Anda di halaman 1dari 3

Membangun Infrastruktur Listrik Desa

Riza Multazam Luthfy


(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya)

Hingga detik ini, banyak desa di Indonesia belum dialiri listrik. Salah satunya Desa Watu
Galang di Nusa Tenggara Timur (NTT). Fakta ini tentu bersifat kontradiktif dengan beragam
kebijakan pemerintah yang berusaha memberikan perhatian terhadap kehidupan masyarakat desa
dan pinggiran.
Apalagi, listrik merupakan kebutuhan vital masyarakat yang mesti disediakan oleh
negara. Pemerataan aliran listrik bagi seluruh warga negara merupakan perwujudan
kesejahteraan rakyat. Bagaimanapun, di dalamnya terdapat hak konstitusional yang senantiasa
mendapat perlindungan.
Keseriusan pemerintah memperhatikan sekaligus mewujudkan hak-hak rakyat antara lain
dibuktikan dengan komitmen dan konsitensi membangun infrastruktur listrik secara menyeluruh.
Kurang meratanya aliran listrik ke semua penjuru Indonesia menunjukkan bahwa di negeri ini
hak warga negara belum sepenuhnya terpenuhi. Tak heran apabila sejumlah pihak menuding
adanya ketimpangan kesejahteraan antarwilayah.
Di samping mengakibatkan program pembangunan yang digencarkan oleh pemerintah
terbengkalai, perbedaan perlakuan pemerintah terhadap satu daerah dengan daerah lainnya dalam
perkembangannya juga rentan menumbuhkan kecemburuan sosial. Padahal, setiap warga negara
selayaknya memperoleh perlakuan yang sama dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
“jaminannya”.

Berpikir Realistis
Betapa dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, masyarakat membutuhkan aliran listrik.
Itulah mengapa, hajat hidup rakyat bisa terpenuhi apabila pemerataan listrik dilakukan secara
maksimal. Globalisasi dan modernisasi yang menyentuh beragam aspek kehidupan membuat
kebutuhan listrik dalam kehidupan rumah tangga tak terelakkan.
Berbeda dengan masa silam, alat-alat pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan,
serta perikanan kini membutuhkan bantuan tenaga listrik. Kondisi demikian menuntut orang-
orang desa berpikir realistis. Apalagi, para petani, pedagang dan nelayan dalam realitasnya tak
sepenuhnya mampu bersandar hanya pada cara-cara lama dalam menjalankan aktivitas dan mata
pencaharian.
Pemanfaatan tenaga listrik merupakan keniscayaan dalam upaya memperoleh capaian
kerja yang memuaskan. Dengan mengandalkan tenaga listrik, hasil dan pemasaran produk lokal
lebih maksimal. Fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang cenderung mempertahankan
pemahaman lama sekaligus menolak cara-cara baru cenderung “tersingkir”. Apa yang dihasilkan
orang-orang seperti ini ternyata kalah jauh dengan mereka yang memanfaatkan listrik sebagai
sarana bekerja.

Program Prioritas
Kontribusi listrik sangat besar dalam upaya mengatrol taraf hidup dan merangsang
pertumbuhan pariwisata di level lokal. Hasil kreasi masyarakat, budi daya desa dan ikon-ikon
lokal yang memantik hasrat wisatawan semakin dikukuhkan dengan dukungan aliran listrik.
Ikhtiar membangkitkan gairah perekonomian masyarakat sekaligus menumbuhkan minat
investasi wisata lokal merupakan bagian dari pembangunan desa yang genap diatur dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Pasal 78 ayat (1) undang-undang ini menyebutkan, “Pembangunan Desa bertujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan
kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana Desa,
pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan
secara berkelanjutan.”
Sejak lama, pembangunan infrastruktur listrik desa merupakan program yang
diprioritaskan oleh pemerintah. Proyek-proyek listrik yang memperoleh skala prioritas tinggi
antara lain merupakan penunjang kebijaksanaan diversifikasi energi dalam rangka pengurangan
bahan bakar minyak (BBM). Surat kabar Pelita edisi 05-02-1986 mewartakan bahwa dalam
tahun anggaran 1986/1987, selain mengagendakan pembangunan infrastruktur listrik desa, PLN
juga menempatkan program tersebut dalam prioritas yang tinggi.
Apabila pemerataan aliran listrik belakangan ini genap menyasar berbagai daerah, maka
proyek-proyek yang diprioritaskan pada tahun 1986 hingga 1987 masih terbatas pada pulau
Jawa. Dengan berbagai pertimbangan, PLN mengutamakan penyediaan tenaga listrik bagi
daerah-daerah di Jawa. Namun demikian, dalam menjalankan proyeknya, perusahaan tersebut
tetap menjamin profesionalitas, membuka banyak lapangan kerja, serta berusaha menekan biaya
operasional.
Mengingat tenaga listrik merupakan salah satu penopang kebutuhan hidup rakyat yang
harus dipenuhi secara merata, maka pendanaan proyek-proyek pembangunan infrastruktur listrik
semestinya tidak mengandalkan “satu pintu”. Dalam konteks inilah, diperlukan inisiatif untuk
mengusahakan pendanaannya dari sejumlah sumber.
Tidak hanya Pemerintah Daerah NTT, pemerintah daerah lainnya yang menghadapi
problem serupa seharusnya mengupayakan pemenuhan kebutuhan listrik bagi warganya secara
maksimal. Ikhtiar pemerataan aliran listrik, terutama di wilayah pedalaman, dapat ditempuh
dengan beragam alternatif pembiayaan antara lain melalui Dana Desa (DD), Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta program penyambungan listrik gratis oleh PLN.