapkan petani cabai rawit dapat lebih memperhatikan lagi perawatan
untuk usahatani cabai rawit seperti pengendalian hama dan penyakit agar
produksi dari cabai rawit bisa mengalami peningkatan.
2. diharapkan pemerintah atau dinas terkait dapat melakukan penyuluhan
khusus yang berkaitan dengan bagaimana pengendalian hama yang baik dan
benar dikarenakan sampai saat ini serangan hama menjadi masalah utama
dalam budidaya cabai rawit.
3. Sebaiknya sebelum melakukan kegiatan usahatani petani hendaknya
melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan penyuluh pertanian setempat
guna mendapat arahan yang akan dijalankan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur.2020. Kabupaten Lombok Timur
Dalam Angka. BPS Kabupaten Lombok Timur.
Nazir,2014.Metode Penelitian.Bogor.: Ghalia Indonesia